Hitstat

18 June 2016

1 Petrus - Minggu 15 Sabtu



Pembacaan Alkitab: 1 Ptr. 4:19
Doa baca: 1 Ptr. 4:19
Karena itu, baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan dirinya kepada Pencipta yang setia, sambil terus berbuat baik.


Di kalangan rasul-rasul terdahulu ada keyakinan yang kuat bahwa Tuhan Yesus segera datang kembali untuk menghakimi orang dosa yang tidak percaya, yang fasik dan tidak taat kepada Injil-Nya (2 Tes. 1:6-9). Perkataan Petrus di sini tentu mengacu kepada hal ini. Dalam pemerintahan Allah, jika orang benar yang sudah mematuhi Injil Allah dan menempuh hidup yang benar di hadapan Allah, dengan sulit diselamatkan, menderita aniaya sebagai sarana penghukuman pendisiplinan Allah agar hayatnya bisa dimurnikan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik, yang tidak taat kepada Injil Allah dan menempuh hidup yang penuh dosa, bertentangan dengan pemerintahan-Nya, ketika kebinasaan karena murka-Nya menimpa?

Mungkin kita menganggap pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta dan kembalinya Tuhan adalah dua puncak punung yang megah yang dilihat oleh rasul-rasul. Pada hari Pentakosta, ketika Allah mencurahkan Roh-Nya untuk karunia keselamatan, Tuhan telah membuka pintu bagi semua orang dosa agar beroleh selamat. Mula-mula, pintu terbuka bagi orang-orang Yahudi, kemudian terbuka bagi orang-orang kafir. Karena mengharapkan Tuhan Yesus cepat kembali, rasul-rasul tidak jelas bahwa di antara puncak Pentakosta dan puncak kedua kedatangan kembali Tuhan ada satu celah. Jika kita membaca Surat Kiriman Paulus, kita akan nampak bahwa Paulus juga mengharapkan Tuhan Yesus cepat kembali. Rasul-rasul dahulu kurang paham tentang celah yang ada di antara hari Pentakosta dengan kedatangan Tuhan. Ketika mereka bertanya kapan Tuhan Yesus datang kembali, Tuhan memberi tahu mereka, hanya Bapa yang tahu (Kis. 1:6-7). Bapa menyimpan rahasia ini di dalam Dia. Sebab itu, Tuhan Yesus tidak dapat sembarangan mewahyukan perkara ini kepada murid-murid. Telah kita katakan, rasul-rasul hanya bisa melihat dua puncak.

Petrus mengambil kesimpulan dalam ayat 19, "Karena itu, baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan dirinya kepada Pencipta yang setia, sambil terus berbuat baik." Kehendak Allah di sini ialah menginginkan kita dan sudah menetapkan kita untuk menderita karena Kristus (3:17; 2:15; 1 Tes. 3:3).

Secara harfiah "menyerahkan" berarti "menyerahkan sebagai suatu simpanan, deposito, seperti dalam Luk. 12:48; Kis. 20:32; 1 Tim. 1:18; 2 Tim. 2:2. Ketika kaum beriman menderita aniaya atas tubuh mereka, khususnya dalam hal martir, mereka seharusnya menyerahkan jiwa mereka sebagai deposito kepada Allah, Pencipta yang setia, seperti Tuhan menyerahkan roh-Nya kepada Bapa (Luk. 23:46). Penganiayaan hanya dapat mencelakai tubuh kaum beriman yang menderita, tidak dapat mencelakai jiwa mereka (Mat. 10:28). Jiwa mereka dijaga oleh Tuhan Pencipta yang setia, mereka seharusnya bekerja sama dengan Tuhan melalui penyerahan mereka di dalam iman.

Menurut ayat 19, kaum beriman harus berbuat baik, menyerahkan jiwanya kepada Pencipta yang setia. "Berbuat baik" di sini menyatakan perbuatan yang benar, baik, dan terhormat.

Pencipta dalam ayat 19 bukan Pencipta dari ciptaan baru dalam kelahiran baru, melainkan Pencipta dari ciptaan lama. Penganiayaan adalah penderitaan dalam ciptaan lama. Sebagai pencipta kita, Allah sanggup melindungi jiwa yang diciptakan-Nya bagi kita. Bahkan, Dia menghitung rambut kita (Mat. 10:30). Dia penuh kasih dan setia. Perawatan-Nya yang penuh kasih dan setia (5:7) menyertai keadilan-Nya dalam administrasi pemerintahan-Nya. Ketika Dia menghakimi kita, keluarga-Nya, dalam pemerintahan-Nya, kasih-Nya tetap merawat kita dengan setia. Ketika kita mengalami penghakiman pendisiplinan-Nya yang adil atas tubuh kita, kita harus menyerahkan jiwa kita kepada perawatan-Nya yang setia.


Sumber: Pelajaran-Hayat 1 Petrus, Buku 2, Berita 29

No comments: