Hitstat

19 December 2012

Efesus - Minggu 13 Rabu


Pembacaan Alkitab: Ef. 2:19


Kini kita bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus. Ungkapan “kawan sewarga” menunjukkan Kerajaan Allah. Semua orang beriman, baik orang Yahudi maupun kafir, adalah warga negara dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah ada­lah ruang lingkup tempat Allah dapat melaksanakan ke­kuasaan-Nya. Asalkan Anda seorang beriman, Anda ada­lah warga negara Kerajaan Allah. Kewarganegaraan ini mencakup hak-hak dan kewajiban kita. Kita menikmati hak-hak kerajaan, kita pun mengemban tanggung jawab kerajaan. Kedua hal ini selalu bergandengan. Sebagai contoh, sebagai warga negara Amerika Serikat, kita menikmati hak-hak tertentu, tetapi kita juga harus memenuhi kewajiban kita untuk membayar pajak.

Ayat 19 mewahyukan bahwa kita juga sebagai “ang­gota-anggota keluarga Allah”. Ungkapan ini menunjukkan rumah Allah. Kaum beriman Yahudi dan kafir adalah anggota keluarga Allah. Keluarga Allah adalah masalah hayat dan kenikmatan; semua orang beriman dilahirkan dari Allah ke dalam rumah-Nya (keluarga-Nya) untuk menikmati kekayaan-Nya. Kerajaan Allah adalah masa­lah hak dan kewajiban; semua orang percaya yang dila­hirkan ke dalam rumah Allah memiliki hak sipil dan ke­wajiban dalam Kerajaan Allah. Dalam ayat yang pendek ini tercakup dua perkara yang dalam: Kerajaan Allah berikut hak dan kewajibannya dan rumah atau keluarga Allah berikut kenikmatan hayat dan kekayaan Bapa.

Ayat 19 menyinggung tentang kaum saleh, keluarga Allah, dan Kerajaan Allah. Kaum saleh itu bersifat indi­vidual, tetapi keluarga Allah bersifat korporat dan meng­hasilkan Kerajaan Allah. Tanpa keluarga tidak mungkin ada kerajaan. Pertama-tama kita adalah kaum saleh yang individual, kemudian kita adalah keluarga Allah yang korporat dan yang akhirnya menjadi Kerajaan Allah. Karena itu, kita tidak saja memiliki aspek individual dari kehidupan orang Kristen, juga memiliki kehidupan keluarga Allah dan Kerajaan Allah pada aspek korporat.

Dalam ayat 19 terdapat pikiran yang akrab, ini ter­tampak dari ungkapan “kawan sewarga”. Sebagai orang kafir yang belum beroleh selamat, kita dahulu jauh dari Allah dan kewargaan Israel, tetapi sekarang kita memili­ki satu hubungan yang akrab dengan orang-orang kudus. Kita adalah kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah. Di antara warga negara Amerika Serikat, terdapat suatu keakraban, tetapi ke­akraban itu tidak sebanding dengan keakraban di antara anggota keluarga. Orang-orang Yahudi dan kafir bukan hanya menjadi warga dari kerajaan yang sama, tetapi juga menjadi kerabat keluarga yang sama. Kita perlu memandang orang kudus dengan akrab sebagai kerabat kita. Menjadi anggota keluarga Allah tidak seharusnya hanya dalam doktrin kita, tetapi juga dalam pengalaman kita. Dalam alam semesta Allah hanya memiliki satu ke­luarga, satu rumah tangga. Tidak peduli apa latar be­lakang kita, sebagai kaum beriman, kita semua adalah anggota keluarga Allah yang universal dan unik ini, dan seluruh orang kudus adalah kerabat kita. Janganlah menganggap hal ini sepele, tetapi pandanglah hal ini dengan serius sebagai aspek gereja yang terpenting. Be-tapa akrabnya hubungan yang kita miliki di antara ke­luarga Allah!


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 26

No comments: