Hitstat

20 August 2012

Galatia - Minggu 19 Senin


Pembacaan Alkitab: Gal. 1:3; 6:16-18


Paulus mengakhiri Kitab Galatia dengan kalimat: “Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara! Amin.” Pada permulaan kitab ini Paulus berkata, “Anugerah menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus” (1:3). Namun pada akhirnya, Paulus terlebih dulu mengatakan damai sejahtera (6:16), kemudian baru anugerah.

Mengapa pada permulaan Kitab Galatia Paulus mengatakan anugerah sebelum damai sejahtera dan pada akhirnya berkebalikan? Anugerah adalah Allah menjadi kenikmatan kita, dan damai sejahtera adalah suatu kondisi yang diakibatkan dari anugerah. Karena itu pada mulanya kita terlebih dulu memiliki anugerah, kemudian baru damai sejahtera. Tetapi begitu kita masuk dengan anugerah ke dalam suatu keadaan damai sejahtera baik dengan Allah secara vertikal maupun dengan sesama manusia secara horizontal, kita perlu memiliki anugerah untuk menjaga kita dalam situasi damai sejahtera yang sedemikian.

Jika kita tidak mengenal roh manusia (yang telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus), kita tidak bisa menikmati Kristus sebagai Roh yang almuhit. Kita boleh memakai penggunaan listrik yang praktis sebagai perumpamaan. Walaupun listrik telah terpasang di rumah Anda, Anda tetap perlu memakai saklar atau tombol untuk menyalakannya. Jika Anda tidak mengetahui di mana tombol itu, Anda tidak mungkin mengalami faedah listrik itu. Listrik surgawi pun telah terpasang di dalam kita, dan roh manusia adalah tombol untuk memanfaatkannya. Anugerah Tuhan Yesus Kristus — listrik surgawi — menyertai roh kita, yakni tombol itu.

Menurut Alkitab, fungsi roh ialah untuk berkontak dengan Allah. Tatkala kita mendengar Injil, kita bertobat dari dosa-dosa kita. Pertobatan melibatkan penggunaan hati nurani kita. Ketika kita membiarkan terang kebenaran menyoroti kita melalui pikiran ke dalam hati nurani kita, maka hati nurani kita menyuruh kita bertobat. Karenanya, pertobatan berkaitan dengan penggunaan bagian utama dari roh kita. Walaupun mungkin kita tidak memahaminya ketika kita beroleh selamat tetapi pada waktu itu, kita telah menggunakan roh kita. Selain bertobat, kita pun berdoa kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya. Mungkin kita berkata, “O Tuhan Yesus, Engkau adalah Penebusku. Aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah mati di atas salib bagi dosa-dosaku. Tuhan aku cinta kepada-Mu, dan aku menerima Engkau sebagai Juruselamatku.” Pada saat kita berdoa demikian, dengan menggunakan iman dalam Tuhan, Roh Allah masuk ke dalam roh kita dan melahirkan kembali roh kita. Pada saat kita beroleh selamat, roh kita telah dimanfaatkan untuk bertobat dan menerima Tuhan. Sejak saat itu dan seterusnya, Roh itu berhuni dalam roh kita. Karenanya, roh itu merupakan tempat di mana kita berkontak dengan Allah, sebab di sinilah Allah Tritunggal yang telah melalui proses itu tinggal sebagai Roh pemberihayat yang almuhit.

Sering kali ketika kita mulai berdoa, kita masih berada dalam pikiran atau emosi kita. Namun lambat laun doa kita membawa kita masuk ke dalam roh kita. Lalu kita merasa bahwa kita sedang berjumpa dengan Tuhan dan kita bersatu dengan Dia. Tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan betapa indahnya menjadi satu roh dengan Tuhan. Alangkah nikmatnya hal ini! Kenikmatan ini mendatangkan kepastian atau jaminan bahwa Allah Tritunggal itu riil adanya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 37

18 August 2012

Galatia - Minggu 18 Sabtu


Pembacaan Alkitab: Gal. 6:16


Kita semua perlu satu visi pengendali, penuntun, dan pengatur dari Allah Tritunggal sebagai sasaran kita. Jika kita nampak visi ini, kita akan dikendalikan dan dipimpin olehnya. Saya dapat bersaksi, demi belas kasihan-Nya, saya telah nampak visi ini lebih dari setengah abad yang lampau, dan saya tidak pernah diselewengkan dari visi ini. Visi ini terus-menerus mengatur, mengendalikan, dan menuntun saya. Hidup saya bukan tanpa sasaran, sebab saya mempunyai sasaran yang pasti. Bertahun-tahun visi tentang Allah Tritunggal sebagai sasaran saya ini selalu menguatkan dan menopang saya.

Bila kita nampak visi Allah Tritunggal sebagai sasaran kita, pasti kita tidak akan menabur kepada daging, melainkan menabur kepada Roh itu, yaitu Allah Tritunggal almuhit yang tinggal dalam roh kita. Persona yang hidup ini haruslah menjadi sasaran kita, dan kita harus mengarah kepada-Nya dalam segala sesuatu yang kita lakukan, katakan, dan apa adanya kita.

Menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita agak berbeda dengan berusaha untuk tidak mengasihi dunia. Kita diciptakan dengan kapasitas untuk mengasihi. Kita semua perlu mengasihi sesuatu. Jika Anda memberi seseorang sesuatu untuk dikasihinya, dan benda itu lebih baik daripada dunia, pasti ia akan mengasihinya sebagai ganti dunia. Akan tetapi, karena manusia tidak mempunyai apa-apa yang lebih baik, maka mereka tetap mengasihi dunia. Jika kita menasihati orang Kristen untuk tidak mengasihi dunia, itu terlalu dangkal. Sebagai umat manusia, kita memiliki keinginan untuk mengasihi sesuatu, dan keinginan ini perlu dipenuhi. Kalau kita dipuaskan dengan mengasihi Allah Tritunggal, Persona yang riil, hidup, hadir, dan subyektif bagi kita, maka kita akan tidak mampu mengasihi dunia lagi. Allah Tritunggal yang menjadi Roh pemberi-hayat yang pasti lebih indah daripada dunia ini, telah memiliki kita sepenuhnya. Kaum beriman diselamatkan dari mengasihi dunia bukan dengan pengajaran, melainkan dengan mengasihi Allah Tritunggal dan dipenuhi oleh-Nya.

Bila kita menabur kepada Allah Tritunggal, kita akan hidup oleh Roh. Demikian, dengan spontan kita akan menjadi ciptaan baru. Makna ciptaan baru ialah Allah, Roh ilahi, membaurkan diri-Nya sendiri dengan kita dan menyusun kita dengan diri-Nya sendiri sehingga kita menjadi baru. Ajaran-ajaran etika mungkin bisa memperbaiki perilaku seseorang, namun tidak mampu menyusun kembali siapa pun. Tetapi bila kita mengarah kepada Allah Tritunggal dan hidup oleh Roh pemberi-hayat yang almuhit, Roh itu akan menyalurkan unsur ilahi ke dalam kita dan menyusun ulang diri kita. Hasilnya, kita tidak lagi menjadi ciptaan lama, melainkan menjadi ciptaan baru dengan unsur ilahi yang tergarap ke dalam kita. Hasil terakhir dari hal ini ialah Yerusalem Baru.

Hari ini umat gereja dalam pemulihan Tuhan sedang mengalami proses disusun ulang dengan unsur ilahi. Kita bukan mengarah kepada mengoreksi diri atau memperbaiki diri. Sasaran kita bukanlah belajar sabar atau mengembangkan kapasitas untuk menahan derita. Semua itu bukan ciptaan baru. Ciptaan baru adalah masalah umat pilihan Allah menjadikan Roh almuhit itu sebagai sasaran mereka, mengarah kepada-Nya, menjadi satu Roh dengan-Nya, dan sebagai akibatnya, memiliki unsur ilahi yang ditransfusikan ke dalam mereka demi menyusun ulang mereka dan menjadikan mereka baru.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 36

17 August 2012

Galatia - Minggu 18 Jumat


Pembacaan Alkitab: Gal. 6:14-15


Setelah menunjukkan betapa para penganut agama Yahudi menghendaki kaum beriman Galatia disunat sehingga mereka dapat bermegah atas daging orang-orang Galatia, Paulus berkata, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (6:14). Paulus tidak bermegah dalam sunat, melainkan dalam salib Kristus. Sunat adalah suatu bayangan, tetapi salib adalah realitasnya. Para penganut agama Yahudi bermegah dalam bayangan, sedang Paulus bermegah dalam salib. Melalui salib, seluruh dunia agama — agama Yahudi, hukum Taurat, peraturan-peraturan, dan sunat — telah disalibkan bagi Paulus. Tambahan pula, Paulus dapat bermegah dalam salib, sebab olehnya ia telah disalibkan bagi dunia agama.

Dalam ayat 15 Paulus melanjutkan, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Bagi Allah, bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, yang berarti bagiNya ialah ciptaan baru. Ciptaan baru didatangkan melalui salib Kristus. Ciptaan baru ini adalah patokan yang harus diikuti kaum beriman dalam hidup dan berperilaku (ayat 16).

Disinggungnya ciptaan baru oleh Paulus dalam 6:15 memberi kita alasan untuk menabur kepada Roh itu. Hasil menabur kepada Roh itu ialah ciptaan baru. Karenanya, kita harus menabur kepada Roh itu demi ciptaan baru. Akan tetapi, jika kita memperhatikan pemeliharaan hukum Taurat dan sunat, kita akan menabur kepada daging. Sunat tidak dapat mengubah ciptaan lama, sebab sunat tidak dapat mengubah sifat kita. Sunat tidak dapat melahirkan kita kembali, memberi kita hayat ilahi, atau mengubah kita. Setelah seseorang disunat, ia tetap ciptaan lama. Tetapi bila kita mengarah kepada Roh itu dan menabur kepada Roh itu, Roh itu akan menjadikan kita ciptaan baru.

Sasaran Paulus jauh berbeda dengan sasaran para penganut agama Yahudi. Sasaran Paulus ialah Roh itu, Allah Tritunggal yang almuhit. Inilah sasaran tunggal Paulus, dan ia rela melupakan setiap perkara lain demi sasaran ini. Setiap perkara yang ia lakukan mengarah kepada Roh itu. Apakah sasaran hidup Anda? Dapatkah Anda berkata bahwa Anda mengarah kepada Allah Tritunggal, atau Anda mengarah kepada perkara yang lain? Betapa indahnya kita dapat berkata bahwa Allah Tritunggal adalah sasaran kita, dan kita mengarah kepada-Nya.

Dalam melakukan berbagai hal kita perlu mengarah kepada Roh itu. Sasaran kita seharusnya memperoleh faedah yang berasal dari mengarah kepada Roh itu. Mengatakan sasaran kita adalah Roh itu berarti sasaran kita adalah Allah Tritungal yang telah melalui proses. Dalam apa saja yang kita lakukan, haruslah kita yakin bahwa sasaran kita ialah Allah Tritunggal. Menabur kepada Roh itu berarti menjadikan Allah Tritunggal yang telah melalui proses itu sebagai sasaran hidup kita.

Hari ini bagi kita, Allah Tritunggal tidak hanya bersifat obyektif. Dia adalah Roh itu sebagai sasaran kehidupan sehari-hari kita. Bagi orang-orang Yahudi dan bahkan bagi kebanyakan orang Kristen, Allah hanya bersifat obyektif. Tetapi bagi kita, Allah juga bersifat subyektif, sebab Ia tinggal dalam roh kita untuk menyalurkan anugerah kepada kita. Jadi, Allah kita tidak melulu menjadi obyek penyembahan kita, Dia juga sebagai Roh pemberi-hayat dalam roh kita. Persona yang berhuni dalam kita inilah yang seharusnya menjadi sasaran kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 36

16 August 2012

Galatia - Minggu 18 Kamis


Pembacaan Alkitab: Gal. 6:7-16


Paulus berpendapat orang-orang yang berusaha memelihara hukum Taurat dan mempraktekkan sunat adalah orang-orang yang menabur kepada daging. Dalam 6:8 Paulus berkata, “Sebab siapa yang menabur kepada dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya” (Tl.). Lalu dalam ayat 12-13 dikatakan selanjutnya, “Mereka yang secara lahiriah (di dalam daging) suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. Sebab mereka yang menyunatkan dirinya pun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas dagingmu” (Tl.). Pemakaian kata daging dalam ayat-ayat ini oleh Paulus memberi kita sebuah kunci untuk memahami apa yang dimaksud dengan menabur kepada daging. Menurut pemikiran yang mendasari bagian Kitab Galatia ini, menabur kepada daging berarti mempraktekkan sunat dan giat memelihara hukum Taurat. Bersunat maupun memelihara hukum Taurat adalah perkara-perkara lahiriah. Paulus menunjukkan dengan tegas bahwa para penganut agama Yahudi bermegah atas penyunatan dalam daging. Mereka memaksa orang lain bersunat agar mereka dapat bermegah atas daging mereka. Bahkan Paulus berkata, “Mereka yang di dalam daging menonjolkan diri” (Tl.). Penganut agama Yahudi itu seakan-akan berkata, “Lihatlah kami, kami semua telah disunat. Kami mempunyai tanda atas daging kami untuk menunjukkan bahwa kami adalah orang-orang yang bersunat.” Menurut perkataan Paulus, ini berarti menonjolkan diri dalam daging.

Dalam 6:7 Paulus mendeklarasikan, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.” Allah adalah Pencipta, Administrator, dan Persona yang mengoperasikan segala sesuatu dalam alam semesta. Ia tidak dapat dipermainkan oleh orang-orang yang menentang ekonomi-Nya. Bila Ia memutuskan untuk mengesampingkan hukum Taurat dan sunat, siapa yang berhak menentang-Nya? Apa hak para penganut agama Yahudi untuk meneruskan praktek sunat bila Allah sendiri telah menghapusnya? Dengan mempertahankan praktek itu demi menonjolkan diri dalam daging, maka para penganut agama Yahudi telah berontak melawan pengaturan pemerintahan Allah. Pemberontakan semacam itu benar-benar berarti menabur kepada daging, dan pasti mengakibatkan kebinasaan dan kehancuran.

Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita perlu menabur kepada Roh itu. Ekonomi Allah ialah memberikan diri-Nya sendiri sebagai Roh itu kepada kita. Kita harus menerima Roh itu sebagai sasaran kita, tujuan kita, dan jangan begitu bodoh hingga mengarah kepada hukum Taurat atau sunat. Sasaran Allah ialah menjadi Roh almuhit di dalam kita bagi kenikmatan kita. Apa yang bisa menjadi alasan kita untuk tidak mengarah kepada sasaran yang indah dan menakjubkan ini?

Perampungan sempurna dari hayat kekal ialah Yerusalem Baru. Dalam Yerusalem Baru tidak akan ada hukum Taurat dan sunat, yang ada ialah aliran sungai air hayat dengan pohon hayat. Itulah hayat yang kekal. Yerusalem Baru, perwujudan terakhir hayat kekal, akan menjadi hasil yang sempurna dari penaburan kita kepada Roh itu.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 36

15 August 2012

Galatia - Minggu 18 Rabu


Pembacaan Alkitab: Gal. 6:8, 10


Beban Paulus dalam Kitab Galatia ialah mewahyukan Kristus sedemikian rupa sehingga Ia tidak saja menjadi titik inti ekonomi Allah, tetapi juga menjadi titik inti hidup dan perilaku sehari-hari kita. Allah telah mewahyukan Kristus ke dalam kita, sekarang kita perlu memperhidupkan Dia. Inilah wahyu yang disajikan dalam kedua pasal pertama. Seperti telah kita nampak, Paulus selanjutnya menunjukkan betapa kita dapat mengalami Kristus yang demikian. Jika kita ingin mengalami Dia, haruslah kita memiliki Roh itu sebagai hayat kita. Ini mengharuskan kita memiliki kelahiran ilahi. Setelah itu kita harus hidup oleh Roh dan menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita. Kita bukan manusia yang tanpa tujuan, yang mengembara tanpa suatu sasaran. Kita mempunyai satu sasaran yang jelas dan tegas, yakni Roh itu. Jika Roh itu adalah sasaran kita, setiap perkara dalam kehidupan sehari-hari kita akan bermakna. Cara kita berbusana, bagaimana kita menata kamar kita, ke mana kita pergi, bahkan apa yang kita makan, semuanya akan berarti menabur kepada Roh itu. Bila Roh itu menjadi sasaran kita, hidup kita di bumi ini hanya akan mengarah kepada sasaran ini. Akan tetapi, jika kita membiarkan daging menjadi sasaran kita, akhirnya kita akan menuai kebinasaan. Kebinasaan ini tidak saja mempengaruhi kita sendiri, tetapi juga mempengaruhi keluarga kita, bahkan keturunan kita. Dalam anugerah-Nya, Tuhan ingin membantu kita untuk menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita. Cara kita berbicara kepada orang lain, cara kita menggunakan uang kita, dan setiap aspek kehidupan kita, seyogianyalah mengarah kepada sasaran ini.

Dalam 6:10 Paulus berkata, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita.” Paulus menyebut saudara seiman segera setelah mengatakan tentang penaburan, ini menunjukkan bahwa penaburan kita sangat mempengaruhi saudara seiman, yang mencakup seluruh kaum beriman di bumi. Apa yang Anda tabur atau tanam hari ini akan mendatangkan pengaruh atas keluarga iman. Sebagai contoh, jangan mengira cara Anda mencukur rambut adalah soal sepele yang tidak berarti. Dalam hal mencukur rambut itu Anda akan menabur kepada daging dan menuai kebinasaan atau menabur kepada Roh itu dan menuai hayat kekal. Lagi pula, penaburan Anda itu berpengaruh atas kaum saleh bahkan atas gereja. Jika Anda menabur kepada Roh itu, hasilnya adalah suplai hayat bagi gereja. Kalau kita nampak hal ini, pasti kita akan damba menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita dan hidup bagi sasaran ini. Saya yakin bahwa bila kita hidup kepada Roh itu dengan menabur kepada Roh itu, kita akan menuai tuaian hayat yang kekal. Ini akan menjadi manfaat besar bagi kita sendiri, keluarga kita, kaum saleh di sekitar kita, bahkan semua gereja di bumi.

Setiap rinci kehidupan kita sangat penting, karena semuanya itu merupakan penaburan kita. Kalau kita menabur kepada Roh itu dalam setiap bagian kecil dari kehidupan sehari-hari kita, kita akan memiliki suatu kehidupan kepada Roh itu. Hasil dari kehidupan semacam ini ialah hayat yang kekal. Jika Roh itu menjadi sasaran kita, kita akan menjadi suplai hayat bagi orang lain.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 35

14 August 2012

Galatia - Minggu 18 Selasa


Pembacaan Alkitab: Gal. 6:8


Menabur berarti meyebarkan sesuatu yang dapat bertumbuh dan yang akhirnya akan dituai. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menyebarkan sesuatu yang akan bertumbuh dan menghasilkan tuaian. Sampai-sampai sebuah perkataan yang kita tuturkan juga mengandung benih-benih yang jatuh ke tanah atau lahan khusus, bertumbuh, dan menghasilkan buah yang akan kita tuai. Jangan mengira tutur kata dan perilaku kita tidak bisa mendatangkan hasil atau akibat. Sebaliknya, semua yang kita katakan dan lakukan berkaitan dengan menabur benih.

Kata menuai sebenarnya sama dengan kehidupan. Berhati-hati dalam menabur berarti berjaga-jaga dalam kehidupan kita. Saya ulangi, penaburan menghasilkan akibat tertentu. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menabur.

Jika kita menabur kepada daging, kita akan menuai kebinasaan dari daging, tetapi jika kita menabur kepada Roh itu, kita akan menuai hayat kekal dari Roh itu. Dalam 6:8 daging berlawanan dengan Roh itu, dan kebinasaan berlawanan dengan hayat kekal. Hanya ada dua macam penaburan dan dua macam penuaian. Tidak ada yang netral, tidak ada penuaian jenis ketiga. Sudah pasti, kebinasaan mencakup maut. Menabur kepada daging selalu menghasilkan tuaian kebinasaan, sedang menabur kepada Roh itu selalu menghasilkan tuaian hayat yang kekal.

Perkataan Paulus dengan kuat menyiratkan bahwa kita harus mengambil keputusan mengenai sasaran, tujuan kita. Sasaran kita daging atau Roh itu? Dalam 6:8 Paulus berbicara tentang menabur kepada daging atau kepada Roh itu. Kata penghubung yang diterjemahkan “dalam” tepatnya ialah “kepada”, yang berarti “dengan tujuan” atau “berakibat”. Menabur kepada daging berati menabur dengan tujuan memenuhi keinginan daging. Ini berarti menjadikan daging sebagai sasaran. Tetapi menabur kepada Roh itu berarti menabur dengan tujuan memenuhi kehendak Roh itu. Ini berarti menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita. Roh itu tidak saja harus menjadi hayat dan hidup perilaku kita, tetapi juga sasaran kehidupan kita. Tidak ada tempat netral antara daging dan Roh itu. Sasaran kita kalau bukan yang ini, tentu yang itu. Tidak mungkin ada sasaran yang lain.

Daging maupun Roh itu kedua-duanya mencakup segalanya, namun dalam hal yang berlainan. Daging mencakup setiap perkara yang di luar Roh itu. Bergosip, mengkritik, berbelanja secara duniawi, membaca surat kabar di luar kendali Roh itu, semua itu merupakan aspek daging. Apakah Anda ingin menjadikan daging sebagai sasaran Anda? Apakah sasaran kehidupan Anda di bumi ini? Saya harap Anda dapat berkata bahwa sasaran Anda adalah Roh yang almuhit. Menabur kepada Roh itu mencakup berseru kepada Tuhan, berdoa, menyuplaikan Kristus kepada orang lain, dan bersekutu dalam hayat agar orang lain terbina. Kita pun dapat menabur kepada Roh itu ketika kita menggunakan uang kita untuk kehendak Tuhan. Jika kita menabur kepada Roh itu, menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita, kita tidak akan berbelanja secara duniawi, sebaliknya belanja kita akan dikendalikan oleh satu fakta bahwa kita telah memilih Roh itu sebagai sasaran kita. Jika Roh itu menjadi sasaran kita, setiap perkara dalam kehidupan sehari-hari kita akan mengarah kepada sasaran ini.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 35

13 August 2012

Galatia - Minggu 18 Senin


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:2-3; 6:8


Dalam Galatia pasal 1 Paulus memperlihatkan bahwa Allah berkenan mewahyukan Anak-Nya, Yesus Kristus, ke dalam kita (1:15-16). Dalam pasal 2 kita nampak bahwa kita harus memperhidupkan Kristus ini, bukan hukum Taurat (2:19-21). Allah tidak menghendaki kita diduduki oleh masalah memelihara hukum Taurat dan diselewengkan dari Kristus yang hidup. Menurut perkenan hati-Nya, Allah telah mewahyukan anak-Nya ke dalam kita agar kita dapat memperhidupkan Dia. Butir yang sangat penting dalam pasal 1 dan 2 ialah Anak Allah telah diwahyukan ke dalam kita dan kita harus memperhidupkan Dia.

Dalam pasal 3 dan 4 Paulus memperlihatkan bagaimana kita mengalami dan menikmati Kristus ini. Persona yang diwahyukan sebagai inti ekonomi Allah ialah Kristus. Namun dalam pengalaman kita, Persona ini adalah Roh itu. Itulah sebabnya mulai dari pasal 3 Paulus berulang-ulang membicarakan Roh itu. Dalam 3:2 ia bertanya kepada orang-orang Galatia apakah mereka telah menerima Roh itu oleh pekerjaan hukum Taurat atau karena mendengarkan tentang iman (Tl.). Kemudian, dengan nada sedikit menegur, ia bertanya lagi dalam ayat berikutnya, “Kamu telah mulai dengan Roh, apakah kamu sekarang mau mengakhirinya di dalam daging?” Di sini kita nampak perbandingan antara Roh itu dengan daging. Dalam pandangan Allah, manusia yang telah jatuh tidak lain adalah daging. Mulai dari pasal 3 hingga pasal 6, Paulus terus-menerus membandingkan Roh itu dengan daging.

Terakhir, dalam pasal 6 kita nampak perbandingan antara dua macam penaburan yang berbeda: menabur kepada daging dan menabur kepada Roh (6:7-8 Tl.). Di satu aspek, mungkin kita menabur kepada daging demi memenuhi kehendak daging. Di pihak lain, mungkin kita menabur kepada Roh dengan Roh itu sebagai sasaran kita. Dalam pasal 3, Roh itu terutama adalah agar kita memperoleh hayat ilahi; dalam pasal 4 Roh itu adalah agar kita dilahirkan dari Allah; dalam pasal 5, Roh itu adalah agar kita hidup dan dipimpin; dan dalam pasal 6 ini, Roh itu adalah untuk sasaran kita, tujuan kita. Dalam kedua pasal pertama Surat Galatia kita nampak wahyu Kristus sebagai titik inti ekonomi Allah, tetapi dalam keempat pasal terakhir kita nampak Roh itu dalam pengalaman kita. Kita telah mempersekutukan sedikit tentang aspek Roh bagi hayat, kelahiran, dan perilaku. Dalam berita ini kita perlu membahas Roh itu sebagai sasaran kita. Hal ini sangat erat kaitannya dengan menabur kepada Roh itu.

Dalam 6:8 Paulus berkata, “Sebab siapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi siapa yang menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Kata “dalam” di ayat ini dalam bahasa aslinya adalah “mengarah kepada” atau “bagi”. Memahami arti menabur yang dikatakan Paulus di sini sangatlah penting. Karena pengalamannya sebagai manusia dan apa yang telah ia pelajari, serta karena wahyu yang ia terima dari Allah, maka ia memiliki pengertian yang menyeluruh atas hidup manusia. Kata menabur yang ia pakai dalam 6:8 menunjukkan makna yang sebenarnya dari hidup manusia. Menurut pandangan Paulus, hidup manusia adalah suatu proses penaburan. Dari hari ke hari kita menabur. Kita menabur dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan serta dengan apa adanya kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 35

11 August 2012

Galatia - Minggu 17 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Gal. 5:22-25 

Dipimpin oleh Roh itu akan menghasilkan transformasi, suatu perubahan metabolik dalam insan kita. Transformasi semacam ini bukan hasil koreksi atau pengaturan yang di luar. Jika Anda sengaja menyatakan perilaku seperti anak-anak Allah, Anda akan bertindak secara agamis. Mungkin Anda berkata kepada diri Anda, “Aku harus mempertahankan statusku sebagai anak Allah. Ini berarti aku tidak boleh bertengkar dengan pasanganku.” Itu adalah yang agamis. Keperluan kita ialah hidup oleh Roh dan kemudian dipimpin oleh Roh. Ini bukan masalah pengaturan atau perbaikan secara lahir, melainkan transformasi yang metabolik dalam batin. Lebih dari itu, ini tidak ada sangkut pautnya dengan agama, sebab ini sama sekali merupakan masalah perubahan organik di dalam insan kita. Ketika kita hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh, dengan spontan Allah akan kita perhidupkan dari diri kita dan kita ekspresikan melalui diri kita. Dengan demikian dalam realitas dan prakteknya, kita adalah anak-anak Allah yang hidup dan dipimpin oleh hayat Allah.

Jika kita hidup oleh Roh melalui menerima Roh itu, dengan otomatis daging akan disalibkan (5:24). Daging akan kehilangan kedudukannya dalam diri kita, sebab kita menerima Roh itu secara terus-menerus. Tatkala kita hidup oleh Roh, Kristus akan diperbesar dalam kehidupan seharihari kita. Beban Paulus dalam menyurati kaum beriman Galatia yang telah diselewengkan itu ialah mengembalikan mereka kepada kehidupan yang hidup oleh Roh. Ini bukan masalah agama atau etika, melainkan kehidupan dan perilaku oleh Kristus, sebagai Roh pemberi-hayat yang tinggal dalam roh kita. Ketika kita menghirup Dia, kita akan menerima Roh itu lalu kita dapat hidup oleh Roh. 

Hasil dari hidup oleh Roh ialah buah dari Roh. Paulus mengetengahkan sembilan aspek dari buah Roh itu dalam ayat 22-23, tetapi dari penggunaan ungkapan, “hal-hal itu” menunjukkan sebenarnya tidak hanya sembilan aspek yang disebutnya itu. Paulus hanya menyajikan kesembilan aspek itu sebagai contoh belaka. 

Buah Roh itu ialah hasil dari perilaku oleh Roh. Kita tidak perlu meronta-ronta untuk mengasihi orang, memelihara damai sejahtera, atau bersukacita. Sesungguhnya untuk memiliki pekerti-pekerti kristiani yang mana pun tidak perlu meronta-ronta. Sebaliknya, kita hanya perlu hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh. Dengan demikian, buah Roh itu akan tumbuh dengan otomatis. Tatkala kita hidup oleh Roh itu, buah-buah Roh itu akan tumbuh dengan berbagai aspek, antara lain ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, dan lain-lain. Para suami tidak akan kekurangan kasih untuk mengasihi istri mereka, dan para istri tidak akan kekurangan ketaatan untuk menaati suami mereka. Pekerti yang mana pun tidak akan kurang. 

Hidup oleh Roh adalah cara untuk bertumbuh, menikmati Tuhan, dan mengembangkan fungsi kita yang wajar demi pembangunan Tubuh. Pemulihan Tuhan hari ini seharusnya mengandung ciri-ciri hidup dan dipimpin oleh Roh. Hal ini akan membedakan pemulihan Tuhan dari agama yang mana pun. Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai Roh yang almuhit kini tinggal di dalam kita. Karena itu, marilah kita hidup oleh Dia dan dipimpin oleh Dia! 


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 34

10 August 2012

Galatia - Minggu 17 Jumat

Pembacaan Alkitab: Gal. 3:14; 5:25

Roh yang kita terima dari Allah adalah berkat keseluruhan dari Injil. Dalam Galatia 3:13-14 Paulus berkata bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat, supaya “berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Di dalam Injil, yang kita terima bukan hanya berkat pengampunan, penyucian, dan pembersihan, bahkan lebih dari itu kita telah menerima berkat Allah Tritunggal sebagai Roh pemberi-hayat almuhit yang telah melalui proses. Persona yang hidup dan almuhit inilah berkat kita. Dari hari ke hari, Allah menyuplaikan berkat ini kepada kita, dan kita menerima berkat Allah ini. Oh, betapa bahagianya kita! Alangkah menakjubkan berkat yang sedang kita nikmati ini! Berkat yang unik ini adalah Persona Allah Tritunggal yang almuhit, yakni Bapa, Putra, dan Roh itu, yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat dan tinggal di dalam kita secara subyektif bagi kenikmatan kita. 

Setelah menunjukkan Roh almuhit ini Paulus selanjutnya berkata, “Maksudku ialah: Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (5:16). Pada 5:25 ia melanjutkan, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Banyak orang Kristen tidak mempunyai pengertian yang sesuai dengan pengalaman terhadap apa yang dimaksud hidup (bertindak) oleh Roh. Hidup (bertindak) berarti kehidupan dan keberadaan kita. Tetapi dalam ayat 25 nampaknya Paulus membedakan antara hidup oleh Roh dengan dipimpin oleh Roh. Hidup oleh Roh adalah satu perkara, dan dipimpin oleh Roh adalah perkara lain. Dalam ayat 25 Kata yang diterjemahkan “jikalau” dalam bahasa Yunani sebenarnya adalah “karena”. Jadi pernyataan Paulus di sini bukan suatu pengandaian, melainkan suatu kenyataan. Karena kita hidup oleh Roh, maka kita harus maju terus untuk dipimpin oleh Roh. 

Kita perlu nampak perbedaan antara hidup oleh Roh itu dan dipimpin oleh Roh. Istilah yang diterjemahkan “hidup” dalam 5:25 dalam bahasa Yunani sebenarnya berarti memperoleh hayat dan menempuh kehidupan. Di tempat lain Paulus berkata bahwa orang benar akan hidup oleh iman (Rm. 1:17). Maksud Paulus yang sesungguhnya ialah orang yang benar akan memperoleh hayat dan akan menempuh kehidupan oleh iman. 

Jika kita ingin menerima Roh itu secara demikian, perlulah kita membuka diri kita, menggunakan roh kita, dan berseru kepada Tuhan. Ini menuntut kita berdoa dengan tidak henti-hentinya. Kalau kita menerima Roh itu, kita pasti memperoleh hayat dan menempuh kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus menerima Roh itu terus-menerus. Namun, tidak banyak orang yang memiliki hayat dan menempuh hidup dengan menerima Roh itu secara terus-menerus. Tetapi kita bersyukur kepada Tuhan, sebab dalam pemulihan-Nya kita selalu belajar menerima Roh itu. Saya anjurkan kalian untuk berkontak dengan Tuhan dari saat ke saat demi menerima Roh itu. Semakin kita menerima Roh itu, kita akan semakin memperoleh hayat dan menempuh kehidupan oleh Roh itu. Saya dapat bersaksi dari pengalaman pribadi bahwa kenikmatan saya atas Roh itu terus bertambah-tambah dan semakin maju. Hari demi hari saya selalu menerima Roh, memperoleh hayat dan menempuh kehidupan oleh Roh itu. 


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 34

09 August 2012

Galatia - Minggu 17 Kamis

Pembacaan Alkitab: Gal. 3:5; 2 Tim. 4:22 


Dalam Galatia 4:5 Paulus berkata bahwa Allah telah menebus kita supaya kita boleh mendapatkan hak keputraan. Mendapatkan hak keputraan berarti dilahirkan dari Allah dan karenanya kita mendapatkan hayat dan sifat ilahi. Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki hayat dan sifat Allah. Kelahiran kembali yang olehnya kita dilahirkan dari Allah sehingga menjadi anak-anak-Nya dirampungkan oleh Allah sendiri sebagai Roh pemberi-hayat. Sudah tentu Tuhan Yesus datang menjadi Penyelamat kita dan mati di atas salib sebagai Penebus kita. Namun sasaran penyelamatan dan penebusan Allah ialah membawa kita ke dalam keputraan. Kita tidak hanya diselamatkan dan ditebus, bahkan kita menjadi satu roh dengan Tuhan (1 Kor. 6:17), dan sebagai akibatnya, kita memiliki hayat dan sifat ilahi. Kita tidak hanya bersatu dengan Allah secara umum, tetapi juga benar-benar adalah satu roh dengan Dia. 

Pada waktu kita diselamatkan dan dilahirkan kembali, roh kita bersatu dengan Tuhan, dan kita menjadi satu dengan Dia. Sekarang, apa pun yang kita lakukan, kita tidak dapat memisahkan diri kita dari bersatunya kita dengan Dia di dalam roh. Sekalipun kita berminat memecahkan kesatuan ini, Tuhan tidak akan menyetujuinya. 

Diselamatkan adalah suatu perkara yang serius, sebab hal ini mengakibatkan bersatunya kita dengan Tuhan. Ketika seorang beroleh selamat dan dilahirkan kembali, ia dibawa masuk ke dalam suatu kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal. Kesatuan ini sangat riil dan vital. Akibat penyelamatan dan penebusan ialah Tuhan menyalurkan diriNya sendiri ke dalam roh kita dan menyatukan kita dengan Dia sendiri. 

Dalam Galatia 3:2 Paulus bertanya kepada kaum beriman Galatia, “Apakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? (mendengarkan tentang iman)” Kemudian dalam 3:5 ia bertanya lagi, “Apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? (mendengarkan tentang iman)” Pertanyaan Paulus ini menunjukkan bahwa kaum beriman Galatia telah menerima Roh itu dan Allah terus-menerus menyuplaikan Roh itu kepada mereka. Allah terus menyuplai dan mereka terus menerima. Suatu transmisi yang menakjubkan dan ilahi sedang terus berlangsung. 

Jika kita ingin terus-menerus menerima Roh itu, kita perlu menggunakan roh kita untuk berdoa. Dalam doa kita, janganlah kita diduduki oleh perkara-perkara yang sepele, sebaliknya kita harus membuka diri kita kepada transmisi surgawi dan menerima suplai dari Roh itu. Kehidupan kristiani bukanlah kehidupan yang agamis atau etis, melainkan suatu kehidupan yang menjadi satu roh dengan Allah. Setiap kali kita menggunakan roh kita berseru kepada Tuhan, kita akan mengalami transmisi ilahi, yaitu aliran arus surgawi. Karena itu kehidupan kristiani adalah kehidupan penyuplaian dan penerimaan. Allah terus-menerus menyuplai, kita terus-menerus menerima dari Dia. 


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 34

08 August 2012

Galatia - Minggu 17 Rabu

Pembacaan Alkitab: Flp. 1:19

Kita semua perlu membaca Alkitab, tetapi kita harus menggunakan roh kita ketika kita membacanya. Ini berarti ketika kita membaca Alkitab kita harus berdoa. Kalau kita membaca Alkitab tanpa berdoa, kita akan menyalahgunakannya. Membaca firman Tuhan dengan berdoa itulah mendoabacakannya. Praktek ini bukan penemuan kita. Sepanjang abad banyak orang saleh yang mempraktekkan berdoa dengan firman Alkitab. Menurut Efesus 6:17-18, kita seharusnya menerima firman Allah dengan berdoa. 

Selain itu, kita wajib berdoa setiap waktu di dalam roh. Kalau kita menerima firman secara demikian, kita akan menerima Roh itu, sebab firman adalah roh. Jangan menerima Alkitab hanya sebagai kitab doktrin dan ajaran. Kebutuhan kita yang mendesak dewasa ini bulanlah menerima lebih banyak doktrin, melainkan lebih banyak berkontak langsung dengan Allah Tritunggal. Janganlah kita memisahkan Alkitab dari Roh itu. Dalam pengalaman Anda, kedua hal ini seharusnya adalah satu. Jika Anda menganggap firman dan Roh itu satu dan menerima firman dengan berdoa melalui menggunakan roh Anda, niscayalah Anda akan menerima suplai Roh itu. 

Sebelum kita dilahirkan kembali, roh kita hampa. Tetapi sekarang karena kita telah dilahirkan dari Roh itu, kita dapat menerima Roh itu. Tujuan Allah dalam melahirkan kita kembali ialah agar roh kita dapat berfungsi, tidak henti-hentinya menerima Roh itu. Hidup dan perilaku orang Kristen yang wajar bukanlah menurut doktrin yang telah dipelajari, melainkan menurut Roh itu dan melalui suplai Roh yang limpah lengkap (Flp. 1:19). Hari demi hari bahkan saat demi saat, kita harus terbuka untuk menerima Roh itu dan menggunakan roh kita melalui berseru kepada Tuhan untuk menerima Roh itu. Saya menjamin Anda, kalau Anda beralih dari sekadar mempelajari doktrin saja kepada menerima Roh itu, Anda akan nampak suatu perubahan dalam kehidupan sehari-hari Anda. Banyak hal negatif akan tertelan, dan Anda akan disembuhkan serta ditransformasi. 

Kita memuji Tuhan karena Ia riil, hidup, dekat, dan praktis. Betapa subyektifnya Allah Tritunggal bagi kita! Sebagai Roh pemberi-hayat, Ia tinggal dalam roh kita. Menerima Roh itu secara terus-menerus berarti memberi-Nya kemerdekaan untuk berkembang di batin kita. Ketika kita menggunakan roh kita untuk berdoa, menyeru nama Tuhan, dan mendoa-bacakan firman Tuhan, kita akan memiliki pernafasan rohani dan menerima Roh itu. Demikian, esens Allah Tritunggal, unsur surgawi, dan hakiki ilahi akan ditambahkan ke dalam diri kita. Ketika unsur ini meluas di batin kita, kita akan bertumbuh dan ditransformasi, dan hal-hal negatif dalam diri kita akan disingkirkan. Semakin kita bertumbuh oleh unsur Allah Tritunggal yang ditambahkan ke dalam kita, kita akan semakin berfungsi di dalam gereja dan terbangun bersama orang lain di tempat kita sebagai ekspresi Tubuh Kristus. Semoga semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan beralih dari sekadar menerima doktrin dan pengetahuan kepada menerima Roh itu. 


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 33

07 August 2012

Galatia - Minggu 17 Selasa

Pembacaan Alkitab: Ef. 6:17-18; 1 Tes. 5:17


Dalam berita di depan, perkara dilahirkan dari Roh itu telah kita bahas dengan jelas. Namun saya tidak yakin kita semua telah jelas tentang bagaimana menerima Roh itu. Kata “menerima” ini dipakai di banyak tempat dalam Perjanjian Baru (Yoh. 7:39; 20:22; Rm. 8:15; Ef. 6:17). Dalam Kitab Galatia Paulus membicarakan dengan tegas tentang menerima Roh itu (3:2, 14). Roh yang telah kita terima dan yang terus kita terima itu adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Ada orang mungkin menolak pernyataan ini dan menyatakan bahwa Roh itu hanya menunjuk kepada Roh Kudus, yakni yang ketiga dari ke-Allahan, bukan Allah Tritunggal itu sendiri. Namun berdasarkan Perjanjian Baru, teristimewa dalam Surat-surat Kiriman Paulus, Roh yang kita terima adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses. 

Sekarang kita tiba pada hal yang sangat penting mengenai bagaimana menerima Roh itu. Berdasarkan pengalaman Anda, bagaimana Anda menerima Roh itu? Kehidupan kristiani yang wajar adalah kehidupan yang menerima Roh itu secara terus-menerus. Kehidupan jasmani kita adalah satu contoh dari hal ini. Kehidupan jasmani tergantung pada pernafasan. Kehidupan kita adalah kehidupan bernafas. Begitu seseorang berhenti pernafasannya, ia akan segera mati. Hari ini banyak orang Kristen yang pernafasan rohaninya telah berhenti, karena itu kehidupan rohani mereka telah macet. Bernafas secara rohani berarti terusmenerus menerima Roh itu. 

Cara yang terutama untuk menerima Roh itu dengan tidak henti-hentinya ialah berdoa. Dalam 1 Tesalonika 5:17 Paulus menyuruh kita berdoa dengan tidak henti-hentinya. Tetapi ini bukan berarti kita harus berdoa dengan pikiran kita bagi keperluan-keperluan material, melainkan kita harus menggunakan roh kita untuk berseru kepada Tuhan. Keperluan kita yang terbesar adalah Allah Tritunggal itu sendiri. Dari saat ke saat kita perlu Roh itu. Karena itu kita perlu terus-menerus menggunakan roh kita untuk berseru kepada Tuhan. Banyak di antara kita dapat bersaksi, ketika kita berseru kepada Tuhan dari lubuk batin kita, mengatakan bahwa kita mengasihi Dia, kita menghirup udara rohani yang segar. Kita menghirup pneuma, yakni Roh itu. Selaku orang Kristen, kita harus menjadi pneumatis (dipenuhi udara), yaitu penuh dengan pneuma, penuh dengan Roh itu. Roh itu adalah udara surgawi untuk kita hirup. Melalui menggunakan roh untuk berseru kepada Tuhan, kita menghirup Roh itu dan karenanya kita menerima Roh itu. 

Seperti telah kita tunjukkan, kita dapat menerima Roh itu melalui menggunakan Alkitab secara tepat. Namun, sebagian besar orang Kristen ketika membaca Alkitab, lebih banyak menggunakan pikiran mereka daripada roh mereka. Ini merupakan kekeliruan yang serius. Membaca Alkitab tanpa berdoa berarti menjadikan Alkitab sebuah buku pengetahuan dengan huruf-huruf yang mati. Setiap kali kita membaca Alkitab, kita perlu berdoa. Efesus 6:17-18 mengatakan, “Dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah dengan segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu di dalam roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang kudus” (Tl.). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kita harus menerima firman Allah dengan doa. 


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 33

06 August 2012

Galatia - Minggu 17 Senin

Pembacaan Alkitab: Yoh. 1:1, 12-14; 6:63 


Hal yang paling penting dan rahasia yang diwahyukan dalam Alkitab ialah bahwa tujuan akhir Allah adalah menggarapkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya. Kedambaan Allah untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam diri kita merupakan titik inti dari wahyu ilahi dalam Kitab Suci. Karena hal ini begitu rahasia, ia tersembunyi di dalam Alkitab; walau tidak seluruhnya tersembunyi. Di satu pihak, ia memang merupakan satu rahasia; tetapi di pihak lain, rahasia ini telah diwahyukan dalam Alkitab.

Allah telah memberi kita dua hadiah besar yang olehnya Ia menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita, yaitu Roh itu dan Firman. Kedua hadiah tersebut sebenarnya adalah Allah sendiri. Allah adalah Roh dan Allah juga Firman. Injil Yohanes adalah sejilid kitab yang dengan jelas mewahyukan Allah, Roh, dan Firman. Yohanes 1:1 mengatakan, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Menurut Yohanes 1:14, Firman, Allah itu sendiri, telah menjadi daging. Akhirnya, Firman yang berinkarnasi ini telah disalibkan, dan setelah kebangkitan-Nya, Adam yang akhir ini menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b). Injil Yohanes juga menghubungkan Firman dan Roh. “Rohlah yang menghidupkan” kata Tuhan Yesus dalam Yohanes 6:63, dan “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah Roh dan hidup.” Allah adalah hayat, Roh adalah hayat, Firman juga adalah hayat. Menurut Injil Yohanes, ketiganya adalah satu. Allah adalah Firman, Firman adalah Roh, dan Roh adalah Allah. 

Jika Anda mengamati sejarah gereja, Anda akan nampak bahwa sepanjang abad telah terjadi dua tragedi, yang pertama berkaitan dengan Firman, dan yang berikutnya berkaitan dengan Roh itu. Tujuan Allah ialah supaya Alkitab dipakai untuk menyalurkan diri-Nya sendiri sebagai hayat ke dalam umat pilihan-Nya. Tetapi banyak guru Kristen telah mengabaikan penggunaan Alkitab yang sewajarnya ini dan telah menggunakannya sebagai sejilid kitab pengetahuan belaka, bukan sebagai kitab hayat demi penyaluran ilahi ini. Opini-opini dan penafsiran-penafsiran yang berbeda atas Alkitab telah mengundang perselisihan dan perdebatan. Tujuan Allah ialah supaya Alkitab menjadi pohon hayat, namun dalam penggunaan Alkitab mereka, ada guru-guru tertentu beralih kepada pohon pengetahuan. Hal tersebut pertama-tama membawa diri mereka sendiri kepada kematian, kemudian mereka menyebarkan kematian itu ke dalam gereja. 

Tragedi kedua yang terjadi dalam sejarah gereja berhubungan dengan Roh itu. Mengenai Alkitab dan penafsirannya, telah terjadi perpecahan, sedangkan mengenai Roh itu telah mengundang kekacauan. Karena kekacauan itu, banyak orang Kristen fundamental enggan mendengarkan tentang Roh itu. Ada beberapa yang benar-benar takut menyebut Roh itu, menganggap Roh itu sesuatu yang terlalu rahasia untuk dibicarakan. Pengabaian sedemikian terhadap Roh benar-benar suatu tragedi! 

Yohanes 1:12-13 menunjukkan bahwa orang-orang yang menerima Tuhan Yesus dilahirkan dari Allah. Kelahiran mengandung suatu hubungan organik yang intim. Karena kita dilahirkan dari orang tua kita, maka kita memiliki hubungan organik yang intim dengan mereka. Karena kita telah dilahirkan dari Allah, maka sesungguhnya Allah telah dilahirkan ke dalam kita. Inilah yang menjadikan kita anak-anak Allah. Kalau kita tidak dilahirkan dari Allah, mana mungkin kita menjadi anak-anak Allah? Menurut Alkitab, kita bukanlah anak menantu Allah juga bukan anak angkat-Nya. Sebagai orang-orang yang dilahirkan Allah, kita adalah anak-anak Allah dalam hayat. Dalam Yohanes 3:6 Tuhan Yesus menyatakan, “Yang dilahirkan dari Roh, adalah roh” (Tl.). Sekali lagi kita katakan, kita telah dilahirkan dari Roh itu untuk menerima Roh itu. 


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 33

04 August 2012

Galatia - Minggu 16 Sabtu


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:5, 13-14


Galatia 3:5 mengatakan, “Jadi, bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil?” “Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak henti-hentinya menyuplai kita dengan Roh itu. Kita boleh memakai listrik sebagai contoh. Setelah listrik dipasang ke dalam sebuah bangunan, maka listrik itu tidak henti-hentinya disuplaikan ke dalam bangunan tersebut. Demikian pula, setelah Allah melahirkan kita kembali oleh Roh-Nya, dan menjadikan kita anak-anak Allah, Ia tidak henti-hentinya menyuplai kita dengan Roh itu. Tidak ada perkara yang lebih penting daripada tidak henti-hentinya menerima Roh itu. Orang-orang Galatia telah beroleh selamat dan menerima Roh itu melalui mendengarkan tentang iman. Akan tetapi, mereka telah diselewengkan dan disesatkan serta telah beralih lagi kepada hukum Taurat. Mereka tidak menerima Roh itu sebagai sumber, malahan menerima hukum Taurat sebagai sumber mereka. Banyak orang Kristen hari ini juga disesatkan dari Roh itu. Kita semua perlu dikembalikan kepada Roh itu sebagai sumber kita. Kita harus kembali kepada Allah itu sendiri sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit. Saudari-saudari tidak boleh hanya berusaha menjadi istri atau ibu yang baik. Sebaliknya, mereka harus membuka diri mereka kepada Roh itu sebagai sumber surgawi mereka dan menerima transmisi dari Allah Tritunggal, yaitu arus listrik surgawi ke dalam diri mereka. Jika mereka menerima transmisi semacam itu, dengan spontan mereka akan menjadi istri-istri dan ibu-ibu yang baik. Saya anjurkan Anda berdoa, “Tuhan Yesus, aku membuka diriku kepada-Mu. Aku bersyukur kepada-Mu karena aku telah dilahirkan dari Allah, dilahirkan dari Roh yang almuhit. Tuhan, Roh ini tetap mentransmisikan sesuatu dari diri-Mu ke dalam diriku. Aku bersyukur kepada-Mu, Tuhan, karena adanya transmisi yang menakjubkan ini!”

Ketika Anda perlu terang di rumah Anda, jangan berdoa bagi terang itu, pergi saja menekan tombol dan menyalakan lampu. Demikian pula, bila kita ingin menerima suplai listrik surgawi, maka yang kita perlukan ialah menuju ke “tombol” itu, yakni roh kita yang dilahirkan kembali, dan “menyalakannya”. Namun demikian, sangat sedikit orang Kristen hari ini yang mempraktekkan hal ini. Sebaliknya, banyak yang berdoa untuk menjadi orang yang lemah lembut, sabar, rendah hati, atau pengasih. Dari pengalaman saya bertahun-tahun, saya dapat bersaksi bahwa doa-doa semacam itu tidak akan manjur. Anda boleh saja berdoa berkali-kali kepada Tuhan, untuk membuat Anda sabar atau pengasih, tetapi tidak menerima apa-apa dari Roh itu. Orang-orang Kristen mungkin berdoa untuk berbagai hal, tetapi mereka tidak mau “menekan tombol” untuk menerima transmisi ilahi itu. Kadangkala sekalipun setelah saya mengetahui rahasia “tekan tombol”, saya tetap masih berdoa dengan cara yang tidak efektif itu. Saya yakin banyak di antara kalian yang memiliki pengalaman serupa. Keperluan kita ialah beralih kepada Tuhan, terbuka kepada-Nya, dan menerima suplai Roh dari Dia.

Saya ulangi, kehendak Allah bukanlah ingin menjadikan Anda seorang yang baik, melainkan ingin menjadikan Anda anak-Nya. Efesus 1:5 mengatakan bahwa Allah telah menakdirkan kita untuk keputraan. Dalam Galatia 4:5 Paulus berkata dengan jelas bahwa Kristus telah menebus kita, supaya kita boleh menerima keputraan. Ayat 6 mengatakan, “Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’” Roh Anak Allah adalah realitas keputraan. Mula-mula, Allah mengutus Anak-Nya menjadi Penebus kita. Kemudian Allah mengutus Roh Anak-Nya ke dalam hati kita. Sekarang, kedambaan Allah ialah menyuplai kita dengan Roh itu secara berkesinambungan.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 32

03 August 2012

Galatia - Minggu 16 Jumat


Pembacaan Alkitab: Yoh. 1:1; 2 Kor. 3:17


Meskipun kelahiran kembali merupakan realitas yang menakjubkan, tetapi beban saya dalam berita ini bukan pada kelahiran kembali itu sendiri; beban saya adalah pada Roh itu. Hanya melalui menjadi Roh itu barulah Allah dapat melahirkan kita kembali. Jika Anda bertanya kepada orang, “Siapakah Allah?” Ada orang akan berkata bahwa Allah adalah Sang Pencipta. Lainnya mungkin berkata bahwa Allah adalah Penebus dan Penyelamat kita. Tetapi jarang yang akan berkata bahwa Allah adalah Roh itu.

Sebagai Roh itu, Allah tidak sederhana, sebab Roh itu adalah Roh pemberi-hayat yang almuhit. Roh ini mencakup keilahian, keinsanian, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan.

Hari ini Allah adalah Roh itu, yang mencakup unsur-unsur inkarnasi, keinsanian, penyaliban, dan kebangkitan. Khasiat kematian Kristus yang ajaib, kuasa kebangkitanNya, dan realitas hayat kebangkitan-Nya, semuanya terkandung dalam Roh itu. Roh ini tidak lagi hanya Roh Allah atau Roh Yehova, tetapi juga Roh Yesus Kristus.

Sebagai Roh Yesus Kristus, Roh itu mencakup unsur-unsur inkarnasi, keinsanian, penyaliban, dan kebangkitan. Bila kita berseru kepada nama Tuhan Yesus dan diselamatkan, maka Roh itu masuk ke dalam diri kita untuk melahirkan kembali roh kita yang telah mati dan menjadikan kita anak-anak Allah. Roh yang masuk ke dalam kita pada saat kelahiran kembali kita adalah perampungan terakhir Allah Tritunggal, yakni realisasi dan ekspresi Bapa, Putra, dan Roh. Roh itu telah masuk ke dalam kita untuk menyalurkan hayat dan sifat Allah kepada kita. Karena kita telah dilahirkan kembali oleh Roh itu dalam roh kita, maka kita telah menjadi anak-anak Allah.

Tidak banyak orang Kristen yang memahami bahwa mereka adalah anak-anak Allah dan Allah menghendaki mereka menempuh kehidupan anak-anak Allah. Setelah mereka beroleh selamat, sebagian besar orang Kristen berusaha memperbaiki diri mereka atau melakukan sesuatu untuk menyenangkan Allah. Dengan berusaha memperbaiki manusia alamiah atau melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati Allah, mayoritas umat Tuhan telah meleset dari sasaran ekonomi Allah. Keselamatan Allah adalah untuk ekonomi-Nya, dan ekonomi-Nya bukanlah suatu perkara etika. Sebaliknya, oleh keselamatan-Nya yang sesuai dengan ekonomi-Nya, Allah telah melahirkan kita kembali oleh hayat ilahi, agar kita dapat menjadi anak-anak-Nya dan hidup sebagai anak-anak Allah. Sasaran Allah bukan hanya menghendaki kita memperbaiki perilaku kita dan karenanya melakukan sesuatu yang baik, bukan yang jahat. Tujuan Allah bukan hanya memiliki sejumlah manusia yang baik. Kedambaan Allah ialah agar kita hidup sebagai anak-anak Allah. Allah tidak saja menghendaki kita dibasuh hingga bersih, tetapi juga menghendaki kita hidup sebagai anak-anak Allah. Kalau kita ingin demikian, perlulah kita menerima Roh Allah. Kita telah dilahirkan dari Roh itu untuk menerima Roh itu.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 32

02 August 2012

Galatia - Minggu 16 Kamis


Pembacaan Alkitab: Yoh. 3:6; Gal. 4:6


Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita semua telah dilahirkan dari Roh itu untuk menerima Roh itu. Setelah kita dilahirkan kembali, dilahirkan dari Roh itu, haruslah kita setiap hari menerima Roh itu.

Walaupun istilah-istilah ini sangat biasa, tetapi maknanya sangatlah besar. Dilahirkan dari Roh itu adalah perkara yang bukan main hebatnya, sebab arti sesungguhnya dari hal ini adalah dilahirkan dari Allah. Karena kita telah diciptakan oleh Allah, kita adalah makhluk ciptaan Allah; dan karena kita telah jatuh, kita adalah orang-orang dosa. Namun demikian, kita, yang adalah makhluk ciptaan dan orang-orang dosa, telah dilahirkan oleh Allah. Alangkah ajaib!

Andaikata, seekor anjing dapat dilahirkan oleh tuannya dan menerima hayat dan sifat tuannya, pastilah hal ini akan menarik perhatian surat kabar. Bukankah suatu mujizat besar jika hayat dan sifat manusia dapat disalurkan kepada seekor anjing dan menjadikan anjing itu “anjing-manusia”? Anjing itu tidak hanya dibasuh bersih, dihias, dan dipercantik, tetapi juga memiliki hayat dan sifat manusia. Ini tentu sangat menakjubkan. Namun, melalui kelahiran kembali, kita menerima hayat dan sifat Allah, bukankah ini sangat menakjubkan?

Pengertian kelahiran kembali ini memecahkan konsepsi alamiah. Dengan perumpamaan seekor anjing menerima hayat manusia, kita melihat bahwa konsepsi alamiah hanya mengira anjing itu dapat dibersihkan dan dipercantik saja. Pada prinsipnya, banyak orang Kristen hanya melakukan pekerjaan membersihkan dan memperindah orang, tanpa membantu orang menerima hayat dan sifat ilahi melalui kelahiran kembali. Jalan Allah tidak sekadar membasuh, memperindah, dan menghias kita dari luar. Kehendak-Nya dalam ekonomi-Nya ialah melahirkan kita kembali, yaitu menjadikan kita anak-anak Allah yang dilahirkan oleh-Nya. Perkara ini tak terkatakan besarnya.

Sudah pasti keselamatan Allah mencakup pembersihan oleh darah penebusan Kristus. Kita yang telah beroleh selamat sesungguhnya telah dibersihkan oleh Allah. Tetapi pembersihan atau pembasuhan bukanlah pokok yang penting dari keselamatan Allah. Pokok yang penting adalah Allah telah melahirkan kita kembali, yaitu Ia benar-benar telah menyalurkan hayat dan sifat-Nya ke dalam kita untuk menjadikan kita anak-anak-Nya. Kita bukan anak-anak menantu Allah, melainkan anak-anak Allah dalam hayat. Jelas tidak ada keajaiban dalam alam semesta yang lebih besar daripada manusia yang berdosa dapat dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah. Hari ini banyak orang mencari mujizat dan keajaiban, tetapi mereka tidak menyadari bahwa tidak ada mujizat yang lebih besar daripada kelahiran kembali. Melalui kelahiran kembali, manusia yang telah jatuh dapat menjadi anak-anak Allah. Dalam keselamatan-Nya, Allah telah membuat kita, orang-orang dosa, menjadi anak-anak-Nya yang ilahi.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 32

01 August 2012

Galatia - Minggu 16 Rabu


Pembacaan Alkitab: Gal. 6:17-18


Setelah menyinggung tanda-tanda Yesus, Paulus berkata, “Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara! Amin.” Anugerah Yesus Kristus adalah suplai limpah lengkap dari Allah Tritunggal (yang diwujudkan dalam Putra dan dinyatakan sebagai Roh pemberi-hayat) dinikmati oleh kita melalui melatih roh insani kita. Di satu pihak, kita mengemban tanda-tanda Yesus, dianiaya, dan menempuh kehidupan yang tersalib; di pihak lain, kita menikmati anugerah Kristus dan mengalami suplai yang kaya dan limpah lengkap dari Roh itu. Oh, suplai yang limpah lengkap dari Roh almuhit itu menyertai roh kita!

Roh dalam Galatia 6:18 adalah roh kita yang dilahirkan kembali yang dihuni oleh Roh itu, adalah titik pusat berkat yang Allah janjikan. Ini sangat ditekankan dalam seluruh Kitab Galatia. Di dalam roh kita inilah kita mengalami dan menikmati Roh itu sebagai berkat utama Perjanjian Baru. Karena itu, kita perlu anugerah Tuhan, yaitu suplai limpah lengkap dari Roh yang almuhit menyertai roh kita.

Kristus, Roh itu, ciptaan baru, dan roh kita adalah empat butir dasar dalam kitab ini yang menggarisbawahi pemikiran ekonomi Allah. Kristus adalah pusat ekonomi Allah, dan Roh itu adalah realitas Kristus. Ketika Kristus dinyatakan melalui Roh itu dalam roh kita, kita menjadi ciptaan baru. Karena itu, roh kita sangat penting bagi kita untuk memperhidupkan hayat ciptaan baru bagi penggenapan tujuan Allah.

Kitab Galatia menekankan salib dan pengalaman salib untuk menanggulangi hal-hal negatif, seperti hukum Taurat, daging, “aku”, dunia agama, perhambaan, dan kutukan, di samping itu, mendatangkan hal-hal positif yang diwahyukan dalam kitab ini Kristus, Roh itu, anak-anak Allah, pewaris janji, keluarga iman, ciptaan baru, dan Israel milik Allah. Akan tetapi, ketiga pokok utama dari hal-hal negatif yang ditanggulangi dalam Kitab Galatia adalah hukum Taurat, daging, dan agama. Ketiga hal tersebut berjalan seiring. Ketika kita berada di bawah hukum Taurat, kita akan terlibat dalam daging dan agama. Agama dalam Kitab Galatia adalah agama tertinggi, yaitu agama Yahudi yang dibentuk menurut sabda Allah. Namun, agama yang demikian pun berkaitan dengan hukum Taurat dan daging. Oleh salib kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, daging dan agama, dan kita memiliki Kristus, Roh itu, ciptaan baru, dan roh kelahiran kembali kita. Jika kita nampak visi ini, kita akan memuji Tuhan karena salib. Karena salib Kristus itulah maka hukum Taurat, daging, dan agama semua telah diakhiri. Tetapi melalui salib Kristus, kita memiliki Roh itu, ciptaan baru dan roh kita. Kini oleh Roh itu, yang merupakan realisasi Kristus dalam roh kita, kita dapat memperhidupkan ciptaan baru. Dengan memperhidupkan ciptaan baru ini maka kita mengemban tandatanda Yesus dan menikmati anugerah Tuhan Yesus dalam roh kita. Bersama Paulus kita dapat berkata, “Janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” Dengan demikian maka kita akan mengetahui bahwa anugerah Kristus itu menyertai roh kita. Demikian cara Paulus menarik kesimpulan atas Kitab Galatia.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 31