Hitstat

20 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 4 Rabu

Mengalirkan air untuk membagikan hayat (2)
Yohanes 12:24
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

Ayat Bacaan: Yoh. 12:24; 4:14; Why. 22:1

Air yang keluar dari rusuk-Nya melambangkan aspek penyaluran hayat dari kematian Kristus (Yoh. 12:24). Air adalah untuk penyaluran hayat (Yoh. 4:14, Why. 22:1). Kalau darah membentuk sebuah sumber untuk mencuci dosa-dosa, air menjadi sebuah sumber untuk diminum. Darah itu untuk membeli gereja, sedangkan air yang melambangkan hayat kekal itu untuk menghasilkan gereja. Aspek kedua dari kematian Tuhan ini adalah kematian yang membebaskan hayat, mengembangbiakkan hayat dan melipatgandakan hayat, juga adalah kematian yang melahirkan dan mereproduksi hayat.
Sewaktu Tuhan Yesus berkata bahwa Ia adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke tanah; mati sehingga menghasilkan banyak butir biji gandum (Yoh. 12:24), Dia menunjukkan aspek penyaluran hayat dari kematian-Nya. Kematian dari sebutir biji gandum ini bukanlah untuk penebusan, melainkan mutlak untuk penyaluran hayat yang ada dalam gandum pertama kepada banyak butir biji gandum. Di pihak negatif, kematian Kristus menyingkirkan dosa-dosa kita, dan di pihak positif, menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita.
Pada hari ini, begitu kita percaya kepada-Nya, dosa-dosa kita disingkirkan oleh kematian-Nya yang menebus dan hayat yang kekal disalurkan kepada kita oleh kematian-Nya yang menyalurkan hayat. Kematian yang menyalurkan hayat ini juga merupakan kematian yang membebaskan hayat, mengembang-biakkan hayat dan melipatgandakan hayat. Inilah kematian yang melahirkan dan mereproduksi hayat. Sebutir biji gandum, meski hayatnya terkurung dalam biji gandum itu namun ia penuh dengan kuasa kebangkitan.
Kematian Tuhan adalah kematian yang membebaskan hayat; bagi kita, itulah kematian yang menyalurkan hayat. Tidak hanya demikian, kematian-Nya juga mengembangbiakkan hayat, menyebabkan pelipatgandaan hayat. Kematian juga mereproduksi hayat, karena sebutir biji gandum telah direproduksi menjadi banyak butir biji gandum. Betapa perlunya kita terkesan oleh aspek-aspek yang ajaib dari kematian Kristus yang almuhit ini. Karena kematian-Nya yang almuhit inilah yang membawa kita berbagian dengan hayat kekal-Nya. Kini Dialah sumber kita yang sejati, kita adalah reproduksi hayat-Nya. Haleluya!

19 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 4 Selasa

Mengalirkan air untuk membagikan hayat (1)
Yohanes 10:10
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hayat, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Tl.)

Ayat Bacaan: Yoh. 10:10; 19:34; Mat. 27:45-46, 51; Mrk. 15:33; Luk. 23:44-45, 34; Kej. 2:21-23

Dalam Matius 27:45, 51, Markus 15:33, dan Lukas 23:44-45, kegelapan, simbol dari dosa muncul, juga tabir dalam Bait Suci yang memisahkan Allah dengan manusia terbelah. Semua itu adalah tanda aspek penebusan dari kematian Tuhan. Selanjutnya, kata-kata yang diucapkan Tuhan di salib dalam Lukas 23:34, “Ya Bapa, ampunilah mereka”, dan dalam Matius 27:46, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (karena saat itu Dia menanggung dosa-dosa kita). Perkataan ini juga menggambarkan aspek penebusan dari kematian Tuhan. Tetapi air yang mengalir dan tulang yang tidak diremukkan yang disebutkan oleh Yohanes dalam pasal 19:34 dan 36 ialah tanda aspek penyaluran hayat dari kematian Tuhan.
Kematian yang menyalurkan hayat ini membebaskan hayat ilahi Tuhan dari dalam diri-Nya untuk menghasilkan gereja, yaitu yang tersusun dari semua orang beriman-Nya yang ke dalam mereka hayat ilahi-Nya disalurkan. Kematian Tuhan yang menyalurkan hayat ini dilambangkan dengan tertidurnya Adam yang menghasilkan Hawa (Kej. 2:21-23), juga ditandai dengan jatuhnya sebutir biji gandum ke dalam tanah dan mati untuk menghasilkan banyak butir (Yoh. 12:24) untuk dijadikan satu roti – yang melambangkan Tubuh Kristus (1 Kor. 10:17). Jadi, kematian Tuhan juga adalah kematian yang mengembangbiakkan hayat, melipatgandakan hayat, kematian yang menghasilkan dan mereproduksi hayat.
Alkitab memperlihatkan kepada kita, tujuan Allah yang kekal adalah di dalam Anak-Nya, Tuhan Yesus, memberikan hayat kepada manusia. Sebab itu, Dia menaruh hayat-Nya di dalam Tuhan Yesus, menyuruh Tuhan Yesus ke bumi, supaya orang mendapatkan hayat-Nya (Yoh. 1:4; 10:10). Supaya orang bisa mendapatkan hayat Allah yang ada di dalam-Nya, Tuhan Yesus harus mati, tubuh-Nya harus terbelah, untuk melepaskan hayat Allah yang ada di dalam-Nya. Melalui kematian-Nya, Tuhan membagikan hayat Allah yang ada di dalam-Nya kepada kita. Inilah tujuan utama Dia menyerahkan diri mati di atas salib. Karena hal inilah, kita harus senantiasa memberitakan apa yang telah Tuhan lakukan bagi kita kepada semua orang.

18 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 4 Senin

Mengalirkan darah untuk penebusan (2)
Ibrani 9:22
Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah,dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

Ayat Bacaan: Ibr. 9:22; 10:1-18; 1 Ptr. 3:18; Rm. 8:3; Ibr. 9:26

Menurut Alkitab, keadilbenaran Allah menghendaki agar semua dosa dihakimi. Satu-satunya cara agar dosa dapat dihakimi secara adil-benar adalah melalui kematian. Ibrani 9:22 mengata-kan bahwa tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Agar Allah dapat menghakimi dan kemudian mengampuni dosa-dosa kita, maka harus ada penumpahan darah, yaitu perlu kematian. Cara penebusan apa pun yang tidak melibatkan kematian tidak dapat memenuhi tuntutan keadil-benaran Allah, semuanya berada di bawah standar Allah.
Dalam Perjanjian Lama, Allah menghendaki kematian binatang sebagai kurban. Ketika seseorang berdosa, dia harus mempersembahkan seekor anak domba atau seekor lembu jantan dan harus membunuh kurban itu barulah tuntutan keadilbenaran Allah dapat dipenuhi. Meskipun cara ini dapat membuat Allah melewatkan dosa-dosa manusia, tetapi tidak berarti merupakan penyelesaian akhir dari masalah dosa manusia. Dalam Perjanjian Baru, cara penyelesaian Allah atas masalah dosa adalah dengan mengirimkan Anak Tunggal-Nya, Yesus Kristus, sebagai kurban yang unik untuk menggantikan semua kurban binatang dalam Perjanjian Lama (Ibr. 10:1-18). Dia membuat Yesus mati sebagai ganti seluruh umat manusia (1 Ptr. 3:18). Melalui melaksanakan penghakiman-Nya atas Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah, dosa manusia dihakimi, dan masalah dosa akhirnya terselesaikan untuk selamanya (Rm. 8:3; Ibr. 9:26).
Kristus adalah kurban yang sempurna dan kekal. Tidak ada lagi yang dapat ditambahkan oleh manusia pada kurban ini untuk memperbaiki apa yang telah dilakukan oleh Allah. Itulah sebabnya, dalam Perjanjian Baru manusia tidak perlu melakukan perbuatan baik untuk menyelamatkan dirinya karena Allah telah mengerjakan semuanya untuk manusia. Sangatlah bodoh jika manusia mencoba menyalibkan dirinya sekali lagi atau meniru penderitaan Kristus. Tidak ada yang dapat ditambahkan pada apa yang telah dirampungkan oleh Allah di dalam Kristus. Penebusan adalah suatu tindakan di hadapan Allah dan hal itu telah memuaskan Allah.

17 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 4 Minggu

Mengalirkan darah untuk penebusan (1)
Yohanes 19:34
Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

Ayat Bacaan: Yoh. 19:34; 1:29; Ibr. 9:22; Kis. 20:28; Yoh. 12:24; 3:14-15; Ibr. 9:14

Pemikiran dalam Injil Yohanes, khususnya dalam pasal 18 dan 19, terutama dipusatkan pada Tuhan sebagai benih hayat, mati dan membebaskan diri-Nya melalui kematian dan kebangkitan. Dalam hal ini, sebutir biji gandum telah dilepaskan untuk menghasilkan banyak butir biji gandum. Pada mulanya hayat terbatas dalam sebutir biji gandum, tetapi kini melalui kematian dan kebangkitan, hayat Kristus telah dibebaskan, telah menghasilkan banyak butir biji gandum. Inilah pemikiran atas kematian Tuhan dalam Injil Yohanes.
Yohanes 19:34 mengatakan, “Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Dari lambung Tuhan yang ditusuk mengalir keluar dua macam unsur: darah dan air. Darah adalah untuk penebusan, berkaitan dengan menanggulangi dosa-dosa (Yoh. 1:29, Ibr. 9:22) untuk membeli gereja (Kis. 20:28). Air adalah untuk menyalurkan hayat, berkaitan dengan kematian (Yoh. 12:24, 3:14-15) untuk menghasilkan gereja (Ef. 5:29-31). Di aspek negatif, kematian Tuhan me-nyingkirkan dosa-dosa kita; di aspek positif, menyalurkan hayat ke dalam kita. Kita telah dipisahkan kepada Allah oleh darah penebusan Kristus (Ibr. 9:14). Tetapi kita tidak dapat nampak kuasa darah Kristus dalam kebanyakan orang Kristen dewasa ini.
Semua orang Kristen percaya bahwa diri mereka telah ditebus, namun dalam beberapa orang di antara mereka tidak ada tanda penebusan darah. Tanda darah ialah tanda pemisahan. Bila Anda telah ditebus oleh darah, Anda pun harus membawa tanda pemisahan. Mungkin orang lain boleh dengan bebas berkata atau berbuat sesuatu, namun Anda tidak dapat. Sekalipun Anda dapat melakukan perkara itu, tetapi Anda menahan diri untuk tidak melakukannya, karena Anda telah ditebus oleh darah. Pada Anda terdapat suatu tanda bahwa Anda berbeda dan terpisah. Kalau orang lain boleh menuturkan perkataan tertentu, mengunjungi tempat tertentu, dan membeli barang tertentu, kita tidak dapat, sebab kita telah dipisahkan dan membawa tanda darah penebusan. Darah ini telah menguduskan dan memisahkan kita.

16 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Sabtu

Yesus menyerahkan nyawa-Nya
Yohanes 19:30
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Ayat Bacaan: Yoh. 19:30; Mrk. 10:45; Luk. 19:10; Yoh. 10:10

Menurut Markus 10, Ia datang untuk melayani manusia bahkan sampai pada titik memberikan diri-Nya sebagai tebusan. Tujuan kedatangan-Nya adalah untuk melayani manusia. Dalam pelayanan-Nya kepada manusia, terdapat suatu keperluan bagi-Nya untuk memberikan diri-Nya sebagai tebusan, dan memang itulah yang dilakukan-Nya. Menjadi tebusan adalah tindakan-Nya yang tertinggi dan perampungan akhir dari pelayanan-Nya kepada manusia. Tuhan tidak mengatakan bahwa Anak Manusia hanya datang sebagai tebusan. Ia mengatakan Anak Manusia datang untuk “melayani”. Tujuannya adalah pelayanan. Ia tertarik pada manusia, dan Ia menganggap manusia mustika dan berharga untuk dikasihi dan dilayani. Ia melayani manusia se- demikian rupa sampai Ia memenuhi keperluan mereka melalui menjadi juru-selamat mereka. Inilah sebabnya Ia memberikan diri-Nya sebagai tebusan.
Tuhan Yesus lebih dahulu mengasihi dan melayani manusia, dan kemudian Ia memberikan diri-Nya kepada mereka. Pertama-tama adalah kasih; pengor-banan hidup datang selanjutnya. Ketika kita bekerja di antara manusia, kita tidak dapat menginjil tentang pengorbanan Tuhan tanpa memiliki kasih yang tepat lebih dulu. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa kita dapat lebih dulu mengabarkan pengorbanan Tuhan baru kemudian mengasihi pendengarnya setelah ia menerima Tuhan.
Jika kita tidak memiliki minat terhadap manusia dan tidak menganggapnya mustika, dan jika kita tidak memiliki kesadaran bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Allah yang terkasih, kita tidak dapat menginjil tentang pengor-banan. Jika kita belum penah dijamah oleh kata-kata Allah menciptakan ma-nusia atau hanya memiliki sedikit sekali perasaan terhadap hal ini, kita tidak cocok untuk mengabarkan pengorbanan Kristus. Kita tidak dapat menahan kasih kita sampai mereka menerima Tuhan atau sampai mereka menjadi saudara-saudara kita. Tuhan kita lebih dahulu melayani dan membelaskasihani orang lain sebelum memberikan diri-Nya sebagai tebusan. Kita yang yang memberitakan tentang penebusan-Nya seharusnya juga mengasihi lebih dahulu baru kemudian memberitakan penebusan.

15 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Jumat

Yesus berkata: sudah selesai!
Yohanes 19:30
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Ayat Bacaan: Yoh. 5:17,30; Kol. 1:14 ; 1 Yoh. 2:2; Rm. 5:11; Rm. 5:10; Kol. 1:20; 2 Kor. 5:18-19

Tuhan bekerja terus hingga Ia disalibkan (5:17). Tetapi bahkan ketika saat penyaliban-Nya, Tuhan masih terus bekerja. Bagaimanakah kita bisa mengetahui bahwa di atas salib Ia masih terus bekerja? Karena sebelum mati Ia berseru, “Sudah selesai!” Sewaktu Ia disalibkan, Ia masih bekerja untuk penebusan orang-orang berdosa, untuk menghancurkan ular, untuk membebaskan hayat ilahi, dan untuk menggenapkan kehendak kekal Allah. Pada detik yang terakhir, setelah segala sesuatunya digenapi, Ia memprokla-mirkan kepada alam semesta, “Sudah selesai!” Kemudian Ia mati dan masuk ke dalam perhentian. Terpujilah Tuhan Yesus! Hanya Dialah yang dapat me-lakukan hal ini. Melalui penyaliban-Nya, Ia menyelesaikan pekerjaan kematian almuhit-Nya, yang dengannya Ia merampungkan penebusan, mengakhiri ciptaan lama, dan membebaskan hayat kebangkitan-Nya untuk menghasilkan ciptaan baru, merampungkan kehendak Allah.
Dalam proses kematian-Nya, dengan tindakan-Nya Dia membuktikan kepada penentang-Nya dan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya bahwa Dia adalah hayat. Lingkungan kematian yang mengerikan sedikit pun tidak me-nakutkan Dia, malahan membentuk satu kontradiksi yang membuktikan dengan kuat bahwa Ia sebagai hayat berlawan dengan maut, sedikit pun tidak ter-pengaruh oleh maut. Karena itu, pekerjaan yang Tuhan nyatakan selesai di sini meliputi menggenapkan penebusan, mengakhiri ciptaan lama, membebas-kan hayat kebangkitan-Nya, dan menyatakan bahwa Dia adalah hayat yang tidak bisa dipengaruhi oleh maut.
Karena itu sejak kini, “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm. 8:1). Itulah yang digenapkan-Nya bagi kita, dan itulah kedudukan kita dalam pandangan hukum Taurat. “Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa” (Rm. 6:7). Kita telah mati di dalam Tuhan Yesus, inilah kedudukan kita. Kini kita perlu pekerjaan Roh Kudus untuk merealisasikan fakta itu, agar fakta itu menjadi pengalaman kita. Salib menanggung hukuman bagi orang dosa, menetapkan nilai orang dosa, mematikan seluruh orang dosa, dan melepaskan hayat Tuhan Yesus.

14 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Kamis

Diejek dengan anggur asam
Yohanes 19:29
Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.

Ayat Bacaan: Yoh. 19:29; Luk. 23:36; Luk. 16:24, Why. 21:8; Ibr. 2:9

Pada awal penyaliban-Nya, anggur yang dicampur dengan empedu diberikan kepada Tuhan sebagai minuman atau tegukan yang memabukkan, karenanya Ia tak mau meminumnya. Tetapi pada akhir penyaliban-Nya, ketika Ia merasa haus, anggur asam diberikan kepada Dia dengan cara mengolok-olokkan-Nya (Luk. 23:36). Haus adalah suatu perasaan terhadap maut (Luk. 16:24; Why. 21:8). Di atas salib Tuhan Yesus mengecap maut bagi kita (Ibr. 2:9). Dalam penyaliban-Nya, pakaian dan minuman yang menjadi hak-Nya dirampok bersamaan dengan hayat-Nya.
Karena manusia harus menerima hukuman, maka Putra Allah, Yesus Kristus yang telah menjadi manusia, telah menerima hukuman yang harus diterima oleh manusia. Manusia berbuat dosa melalui tubuh. Tubuhlah yang membuat orang melakukan dosa, dan tubuh senang akan dosa. Karena itu tubuh manusia harus menerima hukuman. Siapakah yang dapat memahami sepenuhnya penderitaan yang diderita tubuh Tuhan Yesus di atas salib?
“Mereka menusuk tangan dan kakiku” (Mzm. 22:17). Nabi mengatakan bahwa Ia akan disebut “yang telah mereka tikam” (Za. 12:10). Tangan, kaki, dahi, rusuk, dan hati-Nya pernah ditikam orang, yaitu tertikam oleh dan untuk insani kita yang berdosa. Pada saat itu, karena luka-luka-Nya dan karena tubuh-Nya tergantung di atas salib, tanpa penopang, aliran darah dalam tubuh-Nya tidak bisa normal, menyebabkan suhu tubuh-Nya sangat tinggi, dan mulut-Nya terasa sangat haus, sehingga Ia berseru, “Lidahku melekat pada langit-langit mulutku” (Mzm. 22:16), “...aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam” (Mzm. 69:22). Tangan suka berbuat dosa, maka tangan harus dipaku; mulut suka berbuat dosa, maka mulut harus menderita; kaki suka berbuat dosa, maka kaki harus dipaku; kepala (otak) suka berbuat dosa, maka kepala harus mengenakan mahkota duri. Hukuman yang seharusnya dijatuhkan ke atas tubuh manusia, semua telah dilaksanakan di atas tubuh-Nya. Kristus telah menerima hukuman karena dosa manusia, maka semua orang yang percaya kepada-Nya dihitung telah menerima hukuman; karena itu setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak akan dihukum.

13 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Rabu

Ibu, inilah, anakmu!
Yohanes 19:26-27
Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!”

Ayat Bacaan: Yoh. 19:26-27; Luk. 23:34, 43, 46; Mat. 27:46

Sewaktu Tuhan di atas kayu salib, Ia mengucapkan tujuh buah perkataan. Pertama, Tuhan mengucapkan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:3); kedua, “Hari ini juga Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43); ketiga, menunjuk kepada murid-Nya, Yohanes, Tuhan berkata kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu” (Yoh. 19:26). Kemudian Ia berkata kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!“ (Yoh. 19:27). Ketiga perkataan ini diucapkan selama tiga jam pertama penyaliban Tuhan. Perkataan keempat; “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Perkataan kelima: “Aku haus!” (Yoh. 19:28); keenam: “Sudah selesai” (Yoh. 19:30); dan ketujuh: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46).
Sewaktu disalibkan, Yesus melihat ibu-Nya dan “murid yang dikasihi-Nya berada di samping-Nya lalu berkatalah Dia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian Ia berkata kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!”. Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yoh. 19:26-27). Perkataan ini menyatakan kesatuan hayat, karena mempersaksikan bahwa Tuhan adalah hayat yang disalurkan ke dalam kaum beriman. Oleh hayat ini, murid yang dikasihi-Nya bisa menjadi satu dengan-Nya , menjadi anak dari ibu-Nya, dan ibu-Nya menjadi ibu dari murid yang dikasihi-Nya.
Melalui pengalihan hayat ini, salah seorang dari murid-murid-Nya dapat menjadi putra ibu-Nya, dan ibu-Nya dapat menjadi ibu murid ini. Ini bukan menunjukkan keselamatan, melainkan pengalihan hayat. Tuhan Yesus mati untuk membebaskan hayat dan menyalurkan diri-Nya sebagai hayat ke dalam murid-murid, yaitu menjadikan semua murid sama dengan Dia. Dengan sen-dirinya, semua murid adalah putra-putra ibu-Nya. Kematian adalah permulaan kebangkitan. Setiap kali kita memasuki kematian, kita harus tahu bahwa kita berada di ambang pintu kebangkitan. Allah yang hidup adalah kebangkitan. Kita hidup bersandar Allah yang hidup, bukan hidup bersandar diri kita sendiri. Kesatuan kita dengan-Nya dalam hayat membuat kita dapat bersekutu akrab dan mesra dengan Dia.

12 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Selasa

Para prajurit mengundi jubah-Nya
Yohanes 19:23a
Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian—dan jubah-Nya juga mereka ambil.

Ayat Bacaan: Yoh. 1:29; 19:23-24; 1 Yoh. 2:2; 1 Ptr. 3:18.

Ketika mereka selesai menyalibkan Yesus, mereka mengambil jubah-Nya dan membagikan masing-masing satu bagian untuk satu prajurit. Karena jubah-Nya tidak berjahit, maka mereka membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya (Yoh. 19:23-24). Ini bukan kehendak prajurit-prajurit itu sendiri, melainkan berasal dari pengaturan Allah. Hal ini terjadi supaya nubuat dalam Mazmur 22:19 tergenapi. Melalui ini, kita mengetahui bahwa kematian Tuhan adalah rencana yang telah diatur. Jika Allah tidak mempunyai rencana ini, tidak seorang pun dapat menyerahkan hayat Tuhan kepada maut. Semuanya untuk membuktikan bahwa kematian Tuhan bukan karena kehendak manusia, melainkan karena pengaturan Allah.
Setelah hidup tiga puluh tiga setengah tahun di bumi, Kristus mati. Kematian-Nya merupakan kematian yang luar biasa. Kematian-Nya berbeda dengan kematian manusia-manusia lain di muka bumi ini. Pertama, menubuatkan kematian-Nya sebelum saatnya tiba. Kedua, dinubuatkan oleh para nabi beratus-ratus tahun sebelumnya. Ketiga, dalam Perjanjian Lama telah diberikan tanda dalam bentuk lambang mengenai saat dan cara kematian Kristus. Keempat, ketika Kristus mati, Dia berkata, “Sudah selesai!” (Yoh.19:30). Kelima, merupakan peristiwa yang menggambarkan sifat adikodrati dari kematian-Nya. Keenam, Kristus mati sebagai Pengganti bagi semua orang dosa (1 Ptr. 3:18) dan memberikan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban untuk dosa seluruh dunia (Yoh. 1:29; 1 Yoh. 2:2).
Inilah gambaran yang hidup mengenai cara kematian Mesias. Ketika Kristus tergantung di atas salib, kedua tangan dan kaki-Nya benar-benar ditusuk. Proses dehidrasi yang terjadi dikarenakan mengalirnya darah dan air, tentu akan menyebabkan lidah-Nya melekat pada langit-langit mulut-Nya dan tulang-tulang-Nya menonjol. Jiwa dan raga-Nya bahkan semua yang ada pada-Nya telah diserahkan-Nya bagi kita. Jika kita senantiasa mengingat kematian Tuhan yang sedemikian, sepatutnyalah kita semakin mengasihi Dia dengan kasih yang senantiasa membara terhadap-Nya. Penebusan darah-Nya dan pengaliran hayat-Nya menyuplai dan menyegarkan kita selamanya.

11 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Senin

Dibunuh oleh manusia
Yohanes 19:20
Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.

Ayat Bacaan: Yoh. 19:19-22; Luk. 2:1-3; Luk. 2:4-7; Mi. 5:2; Yoh. 1:45-46

Jika Yesus hanya dibunuh oleh manusia, Ia dapat menolong diri-Nya sendiri. Selama tiga puluh tiga setengah tahun di bumi, banyak orang berusaha mencelakai diri-Nya, namun Ia terluput dari mereka. Dia tidak dapat menolong diri-Nya sendiri dikarenakan di atas salib Dia tidak hanya diolok-olok dan dibunuh oleh manusia, lebih-lebih Dia menerima penolakan dan penghakiman Allah. Dia ditolak dan dihakimi Allah karena Dia menanggung dosa manusia. Karena Dia tidak dapat menolong diri-Nya sendiri, maka Dia menjadi pengganti kita, menjadi Juruselamat kita.
Menurut pengaturan Allah, Tuhan dibunuh oleh manusia yang diperankan oleh agama Yahudi, politik Romawi, dan kebudayaan Yunani (Yoh. 19:19-22). Di bawah pengaturan kedaulatan Allah, Kaisar Agustus mengadakan sensus yang pertama di wilayah Kekaisaran Romawi (Luk. 2:1-3 ). Melalui sensus itulah Kristus dilahirkan di Betlehem (Luk. 2:4-7) untuk menggenapi nubuat tentang kelahiran-Nya (Mi. 5:2). Dia tinggal di sana sejangka waktu. Kemudian, karena penganiayaan Herodes, Dia dibawa lari ke Mesir dan setelah itu Dia dibawa kembali ke tanah Israel. Karena Arkelaus menggantikan ayahnya, Herodes, memerintah atas Yudea, Kristus dibawa ke Nazaret, kota yang terhina di Galilea (Yoh. 1:45-46), dan dibesarkan di sana.
Yohanes 19:19 mengatakan, “Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya, “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.” Kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani (Yoh.19:20). Bahasa Ibrani mewakili agama Yahudi, Latin mewakili politik Romawi, dan Yunani mewakili kebudayaan Yunani. Bila ditambahkan bersama-sama, maka jumlah ketiganya ini mewakili seluruh umat manusia di dunia. Apa yang ditulis oleh Pilatus bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan di bawah kedaulatan Allah. Ini menyatakan bahwa Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah dibunuh oleh umat manusia, dan untuk semua manusia. Lihatlah, Tuhan kita telah mati untuk semua orang termasuk untuk semua orang yang telah menyalibkan Dia. Kasih-Nya benar-benar tak terbatas dan Dia tidak menyisakan sedikitpun bagi diri-Nya sendiri. Inilah kasih sejati.

10 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Minggu

Diserahkan untuk disalibkan
Yoh.19:17
Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.

Ayat Bacaan: 1 Kor. 1:24; Rm. 8:33 34; Why. 12:10, Flp. 3:10; Kol. 3:3; Yoh. 19:17-37; Luk 23:32-33

Kristus yang disalibkan, adalah hikmat Allah (1 Kor. 1:24). Kristus tersalib agar seluruh alam semesta hening, bahkan agar kondisi alam semesta berubah menjadi murni (Rm. 8:33, 34; Why. 12:10). Hanya Kristus tersalib sebagai kekuatan dan hikmat Allah. Salib adalah pintu dan jalan memasuki segala kekayaan Kristus; kekayaan ini meliputi kebangkitan dan kenaikan-Nya (Flp. 3:10; Kol. 3:3). Kristus yang tersalib sebagai hikmat Allah, juga rencana Allah yang ditetapkan seturut dengan perkenan-Nya, bahkan seturut dengan cara Allah merampungkan kehendak-Nya.
Tuhan Sang sempurna itu, diperiksa dan dijatuhi hukuman di dalam ketidakadilan manusia. Hukuman yang tidak adil ini menunjukkan kebutaan agama dan kegelapan politik. Kaum agamawan Yahudi menolak Sang teradil dan memilih seorang perampok. Pilatus mengetahui dan menyatakan bahwa Tuhan Yesus tidak bersalah, namun dia tetap menghukum-Nya mati untuk menyenangkan orang Yahudi. Agama dan politik bekerja sama dan menjatuhkan hukuman yang tidak adil kepada Kristus.
Dalam proses untuk pelipatgandaan-Nya, Tuhan Yesus di bawah pengaturan Allah dicobai oleh maut (Yoh. 19:17-37). Setelah dijatuhi hukuman dengan tidak adil, Ia disalibkan di Golgota, dalam bahasa Latin adalah Calvary, berarti Tempat Tengkorak. Yohanes 19:17 mengatakan, ”Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak.” Tempat di mana Ia disalibkan itu menunjukkan sesuatu yang nista dan memalukan.
Orang-orang menyalibkan Kristus berencana menguburkan Dia bersama dua orang fasik, yaitu orang-orang jahat (Luk. 23:32-33). Akhirnya, Allah di dalam kedaulatan-Nya membuat Kristus dikuburkan di dalam kuburan orang kaya (Mat. 27:57-60). Di Golgota, “mereka menyalibkan Dia. Bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah menyebelah, sedangkan Yesus di tengah-tengah.” Nubuat dalam Yesaya 53:12 mengatakan bahwa Mesias akan “terhitung di antara pemberontak-pemberontak”. Ia bukan hanya ditaruh dalam maut tempat nista dan memalukan, tetapi juga digolongkan dalam barisan pemberontak, dan diperlakukan sebagai seorang pemberontak.

09 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 2 Sabtu

Puncak penolakan
Yohanes 19:15
Maka berteriaklah mereka: “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!” Kata Pilatus kepada mereka: “Haruskah aku menyalibkan rajamu?” Jawab imam-imam kepala: “Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!”

Ayat Bacaan: Yoh. 19:15; 8:23; 18:36; Luk. 23:18-24; Ul. 22:24

Pada zaman dahulu bentuk hukuman mati bagi orang Yahudi ialah dirajam dengan batu sampai mati (Ul. 22:24). Kira-kira enam puluh tahun sebelum Tuhan dilahirkan, bangsa Yahudi dijajah oleh Roma. Sebelum Tuhan dijatuhi hukuman mati dengan kayu salib oleh pemerintahan Roma, kekaisaran Roma sudah memberlakukan hukuman salib terhadap orang yang dinilai paling jahat. Demikianlah ketika orang Yahudi mencari akal membunuh Tuhan, mereka menyalibkan Dia dengan meminjam tangan pemerintahan Roma. Maka tergenaplah nubuat Allah dalam Ulangan 21:23, mengenai bagaimana Tuhan mati.
Dalam Yohanes 19:15 kita melihat bahwa orang-orang Yahudi begitu membenci Tuhan, meskipun Tuhan telah berulang-ulang kali memberitahukan kepada mereka bahwa Dia adalah Mesias, namun mereka tetap tidak mau menerima Dia. Di sini kita dapat melihat puncak penolakan dari orang-orang Yahudi. Pilatus telah berkata kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus, Raja mereka akan disalibkan, namun demikian mereka tidak mengakui bahwa Dia adalah Raja orang Yahudi. Malahan mereka menolak Dia yang tidak bersalah itu dan berteriak supaya Dia disalibkan (Luk. 23:18-24).
“Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini (Yoh. 8:23).” Ayat ini memberi tahu kita alasan Tuhan ditolak. Dia ditolak karena Dia bukan dari bawah (dunia). Hari ini kita pun bukan lagi berasal dari dunia ini tetapi berasal dari atas (Allah). Karena itu jika dunia hari ini membenci kita itu sudah wajar.
Ada sebuah kisah seorang hamba Tuhan, karena tidak mau menyangkal imannya maka dia difitnah sebagai musuh negara. Mereka menaruh hamba Tuhan ini di tengah lapangan, memakai puluhan ribu massa yang kebanyakan tidak percaya kepada Tuhan untuk menggugatnya. Di atas mimbar ada orang yang berteriak, “Apakah dia patut mati?” Di bawah mimbar segera bereaksi, “Dia patut mati!” Menghadapi hal ini hamba Tuhan ini tetap teguh dan dia ingat bahwa Tuhan juga mengalami hal yang sama. Inilah jalan salib yang telah Tuhan tempuh bagi kita.

08 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 2 Jumat

Siapakah yang lebih berkuasa
Yohanes 19:11
Yesus menjawab: “Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.”

Ayat Bacaan: Yoh. 19:11; 20:22-23; Mat 16:19

Dalam rincian pasal 19 ini, kita melihat bahwa mulai dari waktu Pilatus menyesah Tuhan Yesus sampai Dia berhenti bernafas dan menyerahkan roh-Nya, ada suatu proses yang terjadi. Sementara Dia melalui proses ini, Tuhan bersikap secara khusus. Tingkah laku-Nya dalam melewati proses kematian yang menakutkan itu adalah sebuah tanda bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup (Yoh. 11:25).
Tuhan mengatakan hal ini kepada Marta dalam bentuk kata kerja masa kini (present tense). Bahkan sebelum Dia bangkit dari antara orang mati, Dia adalah kebangkitan dan hidup. Dia yang melewati proses kematian ini adalah seorang persona, yaitu kebangkitan dan hidup. Fakta bahwa Tuhan Yesus tidak memiliki rasa takut terhadap kematian adalah sebuah petunjuk bahwa Dia melewati proses kematian sebagai kebangkitan dan hidup. Jika Dia takut kematian, maka Dia bukanlah kebangkitan dan hidup. Karena Tuhan adalah kebangkitan dan hidup, maka dalam tingkah laku-Nya tidak terdapat rasa takut terhadap kematian.
Menurut Yohanes 19:7, orang Yahudi berkata kepada Pilatus bahwa menurut hukum mereka Tuhan Yesus pantas untuk mati karena Dia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah. Ketika Pilatus mendengar perkataan ini, dia menjadi takut dan bertanya dari manakah Tuhan berasal (ay. 8-9). Pemerintah Romawi dikenal percaya takhayul dan takut akan berbagai macam ilah dan roh. Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya (ay. 9). Pilatus kemudian berkata kepada Tuhan, “Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?” (ay. 10). Di sini Pilatus sedang mengancam Tuhan dengan kematian. Tetapi tanpa rasa takut terhadap ancaman kematian ini, Tuhan menjawab, “Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.” (ay. 11). Di sini kita melihat bahwa karena Tuhan adalah kebangkitan dan hidup, Dia berani dalam menghadapi ancaman kematian dan sama sekali tidak takut menyinggung Pilatus.

07 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 2 Kamis

Satu-satunya alasan kematian-Nya
Yohanes 19:7
Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: “Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah.”

Ayat Bacaan: Yoh. 19:7; Luk. 22:70; Mat.10:32

Jika kita ingin mengenal siapakah Yesus itu, dan benarkah Dia adalah Anak Allah, jalan yang terbaik adalah melihat pengakuan-Nya sendiri. Lukas 22:70 berkata, “Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah”. Cobalah kita pikirkan, andaikata sekarang ada orang yang bertanya kepada kita, “Engkau Anak Allah?” Lalu kita berkata, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.” Apa reaksi orang itu? Mereka pasti segera menjauhkan diri dan mengatakan, “Anda sudah gila, berani mengaku sebagai Anak Allah.”
Namun Yesus telah berulang kali menyebut diri-Nya Anak Allah. Pengakuan-Nya itu dalam Injil Matius terdapat 43 kali, dan dalam Injil Yohanes terdapat 114 kali. Dia menyebut Allah itu Bapa, sebagaimana Anda menyebut ayah Anda sendiri. Dan karena Yesus mengaku diri-Nya Anak Allah, maka Dia harus mengalami sengsara, hinaan, dan dibunuh di atas kayu salib. Tidak seorang pun yang berani berbuat demikian. Tidak seorang pun yang mau mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan orang lain. Pendiri agama manapun tidak berani mengakui dirinya sebagai Anak Allah. Namun Yesus dengan tegas dan tanpa mempedulikan keselamatan jiwa-Nya mengakui diri-Nya sebagai Anak Allah.
Seperti yang tertulis di dalam Yohanes 19:7, “Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah.” Demikian juga dalam kehidupan Kristiani kita, kita tidak seharusnya malu mengakui bahwa kita adalah anak Allah. Pengakuan kita mungkin membuat kita sengsara dan harus sedikit berkorban, namun sengsara yang kita alami belum seberapa bila dibandingkan dengan kesengsaraan Tuhan. Dia harus menanggung sengsara itu sampai mati, sedangkan kita hanya sebatas kehilangan orang-orang terdekat, sebatas malu, mungkin kehilangan pekerjaan dan dikucilkan tapi tidak sampai mati. Saudara saudari, janganlah kita malu untuk mengakui Tuhan di hadapan manusia. Sebab jika kita malu, maka kelak Tuhan juga akan malu untuk mengakui kita di depan Bapa-Nya yang di surga (Mat. 10:32).

06 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 2 Rabu

Terbukti tidak bersalah
Yohanes 19:4
Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: “Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.”

Ayat Bacaan: Yoh. 19:4; Ibr. 4:15; Luk. 23:4,47; Mat. 27:4; 1 Kor. 7:23

Tuhan Yesus adalah seorang manusia yang tanpa dosa. Dia memiliki keluarga, memiliki ayah, ibu dan saudara-saudara menurut daging. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang meragukan penyataan-Nya ini, yaitu bahwa Dia tidak memiliki dosa. Ini membuktikan bahwa Dia adalah Allah, karena hanya Allah yang tidak berbuat dosa.
Alkitab menyatakan bahwa ketika Dia hidup di bumi, Dia sama seperti kita dalam segala hal, tetapi Dia tidak memiliki dosa (Ibrani 4:15). Ketika Dia dibawa menghadap gubernur Roma, gubernur itu menyatakan bahwa dia tidak dapat menghukum-Nya menurut hukum Roma yang paling ketat karena tidak didapati satu dosa pun pada-Nya (Lukas 23:4).
Penyamun yang disalib bersama-Nya juga menyatakan bahwa Dia tidak berbuat sesuatu yang salah (Lukas 23:41). Yudas, murid yang mengkhianati-Nya, mengakui bahwa dia telah menyerahkan darah orang yang tidak bersalah (Matius 27:4), dan kepala pasukan yang menyalibkan Dia berkata, “Sungguh, orang ini tidak bersalah!” (Lukas 23:47). Sebelum kematian-Nya, Dia diadili dan diperiksa oleh sembilan kelompok orang: 1) pihak tua-tua bangsa Yahudi, 2) imam-imam kepala, 3) orang-orang Farisi yang bergairah, 4) orang-orang Saduki yang tidak percaya, 5) politisi Herodian, 6) pengacara-pengacara hukum, 7) Pilatus, gubernur Roma, 8) Herodes, dan 9) imam besar. Melalui semua pemeriksaan ini, Dia dibuktikan tidak bersalah. Kristus yang tidak memiliki dosa membuktikan bahwa Dia adalah Allah.
Karena Dia adalah Allah yang sejati dan manusia yang sempurna maka darah-Nya adalah darah yang tanpa noda dan tanpa cacat. Darah-Nya inilah yang berkhasiat membasuh kita dari dosa-dosa kita. Bila darah Habel berteriak kepada Allah untuk menuntut pembalasan maka darah Kristus berbicara lebih baik kepada Allah yakni untuk pengampunan, pembenaran, pendamaian, dan penebusan demi kepentingan kita. Darah-Nya yang mahal melayakkan kita untuk datang kepada Allah. Setiap kali kita datang ke hadapan Tuhan seharusnya kita mohon darah Tuhan ini membasuh bersih kita dari dosa-dosa kita dan mendamaikan kita dengan Allah, dan membela kita dari segala tuduhan Iblis.

05 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 2 Selasa

Dianiaya dan dipermalukan
Yohanes 19:3
...mereka berkata: “Salam, hai raja orang Yahudi!” Lalu mereka menampar muka-Nya.

Ibrani 12:2b
Yesus...yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib...

Ayat Bacaan: Yoh. 19:3; Yes. 53:4-6; Kis. 16:30-31

Sekarang karunia keselamatan kekal sudah rampung sempurna melalui Juruselamat kita, Yesus Kristus, sehingga tidak ada lagi yang perlu kita lakukan atasnya. Dia telah mengeluarkan semua harga, supaya kita bisa beroleh selamat dengan cuma-cuma, kita tidak perlu mengeluarkan harga apa pun. Dia turun dari surga, supaya kita bisa naik ke surga. Dia ditentang orang dosa, supaya kita diterima oleh Allah. Dia sementara dibuang oleh Allah, supaya kita selamanya diterima oleh Allah. Dia menjadi miskin, supaya kita menjadi kaya. Adakah kasih yang lebih besar daripada ini?
“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yes. 53:4-6). Ketika Tuhan di atas bumi Dia menerima banyak penentangan dari orang-orang di sekitarnya. Namun demikian Dia tidak mundur sedikitpun karena Dia begitu mengasihi kita.
Dalam Kisah Para Rasul 16, ada seorang kepala penjara yang ingin bunuh diri karena mengira bahwa para tawanan telah melarikan diri. Akan tetapi Paulus mencegah hal itu. Dan ketika kepala penjara mendapati mereka berada dalam penjara, dia gemetar dan bertanya, “Tuan-tuan, apa yang harus aku perbuat supaya aku diselamatkan? Jawab mereka, ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu”’ (Kis. 16:30-31). Puji Tuhan atas kasih karunia ini, karena ada satu orang yang rela dianiaya dan dipermalukan, banyak orang mendapat keselamatan yang kekal. Hati Allah sudah mengasihi, hati kita seharusnya percaya. Tangan Allah sudah memberi, tangan kita seharusnya menerima. Allah sudah mengasihi dan memberi, kita tinggal percaya dan menerima Dia. Menerima Dia berarti menerima segala persona-Nya dan karya-Nya menjadi kekayaan kita yang sejati.

04 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 2 Senin

Dimahkotai duri
Yohanes 19:2a
Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya.

Galatia 3:13a
Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita

Ayat Bacaan: Yoh. 3:16; Mrk. 15:17-19; Kej. 3:17-18; Gal. 3:13

Markus 15:17-18, “Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruh-Nya di atas kepala-Nya.” Duri adalah lambang kutukan (Kej. 3:17-18). Di kayu salib Tuhan menjadi kutuk menggantikan kita. Ini adalah sebuah penghinaan dan olokan yang diberikan orang dunia kepada Tuhan Yesus. Bukan mahkota mulia, melainkan mahkota yang dianyam dari duri. Tuhan Yesus telah menanggung kutukan demi kita, kepala-Nya bermahkotakan duri. Duri tumbuh karena kutukan terhadap orang yang berdosa. Mahkota duri itu menghunjam kepala yang tidak bercacat. Mengapa harus tertusuk demikian? Tidak lain karena Dia tahu, jika Dia tidak menderita, kitalah yang akan binasa selama-lamanya. Karena itu Ia rela mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban, menderita secara badani, memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya.
“Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh” (Mrk. 15:19). Kepala Tuhan Yesus dimahkotai duri, ditambah lagi dipukul dengan buluh, bukankah duri itu akan lebih masuk ke dalam daging-Nya? Penderitaan-Nya yang menusuk tulang ini bukan dialami oleh Yesus Kristus yang sebagai Allah. Karena Dia begitu mengasihi manusia, Ia mati sekali untuk dosa-dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar. Dia telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia (1 Ptr. 3:18).
Tatkala berada di atas salib, Juruselamat kita tidak mau minum anggur bercampur empedu (pada zaman dahulu dipakai sebagai pembius) agar Dia tidak merasa sakit. Nyatalah kepada kita bahwa Dia tidak mau melarikan diri dari penderitaan. Dia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya. Atas penderitaan yang sedemikian Dia tidak pernah meronta terlebih membalas karena Dia sepenuh hati mengasihi semua orang dosa di dunia. Bahkan sampai pada hari ini kasih-Nya tidak pernah berubah atas kita. Sekali Dia mengasihi, selamanya Dia mengasihi kita. Setiap kali kita mengingat penderitaan yang telah ditanggung-Nya bagi kita, hati kita harus menyembah Dia, bersujud atas kasih karunia yang tiada bandingan. Kasih-Nya yang sedemikian besar telah menyelamatkan kita dari kutukan dan hukuman akibat dosa kita.

03 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 2 Minggu

Disesah dan dicambuk
Yohanes 19:1
Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia.

1 Petrus 2:24a
Ia sendiri telah memikul dosa kita

Ayat Bacaan: Yoh. 19:1; Mrk. 15:15; 1 Ptr. 2:24

Karena dosa kita, Allah telah mengutus Putra Tunggal-Nya yaitu Yesus Kristus datang ke dunia ini untuk menderita bagi kita. Kedatangan-Nya bukan untuk hidup melainkan untuk mati bagi kita. Dahulu kutuk dan hukuman menjadi bagian kita, namun melalui kedatangan-Nya Dia telah menggantikan kita untuk menanggung semuanya itu sehingga kita menjadi orang yang bebas dari kutuk dan hukuman.
Kematian Putra Tunggal Allah justru dimulai saat Dia berada di taman Getsemani. Di sana Yesus ditangkap oleh sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Lalu Dia dibawa mula-mula ke hadapan Imam Besar Hanas lalu kepada Kayafas. Alkitab mencatat bahwa Dia dibawa dengan tangan terbelenggu seperti seorang penjahat. Dia berdiri di atas kedudukan orang dosa, menerima apa yang seharusnya diterima oleh orang dosa, demi menyelamatkan orang dosa. Tidak seorang pun dapat membuktikan bahwa Dia telah berbuat dosa. Karena dosa Anda dan sayalah, Dia berada dalam keadaan demikian.
Meskipun Pilatus menyatakan bahwa Yesus tidak bersalah, tetapi akhirnya dia dengan sewenang-wenang menyalibkan Yesus di atas kayu salib. “Yesus dicambuknya lalu diserahkannya untuk disalibkan” (Mrk.15:15). Kalimat ini terdengar sangat biasa, namun betapa hebat penderitaan yang terkandung di dalamnya! Cambuk orang Romawi berupa sebuah tongkat kayu, pada ujung tongkat itu diikat beberapa tali kulit dan pada ujung-ujung tali kulit ada metal yang berat. Dengan alat cambuk sedemikianlah pelaksana pencambukan melakukan tugasnya. Tiga kali cambukan sudah cukup membuat darah dan daging orang yang dicambuk itu berhamburan. Tiap cambukan yang diterima-Nya telah mengangkat semua dosa dan pemberontakan kita. Tiap tetes darah-Nya telah membasuh semua kenajisan kita. Kristus yang mulia telah menderita kematian yang keji demi menyelamatkan kita. Allah tahu bahwa kita tidak akan sanggup menanggung semua hukuman itu. Untuk itulah “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm. 5:8).

02 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 1 Sabtu

Dihukum dalam ketidakadilan manusia
Yohanes 18:38b
Sesudah mengatakan demikian, Pilatus keluar lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka, “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.”

Ayat Bacaan: Yoh. 18:38b-19:16; Yoh. 1:29

Setelah Tuhan Yesus diperiksa, Sang sempurna itu, dijatuhi hukuman di dalam ketidakadilan manusia (Yoh. 18:38 -19:16). Hukuman yang tidak adil ini menunjukkan kebutaan agama dan kegelapan politik (Yoh. 18:38-19; 19:1, 4-5, 8-14, 16). Kaum agamawan Yahudi menolak Sang teradil dan memilih seorang perampok (Yoh. 18:39-40; 19:6-7, 12, 15). Betapa butanya mereka! Mereka ditudungi oleh agama mereka dan dengan kebencian mereka. Pilatus, politikus yang tidak percaya itu, mengetahui dan menyatakan bahwa Tuhan Yesus tidak bersalah, namun dia tetap menghukum mati Tuhan Yesus untuk menyenangkan orang-orang Yahudi (Yoh. 18:38 -39; 19:1, 4-5, 8-14, 16).
Akan tetapi semua kejadian ini semakin kuat membuktikan bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Domba Allah (Yoh. 1:29). Sebab di dalam Perjanjian Lama, Domba yang dikurbankan pada waktu Paskah harus tanpa cacat dan tanpa noda. Selain itu, domba itu harus dikurung selama empat hari untuk diuji dengan teliti. Sebelum domba itu dikurbankan, harus lebih dulu diuji untuk membuktikan bahwa domba itu tanpa cacat dan tanpa noda. Ini adalah apa yang Tuhan Yesus alami di Yerusalem selama hari-hari sebelum Dia disalibkan. Hari demi hari Dia diuji oleh orang Farisi, orang Saduki, ahli Taurat, tua-tua, dan para imam. Mereka berusaha sekuatnya untuk menemukan kesalahan di atas diri-Nya. Namun, mereka tidak dapat menemukan kesalahan pada diri-Nya. Kemudian mereka menyerahkan Tuhan Yesus kepada penguasa Romawi, kepada Pilatus dan Herodes. Tetapi para penguasa Romawi itu juga tidak dapat menemukan kesalahan pada diri-Nya. Karena alasan ini, Pilatus menyatakan, “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya” (Yoh. 18:38).
Saudara saudari, bila banyak perkara terjadi dalam hidup kita yang kita anggap tidak adil, yang kita rasa tidak layak kita terima, ingatlah bahwa jalan inilah yang telah lebih dahulu Tuhan tempuh bagi kita. Dia telah memikul semua ketidakadilan di atas kayu salib. Dia bahkan telah dikhianati oleh orang yang dikasihi-Nya. Hari ini, selayaknyalah kita bersyukur bahwa penderitaan yang kita rasakan hari ini tidak sebanding dengan apa yang telah Tuhan alami bagi kita. Kita sepatutnya lebih mengapresiasi karya penebusan Tuhan ini.

01 October 2009

Yohanes Volume 7 - Minggu 1 Jumat

Menyingkapkan kepalsuan dan kegelapan politik
Yohanes 18:37
Lalu kata Pilatus kepada-Nya, “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus, “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”

Ayat Bacaan: Yoh. 18:37

Sementara Pilatus menghakimi Tuhan Yesus, ia sendiri juga dihakimi oleh Tuhan di dalam kebesaran-Nya (Yoh. 18:33-38a). Sikap Pilatus sebagai seorang gubernur Kerajaan Romawi sangat takut. Meskipun ia mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, tidak beda dengan semua politikus, takut terhadap orang banyak. Pilatus tidak mendapati kesalahan pada diri Tuhan Yesus; ia mengetahui bahwa Tuhan Yesus tidak melakukan sesuatu pun yang keliru. Tetapi suara orang banyak menundukkannya; ia bukan seorang yang jujur, sungguh-sungguh atau setia.
Ketika Tuhan dibawa ke hadapan Pilatus, sekali lagi kelihatannya Pilatus yang menghakimi Dia, tetapi akhirnya Dialah yang menghakimi Pilatus. Ketika Tuhan memberi tahu Pilatus bahwa Ia datang ke dalam dunia ini untuk “memberi kesaksian tentang kebenaran” dan “setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku” (Yoh. 18:37), Pilatus berkata kepada-Nya, “Apakah kebenaran itu?” (Yoh. 18:38a). Ini menunjukkan bahwa Tuhan menghakimi Pilatus. Sebenarnya Tuhan berkata, “Engkau seorang pengurus seperti ini, namun engkau tidak mengetahui apa kebenaran itu. Karena itu engkau adalah seorang yang palsu. Engkau tidak setia.” Setelah ini Tuhan membongkar rahasia Pilatus dan mempermalukannya, sehingga Pilatus berhenti menghakimi Tuhan. Di sini kita melihat kegelapan politik.
Tuhan Yesus datang ke bumi khusus bersaksi mengenai kebenaran. Saat itu orang-orang yang munafik tidak menyenangi terang, sebaliknya, menyenangi kegelapan, mereka ingin menyingkirkan Tuhan Yesus. Tetapi Tuhan Yesus tidak takluk kepada kuasa kejahatan. Cemoohan orang terhadap-Nya, fitnahan orang terhadap-Nya, sama sekali tidak dijawab-Nya. Tetapi ketika menyinggung masalah siapa diri-Nya dan apa yang dikerjakan-Nya, Ia bersaksi dengan baik untuk kebenaran. Di bumi, Tuhan Yesus menempuh sepotong perjalanan yang tidak biasa. Di pandangan manusia, Ia tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi hari ini, Ia sudah duduk di sebelah kanan Yang Mahatinggi, dan Dia akan datang di atas awan di langit. Puji Tuhan! Siapa saja yang mengikuti-Nya, haruslah memperhatikan kesaksian-Nya, kesaksian tentang kebenaran.