Hitstat

07 December 2013

Filipi - Minggu 15 Sabtu



Pembacaan Alkitab: Flp. 4:10, 14-20


Dalam hal memberi kepada rasul, kaum beriman telah berperan serta dalam ministri hayat. Jawaban Paulus ketika menerima kiriman mereka juga merupakan ministri hayat, baik kepada kaum beriman di Filipi, juga kepada kaum saleh yang membaca bagian firman ini. Dengan ini kita nampak, bahkan hal memberi dan menerima bendabenda materi, dapat pula menjadi satu pengalaman yang kaya akan Kristus, yang mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Allah datang mengunjungi orang-orang yang memberi maupun yang menerima sedemikian, agar kesemarakanNya dan kemuliaan-Nya terekspresikan. Jadi, persekutuan dalam hal memberi dan menerima tidak saja melayankan hayat kepada semua pihak yang bersangkutan, tetapi juga membawa semua pihak ke dalam kemuliaan Allah.

Filipi 4:19 dan 20 tersusun dengan cara yang indah sekali, yakni dengan cara yang subyektif, mesra, dan mulia. Dalam ayat 19 Paulus memberi tahu kaum saleh bahwa “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu.” Apa yang mereka berikan kepada Paulus sebenarnya diterima oleh Allah. Jadi, bukan Paulus yang berhutang kepada mereka, melainkan Allah. Karena itu, Allah berkewajiban membayar kembali kepada kaum beriman itu. Allah dan Paulus adalah partner. Paulus bersatu dengan Allah dalam perusahaan surgawi Allah. Ekonomi Allah ialah perusahaan surgawiNya. Dalam perusahaan ini Allah dan Paulus adalah partner. Karena itu, ketika kaum beriman Filipi memberikan sesuatu kepada Paulus, Allahlah yang berhutang kepada mereka. Paulus tahu bahwa Allah pasti akan membayar kembali kepada mereka.

Namun, kita harus menyadari, hanya ketika kita memberi di dalam Kristus barulah Allah berhutang kepada kita, ini sangatlah penting. Jika kita tidak memberikan pemberian itu di dalam Kristus, Allah tidak berkewajiban membayar kembali kepada kita. Tetapi bila kita di dalam Kristus memberikan sesuatu kepada gereja, kepada kaum saleh yang sedang kekurangan, atau kepada pekerjaan Tuhan dalam pemulihan-Nya, Allah akan berhutang kepada kita. Tuhan berhutang kepada kita karena pemberian kita dalam Kristus baik kepada gereja, kaum saleh, atau pekerjaan, sebenarnya kita berikan kepada Allah sendiri, kepada apa yang menjadi perhatian-Nya, dan kepada ekonomi-Nya.

Seperti telah kita tunjukkan, Allah pun akan memenuhi keperluan kita dalam kemuliaan dan dalam Kristus Yesus. Kemuliaan adalah ekspresi Allah dalam kesemarakan-Nya untuk membawa kita ke dalam kenikmatan akan ekspresi-Nya. Bila Allah membalas kita dalam kemuliaan, Ia pun membawa kita ke dalam kesemarakan-Nya. Saya sangat mendorong kalian untuk mengalami Kristus secara demikian. Setiap orang yang memperhidupkan Kristus dan memperbesar Kristus harus memiliki pengalaman memberikan sesuatu kepada Allah demi kepentingan-Nya, dan menerima balasan dari Dia menurut kekayaan-Nya dan dalam kemuliaan, serta dibawa ke dalam kenikmatan akan ekspresi kemuliaan-Nya dalam kesemarakan-Nya.

Paulus menarik kesimpulan bagian Surat Filipi ini dengan perkataan: “Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin” (ayat 20). Allah bukan hanya Allah milik rasul, melainkan juga Allah milik kaum beriman. Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya. Seperti telah kita tunjukkan, kemuliaan adalah Allah terekspresi dalam kesemarakan-Nya dan keunggulan-Nya untuk kita apresiasi. “Dimuliakanlah Allah” berarti Allah terekspresi sedemikian.


Sumber: Pelajaran-Hayat Filipi, Buku 2, Berita 30

06 December 2013

Filipi - Minggu 15 Jumat



Pembacaan Alkitab: Flp. 4:10, 14-20


Meskipun orang-orang Filipi telah membuka rekening dengan Paulus, dan ketika Paulus di Tesalonika, mereka telah “satu dua kali” mengirimkan kebutuhannya, tetapi pernah ada sejangka waktu tidak ada “komunikasi” di antara mereka. Karena itu, Paulus menyinggung pemberian kaum beriman pada masa lampau itu. Ia berharap “komunikasi” tersebut tidak terhenti, tetapi perihal memberi dan menerima ini berlangsung terus. Seperti yang Paulus katakan dalam ayat 17, ia bukan menuntut pemberian, melainkan buahnya yang bertambah-tambah pada rekening kaum beriman. Ini ditujukan kepada bertambahnya angka kredit mereka. Dalam ayat-ayat ini Paulus mendorong kaum beriman untuk mengaktifkan terus rekening mereka, supaya tidak ada kekosongan dalam hal memberi dan menerima; dan dengan demikian buah rekening kaum beriman akan bertambah-bertambah.

Dalam ayat 18 Paulus melanjutkan, “Kini aku telah menerima semua yang perlu dari kamu, malahan lebih daripada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu kurban yang disukai dan berkenan kepada Allah.” Setelah menerima pemberian itu, Paulus dapat berkata bahwa ia telah tersuplai penuh. Ia menganggap pemberian yang dikirim kepadanya sebagai “persembahan yang harum, suatu kurban yang disukai dan berkenan kepada Allah”. Ini adalah suatu bau-bauan yang harum dari kurban yang dipersembahkan kepada Allah (Kej. 8:21). Pemberian materi dari orang-orang Filipi untuk menyuplai kebutuhan rasul, oleh rasul dianggap sebagai suatu kurban persembahan kepada Allah yang disukai dan diperkenan Allah (Ibr. 13:16). Dalam apresiasinya, Paulus menunjukkan bahwa yang orang-orang Filipi lakukan terhadapnya berarti mereka lakukan terhadap diri Allah. Ini menyiratkan dia memiliki kepastian bahwa dirinya bersatu dengan Allah, dan bahwa pekerjaannya dilakukan oleh Allah dan untuk Allah.

Dalam ayat 19 Paulus berkata bahwa Allahnya akan membalas kaum beriman dengan berlimpah. Dalam pengalamannya Paulus memiliki keyakinan dan kepastian bahwa dia bersatu dengan Allah dan bahwa Allah adalah Allahnya. Ia dapat berkata, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu.” Allah adalah Allah Paulus sebab Paulus bersatu dengan-Nya. Karena itu Paulus menganggap pemberian materi orang-orang Filipi kepadanya sebagai suatu kurban persembahan terhadap Allah. Lagi pula, dia percaya dengan pasti bahwa Allah, yang bersatu dengan dia dan yang adalah Allahnya, akan membalas mereka dengan berlimpah. Di sini kita nampak setiap kali kita menerima suatu pemberian, kita harus berkeyakinan bahwa pemberian itu tidak saja diberikan kepada kita, tetapi juga kepada Allah. Lalu kita harus percaya bahwa Allah akan membalas orang yang memberikan pemberian itu. Balasan Allah akan memenuhi setiap keperluan si pemberi; Allah akan menyuplainya dengan berlimpah-limpah dan memuaskannya.

Paulus mengatakan kepada orang-orang Filipi bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan mereka menurut kekayaan-Nya dalam kemuliaan dalam Kristus Yesus (Tl.). Karena orang-orang Filipi memperhatikan utusan Allah, maka Allah pun memperhatikan setiap kebutuhan mereka. Tambahan pula, Paulus berkata bahwa Allah menyuplai kebutuhan kita menurut kekayaan-Nya; bukan menurut kebutuhan kita. Kekayaan-Nya jauh melampaui kebutuhan kita. Frase “dalam kemuliaan” dalam ayat 19 perlu diperhatikan dengan seksama. Frase ini menerangkan kata “memenuhi”, bukan kata “kekayaan”. Kemuliaan adalah ekspresi Allah, yaitu Allah terekspresi dalam kesemarakan-Nya. Suplai limpah Allah kepada kaum beriman yang adalah anakanak-Nya, menyatakan Allah dan mengemban kemuliaan Allah. Rasul menjamin orang-orang Filipi bahwa Allah akan menyuplai dengan berlimpah segala keperluan mereka dengan suatu cara yang akan membawa mereka ke dalam kemuliaan-Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Filipi, Buku 2, Berita 30

05 December 2013

Filipi - Minggu 15 Kamis



Pembacaan Alkitab: Flp. 4:10, 14-20


Dalam berita ini kita akan membahas persekutuan kaum beriman dalam keperluan rasul. Kebanyakan orang Kristen tidak mempunyai persekutuan dalam pemberian mereka. Persekutuan tidak sekadar berarti berkomunikasi atau saling mengambil bagian, persekutuan juga mencakup pelayanan hayat. Ketika kita bersekutu satu sama lain, kita melayankan hayat kepada satu sama lain. Ketika saling memberikan sesuatu sebagai persembahan, kebanyakan orang Kristen tidak mempunyai perasaan yang dalam bahwa “transaksi” ini mengandung pelayanan hayat. Tetapi bila kita mendoabacakan ayat-ayat yang tertera di atas, kita akan menjamah pelayanan hayat baik dari pihak rasul maupun dari pihak kaum beriman yang mengirimkan pemberian kepada Paulus. Sudah pasti kaum saleh di Filipi tidak hanya mengirimkan suplai materi kepada Paulus, tetapi juga memberikan pelayanan hayat kepadanya. Jadi, antara kedua pihak, rasul dan kaum beriman, terdapat persekutuan hayat dan pelayanan hayat timbal balik. Kita sangat perlu belajar memberikan suplai dalam persekutuan dan pelayanan hayat yang demikian.

Dalam 4:10 Paulus berkata, “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku.” Mungkin ada keadaan tertentu yang membuat kaum beriman Filipi tidak dapat meneruskan pengiriman suplai materi kepada Paulus. Ketika mereka mengirimkan suplai itu melalui Epafroditus, maka Paulus menganggap ini adalah bertumbuhnya kembali pikiran mereka terhadap Paulus. Menurut perasaan Paulus, pengiriman suplai melalui Epafroditus itu merupakan bertumbuhnya kembali perhatian mereka terhadap dirinya.

Kita harus menaruh perhatian seksama atas kata “bertumbuh”. Kata ini menyiratkan bahwa pemberian benda-benda materi yang kita lakukan kepada setiap gereja, kepada hamba-hamba Tuhan, atau kepada setiap orang kudus harus merupakan sesuatu yang hidup yang dapat berbunga. Persekutuan ini melebihi mengambil bagian, juga mencakup peredaran arus hayat. Menurut Alkitab, persekutuan selalu berasal dari hayat. Surat 1 Yohanes 1:2-3 mewahyukan bahwa persekutuan berasal dari hayat; sumber persekutuan adalah hayat. Karena itu, dalam Filipi 4:10 Paulus memakai kata bertumbuh, dan dalam ayat 14 memakai kata “mengambil bagian” (akar kata dalam bahasa aslinya adalah persekutuan): “Namun baik juga perbuatanmu bahwa kamu telah mengambil bagian dalam k esusahanku”. Paulus seolah-olah berkata, “Kalian telah melayani aku dengan hayat dan telah menolongku serta menopangku pada saat aku dipenjara. Ketika aku menderita, kalian telah membantuku dengan menyuplaikan hayat kepadaku. Kalian pasti akan menerima suplai hayat sebagai gantinya.”

Persekutuan dalam hayat dapat diilustrasikan seperti peredaran darah dalam tubuh manusia. Di satu aspek, ketika darah beredar, darah itu mengalir keluar; di aspek lain, darah itu mengalir kembali lagi. Demikian pula, persekutuan hayat kita selalu ada keluar dan ada kembalinya. Setiap pengaliran keluar yang tanpa pengaliran masuk yang seimbang bukanlah persekutuan yang wajar. Persekutuan selalu mengandung peredaran. Hayat mengalir keluar, hayat juga mengalir kembali. Hayat mengalir keluar dengan suplai untuk pihak lain, kemudian ia mengalir kembali dengan suplai dari pihak lain. Setiap kali kita memberikan benda-benda materi di bawah pimpinan Tuhan, kita seharusnya mengalami persekutuan hayat yang demikian; seharusnya ada yang berbunga dan menyuplaikan hayat satu sama lain.

Persekutuan yang terdapat di antara kaum beriman Filipi dengan Paulus adalah persekutuan untuk kemajuan Injil (1:5). Pengiriman suplai benda-benda material adalah demi memajukan Injil. Seperti telah kita tunjukkan, Injil di sini sama dengan pergerakan Allah di bumi bagi ekonomi-Nya. Injil tidak saja mencakup kabar baik tentang keselamatan, penebusan, pengampunan, pembenaran, dan hayat kekal. Khususnya dalam Filipi ini, Injil berarti pergerakan Allah dalam ekonomi-Nya. Karena itu, persekutuan, bahkan dalam hal pengiriman suplai materi, adalah untuk perluasan pergerakan Allah dalam ekonomi-Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Filipi, Buku 2, Berita 30