Hitstat

14 June 2006

Kejadian Volume 3 - Minggu 1 Rabu

Proses Kejatuhan Manusia
Kejadian 3:6
“Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.”

Mengapa manusia bisa sok menjadi kepala dan melupakan kedudukannya sebagai istri? Langkah pertama dalam proses kejatuhan manusia ini adalah kelalaian manusia dalam menggunakan rohnya. Setelah manusia diciptakan, dia harus selalu memakai rohnya untuk berkontak dengan Allah dan hidup di depan-Nya. Saat manusia hidup menurut rohnya, dia terpelihara oleh Allah. Tetapi kapan kala manusia tidak memakai rohnya untuk berkontak dengan Allah, ia telah mengesampingkan dan mendahului Allah, akibatnya dia jatuh ke dalam tangan si jahat.
Langkah kedua adalah manusia justru memakai jiwanya (Kej. 3:2, 3; 6). Ketika berbicara dengan ular, Hawa lebih menggunakan pikirannya untuk beralasan. Lalu emosinya tergoda dan menginginkan buah pohon pengetahuan itu. Kemudian tekadnya memutuskan untuk mengambil buah itu.
Langkah ketiga adalah tubuhnya bertindak. Kapan kala jiwa memimpin, tubuh secara alami akan mengikuti. Jiwa mengarahkan tubuh. Pertama, mata melihat. Kedua, tangan mengambil. Ketiga, mulut memakan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus selalu belajar memakai roh kita, dan membiarkan roh mengarahkan jiwa kita, yang pada akhirnya juga mengendalikan tubuh kita. Kalau kita tidak memakai roh, sebaliknya memakai jiwa, kita melanggar kekepalaan sehingga jiwalah yang memimpin. Begitu jiwa mengambil pimpinan, ia akan mengendalikan tubuh kita untuk melakukan hal-hal yang melanggar Allah.

Pentingnya Berpaling Ke Dalam Roh
Kej. 3:2-3, 6

Adam dan Hawa gagal karena mereka tidak menggunakan roh mereka. Jika Hawa kembali ke dalam roh, pasti tidak akan ada masalah. “Suami” kita selalu menyertai roh kita. Jika kita tinggal di dalam pikiran, berarti kita bertindak sebagai kepala karena membiarkan pikiran bertindak sendiri. Ini menakutkan juga berdosa. Kita harus tahu dengan jelas bahwa suami kita selalu menyertai roh kita, karena itu kita harus selalu berpaling ke dalam roh. Bahkan, saat hampir marah, kita masih perlu berpaling ke dalam roh. Memang, sangatlah sulit bagi kita untuk berpaling ke dalam roh, dalam keadaan demikian. Namun, justru dalam keadaan yang sulit itu, keperluan kita satu-satunya adalah kembali ke dalam roh. Jangan hanya berusaha menanggulangi temperamen; berpaling saja ke dalam roh. Marilah kita belajar menggunakan roh kita.
Semua orang Kristen tahu bagaimana berdoa dan memohon Allah untuk menolong mereka, tetapi sedikit sekali yang tahu bahwa mereka memiliki roh, dan mereka boleh berpaling ke dalam roh. Kita benar-benar mempunyai roh dan roh ini justru mempunyai fungsi yang ajaib. Karena Allah beserta dengan roh kita, kita perlu senantiasa berpaling ke dalam roh kita. Jika kita belajar berpaling ke dalam roh dan menggunakan roh dalam segala situasi, hasilnya pasti sangat mengagumkan.
Bagaimana kita tahu bahwa kita menggunakan roh kita? Ini sangat mudah. Setiap kali kita melakukan sesuatu, atau berhubungan dengan seseorang, jika tanpa penyertaan Tuhan, itu membuktikan bahwa kita tidak menggunakan roh kita. Tidak peduli apa yang kita lakukan, jika kita melakukannya tanpa bersandar Tuhan dan tanpa berkontak dengan Tuhan, itu membuktikan bahwa kita tidak di dalam roh. Dalam keadaan demikian, kita pasti menderita rugi. Kita semua harus belajar berkontak dengan Allah dalam segala hal. Ini adalah perkara yang sangat berharga dalam hidup sehari-hari kita; kita semua harus belajar mempraktekkannya.
Sering kali kita enggan berdoa atau menggunakan roh, sebaliknya, suka berpikir, mempertimbangkan, dan menyelidiki. Kita merasa sulit untuk berdoa, karena pikiran kita terlalu aktif, penuh dengan angan-angan. Kita tidak sanggup menenangkan pikiran kita. Kita paham benar terhadap keadaan semacam ini. Banyak istri orang Kristen merasa mudah untuk mengobrol. Namun, jika kita meminta mereka berdoa, mereka merasa sulit; ini dikarenakan mereka terlalu banyak menggunakan jiwa mereka. Pelajaran yang terbaik bagi kita semua adalah belajar menenangkan pikiran kita dan masuk ke dalam doa.

Penerapan:
Sering kali Iblis dapat mengurung manusia dengan berbagai macam khayalan. Kita sangat bodoh, mengira khayalan-khayalan itu berasal dari diri kita sendiri, padahal itu adalah benteng-benteng kokoh yang dibangun Iblis guna mencegah hati kita tunduk kepada Kristus. Karena itu, marilah kembali ke dalam roh melalui menyeru nama Tuhan dan hidup bergaul dengan Allah.

Pokok Doa:
Tuhan, palingkan aku selalu ke dalam roh. Ampuni aku Tuhan, sering kali aku memiliki pikiran yang jahat, angan-angan yang sia-sia, khayalan-khayalan yang membawaku jauh dari pada-Mu. Tuhan pimpinlah aku senantiasa, terutama dalam mengendalikan pikiranku.

13 June 2006

Kejadian Volume 3 - Minggu 1 Selasa

Sebab Musabab Kejatuhan Manusia (2) -- Bertindak Sebagai Kepala
Kejadian 3:2-3
“Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ‘Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.’”

Secara lahiriah, penyebab kejatuhan manusia adalah Iblis, namun secara batiniah, penyebab kejatuhan manusia adalah diri manusia sendiri. Penyebab batiniah dari kejatuhan manusia adalah karena Hawa melupakan kedudukannya sebagai istri dan bertindak sebagai kepala 1). Iblis sangat licik, tahu bahwa perempuan lebih lemah daripada laki-laki (1 Ptr. 3:7), maka ia memilih Hawa sebagai sasarannya. Tidak peduli apa yang dikatakan Hawa kepada ular tersebut, selama ia masih berdiri di sana dan berkata-kata dengan ular itu, ia sudah bersalah, karena hal itu menyatakan bahwa ia sudah melupakan kedudukannya sebagai istri. Hawa seharusnya tidak berbicara dengan si jahat, melainkan kembali ke suaminya, dan bersembunyi di belakang Adam. Jika Hawa melakukan hal ini, si licik akan mengalami kegagalan. Jadi, penyebab utama kejatuhan manusia kali pertama ialah istri bertindak sebagai kepala.
Hawa yang ada di dalam Taman Eden mewakili kita semua. Hampir setiap orang di antara kita seringkali bertindak menurut cara yang dilakukan Hawa. Dalam menghadapi situasi apa saja, kita selalu menampilkan diri sendiri. Meskipun mungkin kita banyak berdoa, tetapi ketika suatu masalah datang, kita melupakan Tuhan, sang “Suami” kita yang sejati, dan bertindak seolah-olah kita tidak mempunyai “suami”. Selama kita menghadapi masalah bersandarkan diri sendiri, itu berarti kita telah meninggalkan “suami” kita. Kita harus ingat, inilah penyebab kejatuhan manusia kali pertama.

1) Allah dalam kedaulatan-Nya telah menetapkan bahwa laki-laki adalah kepala - 1 Kor. 11:3.

Allah Adalah Suami Dan Kepala Kita
Yes. 54:5; 1 Tim. 2:14; 1 Kor. 11:3, 5, 14-15

Yesaya 54:5 mengatakan, “Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau.” Allah adalah satu-satunya laki-laki dalam alam semesta ini. Entah kita laki-laki atau perempuan, semuanya adalah bagian dari satu “istri” universal-Nya. Kedudukan manusia bukan dalam posisi sebagai suami, melainkan sebagai istri. Allah adalah suami kita. Allah adalah Kepala, kita bukan kepala. Sekalipun kita adalah laki-laki, juga bukan kepala. Di hadapan Allah, posisi saudara sama dengan posisi saudari. Baik saudara maupun saudari, dalam pandangan Allah, semuanya adalah perempuan.
Allah adalah suami dan kepala kita, kita wajib senantiasa menaruh diri kita di bawah naungan-Nya. Karena Allah adalah kepala kita, maka kita harus selalu berpaling kepada-Nya. Apabila suatu saat kita seperti Hawa yang ada di taman dan Iblis datang kepada kita, janganlah memandang si Iblis, tetapi kita harus segera berpaling kepada “suami” kita dan bersembunyi di belakangnya. Kita harus menjadikan Kristus sebagai kepala dan melaksanakan pimpinan-Nya. Niscaya tidak ada persoalan yang timbul.
Kegagalan Hawa terjadi karena ia melancangi Adam dengan bertindak sendiri sebagai kepala (bd. 1 Tim. 2:14). Kegagalan di pihak Hawa melambangkan manusia yang sok menjadi kepala dan melancangi Allah, mengesampingkan Allah.
Prinsip yang sama masih berlaku sampai hari ini. Bila kita bertindak menurut diri sendiri dan mengesampingkan Tuhan, berarti kita telah dikalahkan. Jika kita berusaha bersandarkan diri sendiri untuk meraih kemenangan, usaha kita ini adalah suatu kekalahan, karena hal ini membuat kita menjauhkan diri dari suami dan kepala kita yang sejati. Jangan sekali-kali melakukan sesuatu bersandarkan diri sendiri. Melakukan sesuatu bersandarkan diri sendiri berarti mengambil kedudukan sebagai kepala dan melupakan kedudukan sebagai istri. Kita harus berhikmat dan selamanya tidak mengambil kedudukan sebagai suami.
Sekarang kita bisa melihat bahwa kejatuhan kita adalah karena telah sok menjadi kepala dan tidak menghargai suami kita. Kita menjadi kepala karena kita lupa bahwa kita adalah istri. Jika demikian, maka sekalipun kita melakukan sesuatu dengan sangat baik, tetapi sebenarnya kita telah dikalahkan. Asal kita menjauhi Allah dan mengira sanggup melakukan sesuatu tanpa Dia, niscayalah kita telah dikalahkan. Saudara saudari, kita harus nampak hal ini, Kristuslah suami dan kepala kita, janganlah kita melancangi Dia.

Penerapan:
Kristus adalah suami kita yang sejati. Jangan pernah meninggalkan-Nya, lebih-lebih saat mengambil keputusan, baik urusan besar maupun kecil. Bertanyalah terlebih dahulu dengan senantiasa berkontak dengan-Nya dan kita harus belajar taat terhadap perkataan Tuhan yang mengurapi kita. Sekali kita merdeka dari “Suami Sejati” ini, maka Iblis segera menerkam kita.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus bawalah aku senantiasa bersatu dengan-Mu. Aku tidak mau merdeka dari-Mu. Jagalah aku sepanjang hari ini, biarlah setiap keputusan yang kuambil bukan berdasar pada diriku sendiri tetapi berdasar pada kehendak hati-Mu.

12 June 2006

Kejadian Volume 3 - Minggu 1 Senin

Sebab Musabab Kejatuhan Manusia (1) -- Iblis
Kejadian 3:1
“Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?’”

Iblis adalah penyebab pertama kejatuhan manusia. Iblis itu Iblis, tidak mungkin berubah menjadi lebih baik sedikit pun. Dalam Matius 4:3, Iblis diberi sebutan yang khusus, yaitu “si penggoda (pencoba - LAI)”. Ke mana pun ia pergi, selalu bertindak sebagai si penggoda; karena ini adalah sifat dan hakikinya.
Tuhan Yesus menyebutnya sebagai “si pendusta”, kata-Nya, “Apabila ia berkata dusta, ia berkata dari diri sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapak pendusta” (Yoh. 8:44b). Apa pun yang keluar dari Iblis adalah dusta. Sungguh mustahil jika kita mengharapkan dia bisa lebih baik. Yang harus kita lakukan adalah menjauhi dia!
Dalam Wahyu 12:9; 20:2, Iblis disebut “Satan” yang berarti “si penghujat”. Menghujat berarti di belakang orang yang bersangkutan mengatakan sesuatu yang tidak benar (fitnah) dengan maksud menghina dan mempersalahkan. Satan menghujat Allah di hadapan manusia. Percakapannya dengan Hawa menyiratkan kata-kata hujatan terhadap Allah (Kej. 3:5). Hujatan Iblis selamanya adalah dusta. Melalui kata-kata hujatan, ia menggoda (mencobai) manusia, dan dengan jalan ini pula, ia mencobai Hawa.
Ular itu cerdik. Ini berarti ia sangat pandai, licin, dan licik (tidak tulus). Iblis tidak mengambil bentuk kura-kura, karena kura-kura itu bodoh. Orang yang licik (tidak tulus), biasanya juga cerdik karena itu mereka mudah ditunggangi ular. Kita harus ingat dan berhati-hati terhadap segala sesuatu yang tidak tulus, sebab Iblis mungkin saja bersembunyi di belakangnya.

Cara Iblis Mendekati Manusia
Kej. 3:1, 4, 6

Secara lahiriah dapat dikatakan bahwa penyebab kejatuhan manusia kali pertama adalah Iblis. Cara Iblis mendekati Hawa amatlah licik, yakni ia menjelma menjadi makhluk lain, berlaku seolah-olah bukan dia yang datang. Ini adalah tiruan yang licik dari inkarnasi Tuhan. Sebelum Allah berinkarnasi, Iblis telah mendahuluinya secara licik. Dalam Kitab-kitab Injil, kita baru melihat bagaimana Allah berinkarnasi; tetapi Iblis telah berinkarnasi dalam Kejadian pasal tiga. Banyak hal yang hendak Allah lakukan, didahului oleh Iblis dengan cara yang licik. Ini ia lakukan untuk menipu manusia dan menyimpangkan manusia dari tujuan Allah.
Cara lain yang dipakai Iblis untuk menipu dan menggoda adalah dengan memberi usul kepada manusia (Kej. 3:1, 4), usul yang menimbulkan tanda tanya terhadap firman Allah. Iblis selalu berusaha menipu, menggoda, membujuk, dan menjebak kita dengan usul yang menimbulkan keragu-raguan terhadap firman Allah. Kapan saja kita merasa ragu-ragu terhadap firman Allah, kita harus segera sadar bahwa keragu-raguan itu bukan berasal dari kita sendiri, melainkan dari si ular itu. Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah artikel, seorang pendeta Baptis di Amerika Serikat mengatakan, “Tanda tanya berbentuk seperti seekor ular yang berdiri dan bertanya, ‘Benarkah Allah berkata demikian?’” Saudara saudari, kita tidak seharusnya meragukan kata-kata dalam Alkitab, sebaliknya kita harus berkata, “Amin” terhadap setiap firman Allah. Kita akan selamat bila berkata, “Amin”, sebaliknya kita berada dalam kedudukan yang berbahaya bila meragukan firman Allah.
Usul Iblis bukan hanya membuat kita meragukan firman Allah, tetapi juga membuat kita mencurigai hati Allah. Si licik itu bagaikan seekor kalajengking dan usul-usulnya yang menimbulkan keraguan bagaikan racun dalam sengatnya. Ular itu berkata kepada Hawa, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 3:4-5). Perkataan ini adalah racun, bukan hanya membuat Hawa ragu-ragu terhadap firman Allah, juga mencurigai hati Allah (maksud baik Allah). Begitu Hawa memberi respons terhadap ular, maka ia telah tersengat, dan racun terinjeksi ke dalamnya. Karena itu, ketika Hawa memandang pohon pengetahuan, ia merasa bahwa buah pohon yang mematikan itu sangat baik dan sedap untuk dimakan, lagi pula menarik hatinya (Kej. 3:6). Inilah cara Iblis menggoda Hawa. Kita harus sangat waspada terhadap segala bentuk godaannya. Kita jangan memberi kesempatan padanya!

Penerapan:
Perkataan indah memang menyenangkan manusia yang mendengarnya. Tetapi kita harus hati-hati terhadap setiap perkataan yang kita keluarkan. Janganlah bersilat lidah demi menye-nangkan hati orang lain atau keuntungan pribadi, namun bersikaplah jujur. Marilah kembali datang kepada Tuhan, mohon Tuhan memberikan pengu-rapan di setiap perkataan kita sehingga dapat mem-bangun gereja-Nya.

Pokok Doa:
Tuhan berikanlah perkataan yang tepat di dalam mulutku. Pakailah mulutku untuk kepentingan-Mu. Basuhlah mulutku dari kecemaran dengan darah adi-Mu. Jangan biarkan mulutku menjadi tumpuan yang dipakai oleh musuh-Mu tetapi pakailah mulutku untuk membangun gereja-Mu.

10 June 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 4 Sabtu

Tubuh Kristus Hanya Satu
Kejadian 2:24
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Kehendak kekal Allah ialah ingin mendapatkan manusia “korporat” yang berasal dari Kristus, yaitu gereja. Gereja bukanlah sekadar perkumpulan beberapa orang Kristen; gereja adalah masalah hayat, yaitu memiliki Kristus yang sama. Kita harus memperhatikan bahwa manusia yang diinginkan Allah bukanlah manusia individual. Dalam pandangan Allah, hanya ada satu Kristus dan satu gereja. Allah hanya melihat dua manusia di dunia ini. Adam adalah manusia yang pertama, dan Kristus adalah manusia yang terakhir (1 Kor. 15:45). Tidak ada yang lain. Tubuh Kristus, sama seperti Hawa, hanya satu, bukan banyak!
Satu Korintus 10:17 mengatakan, “Maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” Rasul Paulus dengan jelas mengatakan bahwa roti ini mewakili Tubuh Kristus, yaitu segenap gereja. Walaupun kita banyak, Tubuh itu satu. Gereja bukanlah individu “aku” ditambah dengan individu “kamu”, bahkan bukan “semua orang” Kristen yang disatukan di seluruh dunia ini. Gereja adalah Kristus di dalam kita, Kristus di dalam dia, dan Kristus di dalam semua orang Kristen yang dipersatukan, di seluruh dunia ini, sepanjang abad. Manusia alamiah kita tidak ada hubungannya dengan gereja.
Karena alasan inilah maka semua perpecahan dan individualisme harus disingkirkan. Sampai di sini, kita membutuhkan dua wahyu: yang pertama, bahwa Tubuh itu satu; yang kedua, bahwa aku adalah sebagian dari Tubuh itu, aku adalah anggota Tubuh itu. Sebagai anggota tubuh, kita tidak seharusnya membenarkan diri kita sendiri, atau beranggapan bahwa sebagai anggota tunggal, kita dapat menjadi unit yang utuh.

Kita Hanyalah Salah Satu Anggota Tubuh
Ef. 1:23; 1 Kor. 1:12-13; Rm. 12:4-5

Karena Allah ingin mendapatkan manusia korporat, maka walaupun kita telah memiliki hayat Allah di dalam diri kita, Allah masih perlu bekerja di dalam kita untuk menghancurkan individualisme kita. Allah harus menghancurkan pemikiran bahwa “aku sendiri sudah cukup”. Hanya ada satu Hawa; demikian juga hanya ada satu Tubuh Kristus. Semua anak Allah, yang ikut berbagian dalam hayat Kristus, bukanlah banyak individu laki-laki dan perempuan, melainkan harus menjadi satu manusia. Ia harus meremukkan kita hari demi hari sampai kita mengenal hayat Tubuh.
Karena itu, setiap orang Kristen harus menuntut hayat Tubuh. Jika kita tidak menuntut hayat Tubuh, kita tidak dapat menuntut hayat mempelai perempuan. Jangan sekali-kali berpikir, tidak ada bedanya apakah kita mengalami hayat Tubuh atau tidak. Jika kita melihat lambang dalam Kejadian pasal dua, kita akan nampak hubungan antara tubuh dan mempelai perempuan. Hawa dibuat dari tulang rusuk Adam, karena itu ia adalah tubuh Adam. Karena sebagian tubuh Adam digunakan untuk membuat Hawa, maka kedudukan Hawa adalah tubuh Adam. Tetapi setelah Hawa diciptakan, Allah membawanya kepada Adam, dan ia menjadi mempelai perempuan Adam. Inilah hubungan antara tubuh dan mempelai perempuan. Apa yang berasal dari Adam adalah tubuh Adam, dan apa yang dibawa kepada Adam adalah mempelai perempuannya. Saat ini gereja adalah Tubuh Kristus, tetapi di masa kelak gereja akan menjadi mempelai perempuan Kristus. Saat ini gereja adalah Tubuh Kristus, untuk mengekspresikan hayat Kristus. Suatu hari kelak, ketika hayat gereja sudah matang, Allah akan membawa gereja yang rohani kepada Kristus, dan pada hari itu, gereja akan menjadi mempelai perempuan Kristus.
Kita harus tahu bahwa jika pada hari ini kita mendapatkan hayat Tubuh, pada masa kelak, kita akan mendapatkan hayat mempelai perempuan. Semua orang Kristen harus mengenal Tubuh Kristus. Seorang Kristen harus tahu bahwa ia hanya salah satu anggota dari satu Tubuh. Allah ingin mendapatkan satu Tubuh, bukan banyak orang Kristen yang berdiri sendiri-sendiri dan terisolasi. Yang dirindukan Allah adalah Hawa yang utuh, bukan sebuah tangan di sini dan sebuah kaki di sana. Allah harus mendapatkan Hawa sebagai manusia yang utuh, demikian baru berguna bagi-Nya dan kelak baru bisa menjadi mempelai-Nya.
Kita harus tahu bahwa rintangan terbesar terhadap kehendak Allah bukanlah perpecahan yang luaran, tetapi diri kita sendiri, manusia individual, yang tidak mengenal hayat Tubuh.

Penerapan:
Individualisme adalah penghalang terbangunnya gereja, Tubuh Kristus. Keindividuan kita perlu diremukkan dari hari ke hari. Jangan memberi kesempatan terhadapnya. Belajarlah untuk mengesampingkan opini alamiah, kepentingan pribadi yang dapat menghancurkan Tubuh Kristus.

Pokok Doa:
Tuhan bawalah aku untuk meletakkan opiniku yang usang, mengesampingkan keinginan pribadiku. Tuhan ampunilah aku yang begitu alamiah ini. Tuhan aku tidak mau menjadi perusak gereja tetapi aku mau menjadi pembangun gereja.

09 June 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 4 Jumat

Bersatu Dengan Kristus (1)
Kejadian 2:23-24
“Lalu berkatalah manusia itu: ‘Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.’ Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Bukan pertobatan yang membuat kita menjadi bagian dari gereja; bukan pengakuan dosa yang membuat kita menjadi bagian dari gereja; juga bukan percaya yang membuat kita menjadi bagian dari gereja, melainkan Kristus menaruh hayat-Nya ke dalam kita, inilah yang membuat kita menjadi bagian dari gereja. Dasar kita menjadi bagian dari gereja adalah kelahiran baru kita. Pada saat dilahirkan kembali, kita menerima Kristus sebagai hayat, diri Tuhan sendiri, di dalam kita.
Karena Kristus telah memberikan diri-Nya kepada kita, maka kita perlu hidup dan berperilaku menurut hayat Kristus ini. Inilah yang dimaksud hidup bersatu dengan Kristus. Allah tidak dapat melakukan lebih dari pada ini untuk kita. Ia telah memberikan Putra-Nya kepada kita, sehingga kita semua dapat menikmati hayat Kristus. Walaupun kita hanya bejana tanah liat, namun ada harta mustika di dalam diri kita. Karena itu, tidak ada sesuatu apa pun yang dapat menggoncangkan kita. Jika kita berperilaku menurut diri sendiri, kita ada di luar gereja. Segala sesuatu selain bagian dari Kristus yang ada di dalam diri kita, bukanlah gereja; itu hanyalah diri kita sendiri. Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: berdasarkan apa dan dari sumber mana kita melayani Tuhan, melakukan pekerjaan-Nya, menuntut hal-hal rohani, dan menempuh jalan rohani? Segala sesuatu kita lakukan berdasarkan Kristus atau diri sendiri? Jika kita melakukan segala sesuatu berdasarkan Kristus, kita dapat merampungkan tujuan Allah. Jika kita melakukan segala sesuatu berdasarkan diri sendiri, sekalipun kita dapat melakukannya dengan baik, itu hanyalah yang bumiah, tidak dapat merampungkan kehendak kekal Allah.

Bersatu Dengan Kristus (2)
1 Kor. 2:2-4; Yoh. 3:6

Banyak orang berkata bahwa mereka hendak mempersembahkan segala miliknya untuk dipakai oleh Tuhan. Tetapi Allah tidak dapat menerima apa pun yang berasal dari diri manusia. Allah tidak dapat mengambil atau menggunakan apa pun yang berasal dari manusia sendiri. Saudara saudari, kita jangan melakukan kesalahan yang serius kerena berpendapat asalkan kita menyerahkan diri kepada Tuhan, bersama-sama dengan kemampuan, bakat, dan segala sesuatu yang kita miliki, segalanya akan beres. Tetapi, kita harus ingat, Kristus hanya mau menerima apa yang berasal dari diri-Nya sendiri.
Kita mungkin berkata, “Di antara rasul-rasul, bukankah ada Paulus? Bukankah ia berpendidikan? Bukankah ia orang yang sangat pandai?” Tetapi kita harus ingat kata-kata yang Paulus ucapkan tentang dirinya sendiri, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh” (1 Kor. 2:2-4). Dalam gereja hanya ada satu hal yang diakui — yang berasal dari Kristus. Hanya yang berasal dari Kristus dapat kembali kepada Kristus. Bahan untuk membangun mempelai perempuan ini adalah Kristus sendiri.
Allah tidak pernah menggunakan ciptaan lama, apa yang berasal dari manusia, untuk membangun apa yang berasal dari Allah. Ia sama sekali tidak mungkin menggunakan hal-hal apa pun yang bersifat daging untuk menghasilkan sesuatu yang rohani. Semua perkara adalah masalah sumber. Hanya pekerjaan yang dilakukan dari roh dapat menghasilkan roh. Masalahnya di sini bukanlah apakah sasaran atau tujuannya benar, tetapi bagaimana prosesnya. Manusia selalu berpikir asalkan tujuannya benar, segala sesuatu yang lain juga benar. Tetapi Allah tidak hanya bertanya apakah tujuannya benar, Ia juga bertanya bagaimana kita melakukannya. Kemampuan dan kepandaian alamiah manusia, yang belum dibereskan di salib, tidak ada manfaat rohaninya. Tuhan berkata, “Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging.”
Jadi, yang penting bukan hanya memiliki tujuan rohani saja, prosesnya, caranya, bahkan manusianya sendiri pun juga harus rohani. Yang diminta oleh Allah ialah semua berasal dari Kristus, semua dilahirkan dari roh. Hanya apa yang berasal dari Adam, bukan dari tanah, yang dapat disebut Hawa, dan hanya apa yang berasal dari Kristus dapat disebut gereja. Segala sesuatu yang tidak berasal dari Kristus, tidak ada hubungannya dengan gereja.

Penerapan:
Jika kita bekerja menurut diri kita sendiri, kita tidak mengerjakan pekerjaan Allah. Kita harus tahu bahwa yang diperhatikan Allah adalah masalah sumber, bukan masalah baik atau buruk. Pelajaran yang pertama adalah, kita menolak segala sesuatu yang berasal dari diri sendiri, dan pelajaran yang terakhir adalah, kita masih tetap harus menolak segala sesuatu yang berasal dari diri sendiri.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, Engkau adalah kebenaran yang sejati dan sumber kebenaran. Aku mengakui dalam usaha dan pelayananku terhadap sesama, seringkali bukan bersumber dari-Mu, tetapi dari ide dan caraku sendiri. Tuhan Yesus, ampunilah aku dan bawalah aku mengalami Engkau sebagai Sang sumber.

08 June 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 4 Kamis

Dari Tulang Rusuk Adam (1)

Kejadian 2:22
“Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.”

Ketika Adam tidur nyenyak, Allah mengambil sebuah tulang rusuk darinya. Demikian pula, ketika Kristus mati, sesuatu juga terjadi pada lambung-Nya (lih. Yoh. 19:31-37). Seorang prajurit menikam lambung Tuhan, keluarlah air dan darah. Darah adalah untuk penebusan, sedangkan air adalah untuk pengaliran diri Tuhan ke dalam kita, hingga kita memiliki unsur baru, yaitu hayat kekal, diri Tuhan sendiri di dalam kita. Inilah unsur yang membentuk gereja.
Dengan sangat jelas dikatakan di sini bahwa setiap makhluk yang diciptakan dari tanah, yang tidak diambil dari tubuh Adam, tidak dapat menjadi jodoh Adam. Semua binatang hutan, ternak, dan burung di udara diciptakan dari tanah, mereka tidak diambil dari tubuh Adam, mereka tidak dapat menjadi jodoh Adam. Kita harus ingat bahwa Hawa dibentuk dari tulang rusuk Adam; Adam adalah bahan untuk menciptakan Hawa.
Demikian juga, gereja berasal dari Kristus. Gereja bukan dibuat dari debu tanah. Hanya yang berasal dari Kristus barulah gereja, yang tidak berasal dari Kristus bukan gereja. Jadi apakah gereja itu? Gereja adalah bagian yang diambil dari Kristus. Gereja adalah bentuk lain dari Kristus. Tanpa Kristus, gereja tidak memiliki kedudukan, tidak memiliki hayat, tidak memiliki kehidupan, dan tidak memiliki eksistensi.
Talenta manusia, kemampuan manusia, pemikiran manusia, kekuatan manusia, dan segala sesuatu milik manusia, itu di luar gereja. Segala sesuatu yang berasal dari manusia alamiah, bukan gereja. Hanya apa yang berasal dari Kristus barulah gereja.

Dari Tulang Rusuk Adam (2)
Kej. 2:22

Haruslah berasal dari Kristus, baru terhitung sebagai gereja. Segala sesuatu yang tidak berasal dari Kristus, tidak ada hubungannya dengan gereja.
Ada orang sangat fasih berbicara sebelum mereka percaya. Sekarang, setelah lahir baru, mereka hanya perlu mengubah pokok pembicaraannya dan mulai berkhotbah. Tetapi kita tidak seharusnya merasa puas bahwa orang-orang itu dapat berkhotbah dengan baik. Sebaliknya, kita harus bertanya: Dari sumber manakah kefasihan mereka? Apakah kefasihan itu telah dibereskan oleh salib? Jika kefasihan semacam itu adalah sesuatu yang mereka miliki sejak awal dan belum pernah dibereskan oleh salib, berarti itu sepenuhnya dari sifat mereka sendiri. Kefasihan yang mereka bawa ke dalam gereja tidak lain adalah sesuatu dari Adam yang bersifat bumiah. Gereja akan diruntuhkan oleh orang-orang semacam ini. Hanya apa yang berasal dari Kristus adalah gereja, bukan apa pun yang berasal dari sifat manusia.
Ada orang sangat pandai, otak mereka sangat cemerlang. Sebelum diselamatkan, mereka menggunakan pikiran mereka untuk belajar filsafat, ilmu pengetahuan, dan kesusastraan. Setelah beroleh selamat, mereka begitu saja menggunakan pikiran mereka untuk mempelajari firman Allah. Kita harus bertanya, dari mana asalnya otak yang cemerlang ini? Sudahkah melewati penanggulangan salib? Apakah pikiran ini di bawah kuasa Roh Kudus? Atau apakah ini pikiran yang mereka miliki sejak semula? Jika memang sudah ada sejak semula, pikiran ini hanyalah sesuatu yang berasal dari Adam yang bumiah, dari diri manusia sendiri, dari sifat manusia, berasal dari daging. Walaupun orang-orang ini telah mengubah pokok pembicaraannya, namun pikiran mereka masih tetap pikiran lama yang sama! Dan ketika mereka menggunakan pikiran ini untuk mempelajari Alkitab, bukannya membantu gereja, malahan akan merugikan gereja. Hanya apa yang berasal dari Kristus yang dapat menjadi gereja. Segala sesuatu yang berasal dari manusia, bukan gereja.
Allah harus membereskan kita sedemikian rupa sehingga segala sesuatu dari sifat manusia kita dapat dikendalikan. Kekuatan alamiah kita harus dibereskan oleh salib dan ditaklukkan di bawah pengendalian Roh Kudus. Hanya dengan demikianlah kita tidak akan merugikan gereja. Segala sesuatu yang berasal dari hayat alamiah Adam, yang dibuat dari tanah, tidak diinginkan oleh Allah. Hanya apa yang dibuat dari tulang rusuk Adam adalah Hawa (tulang mengacu kepada hayat kebangkitan. Karena itu, ketika Tuhan disalibkan, tidak ada satu pun tulang-Nya yang dipatahkan). Yang dibentuk dari hayat kebangkitan Kristus, barulah gereja.

Penerapan:
Kedambaan hati Allah adalah mendapatkan gereja yang berasal dari Kristus yang semuanya juga untuk Kristus. Ketika kita berkidung, berdoa, membagi nikmat, siapakah yang dipuaskan? Renungkanlah setiap apa yang kita lakukan baik besar maupun kecil. Mari kita melakukan dengan sungguh-sungguh bukan bersandar pada kemampuan, kepandaian, bakat alamiah kita tetapi dengan Allah dan untuk kemuliaan Allah.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, semua karena Engkau. Tanpa Engkau, kami tidak memiliki hayat; tanpa Engkau, kami tidak bereksistensi; tanpa Engkau, kami tidak berarti apa pun; kami berasal dari-Mu.

07 June 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 4 Rabu

Kematian Yang Mengalirkan Hayat
Kejadian 2:21
“Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.”

Allah membangun gereja dari kematian Kristus. Mengenai kematian Kristus, kata-kata yang digunakan dalam Kejadian pasal dua sangat khusus. Ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah membuat Adam mati, melainkan Allah membuatnya tidur nyenyak.
Kematian Kristus meliputi dua aspek besar, yaitu penebusan dan pengaliran hayat. Penebusan adalah aspek negatif yang berkaitan dengan dosa-dosa kita. Kita telah berdosa dan pantas mati, kematian Kristus menggenapkan penebusan untuk kita. Pengaliran hayat adalah aspek positif yang tidak berkaitan dengan dosa. Setelah menebus kita, Tuhan Yesus memberikan diri-Nya sendiri kepada kita, supaya melalui kematian-Nya kita bisa mendapatkan hayat kekal. Karena adanya dua aspek yang berbeda dalam kematian Kristus, Alkitab menggunakan dua zat yang berbeda untuk melambangkannya. Untuk penebusan digunakan darah; dan untuk pengaliran hayat digunakan air yang melambangkan Tuhan sendiri sebagai hayat.
Jadi, dalam kematian Kristus, ada satu bagian yang bukan untuk penebusan, melainkan untuk pengaliran diri-Nya sendiri guna menghasilkan gereja. Ini tidak ada hubungannya dengan dosa. Allah mengambil sesuatu dari Kristus dan menggunakannya untuk membangun gereja. Jadi “tidur nyenyak” digunakan untuk melambangkan kematian Kristus yang menyebabkan manusia beroleh hayat.
Catatan Tim Penyusun: Perlu digarisbawahi, kami tidak mengatakan bahwa kematian Kristus bukan untuk penebusan; kami sangat mengapresiasi dan mempercayai aspek penebusan kematian Kristus.

Kematian-Nya Bagi Gereja
Kej. 2:21-23; Ef. 5:25

Efesus 5:25 mengatakan, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Dalam ayat ini, kita perlu memperhatikan tiga hal:
Pertama, Kristus menyerahkan diri-Nya bagi kita, karena kita adalah gereja. Roma pasal lima berbicara tentang Kristus yang mati untuk orang-orang berdosa. Tetapi, Efesus pasal lima tidak berhubungan dengan masalah orang berdosa, melainkan masalah gereja. Konteks dari Efesus pasal lima bukanlah Kristus datang dan mati untuk kita karena kita adalah orang-orang berdosa, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya bagi kita karena kita adalah gereja.
Kedua, Kristus menyerahkan diri-Nya bagi kita, karena Ia mengasihi kita, bukan karena kita telah berdosa. Satu Korintus pasal lima belas mengatakan bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa kita, tetapi di sini dikatakan bahwa Kristus mengasihi gereja dan menyerahkan diri-Nya bagi gereja. Ia menyerahkan diri-Nya karena kasih, bukan karena dosa-dosa kita. Mati untuk dosa sama sekali berbeda dengan mati demi kasih. Mati untuk dosa berkaitan dengan penebusan. Tetapi Kristus memberikan diri-Nya kepada kita karena kasih. Dosa tidak terlibat di sini. Haleluya! Aspek kematian-Nya yang ini, sepenuhnya karena kasih dan tidak ada kaitannya dengan dosa.
Ketiga, Kristus menyerahkan diri-Nya bagi kita, bukan mati untuk dosa-dosa kita, melainkan memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. Ayat ini dapat diterjemahkan, “Kristus mengasihi gereja dan memberikan diri-Nya kepada gereja.” Adam memberikan tulangnya kepada Hawa; demikian juga, Kristus telah memberikan diri-Nya kepada kita. Karena Ia mati, kita memiliki-Nya di dalam diri kita; Ia telah masuk ke dalam diri kita. Karena Ia mati, sekarang kita memiliki hayat-Nya di dalam diri kita. Kristus telah memberikan diri-Nya sendiri kepada kita.
Mari kita renungkan, tidakkah ini menakjubkan? Dari sudut pandang Allah, gereja tidak pernah berdosa dan belum pernah berhubungan dengan dosa. Memang Allah tahu bahwa manusia telah jatuh dan perlu ditebus, tetapi sungguh ajaib, di pihak lain, Ia tidak nampak dosa sama sekali.
Kita juga perlu merenungkan betapa Dia mengasihi kita! Haleluya, dia mengasihi kita! Dia mengasihi kita! Oh, kita perlu ribuan kali mengucapkan kalimat ini dengan penuh syukur.
Selain itu kita juga harus sadar bahwa Dia memberikan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Bukan sesuatu dari Dia, tapi diri-Nya sendiri yang diberikan!

Penerapan:
Sering kali kita hanya bersyukur untuk kematian Kristus yang menebus kita dari dosa-dosa kita. Sekarang, kita juga perlu bersyukur kepada Tuhan untuk pengaliran diri-Nya ke dalam diri kita. Kita perlu merenungkan, alangkah luar biasa kematian-Nya. Karena kematian-Nya telah merampungkan sesuatu yang luar biasa, di luar dugaan kita, yaitu membuat kita menjadi gereja-Nya.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku bersyukur karena memiliki diri-Mu sebagai hayat di dalamku. Terima kasih Tuhan, walaupun aku begitu buruk dan tidak layak, Engkau mau menjadi hayatku.

06 June 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 4 Selasa

Mencari Pasangan Yang Sepadan
Kejadian 2:19
“Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.”

Setelah TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara, dibawa-Nyalah semuanya itu kepada Adam. Sewaktu Allah membawa seekor kuda kepada Adam, mungkin Adam berkata, “Ini adalah kuda. Binatang ini tak sepadan denganku, sebab ia mempunyai empat kaki, sedang aku hanya dua.” Ketika Allah membawa seekor banteng ke hadapan Adam, mungkin Adam berkata, “Ini adalah banteng. Dia mempunyai dua tanduk. Itu tidak sepadan denganku dan mustahil menjadi pasanganku.” Allah membawa setiap macam makhluk ciptaan-Nya kepada Adam dan Adam memberi nama kepada semua makhluk itu, kepada burung-burung di udara, dan semua binatang satwa, namun di antara semua itu, baginya sendiri ia tidak menemukan pasangan yang sepadan dengan dirinya (Kej. 2:20).
Menurut prinsip yang ditentukan oleh Allah bagi pernikahan, harus ada kesepadanan dalam hayat dan sifat (Kej. 2:19-23). Adam tidak dapat menemukan pasangannya di antara binatang-binatang karena mereka tidak sepadan dengannya dalam hayat, sifat, atau tujuan. Orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan tidak memiliki hayat, sifat, atau tujuan seperti kaum beriman, dan kita tidak seharusnya berada di bawah kuk yang tidak seimbang dengan menikahi orang yang tidak percaya (1 Kor. 7:39; 2 Kor. 6:14). Sebaliknya, kita harus berada di bawah kuk yang seimbang, yaitu kita dengan pasangan kita memiliki tujuan, sasaran, dan hati yang sama bagi Tuhan (Mat. 19:6).

Pasangan Yang Sepadan
2 Kor. 6:14; Ul. 7:3-4; Yos. 23:12-13;Neh. 13:23-27

Rasul Paulus dalam suratnya kepada kaum beriman di Korintus mengatakan, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Kor. 6:14). Paulus menjelaskan kepada kita bahwa orang-orang yang percaya tidak dapat berpasangan dengan orang-orang yang tidak percaya, atau orang percaya tidak dapat memikul satu kuk dengan orang yang tidak percaya. Allah tidak memperkenan keadaan seperti ini.
Dalam Perjanjian Lama, Allah tidak memperkenan seekor lembu mengenakan satu kuk dengan seekor kuda untuk membajak ladang; demikian pula seekor keledai dengan seekor kuda. Tidak boleh yang satu ke kanan, yang satu ke kiri, yang satu ke surga, yang satu ke dunia, yang satu ingin mendapat berkat rohani, yang satu ingin mendapat kekayaan duniawi. Jika yang satu menghela ke kanan, yang satu menghela ke kiri, maka kuk ini pasti akan patah. Jika orang yang percaya dengan orang tidak percaya bersama-sama menanggung kewajiban keluarga, akibatnya pasti sangat sulit. Sebab itu, pasangan yang paling ideal seharusnya adalah saudara dan saudari dalam Tuhan.
Dalam Kitab Ulangan 7:3-4, kita nampak bahwa umat Allah tidak boleh menikah dengan orang Kanaan; anak perempuan Israel tidak boleh dinikahkan dengan anak laki-laki mereka, anak laki-laki Israel tidak boleh menikahi anak perempuan mereka. Sebab mereka akan membuat orang-orang Israel berpaling sehingga tidak mengikuti Tuhan, bahkan melayani ilah lain. Seorang istri mengikuti suaminya menyembah berhala itu sangat mudah, demikian pula seorang suami.
Dalam Kitab Yosua 23:12-13, orang-orang Israel sekali lagi diperingatkan oleh Allah agar jangan menikah dengan orang-orang Kanaan. Mereka akan menjadi suatu jerat dan menjadi duri di atas tubuh orang-orang Israel. Kemudian dalam Kitab Nehemia 13:23-27, mereka diperintahkan untuk memutuskan sama sekali hubungan mereka dengan perempuan-perempuan kafir, dan melarang mereka bergaul dengan perempuan-perempuan kafir itu. Di sini kita nampak, menikah dengan perempuan kafir akan mengundang satu kesulitan, yakni anak-anak yang kita lahirkan, cepat atau lambat, akan mengikuti jejak mereka, dan mereka tidak dapat melayani Allah bersama-sama kita. Jika kita menikah dengan orang kafir, mudah sekali anak-anak kita mengikuti jejak mereka, jatuh ke dalam dunia. Ini sungguh suatu perkara yang serius!

Penerapan:
Renungkanlah sejenak: Apakah tujuan Allah merupakan tujuan kita juga? Mampukah kita mengatakan bahwa kita dan seisi keluarga kita adalah untuk penggenapan tujuan Allah? Kesepadanan kita dengan Allah tercermin dalam konsepsi, sikap, dan kehidupan kita sehari-hari. Bila dalam hal-hal tersebut kita selaras dengan Allah, maka proses pengubahan kita ke dalam gambar Kristus akan semakin dipercepat.

Pokok Doa:
Ya Tuhan, aku mengakui bahwa dalam banyak hal aku tidak bersesuaian dengan firman-Mu. Ampunilah aku yang sering melanggar kekudusan dan kebenaran-Mu. Aku mohon berilah terang-Mu dan sorotilah aku agar aku bertobat dan memiliki permulaan baru. Ubahlah aku sehingga aku sepadan dengan-Mu.

05 June 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 4 Senin

Tidak Baik Seorang Diri Saja
Kejadian 2:18
“TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’”

Setelah manusia diciptakan, Allah berfirman, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya” (Kej. 2:18). Sekalipun manusia diciptakan sempurna, tetapi belum lengkap. Setiap orang bagaikan belahan semangka yang hanya separuh. Meskipun sempurna, tetapi tetap memerlukan pasangan agar menjadi lengkap. Jika dua belahan semangka disatukan, barulah menjadi semangka yang lengkap utuh. Karena itu, ketika melihat Adam, Allah seolah-olah berkata, “Adam, engkau sempurna, tetapi engkau hanya setengah unit. Engkau terlalu kesepian. Aku akan menjadikan seorang penolong bagimu, Aku akan menjadikan pasangan yang sepadan denganmu.”
Apa yang Allah katakan di sini mirip dengan yang dikatakan oleh Salomo dalam Pengkhotbah 4:9a, “Berdua lebih baik dari pada seorang diri.” Ini menunjukkan bahwa manusia benar-benar membutuhkan seorang penolong agar dapat menjadi lengkap dan utuh. Dengan kata lain, Allah ingin mendapatkan Adam dan Hawa. Tujuan Allah adalah ingin mendapatkan Kristus dan gereja.
Adam melambangkan Allah di dalam Kristus sebagai suami universal yang sejati yang sedang mencari seorang istri bagi diri-Nya sendiri (Rm. 5:14; bd. Yes. 54:5; Yoh. 3:29; 2 Kor. 11:2; Ef. 5:31-32; Why. 19:7; 21:9). Karena itu, langkah prosedur Allah selanjutnya untuk menggenapkan tujuan-Nya adalah menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia dan membuat manusia menjadi pelengkap-Nya. Haleluya untuk gambar yang luar biasa di Kejadian pasal dua.

Suatu Kiasan
Yes. 54:5; 2 Kor. 11:2; Ef. 5:32

Akhir pembicaraan Kejadian 2 mudah dimengerti, karena berhubungan dengan cerita pernikahan. Adam telah diciptakan, tetapi ia belum mempunyai istri. Kemudian Allah memberinya seorang istri. Ini sepertinya bukan kiasan. Namun, jika kita membaca Alkitab secara keseluruhan, kita akan mengerti bahwa pernikahan yang terdapat dalam Kejadian pasal dua sesungguhnya adalah suatu kiasan. Mengapa kita berkata demikian? Sebab, selanjutnya dalam Perjanjian Lama, Allah bersabda kepada umat-Nya, “Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau” (Yes. 54:5). Jadi, pencipta manusia adalah suami manusia. Ini berarti di dalam alam semesta ini satu-satunya laki-laki adalah Allah sendiri. Maka jika kita melihat dari sudut pengertian rohani berdasarkan Yesaya 54:5, semua manusia adalah perempuan. Pertama-tama, Allah adalah pencipta kita. Kemudian, Ia menjadi penebus kita. Sekarang, Ia adalah suami kita.
Konsep ini secara sepenuhnya berkembang dan dijelaskan dalam Perjanjian Baru. Walaupun banyak orang mengira Yesus Kristus adalah guru yang agung, dan yang lain memandang Dia sebagai Juruselamat mereka, namun keempat kitab Injil juga mewahyukan Dia sebagai mempelai laki-laki. Memang tidak dapat disangsikan bahwa Dia adalah guru dan Juruselamat. Tetapi, Dia juga mempelai laki-laki yang datang untuk memperoleh mempelai perempuan (Yoh. 3:29). Selain itu, Paulus, rasul yang terbesar, dengan jelas mengatakan kepada kita bahwa gereja ialah istri dan Kristus ialah suami. Dalam 2 Korintus 11:2 ia mengatakan, “Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Jadi, kita adalah istri Kristus. Selain itu, dalam Efesus pasal 5, saat membicarakan tentang pernikahan, bahwa laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging, Paulus selanjutnya mengungkapkan bahwa pernikahan itu mengacu kepada rahasia besar yang berkaitan dengan Kristus dan gereja (Ef. 5:1-32).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka laki-laki adalah lambang Allah sebagai suami universal yang sejati. Sebelum Allah memperoleh manusia yang tepat, Ia masih sendirian. Dan Allah merasa tidak baik kalau sendirian saja. Sekalipun Allah mutlak dan selamanya sempurna, namun tanpa gereja, Ia merasa belum lengkap. Oleh karena itu, ketika Allah mengatakan bahwa tidak baik bagi Adam jika ia sendirian saja, itu berarti Allah sedang mengekspresikan perasaannya sendiri. Adam memerlukan seorang istri, melambangkan dan menggambarkan bahwa Allah perlu mempunyai pasangan. Jika kita melihat hal ini, maka setiap aspek dalam Kejadian pasal dua akan terlihat dengan jelas.

Penerapan:
Allah tidak dapat sendirian. Dia memerlukan manusia – gereja-Nya sebagai pasangan-Nya. Dalam kehidupan kita, sudahkah kita mengekspresikan bahwa kita adalah pasangan Allah? Apakah motivasi pelayanan kita? Kasih akan Allah atau yang lain? Bagaimanakah doa kita? Hanya memohon banyak berkat ataukah mengungkapkan kasih kita kepada-Nya?

Pokok Doa:
Ya Tuhan, aku bersyukur atas rahasia besar yang telah Engkau singkapkan. Terima kasih ya Tuhan, Engkau menjadikanku pasangan-Mu. Tuhan, pimpinlah aku agar dapat menempuh hidup sesuai dengan tujuan-Mu.

03 June 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 3 Sabtu

Pengetahuan Membuat Sombong
Kejadian 2:17
“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Dalam 1 Korintus 8:1, Paulus mengatakan bahwa pengetahuan membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. Pengetahuan yang membuat orang menjadi sombong pastilah berasal dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Kesombongan paling mudah membuat kita merdeka terhadap Allah, dan kesombongan itu sendiri seringkali berasal dari pengetahuan yang kita miliki. Karena kehebatannya, Lucifer menjadi sombong, tidak merasa perlu bergantung kepada Allah. Sebagai akibatnya, ia menuai kebinasaan. Dalam 1 Timotius 3:6, Paulus sekali lagi mengingatkan kita agar tidak sombong. Ia mengatakan bahwa kesombongan dapat membuat kita jatuh ke dalam hukuman Iblis.
Mari kita renungkan contoh berikut ini. Mungkin kita telah cukup banyak membaca Alkitab sedemikian rupa sehingga cukup hafal dengan fakta-fakta di dalamnya. Fakta-fakta itu bisa jadi telah menjadi pengetahuan di dalam otak kita. Namun apakah yang Tuhan katakan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat? Tuhan mengatakan, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup (hayat - TL.) itu” (Yoh. 5:39-40). Inilah merdeka terhadap Tuhan. Pengetahuan tanpa Kristus hanyalah hukum-hukum yang mematikan, tetapi Roh menghidupkan (2 Kor. 3:6). Menyelidiki Kitab suci tanpa datang kepada Kristus berarti menjadikan Kitab suci sebagai pohon pengetahuan dan itu mematikan.

Suatu Peringatan
Kej. 2:17; 2 Kor. 3:6

Kejadian 2:17 menunjukkan kepada kita bahwa Allah memberi suatu peringatan kepada manusia dan juga suatu larangan. Allah ingin manusia datang dan bersekutu dengan-Nya untuk menerima hayat. Ia melarang kita mencari hal-hal di luar diri-Nya karena itu mendatangkan maut. Allah seolah-olah memberi tahu Adam dan Hawa, “Janganlah berkontak dengan pohon pengetahuan — berkontaklah dengan pohon hayat. Kapan kau makan buah pohon hayat, niscaya Akulah yang kau terima, sehingga kau memiliki hayat-Ku. Kapan kau makan buah pohon pengetahuan, kau akan menerima Iblis beserta kematian.”
Ini bukan sekadar suatu perintah, tetapi juga suatu peringatan. Kita wajib mengenal, di dalam alam semesta hanya ada dua sumber: yang pertama adalah sumber hayat, yang kedua adalah sumber maut. Kita harus sangat berhati-hati terhadap sumber yang kita kontaki. Jika kita mengontak Allah, kita memiliki sumber hayat sehingga menerima hayat. Jika kita mengontak Iblis, kita memiliki sumber maut sehingga menerima maut.
Maut itu licik dan berselubung. Maut tidak muncul dengan terang-terangan sebagai maut, namun sebagai pengetahuan. Pengetahuan adalah maut. Setiap orang menyukai pengetahuan. Banyak orang Kristen yang juga “rakus” akan pengetahuan. Sekali pun kata pengetahuan itu sendiri merupakan sebutan yang bagus, tetapi di belakang dan di bawah pengetahuan itu adalah maut. Huruf-huruf itu mematikan sebab huruf adalah pengetahuan (2 Kor. 3:6). Huruf-huruf dalam Alkitab juga mematikan bila itu terpisah dari Allah yang hidup.
Mari kita mencerna syair sebuah kidung yang menguraikan bagaimana seharusnya sikap kita saat datang kepada firman Tuhan:
1. Firman bukan pengetahuan, melainkan suplaikan hayat
Menyingkapkan pikiran-Nya, agar Allah di dapat
Mewahyukan maksud Allah, Tuhan hayat datanglah
Bukan sekadar ajaran, tapi suplaikan Tuhan
2. Membaca huruf belaka, itu pengetahuan
Demi roh berdoa baca, itu hayat, realitas
Huruf dan pengetahuan, datangkan kematian
Dalam roh men’rima firman - hayat dan menghidupkan
3. Baca tanpa jamah Tuhan, itu paham nan hampa
Di dalam roh jamah Kristus, t’rima makanan hayat
Baca tanpa jamah Tuhan, otak s’mata mendapat
Doa-baca jamah Kristus, t’rima hayat nan limpah

Penerapan:
Kita selalu berada dalam pilihan prinsip ini, yaitu prinsip hayat dan prinsip pengetahuan baik dan jahat. Satu hal yang perlu kita lakukan adalah mengikatkan diri pada-Nya, seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 6:17, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia”.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, jagalah aku tetap bergantung pada-Mu. Jangan biarkan aku merdeka dari-Mu. Tuhan ingatkan aku setiap saat untuk hidup bersandar kepada-Mu. Singkirkanlah segala selubung dan sekatan yang menghalangi hubungan antara aku dan Engkau.

02 June 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 3 Jumat

Prinsip Pohon Pengetahuan (1)
Kejadian 2:17
“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Kita memiliki dua prinsip kehidupan yang berbeda, yaitu hidup berdasarkan prinsip pohon hayat atau hidup berdasarkan prinsip pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Apakah yang dimaksud dengan hidup berdasarkan prinsip pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat? Ini adalah hidup berdasarkan prinsip benar dan salah.
Apakah yang dimaksud mengikuti prinsip benar dan salah? Ini berarti, ketika kita hidup sebagai manusia, kita akan mengajukan pertanyaan, “Benar atau salahkah jika aku berbuat demikian?” “Baik atau jahatkah jika aku melakukan ini?” Bolehkah aku melakukan perbuatan ini? Akhirnya kita berkata, “Perkara ini baik, benar,” lalu kita melakukannya. Kita mengira dengan berbuat demikian kita adalah orang Kristen yang baik, karena kita telah memilih yang baik.
Di depan Allah kita harus belajar sebuah pelajaran yang berharga yaitu tidak berhenti pada standar benar dan salah. Meskipun standar ini baik; tetapi di atas diri orang Kristen, itu masih belum cukup. Hayat orang Kristen melampaui standar benar dan salah. Perkara yang salah, itu tentu salah; tetapi perkara yang benar, belum tentu sungguh-sungguh benar.
Yang Allah cari bukanlah good-man (manusia yang hidup berdasarkan prinsip benar dan salah), yang Allah cari adalah God-man (manusia yang hidup berdasarkan diri Allah sendiri). Allah memperhatikan siapa yang berbuat baik, kita ataukah Kristus? Allah tidak menganggap sudah cukup asal ada perbuatan baik, melainkan siapa yang melakukan perbuatan itu? Inilah yang dimaksud hidup berdasarkan diri Allah.

Prinsip Pohon Pengetahuan (2)
Ibr. 2:14; Yoh. 8:44; Ef. 2:1; Ibr. 9:27; Why. 20:14

Pohon pengetahuan berlawanan dengan pohon kehidupan (hayat), baik dalam hal sumber, isi, prinsip, maupun hasilnya. Sumber dari pohon pengetahuan adalah Iblis. Sesuai dengan sifatnya yang licik, pendusta (Yoh. 8:44), ia selalu ada di belakang hal-hal yang mungkin kita anggap baik. Sebutan pohon pengetahuan yang baik dan jahat adalah sebutan yang licik, sebab Iblis suka menyembunyikan dirinya. Demikianlah cara kerja Iblis, yaitu menipu manusia dengan sembunyi-sembunyi. Hari ini pun demikian, setiap perkara, orang terdekat, benda, atau barang dunia, dapat ia pakai untuk membuat kita meninggalkan Allah.
Isi dari pohon pengetahuan adalah semua perkara yang di luar Allah termasuk perkara-perkara yang kelihatan rohani. Kalau perkara yang bukan rohani mudah untuk diketahui, tidaklah demikian dengan perkara yang kelihatannya rohani. Misalnya, pada suatu hari kita sangat terkesan dengan satu bagian firman, lalu kita membicarakannya dan pembicaraan kita sangat hidup dan limpah. Pada kesempatan lain, kita bermaksud mengulangi pembicaraan yang sama. Kalau kita bersandar Tuhan membicarakan kembali satu bagian firman itu, itulah pohon hayat. Namun jika kita membicarakannya hanya berdasarkan pengalaman yang lampau, maka itulah pohon pengetahuan.
Prinsip pohon hayat adalah bersandar Tuhan; sedangkan prinsip pohon pengetahuan adalah merdeka dari Tuhan. Segala sesuatu yang kita perbuat tanpa bersandar kepada Tuhan adalah prinsip pohon pengetahuan. Merdeka dari Tuhan berarti ada suatu sekatan yang memisahkan persekutuan kita dengan Tuhan. Sekatan ini memutuskan aliran hayat Allah di dalam diri kita. Meskipun mungkin kita sudah sangat rohani, kita tidak bisa mengatakan, “Aku mempunyai pengalaman yang banyak di dalam Kristus. Aku telah melatih rohku bertahun-tahun dan aku tidak perlu lagi bersandar Tuhan. Aku sudah cukup pengalaman untuk memutuskan tanpa perlu bersandar Tuhan”.
Merdeka terhadap Tuhan menghasilkan maut. Demikian pula hasil dari pohon pengetahuan adalah maut. Maut bukan hanya ada di belakang kejahatan; tetapi juga ada di belakang pengetahuan dan perkara-perkara yang baik. Iblis mempunyai kuasa maut (Ibr. 2:14). Karena itu pohon pengetahuan baik dan jahat sebenarnya adalah pohon maut, yang menyatakan Iblis dan kuasanya. Buah pengetahuan baik dan jahat bukan hanya mendatangkan maut bagi tubuh manusia, tetapi juga dapat mematikan roh manusia (Ef. 2:1; Ibr. 9:27; Why. 20:14).

Penerapan:
Setiap orang, baik yang sudah percaya Tuhan maupun yang belum, memiliki standar benar atau salah. Tetapi standar yang sebenarnya bukanlah yang berasal dari manusia, tetapi yang berasal dari Allah. Karena itu berilah tempat yang lebih luas bagi Dia untuk bekerja di dalam kehidupan kita dan menjadi standar hidup kita. Dalam segala hal, berilah Kristus kesempatan untuk diperhidupkan melalui kita.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, selamatkan aku dari perkara benar atau salah. Biarlah dalam segala hal aku lebih bersandar kepada-Mu dari pada bersandar pada penilaian alamiahku sendiri. Tuhan ajarlah aku bersandar pada-Mu dalam segala hal. Pimpin aku Tuhan, dalam segala aktifitasku sepanjang hari ini.

01 June 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 3 Kamis

Prinsip Pohon Hayat
Kejadian 2:17
“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Prinsip pohon hayat adalah bersandar kepada Allah. Bersandar adalah lawan dari merdeka. Apakah yang dimaksud dengan prinsip bersandar?
Kita boleh tamat belajar, tetapi kita tidak boleh tamat dari perihal makan. Kita juga tidak pernah tamat minum atau menghirup udara. Prinsip pohon hayat sangat berbeda dengan prinsip pohon pengetahuan. Setelah kita menguasai suatu pengetahuan, kita dapat lulus dan dapat berdiri sendiri. Sebagai contoh, setelah belajar memasak akhirnya kita mahir, maka kita tidak lagi bergantung pada jurumasak dan sanggup memasak tanpa bantuannya. Inilah prinsip pohon pengetahuan. Namun dalam hal yang menyangkut hayat, kita mustahil merdeka, kita perlu terus-menerus bersandar kepada hayat. Sama seperti kita senantiasa memerlukan makan, minum, dan bernafas.
Tidak sedikit ilmuwan yang karena banyaknya pengetahuan mereka, berpendapat bahwa mereka tidak perlu Allah. Bagi mereka perihal Allah itu sangat tidak logis, tidak bisa diterima oleh akal sehat mereka yang penuh pengetahuan. Namun bagi kita yang telah dilahirkan kembali oleh Allah, kita tidak bisa terpisah dari-Nya. Begitu lepas dari Allah, persekutuan kita terputus, kerohanian kita pun terhenti.
Sebagai anak-anak Allah, kita harus memiliki kesadaran bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Allah. Dia adalah makanan kita (Yoh. 6:57), minuman kita (Yoh. 4:14), dan udara kita (Yoh. 20:22). Yang perlu kita lakukan adalah datang kepada-Nya dengan roh yang terbuka untuk makan, minum, dan menghirup Dia. Jangan memandang ringan ketiga hal ini. Tanpa makan, minum, dan menghirup Dia, mustahil kita bertumbuh.

Pengalaman Atas Pohon Hayat (2)
Yoh. 4:20

Kita boleh menerapkan prinsip pohon hayat dan pohon pengetahuan dalam perihal pernikahan yang tercatat di Kitab Efesus pasal lima.
Semua istri Kristen tahu akan ayat dalam Efesus pasal lima yang mengatakan bahwa mereka harus menaati suami mereka. Setiap orang Kristen yang menjadi suami tahu akan ayat-ayat yang mengatakan bahwa mereka harus mengasihi istri mereka.
Walaupun demikian, para suami dan para istri telah gagal untuk memenuhi syarat-syarat yang tertera dalam ayat-ayat itu, sebab mereka mengambil isi Efesus pasal lima ini sebagai pohon pengetahuan, bukan sebagai pohon hayat. Sebagai para suami dan para istri, janganlah kita hidup menurut pohon pengetahuan. Kita harus hidup menurut pohon hayat. Sebagai seorang istri, kita harus berkata, “Tuhan, aku tak tahu bagaimana menaati suamiku. Ya Tuhan, sekalipun aku tahu, aku tetap tak mampu melaksanakan. Aku akan melupakan semuanya ini, ya Tuhan. Aku tak ingin memakai daya upaya atau tenagaku untuk memenuhi syarat ini. Tuhan Yesus, aku hanya mau tinggal di dalam-Mu dan menikmati-Mu 24 jam dalam sehari.” Jika kita melakukan hal ini, ketaatan dan kasih akan dengan sendirinya mengalir keluar dari batin kita yang merupakan keluapan dari kenikmatan kita atas Kristus sebagai hayat batiniah kita.
Dalam Injil Yohanes, banyak kasus dibawa ke hadapan Tuhan dan hampir setiap kasus adalah persoalan keagamaan, pengajaran, atau pertanyaan-pertanyaan mengenai benar dan salah. Seperti telah kita lihat, Tuhan Yesus tidak pernah memberi jawaban ya atau tidak terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Perempuan Samaria bertanya kepada Tuhan tentang tempat yang tepat untuk menyembah Allah, di gunung Samaria atau di Yerusalem? (Yoh. 4:20). Tuhan menjawab bahwa persoalannya bukan pada benar atau salahnya tempat, melainkan persoalannya adalah roh. Tuhan berkata, “Allah adalah Roh.” Kita menyembah-Nya bukan harus di tempat tertentu yang dianggap betul, tetapi harus di dalam roh kita. Allah sang Roh adalah hayat, kita berkontak dan menerima Dia sebagai air hayat di dalam roh kita, penyembahan yang sedemikian inilah yang dimaksud berada dalam prinsip pohon hayat.
Saudara saudari, kita perlu belajar hidup dalam prinsip pohon hayat. Apa pun situasi yang kita temui tiap hari, jangan dihadapi berdasarkan logika benar-salah, juga jangan terlalu menghitung untung dan rugi. Yang perlu kita kerjakan adalah membuka diri lebih banyak kepada Tuhan untuk memakan Dia.

31 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 3 Rabu

Makan: Hidup - Mati
Kejadian 2:17
“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Sebagai manusia, kita seringkali berada dalam dua ekstrim, yaitu kita mungkin tidak peduli terhadap pekerjaan Tuhan, atau kita termasuk golongan yang kedua, yaitu yang suka sibuk bekerja buat Tuhan. Memang yang pertama tentu sangat tidak baik, namun golongan yang kedua juga belum bisa dipastikan akan diperkenan Tuhan.
Hal ini disebabkan perintah Allah yang pertama kepada manusia menekankan makanan manusia bukan tindakan manusia. Makan adalah satu hal yang sangat penting bagi manusia, adalah masalah hidup dan mati.
Hasil dan tujuan yang dicapai oleh manusia di hadapan Allah bergantung sepenuhnya kepada apa yang dia makan. Jika manusia makan buah pohon hayat, dia akan menerima Allah sebagai hayat dan menggenapkan tujuan Allah. Jika manusia makan buah pohon pengetahuan, dia akan menerima Iblis sebagai maut dan dikuasai olehnya untuk tujuannya.
Perintah Allah dalam ayat 17 ini sangat serius dan menakutkan. Perintah ini tidak memberi toleransi sedikit pun terhadap kesalahan. Bila Adam salah makan, dia bukan diingatkan, bukan ditegor, atau sakit, melainkan mati!
Perintah Allah yang menakutkan di ayat ini, diberikan sebagai suatu peringatan bagi manusia menunjukkan bahwa:
1. Kebesaran Allah di dalam menciptakan manusia dengan
kehendak bebas, sehingga manusia dapat memilih
Allah dengan sukarela dan tidak berdasarkan paksaan.
2. Kasih Allah kepada manusia.
3. Kehendak hati Allah agar manusia makan buah pohon
hayat untuk menerima Allah ke dalamnya sebagai hayat.

Pengalaman Atas Pohon Hayat (1)
Kej. 12:1-4; Kis. 7:2-3; Ibr. 11:8; Rm. 8:14; Gal. 5:25

Sebagai contoh dari pengalaman atas pohon hayat, marilah kita melihat pengalaman Abraham. Ketika Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan Ur-Kasdim, Ia tidak memberinya peta. Allah tidak mengatakan, “Abraham, inilah peta perjalanan yang harus kau tempuh. Aku ingin membawamu keluar dari Ur-Kasdim dan masuk ke negeri yang indah. Peta ini sangat jelas. Jika engkau mengikuti tiap belokan ini dengan teliti dan tepat, engkau akan tiba di tempat tujuanmu.” Allah hanya menyuruh Abraham meninggalkan negerinya, sanak keluarganya dan rumah ayahnya. Allah tidak mengatakan kepada Abraham ke mana ia harus pergi. Mengapa Allah memperlakukan Abraham demikian? Allah memimpinnya dengan cara ini, sebab sebelum Abraham dipanggil, umat manusia telah jatuh dan menjauhi Allah. Manusia telah meninggalkan hadirat Allah dan menempuh hidup yang mutlak menuruti pengetahuan, tidak menuruti Allah sebagai hayat. Maka Allah turun tangan memanggil Abraham keluar dari keadaan itu dan membawanya kembali kepada Allah sendiri. Allah tidak memberi Abraham peta atau petunjuk-petunjuk, sebab Ia bermaksud agar Abraham terus-menerus hidup dan bergerak di hadirat Allah. Penyertaan Allah adalah petanya. Penyertaan Allah adalah arah, pimpinan, dan penuntun jalannya. Jika Abraham bertanya kepada Allah, “Tuhan, katakan kepadaku ke mana aku harus pergi besok.” Maka Ia menjawab, “Anak-Ku, tidurlah baik-baik dengan tenteram. Janganlah khawatir. Besok Aku akan menjadi petunjukmu, menjadi peta hidupmu.”
Jika kita memiliki Allah yang hidup sebagai penuntun, kita tidak perlu lagi sebuah peta. Ia akan menjadi peta hidup dan penuntun jalan hidup kita. Inilah makna hidup bersandar. Namun dalam pengalaman perjalanan rohani kita, seringkali kita mencari-cari “peta” lebih daripada mencari penyertaan Tuhan. Mungkin kita beranggapan bahwa “peta” kita bisa lebih baik daripada penyertaan Tuhan. Mungkin pula kita mengira penyertaan Tuhan itu serba tidak menentu dan tidak terencana. Dugaan kita itu salah besar. Orang yang mengenal Tuhan pasti tahu bahwa penyertaan dan pimpinan Tuhanlah yang terbaik.
Pengetahuan tidak menuntut kita bersandar. Kita mungkin sudah meninggalkan penyertaan Tuhan, namun masih bekerja untuk-Nya. Bila kita memiliki pengetahuan, kita akan merasa tidak perlu bersandar lagi kepada Tuhan Yesus. Tuhan seolah-olah berada di langit ketiga dan kita terpencil jauh di bumi, tetapi kita tetap dapat bekerja bagi-Nya. Keadaan ini sungguh kasihan. Karena itu, marilah kita senantiasa menomorsatukan penyertaan Tuhan.

30 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 3 Selasa

Kehendak Bebas
Kejadian 2:16
“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas”.

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang hidup, bukan mesin. Dalam Kejadian 2:16-17, kita hanya melihat perintah Allah dengan himbauan dan larangan, tetapi tanpa paksaan. Jika Adam mau taat dan tidak memakan buah pohon pengetahuan, itu adalah kemauan Adam sendiri. Bila Adam tidak taat dan memakannya, Allah pun tidak berdaya menghentikannya. Inilah kehendak bebas. Allah menaruh tanggung jawab makan atau tidak makan pada diri manusia dan membiarkan manusia memilih berdasarkan kehendak bebasnya. Allah tidak menciptakan seorang Adam yang tidak dapat berdosa, yang tidak bisa memberontak, atau yang tidak bisa mencuri. Allah dapat menasihati, melarang, dan memerintahkan, tetapi tanggung jawab untuk menaati terletak pada diri manusia. Karena kasih-Nya, Allah memberi peringatan sebelumnya. Tetapi karena kebenaran-Nya, Allah tidak akan memaksa manusia melakukan apa saja yang tidak dia inginkan. Allah bisa saja memakai banyak cara untuk membuat manusia mau, tetapi kalau manusia tidak setuju, Allah tidak akan melakukan apa pun untuk memaksanya.
Dalam diri manusia, ada prinsip-prinsip yang mengendalikan yang menetapkan bagaimana ia bersikap. Apa saja yang tidak disetujui olehnya tidak bisa dipaksakan kepada dirinya, dan apa saja yang ditentangnya, tidak dapat dipaksakan ke atas dirinya. Pekerjaan Allah tidak pernah berlawanan dengan prinsip ini; sedangkan pekerjaan roh jahat justru berlawanan dengan prinsip ini. Karena itu, kita dapat membedakan apa yang berasal dari Allah dan apa yang bukan.

Tekad Manusia
2 Kor. 10:5

Tekad manusia adalah organ yang dengannya manusia membuat keputusan. Kemauan atau ketidakmauan kita, keinginan atau ketidakinginan kita, dan persetujuan atau ketidaksetujuan kita, semuanya merupakan fungsi tekad kita. Tekad manusia adalah “kemudinya”. Sebagaimana sebuah kapal berbelok menurut kemudinya, manusia bergerak menurut tekadnya.
Tekad manusia dapat dikatakan adalah diri manusia yang sejati, jati diri manusia; karena tekad mewakili manusia. Semua tindakan tekad sebenarnya adalah tindakan “manusia”. Ketika kita mengatakan, “Aku mau,” sebenarnya tekad kitalah yang mau. Ketika kita mengatakan, “Aku mau ini” atau “Aku memutuskan,” berarti tekad kita mau, atau tekad kitalah yang memutuskan. Demikian juga ketika kita berkata “Aku tidak mau” sebenarnya adalah tekad kita yang tidak mau. Fungsi tekad adalah menyatakan maksud seluruh diri kita.
Emosi hanyalah apa yang kita rasakan, sedangkan pikiran hanyalah apa yang kita pikirkan, tetapi tekad adalah apa yang kita inginkan. Karena itu, tekad adalah bagian paling penting dari seluruh diri kita. Tekad manusia lebih dalam daripada emosi dan pikirannya. Jadi, bila orang Kristen mengejar kehidupan rohani, ia harus memperhatikan tekadnya.
Jalan keselamatan yang sejati adalah menyelamatkan tekad manusia. Apa saja yang tidak cukup dalam untuk menyelamatkan tekad manusia adalah kesia-siaan.
Di alam semesta, dapat dikatakan ada dua tekad besar yang bertentangan. Di satu pihak, ada tekad atau kehendak Allah yang kudus dan baik; di pihak lain, ada tekad atau kehendak Iblis yang najis dan memberontak. Di antara kedua tekad ini, ada tekad manusia yang otonom, merdeka, dan bebas. Ketika manusia mendengarkan perkataan Iblis dan tidak taat kepada Allah, semua kegiatannya menjadi tunduk kepada kehendak Iblis.
Bagaimana sikap kita terhadap kehendak Allah? Allah mengasihi kita, tetapi apakah kita mau dikasihi-Nya? Kristus ingin kita datang kepada-Nya, tetapi maukah kita datang? Roh Kudus ingin memberi kita hayat, tetapi apakah kita mau memiliki hayat? Tekad kita berguna dalam kehendak Allah. Tetapi persoalannya adalah bagaimana tekad kita memperlakukan kehendak Allah?
Saudara saudari, karena itu kita harus menyadari bahwa keputusan kita menggunakan tekad kita untuk selaras dengan tekad Allah adalah keputusan yang sangat penting dan sesungguhnya ini adalah bentuk hubungan tertinggi antara manusia dengan Allah.

Penerapan:
Kita diciptakan dengan memiliki satu kehendak bebas. Kita bisa memilih apa saja yang kita inginkan. Namun, alangkah indahnya bila kita menggunakan hak pilih kita untuk memilih Tuhan dan kehendak-Nya. Pilihan yang demikian akan mempermalukan dan mengalahkan Iblis, musuh Allah. Hari ini, marilah kita menggunakan kehendak bebas kita untuk memilih hal-hal yang diperkenan Allah.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku mau menggunakan kehendak bebasku untuk memilih Engkau dan kehendak-Mu. Tundukkanlah aku dalam segala hal sepanjang hari-hariku. Tuhan pimpinlah aku agar aku bisa memilih dengan tepat, memilih Engkau dan kehendak-Mu.

29 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 3 Senin

Mengusahakan (Menggarap)
Kejadian 2:15
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan (menggarap - TL.) dan memelihara (menjaga - TL.) taman itu.”

Kata “mengusahakan” (Ibrani: awbad) dapat pula diterjemahkan menggarap, sebagaimana petani menggarap lahan pertanian mereka. Allah menyuruh manusia mengusahakan (menggarap) taman adalah untuk pertumbuhan hayat. Hal ini sesuai dengan aspek pertama dari kehendak Allah, yaitu mengekspresikan Allah. Semakin kita bertumbuh, semakin kita mengekspresikan Allah.
Dalam Matius 13, Tuhan Yesus mengatakan bahwa taman (tanah) ini adalah hati manusia. Melalui Matius 13, kita nampak bahwa Tuhan Yesus sendiri merupakan benih yang ditanam di dalam hati kita. Karena itu kita perlu mengusahakan (menggarap) hati kita agar tidak keras oleh lalu lintas duniawi sehingga benih itu tidak dapat bertumbuh karena kita tidak dapat terbuka untuk memahami, mengerti, firman Tuhan. Kita juga perlu mengusahakan (menggarap) hati kita dengan membersihkan segala batu, yaitu dosa-dosa tersembunyi, keinginan pribadi, tuntutan-tuntutan pribadi, iba diri, yang menghalangi benih itu berakar di dalam kita. Jika kita tidak mengusahakan hati kita sedemikian maka kita tidak akan tahan terhadap segala bentuk ujian (penganiayaan dan penderitaan). Selain itu, kita juga perlu mengusahakan (menggarap) hati kita agar bersih dari segala semak duri, yaitu kekhawatiran jaman ini dan tipu daya kekayaan yang membuat kita tidak bisa berbuah. Jika kita senantiasa mengusahakan (menggarap) hati kita, maka itu berarti kita memberikan setiap jengkal hati kita untuk menerima firman agar firman itu bisa bertumbuh, bahkan berbuah seratus kali lipat.

Memelihara (Menjaga)
Kej. 2:8-9, 15-17; Mat. 26:41; 1 Ptr. 5:8; Kis. 20:28-29

Selain mengusahakan (menggarap) taman, Allah juga memberi perintah agar manusia memelihara (menjaga – T.L.) taman tersebut. Kata menjaga dalam bahasa Ibrani adalah shawmar yang berarti melindungi dengan membuat pagar (to hedge about as with thorns).
Mengapa Allah memberi perintah sedemikian? Kita perlu tahu bahwa di taman itu selain ada pohon kehidupan (pohon hayat), juga ada pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Ketika Allah menyuruh manusia mengusahakan (menggarap) taman itu, ini berarti manusia perlu terus memakan buah dari pohon hayat (yang melambangkan Allah) agar tetap hidup, bahkan menerima lebih banyak unsur Allah ke dalam dirinya. Namun, ketika Allah menyuruh manusia menjaga taman itu, ini berarti Allah ingin manusia berhati-hati terhadap pohon pengetahuan (melambangkan si Iblis), karena begitu manusia memakannya, ia pasti mati.
Kita mengusahakan (menggarap) taman agar Allah masuk ke dalam kita. Namun, karena Iblis ingin menyerang kita, maka kita perlu memelihara (menjaga) taman itu, tidak memberi kesempatan apa pun bagi pohon pengetahuan untuk masuk ke dalam kita. Jadi, mengusahakan (menggarap) taman adalah membuka diri kita terhadap pohon hayat, sedangkan memelihara (menjaga) taman adalah menutup diri kita terhadap pohon pengetahuan.
Rasul Paulus berpesan kepada para penatua gereja di Efesus, “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, ...” (Kis. 20:28). Petrus juga mengingatkan kita untuk sadar dan berjaga-jaga karena lawan kita, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1 Ptr. 5:8). Bahkan Tuhan Yesus sendiri pun berpesan kepada murid-muridnya, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, ...” (Mat. 26:41).
Tinggal di taman Eden yang demikian indah dapat membuat manusia terlena atau menjadi santai. Lingkungan tempat kita tinggal atau tempat kerja kita yang nyaman juga bisa membuat kita lupa kalau ada musuh yang setiap waktu bersiap-siap menyelinap ke dalam pikiran kita. Begitu kita kendor dan lengah, Iblis dapat masuk untuk mempengaruhi pikiran kita dan merusak persekutuan kita yang normal dengan Tuhan. Akibatnya maut dibawa masuk ke dalam rumah tangga kita atau ke dalam pekerjaan kita. O, kalau kita nampak hal ini, kita pasti akan berjaga-jaga! Kalau kurang berjaga-jaga, Iblis dalam wujud pohon pengetahuan akan tumbuh di dalam gereja dan menebarkan maut di dalamnya. Kiranya kita sadar dan terdorong untuk lebih giat berjaga-jaga dan berdoa, baik bagi kita sendiri maupun bagi sesama anak Allah agar kita tidak jatuh ke dalam pencobaan.

Penerapan:
Setiap hari begitu banyak batu-batu dosa, kekhawatiran hidup, dan akar-akar pahit yang bisa tertimbun dalam hati kita. Betapa kita perlu terus menerus dan sesering mungkin datang kepada Tuhan untuk membongkar semua hal tersebut. Biarlah sepanjang hari dalam kehidupan kita, kita bisa datang kepada Tuhan untuk mendapatkan pembersihan, sehingga hati kita menjadi hati yang subur untuk menumbuhkan firman Tuhan.

Pokok Doa:
Tuhan aku datang kepada-Mu. Bersihkanlah hatiku dari segala macam unsur kecemaran dan dosa. Dapatkan hatiku murni dan bersih untuk menerima dan menumbuhkan firman-Mu. Bawalah aku memiliki kehidupan yang senantiasa datang pada-Mu dan mengalami pembasuhan-Mu.

27 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 2 Sabtu

Kejadian 2:14
“Nama sungai ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai keempat ialah Efrat.”

Cabang ketiga ialah Tigris yang berarti “cepat deras”, dan mengandung arti “kekuatan” (Flp. 3:10; Ef.1:19-20). Air yang mengalir dengan deras mempunyai kekuatan. Tigris mengalir menuju Asyur, yang berarti “datar, tempat yang boleh dijadikan tempat kediaman”. Ini memberi tahu kita bahwa pengaliran air hayat mencapai tempat yang dihuni oleh manusia (Yoh. 10:10b; 7:37). Cabang keempat ialah Efrat yang berarti “harum”, “subur”, “berbuah lebat” (bd. 2 Kor. 2:14; 2 Ptr. 1:3-8, 11; Gal. 5:22-23). Puji Tuhan! Cabang terakhir dari aliran air hayat membuat kita harum, subur, dan berbuah lebat. Bagaimanakah kita dapat berbuah? Kita hanya dapat berbuah dengan adanya aliran sungai hayat di dalam kita. Selama hayat mengalir di dalam, kita akan harum, subur, dan berbuah lebat. Hal ini sangat baik!
Jika kita menyatukan keempat cabang dari satu sungai itu, kita akan memperoleh gambaran yang lengkap mengenai Perjanjian Baru. Segala sesuatu yang terdapat dalam Kitab Kejadian adalah benih, pertumbuhannya terjadi di dalam kitab-kitab berikutnya dalam Alkitab, dan hasil tuaiannya di dalam Kitab Wahyu. Allah dalam Putra-Nya, Yesus Kristus, adalah hayat bagi kita dalam bentuk makanan. Jika kita makan Dia, kita tidak saja mempunyai kepuasan, bahkan hayat ini akan menjadi sungai yang mendiris di dalam kita. Air ini akan menjadi aliran yang deras di dalam kita untuk melahirkan kita kembali, mengubah kita, dan membuat kita harum serta berbuah lebat. Demi aliran ini kita akan menjadi emas, mutiara, dan batu permata, bagi pembangunan tempat kediaman Allah — Yerusalem Baru. Puji Tuhan! Inilah jalan Allah mencapai tujuan kekal-Nya.

Taman Dan Kota
Kej. 2:10; Why. 21-22

Keseluruhan Alkitab adalah wahyu Allah, dan sebagian besar benih-benih wahyu ini ditaburkan dalam Kejadian pasal satu dan dua. Hampir segala sesuatu yang ditaburkan dalam Kejadian pasal satu dan dua dituai sebagai hasil tuaian dalam kitab Wahyu.
Dalam Kejadian pasal dua, ada pohon hayat di tengah-tengah taman. Kemudian ada sebuah sungai yang mengalir dan menghasilkan emas, damar bedolah (mutiara), dan batu krisopras. Latar belakang kesemuanya ini adalah sebuah taman, dan taman menunjukkan benda alami yang diciptakan oleh Allah. Di dalam taman kita dapat melihat pertumbuhan benda-benda ciptaan.
Ketika membaca sampai Wahyu 21 dan 22, kita tidak menjumpai taman lagi, melainkan kota. Kota bukan diciptakan, tetapi dibangun. Dalam Kejadian pasal dua terdapat ciptaan; dalam Wahyu 21 dan 22 terdapat bangunan. Dalam kota itu kita mempunyai pohon hayat. Jadi Alkitab memang diawali dan diakhiri dengan hayat. Lagi pula dalam kota itu kita melihat adanya sungai air hayat mengalir dari takhta Allah. Hal ini berhubungan dengan sungai yang ada di dalam taman. Dalam Kitab Wahyu kita melihat ada tiga golongan bahan-bahan berharga, bukan dalam keadaan alami, tetapi dibangun menjadi sebuah kota yang dibuat dari emas, mutiara, dan batu permata. Jadi, apa yang ditaburkan sebagai benih dalam Kejadian, telah matang dan dituai dalam Wahyu.
Pada permulaan Alkitab kita melihat sebuah taman. Pada akhir Alkitab kita melihat sebuah kota. Di antara taman dan kota harus melalui sebuah proses yang panjang, dan harus melalui penggenapan banyak pekerjaan. Namun benih-benih yang ditaburkan dalam taman menjadilah tuaian dalam kota. Benih ini meliputi pohoh hayat, sungai, dan tiga bahan berharga. Pada waktu dituai dalam kitab wahyu, bahan-bahan itu tidak lagi dalam bentuk asalnya di dalam sungai, melainkan telah menjadi suatu bangunan yang terbangun dengan sangat serasi. Yerusalem Baru adalah suatu bangunan dari emas, mutiara, dan batu permata. Karena itu, kota ini ialah susunan dari bahan-bahan berharga yang dulu dalam keadaan alami di taman. Dalam Kejadian, bahan-bahan itu tersebar di taman; tetapi dalam Wahyu, bahan-bahan itu telah terbangun menjadi sebuah kota. Kota yang terbangun ini sebenarnya merupakan hasil dari aliran air hayat yang terus menerus mengalir masuk ke dalam kaum beriman sehingga mengubah mereka menjadi bahan-bahan berharga bagi bangunan Allah.

Penerapan:
Selama hayat mengalir di dalam kita, kita akan menjadi harum, subur, dan berbuah lebat. Demikiankah keadaan kita? Kalau kita tinggal di dalam aliran sungai hayat, pastilah kita akan berbuah lebat. Tidak hanya demikian, kadar Allah akan lebih banyak ditambahkan ke dalam kita.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau menempatkan aku di dalam aliran sungai hayat-Mu. Aku damba manusia lamaku terkikis habis dan kadar-Mu bertambah di dalamku. Ubahlah aku sehingga menjadi bahan berharga bagi rumah-Mu.

26 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 2 Jumat

Keempat Cabang Sungai Itu (1)
Kejadian 2:11
“Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada.”

Nama dari cabang pertama ialah Pison, yang berarti “mengalir dengan cuma-cuma” (Yes. 55:1; Why. 22:17). Sungai ini mengalir dengan cuma-cuma, gratis. Ia mengalir ke tanah Hawila yang artinya “menyebabkan bertumbuh”. Cabang sungai ini mengalir dengan cuma-cuma, dan dapat menumbuhkan segala sesuatu yang berhayat (Yeh. 47:9,12).
Nama sungai cabang kedua ialah Gihon, berarti “pergolakan air”. Pergolakan air mengandung arti kepenuhan (Yoh. 4:14; 7:38). Sungai ini menerjang maju bagaikan arus air yang deras dan kuat. Kalau kita hanya mempunyai beberapa tetes air, itu mustahil menghasilkan pergolakan. Agar terjadi pergolakan seperti air terjun Niagara, kita perlu air yang luar biasa banyaknya. Pergolakan sungai menunjukkan kepenuhan-Nya. Sungai ini mengalir ke Kusy. Kusy ialah nama Ibrani kuno untuk Ethiopia, yang artinya “muka hitam”, melambangkan sifat jahat orang berdosa yang tidak dapat berubah (Yer. 13:23; Rm. 7:18). Sebelum diselamatkan, kita adalah seorang Kusy, hitam, berdosa, dan jahat. Sesungguhnya kita semua adalah orang Kusy, hitam, sifat kita jahat, dan sepertinya mustahil bisa diubah. Tetapi puji Tuhan, bahwa pergolakan air kudus akan melahirkan kita kembali dan mengubah kita menjadi orang yang lain. Pengaliran dari sungai kudus begitu kaya dan kuat, sehingga dapat mengubah sifat jahat kita, bahkan menjadikan kita mulia. Sekalipun orang Kusy tidak berdaya mengubah kulitnya, namun kita mempunyai jalan untuk mengubah seluruh kulit hitam kita dan tabiat jahat kita, yaitu melalui pergolakan dahsyat arus hayat ilahi.

Emas, Damar Bedolah, Batu Krisopras
2 Ptr. 1:4; 1 Kor. 3; Rm. 9; Mat. 13:45; Why. 4:3; 2 Kor. 3:18

Pengaliran ini juga membawakan emas yang melambangkan sifat ilahi (2 Ptr. 1:4). Kita harus sangat bersyukur atas hal ini dan mengatakan “Amin”. Saudara saudari, kapan saja hayat Allah mengalir di dalam kita, ia membawakan sifat emas, sifat ilahi. Kita perlu unsur emas ditambahkan kepada kita hingga kita menjadi “manusia emas”.
Dalam 1 Korintus pasal tiga, Paulus memperingatkan agar kita berhati-hati atas garapan pembangunan kita. Kita disarankan menggunakan material yang tepat, pertama-tama adalah emas. Dalam Wahyu pasal satu pun demikian, kita diberi tahu bahwa gereja-gereja adalah kaki dian emas. Kaki dian tidak dibangun dengan tanah liat, tetapi dengan emas. Dalam Roma pasal sembilan, kita adalah debu tanah; dalam Wahyu pasal satu, kita adalah emas. Bagaimana debu tanah dapat menjadi emas? Hayat ilahi harus mengalir di dalam kita untuk membawakan emas ke dalam kita. Emas alami juga demikian, sering didapatkan di pinggir atau di dalam sungai. Sebelum kita mengalami Kristus sebagai pengaliran hayat, kita tidak mempunyai sifat ilahi, tidak mempunyai emas. Sekarang, melalui pengaliran hayat ilahi, kita mempunyai emas di dalam kita. Sesuatu yang mustika dan berharga, sifat ilahi, telah dibawakan ke dalam kita.
Pengaliran sungai itu juga menghasilkan damar bedolah yaitu sejenis mutiara. Mutiara melambangkan manusia baru yang dilahirkan kembali (Mat. 13:45) sebab mutiara bukan benda ciptaan, melainkan suatu benda yang mengalami pengubahan1).
Selanjutnya, aliran sungai ini menghasilkan batu krisopras yang melambangkan orang yang telah mengalami pengubahan sehingga mengekspresikan rupa kemuliaan Allah (Why. 4:3; 2 Kor. 3:18).
Cabang pertama, Pison membuat segala sesuatu bertumbuh dan menghasilkan tiga macam bahan berharga — emas, mutiara, dan batu permata. Jika kita membaca seluruh Alkitab, kita akan melihat bahwa bahan-bahan ini semuanya ditemukan pada bangunan Yerusalem Baru. Bahan-bahan yang dihasilkan dari pengaliran sungai hayat adalah bagi pembangunan tempat kediaman Allah. Bahan-bahan itu hanya dapat dihasilkan oleh pengaliran hayat ilahi. Dengan perkataan lain, hayat ilahi yang mengalir di dalam kita menjadikan kita bahan-bahan untuk bangunan Allah. Inilah arti dan lambang cabang sungai pertama.

Penerapan:
Ingatlah bahwa pengubahan ini membutuhkan waktu yang sangat lama dan tidak ada seorang pun tahu kapan ini akan berakhir.
Marilah kita senantiasa memandang diri Tuhan seperti yang dikatakan 2 Korintus 3:18, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”

Pokok Doa:
Tuhan Yesus masuklah ke dalam diriku dan beroperasilah dari dalam diriku. Aku mau Engkau mengubah seluruh tabiat jahatku yang hitam, dan jadikanlah semulia diri-Mu.

25 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 2 Kamis

Terbagi Menjadi Empat Cabang
Kejadian 2:10
“Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang.”

Sungai itu mengalir keluar dari Eden, berarti mengalir keluar dari Allah. Dalam Wahyu 22, sungai air hayat keluar dari takhta Allah. Itu juga suatu pengaliran yang keluar dari diri Allah sendiri. Allah adalah sang Sumber air hayat yang mengalir ke dalam kita bagi kenikmatan kita.
Sungai ini hanya satu. Tidak ada dua sungai. Meskipun jumlah saudara saudari yang hadir di suatu tempat ada seribu orang, tetapi tetap hanya mempunyai satu sungai, sebab semua berasal dari sumber yang sama — Allah Pencipta. Karena sumbernya satu, alirannya pun harus satu. Satu sungai ini telah terbagi menjadi empat cabang (Kej. 2:10-14). Ini berarti, Allah Tritunggal sebagai sang Sumber itu telah mengalir untuk mencapai umat manusia di segala penjuru bumi. Selain itu, terbaginya satu sungai menjadi empat cabang juga berarti bahwa aliran ini memiliki berbagai aspek kekayaan bagi manusia untuk menggenapkan kehendak Allah. Allah kita adalah Allah yang kaya. Di dalam Dia ada hikmat dan pengetahuan, di dalam Dia ada kasih dan terang, dan di dalam Dia ada kekudusan dan keadilbenaran. Segala kebajikan terkandung di dalam Dia. Kapan kala kita terbuka terhadap aliran ini, maka Allah akan mengalirkan diri-Nya dengan segala kekayaan-Nya ke dalam kita. Tanpa kita sadari, begitu aliran ilahi mengalir masuk ke dalam kita, manusia batiniah kita pun dengan sendirinya akan diperkaya oleh sifat Allah dan kebajikan milik Allah. Dengan sendirinya hayat ilahi akan bertumbuh besar di dalam kita, mengubah hidup kita setahap demi setahap, sampai akhirnya kita mencapai kedewasaan penuh di dalam Kristus. Haleluya!

Sungai Air Hayat
Yeh. 47:8-9; Mzm. 46:5; Yes. 55:1, 3

Tuhan memberi tahu Yehezkiel dalam Yehezkiel 47:8, “Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar.” Sungai dalam ayat delapan ini mengalir turun ke padang gurun. Nama padang gurun itu adalah Araba-Yordan, yang artinya tanah yang tandus, kering, tanah yang tidak dapat menghasilkan apa-apa. Tanah ini perlu dialiri air. Sungai itu diperlukan untuk mengairi tanah yang kering dan menyembuhkan laut mati. Araba-Yordan sangat dekat dengan laut mati. Karena aliran air dari sungai ini, maka air yang asin di laut mati itu disembuhkan hingga menjadi tawar. Kini laut itu menjadi segar dan menghasilkan kehidupan. Ayat 9 mengatakan, “Sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.”
Sungai air hayat ini tidak hanya meleraikan dahaga tetapi juga membasahi tanah (hati) yang kering, menghasilkan hayat, dan menyembuhkan yang mati. Mazmur 46:5 mengatakan bahwa aliran sungai itu membuat kota Allah bersuka. Kalau kita tidak memiliki air hayat, kita akan berduka. Karena itu kita harus memberi tempat yang terutama bagi aliran air hayat ini, jangan melupakan, mengabaikan, atau kehilangan aliran air hayat ini. Kita perlu memeriksa apakah kita tengah berada dalam aliran ini setiap waktu. Selama kita di dalam alirannya, kita satu dengan Tuhan. Kita perlu memperhatikan dengan seksama aliran ini dan membayar harga untuk masuk ke dalam aliran ini. Kita sungguh perlu suatu persembahan diri yang penuh untuk menikmati aliran hayat ini.
Yesaya 55:1 mengatakan, “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah (TL.-belilah) gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!” Mengapa Tuhan menyuruh kita untuk membeli tanpa uang pembeli? Disatu pihak kita tidak memiliki uang untuk membeli, tetapi di pihak lain kita tidak dapat mengatakan bahwa kita tidak memiliki apa-apa. Kita mungkin tidak memiliki uang, tetapi kita memiliki diri kita sendiri. Kita harus memberikan diri kita sendiri sebagai harga pembelian itu. Kita harus memberikan diri kita kepada Tuhan. Yesaya 55:3 mengatakan, “Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku....” Inilah harganya. Harga ini bukanlah uang, atau apa yang tidak kita miliki. Harga ini adalah apa adanya diri kita. Kita harus mempersembahkan diri kita sebagai bayaran kepada Tuhan.

Penerapan:
Kurangnya kebajikan Allah yang dapat kita perhidupkan dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu indikasi dari suatu penyakit yang dapat kita sebut sebagai kemiskinan rohani. Kadar Allah yang kita miliki terlalu sedikit. Marilah kita lebih banyak membuka diri, bukan kepada dunia, tetapi kepada Allah dan firman-Nya. Demikian kita akan diperkaya oleh hayat, sifat, dan segala kebajikan Allah.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku mau membuka hati dan rohku. Mengalirlah dan tambahkanlah diri-Mu ke dalamku. Aku mau diperkaya oleh hayat, sifat, dan segala kebajikan-Mu yang manis. Berilah aku minat yang lebih besar terhadap firman-Mu dan hal-hal rohani, dan kabulkanlah doaku.

24 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 2 Rabu

Sungai Mengalir Dari Eden
Kejadian 2:10a
“Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu.”

Sesudah menyinggung mengenai pohon, maka Kejadian pasal dua menyebut tentang sungai. Di dalam Alkitab, peranan sungai sangat besar, sebab perihal manusia menerima Allah sebagai hayat, menikmati kelimpahan Allah untuk meleraikan dahaga, didiris, bertumbuh, dan bersukacita, banyak dihubungkan dengan sungai (bd. Mzm. 36:8-9; 46:5; 65:10; Kel.17:1-7; Yl. 3:18; Za. 14:8; Yoh. 4:14; 7:37-38; Why. 22:1-2).
Pohon dan sungai yang mengalir menunjukkan bahwa selain perlu makan, menerima Tuhan sebagai makanan, kita juga perlu menerima-Nya sebagai aliran sungai hayat yang mendiris dan menyegarkan agar kita dapat bertumbuh. Aliran ini mengerjakan banyak hal di dalam kita.
Dalam kehidupan jasmani kita, kita harus minum air yang cukup untuk mempertahankan peredaran darah kita. Kehidupan jasmani kita bergantung pada air. Demikian pula hari demi hari, kita harus menyesap air hayat ilahi ini untuk mempertahankan kehidupan rohani kita.
Dalam Kitab Hakim-Hakim pasal 15, kita melihat bagaimana Simson memukul 1000 orang Filistin dengan tulang rahang keledai. Kemudian, Simson merasa sangat haus, maka berserulah ia kepada Tuhan (Hak. 15:18) dan Allah “membelah liang batu yang di Lehi itu, dan keluarlah air dari situ. Ia minum, lalu menjadi kuat dan segar kembali. Sebab itu dinamailah mata air itu Mata Air Penyeru, yang sampai sekarang masih ada di Lehi” (ay. 19). Karena itu, ketika kita berseru kepada Tuhan, memanggil nama-Nya, kita minum air hidup dan disegarkan.

Sungai Air Hayat Dan Rumah Allah
Yl. 3:18; Yeh. 47:1

Banyak catatan mengenai air yang tercantum dalam Alkitab. Dalam Keluaran 15 ada kayu yang dilempar ke dalam sungai yang berair pahit sehingga air tersebut menjadi manis. Dalam Keluaran pasal 17 ada batu karang yang dipukul hingga terbelah dan mengalirkan air untuk memberi minum banyak orang. Dalam Bilangan pasal 20, kita berjumpa dengan batu karang yang sama, yang telah terbelah, tetapi sekarang kita perlu memerintahkannya untuk mengeluarkan air. Dalam Bilangan pasal 21, kita melihat bahwa di dalam diri kita ada sumur, tetapi kita perlu menggali segala batu dan kotoran dari sumur itu agar air dapat mengalir dengan lancar. Dalam Hakim-Hakim pasal 15, Simson berseru kepada Tuhan karena ia sangat haus (hampir mati kehausan - TL.), karenanya Allah menyediakan baginya air untuk minum hingga ia disegarkan.
Kelima kasus di atas menunjukkan kepada kita bahwa air hidup (air hayat) meleraikan dahaga kita dan menyelesaikan masalah kita. Namun, dalam Kejadian pasal dua, sungai air hayat bukan hanya meleraikan dahaga kita dan menyelesaikan masalah kita, tetapi juga membuat kita dapat ditransformasi dan dibangunkan menjadi tempat kediaman kekal Allah. Itulah sebabnya dalam Kejadian pasal dua ini selain ada sungai juga disebutkan bahan-bahan pembangunan rumah Allah (emas, damar bedolah, dan batu krisopras). Semakin kita minum air hayat ini, semakin kita diubah (ditransformasi) dan dibangunkan menjadi tempat kediaman kekal Allah.
Sebelum tempat kediaman Allah terbangun, kita perlu air hayat untuk mentransformasi kita menjadi bahan pembangunan tempat kediaman Allah. Namun, begitu tempat kediaman Allah terbangun, air hayat juga mengalir keluar darinya. Yoel 3:18 memberi tahu kita bahwa sebuah aliran akan memancar keluar dari rumah Allah. Yehezkiel pasal 47 juga memberi tahu kita bahwa ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci (ay. 1). Ini sesuai dengan pengalaman kita. Begitu diselamatkan, kita memiliki perasaan bahwa ada sesuatu di dalam kita yang mengalir. Tetapi jika kita ingin menikmati aliran ini terus menerus, maka kita harus ada dalam kehidupan gereja.
Begitu kita masuk ke dalam penghidupan gereja, aliran sungai hayat mengalir terus menerus. Jika aliran air hayat di dalam kita hanya sesekali dan tidak terus menerus, ini berarti bahwa kita tidak sedang berada di dalam rumah Allah tetapi di padang belantara. Kita perlu masuk ke dalam rumah Allah untuk menikmati aliran hayat yang terus menerus. Kita tidak seharusnya puas dengan aliran yang hanya sesekali dan terputus-putus di padang belantara, tetapi kita semua perlu mengalami aliran yang terus menerus di dalam rumah Allah. Aliran yang demikian adalah lebih dalam, lebih luas, dan lebih kaya.

Penerapan:
Kapan saja kita berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu” atau tatkala kita berdoa kepada-Nya, maka kita akan menerima Allah ke dalam kita. Kita akan merasakan hayat-Nya membasahi diri kita. Akibatnya, hal-hal yang usang yang ada di dalam diri kita akan terkikis sedikit demi sedikit.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, basahilah, dirislah diriku setiap saat. Tuhan, aku mau segala yang usang terhapus dari diriku. Segarkanlah aku dengan air hidup-Mu agar aku bertumbuh dewasa di hadapan-Mu.

23 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 2 Selasa

Menarik Dan Baik Untuk Dimakan
Kejadian 2:9
“Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.”

Dalam Kejadian 2:9 ada dua fakta yang penting mengenai pohon yaitu, pertama adalah “menarik untuk dipandang”. Manusia tidak bisa hidup tanpa makan, namun agar kita memiliki selera makan yang tinggi, maka Allah membuat berbagai pohon di bumi yang menarik. Kita bisa membayangkan alangkah membosankan apabila di seluruh taman hanya ada satu jenis pohon, satu bentuk, dan bahkan hanya memiliki satu warna. Haleluya, Allah kita peduli akan kebutuhan kita.
Dalam pengalaman kita, pertama-tama Allah menarik kita kepada-Nya dengan mewahyukan keindahan-Nya, keelokan-Nya. Selanjutnya, kita rela membuang dunia, karena melihat kemustikaan-Nya, seperti lagu di bawah ini:

(1) Pernahkah rohmu berjumpa Dia, serta hatimu direbut-Nya?
Bila kau kenal Dia yang utama, kau pasti pilih berkat prima.
Koor:
Antara insan, Kau yang utama! Buka mataku, rebut hatiku,
Hancurkan b’rhala, Tuhan ternobat, antara insan, Kau yang utama
(2) Apa yang membuat b’rhala dunia, kehilangan daya tariknya?
Bukan kecewa, bukan anjuran, melainkan kemustikaan-Nya.
(3) Bukanlah dorongan manusia, mampu kesampingkan berhala;
Tetapi keindahan mulia-Nya, serta kelembutan hati-Nya.

Fakta kedua yang penting mengenai pohon adalah “baik untuk dimakan”. Allah sangat memperhatikan masalah pertumbuhan kita, karena itu Ia menyediakan berbagai pohon yang menarik dan baik untuk dimakan buahnya. Dalam hidup sehari-hari, kita juga perlu memperhatikan masalah makan ini, bukan hanya makanan jasmani tetapi juga makanan rohani kita.

Perihal Makan (2)
Kej. 2:8-9; Mat. 26:26;Yoh. 6:51; Why. 2-3; 22:14

Satu garis “makan” ini jelas menyusuri seluruh Alkitab. Mulai Kitab Kejadian pasal dua sampai dengan kitab Wahyu pasal terakhir, perkara ini selalu dikemukakan. Bani Israel makan daging domba Paskah di Mesir, makan manna di padang belantara. Sampai di tanah Kanaan, mereka memakan hasil kekayaan tanah Kanaan. Sewaktu mereka beribadah dan mempersembahkan korban, mereka memakan beraneka jenis korban. Ketika Tuhan Yesus datang, Ia berkata, “Akulah roti hidup, makanlah Aku.” Ketika kita memperingati Tuhan, itu pun bukan ditujukan kepada renungan atau penyembahan. Tuhan berkata, “Inilah TubuhKu, ambillah, makanlah. Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku (Mat. 26:26)”. Peringatan yang sejati ialah demi roh sekali lagi menerima Tuhan ke dalam kita.
Kita jangan hanya aktif dan banyak bekerja, tetapi di dalam roh terlampau sedikit menikmati Kristus. Adalah wajar jika seluruh gereja menikmati Kristus. Sebab itu, Wahyu pasal dua dan tiga, tujuh kali mencatat panggilan untuk pemenang. Di antaranya, tiga kali menyangkut perihal makan. Yang pertama, menyinggung makan dari pohon hayat; kedua, makan manna tersembunyi; ketiga, berpesta. Umat Allah zaman Perjanjian Lama melakukan ketiga-tiganya itu. Wahyu pasal dua dan tiga bermaksud memulihkan hal ini. Kekristenan masa kini telah kehilangan ini. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh kita menang, kembali kepada keadaan semula. Asal kita kenyang akan Kristus, dengan sendirinya rasa penasaran lenyap, duniawi tertanggal. kita cukup makan Kristus.
Manusia tidak mungkin lulus dari makan. Perkara makan berulang terus dari hari ke hari. Suami menyusahkan, istri merepotkan, pekerjaan banyak, rumit, semua itu hanya bisa diselesaikan dengan jalan makan Kristus. Semakin makan Kristus, persoalan kita semakin beres.
Pada akhir surat Wahyu dikatakan, “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon kehidupan (Why. 22:14)”. Berkat bahagia di sini ialah memiliki hak atas pohon kehidupan. Jadi nasib yang Allah sediakan bagi manusia adalah makan buah pohon hayat. Artinya: makan Tuhan, selama-lamanya makan Tuhan.
Setelah makan kenyang, pasti bisa bekerja. Anak yang sudah kenyang dan sehat, pasti lincah, suka bergerak. Kenyangkanlah diri sendiri, dan kenyangkanlah orang lain. Asal semuanya kenyang, gereja niscaya hidup. Persoalannya bukanlah bekerja di luaran, melainkan hidup di dalam. Makan kenyang Kristus, baru ada kekuatan untuk bergerak. Hari ini kita tidak memerlukan anjuran lahiriah, kita memerlukan suplai di dalam.

Penerapan:
Manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Roti adalah makanan untuk tubuh kita, sedangkan firman adalah makanan untuk roh kita. Setiap kali kita memakan firman Tuhan dengan membaca dan menjadikannya doa kita, maka firman ini akan menjadi sukacita kita yang sejati.

Pokok Doa:
Ya Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau begitu peduli akan kami. Engkau memberi semua yang menarik bagi kami, bahkan Engkau mewahyukan segala keelokkan-Mu pada kami. Tuhan Yesus, buatlah kami hanya tertarik pada-Mu.

22 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 2 Senin

Taman Eden
Kejadian 2:8
“Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.”

Allah meletakkan manusia di sebuah taman, bukan di pabrik tempat orang bekerja; atau di sekolah tempat orang harus belajar; atau di lapangan tempat orang bermain; juga bukan di rumah sakit tempat orang berobat. Taman bukan saja indah, tetapi juga menyenangkan, pun tempat untuk menumbuhkan sesuatu, tempat untuk menghasilkan kehidupan. Allah tidak begitu mempedulikan perihal belajar atau bahkan penyembahan. Ia mempedulikan pertumbuhan. Itulah sebabnya Ia menempatkan manusia di taman.
Pikiran Paulus dalam 1 Korintus 3:9, “Kamu adalah ladang Allah” sama dengan pikiran Allah dalam Kejadian pasal dua, sebab ladang adalah tempat bagi pertumbuhan. Karena menghasilkan kehidupan, maka dalam taman terlihat benda-benda yang indah. Sebaliknya, sukar untuk menemukan keindahan-keindahan di pabrik.
Taman tempat manusia diletakkan bukanlah taman sembarangan, tetapi adalah taman di Eden, di sebelah Timur. Dalam Alkitab “sebelah timur” melambangkan arah dari kemuliaan, sebab kemuliaan Allah Israel datang dari sebelah timur (Yeh. 43:2). Kata “Eden” dalam bahasa Ibrani berarti “sukaria”. Maka Eden adalah tempat sukaria, kenikmatan, dan penghiburan. Allah menempatkan manusia di Taman Eden, di sebelah Timur, berarti Allah menempatkan manusia di taman sukaria, penuh kenikmatan, penghiburan, dan kemuliaan Allah. Penghidupan gereja yang tepat haruslah seperti sebuah taman yang sedemikian, tempat kaum saleh bertumbuh.

Perihal Makan (1)
Kej. 2:8-9;Yoh. 6:57; Flp. 1:21; Gal. 2:20

Telah kita bahas di minggu pertama, bahwa Allah menciptakan manusia sebagai wadah guna diisi Allah. Betapapun baik dan unggulnya kita, kita tak lebih dari sebuah bejana. Allah itulah isi kita. Tanpa memperoleh hayat dan sifat Allah, tanpa terisi penuh oleh Allah, kita hanyalah bejana kosong. Hidup sehari-hari kita, perasaan dan sepak terjang kita niscaya hampa belaka. Inilah takdir rencana Allah terhadap manusia, inilah takdir Allah terhadap manusia.
Semakin diisi Allah, semakin kita bertumbuh. Bertumbuh bukan berarti mengerti Alkitab lebih banyak, atau melayani lebih banyak, atau mempersembahkan harta lebih banyak, atau menghadiri sidang-sidang gereja lebih banyak. Bertumbuh berarti terisi oleh Allah lebih banyak.
Bagaimanakah Allah mencapai tujuan ini, membuat kita terisi penuh oleh Allah sehingga bertumbuh? Lihatlah contoh dari benda-benda material. Jika kita ingin memasukkan sesuatu, misalnya daging ayam, ke dalam tubuh manusia, supaya menjadi sel-sel jaringan tubuh manusia, jalannya ialah memakannya, lalu dicerna, diserap kemudian menjadi butir-butir darah dan sel-sel tubuh.
Itulah sebabnya, setelah manusia diciptakan, Allah tidak menyuruhnya berbuat apa-apa; Allah hanya menempatkannya di dalam taman di Eden. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej. 2:9). Allah menyatakan diri-Nya di hadapan manusia dalam corak makanan agar diterima oleh manusia masuk ke dalam mereka. Allah boleh kita makan, Dia ingin masuk ke dalam manusia; bukan hanya menjadi hidup (hayat) manusia, juga menjadi jaminan hidup bagi manusia.
Tuhan juga bersabda, “Akulah roti hidup, barangsiapa memakan Aku, akan hidup oleh Aku (Yoh. 6:57).” Makan Tuhan, baru bisa menerima Allah ke dalam kita, menjadi isi kita. Bukan saja mengerti, jelas, mengenal Tuhan, mencintai-Nya, percaya kepada-Nya, mengikuti-Nya, menyembah-Nya, lebih-lebih harus pula memakan Dia.
Dewasa ini Tuhan ingin memulihkan sasaran ini. Percaya Tuhan bukan hanya untuk menerima ampunan dosa, masuk sorga, bahkan menerima Tuhan ke dalam kita, tercerna menjadi satu senyawa. Karena itu Paulus berkata, “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Tambahan katanya, “bagiku hidup adalah Kristus.” Kristus menjadi hayatnya, menjadi unsurnya, menjadi satu dengannya.

Penerapan:
Marilah kita membina kehidupan gereja yang penuh sukacita dan atmosfir pertumbuhan melalui lebih banyak menghafal firman bersama, berdoa syafaat, dan melayani bersama.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, walaupun kadang kala aku mengalami kondisi yang sulit aku pecahkan,bantulah aku bertumbuh dan selalu bersukacita.