Hitstat

21 December 2015

Ibrani - Minggu 31 Senin



Pembacaan Alkitab: Kel. 4:10, 14, 16


Dalam berita ini kita akan membahas masalah tongkat yang bertunas (Ibr. 9:4; Bil. 17:1-10). Bila kita ingin memahami tongkat yang bertunas, kita harus mengetahui sedikit latar belakangnya. Kehendak Allah ialah ingin memperoleh sekelompok manusia menjadi ekspresi-Nya yang korporat untuk mengekspresikan dan mewakili-Nya, agar Ia memiliki suatu daerah kekuasaan, yaitu suatu kerajaan, untuk melaksanakan ekonomi kekal-Nya. Fokus wahyu ilahi ialah Allah yang kekal mempunyai satu kehendak, yakni ingin memperoleh sekelompok manusia sebagai satu unit korporat untuk menampung diri-Nya, menjadi satu dengan-Nya, dan membiarkan Ia bersatu dengan mereka, supaya mereka menjadi ekspresi hidup dari Allah yang tidak kelihatan, bahkan agar Allah bisa memiliki satu kerajaan di bumi untuk melaksanakan ekonomi-Nya, untuk kemuliaan-Nya, dan untuk menanggulangi musuh-Nya. Inilah tujuan Allah ketika Ia memanggil bani Israel keluar dari Mesir, menjadikan mereka bangsa atau umat yang terpilih dan terpanggil.

Sebagai umat yang demikian, keluarlah bani Israel dari Mesir dan menjelajahi padang gurun menuju sasaran Allah. Jumlah mereka saat itu paling sedikit satu atau dua juta orang, sebab laki-laki yang bisa berperang saja lebih dari enam ratus ribu orang (Bil. 1:45-46). Karena jumlah orang Israel begitu banyak, maka perlu ada pembangunan umat Allah itu, seperti halnya pada hari ini. Untuk pembangunan umat Allah, perlu ada kekuasaan. Dengan istilah hari ini, perlu ada kepemimpinan. Kepemimpinan di antara bani Israel merupakan kepemimpinan korporat yang terdiri dari mininial dua orang: Musa, mewakili aspek kekuasaan dan Jabatan raja, Harun mewakili aspek gambar dan jabatan imam.

Agar umat Allah dapat mengekspresikan Allah dan mewakili-Nya, perlu ada jabatan imam dan jabatan raja. Perjanjian Baru mengatakan dengan jelas bahwa dalam penebusan-Nya, Allah telah menjadikan kita imam dan raja (Why. 1:5-6; 5:9-10). Kita memiliki jabatan imam agar kita dapat mengekspresikan Allah. Hal ini berkaitan dengan gambarAllah. Jabatan raja adalah untuk kekuasaan Allah. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan memberi-Nya kekuasaan atas segala makhluk (Kej. 1:26). Inilah jabatan raja untuk Kerajaan Allah. Dalam gereja hari ini masih perlu ada jabatan imam untuk mengekspresikan Allah dan jabatan raja untuk mewakili Allah. Dalam Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, kita akan menjadi imam‑imam yang mengekspresikan Allah, dan raja‑raja, yang mewakili‑Nya (Why. 20:6). Tidak hanya demikian, di Yerusalem Baru dalam kekekalan kita tetap menjadi imam dan raja (Why. 22:3‑5) yang di satu pihak mengekspresikan Allah melalui jabatan imam kita, dan di pihak lainnya mewakili Dia melalui kuasa‑Nya dalam jabatan raja kita. Dari Kejadian 1 hingga Wahyu pasal terakhir, pembicaraan Alkitab tentang kedua aspek dari umat Allah yang korporat ini sangatlah konsisten.

Musa mewakili jabatan raja, Harun mewakili jabatan imam, keduanya telah disiapkan bagi kepemimpinan Allah. Mereka berdua bersama‑sama dibangkitkan dan dibangunkan. Setelah Musa menyelesaikan pendidikannya di istana Firaun, Allah tidak segera mengangkatnya menjadi pemimpin. Allah membawanya ke padang gurun, dan di situlah Allah mendirikan kepemimpinannya. Alkitab tidak memberi kita catatan yang jelas tentang kepemimpinan Harun, tetapi pada prinsipnya, Harun juga perlu mengalami tangan pembangunan Allah. Sewaktu Musa berkata kepada Allah, ia tidak "pandai bicara" (Kel. 4:10). Allah lalu mengatakan bahwa Harun, kakaknya, pandai bicara, dan dialah yang akan menjadi "penyambung lidah"nya, sedang Musa akan "menjadi seperti Allah baginya" (Kel. 4:14, 16). Hanya setelah Musa dan Harun dibangunkan menjadi pemimpin, barulah mereka dapat memimpin orang.


Sumber: Pelajaran-Hayat Ibrani, Buku 4, Berita 61

No comments: