Hitstat

22 February 2020

Yohanes - Minggu 14 Sabtu


Pembacaan Alkitab: Yoh. 13:18-38
Doa baca: “Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, 'Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia.” (Yoh. 13:31)


Kebangkitan-Nya Membebaskan Unsur Ilahi


Sekalipun pembasuhan kaki adalah untuk persekutuan dalam hayat, tetapi tidak demikian dengan Yudas. Ia dibasuh, namun ia tak pernah di dalam persekutuan, sebab ia seorang murid yang palsu (Yoh. 13:18-31a). Sejak awal ia tidak dalam persekutuan dengan Tuhan, dan ia tak pernah berada di dalamnya, sekalipun ia dibasuh berkali-kali (Yoh. 13:10-11). Ini memperingatkan kita bahwa pembasuhan kaki yang riil hanyalah bagi orang yang murni dalam persekutuan dengan Tuhan.

Setelah pembasuhan kaki, Tuhan akan menerima kematian. Karena itu, Ia berkata, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan” (Yoh. 13:31). Bagi-Nya, dimuliakan adalah membebaskan unsur ilahi-Nya dari dalam insani-Nya melalui kematian dan kebangkitan. Di sini Tuhan juga berkata, “Allah dimuliakan di dalam Dia” (Yoh. 13:31). Ini berarti Allah Bapa dimuliakan di dalam kemuliaan Anak, yaitu unsur ilahi-Nya dibebaskan dalam Anak. Allah Bapa dimuliakan di dalam Anak secara demikian, dan Ia pun akan memuliakan Anak dalam diri-Nya dan Ia akan segera melakukannya (Yoh. 13:32).

Pada saat itu, Tuhan sudah siap untuk menderita kematian di salib, tetapi murid-murid-Nya belum diperlengkapi untuk mengikuti Dia dalam penderitaan-Nya. Karena itu, Tuhan berkata kepada Petrus bahwa ia tak dapat mengikuti Dia sekarang ini (Yoh. 13:36-37), karena Petrus belum menerima hayat kebangkitan. Petrus mau tinggal di dalam persekutuan dengan Tuhan, tetapi ketika Tuhan sedang dihakimi, Petrus menyangkal Tuhan tiga kali dan gagal. Petrus tidak memiliki kekuatan untuk tinggal di dalam persekutuan karena sebelum kebangkitan, hayat kebangkitan-Nya belum disalurkan ke dalamnya. Setelah Ia menyalurkan diri-Nya sebagai hayat kebangkitan, barulah Petrus dapat mengikuti-Nya (Yoh. 13:36; 21:18-19). Untuk berada dalam persekutuan Tuhan yang dipertahankan oleh pembasuhan kaki, kita memerlukan kekuatan hayat kebangkitan, bukan berdasar manusia alamiah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 28

21 February 2020

Yohanes - Minggu 14 Jumat


Pembacaan Alkitab: Yoh. 13:12-17
Doa baca: “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh. 13:15)


Pembasuhan Kaki dalam Hidup Gereja


Dalam kehidupan keluarga, orang yang paling banyak bekerja, paling banyak terkena kotoran. Fakta yang sama ini terdapat pula dalam hidup gereja. Semakin berat tanggung jawab kita, semakin banyak pula kotoran yang melekat kepada kita, karena semakin banyak orang yang harus kita hubungi. Semakin kita terlibat dalam kepempimpinan, kita tidak dapat menghindar dari menjamah situasi-situasi tertentu dan berbicara kepada orang-orang tertentu. Orang-orang yang mempunyai masalah akan mendatangi kita, bahkan sampai berkali-kali dan tidak mau meninggalkan kita. Hal sedemikian dapat membuat kita marah dan menjadi kotor. Maka, perlu ada sebuah pembasuhan kaki.

Pembasuhan kaki memerlukan sejumlah besar hayat untuk menyuplai orang lain. Ingatlah, pembasuhan kaki adalah dengan air, bukan dengan darah. Air berarti Roh, firman hayat, dan hayat yang di dalam. Kalau kita dipenuhi dengan air hayat, secara otomatis kita akan membasuh kaki orang lain begitu kita berada bersama mereka, bahkan tanpa kita sadari. Dalam prinsip yang sama, ketika kita bersama dengan kaum beriman yang penuh dengan air hidup, kaki kita akan terbasuh. Dengan demikian, kita akan dibawa ke dalam persekutuan yang menyenangkan. Betapa kita perlu hal ini! Di antara kita perlu banyak orang yang penuh dengan air hidup yang dapat membasuh orang lain.

Persekutuan satu sama lain dapat dipertahankan hanya melalui adanya pembasuhan kaki di dalam kasih kepada orang lain. Ini sangatlah riil untuk mempertahankan kehidupan gereja. Tanpa pembasuhan kaki rohani, kehidupan gereja tak dapat dipertahankan karena persekutuan bisa dirusak oleh sentuhan dunia. Jadi, di satu pihak, setiap hari perlu pembasuhan kaki oleh Tuhan sendiri; di pihak lain, perlu saling membasuh di antara kaum beriman. Demikian, kita dapat memelihara kehidupan gereja senantiasa segar, menyenangkan, dan lincah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 28

20 February 2020

Yohanes - Minggu 14 Kamis


Pembacaan Alkitab: Yoh. 13:12-17
Doa baca: “Jadi jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” (Yoh. 13:14)


Saling Membasuh Kaki Antar Orang Beriman


Kita tidak saja perlu pembasuhan kaki yang dilakukan langsung oleh Tuhan sendiri, tetapi juga perlu saling membasuh kaki. Kita harus membasuh kaki seorang dengan yang lain melalui pelayanan pekerjaan Roh Kudus, terang firman, dan pergerakan hayat yang di dalam.

Ketika Tuhan membasuh kaki murid-murid, Ia menanggalkan jubah-Nya. Jubah melambangkan kebajikan dan atribut-Nya dalam ekspresi-Nya. Demikian juga, bila kita hendak membasuh kaki orang lain, kita perlu mengesampingkan pencapaian kita, kebajikan, dan atribut kita. Hari ini, banyak orang yang sangat rohani, tetapi juga sombong. Mereka bangga atas kerohanian mereka dan memandang rendah orang lain, mengira bahwa orang lain belum pernah nampak visi surgawi atau mengenal sesuatu yang rohani. Inilah kesombongan. Kalau kita bersikap sombong demikian, kita takkan dapat membantu orang lain. Kita harus menanggalkan jubah kita, mengesampingkan semua tingkat kerohanian, dan menjadi sederhana dan biasa.

Menanggalkan jubah kita dan merendahkan diri kita untuk membasuh kaki orang lain bukanlah suatu perkara yang mudah. Seaindainya seseorang menyakiti kita, kita selalu menganggap diri kita lebih tinggi daripada orang itu. Di sinilah letak kesukarannya. Kita perlu menanggalkan jubah kita, merendahkan taraf kita, dan turun dari takhta kita.

Kita tidak saja perlu menanggalkan jubah sukses kita, kita juga perlu diikat dengan kain. Ini berarti kita harus diikat, kita harus kehilangan kebebasan kita. Kaki dibasuh dengan air dan diusap oleh kain yang Tuhan pakai untuk mengikat diri-Nya. Dengan kata lain, semakin kita mau diikat untuk kepentingan orang lain, kita akan semakin dapat melayani orang lain, dan membasuh kaki mereka. Inilah pembasuhan kaki secara rohani, yakni menanggalkan sukses kita, diikat, dan kehilangan kebebasan kita. Dengan demikian, kita dapat melayani saudara saudari.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 28