Hitstat

23 July 2014

Kolose - Minggu 17 Rabu



Pembacaan Alkitab: Kol. 3:11;4:2


Kerap kali ketika berdoa, kita tidak masuk ke dalam doa yang sungguh-sungguh. Melalui pengalaman kita dapat membedakan mana doa yang sungguh-sungguh, mana doa yang tidak sungguh-sungguh. Tahukah Anda mengapa begitu sukarnya berdoa dengan sungguh-sungguh? Halangannya yang utama bukan dosa atau keduniawian, melainkan opini kebudayaan. Tanpa disadari, kita masih dikontrol oleh opini-opini kebudayaan kita. Namun, bila kita berdoa dengan tekun, akhirnya kita bisa berdoa dengan sungguh-sungguh. Ini berarti dalam doa kita, kita dibebaskan dari opini-opini kebudayaan dan masuk ke dalam roh. Bila kita mengalami doa yang sungguh-sungguh, kita akan berada di luar kebudayaan kita, khususnya, di luar opini kebudayaan kita. Selama waktu doa yang sungguh-sungguh, kita berada di dalam roh, dan kita dengan Tuhan adalah satu roh. Pada waktu-waktu inilah kita memperhidupkan Kristus.

Selain itu, pada waktu-waktu doa yang sungguh-sungguh itu, kematian Kristus bekerja di batin kita secara tuntas untuk mengakhiri semua perkara negatif dalam diri kita. Dengan spontan, kuasa kebangkitan Kristus pun bekerja dalam kita. Akibatnya, kita akan benar-benar bersatu dengan Kristus, menjadi satu dengan Kristus. Pengalaman selama kita berdoa dengan sungguh-sungguh ini memberi kita satu cita rasa dari kehidupan orang Kristen yang normal.

Semakin kita memiliki doa yang sejati, kita akan semakin memiliki pengalaman terlepas dari opini kebudayaan kita, menjadi satu roh dengan Tuhan, dan memperhidupkan Kristus. Sayang sekali, bila kita berhenti berdoa, kita dengan spontan kembali lagi ke dalam kebudayaan kita. Kemudian, kita berusaha hidup menurut pertapaan kita sendiri. Sewaktu kita masuk ke dalam doa yang sungguh-sungguh, kita terpisah jauh dari pertapaan dan semua ajaran lainnya, karena kita bersatu dengan Tuhan yang hidup. Tidak hanya demikian, ketika kita berdoa bersama orang lain sedemikian, kita benar-benar menjadi satu dalam roh doa. Demikian, kita akan menjamah realitas satu manusia baru, di mana tidak lagi ada orang Yunani atau Yahudi, Barbar atau Skit, orang bersunat atau tidak bersunat. Kita menyadari bahwa manusia baru ini tersusun dari Kristus semata dan dalam lingkungan ini tidak ada perbedaan kebudayaan. Namun, bila kita berhenti berdoa, kita akan kembali ke dalam hayat alamiah kita serta opininya, dan pergumulannya. Kita tidak memperhidupkan Kristus melalui menjadi satu roh dengan-Nya, melainkan kita mengekang diri menurut pertapaan buatan kita sendiri. Dalam hayat alamiah kita, kita bertekad berbuat bajik, dan berupaya menggenapkan apa yang telah kita tentukan untuk dilakukan. Ini berarti mengekang diri sendiri, bukan memperhidupkan Kristus.

Berdoa dengan tekun berarti kita tidak boleh meninggalkan roh doa. Kita harus tinggal tetap dalam kondisi doa. Berada dalam kondisi ini berarti berada di luar opini kita dan menjadi satu roh dengan Tuhan, memperhidupkan Tuhan, dan menerima Dia sebagai hayat dan persona kita. Dengan sendirinya kita akan meninggalkan setiap hal di luar Kristus, dan kita hidup oleh persona yang hidup ini. Masalah kita ialah kita tidak tetap di dalam kondisi doa yang demikian. Itulah sebabnya Paulus menyuruh kita untuk bertekun dalam doa. Kita harus berdoa dengan tekun, agar kita terpelihara dalam kondisi doa yang demikian. Dengan perkataan lain, kehidupan sehari-hari kita harus sama dengan pengalaman kita dalam waktu-waktu berdoa dengan sesungguhnya. Pengalaman kita dalam doa harus menjadi satu pola dari kehidupan kristiani kita sehari-hari.


Sumber: Pelajaran-Hayat Kolose, Buku 2, Berita 33

No comments: