Hitstat

21 December 2017

Matius - Minggu 12 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 7:1-12
Doa baca: Mat. 7:2
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.


Pengaturan surgawi atas umat kerajaan menuntut mereka memperhatikan kepentingan orang lain. Dalam hal apa pun yang kita lakukan, kita harus memikirkan kepentingan orang lain. Kita sungguh-sungguh kurang dalam hal ini, sebab dalam hayat alamiah kita, kita tidak memikirkan kepentingan orang lain. Pemikiran dan pertimbangan kita tertuju pada diri sendiri. Sebab itu, kita selalu memusatkan pada diri sendiri dan tidak pernah memikirkan orang lain. Jika kita memikirkan orang lain ketika hendak mengkritik atau menghakimi mereka, kita tidak akan mengkritik atau menghakimi mereka. Kita bisa menghakimi dan mengkritik orang lain, karena kita tidak memperhatikan mereka. Bila kita memperhatikan kepentingan orang lain, kita akan bersimpati kepada mereka.

Umat kerajaan, yang hidup di dalam roh yang rendah hati di bawah pemerintahan surgawi kerajaan, selalu menghakimi diri sendiri, bukan menghakimi orang lain. Perkataan Tuhan mengenai jangan menghakimi supaya kita tidak dihakimi (7:1) seolah-olah bukan merupakan kata-kata yang yang memikirkan orang lain. Namun, jika kita mendalami kata-kata ini, kita nampak bahwa sesungguhnya berarti memperhatikan orang lain. Ketika Anda hendak menghakimi orang lain, Anda harus memperhatikan kepentingan mereka.

Di bawah pemerintahan surgawi kerajaan, umat kerajaan akan dihakimi dengan penghakiman yang mereka terapkan kepada orang lain (ay. 2). Jika mereka menghakimi orang lain dengan adil, mereka akan dihakimi dengan adil oleh Tuhan; jika mereka menghakimi orang dengan belas kasihan, mereka akan dihakimi dengan belas kasihan oleh Tuhan. Belas kasihan menang atas penghakiman (Yak. 2:13). Jangan mudah menghakimi orang lain, sebab Anda akan dihakimi dengan taraf yang sama sebagaimana Anda menghakimi orang lain. Bila Anda memperhatikan orang lain, Anda tidak akan dihakimi oleh mereka.

Ayat 2 mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai un-tuk mengukur orang lain akan dipakai untuk mengukur kita. Secara permukaan, sepertinya dalam ayat ini Tuhan tidak menyuruh kita memperhatikan orang lain. Tetapi sesungguhnya, ayat-ayat ini berarti bahwa kita harus memperhatikan orang lain. Apakah Anda takut diukur oleh orang lain? Jika demikian, Anda harus memperhatikan orang lain, sebab mereka pun takut diukur oleh Anda. Bila Anda memperhatikan orang lain, Anda tidak akan menghakimi mereka, mengkritik mereka, atau mengukur mereka.

Belas kasihan tidak melakukan pengukuran apa pun. Ini berarti belas kasihan tidak mengenakan tuntutan apa pun. Segala sesuatu yang menuntut suatu ukuran bukanlah belas kasihan. Belas kasihan tidak tahu matematika, tidak tahu bagaimana menambahi atau mengurangi. Belas kasihan sama sekali buta. Mengapa Anda begitu baik terhadap saya ketika saya begitu kasihan? Sebab, Anda berbelaskasihan kepada saya.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 23

20 December 2017

Matius - Minggu 12 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 6:19-34
Doa baca: Mat. 6:33
Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.


Beban saya dalam berita ini ialah menggali butir dasar ini. Kita semua mempunyai kewajiban kita masing-masing. Ketika kita menunaikan kewajiban kita, kita tidak boleh melakukannya karena kekhawatiran kita, sebab kita mempunyai hayat ilahi yang tidak mengenal kekhawatiran. Dan kita memiliki Bapa Surgawi yang mahabisa dan almuhit, yang memperhatikan kita dalam berbagai aspek. Dunia hari ini penuh dengan kekhawatiran, tetapi umat kerajaan seyogianya tidak mengkhawatirkan apa pun. Kita tidak dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidup kita dengan kekhawatiran kita (ayat 27). Mengenai moralitas, kita memiliki hayat dan sifat Bapa kita di dalam kita untuk membuat kita dapat menggenapkan tuntutan moral yang tertinggi. Mengenai kehidupan kita, kita mempunyai Bapa Surgawi sendiri yang memelihara kita. Namun, ini bukan berarti kita tidak perlu menunaikan kewajiban kita. Sekalipun kita harus menunaikan kewajiban kita, kita tidak boleh khawatir. Seperti umat Israel yang hidup berkecukupan dan yang memberikan bagian tertentu untuk berbagai keperluan, kita pun harus mempunyai tuaian dan mau memberikan sejumlah tertentu untuk berbagai keperluan. Pada akhirnya, semua yang kita berikan akan terkumpul dalam bank di surga dan harta kita akan berada di sana.

Ini pun berhubungan dengan pertumbuhan kita dalam hayat setiap hari. Baik kemalasan maupun kekhawatiran akan menunda pertumbuhan Anda dalam hayat. Tidak seorang pun yang bermalas-malasan dan tidak mau menunaikan kewajibannya dapat bertumbuh dalam hayat. Setiap orang yang bertumbuh dalam hayat ialah orang-orang yang rajin dan giat. Sudah selayaknyalah kerajinan dan kegiatan ini akan menghasilkan pahala dan sejumlah kekayaan materi yang Anda peroleh. Semua kekayaan ini harus digunakan bukan untuk kekhawatiran Anda, melainkan untuk pemberian Anda. Kekhawatiran harus pergi. Janganlah memperbolehkan kekhawatiran menduduki hidup Anda sehari-hari. Karena hayat Bapa yang di dalam Anda tidak mengenal kekhawatiran, Anda harus pula tidak mempunyai kekhawatiran apa pun. Setiap kelebihan yang Anda miliki jangan Anda gunakan untuk kekhawatiran Anda. Gunakanlah untuk menambah tabungan di bank di surga. Saya meyakinkan Anda jika Anda demikian, Anda akan bertumbuh dalam hayat. Satu-satunya orang yang bertumbuh dalam hayat ialah orang yang rajin, dan yang tidak menggunakan kelebihannya untuk kekhawatirannya. Anda perlu rajin belajar, mencapai nilai yang baik, dan meraih gelar yang tertinggi. Namun, kekayaan yang Anda peroleh jangan Anda gunakan untuk kekhawatiran Anda. Kita bekerja dan menunaikan kewajiban kita, tanpa kekhawatiran sedikit pun. Inilah jalan yang tepat untuk bertumbuh dalam hayat Bapa.

Kerajaan Bapa adalah realitas Kerajaan Surga hari ini, realitas hidup gereja hari ini, dan akan menjadi manifestasi Kerajaan Surga pada zaman yang akan datang. Kebenaran Bapa adalah kebenaran yang dinyatakan dengan memelihara hukum baru kerajaan, seperti yang disebutkan dalam 5:20. Karena umat kerajaan mencari kerajaan dan kebenaran Bapa Surgawi lebih dulu, maka tidak saja Kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya akan diberikan kepada mereka, tetapi juga semua keperluan mereka akan di-tambahkan kepada mereka (ay. 33).



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 22

19 December 2017

Matius - Minggu 12 Selasa

Pembacaan Alkitab: Mat. 6:19-34
Doa baca: Mat. 6:31
Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?


Dalam Matius 6:19-34 seolah-olah menjamah kekayaan kita, harta kita; tetapi sesungguhnya, maksud hati Tuhan di sini ialah menjamah kekhawatiran, sumber masalah penghidupan sehari-hari kita. Seluruh dunia terlibat dalam kekhawatiran. Kekhawatiran itulah roda gigi yang membuat dunia berputar. Itulah perongrong seluruh kebudayaan manusia. Bila tidak ada kekhawatiran tentang hidup kita, tidak seorang pun akan berbuat apa-apa. Sebaliknya semua orang akan malas. Jadi, dengan menjamah kekhawatiran kita, Tuhan menjamah roda gigi kehidupan manusia.

Marilah kita sekarang mempertimbangkan maksud Tuhan dalam ayat 19-34. Mempunyai kekhawatiran itu keliru, sebab kekhawatiran bukan milik hayat ilahi. Tidak ada kekhawatiran dalam hayat Allah. Namun, Tuhan bukan bermaksud bahwa kita tidak seharusnya melakukan kewajiban kita. Ketika Tuhan membawa umat Israel masuk ke dalam tanah permai, mereka harus bekerja di atas tanah itu. Itulah kewajiban mereka. Tanah subur menghasilkan panen yang berlimpah atau tidak tergantung pada sejumlah masalah: udara, sinar matahari, banyaknya hujan, dan suhu yang tepat. Semua masalah ini tidak satu pun di bawah penguasa umat Israel. Kewajiban mereka hanyalah bekerja di atas tanah.

Mereka bekerja tidak hanya untuk diri mereka, tetapi juga untuk burung-burung. Jika mereka tidak bertani, burung-burung pun akan sulit hidup. Melakukan kewajiban mereka adalah benar dan perlu, tetapi mempunyai kekhawatiran itu keliru. Demikian pula, kita harus melakukan kewajiban kita hari ini, tetapi melakukannya tanpa mengkhawatirkan hidup kita. Alasan Anda begitu enggan memberi kepada yang lain ialah karena kekhawatiran Anda. Karena kekhawatiran, Anda akan menyukai benda-benda materi. Apabila Anda tidak mempunyai kekhawatiran, Anda tidak akan mempedulikan benda-benda materi. Sebaliknya, Anda akan membiarkan orang lain memilikinya. Kekhawatiranlah yang menyusahkan kita.

Dalam ekonomi Allah, kita semua harus bekerja. Kita tidak sama seperti orang Israel, sebab kita tidak bisa secara harfiah bekerja pada tanah permai. Orang muda hari ini harus belajar dan mendapat pendidikan yang baik. Belajar sama dengan menggarap tanah dan lulus dari perguruan tinggi sama dengan menuai hasil panen. Anak-anak muda, belajar ialah kewajiban Anda dan Anda harus melakukannya. Pada zaman kuno, umat Israel harus bekerja menggarap tanah, menabur benih, mengairi, dan menuai. Inilah kewajiban mereka. Tetapi mereka menerima hasil tuaian atau tidak itu tergantung pada Allah. Kewajiban mereka ialah bekerja tanpa kekhawatiran apa pun. Jika mereka khawatir, itu bersalah kepada Allah; mereka tidak perlu khawatir. Mereka hanya semata-mata melakukan apa saja yang diperintahkan Allah. Misalnya, menurut Kitab Bilangan, Allah meminta mereka mendirikan satu kemah bagi diri-Nya. Kemah yang lain bagi suku Lewi, dan masih ada satu kemah lagi untuk tujuan yang lain. Mereka tidak diperbolehkan menyimpan semua hasil mereka untuk kenikmatan mereka. Mereka tidak boleh mempunyai kekhawatiran apa pun. Jika mereka tidak mempunyai kekhawatiran, mereka dapat bermurah hati, mau memberi orang lain dan menaruh benda-benda materi mereka ke dalam tangan Tuhan.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 22

18 December 2017

Matius - Minggu 12 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 6:19-34
Doa baca: Mat. 6:25
Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?


Dalam ayat 19-20 Raja mengumumkan bahwa umat kerajaan tidak boleh mengumpulkan harta bagi diri mereka sendiri, melainkan mengumpulkan harta di surga. Mengumpulkan harta di surga ialah memberi benda materi kepada orang miskin (Mat. 19:21), memperhatikan orang kudus yang kekurangan (Kis. 2:45; 4:34-35; 11:29; Rm. 15:25), dan hamba-hamba Tuhan (Flp. 4:16-17). Umat kerajaan harus mengirim harta mereka ke surga, sehingga hati mereka juga berada di surga. Sebelum mereka pergi ke sana, harta dan hati mereka harus terlebih dulu pergi ke sana.

Kedua mata kita hanya dapat berfokus pada satu benda pada satu saat. Jika kita berusaha melihat dua hal sekaligus, penglihatan kita akan kabur. Jika kita memfokuskan mata kita pada satu hal, penglihatan kita akan tulus dan seluruh tubuh kita akan penuh dengan terang. Jika kita mengumpulkan harta kita di surga dan di bumi, penglihatan rohani kita akan kabur. Agar penglihatan kita tulus, kita harus menyimpan harta kita di satu tempat saja. Memandang dua benda pada saat yang sama, tidak berfokus pada satu benda, berarti membuat mata kita jahat (lihat Mat. 20:15; Ul. 15:9; Ams. 28:22). Jika hati kita terpaut pada harta yang dikumpulkan di bumi, terang yang ada di dalam kita akan menjadi gelap, dan kegelapan itu akan menjadi sangat gelap.

Dalam ayat 25 Tuhan memberi tahu kita jangan mengkhawatirkan hidup kita. Hidup kita lebih penting daripada makanan dan tubuh kita lebih penting daripada pakaian. Hidup dan tubuh kita itu ada karena Allah, bukan karena kekhawatiran kita. Karena Allah menciptakan kita dengan hidup dan tubuh, Dia pasti akan memperhatikan keperluan hidup dan tubuh kita. Umat kerajaan tidak perlu khawatir tentang hal ini. Secara permukaan, kelihatannya dalam bagian ini, Tuhan berbicara tentang harta benda umat kerajaan. Pada faktanya, Dia menyinggung tentang kekhawatiran. Tuhan penuh hikmat. Setelah Dia menjamah temperamen kita, nafsu daging, manusia alamiah, ego, dan daging kita, Ia lalu menjamah kekhawatiran kita. Dalam ayat-ayat ini, kata “khawatir” dipakai tujuh kali, (ayat 25, 27, 28, 31, 34). Boleh jadi Tuhan juga menjamah hati kita, sebab di mana harta kita, di situlah juga hati kita. Namun, hati kita tidak hanya terpaut pada harta, bahkan pada banyak perkara lain.

Konstitusi Kerajaan Surga terbentuk dari hayat dan sifat Bapa. Tidak seorang pun dapat menggenapkan tuntutan Kerajaan Surga tanpa adanya hayat dan sifat Bapa. Konstitusi yang diberikan oleh Tuhan Yesus di atas gunung adalah untuk anak-anak Allah, yang didasarkan pada hayat dan sifat Bapa. Dan ayat dalam pasal 5 menunjukkan fakta ini (ay. 9, 48).

Dalam hayat ilahi dan sifat ilahi tidak terdapat kekhawatiran. Kekhawatiran bukan dari hayat ilahi, melainkan dari hayat manusia, sama seperti menyalak berasal dari hayat anjing bukan dari hayat burung. Hayat manusia adalah hayat kekhawatiran, sedangkan hayat Allah ialah hayat kenikmatan, perhentian, penghiburan, dan kepuasan. Bagi Allah, kekhawatiran ialah istilah asing. Pada Dia tidak ada hal semacam kekhawatiran. Meskipun Allah mempunyai banyak kedambaan, tetapi Ia tidak mempunyai kekhawatiran. Sebaliknya hayat insani kita, sebetulnya terdiri dan tersusun dengan kekhawatiran.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 22

16 December 2017

Matius - Minggu 11 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 6:5-18
Doa baca: Mat. 6:18
Supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.


Dalam ayat 9-13 kita nampak pola doa. Namun itu bukan pola untuk semua doa. Dalam pola doa yang diberikan dengan teladan oleh Tuhan, tiga permohonan yang pertama menyiratkan Trinitas Ke-Allahan: “Dikuduskanlah nama-Mu” terutama berhubungan dengan Bapa; “Datanglah Kerajaan-Mu” terutama berhubungan dengan Putra; dan “Jadilah kehendak-Mu” terutama berhubungan dengan Roh. Hal ini sedang digenapi dalam zaman ini, dan akan sepenuhnya digenapi dalam zaman kerajaan yang akan datang, ketika nama Allah menjadi indah di seluruh bumi (Mzm. 8:2), kerajaan dunia akan menjadi Kerajaan Kristus (Why. 11:15), dan kehendak Allah akan rampung.

Sebagai pola, doa ini pertama memperhatikan nama Allah, Kerajaan Allah, dan kehendak Allah; kedua memperhatikan keperluan kita (ay. 11). Ini mewahyukan bahwa dalam doa peperangan ini Tuhan masih memperhatikan keperluan kita. Menurut ayat 11 hendaklah kita mohon “pada hari ini makanan [kita] yang secukupnya”. Raja tidak menghendaki umat-Nya khawatir akan hari esok (ayat 34). Dia menghendaki mereka berdoa hanya untuk keperluan mereka hari ini. Istilah “makanan yang secukupnya” menunjukkan suatu kehidupan yang ditempuh demi iman. Umat kerajaan tidak seharusnya hidup bersandarkan apa yang mereka simpan, sebaliknya, mereka seharusnya hidup demi iman, bersandarkan suplai harian Bapa.

Ketiga, pola doa ini memperhatikan kegagalan umat kerajaan di hadapan Allah dan memperhatikan hubungan mereka dengan orang lain. Mereka harus meminta Bapa mengampuni kesalahan-kesalahan mereka, kegagalan mereka, dan pelanggaran mereka, seperti mereka mengampuni orang yang bersalah kepada mereka untuk memelihara damai sejahtera.

Pola doa ini memperhatikan perkara yang keempat, kelepasan umat kerajaan dari si jahat dan dari hal-hal yang jahat (ay. 3). Mereka harus meminta Bapa agar tidak membawa mereka ke dalam pencobaan, tetapi melepaskan mereka dari si jahat, Iblis, dan dari kejahatan yang berasal dari dia. Kadang-kadang Bapa membawa kita ke dalam situasi di mana kita diuji dan dicobai. Karena itu, ketika kita berdoa kepada Bapa, kita harus menyadari kelemahan kita dengan berkata, “Ya Bapa, aku sangat lemah. Janganlah membawa aku ke dalam pencobaan.” Jika Anda tidak mengakui kelemahan Anda, Anda mungkin tidak berdoa demikian. Sebaliknya, Anda mungkin merasa bahwa Anda kuat. Justru inilah saatnya bagi Bapa membawa Anda ke dalam pencobaan untuk menunjukkan kepada Anda bahwa Anda sama sekali tidak kuat. Karena itu lebih baik doa kita menunjukkan kepada Bapa bahwa kita tahu kelemahan kita.

Menurut pola doa ini, umat kerajaan harus mengenal kerajaan, kuasa, dan kemuliaan Allah. Kerajaan adalah ruang lingkup tempat Allah melaksanakan ku-asa-Nya sehingga Dia dapat mengekspresikan kemuliaan-Nya.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 21

15 December 2017

Matius - Minggu 11 Jumat

Pembacaan Alkitab: Mat. 6:1-4
Doa baca: Mat. 6:4
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.


Bapa kita melihat yang tersembunyi. Ketika Anda berdoa sendiri dalam kamar Anda, tidak seorang pun melihat Anda, Bapa Surgawi melihatnya. Berdoalah di tempat yang tersembunyi yang akan dilihat oleh Bapa Anda yang melihat yang tersembunyi. Kemudian Anda juga akan menerima jawaban dari Dia secara tersembunyi. Kita harus senantiasa mengerjakan sesuatu secara tersembunyi agar dapat menolak si aku dan menyingkirkan daging. Jika mungkin, lakukanlah segala sesuatu secara tersembunyi, untuk tidak memberi kesempatan apa pun kepada ego Anda dan tidak memberi tempat sedikit pun kepada daging Anda.

Perkara yang penting di sini bukanlah pahala, melainkan pertumbuhan dalam hayat. Orang beriman yang bertumbuh secara terbuka tidak bertumbuh secara sehat. Kita semua perlu beberapa pertumbuhan yang tersembunyi dalam hayat, beberapa pengalaman yang tersembunyi dalam Kristus. Kita perlu berdoa kepada Tuhan, menyembah Tuhan, bersentuhan dengan Tuhan, dan bersekutu dengan Tuhan secara tersembunyi. Boleh jadi bahkan tidak ada satu pun orang yang dekat dengan kita mengetahui atau memahami apa yang sedang kita lakukan. Kita perlu pengalaman-pengalaman terhadap Tuhan yang tersembunyi ini, sebab pengalaman-pengalaman ini akan membunuh ego dan daging kita. Sekalipun temperamen dan nafsu daging adalah buruk, tetapi yang paling merusak kita dalam pertumbuhan hayat kita ialah ego. Ego paling terlihat saat senang melakukan sesuatu secara terbuka untuk umum, di hadapan banyak orang. Orang yang kuat egonya senang melakukan suatu kebenaran di depan orang. Kita semua mengakui bahwa kita, tanpa terkecuali, memiliki ego seperti ini.

Alam semesta menunjukkan bahwa Allah itu tersembunyi, Allah itu rahasia. Sekalipun Ia telah melakukan banyak hal, orang tidak sadar bahwa Ia telah melakukannya. Kita telah nampak hal-hal yang dilakukan oleh Allah, tetapi tidak ada satu pun di antara kita yang pernah nampak Dia, sebab Ia selalu tersembunyi, selalu rahasia. Hayat Allah memiliki sifat yang begitu rahasia dan tersembunyi. Jika kita mengasihi orang lain dengan hayat kita sendiri, hayat ini akan pamer diri di hadapan orang. Tetapi jika kita mengasihi orang lain dengan kasih Allah, kasih ini akan selalu tetap tersembunyi. Jika kita hidup oleh hayat ilahi ini, kita mungkin banyak berdoa, tetapi orang lain tidak akan tahu berapa banyak kita telah berdoa. Kita mungkin memberi banyak untuk membantu orang lain, tetapi tidak seorang pun akan tahu berapa banyak kita telah memberi. Kita mungkin memiliki banyak di dalam kita, tetapi amat sedikit yang termanifestasikan. Inilah hakiki umat Kerajaan Surga dalam melakukan perbuatan benar mereka.

Jika kita serius menjadi umat kerajaan, kita harus belajar hidup oleh hayat Bapa kita yang tersembunyi. Jika kita hidup berdasarkan hayat Bapa kita yang tersembunyi, kita akan melakukan banyak perkara tanpa memamerkannya. Sebaliknya, semua yang akan kita lakukan secara rahasia, tersembunyi dari mata orang. Biografi banyak orang beriman menunjuk-kan bahwa mereka melakukan beberapa perkara tertentu secara tersembunyi, perkara yang hanya orang ketahui setelah mereka meninggal dunia. Inilah jalan yang benar.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 21

14 December 2017

Matius - Minggu 11 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 6:1-18
Doa baca: Mat. 6:1
Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga.


Melakukan kebenaran dalam Matius 6:1 menyatakan perbuatan benar, seperti memberi sedekah (ayat 2-4), berdoa (ayat 5-15), dan berpuasa (ayat 16-18). Memang benar ayat-ayat ini membicarakan perbuatan benar umat kerajaan. Namun sebenarnya ayat-ayat ini menyingkapkan diri (ego) dan daging. Di dalam kita ada sesuatu yang lebih buruk daripada amarah dan hawa nafsu. Banyak orang Kristen bahkan tidak tahu betapa buruknya ego dan daging. Dalam kedelapan belas ayat ini Tuhan menggunakan tiga ilustrasi: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa — untuk mewahyukan betapa kita ini dipenuhi dengan ego dan daging.

Daging manusia mencari kemuliaan bagi diri sendiri, selalu ingin melakukan perbuatan baik di hadapan manusia untuk mendapatkan pujian manusia. Tetapi umat kerajaan, yang hidup dalam roh yang dikosongkan, merendah, serta berperilaku dalam hati yang murni dan tidak bercabang di bawah pengaturan surgawi dan kerajaan, tidak dibolehkan melakukan apa pun di dalam daging untuk mendapatkan pujian manusia, tetapi harus melakukan segala hal di dalam roh untuk menyenangkan Bapa Surgawi mereka.

Mengenai tiga ilustrasi ini Tuhan menggunakan kata “tersembunyi” dalam tiap-tiap ilustrasi (ayat 4, 6, 18). Kita harus melakukan perbuatan benar kita secara tersembunyi, sebab Bapa kita tersembunyi. Dalam ayat 4 Tuhan mengatakan bahwa Bapa kita melihat segala sesuatu yang tersembunyi. Umat kerajaan, sebagai anak-anak Bapa Surgawi, harus hidup dalam hadirat Bapa dan memperhatikan kehadiran Bapa. Apa pun yang mereka lakukan secara tersembunyi untuk Kerajaan Bapa, dilihat secara tersembunyi oleh Bapa dan Dia akan membalasnya. Bapa surgawi mereka melihat secara tersembunyi. Hal ini merupakan suatu pendorong bagi perbuatan benar mereka di tempat yang tersembunyi. Ini mungkin terjadi dalam zaman ini (2 Kor. 9:10-11), atau sebagai upah (pahala) dalam zaman yang akan datang (Luk. 14:14).

Jadi, prinsip dasar kita sebagai umat kerajaan dalam melakukan perbuatan benar ialah tidak memamerkan diri kita. Sedapat mungkin, sembunyikanlah diri Anda, tutupilah diri Anda, dan lakukanlah segala kebajikan yang tersembunyi. Hendaklah kita tersembunyi sedemikian rupa sehingga tak ubahnya seperti yang Tuhan Yesus katakan, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu (ayat 3). Ini berarti kita tidak boleh memberi tahu orang lain apa yang sedang kita lakukan. Umpamanya, Anda berpuasa tiga hari, janganlah memburukkan rupa Anda dengan menunjukkan air muka yang sedih. Sebaliknya, berilah kesan kepada orang lain bahwa Anda ti-dak berpuasa sehingga puasa Anda tersembunyi. Jangan berpuasa di hadirat manusia, tetapi secara tersembunyi di hadirat Bapa Surgawi. Berbuat demikian berarti membunuh ego dan daging.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 21

13 December 2017

Matius - Minggu 11 Rabu

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:48
Doa baca: Mat. 5:48
Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.


Roma 8:16 menunjukkan bahwa roh kita yang di dalamnya kita berperilaku demi genapnya tuntutan kebenaran hukum Taurat dibentuk dari kesaksian Roh Kudus dengan roh kita. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus Allah telah masuk ke dalam roh kita. Ini terjadi pada saat kelahiran kembali kita. Roh Allah masuk ke dalam roh kita untuk melahirkan kita kembali. Sejak saat itu, Roh Kudus bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Karena itulah, ayat 14 mengatakan, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.”

Kita ini bukan hanya ciptaan Allah, tetapi juga anak-anak-Nya yang dilahirkan kembali yang memiliki hayat dan sifat-Nya. Jadi, kita bukanlah ciptaan Allah yang coba-coba mencontoh dan menirukan Dia, kita ini adalah anak-anak Bapa yang hidup berdasarkan hayat Bapa. Bagaimana kita menjadi anak-anak Allah? Melalui masuknya Roh Allah ke dalam roh kita untuk melahirkan kita kembali dan untuk menjadikan roh kita tempat kediaman Allah sendiri (Ef. 2:22). Di sini, di dalam roh kita, kita telah menjadi anak-anak Allah yang mempunyai hayat dan sifat Allah. Jika kita hidup (berjalan) menurut roh yang dilahirkan kembali, kita adalah anak-anak Allah, yang hidup berdasarkan hayat Allah. Bila kita hidup dan berperilaku di dalam roh, dengan spontan kita akan menjadi sempurna seperti Bapa kita yang di surga sempurna.

Kini kita dapat mengerti mengapa dalam Matius 5 Tuhan menyebut kita sebagai anak-anak Allah atau putra-putra Allah. Dia tidak berbicara kepada orang-orang yang tidak percaya, kepada mereka yang hanya ciptaan Allah, tetapi Ia berbicara kepada anak-anak Allah. Allah tidak lagi hanya Pencipta kita, Dia pun Bapa kita yang di surga. Karena Dia adalah Bapa kita, maka kita mempunyai hayat dan sifat-Nya. Pada akhirnya, melalui pertumbuhan kita dalam hayat, kita akan menjadi sama seperti Dia. Tunggulah suatu saat lagi, Anda akan nampak bahwa banyak di antara kita akan menjadi sempurna seperti Bapa yang sempurna.

Mungkin ada orang bertanya-tanya bagaimana murid-murid di atas gunung dapat dilahirkan kembali. Bukankah Roh pemberi-hayat belum masuk ke dalam mereka, bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa murid-murid itu telah dilahirkan kembali? Ingatlah bahwa tidak ada unsur waktu di dalam Allah; sebaliknya hanya ada prinsip. Ketika Tuhan Yesus berkata-kata dengan murid-murid di atas gunung, mengumumkan kepada mereka konstitusi kerajaan, Ia mengatakan menurut prinsip, bukan menurut unsur waktu. Allah tidak memiliki unsur waktu, Dia mengerjakan sesuatu sekali untuk selamanya. Dalam pikiran kita terdapat perkara sebelumnya dan sesudahnya, tetapi dalam pikiran Allah tidak ada. Memang benar, pada suatu hari Kristus menggenapkan karya penebusan di atas salib, dan pada suatu hari Roh pemberi-hayat “terjadi”. Tetapi dalam pandangan Allah sulit untuk menentukan kapan perkara-perkara ini terjadi, sebab dalam ekonomi Allah kedua-duanya adalah kekal. Baik salib maupun Roh pemberi-hayat adalah kekal. Karena murid-murid di atas gunung telah percaya dalam Tuhan Yesus dan telah berketetapan untuk mengikuti Dia, pada prinsipnya, mereka telah dilahirkan kembali, dan Tuhan memperhitungkan mereka sebagai umat yang telah dilahirkan kembali.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 20

12 December 2017

Matius - Minggu 11 Selasa

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:3-4
Doa baca: Rm. 8:4
Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.


Setelah membaca semua tuntutan ini, kita semua akan mengatakan bahwa kita sama sekali tidak mungkin menggenapi tuntutan-tuntutan ini. Selanjutnya kita melihat ayat 48 yang memberi tahu kita bahwa kita harus sempurna sama seperti Bapa yang di surga adalah sempurna. Ayat ini merupakan bukti bahwa kita mempunyai hayat dan sifat Bapa di dalam kita. Kita dilahirkan oleh Dia dan kita adalah anak-anak-Nya yang memiliki hayat dan sifat-Nya. Kita tidak perlu meniru Dia atau mencontoh-Nya. Asalkan kita bertumbuh dalam hayat-Nya, kita akan sama seperti Dia. Jadi, semua tuntutan hukum Taurat Kerajaan Surga mewahyukan berapa banyaknya hayat dan sifat ilahi ini dapat melakukannya bagi kita. Kita hanya perlu disingkapkan agar kita melepaskan semua pengharapan atas diri kita. Jika kita telah disingkapkan, kita akan menyadari bahwa hayat alamiah kita tidak ada harapan. Kemudian, kita akan mengesampingkan hayat alamiah kita, seraya berpaling kepada hayat Bapa kita dan menetap di dalam sifat ilahi. Dengan spontan, hayat ini akan bertumbuh di dalam kita dan menggenapi tuntutan hukum Taurat yang tertinggi ini. Apa yang kita butuhkan hari ini ialah kembali ke roh kita dan hidup di dalam roh kita. Bila kita berbuat demikian, kita hidup berdasarkan hayat dan sifat Bapa kita, kemudian dengan spontan kita menggenapi tuntutan kebenaran hukum Taurat. Memahami hal ini sangatlah penting bagi kita, sebab sama sekali berbeda dengan konsepsi alamiah kita.

Dari pengalaman, saya dapat bersaksi bahwa hari ini saya tidak berada di bawah prinsip hukum Taurat. Haleluya saya berada di bawah prinsip iman dan saya mempunyai hayat Bapa surgawi di dalam saya! Hayat ini tidak lain adalah Putra terkasih Bapa. Kini saya hidup berdasarkan hayat ini di dalam roh saya dan hidup menurut roh. Dengan adanya hayat ini di dalam roh saya, dengan spontan saya mampu menggenapi tuntutan tertinggi hukum Taurat Kerajaan Surga. Ini bukan berarti saya congkak, melainkan inilah kesaksian kerendahan hati saya untuk memuliakan Tuhan. Ini juga tidak berarti bahwa saya mampu berbuat segala sesuatu, melainkan Dia sajalah yang mampu, sebab Dia di dalam saya sebagai hayat saya. Dia pun mampu berbuat hal yang sama di dalam Anda dan bagi Anda. Agar hal ini menjadi pengalaman Anda, Anda perlu visi bahwa hayat alamiah Anda tidak berpengharapan. Setelah seluruh hayat alamiah Anda digali keluar dan disingkapkan, Anda akan menyadari bahwa alamiah merupakan suatu hal yang tidak berpengharapan, sehingga Anda tidak lagi mengandalkannya, Anda harus berpaling kepada hayat dan sifat ilahi Bapa di dalam Anda. Berpalinglah kepada hayat Bapa, tinggal bersama hayat Bapa dan hidup berdasarkan hayat Bapa. Anda dapat dengan mudah berpaling kepada hayat Bapa, sebab pada saat ini ia berada dalam roh Anda. Semata-mata hidup menurut roh Anda, semua tuntutan kebenaran hukum Taurat akan tergenapi di dalam Anda.

Karena kelemahan daging kita, kita tidak mungkin menggenapi hukum Taurat. Kita tidak dapat berbuat apa pun. Kapan saja kita menghadapi hukum Taurat, kita tidak berkutik. Karena itu, Allah mengutus putra-Nya sendiri dalam rupa tubuh daging yang berdosa dan menghakimi dosa dalam daging sehingga “tuntutan hukum Taurat dige-napi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh” (Rm. 8:4). Karena ketidakmampuan yang disebabkan oleh kelemahan tubuh daging kita, maka Allah telah mengutus Putra-Nya untuk menaati hukum Taurat di aspek positif dan mati untuk kelemahan kita di aspek negatif, agar tuntutan hukum Taurat terpenuhi. Tujuan-Nya berbuat demikian ialah agar tuntutan kebenaran hukum Taurat dapat digenapi di dalam kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 20

11 December 2017

Matius - Minggu 11 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:17
Doa baca: Mat. 5:17
Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.


Untuk memahami masalah hukum Taurat ini, kita harus mengenal tiga aspek dari hukum Taurat: prinsip hukum Taurat, perintah hukum Taurat, dan ritual (tata cara) hukum Taurat. Jika Anda tidak membedakan antara ketiga hal ini, Anda tidak akan mempunyai pengertian yang tepat tentang hukum Taurat. Sebagaimana telah kita nampak, prinsip hukum Taurat telah berlalu. Hari ini dalam zaman anugerah (kasih karunia), Allah tidak memperlakukan kita berdasarkan prinsip hukum Taurat, sebaliknya Ia memperlakukan kita berdasarkan prinsip iman (kepercayaan). Apakah kita akan dibenarkan, diselamatkan, dan diterima oleh Allah tergantung pada prinsip iman, bukan prinsip hukum Taurat. Asalkan kita percaya kepada Kristus, kita dibenarkan oleh Allah, diterima oleh Dia, dan diselamatkan. Inilah yang dimaksud dengan terhapusnya prinsip hukum Taurat dalam Kristus di bawah zaman anugerah.

Sekalipun prinsip hukum Taurat telah dihapus, namun perintah hukum Taurat belum ditiadakan. Sebaliknya taraf perintah ini telah ditingkatkan. Jadi perintah yang menyangkut standar moral belum dilenyapkan, melainkan akan tetap ada sampai kekal. Bahkan sampai pada kekekalan kita tidak boleh menyembah berhala, membunuh, mencuri, atau berdusta. Dalam Kerajaan Surga-Nya Sang Raja telah meningkatkan taraf hukum Taurat dalam dua cara: dengan menyempurnakan hukum Taurat yang lebih rendah, dan menggantikannya dengan hukum Taurat yang lebih tinggi. Dengan demikian moralitas dalam perintah hukum Taurat telah ditingkatkan ke taraf yang lebih tinggi.

Juruselamat Rajani sendiri menjalani semua perintah hukum Taurat ketika Ia berada di bumi. Kemudian Ia pergi ke salib untuk mati bagi kita. Melalui kematian penggantian-Nya, Ia menggenapi hukum Taurat pada aspek yang negatif. Tidak hanya demikian, melalui kematian penggantian-Nya, Ia membebaskan hayat kebangkitan-Nya ke dalam kita, sehingga kini kita memiliki hayat kebangkitan di dalam roh kita. Karena kita dapat hidup berdasarkan hayat kebangkitan ini, maka kita mempunyai tenaga, kekuatan untuk memiliki moralitas taraf tertinggi. Jika kita hidup menurut roh (Rm. 8:4), kita menggenapi tuntutan (permintaan) kebenaran hukum Taurat, bahkan menggenapi lebih daripada tuntutan hukum Taurat. Karena itu, kita bukan menghapus hukum Taurat sebaliknya kita menggenapinya dengan cara tertinggi.

Aspek ketiga hukum Taurat ialah ritual (tata cara) hukum Taurat. Sebagai contoh: mempersembahkan kurban persembahan dan memelihara hari Sabat adalah ritual lahiriah hukum Taurat. Ritual ini pun telah diakhiri, sebab semuanya adalah bagian dari bayang-bayang, lambang, dan tanda-tanda zaman lama, semuanya ini telah digenapi oleh Kristus sebagai realitas. Kita tidak lagi diharuskan memperhatikan ritual hukum Taurat. Karena itu, prinsip hukum Taurat dan ritual hukum Taurat telah tamat, tetapi perintah hukum Taurat, yang menuntut taraf moral yang tinggi, belum tamat. Sebaliknya, perintah ini telah ditingkatkan. Dengan melalui Kristus sebagai hayat kebangkitan dalam roh kita, kita dapat menggenapi taraf moralitas yang dituntut oleh hukum Taurat yang lebih tinggi dari Kerajaan Surga. Perkataan ini seharusnya membuat kita jelas tentang hukum Taurat menurut ketiga aspeknya; prinsip hukum Taurat, perintah hukum Taurat, dan ritual hukum Taurat.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 20

09 December 2017

Matius - Minggu 10 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:44-48
Doa baca: Mat. 5:48
Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.


Kini kita melihat hukum Taurat terakhir yang diubah oleh Tuhan, hukum Taurat mengenai musuh (ay. 43) . Dikatakan secara sah, hukum Taurat lama itu adil dan benar, sebab sesama yang baik patut mendapatkan kasih kita dan musuh patut kita benci. Jadi, mengasihi sesama dan membenci musuh itu benar dan adil. Tetapi Ayat 44 mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang meng-aniaya kamu.” Sekali lagi, ini adalah masalah yang menjamah diri manusia kita. Karena itu, perkara mengasihi musuh kita merupakan suatu ujian. Jika Anda membaca Matius 5, 6, dan 7, Anda akan nampak bahwa konstitusi surgawi ini tidak mengizinkan keluarnya manusia alamiah kita, bahkan seinci pun tidak. Sebaliknya, konstitusi surgawi membunuh setiap kuman dalam kita. Anda membenci musuh Anda, sebab ia tidak sesuai dengan pilihan Anda; Anda mengasihi sesama Anda yang baik, sebab ia sesuai dengan pilihan Anda. Tuhan mungkin bertanya kepada Anda, apakah Anda mengasihi sesama Anda yang menyulitkan? Boleh jadi Anda akan menjawab bahwa itu sangat sulit. Alasannya ialah karena mereka bertentangan dengan diri Anda dan perasaan alamiah Anda. Inilah suatu ujian untuk membuktikan apakah Anda hidup berdasarkan diri Anda atau berdasarkan Kristus. Kadang kala Kristus mungkin lebih mengasihi musuh Anda daripada sesama Anda dan Anda harus mengikuti Dia. Tetapi, ini bukan semata-mata perbuatan yang lahiriah.

Sebutan “anak-anak Bapamu” (ay. 45) adalah bukti kuat bahwa umat kerajaan yang mendengar dekrit Raja baru di atas gunung adalah kaum beriman Perjanjian Baru yang dilahirkan kembali. Sebagai anak-anak Bapa kita, kita harus memperlakukan orang yang jahat dan yang tidak benar sebagaimana kita memperlakukan orang yang baik dan yang benar (ayat 45), kita tidak hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi juga mengasihi orang yang tidak mengasihi kita (ayat 46), dan tidak hanya memberi salam kepada saudara kita, tetapi juga kepada orang lain (ayat 47).

Bagi umat kerajaan, menjadi sempurna seperti Bapa Surgawi mereka yang adalah sempurna (ay. 48), berarti mereka sempurna dalam kasih-Nya. Mereka adalah anak-anak Bapa, memiliki hayat dan sifat ilahi Bapa. Karena itu, mereka dapat sempurna sama seperti Bapa. Permintaan hukum Taurat baru kerajaan jauh lebih tinggi daripada permintaan hukum Taurat zaman lama. Permintaan yang lebih tinggi ini hanya dapat dipenuhi oleh hayat ilahi Bapa, bukan oleh hayat alamiah. Kerajaan Surga adalah permintaan yang tertinggi, dan hayat ilahi Bapa adalah suplai tertinggi untuk memenuhi permintaan itu. Permintaan dari hukum Taurat baru kerajaan dalam Matius 5 sampai 7 sebenarnya merupakan ekspresi dari hayat baru, hayat ilahi dalam umat kerajaan yang dilahirkan kembali. Permintaan ini membuka batin orang yang dilahirkan kembali, menunjukkan kepada mereka bahwa mereka mampu mencapai tingkat yang sedemikian tinggi dan memiliki kehidupan yang sedemikian tinggi.

Semua permintaan dari hukum Taurat yang telah diubah ini mewahyukan betapa besarnya kemampuan hayat ilahi bekerja di dalam kita. Hukum Taurat baru ini bukan semata-mata suatu permintaan, melainkan suatu wahyu, menampakkan kepada kita bahwa hayat ilahi ini bahkan dapat membuat kita sempurna sama seperti Bapa kita yang di surga yang adalah sempurna. Kita memiliki hayat yang sempurna ini di dalam kita. Kita mempunyai hayat dengan sifat ilahi sedemikian ini, sehingga dapat membuat kita sem-purna seperti Bapa kita yang di surga.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 19

08 December 2017

Matius - Minggu 10 Jumat

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:37-43
Doa baca: Mat. 5:41
Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.


Kini kita membicarakan hukum Taurat ketiga yang diubah oleh Tuhan, hukum Taurat mengenai melawan orang yang jahat. Hukum Taurat baru bukan melawan orang yang jahat. Dalam ayat 39 Tuhan mengatakan bahwa siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Melakukan hal ini menunjukkan tidak adanya perlawanan. Jika seseorang mengingini baju Anda, berilah dia jubah Anda juga (ay. 40). Ini membuktikan bahwa Anda tidak melawan. Memberikan pipi yang lain kepada penampar, menyerahkan jubah kepada orang yang menginginkan baju kita, dan menempuh mil yang kedua bersama orang yang memaksa (ay. 41), membuktikan bahwa umat kerajaan memiliki kekuatan untuk menanggung derita dan tidak melawan, kekuatan untuk berjalan tidak dalam daging atau jiwa demi kepentingan mereka sendiri, tetapi dalam roh untuk Kerajaan.

Melawan dengan mata ganti mata dan gigi ganti gigi berarti Anda melampiaskan amarah Anda. Di sini Tuhan mengatakan bahwa kita tidak dapat memuaskan temperamen kita. Jangan melampiaskan “musang” temperamen kita, kita harus membunuhnya. Masalahnya bukan lawan Anda, melainkan temperamen Anda. Tuhan mengizinkan seseorang memaksa Anda berjalan sebagai pencobaan untuk menyingkapkan di mana Anda berada, untuk membuktikan bahwa “musang” temperamen Anda masih mendekam di dalam Anda. Kita sebagai manusia rohani, bahkan umat kerajaan, tetapi temperamen kita masih tersembunyi di dalam kita dan perlu disingkapkan. Mereka yang meminta Anda itu telah menyingkapkan “musang” kecil ini. Jika ada seseorang meminta baju Anda, Anda mungkin mengatakan, “Aku tidak berhutang apa-apa kepadamu! Mengapa engkau datang kepadaku?” Janganlah menyalahkan orang yang meminta, Tuhan telah mengutus-nya — bunuh saja “musang” temperamen Anda. Jangan marah-marah, katakanlah kepadanya, “Karena Anda menghendaki bajuku, aku akan memberikan mantelku juga.” Ini membuktikan bahwa temperamen Anda telah dibunuh. Seluruh umat kerajaan harus dapat mengatakan, “Tidak peduli betapa banyaknya tuduhan yang tidak benar yang Anda timpakan kepadaku, amarahku tidak terbangkitkan. Aku tetap mengasihimu dan aku mau membagikan segala milikku kepadamu. Jika Anda menghendaki bajuku, aku akan dengan rela memberimu mantelku juga.” Sikap umat kerajaan hendaklah selalu seperti ini.

Memberi kepada orang yang meminta dan tidak menolak orang yang mau meminjam (ay. 42) membuktikan bahwa umat kerajaan tidak mementingkan barang materi dan tidak dikuasai oleh barang itu. Namun, masalah yang sesungguhnya bukanlah kekayaan duniawi. Memberi kepada yang meminta atau yang ingin meminjam telah menjamah diri kita. Tuhan tidak berkata bahwa kita seharusnya tidak memiliki daya pembeda dan berlaku secara bodoh terhadap harta duniawi kita. Tuhan memberi tahu kita agar kita melampaui benda-benda materi maupun temperamen kita. Jangan sekali-kali kita terumbar dalam temperamen kita oleh perkara macam ini ataupun terjamah oleh benda-benda materi. Inilah sikap pemenang umat kerajaan. Ini bukan berarti bahwa kita terlalu royal atau tidak berhati-hati dalam mengatur keuangan. Sekalipun Anda mungkin sangat berhati-hati dalam cara menggunakan uang, tetapi ketika saat-saat yang begitu sulit menimpa Anda, seperti yang diumpamakan dalam ayat 42, Anda harus melampaui benda-benda materi dan temperamen Anda. Tidak ada satu permintaan yang dapat membangkitkan amarah Anda. Hukum Taurat lama tidak menyinggung amarah orang atau hati orang. Tetapi hukum Taurat baru, hukum Taurat yang telah diubah, menyentuh baik temperamen kita maupun hati kita.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 19

07 December 2017

Matius - Minggu 10 Kamis

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:31-48
Doa baca: Mat. 5:37
Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.


Dalam berita ini kita akan membicarakan Matius 5:31-48 yang mencakup empat hukum Taurat. Keempat hukum Taurat dalam bagian ini, hukum Taurat tentang perceraian, sumpah, melawan orang yang jahat, dan mengasihi musuh kita, semuanya telah diubah. Marilah kita terlebih dulu melihat perubahan hukum Taurat mengenai perceraian. Menurut hukum Taurat lama, seseorang dapat menceraikan istrinya hanya dengan memberikan surat cerai (ay. 31). Hukum Taurat zaman lama tentang perceraian ditetapkan karena kekerasan hati manusia, bukan menurut rencana Allah sebermula (Mat. 19:7-8). Perintah baru Raja memulihkan perkawinan pada keadaan yang sebermula sebagaimana direncanakan oleh Allah (Mat. 19:4-6). Ikatan perkawinan hanya dapat diputuskan oleh kematian (Rm. 7:3) atau perzinaan. Karena itu, bercerai dengan alasan apa pun berarti berzina (Mat. 5:32).

Menurut firman Tuhan Yesus, alasan satu-satunya untuk bercerai ialah perzinaan. Hanya dua perkara dapat memutuskan tali perkawinan: kematian dari salah satu pihak atau perzinaan, percabulan. Jika satu pihak melakukan perzinaan, tali perkawinan putus. Inilah prinsipnya. Karena itu, Tuhan Yesus mengatakan bahwa hendaklah tidak ada perceraian, kecuali dalam hal perzinaan. Tetapi Anda jangan mengambil kesempatan ini sebagai alasan untuk kawin lagi hanya karena suatu perbuatan percabulan telah terjadi. Ini pun suatu perkara motivasi. Jika mungkin, pihak yang melukai hendaknya dimaafkan. Namun, jika pihak yang salah menolak untuk bertobat dan tetap hidup dalam dosa macam ini atau kawin dengan orang lain, masalahnya akan berbeda. Dalam masalah yang sedemikian ini, tali perkawinan itu putus dan pihak yang lainnya bebas.

Dalam ayat 34 dan 36 kita nampak hukum Taurat baru Tuhan tentang sumpah: jangan sekali-kali bersumpah. Hukum Taurat baru kerajaan melarang umat kerajaan bersumpah dengan cara apa pun, demi surga, demi bumi, demi Yerusalem, atau demi kepala mereka, karena langit, bumi, Yerusalem, dan kepala mereka tidak berada di bawah kendali mereka, melainkan di bawah kendali Allah. Kita tidak boleh bersumpah baik demi langit maupun demi bumi, sebab semuanya bukan milik kita. Demikian pula, kita tidak boleh bersumpah demi Yerusalem, sebab sebagai kota Sang Raja Agung, itu bukan wilayah kita. Kita bahkan tidak boleh bersumpah demi kepala kita, sebab kita “tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun”. Semuanya ini — langit, bumi, Yerusalem, dan bahkan rambut kepala kita — bukan berada di bawah kendali kita. Kita bukan apa-apa dan kita tidak mengendalikan apa pun.

Perkataan umat kerajaan harus sederhana dan benar: Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak. Umat kerajaan tidak seharusnya mencoba meyakinkan orang dengan banyak bicara. Mereka yang jujur tidak banyak bicara. Tetapi waspadalah terhadap orang yang banyak bicara; boleh jadi mereka penipu. Penipu itu sangat banyak bicara, selalu memberi alasan dan argumentasi untuk perkara-perkara. Tetapi seorang yang jujur selalu singkat. Lagi pula, kita harus menyadari bahwa banyak bicara dalam hadirat Allah tidak membuat Tuhan senang. Ketika kita datang kepada Tuhan, kita harus datang kepada-Nya dalam kejujuran, mengatakan sesuatu kepada-Nya secara sederhana dan singkat.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 19

06 December 2017

Matius - Minggu 10 Rabu

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:4
Doa baca: Rm. 8:4
Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.


Setelah mendengar berita ini, Anda mungkin mengatakan bahwa Anda tidak dapat melakukannya. Sangatlah baik bila kita berkata bahwa kita tidak dapat melakukannya, sebab dengan demikian berarti kita sadar betapa kita memerlukan Kristus, yang telah menggantikan kita, untuk masuk ke dalam kita dalam kebangkitan menjadi hayat kita. Peringatan Tuhan dalam Matius 5 harus memaksa kita tinggal bersama Kristus. Kita harus menempuh kehidupan sehari-hari dengan takut dan gentar. Kita perlu berkata, “Aku harus menghampiri Kristus yang telah bangkit. Aku harus bekerja sama dengan Dia. Aku harus percaya kepada-Nya dan bersandar kepada-Nya. Karena standar moralitas Kerajaan Surga lebih tinggi bagiku untuk melakukannya, aku harus tetap bersama dengan Tuhan. Jika aku marah-marah terhadap saudaraku, aku berkemungkinan dibakar dalam api. Betapa seriusnya hal ini!”

Pengertian dibakar oleh api ini terdapat dalam 1 Korintus 3 dan Ibrani 6. 1 Korintus 3:15 mengatakan, “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian; ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Sekalipun orang demikian akan diselamatkan, namun ia akan diselamatkan seperti dari dalam api. Ibrani 6:7-8 mengatakan, “Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya dan menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; tetapi jikalau menghasilkan semak duri dan rumput duri, tanah itu tidak berguna dan sudah dekat pada kutuk yang berakhir dengan pembakaran.” Di sini kaum beriman diumpamakan seperti tanah yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang menerima berkat Allah atau menghasilkan semak duri dan rumput duri yang akan dibakar. Betapa dahsyat melewati pembakaran yang sedemikian! Lagi pula, dalam Wahyu 2:11 dikatakan bahwa orang Kristen yang kalah/gagal akan menderita di dalam kematian yang kedua, lautan api (Why. 20:15). Menderita dalam kematian yang kedua ialah terjamah oleh lautan api. Tentu saja kita tidak mau terjamah oleh api ini.

Kita harus sangat jelas tentang fakta bahwa pada hakikatnya kita tidak memelihara hukum Taurat, tetapi kita berperilaku menurut roh. Roma 8:4 mengatakan bahwa jika kita berperilaku menurut roh, dengan spontan kita menggenapkan semua kebenaran tuntutan hukum Taurat. Kita bukan berusaha memelihara hukum Taurat, sebab semakin kita mencoba menaatinya semakin kita melanggarnya. Ini diwahyukan dan dicatat sepenuhnya dalam Roma 7. Hari ini kita tidak di bawah hukum Taurat atau peraturan untuk menaati hukum Taurat. Kita bebas dari hukum Taurat, dan kini kita berperilaku menurut roh. Di dalam roh terdapat Raja, Kristus, yang adalah hayat kebangkitan kita. Ketika kita berperilaku menurut roh, kita menggenapkan tuntutan hukum Taurat tertinggi.

Saya percaya bahwa kini kita sudah mengerti jelas tentang hukum Taurat. Kita dapat memberi tahu orang bahwa prinsip hukum Taurat telah berlalu, tetapi perintah hukum Taurat itu masih tetap ada dan telah ditingkatkan. Sekalipun kita tidak dapat memenuhi standar tuntutan yang lebih tinggi ini, namun kita memiliki hayat kebangkitan dalam roh kita. Karena itu kita tidak perlu memelihara hukum Taurat dalam arti berjuang sendiri, melainkan kita harus berperilaku menurut roh. Ketika kita berperilaku menurut roh, spontan kita mengenapkan semua tuntutan hukum Taurat dan mempunyai standar moral tertinggi. Inilah kesaksian Yesus, kesaksian gereja. Inilah kehidupan gereja yang wajar, realitas Kerajaan Surga.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 18

05 December 2017

Matius - Minggu 10 Selasa

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:17
Doa baca: Mat. 5:17
Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya,


Memang dalam Perjanjian Baru keselamatan itu berdasarkan pada prinsip iman, tidak ada sangkut pautnya dengan hukum Taurat. Kita semua telah diselamatkan berdasarkan iman, bukan berdasarkan memelihara hukum Taurat. Tetapi setelah kita diselamatkan, kita harus menempuh suatu kehidupan yang memiliki standar moralitas yang lebih tinggi daripada hukum Taurat lama. Jangan berpikir bahwa kita bebas untuk berbuat seenaknya, cemar atau bahkan amoral, karena kita telah diselamatkan bukan menurut prinsip hukum Taurat. Jangan mengira bahwa, karena Allah tidak menanggulangi kita menurut prinsip hukum Taurat tetapi menurut prinsip iman, kita tidak perlu memperhatikan perintah hukum Taurat. Kita harus cermat. Setelah kita diselamatkan, kita perlu menempuh suatu kehidupan dengan standar yang jauh lebih tinggi daripada standar hukum Taurat lama. Standar kita harus lebih tinggi daripada tuntutan hukum Taurat. Hukum Taurat melarang kita membunuh orang, tetapi kita bahkan tidak boleh marah terhadap orang. Bahkan jika kita mengatai saudara kita “kafir”, suatu penghinaan, atau “jahil”, kata kutukan yang menunjukkan suatu pemberontakan, kita akan berada dalam bahaya hukuman. Kita tidak hanya tidak boleh membunuh saudara kita, bahkan jika kita menyebut mereka “kafir” atau “jahil”, kita akan berada dalam kesulitan.

Untuk dapat menempuh suatu kehidupan dengan standar moral yang lebih tinggi daripada standar hukum Taurat lama, Anda harus mengatasi amarah dan hawa nafsu Anda. Boleh jadi Anda mengatakan bahwa hal ini tidak mudah Anda lakukan. Benar, tidak mudah. Itulah sebabnya Anda perlu hayat lain. Betapa kita perlu tinggal bersama Kristus! Kita harus berkontak dengan Dia tidak hanya hari demi hari, bahkan jam demi jam. Karena temperamen dan hawa nafsu di dalam kita, kita perlu tetap dalam persekutuan yang terus-menerus dengan Dia. Anda harus menyadari bahwa Anda bukan kayu atau batu. Jika Anda kayu atau batu, Anda tidak akan bermasalah dengan temperamen dan hawa nafsu. Tetapi karena Anda orang yang hidup, Anda memilki dua hal ini di dalam Anda. Tidakkah Anda mempunyai temperamen dan hawa nafsu di dalam Anda? Setiap saat kita dapat tersandung oleh temperamen kita atau tergoda oleh hawa nafsu kita. Berhati-hatilah! Berjaga-jaga dan berdoalah mengenai dua “setan” ini, temperamen kita dan hawa nafsu kita. Setelah kita diselamatkan menurut prinsip iman, kita perlu menempuh suatu kehidupan yang lebih tinggi, kehidupan dengan standar yang paling tinggi. Kehidupan dengan standar yang paling tinggi ini ialah kehidupan yang mengatasi temperamen dan hawa nafsu kita.

Dalam Matius 5:22 penghakiman kaum beriman pada takhta peradilan Kristus diumpamakan oleh tiga macam penghakiman menurut latar belakang umat Yahudi: penghakiman di pintu gerbang kota, penghakiman di hadapan Mahkamah Agung, dan penghakiman neraka yang menyala-nyala. Ketiga macam penghakiman ini menunjukkan satu penghakiman pada takhta penghakiman Kristus. Kita sebagai orang Kristen yang telah diselamatkan berdasarkan prinsip iman, tidak akan diadili di depan takhta putih yang dikatakan dalam Wahyu 20. Sebaliknya kita akan diadili di depan takhta penghakiman Kristus selama seribu tahun sebelum penghakiman pada takhta putih. Penghakiman pada takhta putih besar diperuntukkan bagi orang-orang kafir mengenai kebinasaan mereka yang kekal. Tetapi penghakiman pada takhta penghakiman Kristus diperuntukkan bagi kaum beriman, entah mereka akan mendapatkan pahala atau hukuman.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 18

04 December 2017

Matius - Minggu 10 Senin

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:17
Doa baca: Mat. 5:17
Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Menurut ekonomi Perjanjian Lama, Allah memperlakukan umat-Nya berdasarkan hukum Taurat. Inilah prinsip hukum Taurat. Tetapi dalam ekonomi Perjanjian Baru hari ini, Allah memperlakukan umat-Nya bukan menurut hukum Taurat, melainkan menurut iman (kepercayaan). Jadi, hukum Taurat ialah prinsip hubungan Allah dengan umat-Nya dalam Perjanjian Lama, sedangkan iman ialah prinsip hubungan-Nya dengan kita dalam Perjanjian Baru. Menurut ekonomi Perjanjian Lama, perlu memelihara hukum Taurat agar dapat diperkenan oleh Allah. Tetapi hari ini diperkenan atau tidak oleh Allah adalah masalah iman.

Prinsip hukum Taurat telah dihapus, tetapi perintah hukum Taurat tidak dihapus. Hanya karena prinsip hukum Taurat telah dihapus, janganlah mengira bahwa perintah hukum Taurat pun telah dihapus dan tidak perlu menghormati orang tua kita atau menahan diri supaya tidak mencuri. Tidak, bukannya dihapus, melainkan perintah hukum Taurat telah ditingkatkan. Meskipun hubungan kita dengan Allah tidak berdasarkan prinsip hukum Taurat, kita harus tetap memperhatikan perintah-perintah hukum Taurat yang telah ditingkatkan.

Fakta bahwa Allah memperlakukan kita, kaum beriman, tidak lagi menurut prinsip hukum Taurat, bukan berarti bahwa perintah hukum Taurat telah dihapus. Misalnya, dua perintah pertama hukum Taurat lama berkenaan dengan tidak memiliki ilah lain dan tidak membuat patung-patung (berhala). Prinsip hukum Taurat telah dihapus bukan berarti bahwa perintah-perintah ini telah dihapus. Sebaliknya, menurut Perjanjian Baru, perintah-perintah ini ditekankan, dikuatkan, dan ditingkatkan. Dalam Perjanjian Lama diperintahkan untuk tidak membuat patung-patung secara jasmaniah, tetapi dalam Perjanjian Baru kita diberi tahu bahwa keserakahan juga merupakan penyembahan berhala (Kol. 3:5). Keserakahan ialah suatu berhala. Melalui ini kita nampak bahwa perintah mengenai berhala itu telah ditingkatkan. Memang, prinsip hukum Taurat telah dihapus, tetapi bukan perintahnya. Perintah mengenai menghormati orang tua kita tidak pernah dihapus. Dalam Perjanjian Baru perintah ini juga diulangi, diteguhkan, dan ditingkatkan. Hari ini kita harus lebih menghormati orangtua kita daripada umat Israel di masa lampau.

Kita telah nampak bahwa Tuhan Yesus pun meningkatkan perintah mengenai pembunuhan dan perzinaan. Karena perintah Perjanjian Lama tentang pembunuhan dan perzinaan kurang memadai, Tuhan melengkapinya. Perintah lama tentang pembunuhan tidak mencakup masalah dengki atau marah. Jadi, Tuhan melengkapi hukum Taurat lama tentang pembunuhan dengan mengatakan bahwa siapa yang marah terhadap saudaranya harus dihukum. Ia pun melengkapi larangan mengenai perzinaan dengan mengatakan bahwa siapa memandang perempuan serta menginginkannya, ia sudah berzina dengan dia dalam hati. Dengan contoh-contoh ini kita nampak bahwa hukum Taurat moral tidak pernah dihapus, bahkan telah ditingkatkan. Kesepuluh perintah-perintah itu telah diulang dan ditingkatkan dalam Perjanjian Baru kecuali perintah yang keempat, perintah untuk memelihara hari Sabat. Perintah ini telah berlalu sebab tidak berkenaan dengan moralitas, melainkan suatu perintah ritual.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 18

02 December 2017

Matius - Minggu 9 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:23-30; Rm. 8:13
Doa baca: Rm. 8:13
Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.


Kata “sesuatu ... terhadap engkau” dalam ayat 23 pasti mengacu kepada suatu kesalahan akibat kemarahan atau kegusaran dalam ayat 22. Menurut ayat 24, kita harus berdamai dengan saudara kita lebih dulu agar ingatan kita akan kesalahan itu dapat disingkirkan dan hati nurani kita dapat bebas dari salah. Kemudian kita dapat datang dan mempersembahkan persembahan kita kepada Tuhan dan bersekutu dengan Dia dengan hati nurani yang murni. Raja dari Kerajaan Surga tidak mungkin membiarkan dua saudara, yang belum berdamai satu sama lain, mengambil bagian dalam realitas kerajaan atau pemerintahan dalam manifestasi kerajaan. Ketika Anda datang untuk berkontak dengan Tuhan, Anda merasa bahwa seorang saudara atau saudari mendakwa Anda, Anda perlu menghentikan persekutuan Anda dengan Tuhan dan pergi ke orang itu untuk berdamai dengan dia. Kemudian Anda dapat kembali meneruskan persekutuan Anda dengan Tuhan. Sekalipun ini suatu perkara yang kecil, tetapi tidak mudah dilakukan. Namun, kita harus melakukannya.

Kita perlu segera menyelesaikan permusuhan kita jangan sampai kita mati, lawan kita mati atau Tuhan kembali dan tidak ada kesempatan bagi kita untuk berdamai dengan lawan kita (ay. 25-26). Kata “di tengah jalan” menunjukkan bahwa kita masih hidup pada masa ini. Masalah diserahkan kepada hakim, kepada pengawalnya dan dilemparkan ke dalam penjara akan diketahui pada takhta penghakiman Kristus ketika Ia kembali (2 Kor. 5:10; Rm. 14:10). Hakim yang dimaksud di sini adalah Tuhan, pengawalnya adalah malaikat, dan penjara adalah tempat pendisiplinan. Keluar dari sana, yaitu keluar dari penjara, ialah diampuni dalam zaman yang akan datang, zaman Kerajaan Seribu Tahun.

Hukum Taurat baru yang dilengkapi mengenai perzinaan terdapat dalam ayat 28. Hukum Taurat zaman lama menanggulangi perbuatan zina di luar, sedangkan hukum Taurat baru kerajaan menanggulangi motivasi di batin. Kita harus memandang serius dosa yang demikian itu berkenaan dengan Kerajaan Surga. Seriusnya dosa ini ditunjukkan oleh firman Tuhan dalam ayat 29 dan 30 tentang “cungkillah” mata kita dan “buanglah” dari kita. Namun ayat ini tidak dapat kita terapkan secara harfiah, melainkan secara rohani, seperti yang diwahyukan dalam Roma 8:13 dan Kolose 3:5. Walaupun perkataan ini tidak seharusnya kita terima secara harfiah, tetapi ini mewahyukan betapa seriusnya dosa tersebut. Menurut firman Tuhan dalam ayat 29 dan 30, bagi orang yang telah beroleh selamat ada kemungkinan dilemparkan ke dalam neraka. Ini berarti bahwa orang yang telah beroleh selamat pun ada kemungkinan menderita oleh kematian yang kedua. Firman Tuhan dalam Wahyu 2:11 menunjukkan bahwa kaum beriman ada kemungkinan menderita oleh kematian yang kedua. Sebagai orang yang telah beroleh selamat, jika Anda tidak serius menanggulangi dosa semacam ini, pada suatu hari, Anda akan menderita kematian yang kedua. Ini bukan berarti bahwa Anda akan binasa, melainkan berarti bahwa Anda akan didisiplinkan. Kata “neraka” ini memperingatkan Anda bahwa jika Anda tidak serius menanggulangi dosa ini hari ini, ketika Tuhan Yesus kembali, ia akan melakukan penghakiman-Nya atas Anda.


Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 17

01 December 2017

Matius - Minggu 9 Jumat

Pembacaan Alkitab: Mat. 5:19-22
Doa baca: Mat. 5:20
Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.


Umat kerajaan bukan hanya menggenapi hukum Taurat, tetapi juga melengkapinya. Karena itu, sebenarnya mereka tidak meniadakan perintah yang mana pun dari hukum Taurat, bahkan yang terkecil sekalipun (ay. 19). Apakah kita akan menjadi besar atau kecil dalam Kerajaan Surga tergantung pada apakah kita memelihara atau tidak perintah hukum Taurat, bahkan yang terkecil sekalipun. Dalam ayat 19 Kristus menekankan fakta bahwa jika kita tidak memelihara semuanya bahkan yang terkecil sekalipun, melainkan meniadakannya dan mengajarkan orang lain untuk meniadakannya, kita akan menjadi yang terkecil dalam Kerajaan Surga. Tidak ada moral orang lain yang setinggi moral umat kerajaan. Janganlah mengira bahwa kita hanya memperhatikan hayat dan tidak memperhatikan moral. Hayat harus memiliki ekspresinya dan hayat yang tertinggi mempunyai ekspresi yang tertinggi. Moral tidak lain adalah ekspresi hayat. Jadi, bila Anda mempunyai hayat yang tertinggi, Anda pasti akan memiliki moral yang tertinggi sebagai ekspresi hayat ini. Kita perlu berdoa, “Tuhan berilah aku ekspresi hayat yang tertinggi. Berilah aku moral taraf tertinggi. Tuhan, aku bukan hanya orang bermoral, tetapi juga orang kerajaan.” Butir yang paling penting dan menentukan yang dititikberatkan Kristus dalam ayat-ayat ini ialah bahwa umat kerajaan harus mempunyai standar moral yang tertinggi. Jika kita nampak hal ini, kita dapat memahami Matius 5:17-48. Kita memiliki hukum Taurat yang tertinggi, hayat tertinggi, dan standar tertinggi. Melalui hayat yang tertinggi kita menggenapi hukum Taurat tertinggi dan memiliki standar yang tertinggi.

Hukum Taurat Perjanjian Lama menanggulangi perbuatan pembunuhan, tetapi hukum Taurat baru kerajaan menanggulangi amarah, yaitu motivasi pembunuhan (ay. 21-22). Karena itu, permintaan hukum Taurat baru kerajaan lebih dalam daripada permintaan hukum Taurat Lama.

Tidak memandang rendah atau mengatai orang lain juga sangat sulit bagi kita. Dalam ayat 22 Tuhan mengatakan tentang mengatai saudara kita “raka” (LAI: mencaci maki) atau “moreh” (LAI: jahil). “Raka” berarti bodoh, tolol, tidak ada gunanya. Suatu ungkapan yang merendahkan. “Moreh” berarti bloon, dungu. Ungkapan Ibrani yang bersifat menghakimi, menunjukkan suatu pemberontakan (Bil. 20:10). Ungkapan ini lebih serius daripada “Raka”, suatu ungkapan yang merendahkan. Betapa sulit untuk tidak memandang rendah seorang saudara atau tidak mengatai saudara! Seakan-akan hampir setiap hari kita kalau bukan mengatai tentu memandang rendah. Ketika Anda membaca ini, dapatkah Anda tetap mengatakan bahwa Anda itu pemenang, umat Kerajaan Surga? Janganlah putus asa. Sebaliknya lebih terdorong. Ingatlah, kita memiliki hayat pemenang. Bukankah Anda mempunyai Raja di dalam Anda? Kita adalah umat kerajaan, dan kita memiliki Raja di dalam kita. Raja ini ialah hayat rajani, hayat pemenang. Janganlah menengok kepada diri Anda sendiri. Jika Anda memandang diri sendiri, Anda akan kecewa. Lupakanlah diri Anda dan pandanglah hayat rajani yang di dalam Anda. Hayat inilah yang menjadikan kita umat Kerajaan Surga. Lupakanlah hayat alamiah Anda dan ikutilah hayat rajani ini.



Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 2, Berita 17