Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini
Yohanes 18:36
Jawab Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”
Ayat Bacaan: Mat. 26:57-66; Yoh. 18:28-38; 3:14; Im. 24:16
Pada malam Tuhan Yesus dijual, orang-orang yang menangkap-Nya membawa-Nya ke depan Imam Besar Kayafas. Orang-orang Yahudi mencari saksi-saksi palsu supaya dapat menghukum mati Dia, tetapi tidak mendapatkannya (Mat. 26:57-66). Sesudah itu, mereka membawa Tuhan Yesus kepada Pilatus untuk diperiksa oleh orang-orang kafir menurut hukum Kerajaan Romawi (Yoh. 18:28-38). Sebelumnya, Tuhan telah diperiksa menurut hukum orang-orang Yahudi dan dituntut hukuman mati yaitu dirajam hingga mati (Yoh. 18:31; Im. 24:16). Namun oleh kedaulatan Allah hal ini memenuhi nubuat yang telah diucapkan Tuhan tatkala Dia berkata bahwa Dia akan ditinggikan sama seperti ular tembaga yang ditinggikan oleh Musa di padang gurun (Yoh. 3:14), maka Ia harus diperiksa oleh Pilatus dan dijatuhi hukuman mati disalibkan. Pada waktu itu, Pilatus bertanya kepada-Nya, “Engkau inikah raja orang Yahudi?” (Yoh. 18:33). Lalu Tuhan menjawab, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini...” (Yoh. 18:36).
Perkataan Tuhan Yesus di sini menyingkapkan keadaan sebenarnya dari anak-anak Allah hari ini. Di atas diri anak-anak Allah ada banyak perkara yang kelihatannya rohani, tetapi kalau kita telusuri terus sampai ke akarnya, akan terlihat bahwa sumbernya adalah dari dunia. Misalnya, kita sering mengatakan bahwa rendah hati adalah sebuah etika yang baik. Seringkali, jika kita menelusuri akar dari sikap rendah hati kita, kita akan melihat bahwa semuanya itu dikarenakan kita takut melukai orang lain, takut dikritik orang, maka kita rendah hati. Rendah hati yang berasal dari rasa takut ini kelihatannya sebuah etika yang baik, tetapi kalau dikejar sampai ke akarnya, kita tidak bisa mengatakan, “Kerajaan-Ku bukan berasal dari dunia ini”. Rendah hati ini berasal dari dunia, berasal dari ketakutan duniawi.
Saudara saudari, masalahnya hari ini ialah di dalam kita terlalu banyak hal yang berasal dari dunia. Apa yang kita anggap rohani belum tentu berasal dari Allah sendiri. Sudah terlalu banyak percampuran di dalam kita. Semoga Allah merahmati kita agar kita memiliki roh yang kuat dan daya pembeda yang kuat sehingga kerohanian kita hanya bersumber dari Allah.
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
30 September 2009
29 September 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 1 Rabu
Kegagalan hayat alamiah: Petrus menyangkal Tuhan
Yohanes 18:25
Simon Petrus masih berdiri berdiang. Kata orang-orang di situ kepadanya: “Bukankah engkau juga seorang murid-Nya?” Ia menyangkalnya, katanya: “Bukan.”
Ayat bacaan: Yoh. 18:12-27; Mat. 26:69:75
Tuhan diuji oleh orang Yahudi menurut hukum Allah di dalam agama mereka. Pengujian merupakan suatu perkara yang sangat tidak menyenangkan. Tuhan pun merasakan sengsara menghadapi penyangkalan seorang murid yang paling dekat dengan-Nya (Yoh. 18:17-18, 25-27). Sewaktu Dia sedang diperiksa, Petrus menyangkal-Nya tiga kali. Penyangkalan Petrus terhadap Tuhan merupakan suatu penyingkapan.
Di bawah kedaulatan Allah, keadaan sekeliling tidak membiarkan Petrus pergi sampai ia dicobai habis-habisan, sehingga ia menyadari bahwa ia sama sekali tak dapat diandalkan dan tidak berani lagi mempercayai dirinya sendiri. Dalam penyangkalan pertama, Petrus hanya berkata-kata, dalam penyangkalan yang kedua kali, ia menjawab dengan sumpah, dan dalam penyangkalan yang ketiga kali, ia mengutuk dan bersumpah. Setelah menyangkal Tuhan ketiga kalinya ia mendengar ayam berkokok, Petrus ingat perkataan Tuhan dan ia pergi keluar, menangis dengan sedihnya (Mat. 26:69-75). Ketika Tuhan sedang menderita aniaya dan hukuman yang tidak adil, Petrus malah menyangkal-Nya. Dengan menyangkal Dia, Petrus telah tersingkap sejelas-jelasnya, bahwa alamiahnya tidak dapat diandalkan.
Kisah ini bukan sekedar cerita tentang Petrus, sebab kisah ini mewahyukan bahwa hayat alamiah kita semuanya juga demikian. Kita semua sama seperti Petrus, kita jangan coba-coba menempuh jalan yang sempit ke dalam kerajaan namun dengan hayat alamiah kita. Ujian akan datang dan akan menyingkapkan kita seluruhnya. Cepat atau lambat, kita semua yang berada pada jalan sempit menuju kerajaan juga akan menghadapi ujian yang sama. Puji Tuhan bahwa masih ada jalan pertobatan dan pengakuan yang mendatangkan pengampunan Tuhan serta kunjungan-Nya lebih lanjut. Bagi kerajaan kita wajib memiliki hayat lain dan persona lain. Hanya setelah kita melalui semua ujian dan telah menderita semua kegagalan serta kekalahan, barulah kita mengetahui kebutuhan kita akan hayat lain, yakni hayat Tuhan dan diri Tuhan sendiri. Inilah tujuan kematian Kristus. Hayat inilah yang memampukan kita melampaui segala ujian yang ada.
Yohanes 18:25
Simon Petrus masih berdiri berdiang. Kata orang-orang di situ kepadanya: “Bukankah engkau juga seorang murid-Nya?” Ia menyangkalnya, katanya: “Bukan.”
Ayat bacaan: Yoh. 18:12-27; Mat. 26:69:75
Tuhan diuji oleh orang Yahudi menurut hukum Allah di dalam agama mereka. Pengujian merupakan suatu perkara yang sangat tidak menyenangkan. Tuhan pun merasakan sengsara menghadapi penyangkalan seorang murid yang paling dekat dengan-Nya (Yoh. 18:17-18, 25-27). Sewaktu Dia sedang diperiksa, Petrus menyangkal-Nya tiga kali. Penyangkalan Petrus terhadap Tuhan merupakan suatu penyingkapan.
Di bawah kedaulatan Allah, keadaan sekeliling tidak membiarkan Petrus pergi sampai ia dicobai habis-habisan, sehingga ia menyadari bahwa ia sama sekali tak dapat diandalkan dan tidak berani lagi mempercayai dirinya sendiri. Dalam penyangkalan pertama, Petrus hanya berkata-kata, dalam penyangkalan yang kedua kali, ia menjawab dengan sumpah, dan dalam penyangkalan yang ketiga kali, ia mengutuk dan bersumpah. Setelah menyangkal Tuhan ketiga kalinya ia mendengar ayam berkokok, Petrus ingat perkataan Tuhan dan ia pergi keluar, menangis dengan sedihnya (Mat. 26:69-75). Ketika Tuhan sedang menderita aniaya dan hukuman yang tidak adil, Petrus malah menyangkal-Nya. Dengan menyangkal Dia, Petrus telah tersingkap sejelas-jelasnya, bahwa alamiahnya tidak dapat diandalkan.
Kisah ini bukan sekedar cerita tentang Petrus, sebab kisah ini mewahyukan bahwa hayat alamiah kita semuanya juga demikian. Kita semua sama seperti Petrus, kita jangan coba-coba menempuh jalan yang sempit ke dalam kerajaan namun dengan hayat alamiah kita. Ujian akan datang dan akan menyingkapkan kita seluruhnya. Cepat atau lambat, kita semua yang berada pada jalan sempit menuju kerajaan juga akan menghadapi ujian yang sama. Puji Tuhan bahwa masih ada jalan pertobatan dan pengakuan yang mendatangkan pengampunan Tuhan serta kunjungan-Nya lebih lanjut. Bagi kerajaan kita wajib memiliki hayat lain dan persona lain. Hanya setelah kita melalui semua ujian dan telah menderita semua kegagalan serta kekalahan, barulah kita mengetahui kebutuhan kita akan hayat lain, yakni hayat Tuhan dan diri Tuhan sendiri. Inilah tujuan kematian Kristus. Hayat inilah yang memampukan kita melampaui segala ujian yang ada.
28 September 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 1 Selasa
Diperiksa Pemimpin Yahudi menurut Hukum Taurat
Yohanes 18:12-13
Maka pasukan prajurit serta perwiranya dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia. Lalu mereka membawa-Nya mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Besar
Ayat Bacaan: Yoh. 18:11-19:6; Kel. 12:2-6; Ef. 5:26
Di antara seluruh umat manusia yang pernah hidup di bumi, hanya ada satu Manusia, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang tanpa campuran atau cacat. Dia adalah satu-satunya Manusia yang tidak pernah terluka secara moral maupun secara etika. Yesus Kristus adalah satu-satunya orang yang tanpa campuran dan tanpa noda. Dia tidak memiliki cacat atau luka sedikitpun. Seperti domba yang dikurbankan pada waktu Paskah harus tanpa cacat dan tanpa noda. Selain itu, domba itu harus dikurung selama empat hari untuk diuji dengan teliti. Pengujian ini untuk membuktikan bahwa domba itu tanpa cacat dan tanpa noda.
Ini adalah apa yang Tuhan Yesus alami di Yerusalem selama hari-hari sebelum Dia disalibkan. Hari demi hari Dia diuji oleh orang Farisi, orang Saduki, ahli-ahli Taurat, tua-tua, dan para imam. Mereka berusaha sekuatnya untuk menemukan kesalahan di atas diri-Nya. Namun, menurut hukum Taurat mereka, mereka tidak dapat menemukan kesalahan apa pun pada diri-Nya.
Kedudukan Tuhan diuji oleh manusia (18:11-19:6), diperiksa sebagai anak domba Paskah adalah diuji (Kel. 12:2-6). Pemeriksaan diri Kristus oleh manusia merupakan kegenapan pengujian atas Domba Paskah. Setelah Pilatus memeriksa-Nya, ia menyatakan sebanyak tiga kali, “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya” (18:38; 19:4, 6). Tidak ada cacat pada domba Paskah ini; Dia sungguh-sungguh memenuhi syarat menjadi domba bagi umat Allah. Karena itu, baik menurut hukum ilahi maupun menurut hukum duniawi, Anak Domba Allah telah diuji dan ditemukan tanpa cacat dan tanpa noda.
Persona dan karakter kita telah terluka akibat banyak hal. Sebagai umat manusia yang jatuh, kita memiliki banyak cacat dan luka. Misalnya, ketagihan berjudi adalah luka yang serius atas karakter seseorang. Berdusta, mencuri, sombong, iri hati ini semua adalah perkara yang membuat diri kita cacat dan luka. Hanya persona unik, yaitu Kristus yang tanpa cacat dan tanpa noda. Karena itu, tidak ada jalan lain bagi kita agar tidak bercacat dan bernoda selain datang kepada Dia, menikmati Dia, sehingga kita dikuduskan dan disucikan dengan air dalam Firman (Ef. 5:26).
Yohanes 18:12-13
Maka pasukan prajurit serta perwiranya dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia. Lalu mereka membawa-Nya mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Besar
Ayat Bacaan: Yoh. 18:11-19:6; Kel. 12:2-6; Ef. 5:26
Di antara seluruh umat manusia yang pernah hidup di bumi, hanya ada satu Manusia, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang tanpa campuran atau cacat. Dia adalah satu-satunya Manusia yang tidak pernah terluka secara moral maupun secara etika. Yesus Kristus adalah satu-satunya orang yang tanpa campuran dan tanpa noda. Dia tidak memiliki cacat atau luka sedikitpun. Seperti domba yang dikurbankan pada waktu Paskah harus tanpa cacat dan tanpa noda. Selain itu, domba itu harus dikurung selama empat hari untuk diuji dengan teliti. Pengujian ini untuk membuktikan bahwa domba itu tanpa cacat dan tanpa noda.
Ini adalah apa yang Tuhan Yesus alami di Yerusalem selama hari-hari sebelum Dia disalibkan. Hari demi hari Dia diuji oleh orang Farisi, orang Saduki, ahli-ahli Taurat, tua-tua, dan para imam. Mereka berusaha sekuatnya untuk menemukan kesalahan di atas diri-Nya. Namun, menurut hukum Taurat mereka, mereka tidak dapat menemukan kesalahan apa pun pada diri-Nya.
Kedudukan Tuhan diuji oleh manusia (18:11-19:6), diperiksa sebagai anak domba Paskah adalah diuji (Kel. 12:2-6). Pemeriksaan diri Kristus oleh manusia merupakan kegenapan pengujian atas Domba Paskah. Setelah Pilatus memeriksa-Nya, ia menyatakan sebanyak tiga kali, “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya” (18:38; 19:4, 6). Tidak ada cacat pada domba Paskah ini; Dia sungguh-sungguh memenuhi syarat menjadi domba bagi umat Allah. Karena itu, baik menurut hukum ilahi maupun menurut hukum duniawi, Anak Domba Allah telah diuji dan ditemukan tanpa cacat dan tanpa noda.
Persona dan karakter kita telah terluka akibat banyak hal. Sebagai umat manusia yang jatuh, kita memiliki banyak cacat dan luka. Misalnya, ketagihan berjudi adalah luka yang serius atas karakter seseorang. Berdusta, mencuri, sombong, iri hati ini semua adalah perkara yang membuat diri kita cacat dan luka. Hanya persona unik, yaitu Kristus yang tanpa cacat dan tanpa noda. Karena itu, tidak ada jalan lain bagi kita agar tidak bercacat dan bernoda selain datang kepada Dia, menikmati Dia, sehingga kita dikuduskan dan disucikan dengan air dalam Firman (Ef. 5:26).
27 September 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 1 Senin
Ditangkap tanpa perlawanan
Yohanes 18:11
Kata Yesus kepada Petrus: “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?
Ayat Bacaan: Yoh. 18:10-11; 11:25
Dalam 18:10-11 kita melihat bahwa Tuhan tidak memberikan perlawanan apa pun atas penawanan diri-Nya. Dengan jalan menyerahkan diri-Nya kepada maut, Tuhan membuktikan bahwa Dia itulah hayat. Tanpa kematian, bagaimana Dia dapat membuktikan bahwa Dia itulah hayat? Ketika Tuhan menjadi manusia, pertama-tama Dia membuktikan bahwa Dia itulah Allah. Sekarang dalam pasal 18 dan 19, Dia sedang masuk ke dalam maut untuk membuktikan bahwa Dia itulah hayat. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Tuhan adalah hayat? Yaitu melalui masuknya Dia ke dalam maut dan Dia tidak menentang maut itu. Tuhan tidak akan dapat ditakut-takuti, diusik, dikendalikan ataupun dikuasai oleh maut.
Dalam kedua pasal ini terdapat banyak bukti yang menunjukkan Tuhan mengalahkan dan menaklukkan maut. Pertama, Tuhan tidak dapat digentarkan oleh maut. Ketika Tuhan mengetahui bahwa pihak agamawan serta pihak politikus mendatangi untuk menangkap-Nya dan menaruh-Nya ke dalam maut, Dia tidak merasa takut. Dengan berani Dia menjumpai dan menyerahkan diri-Nya kepada mereka. Kedua, Tuhan tetap tenang ketika maut mendatangi-Nya. Di hadapan maut, Dia tetap melindungi murid-murid-Nya dengan cara yang mudah, yaitu memberi tahu para penangkap-Nya supaya membiarkan murid-murid-Nya pergi. Seandainya sekelompok polisi datang untuk menangkap Anda, bisakah Anda tetap tenang? Setiap kejadian yang dilukiskan di dalam kedua pasal ini kita dapat melihat bahwa Tuhan tetap tenang. Dia tidak pernah berubah pendirian ataupun dipengaruhi oleh rasa takut terhadap maut.
Hayat Tuhan adalah hayat yang dapat menaklukkan dan mengalahkan maut. Melalui penyaliban Dia masuk ke dalam maut, dan melalui kebangkitan Dia keluar dari dalam maut. Bukti apakah yang lebih baik yang pernah ada daripada bukti ini, yaitu bahwa Dia itulah hayat; di mana maut tidak dapat menaklukkan ataupun mengalahkan-Nya? Dia mengalahkan maut karena Dia itulah hayat kebangkitan (11:25). Saudara-saudari, apakah masalah yang kita hadapi lebih berat daripada maut? Jika tidak, mengapa kita begitu kuatir dan tidak mau datang kepada Dia Sang Hayat kebangkitan yang telah mengalahkan maut?
Yohanes 18:11
Kata Yesus kepada Petrus: “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?
Ayat Bacaan: Yoh. 18:10-11; 11:25
Dalam 18:10-11 kita melihat bahwa Tuhan tidak memberikan perlawanan apa pun atas penawanan diri-Nya. Dengan jalan menyerahkan diri-Nya kepada maut, Tuhan membuktikan bahwa Dia itulah hayat. Tanpa kematian, bagaimana Dia dapat membuktikan bahwa Dia itulah hayat? Ketika Tuhan menjadi manusia, pertama-tama Dia membuktikan bahwa Dia itulah Allah. Sekarang dalam pasal 18 dan 19, Dia sedang masuk ke dalam maut untuk membuktikan bahwa Dia itulah hayat. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Tuhan adalah hayat? Yaitu melalui masuknya Dia ke dalam maut dan Dia tidak menentang maut itu. Tuhan tidak akan dapat ditakut-takuti, diusik, dikendalikan ataupun dikuasai oleh maut.
Dalam kedua pasal ini terdapat banyak bukti yang menunjukkan Tuhan mengalahkan dan menaklukkan maut. Pertama, Tuhan tidak dapat digentarkan oleh maut. Ketika Tuhan mengetahui bahwa pihak agamawan serta pihak politikus mendatangi untuk menangkap-Nya dan menaruh-Nya ke dalam maut, Dia tidak merasa takut. Dengan berani Dia menjumpai dan menyerahkan diri-Nya kepada mereka. Kedua, Tuhan tetap tenang ketika maut mendatangi-Nya. Di hadapan maut, Dia tetap melindungi murid-murid-Nya dengan cara yang mudah, yaitu memberi tahu para penangkap-Nya supaya membiarkan murid-murid-Nya pergi. Seandainya sekelompok polisi datang untuk menangkap Anda, bisakah Anda tetap tenang? Setiap kejadian yang dilukiskan di dalam kedua pasal ini kita dapat melihat bahwa Tuhan tetap tenang. Dia tidak pernah berubah pendirian ataupun dipengaruhi oleh rasa takut terhadap maut.
Hayat Tuhan adalah hayat yang dapat menaklukkan dan mengalahkan maut. Melalui penyaliban Dia masuk ke dalam maut, dan melalui kebangkitan Dia keluar dari dalam maut. Bukti apakah yang lebih baik yang pernah ada daripada bukti ini, yaitu bahwa Dia itulah hayat; di mana maut tidak dapat menaklukkan ataupun mengalahkan-Nya? Dia mengalahkan maut karena Dia itulah hayat kebangkitan (11:25). Saudara-saudari, apakah masalah yang kita hadapi lebih berat daripada maut? Jika tidak, mengapa kita begitu kuatir dan tidak mau datang kepada Dia Sang Hayat kebangkitan yang telah mengalahkan maut?
26 September 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 1 Minggu
Menyerahkan diri untuk ditangkap
Yohanes 18:1
Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 18:1, 4-5; 13:11, 21-27
Tuhan dengan sengaja dan penuh keberanian menyerahkan diri-Nya sendiri untuk diproses. Ini berarti Dia masuk ke dalam maut secara sukarela. Dalam Yohanes 10, Dia memberitahu kita bahwa Dia akan dengan sengaja melepaskan hayat-Nya bagi kita. Dia adalah Tuhan atas kehidupan dan Dia itulah hayat. Dia mempunyai kuasa untuk mati, dan Dia pun mempunyai kuasa untuk bangkit. Dengan kemauan-Nya sendiri, Dia masuk ke dalam maut dan keluar lagi. Dia tidak mempunyai persoalan dengan maut. Apakah Dia akan mati atau tidak, itu adalah hak istimewa-Nya.
Bukti pertama bahwa Tuhan rela mati yaitu Dia pergi ke taman (18:1). Catatan Yohanes menunjukkan bahwa Dia pergi ke taman bukan untuk berdoa, melainkan untuk ditangkap, ditawan, disajikan kepada maut. Ini berarti Dia dengan sengaja menyerahkan diri-Nya. Tuhan mengetahui bahwa Yudas akan mengkhianati Dia (13:11, 21-27). Dia tidak menghindari hal ini. Tanda lain atas kerelaan Tuhan untuk mati yaitu, bukan orang-orang itu yang menemukan-Nya, melainkan Dia yang datang kepada mereka. Para serdadu bukannya datang kepada Tuhan dan menangkap-Nya selagi Dia berdoa. Tetapi Tuhan pergi menjumpai mereka dan berkata, “Siapakah yang kamu cari?” (18:4). Jawab mereka, “Yesus dari Nazaret” (18:5). Tuhan lalu menjawab, “Akulah Dia.”
Saudara-saudari, bagi kita kematian bukanlah suatu masalah pilihan. Sewaktu maut datang mengunjungi kita, kita tidak dapat berkata, “Maut, aku masih belum siap. Datanglah lain hari saja.” Kita tidak mempunyai kekuatan ataupun kuasa untuk menolak maut. Tetapi tidak demikian dengan Tuhan. Karena Dialah Tuhan atas kehidupan dan juga hayat itu sendiri. Jika Dia tidak suka akan maut, Dia mempunyai kekuatan dan kuasa menolak maut itu sehingga Dia tidak mati. Dia mempunyai kuasa untuk menyuruh maut itu pergi. Meskipun Dia tidak dipaksa untuk mati, namun Dia rela mati untuk kita. Kasih-Nya kepada kita membuat Dia melewati maut.Dia datang untuk memberikan diri-Nya sendiri sebagai hayat kepada kita. Inilah bukti kasih-Nya yang begitu besar kepada kita. Kita yang seharusnya mati oleh pelanggaran dan dosa kita, karena kematian-Nya kita dihidupkan di dalam Dia (Ef. 2:1-5).
Yohanes 18:1
Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 18:1, 4-5; 13:11, 21-27
Tuhan dengan sengaja dan penuh keberanian menyerahkan diri-Nya sendiri untuk diproses. Ini berarti Dia masuk ke dalam maut secara sukarela. Dalam Yohanes 10, Dia memberitahu kita bahwa Dia akan dengan sengaja melepaskan hayat-Nya bagi kita. Dia adalah Tuhan atas kehidupan dan Dia itulah hayat. Dia mempunyai kuasa untuk mati, dan Dia pun mempunyai kuasa untuk bangkit. Dengan kemauan-Nya sendiri, Dia masuk ke dalam maut dan keluar lagi. Dia tidak mempunyai persoalan dengan maut. Apakah Dia akan mati atau tidak, itu adalah hak istimewa-Nya.
Bukti pertama bahwa Tuhan rela mati yaitu Dia pergi ke taman (18:1). Catatan Yohanes menunjukkan bahwa Dia pergi ke taman bukan untuk berdoa, melainkan untuk ditangkap, ditawan, disajikan kepada maut. Ini berarti Dia dengan sengaja menyerahkan diri-Nya. Tuhan mengetahui bahwa Yudas akan mengkhianati Dia (13:11, 21-27). Dia tidak menghindari hal ini. Tanda lain atas kerelaan Tuhan untuk mati yaitu, bukan orang-orang itu yang menemukan-Nya, melainkan Dia yang datang kepada mereka. Para serdadu bukannya datang kepada Tuhan dan menangkap-Nya selagi Dia berdoa. Tetapi Tuhan pergi menjumpai mereka dan berkata, “Siapakah yang kamu cari?” (18:4). Jawab mereka, “Yesus dari Nazaret” (18:5). Tuhan lalu menjawab, “Akulah Dia.”
Saudara-saudari, bagi kita kematian bukanlah suatu masalah pilihan. Sewaktu maut datang mengunjungi kita, kita tidak dapat berkata, “Maut, aku masih belum siap. Datanglah lain hari saja.” Kita tidak mempunyai kekuatan ataupun kuasa untuk menolak maut. Tetapi tidak demikian dengan Tuhan. Karena Dialah Tuhan atas kehidupan dan juga hayat itu sendiri. Jika Dia tidak suka akan maut, Dia mempunyai kekuatan dan kuasa menolak maut itu sehingga Dia tidak mati. Dia mempunyai kuasa untuk menyuruh maut itu pergi. Meskipun Dia tidak dipaksa untuk mati, namun Dia rela mati untuk kita. Kasih-Nya kepada kita membuat Dia melewati maut.Dia datang untuk memberikan diri-Nya sendiri sebagai hayat kepada kita. Inilah bukti kasih-Nya yang begitu besar kepada kita. Kita yang seharusnya mati oleh pelanggaran dan dosa kita, karena kematian-Nya kita dihidupkan di dalam Dia (Ef. 2:1-5).
25 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 4 Sabtu
Disempurnakan Menjadi Satu
Yohanes 17:21
Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:21
Yohanes 17:21 mengatakan, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Jika kita memberi tanda kurung mulai dari kata “sama seperti . . .” hingga “agar mereka juga di dalam Kita”, kita akan nampak jelas bahwa Tuhan mengharapkan gereja menjadi satu, supaya dunia percaya. Jika yang percaya itu dunia, jelaslah bahwa kesatuan ini berada di hadapan orang dunia. Tuhan mengharap agar orang dunia dapat percaya. Ini membuktikan bahwa kesatuan merupakan perkara hari ini di dunia.
Kata “Kita” dalam ayat ini menunjukkan Allah Tritunggal. Semua kaum beriman adalah satu di dalam Allah Tritunggal. Agar satu dalam Allah Tritunggal, kita harus dikuduskan, dipisahkan dari dunia oleh firman kudus. Setelah kita dikuduskan, dipisahkan dari dunia oleh firman kudus, kita akan menikmati Allah Tritunggal dan satu di dalam Dia. Untuk berada dalam Allah Tritunggal, pertama-tama kita harus dipisahkan dari pantai, gedung bioskop, stadion sepak bola, rumah judi dan dari semua tempat duniawi lain dan dipisahkan bagi Allah. Oleh karena mereka masih tetap berada dalam tempat-tempat duniawi, bagaimana mereka dapat satu? Walaupun Anda seorang saudara dalam hayat, di manakah Anda? Anda harus dikuduskan dari semua hiburan duniawi bagi Allah. Dalam Allah Tritunggal, yaitu dalam Bapa melalui Putra sebagai Roh, kita akan menjadi satu.
Kesatuan dalam Allah Tritunggal melalui pengudusan oleh firman hayat adalah aspek kedua kesatuan kaum beriman. Dalam aspek kesatuan ini, kaum beriman yang dipilih dari dunia kepada Allah menikmati Allah Tritunggal sebagai faktor kesatuan mereka. Agar kita terpelihara dalam kesatuan ini, pertama-tama kita harus memperhatikan realitas hayat ilahi dan kemudian pengudusan oleh firman kudus. Firman kudus memisahkan kita dari dunia, supaya kita terpulih kembali kepada Bapa dan kepada rumah Bapa. Baik hayat ilahi maupun firman kudus diperlukan untuk kesatuan sejati yang menghasilkan pembangunan gereja yang riil.
Yohanes 17:21
Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:21
Yohanes 17:21 mengatakan, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Jika kita memberi tanda kurung mulai dari kata “sama seperti . . .” hingga “agar mereka juga di dalam Kita”, kita akan nampak jelas bahwa Tuhan mengharapkan gereja menjadi satu, supaya dunia percaya. Jika yang percaya itu dunia, jelaslah bahwa kesatuan ini berada di hadapan orang dunia. Tuhan mengharap agar orang dunia dapat percaya. Ini membuktikan bahwa kesatuan merupakan perkara hari ini di dunia.
Kata “Kita” dalam ayat ini menunjukkan Allah Tritunggal. Semua kaum beriman adalah satu di dalam Allah Tritunggal. Agar satu dalam Allah Tritunggal, kita harus dikuduskan, dipisahkan dari dunia oleh firman kudus. Setelah kita dikuduskan, dipisahkan dari dunia oleh firman kudus, kita akan menikmati Allah Tritunggal dan satu di dalam Dia. Untuk berada dalam Allah Tritunggal, pertama-tama kita harus dipisahkan dari pantai, gedung bioskop, stadion sepak bola, rumah judi dan dari semua tempat duniawi lain dan dipisahkan bagi Allah. Oleh karena mereka masih tetap berada dalam tempat-tempat duniawi, bagaimana mereka dapat satu? Walaupun Anda seorang saudara dalam hayat, di manakah Anda? Anda harus dikuduskan dari semua hiburan duniawi bagi Allah. Dalam Allah Tritunggal, yaitu dalam Bapa melalui Putra sebagai Roh, kita akan menjadi satu.
Kesatuan dalam Allah Tritunggal melalui pengudusan oleh firman hayat adalah aspek kedua kesatuan kaum beriman. Dalam aspek kesatuan ini, kaum beriman yang dipilih dari dunia kepada Allah menikmati Allah Tritunggal sebagai faktor kesatuan mereka. Agar kita terpelihara dalam kesatuan ini, pertama-tama kita harus memperhatikan realitas hayat ilahi dan kemudian pengudusan oleh firman kudus. Firman kudus memisahkan kita dari dunia, supaya kita terpulih kembali kepada Bapa dan kepada rumah Bapa. Baik hayat ilahi maupun firman kudus diperlukan untuk kesatuan sejati yang menghasilkan pembangunan gereja yang riil.
24 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 4 Jumat
Dikuduskan Dalam Kebenaran
Yohanes 17:17
Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:17; 8:44; Mat. 23:17,10; 1 Tes. 5:23
Dalam Yohanes 17:17 Tuhan berdoa, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran.” Firman Bapa membawakan realitas Bapa. Ketika firman itu mengatakan, “Allah itu terang”, firman ini membawa Allah sebagai terang. Jadi, firman Allah adalah realitas, kebenaran, tidak seperti perkataan Iblis, yang kosong dan dusta (Yoh. 8:44). Firman Allah adalah kebenaran yang bekerja sebagai realitas dalam kaum imani untuk menguduskan mereka.
Firman Allah yang hidup bekerja dalam kaum beriman untuk memisahkan mereka dari segala perkara duniawi, yaitu memisahkan mereka dari dunia dan jajahan dunia, berpaling kepada Allah dan kehendak-Nya. Ini bukan hanya dalam posisi (Mat. 23:17, 10), tetapi juga dalam sifat (Rm. 6:19, 22). Inilah apa yang dimaksud dikuduskan melalui firman Tuhan sebagai kebenaran (realitas). Pengudusan ini tidak saja mengubah posisi kita, tetapi juga sifat kita dan apa adanya batiniah kita.
Dalam Alkitab, pengudusan mempunyai dua aspek ini — aspek posisi dan aspek sifat. Dalam Matius 23:17 kita nampak bahwa emas dikuduskan dengan ditaruh ke dalam bait. Emas di pasar itu biasa, tidak kudus, tetapi setelah ditaruh ke dalam bait, posisinya berubah dan segera dikuduskan, menjadi emas suci dalam bait suci. Tetapi pengudusan semacam ini tidak mempengaruhi sifat atau elemen emas, hanyalah mengubah posisi emas. Jadi emas ini dikuduskan secara kedudukan.
Beberapa orang Kristen hanya nampak sebanyak ini tentang pengudusan secara posisi, mereka tidak nampak perkara pengudusan sifat. Satu Tesalonika 5:23 mengatakan, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Di sini kita diberitahu bahwa roh, jiwa dan tubuh kita dikuduskan. Ini bukan menunjukkan pengudusan posisi, melainkan pengudusan sifat. Pengudusan yang disebut dalam Yohanes 17 mencakup dua aspek, sebab untuk memelihara kesatuan yang benar kita harus dikuduskan baik secara kedudukan maupun sifat.
Yohanes 17:17
Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:17; 8:44; Mat. 23:17,10; 1 Tes. 5:23
Dalam Yohanes 17:17 Tuhan berdoa, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran.” Firman Bapa membawakan realitas Bapa. Ketika firman itu mengatakan, “Allah itu terang”, firman ini membawa Allah sebagai terang. Jadi, firman Allah adalah realitas, kebenaran, tidak seperti perkataan Iblis, yang kosong dan dusta (Yoh. 8:44). Firman Allah adalah kebenaran yang bekerja sebagai realitas dalam kaum imani untuk menguduskan mereka.
Firman Allah yang hidup bekerja dalam kaum beriman untuk memisahkan mereka dari segala perkara duniawi, yaitu memisahkan mereka dari dunia dan jajahan dunia, berpaling kepada Allah dan kehendak-Nya. Ini bukan hanya dalam posisi (Mat. 23:17, 10), tetapi juga dalam sifat (Rm. 6:19, 22). Inilah apa yang dimaksud dikuduskan melalui firman Tuhan sebagai kebenaran (realitas). Pengudusan ini tidak saja mengubah posisi kita, tetapi juga sifat kita dan apa adanya batiniah kita.
Dalam Alkitab, pengudusan mempunyai dua aspek ini — aspek posisi dan aspek sifat. Dalam Matius 23:17 kita nampak bahwa emas dikuduskan dengan ditaruh ke dalam bait. Emas di pasar itu biasa, tidak kudus, tetapi setelah ditaruh ke dalam bait, posisinya berubah dan segera dikuduskan, menjadi emas suci dalam bait suci. Tetapi pengudusan semacam ini tidak mempengaruhi sifat atau elemen emas, hanyalah mengubah posisi emas. Jadi emas ini dikuduskan secara kedudukan.
Beberapa orang Kristen hanya nampak sebanyak ini tentang pengudusan secara posisi, mereka tidak nampak perkara pengudusan sifat. Satu Tesalonika 5:23 mengatakan, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Di sini kita diberitahu bahwa roh, jiwa dan tubuh kita dikuduskan. Ini bukan menunjukkan pengudusan posisi, melainkan pengudusan sifat. Pengudusan yang disebut dalam Yohanes 17 mencakup dua aspek, sebab untuk memelihara kesatuan yang benar kita harus dikuduskan baik secara kedudukan maupun sifat.
23 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 4 Kamis
Dilindungi dari yang Jahat
Yohanes 17:15
Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.
Ayat Bacaan: 1 Yoh. 5:19; Yoh. 12:31; 17:15; Mat. 6:13
Satu Yohanes 5:19 mengatakan bahwa seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat. Si jahat adalah Iblis dan dunia adalah suatu sistem jahat yang disusun secara sistematis dan dikuasai oleh Iblis, Satan (Yoh. 12:31). Satan telah mensistematiskan semua perkara di bumi, terutama yang berkaitan dengan umat manusia dan perkara-perkara di udara ke dalam kerajaan kegelapan untuk memiliki manusia, menjauhkan mereka dari kenikmatan atas Allah, dan merusak mereka dari penggenapan maksud tujuan Allah. Setiap aspek dunia, tak peduli apa itu, termasuk dalam sistem Iblis ini. Karena seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat, maka kaum beriman perlu dilindungi, terlepas dari si jahat (Yoh. 17:15), mereka perlu berjaga-jaga dalam doa agar mendapatkan perlindungan, terlepas dari si jahat (Mat. 6:13).
Dalam doa-doa kita, kita bukan hanya harus mohon Tuhan: “Jangan membawa kami ke dalam pencobaan” saja, tetapi juga: “Lepaskanlah kami dari yang jahat.” Yang terakhir ini adalah satu permintaan yang positif. Tidak perduli di mana tangan Satan bekerja, apakah ia bekerja pada masalah makanan sehari-hari atau menuduh nurani kita atau pada pencobaan yang diijinkan kepada kita, kita perlu berdoa supaya Tuhan melepaskan kita dari yang jahat. Dengan perkataan lain, kita tidak berharap untuk jatuh ke dalam tangan si jahat dalam perkara apapun juga. Melalui membaca Matius 8 dan 9, kita akan sadar bahwa tangan Satan ada pada lebih banyak perkara daripada yang kita duga. Dalam perkara apapun, setan keluar untuk membuat manusia celaka dan menderita. Itulah sebabnya kita harus berdoa.
Ketiga permintaan untuk diri kita sendiri menjadi doa perlindungan. Doa kita untuk makanan sehari-hari bukan hanya sekedar untuk makan, demikian pula permintaan kita untuk satu nurani yang tanpa tuduhan bukan sekedar supaya kita merasa enak (untuk perasaan), dan juga permohonan kita agar dilepaskan dari yang jahat bukan sekedar agar kita tidak celaka. Apa yang mendorong doa kita adalah agar kita dapat hidup di bumi dan mengerjakan lebih banyak pekerjaan doa, yaitu mengharapkan nama Allah dimuliakan, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi seperti juga di sorga.
Yohanes 17:15
Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.
Ayat Bacaan: 1 Yoh. 5:19; Yoh. 12:31; 17:15; Mat. 6:13
Satu Yohanes 5:19 mengatakan bahwa seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat. Si jahat adalah Iblis dan dunia adalah suatu sistem jahat yang disusun secara sistematis dan dikuasai oleh Iblis, Satan (Yoh. 12:31). Satan telah mensistematiskan semua perkara di bumi, terutama yang berkaitan dengan umat manusia dan perkara-perkara di udara ke dalam kerajaan kegelapan untuk memiliki manusia, menjauhkan mereka dari kenikmatan atas Allah, dan merusak mereka dari penggenapan maksud tujuan Allah. Setiap aspek dunia, tak peduli apa itu, termasuk dalam sistem Iblis ini. Karena seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat, maka kaum beriman perlu dilindungi, terlepas dari si jahat (Yoh. 17:15), mereka perlu berjaga-jaga dalam doa agar mendapatkan perlindungan, terlepas dari si jahat (Mat. 6:13).
Dalam doa-doa kita, kita bukan hanya harus mohon Tuhan: “Jangan membawa kami ke dalam pencobaan” saja, tetapi juga: “Lepaskanlah kami dari yang jahat.” Yang terakhir ini adalah satu permintaan yang positif. Tidak perduli di mana tangan Satan bekerja, apakah ia bekerja pada masalah makanan sehari-hari atau menuduh nurani kita atau pada pencobaan yang diijinkan kepada kita, kita perlu berdoa supaya Tuhan melepaskan kita dari yang jahat. Dengan perkataan lain, kita tidak berharap untuk jatuh ke dalam tangan si jahat dalam perkara apapun juga. Melalui membaca Matius 8 dan 9, kita akan sadar bahwa tangan Satan ada pada lebih banyak perkara daripada yang kita duga. Dalam perkara apapun, setan keluar untuk membuat manusia celaka dan menderita. Itulah sebabnya kita harus berdoa.
Ketiga permintaan untuk diri kita sendiri menjadi doa perlindungan. Doa kita untuk makanan sehari-hari bukan hanya sekedar untuk makan, demikian pula permintaan kita untuk satu nurani yang tanpa tuduhan bukan sekedar supaya kita merasa enak (untuk perasaan), dan juga permohonan kita agar dilepaskan dari yang jahat bukan sekedar agar kita tidak celaka. Apa yang mendorong doa kita adalah agar kita dapat hidup di bumi dan mengerjakan lebih banyak pekerjaan doa, yaitu mengharapkan nama Allah dimuliakan, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi seperti juga di sorga.
22 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 4 Rabu
Firman yang Beraspek Dua
Yohanes 17:14
Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia
Ayat Bacaan: Yoh. 17:14, 17; Ef. 5:26-27
Firman kudus adalah firman yang menguduskan. Tahap kedua atau kedudukan kedua kesatuan ialah pemisahan dari dunia oleh firman. Walau kita semua dilahirkan dari Bapa yang sama dan ke dalam keluarga yang sama, tetapi sangat disesalkan bahwa banyak saudara-saudari tidak di rumah, melainkan tertarik oleh hal-hal duniawi seperti pesta pora, bioskop, olahraga, dan bahkan berjudi. Setelah kita dilahirkan kembali sebagai anak Allah, kita harus dipisahkan dari dunia oleh firman kudus Tuhan. Firman Tuhan mempunyai daya pengudusan untuk memisahkan kita dari dunia. Begitu kita dipisahkan dari dunia oleh firman kudus, kita pun berkumpul bersama untuk mewujudkan kesatuan yang sejati.
Dalam Yohanes 17:14 Tuhan berkata, “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka.” Tuhan telah memberikan kaum imani dua macam firman: logos, firman konstan (ay. 14, 17) dan rhema, firman seketika (ay. 8). Kedua macam firman ini kudus, mempunyai kuat kuasa pengudusan untuk memisahkan kaum beriman dari dunia. Semakin banyak kita menerima firman Tuhan yang tetap (konstan) dan yang seketika (instan) ke dalam kita, kita semakin dikuduskan. Semakin kita diberi makan, diresapi dan dipenuhi dengan firman Tuhan yang konstan atau instan, kita menjadi semakin kudus. Semakin kita kudus, semakin berada dalam kesatuan yang sejati.
Firman Alkitab tidak hanya bisa membersihkan perbuatan lahir kita, menghapus kecemaran yang ditimbulkan oleh perbuatan lahir kita, juga bisa menyucikan batin kita, supaya kita terlepas dari kelemahan ciptaan lama kita. Apa yang dikatakan dalam Efesus 5:26-27 adalah penyucian semacam ini; yaitu Tuhan akan memakai air hayat yang di dalam kita, melalui firman Allah, menyucikan kita, supaya kita terlepas dari cacat dan kerut ciptaan lama. Cacat dan kerut bukan kecemaran dari perbuatan lahir kita, melainkan semua kelemahan hayat ciptaan lama di dalam kita. Roh Kudus sering membuat sepatah kata atau sepotongan firman Alkitab muncul di dalam kita, untuk bekerja sama dengan hayat di dalam kita, supaya kita terlepas dari hal-hal ciptaan lama, dan bertumbuh besar di dalam ciptaan baru.
Yohanes 17:14
Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia
Ayat Bacaan: Yoh. 17:14, 17; Ef. 5:26-27
Firman kudus adalah firman yang menguduskan. Tahap kedua atau kedudukan kedua kesatuan ialah pemisahan dari dunia oleh firman. Walau kita semua dilahirkan dari Bapa yang sama dan ke dalam keluarga yang sama, tetapi sangat disesalkan bahwa banyak saudara-saudari tidak di rumah, melainkan tertarik oleh hal-hal duniawi seperti pesta pora, bioskop, olahraga, dan bahkan berjudi. Setelah kita dilahirkan kembali sebagai anak Allah, kita harus dipisahkan dari dunia oleh firman kudus Tuhan. Firman Tuhan mempunyai daya pengudusan untuk memisahkan kita dari dunia. Begitu kita dipisahkan dari dunia oleh firman kudus, kita pun berkumpul bersama untuk mewujudkan kesatuan yang sejati.
Dalam Yohanes 17:14 Tuhan berkata, “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka.” Tuhan telah memberikan kaum imani dua macam firman: logos, firman konstan (ay. 14, 17) dan rhema, firman seketika (ay. 8). Kedua macam firman ini kudus, mempunyai kuat kuasa pengudusan untuk memisahkan kaum beriman dari dunia. Semakin banyak kita menerima firman Tuhan yang tetap (konstan) dan yang seketika (instan) ke dalam kita, kita semakin dikuduskan. Semakin kita diberi makan, diresapi dan dipenuhi dengan firman Tuhan yang konstan atau instan, kita menjadi semakin kudus. Semakin kita kudus, semakin berada dalam kesatuan yang sejati.
Firman Alkitab tidak hanya bisa membersihkan perbuatan lahir kita, menghapus kecemaran yang ditimbulkan oleh perbuatan lahir kita, juga bisa menyucikan batin kita, supaya kita terlepas dari kelemahan ciptaan lama kita. Apa yang dikatakan dalam Efesus 5:26-27 adalah penyucian semacam ini; yaitu Tuhan akan memakai air hayat yang di dalam kita, melalui firman Allah, menyucikan kita, supaya kita terlepas dari cacat dan kerut ciptaan lama. Cacat dan kerut bukan kecemaran dari perbuatan lahir kita, melainkan semua kelemahan hayat ciptaan lama di dalam kita. Roh Kudus sering membuat sepatah kata atau sepotongan firman Alkitab muncul di dalam kita, untuk bekerja sama dengan hayat di dalam kita, supaya kita terlepas dari hal-hal ciptaan lama, dan bertumbuh besar di dalam ciptaan baru.
21 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 4 Selasa
Supaya Penuhlah Sukacita Tuhan
Yohanes 17:13
Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:13
Kita adalah satu di dalam nama Bapa melalui menikmati diri Bapa sendiri. Sebagai anak-anak Allah, kita semua memiliki Bapa yang sama. Tetapi ketika kita tidak bersama dengan yang lain, kita tidak merasa bahwa kita menikmati Bapa. Semakin kita menjadi satu melalui hayat-Nya, kita semakin merasa bahwa Bapa begitu nikmat. Ketika kita bersama-sama menyeru, “Ya, Bapa”, terasa begitu manis. Namun, jika kita bertengkar, kita terpecah menjadi banyak kelompok. Dalam situasi yang demikian, kalau kita mencoba menyeru, “Ya, Bapa”, kita kehilangan rasa manis Bapa itu. Rasa manis nama Bapa tergantung pada kesatuan di antara anak-anak-Nya. Ketika kita satu, kita menikmati kemanisan Bapa.
Dalam Yohanes 17:13 Tuhan berkata kepada Bapa, “Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.” Penuh sukacita adalah di dalam kesatuan yang sejati. Ketika kita bersatu dalam nama Bapa melalui hayat Bapa, bersama-sama menikmati Bapa, kita akan dipenuhi oleh sukacita Tuhan di dalam kita. Inilah sebabnya ketika kita benar-benar bersatu, kita dipenuhi dengan puji-pujian kepada Bapa. Pujian ini tidak lain merupakan keluapan sukacita batiniah. Kita bersukacita dalam kesatuan yang meluapkan sukacita.
Kesatuan yang misteri ini dikerjakan oleh Allah, supaya semua kelimpahan Kristus yang tidak terduga itu menjadi milik kita. Semua milik Kristus adalah milik kita. Allah sudah memberikan kekudusan, kesempurnaan, hayat, kekuatan, dan kelimpahan-Nya kepada kita. Allah menyuruh kita bersatu dengan-Nya, supaya Dia menjadi Kepala, pokok pohon, dan makanan kita. Sekarang Dia adalah kebenaran, kekudusan, penebusan kita, sekarang Dia akan memperhidupkan hayat-Nya dari dalam kita.
Sekarang, Allah pun mengundang kita, juga memerintahkan kita untuk percaya dan bersatu dengan Tuhan Yesus, sama seperti Tuhan Yesus bersatu dengan Allah. Oleh sebab itu, kesabaran, kelembutan, kesucian, dan semua kebajikan Tuhan lainnya, kini menjadi milik kita.
Yohanes 17:13
Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:13
Kita adalah satu di dalam nama Bapa melalui menikmati diri Bapa sendiri. Sebagai anak-anak Allah, kita semua memiliki Bapa yang sama. Tetapi ketika kita tidak bersama dengan yang lain, kita tidak merasa bahwa kita menikmati Bapa. Semakin kita menjadi satu melalui hayat-Nya, kita semakin merasa bahwa Bapa begitu nikmat. Ketika kita bersama-sama menyeru, “Ya, Bapa”, terasa begitu manis. Namun, jika kita bertengkar, kita terpecah menjadi banyak kelompok. Dalam situasi yang demikian, kalau kita mencoba menyeru, “Ya, Bapa”, kita kehilangan rasa manis Bapa itu. Rasa manis nama Bapa tergantung pada kesatuan di antara anak-anak-Nya. Ketika kita satu, kita menikmati kemanisan Bapa.
Dalam Yohanes 17:13 Tuhan berkata kepada Bapa, “Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.” Penuh sukacita adalah di dalam kesatuan yang sejati. Ketika kita bersatu dalam nama Bapa melalui hayat Bapa, bersama-sama menikmati Bapa, kita akan dipenuhi oleh sukacita Tuhan di dalam kita. Inilah sebabnya ketika kita benar-benar bersatu, kita dipenuhi dengan puji-pujian kepada Bapa. Pujian ini tidak lain merupakan keluapan sukacita batiniah. Kita bersukacita dalam kesatuan yang meluapkan sukacita.
Kesatuan yang misteri ini dikerjakan oleh Allah, supaya semua kelimpahan Kristus yang tidak terduga itu menjadi milik kita. Semua milik Kristus adalah milik kita. Allah sudah memberikan kekudusan, kesempurnaan, hayat, kekuatan, dan kelimpahan-Nya kepada kita. Allah menyuruh kita bersatu dengan-Nya, supaya Dia menjadi Kepala, pokok pohon, dan makanan kita. Sekarang Dia adalah kebenaran, kekudusan, penebusan kita, sekarang Dia akan memperhidupkan hayat-Nya dari dalam kita.
Sekarang, Allah pun mengundang kita, juga memerintahkan kita untuk percaya dan bersatu dengan Tuhan Yesus, sama seperti Tuhan Yesus bersatu dengan Allah. Oleh sebab itu, kesabaran, kelembutan, kesucian, dan semua kebajikan Tuhan lainnya, kini menjadi milik kita.
20 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 4 Senin
Syarat dan Hasil Pemeliharaan dan Penjagaan Tuhan
Yohanes 17:12
Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa...
Ayat Bacaan: 1 Ptr. 1:5; 2 Tim. 1:12; Yud. 24
Satu Petrus 1:5 mengatakan, “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu.” Ini menampakkan kepada kita bahwa Allah memelihara orang yang percaya kepada-Nya. Jika Anda mengira bahwa segala cobaan yang menimpa diri Anda harus Anda tanggulangi sendiri, Anda telah salah. Anda harus percaya kepada kekuatan pemeliharaan Allah. Anda harus percaya Allah dapat memelihara Anda sehingga Anda terlepas dari segala dosa. Jika Anda demikian percaya, maka Anda akan melihat satu perkara yang ajaib. Ketika Anda melihat banyak pencobaan yang tiba-tiba bermunculan, entah bagaimana, ada satu benda (yaitu perisai yang dikatakan Alkitab) menghadang di sana, sehingga semua panah api terlempar kembali kepada Iblis.
Paulus berkata, “Aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2 Tim. 1:12). Di sini Paulus berbuat satu hal, yaitu berserah kepada-Nya. Anda telah percaya kepada-Nya, seharusnyalah Anda juga berserah kepada-Nya. Tuhan hanya bisa memelihara mereka yang telah berserah kepada-Nya. Banyak orang yang tidak dapat memperoleh kebaikan kekuatan pemeliharaan Allah karena mereka selamanya belum pernah menyerahkan dirinya ke tangan Allah sambil berkata, “Ya, Allah, aku meletakkan diriku ke tangan-Mu, biarlah Engkau yang memelihara.” Jika Anda benar-benar dapat berserah kepada-Nya, Anda akan seperti Paulus berkata, “Aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.”
Jika kita benar-benar telah berserah, maka janji dalam surat Yudas ayat 24 akan tergenapi atas diri kita — “. . . menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu tanpa bernoda . . .” Tersandung berarti juga telah terpeleset, tersandung terjadi ketika seseorang dengan tanpa disadarinya telah membentur sesuatu sehingga terpeleset. Syukur kepada Allah! Dia tidak saja menjaga supaya kita tidak jatuh, bahkan menjaga kita sehingga terpeleset pun tidak. Puji syukur kepada Allah karena karunia pemeliharaan-Nya terjadi pada saat kita tidak menyadarinya.
Yohanes 17:12
Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa...
Ayat Bacaan: 1 Ptr. 1:5; 2 Tim. 1:12; Yud. 24
Satu Petrus 1:5 mengatakan, “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu.” Ini menampakkan kepada kita bahwa Allah memelihara orang yang percaya kepada-Nya. Jika Anda mengira bahwa segala cobaan yang menimpa diri Anda harus Anda tanggulangi sendiri, Anda telah salah. Anda harus percaya kepada kekuatan pemeliharaan Allah. Anda harus percaya Allah dapat memelihara Anda sehingga Anda terlepas dari segala dosa. Jika Anda demikian percaya, maka Anda akan melihat satu perkara yang ajaib. Ketika Anda melihat banyak pencobaan yang tiba-tiba bermunculan, entah bagaimana, ada satu benda (yaitu perisai yang dikatakan Alkitab) menghadang di sana, sehingga semua panah api terlempar kembali kepada Iblis.
Paulus berkata, “Aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2 Tim. 1:12). Di sini Paulus berbuat satu hal, yaitu berserah kepada-Nya. Anda telah percaya kepada-Nya, seharusnyalah Anda juga berserah kepada-Nya. Tuhan hanya bisa memelihara mereka yang telah berserah kepada-Nya. Banyak orang yang tidak dapat memperoleh kebaikan kekuatan pemeliharaan Allah karena mereka selamanya belum pernah menyerahkan dirinya ke tangan Allah sambil berkata, “Ya, Allah, aku meletakkan diriku ke tangan-Mu, biarlah Engkau yang memelihara.” Jika Anda benar-benar dapat berserah kepada-Nya, Anda akan seperti Paulus berkata, “Aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.”
Jika kita benar-benar telah berserah, maka janji dalam surat Yudas ayat 24 akan tergenapi atas diri kita — “. . . menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu tanpa bernoda . . .” Tersandung berarti juga telah terpeleset, tersandung terjadi ketika seseorang dengan tanpa disadarinya telah membentur sesuatu sehingga terpeleset. Syukur kepada Allah! Dia tidak saja menjaga supaya kita tidak jatuh, bahkan menjaga kita sehingga terpeleset pun tidak. Puji syukur kepada Allah karena karunia pemeliharaan-Nya terjadi pada saat kita tidak menyadarinya.
19 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 4 Minggu
Tuhan Memelihara dan Menjaga Kita
Yohanes 17:12
Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa...
Ayat Bacaan: Yoh. 17:12; Yos. 14:11, 14; 13:30
Ada satu perkara yang menyedihkan yaitu ada orang Kristen yang dapat percaya adanya kekuatan penyelamatan Allah, tetapi tidak dapat percaya adanya kekuatan pemeliharaan Allah. Mereka telah mendapatkan karunia penyelamatan Allah, tetapi seolah tidak mendapatkan karunia pemeliharaan Allah. Mereka tidak mengetahui bahwa yang memberi karunia adalah Allah, dan yang akan memelihara karunia itu juga adalah Allah. Sekarang kita akan melihat bagaimana kita mendapatkan pemeliharaan Allah setelah kita beroleh selamat.
Dalam Yosua 14:11, Kaleb berkata: “Pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” Kekuatan Kaleb pada waktu itu bagaimana, sampai hari ini kekuatannya tetap begitu. Ia tetap kuat, sedikit pun tidak berkurang kekuatannya. Ini tidak lain karena Allah memelihara dia.
Apakah syaratnya sehingga Kaleb dipelihara Allah? Yosua 14:14 mengatakan, “Karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati.” Bagaimanakah Kaleb dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan? Kita dapat melihatnya dalam Kitab Bilangan pasal tiga belas sampai pasal empat belas. Bilangan 13:30 mengatakan, “Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” Oh, kita pasti akan mengalahkannya! Orang yang dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan adalah orang yang percaya bahwa janji Allah dapat diandalkan.
Kita harus ingat bahwa Allah bisa memelihara kita itu ada syaratnya. Jika kita tidak percaya kepada Allah, Allah tentu tidak akan memelihara kita. Setiap hari, ketika kita bangun pagi, berkatalah kepada Allah, “Ya, Allah, aku bersyukur kepada-Mu, kemarin Engkau telah memelihara aku, hari ini Engkau tetap memelihara. Aku tidak tahu berapa banyak pencobaan yang akan menimpaku pada hari ini, aku juga tidak tahu bagaimana aku dapat menang, aku sendiri tidak berdaya, tetapi aku percaya bahwa Engkau pasti memelihara aku.”
Yohanes 17:12
Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa...
Ayat Bacaan: Yoh. 17:12; Yos. 14:11, 14; 13:30
Ada satu perkara yang menyedihkan yaitu ada orang Kristen yang dapat percaya adanya kekuatan penyelamatan Allah, tetapi tidak dapat percaya adanya kekuatan pemeliharaan Allah. Mereka telah mendapatkan karunia penyelamatan Allah, tetapi seolah tidak mendapatkan karunia pemeliharaan Allah. Mereka tidak mengetahui bahwa yang memberi karunia adalah Allah, dan yang akan memelihara karunia itu juga adalah Allah. Sekarang kita akan melihat bagaimana kita mendapatkan pemeliharaan Allah setelah kita beroleh selamat.
Dalam Yosua 14:11, Kaleb berkata: “Pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” Kekuatan Kaleb pada waktu itu bagaimana, sampai hari ini kekuatannya tetap begitu. Ia tetap kuat, sedikit pun tidak berkurang kekuatannya. Ini tidak lain karena Allah memelihara dia.
Apakah syaratnya sehingga Kaleb dipelihara Allah? Yosua 14:14 mengatakan, “Karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati.” Bagaimanakah Kaleb dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan? Kita dapat melihatnya dalam Kitab Bilangan pasal tiga belas sampai pasal empat belas. Bilangan 13:30 mengatakan, “Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” Oh, kita pasti akan mengalahkannya! Orang yang dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan adalah orang yang percaya bahwa janji Allah dapat diandalkan.
Kita harus ingat bahwa Allah bisa memelihara kita itu ada syaratnya. Jika kita tidak percaya kepada Allah, Allah tentu tidak akan memelihara kita. Setiap hari, ketika kita bangun pagi, berkatalah kepada Allah, “Ya, Allah, aku bersyukur kepada-Mu, kemarin Engkau telah memelihara aku, hari ini Engkau tetap memelihara. Aku tidak tahu berapa banyak pencobaan yang akan menimpaku pada hari ini, aku juga tidak tahu bagaimana aku dapat menang, aku sendiri tidak berdaya, tetapi aku percaya bahwa Engkau pasti memelihara aku.”
18 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 3 Sabtu
Dipelihara dalam Nama Bapa
Yohanes 17:11
Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:11
Dipelihara dalam nama Bapa ialah dipelihara oleh hayat-Nya, sebab hanya mereka yang dilahirkan Bapa dan mempunyai hayat Bapa dapat berpartisipasi dalam nama Bapa. Putra telah memberi hayat Bapa kepada mereka yang Bapa berikan kepada-Nya. Mereka beroleh bagian nama Bapa melalui dipelihara dalamnya dan mereka adalah satu di dalamnya. Kaum imani adalah esa dalam nama Bapa oleh hayat kekal. Bersatu dalam nama Bapa bukan dipelihara dalam keesaan yang hanya sebutan.
Misalnya ada lima saudara sekandung. Mereka semua dilahirkan oleh seorang ayah dan memiliki hayat yang sama. Hayat yang mereka terima dari ayah mereka ialah realitas ayah mereka. Ayah mereka adalah riil bagi mereka, sebab mereka mempunyai hayatnya. Boleh jadi saudara ini tidak senang satu dengan yang lain, apa yang wajib mereka perbuat? Haruskah mereka berpisah berjauhan? Tidak, walaupun mereka mungkin tidak senang satu sama, namun di batin mereka terdapat sesuatu yang mengikat mereka bersama dan membuat mereka berkata, “Saudara, kita memiliki satu ayah dan harusnya tidak berpisah. Kita wajib bersatu, kita wajib esa.” Dengan demikian mereka dipelihara dalam keesaan di dalam nama ayah mereka.
Orang Kristen hari ini diceraikan oleh opini besar mereka. Ketika opini mereka terlalu berkembang, ukuran tinggi mereka dalam hayat sama seperti orang kerdil. Semakin Anda berkembang dalam pikiran Anda, maka hayat Anda akan semakin kerdil. Pikiran yang terlalu berkembang ini menyebabkan perpecahan. Kalau kita membiarkan hayat batiniah berkembang, kita semua akan dipersatukan dalam hayat Bapa. Kalau kita tinggal dalam hayat Bapa, kita semua akan esa.
Oh, betapa kita perlu dipelihara dalam hayat Bapa! Janganlah mempedulikan kesukaan atau kebencian Anda. Perasaan Anda dapat menyebabkan Anda tidak senang dengan saya, tetapi kita harus melupakan semua perkara itu dan memperhatikan hayat yang di dalam. Di dalam batin Anda, Anda memiliki hayat Bapa, dan saya pun juga. Kita semua mempunyai hayat Bapa dan oleh hayat kekal Bapa kita, kita adalah satu.
Yohanes 17:11
Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:11
Dipelihara dalam nama Bapa ialah dipelihara oleh hayat-Nya, sebab hanya mereka yang dilahirkan Bapa dan mempunyai hayat Bapa dapat berpartisipasi dalam nama Bapa. Putra telah memberi hayat Bapa kepada mereka yang Bapa berikan kepada-Nya. Mereka beroleh bagian nama Bapa melalui dipelihara dalamnya dan mereka adalah satu di dalamnya. Kaum imani adalah esa dalam nama Bapa oleh hayat kekal. Bersatu dalam nama Bapa bukan dipelihara dalam keesaan yang hanya sebutan.
Misalnya ada lima saudara sekandung. Mereka semua dilahirkan oleh seorang ayah dan memiliki hayat yang sama. Hayat yang mereka terima dari ayah mereka ialah realitas ayah mereka. Ayah mereka adalah riil bagi mereka, sebab mereka mempunyai hayatnya. Boleh jadi saudara ini tidak senang satu dengan yang lain, apa yang wajib mereka perbuat? Haruskah mereka berpisah berjauhan? Tidak, walaupun mereka mungkin tidak senang satu sama, namun di batin mereka terdapat sesuatu yang mengikat mereka bersama dan membuat mereka berkata, “Saudara, kita memiliki satu ayah dan harusnya tidak berpisah. Kita wajib bersatu, kita wajib esa.” Dengan demikian mereka dipelihara dalam keesaan di dalam nama ayah mereka.
Orang Kristen hari ini diceraikan oleh opini besar mereka. Ketika opini mereka terlalu berkembang, ukuran tinggi mereka dalam hayat sama seperti orang kerdil. Semakin Anda berkembang dalam pikiran Anda, maka hayat Anda akan semakin kerdil. Pikiran yang terlalu berkembang ini menyebabkan perpecahan. Kalau kita membiarkan hayat batiniah berkembang, kita semua akan dipersatukan dalam hayat Bapa. Kalau kita tinggal dalam hayat Bapa, kita semua akan esa.
Oh, betapa kita perlu dipelihara dalam hayat Bapa! Janganlah mempedulikan kesukaan atau kebencian Anda. Perasaan Anda dapat menyebabkan Anda tidak senang dengan saya, tetapi kita harus melupakan semua perkara itu dan memperhatikan hayat yang di dalam. Di dalam batin Anda, Anda memiliki hayat Bapa, dan saya pun juga. Kita semua mempunyai hayat Bapa dan oleh hayat kekal Bapa kita, kita adalah satu.
17 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 3 Jumat
Berdoa Bagi Kaum Imani
Yohanes 17:9
Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu
Ayat Bacaan: Yoh. 17: 6-24; Ibr. 7:25; Why. 22:20
Dalam Yohanes 17:6-24, Tuhan berdoa bagi kaum imani supaya dibangun menjadi satu. Keesaan ini dalam tiga tahap: dalam nama Bapa oleh hayat yang kekal (ay. 6-13); dalam Allah Tritunggal melalui pengudusan oleh firman kudus (ay. 14-21); dan dalam kemuliaan ilahi untuk ekspresi Allah Tritunggal (ay. 22-24). Untuk keesaan, haruslah ada pembangunan. Tanpa pembangunan, tiada keesaan. Janganlah mengira bahwa menumpuk bahan-bahan material ialah keesaan. Tidak, itu bukan keesaan. Lihat sebuah rumah, terdapat keesaan sejati di antara semua bahan dalam rumah, dan keesaan itu ialah pembangunan. Setiap bahan digandengkan dengan tepat sekali. Inilah keesaan.
Menurut Ibrani 7:25 Tuhan bersyafaat bagi kita. Dia berdoa untuk kita. Dia berdoa untuk setiap orang di antara kita secara pribadi dan kolektif (korporat) pada saat ini juga. Tuhan senantiasa untuk bersyafaat bagi kita. Tuhan berdoa bagi keesaan yang sejati. Tetapi lihatlah situasi hari ini! Tubuh yang esa berada di mana? Bahu takut kepada leher, sehingga ingin tetap berjarak aman dengannya. Mata juga takut kepada hidung, mengatakan, “Hai saudara hidung, engkau terlalu kuat. Aku tidak berani tinggal bersamamu.” Kebanyakan pekerja Kristen segan bersatu dengan yang lain. Situasi demikian bukan keesaan. Keesaan yang sejati ialah pembangunan. Lihatlah keesaan tubuh jasmani Anda: keesaan itu ialah masalah dibangunkan. Kita semua wajib nampak bahwa pembangunan ini yang dikehendaki Tuhan.
Jika hari ini kita terpecah, tubuh Tuhan tidak bisa terbangun. Keesaan begitu penting bagi Kristus, karunia-karunia yang telah disempurnakan, dan kaum saleh yang telah disempurnakan adalah bagi pembangunan Tubuh Kristus. Jika tidak terdapat keesaan, adalah mustahil untuk membangun Tubuh Kristus. Kristus tidak terbagi. Dia hanya memiliki satu Tubuh; karena itu, setiap orang yang berhubungan dengan pembangunan satu Tubuh Kristus harus berada di dalam keesaan. Menurut Alkitab, setiap orang yang menjadi milik Tuhan adalah anggota Tubuh Tuhan, sebab itu semuanya adalah sekerja; bersama-sama melakukan satu pekerjaan, membangun Tubuh Kristus.
Yohanes 17:9
Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu
Ayat Bacaan: Yoh. 17: 6-24; Ibr. 7:25; Why. 22:20
Dalam Yohanes 17:6-24, Tuhan berdoa bagi kaum imani supaya dibangun menjadi satu. Keesaan ini dalam tiga tahap: dalam nama Bapa oleh hayat yang kekal (ay. 6-13); dalam Allah Tritunggal melalui pengudusan oleh firman kudus (ay. 14-21); dan dalam kemuliaan ilahi untuk ekspresi Allah Tritunggal (ay. 22-24). Untuk keesaan, haruslah ada pembangunan. Tanpa pembangunan, tiada keesaan. Janganlah mengira bahwa menumpuk bahan-bahan material ialah keesaan. Tidak, itu bukan keesaan. Lihat sebuah rumah, terdapat keesaan sejati di antara semua bahan dalam rumah, dan keesaan itu ialah pembangunan. Setiap bahan digandengkan dengan tepat sekali. Inilah keesaan.
Menurut Ibrani 7:25 Tuhan bersyafaat bagi kita. Dia berdoa untuk kita. Dia berdoa untuk setiap orang di antara kita secara pribadi dan kolektif (korporat) pada saat ini juga. Tuhan senantiasa untuk bersyafaat bagi kita. Tuhan berdoa bagi keesaan yang sejati. Tetapi lihatlah situasi hari ini! Tubuh yang esa berada di mana? Bahu takut kepada leher, sehingga ingin tetap berjarak aman dengannya. Mata juga takut kepada hidung, mengatakan, “Hai saudara hidung, engkau terlalu kuat. Aku tidak berani tinggal bersamamu.” Kebanyakan pekerja Kristen segan bersatu dengan yang lain. Situasi demikian bukan keesaan. Keesaan yang sejati ialah pembangunan. Lihatlah keesaan tubuh jasmani Anda: keesaan itu ialah masalah dibangunkan. Kita semua wajib nampak bahwa pembangunan ini yang dikehendaki Tuhan.
Jika hari ini kita terpecah, tubuh Tuhan tidak bisa terbangun. Keesaan begitu penting bagi Kristus, karunia-karunia yang telah disempurnakan, dan kaum saleh yang telah disempurnakan adalah bagi pembangunan Tubuh Kristus. Jika tidak terdapat keesaan, adalah mustahil untuk membangun Tubuh Kristus. Kristus tidak terbagi. Dia hanya memiliki satu Tubuh; karena itu, setiap orang yang berhubungan dengan pembangunan satu Tubuh Kristus harus berada di dalam keesaan. Menurut Alkitab, setiap orang yang menjadi milik Tuhan adalah anggota Tubuh Tuhan, sebab itu semuanya adalah sekerja; bersama-sama melakukan satu pekerjaan, membangun Tubuh Kristus.
16 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 3 Kamis
Putra telah Menyatakan Nama Bapa
Yohanes 17:6
Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:6; Rm. 8:15; Gal. 4:6
Bapa ialah nama yang berkaitan dengan hayat. Dalam Perjanjian Baru inilah Tuhan mewahyukan Allah sebagai Bapa yang melahirkan banyak putra. Dialah sumber hayat, maka Dialah Bapa yang menghasilkan sejumlah putra melalui melahirkan kembali mereka dengan hayat-Nya. Itulah maksud tujuan-Nya. Allah adalah Bapa, sebab Ia melahirkan banyak orang dengan hayat-Nya, menjadikan mereka anak-anak-Nya dan putra-Nya.
Betapa manis memanggil Allah Bapa kita! Dalam kitab Matius, Tuhan mengajar murid-murid-Nya memanggil Allah Bapa, “Bapa kami yang ada di surga” (Mat. 6:9). Kapankala kita memanggil Allah sebagai Bapa kita, kita harus menyadari bahwa Dia adalah Bapa kita yang sejati. Dia bukan bapa angkat kita, dan kita bukan anak-anak pungut-Nya. Bapa kita adalah Bapa kita dalam hayat, Bapa sejati kita. Kita memanggil-Nya Bapa karena kita dilahirkan dari-Nya dan memiliki hayat-Nya. Ketika kedua istilah “Abba” dan “Bapa” dipakai secara bersama-sama, hasilnya adalah perasaan yang dalam, manis, perasaan yang luar biasa intim. “Abba, Bapa” sungguh sangat manis.
Roma 8:15 dan Galatia 4:6, keduanya mengatakan tentang menyeru “Abba, Bapa.” Di seluruh dunia, anak-anak kecil menggunakan sebutan ganda, seperti papa atau mama kepada orang tua mereka. Jikalau kita bukan dilahirkan oleh bapa, tetapi harus memanggilnya papa, tentunya sangat canggung, takkan dapat begitu manis. Karena Allah ialah Bapa kita dalam hayat, maka begitu manis ketika kita memanggil Dia, “Abba, Bapa.” Ketika Anda merasakan kemanisan ini, Anda mengetahui bahwa Anda adalah anak-Nya dan Ia benar-benar adalah Bapa Anda dalam hayat.
Allah kita sungguh misteri, kita tak mungkin bisa memahami dengan akal budi kita, tak mungkin menerangkannya melalui ungkapan manusia. Otak kita sangat terbatas. Dia adalah Bapa, juga adalah Allah, juga adalah Tuhan, juga adalah Roh, juga adalah Yesus. Haleluya, pada saat yang diperlukan, Anda berkata, “Ya Tuhan!” di lain kesempatan Anda berkata, “Ya Bapa!” dan di lain kesempatan lagi Anda berkata, “O, Tuhan Yesus!” Nama Bapa kita begitu limpah! Haleluya atas nama Bapa yang begitu manis.
Yohanes 17:6
Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:6; Rm. 8:15; Gal. 4:6
Bapa ialah nama yang berkaitan dengan hayat. Dalam Perjanjian Baru inilah Tuhan mewahyukan Allah sebagai Bapa yang melahirkan banyak putra. Dialah sumber hayat, maka Dialah Bapa yang menghasilkan sejumlah putra melalui melahirkan kembali mereka dengan hayat-Nya. Itulah maksud tujuan-Nya. Allah adalah Bapa, sebab Ia melahirkan banyak orang dengan hayat-Nya, menjadikan mereka anak-anak-Nya dan putra-Nya.
Betapa manis memanggil Allah Bapa kita! Dalam kitab Matius, Tuhan mengajar murid-murid-Nya memanggil Allah Bapa, “Bapa kami yang ada di surga” (Mat. 6:9). Kapankala kita memanggil Allah sebagai Bapa kita, kita harus menyadari bahwa Dia adalah Bapa kita yang sejati. Dia bukan bapa angkat kita, dan kita bukan anak-anak pungut-Nya. Bapa kita adalah Bapa kita dalam hayat, Bapa sejati kita. Kita memanggil-Nya Bapa karena kita dilahirkan dari-Nya dan memiliki hayat-Nya. Ketika kedua istilah “Abba” dan “Bapa” dipakai secara bersama-sama, hasilnya adalah perasaan yang dalam, manis, perasaan yang luar biasa intim. “Abba, Bapa” sungguh sangat manis.
Roma 8:15 dan Galatia 4:6, keduanya mengatakan tentang menyeru “Abba, Bapa.” Di seluruh dunia, anak-anak kecil menggunakan sebutan ganda, seperti papa atau mama kepada orang tua mereka. Jikalau kita bukan dilahirkan oleh bapa, tetapi harus memanggilnya papa, tentunya sangat canggung, takkan dapat begitu manis. Karena Allah ialah Bapa kita dalam hayat, maka begitu manis ketika kita memanggil Dia, “Abba, Bapa.” Ketika Anda merasakan kemanisan ini, Anda mengetahui bahwa Anda adalah anak-Nya dan Ia benar-benar adalah Bapa Anda dalam hayat.
Allah kita sungguh misteri, kita tak mungkin bisa memahami dengan akal budi kita, tak mungkin menerangkannya melalui ungkapan manusia. Otak kita sangat terbatas. Dia adalah Bapa, juga adalah Allah, juga adalah Tuhan, juga adalah Roh, juga adalah Yesus. Haleluya, pada saat yang diperlukan, Anda berkata, “Ya Tuhan!” di lain kesempatan Anda berkata, “Ya Bapa!” dan di lain kesempatan lagi Anda berkata, “O, Tuhan Yesus!” Nama Bapa kita begitu limpah! Haleluya atas nama Bapa yang begitu manis.
15 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 3 Rabu
Putra telah Mempermuliakan Bapa
Yohanes 17:4
Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.
Ayat Bacaan: Yoh. 10:30; 17:4; 12:25, 28, 32; 13:31
Untuk masuk melalui kematian dan kebangkitan Kristus, Bapa dimuliakan melalui Kristus dimuliakan. Kemuliaan adalah Allah mendapatkan kelepasan dan terekspresi. Kematian Kristus telah memuliakan Bapa, karena kematian ini melepaskan hayat ilahi. Setiap kali hayat ilahi di dalam kita dilepaskan, Allah dimuliakan. Melalui kematian, hayat ilahi di dalam kita dilepaskan, dan Bapa sebagai sumber hayat ini, juga mendapatkan mulia. Melalui kematian Kristus, manusia terpikat datang kepada Kristus (Yoh. 12:32).
Tatkala kita mengalami kematian Kristus, maka kita dapat menjadi magnet yang memikat manusia datang kepada Kristus. Daya tarik demikian adalah daya tarik yang tepat, tidak tergantung pada perasaan emosi yang menggairahkan manusia. Setiap manusia yang tersalib adalah magnet. Jika kita ingin gereja di tempat kita berkembang-biak, jika mau memuliakan Allah dan menanggulangi Iblis dan dunianya, kita haruslah menanggalkan hayat jiwa.
Kematian Kristus bukan hanya melepaskan hayat ilahi, juga agar hayat ilahi berkembang-biak. Melalui kematian Kristus, Bapa dimuliakan (Yoh. 12:28; 13:31). Kematian Kristus memuliakan Bapa, karena kematian ini melepaskan hayat ilahi. Saat hayat ilahi dilepaskan dari dalam Yesus, saat itulah Bapa dimuliakan. Kemuliaan adalah Allah mendapatkan kelepasan dan ekspresi. Karena itu, setiap kali hayat ilahi di dalam kita mendapatkan kelepasan melalui menanggalkan hayat jiwa, maka Allah dimuliakan.
Perkara lain yang dirampungkan kematian Kristus adalah menyelamatkan jiwa kita (Yoh. 12:25). Jalan satu-satunya menyelamatkan jiwa kita adalah mati. Semakin kita mati bersama dengan Kristus, maka jiwa kita makin diselamatkan. Kematian Kristus juga telah menghakimi dunia. Sebelum dunia ada, yaitu di dalam kekekalan yang lampau, Dia telah memiliki kemuliaan ilahi bersama Bapa, karena itu kini Dia seharusnya bersama dengan Bapa mendapatkan kemuliaan itu. Tuhan bukan hanya sendirian memiliki kemuliaan itu, Dia memilikinya bersama dengan Bapa, karena Dia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30).
Yohanes 17:4
Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.
Ayat Bacaan: Yoh. 10:30; 17:4; 12:25, 28, 32; 13:31
Untuk masuk melalui kematian dan kebangkitan Kristus, Bapa dimuliakan melalui Kristus dimuliakan. Kemuliaan adalah Allah mendapatkan kelepasan dan terekspresi. Kematian Kristus telah memuliakan Bapa, karena kematian ini melepaskan hayat ilahi. Setiap kali hayat ilahi di dalam kita dilepaskan, Allah dimuliakan. Melalui kematian, hayat ilahi di dalam kita dilepaskan, dan Bapa sebagai sumber hayat ini, juga mendapatkan mulia. Melalui kematian Kristus, manusia terpikat datang kepada Kristus (Yoh. 12:32).
Tatkala kita mengalami kematian Kristus, maka kita dapat menjadi magnet yang memikat manusia datang kepada Kristus. Daya tarik demikian adalah daya tarik yang tepat, tidak tergantung pada perasaan emosi yang menggairahkan manusia. Setiap manusia yang tersalib adalah magnet. Jika kita ingin gereja di tempat kita berkembang-biak, jika mau memuliakan Allah dan menanggulangi Iblis dan dunianya, kita haruslah menanggalkan hayat jiwa.
Kematian Kristus bukan hanya melepaskan hayat ilahi, juga agar hayat ilahi berkembang-biak. Melalui kematian Kristus, Bapa dimuliakan (Yoh. 12:28; 13:31). Kematian Kristus memuliakan Bapa, karena kematian ini melepaskan hayat ilahi. Saat hayat ilahi dilepaskan dari dalam Yesus, saat itulah Bapa dimuliakan. Kemuliaan adalah Allah mendapatkan kelepasan dan ekspresi. Karena itu, setiap kali hayat ilahi di dalam kita mendapatkan kelepasan melalui menanggalkan hayat jiwa, maka Allah dimuliakan.
Perkara lain yang dirampungkan kematian Kristus adalah menyelamatkan jiwa kita (Yoh. 12:25). Jalan satu-satunya menyelamatkan jiwa kita adalah mati. Semakin kita mati bersama dengan Kristus, maka jiwa kita makin diselamatkan. Kematian Kristus juga telah menghakimi dunia. Sebelum dunia ada, yaitu di dalam kekekalan yang lampau, Dia telah memiliki kemuliaan ilahi bersama Bapa, karena itu kini Dia seharusnya bersama dengan Bapa mendapatkan kemuliaan itu. Tuhan bukan hanya sendirian memiliki kemuliaan itu, Dia memilikinya bersama dengan Bapa, karena Dia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30).
14 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 3 Selasa
Memberikan Hayat yang Kekal
Yohanes 17:3
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
Ayat Bacaan: Yoh. 6:57; 17:6, 26; Mat. 11:27; Ibr. 8:11; Flp. 3:10
Hayat kekal adalah hayat ilahi; memiliki fungsi khusus untuk mengenal Allah dan Kristus. Allah dan Kristus itu ilahi. Pengenalan yang penuh, tidak hanya pengenalan obyektif. Mengenai Anak, hanya Bapa yang memiliki pengenalan semacam ini, dan mengenai Bapa, hanya Anak dan dia yang diberi wahyu oleh Anak yang mengenal-Nya. Untuk mengenal Anak, Bapa perlu mewahyukan-Nya (Mat. 16:17),dan untuk mengenal Bapa, perlu Anak mewahyukan-Nya (Yoh. 17:6; Yoh. 17:26).
Yohanes 17:3 mengatakan, “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Hidup kekal hanyalah suatu berkat masa yang akan datang. Hayat kekal adalah hayat ilahi dengan fungsi khusus; mengenal Allah (Mat 11:27) dan Kristus. Setiap hayat mempunyai fungsinya.
Paulus senantiasa menempuh hidup tersalib, seperti Kristus lakukan dalam hidup insani-Nya. Melalui hidup demikian kuasa kebangkitan Kristus dialami dan diekspresikan. Untuk membuat kematian Kristus sebagai cetakan hidup seseorang; ini mengacu kepada pengalaman Kristus terus-menerus mematikan hayat insani-Nya agar dapat hidup dengan hayat Allah (Yoh. 6:57). Hidup kita harus diserupakan dengan cetakan semacam itu melalui kematian kita terhadap hayat insani kita untuk menempuh hidup yang ilahi. Diserupakan dengan kematian Kristus adalah syarat untuk mengenal dan mengalami Dia, kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan penderitaan-Nya.
Untuk mengenal hal-hal ilahi, kita perlu hayat ilahi. Oleh karena kaum imani dilahirkan dengan hayat ilahi, mereka mengenal Allah dan Kristus (Ibr. 8:11, Flp. 3:10). Kaum imani Perjanjian Baru mempunyai hayat ilahi, dan hayat ilahi itulah hayat yang mengenal Allah. Allah yang telah datang melalui inkarnasi dan telah memberi kita suatu kemampuan untuk mengenal Dia sebagai Allah yang sejati dan bersatu dengan Dia secara organik dalam Anak-Nya, Yesus Kristus. Saudara-saudari segala apa adanya Allah yang benar dan sejati ini terhadap kita adalah hayat kekal bagi kita, supaya kita dapat mengambil bagian akan Dia sebagai segala sesuatu bagi kita.
Yohanes 17:3
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
Ayat Bacaan: Yoh. 6:57; 17:6, 26; Mat. 11:27; Ibr. 8:11; Flp. 3:10
Hayat kekal adalah hayat ilahi; memiliki fungsi khusus untuk mengenal Allah dan Kristus. Allah dan Kristus itu ilahi. Pengenalan yang penuh, tidak hanya pengenalan obyektif. Mengenai Anak, hanya Bapa yang memiliki pengenalan semacam ini, dan mengenai Bapa, hanya Anak dan dia yang diberi wahyu oleh Anak yang mengenal-Nya. Untuk mengenal Anak, Bapa perlu mewahyukan-Nya (Mat. 16:17),dan untuk mengenal Bapa, perlu Anak mewahyukan-Nya (Yoh. 17:6; Yoh. 17:26).
Yohanes 17:3 mengatakan, “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Hidup kekal hanyalah suatu berkat masa yang akan datang. Hayat kekal adalah hayat ilahi dengan fungsi khusus; mengenal Allah (Mat 11:27) dan Kristus. Setiap hayat mempunyai fungsinya.
Paulus senantiasa menempuh hidup tersalib, seperti Kristus lakukan dalam hidup insani-Nya. Melalui hidup demikian kuasa kebangkitan Kristus dialami dan diekspresikan. Untuk membuat kematian Kristus sebagai cetakan hidup seseorang; ini mengacu kepada pengalaman Kristus terus-menerus mematikan hayat insani-Nya agar dapat hidup dengan hayat Allah (Yoh. 6:57). Hidup kita harus diserupakan dengan cetakan semacam itu melalui kematian kita terhadap hayat insani kita untuk menempuh hidup yang ilahi. Diserupakan dengan kematian Kristus adalah syarat untuk mengenal dan mengalami Dia, kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan penderitaan-Nya.
Untuk mengenal hal-hal ilahi, kita perlu hayat ilahi. Oleh karena kaum imani dilahirkan dengan hayat ilahi, mereka mengenal Allah dan Kristus (Ibr. 8:11, Flp. 3:10). Kaum imani Perjanjian Baru mempunyai hayat ilahi, dan hayat ilahi itulah hayat yang mengenal Allah. Allah yang telah datang melalui inkarnasi dan telah memberi kita suatu kemampuan untuk mengenal Dia sebagai Allah yang sejati dan bersatu dengan Dia secara organik dalam Anak-Nya, Yesus Kristus. Saudara-saudari segala apa adanya Allah yang benar dan sejati ini terhadap kita adalah hayat kekal bagi kita, supaya kita dapat mengambil bagian akan Dia sebagai segala sesuatu bagi kita.
13 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 3 Senin
Memberikan Kuasa atas Segala yang Hidup
Yohanes 17:2
Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:2; 3:15; Mat. 28:18
Tuhan memiliki kuasa Bapa untuk mengatur semua manusia, sehingga Dia bisa memberikan hayat yang kekal kepada manusia, yakni mereka yang telah dipilih Bapa. Kita nampak bahwa keilahian dan wujud Putra adalah sama seperti Bapa. Putra ialah ilahi, tepat sama seperti Bapa. Wujud Bapa adalah wujud Putra. Yohanes 17:2 Tuhan mengatakan, “Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.” Putra memiliki kuasa Bapa atas seluruh umat manusia sehingga Ia dapat memberi hidup kekal. Bapa telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, atas seluruh umat manusia. Seluruh umat manusia di bawah kuasa Putra sebab Bapa telah mempercayakan kekuasaan kepada-Nya.
Bapa telah memberi Putra kekuasaan tidak saja untuk menguasai umat manusia, tetapi juga untuk mempertahankan umat manusia. Allah Sang Putra menggunakan kekuasaan-Nya memelihara umat manusia agar kita dapat hidup di bumi.Tuhan berkuasa memerintah seluruh manusia, agar Ia dapat memberi hidup kekal kepada semua orang yang Bapa berikan kepada-Nya. Tuhan menciptakan manusia, menggunakan kuasa-Nya atas manusia dan menebus beberapa di antara mereka dengan maksud memberi mereka hayat kekal.
Sebagai seorang yang telah diberikan kepada Putra Allah yang kekasih, kita boleh berkata, “Saya berharga, mahal, indah dan manis.” Jikalau kita nampak hal ini, pandangan, sikap dan konsepsi kita seluruhnya akan berubah, tidak saja tentang diri kita pribadi, tetapi juga tentang semua kaum saleh. Percayakah Anda bahwa semua saudara-saudari yang kekasih ialah hadiah bagi Putra? Percayakah Anda bahwa orang yang tidak Anda senangi ialah hadiah sedemikian? Kalau Anda nampak hal ini, Anda akan mengasihi setiap umat saleh, sebab setiap umat saleh yang kekasih ialah hadiah yang telah dipilih oleh Bapa dan diberikan kepada Putra. Bapa telah memilih kita dari antara bermilyar-milyar orang. Kita semua adalah kaum terpilih, kaum yang ditentukan Bapa bagi Kristus, Putra-Nya.
Yohanes 17:2
Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 17:2; 3:15; Mat. 28:18
Tuhan memiliki kuasa Bapa untuk mengatur semua manusia, sehingga Dia bisa memberikan hayat yang kekal kepada manusia, yakni mereka yang telah dipilih Bapa. Kita nampak bahwa keilahian dan wujud Putra adalah sama seperti Bapa. Putra ialah ilahi, tepat sama seperti Bapa. Wujud Bapa adalah wujud Putra. Yohanes 17:2 Tuhan mengatakan, “Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.” Putra memiliki kuasa Bapa atas seluruh umat manusia sehingga Ia dapat memberi hidup kekal. Bapa telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, atas seluruh umat manusia. Seluruh umat manusia di bawah kuasa Putra sebab Bapa telah mempercayakan kekuasaan kepada-Nya.
Bapa telah memberi Putra kekuasaan tidak saja untuk menguasai umat manusia, tetapi juga untuk mempertahankan umat manusia. Allah Sang Putra menggunakan kekuasaan-Nya memelihara umat manusia agar kita dapat hidup di bumi.Tuhan berkuasa memerintah seluruh manusia, agar Ia dapat memberi hidup kekal kepada semua orang yang Bapa berikan kepada-Nya. Tuhan menciptakan manusia, menggunakan kuasa-Nya atas manusia dan menebus beberapa di antara mereka dengan maksud memberi mereka hayat kekal.
Sebagai seorang yang telah diberikan kepada Putra Allah yang kekasih, kita boleh berkata, “Saya berharga, mahal, indah dan manis.” Jikalau kita nampak hal ini, pandangan, sikap dan konsepsi kita seluruhnya akan berubah, tidak saja tentang diri kita pribadi, tetapi juga tentang semua kaum saleh. Percayakah Anda bahwa semua saudara-saudari yang kekasih ialah hadiah bagi Putra? Percayakah Anda bahwa orang yang tidak Anda senangi ialah hadiah sedemikian? Kalau Anda nampak hal ini, Anda akan mengasihi setiap umat saleh, sebab setiap umat saleh yang kekasih ialah hadiah yang telah dipilih oleh Bapa dan diberikan kepada Putra. Bapa telah memilih kita dari antara bermilyar-milyar orang. Kita semua adalah kaum terpilih, kaum yang ditentukan Bapa bagi Kristus, Putra-Nya.
12 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 3 Minggu
Permuliakanlah Anak-Mu
Yohanes 17:1
Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.”
Ayat Bacaan: Yoh. 17:1, 14; Luk. 24:26; Ef. 3:21; 1 Tim. 3:15-16
Dasar doa Tuhan ialah kemuliaan. Yohanes 17:1 Tuhan berkata, “Bapa telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau.” Apa artinya Anak dimuliakan agar Bapa dapat dimuliakan? Bapa memuliakan Anak agar Anak dapat memuliakan Bapa. Bapa dimuliakan di dalam Putra melalui organisme pohon anggur, untuk pemkembangbiakan dan penyebaran hayat, pelipatgandaan dan reproduksi hayat dan untuk ekspresi Allah Tritunggal. Dia adalah Allah berinkarnasi dalam daging, dan daging-Nya adalah kemah bagi Allah untuk tinggal di bumi (Yoh. 1:14).
Sebelum doa ini, Tuhan menubuatkan bahwa Dia akan dimuliakan dan Bapa juga akan dimuliakan di dalam diri-Nya. Tuhan Yesus akan melewati mati agar tempurung insani-Nya bisa terpecahkan, sehinga unsur ilahi-Nya, hayat ilahi-Nya, terbebaskan. Tuhan Yesus juga akan bangkit untuk meninggikan keinsanian-Nya ke dalam unsur ilahi, supaya unsur ilahi-Nya terekspresikan, sehingga antero diri-Nya, keilahian dan keinsanian-Nya, dimuliakan. Dengan jalan demikian, Bapa juga dimuliakan di atas diri Putra.
Doa Tuhan mengenai misteri ilahi digenapi dalam tiga tahap. Pertama, digenapi pada kebangkitan-Nya. Hayat ilahi-Nya terbebaskan dari dalam insani-Nya (Luk. 24:26). Kedua, digenapi di dalam gereja. Ini dikarenakan hayat kebangkitan-Nya telah diekspresikan melalui banyak anggota Tubuh-Nya, demikian Ia dimuliakan di dalam mereka, dan Bapa dimuliakan di dalam Dia melalui gereja (Ef. 3:21; 1 Tim. 3:15-16). Ketiga, dirampungkan dalam Yerusalem Baru. Pada waktu itu Kristus akan mendapatkan ekspresi yang sempurna dalam kemuliaan.
Kemuliaan Allah adalah ekspresi Allah, Allah diekspresikan. Dalam rencana kekal Allah, kita telah ditakdirkan untuk kemuliaan ini dan dipanggil untuk itu (1 Kor. 2:7; 1 Ptr. 5:10; 1 Tes. 2:12). Hari ini kita semua sedang ditransformasi ke dalam kemuliaan ini (2 Kor. 3:18) dan akan dibawa masuk ke dalamnya (Ibr. 2:10). Akhirnya, kita akan dimuliakan bersama Kristus (Rm. 8:17, 30) untuk mengemban kemuliaan Allah bagi ekspresi-Nya dalam Yerusalem Baru, di mana Allah akan memiliki kepuasan dalam kasih dan perhentian yang puncak.
Yohanes 17:1
Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.”
Ayat Bacaan: Yoh. 17:1, 14; Luk. 24:26; Ef. 3:21; 1 Tim. 3:15-16
Dasar doa Tuhan ialah kemuliaan. Yohanes 17:1 Tuhan berkata, “Bapa telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau.” Apa artinya Anak dimuliakan agar Bapa dapat dimuliakan? Bapa memuliakan Anak agar Anak dapat memuliakan Bapa. Bapa dimuliakan di dalam Putra melalui organisme pohon anggur, untuk pemkembangbiakan dan penyebaran hayat, pelipatgandaan dan reproduksi hayat dan untuk ekspresi Allah Tritunggal. Dia adalah Allah berinkarnasi dalam daging, dan daging-Nya adalah kemah bagi Allah untuk tinggal di bumi (Yoh. 1:14).
Sebelum doa ini, Tuhan menubuatkan bahwa Dia akan dimuliakan dan Bapa juga akan dimuliakan di dalam diri-Nya. Tuhan Yesus akan melewati mati agar tempurung insani-Nya bisa terpecahkan, sehinga unsur ilahi-Nya, hayat ilahi-Nya, terbebaskan. Tuhan Yesus juga akan bangkit untuk meninggikan keinsanian-Nya ke dalam unsur ilahi, supaya unsur ilahi-Nya terekspresikan, sehingga antero diri-Nya, keilahian dan keinsanian-Nya, dimuliakan. Dengan jalan demikian, Bapa juga dimuliakan di atas diri Putra.
Doa Tuhan mengenai misteri ilahi digenapi dalam tiga tahap. Pertama, digenapi pada kebangkitan-Nya. Hayat ilahi-Nya terbebaskan dari dalam insani-Nya (Luk. 24:26). Kedua, digenapi di dalam gereja. Ini dikarenakan hayat kebangkitan-Nya telah diekspresikan melalui banyak anggota Tubuh-Nya, demikian Ia dimuliakan di dalam mereka, dan Bapa dimuliakan di dalam Dia melalui gereja (Ef. 3:21; 1 Tim. 3:15-16). Ketiga, dirampungkan dalam Yerusalem Baru. Pada waktu itu Kristus akan mendapatkan ekspresi yang sempurna dalam kemuliaan.
Kemuliaan Allah adalah ekspresi Allah, Allah diekspresikan. Dalam rencana kekal Allah, kita telah ditakdirkan untuk kemuliaan ini dan dipanggil untuk itu (1 Kor. 2:7; 1 Ptr. 5:10; 1 Tes. 2:12). Hari ini kita semua sedang ditransformasi ke dalam kemuliaan ini (2 Kor. 3:18) dan akan dibawa masuk ke dalamnya (Ibr. 2:10). Akhirnya, kita akan dimuliakan bersama Kristus (Rm. 8:17, 30) untuk mengemban kemuliaan Allah bagi ekspresi-Nya dalam Yerusalem Baru, di mana Allah akan memiliki kepuasan dalam kasih dan perhentian yang puncak.
11 September 2009
Yohanes Volume 6 - Minggu 2 Sabtu
Damai Sejahtera Kutinggalkan Bagimu
Yohanes 16:33
Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.
Ayat Bacaan: Yoh. 14:30; 16:33; 1 Yoh. 5:4-5
Tuhan berkata “Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Ini adalah perkataan Tuhan untuk menguatkan murid-murid-Nya, sebab mereka masih hidup di dunia yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan. Dunia ini selalu mempersulit murid-murid. Karena itu murid-murid perlu tetap tinggal di dalam damai sejahtera Tuhan, sehingga mereka dapat mengalami kedamaian dan kemenangan.
Kunci kemenangan selalu berhubungan dengan iman antara kita dengan Anak Allah yang menang (1 Yoh. 5:4-5). Dia berkata, “Tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33). Dia juga menegaskan bahwa “pengusa dunia . . . tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku” (Yoh. 14:30). Dia berkata demikian, karena Dia telah menang. Melalui kemenangan-Nya, penguasa dunia telah diusir.
Meskipun Tuhan telah mati dan telah dibangkitkan, tetapi kita masih berada di dunia yang tiada damai sejahtera. Dalam dunia ini kita hanya ada kesulitan. Tetapi Tuhan sendiri menjadi damai sejahtera kita, dan kita dapat mempunyai damai sejahtera dalam Dia. Tak peduli berapa banyak dunia ini menyulitkan dan menganiaya kita, Tuhan telah mengalahkan dunia. Kita tak perlu kuatir atau takut kepada dunia. Biarkanlah dunia menganiaya dan menyusahkan kita. Tuhan adalah damai sejahtera kita, dan Dia telah mengalahkan dunia.
Iblis seringkali memakai sistem perekonomian, dunia pekerjaan, situasi lingkungan, pendidikan dan lain sebagainya untuk menekan manusia, sehingga manusia meninggalkan Allah, bahkan kehilangan damai sejahtera. Ini bukan saja melanda orang-orang yang belum percaya, tetapi anak-anak Allah yang tidak tinggal di dalam iman, mereka juga akan kehilangan damai sejahtera. Kunci untuk mengalahkan dunia adalah iman kita (1 Yoh. 5:4).
Menurut Ibrani “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr. 11:1). Karena itu, betapa pentingnya sebuah iman bagi orang-orang yang berjalan di jalan Tuhan. Mendengarkan perkataan Tuhan adalah jalan bagi kita agar Iman kita dikuatkan. Iman adalah dasar kekuatan kita untuk dapat melampaui segala kesulitan.
Yohanes 16:33
Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.
Ayat Bacaan: Yoh. 14:30; 16:33; 1 Yoh. 5:4-5
Tuhan berkata “Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Ini adalah perkataan Tuhan untuk menguatkan murid-murid-Nya, sebab mereka masih hidup di dunia yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan. Dunia ini selalu mempersulit murid-murid. Karena itu murid-murid perlu tetap tinggal di dalam damai sejahtera Tuhan, sehingga mereka dapat mengalami kedamaian dan kemenangan.
Kunci kemenangan selalu berhubungan dengan iman antara kita dengan Anak Allah yang menang (1 Yoh. 5:4-5). Dia berkata, “Tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33). Dia juga menegaskan bahwa “pengusa dunia . . . tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku” (Yoh. 14:30). Dia berkata demikian, karena Dia telah menang. Melalui kemenangan-Nya, penguasa dunia telah diusir.
Meskipun Tuhan telah mati dan telah dibangkitkan, tetapi kita masih berada di dunia yang tiada damai sejahtera. Dalam dunia ini kita hanya ada kesulitan. Tetapi Tuhan sendiri menjadi damai sejahtera kita, dan kita dapat mempunyai damai sejahtera dalam Dia. Tak peduli berapa banyak dunia ini menyulitkan dan menganiaya kita, Tuhan telah mengalahkan dunia. Kita tak perlu kuatir atau takut kepada dunia. Biarkanlah dunia menganiaya dan menyusahkan kita. Tuhan adalah damai sejahtera kita, dan Dia telah mengalahkan dunia.
Iblis seringkali memakai sistem perekonomian, dunia pekerjaan, situasi lingkungan, pendidikan dan lain sebagainya untuk menekan manusia, sehingga manusia meninggalkan Allah, bahkan kehilangan damai sejahtera. Ini bukan saja melanda orang-orang yang belum percaya, tetapi anak-anak Allah yang tidak tinggal di dalam iman, mereka juga akan kehilangan damai sejahtera. Kunci untuk mengalahkan dunia adalah iman kita (1 Yoh. 5:4).
Menurut Ibrani “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr. 11:1). Karena itu, betapa pentingnya sebuah iman bagi orang-orang yang berjalan di jalan Tuhan. Mendengarkan perkataan Tuhan adalah jalan bagi kita agar Iman kita dikuatkan. Iman adalah dasar kekuatan kita untuk dapat melampaui segala kesulitan.
Subscribe to:
Posts (Atom)