Hitstat

18 December 2017

Matius - Minggu 12 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 6:19-34
Doa baca: Mat. 6:25
Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?


Dalam ayat 19-20 Raja mengumumkan bahwa umat kerajaan tidak boleh mengumpulkan harta bagi diri mereka sendiri, melainkan mengumpulkan harta di surga. Mengumpulkan harta di surga ialah memberi benda materi kepada orang miskin (Mat. 19:21), memperhatikan orang kudus yang kekurangan (Kis. 2:45; 4:34-35; 11:29; Rm. 15:25), dan hamba-hamba Tuhan (Flp. 4:16-17). Umat kerajaan harus mengirim harta mereka ke surga, sehingga hati mereka juga berada di surga. Sebelum mereka pergi ke sana, harta dan hati mereka harus terlebih dulu pergi ke sana.

Kedua mata kita hanya dapat berfokus pada satu benda pada satu saat. Jika kita berusaha melihat dua hal sekaligus, penglihatan kita akan kabur. Jika kita memfokuskan mata kita pada satu hal, penglihatan kita akan tulus dan seluruh tubuh kita akan penuh dengan terang. Jika kita mengumpulkan harta kita di surga dan di bumi, penglihatan rohani kita akan kabur. Agar penglihatan kita tulus, kita harus menyimpan harta kita di satu tempat saja. Memandang dua benda pada saat yang sama, tidak berfokus pada satu benda, berarti membuat mata kita jahat (lihat Mat. 20:15; Ul. 15:9; Ams. 28:22). Jika hati kita terpaut pada harta yang dikumpulkan di bumi, terang yang ada di dalam kita akan menjadi gelap, dan kegelapan itu akan menjadi sangat gelap.

Dalam ayat 25 Tuhan memberi tahu kita jangan mengkhawatirkan hidup kita. Hidup kita lebih penting daripada makanan dan tubuh kita lebih penting daripada pakaian. Hidup dan tubuh kita itu ada karena Allah, bukan karena kekhawatiran kita. Karena Allah menciptakan kita dengan hidup dan tubuh, Dia pasti akan memperhatikan keperluan hidup dan tubuh kita. Umat kerajaan tidak perlu khawatir tentang hal ini. Secara permukaan, kelihatannya dalam bagian ini, Tuhan berbicara tentang harta benda umat kerajaan. Pada faktanya, Dia menyinggung tentang kekhawatiran. Tuhan penuh hikmat. Setelah Dia menjamah temperamen kita, nafsu daging, manusia alamiah, ego, dan daging kita, Ia lalu menjamah kekhawatiran kita. Dalam ayat-ayat ini, kata “khawatir” dipakai tujuh kali, (ayat 25, 27, 28, 31, 34). Boleh jadi Tuhan juga menjamah hati kita, sebab di mana harta kita, di situlah juga hati kita. Namun, hati kita tidak hanya terpaut pada harta, bahkan pada banyak perkara lain.

Konstitusi Kerajaan Surga terbentuk dari hayat dan sifat Bapa. Tidak seorang pun dapat menggenapkan tuntutan Kerajaan Surga tanpa adanya hayat dan sifat Bapa. Konstitusi yang diberikan oleh Tuhan Yesus di atas gunung adalah untuk anak-anak Allah, yang didasarkan pada hayat dan sifat Bapa. Dan ayat dalam pasal 5 menunjukkan fakta ini (ay. 9, 48).

Dalam hayat ilahi dan sifat ilahi tidak terdapat kekhawatiran. Kekhawatiran bukan dari hayat ilahi, melainkan dari hayat manusia, sama seperti menyalak berasal dari hayat anjing bukan dari hayat burung. Hayat manusia adalah hayat kekhawatiran, sedangkan hayat Allah ialah hayat kenikmatan, perhentian, penghiburan, dan kepuasan. Bagi Allah, kekhawatiran ialah istilah asing. Pada Dia tidak ada hal semacam kekhawatiran. Meskipun Allah mempunyai banyak kedambaan, tetapi Ia tidak mempunyai kekhawatiran. Sebaliknya hayat insani kita, sebetulnya terdiri dan tersusun dengan kekhawatiran.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 22

16 December 2017

Matius - Minggu 11 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 6:5-18
Doa baca: Mat. 6:18
Supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.


Dalam ayat 9-13 kita nampak pola doa. Namun itu bukan pola untuk semua doa. Dalam pola doa yang diberikan dengan teladan oleh Tuhan, tiga permohonan yang pertama menyiratkan Trinitas Ke-Allahan: “Dikuduskanlah nama-Mu” terutama berhubungan dengan Bapa; “Datanglah Kerajaan-Mu” terutama berhubungan dengan Putra; dan “Jadilah kehendak-Mu” terutama berhubungan dengan Roh. Hal ini sedang digenapi dalam zaman ini, dan akan sepenuhnya digenapi dalam zaman kerajaan yang akan datang, ketika nama Allah menjadi indah di seluruh bumi (Mzm. 8:2), kerajaan dunia akan menjadi Kerajaan Kristus (Why. 11:15), dan kehendak Allah akan rampung.

Sebagai pola, doa ini pertama memperhatikan nama Allah, Kerajaan Allah, dan kehendak Allah; kedua memperhatikan keperluan kita (ay. 11). Ini mewahyukan bahwa dalam doa peperangan ini Tuhan masih memperhatikan keperluan kita. Menurut ayat 11 hendaklah kita mohon “pada hari ini makanan [kita] yang secukupnya”. Raja tidak menghendaki umat-Nya khawatir akan hari esok (ayat 34). Dia menghendaki mereka berdoa hanya untuk keperluan mereka hari ini. Istilah “makanan yang secukupnya” menunjukkan suatu kehidupan yang ditempuh demi iman. Umat kerajaan tidak seharusnya hidup bersandarkan apa yang mereka simpan, sebaliknya, mereka seharusnya hidup demi iman, bersandarkan suplai harian Bapa.

Ketiga, pola doa ini memperhatikan kegagalan umat kerajaan di hadapan Allah dan memperhatikan hubungan mereka dengan orang lain. Mereka harus meminta Bapa mengampuni kesalahan-kesalahan mereka, kegagalan mereka, dan pelanggaran mereka, seperti mereka mengampuni orang yang bersalah kepada mereka untuk memelihara damai sejahtera.

Pola doa ini memperhatikan perkara yang keempat, kelepasan umat kerajaan dari si jahat dan dari hal-hal yang jahat (ay. 3). Mereka harus meminta Bapa agar tidak membawa mereka ke dalam pencobaan, tetapi melepaskan mereka dari si jahat, Iblis, dan dari kejahatan yang berasal dari dia. Kadang-kadang Bapa membawa kita ke dalam situasi di mana kita diuji dan dicobai. Karena itu, ketika kita berdoa kepada Bapa, kita harus menyadari kelemahan kita dengan berkata, “Ya Bapa, aku sangat lemah. Janganlah membawa aku ke dalam pencobaan.” Jika Anda tidak mengakui kelemahan Anda, Anda mungkin tidak berdoa demikian. Sebaliknya, Anda mungkin merasa bahwa Anda kuat. Justru inilah saatnya bagi Bapa membawa Anda ke dalam pencobaan untuk menunjukkan kepada Anda bahwa Anda sama sekali tidak kuat. Karena itu lebih baik doa kita menunjukkan kepada Bapa bahwa kita tahu kelemahan kita.

Menurut pola doa ini, umat kerajaan harus mengenal kerajaan, kuasa, dan kemuliaan Allah. Kerajaan adalah ruang lingkup tempat Allah melaksanakan ku-asa-Nya sehingga Dia dapat mengekspresikan kemuliaan-Nya.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 21

15 December 2017

Matius - Minggu 11 Jumat

Pembacaan Alkitab: Mat. 6:1-4
Doa baca: Mat. 6:4
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.


Bapa kita melihat yang tersembunyi. Ketika Anda berdoa sendiri dalam kamar Anda, tidak seorang pun melihat Anda, Bapa Surgawi melihatnya. Berdoalah di tempat yang tersembunyi yang akan dilihat oleh Bapa Anda yang melihat yang tersembunyi. Kemudian Anda juga akan menerima jawaban dari Dia secara tersembunyi. Kita harus senantiasa mengerjakan sesuatu secara tersembunyi agar dapat menolak si aku dan menyingkirkan daging. Jika mungkin, lakukanlah segala sesuatu secara tersembunyi, untuk tidak memberi kesempatan apa pun kepada ego Anda dan tidak memberi tempat sedikit pun kepada daging Anda.

Perkara yang penting di sini bukanlah pahala, melainkan pertumbuhan dalam hayat. Orang beriman yang bertumbuh secara terbuka tidak bertumbuh secara sehat. Kita semua perlu beberapa pertumbuhan yang tersembunyi dalam hayat, beberapa pengalaman yang tersembunyi dalam Kristus. Kita perlu berdoa kepada Tuhan, menyembah Tuhan, bersentuhan dengan Tuhan, dan bersekutu dengan Tuhan secara tersembunyi. Boleh jadi bahkan tidak ada satu pun orang yang dekat dengan kita mengetahui atau memahami apa yang sedang kita lakukan. Kita perlu pengalaman-pengalaman terhadap Tuhan yang tersembunyi ini, sebab pengalaman-pengalaman ini akan membunuh ego dan daging kita. Sekalipun temperamen dan nafsu daging adalah buruk, tetapi yang paling merusak kita dalam pertumbuhan hayat kita ialah ego. Ego paling terlihat saat senang melakukan sesuatu secara terbuka untuk umum, di hadapan banyak orang. Orang yang kuat egonya senang melakukan suatu kebenaran di depan orang. Kita semua mengakui bahwa kita, tanpa terkecuali, memiliki ego seperti ini.

Alam semesta menunjukkan bahwa Allah itu tersembunyi, Allah itu rahasia. Sekalipun Ia telah melakukan banyak hal, orang tidak sadar bahwa Ia telah melakukannya. Kita telah nampak hal-hal yang dilakukan oleh Allah, tetapi tidak ada satu pun di antara kita yang pernah nampak Dia, sebab Ia selalu tersembunyi, selalu rahasia. Hayat Allah memiliki sifat yang begitu rahasia dan tersembunyi. Jika kita mengasihi orang lain dengan hayat kita sendiri, hayat ini akan pamer diri di hadapan orang. Tetapi jika kita mengasihi orang lain dengan kasih Allah, kasih ini akan selalu tetap tersembunyi. Jika kita hidup oleh hayat ilahi ini, kita mungkin banyak berdoa, tetapi orang lain tidak akan tahu berapa banyak kita telah berdoa. Kita mungkin memberi banyak untuk membantu orang lain, tetapi tidak seorang pun akan tahu berapa banyak kita telah memberi. Kita mungkin memiliki banyak di dalam kita, tetapi amat sedikit yang termanifestasikan. Inilah hakiki umat Kerajaan Surga dalam melakukan perbuatan benar mereka.

Jika kita serius menjadi umat kerajaan, kita harus belajar hidup oleh hayat Bapa kita yang tersembunyi. Jika kita hidup berdasarkan hayat Bapa kita yang tersembunyi, kita akan melakukan banyak perkara tanpa memamerkannya. Sebaliknya, semua yang akan kita lakukan secara rahasia, tersembunyi dari mata orang. Biografi banyak orang beriman menunjuk-kan bahwa mereka melakukan beberapa perkara tertentu secara tersembunyi, perkara yang hanya orang ketahui setelah mereka meninggal dunia. Inilah jalan yang benar.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 21

14 December 2017

Matius - Minggu 11 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 6:1-18
Doa baca: Mat. 6:1
Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga.


Melakukan kebenaran dalam Matius 6:1 menyatakan perbuatan benar, seperti memberi sedekah (ayat 2-4), berdoa (ayat 5-15), dan berpuasa (ayat 16-18). Memang benar ayat-ayat ini membicarakan perbuatan benar umat kerajaan. Namun sebenarnya ayat-ayat ini menyingkapkan diri (ego) dan daging. Di dalam kita ada sesuatu yang lebih buruk daripada amarah dan hawa nafsu. Banyak orang Kristen bahkan tidak tahu betapa buruknya ego dan daging. Dalam kedelapan belas ayat ini Tuhan menggunakan tiga ilustrasi: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa — untuk mewahyukan betapa kita ini dipenuhi dengan ego dan daging.

Daging manusia mencari kemuliaan bagi diri sendiri, selalu ingin melakukan perbuatan baik di hadapan manusia untuk mendapatkan pujian manusia. Tetapi umat kerajaan, yang hidup dalam roh yang dikosongkan, merendah, serta berperilaku dalam hati yang murni dan tidak bercabang di bawah pengaturan surgawi dan kerajaan, tidak dibolehkan melakukan apa pun di dalam daging untuk mendapatkan pujian manusia, tetapi harus melakukan segala hal di dalam roh untuk menyenangkan Bapa Surgawi mereka.

Mengenai tiga ilustrasi ini Tuhan menggunakan kata “tersembunyi” dalam tiap-tiap ilustrasi (ayat 4, 6, 18). Kita harus melakukan perbuatan benar kita secara tersembunyi, sebab Bapa kita tersembunyi. Dalam ayat 4 Tuhan mengatakan bahwa Bapa kita melihat segala sesuatu yang tersembunyi. Umat kerajaan, sebagai anak-anak Bapa Surgawi, harus hidup dalam hadirat Bapa dan memperhatikan kehadiran Bapa. Apa pun yang mereka lakukan secara tersembunyi untuk Kerajaan Bapa, dilihat secara tersembunyi oleh Bapa dan Dia akan membalasnya. Bapa surgawi mereka melihat secara tersembunyi. Hal ini merupakan suatu pendorong bagi perbuatan benar mereka di tempat yang tersembunyi. Ini mungkin terjadi dalam zaman ini (2 Kor. 9:10-11), atau sebagai upah (pahala) dalam zaman yang akan datang (Luk. 14:14).

Jadi, prinsip dasar kita sebagai umat kerajaan dalam melakukan perbuatan benar ialah tidak memamerkan diri kita. Sedapat mungkin, sembunyikanlah diri Anda, tutupilah diri Anda, dan lakukanlah segala kebajikan yang tersembunyi. Hendaklah kita tersembunyi sedemikian rupa sehingga tak ubahnya seperti yang Tuhan Yesus katakan, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu (ayat 3). Ini berarti kita tidak boleh memberi tahu orang lain apa yang sedang kita lakukan. Umpamanya, Anda berpuasa tiga hari, janganlah memburukkan rupa Anda dengan menunjukkan air muka yang sedih. Sebaliknya, berilah kesan kepada orang lain bahwa Anda ti-dak berpuasa sehingga puasa Anda tersembunyi. Jangan berpuasa di hadirat manusia, tetapi secara tersembunyi di hadirat Bapa Surgawi. Berbuat demikian berarti membunuh ego dan daging.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 21

13 December 2017

Matius - Minggu 11 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:48
Doa baca: Mat. 5:48
Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.


Roma 8:16 menunjukkan bahwa roh kita yang di dalamnya kita berperilaku demi genapnya tuntutan kebenaran hukum Taurat dibentuk dari kesaksian Roh Kudus dengan roh kita. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus Allah telah masuk ke dalam roh kita. Ini terjadi pada saat kelahiran kembali kita. Roh Allah masuk ke dalam roh kita untuk melahirkan kita kembali. Sejak saat itu, Roh Kudus bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Karena itulah, ayat 14 mengatakan, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.”

Kita ini bukan hanya ciptaan Allah, tetapi juga anak-anak-Nya yang dilahirkan kembali yang memiliki hayat dan sifat-Nya. Jadi, kita bukanlah ciptaan Allah yang coba-coba mencontoh dan menirukan Dia, kita ini adalah anak-anak Bapa yang hidup berdasarkan hayat Bapa. Bagaimana kita menjadi anak-anak Allah? Melalui masuknya Roh Allah ke dalam roh kita untuk melahirkan kita kembali dan untuk menjadikan roh kita tempat kediaman Allah sendiri (Ef. 2:22). Di sini, di dalam roh kita, kita telah menjadi anak-anak Allah yang mempunyai hayat dan sifat Allah. Jika kita hidup (berjalan) menurut roh yang dilahirkan kembali, kita adalah anak-anak Allah, yang hidup berdasarkan hayat Allah. Bila kita hidup dan berperilaku di dalam roh, dengan spontan kita akan menjadi sempurna seperti Bapa kita yang di surga sempurna.

Kini kita dapat mengerti mengapa dalam Matius 5 Tuhan menyebut kita sebagai anak-anak Allah atau putra-putra Allah. Dia tidak berbicara kepada orang-orang yang tidak percaya, kepada mereka yang hanya ciptaan Allah, tetapi Ia berbicara kepada anak-anak Allah. Allah tidak lagi hanya Pencipta kita, Dia pun Bapa kita yang di surga. Karena Dia adalah Bapa kita, maka kita mempunyai hayat dan sifat-Nya. Pada akhirnya, melalui pertumbuhan kita dalam hayat, kita akan menjadi sama seperti Dia. Tunggulah suatu saat lagi, Anda akan nampak bahwa banyak di antara kita akan menjadi sempurna seperti Bapa yang sempurna.

Mungkin ada orang bertanya-tanya bagaimana murid-murid di atas gunung dapat dilahirkan kembali. Bukankah Roh pemberi-hayat belum masuk ke dalam mereka, bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa murid-murid itu telah dilahirkan kembali? Ingatlah bahwa tidak ada unsur waktu di dalam Allah; sebaliknya hanya ada prinsip. Ketika Tuhan Yesus berkata-kata dengan murid-murid di atas gunung, mengumumkan kepada mereka konstitusi kerajaan, Ia mengatakan menurut prinsip, bukan menurut unsur waktu. Allah tidak memiliki unsur waktu, Dia mengerjakan sesuatu sekali untuk selamanya. Dalam pikiran kita terdapat perkara sebelumnya dan sesudahnya, tetapi dalam pikiran Allah tidak ada. Memang benar, pada suatu hari Kristus menggenapkan karya penebusan di atas salib, dan pada suatu hari Roh pemberi-hayat “terjadi”. Tetapi dalam pandangan Allah sulit untuk menentukan kapan perkara-perkara ini terjadi, sebab dalam ekonomi Allah kedua-duanya adalah kekal. Baik salib maupun Roh pemberi-hayat adalah kekal. Karena murid-murid di atas gunung telah percaya dalam Tuhan Yesus dan telah berketetapan untuk mengikuti Dia, pada prinsipnya, mereka telah dilahirkan kembali, dan Tuhan memperhitungkan mereka sebagai umat yang telah dilahirkan kembali.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 20

12 December 2017

Matius - Minggu 11 Selasa

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:3-4
Doa baca: Rm. 8:4
Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.


Setelah membaca semua tuntutan ini, kita semua akan mengatakan bahwa kita sama sekali tidak mungkin menggenapi tuntutan-tuntutan ini. Selanjutnya kita melihat ayat 48 yang memberi tahu kita bahwa kita harus sempurna sama seperti Bapa yang di surga adalah sempurna. Ayat ini merupakan bukti bahwa kita mempunyai hayat dan sifat Bapa di dalam kita. Kita dilahirkan oleh Dia dan kita adalah anak-anak-Nya yang memiliki hayat dan sifat-Nya. Kita tidak perlu meniru Dia atau mencontoh-Nya. Asalkan kita bertumbuh dalam hayat-Nya, kita akan sama seperti Dia. Jadi, semua tuntutan hukum Taurat Kerajaan Surga mewahyukan berapa banyaknya hayat dan sifat ilahi ini dapat melakukannya bagi kita. Kita hanya perlu disingkapkan agar kita melepaskan semua pengharapan atas diri kita. Jika kita telah disingkapkan, kita akan menyadari bahwa hayat alamiah kita tidak ada harapan. Kemudian, kita akan mengesampingkan hayat alamiah kita, seraya berpaling kepada hayat Bapa kita dan menetap di dalam sifat ilahi. Dengan spontan, hayat ini akan bertumbuh di dalam kita dan menggenapi tuntutan hukum Taurat yang tertinggi ini. Apa yang kita butuhkan hari ini ialah kembali ke roh kita dan hidup di dalam roh kita. Bila kita berbuat demikian, kita hidup berdasarkan hayat dan sifat Bapa kita, kemudian dengan spontan kita menggenapi tuntutan kebenaran hukum Taurat. Memahami hal ini sangatlah penting bagi kita, sebab sama sekali berbeda dengan konsepsi alamiah kita.

Dari pengalaman, saya dapat bersaksi bahwa hari ini saya tidak berada di bawah prinsip hukum Taurat. Haleluya saya berada di bawah prinsip iman dan saya mempunyai hayat Bapa surgawi di dalam saya! Hayat ini tidak lain adalah Putra terkasih Bapa. Kini saya hidup berdasarkan hayat ini di dalam roh saya dan hidup menurut roh. Dengan adanya hayat ini di dalam roh saya, dengan spontan saya mampu menggenapi tuntutan tertinggi hukum Taurat Kerajaan Surga. Ini bukan berarti saya congkak, melainkan inilah kesaksian kerendahan hati saya untuk memuliakan Tuhan. Ini juga tidak berarti bahwa saya mampu berbuat segala sesuatu, melainkan Dia sajalah yang mampu, sebab Dia di dalam saya sebagai hayat saya. Dia pun mampu berbuat hal yang sama di dalam Anda dan bagi Anda. Agar hal ini menjadi pengalaman Anda, Anda perlu visi bahwa hayat alamiah Anda tidak berpengharapan. Setelah seluruh hayat alamiah Anda digali keluar dan disingkapkan, Anda akan menyadari bahwa alamiah merupakan suatu hal yang tidak berpengharapan, sehingga Anda tidak lagi mengandalkannya, Anda harus berpaling kepada hayat dan sifat ilahi Bapa di dalam Anda. Berpalinglah kepada hayat Bapa, tinggal bersama hayat Bapa dan hidup berdasarkan hayat Bapa. Anda dapat dengan mudah berpaling kepada hayat Bapa, sebab pada saat ini ia berada dalam roh Anda. Semata-mata hidup menurut roh Anda, semua tuntutan kebenaran hukum Taurat akan tergenapi di dalam Anda.

Karena kelemahan daging kita, kita tidak mungkin menggenapi hukum Taurat. Kita tidak dapat berbuat apa pun. Kapan saja kita menghadapi hukum Taurat, kita tidak berkutik. Karena itu, Allah mengutus putra-Nya sendiri dalam rupa tubuh daging yang berdosa dan menghakimi dosa dalam daging sehingga “tuntutan hukum Taurat dige-napi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh” (Rm. 8:4). Karena ketidakmampuan yang disebabkan oleh kelemahan tubuh daging kita, maka Allah telah mengutus Putra-Nya untuk menaati hukum Taurat di aspek positif dan mati untuk kelemahan kita di aspek negatif, agar tuntutan hukum Taurat terpenuhi. Tujuan-Nya berbuat demikian ialah agar tuntutan kebenaran hukum Taurat dapat digenapi di dalam kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 20

11 December 2017

Matius - Minggu 11 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:17
Doa baca: Mat. 5:17
Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.


Untuk memahami masalah hukum Taurat ini, kita harus mengenal tiga aspek dari hukum Taurat: prinsip hukum Taurat, perintah hukum Taurat, dan ritual (tata cara) hukum Taurat. Jika Anda tidak membedakan antara ketiga hal ini, Anda tidak akan mempunyai pengertian yang tepat tentang hukum Taurat. Sebagaimana telah kita nampak, prinsip hukum Taurat telah berlalu. Hari ini dalam zaman anugerah (kasih karunia), Allah tidak memperlakukan kita berdasarkan prinsip hukum Taurat, sebaliknya Ia memperlakukan kita berdasarkan prinsip iman (kepercayaan). Apakah kita akan dibenarkan, diselamatkan, dan diterima oleh Allah tergantung pada prinsip iman, bukan prinsip hukum Taurat. Asalkan kita percaya kepada Kristus, kita dibenarkan oleh Allah, diterima oleh Dia, dan diselamatkan. Inilah yang dimaksud dengan terhapusnya prinsip hukum Taurat dalam Kristus di bawah zaman anugerah.

Sekalipun prinsip hukum Taurat telah dihapus, namun perintah hukum Taurat belum ditiadakan. Sebaliknya taraf perintah ini telah ditingkatkan. Jadi perintah yang menyangkut standar moral belum dilenyapkan, melainkan akan tetap ada sampai kekal. Bahkan sampai pada kekekalan kita tidak boleh menyembah berhala, membunuh, mencuri, atau berdusta. Dalam Kerajaan Surga-Nya Sang Raja telah meningkatkan taraf hukum Taurat dalam dua cara: dengan menyempurnakan hukum Taurat yang lebih rendah, dan menggantikannya dengan hukum Taurat yang lebih tinggi. Dengan demikian moralitas dalam perintah hukum Taurat telah ditingkatkan ke taraf yang lebih tinggi.

Juruselamat Rajani sendiri menjalani semua perintah hukum Taurat ketika Ia berada di bumi. Kemudian Ia pergi ke salib untuk mati bagi kita. Melalui kematian penggantian-Nya, Ia menggenapi hukum Taurat pada aspek yang negatif. Tidak hanya demikian, melalui kematian penggantian-Nya, Ia membebaskan hayat kebangkitan-Nya ke dalam kita, sehingga kini kita memiliki hayat kebangkitan di dalam roh kita. Karena kita dapat hidup berdasarkan hayat kebangkitan ini, maka kita mempunyai tenaga, kekuatan untuk memiliki moralitas taraf tertinggi. Jika kita hidup menurut roh (Rm. 8:4), kita menggenapi tuntutan (permintaan) kebenaran hukum Taurat, bahkan menggenapi lebih daripada tuntutan hukum Taurat. Karena itu, kita bukan menghapus hukum Taurat sebaliknya kita menggenapinya dengan cara tertinggi.

Aspek ketiga hukum Taurat ialah ritual (tata cara) hukum Taurat. Sebagai contoh: mempersembahkan kurban persembahan dan memelihara hari Sabat adalah ritual lahiriah hukum Taurat. Ritual ini pun telah diakhiri, sebab semuanya adalah bagian dari bayang-bayang, lambang, dan tanda-tanda zaman lama, semuanya ini telah digenapi oleh Kristus sebagai realitas. Kita tidak lagi diharuskan memperhatikan ritual hukum Taurat. Karena itu, prinsip hukum Taurat dan ritual hukum Taurat telah tamat, tetapi perintah hukum Taurat, yang menuntut taraf moral yang tinggi, belum tamat. Sebaliknya, perintah ini telah ditingkatkan. Dengan melalui Kristus sebagai hayat kebangkitan dalam roh kita, kita dapat menggenapi taraf moralitas yang dituntut oleh hukum Taurat yang lebih tinggi dari Kerajaan Surga. Perkataan ini seharusnya membuat kita jelas tentang hukum Taurat menurut ketiga aspeknya; prinsip hukum Taurat, perintah hukum Taurat, dan ritual hukum Taurat.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 20