Hitstat

29 August 2012

Galatia - Minggu 20 Rabu


Pembacaan Alkitab: Rm. 4:12; Flp. 3:14, 16


Walaupun Allah telah menjadikan kita suatu ciptaan baru, kita masih mungkin hidup dan bertindak dalam ciptaan lama. Orang-orang Galatia justru hidup dan bertindak dalam ciptaan lama dalam hal berusaha memelihara hukum Taurat oleh daging. Paulus mencoba mengembalikan mereka kepada Kristus dan Roh itu. Dia menyuruh mereka untuk tidak lagi hidup dan bertindak dalam ciptaan lama, tetapi hidup dan bertindak dalam roh mereka. Hidup dan bertindak dalam Roh adalah hidup dan bertindak dalam ciptaan baru. Jika kita ingin memiliki hidup jenis kedua, kita harus hidup oleh Roh, oleh ciptaan baru.

Ketika kita menempuh perjalanan di atas jalan raya Roh itu, harus berhati-hati agar tidak melakukan apa-apa berdasarkan diri kita sendiri. Janganlah kita mengendarai “mobil” kita dengan ciptaan lama, tetapi dengan roh yang telah dilahirkan kembali. Ini berarti kita harus mengendarai “mobil” dengan ciptaan baru. Bergairah terhadap agama atau tidak, itu tidaklah berarti, hanya satu yang berarti, yakni ciptaan baru.

Jika kita membaca tulisan-tulisan Paulus dengan teliti, kita masih akan menemukan satu kaidah lain yang harus kita tempuh. Kaidah ini ialah kehidupan gereja, kehidupan Tubuh, seperti diwahyukan dalam Roma 12:1-5 dan Efesus 4:1-16. Jadi, hidup jenis kedua ialah oleh Roh itu, dengan ciptaan baru, dengan menuntut dan mendapatkan Kristus dan dengan mempraktekkan satu jalur yang harus kita tempuh. Ini adalah satu kaidah, satu prinsip, yang memimpin kita kepada sasaran Allah.

Kita semua perlu memiliki hidup oleh Roh jenis pertama. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus ada pekertipekerti, buah-buah Roh seperti yang dikatakan Paulus dalam Galatia 5:22-23: Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Suatu kehidupan dan tindakan sehari-hari yang oleh Roh itu akan melayakkan kita dan memperlengkapi kita untuk hidup oleh Roh jenis kedua, yang dapat merampungkan tujuan Allah. Hidup jenis kedua ini mengandung empat kaidah atau prinsip: Roh itu, ciptaan baru, mendapatkan Kristus, dan kehidupan gereja. Untuk memiliki hidup jenis kedua dan bukan hanya jenis pertama, kita perlu berada di bawah pengaturan roh, hidup oleh ciptaan baru, menuntut Kristus agar bisa mendapatkan Dia, serta mempraktekkan kehidupan gereja. Jika kita hanya memiliki hidup oleh Roh jenis pertama namun tidak memiliki jenis kedua, boleh jadi kita dianggap orang sebagai manusia yang “suci”, “rohani”, atau “pemenang”. Akan tetapi, sebenarnya kita adalah orang yang tidak bertujuan. Sekalipun kita mungkin memiliki apa yang disebut kekudusan, kerohanian, atau kemenangan, kita tetap tidak memiliki tujuan, sebab kita tidak memiliki hidup oleh Roh jenis kedua untuk mencapai sasaran. Kita perlu memiliki hidup jenis pertama untuk memperlengkapi kita, juga dengan jenis kedua untuk merampungkan tujuan Allah, sehingga kita boleh mencapai sasaran dan meraih pahala, yakni dengan penuh limpah menikmati Kristus dan mengalami Kristus.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 39

28 August 2012

Galatia - Minggu 20 Selasa


Pembacaan Alkitab: Gal. 5:25; 6:16; Flp. 3:16


Banyak orang Kristen yang memiliki kehidupan dan tindakan sehari-hari yang normal, namun mereka tidak memiliki hidup jenis kedua. Sasaran hidup kristiani mereka seolah-olah hanya ingin menjadi orang yang baik, ramah, dan wajar. Jika Anda bertanya kepada mereka, apa sasaran hidup kristiani mereka, mereka mungkin mengatakan bahwa sasaran mereka adalah menjadi orang Kristen yang baik untuk memuliakan Allah dan suatu hari pergi ke surga bertemu dengan Tuhan tanpa merasa malu. Kalau Anda bertanya kepada saya di tahun-tahun yang lampau tentang sasaran hidup Kristiani saya, saya pun akan menjawab bahwa sasaran saya ialah menjadi orang Kristen yang baik dan berperilaku wajar bagi kemuliaan Allah. Sekarang saya sadar, bahwa menurut Alkitab, Allah memiliki satu tujuan tertentu, dan Ia telah meletakkan satu sasaran tertentu di hadapan kita, yang harus kita capai. Selain kehendak dan sasaran-Nya, Ia pun telah menyediakan satu jalan. Jalan ini boleh kita ibaratkan seperti sebuah jalan raya yang membawa kita ke tujuan tertentu. Jalan Allah itulah jalur, kaidah, dan prinsip yang harus kita tempuh untuk mencapai sasaran. Terpujilah Allah, karena Ia memiliki tujuan! Ia mempunyai satu tujuan untuk dicapai dan satu sasaran untuk dipenuhi. Ia pun telah menentukan satu jalan yang akan membawa kita ke sasaran ini. Jalan ini adalah kaidah, prinsip, jalur yang harus kita tempuh. Sudah tentu, ini bukan hidup oleh Roh jenis pertama, melainkan jenis kedua, yakni hidup dalam jalur untuk mencapai sasaran Allah.

Dalam kehidupan dan tindakan kristiani kita, hidup oleh Roh jenis kedua ini adalah satu kehidupan yang memiliki Roh itu sebagai kaidah. Kaidah kita tidak seharusnya suatu doktrin atau teologi, juga tidak seharusnya hukum Taurat. Maksud Paulus dalam menulis surat kepada orang-orang Galatia ialah menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak seharusnya menerima hukum Taurat sebagai kaidah mereka lagi. Kaum beriman Galatia telah diselewengkan dari Roh itu kepada hukum Taurat dan menerima hukum Taurat sebagai kaidah. Paulus memberi tahu mereka bahwa mereka bodoh dan mereka harus beralih kepada Roh itu sebagai kaidah mereka. Karena mereka memiliki hayat dan hidup oleh Roh, maka mereka harus hidup oleh Roh sebagai kaidah mereka. Jika kita ingin memiliki hidup jenis kedua bagi penggenapan kehendak Allah, pertama-tama kita harus belajar hidup oleh Roh sebagai jalan, kaidah, prinsip, dan jalur kita.

Saya menganjuri semua orang saleh untuk memiliki hidup oleh Roh jenis yang kedua. Anda perlu berdoa, “Tuhan, aku ingin mengikuti Engkau untuk memiliki hidup oleh Roh jenis yang kedua bagi penggenapan kehendakMu. Aku tidak mau hidup oleh doktrin, teologi, organisasi, atau konsepsi alamiah. Aku ingin hidup oleh Roh sebagai satu-satunya jalan rayaku.”

Menurut Galatia 5:25, karena kita telah mendapatkan hayat dan hidup oleh Roh, maka kita sekarang harus memiliki hidup oleh Roh jenis yang kedua sebagai kaidah kita. Kita telah mendapatkan hayat oleh Roh agar kita hidup oleh Roh, untuk merampungkan kehendak Allah. Betapa mulianya sasaran yang ada di hadapan kita! Jalan raya yang membawa kita ke sasaran ini adalah Roh itu, ekspresi terakhir dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Ketika kita berjalan di atas jalan raya yang unik ini, kita tidak boleh keluar dari rel atau berubah haluan, melainkan harus maju langsung sasaran.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 39

27 August 2012

Galatia - Minggu 20 Senin


Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 5:17


Menurut Alkitab, setiap orang beriman dalam Kristus seharusnya memiliki dua jenis hidup oleh Roh. Pertama ialah hidup dan perilaku sehari-hari kita; kedua ialah “hidup” dalam kaidah dan jejak ilahi. Selaku orang Kristen, kita bukan orang-orang yang hidup secara sembarangan di dunia tanpa suatu tujuan. Kita telah diciptakan Allah, juga diciptakan kembali dan dilahirkan kembali oleh-Nya dengan tujuan yang pasti. Karena itu, kita harus memiliki hidup jenis kedua untuk merampungkan kehendak Allah dan mencapai sasaran kehidupan kita di bumi ini.

Dalam hidup oleh Roh jenis pertama, kita hidup, bertindak, dan berperilaku oleh Roh. Ini adalah penunjang bagi hidup oleh Roh jenis kedua, yaitu hidup yang mengarah kepada satu sasaran. Sebagai anak-anak Allah, kita bukan orang-orang yang tanpa tujuan. Kehidupan kita mempunyai satu tujuan yang pasti. Kita bukan sembarangan dan tanpa sasaran. Allah memiliki satu tujuan yang kekal, dan kehendak-Nya ialah agar umat-Nya hidup bagi kehendak-Nya. Allah menciptakan kita maupun melahirkan kita kembali adalah untuk mewujudkan kehendak-Nya. Karena Allah memiliki tujuan dan hendak mencapai sasaranNya, maka Ia menyuruh kita memiliki dua jenis hidup oleh Roh: jenis pertama adalah yang membina satu kehidupan sehari-hari yang normal, dan jenis kedua adalah yang sesuai dengan kaidah dan prinsip ilahi demi mencapai sasaran yang telah ditetapkan Allah.

Untuk memiliki satu kehidupan sebagai anak-anak Allah yang normal, perlulah kita memiliki jenis hidup oleh Roh yang pertama. Ini berarti kita tidak boleh hidup oleh perkara apa pun yang menggantikan Roh itu.

Kalau kita ingin memiliki hidup oleh Roh jenis pertama, kita perlu berdoa dan berseru kepada nama Tuhan. Dalam 1 Tesalonika 5:17 Paulus menghendaki kita berdoa tanpa henti. Saya menemukan, tidak mungkin kita berdoa tanpa henti jika kita berdoa dengan cara formal, memohon bantuan dari Tuhan. Mungkin kita bisa berdoa demikian untuk waktu yang lama, tetapi tidak dapat tanpa henti. Akan tetapi, kita dapat berdoa tanpa henti hanya dengan berseru: “Tuhan Yesus, O, Tuhan Yesus.” Walaupun saya adalah orang tua, dan telah bertahun-tahun lamanya di dalam Tuhan, saya tetap belajar menyeru nama Tuhan secara terus-menerus. Dari pengalaman saya menemukan bahwa hal ini mudah sekali kita lupakan. Waktu bangun pagi saya mungkin mulai menyeru nama Tuhan, tetapi lewat beberapa menit, saya mungkin diganggu oleh suatu pikiran dan berhenti menyeru. Tiba-tiba, saya sadar bahwa pikiran saya sudah keluar, maka saya sekali lagi mulai berseru: “O, Tuhan Yesus.”

Doa adalah pernafasan rohani. Seperti kita semua ketahui, kita harus bernafas supaya kita tetap hidup. Di mana pun kita berada, kita boleh bernafas secara rohani melalui berseru kepada nama Tuhan. Sehari suntuk, tak peduli kita berbuat apa, kita dapat berkontak dengan Tuhan lewat menghirup nama-Nya. Ketika kita melakukan perkara-perkara rutin pada pagi hari, kita dapat berseru kepada nama Tuhan Yesus. Kita mungkin menemukan, ketika kita menangani perkara-perkara yang riil, kita masih memiliki tiga puluh menit untuk menyeru nama Tuhan Yesus. Bila kita mempraktekkan hal ini, kita akan membina kebiasaan menyeru nama Tuhan. Ini merupakan bagian dari hidup jenis pertama, yaitu hidup yang di dalamnya kita menempuh kehidupan sehari-hari yang normal oleh Roh.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 39

25 August 2012

Galatia - Minggu 19 Sabtu


Pembacaan Alkitab: 1 Kor. 6:17; Yoh. 6:57


Dalam Surat Kirimannya Paulus berpesan agar kita jangan hidup berdasarkan suatu doktrin atau petunjuk tertentu, melainkan oleh Roh itu. Akhir-akhir ini Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa Ia tidak menghendaki kita hanya hidup dalam penyertaan-Nya, tetapi memperhidupkan Kristus dengan menjadi satu roh dengan Tuhan. Dalam Perjanjian Baru tidak ada perkataan tentang praktek beserta dengan Allah. Sebaliknya, dalam Perjanjian Baru diwahyukan bahwa kita harus memperhidupkan Kristus melalui menjadi satu roh dengan Dia. Dalam Kejadian 17 tercatat bahwa Abraham hidup di hadapan Allah, yakni dalam penyertaan Allah. Tetapi, dalam Perjanjian Baru, dalam 1 Korintus 6:17, Paulus berkata, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Ini lebih dari sekadar hidup di hadirat Allah, tetapi hidup di dalam kesatuan dengan Dia. Perkataan Paulus tentang bersatunya kita menjadi satu roh dengan Tuhan bukanlah sebuah perumpamaan, melainkan sebuah pernyataan faktual. Lagi pula, Paulus tidak berkata, “Bagiku hidup berarti berada dalam penyertaan Tuhan.” Sebaliknya, ia berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.” (Flp. 1:21). Di antara hidup dan bertindak dalam penyertaan Allah dan memperhidupkan Kristus terdapat suatu perbedaan yang besar sekali!

Hidup dan bertindak dalam penyertaan Allah sangat sesuai dengan konsepsi alamiah kita. Akan tetapi, kaum beriman dapat menjadi satu roh dengan Tuhan itu bukanlah menurut konsepsi alamiah manusia. Memang mudah memahami perkataan dalam Kitab Keluaran tentang penyertaan Tuhan mengiringi bani Israel. Mungkin kita juga menerapkan perkataan ini atas diri kita dan menyadari ketika kita pergi ke suatu tempat, penyertaan Tuhan akan pergi bersama kita. Namun, mengira bahwa kita harus hidup satu roh dengan Tuhan itu bukanlah menurut konsepsi alamiah kita. Ada orang Kristen bahkan mengatakan pernyataan dapatnya kita menjadi satu roh dengan Tuhan adalah suatu hujat. Menurut pendapat mereka, orang-orang yang berdosa sama sekali tidak mungkin menjadi satu roh dengan Tuhan. Namun, Alkitab mengatakan dengan jelas, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Walaupun kita pernah membaca kata-kata ini, tetapi mungkin kita tidak mempunyai respon sama sekali terhadapnya, sebab kita telah diselubungi oleh konsepsi yang agamis, alamiah, dan tradisional. Kita boleh jadi sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap perkara yang demikian penting ini. Namun, akhir-akhir ini Tuhan telah membawa kita kepada butir di mana justru kita harus memperhatikan tuntutan Perjanjian Baru ini, yakni kita harus menjadi satu roh dengan Dia. Menurut praktek Perjanjian Lama, Abraham memang dapat hidup dalam penyertaan Allah. Tetapi kita berada dalam Perjanjian Baru. Menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah, Tuhan damba masuk ke dalam kita dan bersatu dengan kita, dan menyatukan kita dengan Dia sendiri. Ia menghendaki kita menjadi satu roh dengan Dia. Ekonomi-Nya hari ini ialah agar kita hidup dalam satu roh dengan Tuhan.

Saya harap banyak orang akan terkesan dengan perkataan tentang hidup dalam satu roh dengan Tuhan ini dan mau berdoa, “Tuhan, mulai sekarang aku tidak lagi puas hanya dengan penyertaan-Mu. Sekalipun aku dapat berhasil mempraktekkan hidup dalam penyertaan Allah seperti yang dipraktekkan Saudara Lawrence, aku tidak merasa puas, sebab aku tahu, Tuhan, Engkau pun tidak akan merasa puas. Engkau ingin menjadi satu roh denganku. Tuhan, berikanlah anugerah kepadaku, agar aku menjadi satu roh dengan-Mu.” Dalam setiap hal yang kita katakan atau lakukan, kita perlu berlatih menjadi satu dengan Tuhan. Semakin kita menjadi satu roh dengan Dia dalam kehidupan kita sehari-hari kita, kita akan semakin menikmati keselamatan, pengudusan, dan transformasi.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 38

24 August 2012

Galatia - Minggu 19 Jumat


Pembacaan Alkitab: Yoh. 14:16-18; 3:6


Roh itu sebagai Roh almuhit yang majemuk adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal. Allah kita itu Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh. Setiap pelajar Alkitab yang cermat menyetujui bahwa ketiga Persona dari Trinitas boleh dianggap berbeda, namun kita tidak dapat mengatakan Mereka itu terpisah. Pernyataan semacam itu adalah bidah. Ketika Putra datang ke bumi, Ia tidak meninggalkan Bapa di surga. Sebaliknya, ketika Putra datang, Bapa juga datang beserta-Nya. Dalam Injil Yohanes Tuhan Yesus berkata bahwa Putra datang dari dan beserta Bapa (Yoh. 6:46). Tatkala Ia datang dari Bapa, Ia datang bersama Bapa. Karena alasan inilah, Tuhan Yesus berkata bahwa Ia tidak pernah sendirian, sebab Bapa selalu menyertai-Nya (Yoh. 8:29). Selain itu, dalam Injil Yohanes juga memberi tahu kita bahwa Putra akan mengutus Roh itu dari dan beserta Bapa (Yoh. 15:26). Kita tidak dapat memisahkan Putra dari Bapa, dan Roh itu dari Bapa dan Putra.

Menurut Alkitab, Bapa terwujud di dalam Putra, dan Putra direalisasikan sebagai Roh itu. Akhirnya, yang ketiga dari ke-Allahan ini terekspresi sebagai Roh itu. Inilah sebabnya dalam pengalaman kita, bila kita menyeru nama Tuhan Yesus, kita menerima Roh itu. Ketika kita bertobat, percaya kepada Tuhan, dan berdoa kepada-Nya, kita tidak memohon agar Roh Kudus masuk ke dalam kita. Sebaliknya, kita berdoa agar Tuhan Yesus masuk. Namun, walaupun kita meminta Tuhan masuk, Persona yang masuk ke dalam kita sebenarnya adalah Roh itu. Ini tidak saja terjadi pada saat kita diselamatkan, dalam pengalaman sehari-hari kita akan Tuhan pun demikian. Bila kita berdoa kepada Bapa atau berseru kepada nama Tuhan Yesus, mengatakan kepada-Nya bahwa kita mengasihi Dia, akhirnya Persona yang kita alami menyertai dan berada dalam kita ialah Roh itu. Dari pengalaman kita tahu bahwa Roh ini, Roh almuhit yang majemuk ini adalah perampungan sempurna dari Allah Tritunggal.

Hari ini Allah kita benar-benar adalah Allah yang telah melalui proses. Dalam Perjanjian Lama tidak ada petunjuk bahwa Allah telah melalui proses. Proses ini dimulai pada saat inkarnasi Kristus dan dilanjutkan dalam sepanjang hidup-Nya sebagai manusia, penyaliban, dan kebangkitanNya. Ada sebagian orang Kristen menentang ungkapan “Allah yang telah melalui proses” dengan bantahan bahwa Allah itu kekal dan tidak pernah berubah. Ya, kita sepenuhnya percaya, menurut Alkitab, Allah memang kekal dan mutlak tidak berubah. Namun demikian sesuai dengan Alkitab, kita juga percaya dan mengajarkan bahwa Allah telah mengalami proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Allah tidak pernah berubah, tetapi Ia telah mengalami suatu proses. Sifat dan substansi Allah tidak pernah berubah, namun Ia telah melalui suatu proses. Menurut Yohanes 1:1 dan 14, Firman yang ada pada mulanya bersama Allah dan yang adalah Allah itu telah menjadi daging. Penggunaan kata “menjadi” dalam Yohanes 1:14 menunjukkan suatu proses. Demikian pula, 1 Korintus 15:45 mengatakan bahwa Adam yang terakhir telah menjadi Roh pemberi-hayat. Ini merupakan petunjuk lain dari proses Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 38

23 August 2012

Galatia - Minggu 19 Kamis


Pembacaan Alkitab: Gal. 5:16, 25; Flp. 3:16-18


Bertahun-tahun saya berusaha memahami Galatia 5:25, di mana pada satu pihak Paulus berkata tentang hidup oleh Roh, dan pada pihak lain ia mengatakan hidup dipimpin oleh Roh. Saya tidak mengerti perbedaan antara hidup dan hidup dipimpin. Bagi saya, hidup dipimpin itu mencakup hidup. Akhirnya saya baru nampak bahwa hidup oleh Roh berarti, pertama-tama mendapatkan hayat, kemudian menempuh hidup. Dilahirkan adalah perkara sekali untuk selamanya, tetapi mendapatkan hayat dan menempuh hidup bukan sekali untuk selamanya, melainkan perkara seumur hidup, sebab kita tidak henti-hentinya menerima hayat untuk hidup. Sebagai contoh, untuk tetap hidup kita perlu bernafas dari saat ke saat, tidak cukup hanya bernafas pada saat kita dilahirkan. Demikian pula, kita perlu menerima hayat dari saat ke saat untuk hidup. Jadi, hidup oleh Roh di sini berarti mendapatkan hayat dan kemudian menempuh hidup. Begitu kita mendapatkan hayat dan hidup, kita dapat berjalan, yakni menempuh hidup dengan cara tertentu.

Bila kita membandingkan kedua jenis hidup ini, kita tahu bahwa yang kedua lebih teratur daripada yang pertama. Pada pola hidup yang kedua, kita perlu bertindak seperti pasukan yang berbaris dengan langkah-langkah yang seirama, sedangkan pada pola hidup yang pertama, kita bertindak dengan bebas. Namun kedua jenis pola hidup ini, baik yang biasa atau yang teratur dalam sebuah barisan, semua adalah oleh Roh.

Dalam Surat-surat Kirimannya, Paulus memakai ungkapan “Roh itu” beberapa kali, teristimewa dalam Kitab Galatia. Padahal, dalam Kitab Galatia Paulus tidak pernah sekali pun mengatakan tentang Roh Kudus, walaupun ia beberapa kali menyinggung “Roh itu”. Besar sekali perbedaan antara pemakaian istilah “Roh Kudus” dengan istilah “Roh itu”. Dalam Kejadian 1:2 Roh Allah diungkapkan sehubungan dengan penciptaan. Kemudian Roh TUHAN, atau Roh Yehova dipakai sehubungan dengan persekutuan antara Allah dengan umat-Nya. Istilah Roh Kudus baru dipakai dalam Perjanjian Baru. (Dipakainya istilah ini pada beberapa tempat dalam Perjanjian Lama versi King James dalam bahasa Ibrani seharusnya diterjemahkan “Roh kekudusanNya”). Roh Kudus baru ditampilkan sehubungan dengan dikandungnya Tuhan Yesus dalam rahim Maria, sebab kehendak Allah ialah melahirkan satu Persona yang kudus. Jadi, Roh Kudus ingin menghasilkan sesuatu yang kudus dari sifat insani. Ungkapan “Roh itu” dipakai untuk Roh Allah hanya setelah kebangkitan Kristus.

Dalam Perjanjian Lama minyak urapan kudus adalah lambang Roh itu. Minyak urapan ini merupakan sesuatu benda majemuk yang terdiri atas campuran minyak zaitun dengan empat jenis rempah-rempah (Kel. 30:22-33). Rempah-rempah ini melambangkan aspek kematian dan kebangkitan Kristus. Fakta bercampurnya keempat macam rempah-rempah dengan minyak zaitun menunjukkan bahwa sifat insani, kematian, dan kebangkitan Kristus telah berbaur ke dalam Roh Allah, sehingga menjadi Roh majemuk. Roh majemuk ini adalah Roh itu dalam Perjanjian Baru. Sebelum Tuhan Yesus dimuliakan, Roh majemuk semacam ini “belum ada”. Tetapi sesudah kebangkitan-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya dibaurkan dengan Roh Allah sehingga menjadi Roh itu; Roh majemuk yang bukan hanya mengandung sifat ilahi, tetapi juga sifat insani, khasiat kematian Kristus, dan kuasa kebangkitan-Nya. Karena itu, setelah kebangkitan Tuhan Yesus, Roh Allah, Roh Yehova, Roh Kudus, kini adalah Roh itu, yakni Roh yang almuhit.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 38

22 August 2012

Galatia - Minggu 19 Rabu


Pembacaan Alkitab: Why. 22:1-2


Setiap kali kita menghampiri takhta anugerah dengan beralih kepada roh kita dan berseru kepada nama Tuhan, haruslah kita menobatkan Tuhan. Kita wajib memberikan jabatan Kepala, jabatan Raja, dan jabatan Tuan kepada-Nya di dalam kita. Betapa besar perbedaan yang akan terjadi karena hal ini! Kadangkala sewaktu kita berdoa, kita merasa Tuhan berada dalam batin kita, namun kita enggan memberikan takhta kepada-Nya. Kita tidak mengakui jabatan-Nya sebagai Raja, malah meninggikan diri melampaui Dia dan meletakkan diri kita sendiri di takhta. Pada prakteknya, kita telah menurunkan Tuhan dari takhta. Bila kita tidak menobatkan Tuhan, aliran anugerah akan berhenti. Bahkan ketika kita sedang berdoa pun kita perlu membiarkan Tuhan duduk di atas takhta dalam batin kita, menghormati-Nya sebagai Kepala, Tuhan, dan Raja. Dengan demikian anugerah akan mengalir seperti sebuah sungai dalam batin kita.

Dalam Wahyu 22:1-2 kita nampak bahwa sungai air hayat mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba. Takhta Allah adalah sumber pengaliran anugerah. Menurunkan Dia dari takhta, atau merampas takhta itu dari Dia berarti meremehkan sumber anugerah. Hal ini mengakibatkan terhentinya pengaliran anugerah. Ini bukan suatu doktrin belaka, melainkan yang sangat cocok dengan pengalaman kita. Banyak di antara kita dapat bersaksi, bila kita tidak menobatkan Tuhan, kita tidak dapat menerima anugerah pada saat kita berdoa.

Kalau kita ingin menerima anugerah dan menikmati anugerah, hal pertama yang harus kita lakukan ialah beralih kepada roh kita dan melupakan pikiran, emosi, dan tekad kita. Tetapi Iblis menimbulkan satu perkara demi satu perkara untuk menjauhkan kita dari roh. Ia mungkin menghasut suatu perdebatan antara suami dan istri. Ketika mereka bersilat lidah, mereka akan merasa sukar untuk beralih kepada roh, sebab pikiran (akal) dan emosi mereka telah digejolakkan. Bila pikiran (akal) dan emosi kita kuat, kita sulit sekali beralih kepada roh kita.

Ketika kita beralih ke roh dan menetap di situ, kita perlu mengakui Tuhan sebagai Kepala dan Raja dan menobatkan Dia. Kita harus menghormati kedudukan dan wewenang-Nya, dan mengakui bahwa kita tidak berhak mengatakan atau melakukan apa pun berdasarkan diri kita. Semua kedudukan dalam kita harus kita serahkan kepada Sang Raja. Jika kita menobatkan Tuhan dalam batin kita, sungai air hayat akan mengalir keluar dari takhta untuk menyuplai kita. Dengan cara demikianlah kita akan menerima anugerah dan menikmatinya.

Anugerah tidak lain dan tidak bukan adalah Allah Tritunggal menjadi kenikmatan kita. Bapa terwujud di dalam Anak, dan Anak direalisasi sebagai Roh itu. Roh itu, yakni perampungan sempurna dari Allah Tritunggal, sekarang tinggal dalam roh kita. Kebutuhan kita hari ini ialah beralih ke Roh itu dan menetap di situ, serta menobatkan Tuhan. Lalu secara riil roh kita akan bersatu dengan surga tingkat tiga. Kita akan memahami dalam pengalaman bahwa di satu pihak, tempat yang maha kudus memang berada di surga; tetapi di pihak lain, ia pun ada di dalam roh kita. Ini menunjukkan bahwa tatkala kita menetap di dalam roh kita, kita sebenarnya telah menjamah surga. Jika kita menobatkan Tuhan dalam batin kita, maka Roh sebagai air hayat itu akan mengalir dari takhta untuk menyuplai kita. Inilah anugerah, dan inilah cara untuk menerima dan menikmati anugerah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 37

21 August 2012

Galatia - Minggu 19 Selasa


Pembacaan Alkitab: Yoh. 1:16; Ibr. 4:16


Untuk memahami apa yang dimaksud Paulus dengan anugerah dalam 6:18, kita perlu kembali kepada Injil Yohanes. Dalam kitab Injil ini tercatat bahwa Firman yang ada pada mulanya, yang bersama dengan Allah, dan yang adalah Allah, telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita, penuh anugerah dan kebenaran (1:1, 14). Menurut Yohanes 1:16, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah.” Selain itu, Yohanes 1:17 memberi tahu kita “Sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus.” Fakta hukum Taurat itu “diberikan” dan anugerah itu “datang” menunjukkan bahwa anugerah adalah suatu persona. Anugerah bukan diberikan, melainkan datang bersama Yesus Kristus. Anugerah dalam Yohanes 1 adalah Roh yang disebut di bagian lain dalam Injil Yohanes. Tatkala Kristus datang, datanglah pula bersamaNya sesuatu yang ajaib, yang disebut anugerah. Sebenarnya, anugerah ini adalah Persona yang ajaib, Kristus Yesus itu sendiri. Menurut Yohanes 1:16, dari kepenuhan Kristus kita telah menerima anugerah demi anugerah. Tetapi dalam Yohanes 7:39 dan 20:22, kita nampak bahwa kita benar-benar menerima Roh itu, yakni hembusan kudus itu. Bila ayat-ayat ini kita jajarkan, kita nampak bahwa anugerah dalam Yohanes 1 adalah Roh itu, yakni hembusan kudus dalam Yohanes 7 dan 20. Dalam Ibrani 10:29 Roh itu bahkan disebut Roh anugerah.

Sekali lagi kita boleh memakai listrik untuk perumpamaan. Boleh jadi kita mengira listrik adalah satu hal dan arus listrik adalah hal lain. Tetapi, sebenarnya arus listrik adalah listrik yang sedang bergerak. Kalau listrik tidak bergerak, ia tetap sebagai listrik saja. Tetapi begitu ia mulai bergerak, ia segera menjadi arus listrik. Namun arus listrik bukan satu hal yang berbeda dengan listrik itu. Arus listrik tak lain adalah listrik yang bergerak.

Perumpamaan arus listrik ini membantu kita memahami bahwa Roh anugerah sebenarnya adalah Roh yang sedang bergerak, beraksi, dan mengurapi di batin kita. Hal ini sangatlah subyektif. Ketika kita nampak anugerah sedemikian, kita sudah mencapai sasaran dalam mengenal makna anugerah. Sudah tentu anugerah merupakan satu realitas yang ada di luar kita. Namun, bila anugerah masuk ke dalam kita, dalam pengalaman kita ia adalah Roh itu. Anugerah yang masuk ke dalam kita dan menjadi kenikmatan kita tidak lain dan tidak bukan adalah Roh itu sendiri.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia mewahyukan kepada kita di mana Dia berada hari ini. Di satu pihak, tidak dapat diragukan bahwa Ia berada di atas takhta di surga. Tetapi di pihak lain, bagi pengalaman kita, Ia berada di dalam roh kita. Ibrani 4:16 mengatakan, “Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” Takhta anugerah tidak saja berada di surga, juga di dalam roh kita. Jika ia bukan di dalam roh kita seperti di surga, mana mungkin kita dapat menghampirinya? Ada sebagian orang yang membantah dengan menganggap roh kita tidak cukup luas untuk menampung takhta anugerah. Ditinjau dari segi ukuran, memang bantahan tersebut seolah-olah masuk akal, namun fakta dapatnya kita menghampiri takhta anugerah menunjukkan bahwa takhta ini ada di dalam roh kita, ini sesuai dengan pengalaman. Dari pengalamanlah saya mengetahui, ketika saya beralih kepada roh dan menyeru “Tuhan Yesus”, saya segera merasakan bahwa takhta anugerah itu sesungguhnya ada dalam roh saya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 37