Dibawa ke Gunung Moria
Kejadian 22:2
“Firman-Nya: ‘Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.’”
Sumber air hidup menjadikan Ishak suatu kurban bakaran (Kej. 22:2, 9), sedangkan sumber yang diminum Ismael menjadikan dia seorang pemanah, seorang yang hidup di dalam kekejaman bagi dirinya sendiri. Sumber kehidupan Ishak menjadikan dia suatu kurban bakaran, yang dipersembahkan bagi kepuasan Allah. Sumber kehidupan ini memimpin Ishak naik ke Moria, bukannya turun ke Mesir (Kej. 22:2). Sumber kehidupan Ismael memimpin orang-orang berjalan menurun, tetapi sumber kehidupan milik Ishak memimpin orang-orang naik ke bukit Moria, yang di kemudian hari Yerusalem dibangun di sana. Akhirnya, sumber kehidupan yang normal akan membuat kita semua menjadi Ishak dan akan memimpin kita ke Yerusalem Baru. Gunung Moria akhirnya menjadi gunung Sion tempat bait Allah didirikan (2 Taw. 3:1), menjadi pusat tanah permai yang diberikan Allah kepada Abraham dan keturunannya.
Dari Abraham keluar dua macam orang: yang pertama diwakili oleh Ismael yang hidup di padang gurun dan bersatu dengan Mesir; sedang yang lain diwakili oleh Ishak yang hidup di Bersyeba dan yang dibawa ke gunung Moria. Hari ini juga terdapat dua macam orang Kristen; yang satu seperti Ismael, hidup bagi diri mereka sendiri di padang gurun jiwa mereka dan bersatu dengan dunia; sedang yang lainnya seperti Ishak, hidup bagi Allah di dalam roh mereka dan di dalam gereja dan dibawa ke Sion. Jadi, orang-orang Kristen sejati, dapat juga hidup seperti Ismael, hidup di dalam angan-angan dan kesukaan diri kita sendiri serta bersatu dengan dunia. Sumber “air” yang salah dapat membuat kita hidup seperti Ismael.
Mengalami Ujian yang Ketiga
Kej. 22:1-3; Ibr. 11:18
Untuk perkara anak, Abraham sudah menerima dua kali ujian. Ujian yang pertama adalah melahirkan Ismael, ujian yang kedua berdoa bagi perempuan-perempuan keluarga Abimelekh. Sekarang Abraham menerima ujian yang ketiga, yaitu pergi ke gunung Moria untuk mempersembahkan Ishak. Kejadian 22:1-3 mencantumkan, “Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Dia berfirman kepadanya: Abraham, lalu sahutnya: Ya, Tuhan. FirmanNya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Permintaan ini berhubungan dengan penggenapan janji Allah. Ishak adalah anak tunggal Abraham yang sangat dikasihi Abraham. Bagi Abraham, mempersembahkan Ishak adalah harga yang terlalu besar.
Ibrani 11:18 mengatakan, “. . . keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Mempersembahkan Ishak bukan hanya masalah mengorbankan seorang anak yang sangat dikasihi Abraham, juga berhubungan dengan janji Allah, dengan tujuan Allah dan pekerjaan Allah. Anak yang Allah berikan kepada Abraham ini, bukan hanya diberikan kepada Abraham seorang, tetapi Allah juga ingin mencapai tujuan-Nya melalui anak ini. Kalau anak ini mati, apa yang akan terjadi? Inilah ujian yang diterima Abraham. Ibrani 11:18 menyiratkan kepada kita, ujian ini berhubungan dengan masalah bejana. Allah ingin memberi Abraham satu anak, tetapi Ia juga menyuruh mempersembahkan anaknya itu sebagai korban bakaran! Korban bakaran harus dibakar oleh api sampai habis. Semua janji Allah ada pada Ishak; kalau membakar Ishak, bukankah berarti membakar habis semua janji Allah? Tujuan Allah, pekerjaan Allah, semua tertumpuk pada diri Ishak; kalau Ishak dibakar, bukankah tujuan Allah dan pekerjaan Allah juga terbakar? Ismael dilahirkan berdasarkan daging. Kalau ia diusir, itu memang masuk akal dan benar. Tetapi Ishak dilahirkan berdasarkan janji Allah, mengapa dia harus dipersembahkan sebagai korban bakaran? Abraham sebenarnya tidak memaksa meminta anak itu, tetapi Allah sendiri yang memberi kepadanya. Sekarang, Allah akan mengambil kembali anaknya, bukan mengambil dengan cara biasa, melainkan dengan membakamya. Ini perkara yang sangat mengherankan. Pertama disuruh melahirkan, tetapi kemudian disuruh mempersembahkannya, bagaimana ini? Ini tidak lain karena Allah ingin supaya Abraham mengenal lebih dalam bahwa Allah adalah Bapa, Allah adalah sumber. Dia berhak melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya atas diri kita, demi kebaikan kita.
Penerapan:
Sumber “air” apakah yang kita minum setiap hari? Berbagai media hiburan setiap hari siap disajikan kepada kita, baik melalui media cetak, televisi, radio, ataupun melalui internet. Kalau kita minum “air” itu, tanpa sadar kita akan hidup seperti Ismael, hidup bagi diri sendiri. Kita perlu minum dari sumber”air” yang lain, sumber air hidup, yaitu Kristus yang terwujud di dalam firman kudus. Karena itu marilah kita bertekun di dalam firman-Nya.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, Engkaulah sumber air hidup yang sanggup memuaskan aku. Bangkitkanlah kedambaan di dalam hatiku untuk selalu datang dan menikmati firman kudus-Mu setiap hari agar aku dapat menempuh kehidupan yang Engkau perkenan.
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
09 October 2006
07 October 2006
Kejadian Volume 7 - Minggu 1 Sabtu
Memanggil Nama Yehova El-Olam (1)
Kejadian 21:33
“Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal (Yehova, El-Olam - TL.).”
Ketika Abraham tinggal di Bersyeba, ia harus mengerjakan banyak perkara. Tetapi di sini Alkitab hanya memberi tahu kita satu perkara — yaitu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba dan menyeru nama Yehova El-Olam, Allah yang kekal, yang tersembunyi sebagai hayatnya. Kata penghubung “dan” yang dipakai untuk menghubungkan kedua bagian kalimat dalam Kejadian 21:33. Abraham menanam sebatang pohon tamariska “dan” disana memanggil nama Yehova, El-Olam. Menurut pikiran manusiawi kita, menanam pohon tidak ada hubungannya dengan perihal memanggil nama Tuhan, terlebih pula tidak ada hubungannya dengan sebutan nama Allah yang baru diwahyukan ini. Namun di dalam Alkitab, di sini memberi kepada kita satu dasar yang tepat untuk menyeru nama Tuhan. Jika kita akan menyeru nama Tuhan, kita memerlukan pohon tamariska. Jika kita tidak memiliki pengalaman pohon tamariska ini, kita hanya dapat menyeru nama lama Allah, Yehova, bukan nama baru-Nya yang tersingkap sebagai El- Olam.
Dalam perkataan Perjanjian Baru, Abraham telah mengalami hayat kekal itu mengalir dengan segala kelimpahannya seperti pohon tamariska yang mengekspresikan kelimpahan dari sumur yang olehnya dia hidup. Hidup kekristenan kita dan hidup gereja yang normal, keduanya adalah pohon tamariska, mengekspresikan pohon hayat yang olehnya kita hidup. Dan ini terjadi bersamaan dengan menyeru nama Tuhan yang adalah hayat kekal kita, Yehova kita, El-Olam kita.
Memanggil Nama Yehova, El-Olam (2)
Kej. 21:33; Mzm. 90:2; Yes. 40:28; Yoh. 1:1, 4
Kejadian 21:33 mengatakan kepada kita bahwa Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, selain itu juga mengatakan ia “di sana memanggil nama Tuhan (Yehova - TL.), Allah yang kekal (El-Olam)”. Di sini kita melihat nama lain yang istimewa bagi Allah — Yehova, El-Olam. Dalam Kejadian pasal 17 kita melihat El-Shaddai, Sang Maha Kuasa yang serba cukup. Di sini kita melihat El-Olam. Dalam bahasa Ibrani Olam berarti kekekalan atau kekal. Akan tetapi, akar kata dalam bahasa Ibraninya berarti menyembunyikan, bersembunyi atau terselubung dari pandangan. Segala hal yang diselubungi secara spontan menjadi rahasia. Akhirnya Abraham mengalami Allah sebagai Sang kekal, sebagai persona yang misterius. Kita tidak dapat melihat-Nya, namun Ia sangat riil. Keberadaan-Nya/eksistensi-Nya adalah kekal, karena Ia tidak mempunyai awal maupun akhir. Ia adalah Allah yang kekal (Mzm. 90:2; Yes. 40:28).
Di sini kita menemukan benih lain yang kemudian berkembang di dalam Perjanjian Baru. Allah yang dialami Abraham dalam Kejadian pasal 21 sama dengan yang diwahyukan di dalam Yohanes 1:1, 4, “Pada mulanya ada Firman . . . dan Firman itu adalah Allah . . . dalam Dia ada hidup.” Hidup ini adalah El-Olam. Allah yang misterius di dalam kekekalan ini adalah hayat kekal kita. Hidup kekal ini adalah Person ilahi yang sangat tersembunyi, terselubung, misterius, rahasia, namun sangat riil, selamanya ada, dan selamanya hidup, tanpa permulaan dan tanpa akhir. Nama El-Olam mengandung arti hidup yang kekal. Di sini bukannya Allah diwahyukan kepada Abraham, melainkan dialami olehnya sebagai hayat kekal. Melalui pohon tamariska di Bersyeba, Abraham dapat mempersaksikan kepada seluruh alam semesta bahwa dia mengalami Sang tersembunyi, yang selamanya hidup, sebagai hayat misteriusnya. Di Bersyeba ia menyeru nama Yehova, tetapi tidak mengalami-Nya sebagai Allah yang misterius, yang selamanya hidup. Tetapi di dalam Kejadian pasal 21 ini, setelah mempunyai banyak pengalaman, dia dengan Ishak di Bersyeba di bawah pohon tamariska, mengalami Sang Misterius, yang selamanya hidup sebagai hayat yang di dalam dan menyeru, “Oh Yehova El-Olam!” Sekalipun tidak seorangpun dapat melihat Sang Misterius ini, namun Ia sangat riil di dalam pengalaman Abraham. Dia yang kita miliki di batin kita hari ini adalah El-Olam, Sang tersembunyi, rahasia, terselubung, misterius, dan yang selamanya hidup. Ia adalah hayat kita. Kita bisa memiliki kenikmatan yang sama dengan Abraham hanya dengan menyeru “Oh Tuhan Yesus”.
Penerapan:
Berseru kepada nama Tuhan merupakan jalan yang Tuhan berikan kepada kita agar kita dapat menikmati segala kelimpahan Tuhan. Kita perlu belajar untuk setiap saat terbuka kepada Tuhan; membuka mulut, hati, dan roh kita melalui seruan kita. Saat kita berseru, kelimpahan hayat Tuhan akan tersalur ke dalam kita dan segera memuaskan rasa haus dan lapar kita di batin.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih untuk nama-Mu yang manis; nama yang menyelamatkan dan berkuasa. Dalam segala situasi, aku boleh berseru kepada-Mu dan aku tahu Engkau pasti mendengarkan seruanku. Tuhan, buatlah aku mengalami keselamatan di dalam nama-Mu ini.
Kejadian 21:33
“Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal (Yehova, El-Olam - TL.).”
Ketika Abraham tinggal di Bersyeba, ia harus mengerjakan banyak perkara. Tetapi di sini Alkitab hanya memberi tahu kita satu perkara — yaitu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba dan menyeru nama Yehova El-Olam, Allah yang kekal, yang tersembunyi sebagai hayatnya. Kata penghubung “dan” yang dipakai untuk menghubungkan kedua bagian kalimat dalam Kejadian 21:33. Abraham menanam sebatang pohon tamariska “dan” disana memanggil nama Yehova, El-Olam. Menurut pikiran manusiawi kita, menanam pohon tidak ada hubungannya dengan perihal memanggil nama Tuhan, terlebih pula tidak ada hubungannya dengan sebutan nama Allah yang baru diwahyukan ini. Namun di dalam Alkitab, di sini memberi kepada kita satu dasar yang tepat untuk menyeru nama Tuhan. Jika kita akan menyeru nama Tuhan, kita memerlukan pohon tamariska. Jika kita tidak memiliki pengalaman pohon tamariska ini, kita hanya dapat menyeru nama lama Allah, Yehova, bukan nama baru-Nya yang tersingkap sebagai El- Olam.
Dalam perkataan Perjanjian Baru, Abraham telah mengalami hayat kekal itu mengalir dengan segala kelimpahannya seperti pohon tamariska yang mengekspresikan kelimpahan dari sumur yang olehnya dia hidup. Hidup kekristenan kita dan hidup gereja yang normal, keduanya adalah pohon tamariska, mengekspresikan pohon hayat yang olehnya kita hidup. Dan ini terjadi bersamaan dengan menyeru nama Tuhan yang adalah hayat kekal kita, Yehova kita, El-Olam kita.
Memanggil Nama Yehova, El-Olam (2)
Kej. 21:33; Mzm. 90:2; Yes. 40:28; Yoh. 1:1, 4
Kejadian 21:33 mengatakan kepada kita bahwa Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, selain itu juga mengatakan ia “di sana memanggil nama Tuhan (Yehova - TL.), Allah yang kekal (El-Olam)”. Di sini kita melihat nama lain yang istimewa bagi Allah — Yehova, El-Olam. Dalam Kejadian pasal 17 kita melihat El-Shaddai, Sang Maha Kuasa yang serba cukup. Di sini kita melihat El-Olam. Dalam bahasa Ibrani Olam berarti kekekalan atau kekal. Akan tetapi, akar kata dalam bahasa Ibraninya berarti menyembunyikan, bersembunyi atau terselubung dari pandangan. Segala hal yang diselubungi secara spontan menjadi rahasia. Akhirnya Abraham mengalami Allah sebagai Sang kekal, sebagai persona yang misterius. Kita tidak dapat melihat-Nya, namun Ia sangat riil. Keberadaan-Nya/eksistensi-Nya adalah kekal, karena Ia tidak mempunyai awal maupun akhir. Ia adalah Allah yang kekal (Mzm. 90:2; Yes. 40:28).
Di sini kita menemukan benih lain yang kemudian berkembang di dalam Perjanjian Baru. Allah yang dialami Abraham dalam Kejadian pasal 21 sama dengan yang diwahyukan di dalam Yohanes 1:1, 4, “Pada mulanya ada Firman . . . dan Firman itu adalah Allah . . . dalam Dia ada hidup.” Hidup ini adalah El-Olam. Allah yang misterius di dalam kekekalan ini adalah hayat kekal kita. Hidup kekal ini adalah Person ilahi yang sangat tersembunyi, terselubung, misterius, rahasia, namun sangat riil, selamanya ada, dan selamanya hidup, tanpa permulaan dan tanpa akhir. Nama El-Olam mengandung arti hidup yang kekal. Di sini bukannya Allah diwahyukan kepada Abraham, melainkan dialami olehnya sebagai hayat kekal. Melalui pohon tamariska di Bersyeba, Abraham dapat mempersaksikan kepada seluruh alam semesta bahwa dia mengalami Sang tersembunyi, yang selamanya hidup, sebagai hayat misteriusnya. Di Bersyeba ia menyeru nama Yehova, tetapi tidak mengalami-Nya sebagai Allah yang misterius, yang selamanya hidup. Tetapi di dalam Kejadian pasal 21 ini, setelah mempunyai banyak pengalaman, dia dengan Ishak di Bersyeba di bawah pohon tamariska, mengalami Sang Misterius, yang selamanya hidup sebagai hayat yang di dalam dan menyeru, “Oh Yehova El-Olam!” Sekalipun tidak seorangpun dapat melihat Sang Misterius ini, namun Ia sangat riil di dalam pengalaman Abraham. Dia yang kita miliki di batin kita hari ini adalah El-Olam, Sang tersembunyi, rahasia, terselubung, misterius, dan yang selamanya hidup. Ia adalah hayat kita. Kita bisa memiliki kenikmatan yang sama dengan Abraham hanya dengan menyeru “Oh Tuhan Yesus”.
Penerapan:
Berseru kepada nama Tuhan merupakan jalan yang Tuhan berikan kepada kita agar kita dapat menikmati segala kelimpahan Tuhan. Kita perlu belajar untuk setiap saat terbuka kepada Tuhan; membuka mulut, hati, dan roh kita melalui seruan kita. Saat kita berseru, kelimpahan hayat Tuhan akan tersalur ke dalam kita dan segera memuaskan rasa haus dan lapar kita di batin.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih untuk nama-Mu yang manis; nama yang menyelamatkan dan berkuasa. Dalam segala situasi, aku boleh berseru kepada-Mu dan aku tahu Engkau pasti mendengarkan seruanku. Tuhan, buatlah aku mengalami keselamatan di dalam nama-Mu ini.
06 October 2006
Kejadian Volume 7 - Minggu 1 Jumat
Dua Sumber dan Dua Jenis Kehidupan (1)
Kejadian 21:25
“Tetapi Abraham menyesali Abimelekh tentang sebuah sumur yang telah dirampas oleh hamba-hamba Abimelekh.”
Sumur Ishak terletak di Bersyeba, berdekatan dengan negeri Filistin (Kej. 21:25-32). Sumur ini, tidak seperti sumur Ismael, tidak dekat dengan Mesir, melainkan berbatasan dengan negeri Filistin dan tanah Kanaan. Ketika menggambarkan peta dari tanah yang kudus, Alkitab malah menggunakan ungkapan “dari Dan sampai Bersyeba” (I Sam. 3:20), sebab jarak dari Dan yang di Utara sampai Bersyeba yang di Selatan seluruhnya termasuk dalam tanah Kanaan. Di dalam Alkitab, Filistin mempunyai makna yang istimewa. Tempat ini bukanlah tempat yang secara mutlak menolak Allah, tetapi menangani perkara-perkara Allah menurut kepandaian manusia, tidak menurut usaha/pengelolaan Allah. Perhatikan sebuah gambaran tentang bagaimana orang Filistin menangani tabut (1 Sam. 6:1-9). Mereka tidak menolaknya, mereka menerima, tetapi mereka menanganinya dengan cara alamiah kepandaian mereka. Demikian juga di dalam Kejadian 20 dan 21 kita melihat Abimelekh, raja Filistin, ia tidak menolak Allah melainkan menerimanya di dalam kepandaiannya sendiri. Hal ini berbeda dengan Abraham menerima Allah menurut pengelolaan Allah sendiri.
Sumur Ishak juga memerlukan suatu perjanjian (Kej. 21:31-32). Perjanjian ini merupakan benih Perjanjian Baru. Air kehidupan kita hari ini bukan saja air yang telah ditebus, melainkan juga air yang dijanjikan. Ismael minum air liar, air tanpa tebusan dan tanpa perjanjian. Tetapi semua air yang diminum Ishak adalah air yang ditebus, air perjanjian. Karena sejak kita mengenal Kristus, maka sumber kehidupan kita juga adalah air yang telah ditebus dan air perjanjian.
Dua Sumber dan Dua Jenis Kehidupan (2)
Kej. 21:33; Yoh. 4:14
Di dalam Kejadian pasal 21, dengan jelas diwahyukan adanya dua sumber kehidupan. Yang satu adalah sumber alamiah di padang gurun sukma kita, sedang yang lainnya adalah sumber yang telah ditebus di taman roh kita. Di Bersyeba, Abraham menanam sebatang pohon tamariska (Kej. 21:33). Pohon tamariska, adalah sejenis pohon Willow, yang daunnya sangat indah, sering tumbuh dekat air, dan memberi kesan akan aliran kelimpahan hayat. Setelah membuat perjanjian atas sumur di Bersyeba Abraham menanam sebatang pohon tamariska, yang menyatakan air yang diminumnya mengalir dengan limpah. Tuhan Yesus berkata, barangsiapa percaya kepada-Nya dari dalamnya akan mengalir aliran-aliran air hidup (Yoh. 4:14).
Hidup gereja hari ini bersumber dari sumur yang “di Bersyeba”. Ketika kita minum dari sumur ini dan hidup olehnya, maka kita akan seperti pohon tamariska yang penuh dengan kelimpahan hayat. Ketika orang-orang datang kepada kita, mereka tidak akan merasakan kekeringan, tetapi disegarkan oleh air hayat. Bersyeba yang berarti “sumur sumpah”, adalah tempat di mana gereja berada. Gereja harus berada di tempat sumur sumpah, dan juga penuh dengan pohon tamariska. Kita semua perlu menjadi tamariska yang mengalirkan hayat. Puji Tuhan, di dalam kehidupan gereja ada beberapa pohon tamariska sejati!
Pusat wahyu Kejadian pasal dua adalah pohon hayat. Demikian juga, pusat wahyu dalam bagian kedua daripada Kejadian 21 adalah pohon tamariska. Jika kita memiliki pengenalan rohani dengan terang ilahi, kita akan nampak bahwa pohon tamariska di sini adalah pengalaman dan ekspresi pohon hayat. Jadi, pohon tamariska yang ditanam di dekat sumur sumpah di Bersyeba menggambarkan aliran kelimpahan hayat yang terpencar keluar sebagai akibat mengalami pohon hayat. Apakah pohon hayat ini menjadi pohon tamariska dalam pengalaman kita? Ketika kita mengikuti perhimpunan gereja, pohon hayat ini haruslah menjadi pohon tamariska.
Di sini, di Bersyeba, ada tanaman, sedang pada Ismael, di padang gurun ada semak belukar yang liar. Kehidupan gereja yang normal, menyebabkan orang-orang menjadi tanaman. Sudahkah kita ditanam? Ketika kita telah ditanam, kita takkan liar lagi. Pada Ismael tidak terdapat pohon yang mengalir dengan kelimpahan hayat; yang ada itulah panah. Tanda hidup Ismael adalah busur pembunuh hayat. Sedang tanda hidup Ishak adalah pohon pengaliran hayat. Sebagai orang Kristen, anak Allah, dan keturunan Abraham, apakah tanda kita — busur yang mematikan ataukah pohon tamariska? Biarlah Kristus beserta segala kelimpahannya mengalir terus ke dalam kita.
Penerapan:
Situasi dunia hari ini membuat batin kita terasa kering dan tidak ada perhentian. Semakin minum “air” di dunia, semakin haus, tidak ada rasa puas yang sejati. Marilah kita mulai beralih ke sumur yang lain, yaitu sumur air hidup. Sumur ini adalah seorang persona yaitu Kristus sendiri. Kapan kita datang menikmati Dia, batin kita dipuaskan oleh-Nya.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, berilah aku selera dan rasa haus yang tinggi terhadap-Mu, agar aku boleh minum dari sumber air hidup yang Engkau sediakan bagiku. Tuhan, mulai hari ini aku mau membuka bejanaku untuk Kau isi penuh dengan hayat-Mu.
Kejadian 21:25
“Tetapi Abraham menyesali Abimelekh tentang sebuah sumur yang telah dirampas oleh hamba-hamba Abimelekh.”
Sumur Ishak terletak di Bersyeba, berdekatan dengan negeri Filistin (Kej. 21:25-32). Sumur ini, tidak seperti sumur Ismael, tidak dekat dengan Mesir, melainkan berbatasan dengan negeri Filistin dan tanah Kanaan. Ketika menggambarkan peta dari tanah yang kudus, Alkitab malah menggunakan ungkapan “dari Dan sampai Bersyeba” (I Sam. 3:20), sebab jarak dari Dan yang di Utara sampai Bersyeba yang di Selatan seluruhnya termasuk dalam tanah Kanaan. Di dalam Alkitab, Filistin mempunyai makna yang istimewa. Tempat ini bukanlah tempat yang secara mutlak menolak Allah, tetapi menangani perkara-perkara Allah menurut kepandaian manusia, tidak menurut usaha/pengelolaan Allah. Perhatikan sebuah gambaran tentang bagaimana orang Filistin menangani tabut (1 Sam. 6:1-9). Mereka tidak menolaknya, mereka menerima, tetapi mereka menanganinya dengan cara alamiah kepandaian mereka. Demikian juga di dalam Kejadian 20 dan 21 kita melihat Abimelekh, raja Filistin, ia tidak menolak Allah melainkan menerimanya di dalam kepandaiannya sendiri. Hal ini berbeda dengan Abraham menerima Allah menurut pengelolaan Allah sendiri.
Sumur Ishak juga memerlukan suatu perjanjian (Kej. 21:31-32). Perjanjian ini merupakan benih Perjanjian Baru. Air kehidupan kita hari ini bukan saja air yang telah ditebus, melainkan juga air yang dijanjikan. Ismael minum air liar, air tanpa tebusan dan tanpa perjanjian. Tetapi semua air yang diminum Ishak adalah air yang ditebus, air perjanjian. Karena sejak kita mengenal Kristus, maka sumber kehidupan kita juga adalah air yang telah ditebus dan air perjanjian.
Dua Sumber dan Dua Jenis Kehidupan (2)
Kej. 21:33; Yoh. 4:14
Di dalam Kejadian pasal 21, dengan jelas diwahyukan adanya dua sumber kehidupan. Yang satu adalah sumber alamiah di padang gurun sukma kita, sedang yang lainnya adalah sumber yang telah ditebus di taman roh kita. Di Bersyeba, Abraham menanam sebatang pohon tamariska (Kej. 21:33). Pohon tamariska, adalah sejenis pohon Willow, yang daunnya sangat indah, sering tumbuh dekat air, dan memberi kesan akan aliran kelimpahan hayat. Setelah membuat perjanjian atas sumur di Bersyeba Abraham menanam sebatang pohon tamariska, yang menyatakan air yang diminumnya mengalir dengan limpah. Tuhan Yesus berkata, barangsiapa percaya kepada-Nya dari dalamnya akan mengalir aliran-aliran air hidup (Yoh. 4:14).
Hidup gereja hari ini bersumber dari sumur yang “di Bersyeba”. Ketika kita minum dari sumur ini dan hidup olehnya, maka kita akan seperti pohon tamariska yang penuh dengan kelimpahan hayat. Ketika orang-orang datang kepada kita, mereka tidak akan merasakan kekeringan, tetapi disegarkan oleh air hayat. Bersyeba yang berarti “sumur sumpah”, adalah tempat di mana gereja berada. Gereja harus berada di tempat sumur sumpah, dan juga penuh dengan pohon tamariska. Kita semua perlu menjadi tamariska yang mengalirkan hayat. Puji Tuhan, di dalam kehidupan gereja ada beberapa pohon tamariska sejati!
Pusat wahyu Kejadian pasal dua adalah pohon hayat. Demikian juga, pusat wahyu dalam bagian kedua daripada Kejadian 21 adalah pohon tamariska. Jika kita memiliki pengenalan rohani dengan terang ilahi, kita akan nampak bahwa pohon tamariska di sini adalah pengalaman dan ekspresi pohon hayat. Jadi, pohon tamariska yang ditanam di dekat sumur sumpah di Bersyeba menggambarkan aliran kelimpahan hayat yang terpencar keluar sebagai akibat mengalami pohon hayat. Apakah pohon hayat ini menjadi pohon tamariska dalam pengalaman kita? Ketika kita mengikuti perhimpunan gereja, pohon hayat ini haruslah menjadi pohon tamariska.
Di sini, di Bersyeba, ada tanaman, sedang pada Ismael, di padang gurun ada semak belukar yang liar. Kehidupan gereja yang normal, menyebabkan orang-orang menjadi tanaman. Sudahkah kita ditanam? Ketika kita telah ditanam, kita takkan liar lagi. Pada Ismael tidak terdapat pohon yang mengalir dengan kelimpahan hayat; yang ada itulah panah. Tanda hidup Ismael adalah busur pembunuh hayat. Sedang tanda hidup Ishak adalah pohon pengaliran hayat. Sebagai orang Kristen, anak Allah, dan keturunan Abraham, apakah tanda kita — busur yang mematikan ataukah pohon tamariska? Biarlah Kristus beserta segala kelimpahannya mengalir terus ke dalam kita.
Penerapan:
Situasi dunia hari ini membuat batin kita terasa kering dan tidak ada perhentian. Semakin minum “air” di dunia, semakin haus, tidak ada rasa puas yang sejati. Marilah kita mulai beralih ke sumur yang lain, yaitu sumur air hidup. Sumur ini adalah seorang persona yaitu Kristus sendiri. Kapan kita datang menikmati Dia, batin kita dipuaskan oleh-Nya.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, berilah aku selera dan rasa haus yang tinggi terhadap-Mu, agar aku boleh minum dari sumber air hidup yang Engkau sediakan bagiku. Tuhan, mulai hari ini aku mau membuka bejanaku untuk Kau isi penuh dengan hayat-Mu.
05 October 2006
Kejadian Volume 7 - Minggu 1 Kamis
Sumur Ismael
Kejadian 21:19
“Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.”
Sumur Ismael, sumber kehidupannya terletak di padang belantara dekat dengan Mesir (Kej. 21:19-21; 25:12, 18). Di dalam Alkitab, padang gurun selalu menyatakan tempat yang ditolak oleh Allah. Gambaran yang paling baik untuk hal ini adalah perihal pengembaraan anak-anak Israel di padang gurun. Menurut perlambangan, padang gurun juga menyatakan jiwa kita. Jika kita hidup di dalam jiwa kita, berarti kita di dalam keadaan yang ditolak Allah.
Sumur Ismael lokasinya dekat dengan Mesir. Ini berarti bila kita hidup di dalam jiwa kita, di dalam orang alamiah kita, kita akan dengan mudah terhanyut ke dalam dunia yang dilambangkan dengan Mesir. Sumber kehidupan Ismael menjadikannya seorang pemanah (Kej. 21:20). Perbedaan antara seorang pemanah dan seorang petani yaitu: seorang petani menumbuhkan hayat sedang seorang pemanah membunuh. Sumber kehidupan Ismael bahkan menyatukannya dengan Mesir, yaitu jatuh ke dunia (Kej. 21:21).
Hagar lalu mengambil isteri bagi anaknya dari Mesir, dari sumbernya sendiri. Sebagai orang Mesir, ia menginginkan seorang perempuan Mesir sebagai menantunya. Dengan mengambil seorang istri dari tanah Mesir, Hagar mengikat Ismael dengan perkara-perkara Mesir. Hagar tanpa sadar telah menjerumuskan anaknya sehingga bersatu dengan dunia.
Kita harus memperhatikan sumber air yang kita minum. Di dunia ini ada semacam sumur yang disebut dengan sumur kesenangan. Walau di dalamnya ada berbagai bentuk hiburan, namun selalu berakhir dengan dosa. Kita harus minum dari sumber yang lain, yaitu Kristus - sumber air hidup.
Sumur Ishak
Kej. 21:22-34; Mzm. 36:9; Yoh. 4:14; 7:37-38; 1 Kor. 12:13; Why. 22:17
Puji Tuhan karena ada sumur yang lain —sumur bagi Ishak (Kej. 21:22-34). Sekalipun Kristus telah lahir dan bertumbuh besar, di dalam hidup gereja kita masih harus tahu adanya dua sumber atau dua jenis kehidupan yang berbeda. Jenis kehidupan yang manakah yang kita miliki — kehidupan Ismael atau kehidupan Ishak? Kita juga harus menguji jenis air yang manakah yang kita minum tiap hari. Adakah kita minum dari sumur Ismael ataukah air dari sumur Ishak?
Banyak ayat di dalam Alkitab yang membicarakan tentang sumur positif ini. Mazmur 36:9 mengatakan, “Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu.” Tuhan senang memberi kita minum dari sungai kesenangan-Nya. Di dalam Yohanes 4:14 Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal” (TL.). Ini berarti bahwa diri Allah menjadi sumber (sumur) hayat kita.
Di dalam Yohanes 7:37-38 Tuhan Yesus membicarakan tentang minum, “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Selanjutnya, di dalam 1 Korintus 12:13, rasul Paulus mengatakan bahwa kita semua diberi minum dari satu Roh. Bahkan pasal terakhir di dalam Alkitab pun menulis tentang minum, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, “Marilah!” Siapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata , “Marilah!” Siapa yang haus, hendaklah ia datang, dan siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” (Why. 22:17).
Sumur Ishak juga merupakan sumur yang ditebus (Kej. 21:28-30). Sumur ini yang digali oleh Abraham telah hilang, dirampas dengan kekerasan oleh hamba-hamba Abimelekh (Kej. 21:25). Kemudian Abraham menebusnya dengan tujuh ekor anak domba betina. Dalam perlambangan, domba-domba ini melambangkan kegenapan penebusan Kristus, menyatakan air hidup ilahi telah ditebus, dibeli kembali melalui kegenapan penebusan Kristus. Hari ini, seluruh bangsa-bangsa hidup oleh sumber yang tidak ditebus, tetapi kita harus belajar hidup oleh sumber yang telah ditebus. Air hidup yang kita minum hari ini bukanlah yang alamiah, melainkan yang ditebus dengan harga penebusan Kristus yang sempurna. Sumur ilahi ini harus menjadi sumber di dalam kehidupan kita. Kita perlu minum dari sumur Ishak, sumur ilahi, sumur Kristus, sumur Roh itu. Jika kita minum dari sumur ini, air ilahi yang mengalir dari dalamnya akan memuaskan kita.
Penerapan:
Sebagai anak-anak Allah, kita harus dipimpin oleh Roh Allah, bukan oleh logika kita yang merupakan bagian paling dominan dari jiwa kita. Kalau kita mendasarkan hidup kita di atas logika semata, maka segera kita akan terjerumus ke dalam dunia yang jatuh. Marilah kita berlatih hidup menurut pimpinan Roh Allah di dalam kita dengan menaati gerakan-Nya di batin kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku bertobat karena selama ini banyak hal telah kuputuskan dan kulakukan menurut pemikiranku sendiri. Tuhan, aku telah terlalu sering mengesampingkan Engkau. Kini aku mau mengundang Engkau terlibat dalam segala aspek kehidupanku. Amin.
Kejadian 21:19
“Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.”
Sumur Ismael, sumber kehidupannya terletak di padang belantara dekat dengan Mesir (Kej. 21:19-21; 25:12, 18). Di dalam Alkitab, padang gurun selalu menyatakan tempat yang ditolak oleh Allah. Gambaran yang paling baik untuk hal ini adalah perihal pengembaraan anak-anak Israel di padang gurun. Menurut perlambangan, padang gurun juga menyatakan jiwa kita. Jika kita hidup di dalam jiwa kita, berarti kita di dalam keadaan yang ditolak Allah.
Sumur Ismael lokasinya dekat dengan Mesir. Ini berarti bila kita hidup di dalam jiwa kita, di dalam orang alamiah kita, kita akan dengan mudah terhanyut ke dalam dunia yang dilambangkan dengan Mesir. Sumber kehidupan Ismael menjadikannya seorang pemanah (Kej. 21:20). Perbedaan antara seorang pemanah dan seorang petani yaitu: seorang petani menumbuhkan hayat sedang seorang pemanah membunuh. Sumber kehidupan Ismael bahkan menyatukannya dengan Mesir, yaitu jatuh ke dunia (Kej. 21:21).
Hagar lalu mengambil isteri bagi anaknya dari Mesir, dari sumbernya sendiri. Sebagai orang Mesir, ia menginginkan seorang perempuan Mesir sebagai menantunya. Dengan mengambil seorang istri dari tanah Mesir, Hagar mengikat Ismael dengan perkara-perkara Mesir. Hagar tanpa sadar telah menjerumuskan anaknya sehingga bersatu dengan dunia.
Kita harus memperhatikan sumber air yang kita minum. Di dunia ini ada semacam sumur yang disebut dengan sumur kesenangan. Walau di dalamnya ada berbagai bentuk hiburan, namun selalu berakhir dengan dosa. Kita harus minum dari sumber yang lain, yaitu Kristus - sumber air hidup.
Sumur Ishak
Kej. 21:22-34; Mzm. 36:9; Yoh. 4:14; 7:37-38; 1 Kor. 12:13; Why. 22:17
Puji Tuhan karena ada sumur yang lain —sumur bagi Ishak (Kej. 21:22-34). Sekalipun Kristus telah lahir dan bertumbuh besar, di dalam hidup gereja kita masih harus tahu adanya dua sumber atau dua jenis kehidupan yang berbeda. Jenis kehidupan yang manakah yang kita miliki — kehidupan Ismael atau kehidupan Ishak? Kita juga harus menguji jenis air yang manakah yang kita minum tiap hari. Adakah kita minum dari sumur Ismael ataukah air dari sumur Ishak?
Banyak ayat di dalam Alkitab yang membicarakan tentang sumur positif ini. Mazmur 36:9 mengatakan, “Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu.” Tuhan senang memberi kita minum dari sungai kesenangan-Nya. Di dalam Yohanes 4:14 Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal” (TL.). Ini berarti bahwa diri Allah menjadi sumber (sumur) hayat kita.
Di dalam Yohanes 7:37-38 Tuhan Yesus membicarakan tentang minum, “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Selanjutnya, di dalam 1 Korintus 12:13, rasul Paulus mengatakan bahwa kita semua diberi minum dari satu Roh. Bahkan pasal terakhir di dalam Alkitab pun menulis tentang minum, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, “Marilah!” Siapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata , “Marilah!” Siapa yang haus, hendaklah ia datang, dan siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” (Why. 22:17).
Sumur Ishak juga merupakan sumur yang ditebus (Kej. 21:28-30). Sumur ini yang digali oleh Abraham telah hilang, dirampas dengan kekerasan oleh hamba-hamba Abimelekh (Kej. 21:25). Kemudian Abraham menebusnya dengan tujuh ekor anak domba betina. Dalam perlambangan, domba-domba ini melambangkan kegenapan penebusan Kristus, menyatakan air hidup ilahi telah ditebus, dibeli kembali melalui kegenapan penebusan Kristus. Hari ini, seluruh bangsa-bangsa hidup oleh sumber yang tidak ditebus, tetapi kita harus belajar hidup oleh sumber yang telah ditebus. Air hidup yang kita minum hari ini bukanlah yang alamiah, melainkan yang ditebus dengan harga penebusan Kristus yang sempurna. Sumur ilahi ini harus menjadi sumber di dalam kehidupan kita. Kita perlu minum dari sumur Ishak, sumur ilahi, sumur Kristus, sumur Roh itu. Jika kita minum dari sumur ini, air ilahi yang mengalir dari dalamnya akan memuaskan kita.
Penerapan:
Sebagai anak-anak Allah, kita harus dipimpin oleh Roh Allah, bukan oleh logika kita yang merupakan bagian paling dominan dari jiwa kita. Kalau kita mendasarkan hidup kita di atas logika semata, maka segera kita akan terjerumus ke dalam dunia yang jatuh. Marilah kita berlatih hidup menurut pimpinan Roh Allah di dalam kita dengan menaati gerakan-Nya di batin kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku bertobat karena selama ini banyak hal telah kuputuskan dan kulakukan menurut pemikiranku sendiri. Tuhan, aku telah terlalu sering mengesampingkan Engkau. Kini aku mau mengundang Engkau terlibat dalam segala aspek kehidupanku. Amin.
04 October 2006
Kejadian Volume 7 - Minggu 1 Rabu
Ismael Melambangkan Perbuatan Alamiah Kita
Kejadian 21:12
“Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.”
Kita perlu melihat makna rohani pengusiran Hagar dan Ismael. Seperti semua orang-orang Kristen, sejak hari kita beroleh selamat kita mencoba berbuat baik. Tetapi Allah akan menanggulangi kita, kerap kali kita diajar dan dikerat. Jika kita adalah seorang saudara yang sudah menikah, tidak dapat disangsikan lagi bahwa Allah menggunakan istri untuk mengerat hayat alamiah kita. Setiap istri merupakan “pisau yang tajam” di tangan ilahi Allah. Banyak suami Kristen yang hanya dapat ditanggulangi dan didisiplinkan secara keseluruhan melalui pengeratan “pisau” istrinya ini. Tidak seorang suami pun yang bisa melarikan diri dari padanya. Dengan jalan ini, para saudara bisa belajar pelajaran membenci hayat alamiah dan semua perkara baik yang dapat kita kerjakan.
Sekalipun kita telah membenci kehidupan alamiah kita dan semua yang dapat kita kerjakan, namun kita belum membencinya secara mutlak. Di dalam batin kita, kita masih menghargai dan berkata, “Ismael yang kuhasilkan ini sangat baik, ia lahir dariku.” Konsepsi semacam inilah yang selalu menunda kelahiran Ishak. Kristus telah lahir di dalam hidup kekristenan kita, tetapi kita masih memiliki “Ismael”, perbuatan baik kita yang alamiah. Karena itulah Allah harus membawa kita melewati berbagai ujian dengan tujuan agar kita nampak bahwa Allah hanya menghendaki Kristus, bukan perbuatan alamiah kita yang berasal dari daging. Hanya setelah melalui penanggulangan demi penanggulangan, dan kegagalan demi kagagalan, akhirnya kita menjadi jelas bahwa Kristuslah yang dikehendaki Allah untuk kita perhidupkan.
Kebaikan Alamiah Berlawanan dengan Memperhidupkan Kristus
Gal. 5:1
Ketika Kristus yang berhuni di dalam kita mulai bertumbuh besar, kebaikan alamiah kita akan menganiaya Dia. Hari ini tidak banyak orang Kristen yang mempunyai keberanian berkata seperti Sara, “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya.” Tidak banyak orang Kristen yang mau mengatakan, “Usir taurat, daya upaya daging, dan semua perbuatan baikku.” Namun sebaliknya kita masih tetap melekat pada kesuksesan dan kebaikan alamiah kita. Tetapi cepat atau lambat Allah akan memaksa kita meninggalkan taurat, daya-upaya kita, dan semua yang telah kita hasilkan. Cepat atau lambat kita harus melakukan hal ini. Pada suatu pagi hari, kita harus bangun memberi “sekirbat air” pada hukum taurat dan berkata, “Hukum taurat, pergilah engkau, dan bawalah yang satu ini, hasil pertolonganmu kepadaku. Janganlah kau tinggalkan dia bersamaku, sebab aku tidak menginginkan dia sedikitpun. Aku mengasihinya pada waktu yang lampau, tetapi sekarang aku mengusirnya.” Hukum taurat dan hasil daya-upaya dari daging harus diusir emuanya.
Apa yang disebut diusir? Galatia 5:1 mengatakan, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Makna ayat ini adalah Tuhan Yesus telah memerdekakan kita, Tuhan Yesus telah hidup di dalam kita, kehidupan yang telah kita terima adalah kehidupan yang merdeka. Kita adalah orang-orang yang telah mempunyai kemerdekaan, sebab itu kita jangan berkeinginan “melakukan” sesuatu untuk mencari perkenan Allah. Begitu kita “melakukan”, segera kita menjadi Ismael. Begitu kita berencana ingin “melakukan” sesuatu untuk mencari perkenan Allah, diri alamiah kita datang, dosa dan maut juga datang. Anak perempuan merdeka tidak perlu bersandarkan diri sendiri “melakukan”, karena di dalam kita ada satu hayat, dan hayat itu dengan sendirinya bisa melakukan.
Kita “adalah” orang Kristen, kita bukan “melakukan/berbuat” menjadi orang Kristen. Kita “adalah” anak-anak Allah, bukan “melakukan/berbuat” menjadi anak-anak Allah. Kita adalah hidup di dalam keberadaan fakta itu, bukan hidup di dalam melakukan agar menjadi fakta itu. Bila kita “melakukan menjadi”, kita sudah “dikenakan kuk perhambaan”, menjadi anak hamba perempuan. Kalau kita hidup dalam kedudukan Ishak, kehidupan itu dengan sendirinya terekspresi di atas diri kita. Inilah yang dikehendaki Allah – kita memperhidupkan Kristus sebagai hayat di dalam kita, bukan berusaha melakukan sesuatu yang menyenangkan Allah menurut kekuatan alamiah kita.
Penerapan:
Walau kita memiliki kebajikan alamiah, namun kita harus mengakui bahwa kebajikan kita terbatas, tidak murni, dan tidak tahan uji. Hanya kebajikan yang berasal dari Tuhan yang tidak terbatas, murni, dan tahan uji. Karena itu kita harus belajar menyangkal kebaikan dan kekuatan diri sendiri. Berdoa adalah salah satu tanda bahwa kita menolak kemampuan diri sendiri dan membiarkan Allah yang bekerja.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, kebaikanku tidak terhitung apa-apa di hadapan-Mu. Tidak peduli bagaimana aku berusaha, itu tidak lebih dari kain yang kotor. Tuhan, Bawalah aku melewati ujian dan penanggulangan-Mu, agar hayat-Mu semakin bertumbuh dan diperhidupkan melalui aku.
Kejadian 21:12
“Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.”
Kita perlu melihat makna rohani pengusiran Hagar dan Ismael. Seperti semua orang-orang Kristen, sejak hari kita beroleh selamat kita mencoba berbuat baik. Tetapi Allah akan menanggulangi kita, kerap kali kita diajar dan dikerat. Jika kita adalah seorang saudara yang sudah menikah, tidak dapat disangsikan lagi bahwa Allah menggunakan istri untuk mengerat hayat alamiah kita. Setiap istri merupakan “pisau yang tajam” di tangan ilahi Allah. Banyak suami Kristen yang hanya dapat ditanggulangi dan didisiplinkan secara keseluruhan melalui pengeratan “pisau” istrinya ini. Tidak seorang suami pun yang bisa melarikan diri dari padanya. Dengan jalan ini, para saudara bisa belajar pelajaran membenci hayat alamiah dan semua perkara baik yang dapat kita kerjakan.
Sekalipun kita telah membenci kehidupan alamiah kita dan semua yang dapat kita kerjakan, namun kita belum membencinya secara mutlak. Di dalam batin kita, kita masih menghargai dan berkata, “Ismael yang kuhasilkan ini sangat baik, ia lahir dariku.” Konsepsi semacam inilah yang selalu menunda kelahiran Ishak. Kristus telah lahir di dalam hidup kekristenan kita, tetapi kita masih memiliki “Ismael”, perbuatan baik kita yang alamiah. Karena itulah Allah harus membawa kita melewati berbagai ujian dengan tujuan agar kita nampak bahwa Allah hanya menghendaki Kristus, bukan perbuatan alamiah kita yang berasal dari daging. Hanya setelah melalui penanggulangan demi penanggulangan, dan kegagalan demi kagagalan, akhirnya kita menjadi jelas bahwa Kristuslah yang dikehendaki Allah untuk kita perhidupkan.
Kebaikan Alamiah Berlawanan dengan Memperhidupkan Kristus
Gal. 5:1
Ketika Kristus yang berhuni di dalam kita mulai bertumbuh besar, kebaikan alamiah kita akan menganiaya Dia. Hari ini tidak banyak orang Kristen yang mempunyai keberanian berkata seperti Sara, “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya.” Tidak banyak orang Kristen yang mau mengatakan, “Usir taurat, daya upaya daging, dan semua perbuatan baikku.” Namun sebaliknya kita masih tetap melekat pada kesuksesan dan kebaikan alamiah kita. Tetapi cepat atau lambat Allah akan memaksa kita meninggalkan taurat, daya-upaya kita, dan semua yang telah kita hasilkan. Cepat atau lambat kita harus melakukan hal ini. Pada suatu pagi hari, kita harus bangun memberi “sekirbat air” pada hukum taurat dan berkata, “Hukum taurat, pergilah engkau, dan bawalah yang satu ini, hasil pertolonganmu kepadaku. Janganlah kau tinggalkan dia bersamaku, sebab aku tidak menginginkan dia sedikitpun. Aku mengasihinya pada waktu yang lampau, tetapi sekarang aku mengusirnya.” Hukum taurat dan hasil daya-upaya dari daging harus diusir emuanya.
Apa yang disebut diusir? Galatia 5:1 mengatakan, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Makna ayat ini adalah Tuhan Yesus telah memerdekakan kita, Tuhan Yesus telah hidup di dalam kita, kehidupan yang telah kita terima adalah kehidupan yang merdeka. Kita adalah orang-orang yang telah mempunyai kemerdekaan, sebab itu kita jangan berkeinginan “melakukan” sesuatu untuk mencari perkenan Allah. Begitu kita “melakukan”, segera kita menjadi Ismael. Begitu kita berencana ingin “melakukan” sesuatu untuk mencari perkenan Allah, diri alamiah kita datang, dosa dan maut juga datang. Anak perempuan merdeka tidak perlu bersandarkan diri sendiri “melakukan”, karena di dalam kita ada satu hayat, dan hayat itu dengan sendirinya bisa melakukan.
Kita “adalah” orang Kristen, kita bukan “melakukan/berbuat” menjadi orang Kristen. Kita “adalah” anak-anak Allah, bukan “melakukan/berbuat” menjadi anak-anak Allah. Kita adalah hidup di dalam keberadaan fakta itu, bukan hidup di dalam melakukan agar menjadi fakta itu. Bila kita “melakukan menjadi”, kita sudah “dikenakan kuk perhambaan”, menjadi anak hamba perempuan. Kalau kita hidup dalam kedudukan Ishak, kehidupan itu dengan sendirinya terekspresi di atas diri kita. Inilah yang dikehendaki Allah – kita memperhidupkan Kristus sebagai hayat di dalam kita, bukan berusaha melakukan sesuatu yang menyenangkan Allah menurut kekuatan alamiah kita.
Penerapan:
Walau kita memiliki kebajikan alamiah, namun kita harus mengakui bahwa kebajikan kita terbatas, tidak murni, dan tidak tahan uji. Hanya kebajikan yang berasal dari Tuhan yang tidak terbatas, murni, dan tahan uji. Karena itu kita harus belajar menyangkal kebaikan dan kekuatan diri sendiri. Berdoa adalah salah satu tanda bahwa kita menolak kemampuan diri sendiri dan membiarkan Allah yang bekerja.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, kebaikanku tidak terhitung apa-apa di hadapan-Mu. Tidak peduli bagaimana aku berusaha, itu tidak lebih dari kain yang kotor. Tuhan, Bawalah aku melewati ujian dan penanggulangan-Mu, agar hayat-Mu semakin bertumbuh dan diperhidupkan melalui aku.
03 October 2006
Kejadian Volume 7 - Minggu 1 Selasa
Ismael Menganiaya Ishak
Kejadian 21:10
“Berkatalah Sara kepada Abraham: ’Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.’”
Menurut Kejadian 21, bukan kelahiran Ishak yang menimbulkan kesulitan, melainkan pertumbuhannya. Ketika Ishak dilahirkan, Hagar dan anaknya, Ismael tidak begitu menghiraukan. Tetapi setelah Ishak bertumbuh besar, Ismael mulai mengejeknya (Kej. 21:9, KJV). Menurut pengertian Alkitab, ini berarti Ismael menganiaya Ishak. Bahkan Allah menganggap penganiayaan Ismael kepada Ishak ini sebagai permulaan penganiayaan terhadap umat-Nya yang berlangsung selama 400 tahun (Kej. 15:13; Kis. 7:16). Ejekan Ismael ini merupakan perkara serius, sebab Ishak adalah keturunan Abraham yang sah, sedangkan Ismael bukan. Kita, keturunan Abraham yang rohaniah juga dibenci oleh keturunannya yang jasmaniah. Seperti yang dikatakan Paulus di dalam Galatia 4:29, “Tetapi sebagaimana dahulu, dia yang dilahirkan seperti biasanya, menganiaya yang dilahirkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini.”
Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat, yaitu Iblis (1 Yoh. 5:19). Iblis menentang Allah terus-menerus dan dalam setiap kesempatan. Iblis tidak senang bila orang-orang berpaling kepada Allah dan ia tidak akan membiarkan hal ini. Begitu seseorang berpaling kepada Allah, Iblis akan menghasut orang-orang di sekelilingnya untuk menganiaya orang itu. Paulus pernah mengatakan bahwa kita, orang- orang Kristen, ditetapkan untuk menderita penganiayaan (Flp. 1:29). Karena itu, penganiayaan merupakan bagian yang ditentukan bagi kita sebagai kaum beriman di dalam Kristus. Penganiayaan itu baik karena berguna untuk menguji iman kita dan menyempurnakan kita.
Hagar dan Ismael Diusir
Kej. 21:10-14
Sara, yang mewakili kasih karunia, tidak tahan terhadap ejekan Ismael kepada Ishak dan berkata, “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak” (Kej. 21:10). Ketika kita membaca ayat ini mungkin kita tidak setuju dengan Sara, kita berpikir ia terlalu cemburu dan tidak adil. Bukankah ia yang mengusulkan Abraham agar mempunyai anak melalui Hagar dan sekarang ia menyuruh Abraham supaya mengusir Hagar dan Ismael. Menurut pengertian alamiah kita, Sara tidak seharusnya berbuat demikian. Kita mungkin membela Hagar dan Ismael serta bersimpati kepada Abraham, karena “hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu” (Kej. 21:11). Tetapi Allah telah datang dan berkata kepada Abraham, “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak” (Kej. 21:12). Ini bukan karena Sara iri. Galatia 4:30 memperlihatkan kepada kita, hal itu adalah kata-kata yang diucapkan Allah melalui mulut Sara, “Sebab anak hamba perempuan tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak perempuan merdeka itu.” Hanya Ishak, bukan Ismael yang dihitung sebagai keturunan. Sekalipun di dalam Kejadian pasal 20 Abraham telah membuat Allah putus asa, namun di dalam pasal 21 dengan cepat ia mematuhinya. Kejadian 21:14 mengatakan bahwa pada keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, lalu disuruhnya Hagar dan Ismael pergi.
Sungguh ajaib, Ismael tidak diusir begitu dilahirkan, melainkan sampai hari Ishak disapih, baru diusir. Sebelum ada Ishak, tidak bisa mengusir Ismael. Sebelum kita memiliki Kristus, sebelum kita mengenal anugerah, yang kita miliki adalah perbuatan daging. Walaupun tidak semua perbuatan daging kelihatan buruk, tetapi pada hakikinya, semua perbuatan itu berasal dari daging. Tradisi, kebudayaan, moralitas, dan etika bisa membuat seseorang menjadi luhur. Orang yang belum memiliki Kristus, memerlukan keluhuran itu. Tetapi keluhuran tersebut bukan berasal dari Allah, melainkan dari daging. Setelah kita diselamatkan melalui percaya ke dalam Kristus dan mengenal anugerah, maka kita harus membiarkan Kristus yang di dalam kita bertumbuh besar. Bertumbuhnya Kristus akan membuat kebaikan alamiah tadi terusir, dan sebagai penggantinya, Kristuslah yang diperhidupkan. Begitu Ishak bertumbuh besar, Ismael terusir. Jadi, keperluan kita hari ini adalah membiarkan Kristus terus bertumbuh besar di dalam kita, maka segala perbuatan daging terusir keluar.
Penerapan:
Kristus di dalam kita seringkali teraniaya oleh ego dan cara alamiah kita dalam melakukan sesuatu. Kedagingan kita tidak pernah bersesuaian dengan keinginan Roh kita. Karena itu sering terjadi pertentangan di batin kita. Marilah kita belajar menolak keinginan daging dengan jalan berkontak dengan Tuhan terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Barangsiapa yang berseru kepada Tuhan, akan diselamatkan.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku tidak mau membiarkan Engkau teraniaya lagi oleh keinginan dagingku. Tuhan, aku mau melatih rohku untuk memperhidupkan Engkau dan mematikan perbuatan dagingku oleh Roh-Mu yang berdiam di dalamku.
Kejadian 21:10
“Berkatalah Sara kepada Abraham: ’Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.’”
Menurut Kejadian 21, bukan kelahiran Ishak yang menimbulkan kesulitan, melainkan pertumbuhannya. Ketika Ishak dilahirkan, Hagar dan anaknya, Ismael tidak begitu menghiraukan. Tetapi setelah Ishak bertumbuh besar, Ismael mulai mengejeknya (Kej. 21:9, KJV). Menurut pengertian Alkitab, ini berarti Ismael menganiaya Ishak. Bahkan Allah menganggap penganiayaan Ismael kepada Ishak ini sebagai permulaan penganiayaan terhadap umat-Nya yang berlangsung selama 400 tahun (Kej. 15:13; Kis. 7:16). Ejekan Ismael ini merupakan perkara serius, sebab Ishak adalah keturunan Abraham yang sah, sedangkan Ismael bukan. Kita, keturunan Abraham yang rohaniah juga dibenci oleh keturunannya yang jasmaniah. Seperti yang dikatakan Paulus di dalam Galatia 4:29, “Tetapi sebagaimana dahulu, dia yang dilahirkan seperti biasanya, menganiaya yang dilahirkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini.”
Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat, yaitu Iblis (1 Yoh. 5:19). Iblis menentang Allah terus-menerus dan dalam setiap kesempatan. Iblis tidak senang bila orang-orang berpaling kepada Allah dan ia tidak akan membiarkan hal ini. Begitu seseorang berpaling kepada Allah, Iblis akan menghasut orang-orang di sekelilingnya untuk menganiaya orang itu. Paulus pernah mengatakan bahwa kita, orang- orang Kristen, ditetapkan untuk menderita penganiayaan (Flp. 1:29). Karena itu, penganiayaan merupakan bagian yang ditentukan bagi kita sebagai kaum beriman di dalam Kristus. Penganiayaan itu baik karena berguna untuk menguji iman kita dan menyempurnakan kita.
Hagar dan Ismael Diusir
Kej. 21:10-14
Sara, yang mewakili kasih karunia, tidak tahan terhadap ejekan Ismael kepada Ishak dan berkata, “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak” (Kej. 21:10). Ketika kita membaca ayat ini mungkin kita tidak setuju dengan Sara, kita berpikir ia terlalu cemburu dan tidak adil. Bukankah ia yang mengusulkan Abraham agar mempunyai anak melalui Hagar dan sekarang ia menyuruh Abraham supaya mengusir Hagar dan Ismael. Menurut pengertian alamiah kita, Sara tidak seharusnya berbuat demikian. Kita mungkin membela Hagar dan Ismael serta bersimpati kepada Abraham, karena “hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu” (Kej. 21:11). Tetapi Allah telah datang dan berkata kepada Abraham, “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak” (Kej. 21:12). Ini bukan karena Sara iri. Galatia 4:30 memperlihatkan kepada kita, hal itu adalah kata-kata yang diucapkan Allah melalui mulut Sara, “Sebab anak hamba perempuan tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak perempuan merdeka itu.” Hanya Ishak, bukan Ismael yang dihitung sebagai keturunan. Sekalipun di dalam Kejadian pasal 20 Abraham telah membuat Allah putus asa, namun di dalam pasal 21 dengan cepat ia mematuhinya. Kejadian 21:14 mengatakan bahwa pada keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, lalu disuruhnya Hagar dan Ismael pergi.
Sungguh ajaib, Ismael tidak diusir begitu dilahirkan, melainkan sampai hari Ishak disapih, baru diusir. Sebelum ada Ishak, tidak bisa mengusir Ismael. Sebelum kita memiliki Kristus, sebelum kita mengenal anugerah, yang kita miliki adalah perbuatan daging. Walaupun tidak semua perbuatan daging kelihatan buruk, tetapi pada hakikinya, semua perbuatan itu berasal dari daging. Tradisi, kebudayaan, moralitas, dan etika bisa membuat seseorang menjadi luhur. Orang yang belum memiliki Kristus, memerlukan keluhuran itu. Tetapi keluhuran tersebut bukan berasal dari Allah, melainkan dari daging. Setelah kita diselamatkan melalui percaya ke dalam Kristus dan mengenal anugerah, maka kita harus membiarkan Kristus yang di dalam kita bertumbuh besar. Bertumbuhnya Kristus akan membuat kebaikan alamiah tadi terusir, dan sebagai penggantinya, Kristuslah yang diperhidupkan. Begitu Ishak bertumbuh besar, Ismael terusir. Jadi, keperluan kita hari ini adalah membiarkan Kristus terus bertumbuh besar di dalam kita, maka segala perbuatan daging terusir keluar.
Penerapan:
Kristus di dalam kita seringkali teraniaya oleh ego dan cara alamiah kita dalam melakukan sesuatu. Kedagingan kita tidak pernah bersesuaian dengan keinginan Roh kita. Karena itu sering terjadi pertentangan di batin kita. Marilah kita belajar menolak keinginan daging dengan jalan berkontak dengan Tuhan terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Barangsiapa yang berseru kepada Tuhan, akan diselamatkan.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku tidak mau membiarkan Engkau teraniaya lagi oleh keinginan dagingku. Tuhan, aku mau melatih rohku untuk memperhidupkan Engkau dan mematikan perbuatan dagingku oleh Roh-Mu yang berdiam di dalamku.
02 October 2006
Kejadian Volume 7 - Minggu 1 Senin
Melahirkan Keturunan
Kejadian 21:2
“Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.”
Tujuan panggilan Allah terhadap Abraham adalah untuk melahirkan keturunan. Perihal keturunan ini pertama kali disebutkan di dalam Kejadian 12:7 dan diulang beberapa kali di dalam pasal-pasal berikutnya. Hampir di dalam setiap pasal itu Allah menyinggung tentang keturunan ini kepada Abraham. Setelah melalui berbagai pengalaman bersama Tuhan dan beberapa ujian, akhirnya Abraham mendapatkan penggenapan janji Tuhan, yaitu Sara mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki baginya di masa tuanya - Ishak (Kej. 21:2).
Dalam panggilan Allah terhadap kita, ada satu tujuan — melahirkan keturunan, melahirkan Kristus. Melahirkan Kristus di sini berarti Kristus di dalam kita hidup, bertumbuh, dan akhirnya diperhidupkan keluar dari dalam kita. Pada faktanya, untuk mencapai tujuan ini tidaklah begitu mudah. Semua kesulitan yang kita hadapi untuk memperhidupkan Kristus disebabkan oleh diri kita sendiri. Misalnya, Roh Kudus sering menggerakkan hati kita untuk melakukan sesuatu, tetapi kita menolaknya. Sebaliknya ketika Roh Kudus melarang kita melakukan sesuatu, kita justru mengabaikan. Begitu kita mengabaikan gerakan Roh Kudus di dalam kita, bukan hanya Kristus tidak diperhidupkan, kita pun segera kehilangan perasaan damai sejahtera. Sebab itu, dalam perkara apa saja, kita harus memperhatikan perasaan hayat dan damai sejahtera yang di dalam kita. Jangan menganggap hal ini sebagai perkara yang sepele. Tidak memperhidupkan Kristus adalah perkara yang serius, karena Allah hanya menghendaki satu hal dari diri kita, yaitu Kristus diperhidupkan dari diri kita.
Kelahiran dan Pertumbuhan Ishak
Kej. 21:1-6, 17:21; 18:10, 14; Gal. 4:19
Kelahiran Ishak bukanlah hasil kekuatan alamiah Abraham atau menurut waktu Abraham. Melainkan oleh pekerjaan anugerah Allah dan menurut waktu Allah, yakni waktu hayat yang telah ditetapkan oleh Allah. Nama Ishak (Ibrani:yitschaq) berarti “tertawa” atau “ia akan tertawa” (ayat 3, 6). Ishak lahir sesuai dengan janji Allah (21:1) yaitu pada waktu yang telah ditetapkan, waktu hayat (the time of life, KJV) (21:2; 17:21; 18:10, 14). Abraham diuji oleh hal ini. Kekuatan alamiahnya mendahului Allah, mencoba melahirkan keturunan yang dijanjikan Allah. Menurut kekuatan alamiahnya, ia mempunyai sejangka waktu pengharapan. Tetapi semua yang dihasilkan oleh kekuatan alamiahnya ditolak Allah. Sebelum kekuatan alamiah Abraham dibereskan dan diakhiri, Allah tidak akan dan tidak dapat berbuat sesuatu pun melalui dia untuk melahirkan keturunan yang diinginkan-Nya bagi kegenapan kehendak-Nya. Oleh karena itu Allah harus menunggu. Ketika Allah menunggu, Abraham diuji. Setelah melewati ujian, Abraham akhirnya tidak lagi berdasarkan kekuatan alamiahnya melahirkan keturunan yang dijanjikan, karena pada waktu itu ia sudah sangat lanjut umurnya. Ia sepenuhnya bersandar pada janji Allah. Dalam kondisi yang demikianlah, Ishak dilahirkan (Kej. 21:2). Setelah lahir, Ishak masih perlu bertumbuh besar. Kejadian 21:8 mengatakan, “Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu.”
Kristus terlahir ke dalam kita saja belumlah cukup. Kristus yang telah terlahir ini di dalam kita harus bertumbuh besar. Ishak bertumbuh besar dan telah disapih dari ibunya, berarti bahwa kini ia bukan lagi anak kecil melainkan telah bertumbuh menjadi lelaki muda. Pada hari ia disapih, Abraham mengadakan suatu pesta besar. Kita bisa mengerti makna hal ini menurut pengalaman kita. Ketika Kristus bertumbuh besar di dalam kita, kita akan mempunyai sukacita yang besar. Sukacita yang sejati adalah pertanda bahwa Kristus sedang bertumbuh besar di dalam kita.
Di dalam hidup gereja kita perlu memiliki baik kelahiran maupun pertumbuhan Kristus. Kita perlu bersyukur kepada Allah karena Kristus sudah lahir di dalam kita, tetapi kita belum memiliki cukup banyak pertumbuhan Kristus. Kita masih sedang menunggu untuk melihat pertumbuhan Kristus di dalam kita. Kristus harus terbentuk bukan saja di dalam kita melainkan juga di antara kita (Gal. 4:19). Baik dalam hidup sehari-hari kita maupun dalam hidup gereja kita perlu memperhidupkan Kristus yang terbentuk ini. Kalau demikian, barulah kita akan mempunyai suatu pesta yang besar untuk menikmati karunia Allah.
Penerapan:
Kita sering melakukan suatu perkara yang kita anggap benar namun perasaan di batin tidak damai sejahtera. Perasaan damai sejahtera erat kaitannya dengan tercapainya tujuan Allah yaitu Kristus diperhidupkan melalui kita. Karena itu marilah kita semua belajar menaati perasaan hayat di batin, walaupun hal itu mungkin bertentangan dengan selera/keinginan kita.
Pokok Doa:
Ya Tuhan, banyak hal telah kulakukan menurut keinginan dan caraku sendiri. Ampuni dan terangilah aku agar sikap dan tindakanku selalu di bawah pimpinan-Mu. Jauhkanlah dari padaku hati yang keras dan tuntunlah aku di jalan-Mu.
Kejadian 21:2
“Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.”
Tujuan panggilan Allah terhadap Abraham adalah untuk melahirkan keturunan. Perihal keturunan ini pertama kali disebutkan di dalam Kejadian 12:7 dan diulang beberapa kali di dalam pasal-pasal berikutnya. Hampir di dalam setiap pasal itu Allah menyinggung tentang keturunan ini kepada Abraham. Setelah melalui berbagai pengalaman bersama Tuhan dan beberapa ujian, akhirnya Abraham mendapatkan penggenapan janji Tuhan, yaitu Sara mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki baginya di masa tuanya - Ishak (Kej. 21:2).
Dalam panggilan Allah terhadap kita, ada satu tujuan — melahirkan keturunan, melahirkan Kristus. Melahirkan Kristus di sini berarti Kristus di dalam kita hidup, bertumbuh, dan akhirnya diperhidupkan keluar dari dalam kita. Pada faktanya, untuk mencapai tujuan ini tidaklah begitu mudah. Semua kesulitan yang kita hadapi untuk memperhidupkan Kristus disebabkan oleh diri kita sendiri. Misalnya, Roh Kudus sering menggerakkan hati kita untuk melakukan sesuatu, tetapi kita menolaknya. Sebaliknya ketika Roh Kudus melarang kita melakukan sesuatu, kita justru mengabaikan. Begitu kita mengabaikan gerakan Roh Kudus di dalam kita, bukan hanya Kristus tidak diperhidupkan, kita pun segera kehilangan perasaan damai sejahtera. Sebab itu, dalam perkara apa saja, kita harus memperhatikan perasaan hayat dan damai sejahtera yang di dalam kita. Jangan menganggap hal ini sebagai perkara yang sepele. Tidak memperhidupkan Kristus adalah perkara yang serius, karena Allah hanya menghendaki satu hal dari diri kita, yaitu Kristus diperhidupkan dari diri kita.
Kelahiran dan Pertumbuhan Ishak
Kej. 21:1-6, 17:21; 18:10, 14; Gal. 4:19
Kelahiran Ishak bukanlah hasil kekuatan alamiah Abraham atau menurut waktu Abraham. Melainkan oleh pekerjaan anugerah Allah dan menurut waktu Allah, yakni waktu hayat yang telah ditetapkan oleh Allah. Nama Ishak (Ibrani:yitschaq) berarti “tertawa” atau “ia akan tertawa” (ayat 3, 6). Ishak lahir sesuai dengan janji Allah (21:1) yaitu pada waktu yang telah ditetapkan, waktu hayat (the time of life, KJV) (21:2; 17:21; 18:10, 14). Abraham diuji oleh hal ini. Kekuatan alamiahnya mendahului Allah, mencoba melahirkan keturunan yang dijanjikan Allah. Menurut kekuatan alamiahnya, ia mempunyai sejangka waktu pengharapan. Tetapi semua yang dihasilkan oleh kekuatan alamiahnya ditolak Allah. Sebelum kekuatan alamiah Abraham dibereskan dan diakhiri, Allah tidak akan dan tidak dapat berbuat sesuatu pun melalui dia untuk melahirkan keturunan yang diinginkan-Nya bagi kegenapan kehendak-Nya. Oleh karena itu Allah harus menunggu. Ketika Allah menunggu, Abraham diuji. Setelah melewati ujian, Abraham akhirnya tidak lagi berdasarkan kekuatan alamiahnya melahirkan keturunan yang dijanjikan, karena pada waktu itu ia sudah sangat lanjut umurnya. Ia sepenuhnya bersandar pada janji Allah. Dalam kondisi yang demikianlah, Ishak dilahirkan (Kej. 21:2). Setelah lahir, Ishak masih perlu bertumbuh besar. Kejadian 21:8 mengatakan, “Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu.”
Kristus terlahir ke dalam kita saja belumlah cukup. Kristus yang telah terlahir ini di dalam kita harus bertumbuh besar. Ishak bertumbuh besar dan telah disapih dari ibunya, berarti bahwa kini ia bukan lagi anak kecil melainkan telah bertumbuh menjadi lelaki muda. Pada hari ia disapih, Abraham mengadakan suatu pesta besar. Kita bisa mengerti makna hal ini menurut pengalaman kita. Ketika Kristus bertumbuh besar di dalam kita, kita akan mempunyai sukacita yang besar. Sukacita yang sejati adalah pertanda bahwa Kristus sedang bertumbuh besar di dalam kita.
Di dalam hidup gereja kita perlu memiliki baik kelahiran maupun pertumbuhan Kristus. Kita perlu bersyukur kepada Allah karena Kristus sudah lahir di dalam kita, tetapi kita belum memiliki cukup banyak pertumbuhan Kristus. Kita masih sedang menunggu untuk melihat pertumbuhan Kristus di dalam kita. Kristus harus terbentuk bukan saja di dalam kita melainkan juga di antara kita (Gal. 4:19). Baik dalam hidup sehari-hari kita maupun dalam hidup gereja kita perlu memperhidupkan Kristus yang terbentuk ini. Kalau demikian, barulah kita akan mempunyai suatu pesta yang besar untuk menikmati karunia Allah.
Penerapan:
Kita sering melakukan suatu perkara yang kita anggap benar namun perasaan di batin tidak damai sejahtera. Perasaan damai sejahtera erat kaitannya dengan tercapainya tujuan Allah yaitu Kristus diperhidupkan melalui kita. Karena itu marilah kita semua belajar menaati perasaan hayat di batin, walaupun hal itu mungkin bertentangan dengan selera/keinginan kita.
Pokok Doa:
Ya Tuhan, banyak hal telah kulakukan menurut keinginan dan caraku sendiri. Ampuni dan terangilah aku agar sikap dan tindakanku selalu di bawah pimpinan-Mu. Jauhkanlah dari padaku hati yang keras dan tuntunlah aku di jalan-Mu.
30 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 4 Sabtu
Berdoa Menurut Kedudukan Kita
Kejadian 20:17
“Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak.”
Kita semua harus belajar tidak berdoa menurut kemenangan diri kita, tetapi menurut keperluan. Setelah kita menang mudah sekali berdoa, tetapi tidak demikian pada waktu kita gagal. Kita tidak seharusnya terganggu oleh kegagalan kita. Allah tidak melihat kegagalan kita, tetapi Ia melihat apa adanya kita. Di hadapan Allah kita semua adalah manusia baru. Inilah apa adanya kita, dan kita harus berdoa menurut ini. Selama kita masih dalam ciptaan lama, kita masih mungkin jatuh dan gagal. Tetapi kita dapat melupakan kegagalan kita dalam ciptaan lama ini dan berdiri pada kedudukan ciptaan baru. Ketika Abraham berdiri pada kedudukannya sebagai nabi Allah, ia dapat berdoa bagi Abimelekh.
Kejadian 20 merupakan suatu pasal yang berharga. Kita berdoa syafaat bagi orang lain tidak tergantung pada kondisi kita, tetapi tergantung pada kedudukan kita, tergantung pada apa adanya kita. Kita adalah nabi Allah, ciptaan baru, anggota Tubuh Kristus. Karena dalam hidup gereja kita adalah anggota Tubuh Kristus, ini memberi kita kedudukan untuk berdoa syafaat bagi orang lain. Lupakan lingkungan dan kegagalan kita. Bila kita terus mempertahankan perasaan-perasaan kita, mulut kita akan tersumbat, Iblis (Satan) akan mengalahkan kita, sehingga kita akan tenggelam selama berhari-hari. Ini sangat serius. Kita harus melupakan kegagalan-kegagalan kita dan berdiri pada kedudukan yang tepat untuk berdoa syafaat bagi orang lain menurut petunjuk Allah. Doa syafaat yang demikian akan membuat orang lain mempercayai Allah. Kalau kita mau melupakan kegagalan kita, kita pasti memiliki kekuatan untuk berdoa syafaat bagi orang lain.
Terlepas dari Ego
1 Tim. 2:1
Kita harus belajar mengenal diri kita sendiri. Janganlah menduga bila kita telah mencapai tingkat setinggi yang tercatat dalam Kejadian 18-19 itu, kita tidak akan memiliki problem apapun, lalu kita dapat minta “izin berlibur” dan meninggalkan persekutuan dengan Allah. Janganlah mengandalkan diri kita yang usang. Sekalipun ego kita yang usang telah ditanggulangi oleh Allah, bahkan sudah seluruhnya disunat, tetap masih tidak dapat dipercayai. Karena itu kita perlu memusatkan diri pada anugerah, melupakan kegagalan kita serta keperluan kita dan berdoa syafaat bagi orang lain. Berdirilah pada kedudukan kita sebagai anggota Tubuh Kristus, sebagai bagian dari manusia baru dan sebagai seorang saleh dalam gereja. Kita harus berdiri pada kedudukan ini serta berdoa, meskipun kadang kita dengan rasa malu berdoa. Doa syafaat kita mungkin tidak ada kemuliaan di dalamnya, tetapi Allah akan tetap menjawabnya. Tidak saja Allah menjawab doa syafaat kita, bahkan Ia akan menjawab doa bagi keperluan kita sendiri yang tidak terjawab sebelumnya. Alangkah ajaibnya hal ini!
Pada waktu Abraham, nabi Allah ini berbohong kepada orang lain, orang-orang lain menjadi mati. Tetapi ketika ia melupakan kegagalannya di hadapan mereka dan berdoa syafaat bagi mereka, mereka menerima hayat dan ia sendiri pun disegarkan kembali. Demikian pula, bila kita melupakan kegagalan kita dan berdoa syafaat bagi keperluan orang lain yang di hadapan mereka kita telah gagal, kita tidak saja akan menyuplai hayat kepada mereka, bahkan juga menyuplai diri kita sendiri.
Melalui pengalaman Abraham ini, setidaknya kita bisa belajar dua hal penting. Pertama, kegagalan kita tidak seharusnya membuat kita tidak berdoa. Memang kegagalan dapat membuat kita tidak ada kekuatan untuk berdoa, tetapi kita harus belajar melupakan semua kegagalan kita dan mulai berdoa menurut keperluan saat itu. Kedua, kita perlu berdoa syafaat bagi orang lain (1 Tim. 2:1). Dalam hal berdoa ada kemungkinan kita menjadi egois, hanya mendoakan kebutuhan diri sendiri. Para saudari yang menjadi ibu mungkin berdoa syafaat hanya untuk anak-anaknya sendiri. Ini memang baik, tapi kalau selama ini kita tidak pernah sekali pun mendoakan anak orang lain, itu berarti kita egois. Tuhan barangkali tidak akan menanggapi doa-doa yang egois seperti itu. Tetapi bilamana para saudari yang menjadi ibu, selain berdoa syafaat bagi anaknya sendiri, juga belajar berdoa syafaat bagi anak orang lain, kita yakin Tuhan pasti akan menjawab doa yang demikian. Betapa indahnya kehidupan gereja bila di antara kita terdapat doa syafaat yang demikian.
Penerapan:
Asalkan kita berada pada kedudukan yang tepat saat berdoa syafaat di hadapan Tuhan maka kegagalan kita pun akan dilupakan oleh Tuhan. Bahkan Tuhan akan menjawab doa kita. Janganlah malu untuk kembali datang kepada-Nya di dalam doa-doa kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, walau aku sering berdosa dan gagal,namun demi darah-Mu aku boleh berdoa syafaat bagi orang lain. Tuhan,aku mau belajar menyangkal egoku dengan memperhatikan orang lain melalui mendoakan mereka.
Kejadian 20:17
“Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak.”
Kita semua harus belajar tidak berdoa menurut kemenangan diri kita, tetapi menurut keperluan. Setelah kita menang mudah sekali berdoa, tetapi tidak demikian pada waktu kita gagal. Kita tidak seharusnya terganggu oleh kegagalan kita. Allah tidak melihat kegagalan kita, tetapi Ia melihat apa adanya kita. Di hadapan Allah kita semua adalah manusia baru. Inilah apa adanya kita, dan kita harus berdoa menurut ini. Selama kita masih dalam ciptaan lama, kita masih mungkin jatuh dan gagal. Tetapi kita dapat melupakan kegagalan kita dalam ciptaan lama ini dan berdiri pada kedudukan ciptaan baru. Ketika Abraham berdiri pada kedudukannya sebagai nabi Allah, ia dapat berdoa bagi Abimelekh.
Kejadian 20 merupakan suatu pasal yang berharga. Kita berdoa syafaat bagi orang lain tidak tergantung pada kondisi kita, tetapi tergantung pada kedudukan kita, tergantung pada apa adanya kita. Kita adalah nabi Allah, ciptaan baru, anggota Tubuh Kristus. Karena dalam hidup gereja kita adalah anggota Tubuh Kristus, ini memberi kita kedudukan untuk berdoa syafaat bagi orang lain. Lupakan lingkungan dan kegagalan kita. Bila kita terus mempertahankan perasaan-perasaan kita, mulut kita akan tersumbat, Iblis (Satan) akan mengalahkan kita, sehingga kita akan tenggelam selama berhari-hari. Ini sangat serius. Kita harus melupakan kegagalan-kegagalan kita dan berdiri pada kedudukan yang tepat untuk berdoa syafaat bagi orang lain menurut petunjuk Allah. Doa syafaat yang demikian akan membuat orang lain mempercayai Allah. Kalau kita mau melupakan kegagalan kita, kita pasti memiliki kekuatan untuk berdoa syafaat bagi orang lain.
Terlepas dari Ego
1 Tim. 2:1
Kita harus belajar mengenal diri kita sendiri. Janganlah menduga bila kita telah mencapai tingkat setinggi yang tercatat dalam Kejadian 18-19 itu, kita tidak akan memiliki problem apapun, lalu kita dapat minta “izin berlibur” dan meninggalkan persekutuan dengan Allah. Janganlah mengandalkan diri kita yang usang. Sekalipun ego kita yang usang telah ditanggulangi oleh Allah, bahkan sudah seluruhnya disunat, tetap masih tidak dapat dipercayai. Karena itu kita perlu memusatkan diri pada anugerah, melupakan kegagalan kita serta keperluan kita dan berdoa syafaat bagi orang lain. Berdirilah pada kedudukan kita sebagai anggota Tubuh Kristus, sebagai bagian dari manusia baru dan sebagai seorang saleh dalam gereja. Kita harus berdiri pada kedudukan ini serta berdoa, meskipun kadang kita dengan rasa malu berdoa. Doa syafaat kita mungkin tidak ada kemuliaan di dalamnya, tetapi Allah akan tetap menjawabnya. Tidak saja Allah menjawab doa syafaat kita, bahkan Ia akan menjawab doa bagi keperluan kita sendiri yang tidak terjawab sebelumnya. Alangkah ajaibnya hal ini!
Pada waktu Abraham, nabi Allah ini berbohong kepada orang lain, orang-orang lain menjadi mati. Tetapi ketika ia melupakan kegagalannya di hadapan mereka dan berdoa syafaat bagi mereka, mereka menerima hayat dan ia sendiri pun disegarkan kembali. Demikian pula, bila kita melupakan kegagalan kita dan berdoa syafaat bagi keperluan orang lain yang di hadapan mereka kita telah gagal, kita tidak saja akan menyuplai hayat kepada mereka, bahkan juga menyuplai diri kita sendiri.
Melalui pengalaman Abraham ini, setidaknya kita bisa belajar dua hal penting. Pertama, kegagalan kita tidak seharusnya membuat kita tidak berdoa. Memang kegagalan dapat membuat kita tidak ada kekuatan untuk berdoa, tetapi kita harus belajar melupakan semua kegagalan kita dan mulai berdoa menurut keperluan saat itu. Kedua, kita perlu berdoa syafaat bagi orang lain (1 Tim. 2:1). Dalam hal berdoa ada kemungkinan kita menjadi egois, hanya mendoakan kebutuhan diri sendiri. Para saudari yang menjadi ibu mungkin berdoa syafaat hanya untuk anak-anaknya sendiri. Ini memang baik, tapi kalau selama ini kita tidak pernah sekali pun mendoakan anak orang lain, itu berarti kita egois. Tuhan barangkali tidak akan menanggapi doa-doa yang egois seperti itu. Tetapi bilamana para saudari yang menjadi ibu, selain berdoa syafaat bagi anaknya sendiri, juga belajar berdoa syafaat bagi anak orang lain, kita yakin Tuhan pasti akan menjawab doa yang demikian. Betapa indahnya kehidupan gereja bila di antara kita terdapat doa syafaat yang demikian.
Penerapan:
Asalkan kita berada pada kedudukan yang tepat saat berdoa syafaat di hadapan Tuhan maka kegagalan kita pun akan dilupakan oleh Tuhan. Bahkan Tuhan akan menjawab doa kita. Janganlah malu untuk kembali datang kepada-Nya di dalam doa-doa kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, walau aku sering berdosa dan gagal,namun demi darah-Mu aku boleh berdoa syafaat bagi orang lain. Tuhan,aku mau belajar menyangkal egoku dengan memperhatikan orang lain melalui mendoakan mereka.
29 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 4 Jumat
Berdoa Menurut Keperluan
Kejadian 20:7
“Jadi sekarang, kembalikanlah isteri orang itu, sebab dia seorang nabi; ia akan berdoa untuk engkau, maka engkau tetap hidup; tetapi jika engkau tidak mengembalikan dia, ketahuilah, engkau pasti mati, engkau dan semua orang yang bersama-sama dengan engkau.”
Setelah menerima hadiah-hadiah dari Abimelekh, Abraham berdoa baginya (Kej. 20:17-18). Abimelekh memerlukan doa syafaat Abraham karena Tuhan telah menutup semua rahim wanita dalam rumah Abimelekh. Dapatkah kita membayangkan dalam keadaan yang begitu memalukan ia masih dapat berdoa bagi orang lain? Mungkin Abimelekh berkata kepada Abraham, “Mengapa kamu seorang nabi Allah berbohong kepadaku? Lihatlah akibatnya! Nah, sekarang semua telah beres dan aku pun telah mengembalikan istrimu, aku minta kamu berdoa bagiku.” Seringkali setelah kita mengecewakan Allah, sekalipun tidak ada orang yang mengetahui kegagalan kita, selama beberapa hari kita tidak dapat berdoa. Alangkah lebih sulitnya bagi Abraham untuk berdoa di depan Abimelekh! Tetapi bagaimanapun juga Abraham berdoa baginya dan “Allah menyembuhkan Abimelekh dan istrinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak” (Kej. 20:17).
Untuk berdoa syafaat bagi Abimelekh, Abraham harus mengatasi dua hal: mengingat kembali kegagalannya di hadapan Abimelekh dan memikirkan kemandulan istrinya sendiri. Kita semua harus belajar berdoa syafaat bagi orang lain tidak tergantung pada kesuksesan kita melainkan tergantung pada keperluan. Asalkan Allah menunjukkan suatu keperluan kepada kita, kita harus berdoa syafaat bagi hal itu. Kita harus melupakan diri kita, sekeliling kita, keadaan kita, dan berdoa syafaat seolah-olah tidak ada orang lain di bumi selain kita dan Allah. Meskipun kita mengalami kegagalan, kita harus melatih roh kita, dengan berani berdoa.
Mendoakan Keperluan Orang Lain
Ibr. 7:7
Sekalipun Allah meninggalkan Abraham dan pergi kepada Abimelekh, Abraham tetap lebih tinggi daripada Abimelekh. Walaupun ia telah gagal, Abimelekh jauh di bawahnya. Alkitab mengatakan bahwa yang lebih rendah selalu diberkati oleh yang lebih tinggi (Ibr. 7:7). Karena Abraham lebih tinggi daripada Abimelekh, ia dapat berdoa syafaat baginya.
Kita tidak boleh menganggap karena Allah tidak menjawab doa kita untuk keperluan kita sendiri, lalu kita tidak bisa berdoa untuk orang lain. Andaikata kita adalah Abraham, mungkin kita berkata, “Abimelekh, kamu mohon kepadaku berdoa bagimu. Aku telah berdoa bagi isteriku selama bertahun-tahun tetapi tidak mendapat satu jawaban. Karena itu, aku tidak yakin Allah akan menjawab doaku bagimu dan aku tidak berani berdoa bagimu.” Kita perlu melupakan doa-doa kita yang tidak ada jawabannya dan berdoa bagi orang lain. Bila kita tidak mau berdoa bagi orang lain, mungkin Allah tidak mau menjawab doa-doa kita untuk keperluan kita sendiri. Janganlah mengatakan oleh karena keperluan kita sendiri belum terpenuhi, kita tidak dapat berdoa bagi orang lain. Ketika Abraham melupakan keperluannya dan berdoa bagi Abimelekh serta keluarganya, tidak saja keperluan mereka terpenuhi namun keperluan Abraham sendiri juga terpenuhi. Bila kita melupakan keperluan kita dan berdoa bagi keperluan orang lain, Allah akan tidak saja menjawab doa kita bagi mereka, tetapi juga doa kita bagi diri kita sendiri. Ia pasti juga akan memperhatikan keperluan kita.
Dalam situasi yang begitu memalukan itu, sulit sekali bagi seseorang untuk berdoa syafaat. Alkitab tidak memberi kita catatan yang lengkap tentang apa isi dari doa syafaat Abraham bagi Abimelekh seperti halnya mencatat doa syafaat Abraham bagi Lot. Mungkin roh Abraham kurang berani dan kurang kuat. Bagaimanapun ia berdoa juga bagi Abimelekh, dan doa syafaatnya terjawab. Melalui hal ini kita nampak, meskipun kita mungkin tidak ada keberanian dalam roh kita, asalkan kita berdoa syafaat bagi orang lain seturut petunjuk Allah, tentu doa syafaat kita akan terjawab. Dalam pengalaman kita, mungkin berkali-kali kita dalam kesulitan, kita berdoa bagi kesulitan kita, tetapi kita tidak mendapatkan jawaban. Namun orang yang memiliki kesulitan yang sama datang kepada kita, mohon kita mendoakan mereka. Setelah kita berdoa bagi mereka, Allah tidak saja menjawab doa kita untuk keperluan mereka, tetapi juga doa kita untuk keadaan kita sendiri. Prinsip ini berlaku dalam hal apa pun. Kalau kita memperhatikan orang lain, Allah pasti tidak akan melupakan kita. Allah juga akan memperhatikan kita.
Penerapan:
Tidak peduli kita dalam keadaan apapun, dalam keadaan sukses maupun gagal penuh dengan dosa, kita harus tetap belajar berdoa syafaat bagi orang lain. Jangan tertipu oleh perasaan bersalah, tuduhan dari iblis yang hanya selalu mendakwa kita bahwa kita tidak layak untuk berdoa. Bersandarlah pada darah-Nya yang mustika yang melayakkan kita kembali untuk bersyafaat bagi kepentingan-Nya.
Pokok Doa:
Tuhan,terima kasih atas darah-Mu yang mustika yang mencuci setiap dosaku bahkan memperdamaikan aku kembali dengan Allah dan melayakkan aku untuk kembali berbagian dalam pekerjaan-Mu.
Kejadian 20:7
“Jadi sekarang, kembalikanlah isteri orang itu, sebab dia seorang nabi; ia akan berdoa untuk engkau, maka engkau tetap hidup; tetapi jika engkau tidak mengembalikan dia, ketahuilah, engkau pasti mati, engkau dan semua orang yang bersama-sama dengan engkau.”
Setelah menerima hadiah-hadiah dari Abimelekh, Abraham berdoa baginya (Kej. 20:17-18). Abimelekh memerlukan doa syafaat Abraham karena Tuhan telah menutup semua rahim wanita dalam rumah Abimelekh. Dapatkah kita membayangkan dalam keadaan yang begitu memalukan ia masih dapat berdoa bagi orang lain? Mungkin Abimelekh berkata kepada Abraham, “Mengapa kamu seorang nabi Allah berbohong kepadaku? Lihatlah akibatnya! Nah, sekarang semua telah beres dan aku pun telah mengembalikan istrimu, aku minta kamu berdoa bagiku.” Seringkali setelah kita mengecewakan Allah, sekalipun tidak ada orang yang mengetahui kegagalan kita, selama beberapa hari kita tidak dapat berdoa. Alangkah lebih sulitnya bagi Abraham untuk berdoa di depan Abimelekh! Tetapi bagaimanapun juga Abraham berdoa baginya dan “Allah menyembuhkan Abimelekh dan istrinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak” (Kej. 20:17).
Untuk berdoa syafaat bagi Abimelekh, Abraham harus mengatasi dua hal: mengingat kembali kegagalannya di hadapan Abimelekh dan memikirkan kemandulan istrinya sendiri. Kita semua harus belajar berdoa syafaat bagi orang lain tidak tergantung pada kesuksesan kita melainkan tergantung pada keperluan. Asalkan Allah menunjukkan suatu keperluan kepada kita, kita harus berdoa syafaat bagi hal itu. Kita harus melupakan diri kita, sekeliling kita, keadaan kita, dan berdoa syafaat seolah-olah tidak ada orang lain di bumi selain kita dan Allah. Meskipun kita mengalami kegagalan, kita harus melatih roh kita, dengan berani berdoa.
Mendoakan Keperluan Orang Lain
Ibr. 7:7
Sekalipun Allah meninggalkan Abraham dan pergi kepada Abimelekh, Abraham tetap lebih tinggi daripada Abimelekh. Walaupun ia telah gagal, Abimelekh jauh di bawahnya. Alkitab mengatakan bahwa yang lebih rendah selalu diberkati oleh yang lebih tinggi (Ibr. 7:7). Karena Abraham lebih tinggi daripada Abimelekh, ia dapat berdoa syafaat baginya.
Kita tidak boleh menganggap karena Allah tidak menjawab doa kita untuk keperluan kita sendiri, lalu kita tidak bisa berdoa untuk orang lain. Andaikata kita adalah Abraham, mungkin kita berkata, “Abimelekh, kamu mohon kepadaku berdoa bagimu. Aku telah berdoa bagi isteriku selama bertahun-tahun tetapi tidak mendapat satu jawaban. Karena itu, aku tidak yakin Allah akan menjawab doaku bagimu dan aku tidak berani berdoa bagimu.” Kita perlu melupakan doa-doa kita yang tidak ada jawabannya dan berdoa bagi orang lain. Bila kita tidak mau berdoa bagi orang lain, mungkin Allah tidak mau menjawab doa-doa kita untuk keperluan kita sendiri. Janganlah mengatakan oleh karena keperluan kita sendiri belum terpenuhi, kita tidak dapat berdoa bagi orang lain. Ketika Abraham melupakan keperluannya dan berdoa bagi Abimelekh serta keluarganya, tidak saja keperluan mereka terpenuhi namun keperluan Abraham sendiri juga terpenuhi. Bila kita melupakan keperluan kita dan berdoa bagi keperluan orang lain, Allah akan tidak saja menjawab doa kita bagi mereka, tetapi juga doa kita bagi diri kita sendiri. Ia pasti juga akan memperhatikan keperluan kita.
Dalam situasi yang begitu memalukan itu, sulit sekali bagi seseorang untuk berdoa syafaat. Alkitab tidak memberi kita catatan yang lengkap tentang apa isi dari doa syafaat Abraham bagi Abimelekh seperti halnya mencatat doa syafaat Abraham bagi Lot. Mungkin roh Abraham kurang berani dan kurang kuat. Bagaimanapun ia berdoa juga bagi Abimelekh, dan doa syafaatnya terjawab. Melalui hal ini kita nampak, meskipun kita mungkin tidak ada keberanian dalam roh kita, asalkan kita berdoa syafaat bagi orang lain seturut petunjuk Allah, tentu doa syafaat kita akan terjawab. Dalam pengalaman kita, mungkin berkali-kali kita dalam kesulitan, kita berdoa bagi kesulitan kita, tetapi kita tidak mendapatkan jawaban. Namun orang yang memiliki kesulitan yang sama datang kepada kita, mohon kita mendoakan mereka. Setelah kita berdoa bagi mereka, Allah tidak saja menjawab doa kita untuk keperluan mereka, tetapi juga doa kita untuk keadaan kita sendiri. Prinsip ini berlaku dalam hal apa pun. Kalau kita memperhatikan orang lain, Allah pasti tidak akan melupakan kita. Allah juga akan memperhatikan kita.
Penerapan:
Tidak peduli kita dalam keadaan apapun, dalam keadaan sukses maupun gagal penuh dengan dosa, kita harus tetap belajar berdoa syafaat bagi orang lain. Jangan tertipu oleh perasaan bersalah, tuduhan dari iblis yang hanya selalu mendakwa kita bahwa kita tidak layak untuk berdoa. Bersandarlah pada darah-Nya yang mustika yang melayakkan kita kembali untuk bersyafaat bagi kepentingan-Nya.
Pokok Doa:
Tuhan,terima kasih atas darah-Mu yang mustika yang mencuci setiap dosaku bahkan memperdamaikan aku kembali dengan Allah dan melayakkan aku untuk kembali berbagian dalam pekerjaan-Mu.
28 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 4 Kamis
Iman, Anugerah, dan Kesaksian
Kejadian 20:3
“Tetapi pada waktu malam Allah datang kepada Abimelekh dalam suatu mimpi serta berfirman kepadanya: ’Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami.’”
Dalam perlambangan, Abraham mewakili iman dan Sara mewakili anugerah. Abraham ialah bapa iman, dan hidupnya adalah hidup oleh iman. Dalam perlambangan apabila iman gagal, anugerah juga terusak. Setiap kali Abraham gagal, Sara dirugikan dan ketika Sara dirugikan berarti anugerah juga dirugikan. Anugerah dan kesaksian itu selalu berdampingan. Ketika Abraham berbohong, pada waktu itu pula ia tidak menikmati anugerah, dan hilanglah kesaksiannya. Bilamana iman gagal, anugerah dirugikan, maka kesaksian pun hilang.
Allah datang menyelamatkan Sara dan mengembalikannya kepada Abraham. Allah tahu bagaimana dengan kedaulatan-Nya melindungi Sara, yang melambangkan anugerah dan kesaksian-Nya. Kita tidak tahu berapa kali kita berada dalam bahaya akan merusak anugerah dan kehilangan kesaksian, sebab kita telah meninggalkan kedudukan yang tepat. Tetapi pada saat-saat itu, kita justru mengalami penyelamatan Allah. Ini tidak berarti bahwa kita boleh berbuat sembarangan karena Allah pasti akan menyelamatkan kita. Tidak. Allah hanya memperhatikan kesaksian-Nya di bumi. Kalau kita betul-betul adalah bagian dari kesaksian-Nya, Dia pasti akan melindungi kita menurut cara-Nya sendiri, bukan menurut cara kita. Abraham ingin menyelamatkan diri menurut caranya sendiri, tetapi Allah bekerja menurut cara yang sama sekali berbeda. Kuncinya adalah apakah kita bagi kesaksian-Nya? Tujuan dari penyelamatan Allah adalah agar kita kembali kepada kedudukan yang tepat untuk menikmati anugerah dan hidup oleh iman demi kesaksian-Nya.
Cara Allah Mendidik Abraham
Kej. 20:3-7; 14-16; 21-24
Walau iman Abraham gagal, Allah tetap dengan kedaulatan-Nya melindungi dan memperhatikannya (Kej. 20:3-7, 14-16). Karena Abraham telah menyimpang, Allah tidak menampakkan diri kepadanya. Dalam pasal 18 dan 19, Allah menampakkan diri kepada Abraham tetapi tidak kepada Lot. Dalam pasal 20 Ia tidak menampakan diri kepada Abraham, melainkan kepada Abimelekh dalam suatu mimpi (Kej. 20:3). Ini berarti kedudukan Abraham dalam pasal 20 hampir sama dengan kedudukan Lot dalam pasal 19. Sebab itu Allah menampakan diri kepada Abimelekh, seorang raja kafir, memberi tahu dia, orang yang berbohong kepadanya ialah nabi-Nya. Abimelekh tercengang mendengar salah satu nabi Allah berbohong kepadanya dan mengorbankan istrinya. Dalam pasal ini, kita lihat kebijaksanaan, kedaulatan, keadilan, dan perhatian Allah. Allah meninggalkan Abraham, seorang pembohong, Allah berbicara kepada Abimelekh, seorang yang kena bohongnya, serta berfirman, “Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami” (Kej. 20:3). Abimelekh sangat terperanjat. Kemudian Allah memberi tahu dia bahwa ia harus mengembalikan istri Abraham dan Abraham akan berdoa untuknya (Kej. 20:7). Allah tidak menggerakkan Abraham berdoa untuk Abimelekh, sebaliknya ia menunjukkan Abimelekh bahwa Abraham adalah seorang nabi yang mempunyai kedudukan mendoakan raja dan keluarganya. Allah berbuat demikian, dan tidak mencela Abraham.
Sekalipun Abraham berada di luar penyertaan Allah, Allah tetap melindungi kesaksian-Nya dan memberi Abraham banyak kekayaan (Kej. 20:14-16). Ketika Abraham mengalahkan Kedorlaomer serta raja-raja yang lain dan menyelamatkan Lot, ia menolak menerima sesuatu dari raja Sodom karena ia mempunyai Allah yang Mahatinggi (Kej. 14:21-24). Tetapi ketika Abimelekh memberi Abraham domba, lembu, budak-budak dan perak, Abraham tidak berani menolaknya. Ia tidak memiliki kedudukan untuk menolak semuanya ini dan mulutnya telah tersumbat oleh kegagalannya. Ketika ia menerima hadiah-hadiah dari Abimelekh di hadapan Sara, ia tentunya malu. Allah dengan bijaksana dalam kedaulatan-Nya mengembalikan Sara kepada Abraham, memperhatikan anugerah dan kesaksian-Nya, serta pada waktu yang sama Ia mengajar Abraham. Ini juga adalah suatu pelajaran yang berharga bagi kita. Kegagalan kita selalu berawal dari meninggalkan persekutuan dengan Allah dan berakhir pada kehilangan kesaksian. Kita adalah anak-anak Allah, juga ekspresi Allah di bumi. Kegagalan kita tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi terlebih merugikan kemuliaan Allah.
Penerapan:
Setiap kegagalan selalu mendatangkan kerugian bagi kemuliaan Allah. Karena itu kita jangan memandang ringan kegagalan, tetapi baiklah kita segera bertobat, dan bersandar pada kasih karunia Allah untuk tidak mengulangi kegagalan yang sama. Pertobatan yang tuntas akan menyelamatkan kita dari mengulangi kesalahan yang sama.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering gagal sehingga merugikan kemuliaan-Mu. Aku memerlukan anugerah-Mu. Terangilah aku agar aku memiliki pertobatan yang tuntas agar aku terhindar dari kegagalan yang sama.
Kejadian 20:3
“Tetapi pada waktu malam Allah datang kepada Abimelekh dalam suatu mimpi serta berfirman kepadanya: ’Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami.’”
Dalam perlambangan, Abraham mewakili iman dan Sara mewakili anugerah. Abraham ialah bapa iman, dan hidupnya adalah hidup oleh iman. Dalam perlambangan apabila iman gagal, anugerah juga terusak. Setiap kali Abraham gagal, Sara dirugikan dan ketika Sara dirugikan berarti anugerah juga dirugikan. Anugerah dan kesaksian itu selalu berdampingan. Ketika Abraham berbohong, pada waktu itu pula ia tidak menikmati anugerah, dan hilanglah kesaksiannya. Bilamana iman gagal, anugerah dirugikan, maka kesaksian pun hilang.
Allah datang menyelamatkan Sara dan mengembalikannya kepada Abraham. Allah tahu bagaimana dengan kedaulatan-Nya melindungi Sara, yang melambangkan anugerah dan kesaksian-Nya. Kita tidak tahu berapa kali kita berada dalam bahaya akan merusak anugerah dan kehilangan kesaksian, sebab kita telah meninggalkan kedudukan yang tepat. Tetapi pada saat-saat itu, kita justru mengalami penyelamatan Allah. Ini tidak berarti bahwa kita boleh berbuat sembarangan karena Allah pasti akan menyelamatkan kita. Tidak. Allah hanya memperhatikan kesaksian-Nya di bumi. Kalau kita betul-betul adalah bagian dari kesaksian-Nya, Dia pasti akan melindungi kita menurut cara-Nya sendiri, bukan menurut cara kita. Abraham ingin menyelamatkan diri menurut caranya sendiri, tetapi Allah bekerja menurut cara yang sama sekali berbeda. Kuncinya adalah apakah kita bagi kesaksian-Nya? Tujuan dari penyelamatan Allah adalah agar kita kembali kepada kedudukan yang tepat untuk menikmati anugerah dan hidup oleh iman demi kesaksian-Nya.
Cara Allah Mendidik Abraham
Kej. 20:3-7; 14-16; 21-24
Walau iman Abraham gagal, Allah tetap dengan kedaulatan-Nya melindungi dan memperhatikannya (Kej. 20:3-7, 14-16). Karena Abraham telah menyimpang, Allah tidak menampakkan diri kepadanya. Dalam pasal 18 dan 19, Allah menampakkan diri kepada Abraham tetapi tidak kepada Lot. Dalam pasal 20 Ia tidak menampakan diri kepada Abraham, melainkan kepada Abimelekh dalam suatu mimpi (Kej. 20:3). Ini berarti kedudukan Abraham dalam pasal 20 hampir sama dengan kedudukan Lot dalam pasal 19. Sebab itu Allah menampakan diri kepada Abimelekh, seorang raja kafir, memberi tahu dia, orang yang berbohong kepadanya ialah nabi-Nya. Abimelekh tercengang mendengar salah satu nabi Allah berbohong kepadanya dan mengorbankan istrinya. Dalam pasal ini, kita lihat kebijaksanaan, kedaulatan, keadilan, dan perhatian Allah. Allah meninggalkan Abraham, seorang pembohong, Allah berbicara kepada Abimelekh, seorang yang kena bohongnya, serta berfirman, “Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami” (Kej. 20:3). Abimelekh sangat terperanjat. Kemudian Allah memberi tahu dia bahwa ia harus mengembalikan istri Abraham dan Abraham akan berdoa untuknya (Kej. 20:7). Allah tidak menggerakkan Abraham berdoa untuk Abimelekh, sebaliknya ia menunjukkan Abimelekh bahwa Abraham adalah seorang nabi yang mempunyai kedudukan mendoakan raja dan keluarganya. Allah berbuat demikian, dan tidak mencela Abraham.
Sekalipun Abraham berada di luar penyertaan Allah, Allah tetap melindungi kesaksian-Nya dan memberi Abraham banyak kekayaan (Kej. 20:14-16). Ketika Abraham mengalahkan Kedorlaomer serta raja-raja yang lain dan menyelamatkan Lot, ia menolak menerima sesuatu dari raja Sodom karena ia mempunyai Allah yang Mahatinggi (Kej. 14:21-24). Tetapi ketika Abimelekh memberi Abraham domba, lembu, budak-budak dan perak, Abraham tidak berani menolaknya. Ia tidak memiliki kedudukan untuk menolak semuanya ini dan mulutnya telah tersumbat oleh kegagalannya. Ketika ia menerima hadiah-hadiah dari Abimelekh di hadapan Sara, ia tentunya malu. Allah dengan bijaksana dalam kedaulatan-Nya mengembalikan Sara kepada Abraham, memperhatikan anugerah dan kesaksian-Nya, serta pada waktu yang sama Ia mengajar Abraham. Ini juga adalah suatu pelajaran yang berharga bagi kita. Kegagalan kita selalu berawal dari meninggalkan persekutuan dengan Allah dan berakhir pada kehilangan kesaksian. Kita adalah anak-anak Allah, juga ekspresi Allah di bumi. Kegagalan kita tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi terlebih merugikan kemuliaan Allah.
Penerapan:
Setiap kegagalan selalu mendatangkan kerugian bagi kemuliaan Allah. Karena itu kita jangan memandang ringan kegagalan, tetapi baiklah kita segera bertobat, dan bersandar pada kasih karunia Allah untuk tidak mengulangi kegagalan yang sama. Pertobatan yang tuntas akan menyelamatkan kita dari mengulangi kesalahan yang sama.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering gagal sehingga merugikan kemuliaan-Mu. Aku memerlukan anugerah-Mu. Terangilah aku agar aku memiliki pertobatan yang tuntas agar aku terhindar dari kegagalan yang sama.
27 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 4 Rabu
Pentingnya Menetap dalam Penyertaan Allah
Kejadian 20:2
“Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya: ‘Dia saudaraku,’ maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara.”
Pada Kejadian 18, ketika Abraham mengantarkan Allah, ia seorang saleh yang begitu elok, seorang yang dapat berdiri di depan Allah dan berbicara berhadapan dengan-Nya bagaikan teman akrab. Tetapi dalam pasal 20, orang yang begitu ajaib itu menjadi sangat hina. Setelah ia meninggalkan kedudukan bersekutu dengan Allah, ia dapat berbohong dan mengorbankan istrinya. Seolah-olah tidak dapat dipercaya, tetapi ia telah melakukannya. Hal ini menunjukkan kepada kita alangkah pentingnya menetap dalam penyertaan Allah. Perlindungan kita bukan diri kita sendiri melainkan penyertaan-Nya. Setelah Abraham meninggalkan penyertaan Allah dan pergi menuju ke “Selatan”, ia mengulangi kegagalan semula, yaitu berbohong dan mengorbankan istrinya (Kej. 20:2; bd. Kej. 12:11-13). Berbohong adalah suatu perkara, dan mengorbankan istri adalah suatu perkara yang lain lagi. Walau banyak saudara mungkin berbohong, tetapi barangkali tidak seorang pun mau mengorbankan istrinya. Namun Abraham telah melakukannya. Bahkan perbuatan itu sebenarnya telah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.
Pada prinsipnya, sebagian besar dari kita sama dengan Abraham. Walau kita di dalam gereja mengikuti Tuhan, namun kita masih menyimpan “sesuatu”, rencana-rencana kita sendiri. Kita mungkin mengatakan “aku hidup oleh iman”. Tetapi apakah tindakan kita pada waktu iman kita gagal? Kita segera mengeluarkan rencana-rencana tersembunyi, rencana cadangan, yang memang sudah kita persiapkan untuk mengatasi situasi-situasi tertentu. Ini bukanlah hidup oleh iman, karena iman yang sejati sepenuhnya bersandar pada Allah.
Rencana Tersembunyi
Kej. 20:8-13
Dalam Kejadian 20:8-13 kita melihat kelemahan Abraham yang tersembunyi itu terbongkar. Abraham bukan berbohong secara kebetulan, sejak hari pertama ia mulai mengikuti jalan Allah, ia telah merencanakannya. Abraham memberi tahu Abimelekh, “Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada isteriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku di tiap-tiap tempat di mana kita tiba: Ia saudaraku.” (ay. 13). Bahkan setelah Abraham disunat, kelemahan yang tersembunyi ini masih berada di dalamnya. Andaikata terjadi sesuatu hal, kita mempunyai rencana cadangan yang telah ditentukan sebelumnya untuk mengatasinya.
Apakah kita bermaksud mutlak terhadap Tuhan? Bila mutlak, kita perlu bertanya kepada Tuhan apakah kita masih menyimpan sesuatu. Sekalipun kita mungkin merasa tidak menyimpan sesuatu, tetapi ketika kita berkelana meninggalkan hidup gereja, hal itu akan terbongkar. Banyak kaum beriman yang mengikuti Tuhan di dalam gereja mempunyai “rencana simpanan” di dalam diri mereka. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri, “Mungkin pada suatu hari akan terjadi sesuatu hal. Bila hal itu terjadi saya tahu bagaimana menghadapinya.” Inilah rencana simpanan yang sudah direncanakan sejak mereka pertama kali mengikuti Tuhan. Maksud dan tujuan catatan dalam Kejadian 20 ini menunjukkan kepada kita, lambat-laun kelemahan kita yang tersembunyi itu akan terbongkar. Tidak peduli seberapa banyak kita menuntut Allah, seringkali kita masih mempunyai suatu rencana yang disimpan. Kita perlu memiliki rasa takut dan gentar karena pada suatu hari, Tuhan pasti akan membongkarnya.
Kita semua mempunyai kelemahan masing-masing. Ada kelemahan yang kelihatannya dibiarkan oleh Allah, ada kelemahan yang tidak dapat dibiarkan oleh Allah; begitu kita ada kelemahan itu, kita tidak mendapatkan berkat. Mungkin kita tidak bisa menyingkirkan semua kelemahan, tetapi kita perlu mohon belas kasihan Allah, supaya kita bisa menjadi orang yang diberkati Allah. Kita boleh berkata kepada Tuhan, “Tuhan, meskipun aku menjadi bejana yang tidak terlalu kuat, janganlah sampai bejana ini terlalu rendah sehingga tidak bisa mendapatkan berkat; juga janganlah bejana ini terlalu kecil, sampai tidak bisa mendapatkan berkat.” Meskipun kita rendah, meskipun kita kecil, tetapi masih bisa diberkati oleh Allah. Berkat Allah, karunia Allah, adalah pekerjaan Allah. Sebab itu kita berharap Allah membelaskasihani kita.
Penerapan:
Saat ujian datang, bisakah kita tetap memiliki iman sepenuh-Nya terhadap Tuhan? Roma 10:17 mengatakan, “Jadi, iman timbul dari pendengaran…oleh firman Kristus.” Marilah kita belajar setia mendengarkan firman Tuhan dengan baik dan belajar mempercayai setiap firman yang kita dengar. Biarlah kita tidak mengeraskan hati atau meragukan kebenaran firman yang kita dengar, karena itulah sumber iman kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering kuatir dan goyah. Tuhan, ajarlah aku untuk berpegang pada firman-Mu, karena itulah kekuatan dan sumber imanku. Wahyukan diri-Mu lebih banyak kepadaku melalui firman-Mu yang kudus.
Kejadian 20:2
“Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya: ‘Dia saudaraku,’ maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara.”
Pada Kejadian 18, ketika Abraham mengantarkan Allah, ia seorang saleh yang begitu elok, seorang yang dapat berdiri di depan Allah dan berbicara berhadapan dengan-Nya bagaikan teman akrab. Tetapi dalam pasal 20, orang yang begitu ajaib itu menjadi sangat hina. Setelah ia meninggalkan kedudukan bersekutu dengan Allah, ia dapat berbohong dan mengorbankan istrinya. Seolah-olah tidak dapat dipercaya, tetapi ia telah melakukannya. Hal ini menunjukkan kepada kita alangkah pentingnya menetap dalam penyertaan Allah. Perlindungan kita bukan diri kita sendiri melainkan penyertaan-Nya. Setelah Abraham meninggalkan penyertaan Allah dan pergi menuju ke “Selatan”, ia mengulangi kegagalan semula, yaitu berbohong dan mengorbankan istrinya (Kej. 20:2; bd. Kej. 12:11-13). Berbohong adalah suatu perkara, dan mengorbankan istri adalah suatu perkara yang lain lagi. Walau banyak saudara mungkin berbohong, tetapi barangkali tidak seorang pun mau mengorbankan istrinya. Namun Abraham telah melakukannya. Bahkan perbuatan itu sebenarnya telah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.
Pada prinsipnya, sebagian besar dari kita sama dengan Abraham. Walau kita di dalam gereja mengikuti Tuhan, namun kita masih menyimpan “sesuatu”, rencana-rencana kita sendiri. Kita mungkin mengatakan “aku hidup oleh iman”. Tetapi apakah tindakan kita pada waktu iman kita gagal? Kita segera mengeluarkan rencana-rencana tersembunyi, rencana cadangan, yang memang sudah kita persiapkan untuk mengatasi situasi-situasi tertentu. Ini bukanlah hidup oleh iman, karena iman yang sejati sepenuhnya bersandar pada Allah.
Rencana Tersembunyi
Kej. 20:8-13
Dalam Kejadian 20:8-13 kita melihat kelemahan Abraham yang tersembunyi itu terbongkar. Abraham bukan berbohong secara kebetulan, sejak hari pertama ia mulai mengikuti jalan Allah, ia telah merencanakannya. Abraham memberi tahu Abimelekh, “Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada isteriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku di tiap-tiap tempat di mana kita tiba: Ia saudaraku.” (ay. 13). Bahkan setelah Abraham disunat, kelemahan yang tersembunyi ini masih berada di dalamnya. Andaikata terjadi sesuatu hal, kita mempunyai rencana cadangan yang telah ditentukan sebelumnya untuk mengatasinya.
Apakah kita bermaksud mutlak terhadap Tuhan? Bila mutlak, kita perlu bertanya kepada Tuhan apakah kita masih menyimpan sesuatu. Sekalipun kita mungkin merasa tidak menyimpan sesuatu, tetapi ketika kita berkelana meninggalkan hidup gereja, hal itu akan terbongkar. Banyak kaum beriman yang mengikuti Tuhan di dalam gereja mempunyai “rencana simpanan” di dalam diri mereka. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri, “Mungkin pada suatu hari akan terjadi sesuatu hal. Bila hal itu terjadi saya tahu bagaimana menghadapinya.” Inilah rencana simpanan yang sudah direncanakan sejak mereka pertama kali mengikuti Tuhan. Maksud dan tujuan catatan dalam Kejadian 20 ini menunjukkan kepada kita, lambat-laun kelemahan kita yang tersembunyi itu akan terbongkar. Tidak peduli seberapa banyak kita menuntut Allah, seringkali kita masih mempunyai suatu rencana yang disimpan. Kita perlu memiliki rasa takut dan gentar karena pada suatu hari, Tuhan pasti akan membongkarnya.
Kita semua mempunyai kelemahan masing-masing. Ada kelemahan yang kelihatannya dibiarkan oleh Allah, ada kelemahan yang tidak dapat dibiarkan oleh Allah; begitu kita ada kelemahan itu, kita tidak mendapatkan berkat. Mungkin kita tidak bisa menyingkirkan semua kelemahan, tetapi kita perlu mohon belas kasihan Allah, supaya kita bisa menjadi orang yang diberkati Allah. Kita boleh berkata kepada Tuhan, “Tuhan, meskipun aku menjadi bejana yang tidak terlalu kuat, janganlah sampai bejana ini terlalu rendah sehingga tidak bisa mendapatkan berkat; juga janganlah bejana ini terlalu kecil, sampai tidak bisa mendapatkan berkat.” Meskipun kita rendah, meskipun kita kecil, tetapi masih bisa diberkati oleh Allah. Berkat Allah, karunia Allah, adalah pekerjaan Allah. Sebab itu kita berharap Allah membelaskasihani kita.
Penerapan:
Saat ujian datang, bisakah kita tetap memiliki iman sepenuh-Nya terhadap Tuhan? Roma 10:17 mengatakan, “Jadi, iman timbul dari pendengaran…oleh firman Kristus.” Marilah kita belajar setia mendengarkan firman Tuhan dengan baik dan belajar mempercayai setiap firman yang kita dengar. Biarlah kita tidak mengeraskan hati atau meragukan kebenaran firman yang kita dengar, karena itulah sumber iman kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering kuatir dan goyah. Tuhan, ajarlah aku untuk berpegang pada firman-Mu, karena itulah kekuatan dan sumber imanku. Wahyukan diri-Mu lebih banyak kepadaku melalui firman-Mu yang kudus.
26 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 4 Selasa
Kelemahan yang Tersembunyi
Kejadian 20:1
“Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar sebagai orang asing.”
Setelah Kejadian 18 dan 19, mencatat pengalaman Abraham terhadap Allah pada puncak yang tertinggi; selanjutnya dalam Kejadian 20 mencatat kelemahannya. Sungguh sulit dipercayai dan susah dimengerti, Abraham bisa mempunyai penampilan yang demikian lemah. Abraham, seorang milik Allah, mempunyai kelemahan yang tersembunyi dalam hatinya yang terdalam.
Dalam Kejadian 20:1 kita tahu Abraham berangkat ke Tanah Negeb (Selatan, KJV). Abraham pergi menuju ke Selatan, berarti ia telah meninggalkan kedudukan bersekutu dengan Allah di dekat pohon tarbantin di Mamre, Hebron. Ia seharusnya menetap di Hebron, karena di sana ia dapat bersekutu intim dengan Allah. Tidak ada yang lebih indah daripada ini. Tetapi tidak berselang lama, ia meninggalkan Hebron dan pergi menuju ke Selatan. Dalam Kejadian 20, Allah tidak menyuruh Abraham pergi ke selatan. Jadi Abraham bertindak sendiri.
Dalam perlambangan, Selatan menunjukkan kemudahan, nyaman, sedangkan Utara menunjukkan kesulitan dan penderitaan. Selatan beriklim hangat, Utara beriklim dingin, tetapi Allah justru tinggal di Utara (Mzm. 48:3, 75:7-8, Yeh. 1:4). Walaupun di tempat yang Allah tentukan kita mengalami kesusahan, tetapi ada penyertaan Allah. Di tempat lain mungkin kita nyaman, namun tidak ada penyertaan Allah. Manakah yang lebih kita hargai, penyertaan Allah ataukah kenyamanan kita? Hidup tanpa penyertaan Allah berarti hidup tanpa berkat. Memang daging kita cenderung mengejar kenyamanan, tetapi baiklah kita memilih berkat penyertaan Allah, walaupun dalam prosesnya kita mengalami kesusahan.
Meninggalkan Kedudukan yang Tepat
Kej. 20:1
Dalam Kejadian 12, Abraham menuju ke Selatan sebab tempat di mana Abraham tinggal itu tertimpa bala kelaparan. Kelaparan memberinya alasan untuk pergi ke Selatan yaitu Mesir. Tetapi dalam pasal ini Abraham tidak memiliki alasan (Kej. 20:1). Seandainya ia tetap tinggal di dekat pohon tarbantin di Mamre dekat Hebron, Abraham tentu tidak perlu berbohong. Ia berbohong disebabkan posisinya yang keliru. Dari hal ini kita nampak bahwa kedudukan yang betul sangatlah penting. Untuk dapat melakukan sesuatu bagi Allah, kita harus berada pada kedudukan yang tepat. Ketika Abraham meninggalkan kedudukan bersekutu intim dengan Allah dan pergi ke Selatan, segera ia kehilangan penyertaan Allah. Alkitab tidak mengatakan di Selatan Allah menampakkan diri kepada Abraham atau Abraham mendirikan mezbah dan menyeru nama Tuhan. Ia sama sekali kehilangan kedudukan yang tepat untuk bersekutu dengan Allah. Kita perlu berada dalam kedudukan yang benar. Bila kita tinggal di dalam gereja, kita akan terpelihara dan terlindung, tetapi apabila kita pergi ke “Selatan”, kita akan meninggalkan kedudukan yang benar itu dan kehilangan penyertaan Allah.
Abraham telah disunat. Ia seharusnya bukan seorang yang alamiah lagi, karena ia betul-betul telah ditanggulangi oleh Allah. Ada orang Kristen yang mengatakan bahwa begitu sekali mereka mengalami suatu berkat, tidak mungkin lagi berada dalam daging. Tetapi lihatlah contoh Abraham. Sekalipun ia telah mengalami sunat baik secara jasmani maupun rohani, ketika ia meninggalkan kedudukan yang tepat yaitu bersekutu dengan Allah, ia segera kembali ke dalam daging. Setelah mencapai puncak begitu tinggi dalam mengalami Allah, Abraham, bapak iman itu, berkelakuan sama seperti yang tercatat lebih dari 20 tahun sebelumnya dalam Kejadian 12.
Asalkan kita masih di dalam ciptaan lama, kita dapat melakukan segala sesuatu dalam daging. Bila kita tidak tetap tinggal di dalam persekutuan dengan Allah, kita dapat melakukan perkara yang sama seperti dilakukan oleh orang dunia. Janganlah mengatakan karena kita telah dilahirkan kembali, telah mengalami baptisan Roh atau telah mengalami berkat Allah, lalu tidak mungkin kembali ke dalam daging. Tidak peduli berapa banyaknya berkat yang kita terima dari Allah, bila kita tidak tetap tinggal di dalam persekutuan dengan-Nya, kita ada kemungkinan kembali ke dalam daging. Janganlah kita menaruh sedikit kepercayaan pun pada kekuatan diri kita. Ego kita sama sekali tidak dapat diandalkan. Kita harus bersandar penyertaan Tuhan. Betapa pentingnya penyertaan Allah itu bagi kita!
Penerapan:
Di dalam situasi yang sulit, tidak nyaman, justru merupakan kesempatan bagi kita untuk mengalami penyertaan Allah. Dalam situasi seperti itu, janganlah menjauhi Tuhan, sebaliknya marilah kita mencari penyertaan-Nya melalui berkontak dengan Dia di dalam roh kita, menyeru nama-Nya, dan bersandar pada firman-Nya. Hasilnya kita akan menikmati hadirat-Nya dan mengalami bimbingan-Nya yang manis.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, tanpa penyertaan-Mu, apapun yang aku lakukan sia-sia belaka. Aku memerlukan bimbingan-Mu dalam tiap langkah hidupku. Karena itu, ajarlah aku untuk senantiasa menyeru nama-Mu dan hidup di hadirat-Mu.
Kejadian 20:1
“Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar sebagai orang asing.”
Setelah Kejadian 18 dan 19, mencatat pengalaman Abraham terhadap Allah pada puncak yang tertinggi; selanjutnya dalam Kejadian 20 mencatat kelemahannya. Sungguh sulit dipercayai dan susah dimengerti, Abraham bisa mempunyai penampilan yang demikian lemah. Abraham, seorang milik Allah, mempunyai kelemahan yang tersembunyi dalam hatinya yang terdalam.
Dalam Kejadian 20:1 kita tahu Abraham berangkat ke Tanah Negeb (Selatan, KJV). Abraham pergi menuju ke Selatan, berarti ia telah meninggalkan kedudukan bersekutu dengan Allah di dekat pohon tarbantin di Mamre, Hebron. Ia seharusnya menetap di Hebron, karena di sana ia dapat bersekutu intim dengan Allah. Tidak ada yang lebih indah daripada ini. Tetapi tidak berselang lama, ia meninggalkan Hebron dan pergi menuju ke Selatan. Dalam Kejadian 20, Allah tidak menyuruh Abraham pergi ke selatan. Jadi Abraham bertindak sendiri.
Dalam perlambangan, Selatan menunjukkan kemudahan, nyaman, sedangkan Utara menunjukkan kesulitan dan penderitaan. Selatan beriklim hangat, Utara beriklim dingin, tetapi Allah justru tinggal di Utara (Mzm. 48:3, 75:7-8, Yeh. 1:4). Walaupun di tempat yang Allah tentukan kita mengalami kesusahan, tetapi ada penyertaan Allah. Di tempat lain mungkin kita nyaman, namun tidak ada penyertaan Allah. Manakah yang lebih kita hargai, penyertaan Allah ataukah kenyamanan kita? Hidup tanpa penyertaan Allah berarti hidup tanpa berkat. Memang daging kita cenderung mengejar kenyamanan, tetapi baiklah kita memilih berkat penyertaan Allah, walaupun dalam prosesnya kita mengalami kesusahan.
Meninggalkan Kedudukan yang Tepat
Kej. 20:1
Dalam Kejadian 12, Abraham menuju ke Selatan sebab tempat di mana Abraham tinggal itu tertimpa bala kelaparan. Kelaparan memberinya alasan untuk pergi ke Selatan yaitu Mesir. Tetapi dalam pasal ini Abraham tidak memiliki alasan (Kej. 20:1). Seandainya ia tetap tinggal di dekat pohon tarbantin di Mamre dekat Hebron, Abraham tentu tidak perlu berbohong. Ia berbohong disebabkan posisinya yang keliru. Dari hal ini kita nampak bahwa kedudukan yang betul sangatlah penting. Untuk dapat melakukan sesuatu bagi Allah, kita harus berada pada kedudukan yang tepat. Ketika Abraham meninggalkan kedudukan bersekutu intim dengan Allah dan pergi ke Selatan, segera ia kehilangan penyertaan Allah. Alkitab tidak mengatakan di Selatan Allah menampakkan diri kepada Abraham atau Abraham mendirikan mezbah dan menyeru nama Tuhan. Ia sama sekali kehilangan kedudukan yang tepat untuk bersekutu dengan Allah. Kita perlu berada dalam kedudukan yang benar. Bila kita tinggal di dalam gereja, kita akan terpelihara dan terlindung, tetapi apabila kita pergi ke “Selatan”, kita akan meninggalkan kedudukan yang benar itu dan kehilangan penyertaan Allah.
Abraham telah disunat. Ia seharusnya bukan seorang yang alamiah lagi, karena ia betul-betul telah ditanggulangi oleh Allah. Ada orang Kristen yang mengatakan bahwa begitu sekali mereka mengalami suatu berkat, tidak mungkin lagi berada dalam daging. Tetapi lihatlah contoh Abraham. Sekalipun ia telah mengalami sunat baik secara jasmani maupun rohani, ketika ia meninggalkan kedudukan yang tepat yaitu bersekutu dengan Allah, ia segera kembali ke dalam daging. Setelah mencapai puncak begitu tinggi dalam mengalami Allah, Abraham, bapak iman itu, berkelakuan sama seperti yang tercatat lebih dari 20 tahun sebelumnya dalam Kejadian 12.
Asalkan kita masih di dalam ciptaan lama, kita dapat melakukan segala sesuatu dalam daging. Bila kita tidak tetap tinggal di dalam persekutuan dengan Allah, kita dapat melakukan perkara yang sama seperti dilakukan oleh orang dunia. Janganlah mengatakan karena kita telah dilahirkan kembali, telah mengalami baptisan Roh atau telah mengalami berkat Allah, lalu tidak mungkin kembali ke dalam daging. Tidak peduli berapa banyaknya berkat yang kita terima dari Allah, bila kita tidak tetap tinggal di dalam persekutuan dengan-Nya, kita ada kemungkinan kembali ke dalam daging. Janganlah kita menaruh sedikit kepercayaan pun pada kekuatan diri kita. Ego kita sama sekali tidak dapat diandalkan. Kita harus bersandar penyertaan Tuhan. Betapa pentingnya penyertaan Allah itu bagi kita!
Penerapan:
Di dalam situasi yang sulit, tidak nyaman, justru merupakan kesempatan bagi kita untuk mengalami penyertaan Allah. Dalam situasi seperti itu, janganlah menjauhi Tuhan, sebaliknya marilah kita mencari penyertaan-Nya melalui berkontak dengan Dia di dalam roh kita, menyeru nama-Nya, dan bersandar pada firman-Nya. Hasilnya kita akan menikmati hadirat-Nya dan mengalami bimbingan-Nya yang manis.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, tanpa penyertaan-Mu, apapun yang aku lakukan sia-sia belaka. Aku memerlukan bimbingan-Mu dalam tiap langkah hidupku. Karena itu, ajarlah aku untuk senantiasa menyeru nama-Mu dan hidup di hadirat-Mu.
25 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 4 Senin
Terbius oleh Kenikmatan Dunia
Kejadian 19:20
“Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara.”
Setelah Lot diselamatkan dari kemusnahan Sodom, ia tetap mempunyai kesenangan diri sendiri (Kej. 19:20-23). Ia memohon kepada kedua malaikat yang menyelamatkannya untuk membolehkan dia pergi ke Zoar, sebuah kota kecil di dekat Sodom. Allah itu penuh belas kasihan dan kedua malaikat itu mengabulkan permintaan Lot. Karena Lot tidak berani tinggal lama di Zoar, ia memutuskan untuk pergi ke pegunungan dan akhirnya Lot tinggal di dalam sebuah gua (Kej. 19:30). Di dalam gua, Lot mabuk karena minum anggur (Kej. 19:32-35). Aneh sekali, orang-orang yang melarikan diri ini mempunyai arak anggur di dalam gua. Mereka begitu kecanduan anggur. Mereka memang tidak sempat membawa harta mereka keluar dari Sodom, tetapi mereka tidak lupa membawa anggur ketika bergegas melarikan diri dari Sodom. Arak anggur itu telah membius mereka.
Ketika mereka berada di dalam gua, putri-putri Lot tidak ada persekutuan yang wajar dengan ayahnya. Mereka tidak bersekutu di dalam roh atau berdoa kepada Tuhan. Seorang pemimpin yang tepat harus sadar dan tegas. Tetapi Lot bukanlah seorang yang sadar; ia malahan minum sampai tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Setelah Lot mabuk, ia tertidur lelap. Ini adalah peringatan yang serius. Terhadap kesaksian Allah, kita jangan tertidur dan terlena. Lot telah terbius sehingga ia kehilangan perasaan hayatnya (19:33b, 35b). Kenikmatan duniawi hari ini dapat diumpamakan seperti anggur manis yang memabukkan. Rasul Paulus mengingatkan agar kita jangan “mabuk oleh anggur” melainkan dipenuhi dengan Roh (Ef. 5:18). Inilah satu-satunya jalan bagi kita untuk tetap sadar dan berjaga-jaga di jaman yang gelap hari ini.
Hasil dari Suatu Perbuatan Sumbang
Kej. 19:31-35, 38; Bil. 25:1-5; 31:16; Ul. 23:3-6; Mat. 1:1, 5
Anak-anak perempuan Lot yang telah “terbius” tidak segan menggunakan cara apa saja untuk memperoleh keturunan (Kej. 19:31-35). Mereka hanya mempedulikan tujuan tanpa mempedulikan caranya. Perbuatan mereka bertentangan dengan kehendak Allah. Walaupun kita mungkin memiliki tujuan yang baik dalam suatu pelayanan, tetapi semua aktifitas rohani kita haruslah untuk melaksanakan kehendak Allah. Kapankala pada lubuk roh kita tidak yakin apa yang kita perbuat adalah kehendak Allah, maka janganlah melakukannya.
Anak perempuan Lot melahirkan keturunan dari perbuatan sumbang. Nama kedua putra mereka yang pertama adalah Moab, artinya “dari ayah” dan yang kedua adalah Ben Ami, artinya “anak sanak-keluargaku” (Kej. 19:37-38). Keturunan yang dihasilkan oleh perbuatan sumbang melalui perzinaan ini menyebabkan kerusakan yang besar terhadap umat Allah (Bil. 25:1-5). Bileam pernah menganjuri orang-orang Moab untuk menyesatkan orang-orang Israel kepada penyembahan berhala dan kelakuan perzinaan (Bil. 31:16). Allah menghukum bangsa Israel dengan sangat berat atas penyembahan berhala dan perzinaan mereka bersama orang-orang Moab (Bil. 25:4). Segala sesuatu yang berkenaan dengan orang Moab dan orang Amon ada di bawah kutukan Allah (Ul. 23:3-6).
Walaupun orang-orang Moab ditolak oleh Allah, namun atas Rut kita nampak belas-kasih Allah yang dalam dan tidak terukur. Karena Rut mencari Allah dengan mutlak, ia tidak saja masuk ke dalam jemaah kudus umat Allah, iapun termasuk dalam silsilah Tuhan Yesus Kristus, menjadi moyang Tuhan Yesus dan memiliki bagian dalam inkarnasi-Nya (Mat 1:1, 5). Belas kasihan Allah menunggu kita mencari Dia dan umat-Nya. Dalam pandangan Allah, masalah kedudukan itu sangat penting. Walaupun asalnya kita adalah orang yang layak dimurkai karena dosa, tetapi asalkan kedudukan kita benar, asalkan kita mau mencari Allah dan bersatu dengan umat-Nya, Allah masih bisa membelaskasihani kita. Lot, seorang umat Allah, bersama dengan keluarganya telah meninggalkan saksi Allah dan kesaksian-Nya. Hasilnya hidupnya melahirkan bangsa Moab dan bangsa Amon. Hal ini berkebalikan dengan Rut, seorang janda Moab yang mencari Allah, datang kepada umat Allah dan kesaksian Allah. Hasilnya hidupnya melahirkan Kristus. Bahkan seorang keturunan Moab, orang yang dilahirkan dari perbuatan sumbang, melalui penebusan bisa mengambil bagian dalam inkarnasi Kristus. Belas kasihan Allah yang alangkah ajaib, selalu tersedia bagi orang yang mencari-Nya!
Penerapan:
Orang yang bijak adalah orang yang tahu bagaimana menggunakan waktunya dengan baik. Sebagai umat Allah, kita harus menebus waktu yang ada untuk dipenuhi oleh Roh, yaitu dengan berjaga-jaga di dalam doa. Kalau tidak, bukan hanya waktu kita yang terbuang percuma, bahkan kita akan terbius oleh dunia ini. Karena itu, marilah kita menetapkan waktu-waktu tertentu untuk berdoa secara pribadi.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, selamatkanlah aku dari dunia yang jahat hari ini. Aku mau mempersembahkan waktuku di pagi hari untuk bersekutu dengan-Mu. Ajarlah aku untuk memiliki roh yang senantiasa berdoa kepada-Mu.
Kejadian 19:20
“Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara.”
Setelah Lot diselamatkan dari kemusnahan Sodom, ia tetap mempunyai kesenangan diri sendiri (Kej. 19:20-23). Ia memohon kepada kedua malaikat yang menyelamatkannya untuk membolehkan dia pergi ke Zoar, sebuah kota kecil di dekat Sodom. Allah itu penuh belas kasihan dan kedua malaikat itu mengabulkan permintaan Lot. Karena Lot tidak berani tinggal lama di Zoar, ia memutuskan untuk pergi ke pegunungan dan akhirnya Lot tinggal di dalam sebuah gua (Kej. 19:30). Di dalam gua, Lot mabuk karena minum anggur (Kej. 19:32-35). Aneh sekali, orang-orang yang melarikan diri ini mempunyai arak anggur di dalam gua. Mereka begitu kecanduan anggur. Mereka memang tidak sempat membawa harta mereka keluar dari Sodom, tetapi mereka tidak lupa membawa anggur ketika bergegas melarikan diri dari Sodom. Arak anggur itu telah membius mereka.
Ketika mereka berada di dalam gua, putri-putri Lot tidak ada persekutuan yang wajar dengan ayahnya. Mereka tidak bersekutu di dalam roh atau berdoa kepada Tuhan. Seorang pemimpin yang tepat harus sadar dan tegas. Tetapi Lot bukanlah seorang yang sadar; ia malahan minum sampai tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Setelah Lot mabuk, ia tertidur lelap. Ini adalah peringatan yang serius. Terhadap kesaksian Allah, kita jangan tertidur dan terlena. Lot telah terbius sehingga ia kehilangan perasaan hayatnya (19:33b, 35b). Kenikmatan duniawi hari ini dapat diumpamakan seperti anggur manis yang memabukkan. Rasul Paulus mengingatkan agar kita jangan “mabuk oleh anggur” melainkan dipenuhi dengan Roh (Ef. 5:18). Inilah satu-satunya jalan bagi kita untuk tetap sadar dan berjaga-jaga di jaman yang gelap hari ini.
Hasil dari Suatu Perbuatan Sumbang
Kej. 19:31-35, 38; Bil. 25:1-5; 31:16; Ul. 23:3-6; Mat. 1:1, 5
Anak-anak perempuan Lot yang telah “terbius” tidak segan menggunakan cara apa saja untuk memperoleh keturunan (Kej. 19:31-35). Mereka hanya mempedulikan tujuan tanpa mempedulikan caranya. Perbuatan mereka bertentangan dengan kehendak Allah. Walaupun kita mungkin memiliki tujuan yang baik dalam suatu pelayanan, tetapi semua aktifitas rohani kita haruslah untuk melaksanakan kehendak Allah. Kapankala pada lubuk roh kita tidak yakin apa yang kita perbuat adalah kehendak Allah, maka janganlah melakukannya.
Anak perempuan Lot melahirkan keturunan dari perbuatan sumbang. Nama kedua putra mereka yang pertama adalah Moab, artinya “dari ayah” dan yang kedua adalah Ben Ami, artinya “anak sanak-keluargaku” (Kej. 19:37-38). Keturunan yang dihasilkan oleh perbuatan sumbang melalui perzinaan ini menyebabkan kerusakan yang besar terhadap umat Allah (Bil. 25:1-5). Bileam pernah menganjuri orang-orang Moab untuk menyesatkan orang-orang Israel kepada penyembahan berhala dan kelakuan perzinaan (Bil. 31:16). Allah menghukum bangsa Israel dengan sangat berat atas penyembahan berhala dan perzinaan mereka bersama orang-orang Moab (Bil. 25:4). Segala sesuatu yang berkenaan dengan orang Moab dan orang Amon ada di bawah kutukan Allah (Ul. 23:3-6).
Walaupun orang-orang Moab ditolak oleh Allah, namun atas Rut kita nampak belas-kasih Allah yang dalam dan tidak terukur. Karena Rut mencari Allah dengan mutlak, ia tidak saja masuk ke dalam jemaah kudus umat Allah, iapun termasuk dalam silsilah Tuhan Yesus Kristus, menjadi moyang Tuhan Yesus dan memiliki bagian dalam inkarnasi-Nya (Mat 1:1, 5). Belas kasihan Allah menunggu kita mencari Dia dan umat-Nya. Dalam pandangan Allah, masalah kedudukan itu sangat penting. Walaupun asalnya kita adalah orang yang layak dimurkai karena dosa, tetapi asalkan kedudukan kita benar, asalkan kita mau mencari Allah dan bersatu dengan umat-Nya, Allah masih bisa membelaskasihani kita. Lot, seorang umat Allah, bersama dengan keluarganya telah meninggalkan saksi Allah dan kesaksian-Nya. Hasilnya hidupnya melahirkan bangsa Moab dan bangsa Amon. Hal ini berkebalikan dengan Rut, seorang janda Moab yang mencari Allah, datang kepada umat Allah dan kesaksian Allah. Hasilnya hidupnya melahirkan Kristus. Bahkan seorang keturunan Moab, orang yang dilahirkan dari perbuatan sumbang, melalui penebusan bisa mengambil bagian dalam inkarnasi Kristus. Belas kasihan Allah yang alangkah ajaib, selalu tersedia bagi orang yang mencari-Nya!
Penerapan:
Orang yang bijak adalah orang yang tahu bagaimana menggunakan waktunya dengan baik. Sebagai umat Allah, kita harus menebus waktu yang ada untuk dipenuhi oleh Roh, yaitu dengan berjaga-jaga di dalam doa. Kalau tidak, bukan hanya waktu kita yang terbuang percuma, bahkan kita akan terbius oleh dunia ini. Karena itu, marilah kita menetapkan waktu-waktu tertentu untuk berdoa secara pribadi.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, selamatkanlah aku dari dunia yang jahat hari ini. Aku mau mempersembahkan waktuku di pagi hari untuk bersekutu dengan-Mu. Ajarlah aku untuk memiliki roh yang senantiasa berdoa kepada-Mu.
23 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 3 Sabtu
Perlu tinggal dalam Lingkungan yang Sehat
Kejadian 19:15
“Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: ‘Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini.’”
Lingkungan yang penuh dosa ternyata telah mempengaruhi anak-anak Lot. Mereka telah terbius oleh cara hidup kota Sodom yang penuh dosa. Kejadian 19:16 mengatakan, “Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana.” Terhadap keselamatan Allah, mereka sangat pasif sehingga malaikat TUHAN perlu mendesak dan terpaksa memegang tangan mereka (dengan paksa) dan menuntun mereka ke luar kota yang jahat itu. Dari peristiwa ini kita bisa mendapatkan suatu pelajaran penting: para orang tua perlu membesarkan anak-anak mereka di dalam suasana yang rohani. Kalau tidak, dengan cepat suasana dosa akan membius mereka. Hari ini banyak orang muda telah terbius oleh pengaruh dunia yang penuh dosa.
Kita hidup dalam zaman yang jahat, karena itu kita perlu perlindungan. Keluarga kita dan anak-anak kita harus terlindung. Kita semua harus lari dari “Sodom” dan menutup pintu kita terhadap suasana yang jahat itu. Jika tidak, keturunan kita akan terbius. Bila kita tetap tinggal dalam udara segar, kita segera dapat mencium bau busuk amoral meskipun bau itu cuma sedikit saja, tetapi kalau kita tidak bisa merasakan bau busuk, berarti perasaan budi pekerti kita telah terbius. Kiranya kita secara aktif menggunakan tekad kita untuk memilih tinggal di dalam lingkungan yang sehat – kehidupan gereja yang normal. Hanya dengan demikian kesadaran kita akan dunia yang penuh dosa dapat dipulihkan kembali.
Jangan Menoleh ke Belakang
Kej. 19:15-38; Luk. 17:28-33; 1 Yoh. 2:28; Ul. 23:3
Lot beroleh selamat semata-mata karena doa syafaat Abraham (Kej. 19:15-25, 29). Bahkan setelah malaikat memberi tahu Lot, Sodom akan dimusnahkan, Lot masih berlambat-lambat di sana. Kejadian 19:16 mengatakan ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan istri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab Tuhan hendak mengasihani dia, lalu kedua orang itu menuntunnya keluar kota dan melepaskannya di sana. Lot tidak setia tetapi Tuhan yang membelaskasihani. Tuhan menarik dia keluar dari Sodom bagaikan kayu yang dicabut keluar dari api.
Istri Lot diselamatkan dari kemusnahan tetapi menjadi tiang garam (Kej. 19:15-17; Luk. 17:32). Bila dalam bentuk serbuk, garam amatlah berguna. Tetapi garam dalam bentuk batangan, sama sekali tidak berguna. Istri Lot menjadi tiang garam, itu berarti ia telah tidak berguna lagi dalam tangan Allah dan telah menjadi satu monumen keaiban. Alkitab mewahyukan di samping masalah keselamatan dan kebinasaan terdapat pula masalah kemuliaan dan keaiban. Istri Lot tidak binasa, dia telah diselamatkan dari kemusnahan tetapi pada akhirnya dia menjadi suatu yang memalukan. Sebab itu Tuhan berkata dalam Lukas 17:32, “Ingatlah akan istri Lot.” Ini memperingatkan kita, walaupun kita telah beroleh selamat, pada waktu Tuhan datang kembali kita mungkin mendapat aib seperti istri Lot. Sekalipun kita telah diselamatkan, mungkin kita akan dipermalukan pada hari kedatangan Tuhan (1 Yoh. 2:28).
Dalam Lukas 17:28-33 Tuhan memperingatkan kita jangan menoleh ke belakang. Mengapa istri Lot menoleh ke belakang? Karena semua harta bendanya, rumahnya, dan pakaiannya berada di sana juga. Karena dia menoleh ke belakang, ia menjadi tiang garam. Hal ini bukanlah suatu cerita atau teori. Dari kisah ini kita melihat adanya masalah keselamatan dan masalah keaiban. Ketika hari penghakiman tiba, kita berbagian dalam kemuliaan atau dalam keaiban? Kita tidak akan binasa karena keselamatan kita sudah pasti. Tetapi “monumen” ini menunjukkan bahwa walau kita telah ditebus oleh Tuhan, masih ada kemungkinan bagi kita untuk gagal dan jatuh dalam kondisi yang memalukan. Hasil seumur Lot melahirkan orang-orang Moab dan orang-orang Amon (orang Ben Ami), kedua bangsa ini ditolak oleh Allah, bahkan sampai generasi mereka yang kesepuluh (Kej. 19:30-38; Ul. 23:3). Betapa kasihan kesudahan hidup Lot! Dia menghasilkan orang-orang Moab dan orang-orang Amon yang ditolak oleh Allah. Dari kisah Lot kita nampak sebuah catatan seorang benar yang gagal. Kisah seumur hidup Lot dan keluarganya hendaklah menjadi suatu peringatan yang keras bagi kita.
Penerapan:
Dunia adalah suatu sistem yang diciptakan Iblis untuk memikat manusia sehingga menjauhi Allah. Jika tidak hati-hati, kita bisa jatuh ke dalamnya sehingga berdosa dan tercemar. Cara kita berperilaku janganlah menurut cara atau gaya hidup manusia duniawi (1 Yoh. 2:15-17). Agar kita diselamatkan dari sistem dunia, kita harus mempersembahkan setiap anggota tubuh kita kepada Allah.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, hari ini kupersembahkan setiap anggota tubuhku kepada-Mu bagi kemuliaan-Mu. Selamatkanlah aku dari pengaruh dunia yang jahat agar aku tidak berdosa terhadap-Mu dan tidak bercacat di hadapan-Mu.
Kejadian 19:15
“Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: ‘Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini.’”
Lingkungan yang penuh dosa ternyata telah mempengaruhi anak-anak Lot. Mereka telah terbius oleh cara hidup kota Sodom yang penuh dosa. Kejadian 19:16 mengatakan, “Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana.” Terhadap keselamatan Allah, mereka sangat pasif sehingga malaikat TUHAN perlu mendesak dan terpaksa memegang tangan mereka (dengan paksa) dan menuntun mereka ke luar kota yang jahat itu. Dari peristiwa ini kita bisa mendapatkan suatu pelajaran penting: para orang tua perlu membesarkan anak-anak mereka di dalam suasana yang rohani. Kalau tidak, dengan cepat suasana dosa akan membius mereka. Hari ini banyak orang muda telah terbius oleh pengaruh dunia yang penuh dosa.
Kita hidup dalam zaman yang jahat, karena itu kita perlu perlindungan. Keluarga kita dan anak-anak kita harus terlindung. Kita semua harus lari dari “Sodom” dan menutup pintu kita terhadap suasana yang jahat itu. Jika tidak, keturunan kita akan terbius. Bila kita tetap tinggal dalam udara segar, kita segera dapat mencium bau busuk amoral meskipun bau itu cuma sedikit saja, tetapi kalau kita tidak bisa merasakan bau busuk, berarti perasaan budi pekerti kita telah terbius. Kiranya kita secara aktif menggunakan tekad kita untuk memilih tinggal di dalam lingkungan yang sehat – kehidupan gereja yang normal. Hanya dengan demikian kesadaran kita akan dunia yang penuh dosa dapat dipulihkan kembali.
Jangan Menoleh ke Belakang
Kej. 19:15-38; Luk. 17:28-33; 1 Yoh. 2:28; Ul. 23:3
Lot beroleh selamat semata-mata karena doa syafaat Abraham (Kej. 19:15-25, 29). Bahkan setelah malaikat memberi tahu Lot, Sodom akan dimusnahkan, Lot masih berlambat-lambat di sana. Kejadian 19:16 mengatakan ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan istri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab Tuhan hendak mengasihani dia, lalu kedua orang itu menuntunnya keluar kota dan melepaskannya di sana. Lot tidak setia tetapi Tuhan yang membelaskasihani. Tuhan menarik dia keluar dari Sodom bagaikan kayu yang dicabut keluar dari api.
Istri Lot diselamatkan dari kemusnahan tetapi menjadi tiang garam (Kej. 19:15-17; Luk. 17:32). Bila dalam bentuk serbuk, garam amatlah berguna. Tetapi garam dalam bentuk batangan, sama sekali tidak berguna. Istri Lot menjadi tiang garam, itu berarti ia telah tidak berguna lagi dalam tangan Allah dan telah menjadi satu monumen keaiban. Alkitab mewahyukan di samping masalah keselamatan dan kebinasaan terdapat pula masalah kemuliaan dan keaiban. Istri Lot tidak binasa, dia telah diselamatkan dari kemusnahan tetapi pada akhirnya dia menjadi suatu yang memalukan. Sebab itu Tuhan berkata dalam Lukas 17:32, “Ingatlah akan istri Lot.” Ini memperingatkan kita, walaupun kita telah beroleh selamat, pada waktu Tuhan datang kembali kita mungkin mendapat aib seperti istri Lot. Sekalipun kita telah diselamatkan, mungkin kita akan dipermalukan pada hari kedatangan Tuhan (1 Yoh. 2:28).
Dalam Lukas 17:28-33 Tuhan memperingatkan kita jangan menoleh ke belakang. Mengapa istri Lot menoleh ke belakang? Karena semua harta bendanya, rumahnya, dan pakaiannya berada di sana juga. Karena dia menoleh ke belakang, ia menjadi tiang garam. Hal ini bukanlah suatu cerita atau teori. Dari kisah ini kita melihat adanya masalah keselamatan dan masalah keaiban. Ketika hari penghakiman tiba, kita berbagian dalam kemuliaan atau dalam keaiban? Kita tidak akan binasa karena keselamatan kita sudah pasti. Tetapi “monumen” ini menunjukkan bahwa walau kita telah ditebus oleh Tuhan, masih ada kemungkinan bagi kita untuk gagal dan jatuh dalam kondisi yang memalukan. Hasil seumur Lot melahirkan orang-orang Moab dan orang-orang Amon (orang Ben Ami), kedua bangsa ini ditolak oleh Allah, bahkan sampai generasi mereka yang kesepuluh (Kej. 19:30-38; Ul. 23:3). Betapa kasihan kesudahan hidup Lot! Dia menghasilkan orang-orang Moab dan orang-orang Amon yang ditolak oleh Allah. Dari kisah Lot kita nampak sebuah catatan seorang benar yang gagal. Kisah seumur hidup Lot dan keluarganya hendaklah menjadi suatu peringatan yang keras bagi kita.
Penerapan:
Dunia adalah suatu sistem yang diciptakan Iblis untuk memikat manusia sehingga menjauhi Allah. Jika tidak hati-hati, kita bisa jatuh ke dalamnya sehingga berdosa dan tercemar. Cara kita berperilaku janganlah menurut cara atau gaya hidup manusia duniawi (1 Yoh. 2:15-17). Agar kita diselamatkan dari sistem dunia, kita harus mempersembahkan setiap anggota tubuh kita kepada Allah.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, hari ini kupersembahkan setiap anggota tubuhku kepada-Mu bagi kemuliaan-Mu. Selamatkanlah aku dari pengaruh dunia yang jahat agar aku tidak berdosa terhadap-Mu dan tidak bercacat di hadapan-Mu.
22 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 3 Jumat
Duduk di Pintu Gerbang Sodom
Kejadian 19:1
“Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah.”
Meskipun Lot telah diselamatkan dari tawanan oleh Abraham, pemenang Tuhan, namun ia tidak kembali ke jalan Allah (Kej. 14:12-16). Kita tidak mengerti mengapa Lot tidak kembali ke jalan Allah. Mungkin ia terlalu keras kepala. Lot tidak mendapatkan pelajaran dan ia tidak kembali ke jalan Allah. Lot kembali tinggal dalam kota jahat yang dikutuk Allah dan yang akan dimusnahkan oleh hukuman Allah (Kej. 19:1-13). Ketika dua malaikat itu datang melaksanakan hukuman Allah atas Sodom, Lot sedang duduk di pintu gerbang kota itu, berlawanan dengan Abraham yang duduk di pintu kemahnya. Menurut adat zaman dahulu siapa saja yang duduk di pintu gerbang kota ialah salah satu tetuanya, karena hanya tetualah yang berhak duduk di sana. Lot telah menjadi seorang pemimpin di Sodom!
Malaikat tidak masuk ke rumah Lot (Kej. 19:2). Bandingkan hal ini dengan Tuhan dan malaikat-Nya mengunjungi Abraham pada pasal sebelumnya. Ketika Abraham memohon mereka tinggal, mereka segera setuju. Tetapi dalam kisah Lot, dua malaikat itu tidak mau masuk ke dalam rumah Lot dan tinggal di dalamnya, karena rumah itu berada di dalam kota yang begitu jahat. Setelah Lot memaksa mereka, barulah mereka masuk dan tinggal sertanya (Kej. 19:3). Saudara saudari, bila Tuhan atau malaikat-malaikat-Nya datang mengunjungi kita, di manakah Mereka dapat menemui kita? Apakah saat itu kita sedang duduk di “pintu kemah” – dalam kehidupan gereja yang tepat, ataukah di “pintu gerbang” dunia yang jahat? Tempat di mana kita duduk itu menentukan dapat tidaknya Tuhan mendatangi kita.
Terbius oleh Lingkungan yang Penuh Dosa
Kej. 19:4-14; Rm. 1:24, 27
Tatkala malaikat-malaikat tinggal di dalam rumah Lot, orang-orang Sodom dari berbagai tempat kota itu datang hendak melampiaskan hawa nafsu Sodom mereka (Kej. 19:4-11). Orang Sodom adalah homosex, seperti yang Paulus katakan dalam Roma 1:24 dan 27. Pada prinsipnya, hari ini pun tidak sedikit orang yang hidup dalam pelampiasan hawa nafsu Sodom. Dalam keadaan yang kurang menguntungkan itu, Lot bahkan mau mengorbankan dua anak perempuannya untuk memuaskan hawa nafsu orang-orang Sodom (Kej. 19:7-9). Terpaksa atau tidak, sebenarnya ia tidak harus berbuat demikian. Ini menunjukkan perasaan budi pekerti Lot telah terbius. Kita dapat menggunakan bau bawang sebagai perumpamaan akan hal ini. Bila kita makan bawang sepanjang hari, maka penciuman kita terhadap bawang akan kebal. Bila kemudian ada seseorang yang mempunyai penciuman yang peka masuk di tengah-tengah orang pemakan bawang itu, tentu ia segera tercium bau bawang itu. Lot dan anak-anaknya tinggal dalam “rumah bawang” Sodom selama bertahun-tahun dan perasaan budi pekerti mereka telah terbius. Sampai-sampai Lot mempertimbangkan untuk mengorbankan anak perawannya untuk menyelamatkan dua orang tamunya.
Untuk menghadapi situasi yang jahat ini, malaikat menghukum orang- orang Sodom dengan cara membutakan mata mereka (Kej. 19:11). Ini menunjukkan orang-orang di Sodom itu buta dan berada dalam kegelapan. Semua orang-orang Sodom adalah buta. Ini menunjukkan bahwa dosa selalu membutakan orang. Tidak hanya demikian, anak-anak Lot pun telah menjadi bejat karena tinggal dalam kota yang jahat. Dalam Kejadian 19:12-13 malaikat berkata kepada Lot, “Siapakah kaummu yang ada di sini lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, atau siapa saja kaummu di kota ini, karena banyak keluh-kesah orang tentang kota ini di hadapan Tuhan, bawalah mereka keluar dari tempat ini, sebab itulah Tuhan mengutus kami untuk memusnahkannya.” Lot tentu memberitahu menantu laki-lakinya dan anak-anaknya bahwa Allah akan segera menghakimi kota itu, tetapi ketika Lot memberitakan Injil kepada mereka, ada di antara mereka yang tidak percaya firman Tuhan ini, dan mereka menganggap sebagai lelucon. Ayat 14 mengatakan, “Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya, ‘Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab Tuhan akan memusnahkan kota ini.’” Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja.” Karena Lot kekurangan kesaksian yang baik, perkataannya tidak bisa dipercaya, bahkan oleh kedua bakal menantunya sekalipun.
Penerapan:
Karena kita tidak mengetahui kapan Tuhan akan datang untuk kemudian menghakimi umat-Nya, marilah kita menebus waktu kita untuk berjaga-jaga di dalam doa dan pengudusan oleh firman kudus-Nya. Jangan hamburkan waktu kita dalam kesibukan duniawi yang tiada habis-habisnya dan sia-sia. Prioritaskan Tuhan dalam hidup kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering lalai dalam mempergunakan waktu yang Engkau berikan. Tuhan, aku tidak mau waktuku menjadi sia-sia dan tidak terhitung di hadapan-Mu. Bantulah aku untuk senantiasa hidup di dalam persekutuan dengan-Mu.
Kejadian 19:1
“Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah.”
Meskipun Lot telah diselamatkan dari tawanan oleh Abraham, pemenang Tuhan, namun ia tidak kembali ke jalan Allah (Kej. 14:12-16). Kita tidak mengerti mengapa Lot tidak kembali ke jalan Allah. Mungkin ia terlalu keras kepala. Lot tidak mendapatkan pelajaran dan ia tidak kembali ke jalan Allah. Lot kembali tinggal dalam kota jahat yang dikutuk Allah dan yang akan dimusnahkan oleh hukuman Allah (Kej. 19:1-13). Ketika dua malaikat itu datang melaksanakan hukuman Allah atas Sodom, Lot sedang duduk di pintu gerbang kota itu, berlawanan dengan Abraham yang duduk di pintu kemahnya. Menurut adat zaman dahulu siapa saja yang duduk di pintu gerbang kota ialah salah satu tetuanya, karena hanya tetualah yang berhak duduk di sana. Lot telah menjadi seorang pemimpin di Sodom!
Malaikat tidak masuk ke rumah Lot (Kej. 19:2). Bandingkan hal ini dengan Tuhan dan malaikat-Nya mengunjungi Abraham pada pasal sebelumnya. Ketika Abraham memohon mereka tinggal, mereka segera setuju. Tetapi dalam kisah Lot, dua malaikat itu tidak mau masuk ke dalam rumah Lot dan tinggal di dalamnya, karena rumah itu berada di dalam kota yang begitu jahat. Setelah Lot memaksa mereka, barulah mereka masuk dan tinggal sertanya (Kej. 19:3). Saudara saudari, bila Tuhan atau malaikat-malaikat-Nya datang mengunjungi kita, di manakah Mereka dapat menemui kita? Apakah saat itu kita sedang duduk di “pintu kemah” – dalam kehidupan gereja yang tepat, ataukah di “pintu gerbang” dunia yang jahat? Tempat di mana kita duduk itu menentukan dapat tidaknya Tuhan mendatangi kita.
Terbius oleh Lingkungan yang Penuh Dosa
Kej. 19:4-14; Rm. 1:24, 27
Tatkala malaikat-malaikat tinggal di dalam rumah Lot, orang-orang Sodom dari berbagai tempat kota itu datang hendak melampiaskan hawa nafsu Sodom mereka (Kej. 19:4-11). Orang Sodom adalah homosex, seperti yang Paulus katakan dalam Roma 1:24 dan 27. Pada prinsipnya, hari ini pun tidak sedikit orang yang hidup dalam pelampiasan hawa nafsu Sodom. Dalam keadaan yang kurang menguntungkan itu, Lot bahkan mau mengorbankan dua anak perempuannya untuk memuaskan hawa nafsu orang-orang Sodom (Kej. 19:7-9). Terpaksa atau tidak, sebenarnya ia tidak harus berbuat demikian. Ini menunjukkan perasaan budi pekerti Lot telah terbius. Kita dapat menggunakan bau bawang sebagai perumpamaan akan hal ini. Bila kita makan bawang sepanjang hari, maka penciuman kita terhadap bawang akan kebal. Bila kemudian ada seseorang yang mempunyai penciuman yang peka masuk di tengah-tengah orang pemakan bawang itu, tentu ia segera tercium bau bawang itu. Lot dan anak-anaknya tinggal dalam “rumah bawang” Sodom selama bertahun-tahun dan perasaan budi pekerti mereka telah terbius. Sampai-sampai Lot mempertimbangkan untuk mengorbankan anak perawannya untuk menyelamatkan dua orang tamunya.
Untuk menghadapi situasi yang jahat ini, malaikat menghukum orang- orang Sodom dengan cara membutakan mata mereka (Kej. 19:11). Ini menunjukkan orang-orang di Sodom itu buta dan berada dalam kegelapan. Semua orang-orang Sodom adalah buta. Ini menunjukkan bahwa dosa selalu membutakan orang. Tidak hanya demikian, anak-anak Lot pun telah menjadi bejat karena tinggal dalam kota yang jahat. Dalam Kejadian 19:12-13 malaikat berkata kepada Lot, “Siapakah kaummu yang ada di sini lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, atau siapa saja kaummu di kota ini, karena banyak keluh-kesah orang tentang kota ini di hadapan Tuhan, bawalah mereka keluar dari tempat ini, sebab itulah Tuhan mengutus kami untuk memusnahkannya.” Lot tentu memberitahu menantu laki-lakinya dan anak-anaknya bahwa Allah akan segera menghakimi kota itu, tetapi ketika Lot memberitakan Injil kepada mereka, ada di antara mereka yang tidak percaya firman Tuhan ini, dan mereka menganggap sebagai lelucon. Ayat 14 mengatakan, “Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya, ‘Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab Tuhan akan memusnahkan kota ini.’” Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja.” Karena Lot kekurangan kesaksian yang baik, perkataannya tidak bisa dipercaya, bahkan oleh kedua bakal menantunya sekalipun.
Penerapan:
Karena kita tidak mengetahui kapan Tuhan akan datang untuk kemudian menghakimi umat-Nya, marilah kita menebus waktu kita untuk berjaga-jaga di dalam doa dan pengudusan oleh firman kudus-Nya. Jangan hamburkan waktu kita dalam kesibukan duniawi yang tiada habis-habisnya dan sia-sia. Prioritaskan Tuhan dalam hidup kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering lalai dalam mempergunakan waktu yang Engkau berikan. Tuhan, aku tidak mau waktuku menjadi sia-sia dan tidak terhitung di hadapan-Mu. Bantulah aku untuk senantiasa hidup di dalam persekutuan dengan-Mu.
21 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 3 Kamis
Allah Mengingat Doa Abraham
Kejadian 18:23
“Abraham datang mendekat dan berkata: Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?”
Setelah Allah mewahyukan kehendak hati-Nya kepada Abraham, Abraham segera mengerti maksud hati Allah. Abraham datang mendekat dan berkata, “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?” (Kej. 18:23). Abraham seolah-olah berkata, “Tuhan, tidakkah Kau tahu bahwa di Sodom, kota jahat yang akan Kau musnahkan itu, terdapat seorang benar? Apakah Engkau bermaksud memusnahkan yang benar dengan yang fasik?” Allah tidak menyebut nama Lot kepada Abraham, namun Abraham mengerti. Demikian pula, Abraham tidak menyebut Lot kepada Allah, tetapi Allah tahu.
Kejadian 19:29 mengatakan, “Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu.” Di sini tidak mengatakan Allah ingat pada Lot, tetapi Allah ingat kepada Abraham. Dari ayat ini jelas sekali kita tahu Allah menjawab doa Abraham dengan menyelamatkan Lot dari Sodom. Maka, sesungguhnya doa syafaat Abraham dalam pasal 18 bukan untuk kota Sodom, melainkan untuk Lot.
Dalam prinsipnya, doa syafaat Abraham untuk Lot sama seperti doa syafaat gereja dalam Perjanjian Baru. Sebagian dari umat Allah, telah hanyut ke dalam dunia. Walaupun mereka telah dibenarkan oleh Allah, tetapi sekarang mereka mengasihi dunia. Kita harus berdoa syafaat bagi umat Allah yang hanyut ke dalam dunia. Inilah doa syafaat yang tepat dalam kehidupan gereja.
Berdoa Menurut Prinsip Keadilan Allah
Kej. 18:23-33
Doa syafaat bukan hanya doa, melainkan suatu percakapan yang intim. Dalam Kejadian 18 Abraham berbicara dengan Allah sebagai kawan akrabnya pada kedudukan manusia, katanya, “Jauhlah kiranya daripada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian daripada-Mu!” (Kej. 18:25). Inilah suatu tantangan yang kuat bagi Tuhan. Ini bukan lagi doa memohon melainkan menantang Allah dalam suatu percakapan yang sangat ramah. Tuhan menjawab Abraham, firman-Nya, “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka” (Kej. 18:26). Prinsip dasar doa syafaat yaitu percakapan yang menantang, bukan doa atau permohonan. Tantangan Abraham kepada Allah menurut hukum Allah yang adil (Kej. 18:23-25). Doa syafaat yang tepat bukan menurut kasih Allah atau menurut anugerah-Nya, melainkan menurut keadilan-Nya.
Dalam Kejadian 18:27-32 kita lihat Abraham meneruskan pembicaraan dengan Allah mengenai syarat pengampunan kota itu harus ada beberapa orang benar. Abraham sampai enam kali mengusulkan jumlah orang benar sebagai syarat pengampunan. Abraham telah enam kali mengajukan usul kepada Tuhan, mengurangi jumlah dari lima puluh sampai sepuluh. Setelah itu, ia tidak berbeban lagi mengusulkan untuk yang ketujuh kali. Allah memberi tahu kepada Abraham Ia takkan memusnahkan kota itu karena sepuluh orang yang benar (Kej. 18:32). Menurut perkiraan Abraham, paling sedikit tentu ada sepuluh orang dalam keluarga Lot yang terhitung sebagai orang benar, tetapi ternyata sepuluh orang benar pun tidak ada di Sodom.
Pasal ini tidak berakhir dengan “Abraham berbicara” tetapi berakhir dengan “Allah berbicara”. Ayat 33 mengatakan, “Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham.” Catatan di sini tidak mengatakan Abraham sudah selesai berbicara, tetapi Allah yang selesai berfirman. Doa syafaat yang tepat selalu Allah yang berbicara. Seolah-olah kita berbicara, namun sesungguhnya Allah yang berfirman dalam pembicaraan kita. Seringkali dalam doa kita, kita mengatakan “amin”, ini seolah-olah kita mengatakan “sampai jumpa” kepada Allah. Namun di dalam roh kita merasa Allah berkata, “Kau sedang apa? Aku belum selesai berbicara denganmu. Mengapa kau tidak tinggal sebentar lagi? Mungkin banyak di antara kita mempunyai pengalaman yang demikian. Kita perlu tinggal lebih lama dalam penyertaan Allah di dalam doa-doa kita, menunggu hingga Ia selesai berfirman kepada kita.
Penerapan:
Berapa lamakah biasanya kita berdoa syafaat di hadapan Tuhan? Seringkali kita berdoa dengan tergesa-gesa dan ingin segera mengakhiri waktu doa kita dengan mengerjakan urusan yang lain. Kalau kita demikian, Allah sulit berbicara kepada kita. Marilah kita berlatih dengan menyediakan waktu doa yang lebih panjang sehingga Tuhan memiliki kesempatan berbicara kepada kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, banyak hal telah menduduki waktu-waktu ku sehingga aku tidak memiliki cukup waktu untuk berdoa. Tuhan, ajarlah aku untuk menguduskan dan menetapkan waktu-waktu tertentu untuk berdoa dan bersekutu dengan-Mu.
Kejadian 18:23
“Abraham datang mendekat dan berkata: Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?”
Setelah Allah mewahyukan kehendak hati-Nya kepada Abraham, Abraham segera mengerti maksud hati Allah. Abraham datang mendekat dan berkata, “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?” (Kej. 18:23). Abraham seolah-olah berkata, “Tuhan, tidakkah Kau tahu bahwa di Sodom, kota jahat yang akan Kau musnahkan itu, terdapat seorang benar? Apakah Engkau bermaksud memusnahkan yang benar dengan yang fasik?” Allah tidak menyebut nama Lot kepada Abraham, namun Abraham mengerti. Demikian pula, Abraham tidak menyebut Lot kepada Allah, tetapi Allah tahu.
Kejadian 19:29 mengatakan, “Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu.” Di sini tidak mengatakan Allah ingat pada Lot, tetapi Allah ingat kepada Abraham. Dari ayat ini jelas sekali kita tahu Allah menjawab doa Abraham dengan menyelamatkan Lot dari Sodom. Maka, sesungguhnya doa syafaat Abraham dalam pasal 18 bukan untuk kota Sodom, melainkan untuk Lot.
Dalam prinsipnya, doa syafaat Abraham untuk Lot sama seperti doa syafaat gereja dalam Perjanjian Baru. Sebagian dari umat Allah, telah hanyut ke dalam dunia. Walaupun mereka telah dibenarkan oleh Allah, tetapi sekarang mereka mengasihi dunia. Kita harus berdoa syafaat bagi umat Allah yang hanyut ke dalam dunia. Inilah doa syafaat yang tepat dalam kehidupan gereja.
Berdoa Menurut Prinsip Keadilan Allah
Kej. 18:23-33
Doa syafaat bukan hanya doa, melainkan suatu percakapan yang intim. Dalam Kejadian 18 Abraham berbicara dengan Allah sebagai kawan akrabnya pada kedudukan manusia, katanya, “Jauhlah kiranya daripada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian daripada-Mu!” (Kej. 18:25). Inilah suatu tantangan yang kuat bagi Tuhan. Ini bukan lagi doa memohon melainkan menantang Allah dalam suatu percakapan yang sangat ramah. Tuhan menjawab Abraham, firman-Nya, “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka” (Kej. 18:26). Prinsip dasar doa syafaat yaitu percakapan yang menantang, bukan doa atau permohonan. Tantangan Abraham kepada Allah menurut hukum Allah yang adil (Kej. 18:23-25). Doa syafaat yang tepat bukan menurut kasih Allah atau menurut anugerah-Nya, melainkan menurut keadilan-Nya.
Dalam Kejadian 18:27-32 kita lihat Abraham meneruskan pembicaraan dengan Allah mengenai syarat pengampunan kota itu harus ada beberapa orang benar. Abraham sampai enam kali mengusulkan jumlah orang benar sebagai syarat pengampunan. Abraham telah enam kali mengajukan usul kepada Tuhan, mengurangi jumlah dari lima puluh sampai sepuluh. Setelah itu, ia tidak berbeban lagi mengusulkan untuk yang ketujuh kali. Allah memberi tahu kepada Abraham Ia takkan memusnahkan kota itu karena sepuluh orang yang benar (Kej. 18:32). Menurut perkiraan Abraham, paling sedikit tentu ada sepuluh orang dalam keluarga Lot yang terhitung sebagai orang benar, tetapi ternyata sepuluh orang benar pun tidak ada di Sodom.
Pasal ini tidak berakhir dengan “Abraham berbicara” tetapi berakhir dengan “Allah berbicara”. Ayat 33 mengatakan, “Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham.” Catatan di sini tidak mengatakan Abraham sudah selesai berbicara, tetapi Allah yang selesai berfirman. Doa syafaat yang tepat selalu Allah yang berbicara. Seolah-olah kita berbicara, namun sesungguhnya Allah yang berfirman dalam pembicaraan kita. Seringkali dalam doa kita, kita mengatakan “amin”, ini seolah-olah kita mengatakan “sampai jumpa” kepada Allah. Namun di dalam roh kita merasa Allah berkata, “Kau sedang apa? Aku belum selesai berbicara denganmu. Mengapa kau tidak tinggal sebentar lagi? Mungkin banyak di antara kita mempunyai pengalaman yang demikian. Kita perlu tinggal lebih lama dalam penyertaan Allah di dalam doa-doa kita, menunggu hingga Ia selesai berfirman kepada kita.
Penerapan:
Berapa lamakah biasanya kita berdoa syafaat di hadapan Tuhan? Seringkali kita berdoa dengan tergesa-gesa dan ingin segera mengakhiri waktu doa kita dengan mengerjakan urusan yang lain. Kalau kita demikian, Allah sulit berbicara kepada kita. Marilah kita berlatih dengan menyediakan waktu doa yang lebih panjang sehingga Tuhan memiliki kesempatan berbicara kepada kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, banyak hal telah menduduki waktu-waktu ku sehingga aku tidak memiliki cukup waktu untuk berdoa. Tuhan, ajarlah aku untuk menguduskan dan menetapkan waktu-waktu tertentu untuk berdoa dan bersekutu dengan-Mu.
20 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 3 Rabu
Syarat untuk Menerima Wahyu Allah (1)
Kejadian 18:20
“Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya.”
Ketika Allah datang kepada Abraham, Abraham menyambut-Nya, menyediakan air dan menyajikan makanan yang lezat bagi-Nya. Allah tidak langsung memberitahukan maksud kedatangan-Nya kepada Abraham. Setelah Allah dan kedua malaikat-Nya itu berdiri dan hendak pergi meninggalkan kemah, Abraham pun mengantar mereka, baru pada waktu itulah Allah mengutarakan tujuan-Nya (Kej. 18:17). Allah tidak dapat menyembunyikan kehendak-Nya kepada Abraham, teman-Nya yang terkasih itu.
Agar dapat menerima wahyu dari Allah, kita harus menempuh suatu proses yang panjang. Pertama, kita harus keluar dari “Ur-Kasdim”, keluar dari latar belakang kita yang penuh berhala untuk masuk ke dalam Kristus dan kehidupan gereja sebagai tanah permai kita. Di sanalah kita bisa memiliki pengalaman Hebron, pengalaman bersekutu dengan Allah. Kedua, kita perlu mengalami “sunat” Kristus untuk mengakhiri manusia alamiah kita. Begitu daging dan manusia alamiah kita diakhiri, maka Allah mendapatkan seorang yang sesuai dengan hati-Nya. Demikianlah kita siap dan layak menerima wahyu dari Allah tentang maksud hati-Nya.
Orang yang tidak mengerti kehendak Allah, orang yang tidak memiliki wahyu mengenai maksud hati Allah, adalah orang yang bodoh (Ef. 5:17). Kita tentu tidak mau menjadi orang yang bodoh, orang yang hanya menghamburkan waktu dan mabuk oleh “anggur” dunia hari ini. Kita harus menebus waktu kita untuk bersekutu dengan Allah dan mengalami salib-Nya, barulah kita bersyarat menerima wahyu Allah mengenai kehendak-Nya.
Syarat untuk Menerima Wahyu Allah (2)
Kej. 18:20-21
Selagi Abraham berdiri di hadapan-Nya (Kej. 18:22), Allah kemudian membukakan diri kepadanya. Ia berkata, “Sesungguhnya banyak keluh-kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh-kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya” (Kej. 18:20-21). Walaupun Allah tidak mengatakan sepatah kata pun tentang Lot, tetapi maksud-Nya membicarakan Sodom adalah untuk Lot. Abraham tahu bahwa Allah memperhatikan Lot walau Ia tidak menyebutkan namanya. Abraham tahu maksud hati Allah karena Allah terbuka terhadapnya.
Agar Allah mewahyukan kehendak hati-Nya kepada kita, kita harus sudah siap untuk itu. Meskipun berjuta-juta orang telah masuk ke dalam nama Tuhan, tapi sedikit sekali yang telah siap, didisiplin, dilatih, disunat dan diakhiri. Sekalipun kita tidak begitu serupa dengan Abraham, tapi kerapkali kita mempunyai pengalaman yang sama. Tatkala kita mau menyingkirkan ego kita dan menolak daging kita, ajaib sekali, Allah datang pada kita bagaikan seorang teman. Kita berbicara dengan Dia seperti seorang teman karib.
Saudara Watchman Nee pernah menulis sebuah kidung yang sangat manis yang menggambarkan pengalamannya terhadap Allah sebagai teman yang paling akrab. Kiranya setelah menikmati kidung ini, kita semua terdorong untuk lebih akrab bersekutu dengan Tuhan.
1. Satu Kawanku akrab, ku teramat sayang;
Lemah lembutlah sikap-Nya, manislah cinta-Nya;
Mustahil hidup tanpa Dia, papah-Nya ku harap;
Kita tinggal bersama, Tuhan dan ku.
2. Kadang ku nyaris rebah, lemahku Dia paham;
Disuruh-Nya ku sandar Dia, ku suka rangkul-Nya.
Ke arah t’rang ku Dia bawa, ‘nempuh hidup cerah;
Kita jalan searah, Tuhan dan ku.
3. Semua suka dukaku, ku b’ri ta’u pada-Nya;
Semua rindu dambaku, ku ungkap pada-Nya;
Hibur, anjur, amanat-Nya, Dia beri padaku;
Kita saling bercakap, Tuhan dan ku.
4. Dia memberitahukan, tak jauhlah K’rajaanNya;
Hati-Nya sangat mendesak, bawa ku ke sana;
Bah’gia kekal, riang gembira, dan takhta mulia;
Kita sama meraja, Tuhan dan ku.
Penerapan:
Kesibukan dalam keseharian kita sering membuat kita tidak begitu mempedulikan apakah Allah menyatakan kehendak-Nya kepada kita atau tidak. Akibatnya kita menjadi orang Kristen yang tanpa wahyu, liar (Ams. 29:18). Sediakanlah waktu lebih banyak untuk bersekutu dengan Allah melalui firman kudus-Nya sehingga terang firman-Nya mengendalikan hidup kita.
Pokok Doa:
O Tuhan Yesus, berbicaralah kepadaku. Ampunilah bila padaku banyak hal yang menghalangi-Mu untuk menyatakan kehendak-Mu. Tuhan, terangilah aku, aku mau membereskan semuanya itu sehingga aku bisa mendengar dan mengenal kehendak hati-Mu.
Kejadian 18:20
“Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya.”
Ketika Allah datang kepada Abraham, Abraham menyambut-Nya, menyediakan air dan menyajikan makanan yang lezat bagi-Nya. Allah tidak langsung memberitahukan maksud kedatangan-Nya kepada Abraham. Setelah Allah dan kedua malaikat-Nya itu berdiri dan hendak pergi meninggalkan kemah, Abraham pun mengantar mereka, baru pada waktu itulah Allah mengutarakan tujuan-Nya (Kej. 18:17). Allah tidak dapat menyembunyikan kehendak-Nya kepada Abraham, teman-Nya yang terkasih itu.
Agar dapat menerima wahyu dari Allah, kita harus menempuh suatu proses yang panjang. Pertama, kita harus keluar dari “Ur-Kasdim”, keluar dari latar belakang kita yang penuh berhala untuk masuk ke dalam Kristus dan kehidupan gereja sebagai tanah permai kita. Di sanalah kita bisa memiliki pengalaman Hebron, pengalaman bersekutu dengan Allah. Kedua, kita perlu mengalami “sunat” Kristus untuk mengakhiri manusia alamiah kita. Begitu daging dan manusia alamiah kita diakhiri, maka Allah mendapatkan seorang yang sesuai dengan hati-Nya. Demikianlah kita siap dan layak menerima wahyu dari Allah tentang maksud hati-Nya.
Orang yang tidak mengerti kehendak Allah, orang yang tidak memiliki wahyu mengenai maksud hati Allah, adalah orang yang bodoh (Ef. 5:17). Kita tentu tidak mau menjadi orang yang bodoh, orang yang hanya menghamburkan waktu dan mabuk oleh “anggur” dunia hari ini. Kita harus menebus waktu kita untuk bersekutu dengan Allah dan mengalami salib-Nya, barulah kita bersyarat menerima wahyu Allah mengenai kehendak-Nya.
Syarat untuk Menerima Wahyu Allah (2)
Kej. 18:20-21
Selagi Abraham berdiri di hadapan-Nya (Kej. 18:22), Allah kemudian membukakan diri kepadanya. Ia berkata, “Sesungguhnya banyak keluh-kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh-kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya” (Kej. 18:20-21). Walaupun Allah tidak mengatakan sepatah kata pun tentang Lot, tetapi maksud-Nya membicarakan Sodom adalah untuk Lot. Abraham tahu bahwa Allah memperhatikan Lot walau Ia tidak menyebutkan namanya. Abraham tahu maksud hati Allah karena Allah terbuka terhadapnya.
Agar Allah mewahyukan kehendak hati-Nya kepada kita, kita harus sudah siap untuk itu. Meskipun berjuta-juta orang telah masuk ke dalam nama Tuhan, tapi sedikit sekali yang telah siap, didisiplin, dilatih, disunat dan diakhiri. Sekalipun kita tidak begitu serupa dengan Abraham, tapi kerapkali kita mempunyai pengalaman yang sama. Tatkala kita mau menyingkirkan ego kita dan menolak daging kita, ajaib sekali, Allah datang pada kita bagaikan seorang teman. Kita berbicara dengan Dia seperti seorang teman karib.
Saudara Watchman Nee pernah menulis sebuah kidung yang sangat manis yang menggambarkan pengalamannya terhadap Allah sebagai teman yang paling akrab. Kiranya setelah menikmati kidung ini, kita semua terdorong untuk lebih akrab bersekutu dengan Tuhan.
1. Satu Kawanku akrab, ku teramat sayang;
Lemah lembutlah sikap-Nya, manislah cinta-Nya;
Mustahil hidup tanpa Dia, papah-Nya ku harap;
Kita tinggal bersama, Tuhan dan ku.
2. Kadang ku nyaris rebah, lemahku Dia paham;
Disuruh-Nya ku sandar Dia, ku suka rangkul-Nya.
Ke arah t’rang ku Dia bawa, ‘nempuh hidup cerah;
Kita jalan searah, Tuhan dan ku.
3. Semua suka dukaku, ku b’ri ta’u pada-Nya;
Semua rindu dambaku, ku ungkap pada-Nya;
Hibur, anjur, amanat-Nya, Dia beri padaku;
Kita saling bercakap, Tuhan dan ku.
4. Dia memberitahukan, tak jauhlah K’rajaanNya;
Hati-Nya sangat mendesak, bawa ku ke sana;
Bah’gia kekal, riang gembira, dan takhta mulia;
Kita sama meraja, Tuhan dan ku.
Penerapan:
Kesibukan dalam keseharian kita sering membuat kita tidak begitu mempedulikan apakah Allah menyatakan kehendak-Nya kepada kita atau tidak. Akibatnya kita menjadi orang Kristen yang tanpa wahyu, liar (Ams. 29:18). Sediakanlah waktu lebih banyak untuk bersekutu dengan Allah melalui firman kudus-Nya sehingga terang firman-Nya mengendalikan hidup kita.
Pokok Doa:
O Tuhan Yesus, berbicaralah kepadaku. Ampunilah bila padaku banyak hal yang menghalangi-Mu untuk menyatakan kehendak-Mu. Tuhan, terangilah aku, aku mau membereskan semuanya itu sehingga aku bisa mendengar dan mengenal kehendak hati-Mu.
19 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 3 Selasa
Allah Mencari Pendoa Syafaat
Kejadian 18:16b-17
“Dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka. Berpikirlah TUHAN: ‘Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?’”
Setelah menerima wahyu tentang kelahiran Ishak pada waktu yang ditetapkan Allah, Abraham kemudian menerima wahyu yang kedua, yaitu perihal pemusnahan Sodom (Kej. 18:16-21). Ayat 16 mengatakan, “Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka.”
Ketika itu, “Berpikirlah Tuhan: Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?” (Kej. 18:17). Allah tidak dapat menyembunyikan maksud-Nya tentang menghakimi Sodom itu, kata-Nya, “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya” (Kej. 18:20-21). Hati Allah prihatin terhadap Lot, tapi Ia tidak dapat berbuat sesuatu baginya tanpa seorang yang berdoa syafaat. Allah sedang mencari seorang yang berdoa syafaat.
Doa syafaat hanya bisa dipanjatkan oleh mereka yang memiliki persekutuan dengan Allah serta memiliki beban dan kasih terhadap orang lain. Abraham adalah seorang yang demikian, karena itu ia dapat berdoa syafaat bagi Lot. Selain memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan, kita perlu memiliki beban dan kasih yang tulus terhadap orang lain, apalagi terhadap saudara kita yang lemah. Hanya beban dan kasih yang demikian yang dapat mampu menggerakkan kita untuk berdoa syafaat bagi orang lain. Kiranya Tuhan membangkitkan kita menjadi pendoa-pendoa syafaat hari ini.
Berdoa Menurut Kehendak Allah
Kej. 18:22; 1 Tes. 5:17; Luk. 18:1; 1 Tim. 2:1, 4
Kejadian 18:22 mengatakan, “Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN.” Ketika kedua malaikat itu pergi, Abraham masih berdiri di hadapan Tuhan. Tujuan Abraham adalah untuk berdoa syafaat. Di dalam Kejadian 18 kita melihat bahwa Abraham, orang yang telah disunat ini, telah berdamai dengan Allah sehingga Allah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia biasa, dan bercakap-cakap dengan dia seperti seorang teman. Di dalam persekutuan yang demikian intim ini sedikit pun tidak ada formalitas ritual agama. Di dalam persekutuan yang demikian inilah Abraham menerima wahyu dari Allah mengenai kelahiran Ishak dan mengenai pemusnahan Sodom. Allah telah menemukan seseorang yang kepadanya Allah bisa mencurahkan isi hati-Nya.
Allah datang kepada Abraham dengan maksud akan mencari seorang yang berdoa syafaat. Di atas takhta-Nya, Allah telah memutuskan untuk memberi hukuman kepada kota Sodom yang jahat. Tetapi Allah sekali-kali tidak lupa akan Lot, salah satu umat-Nya yang masih berada di kota itu; walaupun Lot sendiri tidak menyadari, ia harus diselamatkan dari Sodom. Apa daya Allah? Ia harus mencari seseorang untuk berdoa syafaat bagi Lot. Allah tahu bahwa tidak ada seorang pun di bumi selain Abraham yang begitu memperhatikan Lot dan mengerti hati Allah. Sebab itu, Allah datang pada Abraham dengan maksud mencari seorang yang berdoa syafaat. Tanpa seorang yang berdoa syafaat bagi umat-Nya, Allah tidak dapat bekerja.
Allah mempunyai prinsip ilahi-Nya. Salah satu di antaranya ialah tanpa doa syafaat Ia tidak dapat menyelamatkan orang. Keselamatan setiap orang Kristen itu semuanya dikarenakan doa syafaat. Allah tidak tinggal diam di atas takhta-Nya menunggu doa syafaat yang demikian. Sebaliknya Ia turun dalam rupa manusia mengunjungi Abraham, sehingga Abraham dapat dengan mudah bercakap-cakap dengan Dia dan berdoa syafaat bagi Lot. Allah mengunjungi Abraham ialah supaya Abraham menerima beban untuk berdoa syafaat bagi Lot seturut maksud hati Allah.
Kita harus menjadi orang yang berdoa setiap waktu (1 Tes. 5:17; Luk. 18:1). Kita perlu berdoa bagi satu atau dua orang yang akan kita selamatkan. Kita harus berdoa: “Tuhan, ingatlah orang-orang ini. Saya mempunyai beban terhadap mereka. Engkau menghendaki agar semua orang diselamatkan. Ingatlah mereka dan lawatlah mereka dengan keselamatan-Mu.” Kita harus menjadi orang yang berdoa dengan tak putus-putusnya siang dan malam. Kehendak Allah bagi keselamatan manusia menuntut doa-doa kita.
Penerapan:
Keselamatan kita sebenarnya adalah hasil dari doa syafaat seseorang. Allah memang ingin setiap manusia memperoleh keselamatan, namun ini tergantung dari kerjasama manusia dengan Tuhan di dalam doa syafaat mereka. Sanak keluarga, teman-teman, orang-orang di sekitar kita memerlukan doa syafaat kita sehingga Allah dapat menyelamatkan mereka.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku bersyukur atas keselamatan yang Engkau berikan. Agar keselamatan ini bisa dialami oleh lebih banyak orang, ajarlah aku untuk secara konsisten berdoa syafaat bagi mereka. Tuhan ingatlah mereka sama seperti Engkau mengingatku.
Kejadian 18:16b-17
“Dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka. Berpikirlah TUHAN: ‘Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?’”
Setelah menerima wahyu tentang kelahiran Ishak pada waktu yang ditetapkan Allah, Abraham kemudian menerima wahyu yang kedua, yaitu perihal pemusnahan Sodom (Kej. 18:16-21). Ayat 16 mengatakan, “Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka.”
Ketika itu, “Berpikirlah Tuhan: Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?” (Kej. 18:17). Allah tidak dapat menyembunyikan maksud-Nya tentang menghakimi Sodom itu, kata-Nya, “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya” (Kej. 18:20-21). Hati Allah prihatin terhadap Lot, tapi Ia tidak dapat berbuat sesuatu baginya tanpa seorang yang berdoa syafaat. Allah sedang mencari seorang yang berdoa syafaat.
Doa syafaat hanya bisa dipanjatkan oleh mereka yang memiliki persekutuan dengan Allah serta memiliki beban dan kasih terhadap orang lain. Abraham adalah seorang yang demikian, karena itu ia dapat berdoa syafaat bagi Lot. Selain memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan, kita perlu memiliki beban dan kasih yang tulus terhadap orang lain, apalagi terhadap saudara kita yang lemah. Hanya beban dan kasih yang demikian yang dapat mampu menggerakkan kita untuk berdoa syafaat bagi orang lain. Kiranya Tuhan membangkitkan kita menjadi pendoa-pendoa syafaat hari ini.
Berdoa Menurut Kehendak Allah
Kej. 18:22; 1 Tes. 5:17; Luk. 18:1; 1 Tim. 2:1, 4
Kejadian 18:22 mengatakan, “Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN.” Ketika kedua malaikat itu pergi, Abraham masih berdiri di hadapan Tuhan. Tujuan Abraham adalah untuk berdoa syafaat. Di dalam Kejadian 18 kita melihat bahwa Abraham, orang yang telah disunat ini, telah berdamai dengan Allah sehingga Allah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia biasa, dan bercakap-cakap dengan dia seperti seorang teman. Di dalam persekutuan yang demikian intim ini sedikit pun tidak ada formalitas ritual agama. Di dalam persekutuan yang demikian inilah Abraham menerima wahyu dari Allah mengenai kelahiran Ishak dan mengenai pemusnahan Sodom. Allah telah menemukan seseorang yang kepadanya Allah bisa mencurahkan isi hati-Nya.
Allah datang kepada Abraham dengan maksud akan mencari seorang yang berdoa syafaat. Di atas takhta-Nya, Allah telah memutuskan untuk memberi hukuman kepada kota Sodom yang jahat. Tetapi Allah sekali-kali tidak lupa akan Lot, salah satu umat-Nya yang masih berada di kota itu; walaupun Lot sendiri tidak menyadari, ia harus diselamatkan dari Sodom. Apa daya Allah? Ia harus mencari seseorang untuk berdoa syafaat bagi Lot. Allah tahu bahwa tidak ada seorang pun di bumi selain Abraham yang begitu memperhatikan Lot dan mengerti hati Allah. Sebab itu, Allah datang pada Abraham dengan maksud mencari seorang yang berdoa syafaat. Tanpa seorang yang berdoa syafaat bagi umat-Nya, Allah tidak dapat bekerja.
Allah mempunyai prinsip ilahi-Nya. Salah satu di antaranya ialah tanpa doa syafaat Ia tidak dapat menyelamatkan orang. Keselamatan setiap orang Kristen itu semuanya dikarenakan doa syafaat. Allah tidak tinggal diam di atas takhta-Nya menunggu doa syafaat yang demikian. Sebaliknya Ia turun dalam rupa manusia mengunjungi Abraham, sehingga Abraham dapat dengan mudah bercakap-cakap dengan Dia dan berdoa syafaat bagi Lot. Allah mengunjungi Abraham ialah supaya Abraham menerima beban untuk berdoa syafaat bagi Lot seturut maksud hati Allah.
Kita harus menjadi orang yang berdoa setiap waktu (1 Tes. 5:17; Luk. 18:1). Kita perlu berdoa bagi satu atau dua orang yang akan kita selamatkan. Kita harus berdoa: “Tuhan, ingatlah orang-orang ini. Saya mempunyai beban terhadap mereka. Engkau menghendaki agar semua orang diselamatkan. Ingatlah mereka dan lawatlah mereka dengan keselamatan-Mu.” Kita harus menjadi orang yang berdoa dengan tak putus-putusnya siang dan malam. Kehendak Allah bagi keselamatan manusia menuntut doa-doa kita.
Penerapan:
Keselamatan kita sebenarnya adalah hasil dari doa syafaat seseorang. Allah memang ingin setiap manusia memperoleh keselamatan, namun ini tergantung dari kerjasama manusia dengan Tuhan di dalam doa syafaat mereka. Sanak keluarga, teman-teman, orang-orang di sekitar kita memerlukan doa syafaat kita sehingga Allah dapat menyelamatkan mereka.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku bersyukur atas keselamatan yang Engkau berikan. Agar keselamatan ini bisa dialami oleh lebih banyak orang, ajarlah aku untuk secara konsisten berdoa syafaat bagi mereka. Tuhan ingatlah mereka sama seperti Engkau mengingatku.
18 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 3 Senin
Kristus Datang, Dosa Musnah
Kejadian 18:10
“Dan firman-Nya: ‘Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.’ Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.”
Karena Abraham menikmati persekutuan yang manis dan intim dengan Allah, ia menerima juga wahyu dari Dia tentang kelahiran Ishak dan pemusnahan kota Sodom. Kalau kita kaitkan dengan Perjanjian Baru, kelahiran Ishak bertalian dengan Kristus, sedangkan pemusnahan kota Sodom bertalian dengan penghakiman Allah terhadap dosa. Ishak harus datang dan Sodom harus musnah. Ini berarti Kristus harus datang dan dosa harus musnah.
Sebagai keturunan Abraham, kita pun memiliki janji bahwa Kristus akan menjadi hayat kita (Kol. 3:4), suplai kita (Yoh. 6:51; 1 Kor. 12:13), dan segala sesuatu kita (Kol. 3:11; Flp. 1:19, TL.). Selain itu, kita juga memiliki janji akan kedatangan Kristus kali kedua (Why. 3:11; 22:7, 12, 20), sekaligus penghakiman Allah atas langit dan bumi yang lama berikut sistemnya yang jahat dan penuh dengan dosa (2 Ptr. 3:10).
Prinsip dari janji ini sama dengan yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan kita, seperti dalam pernikahan kita, pekerjaan kita, bahkan dalam kehidupan gereja kita. Tanpa hadir Kristus, dosa akan berkuasa di dalamnya. Tanpa hadir Kristus, dosa akan merusak pernikahan, merusak pekerjaan, bahkan dapat merusak kehidupan gereja yang wajar. Sebaliknya, di mana ada hadir Kristus, dosa pasti tersingkir. Di mana ada hadir Kristus, kegelapan dosa sirna. Allah melalui Kristus akan memusnahkan “Sodom” yang ada di dalam berbagai aspek kehidupan kita. Oleh karena itu, Kristus harus dilahirkan, diperhidupkan, dan harus bertambah di dalam keluarga kita, pekerjaan kita, bahkan dalam kehidupan gereja kita. Hanya dengan jalan ini dosa dikalahkan dan musnah.
Waktu Hayat
Kej. 17:21; 18:1-14
Kejadian 18:10 mengatakan bahwa, “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan (according to the time of life, KJV) mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Kelahiran Ishak adalah menurut waktu hayat (the time of life), pada waktu yang telah ditetapkan (Kej. 17:21; 18:10, 14). Melalui menempuh kehidupan bersandar iman dan anugerah, kehidupan dalam persekutuan dengan Allah, akhirnya Abraham mendapatkan penegasan dari Allah bahwa isterinya, Sara, akan mempunyai anak laki-laki pada waktu yang telah ditetapkan Allah, yaitu pada waktu hayat. Apakah yang dimaksud dengan waktu hayat? Waktu hayat adalah waktu dimana Abraham dan Sara sudah tidak memiliki harapan lagi atas kekuatan diri sendiri. Waktu dimana mereka hanya bisa berharap kepada Allah, sepenuhnya bersandar Allah, dan membiarkan Allah yang bekerja, itulah waktu hayat.
Dalam hidup kita, kita memerlukan banyak waktu hayat. Semakin banyak waktu hayat yang kita miliki, semakin baik. Tetapi waktu hayat itu datang tergantung pada kerelaan kita atas penanggulangan Allah, khususnya penanggulangan-Nya terhadap kekuatan manusia alamiah kita. Pada waktu kita sudah tidak lagi memiliki harapan atas diri sendiri, sepenuhnya hanya bisa berharap kepada Allah, maka Allah mulai bekerja. Kita perlu memiliki sebanyak-banyaknya waktu hayat seperti ini. Karena Allah mengetahui kapan saat yang tepat bagi-Nya untuk bekerja di atas diri kita, maka waktu hayat ini selalu merupakan waktu yang ditetapkan oleh Allah. Waktu hayat bagi Abraham dan Sara adalah waktu tatkala mereka telah tidak memiliki sesuatu pun. Ishak dilahirkan pada saat Abraham telah menjadi sangat tua seperti mati dan Sara telah tidak berfungsi lagi (Kej. 18:11-13). Tatkala kita telah tidak mempunyai sesuatu pun, itulah waktu yang terbaik, waktu yang telah Allah tetapkan bagi kita untuk mendapatkan pertambahan hayat.
Dalam Kejadian 18:14 Tuhan berkata, “Adakah sesuatu yang mustahil (atau menakjubkan) untuk TUHAN?” Setiap pengalaman terhadap Kristus adalah sesuatu yang mengagumkan di mata kita, suatu pekerjaan Tuhan yang mengherankan. Pengalaman orang Kristen selalu seperti ini, sebab kehidupan kristiani adalah kehidupan yang “tidak mungkin”. Betapa mengagumkan karena semua hal yang tidak mungkin itu telah menjadi mungkin di dalam Kristus! Kita dapat melakukan apa yang tidak dapat dikerjakan oleh orang lain, karena Kristus dalam pengalaman kita terhadap-Nya adalah mengagumkan dan mengherankan. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan! Amin!
Penerapan:
Jangan beranggapan bahwa kita tidak bisa mengalahkan dosa. Kalau kita membiarkan Kristus dan firman-Nya tinggal di dalam kita, dengan sendirinya dosa tersingkir. Jangan biarkan dosa merusak keluarga dan nama baik kita. Jangan beri kesempatan bagi dosa untuk merusak kehidupan pernikahan maupun pekerjaan kita. Begitu dosa mendekat, serulah nama Tuhan dan berdoalah. Dosa pasti tidak berdaya atas kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, berilah aku hati yang baru, hati yang takut akan Engkau. Selamatkan aku dari dosa dan dunia yang setiap saat siap menggodaku. Tuhan, ingatkan aku untuk senantiasa menyeru nama-Mu.
Kejadian 18:10
“Dan firman-Nya: ‘Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.’ Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.”
Karena Abraham menikmati persekutuan yang manis dan intim dengan Allah, ia menerima juga wahyu dari Dia tentang kelahiran Ishak dan pemusnahan kota Sodom. Kalau kita kaitkan dengan Perjanjian Baru, kelahiran Ishak bertalian dengan Kristus, sedangkan pemusnahan kota Sodom bertalian dengan penghakiman Allah terhadap dosa. Ishak harus datang dan Sodom harus musnah. Ini berarti Kristus harus datang dan dosa harus musnah.
Sebagai keturunan Abraham, kita pun memiliki janji bahwa Kristus akan menjadi hayat kita (Kol. 3:4), suplai kita (Yoh. 6:51; 1 Kor. 12:13), dan segala sesuatu kita (Kol. 3:11; Flp. 1:19, TL.). Selain itu, kita juga memiliki janji akan kedatangan Kristus kali kedua (Why. 3:11; 22:7, 12, 20), sekaligus penghakiman Allah atas langit dan bumi yang lama berikut sistemnya yang jahat dan penuh dengan dosa (2 Ptr. 3:10).
Prinsip dari janji ini sama dengan yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan kita, seperti dalam pernikahan kita, pekerjaan kita, bahkan dalam kehidupan gereja kita. Tanpa hadir Kristus, dosa akan berkuasa di dalamnya. Tanpa hadir Kristus, dosa akan merusak pernikahan, merusak pekerjaan, bahkan dapat merusak kehidupan gereja yang wajar. Sebaliknya, di mana ada hadir Kristus, dosa pasti tersingkir. Di mana ada hadir Kristus, kegelapan dosa sirna. Allah melalui Kristus akan memusnahkan “Sodom” yang ada di dalam berbagai aspek kehidupan kita. Oleh karena itu, Kristus harus dilahirkan, diperhidupkan, dan harus bertambah di dalam keluarga kita, pekerjaan kita, bahkan dalam kehidupan gereja kita. Hanya dengan jalan ini dosa dikalahkan dan musnah.
Waktu Hayat
Kej. 17:21; 18:1-14
Kejadian 18:10 mengatakan bahwa, “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan (according to the time of life, KJV) mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Kelahiran Ishak adalah menurut waktu hayat (the time of life), pada waktu yang telah ditetapkan (Kej. 17:21; 18:10, 14). Melalui menempuh kehidupan bersandar iman dan anugerah, kehidupan dalam persekutuan dengan Allah, akhirnya Abraham mendapatkan penegasan dari Allah bahwa isterinya, Sara, akan mempunyai anak laki-laki pada waktu yang telah ditetapkan Allah, yaitu pada waktu hayat. Apakah yang dimaksud dengan waktu hayat? Waktu hayat adalah waktu dimana Abraham dan Sara sudah tidak memiliki harapan lagi atas kekuatan diri sendiri. Waktu dimana mereka hanya bisa berharap kepada Allah, sepenuhnya bersandar Allah, dan membiarkan Allah yang bekerja, itulah waktu hayat.
Dalam hidup kita, kita memerlukan banyak waktu hayat. Semakin banyak waktu hayat yang kita miliki, semakin baik. Tetapi waktu hayat itu datang tergantung pada kerelaan kita atas penanggulangan Allah, khususnya penanggulangan-Nya terhadap kekuatan manusia alamiah kita. Pada waktu kita sudah tidak lagi memiliki harapan atas diri sendiri, sepenuhnya hanya bisa berharap kepada Allah, maka Allah mulai bekerja. Kita perlu memiliki sebanyak-banyaknya waktu hayat seperti ini. Karena Allah mengetahui kapan saat yang tepat bagi-Nya untuk bekerja di atas diri kita, maka waktu hayat ini selalu merupakan waktu yang ditetapkan oleh Allah. Waktu hayat bagi Abraham dan Sara adalah waktu tatkala mereka telah tidak memiliki sesuatu pun. Ishak dilahirkan pada saat Abraham telah menjadi sangat tua seperti mati dan Sara telah tidak berfungsi lagi (Kej. 18:11-13). Tatkala kita telah tidak mempunyai sesuatu pun, itulah waktu yang terbaik, waktu yang telah Allah tetapkan bagi kita untuk mendapatkan pertambahan hayat.
Dalam Kejadian 18:14 Tuhan berkata, “Adakah sesuatu yang mustahil (atau menakjubkan) untuk TUHAN?” Setiap pengalaman terhadap Kristus adalah sesuatu yang mengagumkan di mata kita, suatu pekerjaan Tuhan yang mengherankan. Pengalaman orang Kristen selalu seperti ini, sebab kehidupan kristiani adalah kehidupan yang “tidak mungkin”. Betapa mengagumkan karena semua hal yang tidak mungkin itu telah menjadi mungkin di dalam Kristus! Kita dapat melakukan apa yang tidak dapat dikerjakan oleh orang lain, karena Kristus dalam pengalaman kita terhadap-Nya adalah mengagumkan dan mengherankan. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan! Amin!
Penerapan:
Jangan beranggapan bahwa kita tidak bisa mengalahkan dosa. Kalau kita membiarkan Kristus dan firman-Nya tinggal di dalam kita, dengan sendirinya dosa tersingkir. Jangan biarkan dosa merusak keluarga dan nama baik kita. Jangan beri kesempatan bagi dosa untuk merusak kehidupan pernikahan maupun pekerjaan kita. Begitu dosa mendekat, serulah nama Tuhan dan berdoalah. Dosa pasti tidak berdaya atas kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, berilah aku hati yang baru, hati yang takut akan Engkau. Selamatkan aku dari dosa dan dunia yang setiap saat siap menggodaku. Tuhan, ingatkan aku untuk senantiasa menyeru nama-Mu.
16 September 2006
Kejadian Volume 6 - Minggu 2 Sabtu
Menjadi Sahabat Allah
Kejadian 18:1
“Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik.”
Setelah Abraham dipanggil oleh Allah, belajar menempuh hidup berdasarkan iman, dan mengenal anugerah sebagai satu-satunya jalan untuk menggenapkan tujuan Allah, maka segera ia dibawa masuk ke dalam tahap selanjutnya, yaitu persekutuan yang manis dan terus menerus dengan Allah. Ketika Abraham duduk-duduk di depan pintu kemahnya sewaktu hari panas terik, ia melihat tiga orang mendatanginya (Kej. 18:1-2). Di dalam bahasa Ibrani, kata yang diterjemahkan dengan “orang-orang” di dalam ayat dua itu berarti orang biasa, umat manusia. Allah menampakkan diri kepada Abraham dalam keadaan seperti itu. Mulanya, Abraham tidak menyadari bahwa salah satu dari ketiga orang itu adalah TUHAN (Yehova), dan dua orang lainnya adalah malaikat-Nya.
Pada permulaan pengalaman kita, kita merasakan Dia sebagai Allah yang mulia. Tetapi semakin kita mengalami Dia, semakin pula kita menyadari Ia datang dalam rupa manusia, sama seperti kita. Kejadian 18 mewahyukan Abraham dan Allah saling bercakap-cakap sebagai teman (Kej. 18:3-4). Pada kedudukan setingkat dengan Abraham dan dengan rupa manusia, Allah datang ke hadapan Abraham. Ia dan Abraham dapat menjadi teman. Betapa eloknya! Siapakah Allah kita hari ini? Apakah Ia hanya Allah yang mulia, Allah yang Mahatinggi, dan El-Shaddai? Lebih dari itu, Dia adalah Allah yang dengan-Nya kita dapat bercakap-cakap sebagai teman. Betapa manisnya ketika Allah datang kepada kita bukan di dalam kemuliaan ilahi-Nya ataupun di dalam posisi kemahatinggian-Nya, melainkan di dalam suatu persekutuan yang manis sebagaimana layaknya seorang teman.
Persekutuan yang Intim dengan Allah
Kis. 7:2; Kej. 13:18; 17:1, 24-27; Yak. 2:23; Yes. 41:8; 2 Taw. 20:7
Dalam Kejadian pasal 18, Allah menampakkan diri kepada Abraham dengan mengunjunginya. Abraham benar-benar melihat Allah, tetapi bukan melihat Allah dalam rupa ilahi-Nya, melainkan nampak Allah dalam rupa manusia. Sama halnya ketika Tuhan Yesus berada di atas bumi. Orang-orang bukannya nampak Allah dalam rupa ilahi-Nya, melainkan melihat Allah dalam rupa manusia Yesus itu. Pertama, Allah menyatakan diri kepada Abraham di dalam mulia ilahi-Nya (Kis. 7:2). Kemudian Ia datang di dalam kedudukan kemahatinggian-Nya dan sebagai El Shaddai, Sang Mahakuasa yang berbuah dada (Kej. 17:1) Terakhir Ia datang dalam rupa manusia. Kita semua perlu mengalami Allah secara demikian, Allah yang dapat kita dekati sebagai teman. Kita tidak lagi menganggap bertemu dengan Allah sebagai suatu acara liturgi keagamaan yang baku. Allah justru ingin mengunjungi kita sebagai seorang teman di dalam aktivitas kehidupan kita sehari-hari, sehingga timbullah percakapan yang intim antara kita dengan Tuhan.
Persekutuan Abraham dengan Allah dimulai setelah ia disunat dan diakhiri dirinya (Kej. 17:24-27). Ia bukan hanya sudah dipanggil dan belajar hidup dengan iman kepada Allah bagi eksistensinya, lagi pula ia juga belajar menolak dan menyangkal kekuatan alamiahnya, dalam setiap perkara belajar percaya kepada Allah bagi kegenapan tujuan Allah. Di dalam keadaan Abraham sudah disunat, Allah datang mengunjungi dia, dan sebagai seorang yang tersunat, Abraham bisa mempunyai persekutuan yang intim dengan Allah yang mengunjunginya.
Ketika Abraham hidup di dalam persekutuan dengan Allah, Allah menganggapnya sebagai seorang teman (Yak. 2:23; Yes. 41:8; 2 Taw. 20:7). Percakapan antara Abraham dengan Allah di dalam pasal ini mirip dengan percakapan antara dua orang teman. Ini terjadi di dekat pohon tarbantin di Mamre di Hebron, tempat tinggal Abraham yang Allah perkenankan (Kej. 13:18). Nama Hebron dalam bahasa Ibrani berarti persekutuan, komunikasi, dan persahabatan. Di tempat persekutuan dan persahabatan inilah terjadi persekutuan, yaitu Allah datang mengunjungi Abraham sebagai seorang teman, dan Abraham pun menyambut Allah sebagai seorang teman.
Adakah kita memiliki persekutuan yang intim dengan Allah? Kita perlu ada permulaan yang riil. Kita harus memiliki waktu untuk menghampiri Tuhan secara pribadi sampai kita diterangi dan disingkapkan dalam terang-Nya. Kalau kita demikian menghampiri Tuhan, Dia akan membawa kita ke dalam persekutuan-Nya yang intim. Persekutuan yang demikian memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan sebagai teman. Pengalaman yang betapa indah!
Penerapan:
Marilah kita membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan dengan cara menetapkan waktu-waktu khusus untuk menghampiri Tuhan secara pribadi. Sediakan waktu 30 menit di pagi hari untuk membaca beberapa ayat Alkitab dan belajarlah berdoa menurut ayat-ayat itu. Kalau kita dengan setia melakukannya, Tuhan pasti akan menyatakan diri-Nya kepada kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku mau menyediakan lebih banyak waktu untuk bersekutu intim dengan-Mu. Tuhan aku damba mengalami Engkau sebagai teman. Tariklah aku lebih dekat kepada-Mu dan jagalah aku di jalan-Mu yang lurus.
Kejadian 18:1
“Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik.”
Setelah Abraham dipanggil oleh Allah, belajar menempuh hidup berdasarkan iman, dan mengenal anugerah sebagai satu-satunya jalan untuk menggenapkan tujuan Allah, maka segera ia dibawa masuk ke dalam tahap selanjutnya, yaitu persekutuan yang manis dan terus menerus dengan Allah. Ketika Abraham duduk-duduk di depan pintu kemahnya sewaktu hari panas terik, ia melihat tiga orang mendatanginya (Kej. 18:1-2). Di dalam bahasa Ibrani, kata yang diterjemahkan dengan “orang-orang” di dalam ayat dua itu berarti orang biasa, umat manusia. Allah menampakkan diri kepada Abraham dalam keadaan seperti itu. Mulanya, Abraham tidak menyadari bahwa salah satu dari ketiga orang itu adalah TUHAN (Yehova), dan dua orang lainnya adalah malaikat-Nya.
Pada permulaan pengalaman kita, kita merasakan Dia sebagai Allah yang mulia. Tetapi semakin kita mengalami Dia, semakin pula kita menyadari Ia datang dalam rupa manusia, sama seperti kita. Kejadian 18 mewahyukan Abraham dan Allah saling bercakap-cakap sebagai teman (Kej. 18:3-4). Pada kedudukan setingkat dengan Abraham dan dengan rupa manusia, Allah datang ke hadapan Abraham. Ia dan Abraham dapat menjadi teman. Betapa eloknya! Siapakah Allah kita hari ini? Apakah Ia hanya Allah yang mulia, Allah yang Mahatinggi, dan El-Shaddai? Lebih dari itu, Dia adalah Allah yang dengan-Nya kita dapat bercakap-cakap sebagai teman. Betapa manisnya ketika Allah datang kepada kita bukan di dalam kemuliaan ilahi-Nya ataupun di dalam posisi kemahatinggian-Nya, melainkan di dalam suatu persekutuan yang manis sebagaimana layaknya seorang teman.
Persekutuan yang Intim dengan Allah
Kis. 7:2; Kej. 13:18; 17:1, 24-27; Yak. 2:23; Yes. 41:8; 2 Taw. 20:7
Dalam Kejadian pasal 18, Allah menampakkan diri kepada Abraham dengan mengunjunginya. Abraham benar-benar melihat Allah, tetapi bukan melihat Allah dalam rupa ilahi-Nya, melainkan nampak Allah dalam rupa manusia. Sama halnya ketika Tuhan Yesus berada di atas bumi. Orang-orang bukannya nampak Allah dalam rupa ilahi-Nya, melainkan melihat Allah dalam rupa manusia Yesus itu. Pertama, Allah menyatakan diri kepada Abraham di dalam mulia ilahi-Nya (Kis. 7:2). Kemudian Ia datang di dalam kedudukan kemahatinggian-Nya dan sebagai El Shaddai, Sang Mahakuasa yang berbuah dada (Kej. 17:1) Terakhir Ia datang dalam rupa manusia. Kita semua perlu mengalami Allah secara demikian, Allah yang dapat kita dekati sebagai teman. Kita tidak lagi menganggap bertemu dengan Allah sebagai suatu acara liturgi keagamaan yang baku. Allah justru ingin mengunjungi kita sebagai seorang teman di dalam aktivitas kehidupan kita sehari-hari, sehingga timbullah percakapan yang intim antara kita dengan Tuhan.
Persekutuan Abraham dengan Allah dimulai setelah ia disunat dan diakhiri dirinya (Kej. 17:24-27). Ia bukan hanya sudah dipanggil dan belajar hidup dengan iman kepada Allah bagi eksistensinya, lagi pula ia juga belajar menolak dan menyangkal kekuatan alamiahnya, dalam setiap perkara belajar percaya kepada Allah bagi kegenapan tujuan Allah. Di dalam keadaan Abraham sudah disunat, Allah datang mengunjungi dia, dan sebagai seorang yang tersunat, Abraham bisa mempunyai persekutuan yang intim dengan Allah yang mengunjunginya.
Ketika Abraham hidup di dalam persekutuan dengan Allah, Allah menganggapnya sebagai seorang teman (Yak. 2:23; Yes. 41:8; 2 Taw. 20:7). Percakapan antara Abraham dengan Allah di dalam pasal ini mirip dengan percakapan antara dua orang teman. Ini terjadi di dekat pohon tarbantin di Mamre di Hebron, tempat tinggal Abraham yang Allah perkenankan (Kej. 13:18). Nama Hebron dalam bahasa Ibrani berarti persekutuan, komunikasi, dan persahabatan. Di tempat persekutuan dan persahabatan inilah terjadi persekutuan, yaitu Allah datang mengunjungi Abraham sebagai seorang teman, dan Abraham pun menyambut Allah sebagai seorang teman.
Adakah kita memiliki persekutuan yang intim dengan Allah? Kita perlu ada permulaan yang riil. Kita harus memiliki waktu untuk menghampiri Tuhan secara pribadi sampai kita diterangi dan disingkapkan dalam terang-Nya. Kalau kita demikian menghampiri Tuhan, Dia akan membawa kita ke dalam persekutuan-Nya yang intim. Persekutuan yang demikian memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan sebagai teman. Pengalaman yang betapa indah!
Penerapan:
Marilah kita membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan dengan cara menetapkan waktu-waktu khusus untuk menghampiri Tuhan secara pribadi. Sediakan waktu 30 menit di pagi hari untuk membaca beberapa ayat Alkitab dan belajarlah berdoa menurut ayat-ayat itu. Kalau kita dengan setia melakukannya, Tuhan pasti akan menyatakan diri-Nya kepada kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku mau menyediakan lebih banyak waktu untuk bersekutu intim dengan-Mu. Tuhan aku damba mengalami Engkau sebagai teman. Tariklah aku lebih dekat kepada-Mu dan jagalah aku di jalan-Mu yang lurus.
Subscribe to:
Posts (Atom)