Hitstat

04 January 2018

Matius - Minggu 14 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 9:9-17

Doa baca:Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.(Mat. 9:13)

Dalam 9:9-17 kita sampai pada bagian Injil Matius yang sangat lembut, manis, dan akrab. Setelah Raja mengumumkan konstitusi Kerajaan Surga dan setelah Ia memanifestasikan kekuasaan-Nya sebagai Raja dalam banyak situasi, dalam 9:9-13 kita nampak ia makan bersama orang berdosa.
Dalam 9:9 Matius dipanggil. Ayat ini mengatakan, “Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, ‘Ikutlah Aku.’” Ayat 10 mengatakan, “Datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.” Ini menunjukkan orang macam apa Matius itu. Ia seorang berdosa, pemungut cukai yang dibenci banyak orang, mempunyai banyak teman berdosa. Sekalipun Matius seorang yang begitu hina, tetapi ia telah Tuhan jadikan bukan hanya seorang murid bahkan seorang di antara kedua belas rasul.
Seorang pemungut cukai adalah seorang yang dianggap rendah. Hampir semua pemungut cukai menyalahgunakan jabatan mereka dengan menuntut lebih banyak daripada yang seharusnya dengan tuduhan palsu. Mereka digolongkan orang berdosa (Mat. 9:10-11). Betapa kita harus menyembah Tuhan! Orang yang derajatnya begitu rendah seperti Matius, karena belas kasihan Allah dan anugerah-Nya dapat menjadi seorang rasul! Setelah diselamatkan, Matius sangat bersyukur kepada Tuhan sehingga ia membuka rumahnya dan menyiapkan perjamuan bagi Dia dan murid-murid-Nya. Jadi, bagian dari firman ini dimulai dengan cara yang begitu manis dan akrab.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 26

03 January 2018

Matius - Minggu 14 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 9:1-8

Doa baca:Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?(Mat. 9:5)

Dalam Matius 9:1-8 kita nampak kekuasaan Raja untuk mengampuni dosa. Setelah Tuhan datang ke kota-Nya sendiri, Kapernaum, tempat tinggal-Nya saat itu (4:13), seorang lumpuh lalu dibawa kepada-Nya. Ayat 2 mengatakan, “Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, 'Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.'” Penyebutan dosa dalam ayat 2 menunjukkan bahwa orang lumpuh itu sakit karena dosa-dosanya.
Ayat 6 mengatakan, “Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa — lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu — 'Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!'” Mengampuni dosa adalah perkara memiliki kuasa di bumi. Hanya Penyelamat rajani yang diberi kuasa oleh Allah (dan yang akan mati untuk menebus orang dosa), yang memiliki kekuasaan semacam ini (Kis. 5:31; 10:43; 13:38). Kuasa ini adalah untuk mendirikan Kerajaan Surga (Mat. 16:19). Ayat 7 mengatakan, “Orang itu pun bangun lalu pulang.” Orang lumpuh itu bangun dan berjalan. Hal itu membuktikan bahwa dia sudah sembuh, dan penyembuhannya membuktikan bahwa dosa-dosanya sudah diampuni. Ini suatu bukti yang kuat bahwa Tuhan Yesus berkuasa mengampuni dosa manusia dan Ia pun berkuasa membuat orang bangun dan berjalan.

Keselamatan Tuhan tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita, tetapi juga membuat kita bangun dan berjalan. Kita tidak bangun dan berjalan dulu, baru menerima pengampunan dosa-dosa; keselamatan yang demikian berarti keselamatan berdasarkan perbuatan. Sebaliknya, mula-mula kita mendapat pengampunan dosa, kemudian bangun dan berjalan; keselamatan yang demikian adalah berdasarkan anugerah. 

Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 26

02 January 2018

Matius - Minggu 14 Selasa

Pembacaan Alkitab: Mat. 8:29-34

Doa baca:Yesus berkata kepada mereka: Pergilah! Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Seluruh kawanan babi itu pun terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati di dalam air.(Mat. 8:32)

Ketika Tuhan Yesus sampai di daerah orang Gadara, Ia dijumpai oleh dua orang yang kerasukan setan. Ketika dua orang kerasukan setan itu menemui Yesus, setan-setan itu berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Apakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” (ayat 29).
Ayat 32 mengatakan,“Yesus berkata kepada mereka, 'Pergilah!' Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Seluruh kawanan babi itu pun terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati di dalam air.” “Pergilah!” Ini adalah perintah yang penuh dari kuasa Raja, dan setan-setan itu menaatinya. Raja memenuhi permintaan setan-setan itu dan mengizinkan mereka masuk ke dalam babi-babi itu karena babi adalah binatang yang najis dalam pandangan Allah (Im. 11:7). Seluruh kawanan babi itu terjun ke dalam laut dan setan-setan senang karena air adalah tempat kediaman mereka (12:43-44).
Maksud Tuhan memperbolehkan setan masuk ke dalam kawanan babi bukan untuk menghancurkan pekerjaan orang yang memelihara babi-babi itu. Karena babi adalah najis di mata Allah, Tuhan membinasakan kepunyaan mereka yang najis itu dengan harapan bahwa si pemilik dapat diselamatkan dan berpaling kepada-Nya. Babi, yang najis dan dihakimi Allah, tidak seharusnya ada di sana.

   Raja datang ke daerah ini untuk menertibkan segala sesuatu. Tuhan tidak hanya mengusir setan-setan dari dua orang itu, bahkan babi-babi itu pun ditenggelamkan. Karena itu, seluruh daerah menjadi bersih, sedangkan setan-setan telah kembali ke tempat kediaman mereka. Inilah suatu penampilan kekuasaan Tuhan.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 26

01 January 2018

Matius - Minggu 14 Senin



Pembacaan Alkitab: Mat. 8:23-9:8

Doa baca:Ia berkata kepada mereka: Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.(Mat. 8:26)

Dalam Matius 8:23—9:8 kita nampak kekuasaan Raja. Urutan dalam Injil Matius sangat ajaib. Setelah Raja berkata dengan suatu cara untuk menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai apa pun, bahkan rumah atau tempat untuk istirahat, dan setelah tidak mengizinkan pengikut-Nya melakukan kewajiban orang mati, catatan Injil Matius mewahyukan kekuasaan Raja ini. Sekalipun Ia tidak mempunyai apa pun, Ia mempunyai kekuasaan. Dalam 8:23—9:8 kekuasaan ini terdiri atas tiga aspek: berkuasa atas angin dan laut (8:23-27); berkuasa atas setan-setan (8:28-34); dan berkuasa untuk mengampuni dosa (9:1-8).
Ayat 26 mengatakan, “Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali.” Ketika Tuhan dan murid-murid-Nya berlayar menyeberangi laut, dalam perjalanan mereka untuk mengusir setan, sesuatu yang di udara dan di bawah laut mulai mempersulit mereka. Di udara terdapat malaikat-malaikat yang telah jatuh, dan di dalam laut terdapat setan-setan. Jadi, perintah Tuhan di sini pada hakikatnya bukan ditujukan kepada angin atau laut, melainkan kepada malaikat di udara yang telah jatuh dan kepada setan-setan di bawah permukaan air. Suatu bentakan tidak ditujukan kepada sesuatu yang tanpa hayat, melainkan kepada sesuatu yang berpersona. Sang Raja membentak angin dan laut karena di dalam angin ada malaikat-malaikat yang jatuh milik Satan (Ef. 6:12), dan di dalam laut ada setan-setan (Mat. 8:32). Malaikat-malaikat jatuh di udara dan setan-setan di dalam air bekerja sama untuk menghambat Raja agar tidak bisa pergi ke seberang, karena mereka tahu bahwa Ia akan mengusir setan-setan di sana (ayat 28-32). Segera setelah Raja memerintahkan malaikat-malaikat yang telah jatuh dan roh-roh jahat itu berhenti, mereka segera taat, dan laut pun jadi teduh sekali.

Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 26

30 December 2017

Matius - Minggu 13 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 8:16-21
Doa baca: Mat. 8:17
Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”


Pada masa seribu tahun, kekuatan untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit akan ternyata sampai puncaknya. Maka, semua orang yang kerasukan setan dan semua orang yang sakit akan disembuhkan. Nubuat Yesaya membuktikan hal ini (Yes. 35:5-6). Akan terdapat pemulihan yang sejati. Pengusiran setan dan penyembuhan orang sakit pada zaman ini hanyalah suatu pencicipan dari kekuatan ekstensif dari zaman yang akan datang. Dalam ayat 16, setelah Tuhan menyembuhkan ibu mertua Petrus, ketika menjelang malam, Ia menyembuhkan banyak orang yang dirasuk setan dan semua yang sakit. Ini menunjukkan bahwa setelah Kristus kembali dan orang Yahudi diselamatkan, masa seribu tahun akan dimulai. Selama masa itu, semua orang sakit akan disembuhkan. Karena itu, tanda mukjizat yang tercatat dalam ayat 2-17 mempunyai makna yang bersifat zaman.

Semua kesembuhan yang dirampungkan atas orang-orang yang telah jatuh adalah hasil dari penebusan Tuhan. Di atas salib, Dia memikul kelemahan kita, menanggung penyakit kita, dan merampungkan kesembuhan yang sempurna bagi kita. Namun, dalam zaman ini, penerapan kekuatan kesembuhan ilahi ini hanya merupakan suatu pencicipan bagi kita; pada zaman yang akan datang, kita akan mengalami kenikmatan yang penuh.

Dalam ayat 18-22, kita nampak jalan untuk mengikuti Raja surgawi. Jalan itu diwahyukan melalui kisah dua orang yang datang kepada Raja. Yang pertama, seorang ahli Taurat berkata kepadanya, “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Dengan mengatakan hal ini, dia tidak mempertimbangkan membayar harga. Karena itu, Raja menjawab dalam ayat 20, dengan cara yang menyebabkannya mempertimbangkan membayar harga. Tuhan berkata kepada ahli Taurat yang ingin mengikuti-Nya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Bahkan rubah dan burung memiliki tempat istirahat, tetapi Raja kerajaan itu tidak memiliki tempat istirahat. Ini membuktikan bahwa kerajaan yang didirikan-Nya bukanlah kerajaan material, bukan bersifat bumiah, melainkan kerajaan rohani, bersifat surgawi. Saya percaya bahwa ahli Taurat itu kecewa sehingga ia tidak mau mengikuti-Nya. Prinsip ikut Tuhan hari ini juga sama. Kita harus mempertimbangkan harganya. Dalam hal mengikuti Raja ini, tidak ada kenikmatan materi.

Murid dalam ayat 21, yang bukan ahli Taurat, terlalu berlebihan dalam mempertimbangkan harga yang harus dikeluarkan untuk mengikuti Raja Kerajaan Surga. Karena murid ini meninggikan harga yang harus ia keluarkan dalam mengikuti Raja, Ia menjawabnya dengan mendorongnya mengikuti Dia, melepaskan pertimbangannya akan harga, dan menyerahkan penguburan ayahnya kepada orang lain. Betapa ajaibnya Tuhan Yesus! Ia dengan sengaja mengecewakan orang yang pertama dan dengan tenang mendorong orang yang kedua. Dalam hal memperlakukan orang, Tuhan sangat bijaksana. Ia membuat orang yang berkedudukan tinggi ini kecil hati. Tetapi kepada murid yang telah diperingatkan oleh hal ini agar tidak mengikuti Tuhan secara ringan atau kendur, Tuhan memberi dorongan. Perkataan Tuhan mendorong dia melupakan segala persiapan yang ia lakukan, membiarkan orang-orang yang mati menguburkan orang-orang mati mereka; ia hanya perlu mengikuti Dia.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 25

29 December 2017

Matius - Minggu 13 Jumat

Pembacaan Alkitab: Mat. 8:5-15
Doa baca: Mat. 8:8
Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”


Setelah Tuhan masuk ke Kapernaum, “datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, ‘Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita’” (Mat. 8:5-6). Seorang perwira ialah opsir yang mengepalai seratus orang prajurit dalam pasukan Romawi. Perwira dalam ayat 5-13 mewakili orang bukan Yahudi. Di hadapan Allah, orang Yahudi telah menjadi kusta, najis, karena pemberontakan dan ketidaktaatan mereka. Penyelamat rajani mulai datang kepada orang Yahudi, kemudian kepada orang bukan Yahudi (Kis. 3:26; 13:46; Rm. 1:16; 11:11). Orang Yahudi yang percaya diselamatkan oleh sentuhan langsung-Nya (ayat 3), sedangkan orang bukan Yahudi yang percaya diselamatkan melalui iman pada perkataan-Nya (ayat 8, 10, 13).

Perwira bukan Yahudi itu mengenal kekuasaan Penyelamat rajani dan menyadari bahwa perkataan-Nya memiliki kekuasaan untuk menyembuhkan (ayat 8). Jadi dia percaya bukan hanya kepada Penyelamat rajani, tetapi juga percaya kepada perkataan-Nya, dan meminta agar Tuhan sendiri tidak usah pergi, melainkan hanya mengucapkan sepatah kata saja. Ini adalah iman yang lebih kuat, dan hal ini mengherankan Penyelamat (ayat 10). Karena itu dalam ayat 11-12 Tuhan berkata bahwa “banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak, dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap.” Ini menunjukkan bahwa orang bukan Yahudi akan berbagian dalam Injil kerajaan (Ef. 3:6, 8; Gal. 2:8-9; Rm. 1:13-16). Keterangan mengenai Kerajaan Surga dalam ayat 11 menunjukkan manifestasi Kerajaan Surga. Dalam manifestasi kerajaan, para pemenang dari kaum beriman bukan Yahudi akan berpesta dengan Abraham, Ishak, dan Yakub.

Ibu mertua Petrus mewakili orang Yahudi yang hidup pada akhir zaman ini yang akan diselamatkan dengan menerima Penyelamat rajani. Pada saat itu, selama kesengsaraan besar, orang Yahudi dalam pandangan Allah akan terkena “demam” (ayat 14), “panas” terhadap hal-hal lain yang bukan Allah. Setelah keselamatan orang bukan Yahudi genap, Penyelamat rajani akan kembali kepada sisa orang Yahudi supaya mereka dapat diselamatkan (Rm. 11:25-26; Za. 12:10). Pada akhir zaman ini, semua sisa orang Yahudi akan diselamatkan di rumah Israel. Selanjutnya mereka akan diselamatkan oleh sentuhan langsung Penyelamat rajani (ayat 15), seperti orang kusta Yahudi (ayat 3). Pada akhir zaman ini keselamatan akan kembali dari orang bukan Yahudi kepada orang Yahudi. Namun, tidak akan kembali kepada orang Yahudi yang berserakan, tetapi kepada orang Yahudi yang di dalam rumah Israel. Pada saat itulah orang Yahudi akan menderita sakit demam. Suhu orang Yahudi hari ini sangat tinggi dalam semangat mereka terhadap politik, industri, pertanian, dan peperangan. Tetapi dalam kegairahan dan semangat mereka, mereka tidak bersandar kepada Allah atau mempedulikan moralitas. Sama seperti Tuhan menyembuhkan ibu mertua Petrus, Ia pun akan kembali lagi pada akhir zaman ini untuk menyembuhkan orang Yahudi yang bergairah, terbakar, dan sakit demam. Ia tidak akan menyembuhkan mereka melalui iman mereka, tetapi melalui sentuhan langsung-Nya. Pada kedatangan Tuhan kali kedua, orang Yahudi akan langsung tersentuh oleh kedatangan-Nya dan akan diselamatkan.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 25

28 December 2017

Matius - Minggu 13 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 8:1-4
Doa baca: Mat. 8:3
Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata, "Aku mau, jadilah tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya.


Setelah Sang Raja turun dari gunung untuk melaksanakan ministri rajani-Nya, hal pertama yang dilakukan-Nya adalah mentahirkan orang yang najis, menyembuhkan orang yang sakit, dan mengusir setan dari orang yang kerasukan agar mereka dapat menjadi umat Kerajaan Surga (8:2-17). Mukjizat atau tanda-tanda yang tercatat dalam ayat 21 pasal 7 mempunyai makna zaman. Tujuan keempat perumpamaan yang tercatat dalam Matius 8:2-16 membuktikan bahwa Kristus adalah Raja Kerajaan Surga yang sesuai dengan doktrin. Dalam Matius 8:1-17 terdapat tiga mukjizat: pentahiran kusta, penyembuhan budak laki-laki kafir yang lumpuh, dan penyembuhan ibu mertua Petrus serta penyembuhan orang banyak. Semua perkara ini dikelompokkan bersama untuk menampilkan suatu doktrin yang bermakna zaman.

Turunnya Raja dari gunung menunjukkan bahwa Raja Surgawi telah turun dari surga ke bumi. Ia mula-mula datang kepada orang Yahudi karena jelas bahwa orang yang sakit kusta di sini mewakili umat Yahudi. Raja Surgawi turun dari surga membawakan keselamatan pertama-tama kepada orang Yahudi yang kena kusta. Orang yang sakit kusta menyembah Raja baru dan memanggil-Nya Tuhan (ayat 2), mengenal bahwa Dialah Tuhan Allah. Dalam realitas, Raja baru adalah Allah Yehova (Mat. 1:21, 23).

Orang golongan pertama yang diselamatkan oleh Penyelamat Rajani untuk menjadi umat kerajaan diwakili oleh orang kusta. Menurut contoh dalam Alkitab, kusta adalah akibat dari pemberontakan dan ketidaktaatan. Miriam terkena kusta karena dia memberontak terhadap wakil kekuasaan Allah (Bil. 12:1-10). Kusta Naaman dibersihkan karena ketaatannya (2 Raj. 5:1, 9-14). Dalam pandangan Allah, semua manusia yang jatuh telah terkena kusta karena pemberontakan mereka. Kusta ialah suatu ekspresi pemberontakan. Pemberontakan adalah batiniah dan kusta adalah manifestasi lahiriahnya. Kini Penyelamat rajani datang untuk menyelamatkan manusia dari pemberontakan mereka dan mentahirkan mereka dari kusta agar mereka dapat menjadi umat kerajaan-Nya.

Kusta ialah penyakit yang najis. Dalam Perjanjian Lama orang yang terkena kusta harus diasingkan dari perkemahan umat Israel sampai ia ditahirkan. Ini menunjukkan bahwa setiap orang di antara umat Allah yang memberontak sehingga menjadi kusta, akan dikucilkan dari persekutuan umat Allah sampai ia disembuhkan. Orang yang sakit kusta di sini mewakili orang Yahudi. Orang Yahudi menjadi pemberontak terhadap Allah. Jadi, dalam pandangan Allah, mereka berpenyakit kusta. Bagaimanapun, Raja surgawi mula-mula datang kepada mereka, bukan untuk menghakimi mereka, tetapi untuk menyembuhkan mereka. Ia datang dahulu kepada orang Yahudi untuk menyembuhkan mereka dan membawakan keselamatan kepada mereka.

Raja baru, sebagai seorang manusia dan bahkan Penyelamat rajani, menyentuh orang kusta itu. Benar-benar penuh rahmat dan simpatik! Dengan sentuhan-Nya satu kali saja, orang yang sakit kusta itu segera menjadi tahir. Pentahiran yang sungguh ajaib! Kemudian Raja baru memberi tahu orang kusta yang ditahirkan bahwa untuk pentahirannya, dia perlu melakukan hal-hal yang sesuai dengan peraturan hukum Taurat lama, karena masa peralihan masih berlaku, hukum Taurat lama belum digenapi oleh kematian penebusan-Nya.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 25

27 December 2017

Matius - Minggu 13 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 7:22-29
Doa baca: Mat. 7:29
Sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka


Pada hari penghakiman ketika semua orang beriman akan berdiri di depan takhta penghakiman Kristus, banyak orang akan berkata kepada Tuhan bahwa mereka bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Nya, tetapi mereka akan ditolak oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah memperkenan orang-orang yang bernubuat, mengusir setan, dan melakukan banyak mukjizat (ayat 22) dalam nama-Nya, tetapi tidak melakukan hal-hal itu menurut kehendak Bapa surgawi (ayat 21). Tuhan tidak menyangkal bahwa mereka melakukan hal-hal itu. Tetapi Ia menganggap hal-hal itu sebagai kejahatan, karena hal-hal itu tidak dilakukan berdasarkan kehendak Bapa surgawi, tidak dilakukan sejalan dengan kehendak ilahi. Jadi, orang-orang yang melakukan hal-hal itu, walaupun melakukannya dalam nama Tuhan, tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan akan diusir dari Tuhan, yaitu dikucilkan dari manifestasi kerajaan pada zaman yang akan datang.

Kita nampak dari perkataan Tuhan di sini bahwa beberapa pekerjaan dapat dilakukan demi nama Tuhan, tetapi bukan dilakukan menurut kehendak Allah. Apakah Anda melakukan pekerjaan semacam ini, atau apakah Anda melakukan kehendak Allah? Bahkan bernubuat dalam nama Tuhan, tetapi bukan menurut kehendak Bapa, juga suatu macam kejahatan. Tidak hanya demikian, mengusir setan dalam nama Tuhan dan melakukan banyak mukjizat demi nama Tuhan, tetapi tidak menurut kehendak Allah, dalam pandangan Raja Surgawi juga sebagai kejahatan.

Kata batu dalam ayat 24 tidak mengacu kepada Kristus, melainkan kepada perkataan hikmat-Nya, perkataan yang mewahyukan kehendak Bapa-Nya yang di surga. Kehidupan dan pekerjaan umat Kerajaan harus didirikan di atas perkataan Raja baru untuk menggenapkan kehendak Bapa surgawi. Inilah yang dimaksud dengan masuk melalui pintu yang sempit dan menempuh jalan yang sesak yang menuju kepada hayat.

Hujan yang turun dari langit berasal dari Allah; banjir (sungai) yang datang dari bumi berasal dari manusia; dan angin yang bertiup dari angkasa berasal dari Iblis (ay. 25). Semuanya itu akan menguji kehidupan dan pekerjaan umat kerajaan. Walaupun hujan datang, banjir melanda, angin menerpa, rumah yang dibangun di atas batu tidak akan rubuh, sebab rumah itu dibangun menurut jalan sesak, jalan melakukan kehendak Bapa. Rumah yang dibangun di atas batu, rumah yang tidak rubuh, sama seperti pekerjaan yang dibangun dengan emas, perak, dan batu permata, pekerjaan yang dapat bertahan terhadap api penguji (1 Kor. 3:12-13).

Pasir mengacu kepada konsepsi manusia dan cara alamiah. Jika kita hidup dan bekerja berdasarkan konsepsi manusia dan cara alamiah kita, berarti kehidupan dan pekerjaan kita didirikan di atas pasir, bisa rubuh. Inilah yang dimaksud dengan masuk melalui pintu yang lebar dan menempuh jalan yang luas yang menuju kepada kebinasaan. Rumah yang dibangun di atas pasir, yang rubuh (ay. 27), sama seperti pekerjaan yang dibangun dengan kayu, rumput kering, dan jerami, pekerjaan yang akan terbakar oleh api penguji. Namun, orang yang membangun itu sendiri akan diselamatkan (1 Kor. 3:12-15). Membangun rumah kita di atas opini dan konsepsi kita ialah membangun rumah di atas pasir yang “tenggelam”. Ketika hujan, banjir, dan angin menguji rumah yang dibangun di atas pasir itu, rumah yang tidak mempunyai fondasi yang kukuh itu akan rubuh. Inilah kesimpulan Tuhan tentang konstitusi Kerajaan Surga.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 24

26 December 2017

Matius - Minggu 13 Selasa

Pembacaan Alkitab: Mat. 7:13-21
Doa baca: Mat. 7:21
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.


Jika kita mengambil jalan yang sesak, kita harus membedakan siapa nabi palsu (ay. 15). Ini berarti bahwa pada jalan yang sesak kita harus waspada terhadap setiap macam kepalsuan. Tentang nabi-nabi yang palsu Tuhan berkata, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (ayat 16). Kita mengenal seorang nabi bukan dari perkataannya, khotbahnya, atau pekerjaannya, melainkan dari buahnya. Seorang pembicara yang fasih dengan kata-kata yang membujuk dapat menyesatkan banyak orang. Janganlah mendengarkan kata-kata yang fasih atau kata-kata yang membujuk. Sebaliknya, tunggu dan lihatlah buah macam apa yang dihasilkan. Inilah cara untuk membedakan seorang nabi benar atau palsu. Gereja terus maju, dan kesaksian Tuhan tersebar luas ke seluruh dunia. Sebab pintu terbuka lebar, maka beberapa orang yang mengaku diri sebagai nabi mencoba masuk, menyatakan bahwa mereka mengetahui beberapa perkara dan dapat melakukan banyak pekerjaan. Biarlah mereka mengatakan semau mereka, sebab kita akan memandang kepada Tuhan untuk membuktikan mereka dari buah mereka. Kita perlu menerapkan prinsip ini pada setiap perkara demikian. Jangan mendengarkan perkataan yang membujuk, tetapi lihatlah buahnya. Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, tetapi pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik pula. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api (7:17-19).

Ayat 21 bukan menunjukkan realitas Kerajaan Surga hari ini, melainkan manifestasi kerajaan yang akan datang. Untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, kita perlu melakukan dua hal: menyeru nama Tuhan dan melakukan kehendak Bapa yang di surga. Menyeru nama Tuhan melayakkan kita untuk diselamatkan (Rm. 10:13), tetapi untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, kita juga perlu melakukan kehendak Bapa yang di surga. Karena masuk ke dalam Kerajaan Surga menuntut kita melakukan kehendak Bapa surgawi, hal ini jelas berbeda dengan masuk ke dalam Kerajaan Allah melalui kelahiran kembali (Yoh. 3:3, 5). Masuk Kerajaan Allah diperoleh melalui dilahirkan dari hayat ilahi; masuk Kerajaan Surga diperoleh melalui memperhidupkan hayat itu.

Dalam bagian yang terakhir dari konstitusi dasar ini, bukan lagi masalah negatif untuk menanggulangi temperamen, hawa nafsu, ego (diri), daging, dan kekhawatiran kita; melainkan mutlak adalah suatu perkara positif dalam melakukan kehendak Bapa yang di surga. Umat kerajaan tidak untuk yang lain, melainkan untuk melakukan kehendak Bapa. Untuk melakukan kehendak Bapa, kita perlu berjalan pada jalan yang sesak. Dalam ajaran-ajaran ahli filsafat dunia, tidak ada hayat ilahi dan sifat ilahi, juga tidak ada jalan ilahi. Tetapi di sini, kesimpulan akhir konstitusi dasar Kerajaan Surga ini ialah kehendak Bapa yang di surga. Ini menunjukkan bahwa kita mempunyai seorang Bapa yang di Surga dan kita adalah anak-anak Bapa. Namun, bagian akhir konstitusi dasar ini tidak hanya menyinggung masalah hayat, tetapi juga masalah kehendak Bapa. Bapa kita mempunyai satu kehendak yang harus dirampungkan, dan kita dapat merampungkan-Nya hanya oleh hayat-Nya. Kita perlu hidup di dalam hayat dan berdasarkan hayat Bapa yang di surga. Kehidupan semacam ini adalah untuk melakukan kehendak Bapa.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 24

25 December 2017

Matius - Minggu 13 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 7:12-29
Doa baca: Mat. 7:13
Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya.


Konstitusi Kerajaan Surga mula-mula mewahyukan hakiki umat kerajaan, seperti yang tersirat dalam sembilan berkat dalam 5:3-12. Bagian yang kedua mengungkapkan pengaruh umat kerajaan atas dunia, dan ketiga mengenai hukum Taurat Kerajaan Surga. Mulai dari pasal 6, konstitusi dasar Kerajaan Surga melanjutkan membicarakan cara umat kerajaan melaksanakan perbuatan benar mereka. Bagian selanjutnya memberi tahu kita bahwa umat kerajaan hendaklah hidup di bumi tanpa kekhawatiran apa pun. Dalam 7:1-12, konstitusi ini menunjukkan sikap yang harus kita miliki terhadap orang lain, bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan bagaimana kita harus memperhatikan kepentingan mereka. Namun, masih ada satu perkara yang perlu disinggung yaitu umat kerajaan berada di bumi untuk melakukan kehendak Allah Bapa. Dalam bagian ini kita membaca perihal masuk melalui pintu yang sempit dan jalan yang sesak (7:13-14). Kita nampak pula bahwa kita harus mendirikan rumah dan melakukan kehendak Bapa yang di surga (ayat 24-27, 21).

Siapakah yang dapat masuk melalui pintu yang sempit, yang disebutkan dalam ayat 13? Hanya umat kerajaan yang memiliki hakiki yang diuraikan dalam sembilan berkat yang disinggung dalam pasal 5. Orang yang masuk melalui pintu yang sempit adalah orang yang miskin dalam roh, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, berbelaskasihan, murni dalam hati, suka berdamai dengan semua orang, rela dianiaya demi kebenaran, dan mau dicela karena Kristus. Hanya mereka yang memiliki hakiki sedemikian yang bisa masuk melalui pintu yang sempit. Selain itu, orang yang masuk melalui pintu yang sempit haruslah orang yang melakukan hukum yang lebih tinggi dari kerajaan, hukum yang telah dilengkapi dan diubah, dan mereka tidak seharusnya mempunyai kekhawatiran apa pun tentang kehidupan mereka. Sebaliknya, mereka harus percaya bahwa Bapa Surgawi mereka akan memperhatikan mereka. Tambahan pula, mereka tidak boleh malas, kendur, melainkan harus rajin dan giat. Inilah orang-orang yang masuk melalui pintu yang sempit dan berjalan di atas jalan yang sesak.

Jalan ini sesak, terbatas di setiap sisi. Pintu itu sempit dan jalan itu sesak, sebab hukum Taurat baru kerajaan lebih ketat dan permintaan kerajaan lebih tinggi daripada hukum Taurat dan permintaan perjanjian yang lama. Pintu yang sempit bukan hanya menanggulangi perbuatan lahiriah, tetapi juga menanggulangi motivasi batiniah. Manusia lama, ego (diri), daging, konsepsi manusia, dan dunia dengan kemuliaannya, semuanya disingkirkan; hanya yang berhubungan dengan kehendak Allah baru dapat masuk. Umat kerajaan pertama-tama perlu masuk melalui pintu yang sempit, dan kemudian berjalan di jalan yang sesak. Masuk melalui pintu adalah memulai berjalan di jalan yang berlangsung seumur hidup. Setelah melalui keenam bagian konstitusi yang di depan, dalam bagian yang terakhir kita diantarkan ke pintu yang sempit dan kita berada pada jalan yang sesak.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 24

23 December 2017

Matius - Minggu 12 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 7:7-12
Doa baca: Mat. 7:12
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.


Untuk mengerti Matius 7:7-8 perlu pengalaman. Dengan membaca ayat-ayat ini berulang kali dalam terang pengalaman kita, kita dapat memahami bahwa ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kita harus menengadah kepada Bapa Surgawi kita ketika kita memperlakukan orang lain. Kita harus meminta, mencari, dan mengetuk. Sering kali kita tidak berbuat demikian. Namun, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ketika kita berkontak dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain, kita harus menengadah kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, beri tahukanlah kepadaku bagaimana berkontak dengan mereka. Tuhan, tunjukkanlah kepadaku bagaimana memperlakukan mereka.” Kadang kala hanya meminta saja tidaklah cukup. Kita harus mencari dan bahkan mengetuk. Ini menunjukkan bahwa berkontak dengan orang lain merupakan suatu masalah yang serius. Jangan mengira itu suatu perkara yang tidak bermakna. Kita, umat kerajaan harus menghadapi perkara ini dengan serius, jangan melakukannya dengan ringan, sembarangan atau semata-mata hanya menurut perasaan kita. Sebaliknya, kita harus memperlakukan orang lain dengan memperhatikannya. Kita harus minta satu jalan, mencari jalan, dan bahkan mengetuk pintu surgawi untuk mendapatkan satu jalan. Jadi, kita harus meminta, mencari, dan mengetuk agar kita mempunyai jalan yang tepat untuk berkontak dengan orang-orang.

Dalam Matius, jalan yang tepat untuk berkontak dengan orang ialah menurut prinsip kerajaan. Karena Matius ialah kitab berdasarkan kerajaan, tidak diragukan bahwa “pemberian yang baik” dalam ayat 11 adalah barang-barang kerajaan. Namun, dalam Lukas 11:13 “memberikan yang baik” diganti dengan “Roh Kudus”. Jika kita menaruh dua ayat ini bersama, kita akan nampak bahwa jalan yang paling baik bagi umat kerajaan untuk berkontak dengan orang lain ialah menurut kerajaan dan menurut Roh Kudus. Baik kerajaan maupun Roh Kudus adalah jalan untuk berkontak dengan orang. Hikmat yang kita perlukan secara tepat untuk berkontak dengan orang lain berasal dari kerajaan dan Roh. Ketika kita berhubungan dengan orang lain, kita harus meminta, mencari, dan mengetuk. Pada akhirnya, kita akan menerima pimpinan untuk berhubungan dengan orang menurut kerajaan dan menurut Roh. Jadi, prinsip pengendalian untuk hubungan kita dengan orang lain ialah kerajaan dan Roh. Jika hubungan kita dengan orang lain berdasarkan prinsip ini, kita tidak akan keliru.

Meminta adalah berdoa secara umum, mencari adalah memohon secara khusus, dan mengetuk adalah meminta dengan cara yang paling akrab dan paling sungguh-sungguh. Meminta dan menerima dalam ayat 8 bersesuaian dengan doa umat kerajaan bagi pemeliharaan hukum Taurat baru kerajaan. Dengan doa sedemikian, mereka akan menerima. Mencari dan menemukan adalah bersesuaian dengan 6:33. Umat kerajaan yang mencari Kerajaan Bapa dan kebenaran-Nya akan menemukan keduanya. Mengetuk dan pintu akan dibukakan bersesuaian dengan 7:14. Pintu yang sempit akan dibukakan bagi umat kerajaan karena ketukan mereka.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 23

22 December 2017

Matius - Minggu 12 Jumat

Pembacaan Alkitab: Mat. 7:3-6
Doa baca: Mat. 7:6
Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.


Sebagai umat kerajaan, yang hidup di dalam roh yang rendah hati di bawah pemerintahan surgawi kerajaan, kita harus mengetahui (memikirkan) balok di mata kita sendiri, ketika kita melihat serpihan kayu di mata saudara kita (ay. 3). Serpihan kayu di mata saudara kita seharusnya mengingatkan kita kepada balok di mata kita sendiri. Asalkan balok mata itu masih berada di mata kita, pandangan kita kabur dan kita tidak akan nampak jelas. Dalam hal menunjukkan kesalahan saudara, kita harus menyadari bahwa kita mempunyai kesalahan yang lebih besar. Kesalahan saudara kita diibaratkan seperti serpihan dan kesalahan kita seperti balok. Jadi, sekali lagi saya katakan, maksud Tuhan ialah agar kita memperhatikan orang lain. Setiap kali Anda mencoba menunjukkan kesalahan seseorang, Anda mungkin hanya memperhatikan kesalahannya, namun tidak memperhatikan orangnya. Jika Anda menjadikan kesalahan orang lain sebesar balok, itu menunjukkan bahwa Anda hanya memperhatikan kesalahannya, bukan memperhatikan orangnya. Jika Anda memperhatikan saudara, Anda tidak akan hanya memperhatikan kesalahannya, sebaliknya Anda akan mengatakan, “Kesalahannya hanyalah serpihan kayu jika dibandingkan dengan kesalahanku yang sebesar balok. Karena itu aku senang melupakan kesalahannya.”

Matius 7:6 juga bersangkutan dengan hal memperhatikan orang lain. Sering kali ketika Anda nampak sesuatu kebenaran, doktrin, atau terang, Anda memberi tahu orang lain tanpa mengindahkan apakah mereka itu “anjing”, “domba”, atau “serigala”. Anda hanya memperhatikan perasaan senang Anda. Anda mungkin mengatakan, “Oh, aku telah nampak terang mengenai hidup gereja! Gereja adalah mulia dan ajaib!” Dalam kegirangan Anda, mungkin Anda membagikan nikmat ini kepada orang yang tidak layak menerimanya. Inilah arti memberikan barang yang kudus kepada anjing. Jika Anda hendak memberikan sesuatu yang kudus kepada orang lain, Anda harus memikirkan orang tersebut. Jangan memberikan barang yang kudus kepada anjing, atau melemparkan mutiara di depan babi. Jika Anda berbicara kepada orang lain tentang sesuatu yang kudus, kebenaran, mutiara, atau pengalaman-pengalaman, Anda harus memperhatikan prinsip dasar mengenai memperhatikan orang lain. Anda harus memastikan apakah orang itu dapat (layak) menerima apa yang Anda ingin bagikan. Anda pun harus mengerti berapa banyak mereka mampu menerimanya. Dengan perkataan lain, ketika Anda berbicara kepada orang lain tentang hal-hal rohani, jangan berbicara menurut perasaan atau kesenangan Anda, melainkan berbicara kepada mereka sesuai dengan kapasitas mereka untuk menerima apa yang harus Anda katakan.

Umat kerajaan seharusnya merupakan umat yang paling berhikmat. Ketika kita berkontak dengan orang lain, kita harus mengetahui temperatur mereka, juga memperhatikan situasi mereka. Kita harus berbuat dengan tepat, agar tidak menyebabkan anjing-anjing menggigit kita atau babi-babi menyerang kita. Jika tidak, bisa jadi mereka berpaling dan merobek-robek kita.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 23