Hitstat

16 January 2017

3 Yohanes - Minggu 1 Senin



Pembacaan Alkitab: 3 Yoh. 1-3
Doa baca: 3 Yoh. 3
Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan bersaksi tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran.


Permulaan 3 Yohanes hampir sama dengan 2 Yohanes. Dalam ayat 1 Rasul Yohanes mengatakan, “Dari penatua kepada Gayus yang terkasih, yang kukasihi dalam kebenaran.” Rasul Yohanes, seperti Petrus, adalah penatua dalam gereja di Yerusalem sebelum kota itu dihancurkan pada 70 M. Menurut sejarah, setelah kembali dari pembuangan, Yohanes tinggal di Efesus untuk merawat gereja-gereja di Asia. Karena itu, boleh jadi dia juga adalah penatua dalam gereja di Efesus, tempat dia menulis surat ini.

Dalam ayat 1 Yohanes membicarakan tentang mengasihi Gayus dalam kebenaran. Di sini “kebenaran” mengacu kepada realitas ilahi yang terwahyukan — Allah Tritunggal yang disalurkan ke dalam manusia dalam Putra, Yesus Kristus — menjadi kesejatian dan ketulusan manusia, agar manusia dapat menempuh hidup yang sesuai dengan terang ilahi (Yoh. 3:19-21) dan menyembah Allah, menurut apa adanya Allah dan menurut apa yang Allah cari (Yoh. 4:23-24). Inilah kebajikan Allah (Rm. 3:7; 15:8) menjadi kebajikan kita, yang dengannya kita bisa mengasihi kaum beriman. Dalam kebenaran semacam inilah, Rasul Yohanes, yang tinggal dalam realitas ilahi Allah Tritunggal, mengasihi Gayus yang terkasih.

Dalam ayat 2 Yohanes membicarakan tentang kebaikan jiwa. Manusia terdiri atas tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh (1 Tes. 5:23). Jiwa adalah bagian yang berada di antara tubuh dan roh, memiliki kesadaran diri, sehingga manusia mempunyai kepribadian. Jiwa terkandung di dalam tubuh dan merupakan wadah untuk menampung roh. Bagi kaum beriman, Allah sebagai Roh itu tinggal di dalam rohnya yang sudah dilahirkan kembali (Rm. 8:9, 16) dan meluas dari rohnya untuk meresapi jiwanya, sehingga jiwanya dapat diubah untuk mengekspresikan Dia (Rm. 12:2; 2 Kor. 3:18). Inilah kebaikan jiwa kaum beriman. Ketika jiwa kita dipenuhi dan dikendalikan oleh Roh Allah melalui roh kita, sehingga dapat mengendalikan dan menggunakan tubuh kita bagi tujuan Allah, ini berarti jiwa kita baik-baik. Rasul berharap agar penerima suratnya, yang adalah saudara yang terkasih, terkemuka dalam kebaikan jiwanya, dapat baik-baik dalam segala sesuatu dan dalam kesehatan tubuh, sama seperti jiwanya baik-baik dalam hayat Allah.

Dalam ayat tiga Yohanes berbicara tentang “hidupmu dalam kebenaran”. Kata-kata “hidupmu dalam kebenaran”, menurut bahasa aslinya adalah “kebenaranmu” (red.). “Kebenaranmu” adalah kebenaran mengenai Kristus, khususnya mengenai ke-Allahan-Nya. Wahyu kebenaran ini menentukan jalan hidup penerima surat ini, dan menjadi kepercayaan yang mendasar bagi penerima surat ini. Ini adalah kebenaran objektif yang menjadi subjektif dalam kehidupan sehari-hari penerima surat ini. Kebenaran ini adalah realitas keilahian Kristus. Hayat kita ditentukan dan dibentuk dengan wahyu kebenaran ini. Ini berarti kita hidup, berjalan, dan bertingkah laku dalam realitas ilahi Allah Tritunggal, yang adalah kenikmatan kita. Kenikmatan ini membentuk jalan kita, cara hidup kita. Ini menunjukkan bahwa cara hidup kita ditentukan, dibentuk, dicetak dengan apa yang kita percayai mengenai persona Kristus dan dengan apa yang telah kita lihat dan nikmati dari realitas ini. Kebenaran ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal menjadi kenikmatan kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat 3 Yohanes, Berita 1

No comments: