Hitstat

03 February 2016

Yakobus - Minggu 3 Rabu



Pembacaan Alkitab: Yak. 1:26-27


Walaupun hukum Perjanjian Baru lebih singkat daripada hukum Perjanjian Lama, namun hukum yang baru lebih sempurna, sedangkan hukum yang lama tidaklah sempurna. Tidak hanya demikian, hukum yang baru adalah hukum yang memerdekakan, sedangkan hukum yang lama adalah hukum perhambaan. Hukum Perjanjian Lama adalah hukum perhambaan karena hukum itu tidak sanggup menyalurkan hayat. Hukum itu hanya dapat menuntut dan menyalahkan. Karena hukum itu membawa orang banyak ke dalam perhambaan, perbudakan, berarti hukum itu hukum perhambaan. Tetapi, hukum Perjanjian Baru memberikan hayat, menyalurkan hayat ke dalam diri kita. Hayat yang disalurkan ke dalam kita melalui hukum Perjanjian Baru memerdekakan kita dari hukum dosa dan hukum maut. Karena itu, hukum ini, hukum yang sempurna, adalah hukum yang memerdekakan.

Dalam 1:26 Yakobus mengatakan tentang orang yang tidak mengekang lidahnya, orang demikian menipu hatinya sendiri dan sia-sialah ibadahnya. Tidak mengekang lidah adalah cepat berkata-kata (ayat 19), sembarangan, tanpa kendali. Hal ini sering menipu hati orang yang berkata-kata itu sendiri, menipu hati nuraninya, kesadaran hatinya.

Dalam ayat 27 Yakobus berkata, "Ibadah yang murni dan tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya diri sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." Perkataan Yakobus ini, memperkuat pandang­annya mengenai praktek kristiani yang sempurna, di dalamnya terkandung unsur perintah-perintah Perjanjian Lama (Ul. 14:29; 24:19-21, 12-13).

Menjaga diri sendiri tidak dicemarkan oleh dunia berarti tidak menjadi duniawi, tidak dicemari oleh perkara‑perkara duniawi. Ini juga merupakan bagian dari pandangan Yakobus yang takut akan Allah mengenai praktek kristiani yang sempurna. Mengunjungi yatim piatu dan janda-janda adalah bertindak berdasarkan hati pengasih Allah, suatu ciri kesempurnaan kristiani pada sisi positif. Menjaga diri sendiri tidak dicemari dunia berarti terpisah dari dunia berdasarkan sifat kudus Allah, suatu ciri kesempurnaan kristiani pada sisi negatif.

Dalam pasal 1 Surat Kiriman Yakobus, diungkapkan tiga butir utama: kelahiran ilahi (ayat 18), menerima firman yang tertanam (ayat 21), dan hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan (ayat 25). Mula-mula Allah melahirkan kita, melahirkan kita kembali, oleh firman kebenaran. Karena itu, firman kebenaran merupakan benih hayat untuk kelahiran ilahi kita. Setelah dilahirkan kembali melalui menerima benih ini, kita perlu terus-menerus menerima firman yang tertanam, yang sanggup menyelamatkan jiwa kita setiap hari. Menurut ayat 18, firman kebenaran adalah untuk kelahiran kembali roh kita. Menurut ayat 21, kita memerlukan firman yang tertanam untuk keselamatan jiwa kita setiap hari. Selain itu, menurut ayat 25-27, kita memerlukan hukum yang sempurna, yang memerdekakan, sehingga kita bisa menempuh kehidupan yang takut akan Allah, suatu kehidupan yang menurut makna yang tepat berarti beribadah. Kehidupan semacam ini sesuai dengan hati Allah, yakni kasih; juga sesuai dengan sifat Allah, yakni kudus.

Dari segi negatif, pasal 1 Surat Yakobus membahas perihal menanggung berbagai pencobaan dan menolak godaan. Pada hakikatnya, isi pasal ini terdiri dari tiga aspek firman ilahi, yaitu: firman kebenaran untuk kelahiran kembali, firman yang tertanam untuk keselamatan jiwa, dan seluruh Perjanjian Baru sebagai firman Allah yang menjadi hukum yang memerdekakan. Kita telah nampak bahwa hukum yang memerdekakan mengacu kepada hukum hayat, yang ditanam ke dalam batin kita sebagai suatu prinsip. Hukum batiniah ini membantu kita untuk menempuh suatu kehidupan kasih dan kudus, suatu kehidupan yang sesuai dengan hati dan sifat Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yakobus, Berita 4

02 February 2016

Yakobus - Minggu 3 Selasa



Pembacaan Alkitab: Yak. 1:25


Jika kita ingin menolak godaan, kita perlu mendapatkan perawatan melalui menerima firman yang tertanam. Kita boleh menggunakan perihal makan sebagai gambaran. Walaupun fisik kita sehat, kita masih perlu makan makanan yang bergizi setiap hari. Walaupun kita mempunyai hayat jasmani, setiap hari kita masih perlu makan. Jika saya di pagi hari tidak makan pagi, saya tidak mempunyai kekuatan untuk bekerja. Demikian pula prinsip hayat ilahi. Melalui kelahiran kembali Allah menyalurkan hayat-Nya ke dalam kita. Tetapi hayat ini masih memerlukan makanan, dan makanan yang kita perlukan adalah firman yang tertanam. Setiap hari kita perlu membaca Alkitab untuk menerima firman Allah. Dalam hayat rohani kita memerlukan "makan pagi" yang baik setiap hari. Sewaktu kita makan makanan pagi rohani kita, kita menerima firman yang tertanam. Ketika Allah menanamkan firman-Nya ke dalam kita setiap pagi, firman ini menjadi makanan bagi manusia batiniah kita, dan menguatkan roh kita. Begitu roh kita dikuatkan, ia juga akan menopang jiwa kita. HasiInya, jiwa kita akan mempunyai kekuatan untuk menanggung penderitaan dan menolak godaan. Ini berarti melalui perawatan oleh firman yang tertanam kita mengalami keselamatan jiwa.

Setiap hari jiwa kita diuji oleh penderitaan di lingkungan luar kita dan oleh hawa nafsu yang memikat di dalam kita. Karena itu, jiwa kita perlu diselamatkan. Supaya jiwa kita diselamatkan, ia perlu ditopang melalui setiap hari mendapatkan perawatan dari firman yang tertanam. Untuk ini kita perlu setiap hari menerima firman Allah sama seperti kita menerima makanan kita setiap hari. Jika seorang anak tidak mau makan, ia akan menjadi lemah dan tidak sehat. Jika seorang anak menolak makanan yang bergizi, berarti dalam hal makan ia tidak patuh dan tidak lembut. Setiap anak perlu dengan lemah lembut menerima makanan yang disajikan oleh ibunya. Jika ia makan makanan yang sehat sedemikian, ia akan menjadi kuat dan sehat. Demikian pula, kita perlu menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam.

Dalam 1:25 Yakobus membicarakan hukum yang sempurna, hukum yang memerdekakan: "Tetapi siapa yang meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar lalu melupakannya, tetapi sungguh‑sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." Hukum kemerdekaan (kebebasan) yang sempurnaini adalah hukum hayat yang ditulis dalam hati kita (Ibr. 8:10), standar moralnya sesuai dengan konstitusi kerajaan yang diumumkan oleh Tuhan di atas bukit (Mat. 5-7). Hukum hayat yang sempurna adalah fungsi dari hayat ilahi yang disalurkan ke dalam kita pada saat kita dilahirkan kembali. Ia akan menyuplai kita sepanjang hidup kristiani kita dengan kekayaan yang tidak terduga dari hayat ilahi untuk membebaskan kita dari hukum dosa dan maut, dan menggenapkan semua tuntutan kebenaran hukum harfiah (Rm. 8:2, 4). Karena itu hukum hayat ini adalah hukum yang memerdekakan. Hukum ini adalah hukum Kristus (1 Kor. 9:21), bahkan adalah Kristus sendiri, yang hidup di dalam kita untuk mengatur kita melalui menyalurkan sifat ilahi ke dalam diri kita, sehingga kita bisa menempuh hidup yang mengekspresikan gambar Allah.

Perkataan "meneliti" menunjukkan bahwa hukum yang sempurna adalah sesuatu yang dapat dibaca. Ini menunjukkan, hukum yang sempurna mengacu kepada Perjanjian Baru dan bukan hanya hukum hayat yang ada di batin kita. Hukum hayat dapat dirasakan, tetapi tidak dapat dibaca. Fakta bahwa hukum yang sempurna ini dapat dibaca menyatakan bahwa hukum ini bukan hanya hukum hayat, tetapi juga seluruh Perjanjian Baru.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yakobus, Berita 4

01 February 2016

Yakobus - Minggu 3 Senin



Pembacaan Alkitab: Yak. 1:19-21


Dalam berita ini kita akan membahas 1:19‑27. Dalam ayat 19 Yakobus berkata, "Saudara‑saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata‑kata, dan juga lambat untuk marah." Mendengar, menggoda kita untuk berbicara; dan berbicara, merupakan api yang menyulut amarah (lih. 3:6). Jika kita mengekang pembicaraan kita (lih. 1:26), kita akan memadamkan amarah kita. Perkataan Yakobus di sini, diberikan untuk memperkuat pandangannya tentang praktek kristiani yang sempurna.

Dalam ayat 21 Yakobus meneruskan perkataannya, "Sebab itu, buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu." Di sini firman Allah disamakan dengan suatu tanaman hidup, yang ditanamkan ke dalam diri kita dan bertumbuh di dalam kita untuk menghasilkan buah bagi keselamatan jiwa kita. Kita perlu menerima firman ini dengan lemah lembut, dalam segala kepatuhan, tanpa menentang.

Menurut konteks pasal ini, keselamatan jiwa kita menyiratkan menahan pencobaan yang timbul dari lingkungan (ayat 2-12) dan menolak godaan nafsu (ayat 13-21). Pandangan Yakobus terhadap keselamatan jiwa kita agak negatif, tidak sepositif pandangan Paulus. Paulus berkata bahwa jiwa kita dapat diubah oleh Roh pembaruan, bahkan sampai serupa dengan gambar Tuhan, dari kemuliaan ke kemuliaan (Rm. 12:2; Ef 4:23; 2 Kor. 3:18).

Kita perlu menghargai Yakobus karena perkataannya, yaitu kita perlu menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam, yang sanggup menyelamatkan jiwa kita. Dalam tulisannya Paulus tidak menggunakan ungkapan "firman yang tertanam". Ungkapan ini menyatakan bahwa firman ini mengandung hayat. Di sini Yakobus menyamakan firman Allah dengan suatu tanaman hidup yang ditanamkan ke dalam diri kita. Dengan demikian, firman menjadi firman yang tertanam. Setelah firman Allah tertanam ke dalam tanah hati kita, firman ini akan bertumbuh dan mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan jiwa kita.

Dalam ayat 21 kita disarankan untuk menerima firman yang tertanam, itu dengan lemah lembut. Dalam ayat ini lemah lembut tidak berarti bersikap halus; lemah lembut di sini berarti bersikap tunduk, tanpa menentang. Menerima firman dengan lemah lembut berarti tidak menolaknya, bahkan tunduk kepada firman itu. Kita harus menerima firman Allah yang tertanam di dalam kita dengan penuh ketaatan. Apa pun yang Allah katakan, haruslah kita terima dengan mengatakan, "Amin."

Jika kita menerima firman yang tertanam itu dengan lemah lembut, dengan patuh, berarti dengan mutlak kita terbuka terhadap firman Allah. Kita laksana tanah yang bersedia menerima benih dari petani dan hujan dari langit. Allah menanam, atau menabur firman-Nya ke dalam hati kita, dan seharusnya kita menerima firman-Nya dengan lemah lembut. Inilah menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam. Karena firman ini hidup, maka setelah tertanam ke dalam hati kita, ia akan tumbuh. Kemudian, begitu firman itu bertumbuh, ia akan menyelamatkan jiwa kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yakobus, Berita 4