Kata tanda-tanda dalam ayat 17 mengacu kepada tanda yang dicapkan
pada seorang budak untuk menyatakan pemiliknya. Pada Paulus, hamba Kristus (Rm.
1:1), tanda itu adalah goresan lukanya yang diterima dalam pelayanannya yang setia
kepada Tuannya (2 Kor. 11:23-27). Secara rohani, tanda itu melambangkan ciri kehidupan
yang ditempuhnya, kehidupan seperti yang ditempuh oleh Tuhan Yesus di bumi.
Kehidupan yang demikian terus-menerus disalibkan (Yoh. 12:24), melakukan
kehendak Allah (Yoh. 6:38), tidak mencari kemuliaan pribadi, tetapi kemuliaan
Allah (Yoh. 7:18), dan tunduk serta taat kepada Allah, bahkan sampai
mati di kayu salib (Flp. 2:8). Paulus mengikuti pola teladan Tuhan Yesus, mempunyai
tanda, yang menjadi ciri hayatNya. Dalam hal ini, ia mutlak berbeda dengan para
penganut agama Yahudi.
Paulus telah beberapa kali terluka karena kesetiaannya dalam melayani
Kristus. Dalam 2 Korintus 11:24-25 ia mengatakan pernah disesah lima kali “setiap
kali empat puluh kurang satu pukulan,” pernah tiga kali didera, dan satu
kali dilempari dengan batu. Karena itu, banyaklah bilur-bilur pada tubuhnya
yang membuktikan ia telah bertahun-tahun melayani Kristus.
Bekas-bekas luka itu boleh juga dianggap sebagai tanda-tanda Yesus.
Seperti telah kita tunjukkan, makna rohani dari ungkapan
“tanda-tanda Yesus” ialah bahwa Paulus menempuh kehidupan yang tersalib.
Tatkala Tuhan Yesus berada di bumi, Dialah yang memelopori menempuh kehidupan
tersalib semacam itu. Ketika kita membaca keempat kitab Injil, kita nampak
potret Orang yang dengan konstan menempuh kehidupan yang tersalib. Kehidupan
semacam itu adalah suatu tanda. Jadi, tatkala Tuhan Yesus berada di bumi, Ia
mengemban tanda semacam itu. Ia dianiaya, diolok-olok, dihina, dan ditolak.
Akan tetapi, Ia tidak berkata apa-apa untuk membela diri-Nya. Malahan dengan
menempuh kehidupan yang tersalib, Ia mengemban sebuah tanda yang memperlihatkan
bahwa Ia adalah milik Allah Bapa. Paulus meneladani Tuhan Yesus, menempuh
kehidupan semacam ini. Dalam Filipi 3:10 ia menyinggung tentang “persekutuan
dalam penderitaan-Nya”. Selaku seorang yang hidup dalam persekutuan
penderitaan Yesus, Paulus mengemban tanda-tanda Yesus sebagai tanda bahwa ia
menempuh suatu kehidupan yang tersalib. Ketika Paulus memberi salam kepada
orang-orang Galatia dengan perkataan damai sejahtera, ia teringat akan fakta
bahwa tanda-tanda Yesuslah yang memelihara dia dalam damai sejahtera itu. Karena
ia telah dianiaya, dihina, diolok-olok, ditolak, dan dihukum, ia dapat berkata dengan
sebenarnya bahwa ia mengemban tanda-tanda Yesus.
Dalam Galatia 4:29 Paulus berkata, “Tetapi sebagaimana
dahulu, dia yang dilahirkan menurut daging, menganiaya yang dilahirkan menurut
Roh, demikian juga sekarang ini” (Tl.). Perkataan ini menunjukkan dengan
jelas bahwa orang-orang yang menurut daging akan menganiaya orang-orang yang menurut
Roh. Sebagaimana Tuhan Yesus dan Paulus dianiaya karena mereka menempuh
kehidupan yang tersalib, maka hal yang sama akan terjadi pada kita bila kita,
oleh rahmat dan anugerah Tuhan, mengikuti jejak mereka untuk menempuh kehidupan
yang sedemikian. Tatkala kita dihina, ditolak, dihukum, diolok-olok, dan dicemooh,
itu berarti kita mengemban tanda-tanda Yesus. Akan tetapi, karena kita mengemban
tanda-tanda itu, kita menikmati damai sejahtera, dan kita tidak akan disusahkan
oleh situasi atau keadaan apa pun.
Sumber:
Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 31