Hasil Pemberesan Allah atas Abraham
Kejadian 17:15-16a
“Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya... dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki.”
Setelah Abraham menerima pemberesan Allah belasan tahun, ia menjadi orang yang tidak bersandar dirinya sendiri. Saat itu Abraham sudah percaya, sekarang lewat belasan tahun kemudian, Allah berbicara kepadanya lagi, bahwa Ia akan membuat Abraham dan isterinya Sara, melahirkan seorang anak laki-laki (Kej. 17:15-16). Saat ini bagaimana reaksi Abraham? Abraham tidak mempunyai keberanian seperti dulu lagi, tidak mempunyai iman seperti dulu lagi. Setelah ia mendengarkan janji Allah, ia hanya bisa tertunduk (Kej. 17: 17-18). Ini menyatakan, bahwa kini ia terhadap dirinya tidak menaruh harapan sama sekali, ia melihat dirinya sama seperti sudah mati, ia melihat rahim Sara sudah tertutup. Dulu ia masih muda, sebab itu bisa percaya; sekarang, mana mungkin bisa percaya! Menurut pandangan manusia, Abraham sudah mundur sampai-sampai seperti orang yang tidak mempunyai iman.
Sesungguhnya iman Abraham pada belasan tahun yang lalu, adalah iman yang bercampur daging, yang melahirkan Ismael. Allah mengesampingkan dia selama tiga belas tahun, bersamaan dengan itu Allah mebawanya sampai ke jalan akhir. Seolah-olah Abraham telah gagal, tetapi sebenarnya Allah tetap bekerja di atas dirinya. Ingatlah, ketika kita menang, belum tentu semua adalah pekerjaan Allah. Sebaliknya ketika kita gagal, belum tentu Allah tidak bekerja. Kalau Dia memanggil kita, kalau Dia melakukan pekerjaan di atas diri kita, Dia tidak akan lepas tangan. Meskipun kita lemah, gagal, Dia masih melakukan pekerjaan-Nya. Tangan-Nya tetap menuntun kita maju selangkah demi selangkah.
Imannya Tidak Menjadi Lemah
Kej. 17:16-17, 19, 24; Rm. 4:19-20
Sekarang Allah sekali lagi memberitahu Abraham, bahwa isterinya Sara akan memberikan seorang anak baginya (Kej. 17:16). Setelah Abraham mendengarkan perkataan ini, ia tunduk dan tertawa (ay.17). Abraham bukan menertawakan Allah, melainkan ia benar-benar menertawakan dirinya sendiri. Ia kini sepenuhnya percaya kepada Allah. Ini sungguh-sungguh ajaib! Ketika situasi mudah, sulit sekali percaya kepada Allah; tetapi ketika situasi sulit, malah mudah percaya kepada Allah. Ketika manusia menemui jalan buntu, tidak ada jalan keluar, tibalah saatnya percaya kepada Allah. Sebab itu Allah sering dari dua aspek memimpin kita: kalau tidak menciptakan situasi sampai jalan buntu, supaya kita percaya kepada-Nya, Ia akan membawa daging kita sampai pada kesudahannya, sehingga kita tidak ada jalan lain kecuali percaya kepada-Nya. Rahim Sara sudah tertutup, ini sudah jalan buntu, ini adalah alamiah. Kita harus dibawa pada jalan buntu, pada kesudahan, agar bisa percaya kepada Allah. Kalau daging kita telah dibereskan, baik situasi lingkungan lancar atau sulit, kita selalu percaya kepada Allah.
Kita harus tahu, yang dikehendaki Allah bukan iman yang campuran, melainkan iman yang murni. Kita percaya bukan karena suatu hal tertentu masuk akal atau tidak, tetapi karena Allah telah mengatakannya demikian. Empat belas tahun yang lalu, Abraham belum bisa percaya secara demikian, tetapi sekarang ia sudah sampai pada tahap itu. Tubuhnya sudah seperti mati, rahim Sara sudah tertutup. Saat ini imannya adalah hanya percaya kepada Allah saja. Imannya yang lalu, adalah percaya Allah dan percaya diri sendiri. Kini Abraham hanya percaya kepada Allah, karena ia sudah tidak mempunyai kekuatan sedikitpun, sudah tidak mempunyai kegunaan apapun, sudah tamat. Abraham tertawa, menyatakan bahwa alamiahnya sudah tamat semuanya. Tetapi Allah berkata kepadanya, “Isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak” (Kej. 17:19).
Abraham disunat, ia mengakui dirinya sudah tamat, dagingnya sama sekali tidak berdaya (Kej. 17:24). Ia kini sungguh-sungguh bersandar kepada Allah. Di dalam dirinya hanya ada sedikit iman, namun justru sedikit iman inilah yang murni. Keadaan Abraham saat itu seperti yang dikatakan oleh surat Roma 4:19-20, “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah.” Kiranya iman kita terhadap janji Allah juga makin diperkuat.
Penerapan:
Di saat kita lemah, kita harus ingat bahwa Allah yang memanggil kita adalah setia. Allah tidak pernah meninggalkan kita walau sekejap. Satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah percaya bahwa Allah sedang menuntun kita. Di saat kita paling lemah, saat itulah kita perlu lebih banyak datang kepada Tuhan, berkeluh kesah di depan-Nya.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus kuatkanlah aku. Topanglah aku yang sering gagal ini. Tuhan, tuntunlah aku dengan tangan-Mu agar aku dapat bangkit dari kegagalanku.
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
15 September 2006
14 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 2 Kamis
Sarai Diubah Menjadi Sara
Kejadian 17:15
“Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: ‘Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.’”
Dalam Kejadian 17:15 kita nampak nama Sara juga diubah. “Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: ‘Tentang istrimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.’” “Sarai” berarti “putri rajaku” dan “Sara” berarti “putri raja”. Kata “ku” di belakang “putri raja” menunjukkan suatu yang sempit, terbatas; tetapi “putri raja” saja mempunyai arti yang luas. Nama Sarai diubah menjadi Sara, berarti yang terbatas menjadi luas, supaya ia menjadi ibu banyak bangsa. Allah berfirman, “Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; ....” (Kej. 17:16)
Bila Allah ditambahkan ke dalam kita, kita akan menjadi lebih lapang dan lebih diperluas. Jika Allah tidak ditambahkan ke dalam kita, kita bukan hanya tidak sempurna, bahkan sempit. Apakah yang dapat melapangkan kita? Hanya diri Allah sendiri. Jika kita ingin menjadi orang yang lapang, memiliki pandangan yang luas dan pikiran, hati, serta roh yang lapang, kita memerlukan Allah untuk melapangkan kita. Martin Luther berkata, “Hatiku terlalu lapang, terlalu sukacita, sehingga aku tidak mungkin bermusuhan dengan orang lain.” Charles Spurgeon sering berkata kepada para penginjil, “Kalian wajib memiliki sebuah hati yang lapang, selapang bandar samudra. Sebab berhasil tidaknya kalian mendapatkan jiwa bagi Kristus, tergantung pada ada tidaknya hati yang lapang dalam kalian.” Setiap anak Allah wajib memiliki hati yang lapang agar dapat menjadi berkat bagi banyak orang.
Perlu Menjadi Orang yang Diperluas
1 Kor. 10:33; Rm. 15:1-2; Flp. 2:4; 1 Kor. 9:22; Mat. 18:22
Pada dasarnya dulu kita semua adalah “Sarai”, seorang yang sempit, kerdil. Tidak peduli siapa kita, asal kita tidak memiliki Allah bertambah ke dalam kita, kita selalu hanya akan berkata, “kesenanganku,” “keuntunganku,” “masa depanku,” “pertumbuhan hayatku,” “penuntutanku terhadap Tuhan,” “fungsiku dalam perhimpunan gereja,” dan sejenisnya. Kalau Allah tidak melapangkan kita, kita tidak bisa memperhatikan orang lain. Nama kita, yang semula “putri rajaku” harus diubah menjadi “putri raja”. Bila kita memiliki Allah bertambah ke dalam kita, kita akan menjadi ibu banyak bangsa bagi penggenapan kehendak Allah. Kita semua perlu perubahan seperti ini, perubahan yang datangnya melalui bertambahnya Allah ke dalam kita untuk melapangkan manusia alamiah kita yang sempit, yang hanya mementingkan diri sendiri.
Orang yang kerdil pasti egois, juga kikir. Orang yang berjiwa kerdil hanya menuntut keuntungan dirinya sendiri. Orang yang hanya mengasihi dirinya sendiri, ia adalah orang kerdil, demikian pula orang yang hanya mengasihi sekelompok orang dalam lingkungan tertentu. Setiap pelayan Allah wajib berhati lapang, sehingga semua orang bisa dirangkum dalam ribaannya; sebab Allah itu besar, setiap manusia terangkum dalam ribaan-Nya. Paulus adalah orang yang lapang. Ia berkata “Bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak” (1 Kor. 10:33). “Jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya” (Rm. 15:1-2). Dan “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4). Ia juga berkata, “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya” (1 Kor. 9:22). Ia dapat merangkum orang macam apa pun.
Orang yang lapang bisa memaafkan orang lain dan bisa memberkati orang yang mengutuknya. Hati kita harus lapang sedemikian rupa sehingga begitu orang yang bersalah kepada kita mengakui kesalahannya, kita bisa memaafkannya. Walau seseorang menganiaya dan mencelakakan kita, kita tetap dapat mengasihinya, dan walaupun ia memusuhi kita, kita tetap tidak melawannya. Orang kerdil enggan memaafkan atau mengampuni orang lain. Kalau orang berhutang seratus dinar kepadanya, ia lalu menangkap dan mencekik lehernya (Mat. 18:28-30). Kalaupun ia mengampuni, paling banyak hanya tujuh kali (Mat. 18:21). Orang yang lapang hati tidak menyimpan kesalahan orang lain dan tidak pemarah (1 Kor. 13:5). Walau orang berhutang puluhan ribu dinar kepadanya, ia tetap dapat mengampuni, ia bisa mengampuni orang tujuh puluh kali tujuh kali (Mat. 18:22); ia bisa menutupi segala sesuatu (1 Kor. 13:7).
Penerapan:
Ketika kita menjumpai orang yang memiliki latar belakang yang berbeda jauh dengan kita, bagaimanakah sikap kita? Roma 14 memberitahu kita untuk menerima seseorang menurut penerimaan Allah. Kita perlu meminta Tuhan meluaskan hati kita dan mencurahkan kasih-Nya kepada kita agar kita bisa mengasihi sesama manusia.
Pokok Doa:
Tuhan jangan biarkan aku menjadi orang yang sempit. Aku mau terbuka pada-Mu, membiarkan Engkau bertambah dan menjadi kelapanganku sehingga aku bisa menjadi berkat bagi gereja-Mu.
Kejadian 17:15
“Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: ‘Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.’”
Dalam Kejadian 17:15 kita nampak nama Sara juga diubah. “Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: ‘Tentang istrimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.’” “Sarai” berarti “putri rajaku” dan “Sara” berarti “putri raja”. Kata “ku” di belakang “putri raja” menunjukkan suatu yang sempit, terbatas; tetapi “putri raja” saja mempunyai arti yang luas. Nama Sarai diubah menjadi Sara, berarti yang terbatas menjadi luas, supaya ia menjadi ibu banyak bangsa. Allah berfirman, “Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; ....” (Kej. 17:16)
Bila Allah ditambahkan ke dalam kita, kita akan menjadi lebih lapang dan lebih diperluas. Jika Allah tidak ditambahkan ke dalam kita, kita bukan hanya tidak sempurna, bahkan sempit. Apakah yang dapat melapangkan kita? Hanya diri Allah sendiri. Jika kita ingin menjadi orang yang lapang, memiliki pandangan yang luas dan pikiran, hati, serta roh yang lapang, kita memerlukan Allah untuk melapangkan kita. Martin Luther berkata, “Hatiku terlalu lapang, terlalu sukacita, sehingga aku tidak mungkin bermusuhan dengan orang lain.” Charles Spurgeon sering berkata kepada para penginjil, “Kalian wajib memiliki sebuah hati yang lapang, selapang bandar samudra. Sebab berhasil tidaknya kalian mendapatkan jiwa bagi Kristus, tergantung pada ada tidaknya hati yang lapang dalam kalian.” Setiap anak Allah wajib memiliki hati yang lapang agar dapat menjadi berkat bagi banyak orang.
Perlu Menjadi Orang yang Diperluas
1 Kor. 10:33; Rm. 15:1-2; Flp. 2:4; 1 Kor. 9:22; Mat. 18:22
Pada dasarnya dulu kita semua adalah “Sarai”, seorang yang sempit, kerdil. Tidak peduli siapa kita, asal kita tidak memiliki Allah bertambah ke dalam kita, kita selalu hanya akan berkata, “kesenanganku,” “keuntunganku,” “masa depanku,” “pertumbuhan hayatku,” “penuntutanku terhadap Tuhan,” “fungsiku dalam perhimpunan gereja,” dan sejenisnya. Kalau Allah tidak melapangkan kita, kita tidak bisa memperhatikan orang lain. Nama kita, yang semula “putri rajaku” harus diubah menjadi “putri raja”. Bila kita memiliki Allah bertambah ke dalam kita, kita akan menjadi ibu banyak bangsa bagi penggenapan kehendak Allah. Kita semua perlu perubahan seperti ini, perubahan yang datangnya melalui bertambahnya Allah ke dalam kita untuk melapangkan manusia alamiah kita yang sempit, yang hanya mementingkan diri sendiri.
Orang yang kerdil pasti egois, juga kikir. Orang yang berjiwa kerdil hanya menuntut keuntungan dirinya sendiri. Orang yang hanya mengasihi dirinya sendiri, ia adalah orang kerdil, demikian pula orang yang hanya mengasihi sekelompok orang dalam lingkungan tertentu. Setiap pelayan Allah wajib berhati lapang, sehingga semua orang bisa dirangkum dalam ribaannya; sebab Allah itu besar, setiap manusia terangkum dalam ribaan-Nya. Paulus adalah orang yang lapang. Ia berkata “Bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak” (1 Kor. 10:33). “Jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya” (Rm. 15:1-2). Dan “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4). Ia juga berkata, “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya” (1 Kor. 9:22). Ia dapat merangkum orang macam apa pun.
Orang yang lapang bisa memaafkan orang lain dan bisa memberkati orang yang mengutuknya. Hati kita harus lapang sedemikian rupa sehingga begitu orang yang bersalah kepada kita mengakui kesalahannya, kita bisa memaafkannya. Walau seseorang menganiaya dan mencelakakan kita, kita tetap dapat mengasihinya, dan walaupun ia memusuhi kita, kita tetap tidak melawannya. Orang kerdil enggan memaafkan atau mengampuni orang lain. Kalau orang berhutang seratus dinar kepadanya, ia lalu menangkap dan mencekik lehernya (Mat. 18:28-30). Kalaupun ia mengampuni, paling banyak hanya tujuh kali (Mat. 18:21). Orang yang lapang hati tidak menyimpan kesalahan orang lain dan tidak pemarah (1 Kor. 13:5). Walau orang berhutang puluhan ribu dinar kepadanya, ia tetap dapat mengampuni, ia bisa mengampuni orang tujuh puluh kali tujuh kali (Mat. 18:22); ia bisa menutupi segala sesuatu (1 Kor. 13:7).
Penerapan:
Ketika kita menjumpai orang yang memiliki latar belakang yang berbeda jauh dengan kita, bagaimanakah sikap kita? Roma 14 memberitahu kita untuk menerima seseorang menurut penerimaan Allah. Kita perlu meminta Tuhan meluaskan hati kita dan mencurahkan kasih-Nya kepada kita agar kita bisa mengasihi sesama manusia.
Pokok Doa:
Tuhan jangan biarkan aku menjadi orang yang sempit. Aku mau terbuka pada-Mu, membiarkan Engkau bertambah dan menjadi kelapanganku sehingga aku bisa menjadi berkat bagi gereja-Mu.
13 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 2 Rabu
Disunat berarti Mengenakan Manusia Baru
Kejadian 17:10
“Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat.”
Roma 2:28-29 mengatakan, “Dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilakukan secara lahiriah, . . . dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara harfiah.” Sunat bukanlah perkara lahiriah; melainkan perkara batiniah (Flp. 3:3). Kolose 2:11 mengatakan tentang “sunat Kristus”. Sunat yang sesungguhnya adalah di dalam Kristus. Sunat Kristus mengakhiri manusia lama kita dan menjadikan kita ciptaan baru di dalam Kristus. Galatia 6:15 berkata, “Di dalam Kristus, bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya” (TL.).
Kolose 3:9-10 memberi tahu kita bahwa kita harus menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui. Pembaruan ini terjadi terutama di dalam pikiran kita melalui bertambahnya unsur-unsur Kristus yang terkandung di dalam firman kudus-Nya ke dalam kita. Misalnya, dalam hal berpakaian. Banyak orang yang telah diselamatkan yang sama dengan orang dunia dalam pemikiran mereka mengenai mode. Tetapi jika kita banyak menikmati firman Tuhan, dengan sendirinya pikiran kita mengenai cara berpakaian akan berubah. Contoh lainnya adalah dalam hal penggunaan uang kita. Sudahkah cara kita menggunakan uang kita diubah? Setelah kita diselamatkan, mungkin kita menggunakan uang kita mirip seperti orang dunia. Kalau demikian, berarti pikiran kita belum mengalami pembaruan. Betapa kita memerlukan pembaruan pikiran terhadap hampir segala hal. Realitas dari manusia baru adalah kita hidup dengan pikiran yang diperbarui.
Memperhidupkan Kristus sebagai Hayat Kita
Gal. 2:19b-20; 1 Kor. 15:10; Kol. 3:4
Galatia 2:19b dan 20 mengungkapkan, “Aku telah di salibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus hidup di dalam aku.” Sunat Kristus menggenapkan satu perkara — mengubah “aku” menjadi Kristus. Akhirnya, “Bukan aku, melainkan Kristus” menjadilah “Bukan aku, melainkan anugerah Allah” (1 Kor. 15:10). Rasul Paulus berkata ia lebih berjerih payah daripada rasul-rasul lainnya; namun tetaplah bukan dia, melainkan anugerah Allah. Anugerah adalah Allah mendatangi kita sebagai suplai dan segala sesuatu kita. Hidup Kristiani adalah Dia yang hidup di dalam kita, bukan kita yang hidup. Inilah ciri khas orang Kristen. Seharusnya tidak ada satu orang Kristen pun yang hidup bersandar dirinya sendiri, dan tidak ada seorang Kristen pun yang tidak memiliki Kristus yang hidup di dalamnya. Yang kita perlukan hanyalah menghentikan tindakan kita, menghentikan aktivitas kita sendiri, dan membiarkan Dia yang hidup melalui kita.
Banyak orang yang sudah mendengar atau membaca Galatia 2:20, tetapi mungkin sangat sedikit yang mempraktekkannya. Kita mungkin sudah mendengar: “Bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Sejak hari ini aku telah mati, dan telah dikubur.” Tetapi ketika kita masuk ke dalam kesibukan kita sehari-hari, sama sekali tidak ada Tuhan Yesus bersama kita. Seharian kita sibuk ini dan itu, sehingga Tuhan Yesus hilang di dalam kesibukan kita. Kelihatannya kita adalah orang Kristen yang bergairah. Tetapi sesungguhnya kita bahkan kehilangan Tuhan Yesus dalam kesibukan kita. Setelah sejangka waktu, kita pun segera sadar, bahwa Tuhan Yesus sudah tidak ada di dekat kita. Tanpa sengaja, Tuhan Yesus telah kita singkirkan.
Kita adalah orang yang telah diselamatkan. Hari ini Tuhan ada di dalam kita, dan menjadi satu dengan kita. Kita tidak bisa memisahkan diri dari-Nya. Di dalam kita, Dia adalah hayat kita (Kol. 3:4). Dia tidak menghendaki kita hidup demi diri kita lagi. Dalam hidup kita sehari-hari, baik dalam perkara kecil, maupun dalam perkara besar, hendaklah kita bekerja sama dengan Tuhan Yesus, dan membiarkan Dia tampil. Hari ini Tuhan justru membutuhkan sekelompok orang yang demikian di permukaan bumi ini. Seluruh maksud Tuhan tidak lain, ialah agar kita memberikan kesempatan yang mutlak kepada-Nya untuk hidup di dalam kita. Yang Tuhan kehendaki adalah kita sepenuhnya menghentikan kegiatan kita sendiri, kemudian menjadikan-Nya sebagai hayat kita, hidup demi Dia, hidup bersama Dia. Banyak orang Kristen ingin meneladani Tuhan secara luaran, tetapi ini tidak akan berhasil. Kekuatan daging kita tidak mungkin bisa meneladani Tuhan Yesus. Yang kita perlukan adalah Dia menjadi hayat kita sehingga kita dapat memperhidupkan Dia.
Penerapan:
Karena melihat tebalnya sejilid Alkitab, banyak anak-anak Allah yang enggan membacanya. Ini adalah suatu kerugian. Kalau kita mengasihi Tuhan, Alkitab pasti tidak terlalu tebal untuk kita baca. Setiap firman yang kita baca akan memperbarui pikiran kita dan pada akhirnya akan memperbarui seluruh diri kita. Sebelum terlambat, mulailah membaca Alkitab hari ini.
Pokok Doa:
Ya Tuhan Yesus, walau aku tahu bahwa Engkau ada di dalamku, namun aku tidak membiarkan Engkau memimpin aku. Dalam banyak hal aku masih mirip dengan orang dunia. Tuhan, perbaruilah pikiranku demi firman-Mu yang hidup.
Kejadian 17:10
“Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat.”
Roma 2:28-29 mengatakan, “Dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilakukan secara lahiriah, . . . dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara harfiah.” Sunat bukanlah perkara lahiriah; melainkan perkara batiniah (Flp. 3:3). Kolose 2:11 mengatakan tentang “sunat Kristus”. Sunat yang sesungguhnya adalah di dalam Kristus. Sunat Kristus mengakhiri manusia lama kita dan menjadikan kita ciptaan baru di dalam Kristus. Galatia 6:15 berkata, “Di dalam Kristus, bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya” (TL.).
Kolose 3:9-10 memberi tahu kita bahwa kita harus menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui. Pembaruan ini terjadi terutama di dalam pikiran kita melalui bertambahnya unsur-unsur Kristus yang terkandung di dalam firman kudus-Nya ke dalam kita. Misalnya, dalam hal berpakaian. Banyak orang yang telah diselamatkan yang sama dengan orang dunia dalam pemikiran mereka mengenai mode. Tetapi jika kita banyak menikmati firman Tuhan, dengan sendirinya pikiran kita mengenai cara berpakaian akan berubah. Contoh lainnya adalah dalam hal penggunaan uang kita. Sudahkah cara kita menggunakan uang kita diubah? Setelah kita diselamatkan, mungkin kita menggunakan uang kita mirip seperti orang dunia. Kalau demikian, berarti pikiran kita belum mengalami pembaruan. Betapa kita memerlukan pembaruan pikiran terhadap hampir segala hal. Realitas dari manusia baru adalah kita hidup dengan pikiran yang diperbarui.
Memperhidupkan Kristus sebagai Hayat Kita
Gal. 2:19b-20; 1 Kor. 15:10; Kol. 3:4
Galatia 2:19b dan 20 mengungkapkan, “Aku telah di salibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus hidup di dalam aku.” Sunat Kristus menggenapkan satu perkara — mengubah “aku” menjadi Kristus. Akhirnya, “Bukan aku, melainkan Kristus” menjadilah “Bukan aku, melainkan anugerah Allah” (1 Kor. 15:10). Rasul Paulus berkata ia lebih berjerih payah daripada rasul-rasul lainnya; namun tetaplah bukan dia, melainkan anugerah Allah. Anugerah adalah Allah mendatangi kita sebagai suplai dan segala sesuatu kita. Hidup Kristiani adalah Dia yang hidup di dalam kita, bukan kita yang hidup. Inilah ciri khas orang Kristen. Seharusnya tidak ada satu orang Kristen pun yang hidup bersandar dirinya sendiri, dan tidak ada seorang Kristen pun yang tidak memiliki Kristus yang hidup di dalamnya. Yang kita perlukan hanyalah menghentikan tindakan kita, menghentikan aktivitas kita sendiri, dan membiarkan Dia yang hidup melalui kita.
Banyak orang yang sudah mendengar atau membaca Galatia 2:20, tetapi mungkin sangat sedikit yang mempraktekkannya. Kita mungkin sudah mendengar: “Bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Sejak hari ini aku telah mati, dan telah dikubur.” Tetapi ketika kita masuk ke dalam kesibukan kita sehari-hari, sama sekali tidak ada Tuhan Yesus bersama kita. Seharian kita sibuk ini dan itu, sehingga Tuhan Yesus hilang di dalam kesibukan kita. Kelihatannya kita adalah orang Kristen yang bergairah. Tetapi sesungguhnya kita bahkan kehilangan Tuhan Yesus dalam kesibukan kita. Setelah sejangka waktu, kita pun segera sadar, bahwa Tuhan Yesus sudah tidak ada di dekat kita. Tanpa sengaja, Tuhan Yesus telah kita singkirkan.
Kita adalah orang yang telah diselamatkan. Hari ini Tuhan ada di dalam kita, dan menjadi satu dengan kita. Kita tidak bisa memisahkan diri dari-Nya. Di dalam kita, Dia adalah hayat kita (Kol. 3:4). Dia tidak menghendaki kita hidup demi diri kita lagi. Dalam hidup kita sehari-hari, baik dalam perkara kecil, maupun dalam perkara besar, hendaklah kita bekerja sama dengan Tuhan Yesus, dan membiarkan Dia tampil. Hari ini Tuhan justru membutuhkan sekelompok orang yang demikian di permukaan bumi ini. Seluruh maksud Tuhan tidak lain, ialah agar kita memberikan kesempatan yang mutlak kepada-Nya untuk hidup di dalam kita. Yang Tuhan kehendaki adalah kita sepenuhnya menghentikan kegiatan kita sendiri, kemudian menjadikan-Nya sebagai hayat kita, hidup demi Dia, hidup bersama Dia. Banyak orang Kristen ingin meneladani Tuhan secara luaran, tetapi ini tidak akan berhasil. Kekuatan daging kita tidak mungkin bisa meneladani Tuhan Yesus. Yang kita perlukan adalah Dia menjadi hayat kita sehingga kita dapat memperhidupkan Dia.
Penerapan:
Karena melihat tebalnya sejilid Alkitab, banyak anak-anak Allah yang enggan membacanya. Ini adalah suatu kerugian. Kalau kita mengasihi Tuhan, Alkitab pasti tidak terlalu tebal untuk kita baca. Setiap firman yang kita baca akan memperbarui pikiran kita dan pada akhirnya akan memperbarui seluruh diri kita. Sebelum terlambat, mulailah membaca Alkitab hari ini.
Pokok Doa:
Ya Tuhan Yesus, walau aku tahu bahwa Engkau ada di dalamku, namun aku tidak membiarkan Engkau memimpin aku. Dalam banyak hal aku masih mirip dengan orang dunia. Tuhan, perbaruilah pikiranku demi firman-Mu yang hidup.
12 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 2 Selasa
Sunat adalah Tanda Pembenaran oleh Iman
Kejadian 17:10
“Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat.”
Sunat merupakan suatu tanda, yaitu tanda bahwa seseorang telah dibenarkan oleh iman (Rm. 4:11). Sebagai umat Allah, kita tidak boleh mengabaikan tanda ini. Bagaimana kita dapat menunjukkan kepada orang lain bahwa kita telah dibenarkan oleh Allah? Kita harus menempuh suatu kehidupan yang benar. Kita harus menunjukkan bahwa kita tidak lagi hidup bersandarkan diri sendiri, melainkan kita hidup bersandarkan Kristus. Dengan demikian kehidupan kita akan menjadi suatu tanda bahwa kita telah dibenarkan oleh Allah demi iman.
Menempuh kehidupan tersalib di dalam kebangkitan Kristus adalah tanda bahwa kita telah dibenarkan. Jika kita, orang yang telah dibenarkan oleh Allah, masih hidup, bertindak, dan bekerja bersandarkan diri sendiri, dan berbuat segala sesuatu menurut watak kita yang jatuh, maka sukar bagi orang lain untuk melihat bahwa kita adalah orang yang telah dibenarkan oleh Allah. Tetapi, jika kita hidup dengan mengesampingkan kesenangan diri sendiri dan menerima Kristus sebagai hayat kita, maka tidak seorang pun akan meragukan bahwa kita telah dibenarkan melalui iman.
Kolose 2:11 mengatakan, “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa” (“tubuh yang berdosa” dalam bahasa aslinya adalah “tubuh daging”). Kalau hidup kita di depan manusia tidak benar, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kita telah dibenarkan oleh Allah? Kehidupan yang benar adalah kehidupan yang mengesampingkan kesenangan dan kepentingan diri sendiri, menanggalkan tubuh daging kita.
Sunat sebagai Suatu Permulaan Baru
Kej. 17:2-8, 12, 14; Yoh. 15:2a
Perjanjian tentang keturunan dan tanah untuk menggenapkan tujuan Allah dikukuhkan dengan sunat (17:2-8). Sunat adalah syarat untuk menggenapkan tujuan Allah. Di sini Allah membawa kita sampai satu tahap, khusus memperlihatkan kepada kita, bahwa daging kita harus dibereskan. Semua keturunan Abraham harus disunat, termasuk kita kaum beriman Perjanjian Baru. Umat Allah memiliki satu tanda, satu ciri-ciri khusus, yaitu membuang keinginan daging, tidak percaya kepada kekuatan daging.
Di antara orang-orang Yahudi, sunat dilakukan pada hari kedelapan (Kej. 17:12). Hari kedelapan adalah hari pertama dalam minggu yang baru dan merupakan suatu permulaan yang baru, permulaan yang baru di dalam kebangkitan. Kapan saja kita menempuh kehidupan yang tersalib, kita mempunyai permulaan baru di dalam kebangkitan. Kapan kita menyangkal dan menolak kesenangan diri sendiri serta menempuh kehidupan yang tersalib, segera kita akan memiliki permulaan yang baru di dalam kebangkitan. Kita bisa mengalami hal ini di dalam berbagai aspek kehidupan kita, termasuk kehidupan pernikahan kita. Sekalipun kita telah menikah beberapa tahun jika hari ini kita mulai menempuh kehidupan yang tersalib, di dalam pernikahan kita akan mempunyai permulaan yang baru di dalam kebangkitan, dan kehidupan pernikahan kita akan diperbarui.
Semua orang yang tidak “disunat” berada di luar perjanjian ini. Dalam Kejadian 17:14 Allah berkata kepada Abraham, “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya; ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” Ini berlaku pada hari ini juga. Jika kita tidak menempuh kehidupan yang tersalib, dengan sendirinya kita akan terlepas dari kenikmatan akan Kristus. Bukan hanya demikian, kitapun akan terlepas dari persekutuan, terlepas dari suplai ilahi.
Sering kali ketika kita terputus dari persekutuan dengan Kristus yang hidup, kita merasa bahwa kita telah lepas dari anugerah. Kita harus merasa takut jika dalam dunia hari ini kita terputus dari kenikmatan atas suplai Kristus (Yoh. 15:2a). Mungkin kita merasa bahwa kita sedang menikmati, tetapi faktanya kita tidaklah menikmati Kristus. Kenikmatan kita terhadap Kristus telah menjadi usang dan basi. Kenikmatan kita terhadap-Nya masih sama dengan beberapa tahun lalu, tidak ada kemajuan. Kondisi ini seharusnya mendorong kita untuk memulihkan persekutuan kita dengan Tuhan melalui belajar melakukan kehendak Tuhan dan mengesampingkan kesenangan diri sendiri.
Penerapan:
Sebagai orang yang telah dibenarkan oleh iman, kita perlu menempuh kehidupan yang benar, baik di rumah, di sekolah, ataupun di tempat kita bekerja. Iblis sering melalui orang atau suatu urusan mengusik temperamen kita agar kita kehilangan kendali terhadap amarah kita. Saat itulah kita harus berseru kepada nama Tuhan sehingga batin kita diteduhkan.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering berlaku tidak benar terhadap Engkau, terhadap orang lain, dan terhadap perkara-perkara dalam hidupku. Tuhan, aku mau melatih rohku menaati urapan-Mu sehingga demi anugerah-Mu aku bisa memiliki kehidupan yang benar.
Kejadian 17:10
“Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat.”
Sunat merupakan suatu tanda, yaitu tanda bahwa seseorang telah dibenarkan oleh iman (Rm. 4:11). Sebagai umat Allah, kita tidak boleh mengabaikan tanda ini. Bagaimana kita dapat menunjukkan kepada orang lain bahwa kita telah dibenarkan oleh Allah? Kita harus menempuh suatu kehidupan yang benar. Kita harus menunjukkan bahwa kita tidak lagi hidup bersandarkan diri sendiri, melainkan kita hidup bersandarkan Kristus. Dengan demikian kehidupan kita akan menjadi suatu tanda bahwa kita telah dibenarkan oleh Allah demi iman.
Menempuh kehidupan tersalib di dalam kebangkitan Kristus adalah tanda bahwa kita telah dibenarkan. Jika kita, orang yang telah dibenarkan oleh Allah, masih hidup, bertindak, dan bekerja bersandarkan diri sendiri, dan berbuat segala sesuatu menurut watak kita yang jatuh, maka sukar bagi orang lain untuk melihat bahwa kita adalah orang yang telah dibenarkan oleh Allah. Tetapi, jika kita hidup dengan mengesampingkan kesenangan diri sendiri dan menerima Kristus sebagai hayat kita, maka tidak seorang pun akan meragukan bahwa kita telah dibenarkan melalui iman.
Kolose 2:11 mengatakan, “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa” (“tubuh yang berdosa” dalam bahasa aslinya adalah “tubuh daging”). Kalau hidup kita di depan manusia tidak benar, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kita telah dibenarkan oleh Allah? Kehidupan yang benar adalah kehidupan yang mengesampingkan kesenangan dan kepentingan diri sendiri, menanggalkan tubuh daging kita.
Sunat sebagai Suatu Permulaan Baru
Kej. 17:2-8, 12, 14; Yoh. 15:2a
Perjanjian tentang keturunan dan tanah untuk menggenapkan tujuan Allah dikukuhkan dengan sunat (17:2-8). Sunat adalah syarat untuk menggenapkan tujuan Allah. Di sini Allah membawa kita sampai satu tahap, khusus memperlihatkan kepada kita, bahwa daging kita harus dibereskan. Semua keturunan Abraham harus disunat, termasuk kita kaum beriman Perjanjian Baru. Umat Allah memiliki satu tanda, satu ciri-ciri khusus, yaitu membuang keinginan daging, tidak percaya kepada kekuatan daging.
Di antara orang-orang Yahudi, sunat dilakukan pada hari kedelapan (Kej. 17:12). Hari kedelapan adalah hari pertama dalam minggu yang baru dan merupakan suatu permulaan yang baru, permulaan yang baru di dalam kebangkitan. Kapan saja kita menempuh kehidupan yang tersalib, kita mempunyai permulaan baru di dalam kebangkitan. Kapan kita menyangkal dan menolak kesenangan diri sendiri serta menempuh kehidupan yang tersalib, segera kita akan memiliki permulaan yang baru di dalam kebangkitan. Kita bisa mengalami hal ini di dalam berbagai aspek kehidupan kita, termasuk kehidupan pernikahan kita. Sekalipun kita telah menikah beberapa tahun jika hari ini kita mulai menempuh kehidupan yang tersalib, di dalam pernikahan kita akan mempunyai permulaan yang baru di dalam kebangkitan, dan kehidupan pernikahan kita akan diperbarui.
Semua orang yang tidak “disunat” berada di luar perjanjian ini. Dalam Kejadian 17:14 Allah berkata kepada Abraham, “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya; ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” Ini berlaku pada hari ini juga. Jika kita tidak menempuh kehidupan yang tersalib, dengan sendirinya kita akan terlepas dari kenikmatan akan Kristus. Bukan hanya demikian, kitapun akan terlepas dari persekutuan, terlepas dari suplai ilahi.
Sering kali ketika kita terputus dari persekutuan dengan Kristus yang hidup, kita merasa bahwa kita telah lepas dari anugerah. Kita harus merasa takut jika dalam dunia hari ini kita terputus dari kenikmatan atas suplai Kristus (Yoh. 15:2a). Mungkin kita merasa bahwa kita sedang menikmati, tetapi faktanya kita tidaklah menikmati Kristus. Kenikmatan kita terhadap Kristus telah menjadi usang dan basi. Kenikmatan kita terhadap-Nya masih sama dengan beberapa tahun lalu, tidak ada kemajuan. Kondisi ini seharusnya mendorong kita untuk memulihkan persekutuan kita dengan Tuhan melalui belajar melakukan kehendak Tuhan dan mengesampingkan kesenangan diri sendiri.
Penerapan:
Sebagai orang yang telah dibenarkan oleh iman, kita perlu menempuh kehidupan yang benar, baik di rumah, di sekolah, ataupun di tempat kita bekerja. Iblis sering melalui orang atau suatu urusan mengusik temperamen kita agar kita kehilangan kendali terhadap amarah kita. Saat itulah kita harus berseru kepada nama Tuhan sehingga batin kita diteduhkan.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering berlaku tidak benar terhadap Engkau, terhadap orang lain, dan terhadap perkara-perkara dalam hidupku. Tuhan, aku mau melatih rohku menaati urapan-Mu sehingga demi anugerah-Mu aku bisa memiliki kehidupan yang benar.
11 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 2 Senin
Perjanjian Sunat
Kejadian 17:10
“Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat.”
Lewat tiga belas tahun, Abraham kini berusia sembilan puluh sembilan tahun. Pada saat inilah, Allah menyatakan diri kepadanya dan berkata, “Akulah Allah Yang Mahakuasa” (Kej. 17:1). Allah menegaskan kembali perjanjian-Nya dengan Abraham dalam Kejadian 17:2-8 bahwa melalui Abraham, Allah akan mendapatkan sekelompok orang menjadi umat-Nya. Allah berkata, “Inilah perjanjian-Ku yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat” (Kej. 17:10). Dengan kata lain, Allah akan mendapatkan sekelompok umat, umat yang tidak lagi mengandalkan kekuatan diri sendiri. Sunat adalah tanda bagi umat Allah (Kej. 17:14). Orang yang tidak “disunat” tidak bisa menjadi bejana kesaksian Allah.
Disunat berarti menyangkal kehendak atau kesenangan diri sendiri. Pada dasarnya kita adalah orang yang tidak mudah untuk meminta maaf ataupun mengampuni kesalahan orang lain. Kalau kita bersalah, di dalam hati kita berkata “Ah, itu hanya kesalahan kecil.” Kita merasa tidak perlu minta maaf. Kalau orang lain yang bersalah kepada kita, di dalam hati kita berkata, “Orang itu sungguh tidak tahu diri!” Kalau kita bersikap demikian, itu adalah tanda bahwa kita belum mengalami “sunat” karena kita masih hidup menurut watak alamiah kita. Kita harus menyangkal watak kita yang demikian dengan berseru kepada Tuhan. Saat kita menyeru nama-Nya, Dia akan menerangi, memimpin, dan menguatkan kita, baik untuk meminta maaf, maupun untuk mengampuni kesalahan orang lain. Inilah cara praktis untuk mengalami “sunat”.
Disunat berarti Disalibkan
Kej. 17:9-11, 13; Kol. 2:11-12; Rm. 14:8
Perjanjian yang dibuat Allah dengan Abraham di dalam Kejadian 15, dikukuhkan di dalam Kejadian 17 oleh sunat. Sebenarnya tidak perlu bagi Allah untuk mengukuhkannya sekali lagi. Allah setia terhadap janji-Nya, namun Abraham tidak demikian, ia menggunakan kekuatan alamiahnya untuk melahirkan Ismael. Karena penyebab timbulnya kesukaran adalah Abraham memakai tenaga alamiahnya dengan Hagar untuk melahirkan Ismael, maka Allah menghendaki Abraham disunat untuk mengukuhkan sekali lagi perjanjian-Nya (Kej. 17:9-11, 13).
Dalam Perjanjian Baru kita dapat melihat makna sunat. Makna rohani dari sunat adalah mengerat/menanggalkan tubuh daging, menolak diri sendiri dan orang lama kita. Kolose 2:11-12 mengatakan, “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” Sunat adalah perkara menanggalkan tubuh daging dan orang lama kita; bukan sekedar perkara pemberesan dosa. Abraham, di dalam Kejadian 16 menggunakan tubuh dagingnya, tetapi di sini dalam Kejadian 17, Allah menghendaki tubuh dagingnya ditanggalkan. Dalam Kejadian 16 ia menggunakan kekuatan alamiahnya, tetapi di dalam Kejadian 17 kekuatannya diakhiri. Inilah makna sunat yang sebenarnya.
Problem yang sama juga terjadi pada hari ini. Asal kekuatan alamiah kita masih ada, sukar bagi Allah menjadi segala sesuatu kita untuk menggenapkan tujuan-Nya. Allah hendak masuk ke dalam kita untuk menjadi segala-gala kita, tetapi tubuh daging kita, kekuatan alamiah kita, orang lama kita, dan ego kita yang usang, menghalangi diri Allah menjadi segala sesuatu kita. Ego ini, manusia lama ini, harus diakhiri, harus “disunat”, yaitu disalibkan.
Ketika kita bekerja di dalam kekuatan dan kemampuan alamiah kita, sasarannya adalah untuk mencari kemuliaan kita sendiri dan motifnya adalah untuk memuaskan kedambaan kita sendiri. Sebenarnya, di dalam pekerjaan Tuhan, kita tidak seharusnya mempunyai ego, dan kita tidak seharusnya mempunyai sasaran untuk kemuliaan kita sendiri, untuk kebanggaan kita. Kita seharusnya melakukan hal-hal dengan sederhana karena Tuhan memimpin kita untuk melakukannya. Kita seharusnya tidak melakukan hal-hal itu karena kita mempunyai sesuatu untuk memperolehnya bagi sasaran kita. Itu adalah salah. Sasaran dari semua aktivitas kita haruslah untuk Tuhan (Rm. 14:8).
Penerapan:
Demi mendidik kita, Tuhan sering mengijinkan kesulitan datang menimpa kita. Begitu kesulitan datang, kita harus memandangnya sebagai kesempatan untuk datang kepada Tuhan, bersandar anugerah-Nya melampaui kesulitan itu. Jangan mengandalkan diri sendiri atau orang lain, tetapi marilah kita mengandalkan Tuhan dalam hidup kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku mengakui bahwa dalam banyak perkara aku mengandalkan kekuatan alamiahku. Tuhan,ampunilah semua kegagalanku. Aku memerlukan suplai ilahi-Mu setiap hari. Anugerah-Mu itulah sumber kekuatanku.
Kejadian 17:10
“Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat.”
Lewat tiga belas tahun, Abraham kini berusia sembilan puluh sembilan tahun. Pada saat inilah, Allah menyatakan diri kepadanya dan berkata, “Akulah Allah Yang Mahakuasa” (Kej. 17:1). Allah menegaskan kembali perjanjian-Nya dengan Abraham dalam Kejadian 17:2-8 bahwa melalui Abraham, Allah akan mendapatkan sekelompok orang menjadi umat-Nya. Allah berkata, “Inilah perjanjian-Ku yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat” (Kej. 17:10). Dengan kata lain, Allah akan mendapatkan sekelompok umat, umat yang tidak lagi mengandalkan kekuatan diri sendiri. Sunat adalah tanda bagi umat Allah (Kej. 17:14). Orang yang tidak “disunat” tidak bisa menjadi bejana kesaksian Allah.
Disunat berarti menyangkal kehendak atau kesenangan diri sendiri. Pada dasarnya kita adalah orang yang tidak mudah untuk meminta maaf ataupun mengampuni kesalahan orang lain. Kalau kita bersalah, di dalam hati kita berkata “Ah, itu hanya kesalahan kecil.” Kita merasa tidak perlu minta maaf. Kalau orang lain yang bersalah kepada kita, di dalam hati kita berkata, “Orang itu sungguh tidak tahu diri!” Kalau kita bersikap demikian, itu adalah tanda bahwa kita belum mengalami “sunat” karena kita masih hidup menurut watak alamiah kita. Kita harus menyangkal watak kita yang demikian dengan berseru kepada Tuhan. Saat kita menyeru nama-Nya, Dia akan menerangi, memimpin, dan menguatkan kita, baik untuk meminta maaf, maupun untuk mengampuni kesalahan orang lain. Inilah cara praktis untuk mengalami “sunat”.
Disunat berarti Disalibkan
Kej. 17:9-11, 13; Kol. 2:11-12; Rm. 14:8
Perjanjian yang dibuat Allah dengan Abraham di dalam Kejadian 15, dikukuhkan di dalam Kejadian 17 oleh sunat. Sebenarnya tidak perlu bagi Allah untuk mengukuhkannya sekali lagi. Allah setia terhadap janji-Nya, namun Abraham tidak demikian, ia menggunakan kekuatan alamiahnya untuk melahirkan Ismael. Karena penyebab timbulnya kesukaran adalah Abraham memakai tenaga alamiahnya dengan Hagar untuk melahirkan Ismael, maka Allah menghendaki Abraham disunat untuk mengukuhkan sekali lagi perjanjian-Nya (Kej. 17:9-11, 13).
Dalam Perjanjian Baru kita dapat melihat makna sunat. Makna rohani dari sunat adalah mengerat/menanggalkan tubuh daging, menolak diri sendiri dan orang lama kita. Kolose 2:11-12 mengatakan, “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” Sunat adalah perkara menanggalkan tubuh daging dan orang lama kita; bukan sekedar perkara pemberesan dosa. Abraham, di dalam Kejadian 16 menggunakan tubuh dagingnya, tetapi di sini dalam Kejadian 17, Allah menghendaki tubuh dagingnya ditanggalkan. Dalam Kejadian 16 ia menggunakan kekuatan alamiahnya, tetapi di dalam Kejadian 17 kekuatannya diakhiri. Inilah makna sunat yang sebenarnya.
Problem yang sama juga terjadi pada hari ini. Asal kekuatan alamiah kita masih ada, sukar bagi Allah menjadi segala sesuatu kita untuk menggenapkan tujuan-Nya. Allah hendak masuk ke dalam kita untuk menjadi segala-gala kita, tetapi tubuh daging kita, kekuatan alamiah kita, orang lama kita, dan ego kita yang usang, menghalangi diri Allah menjadi segala sesuatu kita. Ego ini, manusia lama ini, harus diakhiri, harus “disunat”, yaitu disalibkan.
Ketika kita bekerja di dalam kekuatan dan kemampuan alamiah kita, sasarannya adalah untuk mencari kemuliaan kita sendiri dan motifnya adalah untuk memuaskan kedambaan kita sendiri. Sebenarnya, di dalam pekerjaan Tuhan, kita tidak seharusnya mempunyai ego, dan kita tidak seharusnya mempunyai sasaran untuk kemuliaan kita sendiri, untuk kebanggaan kita. Kita seharusnya melakukan hal-hal dengan sederhana karena Tuhan memimpin kita untuk melakukannya. Kita seharusnya tidak melakukan hal-hal itu karena kita mempunyai sesuatu untuk memperolehnya bagi sasaran kita. Itu adalah salah. Sasaran dari semua aktivitas kita haruslah untuk Tuhan (Rm. 14:8).
Penerapan:
Demi mendidik kita, Tuhan sering mengijinkan kesulitan datang menimpa kita. Begitu kesulitan datang, kita harus memandangnya sebagai kesempatan untuk datang kepada Tuhan, bersandar anugerah-Nya melampaui kesulitan itu. Jangan mengandalkan diri sendiri atau orang lain, tetapi marilah kita mengandalkan Tuhan dalam hidup kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku mengakui bahwa dalam banyak perkara aku mengandalkan kekuatan alamiahku. Tuhan,ampunilah semua kegagalanku. Aku memerlukan suplai ilahi-Mu setiap hari. Anugerah-Mu itulah sumber kekuatanku.
09 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 1 Sabtu
Menjadi Bapa Banyak Orang
Kejadian 17:4-5
“Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.”
Dalam Kejadian 17:5 Allah berkata kepada Abraham, “Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.” Abram berarti “bapa agung”, sedangkan Abraham berarti “bapa dari banyak orang”. Walaupun Abram berarti bapa agung, tetapi ia bukan bapa banyak orang, bapa banyak bangsa. Apakah makna perubahan nama Abraham ini? Ini berarti Allah ditambahkan ke dalamnya. Untuk menggenapkan tujuan Allah yang kekal, Allah harus ditambahkan ke dalamnya. Sebelum Kejadian 17, Abraham hanyalah Abram, orang yang belum memiliki Allah ditambahkan ke dalamnya. Allah merupakan faktor pelengkap/penyempurna. Tanpa Dia kita tidak akan sempurna.
Perubahan nama Abraham menyatakan perubahan diri/personanya. Apa yang diperlukan Allah untuk menggenapkan tujuan Allah yang kekal bukanlah bapa agung, melainkan bapa banyak orang. Allah menghendaki kita menjadi orang yang menghasilkan keturunan rohani. Untuk tujuan ini, pertama-tama, kita harus memiliki kasih terhadap manusia. Allah adalah Pencipta semua manusia; oleh karena itu, setiap manusia layak mendapatkan kasih kita. Kita harus memiliki kasih bagi semua manusia, kasih sayang yang tulus terhadap manusia, agar kita dapat membawa mereka kepada keselamatan. Mereka yang menganggap orang-orang menjemukan, menyulitkan, atau tercela, tidak akan bisa membawa orang kepada Tuhan. Kita perlu diperluas sehingga nampak bahwa semua manusia berharga bagi Allah.
Makna dari Perubahan Nama
Gal. 2:20; 1 Kor.15:10; Kej. 32:27-28; Yoh. 1:42; Kej. 17:5; 1 Ptr. 2:5
Perubahan nama Abraham menandakan perubahan personanya. Perubahan ini adalah bagi tujuan Allah. Dalam pengalaman rohani, perubahan sejati sebuah nama adalah perubahan dari “aku” kepada Kristus (Gal. 2:20) dan dari “aku” kepada anugerah Allah (1 Kor. 15:10). Hanya Kristus sebagai anugerah Allah, bukan “aku”, yang dapat melahirkan banyak bangsa yang diperlukan untuk menggenapkan tujuan Allah (lihat cat. 41 dalam Kej. 15 di Alkitab dengan catatan kaki versi pemulihan, bd. Kej. 32:27-28; Yoh. 1:42) Setiap saudara senang menjadi bapa yang agung. Kita tidak seharusnya diagungkan, melainkan berkembangbiak. Dalam hidup gereja, kita tidak seharusnya menjadi orang yang diagungkan atau dikhususkan. Kita semua wajib berkembangbiak dan meluas menjadi “bapa sejumlah besar bangsa” (Kej. 17:5). Kehidupan gereja yang sehat sangat tergantung pada perubahan “nama” kita, yaitu perubahan dalam persona kita. Jika kita masih tetap mempertahankan “keagungan” kita masing-masing, bagaimana kita bisa memiliki kehidupan gereja yang sehat? Tidak mungkin!.
Supaya memiliki kehidupan gereja yang sehat, perlu ada sekelompok orang yang bersama-sama terbangun dan erat bersatu, yang benar-benar mengerti dan mempraktekkan kehidupan bersama secara wajar. Ketika para saudara tidak lagi ingin diagungkan, hanya ingin berkembangbiak, barulah kita bisa bersama-sama menempuh kehidupan gereja yang tepat untuk mencapai tujuan Allah. Ini bukan doktrin semata. Pengubahan nama bukan hanya berupa pengubahan istilah, melainkan pengubahan apa adanya kita, pengubahan manusia kita. Meskipun Allah telah mewahyukan diri-Nya kepada kita, namun bila kita tetap tidak berubah, maka pewahyuan diri-Nya tidak akan membawa faedah apa-apa bagi kita. Pewahyuan diri-Nya tergantung pada pengubahan kita. Kita perlu diubah, bukan sekadar nama, tetapi juga manusia kita. Dengan demikian, kita baru bisa menikmati Allah dan minum dari suplai-Nya yang berlimpah. Hasilnya, kita akan menjadi saluran berkat bagi banyak orang.
Pengubahan nama dalam arti pengubahan manusia, juga terlihat pada kasus Yakub dan Petrus. Bagi pencapaian tujuan Allah, nama Yakub diubah menjadi Israel (Kej. 32:27-28); dari “pemegang tumit (Yakub)” diubah menjadi “Pangeran Allah” (Israel). Jika Yakub tetap sebagai seorang yang merebut, ia tidak akan dipakai Allah di dalam pencapaian tujuan ilahi. Yakub harus diubah menjadi pangeran Allah. Demikian pula dengan Petrus. Bagi pembangunan gereja, nama Petrus, yang tadinya Simon, harus diubah menjadi Kefas, artinya “batu” (Yoh. 1:42). Manusia alamiah Petrus adalah lumpur, ia harus diubah menjadi batu, bahkan batu mulia, bagi pembangunan Allah (1 Ptr. 2:5), untuk mencapai tujuan ilahi. Kita perlu mengalami pengubahan yang demikian.
Penerapan:
Menuntut kemajuan rohani secara pribadi tidaklah cukup. Kita perlu menjadi bapa banyak orang yang menghasilkan banyak anak cucu rohani. Karena itu, marilah kita belajar membagikan Injil keselamatan kepada teman-teman kita dan kepada orang-orang di sekitar kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku ingin menjadi bapa banyak orang yang melahirkan anak-anak rohani. Aku mau belajar membagikan keselamatan-Mu kepada orang-orang di sekitarku. Tuhan, jadikan aku saluran berkat bagi banyak orang.
Kejadian 17:4-5
“Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.”
Dalam Kejadian 17:5 Allah berkata kepada Abraham, “Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.” Abram berarti “bapa agung”, sedangkan Abraham berarti “bapa dari banyak orang”. Walaupun Abram berarti bapa agung, tetapi ia bukan bapa banyak orang, bapa banyak bangsa. Apakah makna perubahan nama Abraham ini? Ini berarti Allah ditambahkan ke dalamnya. Untuk menggenapkan tujuan Allah yang kekal, Allah harus ditambahkan ke dalamnya. Sebelum Kejadian 17, Abraham hanyalah Abram, orang yang belum memiliki Allah ditambahkan ke dalamnya. Allah merupakan faktor pelengkap/penyempurna. Tanpa Dia kita tidak akan sempurna.
Perubahan nama Abraham menyatakan perubahan diri/personanya. Apa yang diperlukan Allah untuk menggenapkan tujuan Allah yang kekal bukanlah bapa agung, melainkan bapa banyak orang. Allah menghendaki kita menjadi orang yang menghasilkan keturunan rohani. Untuk tujuan ini, pertama-tama, kita harus memiliki kasih terhadap manusia. Allah adalah Pencipta semua manusia; oleh karena itu, setiap manusia layak mendapatkan kasih kita. Kita harus memiliki kasih bagi semua manusia, kasih sayang yang tulus terhadap manusia, agar kita dapat membawa mereka kepada keselamatan. Mereka yang menganggap orang-orang menjemukan, menyulitkan, atau tercela, tidak akan bisa membawa orang kepada Tuhan. Kita perlu diperluas sehingga nampak bahwa semua manusia berharga bagi Allah.
Makna dari Perubahan Nama
Gal. 2:20; 1 Kor.15:10; Kej. 32:27-28; Yoh. 1:42; Kej. 17:5; 1 Ptr. 2:5
Perubahan nama Abraham menandakan perubahan personanya. Perubahan ini adalah bagi tujuan Allah. Dalam pengalaman rohani, perubahan sejati sebuah nama adalah perubahan dari “aku” kepada Kristus (Gal. 2:20) dan dari “aku” kepada anugerah Allah (1 Kor. 15:10). Hanya Kristus sebagai anugerah Allah, bukan “aku”, yang dapat melahirkan banyak bangsa yang diperlukan untuk menggenapkan tujuan Allah (lihat cat. 41 dalam Kej. 15 di Alkitab dengan catatan kaki versi pemulihan, bd. Kej. 32:27-28; Yoh. 1:42) Setiap saudara senang menjadi bapa yang agung. Kita tidak seharusnya diagungkan, melainkan berkembangbiak. Dalam hidup gereja, kita tidak seharusnya menjadi orang yang diagungkan atau dikhususkan. Kita semua wajib berkembangbiak dan meluas menjadi “bapa sejumlah besar bangsa” (Kej. 17:5). Kehidupan gereja yang sehat sangat tergantung pada perubahan “nama” kita, yaitu perubahan dalam persona kita. Jika kita masih tetap mempertahankan “keagungan” kita masing-masing, bagaimana kita bisa memiliki kehidupan gereja yang sehat? Tidak mungkin!.
Supaya memiliki kehidupan gereja yang sehat, perlu ada sekelompok orang yang bersama-sama terbangun dan erat bersatu, yang benar-benar mengerti dan mempraktekkan kehidupan bersama secara wajar. Ketika para saudara tidak lagi ingin diagungkan, hanya ingin berkembangbiak, barulah kita bisa bersama-sama menempuh kehidupan gereja yang tepat untuk mencapai tujuan Allah. Ini bukan doktrin semata. Pengubahan nama bukan hanya berupa pengubahan istilah, melainkan pengubahan apa adanya kita, pengubahan manusia kita. Meskipun Allah telah mewahyukan diri-Nya kepada kita, namun bila kita tetap tidak berubah, maka pewahyuan diri-Nya tidak akan membawa faedah apa-apa bagi kita. Pewahyuan diri-Nya tergantung pada pengubahan kita. Kita perlu diubah, bukan sekadar nama, tetapi juga manusia kita. Dengan demikian, kita baru bisa menikmati Allah dan minum dari suplai-Nya yang berlimpah. Hasilnya, kita akan menjadi saluran berkat bagi banyak orang.
Pengubahan nama dalam arti pengubahan manusia, juga terlihat pada kasus Yakub dan Petrus. Bagi pencapaian tujuan Allah, nama Yakub diubah menjadi Israel (Kej. 32:27-28); dari “pemegang tumit (Yakub)” diubah menjadi “Pangeran Allah” (Israel). Jika Yakub tetap sebagai seorang yang merebut, ia tidak akan dipakai Allah di dalam pencapaian tujuan ilahi. Yakub harus diubah menjadi pangeran Allah. Demikian pula dengan Petrus. Bagi pembangunan gereja, nama Petrus, yang tadinya Simon, harus diubah menjadi Kefas, artinya “batu” (Yoh. 1:42). Manusia alamiah Petrus adalah lumpur, ia harus diubah menjadi batu, bahkan batu mulia, bagi pembangunan Allah (1 Ptr. 2:5), untuk mencapai tujuan ilahi. Kita perlu mengalami pengubahan yang demikian.
Penerapan:
Menuntut kemajuan rohani secara pribadi tidaklah cukup. Kita perlu menjadi bapa banyak orang yang menghasilkan banyak anak cucu rohani. Karena itu, marilah kita belajar membagikan Injil keselamatan kepada teman-teman kita dan kepada orang-orang di sekitar kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku ingin menjadi bapa banyak orang yang melahirkan anak-anak rohani. Aku mau belajar membagikan keselamatan-Mu kepada orang-orang di sekitarku. Tuhan, jadikan aku saluran berkat bagi banyak orang.
08 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 1 Jumat
El-Shaddai
Kejadian 17:1
“Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: ‘Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.’”
Ketika Abraham berusia 99 tahun, Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.” Dalam bahasa Ibrani, sebutan “Allah Yang Mahakuasa” adalah El-Shaddai yang berarti “Allah yang Mahakaya dan Mahacukup”. “El” berarti “yang kuat”, “yang berkuasa”, sedang “Shaddai” mengandung makna “dada”, “buah dada”. Buah dada menghasilkan susu, dan susu merupakan suplai yang serba cukup, yang mengandung semua gizi yang kita perlukan untuk hidup sehari-hari. Jadi El-Shaddai berarti Sang Mahakuasa yang Mahacukup sebagai suplai kita setiap hari. Selain itu, kata “tidak bercela” dapat diartikan sebagai “sempurna” (Ibrani: tamiym, Inggris: perfect). Di sini kita melihat Allah memberi dua pesan kepada Abraham — Abraham harus hidup (Inggris: walk) di hadapan Allah yang Mahakaya dan Mahacukup dan ia harus sempurna. Karena Abraham tidak sempurna, ia kekurangan sesuatu, Allah kemudian datang dan mewahyukan diri-Nya sebagai El-Shaddai.
Dalam pasal 17:1 Allah memberi tahu Abraham agar ia hidup di hadapan-Nya. Apakah artinya ini? Ini berarti menikmati Tuhan. Hidup di hadapan Tuhan berarti kita terus-menerus menikmati Dia dan menerima suplai “buah dada-Nya”. Hidup di hadapan Allah tidak berarti kita hidup di hadapan-Nya dengan penuh ketakutan seperti di hadapan Sang Kudus. Tidak. Sang Mahakuasa dengan “buah dada” ilahi yang mahacukup siap menyuplai semua keperluan sehari-hari kita. Hanya dengan menikmati suplaian-Nya, kita dapat hidup di hadapan-Nya.
Hidup di Hadapan Allah dan Menjadi Sempurna
Kej. 17:1
Dalam pasal 16, Abraham tidak hidup di hadapan Allah, tetapi ia hidup di hadapan Sara, Hagar dan Ismael. Karena Abraham tidak hidup di hadapan Allah, Allah menilai dia tidak sempurna. Abraham seolah-olah melupakan Allah sebagai sumber persediaannya yang mahakaya. Karena itulah Allah kemudian mewahyukan diri-Nya sebagai El-Shaddai, Mahakuasa yang “berbuah dada”.
Penyuplaian Allah seperti air susu yang mengalir ke dalam kita. Allah tidak menginginkan kita menggunakan kekuatan kita untuk menggenapkan tujuan Allah; Ia menghendaki kita minum “air susu-Nya”, menyesap unsur diri-Nya ke dalam kita, sehingga kita sanggup melakukan kehendak-Nya. Adakah kita setiap hari menerima suplai dari “buah dada” ilahi ini? Suplai apakah yang kita terima dari hari ke hari? Kiranya hari demi hari kita berada di bawah “buah dada-Nya” dan menikmati suplai yang mahacukup. Allah bagi kita adalah Sang Mahakuasa yang mahakaya dan mahacukup.
Selain itu, Allah menghendaki kita, anak-anak-Nya menjadi sempurna, senantiasa hidup di hadapan-Nya. Apakah artinya sempurna? Bagi Abraham tidak sempurna bukan berarti ia tidak baik, melainkan ia kekurangan Allah. Tanpa Allah, tidak seorangpun di antara kita dapat menjadi sempurna. Tanpa Allah, tidak ada kesempurnaan. Jika kehidupan rumah tangga kita tanpa Allah, maka kehidupan rumah tangga kita tidak sempurna.
Hidup di hadapan Allah berarti kita menikmati Dia, dan sempurna berarti membiarkan Allah ditambahkan ke dalam kita. Kesempurnaan kita adalah diri Allah sendiri. Bagaimanapun baiknya atau bagaimanapun sempurnanya kita di pandangan manusia, tetapi tanpa Allah kita kekurangan sesuatu. Allah harus ditambahkan ke dalam diri kita. Jika Dia tidak ditambahkan ke dalam diri kita, diri kita tetap tidak sempurna.
Suami isteri harus belajar hidup di hadapan Allah. Terutama bagi orang-tua yang telah mempunyai anak, harus menyediakan waktu untuk berdoa bersama. Bersama-sama menantikan Allah serta bersama-sama mempersekutukan perkara rohani. Baik istri maupun suami, dalam perkara tertentu harus rela menerima koreksi di bawah terang ilahi. Suami tidak mempertahankan gengsi suami, istri pun tidak mempertahankan gengsi istri, melainkan sama-sama rela menerima koreksi di bawah terang Allah. Harus ada dialog rohani. Adakalanya berdoa bersama, adakalanya bersekutu bersama. Teristimewa bagi mereka yang telah mempunyai anak, harus mencari kesempatan untuk lebih sering datang bersama ke hadapan Allah. Jika menginginkan keluarga yang baik, maka suami dengan istri, keduanya harus hidup di hadapan Allah. Jika keduanya tidak hidup di hadapan Allah, keluarga ini pasti tidak akan baik.
Penerapan:
Di dalam segala sesuatu kita harus selalu bersandar kepada Allah yang serba limpah. Sebagai contoh, banyak di antara kita yang disusahkan oleh temperamen kita. Jangan sekali-kali mencoba mengatasi temperamen. Jika kita melupakan temperamen kita dan setiap saat bersandar kepada Allah, temperamen kita dengan sendirinya akan dikalahkan.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau selalu tersedia bagiku. Engkau adalah El-Shaddai, Allah yang Mahakuasa, Mahakaya dan Mahacukup. Atas segala keperluanku, aku mau sepenuhnya bersandar kepada-Mu.
Kejadian 17:1
“Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: ‘Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.’”
Ketika Abraham berusia 99 tahun, Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.” Dalam bahasa Ibrani, sebutan “Allah Yang Mahakuasa” adalah El-Shaddai yang berarti “Allah yang Mahakaya dan Mahacukup”. “El” berarti “yang kuat”, “yang berkuasa”, sedang “Shaddai” mengandung makna “dada”, “buah dada”. Buah dada menghasilkan susu, dan susu merupakan suplai yang serba cukup, yang mengandung semua gizi yang kita perlukan untuk hidup sehari-hari. Jadi El-Shaddai berarti Sang Mahakuasa yang Mahacukup sebagai suplai kita setiap hari. Selain itu, kata “tidak bercela” dapat diartikan sebagai “sempurna” (Ibrani: tamiym, Inggris: perfect). Di sini kita melihat Allah memberi dua pesan kepada Abraham — Abraham harus hidup (Inggris: walk) di hadapan Allah yang Mahakaya dan Mahacukup dan ia harus sempurna. Karena Abraham tidak sempurna, ia kekurangan sesuatu, Allah kemudian datang dan mewahyukan diri-Nya sebagai El-Shaddai.
Dalam pasal 17:1 Allah memberi tahu Abraham agar ia hidup di hadapan-Nya. Apakah artinya ini? Ini berarti menikmati Tuhan. Hidup di hadapan Tuhan berarti kita terus-menerus menikmati Dia dan menerima suplai “buah dada-Nya”. Hidup di hadapan Allah tidak berarti kita hidup di hadapan-Nya dengan penuh ketakutan seperti di hadapan Sang Kudus. Tidak. Sang Mahakuasa dengan “buah dada” ilahi yang mahacukup siap menyuplai semua keperluan sehari-hari kita. Hanya dengan menikmati suplaian-Nya, kita dapat hidup di hadapan-Nya.
Hidup di Hadapan Allah dan Menjadi Sempurna
Kej. 17:1
Dalam pasal 16, Abraham tidak hidup di hadapan Allah, tetapi ia hidup di hadapan Sara, Hagar dan Ismael. Karena Abraham tidak hidup di hadapan Allah, Allah menilai dia tidak sempurna. Abraham seolah-olah melupakan Allah sebagai sumber persediaannya yang mahakaya. Karena itulah Allah kemudian mewahyukan diri-Nya sebagai El-Shaddai, Mahakuasa yang “berbuah dada”.
Penyuplaian Allah seperti air susu yang mengalir ke dalam kita. Allah tidak menginginkan kita menggunakan kekuatan kita untuk menggenapkan tujuan Allah; Ia menghendaki kita minum “air susu-Nya”, menyesap unsur diri-Nya ke dalam kita, sehingga kita sanggup melakukan kehendak-Nya. Adakah kita setiap hari menerima suplai dari “buah dada” ilahi ini? Suplai apakah yang kita terima dari hari ke hari? Kiranya hari demi hari kita berada di bawah “buah dada-Nya” dan menikmati suplai yang mahacukup. Allah bagi kita adalah Sang Mahakuasa yang mahakaya dan mahacukup.
Selain itu, Allah menghendaki kita, anak-anak-Nya menjadi sempurna, senantiasa hidup di hadapan-Nya. Apakah artinya sempurna? Bagi Abraham tidak sempurna bukan berarti ia tidak baik, melainkan ia kekurangan Allah. Tanpa Allah, tidak seorangpun di antara kita dapat menjadi sempurna. Tanpa Allah, tidak ada kesempurnaan. Jika kehidupan rumah tangga kita tanpa Allah, maka kehidupan rumah tangga kita tidak sempurna.
Hidup di hadapan Allah berarti kita menikmati Dia, dan sempurna berarti membiarkan Allah ditambahkan ke dalam kita. Kesempurnaan kita adalah diri Allah sendiri. Bagaimanapun baiknya atau bagaimanapun sempurnanya kita di pandangan manusia, tetapi tanpa Allah kita kekurangan sesuatu. Allah harus ditambahkan ke dalam diri kita. Jika Dia tidak ditambahkan ke dalam diri kita, diri kita tetap tidak sempurna.
Suami isteri harus belajar hidup di hadapan Allah. Terutama bagi orang-tua yang telah mempunyai anak, harus menyediakan waktu untuk berdoa bersama. Bersama-sama menantikan Allah serta bersama-sama mempersekutukan perkara rohani. Baik istri maupun suami, dalam perkara tertentu harus rela menerima koreksi di bawah terang ilahi. Suami tidak mempertahankan gengsi suami, istri pun tidak mempertahankan gengsi istri, melainkan sama-sama rela menerima koreksi di bawah terang Allah. Harus ada dialog rohani. Adakalanya berdoa bersama, adakalanya bersekutu bersama. Teristimewa bagi mereka yang telah mempunyai anak, harus mencari kesempatan untuk lebih sering datang bersama ke hadapan Allah. Jika menginginkan keluarga yang baik, maka suami dengan istri, keduanya harus hidup di hadapan Allah. Jika keduanya tidak hidup di hadapan Allah, keluarga ini pasti tidak akan baik.
Penerapan:
Di dalam segala sesuatu kita harus selalu bersandar kepada Allah yang serba limpah. Sebagai contoh, banyak di antara kita yang disusahkan oleh temperamen kita. Jangan sekali-kali mencoba mengatasi temperamen. Jika kita melupakan temperamen kita dan setiap saat bersandar kepada Allah, temperamen kita dengan sendirinya akan dikalahkan.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau selalu tersedia bagiku. Engkau adalah El-Shaddai, Allah yang Mahakuasa, Mahakaya dan Mahacukup. Atas segala keperluanku, aku mau sepenuhnya bersandar kepada-Mu.
07 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 1 Kamis
Kehilangan Penyertaan Allah
Kejadian 16:15-16
“Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.”
Karena Abraham menuruti usul isterinya untuk menghampiri Hagar, maka lahirlah Ismael. Barangkali, setelah Ismael lahir, Abraham mengira bahwa itu adalah pengaturan Allah. Hal ini menjadi sangat masuk akal karena tiga alasan: 1) Allah mengijinkan mereka mendapatkan Hagar dari Mesir, 2) Allah mengijinkan Hagar mengandung, dan 3) Allah memberi dia seorang anak laki-laki melalui Hagar. Dalam pemikiran Abraham, ketiga hal itu pastilah kehendak Allah. Akan tetapi, setelah kelahiran Ismael, Allah malahan menjauhi Abraham selama tiga belas tahun (16:16; 17:1).
Sekalipun kita memperoleh sesuatu yang kita pandang amat baik, namun seringkali di batin kita tetap merasakan kehilangan sesuatu. Kita kehilangan penyertaan Allah. Bagi Abraham, kehadiran Ismael berarti hilangnya penyertaan Allah. Anugerah selalu mendatangkan damai sejahtera dan penyertaan Allah. Sebaliknya, kekuatan daging membuat kita kehilangan damai sejahtera dan penyertaan Allah.
Misalnya, kita berencana untuk pergi ke suatu tempat. Kita tidak hanya perlu bertanya apakah kita boleh pergi atau tidak, tetapi juga apakah Allah beserta kita atau tidak? Jika Allah tidak menyertai kita, walaupun kita melakukan hal yang terbaik, itu tidak ada nilai rohaninya. Karena itu, penyertaan Allah adalah perkara yang paling penting. Mungkin kita adalah orang yang baik, lemah-lembut dan rendah hati, namun bila kita tidak memiliki penyertaan Allah, sesungguhnya kita adalah orang yang amat kasihan. Penyertaan Allah hanya akan kita peroleh jika kita menaati penerangan dan pengurapan Roh Kudus di batin, serta membereskan dosa dan ego.
Kehilangan Pembicaraan Allah
Kej. 16:16; 17:1
Mungkin Abraham mengira, ia memakai tubuh dagingnya untuk melahirkan Ismael bukanlah suatu perkara yang serius, tetapi dari sudut pandang rencana kekal Allah, hal itu adalah suatu perkara yang serius. Ketika Abraham melahirkan Ismael, ia berusia delapan puluh enam tahun, dan tiga belas tahun kemudian, ketika ia berusia sembilan puluh sembilan tahun, Allah menampakkan diri kepadanya lagi (Kej. 16:16; 17:1). Selama tiga belas tahun yang panjang ini, ia kehilangan penyertaan Allah. Tidak mempunyai penyertaan Allah adalah perkara yang sangat serius.
Dalam pandangan Allah, keadaan alamiah kita lebih kotor dan lebih najis daripada dosa. Walaupun kita semua mengakui seriusnya dosa, tetapi tidak banyak orang yang menyadari seriusnya diri alamiah kita. Jika kita berbuat dosa, kita dapat segera mengakuinya di hadapan Allah, tetapi jika kita berbuat sesuatu perkara yang baik berdasarkan diri kita sendiri, kita tidak merasa telah melukai hati Allah. Allah ingin masuk ke dalam kita menjadi hayat dan segala-gala kita sehingga kita bisa hidup, bekerja dan mengerjakan segala sesuatu berdasarkan Dia. Abraham telah memakai kekuatan alamiahnya untuk melahirkan seorang putra untuk menggenapkan tujuan Allah. Karena itu, maka Allah tidak menampakkan diri dan tidak berbicara selama tiga belas tahun kepada orang yang telah dipanggil-Nya dan dikasihi-Nya. Dalam catatan ilahi, tahun-tahun tersebut adalah tahun-tahun yang hilang/sia-sia.
Saudara saudari, kita harus menghitung hari-hari kita. Sejak kita beroleh selamat sampai sekarang, berapa banyakkah hari-hari kita yang terhitung oleh Allah? Jangan mengira bahwa hari-hari yang hilang itu tidaklah terlalu banyak, hanya sedikit saja. Boleh jadi kita sudah 8 atau 10 tahun lamanya percaya kepada Tuhan, namun dalam tahun-tahun itu, berapa banyak yang telah kita lalui dengan sembarangan dan sia-sia? Berapa banyak waktu yang terhilang? Oh, hari-hari yang kita sia-siakan itu terlalu banyak! Kalau hari-hari kita yang terhitung di hadapan Allah dijumlahkan, adakah genap satu tahun? Kita harus tahu, bahwa hari-hari yang kita lalui menurut kemauan diri sendiri, hari-hari yang menjauhi Allah, hari-hari yang gagal, hari-hari yang jatuh, itu semua sama sekali tidak terhitung di hadapan Allah. Baiklah kita masing-masing bertanya kepada diri sendiri, telah sekian lama kita menjadi orang Kristen, berapa harikah yang kita lalui dengan sia-sia, berapa pula yang terhitung oleh Allah? Oh, hari-hari yang tanpa persekutuan dengan Allah, adalah hari-hari yang tidak terhitung oleh Allah. Saudara saudari, di antara kita tidak ada seorang pun yang boleh menyia-nyiakan waktunya.
Penerapan:
Kehilangan damai sejahtera dan penyertaan Allah merupakan tanda bahwa apa yang kita lakukan tidak diperkenan Allah. Marilah kita belajar mencari perkenan Allah lebih daripada perkenan manusia. Misalnya, Sebelum menelepon seseorang atau sebelum mengambil sebuah keputusan, marilah kita belajar bertanya kepada Allah apakah Ia berkenan atau tidak.
Pokok Doa:
Tuhan jauhkanlah aku dari setiap pencobaan yang hanya membawaku untuk mencari perkenan manusia. Tuhan mohon belas kasih-Mu untuk menjagaku berada dalam anugerah-Mu sehingga aku tidak kehilangan damai sejahtera dan penyertaan-Mu.
Kejadian 16:15-16
“Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.”
Karena Abraham menuruti usul isterinya untuk menghampiri Hagar, maka lahirlah Ismael. Barangkali, setelah Ismael lahir, Abraham mengira bahwa itu adalah pengaturan Allah. Hal ini menjadi sangat masuk akal karena tiga alasan: 1) Allah mengijinkan mereka mendapatkan Hagar dari Mesir, 2) Allah mengijinkan Hagar mengandung, dan 3) Allah memberi dia seorang anak laki-laki melalui Hagar. Dalam pemikiran Abraham, ketiga hal itu pastilah kehendak Allah. Akan tetapi, setelah kelahiran Ismael, Allah malahan menjauhi Abraham selama tiga belas tahun (16:16; 17:1).
Sekalipun kita memperoleh sesuatu yang kita pandang amat baik, namun seringkali di batin kita tetap merasakan kehilangan sesuatu. Kita kehilangan penyertaan Allah. Bagi Abraham, kehadiran Ismael berarti hilangnya penyertaan Allah. Anugerah selalu mendatangkan damai sejahtera dan penyertaan Allah. Sebaliknya, kekuatan daging membuat kita kehilangan damai sejahtera dan penyertaan Allah.
Misalnya, kita berencana untuk pergi ke suatu tempat. Kita tidak hanya perlu bertanya apakah kita boleh pergi atau tidak, tetapi juga apakah Allah beserta kita atau tidak? Jika Allah tidak menyertai kita, walaupun kita melakukan hal yang terbaik, itu tidak ada nilai rohaninya. Karena itu, penyertaan Allah adalah perkara yang paling penting. Mungkin kita adalah orang yang baik, lemah-lembut dan rendah hati, namun bila kita tidak memiliki penyertaan Allah, sesungguhnya kita adalah orang yang amat kasihan. Penyertaan Allah hanya akan kita peroleh jika kita menaati penerangan dan pengurapan Roh Kudus di batin, serta membereskan dosa dan ego.
Kehilangan Pembicaraan Allah
Kej. 16:16; 17:1
Mungkin Abraham mengira, ia memakai tubuh dagingnya untuk melahirkan Ismael bukanlah suatu perkara yang serius, tetapi dari sudut pandang rencana kekal Allah, hal itu adalah suatu perkara yang serius. Ketika Abraham melahirkan Ismael, ia berusia delapan puluh enam tahun, dan tiga belas tahun kemudian, ketika ia berusia sembilan puluh sembilan tahun, Allah menampakkan diri kepadanya lagi (Kej. 16:16; 17:1). Selama tiga belas tahun yang panjang ini, ia kehilangan penyertaan Allah. Tidak mempunyai penyertaan Allah adalah perkara yang sangat serius.
Dalam pandangan Allah, keadaan alamiah kita lebih kotor dan lebih najis daripada dosa. Walaupun kita semua mengakui seriusnya dosa, tetapi tidak banyak orang yang menyadari seriusnya diri alamiah kita. Jika kita berbuat dosa, kita dapat segera mengakuinya di hadapan Allah, tetapi jika kita berbuat sesuatu perkara yang baik berdasarkan diri kita sendiri, kita tidak merasa telah melukai hati Allah. Allah ingin masuk ke dalam kita menjadi hayat dan segala-gala kita sehingga kita bisa hidup, bekerja dan mengerjakan segala sesuatu berdasarkan Dia. Abraham telah memakai kekuatan alamiahnya untuk melahirkan seorang putra untuk menggenapkan tujuan Allah. Karena itu, maka Allah tidak menampakkan diri dan tidak berbicara selama tiga belas tahun kepada orang yang telah dipanggil-Nya dan dikasihi-Nya. Dalam catatan ilahi, tahun-tahun tersebut adalah tahun-tahun yang hilang/sia-sia.
Saudara saudari, kita harus menghitung hari-hari kita. Sejak kita beroleh selamat sampai sekarang, berapa banyakkah hari-hari kita yang terhitung oleh Allah? Jangan mengira bahwa hari-hari yang hilang itu tidaklah terlalu banyak, hanya sedikit saja. Boleh jadi kita sudah 8 atau 10 tahun lamanya percaya kepada Tuhan, namun dalam tahun-tahun itu, berapa banyak yang telah kita lalui dengan sembarangan dan sia-sia? Berapa banyak waktu yang terhilang? Oh, hari-hari yang kita sia-siakan itu terlalu banyak! Kalau hari-hari kita yang terhitung di hadapan Allah dijumlahkan, adakah genap satu tahun? Kita harus tahu, bahwa hari-hari yang kita lalui menurut kemauan diri sendiri, hari-hari yang menjauhi Allah, hari-hari yang gagal, hari-hari yang jatuh, itu semua sama sekali tidak terhitung di hadapan Allah. Baiklah kita masing-masing bertanya kepada diri sendiri, telah sekian lama kita menjadi orang Kristen, berapa harikah yang kita lalui dengan sia-sia, berapa pula yang terhitung oleh Allah? Oh, hari-hari yang tanpa persekutuan dengan Allah, adalah hari-hari yang tidak terhitung oleh Allah. Saudara saudari, di antara kita tidak ada seorang pun yang boleh menyia-nyiakan waktunya.
Penerapan:
Kehilangan damai sejahtera dan penyertaan Allah merupakan tanda bahwa apa yang kita lakukan tidak diperkenan Allah. Marilah kita belajar mencari perkenan Allah lebih daripada perkenan manusia. Misalnya, Sebelum menelepon seseorang atau sebelum mengambil sebuah keputusan, marilah kita belajar bertanya kepada Allah apakah Ia berkenan atau tidak.
Pokok Doa:
Tuhan jauhkanlah aku dari setiap pencobaan yang hanya membawaku untuk mencari perkenan manusia. Tuhan mohon belas kasih-Mu untuk menjagaku berada dalam anugerah-Mu sehingga aku tidak kehilangan damai sejahtera dan penyertaan-Mu.
06 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 1 Rabu
Sara Melambangkan Perjanjian Anugerah
Kejadian 16:3
“Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, - yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan - ,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.”
Abraham mengambil Hagar sebagai isteri, lalu melahirkan Ismael. Galatia pasal empat memberitahu kita, “Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging . . . sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar - - Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab . . .” (ay. 23-25). Dalam surat Galatia, Paulus memberi tahu kita bahwa Sara dan Hagar, kedua perempuan itu, merupakan sebuah kiasan yang melambangkan dua perjanjian. Sara melambangkan perjanjian anugerah (kasih karunia), dan Hagar melambangkan perjanjian hukum Taurat. Perjanjian anugerah diterima oleh Abraham dalam Kejadian 12:1, sedangkan perjanjian hukum Taurat baru diberikan kepada bani Israel melalui Musa dalam Keluaran 20. Rentang waktu antara keduanya adalah 430 tahun (Gal. 3:17).
Allah menjanjikan akan memberi Abraham keturunan untuk menggenapkan tujuan-Nya. Ini adalah pekerjaan Allah, bukan usaha Abraham. Inilah anugerah. Anugerah berarti Allah yang mengerjakan. Allah menghendaki kita berada dalam perjanjian anugerah melalui membiarkan Dia yang melakukan segala sesuatu bagi kita. Namun, karena kita memiliki pengetahuan atau pengalaman tertentu, seringkali kita tidak memberi kesempatan kepada Allah untuk melakukan sesuatu. Misalnya, berapa banyak kita melibatkan Allah dalam mengurusi keluarga kita? Kalau kita ingin hidup di bawah anugerah, kita harus membiarkan Allah yang bekerja. Ini tidak berarti bahwa kita menjadi orang yang pasif, melainkan hidup bersandar Allah.
Hagar Melambangkan Perjanjian Hukum Taurat
Gal. 4:25-26, 28, 31
Sebagai hamba, Hagar menandakan perjanjian hukum Taurat (Gal. 4:25). Ketika anak-anak Israel melalaikan pekerjaan anugerah Allah di atas diri mereka, dan mencoba menyenangkan Allah berdasarkan diri mereka sendiri, saat itulah hukum Taurat diberikan. Menurut ketetapan sebermula Allah, seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang istri. Jadi, usul Sara supaya Abraham mempunyai keturunan melalui Hagar, mutlak bertentangan dengan ketetapan Allah. Hagar bukannya istri yang resmi, melainkan seorang gundik. Hagar, gundik Abraham, merupakan simbol hukum Taurat. Dari sini kita dapat mengetahui, posisi hukum Taurat adalah posisi gundik. Sedangkan anugerah adalah istri yang resmi, ibu dari keturunan yang tepat (Gal. 4:26, 28, 31).
Allah tidak berniat memberikan hukum Taurat untuk menggenapkan tujuan-Nya. Maksud Allah semula ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia, kemudian melalui manusia itu Ia akan menggenapkan tujuan-Nya. Dalam pengalaman kita, setelah kita diselamatkan, kita akan sadar bahwa Allah menghendaki kita menempuh hidup seperti Kristus, hidup yang surgawi, hidup yang berkemenangan, hidup yang terus-menerus diperkenan Allah dan memuliakan Allah. Ya, Allah memang menginginkan kita menempuh hidup yang demikian. Tetapi Ia akan terlebih dulu menggarapkan Kristus ke dalam kita, untuk menggantikan kita dalam menempuh hidup yang surgawi, yang berkenan kepada-Nya dan yang memuliakan Dia.
Kita sering kali hanya memperhatikan tujuan tetapi melalaikan anugerah. Inilah masalah kita. Abraham salah, bukan karena tujuannya salah, melainkan karena sumbernya salah. Tujuannya supaya janji Allah tergenapi, tetapi ia salah karena memakai kekuatan diri sendiri untuk melakukan pekerjaan itu. Begitu menyadari apa yang Allah inginkan, lalu kita mulai menggunakan tenaga kita sendiri, kekuatan alamiah kita, untuk menggenapkan tujuan Allah. Kita mungkin tidak mempunyai hukum Taurat yang diberikan oleh Musa, tetapi kita mempunyai banyak sekali hukum buatan kita sendiri. Misalnya, istri mengatakan tidak ingin lagi marah terhadap suami ataupun mengambil sikap yang negatif terhadapnya. Inilah hukum Taurat kita yang kesatu. Hukum Taurat kita yang kedua adalah, sebagai seorang wanita Kristen atau istri Kristen, kita harus manis, menyenangkan dan rendah hati. Hukum Taurat kita yang ketiga ialah jangan sekali-kali mengkritik orang lain, dan yang keempat, selalu mengasihi orang dan tidak boleh membenci mereka. Hukum-hukum buatan kita sendiri inilah “Hagar” kita. Sekalipun kita bisa memeliharanya, di dalam pandangan Allah tidaklah terhitung. Tetapi bila kita berdasarkan anugerah melakukan kehendak Allah, tidak mengandalkan diri sendiri, itu barulah bernilai.
Penerapan:
Siapa pun ingin menjadi istri yang baik, suami yang bertanggung jawab, hamba yang setia, dan menjadi orang Kristen yang mengasihi Tuhan. Tetapi Allah tidak mau kita berusaha menurut kekuatan kita sendiri. Allah ingin kita melalui doa membiarkan Dia sebagai anugerah menyuplai dan memampukan kita sehingga kita dapat menjadi seperti yang Allah inginkan.
Pokok Doa:
Tuhan aku menyadari bahwa aku banyak kekurangan dan kegagalan. Aku ingin berubah namun usahaku selama ini sia-sia. Tuhan, aku bersyukur karena Engkau selalu tersedia bagiku sebagai anugerah. Biarlah demi anugerah-Mu, Engkau sendiri yang mengubah aku.
Kejadian 16:3
“Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, - yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan - ,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.”
Abraham mengambil Hagar sebagai isteri, lalu melahirkan Ismael. Galatia pasal empat memberitahu kita, “Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging . . . sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar - - Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab . . .” (ay. 23-25). Dalam surat Galatia, Paulus memberi tahu kita bahwa Sara dan Hagar, kedua perempuan itu, merupakan sebuah kiasan yang melambangkan dua perjanjian. Sara melambangkan perjanjian anugerah (kasih karunia), dan Hagar melambangkan perjanjian hukum Taurat. Perjanjian anugerah diterima oleh Abraham dalam Kejadian 12:1, sedangkan perjanjian hukum Taurat baru diberikan kepada bani Israel melalui Musa dalam Keluaran 20. Rentang waktu antara keduanya adalah 430 tahun (Gal. 3:17).
Allah menjanjikan akan memberi Abraham keturunan untuk menggenapkan tujuan-Nya. Ini adalah pekerjaan Allah, bukan usaha Abraham. Inilah anugerah. Anugerah berarti Allah yang mengerjakan. Allah menghendaki kita berada dalam perjanjian anugerah melalui membiarkan Dia yang melakukan segala sesuatu bagi kita. Namun, karena kita memiliki pengetahuan atau pengalaman tertentu, seringkali kita tidak memberi kesempatan kepada Allah untuk melakukan sesuatu. Misalnya, berapa banyak kita melibatkan Allah dalam mengurusi keluarga kita? Kalau kita ingin hidup di bawah anugerah, kita harus membiarkan Allah yang bekerja. Ini tidak berarti bahwa kita menjadi orang yang pasif, melainkan hidup bersandar Allah.
Hagar Melambangkan Perjanjian Hukum Taurat
Gal. 4:25-26, 28, 31
Sebagai hamba, Hagar menandakan perjanjian hukum Taurat (Gal. 4:25). Ketika anak-anak Israel melalaikan pekerjaan anugerah Allah di atas diri mereka, dan mencoba menyenangkan Allah berdasarkan diri mereka sendiri, saat itulah hukum Taurat diberikan. Menurut ketetapan sebermula Allah, seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang istri. Jadi, usul Sara supaya Abraham mempunyai keturunan melalui Hagar, mutlak bertentangan dengan ketetapan Allah. Hagar bukannya istri yang resmi, melainkan seorang gundik. Hagar, gundik Abraham, merupakan simbol hukum Taurat. Dari sini kita dapat mengetahui, posisi hukum Taurat adalah posisi gundik. Sedangkan anugerah adalah istri yang resmi, ibu dari keturunan yang tepat (Gal. 4:26, 28, 31).
Allah tidak berniat memberikan hukum Taurat untuk menggenapkan tujuan-Nya. Maksud Allah semula ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia, kemudian melalui manusia itu Ia akan menggenapkan tujuan-Nya. Dalam pengalaman kita, setelah kita diselamatkan, kita akan sadar bahwa Allah menghendaki kita menempuh hidup seperti Kristus, hidup yang surgawi, hidup yang berkemenangan, hidup yang terus-menerus diperkenan Allah dan memuliakan Allah. Ya, Allah memang menginginkan kita menempuh hidup yang demikian. Tetapi Ia akan terlebih dulu menggarapkan Kristus ke dalam kita, untuk menggantikan kita dalam menempuh hidup yang surgawi, yang berkenan kepada-Nya dan yang memuliakan Dia.
Kita sering kali hanya memperhatikan tujuan tetapi melalaikan anugerah. Inilah masalah kita. Abraham salah, bukan karena tujuannya salah, melainkan karena sumbernya salah. Tujuannya supaya janji Allah tergenapi, tetapi ia salah karena memakai kekuatan diri sendiri untuk melakukan pekerjaan itu. Begitu menyadari apa yang Allah inginkan, lalu kita mulai menggunakan tenaga kita sendiri, kekuatan alamiah kita, untuk menggenapkan tujuan Allah. Kita mungkin tidak mempunyai hukum Taurat yang diberikan oleh Musa, tetapi kita mempunyai banyak sekali hukum buatan kita sendiri. Misalnya, istri mengatakan tidak ingin lagi marah terhadap suami ataupun mengambil sikap yang negatif terhadapnya. Inilah hukum Taurat kita yang kesatu. Hukum Taurat kita yang kedua adalah, sebagai seorang wanita Kristen atau istri Kristen, kita harus manis, menyenangkan dan rendah hati. Hukum Taurat kita yang ketiga ialah jangan sekali-kali mengkritik orang lain, dan yang keempat, selalu mengasihi orang dan tidak boleh membenci mereka. Hukum-hukum buatan kita sendiri inilah “Hagar” kita. Sekalipun kita bisa memeliharanya, di dalam pandangan Allah tidaklah terhitung. Tetapi bila kita berdasarkan anugerah melakukan kehendak Allah, tidak mengandalkan diri sendiri, itu barulah bernilai.
Penerapan:
Siapa pun ingin menjadi istri yang baik, suami yang bertanggung jawab, hamba yang setia, dan menjadi orang Kristen yang mengasihi Tuhan. Tetapi Allah tidak mau kita berusaha menurut kekuatan kita sendiri. Allah ingin kita melalui doa membiarkan Dia sebagai anugerah menyuplai dan memampukan kita sehingga kita dapat menjadi seperti yang Allah inginkan.
Pokok Doa:
Tuhan aku menyadari bahwa aku banyak kekurangan dan kegagalan. Aku ingin berubah namun usahaku selama ini sia-sia. Tuhan, aku bersyukur karena Engkau selalu tersedia bagiku sebagai anugerah. Biarlah demi anugerah-Mu, Engkau sendiri yang mengubah aku.
05 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 1 Selasa
Perlu Mengenal Allah sebagai Sumber
Kejadian 16:2
“Berkatalah Sarai kepada Abram: ‘Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.’ Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.”
Allah akan menjadikan Abraham sebagai bapa dari suatu bangsa yang besar (Kej. 17:4). Sebab itu di atas diri Abraham, Allah mengerjakan satu perkara yang khusus yaitu membimbing Abraham supaya ia mengenal apa yang disebut “Allah adalah Bapa”. Allah adalah Bapa, berarti segala sesuatu harus berasal dari Allah, harus bersumber dari Allah. Tetapi, Abraham melahirkan Ismael dari kekuatan dan hikmatnya sendiri. Hal itu berarti Abraham telah mengesampingkan Allah sebagai Sang sumber. Sesungguhnya, Ismael bukan berasal dari Allah, tetapi dari diri Abraham sendiri.
Allah menghendaki Abraham mengenal Allah yang ia sembah sebagai Bapa, mengenal Allah adalah sumber dari segala sesuatu. Segala sesuatu berasal dari Dia. Roma 11:36 mengatakan, “Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.” Di masa lalu, segala sesuatu adalah dari Dia; di masa kini, segala sesuatu adalah oleh Dia; dan di masa yang akan datang, segala sesuatu adalah kepada Dia. Allah yang adalah Bapa adalah sumber segala sesuatu (1 Kor. 8:6). Dia bukan hanya Bapa kaum beriman, tetapi Dia adalah Bapa dari segala sesuatu yang diciptakan, karena segala sesuatu berasal dari Dia.
Hari ini, Allah pun menghendaki kita mengalami Dia sebagai sumber. Dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan kita, Dialah sumber kekuatan dan hikmat kita. Bersandarkan kekuatan dan hikmat kita sendiri, kita pasti akan gagal. Sekalipun berhasil, itu tidak diperkenan oleh Allah. Cara terbaik untuk mengalami Allah sebagai sumber, adalah mengawali segala sesuatu dengan doa.
Bukan Aku Melainkan Tuhan
Yoh. 15:5; Yes. 55:8-9
Bila Abraham ingin mempunyai anak, ia harus mengenal Allah adalah Bapa, menerima Allah sebagai Bapa, dan sebaliknya mengesampingkan dirinya sendiri. Kalau Abraham ingin mendapatkan Ishak, ia tidak seharusnya berusaha mendapatkan berdasarkan diri sendiri. Dengan kata lain, kalau kita ingin mendapatkan Kristus sebagai warisan, kalau kita mau berdiri teguh bagi Allah di bumi, kita tidak bisa mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kalau kita mau hidup bagi Allah, kita sendiri harus sadar bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa (Yoh. 15:5). Kita perlu nampak bahwa diri kita sendiri tidak bisa menggenapkan janji Allah. Diri sendiri harus dikesampingkan. Ini adalah ujian yang paling besar, juga ujian yang paling sulit.
Dalam hal ini kita paling mudah gagal. Kita harus ingat, dalam pekerjaan Allah, tidak hanya tidak boleh berdosa, juga tidak boleh melakukan berdasarkan diri sendiri. Masalahnya bagi Allah bukan bagaimana melakukan, melainkan siapa yang melakukan. Lebih mudah menganjuri orang jangan berbuat dosa, tetapi sulit sekali menganjuri orang jangan berdasarkan diri sendiri melakukan sesuatu. Semoga kita dibawa oleh Allah sampai ke suatu tahap, sehingga kita bisa berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku mau melakukan kehendak-Mu! Bukan aku sendiri yang melakukan kehendak-Mu! Engkaulah yang melakukannya!”
Kita harus ingat suatu perkataan dalam Alkitab, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8-9). Sebab itu, apa yang kita lakukan berdasarkan diri sendiri, meskipun dari pandangan kita tidak salah, itu tidak bisa memuaskan kehendak hati-Nya. Meskipun Tuhan rela merendahkan diri dan mau memakai kita, tetapi kita harus ingat, kita hanyalah bejana di tangan-Nya. Kita tidak bisa menggantikan Dia melakukan apa-apa, kita hanya bisa membiarkan Allah melalui kita melakukan kehendak-Nya.
Saudari A. A. Whiddington pernah menulis syair sebuah kidung yang menyiratkan kedambaannya agar Tuhan diperhidupkan dari semua perbuatannya. Salah satu bait dari syair itu berbunyi demikian:
Bukan aku, melainkan Tuhanku yang dicinta dan dimasyurkan;
Bukan aku, melainkan Tuhanku, nyata pada s’mua perbuatanku.
Tuhan, lenyapkanlah diriku di dalam diri-M
Penerapan:
Kita memperhatikan apa yang ada di depan mata, sementara Allah memperhatikan sumbernya. Jika sumbernya salah maka hasilnya juga pasti salah. Marilah kita menjadikan Tuhan sebagai sumber dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, maupun dalam pengambilan keputusan kita. Libatkanlah Tuhan melalui doa-doa kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, pimpinlah aku dalam setiap perbuatanku. Tuhan, ikut campurlah dalam setiap keputusan yang kuambil dalam hidupku. Jangan biarkan aku memutuskan sesuatu menurut hikmatku sendiri. Aku mau Engkaulah yang menjadi sumber sejatiku. Amin.
Kejadian 16:2
“Berkatalah Sarai kepada Abram: ‘Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.’ Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.”
Allah akan menjadikan Abraham sebagai bapa dari suatu bangsa yang besar (Kej. 17:4). Sebab itu di atas diri Abraham, Allah mengerjakan satu perkara yang khusus yaitu membimbing Abraham supaya ia mengenal apa yang disebut “Allah adalah Bapa”. Allah adalah Bapa, berarti segala sesuatu harus berasal dari Allah, harus bersumber dari Allah. Tetapi, Abraham melahirkan Ismael dari kekuatan dan hikmatnya sendiri. Hal itu berarti Abraham telah mengesampingkan Allah sebagai Sang sumber. Sesungguhnya, Ismael bukan berasal dari Allah, tetapi dari diri Abraham sendiri.
Allah menghendaki Abraham mengenal Allah yang ia sembah sebagai Bapa, mengenal Allah adalah sumber dari segala sesuatu. Segala sesuatu berasal dari Dia. Roma 11:36 mengatakan, “Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.” Di masa lalu, segala sesuatu adalah dari Dia; di masa kini, segala sesuatu adalah oleh Dia; dan di masa yang akan datang, segala sesuatu adalah kepada Dia. Allah yang adalah Bapa adalah sumber segala sesuatu (1 Kor. 8:6). Dia bukan hanya Bapa kaum beriman, tetapi Dia adalah Bapa dari segala sesuatu yang diciptakan, karena segala sesuatu berasal dari Dia.
Hari ini, Allah pun menghendaki kita mengalami Dia sebagai sumber. Dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan kita, Dialah sumber kekuatan dan hikmat kita. Bersandarkan kekuatan dan hikmat kita sendiri, kita pasti akan gagal. Sekalipun berhasil, itu tidak diperkenan oleh Allah. Cara terbaik untuk mengalami Allah sebagai sumber, adalah mengawali segala sesuatu dengan doa.
Bukan Aku Melainkan Tuhan
Yoh. 15:5; Yes. 55:8-9
Bila Abraham ingin mempunyai anak, ia harus mengenal Allah adalah Bapa, menerima Allah sebagai Bapa, dan sebaliknya mengesampingkan dirinya sendiri. Kalau Abraham ingin mendapatkan Ishak, ia tidak seharusnya berusaha mendapatkan berdasarkan diri sendiri. Dengan kata lain, kalau kita ingin mendapatkan Kristus sebagai warisan, kalau kita mau berdiri teguh bagi Allah di bumi, kita tidak bisa mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kalau kita mau hidup bagi Allah, kita sendiri harus sadar bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa (Yoh. 15:5). Kita perlu nampak bahwa diri kita sendiri tidak bisa menggenapkan janji Allah. Diri sendiri harus dikesampingkan. Ini adalah ujian yang paling besar, juga ujian yang paling sulit.
Dalam hal ini kita paling mudah gagal. Kita harus ingat, dalam pekerjaan Allah, tidak hanya tidak boleh berdosa, juga tidak boleh melakukan berdasarkan diri sendiri. Masalahnya bagi Allah bukan bagaimana melakukan, melainkan siapa yang melakukan. Lebih mudah menganjuri orang jangan berbuat dosa, tetapi sulit sekali menganjuri orang jangan berdasarkan diri sendiri melakukan sesuatu. Semoga kita dibawa oleh Allah sampai ke suatu tahap, sehingga kita bisa berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku mau melakukan kehendak-Mu! Bukan aku sendiri yang melakukan kehendak-Mu! Engkaulah yang melakukannya!”
Kita harus ingat suatu perkataan dalam Alkitab, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8-9). Sebab itu, apa yang kita lakukan berdasarkan diri sendiri, meskipun dari pandangan kita tidak salah, itu tidak bisa memuaskan kehendak hati-Nya. Meskipun Tuhan rela merendahkan diri dan mau memakai kita, tetapi kita harus ingat, kita hanyalah bejana di tangan-Nya. Kita tidak bisa menggantikan Dia melakukan apa-apa, kita hanya bisa membiarkan Allah melalui kita melakukan kehendak-Nya.
Saudari A. A. Whiddington pernah menulis syair sebuah kidung yang menyiratkan kedambaannya agar Tuhan diperhidupkan dari semua perbuatannya. Salah satu bait dari syair itu berbunyi demikian:
Bukan aku, melainkan Tuhanku yang dicinta dan dimasyurkan;
Bukan aku, melainkan Tuhanku, nyata pada s’mua perbuatanku.
Tuhan, lenyapkanlah diriku di dalam diri-M
Penerapan:
Kita memperhatikan apa yang ada di depan mata, sementara Allah memperhatikan sumbernya. Jika sumbernya salah maka hasilnya juga pasti salah. Marilah kita menjadikan Tuhan sebagai sumber dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, maupun dalam pengambilan keputusan kita. Libatkanlah Tuhan melalui doa-doa kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, pimpinlah aku dalam setiap perbuatanku. Tuhan, ikut campurlah dalam setiap keputusan yang kuambil dalam hidupku. Jangan biarkan aku memutuskan sesuatu menurut hikmatku sendiri. Aku mau Engkaulah yang menjadi sumber sejatiku. Amin.
04 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 1 Senin
Tidak Sabar Menunggu Penggenapan Janji Allah
Kejadian 16:1
“Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.”
Di pandangan Allah, Adam dan keturunannya telah gagal. Oleh karena itu Allah kemudian membangkitkan Abraham sebagai suku bangsa yang baru, yakni suku bangsa kaum terpanggil. Allah berulangkali mendatanginya dengan janji mengenai dua hal yaitu keturunan dan tanah (Kej. 15:4-7). Usia Abraham pada waktu ia pertama kali menjawab panggilan Allah sudah mencapai tujuh puluh lima tahun (Kej. 12:4). Dalam Kejadian 16, Abraham sudah berusia lanjut, tetapi isterinya, Sara, masih belum memberinya anak. Di tanah permai, di negeri yang telah dijanjikan Allah kepadanya, ia belum memperoleh apa-apa. Yang ia miliki hanyalah janji Allah di dalam kata-kata yang jelas mengenai keturunan dan tanah.
Karena keturunan dan tanah belum juga diperoleh, lantas Sara menyodorkan sebuah usul yang baik kepada Abraham, “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak” (Kej. 16:2). Setelah Abraham mendengar hal itu, ia segera menerima usul isterinya (Kej. 16:2-3). Untuk melahirkan anak, Abraham dan Sara tidak sabar menunggu penggenapan janji Allah. Mereka terlalu tergesa-gesa, mereka tidak sadar bahwa Allah bekerja menurut waktu-Nya sendiri. Terhadap janji Allah, kita harus belajar menunggu. Allah pasti menggenapi janji-Nya, tetapi Allah tidak pernah tergesa-gesa. Ia rela menggunakan waktu yang lama demi mempersiapkan bejana yang akan dipakai-Nya. Ketidaksabaran Abraham dan Sara justru menjadi penyebab kegagalan mereka. Usul Sara akhirnya menghasilkan Ismael.
Allah Memperhatikan Sumbernya
Kej. 16:16; Ibr. 4:10; Mat. 7:21-23
Alkitab khusus mencatat bahwa Abraham berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya (Kej. 16:16). Di sini terjadi satu persoalan yang sangat besar. Menurut ketentuan Allah, Abraham harus melahirkan anak melalui Sara. Tetapi Abraham menerima usul Sara untuk melahirkan anak melalui Hagar. Inilah ujian pertama yang Abraham alami berkenaan dengan masalah anak.
Abraham percaya firman Allah, percaya Allah akan memberinya seorang anak, tetapi dia tidak nampak bahwa iman berarti berhenti dari aktivitas diri sendiri dan menunggu Allah yang bekerja! Begitu percaya, saat itu juga kita harus tidak berbuat apa-apa berdasarkan diri kita sendiri. Ibrani 4:10 berkata, “Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya.” Begitu kita percaya, saat itu juga kita tidak boleh tergesa-gesa atau gelisah; begitu kita percaya, saat itu juga kita seharusnya mendapat perhentian. Abraham percaya kepada Allah, tetapi Abraham belum belajar pelajaran ini. Dia belum nampak: kalau aku percaya, aku harus menunggu; kalau aku percaya, tidak seharusnya bekerja berdasarkan diri sendiri. Tetapi dia mengira: kalau aku percaya, aku harus membantu Allah; aku harus melakukan dengan kekuatanku sendiri. Sebab itu dia mendengar perkataan isterinya, menerima Hagar sebagai gundiknya, lalu melahirkan Ismael. Dia mengira, kalau Allah telah berjanji kepadanya untuk memberinya seorang anak, dan ia berbuat demikian, bukankah ini merampungkan kehendak Allah? Justru begitu dia melakukannya, dia gagal!
Masalahnya tidak tergantung pada Abraham melahirkan anak atau tidak, melainkan tergantung pada melalui siapa ia melahirkan anak itu. Anak Abraham itu harus dilahirkan dari Sara, baru bisa memuaskan hati Allah. Di sinilah titik pertentangan Allah dengan Abraham. Hal inilah yang juga tidak dimengerti oleh kebanyakan orang Kristen pada hari ini.
Banyak orang berkata, “Apakah saya melayani Tuhan secara demikian juga salah?” Memang, firman Allah berkata, bahwa kita harus melayani, kita harus memberitakan Injil, perkara-perkara itu benar. Tetapi yang dipertanyakan oleh Allah adalah dengan siapakah kita melakukannya, dengan siapakah kita memberitakan Injil? Melahirkan anak rohani itu benar, tetapi yang akan dipertanyakan, siapakah yang melahirkannya? Yang diperhatikan Allah bukanlah ada atau tidaknya “anak” itu, melainkan “sumber anak” itu. Yang diperhatikan Allah adalah dari mana perkara itu berasal. Kalau berdasarkan diri sendiri, itulah “Ismael”. Apa pun yang kita hasilkan berdasarkan kekuatan dan hikmat kita sendiri, tidak mungkin berkenan kepada Allah (Mat. 7:21-23).
Penerapan:
Bagaimanakah sikap kita ketika kita mengalami suatu ujian terhadap iman kita? Bisakah kita tetap percaya terhadap janji-janji Allah? Marilah kita belajar untuk tidak mengeluh, atau tergesa-gesa memutuskan sesuatu. Marilah kita dengan sabar menunggu Allah bertindak. Marilah kita membawa setiap perkara yang kita hadapi dalam doa.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terhadap setiap ujian-Mu ajarlah aku untuk tinggal tenang di hadapan-Mu, mendapatkan perhentian di dalam-Mu. Aku mau membiarkan Engkau yang bekerja, karena Engkaulah Sang sumber yang sejati.
Kejadian 16:1
“Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.”
Di pandangan Allah, Adam dan keturunannya telah gagal. Oleh karena itu Allah kemudian membangkitkan Abraham sebagai suku bangsa yang baru, yakni suku bangsa kaum terpanggil. Allah berulangkali mendatanginya dengan janji mengenai dua hal yaitu keturunan dan tanah (Kej. 15:4-7). Usia Abraham pada waktu ia pertama kali menjawab panggilan Allah sudah mencapai tujuh puluh lima tahun (Kej. 12:4). Dalam Kejadian 16, Abraham sudah berusia lanjut, tetapi isterinya, Sara, masih belum memberinya anak. Di tanah permai, di negeri yang telah dijanjikan Allah kepadanya, ia belum memperoleh apa-apa. Yang ia miliki hanyalah janji Allah di dalam kata-kata yang jelas mengenai keturunan dan tanah.
Karena keturunan dan tanah belum juga diperoleh, lantas Sara menyodorkan sebuah usul yang baik kepada Abraham, “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak” (Kej. 16:2). Setelah Abraham mendengar hal itu, ia segera menerima usul isterinya (Kej. 16:2-3). Untuk melahirkan anak, Abraham dan Sara tidak sabar menunggu penggenapan janji Allah. Mereka terlalu tergesa-gesa, mereka tidak sadar bahwa Allah bekerja menurut waktu-Nya sendiri. Terhadap janji Allah, kita harus belajar menunggu. Allah pasti menggenapi janji-Nya, tetapi Allah tidak pernah tergesa-gesa. Ia rela menggunakan waktu yang lama demi mempersiapkan bejana yang akan dipakai-Nya. Ketidaksabaran Abraham dan Sara justru menjadi penyebab kegagalan mereka. Usul Sara akhirnya menghasilkan Ismael.
Allah Memperhatikan Sumbernya
Kej. 16:16; Ibr. 4:10; Mat. 7:21-23
Alkitab khusus mencatat bahwa Abraham berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya (Kej. 16:16). Di sini terjadi satu persoalan yang sangat besar. Menurut ketentuan Allah, Abraham harus melahirkan anak melalui Sara. Tetapi Abraham menerima usul Sara untuk melahirkan anak melalui Hagar. Inilah ujian pertama yang Abraham alami berkenaan dengan masalah anak.
Abraham percaya firman Allah, percaya Allah akan memberinya seorang anak, tetapi dia tidak nampak bahwa iman berarti berhenti dari aktivitas diri sendiri dan menunggu Allah yang bekerja! Begitu percaya, saat itu juga kita harus tidak berbuat apa-apa berdasarkan diri kita sendiri. Ibrani 4:10 berkata, “Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya.” Begitu kita percaya, saat itu juga kita tidak boleh tergesa-gesa atau gelisah; begitu kita percaya, saat itu juga kita seharusnya mendapat perhentian. Abraham percaya kepada Allah, tetapi Abraham belum belajar pelajaran ini. Dia belum nampak: kalau aku percaya, aku harus menunggu; kalau aku percaya, tidak seharusnya bekerja berdasarkan diri sendiri. Tetapi dia mengira: kalau aku percaya, aku harus membantu Allah; aku harus melakukan dengan kekuatanku sendiri. Sebab itu dia mendengar perkataan isterinya, menerima Hagar sebagai gundiknya, lalu melahirkan Ismael. Dia mengira, kalau Allah telah berjanji kepadanya untuk memberinya seorang anak, dan ia berbuat demikian, bukankah ini merampungkan kehendak Allah? Justru begitu dia melakukannya, dia gagal!
Masalahnya tidak tergantung pada Abraham melahirkan anak atau tidak, melainkan tergantung pada melalui siapa ia melahirkan anak itu. Anak Abraham itu harus dilahirkan dari Sara, baru bisa memuaskan hati Allah. Di sinilah titik pertentangan Allah dengan Abraham. Hal inilah yang juga tidak dimengerti oleh kebanyakan orang Kristen pada hari ini.
Banyak orang berkata, “Apakah saya melayani Tuhan secara demikian juga salah?” Memang, firman Allah berkata, bahwa kita harus melayani, kita harus memberitakan Injil, perkara-perkara itu benar. Tetapi yang dipertanyakan oleh Allah adalah dengan siapakah kita melakukannya, dengan siapakah kita memberitakan Injil? Melahirkan anak rohani itu benar, tetapi yang akan dipertanyakan, siapakah yang melahirkannya? Yang diperhatikan Allah bukanlah ada atau tidaknya “anak” itu, melainkan “sumber anak” itu. Yang diperhatikan Allah adalah dari mana perkara itu berasal. Kalau berdasarkan diri sendiri, itulah “Ismael”. Apa pun yang kita hasilkan berdasarkan kekuatan dan hikmat kita sendiri, tidak mungkin berkenan kepada Allah (Mat. 7:21-23).
Penerapan:
Bagaimanakah sikap kita ketika kita mengalami suatu ujian terhadap iman kita? Bisakah kita tetap percaya terhadap janji-janji Allah? Marilah kita belajar untuk tidak mengeluh, atau tergesa-gesa memutuskan sesuatu. Marilah kita dengan sabar menunggu Allah bertindak. Marilah kita membawa setiap perkara yang kita hadapi dalam doa.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terhadap setiap ujian-Mu ajarlah aku untuk tinggal tenang di hadapan-Mu, mendapatkan perhentian di dalam-Mu. Aku mau membiarkan Engkau yang bekerja, karena Engkaulah Sang sumber yang sejati.
02 September 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 4 Sabtu
Tandanya Allah Menggenapkan Perjanjian-Nya
Kejadian 15:18
“Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat”
Sewaktu Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Allah dengan kedaulatan-Nya membuat lingkungan yang gelap. Di dalam lingkungan yang gelap itu ia berkata kepada Abraham, keturunannya akan dianiaya selama empat ratus tahun. Nubuat ini adalah tanda bahwa Allah menggenapkan perjanjian-Nya. Melalui penderitaan seperti yang Allah nubuatkan, umat Allah harus percaya bahwa Allah akan menggenapkan perjanjian-Nya. Penderitaan gereja di dalam masa-masa kegelapan juga adalah tanda yang kuat bahwa Allah akan menggenapkan perjanjian-Nya bagi perwujudan kehidupan gereja di bumi melalui Kristus sebagai keturunan dan tanah yang dijanjikan itu.
Dalam Kejadian 15:18 Allah membuat perjanjian dengan Abraham dan berkata, “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari Sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, Sungai Efrat.” Kepada keturunan Abraham diberikan suatu bentangan tanah yang sangat luas, mulai dari dari sungai Mesir sampai sungai Sungai Efrat. Secara perlambangan, ini berarti setelah melewati semua pengalaman penganiayaan, kehidupan gereja akan diperluas dan bahkan menjadi sangat luas. Kemudian kita akan memiliki Kristus yang lebih kaya dan kehidupan gereja yang lebih luas. Oleh karena itu, penganiayaan dan kesulitan yang kita alami karena kepentingan Tuhan, tidak seharusnya melemahkan kita. Kita justru harus bersyukur karena hal itu akan memperbesar dan memperkaya pengalaman rohani kita atas Kristus. Asal kita mengasihi Dia, maka apa pun kesulitan yang menimpa kita, Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28).
Tanah Kanaan Mengekspresikan Kekayaan Kristus
Ibr. 3-4
Allah yang memanggil Abraham keluar dari Ur-Kasdim mengatakan kepadanya bahwa Ia akan membawanya ke suatu tempat, yaitu Tanah Kanaan. Kita bisa melihat bahwa mulai dari Kejadian 12 sampai pada akhir Perjanjian Lama, entah berapa kali Tuhan menitikberatkan tentang tanah itu. Allah berulang-ulang menjanjikan kepada Abraham dan keturunannya akan tanah itu. Hampir seluruh isi Perjanjian Lama berkaitan dengan tanah itu.
Tanah itu merupakan suatu lambang yang menyatakan bahwa Kristus menjadi segala kita. Segala sesuatu yang Allah sediakan untuk manusia, semua terpusat di atas “sebidang tanah ini” (Kristus). Manusia tercipta untuk mendiami bumi dan menikmati segala yang Allah sediakan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia terhimpun di tanah, sedang tanah melambangkan Kristus. Maka segala sesuatu yang Allah sediakan bagi kita terpusat di dalam Kristus.
Iblis, musuh Allah, sampai hari ini terus berupaya untuk menghalangi umat Allah menikmati “tanah itu”. Ia sedapat mungkin merusak kenikmatan manusia atas Kristus. Sekarang kita dapat memahami mengapa Allah di dalam Perjanjian Lama selalu berusaha memulihkan tanah itu, sementara bangsa-bangsa kafir yang melambangkan musuh Allah selalu ingin menghalangi, merusak dan menjerumuskan tanah itu ke dalam kekacauan. Walaupun umat Allah pernah tertawan di Mesir dan terbuang di Babel, tetapi Allah sekali lagi membawa mereka kembali ke tanah itu. Inilah upaya Allah memulihkan Tanah Kanaan.
Tanah Kanaan adalah lambang kekayaan Kristus. Kita semua telah menerima Kristus sebagai Penebus, alangkah indahnya hal itu. Tetapi kita harus memahami, bahwa Kristus sebagai Penebus belumlah mewakili seluruh kekayaan-Nya. Alkitab menerangkan kepada kita, Kristus ialah segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu (Kol. 3:11). Segala sesuatu ada di dalam-Nya, Ia pun ada di dalam segala sesuatu. Di dalam Perjanjian Lama, kekayaan Kristus yang tak terduga itu hanya dapat digambarkan oleh Tanah Kanaan.
Dalam pengalamannya akan Kristus, Paulus berkata, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (Flp. 3:12). Ini seharusnya juga menjadi sikap kita. Kristus itu begitu kaya, pengalaman kita atas Dia baru sekelumit saja. Marilah kita dengan roh yang lapar dan haus mencari Dia, mengejar Dia, sehingga Dia beserta kekayaan-Nya semakin tergarap di dalam kita.
Penerapan:
Penganiayaan yang terjadi karena Kristus ( baik secara fisik maupun secara psikologi) di atas diri kita bukanlah tanpa tujuan. Lihatlah secara positif apa yang terjadi karena semuanya adalah untuk membawa kita menikmati dan mengalami Kristus lebih dalam. Karena itu, bersyukurlah dan nikmatilah Dia sebagai kasih karunia yang cukup kita pakai.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku yang seringkali menggerutu dan menyalah pahami diri-Mu karena sedikit penderitaan. Namun, justru di saat-saat itulah Engkau menjadi begitu nyata dalam hidupku. Tuhan, bawalah aku lebih dalam untuk mengenal Dikau di dalam setiap aspek kehidupanku.
Kejadian 15:18
“Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat”
Sewaktu Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Allah dengan kedaulatan-Nya membuat lingkungan yang gelap. Di dalam lingkungan yang gelap itu ia berkata kepada Abraham, keturunannya akan dianiaya selama empat ratus tahun. Nubuat ini adalah tanda bahwa Allah menggenapkan perjanjian-Nya. Melalui penderitaan seperti yang Allah nubuatkan, umat Allah harus percaya bahwa Allah akan menggenapkan perjanjian-Nya. Penderitaan gereja di dalam masa-masa kegelapan juga adalah tanda yang kuat bahwa Allah akan menggenapkan perjanjian-Nya bagi perwujudan kehidupan gereja di bumi melalui Kristus sebagai keturunan dan tanah yang dijanjikan itu.
Dalam Kejadian 15:18 Allah membuat perjanjian dengan Abraham dan berkata, “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari Sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, Sungai Efrat.” Kepada keturunan Abraham diberikan suatu bentangan tanah yang sangat luas, mulai dari dari sungai Mesir sampai sungai Sungai Efrat. Secara perlambangan, ini berarti setelah melewati semua pengalaman penganiayaan, kehidupan gereja akan diperluas dan bahkan menjadi sangat luas. Kemudian kita akan memiliki Kristus yang lebih kaya dan kehidupan gereja yang lebih luas. Oleh karena itu, penganiayaan dan kesulitan yang kita alami karena kepentingan Tuhan, tidak seharusnya melemahkan kita. Kita justru harus bersyukur karena hal itu akan memperbesar dan memperkaya pengalaman rohani kita atas Kristus. Asal kita mengasihi Dia, maka apa pun kesulitan yang menimpa kita, Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28).
Tanah Kanaan Mengekspresikan Kekayaan Kristus
Ibr. 3-4
Allah yang memanggil Abraham keluar dari Ur-Kasdim mengatakan kepadanya bahwa Ia akan membawanya ke suatu tempat, yaitu Tanah Kanaan. Kita bisa melihat bahwa mulai dari Kejadian 12 sampai pada akhir Perjanjian Lama, entah berapa kali Tuhan menitikberatkan tentang tanah itu. Allah berulang-ulang menjanjikan kepada Abraham dan keturunannya akan tanah itu. Hampir seluruh isi Perjanjian Lama berkaitan dengan tanah itu.
Tanah itu merupakan suatu lambang yang menyatakan bahwa Kristus menjadi segala kita. Segala sesuatu yang Allah sediakan untuk manusia, semua terpusat di atas “sebidang tanah ini” (Kristus). Manusia tercipta untuk mendiami bumi dan menikmati segala yang Allah sediakan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia terhimpun di tanah, sedang tanah melambangkan Kristus. Maka segala sesuatu yang Allah sediakan bagi kita terpusat di dalam Kristus.
Iblis, musuh Allah, sampai hari ini terus berupaya untuk menghalangi umat Allah menikmati “tanah itu”. Ia sedapat mungkin merusak kenikmatan manusia atas Kristus. Sekarang kita dapat memahami mengapa Allah di dalam Perjanjian Lama selalu berusaha memulihkan tanah itu, sementara bangsa-bangsa kafir yang melambangkan musuh Allah selalu ingin menghalangi, merusak dan menjerumuskan tanah itu ke dalam kekacauan. Walaupun umat Allah pernah tertawan di Mesir dan terbuang di Babel, tetapi Allah sekali lagi membawa mereka kembali ke tanah itu. Inilah upaya Allah memulihkan Tanah Kanaan.
Tanah Kanaan adalah lambang kekayaan Kristus. Kita semua telah menerima Kristus sebagai Penebus, alangkah indahnya hal itu. Tetapi kita harus memahami, bahwa Kristus sebagai Penebus belumlah mewakili seluruh kekayaan-Nya. Alkitab menerangkan kepada kita, Kristus ialah segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu (Kol. 3:11). Segala sesuatu ada di dalam-Nya, Ia pun ada di dalam segala sesuatu. Di dalam Perjanjian Lama, kekayaan Kristus yang tak terduga itu hanya dapat digambarkan oleh Tanah Kanaan.
Dalam pengalamannya akan Kristus, Paulus berkata, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (Flp. 3:12). Ini seharusnya juga menjadi sikap kita. Kristus itu begitu kaya, pengalaman kita atas Dia baru sekelumit saja. Marilah kita dengan roh yang lapar dan haus mencari Dia, mengejar Dia, sehingga Dia beserta kekayaan-Nya semakin tergarap di dalam kita.
Penerapan:
Penganiayaan yang terjadi karena Kristus ( baik secara fisik maupun secara psikologi) di atas diri kita bukanlah tanpa tujuan. Lihatlah secara positif apa yang terjadi karena semuanya adalah untuk membawa kita menikmati dan mengalami Kristus lebih dalam. Karena itu, bersyukurlah dan nikmatilah Dia sebagai kasih karunia yang cukup kita pakai.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku yang seringkali menggerutu dan menyalah pahami diri-Mu karena sedikit penderitaan. Namun, justru di saat-saat itulah Engkau menjadi begitu nyata dalam hidupku. Tuhan, bawalah aku lebih dalam untuk mengenal Dikau di dalam setiap aspek kehidupanku.
01 September 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 4 Jumat
Penderitaan Keturunan yang Dijanjikan
Kejadian 15:13
“Firman TUHAN kepada Abram: Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya”
Kejadian 15:12-16 mengisahkan nubuat tentang penderitaan yang akan dialami oleh keturunan yang dijanjikan. Penderitaan ini ditandai dengan gelap-gulita yang mengerikan yang meliputi Abraham. Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abraham dengan nyenyak, dan turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. Dalam kegelapan itulah Allah bernubuat tentang keturunan Abraham bahwa keturunannya akan menjadi orang asing dalam suatu negeri dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, 400 tahun lamanya, tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke tanah perjanjian (Kej. 15:13, 16).
Nubuat Allah ini sangat bermakna. Zaman ini adalah zaman gereja, tetapi juga adalah zaman yang gelap. Kebanyakan orang di dunia seakan “tertidur”, tidak berfungsi dan tidak berdayaguna terhadap Allah. Bagi umat Allah, saat seperti ini adalah saat penderitaan. Pada masa seperti ini, orang-orang yang terpanggil oleh Allah berada di bawah penderitaan karena nama dan kesaksian Tuhan.
Allah berkata kepada Abraham, keturunannya akan menderita selama empat ratus tahun. Empat ratus tahun itu merupakan suatu malam yang panjang, suatu zaman kegelapan. Penderitaan dan sengsara yang Allah ijinkan menimpa keturunan Abraham merupakan upaya Allah untuk membuat mereka terjaga dari “tidur”, sehingga mereka dipulihkan bagi tujuan kekal Allah. Dalam dunia yang gelap hari ini, mudah sekali bagi kita untuk “tidur” dan melupakan kehendak Allah. Berdoa setiap waktu merupakan jalan terbaik untuk bangun dari “tidur” kita di dunia yang gelap ini (Ef. 6:18).
Penggenapan Nubuat Tentang Penderitaan Keturunan yang Dijanjikan
Kej. 21:9; Gal. 4:29; Kel. 3:7-8; Kis. 7:6; Kel. 12:1-6, 40-41; Gal. 3:17
Sejarah membuktikan keturunan Abraham menderita sengsara dalam jangka waktu 400 tahun yang diawali dengan aniaya terhadap Ishak oleh Ismael (Kej. 21:9; Gal. 4:29) kira-kira tahun 1891 S.M. hingga orang Israel keluar dari Mesir kira-kira tahun 1491 S.M. (Kel. 3:7-8; Kis. 7:6). Penghinaan kepada Ishak oleh Ismael merupakan awal dari aniaya terhadap keturunan Abraham yang berlangsung terus hingga 400 tahun. Sebelum orang Israel diuji di padang belantara selama empat puluh tahun, mereka telah diuji selama sepuluh kali empat puluh tahun. Allah memakai waktu yang sangat panjang untuk menguji, mendisiplinkan, dan mendidik umat-Nya.
Dalam kehidupan gereja hari ini prinsipnya juga sama. Tuhan Yesus berkata, ”Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat” (Luk. 6:22). Pada kesempatan yang lain, Ia berkata, “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh. 15:19). Seluruh suasana dunia hari ini bersifat negatif terhadap rencana Allah, termasuk terhadap kita, orang-orang percaya. Iblis, dosa, ego, kegelapan, dan keduniawian mendominasi semua orang di bumi. Kemuliaan Allah dipermalukan, Kristus ditolak, Roh Kudus dikecewakan, gereja menjadi terlantar, manusia menjadi bobrok, dan seluruh dunia menjadi jahat, menentang Allah dan kepentingan-Nya. Semua hal-hal ini merupakan aniaya sekaligus ujian bagi kita. Dikatakan aniaya, karena Iblis berusaha membinasakan kita melalui sistem dunia jahatnya; dikatakan ujian, karena melalui penderitaan itu iman kita sedang diuji dan kita sedang dimurnikan. Dilihat dari sudut pandang kita, penderitaan itu menyusahkan dan menakutkan; tetapi dari sudut pandang Allah, penderitaan itu menguji dan memurnikan kita.
Sebagai orang-orang yang terpanggil, kita perlu melewati ujian dan pemurnian. Dalam Kejadian 15:17 Allah datang sebagai perapian yang berasap dan suluh yang berapi, lewat di antara potongan-potongan daging itu. Perapian adalah untuk memurnikan kita dan sebagai suluh yang berapi untuk menerangi kita (Why. 3:18; 4:5). Melalui pemurnian dan penerangan yang demikianlah, kita dapat menggenapkan tujuan-Nya. Mazmur 139:23-24 mengatakan, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku, lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Inilah doa dari seorang yang damba dimurnikan dan diterangi.
Penerapan:
Dalam jaman yang gelap ini, janganlah terpengaruh oleh keadaan gereja yang tertidur. Namun, bangkitlah untuk menjadi orang-orang yang merespon panggilan Allah. Marilah kita menjadi orang yang mengusung kematian keluar dari gereja melalui tetap melayani Tuhan dengan roh yang menyala-nyala di dalam doa.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, jagalah hatiku apabila dalam bahagiaku ku lalai sandar-Mu. Demikian juga, ketika aku harus menghadapi penderitaan-penderitaan dalam hidup ini, tariklah aku semakin dekat kepada-Mu. Biarlah aku hanya lari kepada-Mu, bukan yang lainnya.
Kejadian 15:13
“Firman TUHAN kepada Abram: Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya”
Kejadian 15:12-16 mengisahkan nubuat tentang penderitaan yang akan dialami oleh keturunan yang dijanjikan. Penderitaan ini ditandai dengan gelap-gulita yang mengerikan yang meliputi Abraham. Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abraham dengan nyenyak, dan turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. Dalam kegelapan itulah Allah bernubuat tentang keturunan Abraham bahwa keturunannya akan menjadi orang asing dalam suatu negeri dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, 400 tahun lamanya, tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke tanah perjanjian (Kej. 15:13, 16).
Nubuat Allah ini sangat bermakna. Zaman ini adalah zaman gereja, tetapi juga adalah zaman yang gelap. Kebanyakan orang di dunia seakan “tertidur”, tidak berfungsi dan tidak berdayaguna terhadap Allah. Bagi umat Allah, saat seperti ini adalah saat penderitaan. Pada masa seperti ini, orang-orang yang terpanggil oleh Allah berada di bawah penderitaan karena nama dan kesaksian Tuhan.
Allah berkata kepada Abraham, keturunannya akan menderita selama empat ratus tahun. Empat ratus tahun itu merupakan suatu malam yang panjang, suatu zaman kegelapan. Penderitaan dan sengsara yang Allah ijinkan menimpa keturunan Abraham merupakan upaya Allah untuk membuat mereka terjaga dari “tidur”, sehingga mereka dipulihkan bagi tujuan kekal Allah. Dalam dunia yang gelap hari ini, mudah sekali bagi kita untuk “tidur” dan melupakan kehendak Allah. Berdoa setiap waktu merupakan jalan terbaik untuk bangun dari “tidur” kita di dunia yang gelap ini (Ef. 6:18).
Penggenapan Nubuat Tentang Penderitaan Keturunan yang Dijanjikan
Kej. 21:9; Gal. 4:29; Kel. 3:7-8; Kis. 7:6; Kel. 12:1-6, 40-41; Gal. 3:17
Sejarah membuktikan keturunan Abraham menderita sengsara dalam jangka waktu 400 tahun yang diawali dengan aniaya terhadap Ishak oleh Ismael (Kej. 21:9; Gal. 4:29) kira-kira tahun 1891 S.M. hingga orang Israel keluar dari Mesir kira-kira tahun 1491 S.M. (Kel. 3:7-8; Kis. 7:6). Penghinaan kepada Ishak oleh Ismael merupakan awal dari aniaya terhadap keturunan Abraham yang berlangsung terus hingga 400 tahun. Sebelum orang Israel diuji di padang belantara selama empat puluh tahun, mereka telah diuji selama sepuluh kali empat puluh tahun. Allah memakai waktu yang sangat panjang untuk menguji, mendisiplinkan, dan mendidik umat-Nya.
Dalam kehidupan gereja hari ini prinsipnya juga sama. Tuhan Yesus berkata, ”Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat” (Luk. 6:22). Pada kesempatan yang lain, Ia berkata, “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh. 15:19). Seluruh suasana dunia hari ini bersifat negatif terhadap rencana Allah, termasuk terhadap kita, orang-orang percaya. Iblis, dosa, ego, kegelapan, dan keduniawian mendominasi semua orang di bumi. Kemuliaan Allah dipermalukan, Kristus ditolak, Roh Kudus dikecewakan, gereja menjadi terlantar, manusia menjadi bobrok, dan seluruh dunia menjadi jahat, menentang Allah dan kepentingan-Nya. Semua hal-hal ini merupakan aniaya sekaligus ujian bagi kita. Dikatakan aniaya, karena Iblis berusaha membinasakan kita melalui sistem dunia jahatnya; dikatakan ujian, karena melalui penderitaan itu iman kita sedang diuji dan kita sedang dimurnikan. Dilihat dari sudut pandang kita, penderitaan itu menyusahkan dan menakutkan; tetapi dari sudut pandang Allah, penderitaan itu menguji dan memurnikan kita.
Sebagai orang-orang yang terpanggil, kita perlu melewati ujian dan pemurnian. Dalam Kejadian 15:17 Allah datang sebagai perapian yang berasap dan suluh yang berapi, lewat di antara potongan-potongan daging itu. Perapian adalah untuk memurnikan kita dan sebagai suluh yang berapi untuk menerangi kita (Why. 3:18; 4:5). Melalui pemurnian dan penerangan yang demikianlah, kita dapat menggenapkan tujuan-Nya. Mazmur 139:23-24 mengatakan, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku, lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Inilah doa dari seorang yang damba dimurnikan dan diterangi.
Penerapan:
Dalam jaman yang gelap ini, janganlah terpengaruh oleh keadaan gereja yang tertidur. Namun, bangkitlah untuk menjadi orang-orang yang merespon panggilan Allah. Marilah kita menjadi orang yang mengusung kematian keluar dari gereja melalui tetap melayani Tuhan dengan roh yang menyala-nyala di dalam doa.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, jagalah hatiku apabila dalam bahagiaku ku lalai sandar-Mu. Demikian juga, ketika aku harus menghadapi penderitaan-penderitaan dalam hidup ini, tariklah aku semakin dekat kepada-Mu. Biarlah aku hanya lari kepada-Mu, bukan yang lainnya.
31 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 4 Kamis
Kristus sebagai Realitas Kurban
Kejadian 15:9
“Firman TUHAN kepadanya: ‘Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.’”
Jika kita membaca Kejadian pasal 15 dan menghubungkannya dengan Kitab Imamat, kita dapat melihat bahwa lembu betina dipakai untuk kurban keselamatan/pendamaian (peace offering) (Im. 3:1). Kristus adalah realitas kurban pendamaian itu (Rm. 5:10; Kol. 1:22). Di dalam Kristus, kita telah di damaikan dengan Allah. Kambing betina melambangkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa (sin offering) kita (Im. 4:28; 5:6). Tidak peduli betapa baiknya kita, kita tetap adalah orang yang mempunyai dosa. Karena itu kita memerlukan kurban penghapus dosa. Sesudah kurban penghapus dosa, diperlukan kurban bakaran (burnt offering) yaitu domba jantan. Kurban bakaran menandakan bahwa segala sesuatu adalah bagi Allah, bagi kepuasan dan kesenangan Allah (Im. 1:10).
Ketiga jenis kurban di atas tidak boleh sekedar menjadi pengetahuan kita, tetapi harus kita alami setiap hari. Kristus itu bukan untuk pengetahuan, tetapi untuk pengalaman kita. Setelah kita dipanggil oleh Tuhan dan beroleh selamat, kita masih dapat berbuat dosa. Setiap dosa adalah pelanggaran. Karena itu setiap hari kita perlu didamaikan dengan Allah. Kita perlu datang kepada Kristus, Pengantara kita, untuk mendamaikan kita dengan Allah. Kedua, kita perlu mengaku dosa kita untuk menerima pembasuhan darah Tuhan sehingga hati nurani kita disucikan dari segala noda dan tuduhan. Terakhir, kita perlu mempersembahkan diri kita sebagai kurban yang hidup kepada Allah, menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada-Nya. Demikian kita mengalami Kristus sebagai tiga jenis kurban yang dipersembahkan kepada Allah.
Syarat-syarat Mengalami Kristus
Ef. 3:17;1 Kor. 15:45b; Yoh. 15:5;Gal. 2:20; Yoh. 14:23; Ef. 3:16-17; Flp. 1:19-20
Melalui kurban persembahan yang ia persembahkan kepada Allah, Abraham mengalami berbagai aspek Kristus. Hal ini dimungkinkan karena semua jenis kurban itu melambangkan Kristus, sebagaimana telah diuraikan di depan (hal. 51-52). Dari gambaran ini, jelaslah bagi kita bahwa Kristus itu riil dan dapat kita alami dalam kehidupan kita setiap hari. Sangat disayangkan bila kita menganggap Kristus itu abstrak, atau hanya mengenal Dia sebagai yang duduk di surga, jauh di luar jangkauan kita. Memang Alkitab mengatakan bahwa setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Dia duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga (Luk. 22:69; Rm. 8:34). Tetapi Alkitab juga mengatakan bahwa Kristus yang bangkit itu diam di dalam kita, kaum beriman-Nya (Ef. 3:17; Yoh. 14:20). Bagaimanakah hal ini bisa terjadi? Hal ini dimungkinkan karena Kristus dalam kebangkitan-Nya telah menjadi Roh itu, Roh yang memberi hidup/hayat (1 Kor. 15:45b). Sebagai Roh itu, Dia tidak terbatas oleh ruang dan waktu; Dia ada di sebelah kanan Allah Bapa di surga, juga ada di dalam kita, kaum beriman-Nya.
Karena Kristus sebagai Roh itu tinggal di dalam kita, maka kita dapat mengalami Dia di dalam roh kita. Namun, Alkitab memberitahu bahwa ada beberapa syarat yang diperlukan agar kita dapat mengalami Dia. Syarat pertama adalah kita harus tinggal di dalam Dia (Yoh. 15:5). Kita harus tinggal di dalam Dia, memberi-Nya waktu dan tempat sehingga Dia dapat tinggal di dalam kita. Syarat kedua adalah dengan menetap dalam ketersaliban bersama Dia (Gal. 2:20). Ini berarti mengesampingkan diri kita sehingga bukan lagi kita sendiri yang hidup tetapi membiarkan Kristus hidup di dalam kita, sehingga kita dapat mengalami dan menikmati Dia sebagai hayat kita.
Syarat ketiga, kita perlu mengasihi Dia dan menuruti firman-Nya (Yoh. 14:23). Jika kita mengasihi-Nya dan menuruti firman-Nya, Dia dan Bapa akan datang dan tinggal bersama kita, sehingga kita dapat menikmati semua berkat Allah Tritunggal yang tinggal di dalam kita. Syarat keempat, kita perlu dikuatkan dalam insan batiniah kita (Ef. 3:16-17). Dikuatkannya kita oleh Allah dengan kuasa melalui Roh-Nya ke dalam insan batiniah kita (roh kita), adalah syarat untuk mengalami Kristus berumah di dalam hati kita. Syarat yang kelima, yang terakhir, adalah kita harus memiliki keberanian (Flp. 1:20; TL.). Untuk memperbesar Kristus, kita harus memiliki keberanian dalam segala hal, tidak peduli hidup atau mati. Inilah syarat tertinggi bagi kita untuk mengalami Kristus sampai puncaknya. Saudara saudari, kita tidak mengalami Kristus berdasarkan kekuatan kita atau jerih payah kita, melainkan melalui suplai limpah lengkap Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19; TL). Inilah jalan bagi kita untuk mengalami Dia.
Penerapan:
Seberapa baiknya diri kita, tetaplah penuh dengan dosa. Karena itulah, perlu adanya penumpahan darah untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Puji Tuhan, Kristus telah menjadi realitas kurban-kurban bagi kita. Bersyukurlah atas apa yang telah dikerjakan oleh Dia bagi kita.
Pokok Doa:
Tuhan setiap hari aku perlu Dikau sebagai korban pendamaian. Aku hanyalah manusia yang penuh dengan dosa. O, Tuhan betapa aku perlu Dikau. Terlebih lagi Tuhan, jadilah hayat kebangkitanku yang membuat aku menang atas segala kelemahan dan kekuranganku.
Kejadian 15:9
“Firman TUHAN kepadanya: ‘Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.’”
Jika kita membaca Kejadian pasal 15 dan menghubungkannya dengan Kitab Imamat, kita dapat melihat bahwa lembu betina dipakai untuk kurban keselamatan/pendamaian (peace offering) (Im. 3:1). Kristus adalah realitas kurban pendamaian itu (Rm. 5:10; Kol. 1:22). Di dalam Kristus, kita telah di damaikan dengan Allah. Kambing betina melambangkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa (sin offering) kita (Im. 4:28; 5:6). Tidak peduli betapa baiknya kita, kita tetap adalah orang yang mempunyai dosa. Karena itu kita memerlukan kurban penghapus dosa. Sesudah kurban penghapus dosa, diperlukan kurban bakaran (burnt offering) yaitu domba jantan. Kurban bakaran menandakan bahwa segala sesuatu adalah bagi Allah, bagi kepuasan dan kesenangan Allah (Im. 1:10).
Ketiga jenis kurban di atas tidak boleh sekedar menjadi pengetahuan kita, tetapi harus kita alami setiap hari. Kristus itu bukan untuk pengetahuan, tetapi untuk pengalaman kita. Setelah kita dipanggil oleh Tuhan dan beroleh selamat, kita masih dapat berbuat dosa. Setiap dosa adalah pelanggaran. Karena itu setiap hari kita perlu didamaikan dengan Allah. Kita perlu datang kepada Kristus, Pengantara kita, untuk mendamaikan kita dengan Allah. Kedua, kita perlu mengaku dosa kita untuk menerima pembasuhan darah Tuhan sehingga hati nurani kita disucikan dari segala noda dan tuduhan. Terakhir, kita perlu mempersembahkan diri kita sebagai kurban yang hidup kepada Allah, menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada-Nya. Demikian kita mengalami Kristus sebagai tiga jenis kurban yang dipersembahkan kepada Allah.
Syarat-syarat Mengalami Kristus
Ef. 3:17;1 Kor. 15:45b; Yoh. 15:5;Gal. 2:20; Yoh. 14:23; Ef. 3:16-17; Flp. 1:19-20
Melalui kurban persembahan yang ia persembahkan kepada Allah, Abraham mengalami berbagai aspek Kristus. Hal ini dimungkinkan karena semua jenis kurban itu melambangkan Kristus, sebagaimana telah diuraikan di depan (hal. 51-52). Dari gambaran ini, jelaslah bagi kita bahwa Kristus itu riil dan dapat kita alami dalam kehidupan kita setiap hari. Sangat disayangkan bila kita menganggap Kristus itu abstrak, atau hanya mengenal Dia sebagai yang duduk di surga, jauh di luar jangkauan kita. Memang Alkitab mengatakan bahwa setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Dia duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga (Luk. 22:69; Rm. 8:34). Tetapi Alkitab juga mengatakan bahwa Kristus yang bangkit itu diam di dalam kita, kaum beriman-Nya (Ef. 3:17; Yoh. 14:20). Bagaimanakah hal ini bisa terjadi? Hal ini dimungkinkan karena Kristus dalam kebangkitan-Nya telah menjadi Roh itu, Roh yang memberi hidup/hayat (1 Kor. 15:45b). Sebagai Roh itu, Dia tidak terbatas oleh ruang dan waktu; Dia ada di sebelah kanan Allah Bapa di surga, juga ada di dalam kita, kaum beriman-Nya.
Karena Kristus sebagai Roh itu tinggal di dalam kita, maka kita dapat mengalami Dia di dalam roh kita. Namun, Alkitab memberitahu bahwa ada beberapa syarat yang diperlukan agar kita dapat mengalami Dia. Syarat pertama adalah kita harus tinggal di dalam Dia (Yoh. 15:5). Kita harus tinggal di dalam Dia, memberi-Nya waktu dan tempat sehingga Dia dapat tinggal di dalam kita. Syarat kedua adalah dengan menetap dalam ketersaliban bersama Dia (Gal. 2:20). Ini berarti mengesampingkan diri kita sehingga bukan lagi kita sendiri yang hidup tetapi membiarkan Kristus hidup di dalam kita, sehingga kita dapat mengalami dan menikmati Dia sebagai hayat kita.
Syarat ketiga, kita perlu mengasihi Dia dan menuruti firman-Nya (Yoh. 14:23). Jika kita mengasihi-Nya dan menuruti firman-Nya, Dia dan Bapa akan datang dan tinggal bersama kita, sehingga kita dapat menikmati semua berkat Allah Tritunggal yang tinggal di dalam kita. Syarat keempat, kita perlu dikuatkan dalam insan batiniah kita (Ef. 3:16-17). Dikuatkannya kita oleh Allah dengan kuasa melalui Roh-Nya ke dalam insan batiniah kita (roh kita), adalah syarat untuk mengalami Kristus berumah di dalam hati kita. Syarat yang kelima, yang terakhir, adalah kita harus memiliki keberanian (Flp. 1:20; TL.). Untuk memperbesar Kristus, kita harus memiliki keberanian dalam segala hal, tidak peduli hidup atau mati. Inilah syarat tertinggi bagi kita untuk mengalami Kristus sampai puncaknya. Saudara saudari, kita tidak mengalami Kristus berdasarkan kekuatan kita atau jerih payah kita, melainkan melalui suplai limpah lengkap Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19; TL). Inilah jalan bagi kita untuk mengalami Dia.
Penerapan:
Seberapa baiknya diri kita, tetaplah penuh dengan dosa. Karena itulah, perlu adanya penumpahan darah untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Puji Tuhan, Kristus telah menjadi realitas kurban-kurban bagi kita. Bersyukurlah atas apa yang telah dikerjakan oleh Dia bagi kita.
Pokok Doa:
Tuhan setiap hari aku perlu Dikau sebagai korban pendamaian. Aku hanyalah manusia yang penuh dengan dosa. O, Tuhan betapa aku perlu Dikau. Terlebih lagi Tuhan, jadilah hayat kebangkitanku yang membuat aku menang atas segala kelemahan dan kekuranganku.
30 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 4 Rabu
Allah Berjanji Tetapi Abraham Kekurangan Iman
Kejadian 15:7
“Lagi firman TUHAN kepadanya: ‘Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.’”
Ketika Allah menjanjikan keturunan kepada Abraham, Abraham segera percaya kepada Allah (15:6). Karena Abraham percaya kepada Allah mengenai janji keturunan itu, imannya kepada Allah sangatlah berharga. Allah menghitung iman ini sebagai kebenarannya. Tetapi, setelah itu, waktu Allah berjanji lagi kepada Abraham akan memberi tanah bagi dia, Abraham kurang beriman dan berkata kepada Tuhan, “Ya TUHAN Allah, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” (ayat 8). Sekalipun ia bisa mempercayai Allah berkaitan dengan janji tentang keturunan, tapi ia tidak mempercayai Allah berkaitan dengan janji-Nya tentang tanah itu.
Saudara saudari, memang tidak terlalu sulit untuk percaya pada janji Tuhan mengenai keselamatan, namun tidaklah mudah untuk sepenuhnya percaya pada Tuhan bahwa Dia bertanggung jawab untuk penghidupan kita selanjutnya. Kiranya syair lagu gubahan John H. Sammis (1846-1919) yang berjudul Trust and Obey (Percaya dan Taat) di bawah ini dapat memberi kita inspirasi untuk memiliki iman yang lebih besar.
1. Jalan serta Tuhan, dalam t'rang firman-Nya,
Cah'ya mu-lia-Nya t'rus memancar;
Ku ta-at p'rintah-Nya, hatiku penuhlah,
Penuh dengan kelimpahan-Nya.
Koor : Percayalah dengan hati ta-at,
Kar'na Tuhan 'kan cinta pada yang de-mi-kian!
2. Tia-da pikulan b'rat, tia-da susah c'laka,
Yang menyerang, kar'na Dia jaga;
Se-mua rugi susah, se-mua hina nista,
Jadi berkat bila mau ta-at.
Jalan Salib
Kej. 15:9, 19-21; Yoh. 1:14, 29
Karena Abraham kurang beriman kepada Allah berkenaan dengan janji-Nya tentang tanah, terpaksa Allah membuat perjanjian (convenant) dengannya untuk menegaskan janji-Nya (promise) akan tanah itu. Dalam Kejadian 15:9-21 kita mengetahui Allah melalui Kristus membuat perjanjian untuk memperkuat janji-Nya kepada Abraham.
Ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Allah memberi tahu kepadanya untuk mengambil seekor lembu betina, seekor kambing betina, seekor domba jantan, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati (Kej. 15:9). Tiga ternak ini semuanya berumur tiga tahun, kemudian dipotong menjadi dua, tetapi burung-burung itu tidak dipotong; mereka dibiarkan hidup. Dengan demikianlah Allah menetapkan perjanjian dengan Abraham, dan ini menandakan dengan jalan inilah Abraham dapat menggenapkan tujuan kekal Allah.
Kita perlu melihat makna tiga ternak dan dua burung itu. Secara lambang, semua benda-benda yang dipersembahkan manusia kepada Allah melambangkan Kristus. Berdasarkan prinsip ini, tidak dapat disangsikan lagi kelima kurban persembahan itu juga melambangkan Kristus. Kristus, pertama adalah Kristus yang tersalib, Kristus yang terpotong/tersembelih; dan yang kedua, Dia adalah Kristus yang bangkit, Kristus yang hidup. Jika kita nampak hal ini, kita akan mengerti tiga ternak yang dipotong dan dibunuh, melambangkan Kristus yang tersalib. Kristus yang tersalib ini adalah Dia yang menjadi daging, yang dalam keinsanian-Nya hidup di atas bumi. Yohanes pasal satu mengatakan firman yang adalah Allah telah menjadi daging (Yoh. 1:14). Kemudian Yohanes Pembaptis juga menyebut Dia sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Anak Domba Allah ini adalah juga firman Allah yang telah menjadi daging itu. Jadi tiga ternak dalam Kejadian pasal 15 menyatakan Kristus yang di dalam keinsanian-Nya itu tersalib bagi kita.
Allah memperlihatkan kepada Abraham, ia bisa “memiliki tanah ini”, adalah tergantung pada pekerjaan salib. Kelak, keturunannya bisa berdiri di atas tanah ini, karena ada kematian salib. Kita harus nampak, salib adalah dasar dari kehidupan rohani kita. Tuhan memperlihatkan kepada kita, hanya bila kita melewati salib, baru ada perapian yang berasap serta suluh yang berapi (Kej. 15:17). Perapian adalah untuk memurnikan, dan suluh adalah untuk menerangi. Dengan kata lain, hanya bila kita menempuh jalan salib baru ada pemurnian, baru ada penerangan yang sejati. Kalau kita damba dimurnikan dan diterangi oleh Tuhan, kita perlu memasuki pengalaman salib. Pengalaman salib ini bagi kita menjadi satu dengan pengalaman atas Kristus yang bangkit (bd. Flp. 3:10).
Penerapan:
Jadikanlah hati kita sebagai tanah yang gembur di mana Kristus dapat bertumbuh lebih besar dan dewasa di dalam kita. Biarlah Kristus dapat semakin memperluas wilayah-Nya di dalam hati kita. Tidak ada satu perkara, benda maupun manusia yang kita ijinkan mempersempit wilayah Kristus di hati kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku mau percaya kepada setiap janji-Mu. Tambahkanlah terus iman di dalam diriku. Dalam keadaan apa pun, perkara apa pun yang terjadi dalam hidupku. Tuhan, jangan biarkan aku meninggalkan gereja-Mu, terlebih meninggalkan diri-Mu.
Kejadian 15:7
“Lagi firman TUHAN kepadanya: ‘Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.’”
Ketika Allah menjanjikan keturunan kepada Abraham, Abraham segera percaya kepada Allah (15:6). Karena Abraham percaya kepada Allah mengenai janji keturunan itu, imannya kepada Allah sangatlah berharga. Allah menghitung iman ini sebagai kebenarannya. Tetapi, setelah itu, waktu Allah berjanji lagi kepada Abraham akan memberi tanah bagi dia, Abraham kurang beriman dan berkata kepada Tuhan, “Ya TUHAN Allah, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” (ayat 8). Sekalipun ia bisa mempercayai Allah berkaitan dengan janji tentang keturunan, tapi ia tidak mempercayai Allah berkaitan dengan janji-Nya tentang tanah itu.
Saudara saudari, memang tidak terlalu sulit untuk percaya pada janji Tuhan mengenai keselamatan, namun tidaklah mudah untuk sepenuhnya percaya pada Tuhan bahwa Dia bertanggung jawab untuk penghidupan kita selanjutnya. Kiranya syair lagu gubahan John H. Sammis (1846-1919) yang berjudul Trust and Obey (Percaya dan Taat) di bawah ini dapat memberi kita inspirasi untuk memiliki iman yang lebih besar.
1. Jalan serta Tuhan, dalam t'rang firman-Nya,
Cah'ya mu-lia-Nya t'rus memancar;
Ku ta-at p'rintah-Nya, hatiku penuhlah,
Penuh dengan kelimpahan-Nya.
Koor : Percayalah dengan hati ta-at,
Kar'na Tuhan 'kan cinta pada yang de-mi-kian!
2. Tia-da pikulan b'rat, tia-da susah c'laka,
Yang menyerang, kar'na Dia jaga;
Se-mua rugi susah, se-mua hina nista,
Jadi berkat bila mau ta-at.
Jalan Salib
Kej. 15:9, 19-21; Yoh. 1:14, 29
Karena Abraham kurang beriman kepada Allah berkenaan dengan janji-Nya tentang tanah, terpaksa Allah membuat perjanjian (convenant) dengannya untuk menegaskan janji-Nya (promise) akan tanah itu. Dalam Kejadian 15:9-21 kita mengetahui Allah melalui Kristus membuat perjanjian untuk memperkuat janji-Nya kepada Abraham.
Ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Allah memberi tahu kepadanya untuk mengambil seekor lembu betina, seekor kambing betina, seekor domba jantan, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati (Kej. 15:9). Tiga ternak ini semuanya berumur tiga tahun, kemudian dipotong menjadi dua, tetapi burung-burung itu tidak dipotong; mereka dibiarkan hidup. Dengan demikianlah Allah menetapkan perjanjian dengan Abraham, dan ini menandakan dengan jalan inilah Abraham dapat menggenapkan tujuan kekal Allah.
Kita perlu melihat makna tiga ternak dan dua burung itu. Secara lambang, semua benda-benda yang dipersembahkan manusia kepada Allah melambangkan Kristus. Berdasarkan prinsip ini, tidak dapat disangsikan lagi kelima kurban persembahan itu juga melambangkan Kristus. Kristus, pertama adalah Kristus yang tersalib, Kristus yang terpotong/tersembelih; dan yang kedua, Dia adalah Kristus yang bangkit, Kristus yang hidup. Jika kita nampak hal ini, kita akan mengerti tiga ternak yang dipotong dan dibunuh, melambangkan Kristus yang tersalib. Kristus yang tersalib ini adalah Dia yang menjadi daging, yang dalam keinsanian-Nya hidup di atas bumi. Yohanes pasal satu mengatakan firman yang adalah Allah telah menjadi daging (Yoh. 1:14). Kemudian Yohanes Pembaptis juga menyebut Dia sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Anak Domba Allah ini adalah juga firman Allah yang telah menjadi daging itu. Jadi tiga ternak dalam Kejadian pasal 15 menyatakan Kristus yang di dalam keinsanian-Nya itu tersalib bagi kita.
Allah memperlihatkan kepada Abraham, ia bisa “memiliki tanah ini”, adalah tergantung pada pekerjaan salib. Kelak, keturunannya bisa berdiri di atas tanah ini, karena ada kematian salib. Kita harus nampak, salib adalah dasar dari kehidupan rohani kita. Tuhan memperlihatkan kepada kita, hanya bila kita melewati salib, baru ada perapian yang berasap serta suluh yang berapi (Kej. 15:17). Perapian adalah untuk memurnikan, dan suluh adalah untuk menerangi. Dengan kata lain, hanya bila kita menempuh jalan salib baru ada pemurnian, baru ada penerangan yang sejati. Kalau kita damba dimurnikan dan diterangi oleh Tuhan, kita perlu memasuki pengalaman salib. Pengalaman salib ini bagi kita menjadi satu dengan pengalaman atas Kristus yang bangkit (bd. Flp. 3:10).
Penerapan:
Jadikanlah hati kita sebagai tanah yang gembur di mana Kristus dapat bertumbuh lebih besar dan dewasa di dalam kita. Biarlah Kristus dapat semakin memperluas wilayah-Nya di dalam hati kita. Tidak ada satu perkara, benda maupun manusia yang kita ijinkan mempersempit wilayah Kristus di hati kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku mau percaya kepada setiap janji-Mu. Tambahkanlah terus iman di dalam diriku. Dalam keadaan apa pun, perkara apa pun yang terjadi dalam hidupku. Tuhan, jangan biarkan aku meninggalkan gereja-Mu, terlebih meninggalkan diri-Mu.
29 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 4 Selasa
Pentingnya Memiliki Keturunan
Kejadian 15:5
“Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: ‘Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firman-Nya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’”
Untuk menggenapkan kehendak Allah pada zaman Abraham, hal pertama yang diperlukan adalah keturunan (Kej. 15:1-6; lihat juga Kej. 13:16; 22:17-18; 12:2). Tujuan Allah memanggil Abraham adalah untuk menggenapkan kehendak-Nya. Seperti yang telah kita lihat, kehendak-Nya adalah mendapatkan sekelompok orang yang dalam gambar-Nya mengekspresikan diri-Nya dan memiliki otoritas-Nya untuk mewakili diri-Nya. Tetapi Abraham tidak mempunyai keturunan, bagaimana mungkin Abraham dapat menggenapkan kehendak Allah tanpa keturunan? Abraham memerlukan keturunan yang melaluinya Allah akan mendapatkan sekelompok orang.
Ketika Abraham mengetahui ia perlu keturunan, ia memakai Eliezer sebagai pelengkapnya (Kej. 15:2-4). Tetapi Allah tidak pernah memakai orang/benda-benda yang kita miliki untuk menggenapkan kehendak-Nya. Yang kita miliki tidak lain adalah “Eliezer”. Tak satu pun dari milik kita yang berguna bagi penggenapan kehendak Allah. Kalau kita membaca Galatia pasal tiga, kita akan melihat keturunan tersebut adalah diri Kristus sendiri. Tak satu pun yang kita miliki dapat melahirkan Kristus. Untuk menggenapkan kehendak Allah, kita harus memiliki Kristus yang digarapkan ke dalam kita. Inilah sebabnya mengapa Paulus berkata kepada kita bahwa Kristus diwahyukan di dalam dia (Gal. 1:15-16), Kristus tinggal di dalam dia (Gal. 2:20), Kristus terbentuk (formed) di dalam dia (Gal. 4:19), dan baginya hidup adalah Kristus (Flp. 1:21). Setiap hari kita harus terbuka bagi pekerjaan Kristus di dalam kita. Inilah keperluan kita.
Pentingnya Memiliki Tanah/Negeri
Kej. 15:7; 17-21; 13:14-15, 17; 17:8; Ibr. 13:5
Untuk menggenapkan kehendak Allah, selain harus memiliki keturunan, Abraham juga harus memiliki tanah/ negeri (Kej. 15:17-21; lihat juga 12:7; 13:14-15, 17; 17:8). Karena itu Tuhan berkata kepadanya: “Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu” (Kej. 15:7). Menurut konsepsi Alkitab, tanah/negeri mengacu kepada lima hal besar, yaitu: 1) tempat kediaman umat Allah, 2) tempat bagi mereka untuk mempertahankan kelangsungan hidup, 3) tempat Allah mengalahkan musuh-musuh, 4) tempat Allah memiliki Kerajaan-Nya, dan 5) tempat Allah memiliki kediaman untuk mengekspresikan diri-Nya. Jadi, akhirnya, di tanah itulah Kerajaan Allah didirikan, bait bagi kediaman Allah didirikan, dan kemuliaan Allah dinyatakan.
Hari ini, bagi kita tanah itu adalah Kristus yang hidup di dalam kita dan tempat di dalamnya kita hidup. Kita harus hidup di dalam Kristus dan hidup bersandar Kristus. Kita jangan sampai kehilangan sasaran dan hanya mencari berkat Allah saja. Jangan menaruh perhatian yang terlampau besar terhadap keperluan hidup kita sebab Bapa kita mengetahui apa yang kita perlukan. Biarkanlah Dia memelihara kita. Dia sekali-kali tidak akan meninggalkan kita atau membiarkan kita (Ibr. 13:5). Memang Perjanjian Lama mengutamakan berkat lahiriah, tetapi dalam Perjanjian Baru berkat lahiriah segera digantikan dengan berkat rohani. Efesus 1:3 mengatakan Allah dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga. Berkat rohani ini tidak lain adalah Kristus beserta segala kekayaan-Nya.
Pada hari ini, tanah juga adalah gereja, karena gereja adalah perluasan Kristus. Tubuh Kristus, gereja, adalah perluasan Kristus. Di dalam gereja, kita hidup dalam Kristus dan bersandar kepada Kristus; di dalam gereja kita “membunuh musuh-musuh” dan di dalam gereja kita memiliki Kerajaan Allah serta tempat kediaman Allah. Karena alasan inilah, maka ketika kita datang ke dalam perhimpunan gereja, kita akan segera merasakan bahwa kita berada di rumah. Sekarang kita tidak berkelana lagi, kita telah mempunyai satu tempat untuk berdiam dan hidup, tempat di mana kita mempunyai Kerajaan Allah serta tempat kediaman Allah. Baik keturunan maupun tanah, kedua-duanya adalah Kristus. Keturunan adalah Kristus yang di dalam kita dan tanah adalah Kristus yang di dalamnya kita hidup. Dialah keturunan itu dan tanah/negeri untuk menggenapkan kehendak Allah yang kekal. Marilah kita mengejar pengalaman yang lebih dalam, mengalami Kristus sebagai Keturunan dan tanah itu, sehingga kita boleh berbagian dalam penggenapan kehendak Allah.
Penerapan:
Keberadaan kita sebagai orang Kristen adalah untuk menggenapkan tujuan Allah. Sudahkah kita menyatakan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari? Kita mungkin gagal, tetapi karena itulah kita perlu terus mengambil Dia sebagai segala sesuatu bagi kita. Selain itu kita perlu terus datang ke perhimpunan gereja supaya kita mendapatkan kekuatan menyatakan Dia dalam hidup ini.
Pokok Doa:
Tuhan jagalah hidupku hanya bagi kehendak-Mu semata. Tuhan Yesus, dapatkanlah diriku, keluargaku, waktuku, pekerjaanku. Biarlah semuanya hanya bagi Kristus dan gereja. Selain itu, aku perlu Dikau terus bertambah dalam hidupku, hayat-Mu terus bertumbuh dewasa di dalamku.
Kejadian 15:5
“Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: ‘Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firman-Nya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’”
Untuk menggenapkan kehendak Allah pada zaman Abraham, hal pertama yang diperlukan adalah keturunan (Kej. 15:1-6; lihat juga Kej. 13:16; 22:17-18; 12:2). Tujuan Allah memanggil Abraham adalah untuk menggenapkan kehendak-Nya. Seperti yang telah kita lihat, kehendak-Nya adalah mendapatkan sekelompok orang yang dalam gambar-Nya mengekspresikan diri-Nya dan memiliki otoritas-Nya untuk mewakili diri-Nya. Tetapi Abraham tidak mempunyai keturunan, bagaimana mungkin Abraham dapat menggenapkan kehendak Allah tanpa keturunan? Abraham memerlukan keturunan yang melaluinya Allah akan mendapatkan sekelompok orang.
Ketika Abraham mengetahui ia perlu keturunan, ia memakai Eliezer sebagai pelengkapnya (Kej. 15:2-4). Tetapi Allah tidak pernah memakai orang/benda-benda yang kita miliki untuk menggenapkan kehendak-Nya. Yang kita miliki tidak lain adalah “Eliezer”. Tak satu pun dari milik kita yang berguna bagi penggenapan kehendak Allah. Kalau kita membaca Galatia pasal tiga, kita akan melihat keturunan tersebut adalah diri Kristus sendiri. Tak satu pun yang kita miliki dapat melahirkan Kristus. Untuk menggenapkan kehendak Allah, kita harus memiliki Kristus yang digarapkan ke dalam kita. Inilah sebabnya mengapa Paulus berkata kepada kita bahwa Kristus diwahyukan di dalam dia (Gal. 1:15-16), Kristus tinggal di dalam dia (Gal. 2:20), Kristus terbentuk (formed) di dalam dia (Gal. 4:19), dan baginya hidup adalah Kristus (Flp. 1:21). Setiap hari kita harus terbuka bagi pekerjaan Kristus di dalam kita. Inilah keperluan kita.
Pentingnya Memiliki Tanah/Negeri
Kej. 15:7; 17-21; 13:14-15, 17; 17:8; Ibr. 13:5
Untuk menggenapkan kehendak Allah, selain harus memiliki keturunan, Abraham juga harus memiliki tanah/ negeri (Kej. 15:17-21; lihat juga 12:7; 13:14-15, 17; 17:8). Karena itu Tuhan berkata kepadanya: “Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu” (Kej. 15:7). Menurut konsepsi Alkitab, tanah/negeri mengacu kepada lima hal besar, yaitu: 1) tempat kediaman umat Allah, 2) tempat bagi mereka untuk mempertahankan kelangsungan hidup, 3) tempat Allah mengalahkan musuh-musuh, 4) tempat Allah memiliki Kerajaan-Nya, dan 5) tempat Allah memiliki kediaman untuk mengekspresikan diri-Nya. Jadi, akhirnya, di tanah itulah Kerajaan Allah didirikan, bait bagi kediaman Allah didirikan, dan kemuliaan Allah dinyatakan.
Hari ini, bagi kita tanah itu adalah Kristus yang hidup di dalam kita dan tempat di dalamnya kita hidup. Kita harus hidup di dalam Kristus dan hidup bersandar Kristus. Kita jangan sampai kehilangan sasaran dan hanya mencari berkat Allah saja. Jangan menaruh perhatian yang terlampau besar terhadap keperluan hidup kita sebab Bapa kita mengetahui apa yang kita perlukan. Biarkanlah Dia memelihara kita. Dia sekali-kali tidak akan meninggalkan kita atau membiarkan kita (Ibr. 13:5). Memang Perjanjian Lama mengutamakan berkat lahiriah, tetapi dalam Perjanjian Baru berkat lahiriah segera digantikan dengan berkat rohani. Efesus 1:3 mengatakan Allah dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga. Berkat rohani ini tidak lain adalah Kristus beserta segala kekayaan-Nya.
Pada hari ini, tanah juga adalah gereja, karena gereja adalah perluasan Kristus. Tubuh Kristus, gereja, adalah perluasan Kristus. Di dalam gereja, kita hidup dalam Kristus dan bersandar kepada Kristus; di dalam gereja kita “membunuh musuh-musuh” dan di dalam gereja kita memiliki Kerajaan Allah serta tempat kediaman Allah. Karena alasan inilah, maka ketika kita datang ke dalam perhimpunan gereja, kita akan segera merasakan bahwa kita berada di rumah. Sekarang kita tidak berkelana lagi, kita telah mempunyai satu tempat untuk berdiam dan hidup, tempat di mana kita mempunyai Kerajaan Allah serta tempat kediaman Allah. Baik keturunan maupun tanah, kedua-duanya adalah Kristus. Keturunan adalah Kristus yang di dalam kita dan tanah adalah Kristus yang di dalamnya kita hidup. Dialah keturunan itu dan tanah/negeri untuk menggenapkan kehendak Allah yang kekal. Marilah kita mengejar pengalaman yang lebih dalam, mengalami Kristus sebagai Keturunan dan tanah itu, sehingga kita boleh berbagian dalam penggenapan kehendak Allah.
Penerapan:
Keberadaan kita sebagai orang Kristen adalah untuk menggenapkan tujuan Allah. Sudahkah kita menyatakan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari? Kita mungkin gagal, tetapi karena itulah kita perlu terus mengambil Dia sebagai segala sesuatu bagi kita. Selain itu kita perlu terus datang ke perhimpunan gereja supaya kita mendapatkan kekuatan menyatakan Dia dalam hidup ini.
Pokok Doa:
Tuhan jagalah hidupku hanya bagi kehendak-Mu semata. Tuhan Yesus, dapatkanlah diriku, keluargaku, waktuku, pekerjaanku. Biarlah semuanya hanya bagi Kristus dan gereja. Selain itu, aku perlu Dikau terus bertambah dalam hidupku, hayat-Mu terus bertumbuh dewasa di dalamku.
28 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 4 Senin
Mengenal Anugerah untuk Menggenapkan Tujuan Allah
Kejadian 15:1
“Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: ‘Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.’”
Mulai Kejadian pasal 15, kita nampak satu masalah lain, yaitu masalah tentang anak. Titik fokusnya tidak lagi Tanah Kanaan, tapi masalah keturunan. Kejadian 15:1 mengatakan, “Kemudian datanglah firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan: ‘Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar’” Kata-kata terakhir boleh diterjemahkan sebagai “Akulah perisaimu, upahmu yang sangat besar.” Setelah Abraham menang perang, Allah berfirman demikian kepada Abraham.
Abraham adalah manusia biasa seperti kita. Meskipun Allah memberikan kemenangan kepadanya, tetapi Allah tidak membuatnya melampaui manusia. Setelah kemenangan itu lewat, tinggallah dia sendiri di dalam kemahnya, merenungkan hal-hal yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Abraham mulai merasa takut. Hal ini bisa kita ketahui dari firman Allah kepadanya. Allah berfirman, “Janganlah takut.” Mengapa bisa tidak takut? Ada dua alasan yang Allah katakan: pertama, “Akulah perisaimu,” artinya tidak ada orang yang bisa menyerang Abraham. Kedua, “Akulah upahmu yang sangat besar” (TL.), artinya segala yang Abraham kira telah hilang, dapat ia temukan di dalam diri Allah. Di sini Allah mengucapkan kata-kata hiburan kepada Abraham. Saudara saudari, kalau kita melakukan kehendak Allah, Allah akan menjadi perisai kita. Kita tidak perlu takut kepada siapa pun. Selain itu, dalam menempuh jalan Tuhan, terkadang kita harus rela melepaskan sesuatu, mungkin waktu, tenaga, uang, atau masa depan kita. Tetapi jangan kecewa, karena kebahagiaan yang kita kira hilang itu, akan kita temukan di dalam diri Allah. Ini adalah janji Allah kepada Abraham, juga janji-Nya kepada kita.
Iman yang Berharga
Kej. 15:4-6
Abraham berkata kepada Tuhan bahwa Eliezer orang Damsyik itu yang akan menjadi ahli warisnya. Eliezer berasal dari Damsyik. Mungkin ketika Abraham melewati Damsyik, ia menemukannya di sana dan mengambilnya. Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham, dan mengatakan kalau Dia adalah perisai dan upah yang besar bagi Abraham, Allah berkata kepadanya, “Orang ini (Eliezer) tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu” (Kej. 15:4). Seakan-akan Allah berkata kepada Abraham, “Aku tidak mau Lot, Aku juga tidak mau Eliezer. Haruslah anak kandungmu sendiri, bukan seorang hambamu.” Dengan perkataan ini Allah menegaskan kembali janji-Nya.
Kemudian Tuhan berfirman kepadanya, “’Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firman-Nya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu”’ (Kej. 15:5). Pada saat inilah Abram percaya kepada TUHAN. Ayat 6 mengatakan “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kepercayaan Abraham oleh Allah diperhitungkan sebagai kebenarannya, dan saat itu juga Abraham dibenarkan. Itulah pembenaran melalui iman yang pertama kali disebutkan dalam Alkitab.
Perihal Abraham mendapatkan keturunan sepertinya adalah perkara yang lahiriah, tetapi sebenarnya adalah perkara yang di batin. Kita perlu memiliki pengalaman akan Kristus yang batini, bukan yang lahiriah. Kita percaya bahwa Allah dapat mengerjakan hal-hal yang lahiriah seperti sanggup memberi kita kesehatan, penyembuhan, pekerjaan yang baik, ataupun kenaikan pangkat dan lain-lain. Walaupun iman seperti ini baik, tetapi bukanlah iman yang indah dan berharga dalam pandangan Allah. Allah tidak menghitung iman seperti ini sebagai kebenaran untuk Abraham. Iman yang dihitung sebagai kebenaran untuk Abraham adalah percaya Allah sanggup mengerjakan sesuatu ke dalamnya untuk menghasilkan keturunan, bukannya percaya Allah dapat memberi roti dan mentega, ternak ataupun budak-budak yang lebih banyak. Percaya bahwa Allah akan menyuplai keperluan sehari-hari kita dan makanan kita memang baik, tetapi iman seperti ini kurang berharga dalam pandangan Allah. Iman yang berharga adalah iman yang percaya bahwa Allah sanggup menggarapkan diri-Nya ke dalam kita sehingga Kristus terlahir dan bertumbuh di dalam kita. Walaupun kita mungkin memiliki segala berkat lahiriah, tetapi tanpa Kristus terlahir dan bertumbuh di dalam kita, itu sia-sia belaka.
Penerapan:
Pikiran kita sering kuatir. Kekuatiran adalah panah api yang dipakai Iblis untuk melemahkan iman seseorang. Karena itu marilah kita memohon Tuhan melindungi pikiran kita dengan firman-Nya dari segala kekuatiran yang menyerang.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, selamatkan aku dari hati yang tidak percaya. Dalam setiap hal yang aku hadapi, Tuhan, aku mau belajar percaya dan bersandar pada janji-Mu. Engkaulah yang sanggup melakukan segala sesuatu bagiku.
Kejadian 15:1
“Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: ‘Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.’”
Mulai Kejadian pasal 15, kita nampak satu masalah lain, yaitu masalah tentang anak. Titik fokusnya tidak lagi Tanah Kanaan, tapi masalah keturunan. Kejadian 15:1 mengatakan, “Kemudian datanglah firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan: ‘Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar’” Kata-kata terakhir boleh diterjemahkan sebagai “Akulah perisaimu, upahmu yang sangat besar.” Setelah Abraham menang perang, Allah berfirman demikian kepada Abraham.
Abraham adalah manusia biasa seperti kita. Meskipun Allah memberikan kemenangan kepadanya, tetapi Allah tidak membuatnya melampaui manusia. Setelah kemenangan itu lewat, tinggallah dia sendiri di dalam kemahnya, merenungkan hal-hal yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Abraham mulai merasa takut. Hal ini bisa kita ketahui dari firman Allah kepadanya. Allah berfirman, “Janganlah takut.” Mengapa bisa tidak takut? Ada dua alasan yang Allah katakan: pertama, “Akulah perisaimu,” artinya tidak ada orang yang bisa menyerang Abraham. Kedua, “Akulah upahmu yang sangat besar” (TL.), artinya segala yang Abraham kira telah hilang, dapat ia temukan di dalam diri Allah. Di sini Allah mengucapkan kata-kata hiburan kepada Abraham. Saudara saudari, kalau kita melakukan kehendak Allah, Allah akan menjadi perisai kita. Kita tidak perlu takut kepada siapa pun. Selain itu, dalam menempuh jalan Tuhan, terkadang kita harus rela melepaskan sesuatu, mungkin waktu, tenaga, uang, atau masa depan kita. Tetapi jangan kecewa, karena kebahagiaan yang kita kira hilang itu, akan kita temukan di dalam diri Allah. Ini adalah janji Allah kepada Abraham, juga janji-Nya kepada kita.
Iman yang Berharga
Kej. 15:4-6
Abraham berkata kepada Tuhan bahwa Eliezer orang Damsyik itu yang akan menjadi ahli warisnya. Eliezer berasal dari Damsyik. Mungkin ketika Abraham melewati Damsyik, ia menemukannya di sana dan mengambilnya. Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham, dan mengatakan kalau Dia adalah perisai dan upah yang besar bagi Abraham, Allah berkata kepadanya, “Orang ini (Eliezer) tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu” (Kej. 15:4). Seakan-akan Allah berkata kepada Abraham, “Aku tidak mau Lot, Aku juga tidak mau Eliezer. Haruslah anak kandungmu sendiri, bukan seorang hambamu.” Dengan perkataan ini Allah menegaskan kembali janji-Nya.
Kemudian Tuhan berfirman kepadanya, “’Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firman-Nya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu”’ (Kej. 15:5). Pada saat inilah Abram percaya kepada TUHAN. Ayat 6 mengatakan “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kepercayaan Abraham oleh Allah diperhitungkan sebagai kebenarannya, dan saat itu juga Abraham dibenarkan. Itulah pembenaran melalui iman yang pertama kali disebutkan dalam Alkitab.
Perihal Abraham mendapatkan keturunan sepertinya adalah perkara yang lahiriah, tetapi sebenarnya adalah perkara yang di batin. Kita perlu memiliki pengalaman akan Kristus yang batini, bukan yang lahiriah. Kita percaya bahwa Allah dapat mengerjakan hal-hal yang lahiriah seperti sanggup memberi kita kesehatan, penyembuhan, pekerjaan yang baik, ataupun kenaikan pangkat dan lain-lain. Walaupun iman seperti ini baik, tetapi bukanlah iman yang indah dan berharga dalam pandangan Allah. Allah tidak menghitung iman seperti ini sebagai kebenaran untuk Abraham. Iman yang dihitung sebagai kebenaran untuk Abraham adalah percaya Allah sanggup mengerjakan sesuatu ke dalamnya untuk menghasilkan keturunan, bukannya percaya Allah dapat memberi roti dan mentega, ternak ataupun budak-budak yang lebih banyak. Percaya bahwa Allah akan menyuplai keperluan sehari-hari kita dan makanan kita memang baik, tetapi iman seperti ini kurang berharga dalam pandangan Allah. Iman yang berharga adalah iman yang percaya bahwa Allah sanggup menggarapkan diri-Nya ke dalam kita sehingga Kristus terlahir dan bertumbuh di dalam kita. Walaupun kita mungkin memiliki segala berkat lahiriah, tetapi tanpa Kristus terlahir dan bertumbuh di dalam kita, itu sia-sia belaka.
Penerapan:
Pikiran kita sering kuatir. Kekuatiran adalah panah api yang dipakai Iblis untuk melemahkan iman seseorang. Karena itu marilah kita memohon Tuhan melindungi pikiran kita dengan firman-Nya dari segala kekuatiran yang menyerang.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, selamatkan aku dari hati yang tidak percaya. Dalam setiap hal yang aku hadapi, Tuhan, aku mau belajar percaya dan bersandar pada janji-Mu. Engkaulah yang sanggup melakukan segala sesuatu bagiku.
26 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 3 Sabtu
Ministri Melkisedek
Kejadian 14:18-19
“Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi”
Berkenaan dengan peperangan Abraham, kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan: Mengapa seorang pelarian dapat meloloskan diri untuk mengabarkan keadaan Lot kepada Abraham? Apa yang memampukan Abraham mengambil keputusan yang demikian tegas dan berani? Mengapa hanya dalam jangka waktu yang pendek musuh-musuh melarikan diri? Kejadian 14:18 mencatat ada seorang bernama Melkisedek. Dia tidak hanya berdoa syafaat bagi Abraham, tetapi juga menyuplai Abraham dengan roti dan anggur. Siapakah Melkisedek? Dia adalah lambang Kristus sebagai Imam Besar Allah. Hal ini tidak diwahyukan dalam Kejadian 14, tetapi terdapat dalam Mazmur 110. Dalam Mazmur 110, kita diberi tahu bahwa Sang terurap Allah, yakni Kristus, sebagai Imam menurut urutan Melkisedek, tingkatannya melebihi tingkatan Harun. Sebelum Harun menjabat imam, Melkisedek sudah menjadi imam Allah.
Pelayanan Imam Harun berbeda dengan Melkisedek. Keimaman Harun menanggulangi dosa, sedangkan pelayanan Melkisedek menyuplai. Melkisedek datang bukan karena Abraham berdosa, melainkan karena Abraham memperoleh kemenangan. Melkisedek datang dengan roti dan anggur menjamu sang pemenang. Kristus sebagai Imam Besar tidak hanya menyingkirkan dosa, tetapi menyuplai kita dengan roti dan anggur. Roti dan anggur melambangkan Allah yang telah melalui proses sebagai suplai pemeliharaan kita. Kehidupan kita adalah suatu peperangan. Tetapi kita memiliki Kristus, Imam Besar yang senantiasa berdoa syafaat bagi kita (Ibr. 7:25, TL.). Ia pun menyuplai kita dengan roti dan anggur.
Kemenangan dan Suplai Hayat
Kej. 14:20-24; Ibr. 7:2, 4, 6-7, 20, 25
Ketika kita hidup di bumi ini, banyak peristiwa yang menimpa kita. Kelihatannya hal-hal ini terjadi begitu saja. Sebenarnya, tidak demikian. Di balik semua peristiwa di dunia ini, ada orang yang sedang berdoa syafaat. Melkisedek kita, Kristus Imam Besar kita, senantiasa mendoakan kita di surga (Ibr. 7:25, TL.). Doa syafaat-Nya menaungi dan memelihara kita. Apa yang kita lakukan di bumi ini? Di bumi kita hidup bagi-Nya dan sebagai kesaksian-Nya. Kita tidak bisa membiarkan kepentingan Allah di bumi dirugikan. Begitu kita mendengar hal-hal yang merugikan, kita segera mengambil keputusan yang tegas untuk mengalahkan musuh-musuh.
Ketika Melkisedek datang kepada Abraham, ia memberkati Abraham dengan Allah yang Mahatinggi dan Pencipta langit dan bumi (ay. 19). Ini membuktikan Melkisedek lebih besar daripada Abraham (Ibr. 7:6-7). Ia juga memuji Allah karena kemenangan Abraham (ay. 20). Kemenangan kita selalu menyebabkan “Melkisedek” kita berkenan untuk memberkati kita dan memberi puji-pujian kepada Allah. Kemenangan kita membawakan lebih banyak berkat di dalam Kristus bagi kita dan puji-pujian bagi Allah. Pada waktu Melkisedek memberkati, Abraham memberikan sepersepuluh dari semua yang dimilikinya, yaitu dari hasil jarahannya (Kej. 14:20; Ibr. 7:2, 4). Hal ini juga membuktikan kebesaran Melkisedek. Kemenangan kita menyatakan kebesaran Kristus. Tanpa kemenangan, kita tidak mempunyai apa pun yang dapat kita persembahkan kepada Kristus dan kebesaran-Nya tidak dapat dinyatakan. Kristus adalah pemenang dan kita hanya dapat menang di dalam Dia. Karena itu marilah kita bersandar Dia berperang bagi kepentingan-Nya, maka Dia akan menyuplai kita dengan roti dan anggur yang melambangkan kenikmatan penuh akan Allah.
Ketika Abraham mengalahkan raja-raja, menerima berkat Melkisedek, ia bertemu dengan Raja Sodom. Raja Sodom menganjuri Abraham yang menang perang untuk mengambil barang jarahan bagi diri sendiri. Tapi seutas benang pun Abraham tidak mau, ia percaya kepada Allah yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi (Kej. 14:19-23). Abraham berkata bahwa prajuritnya dan sekutunya harus mendapatkan bagiannya, tetapi dia memberikan bagiannya kepada Raja Sodom (ay. 24). Abraham berhasil mengalahkan pencobaan harta dunia. Di sini kita melihat bahwa kapankala kita menang, kita perlu mempersembahkannya bagi Allah semata. Hasilnya Allah akan memberkati kita dan menyuplai kita dengan diri-Nya sendiri. Ketika kita dipuaskan dengan suplai Allah kita ada kekuatan untuk menolak suap dunia dan menang terhadap pencobaan harta dunia.
Penerapan:
Sampai saat ini boleh dikatakan kita terjaga dan terpelihara di dalam Tuhan dan gereja. Itu semua bukan karena kekuatan dan kemampuan kita, tetapi karena rahmat Tuhan. Tanpa kita sadari ada banyak orang yang berdoa syafaat bagi kita. Marilah kita juga turut berdoa syafaat bagi orang lain sehingga merekapun juga dapat terjaga di dalam kehidupan gereja.
Pokok Doa:
Terima kasih, ya Tuhan. Aku bersyukur kepada-Mu,sampai hari ini aku tetap terlindung dan terpelihara. Semuanya ini bukan karena kekuatan dan kebaikanku, tetapi karena Engkau, Imam Besarku di surga, selalu berdoa syafaat bagiku.
Kejadian 14:18-19
“Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi”
Berkenaan dengan peperangan Abraham, kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan: Mengapa seorang pelarian dapat meloloskan diri untuk mengabarkan keadaan Lot kepada Abraham? Apa yang memampukan Abraham mengambil keputusan yang demikian tegas dan berani? Mengapa hanya dalam jangka waktu yang pendek musuh-musuh melarikan diri? Kejadian 14:18 mencatat ada seorang bernama Melkisedek. Dia tidak hanya berdoa syafaat bagi Abraham, tetapi juga menyuplai Abraham dengan roti dan anggur. Siapakah Melkisedek? Dia adalah lambang Kristus sebagai Imam Besar Allah. Hal ini tidak diwahyukan dalam Kejadian 14, tetapi terdapat dalam Mazmur 110. Dalam Mazmur 110, kita diberi tahu bahwa Sang terurap Allah, yakni Kristus, sebagai Imam menurut urutan Melkisedek, tingkatannya melebihi tingkatan Harun. Sebelum Harun menjabat imam, Melkisedek sudah menjadi imam Allah.
Pelayanan Imam Harun berbeda dengan Melkisedek. Keimaman Harun menanggulangi dosa, sedangkan pelayanan Melkisedek menyuplai. Melkisedek datang bukan karena Abraham berdosa, melainkan karena Abraham memperoleh kemenangan. Melkisedek datang dengan roti dan anggur menjamu sang pemenang. Kristus sebagai Imam Besar tidak hanya menyingkirkan dosa, tetapi menyuplai kita dengan roti dan anggur. Roti dan anggur melambangkan Allah yang telah melalui proses sebagai suplai pemeliharaan kita. Kehidupan kita adalah suatu peperangan. Tetapi kita memiliki Kristus, Imam Besar yang senantiasa berdoa syafaat bagi kita (Ibr. 7:25, TL.). Ia pun menyuplai kita dengan roti dan anggur.
Kemenangan dan Suplai Hayat
Kej. 14:20-24; Ibr. 7:2, 4, 6-7, 20, 25
Ketika kita hidup di bumi ini, banyak peristiwa yang menimpa kita. Kelihatannya hal-hal ini terjadi begitu saja. Sebenarnya, tidak demikian. Di balik semua peristiwa di dunia ini, ada orang yang sedang berdoa syafaat. Melkisedek kita, Kristus Imam Besar kita, senantiasa mendoakan kita di surga (Ibr. 7:25, TL.). Doa syafaat-Nya menaungi dan memelihara kita. Apa yang kita lakukan di bumi ini? Di bumi kita hidup bagi-Nya dan sebagai kesaksian-Nya. Kita tidak bisa membiarkan kepentingan Allah di bumi dirugikan. Begitu kita mendengar hal-hal yang merugikan, kita segera mengambil keputusan yang tegas untuk mengalahkan musuh-musuh.
Ketika Melkisedek datang kepada Abraham, ia memberkati Abraham dengan Allah yang Mahatinggi dan Pencipta langit dan bumi (ay. 19). Ini membuktikan Melkisedek lebih besar daripada Abraham (Ibr. 7:6-7). Ia juga memuji Allah karena kemenangan Abraham (ay. 20). Kemenangan kita selalu menyebabkan “Melkisedek” kita berkenan untuk memberkati kita dan memberi puji-pujian kepada Allah. Kemenangan kita membawakan lebih banyak berkat di dalam Kristus bagi kita dan puji-pujian bagi Allah. Pada waktu Melkisedek memberkati, Abraham memberikan sepersepuluh dari semua yang dimilikinya, yaitu dari hasil jarahannya (Kej. 14:20; Ibr. 7:2, 4). Hal ini juga membuktikan kebesaran Melkisedek. Kemenangan kita menyatakan kebesaran Kristus. Tanpa kemenangan, kita tidak mempunyai apa pun yang dapat kita persembahkan kepada Kristus dan kebesaran-Nya tidak dapat dinyatakan. Kristus adalah pemenang dan kita hanya dapat menang di dalam Dia. Karena itu marilah kita bersandar Dia berperang bagi kepentingan-Nya, maka Dia akan menyuplai kita dengan roti dan anggur yang melambangkan kenikmatan penuh akan Allah.
Ketika Abraham mengalahkan raja-raja, menerima berkat Melkisedek, ia bertemu dengan Raja Sodom. Raja Sodom menganjuri Abraham yang menang perang untuk mengambil barang jarahan bagi diri sendiri. Tapi seutas benang pun Abraham tidak mau, ia percaya kepada Allah yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi (Kej. 14:19-23). Abraham berkata bahwa prajuritnya dan sekutunya harus mendapatkan bagiannya, tetapi dia memberikan bagiannya kepada Raja Sodom (ay. 24). Abraham berhasil mengalahkan pencobaan harta dunia. Di sini kita melihat bahwa kapankala kita menang, kita perlu mempersembahkannya bagi Allah semata. Hasilnya Allah akan memberkati kita dan menyuplai kita dengan diri-Nya sendiri. Ketika kita dipuaskan dengan suplai Allah kita ada kekuatan untuk menolak suap dunia dan menang terhadap pencobaan harta dunia.
Penerapan:
Sampai saat ini boleh dikatakan kita terjaga dan terpelihara di dalam Tuhan dan gereja. Itu semua bukan karena kekuatan dan kemampuan kita, tetapi karena rahmat Tuhan. Tanpa kita sadari ada banyak orang yang berdoa syafaat bagi kita. Marilah kita juga turut berdoa syafaat bagi orang lain sehingga merekapun juga dapat terjaga di dalam kehidupan gereja.
Pokok Doa:
Terima kasih, ya Tuhan. Aku bersyukur kepada-Mu,sampai hari ini aku tetap terlindung dan terpelihara. Semuanya ini bukan karena kekuatan dan kebaikanku, tetapi karena Engkau, Imam Besarku di surga, selalu berdoa syafaat bagiku.
25 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 3 Jumat
Berperang bagi Saudara
Kejadian 14:14
“Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan.”
Allah berdaulat atas segala sesuatu, termasuk dalam peristiwa penawanan diri Lot. Kejadian 14:13 mengatakan, “Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini kepada Abram, orang Ibrani itu.” Empat raja itu telah merebut Kota Sodom dan semua isinya termasuk persediaan makanan. Lalu ada seorang pelarian menceritakan tentang tertawannya Lot kepada Abraham. Apakah kita percaya peristiwa itu terjadi secara kebetulan? Bagaimana bisa sementara yang lain ditawan, orang ini dapat meloloskan diri? Orang ini pasti dilindungi oleh kedaulatan Allah. Ia dengan sengaja datang kepada Abraham dan menceritakan kepadanya bahwa Lot ditawan.
Tidak seperti kebanyakan kita, Abraham tidak menyimpan kesalahan saudaranya, dan ia tidak merasa senang atas penderitaan dan bencana yang menimpa Lot. Ketika mendengar kabar ini, ia segera berdoa (14:22, TL.). Sebagai hasil dari doa itu, ia lalu mengambil keputusan yang tegas dan berani, berperang bagi Lot (14:14). Abraham memutuskan untuk membawa 318 orang pilihannya dan berperang melawan empat raja beserta tentaranya. Abraham mengabaikan banyaknya pasukan lawan. Abraham berani, karena dia percaya kepada Allah. Menurut pendapat Abraham, adalah suatu hal yang memalukan melihat saudaranya tertawan. Di dalam kehidupan gereja, kita harus memiliki perasaan yang sama seperti Abraham. Adalah suatu hal yang memalukan bila kita melihat kaum saleh tertawan oleh dosa atau dunia. Kita harus berkata, “Aku tidak akan membiarkan hal ini. Aku harus bangun dan bertindak.” Inilah sikap yang sepatutnya.
Kemenangan Abraham
Kej. 14:15-16
Kejadian 14:15-16 memberitahu kita bagaimana Abraham dan pengikutnya mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik. Ia membawa kembali segala harta benda yang dirampas; juga Lot, anak saudaranya itu, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya. Kemenangan Abraham bukan dimulai dari mengalahkan raja-raja itu, tetapi dimulai ketika Lot memisahkan diri dari dia. Di bawah pengajaran kedaulatan Allah, Abraham belajar bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu dan Allah mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan umat-Nya.
Kita semua harus mempelajari pelajaran dasar ini. Setelah kita dipanggil dan menjawab panggilan Allah dan masuk ke tempat yang dikehendaki Allah, pertama-tama, pelajaran dasar yang diberikan Allah kepada kita adalah: sebagai orang yang dipanggil Allah, segala sesuatu yang berhubungan dengan kita ada di bawah tangan Allah. Allah berdaulat atas seluruh diri kita. Inilah pelajaran dasar yang dipelajari Abraham ketika ia turun ke Mesir. Itulah awal kemenangan Abraham. Dalam berperang bagi saudaranya, Abraham mempertaruhkan hidupnya. Bukanlah perkara kecil baginya untuk mempertaruhkan nyawanya guna memperoleh kembali saudaranya yang tertawan. Tetapi ia melakukannya. Peperangan berjalan dengan lancar dan Abraham mengejar musuhnya dari arah selatan sampai ke Dan di sebelah utara. Kemenangannya adalah hasil dari doa permohonan di balik semua kejadian itu.
Abraham memperoleh kemenangan karena bersandar Allah. Ia percaya kepada Allah, sebab ia telah belajar mengenal Dia. Sama halnya, kita semua harus belajar mengenal Allah. Kita harus belajar bahwa hari ini pun bumi adalah milik Allah. Baik langit maupun bumi adalah milik Bapa kita, yaitu Dia yang memanggil kita. Kita perlu mempunyai iman semacam ini terhadap Dia. Lot kalah disebabkan ia tidak belajar suatu pelajaran bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi. Bahkan setelah dia diselamatkan, tidak ada catatan bahwa ia berterima kasih kepada Abraham atau mengatakan sepatah kata pertobatan kepada Tuhan. Sekalipun perihal penawanan merupakan sebuah peringatan baginya agar tidak balik ke Sodom, namun ia tetap kembali ke Sodom setelah pembebasannya dari tawanan. Kita telah melihat bahwa Abraham gagal namun dia bangkit dari kegagalannya. Lot juga gagal, namun dia tetap tinggal dalam kegagalannya itu, meskipun dia telah ditolong untuk keluar. Dua contoh ini haruslah memberi kita hikmat bagaimana bersikap sewaktu mengalami kegagalan.
Penerapan:
Bagaimanakah sikap kita bila ada seorang saudara yang melakukan kesalahan dan akhirnya jatuh dalam kesulitan? Apakah kita membiarkannya dan menganggap hal itu sebagai ganjaran supaya dia bertobat tanpa memberikan pertolongan? Puji Tuhan, Tuhan kita tidak memiliki sikap yang demikian. Ia tetap memberikan pertolongan untuk memulihkan kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, bangunkan aku untuk memiliki hati kasih dan tidak memandang kesalahan maupun kelemahan pada saudaraku yang mengalami kesulitan. Seperti Engkau menolong aku,biarlah aku juga belajar untuk memberikan pertolongan.
Kejadian 14:14
“Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan.”
Allah berdaulat atas segala sesuatu, termasuk dalam peristiwa penawanan diri Lot. Kejadian 14:13 mengatakan, “Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini kepada Abram, orang Ibrani itu.” Empat raja itu telah merebut Kota Sodom dan semua isinya termasuk persediaan makanan. Lalu ada seorang pelarian menceritakan tentang tertawannya Lot kepada Abraham. Apakah kita percaya peristiwa itu terjadi secara kebetulan? Bagaimana bisa sementara yang lain ditawan, orang ini dapat meloloskan diri? Orang ini pasti dilindungi oleh kedaulatan Allah. Ia dengan sengaja datang kepada Abraham dan menceritakan kepadanya bahwa Lot ditawan.
Tidak seperti kebanyakan kita, Abraham tidak menyimpan kesalahan saudaranya, dan ia tidak merasa senang atas penderitaan dan bencana yang menimpa Lot. Ketika mendengar kabar ini, ia segera berdoa (14:22, TL.). Sebagai hasil dari doa itu, ia lalu mengambil keputusan yang tegas dan berani, berperang bagi Lot (14:14). Abraham memutuskan untuk membawa 318 orang pilihannya dan berperang melawan empat raja beserta tentaranya. Abraham mengabaikan banyaknya pasukan lawan. Abraham berani, karena dia percaya kepada Allah. Menurut pendapat Abraham, adalah suatu hal yang memalukan melihat saudaranya tertawan. Di dalam kehidupan gereja, kita harus memiliki perasaan yang sama seperti Abraham. Adalah suatu hal yang memalukan bila kita melihat kaum saleh tertawan oleh dosa atau dunia. Kita harus berkata, “Aku tidak akan membiarkan hal ini. Aku harus bangun dan bertindak.” Inilah sikap yang sepatutnya.
Kemenangan Abraham
Kej. 14:15-16
Kejadian 14:15-16 memberitahu kita bagaimana Abraham dan pengikutnya mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik. Ia membawa kembali segala harta benda yang dirampas; juga Lot, anak saudaranya itu, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya. Kemenangan Abraham bukan dimulai dari mengalahkan raja-raja itu, tetapi dimulai ketika Lot memisahkan diri dari dia. Di bawah pengajaran kedaulatan Allah, Abraham belajar bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu dan Allah mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan umat-Nya.
Kita semua harus mempelajari pelajaran dasar ini. Setelah kita dipanggil dan menjawab panggilan Allah dan masuk ke tempat yang dikehendaki Allah, pertama-tama, pelajaran dasar yang diberikan Allah kepada kita adalah: sebagai orang yang dipanggil Allah, segala sesuatu yang berhubungan dengan kita ada di bawah tangan Allah. Allah berdaulat atas seluruh diri kita. Inilah pelajaran dasar yang dipelajari Abraham ketika ia turun ke Mesir. Itulah awal kemenangan Abraham. Dalam berperang bagi saudaranya, Abraham mempertaruhkan hidupnya. Bukanlah perkara kecil baginya untuk mempertaruhkan nyawanya guna memperoleh kembali saudaranya yang tertawan. Tetapi ia melakukannya. Peperangan berjalan dengan lancar dan Abraham mengejar musuhnya dari arah selatan sampai ke Dan di sebelah utara. Kemenangannya adalah hasil dari doa permohonan di balik semua kejadian itu.
Abraham memperoleh kemenangan karena bersandar Allah. Ia percaya kepada Allah, sebab ia telah belajar mengenal Dia. Sama halnya, kita semua harus belajar mengenal Allah. Kita harus belajar bahwa hari ini pun bumi adalah milik Allah. Baik langit maupun bumi adalah milik Bapa kita, yaitu Dia yang memanggil kita. Kita perlu mempunyai iman semacam ini terhadap Dia. Lot kalah disebabkan ia tidak belajar suatu pelajaran bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi. Bahkan setelah dia diselamatkan, tidak ada catatan bahwa ia berterima kasih kepada Abraham atau mengatakan sepatah kata pertobatan kepada Tuhan. Sekalipun perihal penawanan merupakan sebuah peringatan baginya agar tidak balik ke Sodom, namun ia tetap kembali ke Sodom setelah pembebasannya dari tawanan. Kita telah melihat bahwa Abraham gagal namun dia bangkit dari kegagalannya. Lot juga gagal, namun dia tetap tinggal dalam kegagalannya itu, meskipun dia telah ditolong untuk keluar. Dua contoh ini haruslah memberi kita hikmat bagaimana bersikap sewaktu mengalami kegagalan.
Penerapan:
Bagaimanakah sikap kita bila ada seorang saudara yang melakukan kesalahan dan akhirnya jatuh dalam kesulitan? Apakah kita membiarkannya dan menganggap hal itu sebagai ganjaran supaya dia bertobat tanpa memberikan pertolongan? Puji Tuhan, Tuhan kita tidak memiliki sikap yang demikian. Ia tetap memberikan pertolongan untuk memulihkan kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, bangunkan aku untuk memiliki hati kasih dan tidak memandang kesalahan maupun kelemahan pada saudaraku yang mengalami kesulitan. Seperti Engkau menolong aku,biarlah aku juga belajar untuk memberikan pertolongan.
24 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 3 Kamis
Penanggulangan Allah atas Lot (1)
Kejadian 14:11-12
“Segala harta benda Sodom dan Gomora beserta segala bahan makanan dirampas musuh, lalu mereka pergi. Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi—sebab Lot itu diam di Sodom.”
Allah berdaulat atas suasana dan segala peristiwa yang menyangkut umat-Nya. Pada waktu itu, di Tanah Kanaan hanya ada dua keluarga orang Ibrani — yaitu keluarga Abraham dan keluarga Lot. Lainnya adalah orang kafir. Dalam Kejadian 14 kita nampak Allah itu berdaulat atas segala sesuatu, Ia mengizinkan suatu peristiwa terjadi untuk kebaikan umat-Nya. Kejadian 14 menceritakan peperangan antara kelompok empat raja dan kelompok lima raja. Akhirnya, lima raja itu dikalahkan oleh empat raja. Jika kita membacanya dengan cermat, kita akan melihat peperangan itu seluruhnya adalah untuk Lot dan Abraham. Dengan perkataan lain, Lot dan Abraham, kedua orang Ibrani ini, ditaruh di bawah ujian kedaulatan Allah. Peperangan ini baik atau tidak? Menurut manusia, tidak ada satu peperangan pun yang baik. Tetapi, dalam pasal ini, peperangan itu baik bagi Lot, terlebih lagi bagi Abraham.
Peperangan terutama terjadi di Sodom. Sebab Lot, salah seorang umat milik Allah, berdiam di tempat itu. Sebelum peperangan itu, Lot telah memisahkan diri dari Abraham (Kej. 13:11). Tujuan Allah dan sasaran Allah yang kekal berada pada Abraham. Memisahkan diri dari Abraham berarti memisahkan diri dari sasaran Allah, meninggalkan sasaran Allah, juga meninggalkan perlindungan. Karena kondisi itulah Allah di dalam kedaulatan-Nya mengijinkan Lot tertawan oleh Kedorlaomer, bukan untuk menghukum, tetapi untuk memulihkannya. Kalau suatu waktu kita terperangkap dalam masalah yang berat, kita harus ingat cerita Lot ini. Allah tidak sedang menghukum kita, tetapi mau memulihkan kita, karena mungkin kita telah melupakan sasaran Allah.
Penanggulangan Allah atas Lot (2)
Kej. 13:7-12; 14:11-12
Lot bukan terlebih dulu dikalahkan oleh empat raja. Kekalahan ini merupakan hasil dari dua kali kekalahan yang terdahulu. Sebelum Lot ditangkap oleh Kedorlaomer, ia menderita dua kali kekalahan. Kekalahan pertama terjadi ketika gembala Lot bertengkar dengan gembala Abraham dan Abraham membiarkan Lot memilih tanah (Kej. 13:7-11). Ketika Abraham memberi Lot kesempatan memilih, segera tanpa banyak pertimbangan, Lot menunjukkan pilihannya dan pergi. Itulah kekalahan yang pertama. Setelah berpisah dari Abraham, “Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom” (Kej. 13:12). Pada akhirnya, ia pindah ke dalam kota, berdiam di sana dan menetap di sana. Ini adalah kekalahannya yang kedua.
Allah tidak akan membiarkan umat-Nya berdiam di kota yang jahat itu. Di bawah kedaulatan Allah, Kedorlaomer memimpin penyerangan ke Sodom. Allah mengizinkan penyerangan itu berlangsung. Empat raja berperang melawan lima raja. Menurut tafsiran manusia, lima raja itu akan menang karena jumlah mereka lebih besar. Tetapi ternyata empat raja itu mengalahkan lima raja, dan Kota Sodom direbut. Alkitab menekankan Kota Sodom direbut, karena Lot tinggal di sana. Peperangan ini bukan semata-mata kisah peperangan empat raja melawan lima raja saja, melainkan suatu peperangan untuk seorang umat Allah. Boleh jadi Lot merasa tenteram ketika ia berdiam di Sodom, tetapi Allah tidak tenteram. Allah tidak akan membiarkan Lot tinggal di sana dengan tenteram. Inilah kenyataan yang terjadi atas diri Lot. Lot kalah dan kalah lagi. Akhirnya, pada tahap terakhir dari kekalahannya itu, ia jatuh ke tangan musuh. Selama ini Lot mungkin merasa aman di bawah perlindungan Raja Sodom, tetapi ternyata ia kemudian tertawan dan Raja Sodom itu sama sekali tidak dapat menolongnya.
Tertawannya Lot adalah suatu peringatan dari Allah yang berkuasa (14:11-12). Allah membelaskasihani dia, tidak memperbolehkan dia tinggal dalam Sodom dengan nyaman. Sebagai suatu peringatan dan pengajaran, Allah membuat dia tertawan. Keadaan Lot saat itu seharusnya juga menjadi pelajaran berharga bagi kita hari ini. Saat menyadari kita telah gagal, kita harus segera bertobat dan kembali ke kedudukan yang diperkenan Allah. Kalau tidak, kegagalan itu akan menyeret kita kepada kegagalan berikutnya. Setiap kegagalan pasti menimbulkan akibat. Lot tertawan oleh Kedorlaomer dan itu merupakan suatu penderitaan. Sebagian besar penderitaan kita justru ditimbulkan oleh kesalahan kita sendiri. Dalam kedaulatan-Nya, Allah mengijinkan penderitaan itu datang, tidak lain supaya kita segera kembali ke jalur yang benar. Ia mengijinkan penderitaan datang supaya kita dipulihkan.
Penerapan:
Keadaan manusia saat ini hampir sama dengan keadaan kota Sodom sebelum dimusnahkan oleh Tuhan, apalagi bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar. Janganlah kita karena kemewahan dan kemakmuran duniawi meninggalkan Tuhan dan terseret dalam penyelewengan pelampiasan nafsu. Berdoalah supaya Tuhan memberikan kekuatan agar kita tetap mendapatkan perlindungan dari arus dunia yang jahat.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku adalah orang yang lemah dan tidak mampu bertahan dalam arus dunia jahat sekarang ini. Tuhan aku mohon agar Engkau terus menjaga dan melindungi aku supaya aku tetap berada di jalan-Mu.
Kejadian 14:11-12
“Segala harta benda Sodom dan Gomora beserta segala bahan makanan dirampas musuh, lalu mereka pergi. Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi—sebab Lot itu diam di Sodom.”
Allah berdaulat atas suasana dan segala peristiwa yang menyangkut umat-Nya. Pada waktu itu, di Tanah Kanaan hanya ada dua keluarga orang Ibrani — yaitu keluarga Abraham dan keluarga Lot. Lainnya adalah orang kafir. Dalam Kejadian 14 kita nampak Allah itu berdaulat atas segala sesuatu, Ia mengizinkan suatu peristiwa terjadi untuk kebaikan umat-Nya. Kejadian 14 menceritakan peperangan antara kelompok empat raja dan kelompok lima raja. Akhirnya, lima raja itu dikalahkan oleh empat raja. Jika kita membacanya dengan cermat, kita akan melihat peperangan itu seluruhnya adalah untuk Lot dan Abraham. Dengan perkataan lain, Lot dan Abraham, kedua orang Ibrani ini, ditaruh di bawah ujian kedaulatan Allah. Peperangan ini baik atau tidak? Menurut manusia, tidak ada satu peperangan pun yang baik. Tetapi, dalam pasal ini, peperangan itu baik bagi Lot, terlebih lagi bagi Abraham.
Peperangan terutama terjadi di Sodom. Sebab Lot, salah seorang umat milik Allah, berdiam di tempat itu. Sebelum peperangan itu, Lot telah memisahkan diri dari Abraham (Kej. 13:11). Tujuan Allah dan sasaran Allah yang kekal berada pada Abraham. Memisahkan diri dari Abraham berarti memisahkan diri dari sasaran Allah, meninggalkan sasaran Allah, juga meninggalkan perlindungan. Karena kondisi itulah Allah di dalam kedaulatan-Nya mengijinkan Lot tertawan oleh Kedorlaomer, bukan untuk menghukum, tetapi untuk memulihkannya. Kalau suatu waktu kita terperangkap dalam masalah yang berat, kita harus ingat cerita Lot ini. Allah tidak sedang menghukum kita, tetapi mau memulihkan kita, karena mungkin kita telah melupakan sasaran Allah.
Penanggulangan Allah atas Lot (2)
Kej. 13:7-12; 14:11-12
Lot bukan terlebih dulu dikalahkan oleh empat raja. Kekalahan ini merupakan hasil dari dua kali kekalahan yang terdahulu. Sebelum Lot ditangkap oleh Kedorlaomer, ia menderita dua kali kekalahan. Kekalahan pertama terjadi ketika gembala Lot bertengkar dengan gembala Abraham dan Abraham membiarkan Lot memilih tanah (Kej. 13:7-11). Ketika Abraham memberi Lot kesempatan memilih, segera tanpa banyak pertimbangan, Lot menunjukkan pilihannya dan pergi. Itulah kekalahan yang pertama. Setelah berpisah dari Abraham, “Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom” (Kej. 13:12). Pada akhirnya, ia pindah ke dalam kota, berdiam di sana dan menetap di sana. Ini adalah kekalahannya yang kedua.
Allah tidak akan membiarkan umat-Nya berdiam di kota yang jahat itu. Di bawah kedaulatan Allah, Kedorlaomer memimpin penyerangan ke Sodom. Allah mengizinkan penyerangan itu berlangsung. Empat raja berperang melawan lima raja. Menurut tafsiran manusia, lima raja itu akan menang karena jumlah mereka lebih besar. Tetapi ternyata empat raja itu mengalahkan lima raja, dan Kota Sodom direbut. Alkitab menekankan Kota Sodom direbut, karena Lot tinggal di sana. Peperangan ini bukan semata-mata kisah peperangan empat raja melawan lima raja saja, melainkan suatu peperangan untuk seorang umat Allah. Boleh jadi Lot merasa tenteram ketika ia berdiam di Sodom, tetapi Allah tidak tenteram. Allah tidak akan membiarkan Lot tinggal di sana dengan tenteram. Inilah kenyataan yang terjadi atas diri Lot. Lot kalah dan kalah lagi. Akhirnya, pada tahap terakhir dari kekalahannya itu, ia jatuh ke tangan musuh. Selama ini Lot mungkin merasa aman di bawah perlindungan Raja Sodom, tetapi ternyata ia kemudian tertawan dan Raja Sodom itu sama sekali tidak dapat menolongnya.
Tertawannya Lot adalah suatu peringatan dari Allah yang berkuasa (14:11-12). Allah membelaskasihani dia, tidak memperbolehkan dia tinggal dalam Sodom dengan nyaman. Sebagai suatu peringatan dan pengajaran, Allah membuat dia tertawan. Keadaan Lot saat itu seharusnya juga menjadi pelajaran berharga bagi kita hari ini. Saat menyadari kita telah gagal, kita harus segera bertobat dan kembali ke kedudukan yang diperkenan Allah. Kalau tidak, kegagalan itu akan menyeret kita kepada kegagalan berikutnya. Setiap kegagalan pasti menimbulkan akibat. Lot tertawan oleh Kedorlaomer dan itu merupakan suatu penderitaan. Sebagian besar penderitaan kita justru ditimbulkan oleh kesalahan kita sendiri. Dalam kedaulatan-Nya, Allah mengijinkan penderitaan itu datang, tidak lain supaya kita segera kembali ke jalur yang benar. Ia mengijinkan penderitaan datang supaya kita dipulihkan.
Penerapan:
Keadaan manusia saat ini hampir sama dengan keadaan kota Sodom sebelum dimusnahkan oleh Tuhan, apalagi bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar. Janganlah kita karena kemewahan dan kemakmuran duniawi meninggalkan Tuhan dan terseret dalam penyelewengan pelampiasan nafsu. Berdoalah supaya Tuhan memberikan kekuatan agar kita tetap mendapatkan perlindungan dari arus dunia yang jahat.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku adalah orang yang lemah dan tidak mampu bertahan dalam arus dunia jahat sekarang ini. Tuhan aku mohon agar Engkau terus menjaga dan melindungi aku supaya aku tetap berada di jalan-Mu.
Subscribe to:
Posts (Atom)