Hitstat

17 May 2005

1 Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Selasa

Janganlah Mengasihi Dunia
1 Yohanes 2:15
"Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu."

Dalam ayat 15-17 terdapat peringatan yang keras terhadap dunia dan segala daya tariknya. Peringatan ini berlaku untuk semua anak Allah, bukan hanya orang- orang muda. Dunia terus datang mencari kita. Hari ini, urusan uang, posisi, kekuasaan, sandang pangan, papan dan lain-lain jauh lebih banyak dibandingkan masa lampau. Bahkan di tengah orang Kristen, yang dibicarakan adalah hal-hal dunia.
Dunia yang dimaksud di sini bukan bumi, tetapi adalah sistem yang dibangun manusia dengan tujuan untuk membuat diri mereka bergembira tanpa Kristus, bisa mencakup dunia budaya, seni, pendidikan, dll. Dunia adalah apa saja yang di dalamnya Tuhan Yesus tidak diterima dan tidak dikasihi.
Mengasihi dunia sedikit saja akan memberi si jahat satu dasar untuk menaklukkan dan menduduki kita. Rahasia mengalahkan dunia adalah mengasihi Allah melalui menuruti firman-Nya. Yoh.14:15 mengatakan, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku", dan Yoh.14:23 mengatakan, "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia". Sedangkan 1Yoh. 2:5 mengatakan, "Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia." Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa mengasihi Tuhan membuat kita menuruti firman-Nya. Seorang yang demikian pasti akan mengalahkan yang jahat. Tetapi jika kita mengasihi dunia maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam kita.

Dunia Yang Jahat
1 Yoh. 2:5, 15; Mat. 6:24; Yak. 4:4

Dalam pandangan Allah, dunia sangat jahat, karena dunia merebut manusia dan membuatnya tidak berguna bagi Allah. Kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang yang mengasihi dunia (2:15), bahkan dia menjadi musuh Allah (Yak. 4:4).
Ketika menjamah perkara dunia, kita harus selalu bertanya, "Apa pengaruh perkara ini terhadap hubunganku dengan Bapa?" Kita mudah melihat akibat rohani yang ditimbulkan oleh dosa, tetapi jarang sekali menyadari bahwa akibat rohani yang ditimbulkan dunia bahkan lebih berat. Itulah sebabnya Yohanes menyebut dunia sebagai ‘yang jahat’.
Mustahil bagi seseorang, mengasihi Allah dan melayani Allah bersamaan dengan mengasihi apa yang Dia benci dan yang ditentang-Nya. Seperti yang Tuhan Yesus katakan dalam Matius 6:24, "Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
Politik, pendidikan, ilmu pengetahuan, sastra, kesenian, hukum, bisnis, musik – inilah yang membentuk kosmos, sistem dunia yang tersusun rapi. Di belakang dunia ada kuasa rohani yang berusaha menjerumuskan orang ke dalam sistem ini, yang menyimpangkan orang dari Tuhan.
Allah sedang membangun gereja-Nya untuk mencapai sasaran terakhir-Nya, yaitu pemerintahan Kristus atas alam semesta. Namun, musuh-Nya juga sedang membangun sistem dunia ini untuk mencapai puncak kesia-sian, yakni pemerintahan antikristus. Kita sangat perlu berjaga-jaga, supaya jangan malah membantu Iblis membangun kerajaan yang ditentukan untuk binasa. Saat menghadapi suatu pengambilan keputusan, suatu pilihan, persoalannya bukan: baik atau jahat? Berguna atau tidak berguna? Bukan! Tetapi, kita harus bertanya: Ini milik dunia atau milik Allah?

Ket: Untuk pembahasan mengenai dunia lebih menyeluruh, bacalah Arus Hayat Surat Yakobus Volume 2 Minggu 1 (Senin sampai Kamis

16 May 2005

1 Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Senin

Anak-anak
1 Yohanes 2:12
"Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni
oleh karena nama-Nya."

Panggilan "anak-anak" di sini menunjukkan bahwa Yohanes menganggap kaum beriman adalah anak-anaknya, bukan murid-muridnya atau pengikut-pengikutnya. Menjadi murid adalah masalah pengetahuan, dan menjadi pengikut adalah masalah pengambilan bagian dalam satu aktivitas tertentu. Tetapi panggilan "anak-anak" menyatakan adanya hubungan hayat (kehidupan).
Selain itu, panggilan ini juga mencakup seluruh anggota keluarga Allah. Yohanes sedang berbicara kepada semua orang yang adalah milik Tuhan, yaitu orang-orang yang dosanya telah diampuni oleh karena nama Tuhan. Adalah hal yang indah bagi kita orang Kristen kalau kita bisa mengenal pengampunan yang sempurna atas dosa kita.
Yohanes menyadari bahwa pengampunan dosa-dosa adalah faktor dasar bagi kita untuk menjadi anak-anak Allah. Pengampunan dosa-dosa adalah elemen dasar yang pertama dalam Injil. Pada saat kita percaya di dalam nama Tuhan, berkat pertama yang kita terima adalah pengampunan dosa-dosa. Melalui pengampunan, kita dibenarkan dan menjadi anak-anak Allah sampai selamanya.
Rasul Petrus dalam Kis. 10:43 juga mengatakan, "Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya." Saudara saudari, kita memiliki kesaksian yang kuat baik dari para nabi maupun para rasul bahwa dosa kita telah diampuni! Kita telah selamat! Haleluya!

Bapa-Bapa, Orang-Orang Muda, Anak-Anak
1 Yoh. 2:13-14

Yohanes membagi orang beriman menjadi tiga golongan berdasarkan usia rohani mereka, yaitu berdasarkan tingkat pertumbuhan hayat (kehidupan ilahi): golongan bapa-bapa, golongan orang-orang muda, dan golongan anak-anak.
Dalam 2:14b, Yohanes mengatakan bahwa bapa-bapa mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Ini menyiratkan pengalaman rohani seumur hidup atas diri Tuhan yang semakin lama semakin dalam. Mereka telah mengalami kesetiaan-Nya yang tidak pernah berubah, keandalan-Nya, dan hikmat-Nya. Mereka mengenal sang Kekal itu, yang sepenuhnya dapat percaya dan diandalkan. Mereka adalah orang-orang yang matang, memiliki persekutuan yang manis dengan Bapa dan dengan anak-Nya, Yesus Kristus, dan telah dipuaskan oleh-Nya.
Orang-orang muda dalam keluarga rohani memiliki kekuatan dan kesiapan bertempur melawan Iblis, dunia, dan hawa nafsunya (2:14b-17). Mereka telah mengalahkan yang jahat karena menuruti perintah-perintah Allah (2:3). Mereka diberi makan, dikuatkan, dan ditopang oleh firman Allah yang tinggal dan beroperasi di dalam mereka, seperti yang dikatakan dalam Mazmur 119:9, "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu." Paulus dalam Efesus 6:17 juga mengatakan bahwa firman Allah adalah senjata untuk mengalahkan si jahat. Bahkan Tuhan Yesus mengalahkan pencobaan di padang gurun, juga dengan firman. Ini menunjukkan betapa pentingnya untuk senantiasa menikmati firman Tuhan sehingga kita siap untuk menangkis serangan Iblis.
Sebutan "anak-anak" dalam 1 Yohanes 2:14a, ditujukan kepada yang baru saja dilahirkan kembali. Mereka mengenal Bapa sebagai sumber mereka dan mereka bisa menyebutnya, "Ya Abba, ya Bapa! (Rm. 8:15-16).
Saudara saudari, pengalaman kita tidak boleh berhenti hanya sebagai anak-anak. Kita harus bertumbuh menjadi orang-orang muda yang memiliki sikap berperang dan mengalahkan yang jahat. Bila kita senantiasa bertekun dalam peperangan rohani ini, maka kita akan bertumbuh hingga menjadi golongan bapa-bapa yang mengenal Dia, yang ada dari mulanya.

14 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Sabtu

Terang Menyingkirkan Gelap
1 Yohanes 2:9
"Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang."

Terang adalah penampilan dari esensi Allah dan sumber kebenaran. Kasih berhubungan dengan terang. Kasih berlawanan dengan kebencian yang berhubungan dengan kegelapan. Membenci saudara seiman adalah satu tanda dari orang yang berada dalam kegelapan (ay. 11). Demikian juga, mengasihi saudara seiman adalah tanda bahwa kita tinggal di dalam terang (ay. 10). Di dalam ayat 10 Yohanes berkata, "Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan."
Iblis tidak perlu menyuruh kita bertengkar, asal saja kita menebar kasih alamiah—hal-hal yang tidak berkaitan dengan hayat Allah, itu cukup membuat kita tercerai-berai. Perhatikanlah orang yang membuat campuran beton, jika di dalamnya ada sedikit saja tanah, beton itu tidak akan kokoh. Untuk merusak kesatuan, Iblis cukup menebarkan sedikit "tanah" — perkara yang tidak bisa berbaur dengan hayat Allah — ke dalam kita, maka datanglah kegelapan, hasilnya pasti tidak harmonis. Kita mungkin tetap bersama-sama dalam gereja, tetapi kasih persaudaraan itu telah lenyap.
Tinggal di dalam Tuhan berarti tinggal di dalam terang, yang menghasilkan kasih dan persekutuan dengan saudara saudara seiman. Tinggal di dalam terang juga membuat kita diselamatkan dari kegelapan maut yang membutakan. Kita perlu segera mengakui dosa-dosa kita di depan Tuhan, sehingga kita mengalami pengampunan serta pembersihan Allah, dan segera berada dalam terang.

Menghindari Perpecahan - Mengasihi Saudara
Kol. 3:4; 2 Kor. 5:17; Ef. 4:22-24; Gal. 2:20

Orang yang nampak Tubuh Kristus, yang mempunyai perasaan Tubuh, pasti tidak akan membenarkan adanya perpecahan di antara anak-anak Allah, karena ia mengasihi semua orang milik Allah.
Di dalam Tubuh, perasaan kasih timbul dengan sendirinya; di dalam Tubuh, perpecahan itu tidaklah wajar.
Kita mempunyai dua tangan. Apabila tangan kanan mempunyai alasan untuk mencela tangan kiri, ia tidak akan dapat memisahkannya dari tubuh; pemisahan itu adalah hal yang tidak mungkin. Demikian juga, Tubuh Kristus akan menyelamatkan kita dari segala perpecahan, juga akan menyelamatkan kita dari sikap individualistis.
Banyak orang yang hidupnya berdasarkan diri sendiri, tidak berdasarkan Tubuh. Misalnya, dalam hal berdoa. Ada orang yang tidak dapat berdoa bersama saudara lainnya. Orangnya berlutut bersama, tetapi hatinya tetap sendiri saja. Suara doanya dapat didengar oleh yang lain, tetapi doa orang lain tidak didengarnya. Hal ini disebabkan perasaannya tidak dapat dipadukan dengan perasaan orang lain. Inilah yang dimaksud dengan sikap individualistis, karena ia tidak nampak Tubuh.
Di dalam gereja, kita bisa menemukan beberapa orang yang suka berkumpul di dalam satu kelompok kecil. Hanya dengan orang-orang dalam kelompok kecil itu saja mereka dapat bergaul dan saling mengasihi, tetapi dengan orang lain mereka tidak dapat bergaul. Ini menunjukkan bahwa mereka belum nampak Tubuh Kristus.
Jika seseorang nampak Tubuh Kristus, niscaya ia tidak berani membentuk "golongan" macam apa pun, dan perasaannya akan menyalahkan segala perlakuan tersebut. Hayat ilahi di dalam kita menuntut penghidupan bersama (korporat) dan saling mengasihi. Jika kita mematuhi perasaan hayat ini untuk memelihara kasih persaudaraan dalam Tuhan, maka perpecahan atau golong-golongan yang akan merusak Tubuh Kristus dapat dihindari. Janganlah kita seperti orang-orang di Korintus, mereka mengatakan, "Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus" (1 Kor. 1:12).

13 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Jumat

Perintah Lama
1 Yohanes 2:7
"Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar."

Perintah lama di sini mengacu kepada perintah yang diberikan oleh Tuhan di dalam Yohanes 13:34, " Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." Perintah ini adalah firman yang telah didengar dan dimiliki dari mulanya oleh kaum beriman, yaitu dari waktu Tuhan Yesus di atas bumi dan memberikan perintah kepada murid-murid untuk saling mengasihi. Jadi, boleh dikatakan bahwa perintah ini adalah perintah yang sudah lama.
Ada yang bertanya kepada seorang ayah baru, "Sekarang Anda telah menjadi seorang ayah, apakah Anda sudah bisa mengasihi anak Anda?" Saudara itu menjawab, "Seminggu sebelum menjadi ayah, aku selalu berpikir bagaimana aku dapat mengasihi anak itu? Tetapi setelah anak itu lahir dan aku melihatnya, secara otomatis hatiku seolah-olah ingin berlari merangkulnya. Demikianlah aku mengasihinya."
Kasih ialah suatu perasaan yang timbul dari dalam batin, bukan diperoleh dari pelajaran di luar. Demikian juga, setiap orang yang telah dibeli dengan darah Tuhan, telah memperoleh hayat-Nya dan dibaptis masuk ke dalam Tubuh Kristus, tidak dapat tidak mengasihi orang-orang yang sama-sama menjadi anggota Tubuh Kristus. Kasih ini timbul karena perasaan hayat. Asal kita berada di dalam Tubuh, pasti mempunyai perasaan kasih. Inilah perintah lama itu, yaitu firman yang telah kamu dengar.

Perintah Baru
1 Yoh. 2:8-9; Yoh. 13:34

Satu Yohanes 2:8 mengatakan, "Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya." Perintah tentang kasih persaudaraan adalah perkara lama dan baru. Lama, karena kita telah memilikinya sejak dilahirkan kembali; baru, karena kehidupan kristiani kita diperbarui dari sehari ke sehari.
Perintah lama tentang kasih persaudaraan adalah baru di dalam kehidupan kristiani kita. Tetapi bagaimana satu perintah lama dapat menjadi baru? Yohanes menyatakan bahwa perintah Tuhan adalah firman-Nya yang hidup, ia bersinar seperti matahari yang menyingsing dan menelan kegelapan. Dalam Yohanes 13:34, Tuhan Yesus memerintahkan kepada kita untuk saling mengasihi. Perintah ini sudah lama, tetapi sering kali, perintah ini menjadi baru dan segar di dalam kehidupan kristiani kita. Kapan saja kita berkontak dengan Tuhan maka perintah lama-Nya menyingsing di dalam kegelapan kita, bersinar terang memberi kebaruan. Penyinaran ini membuat perintah lama menjadi baru dan segar dalam pengalaman kita.
Ada seorang Kristen, ayahnya dibunuh oleh seseorang. Dia berniat membalas dendam. Pada suatu hari minggu, dia pergi berhimpun dengan jemaat Tuhan untuk memperingati hari Tuhan melalui Perjamuan Kudus. Kebetulan sekali, ia duduk berdampingan dengan pembunuh ayahnya yang sudah bertobat . Dia segera bangkit dan meninggalkan perhimpunan dengan pergumulan batin yang hebat: balas dendam atau duduk bersamanya menikmati Perjamuan Kudus? Dia berdoa, dan pada saat itulah firman Tuhan menyinari hatinya yang gelap, kasih Allah memenuhi hatinya. Ia menangis dengan sangat hebat. Kemudian, sambil menyeka air matanya, ia masuk kembali dan duduk bersama pembunuh ayahnya itu. Dia tidak lagi memandangnya sebagai musuh, melainkan sebagai seorang saudara dalam Tuhan. Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Bila kita benar-benar memiliki kasih Allah, kita pasti dapat mengasihi orang yang tidak layak kita kasihi, karena kasih itu menutupi segala sesuatu dan sabar menanggung segala sesuatu (1 Kor. 13:7).

12 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Kamis

Kasih Yang Alamiah
Yohanes 21:16
"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau."

Petrus mengasihi Tuhan, tetapi dengan kekuatan alamiahnya. Hal ini membuat Tuhan menanggulanginya, mengatur situasi sehingga Petrus jatuh dan menyangkal Tuhan. Setelah peristiwa itu dan sebelum kenaikan-Nya, Tuhan Yesus menjumpai Petrus dan berkata, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi (agape – kasih ilahi) Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (phileo - kasih insani) Engkau" (Yoh. 21:15).
Tuhan menyebutnya "Simon", karena nama ini menggambarkan manusia alamiahnya. Tuhan meminta Petrus mengasihi Dia dengan kasih Allah (agape), namun Petrus mengasihi Tuhan dengan kasih insaninya (phileo). Petrus tak berdaya menjawab Tuhan dengan tegas. Ia tidak bisa mengatakan, "Tuhan, aku mengasihi-Mu dengan kasih ilahi." Ia juga tidak bisa mengatakan, "Tuhan, aku tidak mengasihi-Mu." Bila Anda menjadi Petrus, bagaimana Anda menjawab Tuhan? Dapatkah Anda mengatakan, "Aku mengasihi-Mu lebih daripada mereka ini?" Atau dapatkah Anda mengatakan, "Tuhan, maaf, aku tidak mengasihi-Mu, sebab kasihku begitu alamiah?"
Sampai tiga kali Tuhan harus bertanya kepada Petrus agar dia dapat menjawab bahwa dia mengasihi Tuhan dengan kasih ilahi, bukan kasih insani. Perlu berapa kali Tuhan harus bertanya kepada Anda sampai Anda dapat menjawab, "Tuhan, aku mengasihi (agapao) Engkau?"

Kasih Yang Ilahi
Yoh. 14:15, 21, 23; 15:9, 12

Bagaimana kasih kita terhadap Tuhan dan saudara saudari dapat disebut sebagai kasih yang ilahi (agape)? Inilah kasih Allah yang menjadi kasih kita melalui pengalaman dan kenikmatan kita atas Dia.
Ada perbedaan antara kasih insani (phileo) dengan kasih Allah (agape), yaitu bahwa kasih insani sangat mudah tersinggung.
Banyak kasus yang sering terjadi, yaitu orang-orang yang kita kasihi secara alamiah akhirnya menjadi musuh-musuh kita. Inilah akibat dari kasih alamiah. Itulah sebabnya orang yang bijaksana selalu lamban dan berhati-hati dalam hal mengasihi orang lain. Mereka menyadari bahwa jika kita mengasihi orang lain secara membabi buta, cepat atau lambat kasih itu akan menyebabkan masalah. Banyak perceraian dan perpisahan adalah akibat dari kasih alamiah yang bodoh, yang dengan mudah saling menyakiti dan memimpin kepada permusuhan. Contohnya, seorang laki-laki dan wanita dapat saling mengenal hanya dalam waktu singkat. Pada mulanya mereka saling mengasihi dan berencana segera menikah. Tetapi tidak lama setelah menikah, mereka menjadi musuh dan memutuskan segera bercerai. Kalau toh tidak bercerai, mereka akan menempuh hidup yang menderita. Inilah akibat dari kasih alamiah.
Kasih alamiah kita harus diletakkan di atas salib. Kita perlu mengasihi orang lain dengan kasih Allah (agape) yang telah kita alami dan nikmati. Jika kita mengalami kasih Allah, kita akan mengasihi Allah dengan kasih ini. Kita juga akan mengasihi saudara-saudara dengan kasih yang sama ini. Kasih semacam ini tidak menyebabkan masalah. Satu Korintus 13:4-8 mengatakan, "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan."

11 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Rabu

Di Dalam Tuhan
1 Yohanes 2:5b
"... dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia."

Frase "di dalam Dia" (2:5) pararel dengan "persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus" (1:3); "hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang" (1:7); dan "mengenal Allah" (2:3,4). Frase "di dalam Dia" mengacu pada diri kita yang hidup di dalam dan bersatu dengan Tuhan Yesus Kristus. Apakah tandanya bahwa kita tinggal di dalam Tuhan? Tanda pertama adalah kita mengenal Allah melalui pengalaman dalam hidup sehari-hari.
Kita memang mengenal bahwa Allah adalah Mahakuasa, sang Pencipta langit dan bumi. Namun, kita perlu juga mengenal Allah dalam pengalaman hidup kita sehari-hari. Orang lain mungkin heran mengapa kita tidak berbagian dalam berbagai macam kesenangan dunia. Alasannya karena kita mengenal sifat Allah yang kudus, yang tidak mengijinkan kita untuk berbagian dalam kesenangan itu; yang mempengaruhi cara kita berbelanja; yang membuat hubungan kita dengan orang lain tidak munafik, tetapi tulus hati.
Bila sesuatu yang pahit diletakkan di dalam mulut seorang bayi, pasti segera dimuntahkannya. Ia tidak perlu diajar bagaimana menolak sesuatu yang pahit, karena di dalam hayat bayi itu ada satu sifat yang menolak benda-benda bercitarasa pahit. Demikian juga, di dalam hayat ilahi ada satu citarasa khusus yang menyebabkan kita menolak hal-hal yang bertentangan dengannya. Dari kombinasi perasaan hayat yang menolak atau menyetujui tindak tanduk kita itulah, maka kita mengenal Dia dalam hidup sehari-hari.

Wajib Hidup Seperti Kristus Hidup
1 Kor. 1:30; 11:1;
1 Ptr. 2:21

Satu Yohanes 2:6, "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." Berada di dalam Kristus adalah permulaan hidup orang Kristen; Allah yang melakukan hal ini, sekali untuk selamanya (1 Kor. 1:30). Tinggal di dalam Dia adalah kelanjutan hidup orang Kristen.
Selain mengenal Dia dalam hidup sehari-hari, tanda bahwa kita tinggal di dalam Dia adalah menempuh hidup seperti Kristus.
Tuhan telah membentangkan kehidupan-Nya yang menderita di depan kita, sehingga kita dapat mengikuti jejak-Nya. Ini tentu bukan sekadar meniru Dia dan hidup-Nya, melainkan lebih ditujukan kepada perlunya kita menikmati Dia sebagai kasih karunia dalam penderitaan kita. Semakin kita menikmati Dia sebagai kasih karunia, maka Ia sebagai Roh yang berhuni di batin kita dengan segala kekayaan hayat-Nya akan semakin mengembangbiakan (mereproduksikan) diri-Nya sendiri di dalam kita. Kita menjadi reproduksi (salinan) asli, bukan sekadar tiruan.
Orang Yahudi mengenal Allah secara obyektif, Ini berarti mereka tidak mempunyai pengalaman batiniah terhadap Allah. Tetapi sebagai orang yang telah dilahirkan dari Allah dan yang memiliki hayat Allah, kita mengenal Dia bukan hanya secara obyektif, tetapi juga secara subjektif (pengalaman).
Tindak tanduk maupun cara kita berbicara, harus mengemban satu tanda, yaitu tanda bahwa kita adalah orang-orang yang tinggal di dalam Allah. Kita jangan berbicara seperti orang-orang yang tidak percaya. Jika suami atau istri, anak-anak, tetangga, teman-teman sekelas, atau teman sekantor kita tidak dapat melihat tanda tersebut, maka perlu dipertanyakan apakah kita benar-benar tinggal di dalam Tuhan atau tidak? Tanda ini adalah satu petunjuk bahwa kita mengenal Tuhan bukan hanya secara teori tetapi benar-benar mengalami-Nya. Dengan demikianlah, orang akan melihat bahwa kita menempuh hidup sama seperti Kristus. Seperti yang dikatakan Paulus dalam Galatia 6:17, "Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus."

10 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Selasa

Kasih Allah, Kasih Kita
1 Yohanes 2:5a
"Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah."

Di dalam seseorang yang memelihara/menuruti firman Tuhan, kasih Allah (agapao - Yunani) telah disempurnakan.
Frase "kasih Allah" di sini menjelaskan kasih kita terhadap Allah, yang dihasilkan oleh kasih-Nya di dalam kita. Pertama-tama kita menikmati kasih Allah (agape), kemudian kasih ini memproduksi di dalam kita satu kasih yang dengannya kita dapat mengasihi Allah dan saudara saudara seiman dengan kasih agape juga, bukan dengan kasih alamiah kita. Kasih datang dari Allah, ia melewati kita, dan ia kembali kepada Allah. Betapa ajaibnya pengalaman kasih ini! Kita sendiri sejak semula tidak memiliki kasih. Namun, Allah telah lebih dulu datang dengan kasih-Nya kepada kita.
Alkitab menunjukkan bahwa untuk mendapatkan hidup yang kekal, kita harus percaya kepada Tuhan, menerima-Nya sebagai Juruselamat. Alkitab tidak pernah menggunakan istilah percaya dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi. Tetapi tidaklah demikian dalam hal mengasihi Allah. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita haruslah mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi. Bahkan selanjutnya dikatakan, "ltulah hukum yang terutama dan yang pertama" (Mat. 22:38). Hal ini tidaklah mustahil, karena semakin kita menikmati kasih Allah, semakin kita dapat mengasihi Allah dan menuruti perintah-perintah-Nya, termasuk mengasihi saudara saudari seiman.

Kasih Allah Di Dalam Kita Perlu Disempurnakan
1 Yoh. 2:5; 4:9-10

Bila kita menuruti firman Tuhan, maka kasih ilahi (agape) disempurnakan di dalam kita. Mengenal Allah dalam ayat 3 dan 4 sebenarnya adalah mengalami kasih agape ini. Pengenalan semacam ini atau pengalaman terhadap kasih yang demikian, pasti terlihat dalam hidup kita, yaitu menuruti perintah-perintah-Nya.
Dalam 1 Yohanes 2:5, bahasa Yunani untuk kata "disempurnakan" adalah teleioo, berarti melengkapi, menyempurnakan, menyelesaikan. Di dalam diri-Nya sendiri, kasih Allah sudah sempurna dan lengkap. Namun, di dalam diri kita, wujud kasih ini perlu disempurnakan dan dilengkapkan. Kasih Allah (agape) sendiri telah diwujudkan kepada kita. Satu Yohanes 4:9-10 mengatakan, "Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, … sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita."
Kasih Allah yang kita nikmati ini menghasilkan satu kasih yang olehnya kita dapat mengasihi Allah dan orang lain. Semakin kita berada dalam persekutuan hayat, semakin kita hidup dalam terang, semakin kita mengalami kasih agapenya, dan semakin kita mengasihi Tuhan dan manusia. Demikianlah kasih ini menjadi sempurna di dalam diri kita.
Sewaktu kita dilahirkan kembali, kita mendapatkan hayat Allah, menjadi anak-anak-Nya. Fakta ini harus sering kita akui. Tetapi ini bukanlah yang harus selalu kita rasakan. Jika kita selalu merasakan bahwa kita sungguh-sungguh adalah anak-anak Allah, hal ini tentu kurang wajar. Sebab dalam keadaan normal, tidak ada seorang anak yang selalu merasakan bahwa hayat orang tuanya ada di dalam dirinya; kalau demikian, kemungkinan besar anak tersebut kurang beres. Tetapi, seorang anak akan selalu merasakan bahwa orang tuanya itu berharga dan patut disayangi, karena ia hidup dalam ruang lingkup kasih orang tuanya. Demikian juga, begitu kita menjadi anak Allah, dalam keadaan yang normal, seharusnya kita selalu merasakan bahwa Allah itu sangat berharga (mustika) dan patut dikasihi, karena kita terus menerus mengalami kasih agape. Hal inilah yang membuat kita dapat mengenal Dia dan menuruti perintah-perintah-Nya.

09 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Senin

Menuruti Perintah-Perintah-Nya
1 Yohanes 2:3-4
"Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran."

Dalam bahasa Yunani kata "mengenal" (tahu) di dalam ayat 3 adalah ginosko. Kata ini juga dapat diterjemahkan "merasa" atau mengenal melalui pengalaman, yaitu pengalaman memelihara perintah-perintah Tuhan. Kata "mengenal Dia" juga menyatakan bahwa kita telah mulai mengenal Dia dan masih harus terus mengenal Dia dalam hidup sehari-hari.
Orang-orang dari aliran Gnostis mengklaim bahwa mereka mengenal Allah. Kata gnostis sendiri berarti "orang yang tahu". Tetapi bagaimanakah seseorang bisa yakin bahwa ia benar-benar mengenal Allah? Satu Yohanes 2:3 ini dengan tegas mengatakan bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.
Kita bisa yakin bahwa kita berada dalam persekutuan hayat (persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya Yesus Kristus; hidup di dalam terang) bila hidup kita bercirikan kedambaan untuk menuruti perintah-perintah-Nya. Jika kita mengatakan bahwa kita telah mengenal Tuhan, tetapi tidak menuruti perintah-perintah-Nya, kebenaran (realitas) tidaklah di dalam kita, dan kita menjadi seorang pendusta. Perintah-perintah di sini terutama mengacu pada iman kepada Yesus dan saling mengasihi di antara saudara saudari seiman (1 Yoh. 3:23, Yoh. 6:28-29). Orang-orang dari golongan yang sesat itu menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus, mereka juga tidak mengasihi saudara saudari seiman.

Mengasihi Tuhan
Mat. 22:36-38; Yoh. 21:15-17

Yohanes 14:15, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." Kasih inilah yang menjadi dorongan bagi kita untuk menuruti perintah-perintah-Nya.
Alkitab menunjukkan bahwa mengasihi Tuhan adalah perkara besar. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Tuhan, "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama (Mat. 22:36-38).
Saudara saudari, kalau mengasihi Tuhan, adalah hukum yang paling besar, lalu bagaimanakah dengan orang yang tidak mengasihi Tuhan? Dosa apakah yang telah ia perbuat? Orang itu telah melakukan dosa yang paling besar! Sering kali, kita tidak merasa bahwa Tuhan yang di dalam kita begitu segar dan manis. Bagi kita, pekerjaan, kuliah, pelesiran atau keluarga lebih menarik daripada Tuhan. Bahkan hal-hal kecil seperti sebuah baju, motor, mobil, atau handphone lebih kita perhatikan daripada Tuhan. Semua itu membuktikan betapa dalamnya kejatuhan kita.
Allah mempunyai satu permintaan, yaitu supaya kita mengasihi Dia. Ketika Tuhan masih di bumi, dan ketika orang-orang datang kepada-Nya, la hanya melakukan satu hal, yaitu membawa orang untuk mengasihi-Nya. Setelah kebangkitan Tuhan, Petrus memimpin murid­murid lainnya kembali menjala ikan. Tuhan khusus datang kepada mereka. Tuhan tidak mencela Petrus, Dia hanya bertanya, "Simon, . . . apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini? (Yoh. 21:15). Perkataan Tuhan sangat bermakna. Frase "mereka ini" bisa ditujukan kepada ikan-ikan yang ada di depan Petrus, atau kepada lautan yang di depan Petrus, atau kepada perahu-perahu yang ada di depan Petrus. Tuhan seolah berkata, "Di depanmu ada seratus lima puluh tiga ekor ikan, ada jala, ada perahu, ada lautan; di depanmu ada banyak barang. Aku menaruh diriKu di hadapan semua barang ini, bandingkanlah, apakah engkau mengasihi Aku atau mengasihi mereka ini?"
Jika pertanyaan ini diajukan kepada kita. Apa jawaban kita?

07 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Sabtu

Kurban Pendamaian (1)
1 Yohanes 2:2
"Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia."

Yang dimaksud dengan “pendamaian” di sini adalah kurban pendamaian. Tuhan Yesus Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban untuk dosa-dosa kita (Ibr. 9:28), bukan hanya untuk menebus kita, lebih-lebih untuk memuaskan tuntutan Allah, mendamaikan hubungan antara kita dengan Allah. Karena itu, Dia adalah kurban untuk pendamaian kita di hadapan Allah.
Memang tidak umum jika seorang pengacara membayar semua denda kliennya, tetapi inilah yang dilakukan Kristus.
Ia juga adalah kurban pendamaian bukan hanya untuk dosa-dosa kita, melainkan juga untuk dosa seluruh dunia. Ini tidak berarti bahwa seluruh dunia akan menerima keselamatan. Tetapi, ini berarti nilai pekerjaan Tuhan Yesus lebih dari cukup untuk menyelamatkan seluruh dunia. Namun, pendamaian ini tergantung pada penerimaan manusia terhadap Tuhan, yaitu dengan percaya kepada-Nya. Orang yang tidak percaya tidak akan mengalami khasiatnya, bukan karena dalam kurban ini ada kesalahan atau kekurangannya, melainkan karena mereka tidak percaya.
Sebagai kurban pendamaian, Ia mati bagi kita, melepaskan kita dari kesalahan karena dosa-dosa kita dan memulihkan hubungan kita dengan Bapa. Sama seperti seorang ibu yang menengahi hubungan antara ayah dan anaknya sehabis bertengkar, sehingga damai antara bapa dan anak-anak dipulihkan melalui ibu yang menjadi pendamaian, pendamai.

Kurban Pendamaian (2)
I Yoh. 2:2; Rm. 3:25

Agar mengerti perkataan pendamaian dalam 1 Yohanes 2:2, kita perlu melihat apa yang dikatakan Paulus di dalam Roma 3:25, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.”
Kata pendamaian dalam bahasa Yunani di sini adalah hilasterion. Kata ini berbeda dengan hilasmos dalam 1 Yohanes 2:2 dan 4:10 dan hilaskomai dalam Ibrani 2:17.
Hilasmos adalah “apa yang mendamaikan”, yaitu korban pendamaian. Di dalam 1 Yohanes 2:2 dan 4:10, Tuhan Yesus adalah korban pendamaian bagi dosa-dosa kita. Hilaskomai berarti “menentramkan, mendamaikan seorang dengan memuaskan tuntutan orang lain,” yaitu, mendamaikan. Dalam Ibrani 2:17, Tuhan Yesus membuat pendamaian bagi dosa-dosa kita untuk mendamaikan kita kepada Allah dengan memuaskan tuntutan kebenaran Alah atas kita.
Tetapi hilasterion adalah “tempat pendamaian.” Oleh karena itu, dalam Ibrani 9:5 kata ini digunakan untuk pelindung, tutup, tabut (diterjemahkan “takhta belas kasih” dalam Versi King James) di dalam Ruang Maha Kudus. Roma 3:25 memakai kata yang sama, hilasterion, untuk mewahyukan bahwa Tuhan Yesus adalah tempat pendamaian, tutup pendamaian, yang Allah tentukan untuk menunjukkan kebenaran-Nya dengan mengabaikan dosa-dosa kaum saleh Perjanjian Lama, karena, sebagai korban pendamaian, Dia membuat pendamaian yang sempurna di atas salib bagi dosa-dosa mereka dan memuaskan sepenuhnya syarat-syarat kebenaran dan kemuliaan Allah.
Tuhan Yesus telah memberikan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai satu korban bagi dosa-dosa kita (Ibr.9:28), bukan hanya untuk penebusan kita tetapi juga bagi kepuasan Allah. Di dalam Dia sebagai Pengganti kita, melalui kematianNya yang dilakukan untuk orang berdosa, Allah dipuaskan dan ditentramkan. Sebab itu, Kristus adalah pendamaian antara Allah dan kita.

06 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Jumat

Pengacara Yang Adil (Benar)
1 Yohanes 2:1
"Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil."

Yohanes menunjukkan bahwa Allah sempurna maka standar-Nya juga sempurna. Ia berkata, “supaya kamu jangan berbuat dosa”. Tetapi Allah juga tahu kelemahan kita, karena kita adalah debu tanah. Itulah sebabnya Ia menyediakan ketetapan yang begitu murah hati, “Jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, ….”
Bahasa Yunani untuk kata “pengantara” adalah parakletos, mengacu kepada seseorang yang ada di samping kita pada saat kita memerlukan pertolongan dan ia siap menolong selalu. Istilah ini juga mengacu kepada seorang yang menawarkan bantuan hukum atau orang yang bersyafaat bagi orang lain. Istilah ini juga mengandung arti menghibur dan penghiburan.
Di sini, istilah ini dipakai dengan mengacu kepada Tuhan Yesus sebagai Pengacara kita terhadap Bapa. Ketika kita berdosa, berdasarkan pendamaian yang dirampungkan-Nya, Dia di samping kita menangani kasus kita dengan bersyafaat (Rm. 8:34) dan memohon bagi kita.
Dia, adalah Yesus Kristus yang adil (benar). Tuhan Yesus kita adalah satu-satunya manusia yang benar di antara semua manusia. Karena itu, hanya Dia yang memenuhi syarat menjadi Pengacara kita. Ia memperhatikan keadaan kita yang berdosa dan memulihkan kita kepada keadaan yang benar, agar mendamaikan kita dengan Bapa kita yang benar.

Urusan Keluarga – Bapa Dan Anak
1 Yoh. 1:9

Sebutan “Bapa” dalam ayat ini menunjukkan bahwa kasus yang Tuhan selesaikan bagi kita sebagai Pengacara kita, adalah kasus atau urusan rumah tangga, kasus antara anak dengan Bapa. Puji Tuhan, Ia sebagai Pengacara kita menangani perkara kita agar persekutuan kita dengan Bapa tidak terputus dan kita dapat tetap tinggal dalam kenikmatan persekutuan ilahi.
Sangatlah mengherankan, rasul Yohanes mengatakan kepada kita bahwa kita mempunyai seorang Pengacara dengan Bapa. Seorang pengacara adalah seorang yang terlibat dalam kasus-kasus hukum. Kita dengan mudah dapat melihat mengapa kita perlu seorang pengacara dengan hakim di dalam satu pengadilan hukum. Tetapi mengapa kita perlu seorang Pengacara dengan Bapa kita?
Kapan saja kita berdosa, kita menyakiti hati Bapa. Hakim kita adalah Bapa, pengadilan kita adalah rumah rohani kita, dan kasus kita adalah satu masalah keluarga (keluarga ilahi). Tetapi kita juga mempunyai seorang anggota dalam keluarga kita, yaitu Kakak sulung kita, Tuhan Yesus, yang adalah Pengacara. Sebagai Pengacara, Kakak sulung menangani kasus kita.
Meskipun Bapa mengasihi kita, dosa-dosa yang kita lakukan tetap adalah satu pelanggaran melawan Dia. Ya, Allah adalah Bapa kita. Tetapi jika kita berdosa, Dia akan mempunyai satu kasus melawan kita. Oleh karena itu, di dalam keluarga rohani kita, kadang-kadang perlu seorang Pengacara.
Di satu pihak, gelar Bapa adalah satu tanda kasih; di pihak lain, gelar Pengacara adalah satu tanda kebenaran. Contohnya, seorang bapa mengasihi anaknya. Tetapi jika anak itu berbuat jahat, bapa itu akan mempunyai satu kasus melawan dia, satu kasus berdasarkan kebenaran. Meskipun anak itu masih dikasihi oleh bapanya dan akan terus dipelihara olehnya, bapa itu tetap mempunyai satu kasus melawan anak itu dan perlu mendisiplin dia. Dalam cara yang sama, bilamana kita berdosa, Bapa mempunyai satu kasus melawan kita. Oleh karena itu, kita perlu seorang Pengacara sorgawi. Kita perlu Yesus Kristus, Kakak sulung kita, menjadi Pengacara kita. Haleluya, Yesus adalah pengacara kita yang sejati!

05 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Kamis

Abu Lembu Betina Merah (1)
Bilangan 19:2
"Inilah ketetapan hukum yang diperintahkan TUHAN dengan berfirman: Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka membawa kepadamu seekor lembu betina merah yang tidak bercela, yang tidak ada cacatnya dan yang belum pernah kena kuk."

Kita juga dapat nampak betapa kematian Tuhan telah menanggung segala dosa kita melalui lambang abu lembu betina merah (Bil. 19).
Lembu betina merah ini disembelih dan darahnya diambil sedikit dengan jari, kemudian dipercikkannya ke arah sebelah depan Kemah Pertemuan sampai tujuh kali (Bil. 19:4). Dengan kata lain, darahnya tetap diperuntukkan bagi Allah, sebab fungsi darah selalu diperuntukkan bagi Allah. Memercikkan darah lembu ke arah depan Kemah Pertemuan sampai tujuh kali berarti dipersembahkan kepada Allah dan untuk menebus dosa.
Setelah seekor lembu betina merah itu disembelih, lalu harus dibakar habis; kulitnya, dagingnya dan darahnya harus dibakar habis bersama-sama dengan kotorannya. Pendeknya, segala sesuatunya harus dibakar sampai habis. Ketika membakarnya, imam harus mengambil kayu aras, hisop dan kain kirmizi (yang melambangkan seluruh dunia dan seluruh dosa), dan melemparkannya ke tengah-tengah api yang membakar habis lembu itu.
Di sini kita nampak sebuah lukisan salib. Tuhan Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah, dan semua dosa kita tercakup di dalamnya. Dosa kecil maupun dosa besar, semua ada di dalamnya; dosa yang dahulu, yang sekarang, dan yang akan datang, juga ada di dalamnya; dosa yang rasanya bisa diampuni atau yang rasanya tidak bisa diampuni, juga ada di dalamnya. Pokoknya, semua dosa ada di dalamnya, lalu bersama dibakar habis.

Abu Lembu Betina Merah (2)
1 Yoh. 1:9, 2:1; 1 Tim. 1:5; Kis. 24:16

Bilangan 19:9, “Maka seorang yang tahir haruslah mengumpulkan abu lembu itu dan menaruhnya pada suatu tempat yang tahir di luar tempat perkemahan, supaya semuanya itu tinggal tersimpan bagi umat Israel untuk membuat air pentahiran; itulah penghapus dosa.” Apakah artinya? Keistimewaan lembu betina merah terletak di sini. Setelah lembu betina merah dibakar, kayu aras dan hisop dibakar, kirmizi pun dibakar, lalu abunya harus disimpan. Kelak, jika ada orang Israel menyentuh benda yang tidak tahir sehingga menjadi najis di hadapan Allah, maka harus ada seorang yang tahir membuat air pentahiran, yakni yang dibuat dari air dicampur dengan abu tadi, lalu dipercikkan ke atas tubuh orang tersebut, agar ia menjadi tahir. Dengan kata lain, fungsi abu adalah sebagai penghapus najis, yaitu sebagai “persiapan” demi keperluan bila terjadi kenajisan di kemudian hari.
Ini memperlihatkan aspek lain dari pekerjaan penebusan Tuhan Yesus, yang mencakup seluruh khasiat penebusan dosa. Semua dosa umat manusia di seluruh dunia tercakup di dalamnya, darah pun tercakup di dalamnya. Pada masa yang akan datang, kapan saja, bila Anda terkena najis atau menyentuh barang yang tidak tahir, Anda tidak perlu menyembelih seekor lembu betina merah lagi untuk dipersembahkan kepada Allah. Asalkan Anda dipercik dengan air abu lembu betina merah yang telah dipersembahkan, itu sudahlah cukup. Dengan kata lain, Tuhan tidak perlu melakukan pekerjaan penebusan dua kali. Dalam pekerjaan penebusan-Nya, Ia telah menyediakan persediaan untuk menanggulangi segala kenajisan dan dosa kita yang akan datang. Dalam penebusan-Nya, semua telah tersedia dengan lengkap.
Lembu betina merah dibakar habis hingga menjadi abu. Kita tidak dapat membinasakan atau membasmi abu, sebab abu merupakan tahap terakhir dari suatu benda. Karenanya, hal itu melambangkan khasiat yang kekal dan tidak berubah yang terkandung dalam penebusan Tuhan. Karya penebusan Tuhan paling dapat diandalkan. Bila orang Kristen karena malang menyentuh barang yang tidak tahir dan terkena najis, ia tidak perlu mohon Tuhan untuk mati lagi baginya, ia cukup bersandar saja pada khasiat (abu) yang takkan rusak selama-lamanya itu.

04 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Rabu

Mengampuni Dan Menyucikan
1 Yohanes 1:9
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (ketidakbenaran)."

Ketidakbenaran dan dosa-dosa adalah sinonim. Semua ketidakbenaran adalah dosa (5:17). Dosa-dosa menunjukkan kesalahan perilaku kita terhadap Allah dan manusia; ketidakbenaran menunjukkan noda kesalahan perilaku kita, yang menyebabkan kita tidak benar terhadap Allah atau manusia. Kesalahan memerlukan pengampunan Allah, dan noda memerlukan penyucian-Nya.
Allah sangat mengharapkan secepat mungkin mengampuni dosa manusia. Dalam cerita anak yang hilang, apakah anak yang hilang itu berlari kepada bapanya? Tidak. Bapa itulah yang berlari. Dari tindakan ini, kita nampak, bahwa hati bapa yang mau mengampuni anaknya melebihi hati anak yang ingin mendapat pengampunan. Ciuman bapa kepada anaknya, pelukan bapa terhadap anaknya, semuanya memberitahu kita, bahwa orang dosa yang berpaling kepada Allah sangat diperkenan Allah. KasihNya terhadap orang yang dibeli-Nya, jauh melebihi kasih kita terhadap diri kita sendiri. Sebelum kita selesai mengakui dosa-dosa kita, Ia sudah mengampuni kita.
Menurut 1 Yohanes 1:7, darah Yesus membersihkan kita dari segala dosa. Sesungguhnya ada dua macam pembersihan dengan darah Tuhan. Pertama, di hadapan Allah darah penebusan telah membersihkan kita sekali untuk selamanya (Ibr.9:12,14), dan pembersihan ini kekal selamanya. Kedua adalah pembersihan darah Tuhan secara instan (seketika) dan konstan di dalam hati nurani kita.

Aku Orang Berdosa
1 Yoh. 1:8, 10; Ef. 1:13; Yoh. 17:17

Satu Yohanes 1:8 mengatakan, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Ayat ini membuktikan bahwa setelah dilahirkan kembali, di dalam diri kita masih ada kemungkinan berbuat dosa.
Satu Yohanes 1:10 mengatakan, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” Ayat ini membuktikan lebih lanjut bahwa kita masih bisa berbuat dosa di luaran, meskipun bukan kebiasaan berdosa. Kita masih bisa berbuat dosa dalam perilaku luaran, karena kita masih memiliki dosa dalam sifat kita. Kedua hal itu menegaskan keadaan kita yang berdosa setelah kelahiran kembali. Ketika membicarakan keadaan semacam itu, rasul memakai kata ganti orang “kita’, berarti dia tidak menganggap dirinya sebagai pengecualian.
Kata “firman-Nya” dalam ayat 10 sinonim dengan kata “kebenaran” dalam ayat 8, yaitu perkataan wahyu Allah atau firman kebenaran (Ef. 1:13; Yoh. 17:17). Firman kebenaran ini menyampaikan isi rencana (ekonomi) Perjanjian Baru Allah. Dalam perkataan ini, Allah menyingkapkan keadaan kita sebenarnya yang berdosa, baik sebelum maupun sesudah dilahirkan kembali. Meskipun kita telah memiliki hayat ilahi, kita masih tetap berkemungkinan berbuat dosa, jika kita tidak hidup berdasarkan hayat ilahi dan tinggal dalam persekutuan-Nya.
Jika kita mengatakan bahwa setelah dilahirkan kembali kita tidak bisa berdosa lagi, kita membuat Allah menjadi pendusta, dan menyangkal perkataan wahyu-Nya. Ini juga adalah penentangan yang luar biasa terhadap firman-Nya, dan adalah penyangkalan besar-besaran terhadap karya Tuhan, bagaimana Ia telah berinkarnasi, menderita, berdarah, dan mati untuk membereskan dosa dan dosa-dosa kita.
Meskipun kita masih bisa berbuat dosa lagi, kita tidak seharusnya putus asa. Karya penyelamatan Tuhan Yesus sudah rampung, karya-Nya telah membereskan masalah perbuatan dosa kita baik yang kita lakukan sebelum dilahirkan kembali maupun setelah dilahirkan kembali. Puji Tuhan.

03 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Selasa

Mengaku Dosa
1 Yohanes 1:9a
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil,…."

Mengaku dosa yang dimaksud di ayat 9, bukanlah mengakui dosa-dosa yang kita lakukan sebelum dilahirkan kembali, tetapi adalah mengakui dosa-dosa, kegagalan kita setelah dilahirkan kembali.
Bila kita berbuat dosa, kita pasti mengetahuinya. Walaupun kita berusaha menentramkan perasaan kita dan mengatakan, “Toh, banyak orang yang lebih parah” atau “Itu kan cuma hal kecil”, kita tetap tidak bisa membuang perasaan dosa itu. Tetapi jika kita mengakui bahwa kita mempunyai dosa ini, maka Allah akan mengampuni dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita.
Persekutuan kita dengan Tuhan bukannya mengharuskan kita untuk hidup tanpa dosa, tetapi kita perlu membawa dosa kita ke hadapan-Nya, mengakui, dan menolaknya. Ini berarti kita perlu jujur terhadap keadaan kita, tidak perlu berpura-pura atau menyembunyikan diri kita yang sebenarnya.
Mengaku dosa berarti memihak kepada Allah, menghakimi dosa sebagai dosa. Dalam hal ini ada tiga aspek: Allah, kita, dan dosa. Allah dan dosa ada di dua ujung yang berseberangan, kita ada di tengah-tengah. Apa artinya berbuat dosa? Berbuat dosa berarti kita memihak kepada dosa dan meninggalkan Allah. Begitu kita berbuat dosa, kita segera meninggalkan Allah. Kapan kita memihak kepada dosa, kita tidak mungkin memihak kepada Allah. Apa artinya mengaku dosa? Mengaku dosa berarti kembali ke pihak Allah dan mengaku bahwa apa yang telah kita lakukan adalah dosa.

Allah Adalah Setia Dan Adil
1 Yoh. 1:7-10; Ef. 1:13; Kis. 10:43; Mat. 26:28

Allah setia dalam firman-Nya (ay. 10) dan adil dalam darah Yesus, Anak-Nya (ay. 7). Firman-Nya adalah firman kebenaran Injil-Nya (Ef. 1:13), memberitahu kita bahwa Ia akan mengampuni dosa-dosa kita karena Kristus (Kis. 10:43); dan darah Kristus telah memuaskan tuntutan keadilan Allah, agar Dia dapat mengampuni dosa-dosa kita (Mat. 26:28).
Jika kita mengaku dosa kita, Dia akan mengampuni kita berdasarkan firman-Nya dan penebusan darah Yesus, karena Dia harus setia kepada firman-Nya dan adil terhadap darah Yesus; kalau tidak, Dia akan menjadi tidak setia dan tidak adil.
Allah telah menghakimi Tuhan Yesus di atas salib sebagai pengganti kita, meletakkan segala dosa-dosa kita diatas-Nya. Karena Kristus telah menerima penghakiman sebagai ganti kita, maka darah-Nya berkhasiat untuk membersihkan kita. Oleh karena itu, bila kita mengakui dosa-dosa kita, Allah tidak mempunyai pilihan, Ia harus mengampuni kita. Dia harus setia terhadap firman-Nya (ay. 10) dan adil terhadap darah Yesus Putra-Nya (ay. 7).
Saudara saudari, sebagai orang berdosa, kita semua harus mengenal ayat di 1 Yohanes 1:9 ini. Ayat ini memberi kita janji yang besar berkaitan dengan penyelesaian masalah dosa kita. Dalam kelemahan kita, maka kita berkali-kali jatuh dalam dosa. Dosa ini mendatangkan penghukuman atas diri kita. Penyelesaiannya hanya dengan mengaku dosa.
Allah sang Adil, bukanlah sembarangan mengampuni dosa kita. Tetapi Dia terikat dengan janji firman-Nya. Seperti yang bisa kita lihat dalam Perjanjian Lama, yaitu saat Dia membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Saat tulah kesepuluh menimpa Mesir, rumah orang-orang Israel selamat. Hal ini dikarenakan setiap rumah mereka memiliki tanda darah domba sehingga Allah melewati-Nya, dan di dalam rumah itu tidak ada kematian anak sulung. Dia melewati rumah itu bukan berdasarkan kondisi penghuni rumah, tetapi berdasarkan janji-Nya, “Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir“ (Kel. 12:13). Haleluya untuk kesetiaan dan keadilan-Nya.

02 May 2005

1 Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Senin

Mempertahankan Persekutuan Hayat
1 Yohanes 1:9a
"Jika kita mengaku dosa kita, …."

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, di dalam Surat 1 Yohanes ada dua kata kunci, yaitu hayat kekal dan persekutuan hayat. Baik hayat kekal maupun persekutuan hayat, keduanya ada di pihak Allah. Akan tetapi, keadaan-keadaan, syarat-syarat, kewajiban-kewajiban, yang olehnya kita dapat menikmati persekutuan hayat ada di pihak kita.
Mudah untuk menerima hayat kekal dan dibawa masuk ke dalam persekutuan hayat. Tetapi bukanlah satu hal yang mudah untuk memelihara persekutuan ini dan tetap tinggal di dalamnya. Karena itulah, pada bagian ini, Rasul Yohanes sangat menitikberatkan syarat-syarat yang harus dipenuhi jika kita ingin tetap tinggal di dalam persekutuan hayat.
Ada dua syarat utama yang diungkapkan di dalam Surat 1 Yohanes 1:5—2:11, yaitu mengaku dosa-dosa (1:5-2:2) dan mengasihi Allah serta saudara-saudara (2:3-11).
Terang yang kita dapatkan melalui persekutuan, pasti menyingkapkan kepada kita berbagai dosa dan kesalahan yang kita buat, baik di hadapan Tuhan maupun manusia. Selain itu, terang juga menyingkapkan apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Allah dan saudara-saudara seiman.
Saudara saudari, marilah kita bertindak-tanduk berdasarkan terang. Apa saja yang diterangi, harus segera kita bereskan dengan tuntas, agar persekutuan kita dengan Tuhan dapat terus terpelihara.

Sikap Terhadap Dosa
Ef. 2:19; 5:8; 1 Yoh. 3:1

Kaum beriman adalah anak-anak terang (Ef. 5:8) dan anak-anak Allah (1 Yoh. 3:1); sekarang kita bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah (Ef. 2:19). Itulah sebabnya kita wajib memiliki corak hidup keluarga Allah.
Sebagai anak Allah, kita harus memiliki sikap yang tepat terhadap dosa. Bagaimana sikap Allah Bapa terhadap dosa, demikian juga seharusnya sikap kita. Bagaimana penilaian Bapa terhadap dosa, demikian juga seharusnya penilaian kita. Bagaimana Bapa menghakimi dosa sebagai dosa, demikian juga kita. Bila seorang anak Allah berbuat dosa, ia harus menghakimi dosa sebagai dosa, sama dengan sikap Bapa.
Bila orang beriman berbuat dosa, harus mengakuinya, jangan dosa itu diberi satu sebutan yang indah untuk memaafkan diri sendiri. Misalkan, kita berdusta. Dusta itu dosa, kita harus mengaku bahwa Anda sudah berbuat dosa, jangan kita berkata, “Aku hanya kelebihan bicara (atau kekurangan) sedikit,” kita harus berkata, “Aku sudah berbuat dosa.” Kita tidak boleh menjelaskan atau menutupinya dengan perkataan lain. Kita harus mengakuinya di hadapan Allah, bahwa kita sudah melakukan dosa berdusta; kita harus menghakimi dusta sebagai dosa.
Saudara saudari, sering kali hati nurani kita tidak bisa tidur, ia selalu mengusik kita dengan masalah tersebut. Terhadap setiap dosa yang belum kita bereskan, terasa ada satu ganjalan di sana. Meskipun hati nurani bisa kita tekan sehingga tidak bersuara, tapi ia tidak akan selamanya tidak bersuara. Hanya orang yang mengaku dosa yang akan dibelaskasihani, hanya orang yang mengaku dosa yang akan mendapatkan perhentian. Dosa yang kita perbuat tidak akan berdiam diri atau duduk tenang, ia tidak akan menjauhi kita, sebaliknya akan mengejar kita. Hanya pemberesan dosa, pengakuan dosa yang dapat menyelesaikan masalah ini.

30 April 2005

1&2&3 Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Sabtu

Dosa Yang Ada Di Dalam Kita
1 Yohanes 1:8
"Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita."

Berkata bahwa "kita tidak berdosa" di sini, yang dimaksud adalah tidak memiliki dosa yang berhuni (Rm. 7:17) di dalam sifat kita. Inilah yang diajarkan oleh bidah Gnostik. Rasul menyuntik kaum beriman untuk menghadapi ajaran yang salah itu.
Bagian ini, 1:7 – 2:2, membahas perbuatan dosa kaum beriman setelah mereka dilahirkan kembali, yang mengganggu persekutuan mereka dengan Allah. Jika setelah dilahirkan kembali, kaum beriman tidak memiliki dosa dalam sifat mereka, bagaimana mereka dapat berdosa dalam perilaku mereka? Bahkan walaupun mereka hanya berdosa sekali sekali, tidak menjadi kebiasaan, perbuatan dosa mereka itu sudah cukup membuktikan bahwa mereka masih memiliki dosa yang bekerja di dalam diri mereka. Kalau tidak, tidak akan ada gangguan di dalam persekutuan mereka dengan Allah.
Ajaran rasul di sini menyalahkan ajaran "kesempurnaan" hari ini, yang mengatakan bahwa keadaan bebas dari dosa bisa dicapai atau sudah tercapai dalam hidup di dunia; ajaran rasul ini juga menyingkirkan ajaran "mencabut akar dosa" yang salah, yang menyalahtafsirkan perkataan dalam 3:9 dan 5:18, mengatakan bahwa orang yang sudah dilahirkan kembali tidak dapat berdosa karena sifat dosa mereka sudah dicabut bahkan sampai ke akarnya.
Saudara saudari, itulah sebabnya khasiat darah Tuhan harus bersifat kekal. Puji syukur untuk darah yang demikian, yang selalu mampu membersihkan hati nurani kita dari segala dosa.

Dosa dan Dosa-Dosa
Rm. 5-8

Dalam alam semesta ini, kenikmatan tertinggi yang dapat dinikmati oleh manusia adalah persekutuan dengan Tuhan. Kita, manusia ciptaan-Nya, dapat bersekutu dengan Pencipta dan Juruselamat kita yang agung dan mulia, sungguh suatu hal yang luar biasa.
Namun, penghalang dari persekutuan dengan Tuhan adalah dosa dan dosa-dosa. Dosa dan dosa-dosa adalah satu problema yang serius yang merusak hubungan dan kenikmatan persekutuan ilahi kita, karena dosa dan dosa-dosa tersebut menyebabkan persekutuan kita dengan Allah Tritunggal gagal dan putus. Oleh karena itu, Rasul Yohanes memberi beberapa ayat untuk membereskan perihal dosa ini.
Dalam kitab Roma, dosa dipersonifikasikan. Kegiatan dosa adalah kegiatan seorang persona. Dosa berhuni di dalam daging kita (Rm. 7:20), memerintah (Rm. 5:21) dan berkuasa atas kita (Rm. 6:14), serta mengerjakan maut di dalam kita (Rm. 7:13), berarti dosa adalah sesuatu yang sungguh hidup (Rm. 7:9). Dosa bukanlah unsur yang tidak bernyawa. Sebaliknya, dosa adalah benda hidup yang berhuni di dalam kita dan melakukan hal-hal melawan kehendak kita. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa bukan dia yang melakukan hal-hal itu, tetapi dosa yang berhuni di dalam dia (Rm. 7:20).
Perjanjian Baru membicarakan masalah dosa dengan memakai kata dosa (tunggal) dan dosa-dosa (jamak). "Dosa" mengacu pada dosa yang berhuni, yang datang melalui Adam ke dalam umat manusia dari Setan (Rm. 5:12— 8:13, kecuali 7:5). Sedangkan "dosa-dosa" mengacu pada perbuatan-perbuatan penuh dosa, buah-buah dari dosa yang berhuni—misalnya berdusta dan mencuri, yang disebutkan di dalam bagian pertama kitab Roma, 1:18—5:11. Akan tetapi, dosa tunggal di dalam 1 Yohanes 1:7 dengan kata sifat "segala" tidak menunjukkan dosa yang berhuni, tetapi menunjukkan setiap dosa tunggal yang kita lakukan (Rm. 1:10) setelah kita dilahirkan kembali. Dosa-dosa semacam ini mencemarkan hati nurani kita yang telah dibersihkan dan perlu dibasuh dengan darah Tuhan di dalam persekutuan kita dengan Allah.

29 April 2005

1&2&3 Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Jumat


Darah Yesus, Anak-Nya

1 Yohanes 1:7
"Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa."

Dua konsekuensi bagi mereka yang hidup dan berjalan di dalam terang adalah mereka memiliki persekutuan dengan saudara saudari di dalam Tuhan, dan darah Yesus Kristus secara terus menerus membersihkan mereka dari semua dosa. Semua pengampunan Allah berdasar pada darah Putra-Nya yang tertumpah di Kalvari. Darah ini mempersiapkan dasar yang tepat bagi Allah untuk mengampuni dosa, dan seperti yang kita nyanyikan "darah ini tidak penah kehilangan kuasanya".
Ayat ini menyebutkan, "darah Yesus, Anak-Nya itu". Nama Yesus menyatakan keinsanian Tuhan yang diperlukan untuk pencurahan darah penebusan, dan sebutan Anak-Nya menyatakan keilahian Tuhan yang diperlukan untuk khasiat kekal darah penebusan. Jadi, darah Yesus, Anak-Nya itu, menunjukkan bahwa darah ini adalah darah yang tepat dari manusia sejati yang dicurahkan untuk menebus makhluk ciptaan Allah yang telah jatuh dengan jaminan ilahi sebagai khasiat kekalnya, khasiat yang mengungguli segalanya dalam ruang dan bersifat kekal dalam waktu.
Sebutan Yesus, Anak-Nya itu, dipakai oleh Yohanes sebagai suntikan pencegahan terhadap bidah. Salah satu bidah menekankan keilahian Tuhan dengan menyangkal keinsanian-Nya. Sebutan Yesus sebagai nama seorang manusia, merupakan suntikan pencegahan terhadap bidah ini. Sedangkan sebutan Anak-Nya itu adalah suntikan penangkal terhadap bidah yang menyangkal keilahian Tuhan.

Persekutuan Seorang Dengan Yang Lain
1 Yoh. 1:6, 7

Satu Yohanes 1:6-7a mengatakan, "Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain."
Kita mungkin berharap bahwa Yohanes di ayat 7 akan mengatakan jika kita hidup di dalam terang maka kita akan beroleh persekutuan dengan Allah sama seperti di ayat 6. Tetapi Yohanes justru mengatakan jika kita hidup di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain.
Bila kita berjalan dan hidup di dalam terang Allah, kita akan memiliki persekutuan ilahi, yaitu kenikmatan bersama atas Allah Tritunggal dan berbagian di dalam maksud ilahiNya. Selain, itu kita juga akan menikmati persekutuan dengan saudara saudari seiman.
Persengketaan dengan penatua, atau meninggalkan persekutuan dengan saudara saudari akan membuat kita berada dalam bahaya rohani yang cukup serius. Misalnya, ada seorang saudari yang tersinggung dengan perkataan seorang penatua. Dia mungkin berkata, "Gereja tidak ada realitas kasih! Semua kebenaran hanya teori!" Ia mulai mengkritik sana-sini. Kondisi ini membuat ia berada dalam kegelapan. Tetapi, seandainya setelah sejangka waktu saudari itu bertobat, dengan segera terang mulai bersinar kembali. Demikianlah ia mengalami pembersihan dari darah adi Tuhan, dan hal-hal ilahi menjadi riil kembali. Gereja, kaum saleh, dan kebenaran akan menjadi riil baginya. Dapat tidaknya kita melihat realitas, tidak berkaitan dengan benar atau salah, tetapi berkaitan dengan terang atau gelap. Kita tidak perlu memikirkan yang dikatakan oleh penatua itu benar atau salah, tetapi apakah kita berada di dalam terang atau di dalam gelap. Ketika kita bertobat, terang ilahi bersinar dan kita mengakui dosa-dosa kita dengan bersandar pada darah Yesus, maka secara otomatis persekutuan ini telah dipulihkan kembali. Kini kita pun ada di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang.

28 April 2005

1&2&3 Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Kamis

Pembersihan Oleh Darah
1 Yohanes 1:7
"Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa."

Ketika kita hidup di dalam terang, maka segala hal yang tidak Allah perkenan di dalam kita akan tersingkap. Pada saat itu, kita merasakan keperluan yang mendesak akan pembasuhan darah penebusan Tuhan Yesus, dan darah itu membersihkan hati nurani kita dari segala dosa agar persekutuan kita dengan Allah dan dengan saudara saudari seiman dapat terpelihara.
Semakin dekat persekutuan seseorang dengan Tuhan dan dengan orang-orang yang berjalan bersama Tuhan semakin ia waspada terhadap dosa dalam kehidupannya. Orang-orang dari golongan yang sesat mengatakan bahwa mereka hidup dalam persekutuan dengan Allah; padahal kesombongan, ketidakjujuran, dan kekurangan kasih ada di antara mereka.
Hubungan kita dengan Allah memang tidak dapat dirusak oleh apa pun, karena berasal dari hayat. Tetapi persekutuan kita dengan Allah mungkin saja terganggu karena persekutuan ini berdasar pada kehidupan kita. Yang pertama memang tidak bersyarat tetapi yang kedua bersyarat. Persekutuan kita yang bersyarat, perlu dipelihara dengan pembersihan terus menerus oleh darah Tuhan. Di hadapan Allah, darah penebusan Tuhan telah membersihkan kita sekali untuk selamanya (Ibr. 9:12, 14), dan khasiatnya juga berlangsung selamanya, tidak perlu diulang. Namun, dalam hati nurani kita, kita memerlukan penerapan yang seketika dari pembersihan konstan darah Tuhan sekali demi sekali begitu hati nurani kita diterangi oleh terang ilahi dalam persekutuan kita dengan Allah.

Siklus Kehidupan Rohani

1 Yoh. 1:1-7

Dalam bagian firman (1 Yoh. 1-7) ini ada siklus kehidupan rohani kita, siklus yang terbentuk dari empat perkara penting – hayat kekal, persekutuan hayat kekal, terang ilahi, dan darah Yesus, Anak Allah.
Hayat kekal menghasilkan persekutuan hayat kekal, persekutuan hayat kekal mendatangkan terang ilahi, dan terang ilahi menambahkan keperluan akan darah Yesus, Anak Allah supaya kita bisa mendapatkan lebih banyak hayat kekal.
Semakin banyak hayat kekal yang kita dapatkan, semakin banyak pula persekutuan yang dibawakannya kepada kita. Semakin banyak persekutuan hayat ilahi yang kita nikmati, semakin banyak pula terang ilahi yang kita terima. Semakin banyak terang ilahi yang kita terima, semakin banyak pula pembersihan yang kita alami dari darah Yesus. Kita harus mengalami hal ini berulang-ulang seumur hidup kita. Siklus semacam ini membawa kita maju dalam pertumbuhan hayat ilahi sampai kita mencapai kematangan hayat.

27 April 2005

1&2&3 Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Rabu

Hidup Di Dalam Terang
1 Yohanes 1:6, 7a
"Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang."

Hidup di dalam terang bukan semata-mata meniru Tuhan Yesus, tetapi harus memiliki kesamaan unsur dasar dengan-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Hal ini berarti kita harus hidup di bawah penerangan-Nya dan hidup berdasarkan sifat ilahi-Nya. Hidup di dalam terang berarti hidup sampai taraf, "sama seperti Dia ada di dalam terang" (1 Yoh. 1:7). Jika kita hidup sedemikian, maka terang itu menyingkapkan segala dosa, pelanggaran, kegagalan, dan kekurangan kita, yang bertentangan dengan terang-Nya yang murni, kasih-Nya yang sempurna, dan kekudusan-Nya yang mutlak, juga kebenaran-Nya yang unggul. Saudara Lawrence pernah mengatakan,"Biasakan hidup di hadirat Allah yang adalah terang."
Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita hidup di dalam terang atau di dalam kegelapan. Jika di dalam kegelapan, berarti kita sama sekali tidak memiliki persamaan dengan Allah, karena di dalam Allah sama sekali tidak ada kegelapan. Hal ini membuat kita tidak mungkin beroleh persekutuan dengan Allah.
Seperti yang telah kita katakan bahwa terang adalah hakiki ekspresi Allah. Karena itu jika kita hidup di dalam terang, maka tindak tanduk kita juga akan menjadi ekspresi Allah. Kita seharusnya memiliki tindak tanduk seperti yang dikatakan Tuhan dalam Matius 5:16 "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Melakukan Kebenaran
1Yoh. 1:6, Yoh. 8:44

Dusta adalah dari Setan, bapa pendusta (Yoh. 8:44). Sifatnya memang adalah dusta, dan ia membawa kita ke dalam kematian dan kegelapan. Kegelapan setani adalah lawan terang ilahi, dan dusta setani adalah lawan kebenaran ilahi. Sebagaimana kebenaran ilahi adalah ekspresi terang ilahi, maka dusta setani adalah ekspresi kegelapan.
Jika kita mengatakan bahwa kita mempunyai persekutuan dengan Allah, tetapi kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta, dan menjadi ekspresi kegelapan. Jika kita ingin memelihara persekutuan ilahi, kita harus hidup di dalam terang ilahi, juga melakukan kebenaran ilahi.
Dalam bahasa Yunani, kata "melakukan" dalam frase "melakukan kebenaran" (1 Yoh. 1:6) adalah poieo, yang artinya terbiasa dan terus menerus melakukan sesuatu karena tinggal di dalam hal itu; karena itu kata ini juga memiliki arti mempraktekkan.
Jadi, melakukan kebenaran adalah memperhidupkan kebenaran sebagai kebiasaan kita, bukan hanya melakukannya kadang-kadang atau secara kebetulan. Melakukan kebenaran berarti melakukannya secara konstan (tetap), berkesinambungan, tidak henti-hentinya seperti bernapas. Kita tidak perlu berpikir atau berusaha untuk bernafas, karena bernafas sudah menjadi bagian dari hidup kita. Jadi, bila kita tinggal dan berjalan di dalam Allah sebagai terang, kita juga akan dengan spontan melakukan kebenaran sebagai kebiasaan.
Kata "kebenaran" ini istilah Yunaninya berarti realitas (lawan kata kesia-siaan), kebenaran yang terbukti, kesungguhan, kesejatian, ketulusan. Kebenaran juga mengacu kepada realitas Allah yang telah diwahyukan, fakta-fakta riil yang tersalur dalam Injil, realitas Kristus dan segala perkara ilahi (yang adalah Roh itu – Yoh. 14:17; 15:26; 16:13; 1 Yoh. 5:6), dan realitas keadaan manusia (Yoh. 16:8-11).
Ketika kita berpartisipasi dan menikmati realitas ilahi ini, realitas ini menjadi kesejatian, kesungguhan, ketulusan, keandalan kita, menjadi kebajikan yang unggul dalam perilaku kita untuk mengekspresikan Allah sang Realitas yang menjadi hayat kita.

26 April 2005

1&2&3 Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Selasa

Persekutuan Dengan Dia
1 Yohanes 1:6a
"Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, …."

Hubungan hayat seorang anak dengan ibu yang melahirkannya tidak mungkin terputus, tetapi persekutuan dengan ibunya mudah terputus. Misalnya, sebelum pergi, ibu berpesan agar si anak tidak memakan coklat. Setelah ibu pergi, si anak mengambil coklat tersebut dan memakannya. Bagaimanakah sikap anak tersebut ketika ibunya pulang? Biasanya, ia akan sangat senang bertemu dengan ibunya. Sekarang, setelah berbuat salah, ia gelisah ketika melihat ibunya datang, ia ingin menghindar. Kalau ibu ke ruang makan, ia pergi ke dapur; kalau ibu ke dapur, ia pergi ke ruang tamu. Ibu yang berpengalaman segera mengetahui bahwa anaknya pasti telah mencuri coklat.
Hubungan hayat antara kaum beriman dengan Allah tidak mungkin terputus sampai selama-lamanya. Karena kita telah dilahirkan oleh-Nya dan menerima "hayat kekal" dari Allah. Lagi pula, tidak ada orang yang dapat merebut kita dari tangan Allah. Jadi, hubungan hayat kita dengan Allah bersifat kekal, selamanya tidak dapat terputus (Yoh. 10:28-29). Namun, persekutuan dengan Allah dapat terputus karena dosa atau ketidaktaatan kita. Yesaya 59:1-2 mengatakan, "Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar, tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."

Jangan Berbuat Dosa Lagi
Yoh. 8:1-11; 1 Kor. 5:1-5

Setelah kita beroleh selamat, tidak seharusnya kita berbuat dosa lagi dan tetap hidup di dalam dosa. Injil Yohanes 8 mencatat kisah Tuhan Yesus mengampuni seorang perempuan yang berzina. Saat itu juga Tuhan berkata kepadanya, "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Lalu, bisakah orang Kristen tidak berbuat dosa? Bisa! Orang Kristen bisa tidak berbuat dosa, karena di dalam orang Kristen ada hayat (kehidupan) Allah. Hayat ini tidak bisa berbuat dosa, tidak bisa mentolelir dosa sedikit pun. Hayat ini kudus, di batin Ia memberi kita perasaan yang luar biasa pekanya terhadap dosa. Namun karena kelemahan daging kita, ketidaktaatan kita, dan karena tidak hidup di bawah pimpinan Roh Kudus dan hayat Allah, maka di mana dan kapan saja ada kemungkinan berbuat dosa. Setelah beroleh selamat, jika kita berbuat dosa lagi, akan ada beberapa akibat yang mengerikan:Pertama, menderita susah pada zaman sekarang. Seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 5, orang itu harus diserahkan kepada Iblis, sehingga tubuhnya binasa; ini merupakan suatu penderitaan yang sangat besar.
Kedua, persekutuan dengan Allah terputus. Orang Kristen dapat bersekutu dengan Allah, ini adalah hak yang paling mulia dan juga adalah kebahagiaan yang terbesar. Tetapi jika persekutuan kita dengan Allah terputus, Roh Kudus di dalam kita akan berduka, hayat di dalam kita akan merasa tidak nyaman, sukacita kita akan lenyap. Tadinya, kalau bertemu dengan saudara saudari, merasa sangat akrab; sekarang, tidak akrab lagi, bagaikan tersekat sesuatu. Tadinya, membaca Alkitab dan berdoa sangat nyaman; sekarang, terasa hambar, tidak bisa menjamah Allah. Dulu, ikut bersidang merasa mustika dan kalau absen sekali saja, merasa rugi besar, tetapi kini, bersidang terasa tawar, seolah tidak bersidang pun tidak mengapa. Bahkan kalau bertemu dengan saudara saudari terasa ingin menghindar atau menjauhkan diri. Keadaan yang semula sama sekali telah berubah.
Ketiga, menerima ganjaran di zaman yang akan datang. Bila orang Kristen berbuat dosa dan tidak membereskannya pada zaman ini, pada zaman yang akan datang tetap harus membereskannya (Mat. 16:27, 2 Kor. 5:10).

25 April 2005

1&2&3 Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Senin


Allah Adalah Terang

1 Yohanes 1:5
"Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan."

Allah adalah terang. Ini berarti, Ia sungguh-sungguh kudus, benar, dan murni. Allah tidak mungkin bertoleransi terhadap segala bentuk dosa.
Sebagaimana terang adalah hakiki Allah dalam ekspresi-Nya, kegelapan adalah hakiki Iblis dalam perbuatannya yang jahat (3:8). Kegelapan mengacu kepada kejahatan, dosa, dan ketidakmurnian. Kegelapan juga menyatakan kebohongan, kepalsuan, dan ketidak-aslian. Menurut konteksnya kegelapan ini adalah kegelapan dosa (1 Yoh. 1: 7-10).
Terang dan gelap sangat bertentangan, tetapi kita selalu membuatnya menjadi abu-abu. Bagi Allah tidak ada sesuatu yang di tengah-tengah, yang tidak terang juga tidak gelap; juga tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Ibrani 4:13 mengatakan, "Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."
Dalam Kisah Para Rasul 5 diceritakan mengenai suami istri yang bernama Ananias dan Safira. Mereka menjual tanah mereka, menyisihkan sebagian dari hasil penjualan tersebut, dan mempersembahkan sisanya di depan kaki para rasul. Tetapi mereka berbuat seolah-olah telah mempersembahkan semuanya. Petrus berkata, "…. Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah." Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya.