Hitstat

25 June 2012

Galatia - Minggu 11 Senin


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:28


Dalam Efesus 2:15-16 Paulus berkata, "Sebab dengan kematian-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah melalui salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu." Dalam ayat-ayat ini terdapat sebuah pemikiran, yaitu bahwa semua orang yang percaya, Yahudi atau kafir, telah diperdamaikan dengan Allah di dalam satu Tubuh, dan di dalam Kristus telah diciptakan menjadi satu manusia baru. Dalam Kolose 3:10-11 Paulus berkata, "Dan telah mengenakan manusia baru yang terusmenerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Pencipta-Nya; dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu."

Kita telah nampak bahwa pada akhir Galatia 3 Paulus memberi tahu kita bagaimana kita semua telah dibaptis ke dalam Kristus. Ini adalah faktor utama kita menjadi anakanak Allah dan anak-anak Abraham. Ini juga adalah faktor tercakupnya kita dalam keturunan Abraham, dan sebagai faktor tambahan yang membawa kita ke dalam kenikmatan atas berkat janji Allah oleh iman. Karena kita telah dibaptis ke dalam Kristus, sekarang kita menikmati satu kesatuan yang organik dengan Dia.

Mengenai baptisan, Perjanjian Baru mewahyukan bahwa kita telah dibaptis ke dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Mat. 28:19), ke dalam Kristus (Gal. 3:27), ke dalam kematian Kristus (Rm. 6:3), dan ke dalam Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13). Kita perlu menggunakan seluruh diri kita untuk memiliki suatu pengenalan yang tepat atas baptisan yang begitu ajaib. Sangat disayangkan, banyak orang Kristen hari ini tidak memiliki pandangan yang memadai tentang baptisan. Beberapa orang Kristen berdebat tentang metode pembaptisan atau tentang air yang dipakai untuk membaptis. Ada orang yang merendahkan baptisan sebagai upacara yang mati. Lainnya menjurus ke ekstrem lain, dan menghubungkannya dengan bahasa lidah. Di antara orang Kristen hari ini, jarang kita temukan orang yang mempraktekkan baptisan dengan cara yang wajar, sejati, dan hidup, yakni membaptis orang-orang yang percaya ke dalam nama Allah Tritunggal, ke dalam Kristus, ke dalam kematian Kristus, dan ke dalam Tubuh Kristus. Baptisan ini, suatu baptisan ke dalam nama ilahi, ke dalam satu Persona hidup, ke dalam kematian yang efektif, dan ke dalam satu organisme hidup, menempatkan orang-orang yang percaya ke dalam satu posisi di mana mereka dapat mengalami satu kesatuan yang organik dengan Kristus.

Dalam menerangkan Matius 28:19 dalam buku Word Studies in the New Testament" (Pengkajian Kata dalam Perjanjian Baru), M.R. Vincent berkata, "Dibaptis ke dalam Allah Tritunggal Kudus menyiratkan persatuan yang rohani dan misterius dengan Dia." Kata penghubung yang diterjemahkan "ke dalam" dalam bahasa Yunaninya sangat penting, sebab kata itu menunjukkan kesatuan yang rohani dan mistis (rahasia). Selain itu, Vincent mengatakan bahwa kata "nama" di sini adalah "ekspresi dari total keseluruhan Persona yang ilahi ini ... kata ini memiliki arti yang sama dengan persona-Nya." Karena itu, membaptis orang-orang yang percaya ke dalam nama Allah Tritunggal berarti membaptis mereka ke dalam diri, Persona Allah Tritunggal itu sendiri. Nama menunjukkan Persona dan Persona itu adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan almuhit sebagai Roh pemberi-hayat. Ketika kita membaptis orang ke dalam nama Allah Tritunggal, kita membaptis mereka ke dalam Persona ilahi yang sedemikian ini. Membaptis siapa pun ke dalam nama Sang Tritunggal berarti mencelupnya ke dalam segala apa adanya Allah Tritunggal.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 21

23 June 2012

Galatia - Minggu 10 Sabtu


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:27-29


Kita adalah anak-anak Allah juga anak-anak Abraham karena kita telah dibaptis ke dalam Kristus dan telah mengenakan Kristus (3:27). Percaya adalah percaya ke dalam Kristus (Yoh. 3:16), dan dibaptis adalah dibaptis ke dalam Kristus. Oleh iman dan baptisan kita telah masuk ke dalam Kristus, mengenakan Kristus, dan disatukan dengan Kristus. Di dalam Dia kita beroleh hak keputraan. Kita harus disatukan dengan Kristus melalui iman, agar di dalam Dia kita boleh menjadi anak-anak Allah. Melalui iman dan baptisan, kita telah dicelupkan ke dalam Kristus, dan dengan demikian kita telah menjadi satu dengan-Nya.

Meskipun kita semua mempunyai hayat alamiah dengan leluhur alamiah, kita tidak perlu lagi hidup menurut hayat tersebut. Sebaliknya, kita boleh hidup berdasarkan hayat ilahi dan sifat ilahi. Dengan hidup berdasarkan hayat ini, kita berada dalam realitas anak-anak Allah dan anak-anak Abraham. Kita telah dibaptis ke dalam Kristus, keturunan unik yang telah menggenapi janji Allah kepada Abraham. Kita dan Kristus telah dipersatukan dalam satu kesatuan organik yang ajaib. Karena kesatuan inilah, kita adalah anak-anak Allah dan anak-anak Abraham. Di sini, di dalam kesatuan organik, kita mewarisi janji yang telah digenapi Kristus. Sebenarnya, Kristus itu sendiri adalah warisan itu. Janji yang kita warisi adalah janji yang kita nikmati sekarang.

Dalam Galatia 3:29 dikatakan, "Lagi pula, jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan ahli waris menurut janji Allah." Abraham hanya memiliki satu keturunan, Kristus (ayat 16). Karena itu, untuk menjadi keturunan Abraham kita harus menjadi milik Kristus, bagian dari Kristus. Karena kita satu dengan Kristus, kita juga adalah keturunan Abraham, ahli waris menurut janji Allah, mewarisi berkat yang dijanjikan Allah sebagai bagian kita, yaitu Roh almuhit sebagai perampungan akhir dari Allah yang telah melalui proses. Di bawah perjanjian yang baru, kaum beriman sebagai umat pilihan Allah, orang yang dewasa, adalah ahli-ahli waris, bukan di bawah hukum Taurat, tetapi dalam Kristus. Seperti Ismael (4:23), penganut agama Yahudi yang tetap berada di bawah hukum Taurat dan memisahkan dirinya dari Kristus, adalah keturunan Abraham menurut daging; mereka tidak seperti Ishak (4:28), yang adalah ahli waris Abraham menurut janji. Namun, kaum beriman dalam Kristus adalah ahli-ahli waris, yang mewarisi berkat yang dijanjikan. Karena itu, kita harus tetap di dalam Kristus dan tidak berpaling kepada hukum Taurat.

Karena hukum Taurat tidak dapat memberi kita hayat (3:21), hukum Taurat tidak dapat menghasilkan anak-anak Allah. Tetapi, Roh itu, yang diterima karena iman (3:2) dan yang memberi kita hayat (2 Kor. 3:6) dapat menghasilkan anak-anak Allah. Hukum Taurat menjaga umat pilihan Allah di bawah pengawalannya sampai iman datang (3:23). Iman dalam Kristus, yaitu Roh Pemberi-hayat yang almuhit, membuat umat pilihan Allah menjadi keturunan Abraham seperti "bintang-bintang di langit" (Kej. 22:17) menurut janji Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 20

22 June 2012

Galatia - Minggu 10 Jumat


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:7, 9


Galatia 3:7 menerangkan, "Jadi, kamu lihat bahwa mereka yang hidup berdasarkan iman, mereka itulah anak-anak Abraham." Melakukan hukum Taurat membuat orang-orang menjadi murid-murid Musa (Yoh. 9:28), pertalian yang tidak ada hubungannya dengan hayat. Iman di dalam Kristus membuat kaum beriman Perjanjian Baru menjadi putra-putra Allah, pertalian yang sepenuhnya berdasarkan hayat. Kita, kaum beriman Perjanjian Baru, dulu terlahir sebagai anak-anak Adam yang jatuh, berada di dalam Adam karena pelanggaran dan di bawah hukum Musa. Tetapi kita telah dilahirkan kembali menjadi anakanak Abraham dan telah dibebaskan dari hukum Musa karena iman dalam Kristus. Kita menjadi anak-anak Abraham bukan karena kelahiran alamiah, melainkan karena iman. Karena itu, kita menjadi anak-anak Abraham berdasarkan prinsip iman, yakni berdasarkan percayanya kita, bukan berdasarkan pekerjaan atau perbuatan kita. Dasar kita untuk menjadi anak-anak Abraham sesungguhnya bukan dari keturunan alamiah. Kita adalah anak-anak Abraham menurut prinsip iman.

Iman adalah refleksi anugerah. Kita dapat juga mengatakan iman itu adalah sebuah foto pemandangan ilahi. Melalui iman yang demikian kita menjadi anak-anak Abraham yang sejati. Tatkala kita percaya kepada Kristus, satu kesatuan yang organik terjadi. Hayat ilahi masuk ke dalam kita, dan kita dilahirkan Allah melalui iman. Ketika iman kita memotret pemandangan ilahi anugerah, ada sesuatu dari sifat rohani yang riil dan nyata (substansial) terinfus ke dalam kita. Walaupun substansi ini bukan bersifat material atau jasmaniah, namun sangat riil. Iman bukanlah takhayul. Iman bersangkutan dengan realitas rohani yang substansial, yakni realitas yang diakui sangat misterius. Realitas ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal yang melalui proses itu sendiri. Bila kita menggunakan iman dalam Kristus, dan karenanya kita mengambil foto rohani dari pemandangan ilahi, Allah yang melalui proses itu masuk ke dalam diri kita sebagai hayat kita. Hayat ini adalah hayat yang ilahi, rohani, surgawi, dan suci. Masuknya hayat ini ke dalam kita menyebabkan terjadinya kelahiran rohani. Kelahiran ini melahirkan satu kesatuan yang organik antara kita dengan Allah Tritunggal. Karena Allah telah terlahir ke dalam diri kita, maka kita menjadi anak-anak Allah. Karena itu, kita boleh mengatakan bahwa kita adalah manusia-Allah.

Sekarang kita harus maju bertanya bagaimanakah cara anak-anak Allah juga menjadi anak-anak Abraham. Kristus adalah Anak Allah juga Anak Abraham. Karena kita sekarang berada di dalam Kristus, maka kita adalah anak-anak Allah di satu pihak dan anak-anak Abraham di pihak lainnya. Bagaimana kita dapat menjadi anak-anak Allah? Karena kita berada di dalam Kristus, Anak Allah. Bagaimana kita menjadi anak-anak Abraham? Karena kita juga berada di dalam Kristus, Anak Abraham.

Penyaluran hayat ilahi ke dalam kita adalah satu perkara yang sangat besar maknanya. Penyaluran hayat ilahi tersebut menghasilkan satu kesatuan organik yang menjadikan kita anak-anak Allah juga anak-anak Abraham. Kesatuan organik ini hanya dapat terjadi di dalam Kristus. Di dalam Kristuslah kita menikmati kesatuan organik yang ajaib dengan Allah Tritunggal. Dalam kesatuan ini, di satu aspek kita adalah anak-anak Allah, di aspek lain, kita adalah anak-anak Abraham. Kristus merupakan satu alam lingkungan unik yang di dalam-Nya semua itu terjadi. Ketika kita memasuki alam lingkungan ini, kita menjadi anak-anak Allah dan anak-anak Abraham. Status kita yang sejati ialah di dalam Kristus dan melalui kesatuan yang organik itu, kita adalah anak-anak Allah juga anak-anak Abraham.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 20

21 June 2012

Galatia - Minggu 10 Kamis


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:16


Mengenai janji Allah kepada Abraham, terdapat aspek penggenapan dan aspek penikmatan. Menggenapkan janji adalah satu perkara, namun menikmati berkat dari janji itu adalah perkara lain. Mengenai janji-janji yang dibuat seseorang kepada orang lain, orang yang menggenapi janji itu jarang menjadi orang yang menikmati berkat dari janji itu. Biasanya si pembuat janji adalah orang yang menggenapi janji itu, dan orang yang kepadanya janji itu diberikan, adalah orang yang menikmati berkatnya. Dalam kasus janji Allah kepada Abraham, pada hakekatnya Allah bukanlah yang menggenapi janji itu. Janji itu digenapi oleh si keturunan itu, yakni Kristus (ayat 16). Kristus telah menggenapi janji Allah kepada Abraham. Jadi penggenapan janji ini tidak tergantung pada anak-anak Abraham, melainkan pada keturunan Abraham yang unik itu. Namun, dalam hal penikmatan berkat janji ini, semua anak itu tercakup di dalamnya. Keturunan yang unik adalah si penggenap, sedang anak-anak adalah si penikmat. Bila kita memahami hal ini, barulah kita dapat memahami apa yang dibicarakan Paulus dalam Galatia 3.

Bani Israel, keturunan Abraham, telah mewarisi tanah permai Kanaan. Dalam perlambangan, tanah permai melambangkan Kristus. Kristus adalah keturunan dan tanah itu. Ia tidak saja keturunan yang mewarisi janji, Ia juga adalah tanah permai itu. Keturunan dan tanah permai adalah lambang Kristus. Sebagai keturunan yang unik dalam Galatia 3, Kristus tidak saja mewarisi janji itu, Ia pun menggenapi janji itu. Janji yang Allah buat kepada Abraham telah digenapi oleh Kristus sebagai keturunan Abraham.

Dari Galatia 3:16 kita mengetahui bahwa Kristus adalah keturunan Abraham yang unik, satu-satunya. Kristus adalah keturunan, dan keturunan adalah ahli waris yang mewarisi janji. Karena itu, untuk mewarisi berkat yang dijanjikan, haruslah kita bersatu dengan Kristus. Di luar Dia, kita tidak dapat mewarisi janji yang Allah berikan kepada Abraham. Dalam pandangan Allah, Abraham hanya mempunyai satu keturunan, yaitu Kristus. Kita harus berada di dalam-Nya, baru kita dapat mengambil bagian dalam janji yang diberikan kepada Abraham itu. Ia tidak saja keturunan yang mewarisi janji, Ia juga sebagai berkat janji untuk diwarisi. Bagi kaum beriman Galatia, beralih kembali dari Kristus ke hukum Taurat berarti akan kehilangan sang Ahli Waris serta warisan dari janji itu.

Jika Kristus tidak datang, Allah tidak berdaya menggenapi janji-Nya kepada Abraham. Seperti telah kita tunjukkan, Persona yang menggenapi janji ini bukan Persona yang membuat janji, melainkan Persona yang dijanjikan, yakni keturunan itu. Allah telah berjanji akan memberikan seorang keturunan dan tanah permai kepada Abraham. Janji ini telah digenapi oleh keturunan yang unik dan yang dijanjikan itu.

Selaku keturunan Abraham yang unik, Kristus merangkum semua orang percaya yang telah dibaptis ke dalam Dia (3:27-28). Di satu aspek, ketika Kristus mati di atas salib, Ia tersalib sendirian sebagai Penebus kita. Tetapi, di aspek lain, ketika Ia tersalib kita pun tersalib bersama Dia. Untuk penggenapan penebusan, Kristus tersalib sendirian, tetapi untuk mengakhiri ciptaan lama, Kristus merangkum kita dalam penyaliban-Nya. Dalam prinsip yang sama, dalam penggenapan janji yang dibuat Allah kepada Abraham, kita tidak tercakup sebagai bagian dari keturunan yang unik itu. Kita tidak dapat mengambil bagian dalam penggenapan janji itu. Namun, untuk mewarisi dan menikmatinya, kita semua telah tercakup di dalamnya. Kristus seorang diri telah menggenapi janji itu, tetapi Dia dan kita mengambil bagian atas kenikmatan janji itu. Jadi, di satu aspek, keturunan itu adalah unik, satu; di aspek lain, keturunan itu almuhit. Dari segi penggenapan, keturunan itu adalah satu; dari segi pewarisan dan penikmatan, keturunan itu almuhit, merangkum seluruh orang percaya yang dibaptis ke dalam Kristus.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 20

20 June 2012

Galatia - Minggu 10 Rabu


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:7-9


Sebagaimana hukum Taurat merupakan prinsip dasar yang Allah gunakan untuk memperlakukan umat-Nya dalam Perjanjian Lama, maka iman merupakan prinsip dasar yang Allah pakai untuk memperlakukan umat-Nya dalam Perjanjian Baru. Semua orang yang menolak percaya kepada Kristus akan binasa, sedangkan semua orang yang percaya kepada-Nya akan diampuni dari segala dosanya dan mendapatkan hayat yang kekal. Dalam Yohanes 16:9 kita nampak betapa Roh itu akan menginsafkan dunia tentang dosa, karena mereka tidak percaya kepada Anak Allah. Ini menunjukkan bahwa satu-satunya dosa yang menyebabkan orang binasa ialah ketidakpercayaan. Perintah Allah kepada semua orang berdosa ialah: percaya kepada Anak Allah.

Dalam Perjanjian Baru, istilah iman bersifat almuhit. Iman mencakup aspek ilahi dan insani, karena iman mengandung sesuatu dari Allah juga dari manusia. Pada aspek Allah, istilah "kepercayaan" atau "iman" menyiratkan Allah telah mengutus Anak-Nya ke bumi; Kristus telah mati di kayu salib demi merampungkan penebusan; Ia telah dikubur, dibangkitkan; dalam kebangkitan Ia telah membebaskan hayat ilahi serta menjadi Roh pemberi-hayat – segalanya ini bertujuan supaya Ia dapat masuk ke dalam semua orang yang percaya kepada-Nya sebagai anugerah, hayat, kuasa, pengudusan, dan segala sesuatu mereka. Pada aspek kita, iman bersangkutan dengan pendengaran, apresiasi, penyeruan, penerimaan, penyambutan, penyatuan, pengambilan bagian, dan penikmatan. Selain itu, iman mencakup pula kegembiraan, syukur, pujian, dan keluapan. Iman mendengar dan menaruh apresiasi. Iman menyeru, menerima, dan menyambut. Iman juga mempersatukan, mengambil bagian, menikmati, bergembira, mengucap syukur, dan memuji. Karena itu, iman menghasilkan keluapan hayat dari batin kita.

Jika kita tidak memiliki iman, segala yang telah dirampungkan pada pihak Allah akan tetap obyektif dan takkan berkaitan dengan kita secara pribadi. Kita harus memiliki iman yang berfungsi sebagai kamera yang memotret pemandangan anugerah. Iman yang beroperasi sedemikian ini menyiratkan bahwa kita menanggapi pemandangan ilahi melalui pendengaran, apresiasi, penyeruan, ponerimaan, penyambutan, ucapan syukur, pujian, dan keluapan.

Iman sebenarnya adalah Allah Tritunggal almuhit yang terinfus ke dalam diri kita. Infusi ini terjadi ketika kita berada di bawah pemberitaan anugerah dan mendengar kata-kata anugerah. Tatkala Allah Tritunggal yang telah melalui proses ini terinfus ke dalam kita, Ia menjadi iman kita. Iman ini merupakan refleksi anugerah. Karena itu, anugerah dan iman, iman dan anugerah merupakan kedua ujung dari satu perkara.

Dalam 3:6, 7, dan 9 kita nampak bahwa iman adalah prinsip Allah memperlakukan Abraham. Ayat 9 mengatakan, "Jadi, mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu." Di bawah perjanjian Allah, Abraham tidak bekerja untuk menyenangkan Allah, tetapi beriman kepada-Nya.

Galatia 3:23 dan 25 mengatakan bahwa iman telah datang. Ini merupakan ungkapan kuat yang lain. Dulu kita dijaga di bawah hukum Taurat, tetapi sekarang iman telah datang. Ini berarti Allah Tritunggal yang telah melalui proses telah datang. Kedatangan iman juga mencakup kedatangan apresiasi, penerimaan, dan kegembiraan. Inilah iman yang menggantikan hukum Taurat!


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 19

19 June 2012

Galatia - Minggu 10 Selasa


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:19, 23-25


Dalam 3:19 Paulus mengatakan bahwa hukum Taurat "ditambahkan karena pelanggaran". Hukum Taurat tidak ada dalam ekonami Allah yang semula. Hukum Taurat ditambahkan karena pelanggaran-pelanggaran manusia, sementara ekonomi Allah maju terus dan berlaku sampai keturunan itu (Kristus) datang. Bagi Dialah janji Allah dibuat. Hukum Taurat ditambahkan karena pelanggaran-pelanggaran manusia, maka hukum Taurat itu seharusnya diambil bila pelanggaran-pelanggaran itu sudah disingkirkan. Kristus, keturunan itu telah datang, maka hukum Taurat harus diakhiri.

Dalam memelihara anak-anak, para orang tua Kristen perlu memberikan hukum Taurat kepada anak-anak mereka. Janganlah kita mendahulukan anugerah kepada mereka. Jika kita memberi mereka peraturan-peraturan sesuai dengan hukum Taurat, mereka akan dikawal hukum Taurat bagi Kristus. Jadi, pertama-tama kita harus memberi mereka hukum Taurat dengan tegas. Hukum Taurat akan menyingkapkan, menjaga, dan melindungi mereka; akan melayani mereka seperti seorang pengawal atau wali untuk menjaga mereka bagi Kristus.

Dalam 3:24 Paulus menyambung, "Jadi, hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan berdasarkan iman." Istilah Yunani yang diterjemahkan "penuntun" dapat juga diterjemahkan pen-damping, pengawal, penjaga, orang yang memperhatikan anak-anak di bawah umur dan memimpinnya kepada guru sekolah. Hukum Taurat digunakan oleh Allah sebagai penjaga, pengawal, penuntun, untuk mengawasi umat pilihan-Nya sebelum Kristus datang, mendampingi dan membawa mereka kepada Kristus ketika Dia datang, sehingga mereka bisa dibenarkan oleh iman dan berbagian dalam berkat yang dijanjikan Allah.

Selaku penuntun, hukum Taurat membawa kita kepada Kristus, agar kita dapat dibenarkan karena iman. Ketika orang Israel datang ke mezbah dengan membawa kurban penebus salah, ia akan dibenarkan oleh iman dalam kurban tersebut. Karena kurban penebus salah inilah maka Allah mengampuni dosanya. Orang Israel dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat, melainkan karena imannya kepada kurban penebus salah tersebut. Dalam pelambangan, ini berarti dibenarkan oleh iman. Perjanjian Baru pada prinsipnya juga sama. Hukum Taurat tetap menghukum semua orang yang berbuat dosa. Orang-orang yang terhukum di bawah hukum. Taurat harus datang kepada Kristus dan menggunakan iman di dalam-Nya, percaya Kristus sebagai kurban penebus salah. Dengan jalan inilah semua orang berdosa akan dibenarkan oleh iman.

Dalam Galatia 3:10 Paulus berkata, "Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat'." Bila kita berusaha memelihara hukum Taurat, kita akan berada dalam daging, dan dengan otomatis berada di bawah kutuk. Kita tidak seharusnya berusaha memelihara hukum Taurat, sebaliknya kita harus berterima kasih kepada hukum Taurat karena menyingkapkan kita dan menghukum kita, dan kemudian mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Jangan menjalin hubungan yang permanen dengan hukum Taurat. Kita harus meninggalkannya dan datang kepada Kristus dan salib. Jika kita menetap dalam daging bersama hukum Taurat, kita akan tetap berada di bawah kutuk. Tetapi jika kita datang kepada Kristus dan salib, kita akan dibenarkan oleh iman.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 19

18 June 2012

Galatia - Minggu 10 Senin


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:5, 9-10


Dalam Galatia 3:5 Paulus berkata, "Jadi, bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil?" Roh dalam ayat ini adalah Roh majemuk yang almuhit, yang dilambangkan oleh minyak urapan majemuk dalam Keluaran 30:23-25. Inilah Roh itu, yang dikatakan dalam Yohanes 7:39, yang adalah Kristus pemberi-hayat dalam kebangkitan. Kepada kaum beriman dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, Roh ini adalah suplai yang limpah. Suplai Roh ini sepenuhnya bukan berdasarkan melakukan hukum Taurat, tetapi berdasarkan iman dalam Kristus yang tersalib dan dimuliakan.

Dalam ayat 6 Paulus berkata selanjutnya, "Dengan cara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Orang-orang Galatia terpesona (terpedaya), sebab mereka terhanyut kembali kepada hukum Taurat dan berpegang erat kepada Musa, yang memberikan hukum Taurat. Tetapi Paulus membawa mereka kepada Abraham yang adalah Bapa iman. Iman berasal dari ekonomi Allah yang semula, hukum Taurat ditambahkan kemudian karena pelanggaran (ayat 19). Setelah Kristus menggenapkan hukum Taurat melalui kematian-Nya, Allah menghendaki umat-Nya kembali kepada ekonomi-Nya yang semula. Bagi Abraham, masalahnya bukan memelihara hukum Taurat, melainkan percaya kepada Allah. Demikian pula seharusnya bagi semua orang beriman Perjanjian Baru.

Dalam ayat 9-10 Paulus berkata, "Jadi, mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat."' Iman di dalam Kristus membawa kita ke dalam berkat yang Allah janjikan kepada Abraham, yaitu janji Roh itu (ayat 14). Iman ini telah membawa orang-orang Galatia yang percaya masuk ke dalam berkat dalam Kristus, sehingga mereka menikmati anugerah hayat di dalam Roh itu; tetapi penganut agama Yahudi memikat mereka dan membawa mereka ke bawah kutukan hukum Taurat, sehingga menghalangi mereka dari menikmati Kristus dan membuat mereka hidup di luar anugerah (5:4).

Berdasarkan ayat 8, janji yang Allah berikan kepada Abraham, "Olehmu segala bangsa akan diberkati" adalah Injil. Injil itu diberitakan kepada Abraham bukan hanya sebelum penggenapan penebusan oleh Kristus, tetapi juga sebelum pemberian hukum Taurat melalui Musa. Apa yang Allah janjikan kepada Abraham sesuai dengan apa yang Allah genapkan melalui Kristus, yaitu penggenapan janji-Nya kepada Abraham. Ekonomi Perjanjian Baru adalah kelanjutan dari perjanjian Allah dengan Abraham, yang tidak ada hubungannya dengan hukum Musa. Semua orang beriman Perjanjian Baru harus berada dalam kelanjutan ini dan seharusnya tidak berhubungan dengan hukum Taurat yang diberikan melalui Musa.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 19

16 June 2012

Galatia - Minggu 9 Sabtu


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:8


Kita telah melihat tiga persona penting: Adam, Abraham, dan Musa. Sekarang kita tiba pada persona keempat, persona yang penting – Yesus Kristus, yang menggenapi janji Allah kepada Abraham. Kristus menggenapi janji ini menurut tuntutan keadilan hukum Taurat yang diberikan melalui Musa. Dengan demikian, Dia membawa umat pilihan Allah keluar dari kutuk. Karena itu, janji tersebut tidak saja menjadi sebuah perjanjian, juga menjadi sebuah wasiat, pesan terakhir. Sebab setiap, hal yang dijanjikan telah tergenapi. Tuntutan hukum Taurat telah terpenuhi, kutuk telah disingkirkan, dan janji telah genap. Sekarang, di dalam keturunan Abraham yang unik ini, semua bangsa yang terpecah belah dan terkutuk, telah menerima berkat. Hari ini Kristus, tanah permai kita, adalah Roh yang almuhit untuk kenikmatan kita. Pada Adam ada kutuk, pada Abraham ada janji, pada Musa ada hukum Taurat, dan pada Kristus ada penggenapan janji. Sekarang kita, kaum beriman, yakni orang-orang yang menjadi keluarga iman, menikmati wasiat baru. Kaum keluarga iman adalah kaum gereja. Kita bukan orang-orang yang bekerja, melainkan orang-orang yang mendengar. Sebagai anggota keluarga iman, kita mewarisi, berbagian, dan mengalami Allah Tritunggal sebagai berkat kita karena mendengarkan tentang iman. Demi mendengarkan tentang iman kita telah menjadi kaum iman, keluarga iman. Semakin kita mendengar, iman kita semakin kuat, dan kapasitas kita untuk menikmati berkat semakin besar.

Dalam penggenapan kehendak kekal Allah, hukum Taurat hanya mempunyai kedudukan sementara. Hukum Taurat diberikan 430 tahun setelah Allah membuat janji dengan Abraham. Dengan kedatangan Kristus, maka hukum Taurat telah digenapi dan telah diakhiri.

Iman tidak bertahan dengan hukum Taurat, melainkan dengan anugerah (kasih karunia). Iman kita adalah refleksi anugerah Kristus. Fungsi iman laksana sebuah kamera untuk memotret pemandangan khusus. Anugerah Kristus adalah pemandangan, dan iman kita adalah kamera untuk memotretnya. Jadi, iman kita menjadi refleksi anugerah Kristus. Dengan perkataan lain, iman kita adalah refleksi kegenapan janji Allah.

Iman tidak ada sangkut pautnya dengan hukum Taurat. Orang-orang Galatia telah keliru dalam hal memberikan kedudukan lagi kepada hukum Taurat dan membiarkannya berlaku lagi. Hukum Taurat seharusnya tidak ada dalam pemandangan lagi. Sebaliknya, kamera iman kita harus seluruhnya berfokus pada anugerah. Kita tidak boleh mencoba memelihara hukum Taurat, melainkan harus menggunakan iman untuk memotret pemandangan anugerah. Sekarang di dalam iman kita sedang menikmati anugerah, yaitu Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat almuhit bagi kenikmatan kita. Alangkah ajaibnya! Kutuk telah disingkirkan, dan hukum Taurat telah dikesampingkan. Sekarang kita memiliki penggenapan janji Allah yang unik yang telah menjadi berkat semua orang beriman. Kita adalah Abraham-Abraham yang percaya, dan yang sepenuhnya menikmati janji Allah. Jika kita nampak dan memahami hal ini, kita akan menyadari betapa janji berlawanan dengan hukum Taurat. Hukum Taurat tidak lagi memiliki kedudukan, posisi, atau tempat apa pun. Hukum Taurat telah tersingkir. Puji Tuban, kamera iman kita sedang memotret pemandangan anugerah!


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 18

15 June 2012

Galatia - Minggu 9 Jumat


Pembacaan Alkitab: Kel. 19:4


Pada waktu Allah mengabsahkan janji menjadi perjanjian dalam Kejadian 15, kegelapan meliputi Abraham (ayat 12). Kegelapan itu merupakan suatu petunjuk bahwa umat Allah akan mengalami saat-saat gelap dan kesengsaraan besar sebelum, janji tersebut digenapi. Alkitab mencatat betapa keturunan Abraham pindah ke Mesir dan hidup setidak-tidaknya 400 tahun di bawah tirani orang Mesir. Tahun-tahun itu merupakan suatu periode kegelapan panjang. Kemudian, setelah 400 tahun itu, Allah memimpin mereka keluar dari kegelapan tirani orang Mesir. Allah tidak memperlakukan mereka menurut hukum Taurat, yang belum diberikan-Nya itu, melainkan memperlakukan mereka menurut janji yang dibuat-Nya dengan Abraham leluhur mereka.

Sulitlah kita jumpai sebuah ayat dalam Kitab Keluaran yang menunjukkan maksud hati Allah dalam memimpin bani Israel keluar dari Mesir adalah untuk memberi mereka hukum Taurat. Namun, jelas sekali diterangkan bahwa Allah bermaksud agar mereka melakukan suatu perayaan bagi-Nya. Kata Musa kepada Firaun, "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umatKu pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun." (Kel. 5:1). Sudah tentu, Allah juga berencana mewahyukan pola tempat kediaman-Nya kepada mereka.

Hampir-hampir tidak ada petunjuk bahwa Allah bermaksud memberikan hukum Taurat kepada mereka sebelum Keluaran 19. Pada awal pasal ini, Allah mengucapkan kata-kata yang sangat ramah kepada umat itu, "Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku" (Kel. 19:4). Tuhan berkata lebih lanjut kepada mereka, bila mereka sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian-Nya, maka mereka akan menjadi harta kesayangan-Nya sendiri dari antara segala bangsa dan menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus (ayat 5-6). Perkataan Allah sangat ramah dan mesra. Ketika umat itu mendengar apa yang Allah katakan, mereka menjawab, "Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan" (ayat 8). Setelah umat itu memberi respon demikian, suasana sekitar Gunung Sinai itu berubah. Suasana mesra berubah menjadi suasana yang mengerikan. Karena ketakutan akan suasana tersebut, umat Israel menyuruh Musa mewakili mereka untuk menjumpai Allah. Di tengah-tengah situasi yang demikianlah Sepuluh Perintah itu diberikan. Karena itu, pada diri Adam ada kejatuhan, pada diri Abraham ada janji, dan pada diri Musa ada hukum Taurat. Pasal 20-23 dari Kitab Keluaran semuanya bertalian dengan hukum Taurat.

Allah menggunakan hukum Taurat sebagai cermin untuk menyingkapkan keadaan umat-Nya. Tetapi setelah umat itu tersingkap, mereka dapat beralih ke tabernakel, imamat, mezbah, dan berbagai kurban. Menurut perlambangan, hal ini merupakan penggenapan janji yang Allah buat bagi Abraham. Kitab Keluaran sebenarnya bukanlah kitab tentang hukum Taurat, melainkan kitab tentang kegenapan janji Allah, kitab tentang Kristus, salib, dan gereja. Memang, ada beberapa pasal yang khusus ditujukan kepada hukum Taurat dan ketetapan-ketetapannya. Tetapi pasal-pasal lainnya menampilkan pola tabernakel dan melukiskan pembangunan tabernakel. Seperti telah kita tunjukkan, pola tabernakel diwahyukan kepada Musa dalam suasana cerah. Setelah pola itu diberikan, tabernakel lalu didirikan. Kemudian, orang-orang yang berada di bawah hukuman hukum Taurat dapat bersekutu dengan Allah melalui imamat dan kurban-kurban persembahan. Persekutuan itu melalui tabernakel, yakni melalui Kristus. Walaupun itu bukan realitas janji Allah kepada Abraham, namun itulah kegenapannya secara simbolis.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 18

14 June 2012

Galatia - Minggu 9 Kamis


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:17


Perjanjian Baru mewahyukan bahwa dalam kekekalan yang lampau Allah telah menetapkan satu kehendak, satu rencana. Ketetapan kehendak ini ialah agar umat yang Ia pilih menerima keputraan dan menjadi anak-anak Allah, kemudian bersama dengan Putra Sulung Allah terbentuk menjadi manusia korporat yang mengekspresikan Allah untuk selama-lamanya. Inilah keterangan singkat dari ketetapan kehendak Allah yang kekal. Setelah memiliki ketetapan kehendak ini, Allah merampungkan pekerjaan penciptaan. Inti penciptaan Allah ialah manusia, sebab Allah berkehendak mendapatkan sekelompok manusia untuk menjadi ekspresi-Nya. Dari Kejadian 1 kita tahu bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan kata lain, manusia diciptakan dengan potensi untuk mengekspresikan Allah. Pada saat diciptakan, manusia tidak memiliki hayat maupun sifat ilahi. Namun, manusia diciptakan dengan kapasitas untuk menerima Allah dan menjadi satu dengan-Nya.

Kita tahu setelah penciptaan, manusia jatuh. Di satu aspek, kejatuhan Adam mendatangkan sifat dosa dan perbuatan dosa; di aspek lainnya, kejatuhan Adam mendapatkan kutuk. Karena itu, manusia yang diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya telah terlibat dalam dosa dan berada di bawah kutuk. Fakta bahwa manusia menempuh jalan yang semakin menurun setelah Kejadian 3, menunjukkan bahwa manusia berada di bawah kutuk. Kita nampak kutuk ini dari Kain, keturunan umat manusia yang kedua. Karena keturunan-keturunan Kain semua berada di bawah kutuk, maka mereka jatuh semakin rendah. Pada akhirnya, manusia jatuh sedemikian rupa di Babel sehingga terpecah-belah dan menjadi kacau balau. Tidak dapat disangsikan bahwa manusia yang jatuh itu sudah terlibat dalam dosa bahkan berada di bawah kutuk.

Di tengah-tengah situasi kejatuhan yang sedemikianlah Allah yang mulia menampakkan diri-Nya kepada Abraham (Kis. 7:2). Alkitab tidak mengatakan Allah yang pengasih menampakkan diri kepada Abraham, tetapi mengatakan Allah yang mulia menampakkan diri kepadanya. Hal ini sangat bermakna. Pada diri Adam ada dosa dan kutuk, tetapi pada diri Abraham ada janji Allah. Menurut Kejadian 12:3, Allah berjanji kepada Abraham bahwa di dalam dia segala bangsa akan diberkati. Latar belakang janji ini adalah kutuk atas umat manusia. Karena umat manusia berada di bawah kutuk, maka arah manusia menuju ke bawah. Namun Allah datang memanggil Abraham dan berjanji bahwa di dalam dia, segala bangsa, yakni umat manusia yang dalam keadaan terpecah-belah dan kacau balau itu, akan beroleh berkat. Tentu saja ini merupakan berita yang baik. Tak heranlah, kemudian, Paulus menganggap hal ini sebagai Injil.

Akan tetapi, masalah yang kita tekankan di sini adalah janji itu. Ketika memanggil Abraham, Allah memberinya sebuah janji. Galatia 3:17 membicarakan satu janji dan satu perjanjian. Dalam ayat 8 pasal ini Paulus juga menerangkan bahwa perkataan Allah kepada Abraham dalam Kejadian 12:3 merupakan pemberitaan Injil bagi Abraham. Penuturan janji tersebut merupakan pemberitaan Injil. Tambahan pula, perjanjian yang disahkan dalam Kejadian 15 merupakan pengukuhan Injil.

Dalam Kejadian 12:3 janji hanya sekadar janji, sebab masih perlu penggenapan. Dalam pasal ini tidak dijelaskan kepada kita kapan, bagaimana, atau di mana janji itu akan dipenuhi. Kemudian dalam Kejadian 15, janji itu telah menjadi perjanjian yang telah disahkan, dan dalam Kejadian 17, perjanjian ini telah dikuatkan dengan tanda sunat. Sekalipun janji telah disahkan menjadi perjanjian dan telah dikuatkan, namun tetap belum digenapi.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 18

13 June 2012

Galatia - Minggu 9 Rabu


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:11


Ketika Roh almuhit masuk ke dalam roh kita, terjadilah suatu peristiwa. Peristiwa ini adalah apa yang kita sebut kesatuan organik. Dalam karangannya, Word Studies in The New Testement, M.R. Vincent menafsirkan Matius 28:19 demikian: "Dibaptis ke dalam nama Sang Tritunggal yang kudus mengandung arti kesatuan yang rohani dan misterius dengan Dia." Kata "ke dalam" dalam Matius 28:19 menunjukkan suatu kesatuan dalam hayat. Jadi, baptisan tidak seharusnya menjadi satu upacara, melainkan adalah penggenapan dari kesatuan yang organik.

Menanyakan kaum beriman apakah telah menerima Roh itu sangatlah ganjil. Bagaimana mungkin kita tidak menerima Roh itu kalau kita telah memasuki suatu kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal? Kita telah diokulasikan ke dalam Dia. Proses okulasi ini dimulai dari apresiasi kita terhadap Tuhan, dan digenapkan melalui baptisan. Kali pertama Anda mendengar Injil, suatu apresiasi terhadap Tuhan Yesus timbul dari batin Anda. Kemudian, Anda rela menerima baptisan. Pada saat itulah terjadi kesatuan yang organik, okulasi. Anda telah diokulasikan ke dalam Allah Tritunggal. Seorang berdosa yang telah percaya kepada Yesus baru dapat dibaptiskan ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh. Nama menunjukkan Persona. Alangkah menakjubkan bahwa orang-orang berdosa dapat dibaptiskan ke dalam Allah Tritunggal! Kesatuan yang tergenap melalui baptisan adalah kesatuan batini, kesatuan dalam hayat. Jika ada orang bertanya apakah Anda telah menerima Roh Kudus, Anda boleh mengatakan kepadanya bahwa Anda telah menerima Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Jika kita memberitakan Injil di suatu tempat di mana tidak seorang pun yang pernah mendengar Injil sebelumnya, maka orang-orang yang mendengar berita Injil kita itu akan segera mengalami kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal. Lalu, dengan mudah kita membantu mereka untuk mengembangkan kesatuan ini dan tidak lagi hidup oleh diri sendiri. Hidup oleh kesatuan yang organik berarti hidup oleh Roh itu, yakni oleh Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Puji Tuhan bahwa kesatuan organik ini berada di dalam kita semua! Saya yakin bahwa pemulihan akan terus tersebar melalui kesatuan yang organik ini. Kita harus terus-menerus kembali ke dalam roh kita untuk mengalami mendengarkan tentang iman. Semakin banyak kita mendengar, kita akan semakin mengapresiasi dan semakin banyak berseru, menerima, menyambut, bersatu, mengambil bagian, dan menikmati.

Galatia 3:8 mengatakan bahwa segala bangsa akan dibenarkan berdasarkan iman. Dalam ayat 11 Paulus menyambung, "Lagipula, jelaslah, tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat, karena: 'Orang yang benar akan hidup oleh iman'." Dalam ayat 14 Paulus menunjukkan bahwa kita telah menerima janji Roh itu oleh iman. Iman dalam Kristus membawa kita kepada berkat yang dijanjikan Allah kepada Abraham, yaitu berkat Roh itu. Orang yang percaya dibenarkan karena iman, dan mereka memiliki hayat dan hidup oleh iman. Sebagai orang-orang yang telah dibenarkan, kita hidup berdasarkan kesatuan yang organik dan mengambil bagian dalam Roh pemberi-hayat almuhit. Roh itu adalah berkat Injil. Apa yang Allah janjikan kepada Abraham sepadan dengan apa yang Ia genapkan di dalam Kristus. Penggenapan ini adalah terpenuhinya janji Allah kepada Abraham. Tambahan pula, hal tersebut sesuai dengan kehendak kekal Allah dan ekonomi Perjanjian BaruNya (Ef. 3:6, 9, 11).


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 17

12 June 2012

Galatia - Minggu 9 Selasa


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:17


Dalam 3:6-9 kita melihat bahwa Injil adalah oleh iman melalui percayanya manusia. Injil ini mutlak oleh iman, bukan oleh perbuatan melakukan hukum Taurat. Dalam Kejadian 12, 15, dan 17, Abraham mendengarkan tentang iman. Mendengarkan tentang iman ini membangkitkan suatu apresiasi dalam batinnya. Kita tahu bahwa Abraham percaya kepada Allah, dan Allah menghitung percayanya itu sebagai kebenaran (Kej. 15:6). Melalui mendengarkan tentang iman Abraham menerima Injil yang diberitakan itu.

Injil diberitakan tidak saja sebelum penggenapan penebusan oleh Kristus, lebih-lebih sebelum pemberian hukum Taurat melalui Musa. Dalam 3:17 Paulus berkata, "Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya." Janji Allah kepada Abraham diberikan terlebih dahulu. Hukum Taurat datang 430 tahun kemudian. Janji Allah tetap, tetapi hukum Taurat sementara. Hukum Taurat yang datang kemudian dan bersifat sementara tidak dapat membatalkan janji yang diberikan lebih dahulu dan bersifat tetap. Orang-orang Galatia meninggalkan janji yang pertama dan tetap, untuk berpaling kepada hukum Taurat yang datang kemudian dan sementara.

Injil diberitakan kepada Abraham sebagai janji, agar di dalam dia segala bangsa dapat beroleh berkat. Kata "berkat" dalam Kejadian 12:3 mengandung makna yang sangat besar. Kejatuhan Adam mengakibatkan manusia berada di bawah kutuk. Tetapi Allah berjanji kepada Abraham bahwa di dalam dan karena dia segala bangsa yang berada di bawah kutuk akan diberkati. Menurut Galatia 3:13, kutuk itu telah disingkirkan. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat, supaya berkat Abraham sampai kepada segala bangsa di dalam Dia. Kristus mati menggantikan kita di atas salib untuk membebaskan kita dari kutuk yang dibawakan oleh Adam. Sekarang di dalam Kristus segala bangsa akan diberkati. Karena itu, berkat yang dijanjikan kepada Abraham datang kepada kita, melalui penebusan Kristus. Kutuk telah disingkirkan dan berkat telah tiba. Segala bangsa telah beroleh berkat di dalam Kristus, keturunan Abraham yang unik ini.

Dalam berkat ini ada tanah permai sebagai intinya. Tanah permai melambangkan Kristus yang almuhit yang direalisasikan oleh Roh pemberi-hayat yang almuhit sebagai berkat Injil (Kej.12:7; Kol. 1:12b; Gal. 3:14). Kita telah berulang-ulang menunjukkan bahwa tanah permai merupakan lambang lengkap dari Kristus yang almuhit. Setelah kebangkitan-Nya, Kristus direalisasikan sebagai Roh pemberi-hayat almuhit. Terakhir, Roh pemberi-hayat almuhit ini adalah tanah permai kita. Karena Roh dalam Kitab Galatia menunjukkan Allah Tritunggal yang telah melalui proses, maka kita boleh mengatakan bahwa tanah permai ini adalah Allah Tritunggal yang melalui proses itu. Dalam Injil, segala yang Allah berikan kepada kita tidak lain adalah diri-Nya sendiri.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 17

11 June 2012

Galatia - Minggu 9 Senin


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:8


Kali pertama saya mendengar bahwa jauh sebelum Kristus datang, Injil telah diberitakan kepada Abraham, saya sangat kaget. Galatia 3:8 mengatakan, "Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi berdasarkan iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: 'Olehmu se-gala bangsa akan diberkati'." Menurut Kejadian 12:3, segala bangsa akan diberkati di dalam Abraham. Dalam Kejadian 12:7 Tuhan berkata lagi kepadanya, “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Perkataan Allah kepada Abraham dalam Kejadian 12 terutama mengandung dua aspek: segala bangsa akan diberkati karena Abraham dan negeri (tanah) ini akan diberikan kepada keturunannya. Di dalam Kristus, keturunan Abraham yang unik ini, segala bangsa akan diberkati. Selain itu, negeri (tanah) ini akan diberikan kepada keturunan yang unik ini. Inilah perkataan Allah kepada Abraham.

Dalam Galatia 3:16 Paulus menunjukkan bahwa perkataan Allah kepada Abraham adalah sebuah janji: "Adapun segala janji itu diucapkan kepada Abraham dan kepada keturunannya." Kemudian, dalam ayat 17 Paulus mengatakan sebuah janji yang sebelumnya telah disahkan Allah. Ini menunjukkan bahwa janji yang Allah berikan kepada Abraham telah menjadi perjanjian; yang lebih teguh daripada janji. Perkataan, janji, dan perjanjian adalah Injil yang diberitakan kepada Abraham. Injil adalah perjanjian, perjanjian adalah janji, dan janji adalah perkataan Allah.

Dalam Galatia 3 Paulus mengatakan bahwa perkataan yang disampaikan kepada Abraham telah menjadi suatu perjanjian yang dikuatkan oleh sunat, dan itu adalah Injil yang diberitakan kepada Abraham. Galatia 3 memperlihatkan kepada kita pemahaman dan penafsiran Paulus. Boleh jadi penafsiran ini didapatnya sebagai satu wahyu selama ia menyendiri bersama Tuhan. Paulus nampak bahwa apa yang telah Allah katakan kepada Abraham bukan sekadar suatu janji atau perjanjian yang disahkan dan dikukuhkan, melainkan suatu Injil. Dalam perjanjian ini, Paulus tahu bahwa pokok utama Injil Perjanjian Baru telah tercakup. Jadi, perjanjian yang disahkan dengan Abraham merupakan rintisan Perjanjian Baru, wasiat baru.

Wasiat baru adalah perjanjian baru yang disahkan melalui kurban persembahan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban kepada Allah. Pada satu aspek, Allah berjalan melewati kurban yang dipersembahkan kepada-Nya oleh Kristus di atas salib. Perjanjian Baru ini boleh dianggap sebagai satu pengulangan atau kelanjutan dari perjanjian yang disahkan dengan Abraham. Injil yang kita beritakan hari ini bukan hanya satu janji, tetapi juga perjanjian.

Paulus memiliki pengertian yang menakjubkan terhadap hal-hal rohani. Tanpa wahyu yang diterimanya, kita tidak berkeyakinan untuk berkata bahwa perjanjian yang disahkan dengan Abraham itulah Injil yang diberitakan kepada Abraham. Tetapi Paulus dengan berani mendeklarasikan bahwa Kitab Suci yang mengatakan bahwa Allah akan membenarkan bangsa-bangsa karena iman, telah memberitakan Injil kepada Abraham (3:8). Tanpa perkataan Paulus dalam Galatia 3, kita takkan memahami bahwa perkataan Allah kepada Abraham itulah Injil. Meskipun Injil adalah perkara milik Perjanjian Baru, tetapi kita perlu memahami bahwa Perjanjian Baru adalah kelanjutan atau pengulangan janji Allah kepada Abraham.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 17

09 June 2012

Galatia - Minggu 8 Sabtu


Pembacaan Alkitab: Gal. 5:16-19, 25


Berdasarkan semua yang telah saya pelajari dan alami (kadang-kadang melalui banyak penderitaan) saya nampak bahwa aliran-aliran kekristenan yang kita singgung di atas merupakan suatu halangan bagi ekonomi Allah dan satu hambatan besar bagi perkembangan kesatuan yang organik antara kita dengan Allah Tritunggal. Menurut Surat-surat Kiriman Paulus, Allah Tritunggal telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit. Ketika Roh ini masuk ke dalam roh manusia, dihasilkanlah suatu kesatuan organik dengan Allah Tritunggal, dengan demikian manusia dapat hidup oleh Dia dalam rohnya.

Dalam I Korintus Paulus menanggulangi masalah penyalahgunaan bahasa lidah. Dalam 1 Korintus 7 kita menemukan satu contoh yang paling baik dari kehidupan yang menurut kesatuan yang organik tersebut. Dalam ayat 25 Paulus berkata, "Sekarang tentang orang-orang yang belum kawin. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagat seorang yang dapat dipercayai karena rahmat Allah." Setelah mengutarakan opininya mengenai masalah ini, Paulus berkesimpulan demikian: "Lagi pula aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah" (ayat 40). Di sini kita nampak prinsip Perjanjian Baru, yaitu prinsip inkarnasi. Menurut prinsip ini, ada suatu perbauran dari sifat ilahi dengan sifat insani. Allah tidak bertindak sendirian, manusia juga tidak bertindak sendirian. Sebaliknya, Allah bertindak dalam kesatuan dengan umat-Nya yang telah beroleh selamat, sebab suatu kesatuan yang organik telah terjadi antara Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan orang-orang yang telah dilahirkan kembali. Segala yang kita ucapkan dan lakukan haruslah berasal dari kesatuan ini, yaitu perbauran Allah dengan manusia. Hal ini sangat berbeda dengan yang dipraktekkan aliran kekristenan tertentu hari ini. Apa yang disebut nubuat oleh mereka adalah menurut prinsip Perjanjian Lama, yakni : "Demikian firman Allah." Namun, dalam Perjanjian Baru, tidak tertera "Demikian firman Allah", melainkan tertera apa yang dikatakan Paulus atau apa yang dikatakan Petrus dan Yohanes. Menurut 1 Korintus 7, sekalipun Paulus tidak mempunyai perintah dari Tuhan tentang orangorang yang belum kawin, ia tetap dapat mengucapkan perkataan yang di dalamnya mengekspresikan Roh Allah. Inilah prinsip Perjanjian Baru. Kita harus mengikuti prinsip ini demi mengembangkan kesatuan yang organik antara Allah yang telah melalui proses dengan manusia yang telah dilahirkan kembali.

Kita telah menunjukkan dengan tegas bahwa dalam Kitab Galatia, Roh itu mengacu kepada Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan bahwa daging mengacu kepada totalitas dari manusia tripartit yang jatuh. Jika kita nampak perbandingan ini, kita tidak akan mau terpisah dari Allah dan hidup, di dalam diri kita sendiri. Setiap hal yang kita lakukan di luar Tuhan adalah dari daging. Kita harus mengenal bahwa kita telah bersatu secara organik dengan Allah Tritunggal; ini adalah perkara yang sangat penting. Dia dan kita, kita dan Dia, telah berbaur menjadi satu. Kesatuan organik sedemikian ini telah terjadi di dalam roh kita. Karena itu, kita wajib hidup dan bertindak menurut Roh itu di dalam roh kita. Inilah ekonomi Perjanjian Baru Allah, yakni jalan untuk merealisasikan kehendak kekal-Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 16

08 June 2012

Galatia - Minggu 8 Jumat


Pembacaan Alkitab: Mat. 13:33


Dalam berita terdahulu kita telah menunjukkan bahwa melakukan hukum Taurat berlawanan dengan mendengarkan tentang iman. Iman adalah jalan bagi umat Allah untuk menanggapi, memahami, mencerap, menikmati, dan mengambil bagian dalam hakiki Allah yang telah melalui proses menjadi Roh itu. Berdasarkan Kitab Galatia, hukum Taurat telah digantikan oleh iman. Dalam pengalaman kita, hukum Taurat seharusnya sudah berlalu, dan imanlah yang seharusnya berlaku.

Sebagaimana hukum Taurat sejalan dengan daging, maka iman sejalan dengan Roh itu. Bila kita berusaha memelihara hukum Taurat, kita akan segera berada dalam daging. Tetapi bila kita menempuh jalan iman dengan mendengar, mengapresiasi, menyeru, menerima, menyambut, bersatu, mengambil bagian, dan menikmati, dengan spontan kita akan mengalami Roh itu. Hal ini dapat kita buktikan melalui pengalaman kita. Bila kita berusaha sekuat tenaga untuk memelihara hukum Taurat, kita akan berada di dalam daging, di dalam manusia tripartit yang jatuh. Namun, bila kita menempuh jalan iman, kita berada di dalam roh kita seraya menikmati Roh itu. Dalam jalan imanlah kita menikmati Roh itu sebagai Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Tambahan pula, jalan iman ini akan mengembangkan dan menumbuhkan kesatuan yang organik antara Allah yang telah melalui proses dengan manusia yang dilahirkan kembali. Allah menginginkan kesatuan organik ini dapat berkembang sampai tahap yang tertinggi.

Prinsip yang dianut Iblis dalam melakukan hal ini ialah mempergunakan hal-hal pemberian Allah untuk dipakai orang secara keliru. Sebagai contoh, prinsip ini dapat terlihat dalam aliran kekristenan tertentu di mana memang ada beberapa hal pemberian Allah. Banyak orang beriman sejati di dalam aliran tersebut telah terpesona oleh hal-hal pemberian Allah yang diperalat oleh Iblis. Karena beberapa hal milik Allah dapat ditemukan dalam aliran itu, maka banyak orang mungkin akan bangkit membela dan berkata bahwa di sana benar-benar ada hal-hal milik Allah. Hendaklah kita ingat nubuat Tuhan dalam Matius 13:33, "Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka: Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya." Seperti perempuan dalam perumpamaan ini, maka aliran kekristenan tertentu telah mencampurkan ragi dengan tepung halus. Ia telah mencampuradukkan hal-hal milik setan dengan hal-hal pemberian Allah. Karena itu, apa yang kita temukan dalam kekristenan tertentu adalah campuran halhal milik setan dengan hal-hal pemberian Allah. Dalam Wahyu 17 aliran kekristenan tertentu diwakili oleh seorang wanita yang di tangannya ada satu cawan emas yang penuh dengan segala kekejian dan kenajisan. Itulah situasi yang sesungguhnya dalam aliran itu.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 16

07 June 2012

Galatia - Minggu 8 Kamis


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:3


Dalam 3:3 Paulus bertanya pada kaum beriman Galatia, "Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang kamu mau mengakhirinya di dalam daging?" Roh itu, yaitu Kristus yang telah bangkit, adalah milik hayat; daging, yaitu manusia yang jatuh, adalah milik dosa dan maut. Kita tidak seharusnya memulai dengan Roh dan berusaha mengakhirinya dengan daging. Karena kita sudah memulainya dengan Roh, kita harus mengakhirinya dengan Roh dan tidak berhubungan dengan daging. Dalam 2:20 yang bertentangan adalah Kristus dengan "aku", di sini yang bertentangan adalah Roh dengan daging. Ini menunjukkan bahwa dalam pengalaman kita, Roh adalah Kristus dan daging adalah "aku". Dari pasal 3 sampai akhir Surat ini, Roh adalah Kristus dalam pengalaman hayat kita. Dalam wahyu adalah Kristus, dalam pengalaman adalah Roh.

Daging telah dihukum dan ditolak di seluruh kitab ini (1:16; 2:16; 3:3; 4:23, 29; 5:13, 16-17, 19, 24; 6:8, 12-13), dan mulai pasal 3, setiap pasal memberikan perbedaan antara daging dengan Roh (3:3; 4:29; 5:16-17, 19, 22; 6:8). Daging adalah ekspresi sepenuhnya dari manusia tripartit yang jatuh, dan Roh adalah perwujudan Allah Tritunggal yang melalui proses. Daging cenderung memelihara hukum Taurat dan diuji oleh hukum Taurat. Roh diterima dan dinikmati berdasarkan iman. Ekonomi Allah mengalihkan kita dari daging ke Roh, sehingga kita dapat berbagian dalam berkat kekayaan Allah Tritunggal. Hal ini tidak mungkin terjadi dengan daging yang memelihara hukum Taurat, tetapi dengan Roh yang diterima berdasarkan iman dan dialami melalui iman.

Berdasarkan wahyu dalam Perjanjian Baru, Roh adalah perwujudan terakhir dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Allah itu Roh, dan manusia yang jatuh adalah daging. Allah adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses, dan daging adalah manusia tripartit yang telah jatuh. Pernahkah Anda memahami bahwa manusia hari ini adalah manusia tripartit yang telah jatuh dan Allah adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses? Manusia tripartit yang jatuh adalah daging, dan Allah Tritunggal yang telah melalui proses adalah Roh itu. Sebagaimana daging dalam Kitab Galatia tidak hanya ditujukan kepada tubuh yang bejat dan penuh hawa nafsu, melainkan totalitas dari manusia yang jatuh, demikian pula Roh itu tidak hanya ditujukan kepada Persona ketiga dari Allah Tritunggal, melainkan Allah Tritunggal yang telah melalui proses melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Daging mengacu kepada seluruh diri kita yang jatuh, dan Roh itu adalah Allah Tritunggal secara keseluruhan, yakni Bapa, Putra, dan Roh, yang telah melalui proses melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Allah Tritunggal hari ini adalah Roh itu. Ketika kita membaca tentang daging dalam Perjanjian Baru, perlulah kita menyadari bahwa daging mengacu kepada totalitas diri manusia yang jatuh. Seasas dengan itu, ketika kita membaca tentang Roh itu dalam Surat-surat Kiriman Paulus, kita pun harus mengerti bahwa Roh itu ditujukan kepada Allah Tritunggal - Bapa, Putra, dan Roh - yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 16

06 June 2012

Galatia - Minggu 8 Rabu


Pembacaan Alkitab: Gal. 3:13-14


Kita telah menerima Roh itu melalui iman. Ketika kita mulai mengapresiasi Tuhan Yesus dan percaya kepada-Nya, kita menerima Roh itu. Dalam penerimaan Roh ini, penyataan karunia-karunia atau bahasa lidah tidak ada kedudukan, sebab kita menerima Roh itu melalui mendengarkan tentang iman.

Saya ingin memberi tahu Anda kisah pribadi saya. Saya dilahirkan dalam kekristenan yang terorganisir. Setelah saya beroleh selamat, saya mulai mencintai Alkitab. Selama tahun-tahun mengikuti kaum Brethren (Saudara), saya beroleh banyak pengetahuan Alkitab. Pada akhirnya, saya berjumpa dengan Saudara Watchman Nee, seorang yang mengenal hayat batiniah dan gereja. Ia membantu saya mengalami hayat batiniah serta kehidupan gereja. Pada tahun 1936, bersama orang-orang lain saya mulai menuntut apa yang disebut pengalaman "Pentakosta", terutama berbahasa lidah. Dalam sejangka waktu, saya sangat berani dan kuat dalam hal itu. Namun lambat laun saya menyadari, tidak ada sesuatu yang dapat dibandingkan dengan pengalaman hayat batiniah dalam kehidupan gereja, karena itu, kemudian saya meninggalkan hal-hal Pentakosta itu. Dengan spontan saya melepaskan hal-hal itu karena menyukai menikmati hayat hatiniah dalam kehidupan gereja. Kita tidak menerima faedah apa-apa dari hal-hal Pentakosta itu. Sebaliknya, hal-hal itu malah hanya menimbulkan masalah.

Sebagai Roh pemberi-hayat almuhit, Allah Tritunggal yang telah melalui proses mengilhami hamba-hamba-Nya untuk memberitakan perkataan indah Injil. Ketika orang mendengar perkataan indah ini, dengan spontan timbul suatu apresiasi terhadap Tuhan Yesus dalam batin mereka. Mereka juga mengapresiasi penebusan, hayat kekal Kristus, dan pengampunan dosa yang mustika itu. Dari apresiasi mereka ini timbullah seruan kepada Tuhan, dan karenanya mereka menerima Roh itu sebagai berkat Injil Allah yang melimpah. Pengalaman dan ekspresinya mungkin berbeda, tetapi kita semua sama dalam hal menerima Roh itu. Tak peduli dengan cara bagaimana kita dibawa kepada Tuhan, kita semua telah menerima Roh itu sebagai berkat Injil melalui mendengarkan tentang iman.

Dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, prinsip mendengarkan tentang iman menggantikan hukum Taurat. Karena iman, kita dibawa ke dalam kesatuan organik dengan Allah Tritunggal. Jika kita tidak diganggu oleh agama serta ajaran-ajarannya, sekarang ini, kesatuan organik ini sudah berkembang dengan sepenuhnya. Hari ini, dalam pemulihan-Nya, Tuhan terus mengembangkan kesatuan organik ini, dan Dia akan membuatnya berkembang terus hingga puncaknya. Semakin kesatuan ini berkembang, kita semakin menikmati totalitas berkat Injil.

Roh yang telah kita terima sebagai berkat Injil adalah Roh almuhit yang majemuk yang dilambangkan oleh minyak urapan majemuk dalam Keluaran 30:23-25. Rempahrempah yang dicampur dengan minyak zaitun untuk memproduksi minyak urapan ini melambangkan campuran sifat insani, kematian, dan kebangkitan Kristus dengan Roh Allah untuk memproduksi Roh almuhit. Roh ini adalah suplai yang limpah lengkap bagi orang-orang yang percaya dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah (Gal. 3:5; Flp. 1:19). Melalui iman kita telah menerima Roh ini sebagai berkat Injil yang dijanjikan Allah kepada Abraham. Sebagai Allah Tritunggal yang telah melalui proses, Roh itu merupakan realisasi Kristus yang almuhit sebagai tanah permai. Inilah Roh yang adalah totalitas berkat Injil.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 15

05 June 2012

Galatia - Minggu 8 Selasa

Pembacaan Alkitab: Gal. 3:13-14 

Galatia 3:13-14 mengatakan, "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis : 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!' Yesus Kristus telah melakukan hal ini, supaya didalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu." Karena ayat ini telah menggabungkan janji Roh itu dengan berkat Abraham, maka ayat 14 luar biasa pentingnya. Berkat Abraham adalah berkat yang dijanjikan Allah kepada Abraham (Kej. 12:3) untuk semua bangsa di bumi. Janji ini telah terpenuhi, dan berkat ini telah diberikan kepada bangsa-bangsa di dalam Kristus melalui penebusan-Nya oleh salib. Konteks ayat 14 menunjukkan bahwa Roh itu adalah berkat yang Allah janjikan kepada Abraham untuk segala bangsa, dan yang telah diterima oleh orang-orang yang percaya karena iman di dalam Kristus. Roh itu adalah Roh majemuk yaitu Allah sendiri yang telah melalui proses. Dalam ke-Tritunggalan-Nya Dia melalui inkarnasi, penyaliban, kenaikan, dan tu-run kembali, sehingga kita dapat menerima Dia sebagai hayat dan segala sesuatu kita. Inilah fokus Injil Allah.

Jika kita membaca Kitab Kejadian, kita akan nampak bahwa titik fokus janji Allah kepada Abraham ialah keturunan Abraham akan mewarisi tanah itu. Menurut Galatia 3, Kristus adalah satu-satunya keturunan itu. Tidak hanya demikian, sebagaimana telah kita tunjukkan, tanah permai adalah lambang penuh dari Kristus yang almuhit. Di satu aspek, keturunan itu adalah Kristus; di aspek lain, tanah itu adalah lambang Kristus. Berkat Abraham sepenuhnya berkaitan dengan Kristus. Kristus adalah fokus berkat yang dijanjikan itu. 

Namun, ayat 14 tidak mengatakan, bila kita menerima berkat Abraham itu berarti kita menerima Kristus. Sebaliknya, ayat ini mengatakan bahwa kita menerima Roh itu. Sudah tentu ini menunjukkan bahwa di sini Roh itu adalah berkat Abraham.

Roh macam apakah yang dapat menjadi berkat yang Allah janjikan kepada Abraham? Roh apakah yang boleh menjadi berkat almuhit, yang adalah Kristus sebagai keturunan dan sebagai tanah? Sudah pasti Roh itu, yakni Roh pemberi-hayat almuhit. Satu Korintus 15:45 mengatakan bahwa Adam yang akhir menjadi Roh pemberi-hayat dan 2 Korintus 3:17 mendeklarasikan bahwa sekarang Tuhan adalah Roh itu. Dialah Roh yang "belum ada" sebelum Kristus dimuliakan. 

Pada saat Tuhan berinkarnasi, Roh Kudus mulai memiliki unsur insani di samping unsur ilahi. Sejak waktu itu Roh Kudus telah terbaur dengan kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan Tuhan dan menjadi Roh itu, yakni Roh almuhit yang berbaur dengan sifat ilahi, sifat insani, kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan Tuhan. Segala yang telah Ia rencanakan dan kehendaki, dan segala yang telah Ia rampungkan melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan-Nya tercakup dalam Roh itu. Jadi, Roh itu adalah Roh almuhit, yakni Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi segala sesuatu kita. Roh itu adalah berkat Injil.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 15

04 June 2012

Galatia - Minggu 8 Senin

Pembacaan Alkitab: Gal. 3:5, 8-9, 14 

Dalam pasal 3 terdapat satu perbandingan antara iman dengan hukum Taurat. Hukum Taurat merupakan dasar hubungan antara manusia dengan Allah dalam Perjanjian Lama, sedang iman adalah prinsip yang olehnya manusia dapat berkontak dengan Allah dalam Perjanjian Baru. Perjanjian Lama adalah zaman hukum Taurat, sedang Perjanjian Baru adalah zaman iman. Selaku dasar hubungan antara manusia dengan Allah, hukum Taurat menuntut manusia menggunakan usahanya sendiri untuk memenuhi permintaan hukum Taurat demi mendapat perkenan Allah. Hukum Taurat tidak ada hubungan batin dengan Allah. Sebaliknya, ia jauh dengan Allah dan menaruh permintaan-permintaan ke atas manusia yang wajib dipenuhi bila manusia mau memperoleh perkenan Allah. Berdasarkan prinsip iman, manusia tidak dituntut untuk berusaha keras dalam dagingnya demi memperoleh perkenan Allah. Tetapi manusia harus mendengar bagaimana Allah damba menjadi segala sesuatu mereka. Allah telah berencana untuk memberkati kita. Karena kita, Dia telah berinkarnasi, hidup di bumi, dan mati untuk merampungkan penebusan. Dia telah bangkit dari antara orang mati dan telah menjadi Roh pemberi-hayat. Sekarang Dia sedang memanggil manusia untuk menerima Dia. Dia sangat mengharap dapat masuk ke dalam manusia dan menjadi hayat serta segala sesuatu mereka, supaya mereka dapat bersatu dengan-Nya. Inilah arti mendengarkan tentang iman. 

Dalam mendengarkan tentang iman ini kita mendengar semua perkataan indah Allah, yaitu berkat-Nya. Iman mengandung pendengaran tentang semua perkara baik dari Allah terhadap kita. Melalui pendengaran ini timbullah dalam batin kita suatu apresiasi terhadap Tuhan Yesus. Dari apresiasi kita terhadap Tuhan ini, dengan spontan kita berseru kepada nama-Nya. Dengan jalan inilah kita menerima Dia, menyambut Dia, dan menyatukan diri kita sendiri dengan Dia. Kemudian kita mengambil bagian atas Dia dan menikmati Dia. Semuanya ini berhubungan dengan iman. Hukum Taurat menuntut manusia berbuat sesuatu, tetapi iman menerima segenap apa adanya Allah, semua yang telah Allah rencanakan dan kehendaki, semua yang telah Allah rampungkan, semua yang telah Allah capai dan peroleh, dan semua yang ingin Allah salurkan kepada kita. Yang ada pada hukum Taurat hanya tuntutan, tetapi pada iman tidak ada tuntutan, melainkan hanya ada penerimaan atas Allah Tritunggal yang telah melalui proses ini. Dengan menerima Allah Tritunggal, kita menerima penebusan, keselamatan, pengampunan, hayat kekal, dan semua perkara surgawi, ilahi, dan rohani. Betapa kontrasnya hukum Taurat dengan iman! Sungguh bodoh sekali jika kita beralih dari iman dan kembali ke hukum Taurat. 


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 15

02 June 2012

Galatia - Minggu 7 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Gal. 1:3

Iman tidak dijumpai dalam Perjanjian Lama, sebab iman datang bersama Yesus Kristus. Ketika Kristus datang anugerah datang, iman pun datang. Iman telah datang untuk menggantikan hukum Taurat. Karenanya, sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita adalah para pendengar, bukan pekerja. Dalam sidang-sidang gereja kita berhimpun bersama untuk mendengarkan tentang iman. Mereka yang tidak menghadiri sidang akan kehilangan kesempatan untuk mendengarkan tentang iman. Jika kita terputus dari pendengaran, kita pun akan terputus dari suplai. 

Jangan berhenti bersidang karena Anda mengira Anda hanya akan mendengar hal yang sama berulang-ulang. Kita harus makan pagi setiap hari sekalipun mungkin kita hampir-hampir makan makanan yang sama setiap hari. Jika kita tidak memakannya karena makanan itu selalu sama, kita tidak akan menerima suplai makanan yang kita butuhkan. Seprinsip dengan itu, kita pun harus menghadiri sidang-sidang gereja untuk menerima suplai Allah. Kita dapat bersaksi; datang dengan tidak datang dalam sidang untuk mendengarkan tentang iman jauh sekali bedanya. Sekali demi sekali, kita mungkin mendengar tentang Kristus dan gereja, tentang kematian dan kebangkitan Kristus, dan tentang bagaimana Kristus telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat. Namun, setiap kali kita mendengar hal-hal ini, kita akan menerima suplai dari Roh itu. Karenanya, sidang atau perhimpunan orang Kristen yang wajar adalah "sidang pendengaran", yakni suatu sidang untuk mendengarkan tentang iman. 

Orang-orang yang berbicara di dalam sidang juga harus menjadi pendengar, sebab mereka juga mendengar hal-hal yang mereka bicarakan itu. Orang-orang yang berbicara dalam gereja di antara kita dapat bersaksi, semakin kita berbicara, kita akan semakin mendengar. Seorang pembicara yang tepat pertama-tama berbicara kepada dirinya sendiri, kemudian baru kepada orang lain. Jika Anda tidak berbicara kepada diri sendiri lebih dulu, perkataan Anda tidak sejati. Kalau kita adalah pembicara sejati, kita harus menjadi orang pertama yang menikmati pembicaraan kita.

Sidang demi sidang kita berkumpul untuk mendengarkan tentang iman. Iman ini adalah apresiasi, penerimaan, dan penyambutan anugerah Allah. Melalui imanlah kita bersatu dengan anugerah Allah, dan kita mengambil bagian serta menikmati anugerah Allah. Seperti yang telah kita tunjukkan berulang-ulang, anugerah adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi kenikmatan dan segala sesuatu kita. 

Menurut wahyu dalam Kitab Galatia, ekonomi Perjanjian Baru Allah bukan menghendaki kita berupaya memelihara hukum Taurat di dalam daging. Dalam hal ini para penganut agama Yahudi telah gagal sama sekali. Tidak ada seorang Kristen sejati di dalam Kristus yang boleh diselewengkan oleh kebodohan semacam itu. Dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya, Allah ingin menjadikan kita pendengar iman. Iman ini merupakan refleksi Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi anugerah kita yang almuhit. Allah mendambakan kita menjadi orang-orang yang terus-menerus mendengarkan tentang iman yang merefleksikan anugerah-Nya. Anugerah tidak lain adalah Allah Tritunggal - Bapa, Putra, dan Roh itu - menjadi hayat kita dan segala sesuatu kita, sehingga kita boleh menikmati Dia secara penuh. Melalui kenikmatan inilah kita menjadi satu dengan Dia. Kita menjadi satu satuan yang universal dan kekal untuk mengekspresikan sifat ilahi-Nya yang ajaib. Inilah wahyu yang tercantum dalam lubuk Kitab Galatia ini. 


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 14

01 June 2012

Galatia - Minggu 7 Jumat

Pembacaan Alkitab: Rm. 10:14

Iman mempunyai dua aspek: aspek obyektif dan aspek subyektif. Pada aspek obyektifnya, iman adalah apa yang kita percaya; dan pada aspek subyektifnya, iman adalah kepercayaan kita. Jadi iman menunjukkan tindakan percaya dan apa yang kita percayai. Mengenai tindakan percaya, iman bersifat subyektif, tetapi mengenai apa yang kita percaya, iman bersifat obyektif. Ketika kita mendengar halhal yang kita percayai, maka iman itu timbul dalam batin kita. Semakin sering kita mendengar hal-hal yang baik itu, kita akan semakin mengapresiasinya. Dengan spontan apresiasi itu membuat kita percaya terhadap hal-hal tersebut. Karena itu, iman bersifat obyektif juga subyektif. 

Aspek subyektif dari iman mencakup paling sedikit delapan hal. Pertama, iman menyiratkan mendengarkan. Tanpa mendengarkan firman, tidak mungkin ada iman. Iman datang dari pendengaran. Firman yang kita dengar antara lain mencakup: Allah, Kristus, Roh itu, salib, penebusan, keselamatan, pengampunan, dan hayat yang kekal. Firman pun mencakup fakta bahwa Allah telah diproses menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit. Menurut Perjanjian Baru, Injil menerangkan semua perkara ini kepada kita. Bila Injil diberitakan dengan wajar, orang-orang yang mendengarnya akan terharu dan penuh dengan apresiasi. Pendengaran mereka terhadap perkataan-perkataan Injil adalah permulaan percayanya mereka. Kekurangan iman pada orang Kristen dikarenakan mereka sangat miskin dalam hal mendengar. Jika mereka mendengar satu berita yang hidup tentang Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit, pendengaran ini pasti akan menghasilkan iman dalam batin mereka. 

Kedua, iman juga menyiratkan apresiasi. Setelah mendengar firman Injil, suatu perasaan apresiasi timbul dengan spontan di dalam orang-orang yang mendengarnya. Hal ini tidak saja terjadi pada orang-orang yang mendengar Injil untuk kali pertama, juga pada semua orang beriman dalam Kristus. Bila kita mendengar firman dengan tepat, pendengaran ini akan membangkitkan lebih banyak apresiasi terhadap Tuhan. Apresiasi ini diikuti dengan penyeruan, ini adalah hal ketiga yang terkandung dalam aspek subyektif iman itu. Semua orang yang mengapresiasi Tuhan Yesus dengan sendirinya akan berseru kepada nama-Nya.

Keempat, iman mencakup penerimaan. Dengan mengapresiasi Tuhan Yesus dan berseru kepada Dia, dengan spontan pula kita akan menerima Dia. Karena menerima, maka kita memiliki aspek kelima, yakni menyambut. Mungkin juga orang telah menerima sesuatu tanpa menyambutnya. Orang-orang yang mendengar Injil dan mengapresiasi Tuhan Yesus dengan otomatis menyambut dan menerima Dia. 

Keenam, iman mencakup kesatuan dengan Tuhan Yesus. Melalui menerima dan menyambut-Nya, maka kita akan bersatu dengan Dia. Kemudian, ketujuh dan kedelapan, ialah mengambil bagian atas Dia dan menikmati Dia. Iman mengambil bagian dan menikmati apa yang ia terima dan sambut itu. 

Dalam pemberitaan Injil, orang-orang mendengar anugerah Allah. Lalu mereka mengapresiasinya dan berseru kepada Tuhan. Selanjutnya mereka menerima, menyetujui, bersatu, mengambil bagian, dan menikmati anugerah itu, yakni Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi segala sesuatu kita. Inilah iman. 


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 14