Hitstat

11 June 2015

Ibrani - Minggu 3 Kamis



Pembacaan Alkitab: Ibr. 2:1-4


Kita perlu menyeberang sungai setiap hari, setidak‑ti­daknya menyeberang sebuah sungai kecil. Setelah Anda bersalah terhadap istri Anda, Anda perlu menyeberang sungai. Setelah Anda bersalah terhadapnya, Anda akan me­rasa diri Anda berada dalam keadaan usang, sehingga Anda perlu menyeberang sungai. Kalau Anda tidak rela memba­yar harga itu, Anda tidak akan maju ke depan. Anda perlu menyeberang sungai kecil itu. Walaupun kecil, sungai itu sudah dapat memisahkan Anda dengan tempat yang maha kudus, hingga Anda tidak dapat menikmati keselamatan yang sebesar itu. Setiap sungai yang Anda seberangi adalah keselamatan bagi diri Anda; sebaliknya, setiap sungai yang enggan Anda seberangi akan menjadi selubung yang menutupi Anda. Asalkan Anda masih tetap berada di tepi sana, Anda akan berada di luar tabir, dan Anda belum masuk ke dalam tempat yang maha kudus dan menikmati "keselamatan yang sebesar itu". Bila Anda mau menyebe­rang sungai, Anda pasti dapat masuk ke balik tabir dan menikmati keselamatan yang sebesar itu.

Dalam mempelajari Surat Ibrani, di masa lampau, saya senang menggunakan dua slogan. Yang pertama ialah "pergi ke luar perkemahan"; perkataan ini tercantum da­lam 13:13 ‑ "Karena itu, marilah kita pergi kepada‑Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan‑Nya." Kita se­mua harus pergi ke luar perkemahan. Apa arti perkemah­an? Dalam surat ini, perkemahan mengacu kepada Yudaisme. Pada hari ini dapat diartikan apa saja yang agamis atau duniawi, yang mungkin memisahkan kita dari kenikmatan atas keselamatan Allah yang sebesar itu. Karena itu, marilah kita keluar meninggalkan perkemahan. Lalu ke mana kita pergi? Kita jawab dengan slogan yang kedua "masuk ke belakang tabir", yaitu masuk ke dalam tempat yang maha kudus yang tercantum dalam 6:19‑20. Yesus se­bagai Perintis sudah masuk ke belakang (balik) tabir. Hari ini Ia berada dalam tempat yang maha kudus, tidak berada di perkemahan yang mana pun.

Sekarang kita harus melihat apakah yang dimaksud dengan "keselamatan yang sebesar itu." Besarnya kesela­matan ini bukannya dalam hal naik ke surga, bukan pula dalam hal pengampunan dan pembenaran oleh iman. Saya sangat menghargai pengampunan dan pembenaran oleh iman, tetapi Surat Ibrani yang membahas "keselamatan yang sebesar itu" membicarakan hal yang jauh lebih tinggi daripada itu. Pengampunan dan pembenaran oleh iman me­mang benar adalah keselamatan, tetapi bukan "keselamat­an yang sebesar itu". Bahkan yang dimaksud dengan "ke­selamatan yang sebesar itu" pun bukan besar dalam hal kelahiran kembali. Kalau begitu, di manakah besarnya ke­selamatan itu?

Pertama, keselamatan itu besar dalam apa adanya Kristus. Penulis Surat Ibrani memakai istilah "sebesar itu", yang sulit dijelaskan. Berapa besarkah baru dapat di­katakan "sebesar itu"? Walaupun kita tidak dapat dengan tepat menggambarkan "sebesar itu", namun "besarnya kese­lamatan yang sebesar itu" terletak pada apa adanya Kristus. Tahukah Anda apa adanya Kristus itu? Walaupun Anda bisa mengetahui Kristus menurut catatan keempat kitab Injil, tetapi tahukah Anda Kristus yang tercantum dalam Surat Ibrani?

Tahukah Anda bahwa Kristus adalah Putra Allah? Mungkin Anda mengetahui Dia sebagai Putra Allah secara tidak lengkap. Boleh jadi dalam konsepsi bawah sadar Anda menganggap bahwa Bapa adalah Allah yang satu, sedang Putra adalah Allah yang lain. Anda mungkin tidak menga­takan demikian, tetapi dalam batin Anda, Anda berpegang pada konsepsi itu. Inilah sebabnya saya mengatakan bahwa besarnya keselamatan ini terletak pada apa adanya Kristus sebagai Putra Allah, juga sebagai Allah. Ketika kita menga­takan bahwa Kristus adalah Putra Allah, itu berarti Kristus adalah Allah. Ia tidak lain adalah Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Ibrani, Buku 1, Berita 6

No comments: