Hitstat

20 November 2017

Matius - Minggu 8 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 4:17; 5:3
Doa baca: Mat. 4:17
Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”


Ketika Tuhan Yesus naik ke puncak gunung, murid-murid-nya datang kepada-Nya dan berada pada lingkaran yang di dalam, menjadi pendengar langsung dari pengumuman Raja baru. Hal pertama yang Ia katakan ialah, “Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh” (5:3, Tl.). Perkataan ini merupakan kelanjutan dari pemberitaan Tuhan dalam 4:17. Dalam pemberitaan-Nya, Tuhan menanggulangi angan-angan, pikiran. Ia seolah-olah berkata, “Kalian harus bertobat. Kalian harus memiliki perubahan dalam pikiran kalian, yaitu dalam mentalitas kalian. Pikiran kalian perlu diubah.” Tentu saja Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes memiliki perubahan yang sejati dalam pengertian mereka. Pada waktu mereka menjadi pendengar langsung dari pengumuman Raja baru di lingkaran bagian dalam, tidak terdapat masalah yang berkaitan dengan pikiran mereka. Pikiran mereka telah mengalami perubahan.

Pengubahan pikiran kita membuat kita bisa masuk ke dalam kerajaan, dan kerajaan masuk ke dalam kita. Pikiran bukanlah penerima maupun ruang yang di dalam batiniah, melainkan pintu gerbang. Penerima, yaitu ruang batiniah, adalah roh kita. Jadi, pikiran kita adalah pintu gerbang, dan roh kita adalah ruang yang di dalam. Kita harus menanamkan perkataan Tuhan dalam 4:17 dengan perkataan-Nya dalam 5:3. Pikiran yang telah berubah merupakan pintu gerbang yang melaluinya Kerajaan Surga masuk ke dalam kita. Ketika kerajaan masuk, kerajaan tertanam ke dalam roh kita. Kerajaan masuk melalui pintu gerbang, yaitu pikiran kita, dan sampai pada roh kita. Jadi, yang menerima dan menyimpan kerajaan adalah roh kita, bukan pikiran kita. Karena itu, roh kita adalah penerima dan wadah Kerajaan Surga.

Tuhan Yesus, yang telah masuk ke dalam roh kita melalui pikiran, itulah Raja. Kerajaan ada bersama Dia. Ketika Raja masuk ke dalam roh seseorang, berarti kerajaan juga masuk ke dalam roh orang tersebut. Mulai saat ini, baik Raja maupun kerajaan tinggal di dalam rohnya. Dalam ajaran agama Kristen yang telah merosot hari ini, sedikit sekali ditunjukkan bahwa Kristus yang masuk ke dalam roh kita adalah Raja beserta kerajaan. Ketika Ia masuk ke dalam roh Anda, kerajaan datang bersama Dia. Sekarang kita tidak hanya memiliki Juruselamat di dalam roh kita; kita juga memiliki Raja beserta kerajaan.

Perhatikanlah keterangan waktu dari predikat dalam ayat 3: “Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga” (Tl.). Kita harus mengubah kata gantinya dan mengatakan, “Berbahagialah kita yang miskin di dalam roh, karena kitalah yang punya Kerajaan Surga.” Sekali kita memahami makna dari ayat ini, kita akan nampak bahwa tidaklah benar jika diajarkan bahwa kerajaan ditangguhkan sampai masa seribu tahun. Kata “punya” dalam ayat ini membuktikan bahwa Kerajaan Surga adalah hak kita saat ini. Alangkah bahagianya miskin di dalam roh! Jika kita miskin di dalam roh, maka kitalah yang punya Kerajaan Surga. Jika Anda menerima perkataan ini ke dalam Anda, maka Anda tidak akan seperti yang dulu. Ayat yang satu ini lebih baik daripada seratus berita. Haleluya, kitalah yang punya Kerajaan Surga! Kita benar-benar bahagia dan diberkati. Diberkati dan berbahagialah kita yang miskin di dalam roh, karena kitalah yang punya Kerajaan Surga.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 14

18 November 2017

Matius - Minggu 7 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:3
Doa baca: Mat. 5:3
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.


Ayat 3 mengatakan bahwa orang-orang yang miskin di dalam roh akan berbahagia, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Banyak orang Kristen yang ingin masuk surga, tetapi hampir tidak seorang pun yang ingin berada dalam Kerajaan Surga. Sungguh suatu hal yang keliru jika kita ingin masuk surga. Hati Allah bukan tertuju kepada surga, melainkan pada Kerajaan Surga. Berbahagialah mereka yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.

Kerajaan Surga adalah istilah khusus yang digunakan oleh Matius, menunjukkan bahwa Kerajaan Surga berbeda dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah disebutkan dalam ketiga kitab Injil lainnya. Kerajaan Allah menunjukkan pemerintahan umum Allah dari zaman azali sampai zaman abadi, meliputi kekekalan tanpa awal sebelum dunia dijadikan, nenek moyang yang terpilih (termasuk Adam saat masih di Taman Eden), bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, gereja dalam Perjanjian Baru, Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang (termasuk bagian surgawinya, manifestasi Kerajaan Surga, dan bagian bumiahnya, Kerajaan Mesias), dan langit baru dan bumi baru dengan Yerusalem Baru dalam kekekalan tanpa akhir. Kerajaan Surga adalah bagian khusus dalam Kerajaan Allah, bagian yang hanya terdiri atas gereja hari ini dan bagian surgawi dari Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang. Karena itu, dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam ketiga Injil yang lain, Kerajaan Surga, sebagai bagian dari Kerajaan Allah, juga disebut “Kerajaan Allah”. Dalam Perjanjian Lama secara umum, Kerajaan Allah sudah ada bersama bangsa Israel (21:43); secara khusus, Kerajaan Surga masih belum datang dan hanya sudah dekat ketika Yohanes Pembaptis datang (31:1-2; 11:11-12).

Kerajaan Surga terdiri atas dua bagian. Bagian pertama yaitu gereja, dan bagian kedua yaitu bagian atas Kerajaan Seribu Tahun. Semua orang Kristen hari ini berada dalam gereja. Tetapi hanya para pemenanglah yang akan berada pada bagian atas, yaitu bagian surgawi dari Kerajaan Seribu Tahun. Apa yang kita miliki dalam gereja hari ini ialah realitas Kerajaan Surga, yaitu manifestasi. Manifestasi kerajaan tidak akan terjadi sebelum masa seribu tahun. Manifestasi Kerajaan Surga akan tertampak pada bagian atas Kerajaan Seribu Tahun.

Berbahagialah orang-orang yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga (perhatikanlah bahwa Tuhan tidak mengatakan “karena merekalah yang punya Kerajaan Allah.”) Ketika kita menjadi miskin di dalam roh kita, berarti kita telah siap untuk menerima Raja Surgawi. Ketika ia masuk, ia membawa Kerajaan Surga bersama-Nya. Segera setelah menerima Raja Surgawi, kita berada di dalam gereja, tempat realitas Kerajaan Surga. Jika kita adalah para pemenang, pada kedatangan-Nya kembali Tuhan akan membawa kita ke dalam manifestasi Kerajaan Surga. Untuk memiliki Kerajaan Surga pertama-tama kita harus berpartisipasi dalam hidup gereja yang layak, normal; dan kedua kita mewarisi manifestasi Kerajaan Surga dalam bagian atas dari Kerajaan Seribu Tahun. Inilah makna dari perkataan, “karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.” Orang-orang Kristen yang mundur, mereka akan kehilangan realitas Kerajaan Surga pada masa kini dan manifestasi Kerajaan Surga pada masa yang akan datang. Alangkah bahagianya menjadi orang yang miskin di dalam roh! Jika kita miskin di dalam roh, kitalah yang mempunyai Kerajaan Surga. Haleluya atas berkat utama dan Kerajaan Surga ini! Betapa baiknya jika kita miskin di dalam roh kita!



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 13

17 November 2017

Matius - Minggu 7 Jumat

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:3
Doa baca: Mat. 5:3
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.


Matius 5:1-12 menggambarkan sembilan aspek hakiki umat kerajaan. Mereka adalah orang-orang yang miskin di dalam roh, yang berduka atas keadaan saat ini, yang lemah lembut dalam menanggung tentangan, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang bermurah hati, yang suci (murni) hatinya, yang membawa damai, yang menderita aniaya karena kebenaran, dan yang dicela serta difitnah. Setiap aspek dimulai dengan kata “diberkati” (berbahagialah). Kata “diberkati” ini dalam bahasa Yunaninya memiliki arti “diberkati dan berbahagia”. Berkat dan bahagia di sini bukanlah suatu hal yang remeh, melainkan suatu hal yang berbobot. Ketika Anda mendengar perkataan, “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh”, Anda tidak seharusnya bersorak dan melompat-lompat. Berbahagia dalam ayat ini adalah sesuatu yang dalam.

Dalam ayat 3 Raja baru berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga” (Tl.). Kerajaan Surga pertama-tama berhubungan dengan roh kita. Roh ini bukan mengacu kepada Roh Allah, melainkan roh insani kita, bagian yang paling dalam dari diri kita, yaitu organ untuk berkontak dengan Allah dan memahami hal-hal rohani. Miskin di dalam roh bukan berarti memiliki roh yang miskin. Memiliki roh yang miskin sangatlah menyedihkan. Tetapi jika kita miskin di dalam roh, kita bahagia. Miskin di dalam roh bukan hanya mengacu kepada rendah hati, tetapi juga dikosongkan di dalam roh, dalam kedalaman diri manusia kita, tidak berpegang pada hal-hal lama dari zaman yang lama, tetapi dibongkar untuk menerima hal-hal yang baru, hal-hal Kerajaan Surga. Kita perlu menjadi miskin, dikosongkan, dan dibongkar dalam bagian apa adanya kita yang satu ini, sehingga kita dapat memahami dan memiliki Kerajaan Surga. Ini menyiratkan bahwa Kerajaan Surga bersifat rohani, bukan bersifat materi.

Kita harus mengosongkan roh kita dari semua hal usang yang memenuhinya. Roh orang-orang Yahudi juga penuh; roh mereka sepenuhnya terisi dengan perkara-perkara agama mereka. Orang-orang Yunani penuh dengan filsafat mereka. Pernah saya bekerja dengan seorang Yunani yang sangat membanggakan bahasa dan filsafat Yunani. Meskipun pikiran dan roh orang-orang Yunani telah terisi, tetapi berdasarkan pengalaman saya bersama mereka, orang-orang Yunani agak mudah dihampakan. Mereka tidak keras kepala. Hari ini banyak juga orang Kristen yang rohnya terisi. Jika Anda berbicara dengan mereka yang berada dalam denominasi, Anda akan merasakan bahwa roh mereka terisi. Hampir semua macam orang Kristen hari ini rohnya terisi oleh hal-hal lain selain Allah. Ketika Tuhan Yesus memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (4:17), tidak banyak orang yang dapat menerima perkataan-Nya, karena roh mereka telah terisi hal-hal lain. Minuman yang terbaik diberikan, tetapi bejana mereka telah terisi. Jadi, mereka tidak dahaga. Kapan kala roh kita terisi, kita tidak mempunyai daya muat dalam bejana kita, bahkan untuk minuman yang terbaik sekalipun. Karena itu, ketika Tuhan berbicara kepada murid-murid-Nya di atas gunung, kata pembuka dari pengumuman-Nya ialah kita harus miskin di dalam roh, yaitu roh kita harus dihampakan dari segala sesuatu.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 13

16 November 2017

Matius - Minggu 7 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:1
Doa baca: Mat. 5:1
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.


Matius 5, 6, dan 7 boleh disebut sebagai konstitusi Kerajaan Surga. Setiap bangsa memiliki konstitusi. Tentu saja Injil Matius, kitab mengenai Kerajaan Surga, pasti juga memiliki konstitusi. Dari perkataan yang dikatakan oleh Raja baru sebagai konstitusi Kerajaan Surga dalam ketiga pasal ini, kita nampak wahyu tentang kehidupan rohani dan prinsip-prinsip surgawi mengenai Kerajaan Surga. Sifatnya tunggal, tetapi prinsipnya jamak. Konstitusi Kerajaan Surga terdiri atas tujuh bagian: hakiki umat kerajaan (5:1-12); pengaruh umat kerajaan (5:13-16); hukum umat kerajaan (5:17-48); perbuatan benar umat kerajaan (6:1-18); kekayaan materi umat kerajaan (6:19-34); prinsip umat kerajaan dalam memperlakukan orang lain (7:1-12); dan dasar kehidupan dan pekerjaan umat kerajaan (7:13-29). Bagian pertama (Mat. 5:3-12), menggambarkan sifat dasar (hakiki) umat Kerajaan Surga yang berada di bawah sembilan berkat. Bagian ini membentangkan orang-orang yang hidup dalam Kerajaan Surga. Umat kerajaan juga harus mempunyai pengaruh atas dunia. Hakiki orang-orang kerajaan, hakiki kerajaan, mempunyai pengaruh atas dunia. Orang-orang kerajaan juga memiliki hukum. Hukum ini bukanlah hukum yang lama, hukum Musa, sepuluh perintah; hukum ini adalah hukum Kerajaan Surga yang baru. Orang-orang kerajaan adalah orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan benar dan memiliki sikap yang tepat berkaitan dengan kekayaan materi. Karena umat kerajaan masih berada di bumi dalam masyarakat manusia, konstitusi Kerajaan Surga tersebut mewahyukan prinsip bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain. Akhirnya, pada bagian terakhir dari konstitusi ini, kita nampak dasar kehidupan dan pekerjaan sehari-hari umat kerajaan. Semua aspek umat kerajaan tersebut tercakup dalam ketujuh bagian konstitusi Kerajaan Surga ini.

Raja baru ini memanggil pengikut-pengikut-Nya di tepi laut, tetapi untuk menyampaikan konstitusi Kerajaan Surga, Dia naik ke atas gunung (5:1). Ini menunjukkan bahwa demi realisasi Kerajaan Surga, kita perlu pergi ke tempat yang lebih tinggi bersama-Nya. Pengumuman konstitusi Kerajaan Surga di atas gunung ini sangat bermakna. Laut melambangkan dunia yang telah dirusak oleh Iblis. Ketika kita ditangkap oleh Tuhan, kita berada di dunia yang telah dirusak oleh Iblis dan sedang berusaha mencari nafkah. Tetapi setelah Tuhan menangkap kita, Ia memimpin kita ke gunung yang tinggi, yang melambangkan Kerajaan Surga. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Surga bukan didirikan di tepi laut, tetapi di atas gunung. Dalam Alkitab gunung melambangkan kerajaan, khususnya Kerajaan Surga.

Tidak hanya demikian, dibawa naik ke atas gunung menunjukkan bahwa jika kita hendak mendengarkan pengumuman konstitusi Kerajaan Surga, kita tidak seharusnya berada pada dataran yang rendah, melainkan naik ke gunung yang tinggi. Untuk mendengarkan konstitusi ini kita harus berada pada dataran yang tinggi. Di tepi laut Tuhan berkata, “Ikutlah Aku.” Tetapi untuk mengumumkan konstitusi Kerajaan Surga, Ia membawa mereka ke puncak gu-nung. Mengikuti Tuhan mungkin agak mudah, tetapi mendengarkan konstitusi bagi berdirinya Kerajaan Surga menuntut kita naik ke puncak gunung yang tinggi.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 13

15 November 2017

Matius - Minggu 7 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 4:17-23
Doa baca: Mat. 4:23
Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka.


Ketika Petrus dan Andreas dipanggil oleh Tuhan, mereka sedang menebarkan jala ke laut. Tuhan memanggil mereka untuk mengikuti-Nya dan berjanji akan menjadikan mereka penjala manusia. Mereka meninggalkan jala mereka, dan mengikuti Raja Kerajaan Surga untuk menjadi penjala manusia. Akhirnya, Petrus menjadi penjala besar pertama untuk mendirikan Kerajaan Surga pada hari Pentakosta (Kis. 2:37-42; 4:4). Hal yang sama juga terjadi pada Yakobus dan Yohanes (Mat. 4:21-22). Ketika mereka dipanggil oleh Tuhan, mereka sedang menambal jala mereka di dalam perahu. Begitu Tuhan memanggil mereka, mereka meninggalkan perahu dan ayah mereka serta mengikuti Dia. Yohanes dan saudaranya, sebagaimana Petrus dan Andreas, tertarik oleh Tuhan dan mengikuti Dia. Akhirnya, Yohanes menjadi penambal yang sejati, menambal lubang dalam gereja dengan ministri hayatnya.

Panggilan kepada keempat murid itu merupakan permulaan dari ministri kerajaan Raja baru yang telah diurapi. Ini merupakan dasar bagi berdirinya Kerajaan Surga. Keempat murid ini menjadi empat orang yang utama dari kedua belas rasul. Petrus dan Andreas adalah pasangan yang pertama, Yakobus dan Yohanes adalah pasangan yang kedua. Jadi, keempat murid pertama yang ditangkap oleh Tuhan Yesus menjadi keempat batu fondasi utama Kerajaan Allah, yaitu empat dari dua belas fondasi Yerusalem Baru (Why. 21:14).

Dari permulaan ministri-Nya, Raja Surgawi memberitakan Injil Kerajaan Allah. Injil dalam kitab ini disebut “Injil Kerajaan”. Ini tidak hanya mencakup pengampunan dosa (Luk. 24:47) dan penyaluran hayat (Yoh. 20:31), tetapi juga mencakup Kerajaan Surga (Mat. 24:14) dengan kuasa zaman yang akan datang (Ibr. 6:5), kuasa untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit (Yes. 35:5-6; Mat. 10:1). Pengampunan dosa dan penyaluran hayat adalah untuk kerajaan.

Sewaktu Tuhan berkeliling di seluruh Galilea, Ia menyembuhkan berbagai penyakit di antara banyak orang. Tuhan Yesus memperluas ministri-Nya dengan melakukan keempat perkara ini: berkeliling, mengajar, memberitakan, dan menyembuhkan. Dalam pekerjaan Injil hari ini kita juga harus berkeliling, mengajar, memberitakan, dan menyembuhkan. Kita memerlukan keempat perkara ini; kita tidak boleh mengabaikan maupun memandang rendah penyembuhan. Kita tidak boleh mengikuti pelaksanaan kekristenan fundamental yang hanya memiliki sedikit sekali penyembuhan, ataupun kekristenan Pentakosta yang terlalu banyak menekankan hal ini, bahkan memiliki penyembuhan yang keliru, yang hanya berupa pertunjukan. Kita harus berjalan pada langkah Tuhan Yesus yang berkeliling, mengajar, memberitakan, dan menyembuhkan. Janganlah beranggapan bahwa kita tidak mempercayai mukjizat. Kita percaya sepenuhnya pada mukjizat. Kita mengikuti pimpinan Tuhan untuk berkeliling, memberitakan, dan menyembuhkan.

Dengan bercahaya sebagai terang yang besar, Tuhan menawan keempat nelayan muda itu untuk menjadi murid-murid-Nya. Keempat murid ini berkeliling bersama Raja ke seluruh Galilea sebagaimana Ia mengajar, memberitakan, dan menyembuhkan. Hasilnya ialah banyak orang yang mengikuti-Nya (ayat 25) bagi Kerajaan Surga. Inilah permulaan berdirinya Kerajaan Surga.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 12

14 November 2017

Matius - Minggu 7 Selasa

Pembacaan Alkitab: Mat. 4:16
Doa baca: Mat. 4:16
Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.


Ketika Tuhan datang kepada kita di Laut Galilea kita, ada sesuatu yang berbeda mengenai Dia. Dalam Yohanes 1, pengenal Kristus menyatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Ketika Yohanes menyatakan bahwa Kristus adalah Anak Domba Allah, dua orang dari murid-muridnya, yaitu Andreas dan Yohanes, mengikuti Tuhan Yesus. Akhirnya, sebagaimana kita tahu, saudara Andreas, yaitu Petrus, dan saudara Yohanes, yaitu Yakobus, juga dibawa kepada Tuhan dan beroleh selamat. Meskipun demikian, Raja memiliki tujuan dan Ia memerlukan Anda sebagaimana Ia memerlukan Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Karena itu tiba-tiba Anak Domba Allah menampakkan diri di tempat keempat orang itu bekerja mencari nafkah. Tetapi saat ini Ia tidak datang sebagai Anak Domba — Ia datang sebagai Terang yang besar (ay. 16).

Yohanes Pembaptis adalah pelita yang menyala dan bercahaya (Yoh. 5:35). Tetapi Raja ini adalah Terangnya. Pada faktanya, Ia bukan hanya Terang, tetapi juga Terang yang besar. Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes tidak menyadari bahwa mereka berada dalam kegelapan ketika bekerja di dekat Laut Galilea mencari nafkah. Mereka berada dalam naungan maut. Inilah gambaran mengenai situasi hari ini. Banyak orang Kristen yang bertemu dengan Tuhan Yesus di tepi-tepi sungai dan beroleh selamat. Tetapi kemudian mereka tidak memperhatikan pengalaman mereka itu; sebaliknya, mereka lebih memperhatikan pekerjaan. Karena itu, mereka pergi ke Laut Galilea untuk mencari nafkah. Mereka tidak mengetahui bahwa dengan pergi ke Laut Galilea untuk mencari nafkah, mereka telah masuk ke dalam kegelapan dan naungan maut. Puji Tuhan, Raja baru tidak tinggal di Yerusalem! Ia datang ke tepi Laut Galilea, dan Ia masih datang ke tepi Laut Galilea hari ini, berjalan menyusur pantai untuk mendapatkan kita. Saat ini Ia datang bukan sebagai Anak Domba yang kecil, melainkan sebagai Terang yang besar. Ketika Petrus dan Andreas sedang menjala ikan, terang besar ini bercahaya atas mereka. Ketika Tuhan berdiri dan bercahaya atas mereka, mungkin Ia berkata, “Petrus dan Andreas, apa yang sedang kalian lakukan di sini? Tidak ingatkah kalian bahwa Aku pernah bertemu kalian di dekat Sungai Yordan? Petrus, tidak ingatkah kamu bagaimana Aku mengubah namamu?” Hari itu di tepi Laut Galilea, Terang yang besar bercahaya atas mereka.

Ministri Raja baru untuk Kerajaan Surga bukan dimulai dengan kuasa bumiah, melainkan dengan terang surgawi, yaitu Raja itu sendiri sebagai terang hayat yang memancar dalam naungan maut. Ketika Tuhan yang sebagai terang memulai ministri-Nya, Ia tidak menggunakan kekuatan dan kekuasaan. Ia sama dengan manusia pada umumnya, yaitu berjalan menyusur pantai. Tetapi sewaktu Ia datang kepada keempat murid itu di Laut Galilea, Ia bercahaya atas mereka sebagai Terang yang besar, yang bercahaya dalam kegelapan dan negeri yang dinaungi maut. Pada saat itu, Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, diterangi dan ditarik. Telah kita tunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis adalah magnet yang besar. Tetapi Tuhan Yesus adalah magnet yang paling besar daripada semuanya. Ketika Ia bercahaya atas keempat murid itu, mereka tertarik dan tertawan. Mereka segera meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti Orang Nazaret kecil ini.

Tidak hanya demikian, Tuhan Yesus memanggil keempat murid ini bukannya untuk memulai suatu pergerakan maupun revolusi. Sebaliknya, Ia menarik murid-murid ini kepada diri-Nya sendiri bagi berdirinya Kerajaan Surga.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 12

13 November 2017

Matius - Minggu 7 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 4:12
Doa baca: Mat. 4:12
Tetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.


Menurut konsepsi manusia, Yesus seharusnya memulai ministri-Nya dari Bait Suci di kota suci, yaitu Yerusalem. Tetapi datanglah berita yang mengatakan bahwa pendahulu-Nya, yaitu Yohanes Pembaptis, telah dipenjarakan. Ini merupakan tanda bagi Raja baru bahwa Yerusalem telah menjadi tempat penolakan. Karena itu, Ia tidak seharusnya memulai ministri kerajaan-Nya di sana.

Atas ekonomi-Nya, Allah menghendaki suatu perubahan yang mutlak, yakni perubahan dari ekonomi yang lama ke ekonomi yang baru. Ekonomi yang lama telah menghasilkan agama luaran, Bait Suci luaran, kota luaran, dan sistem penyembahan luaran. Segala sesuatu dalam ekonomi yang lama disusun secara luaran. Dalam ekonomi-Nya yang baru Allah membuang semuanya itu dan memulai suatu permulaan yang baru. Situasi di bawah kedaulatan Allah sesuai dengan perubahan dalam ekonomi Allah ini. Karena Yerusalem telah menolak pengenal Raja baru itu, maka Tuhan Yesus sadar bahwa Ia tidak seharusnya memulai ministri-Nya di sana. Di Yerusalem tidak ada sambutan bagi-Nya.

Dalam bergerak bersama-sama dengan Tuhan, kita harus menghindari dua macam ekstrem. Ekstrem pertama ialah ekstrem adikodrati. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka tidak perlu memperhatikan keadaan sekitar mereka, karena mereka memiliki Roh. Sedangkan ekstrem lainnya terlalu banyak memperhatikan sejarah dan kecenderungan alamiah. Namun dalam Matius 4, Raja baru tidak semata-mata bergerak sesuai dengan apa yang disebut pimpinan rohani, juga tidak menurut sejarah atau kecenderungan alamiah. Sebaliknya, Ia bergerak bersama-sama dengan ekonomi Allah sesuai dengan petunjuk-petunjuk dalam suasana sekitar-Nya. Ia pergi ke Galilea, ke tanah Zebulon dan tanah Naftali untuk bersinar sebagai Terang yang besar bagi bangsa yang diam dalam kegelapan dan negeri yang dinaungi maut (4:15-16).

Raja baru ini memulai ministri-Nya bukan di kota kudus ataupun Bait Suci, melainkan di Galilea, bahkan di Laut (LAI: Danau) Galilea. Pendahulu-Nya melayani di tepi sungai, di padang gurun, tetapi Ia memulai ministri-Nya di dekat Laut Galilea. Galilea adalah tempat dengan penduduk campuran, orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Karena itu, tempat ini disebut “Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain”, dan diremehkan oleh orang-orang Yahudi ortodoks (Yoh. 7:41, 52). Raja baru yang diangkat memulai ministri rajani-Nya untuk Kerajaan Surga di tempat yang diremehkan seperti itu, jauh dari ibukota negara, Yerusalem yang terhormat dengan Bait Suci, pusat agama ortodoks. Ini menyiratkan bahwa ministri Raja yang baru diurapi adalah untuk Kerajaan Surgawi yang berbeda dengan kerajaan Daud yang bumiah (Kerajaan Mesias). Yohanes Pembaptis melayani di tepi sungai, karena ia dipersiapkan untuk menguburkan setiap orang yang datang kepadanya untuk bertobat. Raja baru melayani di sekitar Laut Galilea. Dalam Alkitab, Sungai Yordan melambangkan penguburan dan kebangkitan, yaitu pengakhiran dan pertumbuhan. Tetapi Laut Galilea melambangkan dunia yang telah dirusak oleh Iblis. Jadi, Yordan adalah tempat penguburan, sedangkan Laut Galilea adalah dunia yang telah rusak.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 12

11 November 2017

Matius - Minggu 6 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 4:8-11
Doa baca: Mat. 4:10
Lalu berkatalah Yesus kepadanya, “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”


Karena pertama kali Tuhan Yesus telah mengalahkannya dengan jalan mengutip Alkitab, si pencoba meniru cara-Nya dan dalam pencobaannya yang kedua, ia mencobai Dia juga dengan mengutip Alkitab, namun secara licik. Mengutip ayat Alkitab mengenai satu aspek dari suatu hal menuntut kita memperhitungkan aspek lainnya juga, untuk diselamatkan dari tipuan si pencoba. Inilah yang dilakukan Raja baru di sini untuk menghadapi pencobaan kedua dari si pencoba. Sering kali kita perlu memberi tahu si pencoba, “Ada pula tertulis.”

Setelah kalah dalam pencobaannya mengenai agama, Iblis mengajukan pencobaannya yang ketiga kepada Raja baru, kali ini mengenai kemuliaan dunia ini. Iblis telah memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dan kemegahannya. Urutan pencobaan si licik selalu datang secara demikian: pertama, berhubungan dengan penghidupan manusia; kedua, berhubungan dengan agama; dan ketiga, berhubungan dengan kemegahan duniawi. Dalam banyak pencobaan, ketiga perkara ini pasti ada. Pencobaan ketiga adalah masalah kemegahan dunia, promosi, ambisi kedudukan, dan cita-cita hari depan. Semuanya ini adalah kemegahan dunia.

Lukas 4:6 mengatakan bahwa kerajaan dunia beserta kemegahannya telah diserahkan kepada Iblis; karena itu, Iblis dapat memberikannya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Sebelum kejatuhannya, Iblis adalah penghulu malaikat yang ditunjuk oleh Allah sebagai penguasa dunia (Yeh. 28:13-14). Karena itu, dia disebut “penguasa dunia ini” (Yoh. 12:31), yang menguasai semua kerajaan dunia ini dan kemegahannya. Karena ingin disembah, dia memamerkan semua ini untuk mencobai Raja yang baru diurapi. Raja yang Surgawi mengalahkan pencobaan ini, tetapi antikristus yang akan datang tidak demikian (Why. 13:2, 4).

Raja baru menghardik Iblis atas apa yang dipamerkannya dan mengalahkan dia dengan berdiri pada kedudukan manusia untuk menyembah dan melayani Allah semata. Menyembah atau melayani apa pun selain Allah untuk mendapatkan keuntungan merupakan pencobaan dari Iblis, agar dia bisa mendapatkan penyembahan. Tuhan seolah-olah berkata kepada Iblis, “Iblis, sebagai seorang manusia, Aku, Yesus, menyembah Allah dan hanya berbakti kepada-Nya saja. Kau adalah musuh Allah, dan Aku tidak pernah menyembahmu. Aku tidak mengharapkan kemegahan dunia ataupun kerajaan dunia. Iblis, enyahlah dari hadapan-Ku!”

Betapa perlunya kita mengatasi ketiga macam pencobaan ini: pencobaan penghidupan, pencobaan kekuatan agama, dan pencobaan kemuliaan yang sia-sia. Jika kita mengalahkan hal-hal ini, kita benar-benar adalah umat kerajaan yang mengikuti Raja Surgawi kita. Jika kita membunuh ketiga pencobaan ini dengan berkata, “Aku tidak peduli penghidupanku, kekuatan agama, ataupun kedudukan duniawi”, maka setan tidak dapat berbuat sesuatu terhadap kita. Haleluya, Raja Surgawi kita telah mengalahkan si pencoba, mengalahkannya dalam ketiga pencobaan ini!



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 11

10 November 2017

Matius - Minggu 6 Jumat

Pembacaan Alkitab: Mat. 4:5-7
Doa baca: Mat. 4:7
Yesus berkata kepadanya, “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”


Sekarang kita tiba pada butir ujian yang pertama. Pada saat pembaptisan Kristus, Bapa membuka surga sambil mendeklarasikan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih” (3:17). Segera setelah deklarasi ini, Roh Kudus membawa manusia ini ke padang gurun untuk diuji dan melihat apakah Dia memperhatikan kehidupan jasmani-Nya ataukah kehidupan rohani-Nya. Kemudian, berdasarkan deklarasi Allah Bapa, si pencoba datang untuk mencobai manusia ini dengan berkata, “Jika engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (ayat 3). Tetapi Dia menjawab dengan perkataan Alkitab, “manusia ... ,” yang menunjukkan bahwa Dia berdiri pada kedudukan manusia untuk menanggulangi musuh. Setan-setan menyebut Yesus sebagai Anak Allah (8:29), tetapi roh-roh jahat tidak mengakui bahwa Yesus datang dalam tubuh daging (1 Yoh. 4:3), karena dengan mengakui Yesus sebagai manusia, mereka menyatakan bahwa mereka sudah kalah. Meskipun setan-setan mengakui Yesus sebagai Anak Allah, Iblis tidak akan membiarkan manusia mempercayai Dia sebagai Anak Allah, karena dengan berbuat demikian, manusia akan beroleh selamat (Yoh. 20:31).

Raja yang baru diurapi menghadapi pencobaan musuh bukan hanya dengan perkataan-Nya sendiri, tetapi dengan firman Alkitab, yang dikutip dari Ulangan 8:3. Perkataan ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus mengambil firman Allah dalam Alkitab sebagai makanan-Nya dan Dia hidup berdasarkan firman itu.

Pencobaan pertama Iblis terhadap Raja baru berhubungan dengan perkara penghidupan manusia. Setelah kalah dalam hal ini, Iblis beralih ke pencobaan yang kedua, perkara agama, dengan mencobai Raja baru untuk memamerkan bahwa Dia adalah Anak Allah, melalui menjatuhkan diri-Nya dari bubungan Bait Allah (ay. 6). Tuhan Yesus tidak perlu melakukan hal ini. Ini hanyalah suatu pencobaan yang membujuk Dia untuk memamerkan bahwa sebagai Anak Allah, Dia mampu bertindak dengan mukjizat. Pikiran untuk melakukan hal-hal yang berbau mukjizat dalam agama adalah pencobaan Iblis.

Ujian kedua mengenai keagamaan. Hal-hal mencengangkan dalam agama adalah mukjizat-mukjizat. Menurut konsepsi manusia, agama yang tidak memiliki mukjizat itu tidak memiliki kekuatan. Agama yang sangat kuat adalah agama yang penuh dengan mukjizat. Sebab itu Iblis membawa Raja yang baru ke bubungan bait dan mencobai Dia untuk menjatuhkan diri, dan berkata bahwa malaikat-malaikat akan melindungi Dia. Jangan mengira bahwa Anda tidak pernah mempunyai pikiran untuk melakukan hal semacam ini. Dalam kehidupan sehari-hari saya sering berpikir ingin melakukan perkara-perkara untuk menunjukkan kepada khalayak ramai bahwa saya adalah seorang yang ajaib dan saya memiliki kekuatan-kekuatan gaib. Tidakkah Anda mempunyai konsepsi demikian dalam kehidupan kristiani Anda? Kadang-kadang kita diuji pada saat perlu melakukan sesuatu, dan di saat lain kita diuji ketika tidak ada keperluan untuk melakukan sesuatu. Dalam perkara ini, Yesus tidak perlu menjatuhkan diri-Nya dari bubungan bait.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 11

09 November 2017

Matius - Minggu 6 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 4:1-4
Doa baca: Mat. 4:4
Tetapi Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”


Dalam berita ini kita tiba pada masalah ujian terhadap Raja yang baru dilantik (4:1-11). Setelah diurapi, Tuhan dicobai. Urutan dalam administrasi Allah selalu pemilihan, pengurapan, dan pengujian. Setelah sang Raja Surgawi diurapi dan dilantik, Dia dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk diuji. Dia pergi ke padang gurun bukan atas maksud-Nya sendiri, melainkan dibawa oleh Roh Kudus yang turun di atas-Nya. Dalam kehidupan pernikahan, Allah juga membawa kita ke dalam ujian. Ada sejumlah saudara saudari muda yang mengeluh kepada Allah, “Tuhan, sebelum aku menikah, aku telah banyak berdoa kepada-Mu. Akhirnya Engkau memberi tahu aku bahwa kehendak-Mu ialah supaya aku menikah dengan dia; dia adalah orang yang Engkau sediakan bagiku. Tuhan, Engkau tahu pada mulanya aku tidak tertarik, namun dalam kuasa kedaulatan-Mu, Engkau mengatur kami bersama. Namun lihatlah situasi hari ini. Lihatlah pada orang yang Engkau berikan kepadaku. Engkau yang salah atau aku yang salah?” Baik Tuhan maupun Anda tidak melakukan kesalahan. Ini adalah ujian Tuhan.

Pertama-tama, Roh membawa Raja yang telah diurapi untuk dicobai oleh Iblis. Pencobaan ini adalah suatu ujian untuk membuktikan bahwa Dia bersyarat menjadi Raja Kerajaan Surgawi. Iblis dalam bahasa Yunaninya diterjemahkan diabolos, artinya pendakwa, pemfitnah (Why. 12:9-10). Iblis, yaitu Satan, mendakwa kita di hadapan Allah dan memfitnah kita di hadapan manusia.

Ujian pertama adalah masalah penghidupan insani, yaitu masalah nafkah. Tuhan dibawa berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam. Setelah empat puluh hari empat puluh malam ini, Ia lapar, dan si pencoba datang kepada-Nya sambil berkata, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (ayat 3). Terhadap usul ini Tuhan menjawab, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Banyak orang Kristen mengira bahwa selama Tuhan berpuasa, Dia tentu tidak makan apa-apa. Namun ayat ini mewahyukan bahwa selama Tuhan Yesus berpuasa, Dia pun makan. Secara lahiriahnya Ia berpuasa, namun secara rohaninya Ia makan.

Di sini kita nampak satu prinsip penting. Dalam ministri dan ekonomi Tuhan, jika kita tidak tahu bagaimana merendahkan keperluan jasmani kita dan memperhatikan keperluan rohani, kita tidak bersyarat bagi ministri-Nya. Agar bersyarat dalam ministri Tuhan, kita harus diuji. Kita harus mengorbankan keperluan jasmani kita. Tempat tinggal yang baik, makanan yang lezat, dan pakaian yang indah, semuanya tak lain hanyalah keperluan sekunder. Makan makanan rohani itulah yang primer. Begitu dibaptis, Tuhan Yesus dibawa ke dalam situasi di mana Dia bisa mendeklarasikan kepada seluruh alam semesta bahwa Dia bukan untuk kebutuhan jasmani, melainkan hanya untuk kebutuhan rohani. Selama empat puluh hari empat puluh malam Dia mengabaikan semua makanan jasmani, melupakan tuntutan jasmani. Sebaliknya, Dia memperhatikan keperluan rohani. Meskipun Dia tidak makan untuk mempertahankan tubuh jasmani-Nya, tetapi Ia makan banyak untuk memelihara roh-Nya. Perkiraan setan tentang Tuhan Yesus tidak makan selama hari-hari di padang gurun itu mutlak salah. Sementara Dia berpuasa terhadap makanan jasmani, Dia makan makanan rohani. Inilah ujian dalam masalah penghidupan kita.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 11

08 November 2017

Matius - Minggu 6 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:16-17
Doa baca: Mat. 3:17
Lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.”


Karena Tuhan Yesus dibaptis menggenapkan kebenaran Allah, maka surga terbuka bagi-Nya, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan Allah berfirman tentang Dia. Pembaptisan-Nya untuk menggenapkan kebenaran Allah menggirangkan Allah, sehingga baptisan-Nya membuka langit, membawa turun Roh Kudus, dan membuka mulut Bapa. Jalan agar kita beroleh langit yang terbuka, Roh yang turun, dan perkataan Bapa ialah diakhiri. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa ketika kita diakhiri, surga terbuka. Sebaliknya, ketika kita disambut dan dihormati, surga tertutup. Ketika kita diakhiri dalam hidup gereja, surga terbuka. Tidak hanya demikian, setiap pengakhiran membawa turun Roh Kudus dan membuka mulut Bapa Surgawi kita. Pada saat itu Bapa akan berkata, “Yang Kukasihi.” Dalam hidup gereja kita mempunyai banyak pengalaman seperti ini. Dalam hidup gereja, ketika kita diakhiri, surga terbuka, Roh datang, dan Bapa berfirman. Kita memiliki langit yang terbuka, Roh yang mengurapi, dan Bapa yang berfirman.

Sebelum Roh Allah turun ke atas-Nya, Tuhan Yesus dilahirkan dari Roh Kudus (Luk. 1:35). Ini membuktikan bahwa pada saat Dia dibaptis, Dia sudah mempunyai Roh Allah dalam diri-Nya. Roh itu ada dalam diri-Nya untuk kelahiran-Nya. Kini untuk ministri-Nya, Roh Allah turun ke atas-Nya. Hal ini menggenapkan Yesaya 61:1; 42:1 dan Mazmur 45:7, dan dilaksanakan untuk mengurapi Raja baru dan memperkenalkan-Nya kepada umat-Nya.

Burung merpati bersifat lembut, dan matanya hanya dapat melihat satu benda pada satu saat. Karena itu, burung merpati melambangkan kelembutan dan ketulusan dalam pandangan dan tujuan. Dengan turunnya Roh Allah seperti burung merpati ke atas-Nya, Tuhan Yesus melayani dalam kelembutan dan ketulusan, hanya tertuju pada kehendak Allah.

Jika Roh Kudus telah ada di dalam Yesus sebelum Ia dibaptis, mengapa Roh Kudus masih perlu turun ke atas-Nya? Bukankah Roh Allah dalam Yesus? Memang benar. Lalu mengapa Roh tetap turun ke atas-Nya? Apakah Roh di dalam-Nya berbeda dengan Roh yang turun ke atas-Nya? Apakah Roh yang turun ke atas-Nya adalah Roh tambahan pada Roh yang telah ada di dalam-Nya? Kalau Anda mengatakan bahwa kedua Roh ini adalah satu Roh, saya akan bertanya bagaimana kedua Roh ini dapat bersatu. Roh yang telah bersemayam dalam Tuhan Yesus sama dengan Roh yang turun ke atas-Nya. Dengan demikian, apakah Yesus mempunyai Roh atau tidak? Ya, Ia mempunyai Roh. Lalu mengapa Roh tetap turun ke atas-Nya? Saya di sini bersama Anda. Jika saya di sini, bagaimana saya masih datang kepada Anda? Walaupun tidak mungkin bagi saya untuk serentak berada di sini dan masih datang, namun tidaklah mustahil bagi persona ilahi. Tuhan itu ajaib. Pada saat yang bersamaan, ia bisa ada di sini sekaligus datang ke sini. Kristus berada di dalam Anda atau di dalam surga? Ia di dalam kita juga di dalam surga. Jadi, Tuhan ada di sini, juga sedang datang ke sini.

Turunnya Roh adalah pengurapan Kristus, sedangkan berbicaranya Bapa adalah kesaksian bagi Dia sebagai Anak yang terkasih. Ini adalah gambaran Trinitas ilahi: Anak bangkit keluar dari air, Roh turun ke atas Anak, dan Bapa berbicara mengenai Anak. Ini membuktikan bahwa Bapa, Anak, dan Roh ada secara bersamaan. Hal ini adalah untuk merampungkan ekonomi Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 10

07 November 2017

Matius - Minggu 6 Selasa

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:14-15
Doa baca: Mat. 3:15
Lalu jawab Yesus kepadanya, "Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Yohanes pun menuruti-Nya.


Tuhan Yesus datang dari Galilea ke Sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes. Sebagai seorang manusia, Tuhan Yesus datang untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis selaras dengan Perjanjian Baru Allah. Ayat 13 tidak mengatakan bahwa Yesus datang kepada Yohanes untuk dikuduskan, melainkan mengatakan, Ia datang untuk dibaptis. Gereja juga pertama-tama bukan gereja yang menguduskan, melainkan gereja yang membaptis. Pikirkanlah perkara Tuhan Yesus, Ia adalah Gembala yang sejati. Seorang Gembala selalu berjalan di depan. Sebagai Raja Gembala, Tuhan Yesus berjalan di depan untuk memimpin Anda berjalan dari Galilea ke Sungai Yordan untuk dibaptis. Ia bukan datang ke Sungai Yordan untuk bertakhta, melainkan ditaruh dalam kematian, dikubur.

Dalam ayat 14-15 Yohanes tidak mengerti jelas, ia bimbang, bagaimana mungkin dia membaptis Yesus; dia mengira seharusnya dialah yang dibaptis Yesus. Ini menunjukkan bahwa Yohanes masih dalam hayat alamiahnya. Sekalipun ia telah dijenuhi oleh Roh Kudus lebih dari tiga puluh tahun, masih ada unsur alamiahnya yang tersisa. Karena itu dalam jawaban kepadanya, Tuhan seolah-olah berkata, “Engkau harus mengizinkan Aku dibaptis. Jangan menghalangi Aku dengan konsepsi alamiahmu. Jangan mengira, karena Aku lebih berkuasa daripadamu, Aku tidak perlu dibaptis olehmu. Izinkanlah Aku dibaptis sehingga kita dapat menggenapkan semua kebenaran.”

Kebenaran adalah menjadi benar dengan hidup, berjalan, dan melakukan segala hal menurut cara yang ditetapkan oleh Allah. Dalam Perjanjian Lama, yang dimaksud benar adalah memelihara hukum Taurat yang telah Allah berikan. Kini Allah mengutus Yohanes Pembaptis untuk mengadakan baptisan. Dibaptis juga menggenapkan kebenaran di hadapan Allah, yaitu menggenapkan syarat Allah. Tuhan Yesus datang kepada Yohanes, bukan sebagai Allah, melainkan sebagai manusia biasa, standar, orang Israel sejati. Karena itu, Ia harus dibaptis untuk memelihara pengaturan Allah pada zaman ini.

Tuhan dibaptis tidak hanya untuk menggenapkan kebenaran menurut ketetapan Allah, bahkan Dia membiarkan diri-Nya ditaruh dalam kematian dan kebangkitan agar Ia dapat melayani, bukan secara alamiah, melainkan secara kebangkitan. Melalui baptisan, Ia hidup dan melayani dalam kebangkitan bahkan sebelum kematian dan kebangkitan-Nya yang sesungguhnya tiga setengah tahun kemudian. Menurut pengertian kita, Tuhan Yesus dimatikan di atas salib dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi dalam pandangan Allah dan menurut pengertian Tuhan, Ia telah dimatikan tiga setengah tahun sebelum penyaliban-Nya. Sebelum Ia memulai ministri-Nya, Ia telah dimatikan dan dibangkitkan. Jadi, Ia tidak melayani secara alamiah. Ministrinya mutlak dalam hayat kebangkitan-Nya. Dengan demikian, Ia memasuki pintu kebenaran dan menempuh jalan kebenaran. Apa pun yang Ia lakukan di atas jalan ini adalah benar.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 10

06 November 2017

Matius - Minggu 6 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:13
Doa baca: Mat. 3:13
Kemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.


Dua kata penting dalam Matius 3:13 ialah Galilea dan Yordan. Ayat ini tidak mengatakan bahwa Yesus datang dari Betlehem ke Yerusalem untuk dikuduskan, melainkan Ia datang dari Galilea ke Yordan untuk dibaptis. Dalam Perjanjian Baru, Galilea adalah daerah yang dipandang rendah, menunjukkan penolakan. Yesus datang dari tempat yang demikian dihina dan ditolak. Tempat ini bukan ditolak oleh Allah, melainkan ditolak oleh agama dan kebudayaan. Jalan hidup gereja hari ini bukan dari Betlehem ke Yerusalem, melainkan dari Galilea ke Yordan.



Sungai Yordan adalah tempat penguburan dan kebangkitan. Jadi, Sungai Yordan menunjukkan pengakhiran dan permulaan hayat baru. Umat Israel menempuh perjalanan melalui padang gurun kurang lebih empat puluh tahun lamanya dan akhirnya mereka semua dikubur di Sungai Yordan. Jadi, Sungai Yordan mengakhiri mereka, mengakhiri sejarah dalam pengembaraan mereka di padang gurun, dan mengakhiri zaman pengembaraan itu. Namun, Sungai Yordan juga memberi mereka suatu awal baru, karena Sungai Yordan memberi permulaan hayat baru kepada mereka dan mengantar mereka memasuki zaman baru. Sungai Yordan membawa umat Israel keluar dari padang gurun untuk memasuki tanah permai, yakni Kristus. Inilah makna Sungai Yordan.



Dalam hidup gereja hari ini, jalan kita adalah jalan dari Galilea ke Sungai Yordan, jalan dari penolakan ke pengakhiran dan kebangkitan. Dalam hidup gereja tidak ada kehormatan, melainkan pengakhiran. Dari hari ke hari kita diakhiri. Dalam gereja kita mengalami saling mengakhiri. Setiap hari bahkan setiap jam kita mengakhiri satu dengan yang lain. Tetapi diakhiri itu merupakan suatu hal yang indah. Pengakhiran bukan penghabisan, melainkan permulaan, sebab pengakhiran selalu menuju ke permulaan baru dalam hayat. Karena itu, kita dapat bersaksi bahwa setiap pengakhiran selalu menjadi suatu permulaan baru dalam hayat.



Hidup gereja memang menakjubkan, tetapi tidak menakjubkan menurut konsepsi kita. Hidup gereja yang menakjubkan itu cepat atau lambat akan mengakhiri kita semua. Hidup gereja akan menamatkan Anda sekaligus membangkitkan Anda. Saya yakin bahwa apa adanya Anda, apa yang Anda miliki, dan apa yang dapat Anda lakukan akan ditamatkan semua. Boleh jadi untuk menggenapkan hal ini memerlukan sejarah sepuluh tahun dalam gereja. Mereka yang telah sepuluh tahun berada dalam gereja dapat bersaksi bahwa setiap bagian mereka telah diakhiri. Makin lama berada dalam gereja makin banyak pula pengakhiran yang kita terima. Mula-mula, pengalaman pengakhiran itu pahit. Tetapi kemudian menjadi manis. Bagi saya hari ini diakhiri itu manis. Setelah bertahun-tahun diakhiri dalam hidup gereja, Anda akan senang diakhiri. Mula-mula ketika Anda diakhiri dalam hidup gereja, Anda merasa malu. Namun lambat laun menjadi pengalaman yang manis bagi Anda. Kita sedang dalam perjalanan dari Galilea ke Sungai Yordan, dari tempat penolakan ke tempat pengakhiran.



Di tempat pengakhiran inilah kita berjumpa dengan Raja. Di sini, dalam hidup gereja, kita menjumpai Dia. Sejak saya memasuki hidup gereja, saya telah berkali-kali dibawa kepada Tuhan. Sehari demi sehari hidup gereja membawa saya kepada Kristus, dan membawa Kristus Sang Raja kepada saya. Akhirnya, kerajaan ada di sini. Jadi, hidup gereja adalah kerajaan.




Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 10


04 November 2017

Matius - Minggu 5 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:3-6
Doa baca: Mat. 3:3
Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”


Aspek pertama cara perkenalan Yohanes ialah membaptis orang dalam air. Ayat 5-6 mewahyukan bahwa banyak yang dibaptis olehnya di Sungai Yordan, mengaku dosa-dosa mereka. Membaptis orang ialah mencelupkan orang, mengubur orang dalam air yang menandakan kematian. Yohanes Pembaptis melakukan hal ini untuk menunjukkan bahwa setiap orang yang bertobat itu tidak berguna sama sekali, kecuali dikuburkan. Ini pun menandakan kesudahan manusia lama, agar permulaan baru dapat diwujudkan dalam kebangkitan, dibawa masuk oleh Kristus sang Pemberi hayat. Jadi, setelah ministri Yohanes, Kristus datang. Baptisan Yohanes tidak hanya mengakhiri mereka yang bertobat, bahkan mengantar mereka kepada Kristus agar mendapatkan hayat. Dalam Alkitab baptisan mengandung arti kematian dan kebangkitan. Dibaptis ke dalam air berarti dimasukkan ke dalam kematian dan dikubur. Keluar dari air berarti dibangkitkan dari kematian.

Baptisan berarti apa adanya alamiah kita dan segala perkara lampau kita harus diakhiri. Apa adanya kita dan perkara lampau kita hanya layak dikubur. Karena itu, ketika Yohanes, imam sejati, membawa orang kepada Allah dan memperkenalkan Raja kepada mereka, ia mengakhiri dan mengubur setiap orang yang datang kepadanya dalam pertobatan, dengan jalan ini ia menunjukkan bahwa mereka yang dikubur olehnya akan dibangkitkan oleh Dia yang telah bangkit. Inilah cara perkenalan, jalan yang benar untuk membawa orang yang bertobat kepada Raja yang akan membangkitkan mereka.

Dalam Perjanjian Baru terdapat dua ministri: ministri Yohanes dan ministri Tuhan Yesus. Ministri Yohanes ialah membawa orang kepada Allah dengan mengakhiri dan mengubur mereka. Orang-orang yang diakhiri dan dikubur ini perlu kebangkitan yang hanya dapat dilakukan oleh Kristus. Sebab itu, Kristus datang setelah Yohanes untuk menyuplaikan hayat kepada orang yang mati dan yang dikubur. Inilah sebabnya kita perlu dilahirkan kembali, dibaptis dalam air dan dalam Roh. Dibaptis dalam air ialah pengakhiran hayat alamiah kita dan perkara lampau kita. Dibaptis dalam Roh ialah mendapatkan permulaan baru melalui dibangkitkan dengan hayat ilahi. Kebangkitan ini hanya mungkin melalui Kristus sebagai Roh pemberi-hayat.

Matius 3:3 mewahyukan bahwa Yohanes Pembaptis ialah orang yang menyiapkan jalan untuk Tuhan dan meluruskan jalan bagi-Nya. Menyiapkan jalan untuk Tuhan dan meluruskan jalan bagi-Nya dengan jalan mengubah pikiran manusia, memalingkan pikiran mereka kepada Tuhan dan menepatkan hati mereka, agar melalui pertobatan, setiap bagian dan jalan (setapak) hati mereka diluruskan oleh Tuhan bagi Kerajaan Surga (Luk. 1:16-17). Yohanes Pembaptis menyiapkan jalan dan meluruskan jalan. Ini menyatakan bahwa jalan itu tidak rata, penuh dengan bukit dan lembah. Di beberapa tempat sangat rendah dan di lain tempat sangat tinggi. Yohanes datang dan menata jalan, meratakan lembah-lembah, menambal lubang-lubang, dan membuat jalan menjadi datar dan rata. Yohanes juga meluruskan jalan setapak yang penuh lekuk-lekuk. Fakta bahwa Yohanes meratakan jalan dan meluruskan jalan setapak berarti bahwa ministri-Nya menanggulangi pikiran dan hati.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 9

03 November 2017

Matius - Minggu 5 Jumat

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:7-11
Doa baca: Mat. 3:11
Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.


Ministri Yohanes ialah membawa orang kepada Allah (Luk. 1:16-17). Yohanes Pembaptis, seorang imam sejati, “... ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya” (Luk. 1:15). Sejak ia bayi hingga bertumbuh dewasa, usia tiga puluh, ia terus-menerus tercelup di dalam Roh Kudus. Karena ia dijenuhi hingga meluap dengan Roh Kudus, maka ia menjadi berani. Menentang arus zaman itu merupakan suatu perkara yang serius. Ia berani karena selama tiga puluh tahun ia senantiasa tercelup di dalam Roh Kudus. Sebab itu, ketika ia keluar untuk melayani, ia keluar di dalam roh dan dengan kekuatan. Benar, ia memakai jubah bulu unta sebagai tanda penolakannya terhadap zaman lama. Tetapi itu hanya tanda lahiriah, tetapi di dalamnya terdapat pula realitas, dan realitas itu ialah Roh dan kekuatan. Realitas dalam Yohanes bukan hanya hadirat Allah, tetapi juga Roh Allah.

Perkataan Yohanes kepada orang Farisi dan Saduki yang datang kepadanya mewahyukan perlunya sifat kita diubah (Mat. 3:7). Orang-orang Farisi adalah orang-orang sekte agama yang paling ketat di antara orang-orang Yahudi (Kis. 26:5). Sekte ini dibentuk kurang lebih 200 SM. Mereka membanggakan keagamaan, pengabdian kepada Allah dan pengetahuan Alkitab mereka yang sangat tinggi. Sebenarnya, mereka sudah merosot ke dalam kepura-puraan dan kemunafikan (Mat. 23:2-33). Orang-orang Saduki adalah orang-orang sekte lain dalam agama Yahudi (Kis. 5:17). Mereka tidak percaya kepada kebangkitan, malaikat-malaikat, ataupun roh-roh (Mat. 22:33; Kis. 23:8). Baik orang Farisi maupun orang Saduki disebut sebagai keturunan ular berbisa oleh Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus (3:7; 12:34; 23:33).

Karena orang-orang Yahudi tidak bertobat, perkataan dalam ayat 8- 10 telah digenapi. Allah telah mengerat orang Yahudi dan membangkitkan orang bukan Yahudi yang percaya untuk menjadi keturunan Abraham dalam iman (Rm. 11:15, 19-20, 22; Gal. 3:7, 28-29). Perkataan Yohanes dalam ayat 8-9 dengan jelas menunjukkan bahwa Kerajaan Surga yang diberitakan bukan terbentuk dari anak-anak Abraham menurut daging, melainkan dari anak-anak Abraham menurut iman. Jadi, kerajaan ini adalah kerajaan yang surgawi, bukan kerajaan Mesias yang bumiah.

Dalam ayat 11 Yohanes seolah-olah mengatakan, “Aku datang membaptis kamu dengan air, untuk menamatkan kamu, menguburmu. Tetapi Dia yang datang setelah aku, lebih berkuasa daripada aku. Ia akan membaptis kamu dengan Roh dan api. Apakah Ia akan membaptis kamu dengan Roh atau api tergantung apakah kamu bertobat atau tidak, kalau kamu bertobat, Ia akan memasukkanmu ke dalam Roh. Tetapi jika kamu terus-menerus adalah keturunan ular berbisa, Ia pasti akan membaptis kamu dalam lautan api. Ini berarti Ia akan memasukkan kamu dalam api neraka.” Api di sini adalah api yang sama dengan yang disebutkan dalam ayat 10 dan 12, yaitu api dalam lautan api (Why. 20:15), tempat orang yang tidak percaya mengalami kebinasaan kekal. Baptisan Yohanes hanya untuk pertobatan, untuk mengantar orang percaya ke dalam Tuhan. Baptisan Tuhan akan membuat orang mendapatkan hayat kekal dalam Roh Kudus atau menerima kebinasaan kekal dalam api. Baptisan Tuhan dalam Roh Kudus mengawali Kerajaan Surga, membawa kaum beriman-Nya ke dalam Kerajaan Surga, sedangkan baptisan-Nya dalam api akan mengakhiri Kerajaan Surga, menaruh orang yang tidak percaya ke dalam lautan api.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 9

02 November 2017

Matius - Minggu 5 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 4:17
Doa baca: Mat. 4:17
Sejak itu Yesus mulai memberitakan, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”


Berita perkenalan Yohanes pendek, tetapi sangat penting dan almuhit. Matius 3:2 berkata,“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Kata pertama yang paling bermakna dalam ayat ini ialah kata “bertobat”. Yohanes memulai ministrinya dengan kata ini. Bertobat ialah mengalami perubahan pikiran yang menghasilkan penyesalan, pengalihan tujuan. Bertobat ialah mengubah pikiran kita, falsafah kita, dan logika kita. Kehidupan orang yang telah jatuh seluruhnya menuruti pikirannya sendiri. Segala apa adanya dirinya dan perbuatannya menuruti pikirannya sendiri. Jika Anda seorang yang telah jatuh, Anda dipimpin oleh pikiran Anda. Mental Anda, logika Anda, dan falsafah Anda menguasai jalan hidup Anda. Sebelum kita diselamatkan, kita semua berada di bawah pimpinan pikiran kita yang telah jatuh. Kita jauh dari Allah dan kehidupan kita bertentangan dengan kehendak-Nya. Di bawah pengaruh pikiran kita yang telah jatuh, kita makin lama makin jauh dari Allah. Tetapi pada suatu hari, kita mendengar pemberitaan Injil yang menyuruh kita bertobat, mengalihkan pikiran, falsafah, dan logika kita.

Kata penting kedua dalam ayat 2 ialah kerajaan. Dalam pemberitaan Yohanes Pembaptis, pertobatan sebagai pembukaan ekonomi Perjanjian Baru Allah mencakup berpaling bagi Kerajaan Surga. Ini menunjukkan bahwa ekonomi Perjanjian Baru Allah berfokus pada kerajaan-Nya. Untuk ini kita harus bertobat, mengubah pikiran kita, mengalihkan penuntutan hidup kita. Sasaran tuntutan hidup kita yang tadinya terarah kepada perkara-perkara lain, kini haruslah kita tujukan kepada Allah dan kerajaan-Nya, yang dalam Injil Matius secara khusus dan sengaja disebut “Kerajaan Surga”. Menurut Injil Matius secara keseluruhan, Kerajaan Surga berbeda dengan Kerajaan Mesias. Kerajaan Mesias adalah kerajaan Daud yang terpulih (Kis. 15:16), yang terbentuk dari bani Israel dan bersifat bumiah dan jasmaniah, sedangkan Kerajaan Surga tersusun dari kaum beriman yang telah dilahirkan kembali dan bersifat surgawi dan rohani.

Kata utama ketiga dalam ayat 2 ialah surga. Yohanes mengatakan bertobatlah untuk Kerajaan Surga. Kata “surga” di sini dalam bahasa Ibrani menunjukkan langit tertinggi yang menurut Alkitab adalah langit ketiga, langit di atas langit. Langit ketiga ini disebut surga. Kerajaan Surga bukan menunjukkan kerajaan di angkasa, melainkan kerajaan di atas angkasa, kerajaan di langit atas langit, di mana takhta Allah ada. Dalam kerajaan ini terdapat pengaturan, dan pemerintahan Allah sendiri. Sebab itu, Kerajaan Surga ialah Kerajaan Allah di langit ketiga di mana Ia menjalankan kedaulatan-Nya atas segala sesuatu yang Dia ciptakan. Kerajaan Surga ini harus turun ke bumi. Pemerintahan surgawi ini harus turun ke bumi untuk berkuasa di atas bumi.

Menurut perkataan Yohanes dalam ayat 2, “Kerajaan Surga sudah dekat.” Ini jelas menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Yohanes Pembaptis, Kerajaan Surga belum ada. Bahkan setelah dia tampil, dalam pemberitaannya, Kerajaan Surga masih belum ada; hanya sudah dekat. Pada saat Tuhan memulai ministri-Nya dan bahkan pada saat Dia mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan, Kerajaan Surga masih belum datang (4:17; 10:7). Kerajaan Surga tiba di Yerusalem pada hari Pentakosta. Ini berarti Kerajaan Surga datang tepat pada saat gereja terwujud. Hari ini, setiap orang yang mempunyai perubahan dalam falsafahnya dan kembali kepada Allah akan segera berada dalam Kerajaan Surga. Haleluya, kita berada di dalam Kerajaan Surga! Kita memiliki Raja dan kita berada di bawah pengaturan-Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 9

01 November 2017

Matius - Minggu 5 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:3
Doa baca: Mat. 3:3
Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”


Kita telah nampak bahwa tempat perkenalan tidak di kota kudus ataupun di Bait Suci, melainkan di padang gurun. Yohanes Pembaptis memulai ministrinya di padang gurun adalah menurut nubuat (Mat. 3:3). Ini membuktikan bahwa masuknya ekonomi Perjanjian Baru Allah yang dibawakan oleh Yohanes bukan secara kebetulan, melainkan telah direncanakan dan diberitahukan jauh sebelumnya oleh Allah melalui Nabi Yesaya. Hal ini memberi isyarat bahwa Allah bertujuan agar ekonomi Perjanjian Baru-Nya dimulai dengan cara yang mutlak baru.

Injil Matius sama sekali berbeda dengan Injil Yohanes. Injil Yohanes adalah sebuah kitab hayat, sedangkan Injil Matius adalah kitab kerajaan. Dalam Yohanes, Yesus adalah hayat, tetapi dalam Matius, Dia adalah Raja. Menurut Injil Matius, Yesus yang kita terima adalah Raja. Ketika kita merenungkan Injil Matius, kita harus seluruhnya dan sedalam-dalamnya terkesan bahwa kita kini berada di dalam kerajaan. Segala sesuatu yang tertulis dalam kitab ini bersangkutan dengan kerajaan, karena itu kita harus menelaah kitab ini dari sudut kerajaan, memandang setiap pasal dan bahkan setiap ayat dari perspektif kerajaan.

Pertobatan yang diserukan dalam pasal 3 adalah untuk kerajaan. Anda harus bertobat sebab Anda tidak dalam kerajaan, Anda tidak di bawah kekuasaan Allah. Anda harus bertobat sebab Anda belum takluk kepada kekuasaan Kristus atau datang di bawah pemerintahan kerajaan-Nya. Walau mungkin Anda tidak merasa berdosa, tetapi asalkan Anda tidak dalam kerajaan, Anda seorang pemberontak. Asal saja Anda tidak berhubungan dengan pemerintahan kerajaan Kristus, Anda berada dalam pemberontakan dan harus bertobat. Asal Anda tidak berada di bawah pemerintahan Kristus, Anda harus bertobat. Tidak peduli betapa rohani, kudus, atau baiknya Anda, satu-satunya perkara yang menjadi masalah ialah apakah Anda di bawah penguasaan surgawi atau tidak. Jika tidak, berarti Anda tidak di dalam kerajaan, Anda harus bertobat. Kalau Anda tidak dalam kerajaan, Anda dalam pemberontakan. Anda menganggap diri Anda alkitabiah, ortodoks, dan suci, tetapi sesungguhnya Anda memberontak. Bahkan kerohanian Anda pun merupakan suatu bentuk pemberontakan menentang pemerintahan kerajaan Kristus. Perhatian Anda untuk kerohanian Anda, bukan untuk pemerintahan kerajaan Kristus. Ini menunjukkan bahwa Anda berada dalam pemberontakan, tidak berada dalam kerajaan. Harus bertobat karena pemberontakan Anda! Harus bertobat karena tidak berada dalam kerajaan dan tidak di bawah pemerintahan kerajaan dan kekuasaan Kristus! Inilah pemikiran dasar Injil Matius.

Janganlah mengira bahwa Injil Matius hanya untuk orang yang tidak percaya, orang luar, atau kafir. Banyak di antara kita yang belum pernah mendengarkan Injil Matius. Saya tidak tahu Injil macam apa yang pernah Anda dengar, tetapi Anda benar-benar tahu bahwa Anda perlu mendengar Injil Matius, Injil kerajaan yang menuntut Anda untuk bertobat dari ketidakbenaran Anda di bawah pemerintahan kerajaan Kristus. Kita semua perlu bertobat. Puji Tuhan, Yohanes Pembaptis dan ministri imamat ini tetap bersama kita! Di satu pihak, imamat ini membawa kita kepada Allah, di lain pihak memperkenalkan Raja surgawi yang membawa Allah kepada kita. Ketika kita menerima Raja ini, Ia mendapatkan kita dan kerajaan berada di sini. Inilah Injil Matius.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 8

31 October 2017

Matius - Minggu 5 Selasa

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:5
Doa baca: Mat. 3:5
Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan.


Sekalipun Yohanes Pembaptis dilahirkan sebagai seorang imam, tetapi ia melepaskan posisi imam lahiriah. Dengan posisi lahiriah kelahirannya, ia bukan seorang imam yang sejati, melainkan seorang yang bertokoh imam, imam dalam bayangan. Dalam Matius 3:1 Yohanes datang berkhotbah di padang gurun sebagai imam sejati. Khotbah Yohanes Pembaptis merupakan permulaan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ia berkhotbah tidak di dalam Bait Suci, kota kudus, di mana umat beragama dan berkebudayaan menyembah Allah menurut peraturan-peraturan kitab mereka; melainkan di padang gurun, secara “liar”, tidak mempertahankan peraturan lama apa pun. Ini menunjukkan bahwa penyembahan Allah secara kuno menurut Perjanjian Lama telah disingkirkan dan yang baru segera dibawa masuk. Padang gurun di sini menunjukkan bahwa cara baru Perjanjian Baru Allah berlawanan dengan agama dan kebudayaan. Ini menunjukan pula bahwa yang usang tidak ada yang tersisa dan sesuatu yang baru segera dibangun.

Yohanes menggenapkan ministrinya dengan menempuh hidup dalam cara yang mutlak berlawanan dengan agama dan kebudayaan dan di luar agama dan kebudayaan. Yohanes terlahir sebagai imam. Menurut peraturan hukum Taurat, dia seharusnya memakai pakaian imam yang terbuat dari kain lenan halus, dan makan makanan imam, yang terutama terbuat dari tepung halus dan daging dari kurban yang dipersembahkan kepada Allah oleh umat-Nya. Namun yang dilakukan Yohanes berbeda sama sekali. Dia memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makan belalang dan madu hutan. Semua benda itu tidaklah beradab, tidak berkebudayaan, dan tidak sesuai dengan peraturan agama. Di samping itu, Yohanes tidak tinggal di kota yang berkebudayaan, melainkan di padang gurun (Luk. 3:2). Semuanya itu menunjukkan bahwa dia sepenuhnya telah meninggalkan zaman Perjanjian Lama, yang sudah merosot menjadi satu agama yang bercampur dengan kebudayaan manusia. Maksudnya adalah memperkenalkan ekonomi Perjanjian Baru Allah, yang hanya tersusun oleh Kristus dan Roh hayat.

Pemberitaan Yohanes ialah, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (ayat 2). Semua orang harus bertobat sebab kerajaan sudah datang dan karena Raja sudah ada. Kita perlu bertobat agar Raja mendapatkan kita dan kita menjadi umat-Nya. Setelah kita bertobat, Raja mendapatkan kita dan kita mendapatkan Dia. Melalui Raja mendapatkan kita dan kita mendapatkan Dia, kita dan Raja menjadi kerajaan. Kerajaan segera mengikuti Raja. Jika Anda menerima Raja dan Ia pun mengambil Anda sebagai umat-Nya, pada saat itu juga kerajaan datang. Jika Anda bertobat, Raja akan mendapatkan Anda, Anda akan mendapatkan Raja, dan kerajaan akan ada di sini.

Hidup gereja yang wajar hari ini ialah kerajaan. Kita semua telah bertobat, Raja telah mendapatkan kita dan kerajaan ada di sini beserta kita. Haleluya, kerajaan ada di sini, sekarang ini juga! Semua ini tergantung pada pengenal.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 8