Melahirkan Banyak Saudara
Yohanes 20:17
Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku...”
Ayat Bacaan: Yoh. 15:14-15; Ibr. 2:10-12; 1 Ptr. 1:3; 1 Kor. 10:17; Kis.9:4-5
Dalam Injil Yohanes terdapat satu poin yang terbesar tetapi tidak banyak diketahui, yaitu sebelum kebangkitan-Nya Tuhan tidak pernah memanggil murid-murid-Nya dengan kata-kata “saudara-saudara”. Istilah yang paling akrab yang Tuhan gunakan sebelum waktu itu adalah “sahabat-sahabat” (Yoh. 15:14-15). Tetapi sekarang, setelah kebangkitan-Nya, “sahabat-sahabat-Nya” menjadi “saudara-saudara-Nya”. Banyak saudara Kristus ini adalah “banyak putra” Bapa, yang juga adalah “gereja” (Ibr. 2:10-12), menjadi ekspresi korporat Allah Bapa di dalam Putra, dan pelipatgandaan Putra di dalam hayat ilahi.
Bagaimana kita bisa menjadi “saudara-saudara”-Nya? Melalui kebangkitan-Nya, kita semua telah dilahirkan kembali dari Allah (1 Ptr. 1:3). Kematian-Nya telah melepaskan hayat ilahi yang ada di dalam-Nya, dan kebangkitan-Nya telah menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita, sehingga kita menjadi saudara-saudara Kristus. Tuhan adalah seperti sebutir biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati, kemudian bertumbuh dalam kebangkitan, menghasilkan banyak biji gandum untuk menghasilkan satu roti, yaitu Tubuh-Nya (1 Kor. 10:17). Kita sekarang adalah perbanyakan-Nya. Itulah sebabnya, begitu Ia bangkit, Dia segera menyebut kita saudara-saudara-Nya.
Tuhan tidak malu menyebut kita saudara-saudara-Nya (Ibr. 2:11), karena kita semua telah menerima hayat Bapa-Nya. Sekarang, baik Dia maupun kita berasal dari sumber yang sama dan mempunyai hayat yang sama dengan sifat yang sama, Dia tidak malu menyebut kita saudara. Demikian juga, seharusnya kita tidak malu menyebut saudara saudari di dalam gereja sebagai saudara saudari kita sendiri. Karena di dalam diri mereka, mereka juga memiliki hayat Tuhan yang sama dengan kita. Menghina mereka berarti menghina Tuhan yang di dalam diri mereka (Kis. 9:4-5). Hayat Tuhan yang berhuni di dalam setiap saudara saudari harus senantiasa diperhidupkan melalui saling mengasihi. Setiap orang yang mengasihi, lahir dari Alah dan mengenal Allah (1 Yoh. 4:7b). Jika kita saling mengasihi, kita akan mengekspresikan sifat Allah dalam kebajikan insani kita.
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
31 October 2009
30 October 2009
Yohanes Volume 8 - Minggu 1 Sabtu
Dikenal melalui Wahyu oleh Pencari-Nya
Yohanes 20:16
Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru.
Ayat Bacaan: Yoh. 20:13-15; 2 Kor. 5:16; Ef. 1:17
Sejak Tuhan Yesus bangkit dari kematian hingga hari ini, pengenalan manusia terhadap-Nya dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu pengenalan dalam tubuh daging dan pengenalan dalam Roh Kudus. Tatkala Maria Magdalena berdiri di dekat kubur Tuhan Yesus sambil menangis, “Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: ‘Ibu, mengapa engkau menangis?’ Jawab Maria kepada mereka: ‘Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan’” (Yoh. 20:13). Sesudah itu, ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus.
Tuhan Yesus yang terlihat olehnya ketika ia menoleh ke belakang justru adalah Tuhan Yesus yang dikenal dan diikutinya selama bertahun-tahun, tetapi saat itu ia tidak tahu bahwa itu adalah Tuhan Yesus. Sebab Putra Allah yang berada dalam tubuh daging itu telah mati di kayu salib dan telah bangkit dari kematian. Hari ini Ia bukan hidup dalam tubuh daging, melainkan hidup dalam Roh Kudus. Yang dulu dapat dikenal berdasarkan tubuh daging manusia, yang sekarang tidak dapat dikenal berdasarkan cara yang sama.
Lalu Tuhan berkata kepada Maria, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya” (Yoh. 20:15). Kemudian kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!” Begitu Tuhan menyebut namanya, Maria segera mengenal Dia, karena ia telah menerima wahyu dari Tuhan. Tuhan tidak memberi tahu apa-apa kepadanya, kecuali menyebut namanya, tetapi ia sudah jelas dan mengenal Dia dari batinnya. Inilah wahyu.
Wahyu adalah satu pengenalan yang ajaib. Paulus mengajarkan kita bahwa jalan untuk menerima wahyu adalah melalui kita berdoa (Ef. 1:17). Setiap pagi ketika kita datang kepada Firman-Nya, kita perlu berdoa meminta kepada Tuhan untuk memberikan kita Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Kita perlu memohon Allah mewahyukan Putra-Nya sendiri di dalam kita, sehingga kita jelas, mengenal, dan mengerti Dia dari dalam batin kita.
Yohanes 20:16
Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru.
Ayat Bacaan: Yoh. 20:13-15; 2 Kor. 5:16; Ef. 1:17
Sejak Tuhan Yesus bangkit dari kematian hingga hari ini, pengenalan manusia terhadap-Nya dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu pengenalan dalam tubuh daging dan pengenalan dalam Roh Kudus. Tatkala Maria Magdalena berdiri di dekat kubur Tuhan Yesus sambil menangis, “Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: ‘Ibu, mengapa engkau menangis?’ Jawab Maria kepada mereka: ‘Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan’” (Yoh. 20:13). Sesudah itu, ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus.
Tuhan Yesus yang terlihat olehnya ketika ia menoleh ke belakang justru adalah Tuhan Yesus yang dikenal dan diikutinya selama bertahun-tahun, tetapi saat itu ia tidak tahu bahwa itu adalah Tuhan Yesus. Sebab Putra Allah yang berada dalam tubuh daging itu telah mati di kayu salib dan telah bangkit dari kematian. Hari ini Ia bukan hidup dalam tubuh daging, melainkan hidup dalam Roh Kudus. Yang dulu dapat dikenal berdasarkan tubuh daging manusia, yang sekarang tidak dapat dikenal berdasarkan cara yang sama.
Lalu Tuhan berkata kepada Maria, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya” (Yoh. 20:15). Kemudian kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!” Begitu Tuhan menyebut namanya, Maria segera mengenal Dia, karena ia telah menerima wahyu dari Tuhan. Tuhan tidak memberi tahu apa-apa kepadanya, kecuali menyebut namanya, tetapi ia sudah jelas dan mengenal Dia dari batinnya. Inilah wahyu.
Wahyu adalah satu pengenalan yang ajaib. Paulus mengajarkan kita bahwa jalan untuk menerima wahyu adalah melalui kita berdoa (Ef. 1:17). Setiap pagi ketika kita datang kepada Firman-Nya, kita perlu berdoa meminta kepada Tuhan untuk memberikan kita Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Kita perlu memohon Allah mewahyukan Putra-Nya sendiri di dalam kita, sehingga kita jelas, mengenal, dan mengerti Dia dari dalam batin kita.
29 October 2009
Yohanes Volume 8 - Minggu 1 Jumat
Berada dalam Tubuh Kebangkitan
Yohanes 20:14
Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus
Ayat Bacaan: 1 Kor. 15:44; Flp. 3:21; Luk. 24:26; Rm. 6:9
Satu Korintus 15 memberitahu kita bahwa tubuh Tuhan setelah kebangkitan adalah tubuh rohani (ay. 44). Filipi 3:21 menyebutkan “tubuh-Nya yang mulia.” Inilah tubuh Kristus yang telah dibangkitkan, dijenuhi oleh Roh dan dengan kemuliaan Allah (Luk. 24:26), dan melampaui kuasa maut (Rm. 6:9). Tubuh Yesus yang dikorbankan di kayu salib adalah tubuh fisik, tetapi tubuh kebangkitan-Nya adalah tubuh rohani. Setelah kebangkitan-Nya, Dia masih memiliki tubuh, tubuh rohani. Kristus yang bangkit lebih daripada roh, Ia mempunyai tubuh yang berwujud. Kelihatannya bahwa Ia mempunyai tubuh yang sama seperti tubuh yang Ia miliki dahulu. Ketika Yesus ingin menyatakan diri, Ia segera dikenal sebagai “Yesus yang sama”. Ia dapat makan makanan sebagaimana yang Ia lakukan dengan tubuh jasmaninya. Ia dapat berjalan pada tempat-tempat yang sama seperti orang-orang lain. Namun kalau Ia mau, Ia dapat dalam sekejap mata pergi ke tempat-tempat yang jauh atau melalui pintu-pintu yang tertutup. Pada waktu kebangkitan, tubuh Kristus mengalami perubahan dasar — suatu kemuliaan. Dengan kata lain, Tuhan dapat patuh kepada hukum tubuh jasmani, tetapi Ia tidak terikat olehnya. Kristus telah menjadi Roh pada saat Ia bangkit. Kini Ia masih memiliki satu roh, satu jiwa, satu tubuh, tetapi semuanya bersifat rohani.
Apa yang disebut di dalam daging, dan apa yang disebut di dalam Roh? Ini seperti mengenakan pakaian. Di dalam tubuh daging adalah mengenakan tubuh daging, dan di dalam Roh adalah mengenakan Roh. Ketika di bumi, Kristus mengenakan tubuh daging. Ketika Ia mati, Ia menanggalkan tubuh daging, dan menggantinya dengan satu tubuh kebangkitan, memakai pakaian yang lain, yaitu Roh. Kristus yang sekarang telah mengenakan Roh. Dengan demikian, kita bisa mengenal Kristus yang ada dalam tubuh daging, dan kita pun bisa mengenal Kristus yang ada di dalam Roh. Ada orang memustikakan pengenalan terhadap Kristus dalam daging, tetapi sebenarnya mengenal Kristus dalam Roh lebih mustika. Kristus yang kini telah di dalam Roh, membuat kita dapat masuk ke dalam-Nya, juga dapat membuat Dia masuk ke dalam kita, sehingga antara kita dengan Dia terjalin satu kesatuan yang begitu erat.
Yohanes 20:14
Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus
Ayat Bacaan: 1 Kor. 15:44; Flp. 3:21; Luk. 24:26; Rm. 6:9
Satu Korintus 15 memberitahu kita bahwa tubuh Tuhan setelah kebangkitan adalah tubuh rohani (ay. 44). Filipi 3:21 menyebutkan “tubuh-Nya yang mulia.” Inilah tubuh Kristus yang telah dibangkitkan, dijenuhi oleh Roh dan dengan kemuliaan Allah (Luk. 24:26), dan melampaui kuasa maut (Rm. 6:9). Tubuh Yesus yang dikorbankan di kayu salib adalah tubuh fisik, tetapi tubuh kebangkitan-Nya adalah tubuh rohani. Setelah kebangkitan-Nya, Dia masih memiliki tubuh, tubuh rohani. Kristus yang bangkit lebih daripada roh, Ia mempunyai tubuh yang berwujud. Kelihatannya bahwa Ia mempunyai tubuh yang sama seperti tubuh yang Ia miliki dahulu. Ketika Yesus ingin menyatakan diri, Ia segera dikenal sebagai “Yesus yang sama”. Ia dapat makan makanan sebagaimana yang Ia lakukan dengan tubuh jasmaninya. Ia dapat berjalan pada tempat-tempat yang sama seperti orang-orang lain. Namun kalau Ia mau, Ia dapat dalam sekejap mata pergi ke tempat-tempat yang jauh atau melalui pintu-pintu yang tertutup. Pada waktu kebangkitan, tubuh Kristus mengalami perubahan dasar — suatu kemuliaan. Dengan kata lain, Tuhan dapat patuh kepada hukum tubuh jasmani, tetapi Ia tidak terikat olehnya. Kristus telah menjadi Roh pada saat Ia bangkit. Kini Ia masih memiliki satu roh, satu jiwa, satu tubuh, tetapi semuanya bersifat rohani.
Apa yang disebut di dalam daging, dan apa yang disebut di dalam Roh? Ini seperti mengenakan pakaian. Di dalam tubuh daging adalah mengenakan tubuh daging, dan di dalam Roh adalah mengenakan Roh. Ketika di bumi, Kristus mengenakan tubuh daging. Ketika Ia mati, Ia menanggalkan tubuh daging, dan menggantinya dengan satu tubuh kebangkitan, memakai pakaian yang lain, yaitu Roh. Kristus yang sekarang telah mengenakan Roh. Dengan demikian, kita bisa mengenal Kristus yang ada dalam tubuh daging, dan kita pun bisa mengenal Kristus yang ada di dalam Roh. Ada orang memustikakan pengenalan terhadap Kristus dalam daging, tetapi sebenarnya mengenal Kristus dalam Roh lebih mustika. Kristus yang kini telah di dalam Roh, membuat kita dapat masuk ke dalam-Nya, juga dapat membuat Dia masuk ke dalam kita, sehingga antara kita dengan Dia terjalin satu kesatuan yang begitu erat.
28 October 2009
Yohanes Volume 8 - Minggu 1 Kamis
Disaksikan oleh Malaikat Allah
Yohanes 20:12
Dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring
Ayat Bacaan: Yoh. 11:25; 20:11-13
Sewaktu Tuhan Yesus masih hidup di bumi, Ia berkali-kali mengatakan perihal bangkit dari kematian ini. Ia mengatakan bagaimana rupa kita dalam kebangkitan. Ia selalu menunjukkan kepada orang bahwa kematian itu bukan akhir dari manusia. Di balik kematian masih ada kebangkitan! Dengan tegas Tuhan berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh. 11:25). Ia sendiri telah diserahkan ke tangan orang-orang jahat, mati di salib. Tetapi pada hari ketiga Ia bangkit dari kematian, keluar dari dalam kubur. Ini adalah kejadian yang baru dan ajaib bagi kita. Apakah kita tidak percaya? Namun ini satu fakta yang telah menggemparkan seluruh bumi. Fakta yang sudah menggoncangkan peradaban manusia. Fakta ini, yaitu Yesus bangkit dari kematian, sudah menyelamatkan banyak jiwa dan sudah mengubah banyak hidup manusia. Inilah satu pengharapan yang besar bagi semua manusia.
Kebangkitan Kristus bukan semata-mata ditemukan oleh orang-orang yang menuntut, tetapi juga dipersaksikan oleh malaikat-malaikat yang diutus Allah (20:11-13). Ketika Maria menjenguk ke dalam kubur, ia nampak “dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya” (20:12). Kedua malaikat ini seperti kerub di atas tutup pendamaian, yang melihat dan memperhatikan bagaimana mulianya Tuhan yang bangkit, menyelesaikan tugas yang menakjubkan, yaitu keluar dari ancaman maut. Kedua malaikat yang mengamati itu menjadi saksi yang paling kuat bahwa Tuhan Yesus telah bangkit. Kain kafan dan kain peluh merupakan kesaksian dari pihak manusia, malaikat-malaikat adalah kesaksian dari pihak Allah. Kesaksian dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah dari dua pihak — dari manusia dan dari malaikat-malaikat sebagai suatu kesaksian dari sorga. Pujilah Tuhan Yesus bahwa manusia dan malaikat-malaikat, sorga dan bumi, telah bersama-sama menjadi suatu kesaksian bagi kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Kalau hari ini Anda percaya Yesus yang sudah bangkit dari antara orang mati, Anda akan menikmati kemuliaan kebangkitan-Nya!
Yohanes 20:12
Dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring
Ayat Bacaan: Yoh. 11:25; 20:11-13
Sewaktu Tuhan Yesus masih hidup di bumi, Ia berkali-kali mengatakan perihal bangkit dari kematian ini. Ia mengatakan bagaimana rupa kita dalam kebangkitan. Ia selalu menunjukkan kepada orang bahwa kematian itu bukan akhir dari manusia. Di balik kematian masih ada kebangkitan! Dengan tegas Tuhan berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh. 11:25). Ia sendiri telah diserahkan ke tangan orang-orang jahat, mati di salib. Tetapi pada hari ketiga Ia bangkit dari kematian, keluar dari dalam kubur. Ini adalah kejadian yang baru dan ajaib bagi kita. Apakah kita tidak percaya? Namun ini satu fakta yang telah menggemparkan seluruh bumi. Fakta yang sudah menggoncangkan peradaban manusia. Fakta ini, yaitu Yesus bangkit dari kematian, sudah menyelamatkan banyak jiwa dan sudah mengubah banyak hidup manusia. Inilah satu pengharapan yang besar bagi semua manusia.
Kebangkitan Kristus bukan semata-mata ditemukan oleh orang-orang yang menuntut, tetapi juga dipersaksikan oleh malaikat-malaikat yang diutus Allah (20:11-13). Ketika Maria menjenguk ke dalam kubur, ia nampak “dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya” (20:12). Kedua malaikat ini seperti kerub di atas tutup pendamaian, yang melihat dan memperhatikan bagaimana mulianya Tuhan yang bangkit, menyelesaikan tugas yang menakjubkan, yaitu keluar dari ancaman maut. Kedua malaikat yang mengamati itu menjadi saksi yang paling kuat bahwa Tuhan Yesus telah bangkit. Kain kafan dan kain peluh merupakan kesaksian dari pihak manusia, malaikat-malaikat adalah kesaksian dari pihak Allah. Kesaksian dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah dari dua pihak — dari manusia dan dari malaikat-malaikat sebagai suatu kesaksian dari sorga. Pujilah Tuhan Yesus bahwa manusia dan malaikat-malaikat, sorga dan bumi, telah bersama-sama menjadi suatu kesaksian bagi kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Kalau hari ini Anda percaya Yesus yang sudah bangkit dari antara orang mati, Anda akan menikmati kemuliaan kebangkitan-Nya!
27 October 2009
Yohanes Volume 8 - Minggu 1 Rabu
Tiga Jenis Orang yang Merespon Kebangkitan Tuhan
Yohanes 20:10-11
Lalu pulanglah murid-murid itu ke rumah. Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis.
Ayat Bacaan: Yoh. 20:1-18
Yohanes pasal 20 menunjukkan kepada kita tiga jenis orang yang merespon akan kebangkitan Tuhan. Jenis orang yang pertama diwakili oleh Maria. Pagi-pagi benar, Maria telah pergi ke kubur Tuhan. Ketika melihat kubur itu kosong, dia segera berlari memberitahukan kepada murid-murid Tuhan. Setelah mendengar kabar itu, maka dua orang murid langsung berlari menuju kubur itu. Dua orang murid itu adalah Petrus dan Yohanes. Inilah jenis orang yang kedua. Sedangkan murid-murid yang lain yang tidak bertindak ataupun merespon adalah jenis orang yang ketiga.
Kejadian ini menunjukkan suatu gambaran bagaimana kita mengejar Tuhan. Orang pertama yang melihat kubur adalah Maria, dan orang pertama yang masuk ke dalam kubur adalah Petrus. Di sini dua saudara ini pikirannya sangat terang dan begitu menemukan sesuatu, mereka lebih mudah percaya akan fakta daripada saudari-saudari. Setelah dua orang saudara melihat kubur yang kosong, kain kafan dan kain peluh, mereka sadar bahwa Tuhan telah bangkit. Meskipun mereka nampak akan fakta ini, menyadarinya dan mempercayainya secara obyektif, mereka tidak mengalami-Nya secara subyektif. Setelah puas dengan fakta obyektif, mereka meninggalkan kubur. Akan tetapi, Maria tetap tinggal, karena ia masih ingin menunggu, melihat dan mengharapkan Tuhan. Terhadap tuntutan tambahannya ini ia memperoleh pengalaman atas kebangkitan Tuhan. Karena Tuhan menyatakan diri kepadanya, ia bukan saja menerima fakta, tetapi juga pengalaman. Ia merupakan orang pertama yang mengalami kebangkitan Tuhan.
Saudara saudari, jika kita ingin melihat lebih banyak perihal Tuhan, kita harus mempunyai persekutuan yang lebih banyak dengan Dia. Maria melihat Tuhan pada saat pagi hari. Ini adalah penyegaran pagi yang terbaik. Dalam penyegaran pagi ini, ia berjumpa dengan Tuhan dan Tuhan menjumpainya, ia berdoa kepada Tuhan dan Tuhan berkata-kata dengan dia; ia bersekutu dengan Tuhan dan Tuhan memberikan firman-Nya dan wahyu-Nya kepadanya. Semoga kita tidak melewatkan setiap pagi hari kita tanpa berjumpa dengan Tuhan, dan Tuhan dapat menjumpai kita, memberikan firman dan wahyu-Nya kepada kita.
Yohanes 20:10-11
Lalu pulanglah murid-murid itu ke rumah. Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis.
Ayat Bacaan: Yoh. 20:1-18
Yohanes pasal 20 menunjukkan kepada kita tiga jenis orang yang merespon akan kebangkitan Tuhan. Jenis orang yang pertama diwakili oleh Maria. Pagi-pagi benar, Maria telah pergi ke kubur Tuhan. Ketika melihat kubur itu kosong, dia segera berlari memberitahukan kepada murid-murid Tuhan. Setelah mendengar kabar itu, maka dua orang murid langsung berlari menuju kubur itu. Dua orang murid itu adalah Petrus dan Yohanes. Inilah jenis orang yang kedua. Sedangkan murid-murid yang lain yang tidak bertindak ataupun merespon adalah jenis orang yang ketiga.
Kejadian ini menunjukkan suatu gambaran bagaimana kita mengejar Tuhan. Orang pertama yang melihat kubur adalah Maria, dan orang pertama yang masuk ke dalam kubur adalah Petrus. Di sini dua saudara ini pikirannya sangat terang dan begitu menemukan sesuatu, mereka lebih mudah percaya akan fakta daripada saudari-saudari. Setelah dua orang saudara melihat kubur yang kosong, kain kafan dan kain peluh, mereka sadar bahwa Tuhan telah bangkit. Meskipun mereka nampak akan fakta ini, menyadarinya dan mempercayainya secara obyektif, mereka tidak mengalami-Nya secara subyektif. Setelah puas dengan fakta obyektif, mereka meninggalkan kubur. Akan tetapi, Maria tetap tinggal, karena ia masih ingin menunggu, melihat dan mengharapkan Tuhan. Terhadap tuntutan tambahannya ini ia memperoleh pengalaman atas kebangkitan Tuhan. Karena Tuhan menyatakan diri kepadanya, ia bukan saja menerima fakta, tetapi juga pengalaman. Ia merupakan orang pertama yang mengalami kebangkitan Tuhan.
Saudara saudari, jika kita ingin melihat lebih banyak perihal Tuhan, kita harus mempunyai persekutuan yang lebih banyak dengan Dia. Maria melihat Tuhan pada saat pagi hari. Ini adalah penyegaran pagi yang terbaik. Dalam penyegaran pagi ini, ia berjumpa dengan Tuhan dan Tuhan menjumpainya, ia berdoa kepada Tuhan dan Tuhan berkata-kata dengan dia; ia bersekutu dengan Tuhan dan Tuhan memberikan firman-Nya dan wahyu-Nya kepadanya. Semoga kita tidak melewatkan setiap pagi hari kita tanpa berjumpa dengan Tuhan, dan Tuhan dapat menjumpai kita, memberikan firman dan wahyu-Nya kepada kita.
26 October 2009
Yohanes Volume 8 - Minggu 1 Selasa
Ditemukan oleh Maria Magdalena
Yohanes 20:18
Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.
Ayat Bacaan: Yoh. 20:1-2, 10-18
Setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Ia ingin sekali menampakkan diri-Nya kepada Petrus yang sedang dalam kelemahan, kepada kedua murid yang telah salah jalan ke Emaus, kepada Yohanes yang dikasihi-Nya, kepada Tomas yang tidak percaya kebangkitan-Nya, serta kepada murid-murid yang lain. Tetapi Tuhan lebih mengutamakan untuk menampakkan diri pertama kali kepada Maria Magdalena. Mengapa demikian?
Maria Magdalena adalah orang terakhir yang meninggalkan Tuhan ketika Tuhan di salib. Maria Magdalena adalah orang yang paling pagi pergi ke kubur Tuhan. Memang, banyak perkara yang tidak ia pahami sehingga mungkin banyak orang mengira pikirannya kurang baik. Tetapi ia memiliki sesuatu yang paling baik yang mungkin tidak kita miliki. Sesuatu yang paling baik yang ia miliki ialah ia sangat merindukan dan mendambakan Tuhan.
Pagi-pagi buta Maria Magdalena pergi ke kubur Tuhan dan melihat kubur itu terbuka. Dalam angan-angannya, “Tuhan yang kukasihi telah mati, kalau hari ini aku bisa melihat tubuh-Nya saja, cukuplah bagiku.” Tetapi ternyata tubuh-Nya tidak ada! Maka segera ia berlari mendapatkan Petrus dan Yohanes, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan” (Yoh. 20:2). Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu (Yohanes) ke kubur. Mereka menemukan fakta bahwa Tuhan telah bangkit. Akan tetapi bagaimanakah sikap mereka melihat keadaan itu? “Lalu pulanglah murid-murid itu ke rumah” (Yoh. 20:10). Di dunia mereka masih mempunyai sebuah rumah yang lebih baik, rumah tempat mereka bisa pulang.
“Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis” (Yoh. 20:11). Dia tidak mempunyai tempat untuk pulang! Dia tidak bisa pergi! Dalam hati Maria merasa, “Kalian mempunyai rumah untuk pulang, tetapi aku tidak bisa demikian, karena Tuhan sudah tidak ada. Kalian mengira tanpa Tuhan tidak mengapa, tetapi aku tidak bisa. Bagaimana aku bisa pergi?” Hati yang demikianlah yang menyentuh hati Tuhan, sehingga Tuhan menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Semoga Tuhan memberikan satu keinginan di dalam kita, yang merindukan Putra Allah dan mengasihi Dia dengan setulusnya.
Yohanes 20:18
Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.
Ayat Bacaan: Yoh. 20:1-2, 10-18
Setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Ia ingin sekali menampakkan diri-Nya kepada Petrus yang sedang dalam kelemahan, kepada kedua murid yang telah salah jalan ke Emaus, kepada Yohanes yang dikasihi-Nya, kepada Tomas yang tidak percaya kebangkitan-Nya, serta kepada murid-murid yang lain. Tetapi Tuhan lebih mengutamakan untuk menampakkan diri pertama kali kepada Maria Magdalena. Mengapa demikian?
Maria Magdalena adalah orang terakhir yang meninggalkan Tuhan ketika Tuhan di salib. Maria Magdalena adalah orang yang paling pagi pergi ke kubur Tuhan. Memang, banyak perkara yang tidak ia pahami sehingga mungkin banyak orang mengira pikirannya kurang baik. Tetapi ia memiliki sesuatu yang paling baik yang mungkin tidak kita miliki. Sesuatu yang paling baik yang ia miliki ialah ia sangat merindukan dan mendambakan Tuhan.
Pagi-pagi buta Maria Magdalena pergi ke kubur Tuhan dan melihat kubur itu terbuka. Dalam angan-angannya, “Tuhan yang kukasihi telah mati, kalau hari ini aku bisa melihat tubuh-Nya saja, cukuplah bagiku.” Tetapi ternyata tubuh-Nya tidak ada! Maka segera ia berlari mendapatkan Petrus dan Yohanes, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan” (Yoh. 20:2). Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu (Yohanes) ke kubur. Mereka menemukan fakta bahwa Tuhan telah bangkit. Akan tetapi bagaimanakah sikap mereka melihat keadaan itu? “Lalu pulanglah murid-murid itu ke rumah” (Yoh. 20:10). Di dunia mereka masih mempunyai sebuah rumah yang lebih baik, rumah tempat mereka bisa pulang.
“Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis” (Yoh. 20:11). Dia tidak mempunyai tempat untuk pulang! Dia tidak bisa pergi! Dalam hati Maria merasa, “Kalian mempunyai rumah untuk pulang, tetapi aku tidak bisa demikian, karena Tuhan sudah tidak ada. Kalian mengira tanpa Tuhan tidak mengapa, tetapi aku tidak bisa. Bagaimana aku bisa pergi?” Hati yang demikianlah yang menyentuh hati Tuhan, sehingga Tuhan menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Semoga Tuhan memberikan satu keinginan di dalam kita, yang merindukan Putra Allah dan mengasihi Dia dengan setulusnya.
25 October 2009
Yohanes Volume 8 - Minggu 1 Senin
Meninggalkan Ciptaan Lama di dalam Kubur
Yohanes 20:6b-7
Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain.
Ayat Bacaan: Yoh. 19:38-42; 20:6-7; Rm. 8:11; 1 Tes. 5:17
Sebelum Tuhan Yesus dikuburkan, Yusuf dari Arimatea bersama dengan Nikodemus mengapani tubuh-Nya dengan kain lenan (Yoh. 19:38-42). Apa yang mereka balutkan pada Tuhan menjadi sangat berguna di dalam kesaksian Tuhan. Mengapa? Sebab ketika Tuhan Yesus bangkit, Petrus yang masuk ke dalam kubur dan “melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain” (Yoh. 20:6-7). Ini berarti bahwa Dia pergi ke dalam kubur dengan sesuatu dari ciptaan yang lama. Lalu di dalam kebangkitan-Nya, Ia meninggalkan ciptaan lama di dalam kubur dan menjadi buah sulung, penunasan ciptaan baru Allah. Dalam pandangan Allah, segenap ciptaan lama, termasuk manusia kita yang lama dan diri kita yang lama telah terkubur di dalam kubur itu bersama Tuhan Yesus dan ditinggal di sana.
Pada akhir zaman yang akan datang semua orang yang tidak percaya yang telah mati akan dibangkitkan (Why. 20:12-13). Namun, kebangkitan itu tidak membawa mereka keluar dari ciptaan lama, dan tidak membawa mereka ke dalam Allah. Hanya kebangkitan Kristus adalah kebangkitan yang unggul atau yang luar biasa (Flp. 3:10-11), yang membawa kita keluar dari ciptaan lama dan membawa kita ke dalam Allah. Berada dalam kebangkitan yang unggul berarti meninggalkan setiap hal milik ciptaan lama dan dibawa ke dalam Allah.
Dalam Roma 8:11 Paulus berkata, “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Ayat ini menunjukkan bahwa kita dapat mencapai kebangkitan yang unggul pada zaman sekarang ini. Roh itu adalah realitas kebangkitan Kristus yang diam di dalam kita dan menggarapkan kebangkitan yang unggul ke dalam kita secara riil dan praktis. Untuk menerapkan hal ini kita harus senantiasa berada di dalam roh kita untuk berjumpa dengan Kristus sebagai Roh itu. Kita harus menerapkan Kristus sebagai Roh pemberi hayat hidup di dalam roh kita. Kita harus menjamah Dia setiap saat dengan berdoa senantiasa (1 Tes. 5:17).
Yohanes 20:6b-7
Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain.
Ayat Bacaan: Yoh. 19:38-42; 20:6-7; Rm. 8:11; 1 Tes. 5:17
Sebelum Tuhan Yesus dikuburkan, Yusuf dari Arimatea bersama dengan Nikodemus mengapani tubuh-Nya dengan kain lenan (Yoh. 19:38-42). Apa yang mereka balutkan pada Tuhan menjadi sangat berguna di dalam kesaksian Tuhan. Mengapa? Sebab ketika Tuhan Yesus bangkit, Petrus yang masuk ke dalam kubur dan “melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain” (Yoh. 20:6-7). Ini berarti bahwa Dia pergi ke dalam kubur dengan sesuatu dari ciptaan yang lama. Lalu di dalam kebangkitan-Nya, Ia meninggalkan ciptaan lama di dalam kubur dan menjadi buah sulung, penunasan ciptaan baru Allah. Dalam pandangan Allah, segenap ciptaan lama, termasuk manusia kita yang lama dan diri kita yang lama telah terkubur di dalam kubur itu bersama Tuhan Yesus dan ditinggal di sana.
Pada akhir zaman yang akan datang semua orang yang tidak percaya yang telah mati akan dibangkitkan (Why. 20:12-13). Namun, kebangkitan itu tidak membawa mereka keluar dari ciptaan lama, dan tidak membawa mereka ke dalam Allah. Hanya kebangkitan Kristus adalah kebangkitan yang unggul atau yang luar biasa (Flp. 3:10-11), yang membawa kita keluar dari ciptaan lama dan membawa kita ke dalam Allah. Berada dalam kebangkitan yang unggul berarti meninggalkan setiap hal milik ciptaan lama dan dibawa ke dalam Allah.
Dalam Roma 8:11 Paulus berkata, “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Ayat ini menunjukkan bahwa kita dapat mencapai kebangkitan yang unggul pada zaman sekarang ini. Roh itu adalah realitas kebangkitan Kristus yang diam di dalam kita dan menggarapkan kebangkitan yang unggul ke dalam kita secara riil dan praktis. Untuk menerapkan hal ini kita harus senantiasa berada di dalam roh kita untuk berjumpa dengan Kristus sebagai Roh itu. Kita harus menerapkan Kristus sebagai Roh pemberi hayat hidup di dalam roh kita. Kita harus menjamah Dia setiap saat dengan berdoa senantiasa (1 Tes. 5:17).
24 October 2009
Yohanes Volume 8 - Minggu 1 Minggu
Hari Pertama dalam Minggu itu
Yohanes 20:1
Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur.
Ayat Bacaan: Yoh. 20:1; Mzm. 118:24; 2:7; Kis. 13:33; Ibr. 1:5; Why. 1:10
Tuhan bangkit “pada hari pertama minggu itu” (Yoh. 20:1). Frase kata “hari pertama minggu itu” menunjukkan bahwa kebangkitan Tuhan membawa masuk suatu permulaan yang baru. Tuhan menciptakan selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh. Tujuh hari ini adalah generasi ciptaan lama. Sekarang, sesudah tujuh hari, ada permulaan baru dengan hari pertama yang lain. Dengan kata lain, melalui kebangkitan Tuhan, ciptaan lama telah berlalu dan ciptaan baru telah dimulai; generasi lama telah berlalu dan generasi baru telah dimulai. Jadi hari pertama dari minggu yang lain menandakan permulaan ciptaan baru, generasi baru, dan zaman baru. Mazmur 118:24 mengatakan, “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya.” Jika kita telah membaca ayat ini di dalam konteksnya, kita akan melihat bahwa ini menerangkan hari kebangkitan Tuhan. Hari kebangkitan-Nya adalah hari yang istimewa, satu hari yang telah ditentukan Allah. Hari kebangkitan Tuhan dinubuatkan sebagai “hari ini” (Mzm 2:7; Kis. 13:33; Ibr. 1:5). Ketika Tuhan Yesus masih berkelana di atas bumi, Tuhan menubuatkan bahwa Ia akan tersalib dan kemudian akan bangkit dari kematian pada hari ketiga (Mat. 16:21, Yoh. 2:19, 22). “Hari ketiga” ini adalah hari pertama dari minggu itu. Kemudian hari ini disebut oleh orang-orang Kristen sebagai “Hari Tuhan” (Why. 1:10). Alangkah ajaibnya hari tersebut!
Saat ini seluruh dunia memakai hari Minggu terutama bukan untuk penyembahan, tetapi untuk kesenangan, olah raga, dan segala macam hiburan. Ini lebih jahat dari pada penyembahan berhala, tetapi arus ini telah menghanyutkan banyak orang Kristen.
Perkataan yang diucapkan Yohanes sangatlah indah, katanya, “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh (di dalam roh) . . .” (Why. 1:10). Semoga banyak orang dapat berkata, “Pada hari Tuhan, aku di dalam Roh.” Semoga hari ini menjadi hari Roh Kudus menggerakkan gereja-Nya dan hari kita menerima berkat-Nya. Marilah kita mementingkan dan mempersembahkan hari Tuhan ini kepada Tuhan. Jika kita semua berbuat demikian, niscaya berkat Allah akan tercurah secara besar-besaran ke dalam gereja-Nya.
Yohanes 20:1
Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur.
Ayat Bacaan: Yoh. 20:1; Mzm. 118:24; 2:7; Kis. 13:33; Ibr. 1:5; Why. 1:10
Tuhan bangkit “pada hari pertama minggu itu” (Yoh. 20:1). Frase kata “hari pertama minggu itu” menunjukkan bahwa kebangkitan Tuhan membawa masuk suatu permulaan yang baru. Tuhan menciptakan selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh. Tujuh hari ini adalah generasi ciptaan lama. Sekarang, sesudah tujuh hari, ada permulaan baru dengan hari pertama yang lain. Dengan kata lain, melalui kebangkitan Tuhan, ciptaan lama telah berlalu dan ciptaan baru telah dimulai; generasi lama telah berlalu dan generasi baru telah dimulai. Jadi hari pertama dari minggu yang lain menandakan permulaan ciptaan baru, generasi baru, dan zaman baru. Mazmur 118:24 mengatakan, “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya.” Jika kita telah membaca ayat ini di dalam konteksnya, kita akan melihat bahwa ini menerangkan hari kebangkitan Tuhan. Hari kebangkitan-Nya adalah hari yang istimewa, satu hari yang telah ditentukan Allah. Hari kebangkitan Tuhan dinubuatkan sebagai “hari ini” (Mzm 2:7; Kis. 13:33; Ibr. 1:5). Ketika Tuhan Yesus masih berkelana di atas bumi, Tuhan menubuatkan bahwa Ia akan tersalib dan kemudian akan bangkit dari kematian pada hari ketiga (Mat. 16:21, Yoh. 2:19, 22). “Hari ketiga” ini adalah hari pertama dari minggu itu. Kemudian hari ini disebut oleh orang-orang Kristen sebagai “Hari Tuhan” (Why. 1:10). Alangkah ajaibnya hari tersebut!
Saat ini seluruh dunia memakai hari Minggu terutama bukan untuk penyembahan, tetapi untuk kesenangan, olah raga, dan segala macam hiburan. Ini lebih jahat dari pada penyembahan berhala, tetapi arus ini telah menghanyutkan banyak orang Kristen.
Perkataan yang diucapkan Yohanes sangatlah indah, katanya, “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh (di dalam roh) . . .” (Why. 1:10). Semoga banyak orang dapat berkata, “Pada hari Tuhan, aku di dalam Roh.” Semoga hari ini menjadi hari Roh Kudus menggerakkan gereja-Nya dan hari kita menerima berkat-Nya. Marilah kita mementingkan dan mempersembahkan hari Tuhan ini kepada Tuhan. Jika kita semua berbuat demikian, niscaya berkat Allah akan tercurah secara besar-besaran ke dalam gereja-Nya.
23 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 4 Sabtu
Beristirahat dalam kehormatan manusia
Yohanes 19:40-41
Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
Ayat Bacaan: Yoh. 19:38-42; Mat. 27:57; Yoh. 3:1; Yes. 53:9
Setelah Tuhan merampungkan pekerjaan-Nya dalam kematian-Nya, Dia beristirahat (19:38-42). Dalam Yohanes 18 dan 19 kita melihat banyak hal yang jahat dan penderitaan yang menimpa Tuhan. Tetapi, bagai-manapun jahatnya peristiwa-peristiwa itu dan bagaimanapun banyaknya yang Dia derita, Dia menahannya dan melaluinya dengan penuh kemenangan. Ini menunjukkan bahwa Dia itu Hayat pemenang dan penakluk. Setelah Tuhan melaksanakan kematian untuk penebusan dan penyaluran hayat-Nya, situasi penderitaan-Nya segera berubah menjadi sesuatu yang penuh dengan ke-hormatan. Sebelum kematian-Nya, segala sesuatu jahat dan mematikan; se-telah kematian-Nya, segalanya jadi menyenangkan dan nyaman.
Yusuf dari Arimatea, seorang hartawan (Mat. 27:57) dan Nikodemus, seorang penguasa Yahudi (Yoh. 3:1) datang membawa kain lenan dan rempah-rempah yang mahal, mur dan gaharu (Yoh. 19:39-40), mempersiapkan tubuh-Nya untuk pemakaman. Bukan orang miskin yang merawat tubuh-Nya, tetapi kaum bang-sawan yang menguburkan Dia dalam sebuah kubur “bersama dengan orang kaya” (Yes. 53:9 Tl.). Dengan demikian kita melihat bahwa seluruh situasinya berubah menjadi keadaan yang mulia dan suatu lingkungan yang baru.
Pasal 18 dan 19 menyatakan bagaimana Tuhan menyerahkan diri-Nya dengan sukarela dan berani serta menaklukkan lingkungan kematian dan pengaruhnya. Hal ini membuktikan bahwa Dia adalah Hayat pemenang dan Sang kebangkitan. Dia mati agar dapat membebaskan diri-Nya sebagai hayat. Di satu pihak, Tuhan tidak dapat dihancurkan, di pihak lain, Dia sudah dihan-curkan. Sebagai hayat kebangkitan, Dia tidak dapat dihancurkan; tapi untuk tujuan pembebasan diri-Nya sebagai hayat, Dia dihancurkan. Bahwa tidak satu tulang pun daripada-Nya yang dipatahkan, membuktikan bahwa tak ada sedikit pun hayat kebangkitan-Nya yang dapat dihancurkan.
Bagaimanapun, Dia rela menderita dan ditikam agar hayat dapat dibebaskan dan disalurkan ke dalam kita. Begitu perkara ini rampung, Dia beristirahat dan menanti kebangkitan. Jadi, melalui kematian-Nya, kita telah ditebus dan men-dapatkan hayat yang Dia bebaskan dan salurkan ke dalam kita.
Yohanes 19:40-41
Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
Ayat Bacaan: Yoh. 19:38-42; Mat. 27:57; Yoh. 3:1; Yes. 53:9
Setelah Tuhan merampungkan pekerjaan-Nya dalam kematian-Nya, Dia beristirahat (19:38-42). Dalam Yohanes 18 dan 19 kita melihat banyak hal yang jahat dan penderitaan yang menimpa Tuhan. Tetapi, bagai-manapun jahatnya peristiwa-peristiwa itu dan bagaimanapun banyaknya yang Dia derita, Dia menahannya dan melaluinya dengan penuh kemenangan. Ini menunjukkan bahwa Dia itu Hayat pemenang dan penakluk. Setelah Tuhan melaksanakan kematian untuk penebusan dan penyaluran hayat-Nya, situasi penderitaan-Nya segera berubah menjadi sesuatu yang penuh dengan ke-hormatan. Sebelum kematian-Nya, segala sesuatu jahat dan mematikan; se-telah kematian-Nya, segalanya jadi menyenangkan dan nyaman.
Yusuf dari Arimatea, seorang hartawan (Mat. 27:57) dan Nikodemus, seorang penguasa Yahudi (Yoh. 3:1) datang membawa kain lenan dan rempah-rempah yang mahal, mur dan gaharu (Yoh. 19:39-40), mempersiapkan tubuh-Nya untuk pemakaman. Bukan orang miskin yang merawat tubuh-Nya, tetapi kaum bang-sawan yang menguburkan Dia dalam sebuah kubur “bersama dengan orang kaya” (Yes. 53:9 Tl.). Dengan demikian kita melihat bahwa seluruh situasinya berubah menjadi keadaan yang mulia dan suatu lingkungan yang baru.
Pasal 18 dan 19 menyatakan bagaimana Tuhan menyerahkan diri-Nya dengan sukarela dan berani serta menaklukkan lingkungan kematian dan pengaruhnya. Hal ini membuktikan bahwa Dia adalah Hayat pemenang dan Sang kebangkitan. Dia mati agar dapat membebaskan diri-Nya sebagai hayat. Di satu pihak, Tuhan tidak dapat dihancurkan, di pihak lain, Dia sudah dihan-curkan. Sebagai hayat kebangkitan, Dia tidak dapat dihancurkan; tapi untuk tujuan pembebasan diri-Nya sebagai hayat, Dia dihancurkan. Bahwa tidak satu tulang pun daripada-Nya yang dipatahkan, membuktikan bahwa tak ada sedikit pun hayat kebangkitan-Nya yang dapat dihancurkan.
Bagaimanapun, Dia rela menderita dan ditikam agar hayat dapat dibebaskan dan disalurkan ke dalam kita. Begitu perkara ini rampung, Dia beristirahat dan menanti kebangkitan. Jadi, melalui kematian-Nya, kita telah ditebus dan men-dapatkan hayat yang Dia bebaskan dan salurkan ke dalam kita.
22 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 4 Jumat
Tulang-Nya tidak dipatahkan (2)
Mazmur 34:21
Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.
Ayat Bacaan: Mzm. 34:21; Kej. 2:21-23; Yoh. 3:36
Dalam Kejadian 2:21-23, kita menemukan pertama kali kata tulang disebut dalam Kitab Suci, yaitu sepotong tulang rusuk yang dikeluarkan dari Adam untuk menghasilkan dan membangun Hawa sebagai jodoh Adam. Hawa melambangkan gereja yang dihasilkan dan dibangun dengan hayat kebangkitan yang dilepaskan dari Dia. Dengan kata lain, gereja berasal dari hayat kebangkitan, hayat yang tak terbinasakan dari Kristus. Hayat-Nya adalah hayat yang tidak dapat dilukai, dirusak atau dipatahkan. Jika salah satu dari tulang Tuhan dapat dipatahkan, itu berarti bahwa hayat kebangkitan Tuhan dapat dilukai dan dirusak oleh kematian.
Melalui memeriksa Kejadian 2, dengan mudah kita dapat melihat arti kata tulang — yakni melambangkan hayat kebangkitan. Satu prinsip yang Alkitabiah adalah prinsip yang disebutkan pertama kali. Menurut prinsip ini, penyebutan pertama dari suatu perkara menentukan arti perkara itu dalam seluruh Alkitab. Dengan menerapkan prinsip ini pada kata tulang dalam Injil Yohanes, kita melihat bahwa tempat pertama yang menyebutkan sesuatu tentang kata tulang adalah dalam Kejadian pasal dua, di sana dikatakan sepotong tulang rusuk dikeluarkan dari Adam untuk menghasilkan seorang mempelai perempuan. Hawa adalah lambang gereja, Adam adalah lambang Kristus, dan tulang itu adalah lambang hayat kebangkitan Kristus.
Sebagaimana Hawa berasal dari tulang Adam, demikian pula gereja berasal dari hayat kebangkitan Kristus. Hawa dibuat dari sebuah tulang, dan gereja dihasilkan oleh hayat ilahi. Jadi tulang adalah lambang hayat kebangkitan. Tulang Tuhan Yesus tidak dipatahkan membuktikan bahwa Dialah hayat ke-bangkitan yang tidak dapat dihancurkan oleh maut. Lambung Tuhan ditusuk, tetapi tidak ada satu pun tulang-Nya yang dipatahkan. Ini menandakan bahwa meskipun hayat jasmani Tuhan dibunuh, hayat kebangkitan-Nya, hayat ilahi itu, tidak dapat dilukai atau dirusak oleh apa pun. Meskipun hayat insani-Nya dirusak oleh kematian, hayat ilahi-Nya tidak dapat dihancurkan. Inilah hayat yang dipakai untuk membangun gereja, yang juga adalah hayat kekal yang kita dapatkan karena percaya ke dalam-Nya.
Mazmur 34:21
Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.
Ayat Bacaan: Mzm. 34:21; Kej. 2:21-23; Yoh. 3:36
Dalam Kejadian 2:21-23, kita menemukan pertama kali kata tulang disebut dalam Kitab Suci, yaitu sepotong tulang rusuk yang dikeluarkan dari Adam untuk menghasilkan dan membangun Hawa sebagai jodoh Adam. Hawa melambangkan gereja yang dihasilkan dan dibangun dengan hayat kebangkitan yang dilepaskan dari Dia. Dengan kata lain, gereja berasal dari hayat kebangkitan, hayat yang tak terbinasakan dari Kristus. Hayat-Nya adalah hayat yang tidak dapat dilukai, dirusak atau dipatahkan. Jika salah satu dari tulang Tuhan dapat dipatahkan, itu berarti bahwa hayat kebangkitan Tuhan dapat dilukai dan dirusak oleh kematian.
Melalui memeriksa Kejadian 2, dengan mudah kita dapat melihat arti kata tulang — yakni melambangkan hayat kebangkitan. Satu prinsip yang Alkitabiah adalah prinsip yang disebutkan pertama kali. Menurut prinsip ini, penyebutan pertama dari suatu perkara menentukan arti perkara itu dalam seluruh Alkitab. Dengan menerapkan prinsip ini pada kata tulang dalam Injil Yohanes, kita melihat bahwa tempat pertama yang menyebutkan sesuatu tentang kata tulang adalah dalam Kejadian pasal dua, di sana dikatakan sepotong tulang rusuk dikeluarkan dari Adam untuk menghasilkan seorang mempelai perempuan. Hawa adalah lambang gereja, Adam adalah lambang Kristus, dan tulang itu adalah lambang hayat kebangkitan Kristus.
Sebagaimana Hawa berasal dari tulang Adam, demikian pula gereja berasal dari hayat kebangkitan Kristus. Hawa dibuat dari sebuah tulang, dan gereja dihasilkan oleh hayat ilahi. Jadi tulang adalah lambang hayat kebangkitan. Tulang Tuhan Yesus tidak dipatahkan membuktikan bahwa Dialah hayat ke-bangkitan yang tidak dapat dihancurkan oleh maut. Lambung Tuhan ditusuk, tetapi tidak ada satu pun tulang-Nya yang dipatahkan. Ini menandakan bahwa meskipun hayat jasmani Tuhan dibunuh, hayat kebangkitan-Nya, hayat ilahi itu, tidak dapat dilukai atau dirusak oleh apa pun. Meskipun hayat insani-Nya dirusak oleh kematian, hayat ilahi-Nya tidak dapat dihancurkan. Inilah hayat yang dipakai untuk membangun gereja, yang juga adalah hayat kekal yang kita dapatkan karena percaya ke dalam-Nya.
21 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 4 Kamis
Tulang-Nya tidak dipatahkan (1)
Yohanes 19:36
Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.”
Ayat Bacaan: Yoh. 19:31-33, 36; 10:17-18; Zak. 12:10; 1 Ptr. 1:19-20; Kel. 12:46; Mzm. 34:21
Setiap aspek kematian Tuhan sesuai dengan kedaulatan Allah. Di bawah kedaulatan Allah, tidak satupun tulang Tuhan yang dipatahkan (Yoh. 19:31-33, 36). Orang Yahudi, tidak ingin tubuh-tubuh itu tertinggal di atas salib pada hari Sabat, lalu mereka minta kepada Pilatus agar kaki-kaki mereka dipatahkan. Kemudian para prajurit mematahkan kaki kedua penyamun yang disalibkan bersama Tuhan. Tapi ketika mereka mendatangi Yesus, mereka melihat bahwa Dia sudah mati. Karena Tuhan sudah mati, maka tidak perlu mematahkan tulang-Nya. Dalam satu pengertian, ini membuktikan bahwa di satu pihak Tuhan Yesus tidak mati karena tangan manusia, melainkan Dia mati sendiri. dan ini adalah untuk meggenapkan rencana Allah yang semula.
Meskipun Dia disalibkan, Dia mati sendiri untuk menggenapi Firman-Nya yang diucapkan dalam Yohanes 10:17 dan 18, ”Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.” Kelihatannya, Yesus terbunuh; sesungguhnya, Dia memberikan hayat jiwa-Nya, hayat psuche-Nya dan mati. Sekalipun kedua penjahat terbunuh, Yesus tidak demikian. Sebalik-nya, Dia memberikan hayat psuche-Nya untuk penebusan kita.
Karena Dia telah mati, prajurit-prajurit tidak mematahkan kaki-Nya. Ke-daulatan ini mengenapi nubuat yang mengatakan, “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan” (Yoh. 19:36). Seorang dari para prajurit itu, tidak percaya bahwa Tuhan benar-benar sudah mati, lalu menikam lambung-Nya dengan sebatang tombak. Ketika Kristus disalibkan, kaki-Nya tidak ada yang dipatahkan (Yoh. 19:33-36). Tulang-tulang Kristus yang tidak dipatahkan melambangkan hayat kekal-Nya yang tidak dapat dipatahkan dan tidak dapat binasa yang menyalurkan hayat ke dalam kita. Ini mutlak terjadi karena kedaulatan Allah dengan begitu ajaib dan bermakna. Ini juga membuktikan bahwa kematian Tuhan bukan terjadi secara kebetulan, melainkan direncana-kan Allah sebelum dunia dijadikan (1 Ptr. 1:19-20). Haleluya, atas Firman Tuhan yang tidak pernah salah, firman-Nya digenapi bagi kita.
Yohanes 19:36
Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.”
Ayat Bacaan: Yoh. 19:31-33, 36; 10:17-18; Zak. 12:10; 1 Ptr. 1:19-20; Kel. 12:46; Mzm. 34:21
Setiap aspek kematian Tuhan sesuai dengan kedaulatan Allah. Di bawah kedaulatan Allah, tidak satupun tulang Tuhan yang dipatahkan (Yoh. 19:31-33, 36). Orang Yahudi, tidak ingin tubuh-tubuh itu tertinggal di atas salib pada hari Sabat, lalu mereka minta kepada Pilatus agar kaki-kaki mereka dipatahkan. Kemudian para prajurit mematahkan kaki kedua penyamun yang disalibkan bersama Tuhan. Tapi ketika mereka mendatangi Yesus, mereka melihat bahwa Dia sudah mati. Karena Tuhan sudah mati, maka tidak perlu mematahkan tulang-Nya. Dalam satu pengertian, ini membuktikan bahwa di satu pihak Tuhan Yesus tidak mati karena tangan manusia, melainkan Dia mati sendiri. dan ini adalah untuk meggenapkan rencana Allah yang semula.
Meskipun Dia disalibkan, Dia mati sendiri untuk menggenapi Firman-Nya yang diucapkan dalam Yohanes 10:17 dan 18, ”Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.” Kelihatannya, Yesus terbunuh; sesungguhnya, Dia memberikan hayat jiwa-Nya, hayat psuche-Nya dan mati. Sekalipun kedua penjahat terbunuh, Yesus tidak demikian. Sebalik-nya, Dia memberikan hayat psuche-Nya untuk penebusan kita.
Karena Dia telah mati, prajurit-prajurit tidak mematahkan kaki-Nya. Ke-daulatan ini mengenapi nubuat yang mengatakan, “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan” (Yoh. 19:36). Seorang dari para prajurit itu, tidak percaya bahwa Tuhan benar-benar sudah mati, lalu menikam lambung-Nya dengan sebatang tombak. Ketika Kristus disalibkan, kaki-Nya tidak ada yang dipatahkan (Yoh. 19:33-36). Tulang-tulang Kristus yang tidak dipatahkan melambangkan hayat kekal-Nya yang tidak dapat dipatahkan dan tidak dapat binasa yang menyalurkan hayat ke dalam kita. Ini mutlak terjadi karena kedaulatan Allah dengan begitu ajaib dan bermakna. Ini juga membuktikan bahwa kematian Tuhan bukan terjadi secara kebetulan, melainkan direncana-kan Allah sebelum dunia dijadikan (1 Ptr. 1:19-20). Haleluya, atas Firman Tuhan yang tidak pernah salah, firman-Nya digenapi bagi kita.
20 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 4 Rabu
Mengalirkan air untuk membagikan hayat (2)
Yohanes 12:24
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
Ayat Bacaan: Yoh. 12:24; 4:14; Why. 22:1
Air yang keluar dari rusuk-Nya melambangkan aspek penyaluran hayat dari kematian Kristus (Yoh. 12:24). Air adalah untuk penyaluran hayat (Yoh. 4:14, Why. 22:1). Kalau darah membentuk sebuah sumber untuk mencuci dosa-dosa, air menjadi sebuah sumber untuk diminum. Darah itu untuk membeli gereja, sedangkan air yang melambangkan hayat kekal itu untuk menghasilkan gereja. Aspek kedua dari kematian Tuhan ini adalah kematian yang membebaskan hayat, mengembangbiakkan hayat dan melipatgandakan hayat, juga adalah kematian yang melahirkan dan mereproduksi hayat.
Sewaktu Tuhan Yesus berkata bahwa Ia adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke tanah; mati sehingga menghasilkan banyak butir biji gandum (Yoh. 12:24), Dia menunjukkan aspek penyaluran hayat dari kematian-Nya. Kematian dari sebutir biji gandum ini bukanlah untuk penebusan, melainkan mutlak untuk penyaluran hayat yang ada dalam gandum pertama kepada banyak butir biji gandum. Di pihak negatif, kematian Kristus menyingkirkan dosa-dosa kita, dan di pihak positif, menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita.
Pada hari ini, begitu kita percaya kepada-Nya, dosa-dosa kita disingkirkan oleh kematian-Nya yang menebus dan hayat yang kekal disalurkan kepada kita oleh kematian-Nya yang menyalurkan hayat. Kematian yang menyalurkan hayat ini juga merupakan kematian yang membebaskan hayat, mengembang-biakkan hayat dan melipatgandakan hayat. Inilah kematian yang melahirkan dan mereproduksi hayat. Sebutir biji gandum, meski hayatnya terkurung dalam biji gandum itu namun ia penuh dengan kuasa kebangkitan.
Kematian Tuhan adalah kematian yang membebaskan hayat; bagi kita, itulah kematian yang menyalurkan hayat. Tidak hanya demikian, kematian-Nya juga mengembangbiakkan hayat, menyebabkan pelipatgandaan hayat. Kematian juga mereproduksi hayat, karena sebutir biji gandum telah direproduksi menjadi banyak butir biji gandum. Betapa perlunya kita terkesan oleh aspek-aspek yang ajaib dari kematian Kristus yang almuhit ini. Karena kematian-Nya yang almuhit inilah yang membawa kita berbagian dengan hayat kekal-Nya. Kini Dialah sumber kita yang sejati, kita adalah reproduksi hayat-Nya. Haleluya!
Yohanes 12:24
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
Ayat Bacaan: Yoh. 12:24; 4:14; Why. 22:1
Air yang keluar dari rusuk-Nya melambangkan aspek penyaluran hayat dari kematian Kristus (Yoh. 12:24). Air adalah untuk penyaluran hayat (Yoh. 4:14, Why. 22:1). Kalau darah membentuk sebuah sumber untuk mencuci dosa-dosa, air menjadi sebuah sumber untuk diminum. Darah itu untuk membeli gereja, sedangkan air yang melambangkan hayat kekal itu untuk menghasilkan gereja. Aspek kedua dari kematian Tuhan ini adalah kematian yang membebaskan hayat, mengembangbiakkan hayat dan melipatgandakan hayat, juga adalah kematian yang melahirkan dan mereproduksi hayat.
Sewaktu Tuhan Yesus berkata bahwa Ia adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke tanah; mati sehingga menghasilkan banyak butir biji gandum (Yoh. 12:24), Dia menunjukkan aspek penyaluran hayat dari kematian-Nya. Kematian dari sebutir biji gandum ini bukanlah untuk penebusan, melainkan mutlak untuk penyaluran hayat yang ada dalam gandum pertama kepada banyak butir biji gandum. Di pihak negatif, kematian Kristus menyingkirkan dosa-dosa kita, dan di pihak positif, menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita.
Pada hari ini, begitu kita percaya kepada-Nya, dosa-dosa kita disingkirkan oleh kematian-Nya yang menebus dan hayat yang kekal disalurkan kepada kita oleh kematian-Nya yang menyalurkan hayat. Kematian yang menyalurkan hayat ini juga merupakan kematian yang membebaskan hayat, mengembang-biakkan hayat dan melipatgandakan hayat. Inilah kematian yang melahirkan dan mereproduksi hayat. Sebutir biji gandum, meski hayatnya terkurung dalam biji gandum itu namun ia penuh dengan kuasa kebangkitan.
Kematian Tuhan adalah kematian yang membebaskan hayat; bagi kita, itulah kematian yang menyalurkan hayat. Tidak hanya demikian, kematian-Nya juga mengembangbiakkan hayat, menyebabkan pelipatgandaan hayat. Kematian juga mereproduksi hayat, karena sebutir biji gandum telah direproduksi menjadi banyak butir biji gandum. Betapa perlunya kita terkesan oleh aspek-aspek yang ajaib dari kematian Kristus yang almuhit ini. Karena kematian-Nya yang almuhit inilah yang membawa kita berbagian dengan hayat kekal-Nya. Kini Dialah sumber kita yang sejati, kita adalah reproduksi hayat-Nya. Haleluya!
19 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 4 Selasa
Mengalirkan air untuk membagikan hayat (1)
Yohanes 10:10
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hayat, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Tl.)
Ayat Bacaan: Yoh. 10:10; 19:34; Mat. 27:45-46, 51; Mrk. 15:33; Luk. 23:44-45, 34; Kej. 2:21-23
Dalam Matius 27:45, 51, Markus 15:33, dan Lukas 23:44-45, kegelapan, simbol dari dosa muncul, juga tabir dalam Bait Suci yang memisahkan Allah dengan manusia terbelah. Semua itu adalah tanda aspek penebusan dari kematian Tuhan. Selanjutnya, kata-kata yang diucapkan Tuhan di salib dalam Lukas 23:34, “Ya Bapa, ampunilah mereka”, dan dalam Matius 27:46, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (karena saat itu Dia menanggung dosa-dosa kita). Perkataan ini juga menggambarkan aspek penebusan dari kematian Tuhan. Tetapi air yang mengalir dan tulang yang tidak diremukkan yang disebutkan oleh Yohanes dalam pasal 19:34 dan 36 ialah tanda aspek penyaluran hayat dari kematian Tuhan.
Kematian yang menyalurkan hayat ini membebaskan hayat ilahi Tuhan dari dalam diri-Nya untuk menghasilkan gereja, yaitu yang tersusun dari semua orang beriman-Nya yang ke dalam mereka hayat ilahi-Nya disalurkan. Kematian Tuhan yang menyalurkan hayat ini dilambangkan dengan tertidurnya Adam yang menghasilkan Hawa (Kej. 2:21-23), juga ditandai dengan jatuhnya sebutir biji gandum ke dalam tanah dan mati untuk menghasilkan banyak butir (Yoh. 12:24) untuk dijadikan satu roti – yang melambangkan Tubuh Kristus (1 Kor. 10:17). Jadi, kematian Tuhan juga adalah kematian yang mengembangbiakkan hayat, melipatgandakan hayat, kematian yang menghasilkan dan mereproduksi hayat.
Alkitab memperlihatkan kepada kita, tujuan Allah yang kekal adalah di dalam Anak-Nya, Tuhan Yesus, memberikan hayat kepada manusia. Sebab itu, Dia menaruh hayat-Nya di dalam Tuhan Yesus, menyuruh Tuhan Yesus ke bumi, supaya orang mendapatkan hayat-Nya (Yoh. 1:4; 10:10). Supaya orang bisa mendapatkan hayat Allah yang ada di dalam-Nya, Tuhan Yesus harus mati, tubuh-Nya harus terbelah, untuk melepaskan hayat Allah yang ada di dalam-Nya. Melalui kematian-Nya, Tuhan membagikan hayat Allah yang ada di dalam-Nya kepada kita. Inilah tujuan utama Dia menyerahkan diri mati di atas salib. Karena hal inilah, kita harus senantiasa memberitakan apa yang telah Tuhan lakukan bagi kita kepada semua orang.
Yohanes 10:10
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hayat, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Tl.)
Ayat Bacaan: Yoh. 10:10; 19:34; Mat. 27:45-46, 51; Mrk. 15:33; Luk. 23:44-45, 34; Kej. 2:21-23
Dalam Matius 27:45, 51, Markus 15:33, dan Lukas 23:44-45, kegelapan, simbol dari dosa muncul, juga tabir dalam Bait Suci yang memisahkan Allah dengan manusia terbelah. Semua itu adalah tanda aspek penebusan dari kematian Tuhan. Selanjutnya, kata-kata yang diucapkan Tuhan di salib dalam Lukas 23:34, “Ya Bapa, ampunilah mereka”, dan dalam Matius 27:46, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (karena saat itu Dia menanggung dosa-dosa kita). Perkataan ini juga menggambarkan aspek penebusan dari kematian Tuhan. Tetapi air yang mengalir dan tulang yang tidak diremukkan yang disebutkan oleh Yohanes dalam pasal 19:34 dan 36 ialah tanda aspek penyaluran hayat dari kematian Tuhan.
Kematian yang menyalurkan hayat ini membebaskan hayat ilahi Tuhan dari dalam diri-Nya untuk menghasilkan gereja, yaitu yang tersusun dari semua orang beriman-Nya yang ke dalam mereka hayat ilahi-Nya disalurkan. Kematian Tuhan yang menyalurkan hayat ini dilambangkan dengan tertidurnya Adam yang menghasilkan Hawa (Kej. 2:21-23), juga ditandai dengan jatuhnya sebutir biji gandum ke dalam tanah dan mati untuk menghasilkan banyak butir (Yoh. 12:24) untuk dijadikan satu roti – yang melambangkan Tubuh Kristus (1 Kor. 10:17). Jadi, kematian Tuhan juga adalah kematian yang mengembangbiakkan hayat, melipatgandakan hayat, kematian yang menghasilkan dan mereproduksi hayat.
Alkitab memperlihatkan kepada kita, tujuan Allah yang kekal adalah di dalam Anak-Nya, Tuhan Yesus, memberikan hayat kepada manusia. Sebab itu, Dia menaruh hayat-Nya di dalam Tuhan Yesus, menyuruh Tuhan Yesus ke bumi, supaya orang mendapatkan hayat-Nya (Yoh. 1:4; 10:10). Supaya orang bisa mendapatkan hayat Allah yang ada di dalam-Nya, Tuhan Yesus harus mati, tubuh-Nya harus terbelah, untuk melepaskan hayat Allah yang ada di dalam-Nya. Melalui kematian-Nya, Tuhan membagikan hayat Allah yang ada di dalam-Nya kepada kita. Inilah tujuan utama Dia menyerahkan diri mati di atas salib. Karena hal inilah, kita harus senantiasa memberitakan apa yang telah Tuhan lakukan bagi kita kepada semua orang.
18 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 4 Senin
Mengalirkan darah untuk penebusan (2)
Ibrani 9:22
Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah,dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.
Ayat Bacaan: Ibr. 9:22; 10:1-18; 1 Ptr. 3:18; Rm. 8:3; Ibr. 9:26
Menurut Alkitab, keadilbenaran Allah menghendaki agar semua dosa dihakimi. Satu-satunya cara agar dosa dapat dihakimi secara adil-benar adalah melalui kematian. Ibrani 9:22 mengata-kan bahwa tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Agar Allah dapat menghakimi dan kemudian mengampuni dosa-dosa kita, maka harus ada penumpahan darah, yaitu perlu kematian. Cara penebusan apa pun yang tidak melibatkan kematian tidak dapat memenuhi tuntutan keadil-benaran Allah, semuanya berada di bawah standar Allah.
Dalam Perjanjian Lama, Allah menghendaki kematian binatang sebagai kurban. Ketika seseorang berdosa, dia harus mempersembahkan seekor anak domba atau seekor lembu jantan dan harus membunuh kurban itu barulah tuntutan keadilbenaran Allah dapat dipenuhi. Meskipun cara ini dapat membuat Allah melewatkan dosa-dosa manusia, tetapi tidak berarti merupakan penyelesaian akhir dari masalah dosa manusia. Dalam Perjanjian Baru, cara penyelesaian Allah atas masalah dosa adalah dengan mengirimkan Anak Tunggal-Nya, Yesus Kristus, sebagai kurban yang unik untuk menggantikan semua kurban binatang dalam Perjanjian Lama (Ibr. 10:1-18). Dia membuat Yesus mati sebagai ganti seluruh umat manusia (1 Ptr. 3:18). Melalui melaksanakan penghakiman-Nya atas Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah, dosa manusia dihakimi, dan masalah dosa akhirnya terselesaikan untuk selamanya (Rm. 8:3; Ibr. 9:26).
Kristus adalah kurban yang sempurna dan kekal. Tidak ada lagi yang dapat ditambahkan oleh manusia pada kurban ini untuk memperbaiki apa yang telah dilakukan oleh Allah. Itulah sebabnya, dalam Perjanjian Baru manusia tidak perlu melakukan perbuatan baik untuk menyelamatkan dirinya karena Allah telah mengerjakan semuanya untuk manusia. Sangatlah bodoh jika manusia mencoba menyalibkan dirinya sekali lagi atau meniru penderitaan Kristus. Tidak ada yang dapat ditambahkan pada apa yang telah dirampungkan oleh Allah di dalam Kristus. Penebusan adalah suatu tindakan di hadapan Allah dan hal itu telah memuaskan Allah.
Ibrani 9:22
Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah,dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.
Ayat Bacaan: Ibr. 9:22; 10:1-18; 1 Ptr. 3:18; Rm. 8:3; Ibr. 9:26
Menurut Alkitab, keadilbenaran Allah menghendaki agar semua dosa dihakimi. Satu-satunya cara agar dosa dapat dihakimi secara adil-benar adalah melalui kematian. Ibrani 9:22 mengata-kan bahwa tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Agar Allah dapat menghakimi dan kemudian mengampuni dosa-dosa kita, maka harus ada penumpahan darah, yaitu perlu kematian. Cara penebusan apa pun yang tidak melibatkan kematian tidak dapat memenuhi tuntutan keadil-benaran Allah, semuanya berada di bawah standar Allah.
Dalam Perjanjian Lama, Allah menghendaki kematian binatang sebagai kurban. Ketika seseorang berdosa, dia harus mempersembahkan seekor anak domba atau seekor lembu jantan dan harus membunuh kurban itu barulah tuntutan keadilbenaran Allah dapat dipenuhi. Meskipun cara ini dapat membuat Allah melewatkan dosa-dosa manusia, tetapi tidak berarti merupakan penyelesaian akhir dari masalah dosa manusia. Dalam Perjanjian Baru, cara penyelesaian Allah atas masalah dosa adalah dengan mengirimkan Anak Tunggal-Nya, Yesus Kristus, sebagai kurban yang unik untuk menggantikan semua kurban binatang dalam Perjanjian Lama (Ibr. 10:1-18). Dia membuat Yesus mati sebagai ganti seluruh umat manusia (1 Ptr. 3:18). Melalui melaksanakan penghakiman-Nya atas Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah, dosa manusia dihakimi, dan masalah dosa akhirnya terselesaikan untuk selamanya (Rm. 8:3; Ibr. 9:26).
Kristus adalah kurban yang sempurna dan kekal. Tidak ada lagi yang dapat ditambahkan oleh manusia pada kurban ini untuk memperbaiki apa yang telah dilakukan oleh Allah. Itulah sebabnya, dalam Perjanjian Baru manusia tidak perlu melakukan perbuatan baik untuk menyelamatkan dirinya karena Allah telah mengerjakan semuanya untuk manusia. Sangatlah bodoh jika manusia mencoba menyalibkan dirinya sekali lagi atau meniru penderitaan Kristus. Tidak ada yang dapat ditambahkan pada apa yang telah dirampungkan oleh Allah di dalam Kristus. Penebusan adalah suatu tindakan di hadapan Allah dan hal itu telah memuaskan Allah.
17 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 4 Minggu
Mengalirkan darah untuk penebusan (1)
Yohanes 19:34
Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.
Ayat Bacaan: Yoh. 19:34; 1:29; Ibr. 9:22; Kis. 20:28; Yoh. 12:24; 3:14-15; Ibr. 9:14
Pemikiran dalam Injil Yohanes, khususnya dalam pasal 18 dan 19, terutama dipusatkan pada Tuhan sebagai benih hayat, mati dan membebaskan diri-Nya melalui kematian dan kebangkitan. Dalam hal ini, sebutir biji gandum telah dilepaskan untuk menghasilkan banyak butir biji gandum. Pada mulanya hayat terbatas dalam sebutir biji gandum, tetapi kini melalui kematian dan kebangkitan, hayat Kristus telah dibebaskan, telah menghasilkan banyak butir biji gandum. Inilah pemikiran atas kematian Tuhan dalam Injil Yohanes.
Yohanes 19:34 mengatakan, “Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Dari lambung Tuhan yang ditusuk mengalir keluar dua macam unsur: darah dan air. Darah adalah untuk penebusan, berkaitan dengan menanggulangi dosa-dosa (Yoh. 1:29, Ibr. 9:22) untuk membeli gereja (Kis. 20:28). Air adalah untuk menyalurkan hayat, berkaitan dengan kematian (Yoh. 12:24, 3:14-15) untuk menghasilkan gereja (Ef. 5:29-31). Di aspek negatif, kematian Tuhan me-nyingkirkan dosa-dosa kita; di aspek positif, menyalurkan hayat ke dalam kita. Kita telah dipisahkan kepada Allah oleh darah penebusan Kristus (Ibr. 9:14). Tetapi kita tidak dapat nampak kuasa darah Kristus dalam kebanyakan orang Kristen dewasa ini.
Semua orang Kristen percaya bahwa diri mereka telah ditebus, namun dalam beberapa orang di antara mereka tidak ada tanda penebusan darah. Tanda darah ialah tanda pemisahan. Bila Anda telah ditebus oleh darah, Anda pun harus membawa tanda pemisahan. Mungkin orang lain boleh dengan bebas berkata atau berbuat sesuatu, namun Anda tidak dapat. Sekalipun Anda dapat melakukan perkara itu, tetapi Anda menahan diri untuk tidak melakukannya, karena Anda telah ditebus oleh darah. Pada Anda terdapat suatu tanda bahwa Anda berbeda dan terpisah. Kalau orang lain boleh menuturkan perkataan tertentu, mengunjungi tempat tertentu, dan membeli barang tertentu, kita tidak dapat, sebab kita telah dipisahkan dan membawa tanda darah penebusan. Darah ini telah menguduskan dan memisahkan kita.
Yohanes 19:34
Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.
Ayat Bacaan: Yoh. 19:34; 1:29; Ibr. 9:22; Kis. 20:28; Yoh. 12:24; 3:14-15; Ibr. 9:14
Pemikiran dalam Injil Yohanes, khususnya dalam pasal 18 dan 19, terutama dipusatkan pada Tuhan sebagai benih hayat, mati dan membebaskan diri-Nya melalui kematian dan kebangkitan. Dalam hal ini, sebutir biji gandum telah dilepaskan untuk menghasilkan banyak butir biji gandum. Pada mulanya hayat terbatas dalam sebutir biji gandum, tetapi kini melalui kematian dan kebangkitan, hayat Kristus telah dibebaskan, telah menghasilkan banyak butir biji gandum. Inilah pemikiran atas kematian Tuhan dalam Injil Yohanes.
Yohanes 19:34 mengatakan, “Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Dari lambung Tuhan yang ditusuk mengalir keluar dua macam unsur: darah dan air. Darah adalah untuk penebusan, berkaitan dengan menanggulangi dosa-dosa (Yoh. 1:29, Ibr. 9:22) untuk membeli gereja (Kis. 20:28). Air adalah untuk menyalurkan hayat, berkaitan dengan kematian (Yoh. 12:24, 3:14-15) untuk menghasilkan gereja (Ef. 5:29-31). Di aspek negatif, kematian Tuhan me-nyingkirkan dosa-dosa kita; di aspek positif, menyalurkan hayat ke dalam kita. Kita telah dipisahkan kepada Allah oleh darah penebusan Kristus (Ibr. 9:14). Tetapi kita tidak dapat nampak kuasa darah Kristus dalam kebanyakan orang Kristen dewasa ini.
Semua orang Kristen percaya bahwa diri mereka telah ditebus, namun dalam beberapa orang di antara mereka tidak ada tanda penebusan darah. Tanda darah ialah tanda pemisahan. Bila Anda telah ditebus oleh darah, Anda pun harus membawa tanda pemisahan. Mungkin orang lain boleh dengan bebas berkata atau berbuat sesuatu, namun Anda tidak dapat. Sekalipun Anda dapat melakukan perkara itu, tetapi Anda menahan diri untuk tidak melakukannya, karena Anda telah ditebus oleh darah. Pada Anda terdapat suatu tanda bahwa Anda berbeda dan terpisah. Kalau orang lain boleh menuturkan perkataan tertentu, mengunjungi tempat tertentu, dan membeli barang tertentu, kita tidak dapat, sebab kita telah dipisahkan dan membawa tanda darah penebusan. Darah ini telah menguduskan dan memisahkan kita.
16 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Sabtu
Yesus menyerahkan nyawa-Nya
Yohanes 19:30
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 19:30; Mrk. 10:45; Luk. 19:10; Yoh. 10:10
Menurut Markus 10, Ia datang untuk melayani manusia bahkan sampai pada titik memberikan diri-Nya sebagai tebusan. Tujuan kedatangan-Nya adalah untuk melayani manusia. Dalam pelayanan-Nya kepada manusia, terdapat suatu keperluan bagi-Nya untuk memberikan diri-Nya sebagai tebusan, dan memang itulah yang dilakukan-Nya. Menjadi tebusan adalah tindakan-Nya yang tertinggi dan perampungan akhir dari pelayanan-Nya kepada manusia. Tuhan tidak mengatakan bahwa Anak Manusia hanya datang sebagai tebusan. Ia mengatakan Anak Manusia datang untuk “melayani”. Tujuannya adalah pelayanan. Ia tertarik pada manusia, dan Ia menganggap manusia mustika dan berharga untuk dikasihi dan dilayani. Ia melayani manusia se- demikian rupa sampai Ia memenuhi keperluan mereka melalui menjadi juru-selamat mereka. Inilah sebabnya Ia memberikan diri-Nya sebagai tebusan.
Tuhan Yesus lebih dahulu mengasihi dan melayani manusia, dan kemudian Ia memberikan diri-Nya kepada mereka. Pertama-tama adalah kasih; pengor-banan hidup datang selanjutnya. Ketika kita bekerja di antara manusia, kita tidak dapat menginjil tentang pengorbanan Tuhan tanpa memiliki kasih yang tepat lebih dulu. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa kita dapat lebih dulu mengabarkan pengorbanan Tuhan baru kemudian mengasihi pendengarnya setelah ia menerima Tuhan.
Jika kita tidak memiliki minat terhadap manusia dan tidak menganggapnya mustika, dan jika kita tidak memiliki kesadaran bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Allah yang terkasih, kita tidak dapat menginjil tentang pengor-banan. Jika kita belum penah dijamah oleh kata-kata Allah menciptakan ma-nusia atau hanya memiliki sedikit sekali perasaan terhadap hal ini, kita tidak cocok untuk mengabarkan pengorbanan Kristus. Kita tidak dapat menahan kasih kita sampai mereka menerima Tuhan atau sampai mereka menjadi saudara-saudara kita. Tuhan kita lebih dahulu melayani dan membelaskasihani orang lain sebelum memberikan diri-Nya sebagai tebusan. Kita yang yang memberitakan tentang penebusan-Nya seharusnya juga mengasihi lebih dahulu baru kemudian memberitakan penebusan.
Yohanes 19:30
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 19:30; Mrk. 10:45; Luk. 19:10; Yoh. 10:10
Menurut Markus 10, Ia datang untuk melayani manusia bahkan sampai pada titik memberikan diri-Nya sebagai tebusan. Tujuan kedatangan-Nya adalah untuk melayani manusia. Dalam pelayanan-Nya kepada manusia, terdapat suatu keperluan bagi-Nya untuk memberikan diri-Nya sebagai tebusan, dan memang itulah yang dilakukan-Nya. Menjadi tebusan adalah tindakan-Nya yang tertinggi dan perampungan akhir dari pelayanan-Nya kepada manusia. Tuhan tidak mengatakan bahwa Anak Manusia hanya datang sebagai tebusan. Ia mengatakan Anak Manusia datang untuk “melayani”. Tujuannya adalah pelayanan. Ia tertarik pada manusia, dan Ia menganggap manusia mustika dan berharga untuk dikasihi dan dilayani. Ia melayani manusia se- demikian rupa sampai Ia memenuhi keperluan mereka melalui menjadi juru-selamat mereka. Inilah sebabnya Ia memberikan diri-Nya sebagai tebusan.
Tuhan Yesus lebih dahulu mengasihi dan melayani manusia, dan kemudian Ia memberikan diri-Nya kepada mereka. Pertama-tama adalah kasih; pengor-banan hidup datang selanjutnya. Ketika kita bekerja di antara manusia, kita tidak dapat menginjil tentang pengorbanan Tuhan tanpa memiliki kasih yang tepat lebih dulu. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa kita dapat lebih dulu mengabarkan pengorbanan Tuhan baru kemudian mengasihi pendengarnya setelah ia menerima Tuhan.
Jika kita tidak memiliki minat terhadap manusia dan tidak menganggapnya mustika, dan jika kita tidak memiliki kesadaran bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Allah yang terkasih, kita tidak dapat menginjil tentang pengor-banan. Jika kita belum penah dijamah oleh kata-kata Allah menciptakan ma-nusia atau hanya memiliki sedikit sekali perasaan terhadap hal ini, kita tidak cocok untuk mengabarkan pengorbanan Kristus. Kita tidak dapat menahan kasih kita sampai mereka menerima Tuhan atau sampai mereka menjadi saudara-saudara kita. Tuhan kita lebih dahulu melayani dan membelaskasihani orang lain sebelum memberikan diri-Nya sebagai tebusan. Kita yang yang memberitakan tentang penebusan-Nya seharusnya juga mengasihi lebih dahulu baru kemudian memberitakan penebusan.
15 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Jumat
Yesus berkata: sudah selesai!
Yohanes 19:30
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 5:17,30; Kol. 1:14 ; 1 Yoh. 2:2; Rm. 5:11; Rm. 5:10; Kol. 1:20; 2 Kor. 5:18-19
Tuhan bekerja terus hingga Ia disalibkan (5:17). Tetapi bahkan ketika saat penyaliban-Nya, Tuhan masih terus bekerja. Bagaimanakah kita bisa mengetahui bahwa di atas salib Ia masih terus bekerja? Karena sebelum mati Ia berseru, “Sudah selesai!” Sewaktu Ia disalibkan, Ia masih bekerja untuk penebusan orang-orang berdosa, untuk menghancurkan ular, untuk membebaskan hayat ilahi, dan untuk menggenapkan kehendak kekal Allah. Pada detik yang terakhir, setelah segala sesuatunya digenapi, Ia memprokla-mirkan kepada alam semesta, “Sudah selesai!” Kemudian Ia mati dan masuk ke dalam perhentian. Terpujilah Tuhan Yesus! Hanya Dialah yang dapat me-lakukan hal ini. Melalui penyaliban-Nya, Ia menyelesaikan pekerjaan kematian almuhit-Nya, yang dengannya Ia merampungkan penebusan, mengakhiri ciptaan lama, dan membebaskan hayat kebangkitan-Nya untuk menghasilkan ciptaan baru, merampungkan kehendak Allah.
Dalam proses kematian-Nya, dengan tindakan-Nya Dia membuktikan kepada penentang-Nya dan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya bahwa Dia adalah hayat. Lingkungan kematian yang mengerikan sedikit pun tidak me-nakutkan Dia, malahan membentuk satu kontradiksi yang membuktikan dengan kuat bahwa Ia sebagai hayat berlawan dengan maut, sedikit pun tidak ter-pengaruh oleh maut. Karena itu, pekerjaan yang Tuhan nyatakan selesai di sini meliputi menggenapkan penebusan, mengakhiri ciptaan lama, membebas-kan hayat kebangkitan-Nya, dan menyatakan bahwa Dia adalah hayat yang tidak bisa dipengaruhi oleh maut.
Karena itu sejak kini, “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm. 8:1). Itulah yang digenapkan-Nya bagi kita, dan itulah kedudukan kita dalam pandangan hukum Taurat. “Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa” (Rm. 6:7). Kita telah mati di dalam Tuhan Yesus, inilah kedudukan kita. Kini kita perlu pekerjaan Roh Kudus untuk merealisasikan fakta itu, agar fakta itu menjadi pengalaman kita. Salib menanggung hukuman bagi orang dosa, menetapkan nilai orang dosa, mematikan seluruh orang dosa, dan melepaskan hayat Tuhan Yesus.
Yohanes 19:30
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 5:17,30; Kol. 1:14 ; 1 Yoh. 2:2; Rm. 5:11; Rm. 5:10; Kol. 1:20; 2 Kor. 5:18-19
Tuhan bekerja terus hingga Ia disalibkan (5:17). Tetapi bahkan ketika saat penyaliban-Nya, Tuhan masih terus bekerja. Bagaimanakah kita bisa mengetahui bahwa di atas salib Ia masih terus bekerja? Karena sebelum mati Ia berseru, “Sudah selesai!” Sewaktu Ia disalibkan, Ia masih bekerja untuk penebusan orang-orang berdosa, untuk menghancurkan ular, untuk membebaskan hayat ilahi, dan untuk menggenapkan kehendak kekal Allah. Pada detik yang terakhir, setelah segala sesuatunya digenapi, Ia memprokla-mirkan kepada alam semesta, “Sudah selesai!” Kemudian Ia mati dan masuk ke dalam perhentian. Terpujilah Tuhan Yesus! Hanya Dialah yang dapat me-lakukan hal ini. Melalui penyaliban-Nya, Ia menyelesaikan pekerjaan kematian almuhit-Nya, yang dengannya Ia merampungkan penebusan, mengakhiri ciptaan lama, dan membebaskan hayat kebangkitan-Nya untuk menghasilkan ciptaan baru, merampungkan kehendak Allah.
Dalam proses kematian-Nya, dengan tindakan-Nya Dia membuktikan kepada penentang-Nya dan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya bahwa Dia adalah hayat. Lingkungan kematian yang mengerikan sedikit pun tidak me-nakutkan Dia, malahan membentuk satu kontradiksi yang membuktikan dengan kuat bahwa Ia sebagai hayat berlawan dengan maut, sedikit pun tidak ter-pengaruh oleh maut. Karena itu, pekerjaan yang Tuhan nyatakan selesai di sini meliputi menggenapkan penebusan, mengakhiri ciptaan lama, membebas-kan hayat kebangkitan-Nya, dan menyatakan bahwa Dia adalah hayat yang tidak bisa dipengaruhi oleh maut.
Karena itu sejak kini, “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm. 8:1). Itulah yang digenapkan-Nya bagi kita, dan itulah kedudukan kita dalam pandangan hukum Taurat. “Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa” (Rm. 6:7). Kita telah mati di dalam Tuhan Yesus, inilah kedudukan kita. Kini kita perlu pekerjaan Roh Kudus untuk merealisasikan fakta itu, agar fakta itu menjadi pengalaman kita. Salib menanggung hukuman bagi orang dosa, menetapkan nilai orang dosa, mematikan seluruh orang dosa, dan melepaskan hayat Tuhan Yesus.
14 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Kamis
Diejek dengan anggur asam
Yohanes 19:29
Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
Ayat Bacaan: Yoh. 19:29; Luk. 23:36; Luk. 16:24, Why. 21:8; Ibr. 2:9
Pada awal penyaliban-Nya, anggur yang dicampur dengan empedu diberikan kepada Tuhan sebagai minuman atau tegukan yang memabukkan, karenanya Ia tak mau meminumnya. Tetapi pada akhir penyaliban-Nya, ketika Ia merasa haus, anggur asam diberikan kepada Dia dengan cara mengolok-olokkan-Nya (Luk. 23:36). Haus adalah suatu perasaan terhadap maut (Luk. 16:24; Why. 21:8). Di atas salib Tuhan Yesus mengecap maut bagi kita (Ibr. 2:9). Dalam penyaliban-Nya, pakaian dan minuman yang menjadi hak-Nya dirampok bersamaan dengan hayat-Nya.
Karena manusia harus menerima hukuman, maka Putra Allah, Yesus Kristus yang telah menjadi manusia, telah menerima hukuman yang harus diterima oleh manusia. Manusia berbuat dosa melalui tubuh. Tubuhlah yang membuat orang melakukan dosa, dan tubuh senang akan dosa. Karena itu tubuh manusia harus menerima hukuman. Siapakah yang dapat memahami sepenuhnya penderitaan yang diderita tubuh Tuhan Yesus di atas salib?
“Mereka menusuk tangan dan kakiku” (Mzm. 22:17). Nabi mengatakan bahwa Ia akan disebut “yang telah mereka tikam” (Za. 12:10). Tangan, kaki, dahi, rusuk, dan hati-Nya pernah ditikam orang, yaitu tertikam oleh dan untuk insani kita yang berdosa. Pada saat itu, karena luka-luka-Nya dan karena tubuh-Nya tergantung di atas salib, tanpa penopang, aliran darah dalam tubuh-Nya tidak bisa normal, menyebabkan suhu tubuh-Nya sangat tinggi, dan mulut-Nya terasa sangat haus, sehingga Ia berseru, “Lidahku melekat pada langit-langit mulutku” (Mzm. 22:16), “...aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam” (Mzm. 69:22). Tangan suka berbuat dosa, maka tangan harus dipaku; mulut suka berbuat dosa, maka mulut harus menderita; kaki suka berbuat dosa, maka kaki harus dipaku; kepala (otak) suka berbuat dosa, maka kepala harus mengenakan mahkota duri. Hukuman yang seharusnya dijatuhkan ke atas tubuh manusia, semua telah dilaksanakan di atas tubuh-Nya. Kristus telah menerima hukuman karena dosa manusia, maka semua orang yang percaya kepada-Nya dihitung telah menerima hukuman; karena itu setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak akan dihukum.
Yohanes 19:29
Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
Ayat Bacaan: Yoh. 19:29; Luk. 23:36; Luk. 16:24, Why. 21:8; Ibr. 2:9
Pada awal penyaliban-Nya, anggur yang dicampur dengan empedu diberikan kepada Tuhan sebagai minuman atau tegukan yang memabukkan, karenanya Ia tak mau meminumnya. Tetapi pada akhir penyaliban-Nya, ketika Ia merasa haus, anggur asam diberikan kepada Dia dengan cara mengolok-olokkan-Nya (Luk. 23:36). Haus adalah suatu perasaan terhadap maut (Luk. 16:24; Why. 21:8). Di atas salib Tuhan Yesus mengecap maut bagi kita (Ibr. 2:9). Dalam penyaliban-Nya, pakaian dan minuman yang menjadi hak-Nya dirampok bersamaan dengan hayat-Nya.
Karena manusia harus menerima hukuman, maka Putra Allah, Yesus Kristus yang telah menjadi manusia, telah menerima hukuman yang harus diterima oleh manusia. Manusia berbuat dosa melalui tubuh. Tubuhlah yang membuat orang melakukan dosa, dan tubuh senang akan dosa. Karena itu tubuh manusia harus menerima hukuman. Siapakah yang dapat memahami sepenuhnya penderitaan yang diderita tubuh Tuhan Yesus di atas salib?
“Mereka menusuk tangan dan kakiku” (Mzm. 22:17). Nabi mengatakan bahwa Ia akan disebut “yang telah mereka tikam” (Za. 12:10). Tangan, kaki, dahi, rusuk, dan hati-Nya pernah ditikam orang, yaitu tertikam oleh dan untuk insani kita yang berdosa. Pada saat itu, karena luka-luka-Nya dan karena tubuh-Nya tergantung di atas salib, tanpa penopang, aliran darah dalam tubuh-Nya tidak bisa normal, menyebabkan suhu tubuh-Nya sangat tinggi, dan mulut-Nya terasa sangat haus, sehingga Ia berseru, “Lidahku melekat pada langit-langit mulutku” (Mzm. 22:16), “...aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam” (Mzm. 69:22). Tangan suka berbuat dosa, maka tangan harus dipaku; mulut suka berbuat dosa, maka mulut harus menderita; kaki suka berbuat dosa, maka kaki harus dipaku; kepala (otak) suka berbuat dosa, maka kepala harus mengenakan mahkota duri. Hukuman yang seharusnya dijatuhkan ke atas tubuh manusia, semua telah dilaksanakan di atas tubuh-Nya. Kristus telah menerima hukuman karena dosa manusia, maka semua orang yang percaya kepada-Nya dihitung telah menerima hukuman; karena itu setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak akan dihukum.
13 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Rabu
Ibu, inilah, anakmu!
Yohanes 19:26-27
Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!”
Ayat Bacaan: Yoh. 19:26-27; Luk. 23:34, 43, 46; Mat. 27:46
Sewaktu Tuhan di atas kayu salib, Ia mengucapkan tujuh buah perkataan. Pertama, Tuhan mengucapkan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:3); kedua, “Hari ini juga Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43); ketiga, menunjuk kepada murid-Nya, Yohanes, Tuhan berkata kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu” (Yoh. 19:26). Kemudian Ia berkata kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!“ (Yoh. 19:27). Ketiga perkataan ini diucapkan selama tiga jam pertama penyaliban Tuhan. Perkataan keempat; “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Perkataan kelima: “Aku haus!” (Yoh. 19:28); keenam: “Sudah selesai” (Yoh. 19:30); dan ketujuh: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46).
Sewaktu disalibkan, Yesus melihat ibu-Nya dan “murid yang dikasihi-Nya berada di samping-Nya lalu berkatalah Dia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian Ia berkata kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!”. Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yoh. 19:26-27). Perkataan ini menyatakan kesatuan hayat, karena mempersaksikan bahwa Tuhan adalah hayat yang disalurkan ke dalam kaum beriman. Oleh hayat ini, murid yang dikasihi-Nya bisa menjadi satu dengan-Nya , menjadi anak dari ibu-Nya, dan ibu-Nya menjadi ibu dari murid yang dikasihi-Nya.
Melalui pengalihan hayat ini, salah seorang dari murid-murid-Nya dapat menjadi putra ibu-Nya, dan ibu-Nya dapat menjadi ibu murid ini. Ini bukan menunjukkan keselamatan, melainkan pengalihan hayat. Tuhan Yesus mati untuk membebaskan hayat dan menyalurkan diri-Nya sebagai hayat ke dalam murid-murid, yaitu menjadikan semua murid sama dengan Dia. Dengan sen-dirinya, semua murid adalah putra-putra ibu-Nya. Kematian adalah permulaan kebangkitan. Setiap kali kita memasuki kematian, kita harus tahu bahwa kita berada di ambang pintu kebangkitan. Allah yang hidup adalah kebangkitan. Kita hidup bersandar Allah yang hidup, bukan hidup bersandar diri kita sendiri. Kesatuan kita dengan-Nya dalam hayat membuat kita dapat bersekutu akrab dan mesra dengan Dia.
Yohanes 19:26-27
Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!”
Ayat Bacaan: Yoh. 19:26-27; Luk. 23:34, 43, 46; Mat. 27:46
Sewaktu Tuhan di atas kayu salib, Ia mengucapkan tujuh buah perkataan. Pertama, Tuhan mengucapkan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:3); kedua, “Hari ini juga Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43); ketiga, menunjuk kepada murid-Nya, Yohanes, Tuhan berkata kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu” (Yoh. 19:26). Kemudian Ia berkata kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!“ (Yoh. 19:27). Ketiga perkataan ini diucapkan selama tiga jam pertama penyaliban Tuhan. Perkataan keempat; “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Perkataan kelima: “Aku haus!” (Yoh. 19:28); keenam: “Sudah selesai” (Yoh. 19:30); dan ketujuh: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46).
Sewaktu disalibkan, Yesus melihat ibu-Nya dan “murid yang dikasihi-Nya berada di samping-Nya lalu berkatalah Dia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian Ia berkata kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!”. Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yoh. 19:26-27). Perkataan ini menyatakan kesatuan hayat, karena mempersaksikan bahwa Tuhan adalah hayat yang disalurkan ke dalam kaum beriman. Oleh hayat ini, murid yang dikasihi-Nya bisa menjadi satu dengan-Nya , menjadi anak dari ibu-Nya, dan ibu-Nya menjadi ibu dari murid yang dikasihi-Nya.
Melalui pengalihan hayat ini, salah seorang dari murid-murid-Nya dapat menjadi putra ibu-Nya, dan ibu-Nya dapat menjadi ibu murid ini. Ini bukan menunjukkan keselamatan, melainkan pengalihan hayat. Tuhan Yesus mati untuk membebaskan hayat dan menyalurkan diri-Nya sebagai hayat ke dalam murid-murid, yaitu menjadikan semua murid sama dengan Dia. Dengan sen-dirinya, semua murid adalah putra-putra ibu-Nya. Kematian adalah permulaan kebangkitan. Setiap kali kita memasuki kematian, kita harus tahu bahwa kita berada di ambang pintu kebangkitan. Allah yang hidup adalah kebangkitan. Kita hidup bersandar Allah yang hidup, bukan hidup bersandar diri kita sendiri. Kesatuan kita dengan-Nya dalam hayat membuat kita dapat bersekutu akrab dan mesra dengan Dia.
12 October 2009
Yohanes Volume 7 - Minggu 3 Selasa
Para prajurit mengundi jubah-Nya
Yohanes 19:23a
Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian—dan jubah-Nya juga mereka ambil.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:29; 19:23-24; 1 Yoh. 2:2; 1 Ptr. 3:18.
Ketika mereka selesai menyalibkan Yesus, mereka mengambil jubah-Nya dan membagikan masing-masing satu bagian untuk satu prajurit. Karena jubah-Nya tidak berjahit, maka mereka membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya (Yoh. 19:23-24). Ini bukan kehendak prajurit-prajurit itu sendiri, melainkan berasal dari pengaturan Allah. Hal ini terjadi supaya nubuat dalam Mazmur 22:19 tergenapi. Melalui ini, kita mengetahui bahwa kematian Tuhan adalah rencana yang telah diatur. Jika Allah tidak mempunyai rencana ini, tidak seorang pun dapat menyerahkan hayat Tuhan kepada maut. Semuanya untuk membuktikan bahwa kematian Tuhan bukan karena kehendak manusia, melainkan karena pengaturan Allah.
Setelah hidup tiga puluh tiga setengah tahun di bumi, Kristus mati. Kematian-Nya merupakan kematian yang luar biasa. Kematian-Nya berbeda dengan kematian manusia-manusia lain di muka bumi ini. Pertama, menubuatkan kematian-Nya sebelum saatnya tiba. Kedua, dinubuatkan oleh para nabi beratus-ratus tahun sebelumnya. Ketiga, dalam Perjanjian Lama telah diberikan tanda dalam bentuk lambang mengenai saat dan cara kematian Kristus. Keempat, ketika Kristus mati, Dia berkata, “Sudah selesai!” (Yoh.19:30). Kelima, merupakan peristiwa yang menggambarkan sifat adikodrati dari kematian-Nya. Keenam, Kristus mati sebagai Pengganti bagi semua orang dosa (1 Ptr. 3:18) dan memberikan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban untuk dosa seluruh dunia (Yoh. 1:29; 1 Yoh. 2:2).
Inilah gambaran yang hidup mengenai cara kematian Mesias. Ketika Kristus tergantung di atas salib, kedua tangan dan kaki-Nya benar-benar ditusuk. Proses dehidrasi yang terjadi dikarenakan mengalirnya darah dan air, tentu akan menyebabkan lidah-Nya melekat pada langit-langit mulut-Nya dan tulang-tulang-Nya menonjol. Jiwa dan raga-Nya bahkan semua yang ada pada-Nya telah diserahkan-Nya bagi kita. Jika kita senantiasa mengingat kematian Tuhan yang sedemikian, sepatutnyalah kita semakin mengasihi Dia dengan kasih yang senantiasa membara terhadap-Nya. Penebusan darah-Nya dan pengaliran hayat-Nya menyuplai dan menyegarkan kita selamanya.
Yohanes 19:23a
Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian—dan jubah-Nya juga mereka ambil.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:29; 19:23-24; 1 Yoh. 2:2; 1 Ptr. 3:18.
Ketika mereka selesai menyalibkan Yesus, mereka mengambil jubah-Nya dan membagikan masing-masing satu bagian untuk satu prajurit. Karena jubah-Nya tidak berjahit, maka mereka membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya (Yoh. 19:23-24). Ini bukan kehendak prajurit-prajurit itu sendiri, melainkan berasal dari pengaturan Allah. Hal ini terjadi supaya nubuat dalam Mazmur 22:19 tergenapi. Melalui ini, kita mengetahui bahwa kematian Tuhan adalah rencana yang telah diatur. Jika Allah tidak mempunyai rencana ini, tidak seorang pun dapat menyerahkan hayat Tuhan kepada maut. Semuanya untuk membuktikan bahwa kematian Tuhan bukan karena kehendak manusia, melainkan karena pengaturan Allah.
Setelah hidup tiga puluh tiga setengah tahun di bumi, Kristus mati. Kematian-Nya merupakan kematian yang luar biasa. Kematian-Nya berbeda dengan kematian manusia-manusia lain di muka bumi ini. Pertama, menubuatkan kematian-Nya sebelum saatnya tiba. Kedua, dinubuatkan oleh para nabi beratus-ratus tahun sebelumnya. Ketiga, dalam Perjanjian Lama telah diberikan tanda dalam bentuk lambang mengenai saat dan cara kematian Kristus. Keempat, ketika Kristus mati, Dia berkata, “Sudah selesai!” (Yoh.19:30). Kelima, merupakan peristiwa yang menggambarkan sifat adikodrati dari kematian-Nya. Keenam, Kristus mati sebagai Pengganti bagi semua orang dosa (1 Ptr. 3:18) dan memberikan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban untuk dosa seluruh dunia (Yoh. 1:29; 1 Yoh. 2:2).
Inilah gambaran yang hidup mengenai cara kematian Mesias. Ketika Kristus tergantung di atas salib, kedua tangan dan kaki-Nya benar-benar ditusuk. Proses dehidrasi yang terjadi dikarenakan mengalirnya darah dan air, tentu akan menyebabkan lidah-Nya melekat pada langit-langit mulut-Nya dan tulang-tulang-Nya menonjol. Jiwa dan raga-Nya bahkan semua yang ada pada-Nya telah diserahkan-Nya bagi kita. Jika kita senantiasa mengingat kematian Tuhan yang sedemikian, sepatutnyalah kita semakin mengasihi Dia dengan kasih yang senantiasa membara terhadap-Nya. Penebusan darah-Nya dan pengaliran hayat-Nya menyuplai dan menyegarkan kita selamanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)