2 Korintus - Minggu 20 Jumat
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 6:4-6; 1 Tes. 2:9
Dalam ayat 4 Paulus juga membicarakan tentang kesukaran. Secara harfiah kata Yunani yang diterjemahkan kesukaran itu berarti kesempitan ruangan; karena itu mengacu kepada kesulitan yang menyedihkan, kesulitan-kesulitan, penderitaan-penderitaan. Beberapa penerjemah membalikkan susunan kata-kata dalam ayat 4 ini, dengan memakai kesukaran untuk penderitaan, dan penderitaan untuk kesukaran. Kita dapat mengatakan bahwa kesukaran adalah penderitaan batini yang datang sebagai satu reaksi terhadap penderitaan-penderitaan yang di luar.
Dari berbagai kata yang dipakai oleh Paulus dalam ayat 4 ini kita mengetahui bahwa ia berada dalam berbagai jenis persoalan. Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa kehidupan Paulus adalah satu kehidupan penderitaan, malapetaka, kesulitan yang menyedihkan, kesusahan, dan kesukaran. Apakah Anda senang mendengar hal ini? Apakah Anda masih mau menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru setelah Anda mendengar tentang kesulitan-kesulitan dan persoalan Paulus? Hari ini banyak orang muda didorong untuk menjadi pelajar sekolah kependetaan. Setelah lulus dari suatu seminari, mereka mungkin akan dapat menemukan pekerjaan yang baik sebagai seorang pastur atau pendeta. Mereka mungkin disediakan rumah dan tunjangan yang memadai. Namun, Paulus bukanlah minister yang demikian, dan ia tidak menempuh kehidupan yang demikian. Sebaliknya, kehidupannya, yaitu kehidupan yang melayakkan dia untuk menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru, adalah kehidupan kesabaran, penderitaan, kesusahan, dan kesukaran.
Dalam 2 Korintus 11:23 Paulus mengatakan bahwa ia "lebih banyak berjerih lelah". Paulus menyinggung hal ini dalam 1 Tesalonika 2:9: "Sebab kamu masih ingat, Saudara-saudara, akan usaha dan jerih payah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu." Ia menunjukkan hal ini lagi dalam 2 Tesalonika 3:8, di mana ia berkata, "Dan tidak makan roti orang dengan cuma-cuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu."
Berpuasa dalam ayat 5 ini bukan mengacu kepada berpuasa untuk berdoa. Ini adalah berpuasa karena kekurangan makanan. Dalam 2 Korintus 11:27 berpuasa ini disinggung bersamaan dengan berjerih payah dan bekerja berat, berjaga-jaga, kelaparan dan kehausan. Karena berpuasa ini dicantumkan bersama bekerja berat, maka itu pasti mengacu kepada puasa yang tidak direncanakan karena kekurangan makanan. Maka, puasa demikian berbeda dengan kelaparan. Kelaparan mengacu kepada situasi yang tidak berdaya mendapatkan makanan; puasa yang tidak direncanakan mengacu kepada suatu situasi kemiskinan.
Kata kemurnian dalam ayat 6 menyiratkan banyak hal. Jika maksud kita tidak tulus, berarti kita tidak murni. Jika dalam motivasi, kita adalah bagi sesuatu selain Tuhan sendiri, maka motivasi kita itu tidak murni. Demikian juga, jika sasaran kita adalah untuk memperoleh sesuatu selain kemuliaan Allah, maka sasaran kita itu tidak murni. Kemurnian menunjukkan bahwa kita tidak memperhatikan yang lain, selain Allah dan kemuliaan-Nya.
Sumber:
Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 2, Berita 40
2 Korintus - Minggu 20 Kamis
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 6:3-7; 1:8
Dalam ayat 4-7 Paulus memberikan kategori yang pertama dari syarat-syarat para minister Allah, para minister dari perjanjian yang baru (2 Kor. 3:6). Bertahun-tahun yang lalu, ketika saya membaca ayat-ayat ini, saya terganggu oleh fakta bahwa syarat yang pertama yang diberikan oleh Paulus adalah kesabaran (ay. 4). Saya mengira, dalam membicarakan syarat-syarat dari minister Perjanjian Baru, Paulus seharusnya memulai dengan sesuatu yang besar. Sebaliknya, ia memulai dengan kata-kata "dalam menahan dengan penuh kesabaran". Jika hari ini seorang beriman ingin melamar untuk menjadi misionaris medis, tentunya ia akan menyebutkan pendidikannya. Tetapi apakah ia akan menyatakan bahwa ia memiliki syarat kesabaran ini? Bagaimanapun, syarat pertama yang dituliskan Paulus adalah kesabaran.
Syarat yang pertama dari seorang minister Perjanjian Baru adalah mampu menahan penderitaan. Minister yang demikian harus dapat bertahan terhadap tekanan, penindasan, penganiayaan, kesusahan, atau ujian apa pun. Saudara Watchman Nee pernah mengatakan bahwa orang yang paling penuh dengan kekuatan adalah orang yang dapat menahan dengan penuh kesabaran. Kesabaran memerlukan kekuatan. Jika kita ingin bertahan terhadap kesulitan, kita perlu dikuatkan, bahkan penuh dengan kekuatan.
Paulus menyebutkan penderitaannya dalam 2 Korintus 1:8: "Sebab kami mau, Saudara-saudara, supaya kamu tahu tentang penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga mengenai hidup kami." Inilah syarat lain baginya untuk menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru.
Sulit untuk menyerap makna yang sesungguhnya dari kata yang diterjemahkan "kesusahan". Darby dalam terjemahannya juga memakai kata kesusahan. Versi China memakai kata kemiskinan. Bila kita berada dalam kekurangan, kekurangan makanan, tempat tinggal, atau pakaian, maka kita berada dalam kesusahan. Dalam 2 Korintus 12:10, di mana kata Yunani yang sama dipakai, versi bahasa Chinanya memakai kata yang berarti kesulitan yang menyedihkan. Kata Yunaninya berarti keperluan yang mendesak, yang menekan dengan berat. Ini mengacu kepada penderitaan yang diakibatkan dari malapetaka dan kesulitan yang menyedihkan. Contohnya malapetaka meletusnya Gunung Saint Helens beberapa waktu yang lalu. Itu adalah satu malapetaka bagi orang-orang yang tinggal di sekitar gunung berapi itu. Akibat dari malapetaka itu adalah kelaparan dan kekurangan kebutuhan sehari-hari. Paulus telah melalui banyak malapetaka dan kesulitan yang menyedihkan dan, sebagai akibatnya, ia berada dalam kesusahan.
Sumber:
Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 2, Berita 40
2 Korintus - Minggu 20 Rabu
Pembacaan Alkitab: 1 Kor. 6:1-13
Para rasul bukan hanya diberi amanat untuk merampungkan pekerjaan pendamaian, ministri pendamaian, tetapi juga bekerja bersama Allah membawa orang masuk ke dalam Allah. Mereka tahu bahwa bersandarkan diri sendiri mereka tidak mungkin dapat membawa orang masuk ke dalam Allah. Mereka tidak memiliki kekuatan ini, kecakapan ini. Mereka perlu bekerja bersama Allah untuk melakukan hal ini.
Bekerja bersama Allah berarti kita berada di dalam Dia. Ketika kita berada di dalam Dia, kita dapat membawa orang lain masuk ke dalam Dia. Hanya orang yang berada di dalam Allah baru dapat membawa orang lain masuk ke dalam Allah. Jika Anda tidak berada di dalam Dia, tentu Anda tidak akan dapat membawa seorang pun ke dalam Dia. Keintiman kita dengan Allah adalah ukuran hasil pekerjaan kita. Jika kita jauh dari Allah, kita tidak akan dapat membawa orang lain dekat kepada-Nya. Sejauh mana kita dapat membawa orang lain kepada Allah dan membawa mereka masuk ke dalam Allah, selalu diukur dengan hubungan kita dengan Allah. Jika kita adalah orang-orang yang bersatu dengan Allah, barulah kita dapat membawa orang lain ke tempat di mana kita berada. Karena itu, jika kita ingin membawa orang lain masuk ke dalam Tuhan, kita sendiri harus berada di dalam Dia. Semakin kita berada di dalam Dia, kita semakin dapat mendamaikan orang lain ke dalam Dia. Kiranya hal ini menanamkan kesan yang dalam pada diri kita!
Paulus menasihatkan orang beriman di Korintus agar tidak menerima kasih karunia Allah dengan sia-sia (6:1). Kasih karunia adalah Kristus yang bangkit yang menjadi Roh pemberi-hayat untuk membawa Allah yang telah melalui proses dalam kebangkitan ke dalam kita untuk menjadi hayat dan suplai hayat kita, supaya kita dapat hidup dalam kebangkitan. Ini berarti kasih karunia adalah Allah Tritunggal yang menjadi hayat dan segala sesuatu kita. Oleh kasih karunia ini, Saulus dari Tarsus, orang yang paling berdosa di antara orang-orang berdosa (1 Tim. 1:15-16), menjadi rasul yang paling baik, yang bekerja lebih keras daripada semua rasul (1 Kor. 15:10). Kasih karunia Allah selalu membawa kita kembali kepada-Nya. Menurut konteks dari 2 Korintus 6:1, tidak menerima kasih karunia Allah dengan sia-sia berarti tidak tinggal dalam keadaan yang menyimpang keluar dari Allah, tetapi dibawa kembali kepada-Nya.
Dalam 2 Korintus 6:1-13 kita melihat satu gambaran dari orang yang diselamatkan sepenuhnya. Kita membuktikan keselamatan kita dengan memiliki hayat yang serba sesuai. Dalam ayat-ayat ini Paulus adalah satu teladan dari seorang beriman yang telah diselamatkan sepenuhnya, satu teladan dari orang yang memperhidupkan hayat yang serba sesuai. Dalam berita selanjutnya kita akan melihat rincian dari hayat ini.
Sumber:
Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 2, Berita 39
2 Korintus - Minggu 20 Selasa
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 5:21
Jika kita ingin memiliki pemahaman yang tepat terhadap apa yang dimaksud dengan bekerja bersama Allah, kita perlu melihat apa yang dikatakan oleh Paulus pada akhir pasal 5. Paulus mengatakan bahwa ia telah diberi amanat oleh Allah dengan ministri pendamaian, yaitu dengan pekerjaan untuk mendamaikan orang lain kepada Allah.
Apakah pendamaian yang diministrikan oleh Paulus? Saya telah membaca sejumlah buku yang membahas subyek ini, tetapi tidak satu pun dari buku-buku itu yang menunjukkan bahwa ministri pendamaian bukan hanya membawa orang-orang dosa kepada Allah, bahkan lebih jauh lagi, membawa masuk kaum beriman sepenuhnya ke dalam Allah. Jadi, tidak cukup hanya dibawa kembali kepada Allah; kita juga harus berada di dalam Dia.
Ayat yang terakhir dari pasal 5, yaitu ayat 21 mengatakan, "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah" (Tl.). Menurut ayat ini, kita menjadi kebenaran Allah bukan hanya melalui Kristus, dengan Kristus, atau oleh Kristus; kita menjadi kebenaran Allah adalah di dalam Kristus. Dari ayat ini kita juga melihat bahwa kita bukan hanya menjadi benar di hadapan Allah, lebih-lebih kita menjadi kebenaran Allah. Menjadi benar adalah satu hal, menjadi kebenaran adalah hal lainnya lagi. Misalnya, ada satu benda yang mungkin adalah emas, tetapi benda itu mungkin bukan emas murni. Betapa ajaibnya bahwa di dalam Kristus kita dapat menjadi kebenaran Allah!
Pemahaman yang Alkitabiah tentang pendamaian ini mencakup lebih banyak daripada sekadar dibawa kembali kepada Allah. Pendamaian adalah dibawa masuk kembali ke dalam Dia. Karena itu, menurut Alkitab, membawa orang lain kepada Allah berarti membawa mereka masuk ke dalam Allah dan membuat mereka mutlak menjadi satu dengan Dia. Namun, dalam kebanyakan pengajaran orang Kristen, perkara kesatuan dengan Allah ini dipahami dengan salah. Menurut konsepsi yang dipegang oleh kebanyakan orang Kristen, menjadi satu dengan Allah dapat dibandingkan dengan istri menjadi satu dengan suaminya. Dalam kasus suami dan istri, ada semacam kesatuan yang korporat. Tetapi dalam Alkitab, menjadi satu dengan Allah itu berarti berbaur dengan Dia. Ini berarti berada di dalam Allah dan membiarkan Allah masuk ke dalam kita. Kesatuan dengan Allah yang Alkitabiah adalah kesatuan yang di dalamnya kita masuk ke dalam Allah dan Allah masuk ke dalam kita. Karena itu, Tuhan Yesus berkata, "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu" (Yoh. 15:4). Dia tidak berkata, "Tinggallah bersama Aku dan Aku bersama kamu." Sungguh sangat disayangkan bahwa ada beberapa orang Kristen yang menentang konsep Alkitabiah yang ajaib ini tentang bersatu dengan Allah melalui berbaur dengan Dia!
Sebelum kita sepenuhnya menjadi satu dengan Tuhan, sepenuhnya berada di dalam Dia, dan membiarkan Dia berada di dalam kita dengan mutlak, kita akan terus-menerus memerlukan ministri pendamaian ini, yaitu ministri yang diamanatkan kepada Paulus. Paulus diberi amanat untuk membawa kaum beriman masuk ke dalam Allah dengan cara yang mutlak dan riil.
Sumber:
Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 2, Berita 39
2 Korintus - Minggu 20 Senin
Pembacaan Alkitab: 1 Kor. 6:1-13
Dalam 2 Korintus 2:12--3:11 Paulus menyinggung tentang ministri dari perjanjian yang baru, dan dalam 2 Korintus 3:12-7:16, tentang para minister dari perjanjian yang baru. Bagian tentang para minister dari perjanjian yang baru dalam Surat Kiriman ini lebih panjang daripada bagian tentang ministri perjanjian yang baru. Alasannya adalah karena Allah jauh lebih memperhatikan para minister daripada ministri. Dengan kata lain, Allah lebih memperhatikan apa adanya kita daripada apa yang kita lakukan. Ini berarti bahwa apa adanya kita jauh lebih penting bagi-Nya daripada apa yang kita lakukan.
Kita perlu sangat terkesan dengan fakta bahwa Allah jauh lebih memperhatikan apa adanya kita daripada apa yang kita lakukan. Apa yang kita lakukan itu harus diukur dengan apa adanya kita. Selain itu, manusia kita ini harus sesuai dengan pekerjaan kita, yaitu, apa adanya kita harus sesuai dengan apa yang kita lakukan. Diri kita harus sesuai dengan perbuatan kita. Jadi, diri kita dan perbuatan kita berjalan seiring. Jika kita hanya memperhatikan apa yang kita lakukan dan tidak memperhatikan menjadi orang yang benar, maka apa yang kita lakukan itu tidak akan memiliki bobot. Perbuatan kita akan berbobot hanya bila perbuatan itu sesuai dengan apa adanya kita.
Dalam 2 Korintus 6:1 Paulus berkata, "Dan sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan menyia-nyiakan anugerah (kasih karunia) Allah yang telah kamu terima." "Dan" di sini menunjukkan suatu kelanjutan. Pada bagian terakhir dari pasal 5 (ayat 16-21) rasul memberi tahu kita bahwa mereka, para minister dari perjanjian yang baru, telah diberi amanat ministri pendamaian bagi ciptaan baru Tuhan. Mulai pasal 6:1 sampai akhir pasal 7, dia meneruskan memberi tahu kita bagaimana mereka bekerja. Mereka bekerja bersama Allah bersandarkan hayat (bukan karunia apa pun) yang serba kaya dan serba cukup, matang dalam segala, dapat menyesuaikan segala situasi, yaitu dapat menahan perlakuan macam apa pun, dapat menerima lingkungan macam apa pun, dapat bekerja dalam keadaan apa pun, dan dapat memegang kesempatan apa pun, untuk merampungkan ministri mereka.
Menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru itu tidak tergantung kepada karunia atau kekuatan; melainkan tergantung kepada hayat yang dapat sesuai dalam situasi apa pun. Memang, dalam 2 Korintus 6:1-13 kata "serba sesuai" ini tidak dipakai. Tetapi jika Anda melihat apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini, Anda dapat nampak bahwa ayat-ayat ini menggambarkan satu hayat yang benar-benar serba sesuai. Seperti yang akan kita lihat dalam berita selanjutnya, di sini Paulus menyinggung delapan belas syarat, tiga kelompok perkara, dan tujuh macam orang. Karena itu, Paulus layak menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru dalam setiap aspek.
Dalam 2 Korintus 6:1 Paulus tidak mengatakan bahwa para rasul bekerja bersama satu sama lain. Tidak, ia mengatakan bahwa mereka bekerja bersama Allah. Para rasul ini bukan hanya diamanatkan oleh Allah dengan ministri mereka, mereka juga bekerja bersama Dia. Mereka adalah sekerja-sekerja Allah (1 Kor. 3:9). Paulus dan sekerja-sekerjanya bekerja bersama Allah.
Sumber:
Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 2, Berita 39
2 Korintus - Minggu 19 Sabtu
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 4:7-16
Hari ini Kristus adalah Kepala Tubuh, dan kita, pengikut-pengikut-Nya, adalah anggota-anggota-Nya. Sebagai Kepala, Dia memiliki dua sifat, dan sebagai anggota-anggota-Nya, kita juga memiliki dua sifat yang sama. Kristus, Sang Kepala, memiliki keilahian dan keinsanian; kita, anggota-anggota-Nya, juga memiliki keinsanian dan keilahian. Lihatlah tubuh jasmani Anda: kepala dan anggota-anggota tubuh itu memiliki substansi yang sama. Kepala tidak mungkin memiliki satu substansi dan anggota-anggota tubuh memiliki substansi lainnya. Tidak, seluruh tubuh memiliki substansi yang sama, unsur yang sama. Di seluruh tubuh kita ada darah yang sama, hayat yang sama, dan sifat yang sama. Ini juga berlaku bagi hubungan Kristus dan gereja. Apa adanya Kristus dan milik Kristus, juga adalah apa adanya kita dan milik kita sebagai anggota-anggota-Nya. Kristus memiliki keinsanian dan keilahian, kita juga memiliki keilahian dan keinsanian. Ini berarti Kristus dan kita yang percaya kepada-Nya, yang adalah anggota-anggota-Nya, memiliki dua sifat. Namun, kita ingin menekankan sekali lagi bahwa perbauran antara keilahian dengan keinsanian di dalam kita ini tidak menghasilkan satu sifat yang ketiga. Keinsanian kita tidak hilang. Keilahian maupun keinsanian tidak musnah dalam perbauran ini.
Adalah sangat penting bila kita menyadari bahwa setiap orang Kristen yang sejati, setiap orang yang benar-benar percaya Kristus, adalah orang yang mengalami perbauran antara hayat ilahi dan sifat ilahi dengan hayat insani dan sifat insani. Hayat ilahi ini tidak hanya sekali dibaurkan dengan hayat insani kita, lebih-lebih terus-menerus berbaur dengan hayat insani. Hasilnya, kita menjadi manusia ilahi. Inilah sebabnya kita mengatakan bahwa orang-orang Kristen adalah manusia-manusia Allah. Hayat kita adalah hayat manusia-Allah; kehidupan kita, seperti yang ditunjukkan oleh efod yang tersusun dari benang emas dan benang lenan, adalah satu kehidupan dari keilahian yang berbaur dengan keinsanian. Pakaian rohani kita bukan hanya lenan; tetapi juga emas. Kita memiliki emas dan lenan yang ditenun menjadi satu pakaian. Inilah perilaku kita, karakter kita, kehidupan kita.
Alkitab mewahyukan bahwa sebagai kaum beriman dalam Kristus kita sedang ditransformasi, disusun, dan direorganisasi. Namun, ini tidak diajarkan di antara kebanyakan orang Kristen pada hari ini. Sebaliknya, kaum beriman diajar untuk memperbaiki karakter dan perilaku mereka. Namun, pengajaran semacam ini tidak sesuai dengan Alkitab. Apa saja yang dikatakan Alkitab tentang perilaku kita atau tingkah laku kita itu berkaitan dengan transformasi. Kita harus nampak bahwa transformasi adalah jalan yang benar. Ini sangatlah penting. Dalam proses transformasi, unsur Allah, yaitu keilahian, senantiasa bekerja di dalam kita untuk mentransformasi keinsanian kita, supaya keinsanian yang alamiah ditransformasi menjadi keinsanian yang rohani. Tetapi ini bukan berarti keinsanian kita akan hilang, juga bukan berarti keilahian itu akan berubah atau terpengaruh sedikit. Tidak, keinsanian kita dan keilahian Allah tidak akan berubah; namun, keduanya berbaur bersama menjadi satu kesatuan, satu persona. Perbauran ini menghasilkan manusia-manusia Allah yang sejati. Ini juga akan menghasilkan air teh surgawi untuk kita minum dan kita nikmati hari demi hari.
Sumber:
Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 2, Berita 38
2 Korintus - Minggu 19 Jumat
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 4:7-16
Hari ini Kristus adalah Kepala Tubuh, dan kita, pengikut-pengikut-Nya, adalah anggota-anggota-Nya. Sebagai Kepala, Dia memiliki dua sifat, dan sebagai anggota-anggota-Nya, kita juga memiliki dua sifat yang sama. Kristus, Sang Kepala, memiliki keilahian dan keinsanian; kita, anggota-anggota-Nya, juga memiliki keinsanian dan keilahian. Lihatlah tubuh jasmani Anda: kepala dan anggota-anggota tubuh itu memiliki substansi yang sama. Kepala tidak mungkin memiliki satu substansi dan anggota-anggota tubuh memiliki substansi lainnya. Tidak, seluruh tubuh memiliki substansi yang sama, unsur yang sama. Di seluruh tubuh kita ada darah yang sama, hayat yang sama, dan sifat yang sama. Ini juga berlaku bagi hubungan Kristus dan gereja. Apa adanya Kristus dan milik Kristus, juga adalah apa adanya kita dan milik kita sebagai anggota-anggota-Nya. Kristus memiliki keinsanian dan keilahian, kita juga memiliki keilahian dan keinsanian. Ini berarti Kristus dan kita yang percaya kepada-Nya, yang adalah anggota-anggota-Nya, memiliki dua sifat. Namun, kita ingin menekankan sekali lagi bahwa perbauran antara keilahian dengan keinsanian di dalam kita ini tidak menghasilkan satu sifat yang ketiga. Keinsanian kita tidak hilang. Keilahian maupun keinsanian tidak musnah dalam perbauran ini.
Adalah sangat penting bila kita menyadari bahwa setiap orang Kristen yang sejati, setiap orang yang benar-benar percaya Kristus, adalah orang yang mengalami perbauran antara hayat ilahi dan sifat ilahi dengan hayat insani dan sifat insani. Hayat ilahi ini tidak hanya sekali dibaurkan dengan hayat insani kita, lebih-lebih terus-menerus berbaur dengan hayat insani. Hasilnya, kita menjadi manusia ilahi. Inilah sebabnya kita mengatakan bahwa orang-orang Kristen adalah manusia-manusia Allah. Hayat kita adalah hayat manusia-Allah; kehidupan kita, seperti yang ditunjukkan oleh efod yang tersusun dari benang emas dan benang lenan, adalah satu kehidupan dari keilahian yang berbaur dengan keinsanian. Pakaian rohani kita bukan hanya lenan; tetapi juga emas. Kita memiliki emas dan lenan yang ditenun menjadi satu pakaian. Inilah perilaku kita, karakter kita, kehidupan kita.
Alkitab mewahyukan bahwa sebagai kaum beriman dalam Kristus kita sedang ditransformasi, disusun, dan direorganisasi. Namun, ini tidak diajarkan di antara kebanyakan orang Kristen pada hari ini. Sebaliknya, kaum beriman diajar untuk memperbaiki karakter dan perilaku mereka. Namun, pengajaran semacam ini tidak sesuai dengan Alkitab. Apa saja yang dikatakan Alkitab tentang perilaku kita atau tingkah laku kita itu berkaitan dengan transformasi. Kita harus nampak bahwa transformasi adalah jalan yang benar. Ini sangatlah penting. Dalam proses transformasi, unsur Allah, yaitu keilahian, senantiasa bekerja di dalam kita untuk mentransformasi keinsanian kita, supaya keinsanian yang alamiah ditransformasi menjadi keinsanian yang rohani. Tetapi ini bukan berarti keinsanian kita akan hilang, juga bukan berarti keilahian itu akan berubah atau terpengaruh sedikit. Tidak, keinsanian kita dan keilahian Allah tidak akan berubah; namun, keduanya berbaur bersama menjadi satu kesatuan, satu persona. Perbauran ini menghasilkan manusia-manusia Allah yang sejati. Ini juga akan menghasilkan air teh surgawi untuk kita minum dan kita nikmati hari demi hari.
Sumber:
Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 2, Berita 38