Hitstat

04 September 2019

Lukas - Minggu 30 Rabu


Pembacaan Alkitab: Luk. 1:31-35
Doa baca: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” (Luk. 1:31)


Kebajikan Insani adalah untuk Menampung Atribut Ilahi


Tuhan Yesus lahir dari esens dengan kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah bagi manusia (Luk. 1:31). Dia lahir dari jenis manusia. Kebajikan membedakan manusia dengan makhluk ciptaan lainnya. Selain roh manusia, manusia diciptakan oleh Allah dengan kebajikan insani. Sebaliknya, binatang tidak memiliki kebajikan itu.

Ketika Kristus berinkarnasi, Dia mengenakan kebajikan insani. Dia lahir dari manusia dengan kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah. “Menurut gambar-Nya” (Kej. 1) menunjukkan bahwa kebajikan-kebajikan insani sebenarnya adalah gambar Allah bagi ekspresi Allah. Kebajikan insani yang manusia miliki adalah agar manusia dapat mengekspresikan Allah. Puji Tuhan hari ini Tuhan menciptakan kita dengan kebajikan insani. Tanpa kebajikan ini, Allah tidak akan dapat diekspresikan melalui kita. Justru melalui memiliki kebajikan insani, kita dapat dengan dekat mengenal Tuhan Yesus kita, Manusia-Penyelamat itu.

Dalam inkarnasi-Nya, Manusia-Peyelamat lahir dengan cara demikian adalah untuk memiliki kebajikan insani. Dia dikandung dari Allah untuk memiliki atribut ilahi dan Dia lahir dari manusia untuk memiliki kebajikan insani. Bagi-Nya atribut ilahi memenuhi kebajikan insani, dan kebajikan insani menampung atribut ilahi. Dalam Dia atribut ilahi dan kebajikan insani itu adalah satu; yaitu atribut ilahi dan kebajikan insani berbaur bersama menjadi satu. Kita patut mengucap syukur pada Tuhan karena kebajikan insani yang kita miliki adalah sebuah wadah 'sarung tangan' untuk menampung atribut ilahi- Nya. Semoga kita dapat melihat bahwa penciptaan manusia disertai dengan kebajikan insani, membuat kita hari ini dapat menjadi wadah yang sempurna untuk menampung Allah kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 58

03 September 2019

Lukas - Minggu 30 Selasa


Pembacaan Alkitab: Luk. 1:31-35; Yoh. 1:14
Doa baca: “Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran.” (Yoh. 1:14)


Inkarnasi yang Memperkaya Keinsanian


Sebagai Dia yang dikandung dari esens ilahi dengan atribut ilahi untuk menjadi isi dan realitas kebajikan insani-Nya, Kristus memenuhi kebajikan insani yang kosong. Kebajikan insani Yesus Kristus, Manusia-Penyelamat ini tidak kosong karena kebajikan insani-Nya dipenuhi dengan atribut ilahi.

Sebelum dosa masuk, Adam bersih dan tidak bersalah. Namun, kebajikannya mungkin tidak kuat dan kaya. Kristus, Adam yang akhir memiliki kebajikan yang diperkuat dengan atribut ilahi, kasih-Nya begitu kaya karena mengandung kasih ilahi. Inkarnasi Kristus adalah untuk memenuhi, memperkuat, dan memperkaya kebajikan insani.

Atribut ilahi-Nya juga menguduskan kebajikan insani. Kristus berinkarnasi berarti Dia menjadi daging, Ia datang dalam rupa daging dosa (Rm. 8:3), namun tidak memiliki sifat dosa. Lukas 1:35 menunjukkan bahwa anak yang dikandung oleh Maria adalah dari Roh Kudus. Dia itu kudus, tetapi daging tidak kudus. Yang kudus lahir ke dalam daging itu akan menguduskan, memulihkan daging. Kristus yang terkandung dari esens ilahi dengan atribut ilahi adalah untuk menguduskan kebajikan insani. Hal tersebut, kelahiran kembali kita, Dia tinggal dalam kita adalah suatu misteri.

Atribut ilahi memenuhi, memperkuat, memperkaya, dan menguduskan kebajikan insani bukanlah tanpa tujuan. Tujuannya adalah agar kita dapat mengekspresikan Allah dalam kebajikan insani. Menurut Kitab Injil, apa pun yang Yesus lakukan dalah hidup-Nya di bumi adalah ekspresi Allah dalam kebajikan insani-Nya. Dalam Dia, Manusia-Penyelamat, atribut ilahi ini dibawa masuk ke dalam kebajikan insani bagi ekspresi Allah. Fakta bahwa Manusia-Penyelamat hari ini telah menjadi hayat kita (Kol. 3:4) menunjukkan bahwa kita pun dapat mengekspresikan Allah dalam kebajikan-kebajikan kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 58

02 September 2019

Lukas - Minggu 30 Senin


Pembacaan Alkitab: Luk. 1:31-35; Flp. 3:9
Doa baca: “Dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.” (Flp. 3:9)


Manusia-Penyelamat sebagai Isi dan Realitas Kaum Beriman


Inkarnasi Manusia-Penyelamat adalah bagi penggenapan tujuan Allah menciptakan manusia. Standar moralitas yang Ia miliki membuat Dia layak menyelamatkan kita dengan penuh kuasa. Manusia-Penyelamat dikandung dari esens ilahi, yang adalah Allah dengan segala hakiki-Nya. Menurut Alkitab, terdapat empat aspek hakiki Allah: kasih (1 Yoh. 4:8), terang (1 Yoh. 1:5), benar, dan kudus. Kasih adalah sifat batiniah Allah, terang adalah cahaya, ekspresi Allah. Kudus mengacu pada sifat Allah dan benar mengacu pada cara Allah dalam melakukan sesuatu. Atribut-atribut ilahi ini adalah bagi kebajikan-kebajikan insani-Nya. Atribut-atribut ilahi-Nya adalah untuk isi dan realitas kebajikankebajikan insani-Nya.

Sama seperti sebuah sarung tangan. Tanpa diisi oleh tangan, sarung tangan akan menjadi kosong, tanpa isi dan realitas. Karena tangan memiliki hayat, hanya tangan yang bisa menjadi isi dan realitas sarung tangan. Bila tangan tersebut bergerak, maka sarung tangan itu pun ikut bergerak, mengekspresikan tangan yang mengisinya. Hari ini, kita adalah sebuah “sarung tangan” yang dirancang khusus untuk menampung diri Allah, Manusia-Penyelamat sebagai isi dan realitas kita. Apakah penghidupan kita sebagai orang Kristen hari ini sudah memiliki gerak dan ekspresi Manusia-Penyelamat? Apakah kasih, terang, kudus, dan benar sudah tertampil dalam penghidupan kita? Ini tergantung pada seberapa banyak kita mengambil Allah sebagai isi kita setiap pagi. Kita orang yang percaya kepada Tuhan hanyalah sebuah sarung tangan, yang diisi oleh hayat Allah di dalam diri kita. Ketika kita datang pada-Nya setiap waktu mengambil Dia menjadi isi kita, Dia akan semakin tertampil di atas diri kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 58