Hitstat

13 December 2013

Filipi - Minggu 16 Jumat



Pembacaan Alkitab: Flp. 1:19-21; Yoh. 1:17


Sekarang mari kita membahas makna dari kata “anugerahku”. Jika kita melihat ungkapan ini dalam konteks keseluruhan Surat Filipi, kita akan nampak bahwa anugerah yang dimiliki Paulus tidak lain adalah Allah Tritunggal yang Paulus nikmati dan alami, dan yang menjadi bagiannya. Jadi, anugerah Paulus bukanlah Allah yang obyektif, melainkan Allah yang subyektif dan yang dialaminya, yakni Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi bagiannya. Paulus benar-benar telah menikmati dan mengalami Allah Tritunggal yang telah melalui proses ini. Ia kaya dalam pengalamannya akan Bapa, Putra, dan Roh. Allah Tritunggal yang telah melalui proses ini adalah anugerah Paulus.

Hari ini Allah Tritunggal bukan lagi Allah yang belum melalui proses, atau Allah yang “mentah”. Sebaliknya, Dia telah melalui proses inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan. Mungkin orang-orang yang berlatar belakang teologi sistematis akan merasa resah dengan ungkapan-ungkapan “Allah yang melalui proses” atau “Allah yang mentah”. Mereka mungkin akan membantah kita, sebab istilah-istilah ini tidak pernah dipakai dalam Alkitab. Meskipun istilah-istilah ini tidak pernah dipakai dalam Alkitab, tetapi faktanya ada di dalamnya. Seperti halnya istilah “trinitas” dan “Allah Tritunggal” tidak terdapat dalam Alkitab, namun tidak dapat disangkal bahwa Alkitab benar-benar mewahyukan adanya fakta bahwa persona Allah itu Tritunggal. Begitu pula, kita tidak dapat menyangkal bahwa inkarnasi merupakan suatu proses. Tambahan pula, penyaliban yang mendatangkan kebangkitan, dan kebangkitan yang mendatangkan kenaikan, itu juga merupakan langkah-langkah dari proses Allah tersebut. Allah tidak saja melalui proses dalam menebus dosa kita, tetapi juga memungkinkan kita menikmati-Nya sebagai anugerah. Hari ini Allah yang kita nikmati sebagai anugerah kita adalah Allah Tritunggal yang telah melalui atau mengalami inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan. Sebagai Allah yang demikian, Dia telah siap untuk kita terima dan nikmati.

Yohanes 1:17 mengatakan bahwa hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah datang melalui Yesus Kristus. Ketika anugerah ini menjadi milik kita dalam pengalaman kita, kita akan menikmati Allah Tritunggal dan kita akan dapat mengatakan itulah anugerahku, anugerah kita. Anugerah kita justru adalah Allah Tritunggal yang kita nikmati.

Paulus mengalami Allah baik dalam pemenjaraannya maupun dalam pembelaan dan peneguhan Injil. Dalam 1:7 Paulus berbicara tentang “membela dan meneguhkan Injil”; di sini ia tidak mengatakan memberitakan Injil. Memberitakan Injil bukan hal yang luar biasa, tetapi membela dan meneguhkan Injil adalah hal yang luar biasa. Di aspek negatif, pembelaan terhadap Injil adalah untuk menentang bidah yang menyimpang dan menyesatkan, seperti ajaran Yudaisme yang ditanggulangi dalam Surat Galatia, dan ajaran Gnostik yang ditanggulangi dalam Surat Kolose. Di aspek positif, peneguhan berita Injil adalah untuk memberitakan wahyu rahasia Allah mengenai Kristus dan gereja, seperti yang diungkapkan dalam Surat-surat Kiriman Paulus. Pada masa Paulus, Injil telah diputarbalikkan dan diselewengkan oleh Yudaisme dan filsafat Yunani. Karena ia membela Injil, maka ia dianiaya. Pemeluk agama Yahudi dan filsuf-filsuf Yunani tidak menyukainya. Selain itu, Paulus juga meneguhkan Injil. Secara positif ia memperjelas tujuan Injil kepada semua orang.

Karena pembelaan dan peneguhan Injil, Paulus dianiaya, ditangkap, dan dipenjara. Kewajiban yang diberikan kepadanya untuk membela dan meneguhkan Injil memerlukan suplai ilahi. Hal itu tidak mungkin terlaksana melalui cara biasa. Paulus perlu kekuatan dan energi ilahi. Kekuatan dan energi ilahi itu adalah Allah Tritunggal sendiri. Ketika Paulus membela dan meneguhkan Injil, Allah menyertainya dan menyuplainya. Selain itu, Paulus juga menderita aniaya, diolok-olok, dan diejek. Tanpa suplai ilahi yang khusus, tidak ada manusia biasa yang dapat menanggung perlakuan demikian. Tetapi di dalam penjara, Paulus dapat menikmati dan mengalami Allah. Pada akhirnya, Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan yang dialami Paulus itu menjadi anugerahnya. Kaum beriman Filipi sangat berbahagia, mereka dapat mengambil bagian dalam anugerah Paulus. Itu berarti mereka mengambil bagian atas Allah Paulus, Allah yang dialaminya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Filipi, Buku 2, Berita 32

No comments: