Hitstat

03 October 2019

Lukas - Minggu 34 Kamis


Pembacaan Alkitab: Im. 25:9-13; 54
Doa baca: “Tetapi jikalau ia tidak ditebus dengan cara demkian, maka ia harus diizinkan keluar dalam tahun Yobel, ia bersama-sama anak-anaknya.” (Im. 25:54)


Manusia yang Jatuh Memerlukan Yobel


Berkat utama dari yobel adalah dikembalikan kepada harta warisan, yaitu diri Allah sendiri. Berkat yang kedua dari yobel adalah dibebaskan dari perbudakan mereka. Menurut lambang dalam Imamat 25, seorang Israel mungkin menjadi miskin sedemikian rupa sehingga ia harus menjual tanah miliknya. Kemudian mungkin ia makin jatuh ke dalam kemelaratan bahkan menjual dirinya sendiri, menjadi budak. Orang tersebut baru akan mendapat pembebasan dari perbudakan pada saat tahun Yobel, yaitu tahun kelima puluh.

Gambaran di dalam Imamat 25 ini sangat bermakna, menunjukkan bahwa sejak kejatuhan, menusia telah menjual dirinya sendiri sebagai budak, khususnya sebagai budak dosa (Rm. 7:14). Meskipun manusia berusaha menbus dirinya, tetapi ia tidak mampu melakukannya. Dalam zaman hati nurani, zaman pemerintahan manusia, zaman janji, dan zaman hukum Taurat, manusia tidak dapat menebus dirinya. Tetapi kemudian zaman anugerah datang, zaman yang dilambangkan oleh tahun kelima puluh. Dalam zaman ini manusia yang telah jatuh dapat dibebaskan dari belenggu. Dalam Yohanes 8:34 Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.”

Yobel Allah membebaskan manusia yang telah jatuh dari dosa. Alkitab mewahyukan betapa Tuhanlah yang membebaskan manusia dari perhambaan dosa, “Jadi, apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” Dalam Roma 6:6-7 Paulus juga berkata, “Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang  kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”

Manusia tidak dapat membebaskan dirinya sendiri dari dosa, kita perlu percaya dan menerima Yobel Allah yang mampu memerdekakan kita dari hukum dosa dan maut oleh hayat-Nya (Rm. 8:2).


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 67

02 October 2019

Lukas - Minggu 34 Rabu


Pembacaan Alkitab: Ef. 2:12; Im. 25:8-13
Doa baca: “Pada waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” (Ef. 2:12)


Keadaan Manusia Sebelum Diselamatkan


Efesus 2:12 memberikan gambaran mengenai keadaan yang sesungguhnya dari manusia yang telah jatuh, yaitu “tanpa Allah di dalam dunia.” Adam sebagai manusia pertama dan ketika ia ditempatkan di taman Eden, Adam tidak makan pohon hayat melainkan makan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat sehingga menyebabkan kejatuhan manusia. Ketika ia meninggalkan Allah, ia meninggalkan harta miliknya. Karena itu, semua keturunannya hidup di bumi tanpa Allah. Inilah keadaan kita yang sesungguhnya sebelum kita diselamatkan.

Puji Tuhan atas yobel Allah yang membawa manusia kembali pada Allah sebagai harta milik manusia. Sebenarnya bukan kita yang kembali kepada Allah, tetapi Allahlah yang mengembalikan kita kepada harta milik kita melalui keselamatan- Nya. Kembali lagi pada contoh anak yang hilang, menurut Lukas 15, Bapalah yang mengutus Putr sebagai Gembala untuk mencari anak yang hilang itu. Selain itu, Bapa mengutus Roh itu untuk mencari anak yang hilang ini. Karena itu, anak yang hilang itu tidak kembali kepada Bapa berdasarkan kekuatannya sendiri, tetapi Bapa mengutus Putra-Nya dan Roh- Nya. Ketika Anda menerima keselamatan, itu adalah pekerjaan Allah Tritunggal. Dalam Kisah Para Rasul 26:18 Paulus membicarakan tentang orang-orang ynag telah jatuh dibawa kembali kepada Allah sebagai warisan mereka: “Untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang… supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.”

Yobel Allah inilah yang perlu kita beritakan. Untuk memberitakan Injil secara demikian, kita perlu memiliki kenikmatan yang memadai terhadap yobel Perjanjian Baru ini. Semoga kita semua mau menikmati Allah sebagai yobel yang sejati..


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 66

01 October 2019

Lukas - Minggu 34 Selasa


Pembacaan Alkitab: Luk. 15:14-19; 21
Doa baca: “Kata anak itu kepadanya, ‘Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebut anak Bapa.’" (Luk. 15:21)


Allah Sebagai Harta Milik Kita


Di dalam yobel, terdapat dua berkat utama yaitu kembali kepada harta milik yang telah kita tinggalkan dan kedua, kita dibebaskan dari perbudakan dan kembali kepada keluarganya. Seperti anak yang hilang ketika kembali ke rumah bapanya, ia mendapatkan warisannya kembali dan kembali kepada keluarganya. Saat anak hilang itu kembali, selain diberi jubah, cincin, dan sepatu, juga ada lembu tambun yang disembelih untuk memuaskan rasa lapar anak yang hilang itu. Lembu tambun ini melambangkan Kristus sebagai suplai hayat yang mengenyangkan rasa lapar kita.

Orang yang sungguh-sungguh mengalami yobel adalah mereka yang dikenyangkan oleh Tuhan Yesus. Tidak ada seorang pun yang dapat berada di dalam yobel dengan perut yang kosong. Sebenarnya Tuhan ingin menjadi harta milik manusia. Jika di dalam alam materi, harta milik yang dibutuhkan seseorang adalah tanah untuk menghasilkan makanan, dan juga memiliki sebuah rumah untuk tempat tinggal kita. Ini adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar. Mungkin seseorang masih dapat bertahan hidup ketika tidak memiliki sandang dan transportasi yang memadai, tetapi ketika tidak memiliki papan dan pangan. Dalam tahun yobel, pehatiannya bukanlah pada pakaian dan transportasi, melainkan pada makanan dan rumah. Dalam hal rohani, tanah kita adalah Allah sendiri, dan rumah kita juga adalah Allah. Seperti ketika Allah memberikan tanah permai kepada bangsa Israel untuk digarap dan menghasilkan makanan, demikian juga tanah permai ini melambangkan Allah dalam Kristus menjadi suplai bagi makanan kita.

Mazmur 90:1 dan Mazmur 16:5 mengatakan bahwa Allah adalah tanah dan tempat tinggal manusia. Untuk itu setiap hari kita perlu datang kepada firman Tuhan untuk menikmati Dia di dalam firman. Semakin banyak kita berdoa dan menikmati firman, maka kita akan semakin mendapatkan Tuhan sebagai kepuasan dan perhentian kita, kita akan memiliki damai sejahtera yang berasal dari Kristus.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 66