Hitstat

09 November 2017

Matius - Minggu 6 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 4:1-4
Doa baca: Mat. 4:4
Tetapi Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”


Dalam berita ini kita tiba pada masalah ujian terhadap Raja yang baru dilantik (4:1-11). Setelah diurapi, Tuhan dicobai. Urutan dalam administrasi Allah selalu pemilihan, pengurapan, dan pengujian. Setelah sang Raja Surgawi diurapi dan dilantik, Dia dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk diuji. Dia pergi ke padang gurun bukan atas maksud-Nya sendiri, melainkan dibawa oleh Roh Kudus yang turun di atas-Nya. Dalam kehidupan pernikahan, Allah juga membawa kita ke dalam ujian. Ada sejumlah saudara saudari muda yang mengeluh kepada Allah, “Tuhan, sebelum aku menikah, aku telah banyak berdoa kepada-Mu. Akhirnya Engkau memberi tahu aku bahwa kehendak-Mu ialah supaya aku menikah dengan dia; dia adalah orang yang Engkau sediakan bagiku. Tuhan, Engkau tahu pada mulanya aku tidak tertarik, namun dalam kuasa kedaulatan-Mu, Engkau mengatur kami bersama. Namun lihatlah situasi hari ini. Lihatlah pada orang yang Engkau berikan kepadaku. Engkau yang salah atau aku yang salah?” Baik Tuhan maupun Anda tidak melakukan kesalahan. Ini adalah ujian Tuhan.

Pertama-tama, Roh membawa Raja yang telah diurapi untuk dicobai oleh Iblis. Pencobaan ini adalah suatu ujian untuk membuktikan bahwa Dia bersyarat menjadi Raja Kerajaan Surgawi. Iblis dalam bahasa Yunaninya diterjemahkan diabolos, artinya pendakwa, pemfitnah (Why. 12:9-10). Iblis, yaitu Satan, mendakwa kita di hadapan Allah dan memfitnah kita di hadapan manusia.

Ujian pertama adalah masalah penghidupan insani, yaitu masalah nafkah. Tuhan dibawa berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam. Setelah empat puluh hari empat puluh malam ini, Ia lapar, dan si pencoba datang kepada-Nya sambil berkata, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (ayat 3). Terhadap usul ini Tuhan menjawab, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Banyak orang Kristen mengira bahwa selama Tuhan berpuasa, Dia tentu tidak makan apa-apa. Namun ayat ini mewahyukan bahwa selama Tuhan Yesus berpuasa, Dia pun makan. Secara lahiriahnya Ia berpuasa, namun secara rohaninya Ia makan.

Di sini kita nampak satu prinsip penting. Dalam ministri dan ekonomi Tuhan, jika kita tidak tahu bagaimana merendahkan keperluan jasmani kita dan memperhatikan keperluan rohani, kita tidak bersyarat bagi ministri-Nya. Agar bersyarat dalam ministri Tuhan, kita harus diuji. Kita harus mengorbankan keperluan jasmani kita. Tempat tinggal yang baik, makanan yang lezat, dan pakaian yang indah, semuanya tak lain hanyalah keperluan sekunder. Makan makanan rohani itulah yang primer. Begitu dibaptis, Tuhan Yesus dibawa ke dalam situasi di mana Dia bisa mendeklarasikan kepada seluruh alam semesta bahwa Dia bukan untuk kebutuhan jasmani, melainkan hanya untuk kebutuhan rohani. Selama empat puluh hari empat puluh malam Dia mengabaikan semua makanan jasmani, melupakan tuntutan jasmani. Sebaliknya, Dia memperhatikan keperluan rohani. Meskipun Dia tidak makan untuk mempertahankan tubuh jasmani-Nya, tetapi Ia makan banyak untuk memelihara roh-Nya. Perkiraan setan tentang Tuhan Yesus tidak makan selama hari-hari di padang gurun itu mutlak salah. Sementara Dia berpuasa terhadap makanan jasmani, Dia makan makanan rohani. Inilah ujian dalam masalah penghidupan kita.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 11

08 November 2017

Matius - Minggu 6 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:16-17
Doa baca: Mat. 3:17
Lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.”


Karena Tuhan Yesus dibaptis menggenapkan kebenaran Allah, maka surga terbuka bagi-Nya, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan Allah berfirman tentang Dia. Pembaptisan-Nya untuk menggenapkan kebenaran Allah menggirangkan Allah, sehingga baptisan-Nya membuka langit, membawa turun Roh Kudus, dan membuka mulut Bapa. Jalan agar kita beroleh langit yang terbuka, Roh yang turun, dan perkataan Bapa ialah diakhiri. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa ketika kita diakhiri, surga terbuka. Sebaliknya, ketika kita disambut dan dihormati, surga tertutup. Ketika kita diakhiri dalam hidup gereja, surga terbuka. Tidak hanya demikian, setiap pengakhiran membawa turun Roh Kudus dan membuka mulut Bapa Surgawi kita. Pada saat itu Bapa akan berkata, “Yang Kukasihi.” Dalam hidup gereja kita mempunyai banyak pengalaman seperti ini. Dalam hidup gereja, ketika kita diakhiri, surga terbuka, Roh datang, dan Bapa berfirman. Kita memiliki langit yang terbuka, Roh yang mengurapi, dan Bapa yang berfirman.

Sebelum Roh Allah turun ke atas-Nya, Tuhan Yesus dilahirkan dari Roh Kudus (Luk. 1:35). Ini membuktikan bahwa pada saat Dia dibaptis, Dia sudah mempunyai Roh Allah dalam diri-Nya. Roh itu ada dalam diri-Nya untuk kelahiran-Nya. Kini untuk ministri-Nya, Roh Allah turun ke atas-Nya. Hal ini menggenapkan Yesaya 61:1; 42:1 dan Mazmur 45:7, dan dilaksanakan untuk mengurapi Raja baru dan memperkenalkan-Nya kepada umat-Nya.

Burung merpati bersifat lembut, dan matanya hanya dapat melihat satu benda pada satu saat. Karena itu, burung merpati melambangkan kelembutan dan ketulusan dalam pandangan dan tujuan. Dengan turunnya Roh Allah seperti burung merpati ke atas-Nya, Tuhan Yesus melayani dalam kelembutan dan ketulusan, hanya tertuju pada kehendak Allah.

Jika Roh Kudus telah ada di dalam Yesus sebelum Ia dibaptis, mengapa Roh Kudus masih perlu turun ke atas-Nya? Bukankah Roh Allah dalam Yesus? Memang benar. Lalu mengapa Roh tetap turun ke atas-Nya? Apakah Roh di dalam-Nya berbeda dengan Roh yang turun ke atas-Nya? Apakah Roh yang turun ke atas-Nya adalah Roh tambahan pada Roh yang telah ada di dalam-Nya? Kalau Anda mengatakan bahwa kedua Roh ini adalah satu Roh, saya akan bertanya bagaimana kedua Roh ini dapat bersatu. Roh yang telah bersemayam dalam Tuhan Yesus sama dengan Roh yang turun ke atas-Nya. Dengan demikian, apakah Yesus mempunyai Roh atau tidak? Ya, Ia mempunyai Roh. Lalu mengapa Roh tetap turun ke atas-Nya? Saya di sini bersama Anda. Jika saya di sini, bagaimana saya masih datang kepada Anda? Walaupun tidak mungkin bagi saya untuk serentak berada di sini dan masih datang, namun tidaklah mustahil bagi persona ilahi. Tuhan itu ajaib. Pada saat yang bersamaan, ia bisa ada di sini sekaligus datang ke sini. Kristus berada di dalam Anda atau di dalam surga? Ia di dalam kita juga di dalam surga. Jadi, Tuhan ada di sini, juga sedang datang ke sini.

Turunnya Roh adalah pengurapan Kristus, sedangkan berbicaranya Bapa adalah kesaksian bagi Dia sebagai Anak yang terkasih. Ini adalah gambaran Trinitas ilahi: Anak bangkit keluar dari air, Roh turun ke atas Anak, dan Bapa berbicara mengenai Anak. Ini membuktikan bahwa Bapa, Anak, dan Roh ada secara bersamaan. Hal ini adalah untuk merampungkan ekonomi Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 10

07 November 2017

Matius - Minggu 6 Selasa

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:14-15
Doa baca: Mat. 3:15
Lalu jawab Yesus kepadanya, "Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Yohanes pun menuruti-Nya.


Tuhan Yesus datang dari Galilea ke Sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes. Sebagai seorang manusia, Tuhan Yesus datang untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis selaras dengan Perjanjian Baru Allah. Ayat 13 tidak mengatakan bahwa Yesus datang kepada Yohanes untuk dikuduskan, melainkan mengatakan, Ia datang untuk dibaptis. Gereja juga pertama-tama bukan gereja yang menguduskan, melainkan gereja yang membaptis. Pikirkanlah perkara Tuhan Yesus, Ia adalah Gembala yang sejati. Seorang Gembala selalu berjalan di depan. Sebagai Raja Gembala, Tuhan Yesus berjalan di depan untuk memimpin Anda berjalan dari Galilea ke Sungai Yordan untuk dibaptis. Ia bukan datang ke Sungai Yordan untuk bertakhta, melainkan ditaruh dalam kematian, dikubur.

Dalam ayat 14-15 Yohanes tidak mengerti jelas, ia bimbang, bagaimana mungkin dia membaptis Yesus; dia mengira seharusnya dialah yang dibaptis Yesus. Ini menunjukkan bahwa Yohanes masih dalam hayat alamiahnya. Sekalipun ia telah dijenuhi oleh Roh Kudus lebih dari tiga puluh tahun, masih ada unsur alamiahnya yang tersisa. Karena itu dalam jawaban kepadanya, Tuhan seolah-olah berkata, “Engkau harus mengizinkan Aku dibaptis. Jangan menghalangi Aku dengan konsepsi alamiahmu. Jangan mengira, karena Aku lebih berkuasa daripadamu, Aku tidak perlu dibaptis olehmu. Izinkanlah Aku dibaptis sehingga kita dapat menggenapkan semua kebenaran.”

Kebenaran adalah menjadi benar dengan hidup, berjalan, dan melakukan segala hal menurut cara yang ditetapkan oleh Allah. Dalam Perjanjian Lama, yang dimaksud benar adalah memelihara hukum Taurat yang telah Allah berikan. Kini Allah mengutus Yohanes Pembaptis untuk mengadakan baptisan. Dibaptis juga menggenapkan kebenaran di hadapan Allah, yaitu menggenapkan syarat Allah. Tuhan Yesus datang kepada Yohanes, bukan sebagai Allah, melainkan sebagai manusia biasa, standar, orang Israel sejati. Karena itu, Ia harus dibaptis untuk memelihara pengaturan Allah pada zaman ini.

Tuhan dibaptis tidak hanya untuk menggenapkan kebenaran menurut ketetapan Allah, bahkan Dia membiarkan diri-Nya ditaruh dalam kematian dan kebangkitan agar Ia dapat melayani, bukan secara alamiah, melainkan secara kebangkitan. Melalui baptisan, Ia hidup dan melayani dalam kebangkitan bahkan sebelum kematian dan kebangkitan-Nya yang sesungguhnya tiga setengah tahun kemudian. Menurut pengertian kita, Tuhan Yesus dimatikan di atas salib dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi dalam pandangan Allah dan menurut pengertian Tuhan, Ia telah dimatikan tiga setengah tahun sebelum penyaliban-Nya. Sebelum Ia memulai ministri-Nya, Ia telah dimatikan dan dibangkitkan. Jadi, Ia tidak melayani secara alamiah. Ministrinya mutlak dalam hayat kebangkitan-Nya. Dengan demikian, Ia memasuki pintu kebenaran dan menempuh jalan kebenaran. Apa pun yang Ia lakukan di atas jalan ini adalah benar.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 10

06 November 2017

Matius - Minggu 6 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:13
Doa baca: Mat. 3:13
Kemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.


Dua kata penting dalam Matius 3:13 ialah Galilea dan Yordan. Ayat ini tidak mengatakan bahwa Yesus datang dari Betlehem ke Yerusalem untuk dikuduskan, melainkan Ia datang dari Galilea ke Yordan untuk dibaptis. Dalam Perjanjian Baru, Galilea adalah daerah yang dipandang rendah, menunjukkan penolakan. Yesus datang dari tempat yang demikian dihina dan ditolak. Tempat ini bukan ditolak oleh Allah, melainkan ditolak oleh agama dan kebudayaan. Jalan hidup gereja hari ini bukan dari Betlehem ke Yerusalem, melainkan dari Galilea ke Yordan.



Sungai Yordan adalah tempat penguburan dan kebangkitan. Jadi, Sungai Yordan menunjukkan pengakhiran dan permulaan hayat baru. Umat Israel menempuh perjalanan melalui padang gurun kurang lebih empat puluh tahun lamanya dan akhirnya mereka semua dikubur di Sungai Yordan. Jadi, Sungai Yordan mengakhiri mereka, mengakhiri sejarah dalam pengembaraan mereka di padang gurun, dan mengakhiri zaman pengembaraan itu. Namun, Sungai Yordan juga memberi mereka suatu awal baru, karena Sungai Yordan memberi permulaan hayat baru kepada mereka dan mengantar mereka memasuki zaman baru. Sungai Yordan membawa umat Israel keluar dari padang gurun untuk memasuki tanah permai, yakni Kristus. Inilah makna Sungai Yordan.



Dalam hidup gereja hari ini, jalan kita adalah jalan dari Galilea ke Sungai Yordan, jalan dari penolakan ke pengakhiran dan kebangkitan. Dalam hidup gereja tidak ada kehormatan, melainkan pengakhiran. Dari hari ke hari kita diakhiri. Dalam gereja kita mengalami saling mengakhiri. Setiap hari bahkan setiap jam kita mengakhiri satu dengan yang lain. Tetapi diakhiri itu merupakan suatu hal yang indah. Pengakhiran bukan penghabisan, melainkan permulaan, sebab pengakhiran selalu menuju ke permulaan baru dalam hayat. Karena itu, kita dapat bersaksi bahwa setiap pengakhiran selalu menjadi suatu permulaan baru dalam hayat.



Hidup gereja memang menakjubkan, tetapi tidak menakjubkan menurut konsepsi kita. Hidup gereja yang menakjubkan itu cepat atau lambat akan mengakhiri kita semua. Hidup gereja akan menamatkan Anda sekaligus membangkitkan Anda. Saya yakin bahwa apa adanya Anda, apa yang Anda miliki, dan apa yang dapat Anda lakukan akan ditamatkan semua. Boleh jadi untuk menggenapkan hal ini memerlukan sejarah sepuluh tahun dalam gereja. Mereka yang telah sepuluh tahun berada dalam gereja dapat bersaksi bahwa setiap bagian mereka telah diakhiri. Makin lama berada dalam gereja makin banyak pula pengakhiran yang kita terima. Mula-mula, pengalaman pengakhiran itu pahit. Tetapi kemudian menjadi manis. Bagi saya hari ini diakhiri itu manis. Setelah bertahun-tahun diakhiri dalam hidup gereja, Anda akan senang diakhiri. Mula-mula ketika Anda diakhiri dalam hidup gereja, Anda merasa malu. Namun lambat laun menjadi pengalaman yang manis bagi Anda. Kita sedang dalam perjalanan dari Galilea ke Sungai Yordan, dari tempat penolakan ke tempat pengakhiran.



Di tempat pengakhiran inilah kita berjumpa dengan Raja. Di sini, dalam hidup gereja, kita menjumpai Dia. Sejak saya memasuki hidup gereja, saya telah berkali-kali dibawa kepada Tuhan. Sehari demi sehari hidup gereja membawa saya kepada Kristus, dan membawa Kristus Sang Raja kepada saya. Akhirnya, kerajaan ada di sini. Jadi, hidup gereja adalah kerajaan.




Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 10


04 November 2017

Matius - Minggu 5 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:3-6
Doa baca: Mat. 3:3
Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”


Aspek pertama cara perkenalan Yohanes ialah membaptis orang dalam air. Ayat 5-6 mewahyukan bahwa banyak yang dibaptis olehnya di Sungai Yordan, mengaku dosa-dosa mereka. Membaptis orang ialah mencelupkan orang, mengubur orang dalam air yang menandakan kematian. Yohanes Pembaptis melakukan hal ini untuk menunjukkan bahwa setiap orang yang bertobat itu tidak berguna sama sekali, kecuali dikuburkan. Ini pun menandakan kesudahan manusia lama, agar permulaan baru dapat diwujudkan dalam kebangkitan, dibawa masuk oleh Kristus sang Pemberi hayat. Jadi, setelah ministri Yohanes, Kristus datang. Baptisan Yohanes tidak hanya mengakhiri mereka yang bertobat, bahkan mengantar mereka kepada Kristus agar mendapatkan hayat. Dalam Alkitab baptisan mengandung arti kematian dan kebangkitan. Dibaptis ke dalam air berarti dimasukkan ke dalam kematian dan dikubur. Keluar dari air berarti dibangkitkan dari kematian.

Baptisan berarti apa adanya alamiah kita dan segala perkara lampau kita harus diakhiri. Apa adanya kita dan perkara lampau kita hanya layak dikubur. Karena itu, ketika Yohanes, imam sejati, membawa orang kepada Allah dan memperkenalkan Raja kepada mereka, ia mengakhiri dan mengubur setiap orang yang datang kepadanya dalam pertobatan, dengan jalan ini ia menunjukkan bahwa mereka yang dikubur olehnya akan dibangkitkan oleh Dia yang telah bangkit. Inilah cara perkenalan, jalan yang benar untuk membawa orang yang bertobat kepada Raja yang akan membangkitkan mereka.

Dalam Perjanjian Baru terdapat dua ministri: ministri Yohanes dan ministri Tuhan Yesus. Ministri Yohanes ialah membawa orang kepada Allah dengan mengakhiri dan mengubur mereka. Orang-orang yang diakhiri dan dikubur ini perlu kebangkitan yang hanya dapat dilakukan oleh Kristus. Sebab itu, Kristus datang setelah Yohanes untuk menyuplaikan hayat kepada orang yang mati dan yang dikubur. Inilah sebabnya kita perlu dilahirkan kembali, dibaptis dalam air dan dalam Roh. Dibaptis dalam air ialah pengakhiran hayat alamiah kita dan perkara lampau kita. Dibaptis dalam Roh ialah mendapatkan permulaan baru melalui dibangkitkan dengan hayat ilahi. Kebangkitan ini hanya mungkin melalui Kristus sebagai Roh pemberi-hayat.

Matius 3:3 mewahyukan bahwa Yohanes Pembaptis ialah orang yang menyiapkan jalan untuk Tuhan dan meluruskan jalan bagi-Nya. Menyiapkan jalan untuk Tuhan dan meluruskan jalan bagi-Nya dengan jalan mengubah pikiran manusia, memalingkan pikiran mereka kepada Tuhan dan menepatkan hati mereka, agar melalui pertobatan, setiap bagian dan jalan (setapak) hati mereka diluruskan oleh Tuhan bagi Kerajaan Surga (Luk. 1:16-17). Yohanes Pembaptis menyiapkan jalan dan meluruskan jalan. Ini menyatakan bahwa jalan itu tidak rata, penuh dengan bukit dan lembah. Di beberapa tempat sangat rendah dan di lain tempat sangat tinggi. Yohanes datang dan menata jalan, meratakan lembah-lembah, menambal lubang-lubang, dan membuat jalan menjadi datar dan rata. Yohanes juga meluruskan jalan setapak yang penuh lekuk-lekuk. Fakta bahwa Yohanes meratakan jalan dan meluruskan jalan setapak berarti bahwa ministri-Nya menanggulangi pikiran dan hati.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 9

03 November 2017

Matius - Minggu 5 Jumat

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:7-11
Doa baca: Mat. 3:11
Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.


Ministri Yohanes ialah membawa orang kepada Allah (Luk. 1:16-17). Yohanes Pembaptis, seorang imam sejati, “... ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya” (Luk. 1:15). Sejak ia bayi hingga bertumbuh dewasa, usia tiga puluh, ia terus-menerus tercelup di dalam Roh Kudus. Karena ia dijenuhi hingga meluap dengan Roh Kudus, maka ia menjadi berani. Menentang arus zaman itu merupakan suatu perkara yang serius. Ia berani karena selama tiga puluh tahun ia senantiasa tercelup di dalam Roh Kudus. Sebab itu, ketika ia keluar untuk melayani, ia keluar di dalam roh dan dengan kekuatan. Benar, ia memakai jubah bulu unta sebagai tanda penolakannya terhadap zaman lama. Tetapi itu hanya tanda lahiriah, tetapi di dalamnya terdapat pula realitas, dan realitas itu ialah Roh dan kekuatan. Realitas dalam Yohanes bukan hanya hadirat Allah, tetapi juga Roh Allah.

Perkataan Yohanes kepada orang Farisi dan Saduki yang datang kepadanya mewahyukan perlunya sifat kita diubah (Mat. 3:7). Orang-orang Farisi adalah orang-orang sekte agama yang paling ketat di antara orang-orang Yahudi (Kis. 26:5). Sekte ini dibentuk kurang lebih 200 SM. Mereka membanggakan keagamaan, pengabdian kepada Allah dan pengetahuan Alkitab mereka yang sangat tinggi. Sebenarnya, mereka sudah merosot ke dalam kepura-puraan dan kemunafikan (Mat. 23:2-33). Orang-orang Saduki adalah orang-orang sekte lain dalam agama Yahudi (Kis. 5:17). Mereka tidak percaya kepada kebangkitan, malaikat-malaikat, ataupun roh-roh (Mat. 22:33; Kis. 23:8). Baik orang Farisi maupun orang Saduki disebut sebagai keturunan ular berbisa oleh Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus (3:7; 12:34; 23:33).

Karena orang-orang Yahudi tidak bertobat, perkataan dalam ayat 8- 10 telah digenapi. Allah telah mengerat orang Yahudi dan membangkitkan orang bukan Yahudi yang percaya untuk menjadi keturunan Abraham dalam iman (Rm. 11:15, 19-20, 22; Gal. 3:7, 28-29). Perkataan Yohanes dalam ayat 8-9 dengan jelas menunjukkan bahwa Kerajaan Surga yang diberitakan bukan terbentuk dari anak-anak Abraham menurut daging, melainkan dari anak-anak Abraham menurut iman. Jadi, kerajaan ini adalah kerajaan yang surgawi, bukan kerajaan Mesias yang bumiah.

Dalam ayat 11 Yohanes seolah-olah mengatakan, “Aku datang membaptis kamu dengan air, untuk menamatkan kamu, menguburmu. Tetapi Dia yang datang setelah aku, lebih berkuasa daripada aku. Ia akan membaptis kamu dengan Roh dan api. Apakah Ia akan membaptis kamu dengan Roh atau api tergantung apakah kamu bertobat atau tidak, kalau kamu bertobat, Ia akan memasukkanmu ke dalam Roh. Tetapi jika kamu terus-menerus adalah keturunan ular berbisa, Ia pasti akan membaptis kamu dalam lautan api. Ini berarti Ia akan memasukkan kamu dalam api neraka.” Api di sini adalah api yang sama dengan yang disebutkan dalam ayat 10 dan 12, yaitu api dalam lautan api (Why. 20:15), tempat orang yang tidak percaya mengalami kebinasaan kekal. Baptisan Yohanes hanya untuk pertobatan, untuk mengantar orang percaya ke dalam Tuhan. Baptisan Tuhan akan membuat orang mendapatkan hayat kekal dalam Roh Kudus atau menerima kebinasaan kekal dalam api. Baptisan Tuhan dalam Roh Kudus mengawali Kerajaan Surga, membawa kaum beriman-Nya ke dalam Kerajaan Surga, sedangkan baptisan-Nya dalam api akan mengakhiri Kerajaan Surga, menaruh orang yang tidak percaya ke dalam lautan api.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 9

02 November 2017

Matius - Minggu 5 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 4:17
Doa baca: Mat. 4:17
Sejak itu Yesus mulai memberitakan, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”


Berita perkenalan Yohanes pendek, tetapi sangat penting dan almuhit. Matius 3:2 berkata,“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Kata pertama yang paling bermakna dalam ayat ini ialah kata “bertobat”. Yohanes memulai ministrinya dengan kata ini. Bertobat ialah mengalami perubahan pikiran yang menghasilkan penyesalan, pengalihan tujuan. Bertobat ialah mengubah pikiran kita, falsafah kita, dan logika kita. Kehidupan orang yang telah jatuh seluruhnya menuruti pikirannya sendiri. Segala apa adanya dirinya dan perbuatannya menuruti pikirannya sendiri. Jika Anda seorang yang telah jatuh, Anda dipimpin oleh pikiran Anda. Mental Anda, logika Anda, dan falsafah Anda menguasai jalan hidup Anda. Sebelum kita diselamatkan, kita semua berada di bawah pimpinan pikiran kita yang telah jatuh. Kita jauh dari Allah dan kehidupan kita bertentangan dengan kehendak-Nya. Di bawah pengaruh pikiran kita yang telah jatuh, kita makin lama makin jauh dari Allah. Tetapi pada suatu hari, kita mendengar pemberitaan Injil yang menyuruh kita bertobat, mengalihkan pikiran, falsafah, dan logika kita.

Kata penting kedua dalam ayat 2 ialah kerajaan. Dalam pemberitaan Yohanes Pembaptis, pertobatan sebagai pembukaan ekonomi Perjanjian Baru Allah mencakup berpaling bagi Kerajaan Surga. Ini menunjukkan bahwa ekonomi Perjanjian Baru Allah berfokus pada kerajaan-Nya. Untuk ini kita harus bertobat, mengubah pikiran kita, mengalihkan penuntutan hidup kita. Sasaran tuntutan hidup kita yang tadinya terarah kepada perkara-perkara lain, kini haruslah kita tujukan kepada Allah dan kerajaan-Nya, yang dalam Injil Matius secara khusus dan sengaja disebut “Kerajaan Surga”. Menurut Injil Matius secara keseluruhan, Kerajaan Surga berbeda dengan Kerajaan Mesias. Kerajaan Mesias adalah kerajaan Daud yang terpulih (Kis. 15:16), yang terbentuk dari bani Israel dan bersifat bumiah dan jasmaniah, sedangkan Kerajaan Surga tersusun dari kaum beriman yang telah dilahirkan kembali dan bersifat surgawi dan rohani.

Kata utama ketiga dalam ayat 2 ialah surga. Yohanes mengatakan bertobatlah untuk Kerajaan Surga. Kata “surga” di sini dalam bahasa Ibrani menunjukkan langit tertinggi yang menurut Alkitab adalah langit ketiga, langit di atas langit. Langit ketiga ini disebut surga. Kerajaan Surga bukan menunjukkan kerajaan di angkasa, melainkan kerajaan di atas angkasa, kerajaan di langit atas langit, di mana takhta Allah ada. Dalam kerajaan ini terdapat pengaturan, dan pemerintahan Allah sendiri. Sebab itu, Kerajaan Surga ialah Kerajaan Allah di langit ketiga di mana Ia menjalankan kedaulatan-Nya atas segala sesuatu yang Dia ciptakan. Kerajaan Surga ini harus turun ke bumi. Pemerintahan surgawi ini harus turun ke bumi untuk berkuasa di atas bumi.

Menurut perkataan Yohanes dalam ayat 2, “Kerajaan Surga sudah dekat.” Ini jelas menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Yohanes Pembaptis, Kerajaan Surga belum ada. Bahkan setelah dia tampil, dalam pemberitaannya, Kerajaan Surga masih belum ada; hanya sudah dekat. Pada saat Tuhan memulai ministri-Nya dan bahkan pada saat Dia mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan, Kerajaan Surga masih belum datang (4:17; 10:7). Kerajaan Surga tiba di Yerusalem pada hari Pentakosta. Ini berarti Kerajaan Surga datang tepat pada saat gereja terwujud. Hari ini, setiap orang yang mempunyai perubahan dalam falsafahnya dan kembali kepada Allah akan segera berada dalam Kerajaan Surga. Haleluya, kita berada di dalam Kerajaan Surga! Kita memiliki Raja dan kita berada di bawah pengaturan-Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 9

01 November 2017

Matius - Minggu 5 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:3
Doa baca: Mat. 3:3
Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”


Kita telah nampak bahwa tempat perkenalan tidak di kota kudus ataupun di Bait Suci, melainkan di padang gurun. Yohanes Pembaptis memulai ministrinya di padang gurun adalah menurut nubuat (Mat. 3:3). Ini membuktikan bahwa masuknya ekonomi Perjanjian Baru Allah yang dibawakan oleh Yohanes bukan secara kebetulan, melainkan telah direncanakan dan diberitahukan jauh sebelumnya oleh Allah melalui Nabi Yesaya. Hal ini memberi isyarat bahwa Allah bertujuan agar ekonomi Perjanjian Baru-Nya dimulai dengan cara yang mutlak baru.

Injil Matius sama sekali berbeda dengan Injil Yohanes. Injil Yohanes adalah sebuah kitab hayat, sedangkan Injil Matius adalah kitab kerajaan. Dalam Yohanes, Yesus adalah hayat, tetapi dalam Matius, Dia adalah Raja. Menurut Injil Matius, Yesus yang kita terima adalah Raja. Ketika kita merenungkan Injil Matius, kita harus seluruhnya dan sedalam-dalamnya terkesan bahwa kita kini berada di dalam kerajaan. Segala sesuatu yang tertulis dalam kitab ini bersangkutan dengan kerajaan, karena itu kita harus menelaah kitab ini dari sudut kerajaan, memandang setiap pasal dan bahkan setiap ayat dari perspektif kerajaan.

Pertobatan yang diserukan dalam pasal 3 adalah untuk kerajaan. Anda harus bertobat sebab Anda tidak dalam kerajaan, Anda tidak di bawah kekuasaan Allah. Anda harus bertobat sebab Anda belum takluk kepada kekuasaan Kristus atau datang di bawah pemerintahan kerajaan-Nya. Walau mungkin Anda tidak merasa berdosa, tetapi asalkan Anda tidak dalam kerajaan, Anda seorang pemberontak. Asal saja Anda tidak berhubungan dengan pemerintahan kerajaan Kristus, Anda berada dalam pemberontakan dan harus bertobat. Asal Anda tidak berada di bawah pemerintahan Kristus, Anda harus bertobat. Tidak peduli betapa rohani, kudus, atau baiknya Anda, satu-satunya perkara yang menjadi masalah ialah apakah Anda di bawah penguasaan surgawi atau tidak. Jika tidak, berarti Anda tidak di dalam kerajaan, Anda harus bertobat. Kalau Anda tidak dalam kerajaan, Anda dalam pemberontakan. Anda menganggap diri Anda alkitabiah, ortodoks, dan suci, tetapi sesungguhnya Anda memberontak. Bahkan kerohanian Anda pun merupakan suatu bentuk pemberontakan menentang pemerintahan kerajaan Kristus. Perhatian Anda untuk kerohanian Anda, bukan untuk pemerintahan kerajaan Kristus. Ini menunjukkan bahwa Anda berada dalam pemberontakan, tidak berada dalam kerajaan. Harus bertobat karena pemberontakan Anda! Harus bertobat karena tidak berada dalam kerajaan dan tidak di bawah pemerintahan kerajaan dan kekuasaan Kristus! Inilah pemikiran dasar Injil Matius.

Janganlah mengira bahwa Injil Matius hanya untuk orang yang tidak percaya, orang luar, atau kafir. Banyak di antara kita yang belum pernah mendengarkan Injil Matius. Saya tidak tahu Injil macam apa yang pernah Anda dengar, tetapi Anda benar-benar tahu bahwa Anda perlu mendengar Injil Matius, Injil kerajaan yang menuntut Anda untuk bertobat dari ketidakbenaran Anda di bawah pemerintahan kerajaan Kristus. Kita semua perlu bertobat. Puji Tuhan, Yohanes Pembaptis dan ministri imamat ini tetap bersama kita! Di satu pihak, imamat ini membawa kita kepada Allah, di lain pihak memperkenalkan Raja surgawi yang membawa Allah kepada kita. Ketika kita menerima Raja ini, Ia mendapatkan kita dan kerajaan berada di sini. Inilah Injil Matius.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 8

31 October 2017

Matius - Minggu 5 Selasa

Pembacaan Alkitab: Mat. 3:5
Doa baca: Mat. 3:5
Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan.


Sekalipun Yohanes Pembaptis dilahirkan sebagai seorang imam, tetapi ia melepaskan posisi imam lahiriah. Dengan posisi lahiriah kelahirannya, ia bukan seorang imam yang sejati, melainkan seorang yang bertokoh imam, imam dalam bayangan. Dalam Matius 3:1 Yohanes datang berkhotbah di padang gurun sebagai imam sejati. Khotbah Yohanes Pembaptis merupakan permulaan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ia berkhotbah tidak di dalam Bait Suci, kota kudus, di mana umat beragama dan berkebudayaan menyembah Allah menurut peraturan-peraturan kitab mereka; melainkan di padang gurun, secara “liar”, tidak mempertahankan peraturan lama apa pun. Ini menunjukkan bahwa penyembahan Allah secara kuno menurut Perjanjian Lama telah disingkirkan dan yang baru segera dibawa masuk. Padang gurun di sini menunjukkan bahwa cara baru Perjanjian Baru Allah berlawanan dengan agama dan kebudayaan. Ini menunjukan pula bahwa yang usang tidak ada yang tersisa dan sesuatu yang baru segera dibangun.

Yohanes menggenapkan ministrinya dengan menempuh hidup dalam cara yang mutlak berlawanan dengan agama dan kebudayaan dan di luar agama dan kebudayaan. Yohanes terlahir sebagai imam. Menurut peraturan hukum Taurat, dia seharusnya memakai pakaian imam yang terbuat dari kain lenan halus, dan makan makanan imam, yang terutama terbuat dari tepung halus dan daging dari kurban yang dipersembahkan kepada Allah oleh umat-Nya. Namun yang dilakukan Yohanes berbeda sama sekali. Dia memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makan belalang dan madu hutan. Semua benda itu tidaklah beradab, tidak berkebudayaan, dan tidak sesuai dengan peraturan agama. Di samping itu, Yohanes tidak tinggal di kota yang berkebudayaan, melainkan di padang gurun (Luk. 3:2). Semuanya itu menunjukkan bahwa dia sepenuhnya telah meninggalkan zaman Perjanjian Lama, yang sudah merosot menjadi satu agama yang bercampur dengan kebudayaan manusia. Maksudnya adalah memperkenalkan ekonomi Perjanjian Baru Allah, yang hanya tersusun oleh Kristus dan Roh hayat.

Pemberitaan Yohanes ialah, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (ayat 2). Semua orang harus bertobat sebab kerajaan sudah datang dan karena Raja sudah ada. Kita perlu bertobat agar Raja mendapatkan kita dan kita menjadi umat-Nya. Setelah kita bertobat, Raja mendapatkan kita dan kita mendapatkan Dia. Melalui Raja mendapatkan kita dan kita mendapatkan Dia, kita dan Raja menjadi kerajaan. Kerajaan segera mengikuti Raja. Jika Anda menerima Raja dan Ia pun mengambil Anda sebagai umat-Nya, pada saat itu juga kerajaan datang. Jika Anda bertobat, Raja akan mendapatkan Anda, Anda akan mendapatkan Raja, dan kerajaan akan ada di sini.

Hidup gereja yang wajar hari ini ialah kerajaan. Kita semua telah bertobat, Raja telah mendapatkan kita dan kerajaan ada di sini beserta kita. Haleluya, kerajaan ada di sini, sekarang ini juga! Semua ini tergantung pada pengenal.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 8

30 October 2017

Matius - Minggu 5 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 28:18-19
Doa baca: Mat. 28:18-19
Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”


Yohanes Pembaptis dilahirkan sebagai imam (Luk. 1:5, 13). Fungsi utama jabatan imam ialah membawa manusia kepada Allah dan fungsi utama jabatan raja ialah membawa Allah kepada manusia. Imam membawa manusia kepada Allah sehingga mereka dapat memperoleh berkat Allah. Inilah pelayanan imamat. Raja ialah yang mewakili Allah dan membawakan Allah kepada orang. Melalui lalu lintas datang dan pergi, manusia dan Allah, Allah dan manusia, mempunyai persekutuan yang riil, komunikasi yang sejati. Akhirnya, manusia dan Allah menjadi satu. Inilah ministri imam dan raja.

Dalam Kitab 1 Samuel, Samuel mewakili jabatan imam dan Daud mewakili kerajaan. Samuel sebagai imam membawa masuk Daud sang raja. Jabatan imam membawa masuk jabatan raja. Sama halnya dengan hidup gereja hari ini. Kalau kita imam-imam yang sejati, kita akan menjadi raja-raja, sebab jabatan imam selalu membawa masuk jabatan raja. Mula-mula kita adalah imam yang membawa orang-orang ke hadapan Allah. Kemudian kita menjadi raja membawa Allah kepada mereka.

Kita telah nampak bahwa imam membawa masuk raja. Peristiwa ini pertama mengenai Samuel membawa masuk Raja Daud. Dalam Matius 3 kita nampak Samuel yang lain, Yohanes Pembaptis yang dilahirkan sebagai imam suku Lewi. Matius 3 mempersaksikan keselarasan Alkitab, sebab di sini kita nampak seorang dari suku imam, suku Lewi, membawa masuk seorang dari suku raja, suku Yehuda. Dalam Matius 3, Yohanes tampil sebagai Samuel dan Yesus tampil sebagai Daud. Di padang gurun, Yohanes membawa manusia kepada Allah. Jadi, ia sesungguhnya seorang imam yang sejati. Ketika ia membawa orang kepada Allah, sang Raja datang, dan Yohanes memperkenalkan Dia kepada manusia. Raja ini membawa Allah kepada manusia. Yohanes membawa manusia kepada Allah dan Yesus membawa Allah kepada manusia.

Sebagai orang berdosa, kita datang kepada Allah melalui ministri Yohanes. Melalui bertobat, kita masuk ke hadirat Allah. Inilah ministri imam, ministri Yohanes Pembaptis. Kita semua telah masuk ke hadirat Allah melalui Yohanes. Yohanes yang membawa kita kembali kepada Allah. Kemudian Raja Daud baru, Yesus Kristus, membawa Allah kepada kita. Melalui ministri pertobatan Yohanes dan ministri penyaluran hayat Yesus, kita semua telah menjadi imam dan raja. Hari ini kita adalah penerus imam yakni Yohanes Pembaptis dan penerus raja, yaitu Yesus Kristus. Jika Anda seorang Kristen yang wajar, Anda pertama-tama ialah Yohanes hari ini dan kedua ialah Yesus hari ini. Anak-anak muda, ketika Anda pergi ke kampus, Anda harus sebagai imam-imam yang sejati. Anda perlu berkata, “Tuhan, belas kasihanilah orang-orang ini. Oh, Tuhan, ingatlah semua orang muda ini. Aku membawa mereka kepada-Mu.” Inilah jabatan imam, ministri Yohanes Pembaptis. Setelah Anda membawa orang kepada Allah, dalam satu aspek, Anda serentak menjadi Kristus yang membawakan Allah kepada mereka sehingga mereka dapat memperoleh Allah. Inilah jabatan imam dan jabatan raja hari ini.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 8

28 October 2017

Matius - Minggu 4 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Yoh. 1:45-46
Doa baca: Yoh. 1:46
Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”


Kristus ditemukan di Betlehem. Penemuan Kristus ini menimbulkan problem. Allah menggunakan problem ini membawa keluar bayi Yesus itu dari Betlehem ke Mesir (Mat. 2:13-18). Kitab Hosea 11:1 menubuatkan bahwa Yesus akan dipanggil keluar dari Mesir. Bila tidak terjadi problem setelah Yesus ditemukan di Betlehem, Ia tidak berkesempatan untuk lari ke Mesir. Ini sangat bermakna. Orang-orang Majus membuat kesalahan yang besar, tetapi kesalahan mereka justru memberi Allah kesempatan yang menggenapkan nubuat-Nya. Namun jangan sengaja membuat kesalahan. Itu tidak akan berhasil. Berusahalah melakukan sesuatu dengan benar. Walaupun demikian tidak peduli betapa pun Anda berusaha berlaku benar, toh Anda akan membuat kesalahan besar seperti yang dilakukan oleh orang-orang majus itu. Tetapi jika Anda sengaja berbuat salah, kebaikan tidak akan datang. Namun jika Anda berusaha benar, namun tetap saja ada kesalahan, maka kesalahan itu akan memberi Allah kesempatan untuk menggenapkan maksud tujuan-Nya.

Pada butir ini saya perlu membentangkan sedikit sejarah. Maria mengandung seorang bayi di Nazaret (Luk. 1:26-27, 31). Menurut nubuat dalam Mikha 5:2, bagaimanapun Kristus harus dilahirkan di Betlehem. Di bawah pengaturan kedaulatan Allah, kaisar Agustus memerintahkan sensus pertama sejak Kerajaan Roma (Luk. 2:1-7). Ini memaksa semua orang kembali ke tempat asal mereka. Maria dan Yusuf terpaksa kembali ke Betlehem, kampung halaman mereka. Segera setelah mereka sampai ke Betlehem, Yesus terlahir. Kesalahan orang-orang Majus menyebabkan kebencian dan kedengkian Raja Herodes, yang marah karena seorang anak raja telah dilahirkan.

Kemudian Yusuf menerima pimpinan dalam mimpi untuk membawa Anak itu ke Mesir (Mat. 2:13-15). Ini memungkinkan Allah menggenapkan nubuat Hosea 11:1. Setelah Herodes meninggal, Yusuf menerima kata-kata dalam mimpi yang lain supaya ia kembali ke Negeri Kudus (ayat 19-20). Ketika Yusuf kembali dan mendengar bahwa Arkheus, putra Herodes yang menjadi raja, ia takut menetap di daerah sekitar Betlehem, karena itu ia pergi ke Nazaret, tempat Yesus dibesarkan (ayat 21-23).

Apa arti semua ini? Artinya ialah ketika Yesus dilahirkan di antara umat manusia, Ia muncul dalam cara yang agak tersembunyi, dalam cara yang tidak terbuka. Setiap orang menyebut Dia Yesus dari Nazaret, sebab Ia seorang Nazaret. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa Kristus akan dilahirkan di Betlehem. Cara kelahiran Kristus yang tersembunyi membingungkan kaum agamawan. Ketika Filipus berjumpa dengan Yesus, ia menyadari bahwa Yesus adalah Mesias. Kemudian Filipus pergi kepada Natanael dan memberi tahu dia bahwa ia telah berjumpa dengan Mesias dan Ia adalah anak Yusuf, seorang Nazaret. Natanael segera berkata, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh. 1:45-46). Walaupun Yesus dari Nazaret dan seorang Nazaret, Ia tidak dilahirkan di Nazaret, melainkan di Betlehem. Natanael merasa sulit. Namun Filipus tidak berbantahan dengan Natanael, dengan singkat saja ia berkata, “Mari dan lihatlah” (Yoh. 1:47). Kita tidak boleh memamerkan diri kita, sebaliknya kita pun jangan menilai orang lain dari keadaan lahiriahnya. Kita harus menilai mereka dari roh batiniah mereka. Dalam penampilan lahiriah-Nya, Yesus orang Nazaret, tetapi dalam batiniah-Nya terdapat emas, kemenyan, dan mur. Di dalam-Nya terdapat kemuliaan Allah. Dua Korintus 5:16 mengatakan bahwa kita tidak boleh mengenal Kristus atau siapa pun dari penampilan lahiriah mereka. Sebaliknya, kita harus memperhatikan realitas batiniah Kristus.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 7

27 October 2017

Matius - Minggu 4 Jumat

Pembacaan Alkitab: Dan. 12:3; Why. 22:16-17
Doa baca: Dan. 12:3
Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.


Orang-orang Majus tidak hanya menemukan Kristus, mereka pun menyembah Dia (ayat 11). Di antara orang-orang Israel, tidak ada seorang pun diperbolehkan menerima penyembahan orang lain, karena itu dianggap suatu penghinaan dan penghujatan terhadap Allah. Menurut mereka, hanya Allah yang patut menerima penyembahan. Tetapi orang-orang majus itu justru menyembah seorang anak kecil dan anak kecil ini ialah Allah. Anak yang dicari oleh orang-orang Majus dinamakan Allah yang perkasa (Yes. 9:5). Orang-orang Majus menyembah Dia dan mereka memberi persembahan kepada-Nya: emas, kemenyan, dan mur (ayat 11).

Kita perlu mengetahui makna emas, kemenyan, dan mur. Dalam perlambangan Alkitab, emas melambangkan sifat Allah. Ini menunjukkan bahwa bayi Yesus ini memiliki sifat Allah. Ia kudus. Kemenyan melambangkan harum wangi kebangkitan. Menurut otak agama alamiah kita, kebangkitan Yesus terjadi setelah kematian-Nya. Namun sebelum Ia meninggal, Yesus memberi tahu Maria dan Marta bahwa Ia adalah kebangkitan dan hayat (11:25). Jadi, sebelum Ia mati pun, Ia adalah kebangkitan. Hayat Kristus ketika di bumi ini ialah hayat kebangkitan. Dalam seluruh hayat dan kehidupan insani-Nya, terkandung keharuman dan kemanisan kebangkitan. Maut tidak dapat menangkap Dia atau menjamah Dia. Ia tidak hanya hayat, Ia pun kebangkitan. Mur melambangkan kematian dan pula harum wangi kematian. Di antara bangsa manusia, maut tidak harum. Namun pada Yesus terdapat harum dan wangi kematian.

Setelah orang-orang Majus itu menemukan Kristus, menyembah Dia, dan mempersembahkan benda-benda berharga kepada-Nya, mereka diperingatkan Allah supaya pulang melalui jalan lain (Mat. 2:12). Jalan lain ini bukan jalan semula, jalan ini jalan yang benar. Setiap kali kita mencari Kristus dan menemukan Dia, kita selalu diberi tahu supaya tidak kembali ke jalan semula. Mencari Kristus dan menemukan Dia selalu mengalihkan kita ke jalan lain.

Kini kita harus nampak bagaimana kita bisa memiliki bintang ini, bagaimana kita bisa mempunyai visi surgawi ini. Alkitab memberi tahu kita bahwa bintang yang hidup ini ialah Kristus (Bil. 24:17; Mat. 2; Why. 22:16). Bagaimana kita bisa memiliki Kristus sebagai bintang? Menurut 2 Petrus 1:19, bintang itu berkaitan dengan Alkitab. Jika kita memperhatikan perkataan yang lebih teguh ini, langit di dalam kita akan terang dan bintang fajar akan terbit dalam hati kita. Memperhatikan perkataan yang lebih teguh berarti memperhatikan firman hidup. Bukan hanya membaca firman, melainkan masuk ke dalam firman hingga sesuatu terbit dari dalam kita. Kita menyebutnya fajar menyingsing atau bintang fajar. Namun, firman tidak dapat menyinari Anda jika Anda tidak memperhatikannya. Anda harus memperhatikan hingga sesuatu mulai bersinar di dalam Anda.

Kristus ialah bintang. Alkitab mengatakan bahwa pengikut Kristus juga adalah bintang-bintang. Wahyu 1:20 memberi tahu kita bahwa para pemimpin dalam hidup gereja yang tepat adalah bintang-bintang. Mereka adalah bintang-bintang, sebab mereka bersinar. Kitab Daniel 12:3 mengatakan bahwa orang yang benar akan bersinar seperti bintang. Mereka yang memalingkan orang lain kepada kebenaran, yang memalingkan mereka dari jalan yang keliru ke jalan yang benar, akan bercahaya seperti bintang.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 7

26 October 2017

Matius - Minggu 4 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 2:2, 9
Doa baca: Mat. 2:9
Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.


Pada waktu kelahiran Yesus, terdapat suatu agama yang disebut agama Yahudi. Agama Yahudi sangat mutlak untuk Alkitab. Namun hampir tidak ada seorang pun dalam agama itu yang mengetahui bahwa Kristus telah datang. Kita tidak menjumpai catatan dalam Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa beberapa di antara umat agama itu pergi untuk menemui Kristus. Sebaliknya, tercatat bahwa beberapa orang majus (ahli perbintangan) datang mencari Dia (2:1-12). Tentunya hal ini adalah inisiatif Allah, bukan mereka.

Allah memberi orang-orang Majus itu sebuah bintang yang bersinar untuk memimpin mereka (2:2). Bintang ini tidak muncul di Tanah Kudus. Ia tampil di hadapan orang-orang yang jauh, jauh dari negeri kudus, jauh dari kota kudus, jauh dari Bait Suci dan agama kudus, jauh dari Kitab Suci, kaum kudus, dan imam-imam kudus. Jauh dari semua benda-benda kudus ini, bintang terang itu tampil di hadapan beberapa orang Majus di Timur. Cahaya bintang terang ini menggerakkan orang-orang Majus ini terhadap Raja orang Yahudi. Saya tidak tahu bagaimana orang-orang Majus ini digerakkan terhadap Raja orang Yahudi, dan saya tidak mau menerka. Sudah terlalu banyak khayalan tentang orang-orang Majus ini. Bagaimanapun, mereka datang dari Timur, Negeri Timur dan mengetahui bahwa bintang itu menunjukkan Raja orang Yahudi.

Setelah orang-orang majus mengalami visi bintang surgawi itu, mereka mendapat kesulitan. Kesulitan ini datang dari konsepsi alami mereka. Orang-orang Majus ini nampak visi dan mengetahui bahwa itu menunjukkan Raja orang Yahudi, mereka menduga bahwa mereka harus pergi ke Yerusalem, ibu kota bangsa Yahudi, di mana Raja orang Yahudi diperkirakan ada (ayat 12). Keputusan mereka pergi ke Yerusalem bukan datang dari terang bintang itu. Yerusalem tempat yang keliru. Yerusalem, sebagai ibu kota dan kota tempat Bait Suci berlokasi, bukan tempat terlahirnya Yesus. Teralihkannya orang-orang Majus menyebabkan suatu masalah yang serius dan hampir-hampir mengakibatkan terbunuhnya bayi Yesus. Jikalau bukan karena kedaulatan Allah, Yesus kecil itu pasti akan terbunuh akibat kekeliruan mereka. Kesalahan mereka merenggut jiwa banyak anak kecil (ayat 16-18).

Setelah orang-orang Majus pergi ke Yerusalem, tempat yang keliru, mereka telah dibenarkan oleh Alkitab. Dari Alkitab mereka mengetahui bahwa tempat yang benar ialah Betlehem, bukan Yerusalem (ayat 4-6). Ketika orang-orang Majus dibenarkan oleh Alkitab, mereka meninggalkan Yerusalem dan dipulihkan ke jejak yang benar; bintang itu pun muncul lagi (ayat 9). Visi yang hidup selalu mengikuti Alkitab.

Namun, tidak ada seorang pun agamawan di Yerusalem yang pergi dengan orang-orang Majus ke Betlehem. Ini sangat ganjil. Andaikata Anda seorang imam di antara imam-imam itu, tidakkah Anda pergi bersama-sama orang-orang majus itu untuk melihat apakah Yesus benar-benar dilahirkan di Betlehem? Tetapi tidak ada satu pun di antara mereka yang pergi. Mereka telah mengetahui dan mereka dapat memberi tahu orang lain bahwa Mesias akan dilahirkan di Betlehem, namun tidak ada satu pun dari mereka yang pergi. Mereka untuk pengetahuan Alkitab; mereka bukan untuk persona yang hidup, Mesias.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 7

25 October 2017

Matius - Minggu 4 Rabu

Pembacaan Alkitab: Yes. 8:7-8, 10; Mat. 1:23
Doa baca: Yes. 8:10
Buatlah rancangan, tetapi akan gagal juga; ambillah keputusan, tetapi tidak terlaksana juga, sebab Allah menyertai kami!


Dalam Wahyu 3:8 Tuhan Yesus memuji gereja di Filadelfia sebab mereka tidak menyangkal nama-Nya. Kita harus tidak menyangkal nama Yesus. Kita harus menyangkal semua nama lain, tetapi mempertahankan nama Yesus. Kita harus bersaksi bahwa kita bukan milik siapa pun atau sekte mana pun, tetapi kita hanya milik Yesus. Nama Yesus adalah nama satu-satunya yang kita miliki.

Sekarang kita membicarakan nama kedua yaitu Imanuel (1:23). Malaikat tidak menyebutkan nama ini kepada Yusuf atau kepada Maria. Tentu saja Imanuel adalah nama sebutan oleh orang-orang yang telah mempunyai banyak pengalaman terhadap Dia. Setiap kali Anda mempunyai beberapa pengalaman terhadap Yesus, Anda akan mampu mengatakan bahwa Dia adalah Allah yang beserta dengan Anda. Yesus tidak lain adalah Allah yang beserta dengan kita. Inilah pengalaman kita. Allah memberi tahu kita bahwa nama-Nya ialah Yesus. Tetapi ketika kita menerima Dia dan mengalami Dia, kita mengatakan bahwa Yesus adalah Allah yang beserta dengan kita. Ini sangat ajaib.

Ketika kita mengalami Yesus, Ia adalah Imanuel, Allah beserta dengan kita. Kita telah mendengar bahwa Yesus adalah penghiburan kita, perhentian kita, damai sejahtera kita, dan hayat kita. Yesus begitu banyak bagi kita. Kalau kita ingin mengalami Dia, kita harus mengatakan dengan serentak, “Inilah Allah! Ini bukanlah Allah yang jauh dari aku, atau Allah yang di surga, melainkan Allah yang beserta dengan aku.” Begitu kita mengalami secara demikian, kita akan mengetahui bahwa Yesus itulah Allah beserta dengan kita. Yesus adalah keselamatan kita. Setelah kita mengalami keselamatan ini, kita berkata, “Inilah Allah beserta dengan kita dan menjadi keselamatan kita.” Yesus ialah kesabaran kita. Tetapi ketika kita mengalami Dia sebagai kesabaran kita, kita mengatakan, “Kesabaran ini ialah Allah beserta dengan kita.” Yesus itulah jalan dan kebenaran, tetapi ketika kita mengalami Dia sebagai jalan dan kebenaran, kita mengatakan, “Jalan dan kebenaran ini justru adalah Allah beserta dengan kita.” Haleluya, Yesus itulah Allah beserta dengan kita! Dalam pengalaman kita, Dia adalah Imanuel.

Setiap kali kita berhimpun bersama dalam nama Yesus, Ia beserta dengan kita (18:20). Sekali lagi, inilah Imanuel, Allah beserta dengan kita. Kehadiran Yesus dalam perhimpunan kita sesungguhnya adalah Allah beserta dengan kita.

Yesus beserta dengan kita setiap hari, bahkan sampai pada akhir zaman (28:20). “Setiap hari” termasuk hari ini. Jangan lupa akan hari ini. Banyak orang Kristen mengira bahwa Yesus hadir setiap hari, kecuali hari ini. Tetapi Yesus beserta dengan kita sekarang ini juga, hari ini juga!

Yesus tidak hanya di antara kita, Ia pun di dalam roh kita. 2 Timotius 4:22 mengatakan, “Tuhan menyertai rohmu.” Yesus yang menyertai roh kita ini ialah Imanuel, Allah beserta dengan kita. Kita tidak akan dapat memisahkan Roh itu dengan penyertaan Yesus. Roh itu adalah realitas penyertaan Yesus (Yoh. 14:16-20). Penyertaan ini ialah Imanuel, Allah beserta dengan kita.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 6

24 October 2017

Matius - Minggu 4 Selasa

Pembacaan Alkitab: Rm. 10:12-13
Doa baca: Rm. 10:12
Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Tuhan yang sama adalah Tuhan dari semua orang dan bermurah hati kepada semua orang yang berseru kepada-Nya.


Nama Yesus telah diberikan kepada kita sehingga kita dapat dibasuh, dikuduskan, dan dibenarkan (1 Kor. 6:11). Sebagai orang yang tadinya cemar, kita telah dibasuh, dikuduskan, dan dibenarkan di dalam nama Yesus dan oleh Roh Allah. Nama bersangkut-paut erat sekali dengan persona dan Roh itu. Roh itulah persona nama itu dan realitas nama itu. Karena itu, nama itu dapat membasuh kita, menguduskan kita, dan membenarkan kita. Roh itu adalah satu dengan nama Yesus. Nama Yesus berkaitan dengan persona yang membasuh kita, menguduskan kita, dan membenarkan kita. Ini bukan hanya doktrin atau teori, melainkan realitas. Ketika kita percaya ke dalam nama Yesus dan dimasukkan ke dalam nama Yesus, kita ditaruh ke dalam satu persona yang hidup, yaitu dalam Roh Kudus. Roh Kudus ini membasuh kita, menguduskan kita, dan membenarkan kita.

Nama Yesus adalah untuk kita seru (Rm. 10:13; 1 Kor. 1:2). Setelah saya menjadi orang Kristen paling tidak tiga puluh lima tahun lamanya, saya baru menemukan rahasia berseru kepada nama Yesus. Tadinya saya mengira berseru kepada nama Yesus sama dengan berdoa. Akhirnya, dari catatan Alkitab saya nampak bahwa berdoa adalah satu hal, dan menyeru nama Tuhan adalah hal yang lain lagi.

Kita juga boleh berdoa dalam nama Yesus (Yoh. 14:13-14; 15:16; 16:24). Ini bukan berarti setelah kita berdoa panjang lebar lalu mengakhiri dengan kata-kata “dalam nama Yesus”. Demikian terlalu formal. Tetapi sebaliknya, saya akan mengatakan bahwa dalam doa kita, baik sekali menyeru nama Yesus dan menyatakan, “Oh Yesus! Yesus! Aku datang berdoa!” Dalam nama Yesus, Anda akan mempunyai beban riil untuk berdoa dan Anda akan beroleh jaminan bahwa doa Anda telah didengar dan dijawab. Kalau kita menyeru nama Yesus, kita akan beroleh jaminan terkabulnya permintaan kita.

Nama Yesus juga adalah untuk kita dihimpunkan ke dalam (Mat. 18:20). Setiap kali kita datang bersidang bersama, kita harus dihimpunkan ke dalam nama Yesus. Setiap kali Anda datang ke perhimpunan orang Kristen, Anda harus menyadari bahwa sekali lagi Anda dihimpunkan ke dalam Nama-Nya. Memang kita telah dimasukkan ke dalam nama Yesus, tetapi kita belum masuk dengan mendalam. Sebab itu, kita perlu berulang-ulang datang kembali dihimpunkan ke dalam nama-Nya.

Nama Yesus juga sanggup untuk mengusir setan (Kis. 16:18). Untuk mengetahui kuasa nama Yesus, gunakanlah untuk mengusir setan. Setan lebih mengetahui kuasa nama Yesus daripada kita. Ketika kami mengusir setan, kami harus memberi tahu setan-setan itu bahwa Yesus ini bukan Yesus yang biasa, melainkan Ia adalah Yesus yang telah diangkat sebagai Raja. Dengan segera, setan akan pergi. Bila Anda mengusir setan, tidak perlu berdoa banyak-banyak, tetapi cukup mengatakan, “Aku datang dalam nama Yesus yang telah terangkat dan kamu harus pergi.” Ketika Yesus datang, setan pasti lari.

Melalui semua perkara yang dapat dilakukan dalam nama Yesus, kita nampak bahwa apa pun yang kita lakukan dan apa pun adanya kita harus dalam nama Yesus. Jangan pernah lupa nama Yesus. Nama-Nya adalah nama yang manis, nama yang kaya, nama yang penuh kuasa, nama yang menyelamatkan, nama yang memberi kesembuhan, nama yang menghibur, dan nama yang setiap saat tersedia bagi kita. Inilah nama yang dijunjung tinggi, dihormati, dan diindahkan, terlebih pula nama yang ditakuti oleh musuh.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 6

23 October 2017

Matius - Minggu 4 Senin

Pembacaan Alkitab: Kel. 3:14
Doa baca: Kel. 3:14
Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.


Yesus ialah nama pemberian Allah, sedangkan Imanuel ialah nama panggilan oleh manusia. Malaikat Gabriel memberi tahu Maria bahwa ia akan mengandung seorang anak laki-laki dan menamai Dia Yesus (Luk. 1:31). Kemudian Malaikat Tuhan menampakkan kepada Yusuf dan memberi tahu dia untuk menamai Anak itu Yesus (Mat. 1:21, 25). Jadi, Yesus ialah nama pemberian Allah.

Nama Yesus meliputi nama Yehova. Dalam bahasa Ibrani, nama “Allah” berarti Yang Perkasa, Allah Mahakuasa; dan nama Yehova berarti Aku adalah — Aku adalah Aku adalah (Kel. 3:14 Tl.). Arti Yehova yang benar ialah bahwa Aku adalah Aku adalah, Sang unik dalam waktu sekarang, dalam waktu lampau, dan dalam waktu yang akan datang serta dalam kekekalan selama-lamanya. Inilah nama Yehova. Dari kekekalan lampau sampai pada kekekalan kelak, adalah Aku ini. Karena itu Tuhan Yesus dapat mengatakan tentang diri-Nya, “Sebelum Abraham ada, Aku telah ada” (Yoh. 8:58). Kita harus menyadari bahwa Yesus ialah Aku adalah yang agung itu dan percaya bahwa Dia ialah Aku adalah yang agung itu.

Unsur pertama yang termasuk dalam nama Yesus adalah Yehova. Kedua ialah Penyelamat. Yesus adalah Yehova Juruselamat, Sang Penyelamat yang menyelamatkan kita dari semua perkara negatif dan dosa-dosa kita, dari neraka, dari hukuman Allah, dan dari penghukuman kekal. Dia adalah Penyelamat. Dia menyelamatkan kita dari penghukuman Allah dan dari segala perkara yang kita benci. Kalau kita benci akan temperamen kita, Ia akan menyelamatkan kita dari temperamen kita. Ia menyelamatkan kita dari kekuasaan jahat setan, dari semua dosa yang merepotkan kita dalam kehidupan kita setiap hari, dan dari setiap belenggu serta kebiasaan jelek kita. Haleluya! Dialah Juruselamat.

Nama Yesus mengatasi segala nama (Flp. 2:9-10). Tidak ada nama yang setinggi dan seunggul nama Yesus. Tidak peduli Anda membenci Yesus atau mencintai-Nya, Anda bagi Dia atau melawan Dia, Anda harus tahu bahwa nama Yesus ialah nama istimewa. Sejarah memberi tahu kita bahwa selama dua ribu tahun yang lampau, setiap orang telah mengenal bahwa nama-Nya adalah nama yang tertinggi, nama yang luar biasa.

Pertama, nama Yesus adalah agar kita percaya ke dalam-Nya (Yoh. 1:12 Tl.). Kita semua harus percaya ke dalam nama Yesus. Ketika kita memberitakan Injil, kita harus membantu orang tidak hanya berdoa, tetapi juga memproklamirkan kepada seluruh alam semesta bahwa mereka percaya ke dalam nama Yesus. Ketika seorang dosa mau percaya Yesus, haruslah ia memproklamirkan, “Hari ini aku percaya ke dalam nama Yesus!”

Bagi kita, nama Yesus adalah yang olehnya kita diselamatkan (Kis. 4:12). Nama Yesus justru diberikan kepada kita agar kita dapat diselamatkan. Nama Yesus ialah nama yang menyelamatkan.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 6

21 October 2017

Matius - Minggu 3 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 1:23; 28:20
Doa baca: Mat. 28:20
Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.


Sang ajaib yang dilahirkan secara ajaib ini adalah Yehova. Tetapi Dia bukan hanya Yehova — Dia adalah Yehova dengan sesuatu yang lain. Sebutan Yesus artinya “Yehova Penyelamat (Juruselamat)” atau “keselamatan Yehova” (Mat. 1:21). Persona yang ajaib inilah keselamatan yang Yehova berikan kepada manusia. Dia sendiri itulah keselamatan. Karena Yehova sendiri menjadi karunia keselamatan, Dia itulah Sang Penyelamat.

Yesus merupakan nama yang ajaib karena Yesus itulah Yehova. Dalam Kejadian 1 kita tidak menemukan nama Yehova. Kita hanya menemukan nama Allah: “Pada mulanya Allah menciptakan ...” Elohim — Allah — adalah sebutan bagi Allah Pencipta. Nama Yehova, yang tidak digunakan hingga Kejadian 2, digunakan secara khusus ketika Allah berhubungan dengan manusia. Nama Yesus adalah sesuatu yang ditambahkan kepada Yehova — yaitu, Yehova keselamatan kita, Yehova Penyelamat kita.

Yesus itulah Yosua sejati (Bil. 13:16; Ibr. 4:8). Yosua dalam bahasa Ibraninya sama dengan Yesus. Musa membawa umat Allah keluar dari Mesir, tetapi Yosua yang membawa mereka ke dalam perhentian. Sebagai Yosua kita yang sejati, Yesus membawa kita ke dalam perhentian. Matius 11:28-29 memberi tahu kita bahwa Yesus adalah perhentian dan Dia mengajak kita memasuki diri-Nya sebagai perhentian. Ibrani 4:8-9 dan 11 juga membicarakan Yesus sebagai Yosua sejati kita.

Dalam 1:23 kita menjumpai nama ajaib yang lain — Imanuel. Imanuel adalah nama pemberian manusia kepada-Nya. Imanuel artinya “Allah menyertai kita.” Yesus Sang Juruselamat adalah Allah yang menyertai kita. Tanpa Dia, kita tidak mungkin menjumpai Allah; sebab Allah adalah Dia, dan Dia adalah Allah. Tanpa Dia, kita tidak akan menemukan Allah, sebab Dia adalah Allah sendiri yang berinkarnasi untuk tinggal di tengah-tengah kita (Yoh. 1:14).

Yesus ini, yang adalah Allah Yehova, dilahirkan dalam daging menjadi Raja untuk mewarisi takhta Daud (1:20; Luk. 1:27, 32-33). Injil Matius adalah sebuah kitab yang membahas kerajaan dan Kristus sebagai Rajanya, Mesiasnya. Ketika Anda menyeru Yesus, Anda mendapatkan Yehova, Juruselamat, keselamatan, Allah, dan akhirnya Raja. Sang Raja memerintah. Ketika kita menyeru Yesus, segera kita mendapatkan Dia yang berkuasa atas kita. Yesus, Sang Raja akan mendirikan Kerajaan-Nya di dalam Anda dan menyelenggarakan takhta Daud di dalam hati Anda. Semakin Anda menyeru Yesus, semakin pula ada kuasa pemerintahan. Serulah nama-Nya, pasti Anda akan diatur oleh kuasa-Nya.

Yesus adalah persona yang ajaib. Dia itu Yehova, Allah, Juruselamat, dan Raja. Sang Raja telah lahir, bahkan hari ini berada di sini. Setiap hari, pagi, dan sore, kita mengapresiasi Kristus sebagai Juruselamat kita, Raja kita, bahkan Raja di raja.

Kristus di dalam Injil Matius adalah Raja Penyelamat juga Juruselamat Raja yang mendirikan kerajaan surgawi di dalam kita dan di atas kita. Matius 1 bukan sekadar menampakkan kepada kita asal usul Raja ini, tetapi juga memperlihatkan penyertaan Raja ini. Nama Raja ini ialah Yesus. Kapan saja kita menyeru nama-Nya, pasti kita merasakan bahwa Dia sedang berkuasa di dalam kita melalui penyela-matan-Nya. Ia mendirikan kerajaan surgawi di dalam kita. Haleluya, inilah Kristus kita!



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 5