Pertobatan Kepada Hayat
Kisah Para Rasul 11:18
Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan kepada hayat (TL.)
Ayat Bacaan: Kis. 11:18; Rm. 5:17b-18, 21b
Penebusan melalui darah mustika Kristus meletakkan fondasi dan membuka jalan untuk keselamatan Allah di dalam hayat (Kis. 11:18; Rm. 5:17b-18, 21b). Satu hari, empat ribu tahun setelah manusia diciptakan, Allah berinkarnasi menjadi seorang manusia, dan nama-Nya adalah Yesus. Pada saat itu Allah datang dan masuk ke dalam manusia untuk bersatu dengan manusia. Dia menjadi seorang manusia yang mempengaruhi kesatuan-Nya dengan ras manusia. Di alam semesta di antara ras manusia ada sejarah yang demikian. Dia telah disalibkan, tetapi tiga hari setelah Dia dikubur, Dia dibangkitkan. Ketika Dia dibangkitkan, kita juga dibangkitkan bersama Dia. Di dalam kebangkitan Dia membagikan hayat Allah kepada kita. Disalibkan bersama Dia adalah untuk penebusan, dan dibangkitkan bersama Dia adalah untuk keselamatan. Keselamatan Allah dilaksanakan melalui Dia membagikan diri-Nya kepada kita untuk ada di dalam kita melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus.
Tuhan ada di dalam kita, yaitu di dalam roh kita. Dia ingin bukan saja dilahirkan di dalam kita tetapi juga hidup dan bergerak bersama kita hari demi hari. Ketika kita berbicara, Dia berbagian. Kapan kala kita bekerja, Dia bersama kita. Hal ini tidak diketahui oleh orang yang tidak percaya. Orang yang tidak percaya berpikir bahwa untuk percaya kepada Yesus adalah percaya di dalam satu agama dan merubah tingkah laku orang secara luaran. Namun, Alkitab mengajar kita bahwa Allah adalah hayat, dan selain dari Dia tidak ada hayat. Hanya hayat-Nya adalah hayat kekal. Allah ini yang adalah hayat ingin masuk ke dalam manusia untuk menjadi hayat manusia. Dia menciptakan manusia agar manusia dapat menjadi bejana untuk diisi-Nya. Karena itu, hari ini setiap orang yang tanpa Allah atau tanpa Kristus adalah seorang manusia yang kosong; dia tidak memiliki realitas. Realitas manusia adalah Kristus, yang adalah Allah. Diri Allah sendiri berinkarnasi untuk menjadi seorang manusia. Di dalam manusia ini, Dia membawa ras manusia ke salib untuk mati di sana bersama Dia. Kemudian Dia membawa ras manusia bersama Dia dibangkitkan, dan di dalam kebangkitan ini Dia melahirkan mereka kembali.
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
12 March 2010
11 March 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 4 Jumat
Kamu akan Dibaptis dengan Roh Kudus
Kisah Para Rasul 11:15-16
Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
Ayat Bacaan: Kis. 11:15-16
Pada hari Pentakosta, orang-orang Yahudi yang dibaptis dalam Roh kudus, mewakili semua orang Yahudi yang percaya Tuhan. Di pandangan Allah, semua orang Yahudi baik yang dulu maupun yang sekarang, semua pada hari Pentakosta itu telah satu kali dibaptis dalam Roh Kudus. Tetapi ingatlah, pada hari Pentakosta itu, Tuhan hanya menggenapkan baptisan Roh di atas diri kaum beriman Yahudi, hanya menggenapkan bagian pertama dari baptisan Roh.
Bagian kedua baptisan Roh terjadi di rumah Kornelius pada sekelompok orang bukan Yahudi yang percaya Tuhan (Ini dipandang dari sudut kedudukan. Sesungguhnya, sebelum mereka percaya, sudah ada orang bukan Yahudi yang percaya Tuhan, seperti sida-sida Etiopia). Kornelius adalah perwira pasukan Italia, sekeluarganya orang bukan Yahudi. Sebagaimana Petrus pada hari Pentakosta sekali untuk selamanya membuka pintu percaya Tuhan bagi orang Yahudi, begitu juga ia di rumah Kornelius membuka pintu percaya bagi orang kafir sekali untuk selamanya. Untuk menegaskan perkara ini, ketika Petrus sedang menyampaikan firman di rumah Kornelius, Tuhan menurunkan Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti yang turun ke atas diri kaum beriman Yahudi. Petrus berkata, ketika ia melihat hal itu, teringatlah ia akan janji Tuhan tentang baptisan Roh Kudus.
Sebab itu, menurut prinsip perwakilan, sebagaimana Tuhan pada hari Pentakosta sekaligus membaptis semua orang Yahudi baik yang dulu maupun yang sekarang ke dalam Roh Kudus, demikian juga di rumah Kornelius, sekaligus membaptis semua orang beriman bukan Yahudi yang dulu dan yang sekarang ke dalam Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus adalah satu fakta yang telah Tuhan genapkan di atas diri gereja. Karena kita adalah salah satu bagian dalam gereja, maka baptisan Roh adalah bagian kita yang seharusnya kita nikmati dan kita alami. Dengan demikian, kita percaya fakta yang telah Tuhan genapkan dan firman yang Tuhan ucapkan tentang fakta ini; memakai iman yang demikian dan bersandarkan firman Tuhan menerima fakta yang Tuhan rampungkan.
Kisah Para Rasul 11:15-16
Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
Ayat Bacaan: Kis. 11:15-16
Pada hari Pentakosta, orang-orang Yahudi yang dibaptis dalam Roh kudus, mewakili semua orang Yahudi yang percaya Tuhan. Di pandangan Allah, semua orang Yahudi baik yang dulu maupun yang sekarang, semua pada hari Pentakosta itu telah satu kali dibaptis dalam Roh Kudus. Tetapi ingatlah, pada hari Pentakosta itu, Tuhan hanya menggenapkan baptisan Roh di atas diri kaum beriman Yahudi, hanya menggenapkan bagian pertama dari baptisan Roh.
Bagian kedua baptisan Roh terjadi di rumah Kornelius pada sekelompok orang bukan Yahudi yang percaya Tuhan (Ini dipandang dari sudut kedudukan. Sesungguhnya, sebelum mereka percaya, sudah ada orang bukan Yahudi yang percaya Tuhan, seperti sida-sida Etiopia). Kornelius adalah perwira pasukan Italia, sekeluarganya orang bukan Yahudi. Sebagaimana Petrus pada hari Pentakosta sekali untuk selamanya membuka pintu percaya Tuhan bagi orang Yahudi, begitu juga ia di rumah Kornelius membuka pintu percaya bagi orang kafir sekali untuk selamanya. Untuk menegaskan perkara ini, ketika Petrus sedang menyampaikan firman di rumah Kornelius, Tuhan menurunkan Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti yang turun ke atas diri kaum beriman Yahudi. Petrus berkata, ketika ia melihat hal itu, teringatlah ia akan janji Tuhan tentang baptisan Roh Kudus.
Sebab itu, menurut prinsip perwakilan, sebagaimana Tuhan pada hari Pentakosta sekaligus membaptis semua orang Yahudi baik yang dulu maupun yang sekarang ke dalam Roh Kudus, demikian juga di rumah Kornelius, sekaligus membaptis semua orang beriman bukan Yahudi yang dulu dan yang sekarang ke dalam Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus adalah satu fakta yang telah Tuhan genapkan di atas diri gereja. Karena kita adalah salah satu bagian dalam gereja, maka baptisan Roh adalah bagian kita yang seharusnya kita nikmati dan kita alami. Dengan demikian, kita percaya fakta yang telah Tuhan genapkan dan firman yang Tuhan ucapkan tentang fakta ini; memakai iman yang demikian dan bersandarkan firman Tuhan menerima fakta yang Tuhan rampungkan.
10 March 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 4 Kamis
Kamu dan Seisi Rumahmu akan Diselamatkan
Kisah Para Rasul 11:14
Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu.
Ayat Bacaan: Kis. 11:14; Luk. 19:9; Kis. 16:30-34
Dalam Alkitab kita nampak bahwa Allah memberi banyak janji kepada manusia dalam perlakuan dan pergaulan-Nya dengan manusia. Kalau kita mengetahui janji-janji-Nya itu, kita akan terhindar dari kerugian dalam banyak hal. Janji keselamatan yang Allah berikan kepada kita adalah satuan keluarga, bukan perorangan. Ketika Alkitab membicarakan hidup yang kekal, satuannya adalah perorangan bukan keluarga. Tetapi, keselamatan dikaruniakan kepada keluarga demi keluarga. Dalam Lukas 19:9, Tuhan Yesus berkata kepada Zakheus, pemungut cukai yang besar dosanya, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini.” Inilah satu bukti yang kuat, bahwa satuan keselamatan yang Tuhan berikan adalah satu rumah. Tuhan tidak mengatakan keselamatan terjadi pada orang ini (Zakheus), tetapi keselamatan terjadi kepada rumah ini (seisi rumah). Jelas sekali, Tuhan menghendaki Zakheus sekeluarga percaya kepada-Nya dan diselamatkan. Kepada Zakheus, kepada kita semua, perkataan Tuhan ini adalah pernyataan dan peringatan. Selain itu, di dalam Kisah Para Rasul 16:30-34 juga tercatat peristiwa keselamatan kepala penjara Filipi dan seisi rumahnya. Kepala penjara itu bertanya kepada rasul, apa yang harus ia perbuat, supaya ia selamat. Tetapi jawaban rasul bukan hanya ditujukan kepada ia seorang diri, melainkan ia dan seisi rumahnya akan selamat (ayat 31). Ini membuktikan, bahwa dalam hati rasul yang diutus Tuhan untuk memberitakan injil, keselamatan Tuhan meski ditujukan kepada satu orang, tetapi satuannya adalah seisi rumah.
Perkataan rasul ini juga merupakan suatu pernyataan yang mengingatkan, agar kepala penjara itu tidak saja memperhatikan keselamatan dirinya sendiri, juga memperhatikan keselamatan seisi rumahnya. Keselamatan keluarga adalah satu prinsip yang paling besar. Anda seorang beroleh selamat, keluarga Anda pun beroleh selamat. Dalam hal ini Anda sendiri harus berdiri teguh di hadapan Allah, kemudian Anda akan nampak keluarga Anda berubah di hadapan Allah. Marilah kita perhatikan masalah ini, karena hal inilah yang paling diberkati Tuhan. Dengan berbuat demikian, semoga lebih banyak orang yang akan kita bawa ke hadapan Tuhan.
Kisah Para Rasul 11:14
Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu.
Ayat Bacaan: Kis. 11:14; Luk. 19:9; Kis. 16:30-34
Dalam Alkitab kita nampak bahwa Allah memberi banyak janji kepada manusia dalam perlakuan dan pergaulan-Nya dengan manusia. Kalau kita mengetahui janji-janji-Nya itu, kita akan terhindar dari kerugian dalam banyak hal. Janji keselamatan yang Allah berikan kepada kita adalah satuan keluarga, bukan perorangan. Ketika Alkitab membicarakan hidup yang kekal, satuannya adalah perorangan bukan keluarga. Tetapi, keselamatan dikaruniakan kepada keluarga demi keluarga. Dalam Lukas 19:9, Tuhan Yesus berkata kepada Zakheus, pemungut cukai yang besar dosanya, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini.” Inilah satu bukti yang kuat, bahwa satuan keselamatan yang Tuhan berikan adalah satu rumah. Tuhan tidak mengatakan keselamatan terjadi pada orang ini (Zakheus), tetapi keselamatan terjadi kepada rumah ini (seisi rumah). Jelas sekali, Tuhan menghendaki Zakheus sekeluarga percaya kepada-Nya dan diselamatkan. Kepada Zakheus, kepada kita semua, perkataan Tuhan ini adalah pernyataan dan peringatan. Selain itu, di dalam Kisah Para Rasul 16:30-34 juga tercatat peristiwa keselamatan kepala penjara Filipi dan seisi rumahnya. Kepala penjara itu bertanya kepada rasul, apa yang harus ia perbuat, supaya ia selamat. Tetapi jawaban rasul bukan hanya ditujukan kepada ia seorang diri, melainkan ia dan seisi rumahnya akan selamat (ayat 31). Ini membuktikan, bahwa dalam hati rasul yang diutus Tuhan untuk memberitakan injil, keselamatan Tuhan meski ditujukan kepada satu orang, tetapi satuannya adalah seisi rumah.
Perkataan rasul ini juga merupakan suatu pernyataan yang mengingatkan, agar kepala penjara itu tidak saja memperhatikan keselamatan dirinya sendiri, juga memperhatikan keselamatan seisi rumahnya. Keselamatan keluarga adalah satu prinsip yang paling besar. Anda seorang beroleh selamat, keluarga Anda pun beroleh selamat. Dalam hal ini Anda sendiri harus berdiri teguh di hadapan Allah, kemudian Anda akan nampak keluarga Anda berubah di hadapan Allah. Marilah kita perhatikan masalah ini, karena hal inilah yang paling diberkati Tuhan. Dengan berbuat demikian, semoga lebih banyak orang yang akan kita bawa ke hadapan Tuhan.
09 March 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 4 Rabu
Bergerak Bersama Saudara-saudara
Kisah Para Rasul 11:12
Lalu kata Roh kepadaku: Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang! Dan keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu
1 Korintus 12:14
Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.
Ayat Bacaan: Kis. 11:4, 12, 15-17; 10:23
Menurut Kisah Para Rasul 10:23, ketika Petrus pergi ke rumah Kornelius di Kaisarea, “beberapa saudara dari Yope menyertai dia.” Dalam Kisah Para Rasul 11:12 Petrus menunjukkan bahwa ada enam saudara yang pergi bersama dia. Kita telah mencatat sebelumnya bahwa dalam perkara ini Petrus tidak bertindak secara individu, tetapi dengan beberapa saudara dalam prinsip Tubuh Kristus, supaya mereka dapat bersaksi bahwa Allah menyelamatkan bangsa lain melalui pemberitaan Injil dengan melanggar tradisi dan kebiasaan orang Yahudi. Tetapi, Petrus tidak begitu mengenal prinsip Tubuh. Di sini ia mungkin bertindak berdasarkan kehati-hatian dan keperluan untuk melindungi dirinya sendiri dari kritikan-kritikan orang-orang golongan yang bersunat.
Tidak ada catatan bahwa Tuhan menyuruh Petrus membawa keenam saudara ini bersamanya; juga tidak dikatakan bahwa Kornelius mengundang mereka datang bersama Petrus. Keenam orang ini tidak diutus oleh Tuhan atau diundang oleh Kornelius; sebaliknya, mereka dibawa oleh Petrus sebagai satu perlindungan baginya. Petrus bukan hanya membawa enam saudara ini bersamanya dari Yope ke Kaisarea; ia juga membawa mereka bersamanya ke Yerusalem. Petrus tahu bahwa ia akan menghadapi kesulitan di Yerusalem dan bahwa ia akan dikritik karena hal yang telah ia lakukan di Kaisarea. Ia sadar bahwa ia memerlukan saksi-saksi. Petrus adalah saksi Yesus Kristus, dan enam saudara yang ia bawa ke Yerusalem itu adalah saksi-saksinya.
Menurut ayat 4, Petrus mulai menjelaskan secara berurutan apa yang telah terjadi di rumah Kornelius. Petrus menyimpulkan penuturannya dengan perkataan-perkataan ini: “Ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti ke atas kita dahulu. Lalu teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Jadi, jika Allah memberikan karunia yang sama kepada mereka seperti kepada kita pada waktu kita percaya kepada Yesus Kristus, bagaimana mungkin aku mencegah Dia?” (ay. 15-17). Penuturan Petrus ini sangat bagus, dan kita dapat belajar darinya.
Kisah Para Rasul 11:12
Lalu kata Roh kepadaku: Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang! Dan keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu
1 Korintus 12:14
Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.
Ayat Bacaan: Kis. 11:4, 12, 15-17; 10:23
Menurut Kisah Para Rasul 10:23, ketika Petrus pergi ke rumah Kornelius di Kaisarea, “beberapa saudara dari Yope menyertai dia.” Dalam Kisah Para Rasul 11:12 Petrus menunjukkan bahwa ada enam saudara yang pergi bersama dia. Kita telah mencatat sebelumnya bahwa dalam perkara ini Petrus tidak bertindak secara individu, tetapi dengan beberapa saudara dalam prinsip Tubuh Kristus, supaya mereka dapat bersaksi bahwa Allah menyelamatkan bangsa lain melalui pemberitaan Injil dengan melanggar tradisi dan kebiasaan orang Yahudi. Tetapi, Petrus tidak begitu mengenal prinsip Tubuh. Di sini ia mungkin bertindak berdasarkan kehati-hatian dan keperluan untuk melindungi dirinya sendiri dari kritikan-kritikan orang-orang golongan yang bersunat.
Tidak ada catatan bahwa Tuhan menyuruh Petrus membawa keenam saudara ini bersamanya; juga tidak dikatakan bahwa Kornelius mengundang mereka datang bersama Petrus. Keenam orang ini tidak diutus oleh Tuhan atau diundang oleh Kornelius; sebaliknya, mereka dibawa oleh Petrus sebagai satu perlindungan baginya. Petrus bukan hanya membawa enam saudara ini bersamanya dari Yope ke Kaisarea; ia juga membawa mereka bersamanya ke Yerusalem. Petrus tahu bahwa ia akan menghadapi kesulitan di Yerusalem dan bahwa ia akan dikritik karena hal yang telah ia lakukan di Kaisarea. Ia sadar bahwa ia memerlukan saksi-saksi. Petrus adalah saksi Yesus Kristus, dan enam saudara yang ia bawa ke Yerusalem itu adalah saksi-saksinya.
Menurut ayat 4, Petrus mulai menjelaskan secara berurutan apa yang telah terjadi di rumah Kornelius. Petrus menyimpulkan penuturannya dengan perkataan-perkataan ini: “Ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti ke atas kita dahulu. Lalu teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Jadi, jika Allah memberikan karunia yang sama kepada mereka seperti kepada kita pada waktu kita percaya kepada Yesus Kristus, bagaimana mungkin aku mencegah Dia?” (ay. 15-17). Penuturan Petrus ini sangat bagus, dan kita dapat belajar darinya.
08 March 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 4 Selasa
Kesulitan dalam Mengalami Peralihan
Kisah Para Rasul 11:7-8
Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah! Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku.
Ayat Bacaan: Kis. 11:7-8; 1:8
Kita telah menunjukkan bahwa kitab Kisah Para Rasul adalah sebuah kitab yang bermakna zaman. Satu ayat yang berhubungan dengan unsur zaman dalam Kisah Para Rasul adalah 1:8, dimana Tuhan memberi tahu murid-murid, “Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Dalam Kisah Para Rasul 1:8 Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan memakai mereka sebagai saksi-saksi-Nya, tidak hanya di antara orang Yahudi di Yerusalem dan di seluruh Yudea, tetapi juga di antara orang-orang Samaria, dan bahkan di antara semua bangsa bukan Yahudi, sampai ke ujung bumi. Meskipun murid-murid itu mendengar perkataan ini, namun mereka tidak sadar apa yang sedang Tuhan katakan itu.
Dalam perkataan yang sederhana ini Tuhan menunjukkan bahwa murid-murid perlu mendobrak zaman Perjanjian Lama. Dari pengalaman murid-murid ini kita melihat bahwa mendengar adalah satu hal, tetapi menyadari dan mengalami apa yang telah di dengar itu adalah hal lain lagi. Misalnya, Petrus mendengar firman Tuhan dalam 1:8, tetapi meskipun demikian, ia sulit menerima penggenapan Tuhan terhadap firman ini. Dalam kitab Kisah Para Rasul, kaum beriman sebermula, termasuk rasul-rasul, berada dalam masa transisi. Kita telah menunjukkan bahwa bahkan rasul-rasul pun tidak memiliki visi yang jelas mengenai Allah meninggalkan barang-barang milik Yudaisme. Karena itu, Petrus dan para rasul lainnya tidak melalui masa transisi ini dengan sukses. Sebenarnya mereka melakukan sebuah kegagalan yang besar. Hal ini menyebabkan satu percampuran gereja dengan Yudaisme, dan hal itu tidak dihakimi oleh gereja sebermula di Yerusalem. Hal itu membuat Allah perlu memakai Titus dengan pasukan Romawinya pada tahun 70 untuk menghancurkan Yerusalem, Bait, dan agama Yahudi. Melalui Titus, percampuran agama di Yerusalem juga diakhiri. Kiranya kita semua melihat dari catatan dalam kitab Kisah Para Rasul mengenai perlunya satu peralihan zaman. Kita perlu berdoa, “Tuhan, palingkan aku, dari Perjanjian Lama ke dalam Perjanjian Baru.”
Kisah Para Rasul 11:7-8
Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah! Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku.
Ayat Bacaan: Kis. 11:7-8; 1:8
Kita telah menunjukkan bahwa kitab Kisah Para Rasul adalah sebuah kitab yang bermakna zaman. Satu ayat yang berhubungan dengan unsur zaman dalam Kisah Para Rasul adalah 1:8, dimana Tuhan memberi tahu murid-murid, “Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Dalam Kisah Para Rasul 1:8 Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan memakai mereka sebagai saksi-saksi-Nya, tidak hanya di antara orang Yahudi di Yerusalem dan di seluruh Yudea, tetapi juga di antara orang-orang Samaria, dan bahkan di antara semua bangsa bukan Yahudi, sampai ke ujung bumi. Meskipun murid-murid itu mendengar perkataan ini, namun mereka tidak sadar apa yang sedang Tuhan katakan itu.
Dalam perkataan yang sederhana ini Tuhan menunjukkan bahwa murid-murid perlu mendobrak zaman Perjanjian Lama. Dari pengalaman murid-murid ini kita melihat bahwa mendengar adalah satu hal, tetapi menyadari dan mengalami apa yang telah di dengar itu adalah hal lain lagi. Misalnya, Petrus mendengar firman Tuhan dalam 1:8, tetapi meskipun demikian, ia sulit menerima penggenapan Tuhan terhadap firman ini. Dalam kitab Kisah Para Rasul, kaum beriman sebermula, termasuk rasul-rasul, berada dalam masa transisi. Kita telah menunjukkan bahwa bahkan rasul-rasul pun tidak memiliki visi yang jelas mengenai Allah meninggalkan barang-barang milik Yudaisme. Karena itu, Petrus dan para rasul lainnya tidak melalui masa transisi ini dengan sukses. Sebenarnya mereka melakukan sebuah kegagalan yang besar. Hal ini menyebabkan satu percampuran gereja dengan Yudaisme, dan hal itu tidak dihakimi oleh gereja sebermula di Yerusalem. Hal itu membuat Allah perlu memakai Titus dengan pasukan Romawinya pada tahun 70 untuk menghancurkan Yerusalem, Bait, dan agama Yahudi. Melalui Titus, percampuran agama di Yerusalem juga diakhiri. Kiranya kita semua melihat dari catatan dalam kitab Kisah Para Rasul mengenai perlunya satu peralihan zaman. Kita perlu berdoa, “Tuhan, palingkan aku, dari Perjanjian Lama ke dalam Perjanjian Baru.”
07 March 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 4 Senin
Orang-orang dari Golongan Bersunat
Kisah Para Rasul 11:2
Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia
Galatia 6:15
Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.
Ayat Bacaan: Kej. 17:9-14; Kis. 15:1; Gal. 2:3-4; 6:12-13; Flp. 3:2; Rm. 6:3-4; 8:13; Gal. 5:24
Sunat adalah ketetapan lahiriah yang diwarisi orang Yahudi dari nenek moyang mereka, Abraham (Kej. 17:9-14). Sunat membuat mereka berbeda dan terpisah dari orang-orang yang tidak percaya. Ini menjadi satu formalitas tradisional yang mati, sekadar tanda pada daging tanpa arti rohaniah apa pun, dan ini justru menjadi penghalang besar bagi perluasan Injil Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru-Nya (Kis. 15:1; Gal. 2:3-4; 6:12-13; Flp. 3:2). Yudaisme didirikan di atas hukum Taurat pemberian Allah dengan tiga tiangnya: sunat, hari Sabat, dan peraturan tentang makanan yang kudus. Ketiga hal itu ditetapkan oleh Allah (Kej. 17:9-14; Kel. 20:8-11; Im. 11) sebagai bayangan dari apa yang harus datang (Kol. 2:16-17). Sunat adalah bayangan penyaliban Kristus atas penanggalan tubuh dosa, seperti yang dilambangkan dengan baptisan (Kol. 2:11-12).
Hari Sabat adalah lambang Kristus sebagai perhentian untuk umat-Nya (Mat. 11:28-30). Peraturan tentang makanan yang kudus melambangkan orang-orang yang tahir dan tidak tahir, yang boleh dikontak atau yang tidak boleh dikontak oleh orang-orang kudus Allah (Kis.10:11-16, 34-35). Begitu Kristus datang, semua bayangan itu harus berakhir. Karena itu, memelihara hari Sabat ditiadakan oleh Tuhan Yesus dalam ministri-Nya (Mat. 12:1-12); peraturan tentang makanan yang kudus dihapus oleh Roh dalam ministri Petrus (Kis.10:9-20), dan sunat tidak terhitung dalam wahyu yang diterima Paulus dalam ministrinya (Gal.5:6; 6:15). Lagi pula, hukum Taurat, dasar Yudaisme, telah diakhiri dan diganti oleh Kristus (Rm.10:4; Gal.2:16). Dalam Perjanjian Baru sunat berarti terus menerus menerapkan kematian Tuhan pada daging kita. Roma 6:3-4 mengatakan bahwa kita sudah dibaptis ke dalam kematian Kristus dan dikuburkan bersama Dia, tetapi Roma 8:13 dan Galatia 5:24 memberi tahu kita bahwa kita harus menerapkan sunat salib pada daging kita melalui Roh itu. Faktanya, daging kita telah siap disalibkan, tetapi secara praktis kita perlu menyalibkan daging setiap hari. Inilah realitas dan pelaksanaan tinggal dalam kematian dan penguburan Kristus, dan inilah makna penyunatan. Kita perlu hidup seturut makna dan realitas penyunatan Kristus.
Kisah Para Rasul 11:2
Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia
Galatia 6:15
Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.
Ayat Bacaan: Kej. 17:9-14; Kis. 15:1; Gal. 2:3-4; 6:12-13; Flp. 3:2; Rm. 6:3-4; 8:13; Gal. 5:24
Sunat adalah ketetapan lahiriah yang diwarisi orang Yahudi dari nenek moyang mereka, Abraham (Kej. 17:9-14). Sunat membuat mereka berbeda dan terpisah dari orang-orang yang tidak percaya. Ini menjadi satu formalitas tradisional yang mati, sekadar tanda pada daging tanpa arti rohaniah apa pun, dan ini justru menjadi penghalang besar bagi perluasan Injil Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru-Nya (Kis. 15:1; Gal. 2:3-4; 6:12-13; Flp. 3:2). Yudaisme didirikan di atas hukum Taurat pemberian Allah dengan tiga tiangnya: sunat, hari Sabat, dan peraturan tentang makanan yang kudus. Ketiga hal itu ditetapkan oleh Allah (Kej. 17:9-14; Kel. 20:8-11; Im. 11) sebagai bayangan dari apa yang harus datang (Kol. 2:16-17). Sunat adalah bayangan penyaliban Kristus atas penanggalan tubuh dosa, seperti yang dilambangkan dengan baptisan (Kol. 2:11-12).
Hari Sabat adalah lambang Kristus sebagai perhentian untuk umat-Nya (Mat. 11:28-30). Peraturan tentang makanan yang kudus melambangkan orang-orang yang tahir dan tidak tahir, yang boleh dikontak atau yang tidak boleh dikontak oleh orang-orang kudus Allah (Kis.10:11-16, 34-35). Begitu Kristus datang, semua bayangan itu harus berakhir. Karena itu, memelihara hari Sabat ditiadakan oleh Tuhan Yesus dalam ministri-Nya (Mat. 12:1-12); peraturan tentang makanan yang kudus dihapus oleh Roh dalam ministri Petrus (Kis.10:9-20), dan sunat tidak terhitung dalam wahyu yang diterima Paulus dalam ministrinya (Gal.5:6; 6:15). Lagi pula, hukum Taurat, dasar Yudaisme, telah diakhiri dan diganti oleh Kristus (Rm.10:4; Gal.2:16). Dalam Perjanjian Baru sunat berarti terus menerus menerapkan kematian Tuhan pada daging kita. Roma 6:3-4 mengatakan bahwa kita sudah dibaptis ke dalam kematian Kristus dan dikuburkan bersama Dia, tetapi Roma 8:13 dan Galatia 5:24 memberi tahu kita bahwa kita harus menerapkan sunat salib pada daging kita melalui Roh itu. Faktanya, daging kita telah siap disalibkan, tetapi secara praktis kita perlu menyalibkan daging setiap hari. Inilah realitas dan pelaksanaan tinggal dalam kematian dan penguburan Kristus, dan inilah makna penyunatan. Kita perlu hidup seturut makna dan realitas penyunatan Kristus.
06 March 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 4 Minggu
Bangsa Lain Menerima Firman Allah
Kisah Para Rasul 11:1
Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah
Ayat Bacaan: Kis. 11:1; 1 Tes. 2:13; Ibr. 4:12; Mzm. 119:130
Dalam 1 Tesalonika 2:13 Paulus berkata, “Karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi—dan memang sungguh-sungguh demikian—sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya.” Ayat ini menunjukkan bahwa firman yang diterima oleh kaum beriman disampaikan oleh para rasul, berasal dari Allah. Sumbernya, asal-usulnya, adalah Allah, bukan para rasul. Orang-orang Tesalonika menerima perkataan para rasul bukan sebagai perkataan manusia, melainkan sebagai firman Allah. Dalam ayat ini, Paulus mengatakan bahwa firman Allah beroperasi di dalam mereka yang percaya. Karena firman Allah itu hidup dan berkhasiat (Ibr. 4:12), maka firman itu bekerja (beroperasi) dalam kaum beriman. Begitu kita menerima dan memperoleh firman itu, firman itu akan beroperasi di dalam kita.
Mazmur 119:130, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.” Kata “tersingkap” di sini boleh diterjemahkan “masuk”. Begitu firman Allah masuk ke dalam kita, timbullah terang, sehingga di dalam kita jelas dan kita memiliki kepastian. Firman yang hidup baru berguna, dan bisa memisahkan roh dan jiwa kita. Boleh jadi kita membaca buku yang mengatakan, berbuat begini adalah rohani, berbuat begitu adalah jiwani, lalu kita melaksanakan berdasarkan anjuran buku itu, tetapi hasilnya tetap jiwani. Tetapi kalau firman Allah masuk ke dalam kita dan memberi terang, ia akan membedakan jiwa dan roh, sampai sendi-sendi dan sumsum pun akan terlihat semua. Kemudian tahulah kita di mana kesalahan kita, di mana kebenaran ktia, inilah pengenalan yang di dalam. Orang yang demikian tidak perlu bertanya-tanya lagi, karena di dalamnya ada terang dan di dalamnya dapat melihat. Firman Allah akan memberi terang di dalam kita se-hingga kita nampak jelas. Ini hidup dan berkhasiat. Ini bukan luaran, melainkan masalah di dalam. Bukan berdasarkan luaran membedakan roh dengan jiwa, melainkan di dalam nurani jelas. Maka kita baru dapat dengan riil mengenal Allah dan jelas mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh.
Kisah Para Rasul 11:1
Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah
Ayat Bacaan: Kis. 11:1; 1 Tes. 2:13; Ibr. 4:12; Mzm. 119:130
Dalam 1 Tesalonika 2:13 Paulus berkata, “Karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi—dan memang sungguh-sungguh demikian—sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya.” Ayat ini menunjukkan bahwa firman yang diterima oleh kaum beriman disampaikan oleh para rasul, berasal dari Allah. Sumbernya, asal-usulnya, adalah Allah, bukan para rasul. Orang-orang Tesalonika menerima perkataan para rasul bukan sebagai perkataan manusia, melainkan sebagai firman Allah. Dalam ayat ini, Paulus mengatakan bahwa firman Allah beroperasi di dalam mereka yang percaya. Karena firman Allah itu hidup dan berkhasiat (Ibr. 4:12), maka firman itu bekerja (beroperasi) dalam kaum beriman. Begitu kita menerima dan memperoleh firman itu, firman itu akan beroperasi di dalam kita.
Mazmur 119:130, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.” Kata “tersingkap” di sini boleh diterjemahkan “masuk”. Begitu firman Allah masuk ke dalam kita, timbullah terang, sehingga di dalam kita jelas dan kita memiliki kepastian. Firman yang hidup baru berguna, dan bisa memisahkan roh dan jiwa kita. Boleh jadi kita membaca buku yang mengatakan, berbuat begini adalah rohani, berbuat begitu adalah jiwani, lalu kita melaksanakan berdasarkan anjuran buku itu, tetapi hasilnya tetap jiwani. Tetapi kalau firman Allah masuk ke dalam kita dan memberi terang, ia akan membedakan jiwa dan roh, sampai sendi-sendi dan sumsum pun akan terlihat semua. Kemudian tahulah kita di mana kesalahan kita, di mana kebenaran ktia, inilah pengenalan yang di dalam. Orang yang demikian tidak perlu bertanya-tanya lagi, karena di dalamnya ada terang dan di dalamnya dapat melihat. Firman Allah akan memberi terang di dalam kita se-hingga kita nampak jelas. Ini hidup dan berkhasiat. Ini bukan luaran, melainkan masalah di dalam. Bukan berdasarkan luaran membedakan roh dengan jiwa, melainkan di dalam nurani jelas. Maka kita baru dapat dengan riil mengenal Allah dan jelas mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh.
05 March 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 3 Sabtu
Baptisan Air di Rumah Kornelius
Kisah Para Rasul 10:47-48
Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus
Ayat Bacaan: Kis. 10:44-48, 19:47-48; Rm. 6:3-5; Kol. 2:12; Gal. 3:27
Kornelius sekeluarga, meskipun telah dengan nyata menerima Roh Kudus (Kis. 10:44-45), tetapi Petrus masih menyuruh mereka untuk dibaptis (Kis. 19:47-48). Bukankah ini membuktikan pentingnya baptisan? Tidak seperti pendapat beberapa orang pada hari ini yang mengatakan, “Asal mendapatkan baptisan Roh Kudus, sudah cukup; tidak perlu menerima baptisan air.” Petrus berkata bahwa orang yang sudah menerima baptisan Roh Kudus, masih perlu dibaptis dengan air. Bahkan menyuruh mereka dibaptis, karena mereka sudah menerima baptisan Roh Kudus. Dalam pandangannya, menerima baptisan air sama pentingnya dengan menerima baptisan Roh; menerima baptisan air sama pentingnya dengan menerima Roh Kudus.
Perkataan Petrus dalam Kisah Para Rasul 10:47-48 menunjukkan bahwa kita harus memperhatikan baptisan air, yang melambangkan kesatuan kaum beriman dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 6:3-5; Kol. 2:12), sama seperti memperhatikan baptisan Roh. Baptisan Roh menghasilkan realitas dari kesatuan kaum beriman dengan Kristus dalam hayat di aspek esensial, dan dalam kuasa di aspek ekonomikal; baptisan air adalah pemastian kaum beriman atas realitas dari Roh itu. Keduanya diperlukan, dan tidak bisa saling menggantikan.
Baptisan menyatukan kita dengan Dia dalam kematian-Nya dan dalam kebangkitan-Nya. Baptisan air tidak seharusnya menjadi pelaksanaan upacara keagamaan. Melainkan harusya menandakan bahwa kita sedang meletakkan mereka yang dibaptis dalam Allah Tritunggal, dalam Kristus, serta dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Kornelius dan keluarganya dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Dibaptis dalam nama Yesus Kristus berarti dibaptis ke dalam ruang lingkup nama Yesus Kristus yang di dalamnya ada realitas baptisan itu. “Nama” dalam ayat 48 mengacu kepada persona. Dibaptis dalam nama Yesus Kristus berarti dibaptis ke dalam persona Kristus (Rm. 6:3; Gal. 3:27), yang juga berarti dibaptis ke dalam ruang lingkup persona-Nya. Kita patut bersyukur kepada Tuhan atas fakta yang digenapkan-Nya melalui baptisan.
Kisah Para Rasul 10:47-48
Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus
Ayat Bacaan: Kis. 10:44-48, 19:47-48; Rm. 6:3-5; Kol. 2:12; Gal. 3:27
Kornelius sekeluarga, meskipun telah dengan nyata menerima Roh Kudus (Kis. 10:44-45), tetapi Petrus masih menyuruh mereka untuk dibaptis (Kis. 19:47-48). Bukankah ini membuktikan pentingnya baptisan? Tidak seperti pendapat beberapa orang pada hari ini yang mengatakan, “Asal mendapatkan baptisan Roh Kudus, sudah cukup; tidak perlu menerima baptisan air.” Petrus berkata bahwa orang yang sudah menerima baptisan Roh Kudus, masih perlu dibaptis dengan air. Bahkan menyuruh mereka dibaptis, karena mereka sudah menerima baptisan Roh Kudus. Dalam pandangannya, menerima baptisan air sama pentingnya dengan menerima baptisan Roh; menerima baptisan air sama pentingnya dengan menerima Roh Kudus.
Perkataan Petrus dalam Kisah Para Rasul 10:47-48 menunjukkan bahwa kita harus memperhatikan baptisan air, yang melambangkan kesatuan kaum beriman dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 6:3-5; Kol. 2:12), sama seperti memperhatikan baptisan Roh. Baptisan Roh menghasilkan realitas dari kesatuan kaum beriman dengan Kristus dalam hayat di aspek esensial, dan dalam kuasa di aspek ekonomikal; baptisan air adalah pemastian kaum beriman atas realitas dari Roh itu. Keduanya diperlukan, dan tidak bisa saling menggantikan.
Baptisan menyatukan kita dengan Dia dalam kematian-Nya dan dalam kebangkitan-Nya. Baptisan air tidak seharusnya menjadi pelaksanaan upacara keagamaan. Melainkan harusya menandakan bahwa kita sedang meletakkan mereka yang dibaptis dalam Allah Tritunggal, dalam Kristus, serta dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Kornelius dan keluarganya dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Dibaptis dalam nama Yesus Kristus berarti dibaptis ke dalam ruang lingkup nama Yesus Kristus yang di dalamnya ada realitas baptisan itu. “Nama” dalam ayat 48 mengacu kepada persona. Dibaptis dalam nama Yesus Kristus berarti dibaptis ke dalam persona Kristus (Rm. 6:3; Gal. 3:27), yang juga berarti dibaptis ke dalam ruang lingkup persona-Nya. Kita patut bersyukur kepada Tuhan atas fakta yang digenapkan-Nya melalui baptisan.
04 March 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 3 Jumat
Turunnya Roh Kudus
Kisah Para Rasul 10:44-45
...turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya...tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga
Ayat Bacaan: Kis. 10:44-48; Mat. 16:18, 28:19; Ef. 1:23, 19:6
Sewaktu Petrus sedang berbicara, Roh itu turun ke atas orang-orang yang ada di rumah Kornelius. Tidak diragukan lagi, Roh itu adalah Roh yang almuhit. Dalam kasus di rumah Kornelius, Roh Kudus di aspek esensial masuk ke dalam kaum beriman menjadi hayat dan di aspek ekonomikal turun ke atas mereka menjadi kekuatan. Kedua hal ini terjadi serentak saat mereka percaya kepada Tuhan.
Setelah Roh yang almuhit turun ke atas rumah Kornelius, ada beberapa hal yang terjadi. Pertama, karunia Roh Kudus (Kis. 10:45), di sini, karunia ini adalah Roh Kudus itu sendiri, bukan sesuatu dari Roh Kudus yang diberikan kepada kaum beriman sebagai karunia. Kedua, berkata-kata dalam bahasa lidah dan memuliakan Allah (Kis. 10:46). Berkata-kata dalam bahasa lidah bukan satu-satunya hasil dari menerima Roh Kudus di aspek ekonomikal, karena dalam kasus ini mengagungkan Allah, yaitu memuji Allah, juga merupakan salah satu hasilnya, seperti bertutur sabda dalam kasus kedua belas orang beriman di Efesus (19:6). Karena itu, berkata-kata dalam bahasa lidah bukan bukti satu-satunya dari menerima Roh Kudus di aspek ekonomikal; juga bukan bukti yang diharuskan. Menurut prinsip ekonomi Perjanjian Baru Allah, mereka semua telah menerima Roh Kudus menjadi hayat di aspek esensial dan menjadi kuasa di aspek ekonomikal dengan normal melalui mereka percaya ke dalam Kristus.
Pencurahan Roh itu adalah untuk melaksanakan ministri surgawi Tuhan di bumi guna membangun gereja-Nya (Mat. 16:18) sebagai Tubuh-Nya (Ef. 1:23) bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Keadaan pada hari ini sangat disayangkan karena sebagian besar orang puas hanya dengan memiliki hayat kekal dan tidak binasa. Mereka benar-benar tidak mempedulikan pekerjaan dan rencana Allah. Karena perkara ini, maka sedikit yang mendapatkan pemenuhan Roh Kudus yang di luar dan hal ini menyebabkan pengalaman ini menjadi misterius dan aneh. Kenyataannya, aspek yang di luar dari Roh Kudus tidak berarti lebih berharga atau lebih sulit untuk diperoleh daripada Roh Kudus yang di dalam, satu-satunya syarat adalah apakah kita mau dipakai oleh Allah atau tidak.
Kisah Para Rasul 10:44-45
...turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya...tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga
Ayat Bacaan: Kis. 10:44-48; Mat. 16:18, 28:19; Ef. 1:23, 19:6
Sewaktu Petrus sedang berbicara, Roh itu turun ke atas orang-orang yang ada di rumah Kornelius. Tidak diragukan lagi, Roh itu adalah Roh yang almuhit. Dalam kasus di rumah Kornelius, Roh Kudus di aspek esensial masuk ke dalam kaum beriman menjadi hayat dan di aspek ekonomikal turun ke atas mereka menjadi kekuatan. Kedua hal ini terjadi serentak saat mereka percaya kepada Tuhan.
Setelah Roh yang almuhit turun ke atas rumah Kornelius, ada beberapa hal yang terjadi. Pertama, karunia Roh Kudus (Kis. 10:45), di sini, karunia ini adalah Roh Kudus itu sendiri, bukan sesuatu dari Roh Kudus yang diberikan kepada kaum beriman sebagai karunia. Kedua, berkata-kata dalam bahasa lidah dan memuliakan Allah (Kis. 10:46). Berkata-kata dalam bahasa lidah bukan satu-satunya hasil dari menerima Roh Kudus di aspek ekonomikal, karena dalam kasus ini mengagungkan Allah, yaitu memuji Allah, juga merupakan salah satu hasilnya, seperti bertutur sabda dalam kasus kedua belas orang beriman di Efesus (19:6). Karena itu, berkata-kata dalam bahasa lidah bukan bukti satu-satunya dari menerima Roh Kudus di aspek ekonomikal; juga bukan bukti yang diharuskan. Menurut prinsip ekonomi Perjanjian Baru Allah, mereka semua telah menerima Roh Kudus menjadi hayat di aspek esensial dan menjadi kuasa di aspek ekonomikal dengan normal melalui mereka percaya ke dalam Kristus.
Pencurahan Roh itu adalah untuk melaksanakan ministri surgawi Tuhan di bumi guna membangun gereja-Nya (Mat. 16:18) sebagai Tubuh-Nya (Ef. 1:23) bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Keadaan pada hari ini sangat disayangkan karena sebagian besar orang puas hanya dengan memiliki hayat kekal dan tidak binasa. Mereka benar-benar tidak mempedulikan pekerjaan dan rencana Allah. Karena perkara ini, maka sedikit yang mendapatkan pemenuhan Roh Kudus yang di luar dan hal ini menyebabkan pengalaman ini menjadi misterius dan aneh. Kenyataannya, aspek yang di luar dari Roh Kudus tidak berarti lebih berharga atau lebih sulit untuk diperoleh daripada Roh Kudus yang di dalam, satu-satunya syarat adalah apakah kita mau dipakai oleh Allah atau tidak.
03 March 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 3 Kamis
Tuhan dari Semua Orang
Kisah Para Rasul 10:36
Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang
Ayat Bacaan: Kis. 10:1-48, 8:1-4, 11:19; 1 Tim. 2:3-4; Rm. 3:20; Gal. 2:16
Pemberitaan Petrus kepada Kornelius dalam Kisah Para Rasul 10:34-36 memberi tahu kita beberapa hal; pertama adalah bahwa Allah tidak membedakan orang, kedua adalah bahwa di setiap bangsa, orang-orang yang takut kepada Allah dan mengamalkan kebenaran, berkenan kepada-Nya tetapi bagaimanapun juga mereka tetap merupakan bagian dari umat manusia yang jatuh. Allah menerima mereka karena penebusan Kristus. Di luar Kristus, tidak ada satu pun manusia jatuh yang bisa dibenarkan berdasarkan perbuatannya (Rm. 3:20; Gal. 2:16), ketiga adalah mengumumkan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dari semua orang. “Semua orang” mengacu kepada manusia (1 Tim. 2:4), tidak hanya orang Yahudi tetapi juga orang bukan Yahudi. Perkataan Petrus di sini menunjukkan bahwa ia sekarang menyadari bahwa Allah telah membuat Kristus menjadi Tuhan bagi orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi. Dia tidak membedakan orang.
Orang Yahudi adalah keturunan Abraham, kaum pilihan Allah dan satu-satunya kerajaan yang didirikan Allah di bumi ini adalah umat istimewa. Tetapi, mereka tidak karenanya merendahkan diri dan memuji Allah, malah sebaliknya mengira boleh bersikap bangga dan sombong di antara manusia. Ketika kita membaca Kisah Para Rasul, kita akan nampak bahwa pada hari Pentakosta, Injil terlebih dulu diberitakan di antara orang-orang Yahudi, kemudian tersebar ke Samaria, di situ pun hanya orang-orang Yahudi yang diselamatkan (Kis. 8:1-4, 11:19). Untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi, Tuhan harus memulai dari Kaisarea oleh Petrus dengan membuatnya harus melihat visi sampai tiga kali dan mendengar Tuhan bersabda tiga kali (Kis. 10:13, 15-16). Jika tidak, Petrus tidak berani pergi ke tengah-tengah orang bukan Yahudi. Di sini kita melihat bagaimana sulitnya bagi orang Yahudi untuk memberitakan injil kepada orang bukan Yahudi. Ingatlah bahwa kesatuan kita adalah berdasarkan hayat, bukan berdasarkan suatu bangsa atau negara. Semoga Allah merahmati kita, agar kita semua nampak, bahwa batas-batas kebangsaan itu sudah terhapus, perbedaan itu telah lenyap dan semuanya telah menjadi saudara saudari di dalam Tuhan.
Kisah Para Rasul 10:36
Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang
Ayat Bacaan: Kis. 10:1-48, 8:1-4, 11:19; 1 Tim. 2:3-4; Rm. 3:20; Gal. 2:16
Pemberitaan Petrus kepada Kornelius dalam Kisah Para Rasul 10:34-36 memberi tahu kita beberapa hal; pertama adalah bahwa Allah tidak membedakan orang, kedua adalah bahwa di setiap bangsa, orang-orang yang takut kepada Allah dan mengamalkan kebenaran, berkenan kepada-Nya tetapi bagaimanapun juga mereka tetap merupakan bagian dari umat manusia yang jatuh. Allah menerima mereka karena penebusan Kristus. Di luar Kristus, tidak ada satu pun manusia jatuh yang bisa dibenarkan berdasarkan perbuatannya (Rm. 3:20; Gal. 2:16), ketiga adalah mengumumkan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dari semua orang. “Semua orang” mengacu kepada manusia (1 Tim. 2:4), tidak hanya orang Yahudi tetapi juga orang bukan Yahudi. Perkataan Petrus di sini menunjukkan bahwa ia sekarang menyadari bahwa Allah telah membuat Kristus menjadi Tuhan bagi orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi. Dia tidak membedakan orang.
Orang Yahudi adalah keturunan Abraham, kaum pilihan Allah dan satu-satunya kerajaan yang didirikan Allah di bumi ini adalah umat istimewa. Tetapi, mereka tidak karenanya merendahkan diri dan memuji Allah, malah sebaliknya mengira boleh bersikap bangga dan sombong di antara manusia. Ketika kita membaca Kisah Para Rasul, kita akan nampak bahwa pada hari Pentakosta, Injil terlebih dulu diberitakan di antara orang-orang Yahudi, kemudian tersebar ke Samaria, di situ pun hanya orang-orang Yahudi yang diselamatkan (Kis. 8:1-4, 11:19). Untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi, Tuhan harus memulai dari Kaisarea oleh Petrus dengan membuatnya harus melihat visi sampai tiga kali dan mendengar Tuhan bersabda tiga kali (Kis. 10:13, 15-16). Jika tidak, Petrus tidak berani pergi ke tengah-tengah orang bukan Yahudi. Di sini kita melihat bagaimana sulitnya bagi orang Yahudi untuk memberitakan injil kepada orang bukan Yahudi. Ingatlah bahwa kesatuan kita adalah berdasarkan hayat, bukan berdasarkan suatu bangsa atau negara. Semoga Allah merahmati kita, agar kita semua nampak, bahwa batas-batas kebangsaan itu sudah terhapus, perbedaan itu telah lenyap dan semuanya telah menjadi saudara saudari di dalam Tuhan.
02 March 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 3 Rabu
Roh itu Berbicara Kepada Petrus
Kisah Para Rasul 10:19-20
...berkatalah Roh: “Ada tiga orang mencari engkau. Bangunlah, turunlah ke bawah dan berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka ke mari.”
Ayat Bacaan: Kis. 10:17-33, 8:29, 11:12; Why. 2:7-29, 3:1, 7, 14, 1:43
Melalui Kisah Para Rasul 10:19-20 kita dapat melihat bahwa pe-ngutusan tiga orang oleh Kornelius (Ay. 7-8) sebelum ia bertobat adalah pergerakan dan tindakan Roh itu melalui dia. Dalam 8:29 Roh itu berbicara kepada Filipus, dan di sini dalam 10:19, Roh itu berbicara kepada Petrus. Baik dalam perkara pejabat istana Etiopia maupun perkara Kornelius dan rumah tangganya, pertama-tama seorang malaikat berbicara dan kemudian Roh itu berbicara. Dalam kasus yang strategis ini, Petrus tidak bertindak sendirian, tetapi berdasarkan prinsip Tubuh Kristus, bergerak bersama beberapa saudara supaya mereka dapat bersaksi bagaimana Allah memperlakukan orang bukan Yahudi, yaitu melalui Petrus memecahkan tradisi dan kebiasaan Yahudi memberitakan Injil kepada orang bukan Yahudi (Kis. 10:23; 11:12). Wahyu 2:7a mengatakan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”
Dalam ketujuh surat yang tercatat pada Wahyu 2 dan 3, setiap surat diawali oleh pembicaraan Tuhan (Why. 2:1, 8, 12, 18; 3:1, 7, 14), tetapi pada akhir setiap surat, Roh itulah yang berbicara kepada gereja-gereja (Why. 2:7, 11, 17, 29; 3:6, 13, 22). Ini membuktikan bahwa Kristus adalah Roh yang berbicara. Roh itu sangatlah penting, Roh ini telah diperkuat tujuh kali (Why. 1:4). Sungguh bodoh mengatakan bahwa hari ini Kristus bukanlah Roh yang berbicara, dan kita tidak bisa memisahkan Roh yang berbicara dari Kristus. Jika yang berbicara hanya Kristus dan bukan Roh itu, Dia tidak mungkin menyampaikan kata-kata ke dalam roh kita, dan perkataan-Nya pun tidak subyektif dan menyentuh hati. Tetapi, pengalaman kita menunjukkan, ketika kita membuka roh kita kepada-Nya saat membaca Alkitab, Roh itu segera mengatakan sesuatu yang berasal dari Kristus ke dalam kita. Karena yang berbicara bukan Kristus yang obyektif, melainkan Roh yang subyektif; Dia berkata bukan hanya dalam huruf-huruf hitam atas putih dalam Alkitab, tetapi juga di dalam roh kita. Begitu kita mendengar perkataan-Nya, sesuatu yang tidak tersingkirkan tergarap ke dalam kita. Hari ini Kristus kita adalah Roh yang berbicara. Haleluya, kita perlu gembira akan kenyataan ini, perlu dengan berani mendeklarasikannya.
Kisah Para Rasul 10:19-20
...berkatalah Roh: “Ada tiga orang mencari engkau. Bangunlah, turunlah ke bawah dan berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka ke mari.”
Ayat Bacaan: Kis. 10:17-33, 8:29, 11:12; Why. 2:7-29, 3:1, 7, 14, 1:43
Melalui Kisah Para Rasul 10:19-20 kita dapat melihat bahwa pe-ngutusan tiga orang oleh Kornelius (Ay. 7-8) sebelum ia bertobat adalah pergerakan dan tindakan Roh itu melalui dia. Dalam 8:29 Roh itu berbicara kepada Filipus, dan di sini dalam 10:19, Roh itu berbicara kepada Petrus. Baik dalam perkara pejabat istana Etiopia maupun perkara Kornelius dan rumah tangganya, pertama-tama seorang malaikat berbicara dan kemudian Roh itu berbicara. Dalam kasus yang strategis ini, Petrus tidak bertindak sendirian, tetapi berdasarkan prinsip Tubuh Kristus, bergerak bersama beberapa saudara supaya mereka dapat bersaksi bagaimana Allah memperlakukan orang bukan Yahudi, yaitu melalui Petrus memecahkan tradisi dan kebiasaan Yahudi memberitakan Injil kepada orang bukan Yahudi (Kis. 10:23; 11:12). Wahyu 2:7a mengatakan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”
Dalam ketujuh surat yang tercatat pada Wahyu 2 dan 3, setiap surat diawali oleh pembicaraan Tuhan (Why. 2:1, 8, 12, 18; 3:1, 7, 14), tetapi pada akhir setiap surat, Roh itulah yang berbicara kepada gereja-gereja (Why. 2:7, 11, 17, 29; 3:6, 13, 22). Ini membuktikan bahwa Kristus adalah Roh yang berbicara. Roh itu sangatlah penting, Roh ini telah diperkuat tujuh kali (Why. 1:4). Sungguh bodoh mengatakan bahwa hari ini Kristus bukanlah Roh yang berbicara, dan kita tidak bisa memisahkan Roh yang berbicara dari Kristus. Jika yang berbicara hanya Kristus dan bukan Roh itu, Dia tidak mungkin menyampaikan kata-kata ke dalam roh kita, dan perkataan-Nya pun tidak subyektif dan menyentuh hati. Tetapi, pengalaman kita menunjukkan, ketika kita membuka roh kita kepada-Nya saat membaca Alkitab, Roh itu segera mengatakan sesuatu yang berasal dari Kristus ke dalam kita. Karena yang berbicara bukan Kristus yang obyektif, melainkan Roh yang subyektif; Dia berkata bukan hanya dalam huruf-huruf hitam atas putih dalam Alkitab, tetapi juga di dalam roh kita. Begitu kita mendengar perkataan-Nya, sesuatu yang tidak tersingkirkan tergarap ke dalam kita. Hari ini Kristus kita adalah Roh yang berbicara. Haleluya, kita perlu gembira akan kenyataan ini, perlu dengan berani mendeklarasikannya.
01 March 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 3 Selasa
Penglihatan Petrus tentang Kain Lebar
Kisah Para Rasul 10:11-12
...langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung
Ayat Bacaan: Ibr. 8:1; Kis. 7:56, 1:8; Luk. 13:29; Mrk. 16:20; Luk. 19:12; Dan. 7:13-14; Why. 6:1-8
Langit yang terbuka dalam Kisah Para Rasul 10:11 menunjukkan bahwa pergerakan Injil Tuhan di bumi berada di bawah pengendalian takhta administrasi-Nya di surga (lihat Ibr. 8:1; Kis. 7:56). Semua rasul dan penginjil dari zaman dahulu sampai sekarang masih melaksanakan amanat surgawi di bumi, menyebarkan Injil Kerajaan Allah. Sedangkan kain lebar yang turun dari langit dalam ayat 11 melambangkan penyebaran Injil ke empat penjuru bumi untuk mengumpulkan berbagai macam orang yang najis (berdosa) (Luk.13:29). Dan binatang berkaki empat, binatang melata, dan burung-burung yang disebutkan dalam ayat 12 melambangkan berbagai macam manusia.
Markus 16:20 memberi tahu kita, bahwa murid-murid Tuhan pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. Pemberitaan Injil Allah kepada semua ciptaan oleh Kristus yang bangkit dan terangkat, melalui kaum beriman-Nya dilakukan secara berkesinambungan, dimulai dari Yerusalem, sampai mencapai ujung bumi (Kis. 1:8). Hal ini akan berlanjut sampai Tuhan Yesus datang untuk mendirikan Kerajaan Allah di atas muka bumi (Luk. 19:12; Dan. 7:13-14). Untuk memberitakan Injil kepada semua ciptaan, kita perlu lupa akan diri kita dalam Tuhan. Jika kita tidak pernah berapi-api dalam memberitakan Injil kepada segala jenis orang, ini berarti bahwa kita tidak pernah tinggal dalam Tuhan Yesus. Oh, marilah kita memberitahukan kepada setiap orang tentang Tuhan Yesus yang begitu ajaib! Marilah kita memberi tahu semua orang tentang kematian Tuhan yang almuhit dan kebangkitan-Nya yang begitu menakjubkan! Marilah kita tidak berdiam diri; marilah kita memberitakan Injil, menyajikan kebenaran, dan meministrikan hayat.
Segala hal—situasi dunia, hubungan internasional, ekonomi, industri, pendidikan, dan bahkan perang—adalah bagi penyebaran injil. Menurut Wahyu 6, yang pertama dari keempat kuda adalah kuda putih, lambang dalam pemberitaan Injil. Ini berarti bahwa kuda putih mengambil pimpinan, dan kuda yang lainnya mengikuti. Pemberitaan Injil harus mengambil pimpinan. Marilah kita pergi untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk!
Kisah Para Rasul 10:11-12
...langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung
Ayat Bacaan: Ibr. 8:1; Kis. 7:56, 1:8; Luk. 13:29; Mrk. 16:20; Luk. 19:12; Dan. 7:13-14; Why. 6:1-8
Langit yang terbuka dalam Kisah Para Rasul 10:11 menunjukkan bahwa pergerakan Injil Tuhan di bumi berada di bawah pengendalian takhta administrasi-Nya di surga (lihat Ibr. 8:1; Kis. 7:56). Semua rasul dan penginjil dari zaman dahulu sampai sekarang masih melaksanakan amanat surgawi di bumi, menyebarkan Injil Kerajaan Allah. Sedangkan kain lebar yang turun dari langit dalam ayat 11 melambangkan penyebaran Injil ke empat penjuru bumi untuk mengumpulkan berbagai macam orang yang najis (berdosa) (Luk.13:29). Dan binatang berkaki empat, binatang melata, dan burung-burung yang disebutkan dalam ayat 12 melambangkan berbagai macam manusia.
Markus 16:20 memberi tahu kita, bahwa murid-murid Tuhan pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. Pemberitaan Injil Allah kepada semua ciptaan oleh Kristus yang bangkit dan terangkat, melalui kaum beriman-Nya dilakukan secara berkesinambungan, dimulai dari Yerusalem, sampai mencapai ujung bumi (Kis. 1:8). Hal ini akan berlanjut sampai Tuhan Yesus datang untuk mendirikan Kerajaan Allah di atas muka bumi (Luk. 19:12; Dan. 7:13-14). Untuk memberitakan Injil kepada semua ciptaan, kita perlu lupa akan diri kita dalam Tuhan. Jika kita tidak pernah berapi-api dalam memberitakan Injil kepada segala jenis orang, ini berarti bahwa kita tidak pernah tinggal dalam Tuhan Yesus. Oh, marilah kita memberitahukan kepada setiap orang tentang Tuhan Yesus yang begitu ajaib! Marilah kita memberi tahu semua orang tentang kematian Tuhan yang almuhit dan kebangkitan-Nya yang begitu menakjubkan! Marilah kita tidak berdiam diri; marilah kita memberitakan Injil, menyajikan kebenaran, dan meministrikan hayat.
Segala hal—situasi dunia, hubungan internasional, ekonomi, industri, pendidikan, dan bahkan perang—adalah bagi penyebaran injil. Menurut Wahyu 6, yang pertama dari keempat kuda adalah kuda putih, lambang dalam pemberitaan Injil. Ini berarti bahwa kuda putih mengambil pimpinan, dan kuda yang lainnya mengikuti. Pemberitaan Injil harus mengambil pimpinan. Marilah kita pergi untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk!
28 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 3 Senin
Penglihatan Akan Seorang Malaikat
Kisah Para Rasul 10:3-4
Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: “Kornelius!” Semua doamu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau
Ayat Bacaan: Kis. 8:26, 10:3, 14-15, 5:42; Rm. 10:14-15; Luk. 5:27-29; Kel. 20:6
Menurut Kisah Para Rasul 10:3, seorang malaikat Allah menampakkan diri kepada Kornelius dan berbicara kepadanya. Seorang malaikat juga dipakai Allah dalam perkara pejabat istana Etiopia (Kis. 8:26). Pemberitaan Injil baik kepada pejabat istana Etiopia dan kepada seisi rumah Kornelius adalah pemberitaan Injil kepada keluarga orang bukan Yahudi, dan uniknya dalam dua peristiwa tersebut malaikat Allah tidak secara langsung memberitakan injil kepada mereka. Kepada malaikat Allah tidak diamanatkan untuk memberitakan Injil. Alasan untuk hal ini adalah bahwa hanya orang yang telah percaya Tuhan Yesus yang memiliki hak istimewa untuk membawa kabar baik kepada orang lain.
Dalam Roma 10:14-15 kita tahu supaya orang berseru kepada Tuhan, mereka perlu percaya kepada-Nya. Supaya orang percaya kepada-Nya perlu mendengar tentang Dia, dan untuk mendengar tentang Dia perlu ada yang memberitakan kabar baik. Kalau menghendaki Injil diberitakan, perlu ada orang yang diutus Allah. Setelah kita percaya Tuhan dan berseru kepada-Nya, kita pun perlu memberitakan-Nya. Kisah Para Rasul juga memperlihatkan kepada kita, pada masa Petrus, para murid “dari rumah ke rumah” memberitakan Yesus Kristus sebagai Injil (Kis. 5:42). Rumah kita bisa menjadi jalan keluar Injil. Kalau rumah Anda tidak dipakai oleh Tuhan, Anda hanya sendirian memberitakan Injil, berarti ada pintu namun tidak ada jalan. Kita tidak sekedar perlu memberitakan Injil, juga harus membuka rumah. Satu contoh yang baik juga ada dalam Lukas 5:27-29. Begitu rumah dibuka, Injil pun ada jalan keluarnya; tidak ada rumah, Injil tidak ada jalan.
Jika kita mau membuka rumah kita untuk Injil, pasti tidak akan rugi, malahan akan beroleh berkat. Tuhan sendiri berkata, “Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku” (Kel. 20:6). Kita semua perlu membuka rumah, mempersilahkan Injil Tuhan ada jalan keluar. Dengan demikian, berkat tidak hanya ke atas diri kita, juga akan sampai kepada generasi lewat generasi. Kita perlu berdoa kepada Tuhan, “Jadikan aku saluran berkat, untuk menarik jiwa kepada Tuhan.”
Kisah Para Rasul 10:3-4
Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: “Kornelius!” Semua doamu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau
Ayat Bacaan: Kis. 8:26, 10:3, 14-15, 5:42; Rm. 10:14-15; Luk. 5:27-29; Kel. 20:6
Menurut Kisah Para Rasul 10:3, seorang malaikat Allah menampakkan diri kepada Kornelius dan berbicara kepadanya. Seorang malaikat juga dipakai Allah dalam perkara pejabat istana Etiopia (Kis. 8:26). Pemberitaan Injil baik kepada pejabat istana Etiopia dan kepada seisi rumah Kornelius adalah pemberitaan Injil kepada keluarga orang bukan Yahudi, dan uniknya dalam dua peristiwa tersebut malaikat Allah tidak secara langsung memberitakan injil kepada mereka. Kepada malaikat Allah tidak diamanatkan untuk memberitakan Injil. Alasan untuk hal ini adalah bahwa hanya orang yang telah percaya Tuhan Yesus yang memiliki hak istimewa untuk membawa kabar baik kepada orang lain.
Dalam Roma 10:14-15 kita tahu supaya orang berseru kepada Tuhan, mereka perlu percaya kepada-Nya. Supaya orang percaya kepada-Nya perlu mendengar tentang Dia, dan untuk mendengar tentang Dia perlu ada yang memberitakan kabar baik. Kalau menghendaki Injil diberitakan, perlu ada orang yang diutus Allah. Setelah kita percaya Tuhan dan berseru kepada-Nya, kita pun perlu memberitakan-Nya. Kisah Para Rasul juga memperlihatkan kepada kita, pada masa Petrus, para murid “dari rumah ke rumah” memberitakan Yesus Kristus sebagai Injil (Kis. 5:42). Rumah kita bisa menjadi jalan keluar Injil. Kalau rumah Anda tidak dipakai oleh Tuhan, Anda hanya sendirian memberitakan Injil, berarti ada pintu namun tidak ada jalan. Kita tidak sekedar perlu memberitakan Injil, juga harus membuka rumah. Satu contoh yang baik juga ada dalam Lukas 5:27-29. Begitu rumah dibuka, Injil pun ada jalan keluarnya; tidak ada rumah, Injil tidak ada jalan.
Jika kita mau membuka rumah kita untuk Injil, pasti tidak akan rugi, malahan akan beroleh berkat. Tuhan sendiri berkata, “Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku” (Kel. 20:6). Kita semua perlu membuka rumah, mempersilahkan Injil Tuhan ada jalan keluar. Dengan demikian, berkat tidak hanya ke atas diri kita, juga akan sampai kepada generasi lewat generasi. Kita perlu berdoa kepada Tuhan, “Jadikan aku saluran berkat, untuk menarik jiwa kepada Tuhan.”
27 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 3 Minggu
Pentingnya Doa
Kisah Para Rasul 10:2-9
Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan...senantiasa berdoa kepada Allah. Ketika ketiga orang itu...sudah dekat kota Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa
Ayat Bacaan: Kis. 10:1-16; Ef. 6:18
Dalam Kisah Para Rasul pasal 10 ada satu penekanan yang kuat tentang pentingnya doa. Dalam pasal ini kita dapat melihat bahwa doa dari Kornelius dan Petrus menjadi sarana bagi Tuhan untuk masuk, membuka pintu bagi bangsa orang bukan Yahudi. Sewaktu Kornelius, seorang yang saleh, sedang berdoa, suatu penglihatan (visi) datang kepadanya. Demikian juga, sewaktu Petrus sedang berdoa, penglihatan yang tercatat dalam pasal ini datang kepadanya. Melalui doa mereka, rencana dan pergerakan Allah terlaksana.
Doa adalah sejenis pelayanan yang harus ditaruh pada kedudukan yang pertama. Iblis selalu melancarkan siasatnya untuk menaruh hal-hal lain yang berhubungan dengan Tuhan di atas doa dan menempatkan doa pada urutan terakhir. Kita perlu mohon Tuhan membuka mata kita agar melihat pentingnya doa dan nilai doa. Doa manusia diperlukan sebagai sarana bekerja sama dengan pergerakan Allah. Dari hal ini kita melihat bahwa kita semua perlu belajar memiliki satu kehidupan doa, karena kehidupan doa selalu mempersiapkan jalan bagi pergerakan Tuhan dan membuka pintu bagi-Nya untuk menyebar. Kita harus belajar bahwa Tuhan hanya dapat memakai orang-orang yang memiliki satu kehidupan doa, satu kehidupan yang berkontak dengan Dia dalam doa.
Kita tidak diberi tahu untuk apakah Kornelius dan Petrus berdoa. Tetapi, catatan ini benar-benar menunjukkan bahwa mereka menyisihkan waktu tertentu untuk berdoa, bahwa mereka berdoa menurut suatu jadwal. Kornelius berdoa pada jam yang kesembilan, jam tiga petang, dan Petrus berdoa pada jam yang keenam, jam dua belas siang (Kis.10:3, 9). Kita dapat melihat bahwa mereka memiliki satu kehidupan doa dan bahkan berdoa pada waktu-waktu yang telah dijadwalkan. Kehendak Allah adalah seperti sungai besar, dan doa kita adalah seperti suatu saluran. Kalau doa kita cukup besar, penggenapan doa kita juga cukup besar; kalau doa kita terbatas, penggenapannya juga akan terbatas. Semoga kita memiliki kehidupan doa yang tetap dan teratur, sehingga doa kita dapat membuka jalan bagi penyebaran pemulihan-Nya.
Kisah Para Rasul 10:2-9
Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan...senantiasa berdoa kepada Allah. Ketika ketiga orang itu...sudah dekat kota Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa
Ayat Bacaan: Kis. 10:1-16; Ef. 6:18
Dalam Kisah Para Rasul pasal 10 ada satu penekanan yang kuat tentang pentingnya doa. Dalam pasal ini kita dapat melihat bahwa doa dari Kornelius dan Petrus menjadi sarana bagi Tuhan untuk masuk, membuka pintu bagi bangsa orang bukan Yahudi. Sewaktu Kornelius, seorang yang saleh, sedang berdoa, suatu penglihatan (visi) datang kepadanya. Demikian juga, sewaktu Petrus sedang berdoa, penglihatan yang tercatat dalam pasal ini datang kepadanya. Melalui doa mereka, rencana dan pergerakan Allah terlaksana.
Doa adalah sejenis pelayanan yang harus ditaruh pada kedudukan yang pertama. Iblis selalu melancarkan siasatnya untuk menaruh hal-hal lain yang berhubungan dengan Tuhan di atas doa dan menempatkan doa pada urutan terakhir. Kita perlu mohon Tuhan membuka mata kita agar melihat pentingnya doa dan nilai doa. Doa manusia diperlukan sebagai sarana bekerja sama dengan pergerakan Allah. Dari hal ini kita melihat bahwa kita semua perlu belajar memiliki satu kehidupan doa, karena kehidupan doa selalu mempersiapkan jalan bagi pergerakan Tuhan dan membuka pintu bagi-Nya untuk menyebar. Kita harus belajar bahwa Tuhan hanya dapat memakai orang-orang yang memiliki satu kehidupan doa, satu kehidupan yang berkontak dengan Dia dalam doa.
Kita tidak diberi tahu untuk apakah Kornelius dan Petrus berdoa. Tetapi, catatan ini benar-benar menunjukkan bahwa mereka menyisihkan waktu tertentu untuk berdoa, bahwa mereka berdoa menurut suatu jadwal. Kornelius berdoa pada jam yang kesembilan, jam tiga petang, dan Petrus berdoa pada jam yang keenam, jam dua belas siang (Kis.10:3, 9). Kita dapat melihat bahwa mereka memiliki satu kehidupan doa dan bahkan berdoa pada waktu-waktu yang telah dijadwalkan. Kehendak Allah adalah seperti sungai besar, dan doa kita adalah seperti suatu saluran. Kalau doa kita cukup besar, penggenapan doa kita juga cukup besar; kalau doa kita terbatas, penggenapannya juga akan terbatas. Semoga kita memiliki kehidupan doa yang tetap dan teratur, sehingga doa kita dapat membuka jalan bagi penyebaran pemulihan-Nya.
26 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 2 Sabtu
Penyebaran Pelayanan Petrus
Kisah Para Rasul 9:34, 40
“Kata Petrus kepadanya: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau ...”Seketika itu juga bangunlah orang itu. Tetapi Petrus ... berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: “Tabita, bangkitlah!”...
Ayat Bacaan: Kis. 9:32-43
Beberapa pembaca kitab Kisah Para Rasul mungkin mengira bahwa menjelang waktu dalam pasal 9, Saulus dari Tarsus masuk ke dalam pengujian Tuhan dalam pasal 9, Petrus telah mundur dari panggung itu. Tetapi, dalam 9:32-43 kita melihat bahwa Petrus masih ada di dalam, dan ayat-ayat ini menggambarkan penyebaran ministri Petrus. Ministri Petrus bukanlah mengajarkan teologi atau filosofi tapi ministrinya adalah membicarakan gereja dan untuk membangun gereja. Kisah Para Rasul 2-9 merupakan satu bagian mengenai perkembangbiakan ministri Petrus. Dan di pasal 9-11, ministri Saulus dalam tahap permulaannya berbaur dengan ministri Petrus.
Dalam Kisah Para Rasul pasal 9 ini, kita melihat Petrus dalam ministrinya di luar Yerusalem, bahkan di luar Yudea adalah untuk membangun gereja. Ketika Petrus berada di Yope, ia tidak jauh dari Kaisarea, yang adalah pusat pemerintahan Romawi. Hal ini menunjukkan Petrus telah bergerak jauh dari Yerusalem, ibukota pusat Yahudi, ke kota Kaisarea, kota tempat salah satu gubernur Romawi tinggal. Karena Yope dekat dengan Kaisarea, kota itu menjadi satu batu loncatan bagi Petrus untuk membuka pintu kerajaan bagi bangsa bukan Yahudi. Karena itu, tinggalnya Petrus di Yope merupakan satu persiapan baginya untuk pergi ke rumah Kornelius, dan memakai kunci kedua yang diberikan kepadanya oleh Tuhan untuk membuka pintu itu, supaya bangsa bukan Yahudi dapat masuk ke dalam kerajaan. Seperti yang akan kita lihat, di Kaisarea Petrus membuka pintu bagi bangsa Romawi untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Saudara-saudari dalam pasal ini kita melihat kedaulatan Tuhan dalam mengembangbiakan diri-Nya sendiri dengan menyebar ke dalam umat pilihan-Nya. Melalui waktu, Tuhan mempersiapkan bejana pilihan-Nya. Bagaimana dengan kita hari ini? Apakah kita sudah menjadi bejana yang terbuka pada-Nya, berbagian dalam pengembangbiakan-Nya? Moga Tuhan terus membelaskasihani kita. Melalui doa dan mempersembahkan diri kembali pada Tuhan dengan seluruh apa adanya kita, kita terus diubah menjadi bejana belas kasihan-Nya untuk pembangunan Tubuh Kristus.
Kisah Para Rasul 9:34, 40
“Kata Petrus kepadanya: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau ...”Seketika itu juga bangunlah orang itu. Tetapi Petrus ... berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: “Tabita, bangkitlah!”...
Ayat Bacaan: Kis. 9:32-43
Beberapa pembaca kitab Kisah Para Rasul mungkin mengira bahwa menjelang waktu dalam pasal 9, Saulus dari Tarsus masuk ke dalam pengujian Tuhan dalam pasal 9, Petrus telah mundur dari panggung itu. Tetapi, dalam 9:32-43 kita melihat bahwa Petrus masih ada di dalam, dan ayat-ayat ini menggambarkan penyebaran ministri Petrus. Ministri Petrus bukanlah mengajarkan teologi atau filosofi tapi ministrinya adalah membicarakan gereja dan untuk membangun gereja. Kisah Para Rasul 2-9 merupakan satu bagian mengenai perkembangbiakan ministri Petrus. Dan di pasal 9-11, ministri Saulus dalam tahap permulaannya berbaur dengan ministri Petrus.
Dalam Kisah Para Rasul pasal 9 ini, kita melihat Petrus dalam ministrinya di luar Yerusalem, bahkan di luar Yudea adalah untuk membangun gereja. Ketika Petrus berada di Yope, ia tidak jauh dari Kaisarea, yang adalah pusat pemerintahan Romawi. Hal ini menunjukkan Petrus telah bergerak jauh dari Yerusalem, ibukota pusat Yahudi, ke kota Kaisarea, kota tempat salah satu gubernur Romawi tinggal. Karena Yope dekat dengan Kaisarea, kota itu menjadi satu batu loncatan bagi Petrus untuk membuka pintu kerajaan bagi bangsa bukan Yahudi. Karena itu, tinggalnya Petrus di Yope merupakan satu persiapan baginya untuk pergi ke rumah Kornelius, dan memakai kunci kedua yang diberikan kepadanya oleh Tuhan untuk membuka pintu itu, supaya bangsa bukan Yahudi dapat masuk ke dalam kerajaan. Seperti yang akan kita lihat, di Kaisarea Petrus membuka pintu bagi bangsa Romawi untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Saudara-saudari dalam pasal ini kita melihat kedaulatan Tuhan dalam mengembangbiakan diri-Nya sendiri dengan menyebar ke dalam umat pilihan-Nya. Melalui waktu, Tuhan mempersiapkan bejana pilihan-Nya. Bagaimana dengan kita hari ini? Apakah kita sudah menjadi bejana yang terbuka pada-Nya, berbagian dalam pengembangbiakan-Nya? Moga Tuhan terus membelaskasihani kita. Melalui doa dan mempersembahkan diri kembali pada Tuhan dengan seluruh apa adanya kita, kita terus diubah menjadi bejana belas kasihan-Nya untuk pembangunan Tubuh Kristus.
25 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 2 Jumat
Gereja Dibangun dan Jumlahnya Bertumbuh
Kisah Para Rasul 9:31
“Selama beberapa waktu...Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus”
Ayat Bacaan: Kis. 9:31; Ef. 1:22-23
Kisah Para Rasul 9:31 mengatakan, “Selama beberapa waktu jemaat (gereja) di seluruh Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.” Ayat ini membicarakan tentang Yudea, Galilea, dan Samaria, semuanya adalah propinsi di Kekaisaran Romawi. Karena pada waktu itu gereja hanya meluas ke propinsi Yudea, Galilea, dan Samaria, dan karena kata “seluruh” mencakup semua tempat di mana gereja berada, maka di sini digunakan istilah “gereja” dalam bentuk tunggal ini dalam arti universal. Tetapi pasti ada gereja-gereja dalam arti lokal di sejumlah kota dalam ketiga propinsi tersebut.
Dalam ayat 31, kita juga melihat gereja di seluruh Yudea, Samaria, dan Galilea berada dalam keadaan damai meskipun ada penganiayaan yang di luar. Dalam keadaan demikianlah, gereja itu dibangun. Mereka juga hidup dalam takut akan Tuhan dan hidup dalam penghiburan Roh Kudus. Orang-orang Yahudi memandang Yudea sebagai propinsi yang paling baik, Galilea sebagai satu daerah yang hina dan Samaria sebagai satu daerah yang penuh dengan percampuran. Tidak peduli betapa Galilea itu sangat diremehkan dan tidak peduli betapa Samaria ditolak oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem, gereja-gereja yang dibangun di daerah itu semuanya harus dianggap sebagai satu gereja. Secara lokal, ada gereja-gereja, tetapi secara universal, semua gereja ini adalah gereja. Di sini kita memiliki satu wahyu yang mendasar mengenai keesaan gereja secara universal.
Gereja universal adalah Tubuh Kristus yang unik. Dalam bahasa Yunani, gereja adalah ekklesia yang berarti kumpulan orang-orang yang telah dipanggil oleh Allah keluar dari dunia. Dengan demikian gereja terdiri dari semua orang beriman dalam Kristus (Ef. 1:22-23). Gereja berasal dari Tuhan, milik Tuhan, bukan milik perorangan atau pekerjaan seseorang. Saudara-saudari, darimana pun asal kota kita, meskipun ada perbedaan latar belakang, kebudayaan, pendidikan dan sebagainya tetapi di dalam Kristus kita semua adalah satu Tubuh Kristus yang unik.
Kisah Para Rasul 9:31
“Selama beberapa waktu...Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus”
Ayat Bacaan: Kis. 9:31; Ef. 1:22-23
Kisah Para Rasul 9:31 mengatakan, “Selama beberapa waktu jemaat (gereja) di seluruh Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.” Ayat ini membicarakan tentang Yudea, Galilea, dan Samaria, semuanya adalah propinsi di Kekaisaran Romawi. Karena pada waktu itu gereja hanya meluas ke propinsi Yudea, Galilea, dan Samaria, dan karena kata “seluruh” mencakup semua tempat di mana gereja berada, maka di sini digunakan istilah “gereja” dalam bentuk tunggal ini dalam arti universal. Tetapi pasti ada gereja-gereja dalam arti lokal di sejumlah kota dalam ketiga propinsi tersebut.
Dalam ayat 31, kita juga melihat gereja di seluruh Yudea, Samaria, dan Galilea berada dalam keadaan damai meskipun ada penganiayaan yang di luar. Dalam keadaan demikianlah, gereja itu dibangun. Mereka juga hidup dalam takut akan Tuhan dan hidup dalam penghiburan Roh Kudus. Orang-orang Yahudi memandang Yudea sebagai propinsi yang paling baik, Galilea sebagai satu daerah yang hina dan Samaria sebagai satu daerah yang penuh dengan percampuran. Tidak peduli betapa Galilea itu sangat diremehkan dan tidak peduli betapa Samaria ditolak oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem, gereja-gereja yang dibangun di daerah itu semuanya harus dianggap sebagai satu gereja. Secara lokal, ada gereja-gereja, tetapi secara universal, semua gereja ini adalah gereja. Di sini kita memiliki satu wahyu yang mendasar mengenai keesaan gereja secara universal.
Gereja universal adalah Tubuh Kristus yang unik. Dalam bahasa Yunani, gereja adalah ekklesia yang berarti kumpulan orang-orang yang telah dipanggil oleh Allah keluar dari dunia. Dengan demikian gereja terdiri dari semua orang beriman dalam Kristus (Ef. 1:22-23). Gereja berasal dari Tuhan, milik Tuhan, bukan milik perorangan atau pekerjaan seseorang. Saudara-saudari, darimana pun asal kota kita, meskipun ada perbedaan latar belakang, kebudayaan, pendidikan dan sebagainya tetapi di dalam Kristus kita semua adalah satu Tubuh Kristus yang unik.
24 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 2 Kamis
Saulus dan Murid-murid di Yerusalem
Kisah Para Rasul 9:28
Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan
Ayat Bacaan: Kis. 4:36, 9:20-29
Lukas memberikan catatan yang singkat dan sederhana mengenai pemberitaan Paulus yaitu persona dan pekerjaan Kristus. Kita melihat dua aspek ini dalam Kisah Para Rasul 9:20-22, dimana Paulus membicarakan tentang Anak Allah dan Kristus. Anak Allah menunjukkan Persona Tuhan, dan Kristus menunjukkan pekerjaan-Nya. Setelah Saulus berpaling kepada Tuhan, yang pertama ia saksikan di Damsyik adalah dua perkara ini.
Meskipun hal besar telah terjadi di Damsyik, namun Yerusalem belum mendengar berita mengenai hal itu. Karena alasan inilah, ketika Saulus berusaha untuk bergabung dengan murid-murid, mereka, “semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid” (Ay. 26). Mereka tidak dapat mempercayai bahwa penentang ini sekarang adalah seorang murid Tuhan Yesus. Tetapi dalam kedaulatan-Nya Tuhan menyediakan Barnabas, anak penghiburan (4:36). Barnabas menerima Saulus dan, “membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara kepadanya dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus” (9:27). Kemudian Saulus tetap tinggal bersama mereka, “di Yerusalem, dan dengan berani mengajar dalam nama Tuhan” (Ay. 28). Menurut 9:29, Saulus, “juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani.” Sewaktu Saulus berdebat dengan mereka, mereka sakit hati dan “berusaha membunuh dia” (Ay. 29).
Saudara saudari yang terkasih melalui kisah ini, kita melihat teladan yang ditinggalkan oleh Paulus kepada kita. Meskipun Paulus adalah orang yang baru berpaling kepada Tuhan, namun dengan keberanian, ia memberikan kesaksian tentang persona dan pekerjaan Kristus tanpa menghiraukan nyawanya. Sudahkah kita memiliki keberanian sedemikian? Setelah sekian lama kita beroleh selamat, berapa banyak kita dengan berani berdiri bagi kesaksian Tuhan? Semoga kita semakin terdorong, bukan perkara berapa lama kita beroleh selamat baru berani memberitakan injil namun berapa dalam kita melihat visi dan mau berdiri dengan berani bagi kesaksian Tuhan.
Kisah Para Rasul 9:28
Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan
Ayat Bacaan: Kis. 4:36, 9:20-29
Lukas memberikan catatan yang singkat dan sederhana mengenai pemberitaan Paulus yaitu persona dan pekerjaan Kristus. Kita melihat dua aspek ini dalam Kisah Para Rasul 9:20-22, dimana Paulus membicarakan tentang Anak Allah dan Kristus. Anak Allah menunjukkan Persona Tuhan, dan Kristus menunjukkan pekerjaan-Nya. Setelah Saulus berpaling kepada Tuhan, yang pertama ia saksikan di Damsyik adalah dua perkara ini.
Meskipun hal besar telah terjadi di Damsyik, namun Yerusalem belum mendengar berita mengenai hal itu. Karena alasan inilah, ketika Saulus berusaha untuk bergabung dengan murid-murid, mereka, “semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid” (Ay. 26). Mereka tidak dapat mempercayai bahwa penentang ini sekarang adalah seorang murid Tuhan Yesus. Tetapi dalam kedaulatan-Nya Tuhan menyediakan Barnabas, anak penghiburan (4:36). Barnabas menerima Saulus dan, “membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara kepadanya dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus” (9:27). Kemudian Saulus tetap tinggal bersama mereka, “di Yerusalem, dan dengan berani mengajar dalam nama Tuhan” (Ay. 28). Menurut 9:29, Saulus, “juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani.” Sewaktu Saulus berdebat dengan mereka, mereka sakit hati dan “berusaha membunuh dia” (Ay. 29).
Saudara saudari yang terkasih melalui kisah ini, kita melihat teladan yang ditinggalkan oleh Paulus kepada kita. Meskipun Paulus adalah orang yang baru berpaling kepada Tuhan, namun dengan keberanian, ia memberikan kesaksian tentang persona dan pekerjaan Kristus tanpa menghiraukan nyawanya. Sudahkah kita memiliki keberanian sedemikian? Setelah sekian lama kita beroleh selamat, berapa banyak kita dengan berani berdiri bagi kesaksian Tuhan? Semoga kita semakin terdorong, bukan perkara berapa lama kita beroleh selamat baru berani memberitakan injil namun berapa dalam kita melihat visi dan mau berdiri dengan berani bagi kesaksian Tuhan.
23 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 2 Rabu
Murid-murid Saulus
Kisah Para Rasul 9:25
Sungguh pun demikian pada suatu malam murid-muridnya mengambilnya dan menurunkannya dari atas tembok kota dalam sebuah keranjang
Ayat Bacaan: Yoh. 15:8, 16; 2 Tim. 3:16-17
Dalam 9:25 kita melihat sesuatu yang sangat mengejutkan mengenai Saulus—ia memiliki murid. Ayat ini dengan tepat dan dengan jelas menyebutkan “murid-muridnya”. Saulus yang dulu adalah seorang penganiaya Yesus, sekarang memiliki murid-murid yang mengikutinya. Melalui pemberitaannya banyak orang yang didapatkan bagi Tuhan. Saulus dari Tarsus belajar di “seminari” Tuhan dan “lulus” dalam waktu singkat menjadi seorang pemberita yang hebat. Kemudian, ia memberi tahu orang-orang bahwa Yesus ini adalah Putra Allah dan Kristus. Hasilnya, ia bahkan mendapatkan murid-murid.
Dalam Yohanes 15:8 Tuhan berkata, “Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Untuk banyak berbuah kita harus dimuridkan. Penyebab kita tidak berbuah ialah kita belum banyak dimuridkan oleh-Nya. Dimuridkan adalah berubah dari cara, posisi, dan karakter kita yang alamiah. Kita perlu menyalibkan manusia lama untuk membuang semua hal kita yang usang dan alamiah. Sebagai murid-murid Tuhan, kita perlu terus menerus belajar menginjil, karena menginjil membutuhkan ketrampilan kita.
Suatu hari hamba Tuhan Nee menginjil kepada seorang mahasiswa muda yang sangat pandai. Anak muda ini berkata, “Ayahku kini menderita di alam maut. Aku tidak ingin melihat ayahku menderita di sana, sedangkan aku diselamatkan. Saudara Nee menjawab menggunakan Lukas 16 tentang orang kaya yang menderita sengsara. Ia berkata, “Tidakkah kamu percaya bahwa ayahmu, meskipun menderita di alam maut, masih mengasihimu? Dia tidak ingin kamu pergi ke sana. Jika kamu pergi ke sana kamu tidak menaati ayahmu. Kamu tidak menghormatinya.” Perkataan singkat ini menyakinkan orang muda itu, dan ia berkata, “Aku menghormati ayahku. Demi keinginannya, aku percaya kepada Tuhan Yesus.” Contoh ini memperlihatkan bahwa pemberitaan injil kita tidak boleh menjadi usang, kita perlu terus diperlengkapi (2 Tim. 3:17). Dan masih banyak yang harus kita pelajari dalam pemberitaan Injil. Kita perlu dilatih Tuhan untuk mempunyai telinga dan lidah seorang murid (Yes. 50:4).
Kisah Para Rasul 9:25
Sungguh pun demikian pada suatu malam murid-muridnya mengambilnya dan menurunkannya dari atas tembok kota dalam sebuah keranjang
Ayat Bacaan: Yoh. 15:8, 16; 2 Tim. 3:16-17
Dalam 9:25 kita melihat sesuatu yang sangat mengejutkan mengenai Saulus—ia memiliki murid. Ayat ini dengan tepat dan dengan jelas menyebutkan “murid-muridnya”. Saulus yang dulu adalah seorang penganiaya Yesus, sekarang memiliki murid-murid yang mengikutinya. Melalui pemberitaannya banyak orang yang didapatkan bagi Tuhan. Saulus dari Tarsus belajar di “seminari” Tuhan dan “lulus” dalam waktu singkat menjadi seorang pemberita yang hebat. Kemudian, ia memberi tahu orang-orang bahwa Yesus ini adalah Putra Allah dan Kristus. Hasilnya, ia bahkan mendapatkan murid-murid.
Dalam Yohanes 15:8 Tuhan berkata, “Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Untuk banyak berbuah kita harus dimuridkan. Penyebab kita tidak berbuah ialah kita belum banyak dimuridkan oleh-Nya. Dimuridkan adalah berubah dari cara, posisi, dan karakter kita yang alamiah. Kita perlu menyalibkan manusia lama untuk membuang semua hal kita yang usang dan alamiah. Sebagai murid-murid Tuhan, kita perlu terus menerus belajar menginjil, karena menginjil membutuhkan ketrampilan kita.
Suatu hari hamba Tuhan Nee menginjil kepada seorang mahasiswa muda yang sangat pandai. Anak muda ini berkata, “Ayahku kini menderita di alam maut. Aku tidak ingin melihat ayahku menderita di sana, sedangkan aku diselamatkan. Saudara Nee menjawab menggunakan Lukas 16 tentang orang kaya yang menderita sengsara. Ia berkata, “Tidakkah kamu percaya bahwa ayahmu, meskipun menderita di alam maut, masih mengasihimu? Dia tidak ingin kamu pergi ke sana. Jika kamu pergi ke sana kamu tidak menaati ayahmu. Kamu tidak menghormatinya.” Perkataan singkat ini menyakinkan orang muda itu, dan ia berkata, “Aku menghormati ayahku. Demi keinginannya, aku percaya kepada Tuhan Yesus.” Contoh ini memperlihatkan bahwa pemberitaan injil kita tidak boleh menjadi usang, kita perlu terus diperlengkapi (2 Tim. 3:17). Dan masih banyak yang harus kita pelajari dalam pemberitaan Injil. Kita perlu dilatih Tuhan untuk mempunyai telinga dan lidah seorang murid (Yes. 50:4).
22 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 2 Selasa
Yesus adalah Mesias
Kisah Para Rasul 9:22
Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias
Ayat Bacaan: Mat. 13:3; Ef. 1:4-14
Dalam Kisah Para Rasul 9:22 dikatakan, “Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias.” Dalam ayat 20 kita melihat bahwa Dia adalah Anak Allah, dan dalam ayat 22, kita melihat bahwa Dia adalah Mesias. Gelar “Mesias” atau “Kristus” menunjukkan “amanat” Tuhan, yaitu, berhubungan dengan pekerjaan Tuhan, dengan tugas dan misi-Nya. Kristus berarti “yang diurapi”. Tuhan Yesus adalah Mesias berarti Dia adalah Yang diurapi Allah, yang ditunjuk Allah untuk melaksanakan amanat-Nya, untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan Allah kepada-Nya.
Apakah amanat Kristus? Amanat Kristus adalah merampungkan tujuan kekal Allah melalui penyaliban-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, dan kedatangan-Nya kali kedua. Amanat ini tak lain adalah menaburkan Allah Tritunggal sebagai benih hayat ke dalam kita dan karena itu menggarapkan hayat ilahi ke dalam kita. Menurut wahyu Perjanjian Baru, inilah aspek pertama dari amanat Kristus, dan kita semua perlu nampak kebenaran ini. Aspek pertama amanat Kristus yang diterima-Nya dari Bapa bukan untuk menjadi seorang raja atau nabi; tetapi untuk menjadi seorang Penabur, yaitu seorang yang menaburkan Allah Tritunggal ke dalam kita.
Sejak kita mengaku bahwa kita adalah orang berdosa dan percaya kepada Tuhan Yesus, Allah Tritunggal ini—Bapa, Putra, dan Roh—akan masuk ke dalam kita untuk menjadi hayat dan segala sesuatu kita. Seorang suami dapat mengasihi istri karena Yesus, dan istri dapat taat kepada suami karena Yesus. Kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran kita semuanya adalah Yesus. Setiap hari kita perlu menikmati penyaluran yang berangsur-angsur, lembut, pelahan-lahan, normal, konsisten, dan berkesinambungan. Kita menikmati penyaluran Bapa dalam sifat dan hayat ilahi ke dalam diri kita dan dalam elemen ilahi-Nya. Kita menikmati penyaluran Allah Roh dalam esens ilahi-Nya sebagai meterai yang hidup dalam kita, menjadi kenikmatan ilahi kita, sebagai pencicipan dari kenikmatan penuh akan Allah.
Kisah Para Rasul 9:22
Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias
Ayat Bacaan: Mat. 13:3; Ef. 1:4-14
Dalam Kisah Para Rasul 9:22 dikatakan, “Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias.” Dalam ayat 20 kita melihat bahwa Dia adalah Anak Allah, dan dalam ayat 22, kita melihat bahwa Dia adalah Mesias. Gelar “Mesias” atau “Kristus” menunjukkan “amanat” Tuhan, yaitu, berhubungan dengan pekerjaan Tuhan, dengan tugas dan misi-Nya. Kristus berarti “yang diurapi”. Tuhan Yesus adalah Mesias berarti Dia adalah Yang diurapi Allah, yang ditunjuk Allah untuk melaksanakan amanat-Nya, untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan Allah kepada-Nya.
Apakah amanat Kristus? Amanat Kristus adalah merampungkan tujuan kekal Allah melalui penyaliban-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, dan kedatangan-Nya kali kedua. Amanat ini tak lain adalah menaburkan Allah Tritunggal sebagai benih hayat ke dalam kita dan karena itu menggarapkan hayat ilahi ke dalam kita. Menurut wahyu Perjanjian Baru, inilah aspek pertama dari amanat Kristus, dan kita semua perlu nampak kebenaran ini. Aspek pertama amanat Kristus yang diterima-Nya dari Bapa bukan untuk menjadi seorang raja atau nabi; tetapi untuk menjadi seorang Penabur, yaitu seorang yang menaburkan Allah Tritunggal ke dalam kita.
Sejak kita mengaku bahwa kita adalah orang berdosa dan percaya kepada Tuhan Yesus, Allah Tritunggal ini—Bapa, Putra, dan Roh—akan masuk ke dalam kita untuk menjadi hayat dan segala sesuatu kita. Seorang suami dapat mengasihi istri karena Yesus, dan istri dapat taat kepada suami karena Yesus. Kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran kita semuanya adalah Yesus. Setiap hari kita perlu menikmati penyaluran yang berangsur-angsur, lembut, pelahan-lahan, normal, konsisten, dan berkesinambungan. Kita menikmati penyaluran Bapa dalam sifat dan hayat ilahi ke dalam diri kita dan dalam elemen ilahi-Nya. Kita menikmati penyaluran Allah Roh dalam esens ilahi-Nya sebagai meterai yang hidup dalam kita, menjadi kenikmatan ilahi kita, sebagai pencicipan dari kenikmatan penuh akan Allah.
21 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - MInggu 2 Senin
Yesus adalah Anak Allah
Kisah Para Rasul 9:20
Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah
Ayat Bacaan: Yoh. 5:18; Mat. 1:20, 17:5
Kita perlu mengenal Kristus dalam dua aspek utama—aspek Persona-Nya dan aspek pekerjaan-Nya. Dalam Kisah Para Rasul 9:20, Saulus mengatakan bahwa “Yesus adalah Anak Allah.” Ungkapan “Anak Allah” mengacu kepada Persona Tuhan Yesus. Sebagai Anak Allah, Persona Tuhan Yesus itu ilahi. Dia yang ilahi adalah Allah itu sendiri. Dia dikandung dari Roh Kudus dengan esens ilahi (Mat. 1:20). Dengan keterkandungan Yesus, Roh Kudus masuk ke dalam keinsanian. Di sini kita memakai kata “esens” dengan tegas untuk menyatakan sesuatu yang bahkan lebih intrinsik daripada sifat. Manusia-Penyelamat ini dikandung dari Roh Kudus bukan hanya dengan sifat ilahi melainkan dengan esens ilahi. Penting sekali kita nampak hal ini.
Dalam Matius 17, di atas gunung pengubahan Allah sendiri membuatnya sangat jelas, “Inilah Anak-Ku yang kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Mendengarkan Kristus adalah mendengarkan Allah sendiri. Kita semua perlu berdoa, “Tuhan, aku ingin mendengarkan Engkau.” Standar hidup orang Kristen hari ini bukan pada hukum Taurat, juga bukan pada nabi-nabi, melainkan pada diri Kristus; yakni pada diri Kristus yang berhuni di batin kita. Karena itu, persoalannya bukanlah apakah aku benar atau salah? Melainkan apakah Kristus yang ada di dalamku berkata demikian? Karena jalan kita adalah kehidupan Allah, bukan berdasarkan benar atau salah. Terhadap banyak perkara, kita mungkin berkata, bahwa kita boleh melakukannya, tetapi jika kehidupan Allah di dalam kita tidak membiarkan kita melakukannya, maka kita harus menghentikannya.
Saudara saudari, perbedaan di dalamnya sungguh besar! Seringkali, yang dapat dikatakan oleh orang adalah: “Benarkah jika aku melakukan ini? Salahkah jika aku melakukan itu?” Tetapi hari ini, kita bukannya menuruti ini benar atau itu salah, melainkan hanya ada satu pertanyaan: “Apakah kehidupan Tuhan di dalam kita makin membubung atau makin tenggelam?” Inilah yang akan menentukan jalan kita. Segalanya tergantung pada keputusan yang di dalam (batin). Kita hanya ingin mendengarkan Dia. Dalam segala hal kita harus terlebih dahulu mendengarkan Dia.
Kisah Para Rasul 9:20
Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah
Ayat Bacaan: Yoh. 5:18; Mat. 1:20, 17:5
Kita perlu mengenal Kristus dalam dua aspek utama—aspek Persona-Nya dan aspek pekerjaan-Nya. Dalam Kisah Para Rasul 9:20, Saulus mengatakan bahwa “Yesus adalah Anak Allah.” Ungkapan “Anak Allah” mengacu kepada Persona Tuhan Yesus. Sebagai Anak Allah, Persona Tuhan Yesus itu ilahi. Dia yang ilahi adalah Allah itu sendiri. Dia dikandung dari Roh Kudus dengan esens ilahi (Mat. 1:20). Dengan keterkandungan Yesus, Roh Kudus masuk ke dalam keinsanian. Di sini kita memakai kata “esens” dengan tegas untuk menyatakan sesuatu yang bahkan lebih intrinsik daripada sifat. Manusia-Penyelamat ini dikandung dari Roh Kudus bukan hanya dengan sifat ilahi melainkan dengan esens ilahi. Penting sekali kita nampak hal ini.
Dalam Matius 17, di atas gunung pengubahan Allah sendiri membuatnya sangat jelas, “Inilah Anak-Ku yang kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Mendengarkan Kristus adalah mendengarkan Allah sendiri. Kita semua perlu berdoa, “Tuhan, aku ingin mendengarkan Engkau.” Standar hidup orang Kristen hari ini bukan pada hukum Taurat, juga bukan pada nabi-nabi, melainkan pada diri Kristus; yakni pada diri Kristus yang berhuni di batin kita. Karena itu, persoalannya bukanlah apakah aku benar atau salah? Melainkan apakah Kristus yang ada di dalamku berkata demikian? Karena jalan kita adalah kehidupan Allah, bukan berdasarkan benar atau salah. Terhadap banyak perkara, kita mungkin berkata, bahwa kita boleh melakukannya, tetapi jika kehidupan Allah di dalam kita tidak membiarkan kita melakukannya, maka kita harus menghentikannya.
Saudara saudari, perbedaan di dalamnya sungguh besar! Seringkali, yang dapat dikatakan oleh orang adalah: “Benarkah jika aku melakukan ini? Salahkah jika aku melakukan itu?” Tetapi hari ini, kita bukannya menuruti ini benar atau itu salah, melainkan hanya ada satu pertanyaan: “Apakah kehidupan Tuhan di dalam kita makin membubung atau makin tenggelam?” Inilah yang akan menentukan jalan kita. Segalanya tergantung pada keputusan yang di dalam (batin). Kita hanya ingin mendengarkan Dia. Dalam segala hal kita harus terlebih dahulu mendengarkan Dia.
Subscribe to:
Posts (Atom)