Kristus: Roh yang Berhuni di Batin
2 Korintus 3:18b
Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:14; 1 Kor. 15:45; Kis. 2:36; Ef. 1:22; 2 Kor. 3:17
Dalam kekekalan yang lampau hanya ada Allah sendirian. Kemudian, di dalam waktu, Ia menciptakan segala sesuatu. Pada suatu titik tertentu di dalam sejarah, Allah Pencipta ini, Pencipta segala sesuatu, menjadi seorang manusia. Langkah yang penting ini disebut inkarnasi. Melalui inkarnasi, Allah mengenakan manusia dengan segala ciptaan, karena manusia adalah kepala ciptaan (Yoh. 1:14). Tuhan Yesus, Allah yang berinkarnasi, hidup di atas bumi selama tigapuluh tiga setengah tahun.
Ketika Dia disalibkan, seluruh ciptaan disalibkan bersama-sama dengan Dia. Ini berarti bahwa bukan hanya Kristus saja yang tersalib, tetapi manusia beserta seluruh ciptaan tersalib bersama Dia. Karena itu, kematian Kristus di atas salib merupakan penyaliban yang meliputi segala sesuatu. Setelah penyaliban-Nya, Kristus dikuburkan dan manusia beserta seluruh ciptaan yang telah tersalib bersama Kristus juga dikubur di dalam kuburan itu. Setelah tiga hari, Kristus bangkit dari kematian. Melalui kebangkitan dan di dalam kebangkitan Ia menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45). Lebih jauh lagi, di dalam kenaikkan-Nya ke langit tingkat ketiga, Dia dimahkotai dan menjadi Kepala dan Tuhan atas segala sesuatu (Kis. 2:36; Ef. 1:22).
Satu Korintus 15:45b mengatakan bahwa Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat. Dua Korintus 3:17 memberi tahu kita bahwa sekarang Tuhan adalah Roh itu. Adam yang akhir di dalam Satu Korintus 15:45b dan Tuhan di dalam 2 Korintus 3:17 keduanya mengacu kepada Kristus. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa hari ini Kristus dan Roh itu adalah satu. Dia yang telah tersalib di atas salib adalah Kristus, tetapi Dia yang masuk ke dalam kita, orang-orang percaya, adalah Roh itu.
Kita merasakan atau tidak, Kristus kini berada di dalam kita. Kemana saja kita pergi, Dia berada di dalam kita. Kita mungkin tidak memiliki perasaan yang kuat bahwa Dia berada di dalam kita. Tetapi jika kita menentang atau mengabaikan pimpinan-Nya, Dia akan menegur kita di batin. Tuhan kita itu nyata dan hidup. Apakah yang kita butuhkan dari suatu agama yang usang? Puji Tuhan! Kita memiliki Kristus yang hidup! Dialah yang kita perlukan.
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
20 September 2008
19 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 3 Sabtu
Murid-Murid Menjadi Kelanjutan Yesus Kristus
Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.
Ayat Bacaan: Kis. 1:1-4, 8-9, 14-41; 1 Kor. 3:9a
Ministri Tuhan Yesus di tanah Palestina berlangsung selama kurang lebih tiga puluh tiga setengah tahun. Ministri-Nya yang bumiah itu terbatasi oleh waktu, yakni hingga kenaikan-Nya ke surga (Kis. 1:9). Apakah setelah itu ministri Tuhan sama sekali terhenti? Tidak. Ministri-Nya kemudian dilanjutkan oleh murid-murid-Nya. Kitab Kisah Para Rasul merupakan catatan penting yang mencatat secara rinci bagaimana murid-murid Tuhan Yesus melanjutkan ministri-Nya di atas bumi. Dalam Kisah Para Rasul 1:8, Tuhan menetapkan mereka menjadi saksi-saksi-Nya, dan di pasal berikutnya Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka sehingga mereka dengan berani bersaksi dan berbicara bagi Tuhan (Kis. 2:1-4, 14-41).
Siapakah murid-murid Tuhan? Semua orang yang percaya, mereka yang telah menerima Roh Kudus adalah murid-murid Tuhan. Karena kita adalah murid-murid Tuhan, maka kitapun merupakan kelanjutan dari Tuhan Yesus. Dua ribu tahun yang lalu Tuhan Yesus tinggal di tanah Palestina, tetapi sekarang Dia tinggal di dalam kita. Sebagaimana dahulu Dia melayani orang, sekarang pun Dia masih melayani orang melalui kita. Dahulu Tuhan memberitakan Injil, hari ini Dia masih tetap memberitakan Injil melalui kita. Sebab itu bisa dikatakan bahwa kita, murid-murid-Nya, adalah kelanjutan dari Tuhan Yesus sendiri.
Yang kita perlukan hari ini adalah bekerjasama dengan Tuhan Yesus yang telah bangkit dan berhuni di dalam kita. Sebagai kelanjutan-Nya, kita harus memberikan keleluasaan bagi Dia untuk bekerja melalui kita. Bila Dia menghendaki kita pergi memberitakan Injil, maka kita harus pergi memberitakan Injil bersama-Nya. Bila Dia menghendaki kita berdiri menyampaikan firman, maka kita harus melakukannya bersama Dia (1 Kor. 3:9a).
Jangan menilai diri sendiri terlalu rendah atau berkecil hati. Kita memang penuh kekurangan dan kegagalan. Namun, sebagai Roh itu di dalam kita, Dia adalah suplai hayat kita, juga kuasa yang memampukan kita. Dia yang menetapkan kita menjadi saksi-saksi-Nya, Dia pula yang menyuplai dan memampukan kita. Tanggung jawab kita adalah bekerjasama dengan Dia. Hanya dengan jalan ini kita dapat menjadi kelanjutan dari Kristus, Hamba-Penyelamat.
Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.
Ayat Bacaan: Kis. 1:1-4, 8-9, 14-41; 1 Kor. 3:9a
Ministri Tuhan Yesus di tanah Palestina berlangsung selama kurang lebih tiga puluh tiga setengah tahun. Ministri-Nya yang bumiah itu terbatasi oleh waktu, yakni hingga kenaikan-Nya ke surga (Kis. 1:9). Apakah setelah itu ministri Tuhan sama sekali terhenti? Tidak. Ministri-Nya kemudian dilanjutkan oleh murid-murid-Nya. Kitab Kisah Para Rasul merupakan catatan penting yang mencatat secara rinci bagaimana murid-murid Tuhan Yesus melanjutkan ministri-Nya di atas bumi. Dalam Kisah Para Rasul 1:8, Tuhan menetapkan mereka menjadi saksi-saksi-Nya, dan di pasal berikutnya Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka sehingga mereka dengan berani bersaksi dan berbicara bagi Tuhan (Kis. 2:1-4, 14-41).
Siapakah murid-murid Tuhan? Semua orang yang percaya, mereka yang telah menerima Roh Kudus adalah murid-murid Tuhan. Karena kita adalah murid-murid Tuhan, maka kitapun merupakan kelanjutan dari Tuhan Yesus. Dua ribu tahun yang lalu Tuhan Yesus tinggal di tanah Palestina, tetapi sekarang Dia tinggal di dalam kita. Sebagaimana dahulu Dia melayani orang, sekarang pun Dia masih melayani orang melalui kita. Dahulu Tuhan memberitakan Injil, hari ini Dia masih tetap memberitakan Injil melalui kita. Sebab itu bisa dikatakan bahwa kita, murid-murid-Nya, adalah kelanjutan dari Tuhan Yesus sendiri.
Yang kita perlukan hari ini adalah bekerjasama dengan Tuhan Yesus yang telah bangkit dan berhuni di dalam kita. Sebagai kelanjutan-Nya, kita harus memberikan keleluasaan bagi Dia untuk bekerja melalui kita. Bila Dia menghendaki kita pergi memberitakan Injil, maka kita harus pergi memberitakan Injil bersama-Nya. Bila Dia menghendaki kita berdiri menyampaikan firman, maka kita harus melakukannya bersama Dia (1 Kor. 3:9a).
Jangan menilai diri sendiri terlalu rendah atau berkecil hati. Kita memang penuh kekurangan dan kegagalan. Namun, sebagai Roh itu di dalam kita, Dia adalah suplai hayat kita, juga kuasa yang memampukan kita. Dia yang menetapkan kita menjadi saksi-saksi-Nya, Dia pula yang menyuplai dan memampukan kita. Tanggung jawab kita adalah bekerjasama dengan Dia. Hanya dengan jalan ini kita dapat menjadi kelanjutan dari Kristus, Hamba-Penyelamat.
18 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 3 Jumat
Jalan yang Kaya untuk Masuk Kerajaan Kekal
2 Petrus 1:11
Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:5; 1 Ptr. 1:3-11
Uuntuk masuk ke dalam Kerajaan Allah yang hari ini, seseorang cukup dilahirkan kembali dari air dan Roh (Yoh. 3:5). Namun, untuk masuk ke dalam manifestasi Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus pada jaman yang akan datang, kita memerlukan jalan masuk yang lebih kaya. Jalan masuk yang lebih kaya ini merupakan perkembangan dari Kristus sebagai benih di dalam kita, seperti yang disebutkan dalam surat Dua Petrus 1:3-10. Jalan ini meliputi hayat ilahi, kesalehan, pengenalan akan Allah, dan janji-janji yang berharga. Oleh sebab itu, kita perlu sungguh-sungguh berusaha dengan rajin menambahkan kepada iman kita kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih ilahi (2 Ptr. 1:5-7). Jika kita demikian mengejar dan memiliki butir-butir di atas, barulah kita memiliki jalan masuk yang limpah ke dalam Kerajaan kekal (2 Ptr. 1:11).
Kemalasan merupakan penghalang terbesar bagi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan kekal. Orang yang malas, dalam pandangan Tuhan tidak berguna. Tuhan mencela hamba yang malas. Malas berarti tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Orang semacam ini, tidak bisa menumbuhkan dan mengembangkan Kristus. Akibatnya, ia tidak akan memiliki jalan untuk masuk ke dalam Kerajaan kekal. Itulah sebabnya Paulus menasihati kita “harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan...” (adding all diligence, RcV). Perkataan ini menunjukkan bahwa Paulus menghendaki kita rajin.
Dua Petrus 1:8 mengatakan, “Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat (tidak malas) dan berhasil (berbuah).” Kita mungkin tidak malas, tetapi tidak berbuah. Untuk berbuah perlu banyak pertumbuhan dalam hayat dan lebih banyak suplai hayat. Oleh sebab itu, janganlah kita merasa sudah cukup rohani, sudah puas dengan pertumbuhan kita. Kalau kita bercermin pada butir-butir dalam 2 Petrus 1:5-7, kita akan mengakui bahwa pertumbuhan dan perkembangan Kristus di dalam kita masih sangat kurang. Kita perlu rajin, berusaha lebih keras lagi dalam mengejar Kristus, menikmati Dia sebagai suplai hayat kita. Kalau tidak demikian, kita tidak mungkin beroleh jalan masuk ke dalam Kerajaan kekal.
2 Petrus 1:11
Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:5; 1 Ptr. 1:3-11
Uuntuk masuk ke dalam Kerajaan Allah yang hari ini, seseorang cukup dilahirkan kembali dari air dan Roh (Yoh. 3:5). Namun, untuk masuk ke dalam manifestasi Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus pada jaman yang akan datang, kita memerlukan jalan masuk yang lebih kaya. Jalan masuk yang lebih kaya ini merupakan perkembangan dari Kristus sebagai benih di dalam kita, seperti yang disebutkan dalam surat Dua Petrus 1:3-10. Jalan ini meliputi hayat ilahi, kesalehan, pengenalan akan Allah, dan janji-janji yang berharga. Oleh sebab itu, kita perlu sungguh-sungguh berusaha dengan rajin menambahkan kepada iman kita kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih ilahi (2 Ptr. 1:5-7). Jika kita demikian mengejar dan memiliki butir-butir di atas, barulah kita memiliki jalan masuk yang limpah ke dalam Kerajaan kekal (2 Ptr. 1:11).
Kemalasan merupakan penghalang terbesar bagi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan kekal. Orang yang malas, dalam pandangan Tuhan tidak berguna. Tuhan mencela hamba yang malas. Malas berarti tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Orang semacam ini, tidak bisa menumbuhkan dan mengembangkan Kristus. Akibatnya, ia tidak akan memiliki jalan untuk masuk ke dalam Kerajaan kekal. Itulah sebabnya Paulus menasihati kita “harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan...” (adding all diligence, RcV). Perkataan ini menunjukkan bahwa Paulus menghendaki kita rajin.
Dua Petrus 1:8 mengatakan, “Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat (tidak malas) dan berhasil (berbuah).” Kita mungkin tidak malas, tetapi tidak berbuah. Untuk berbuah perlu banyak pertumbuhan dalam hayat dan lebih banyak suplai hayat. Oleh sebab itu, janganlah kita merasa sudah cukup rohani, sudah puas dengan pertumbuhan kita. Kalau kita bercermin pada butir-butir dalam 2 Petrus 1:5-7, kita akan mengakui bahwa pertumbuhan dan perkembangan Kristus di dalam kita masih sangat kurang. Kita perlu rajin, berusaha lebih keras lagi dalam mengejar Kristus, menikmati Dia sebagai suplai hayat kita. Kalau tidak demikian, kita tidak mungkin beroleh jalan masuk ke dalam Kerajaan kekal.
17 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 3 Kamis
Harta Sejati di Dalam Kita
2 Korintus 4:7
Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
Ayat Bacaan: 2 Kor. 4:7; Mat. 6:19; 1 Tim. 6:17; Pkh. 5:10
Apakah keistimewaan orang Kristen dibandingkan dengan orang dunia pada umumnya? Alkitab mengatakan bahwa kita adalah bejana tanah liat, namun di dalam kita terdapat harta (treasure, KJV) yang tak ternilai harganya (2 Kor. 4:7). Hari ini banyak orang mengejar harta duniawi dan diduduki olehnya, tetapi harta itu bersifat sementara, fana, dan tidak menentu (Mat. 6:19; 1 Tim. 6:17). Alkitab juga mengatakan bahwa mereka yang mengejar uang, tidak akan puas dengan uang, dan yang mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya (Pkh. 5:10). Namun berbahagialah kita yang memiliki harta rohani di dalam kita, karena harta ini bernilai kekal!
Harta mustika ini tidak lain adalah Kristus sendiri sebagai Roh itu beserta segala kekayaan-Nya yang berhuni di dalam kita. Di dalam harta ini terkandung segala atribut Allah beserta kebajikan-Nya seperti kuat kuasa, kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran. O, betapa ajaibnya harta yang kita miliki! Namun memiliki harta ini saja tidak cukup, kita masih harus membiarkan harta ini ternyata dari diri kita. Karena itu Paulus mengatakan, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, ...” (2 Kor. 4:7). Di dalam kebanyakan orang Kristen, harta ini masih terpendam, tersembunyi rapat-rapat di dalam mereka. Namun Tuhan ingin agar harta ini ternyatakan melalui kita.
Kalau kita menyadari bahwa di dalam kita ada harta mustika yang tak ternilai demikian, kehidupan rohani kita pasti akan berbeda. Karena tidak menyadari hal ini, banyak orang Kristen yang berusaha memperbaiki bejana tanah liat mereka, memperbaiki kelakuan mereka secara lahiriah. Namun, itu bukanlah cara Allah. Cara Allah bukan memperbaiki bejana tanah liat, tetapi meletakkan Kristus di dalam kita sebagai harta mustika, dan menghendaki kita memperhidupkan Dia, menyatakan Dia keluar dari diri kita. Kerohanian, kekuatan, kehebatan, semuanya berasal dari Tuhan. Melalui diri kita Tuhan juga akan menyatakan kekuatan itu, sehingga bejana tanah liat ini akan berpancar lebih terang, bercahaya lebih besar. Kalau demikian, kita akan melihat betapa pentingnya harta ini. Ketika Kristus ternyata melalui diri kita, banyak orang akan mengetahuinya dan beroleh faedah.
2 Korintus 4:7
Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
Ayat Bacaan: 2 Kor. 4:7; Mat. 6:19; 1 Tim. 6:17; Pkh. 5:10
Apakah keistimewaan orang Kristen dibandingkan dengan orang dunia pada umumnya? Alkitab mengatakan bahwa kita adalah bejana tanah liat, namun di dalam kita terdapat harta (treasure, KJV) yang tak ternilai harganya (2 Kor. 4:7). Hari ini banyak orang mengejar harta duniawi dan diduduki olehnya, tetapi harta itu bersifat sementara, fana, dan tidak menentu (Mat. 6:19; 1 Tim. 6:17). Alkitab juga mengatakan bahwa mereka yang mengejar uang, tidak akan puas dengan uang, dan yang mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya (Pkh. 5:10). Namun berbahagialah kita yang memiliki harta rohani di dalam kita, karena harta ini bernilai kekal!
Harta mustika ini tidak lain adalah Kristus sendiri sebagai Roh itu beserta segala kekayaan-Nya yang berhuni di dalam kita. Di dalam harta ini terkandung segala atribut Allah beserta kebajikan-Nya seperti kuat kuasa, kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran. O, betapa ajaibnya harta yang kita miliki! Namun memiliki harta ini saja tidak cukup, kita masih harus membiarkan harta ini ternyata dari diri kita. Karena itu Paulus mengatakan, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, ...” (2 Kor. 4:7). Di dalam kebanyakan orang Kristen, harta ini masih terpendam, tersembunyi rapat-rapat di dalam mereka. Namun Tuhan ingin agar harta ini ternyatakan melalui kita.
Kalau kita menyadari bahwa di dalam kita ada harta mustika yang tak ternilai demikian, kehidupan rohani kita pasti akan berbeda. Karena tidak menyadari hal ini, banyak orang Kristen yang berusaha memperbaiki bejana tanah liat mereka, memperbaiki kelakuan mereka secara lahiriah. Namun, itu bukanlah cara Allah. Cara Allah bukan memperbaiki bejana tanah liat, tetapi meletakkan Kristus di dalam kita sebagai harta mustika, dan menghendaki kita memperhidupkan Dia, menyatakan Dia keluar dari diri kita. Kerohanian, kekuatan, kehebatan, semuanya berasal dari Tuhan. Melalui diri kita Tuhan juga akan menyatakan kekuatan itu, sehingga bejana tanah liat ini akan berpancar lebih terang, bercahaya lebih besar. Kalau demikian, kita akan melihat betapa pentingnya harta ini. Ketika Kristus ternyata melalui diri kita, banyak orang akan mengetahuinya dan beroleh faedah.
16 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 3 Rabu
Dikosongkan dari Hal-hal di Luar Kristus
2 Timotius 3:1-2a
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.
Ayat Bacaan: 2 Tim. 3:1-2; Mrk. 10:23; 2 Tes. 1:4-5
Perkara apakah yang paling banyak menduduki orang dewasa ini? Uang. Ya, pada jaman akhir, manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang (2 Tim. 3:2). Kisah mengenai orang kaya dalam Markus 10 adalah suatu ilustrasi akan keperluan kita untuk bebas dari diduduki oleh segala sesuatu kecuali Allah itu sendiri. Setelah orang kaya itu pergi dengan sedih hati, Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah!” (Mrk. 10:23). Dia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah karena apa adanya dia diduduki oleh hal-hal selain daripada Allah. Tidak ada ruang di dalamnya bagi Kristus untuk bertumbuh menjadi kerajaan. Apakah yang dimaksud dengan menjadi kaya? Menjadi kaya berarti diduduki oleh sesuatu selain oleh Allah sendiri.
Kita semua perlu dikosongkan dari segala sesuatu selain daripada Kristus yang menduduki kita. Apa adanya kita perlu dibongkar bagi Tuhan Yesus. Kita perlu mengosongkan diri kita. Menurut Alkitab, merendahkan diri kita adalah mengosongkan diri kita. Kita perlu mengosongkan diri kita sehingga semua ruangan dalam diri kita akan tersedia bagi pertumbuhan Tuhan Yesus di dalam kita. Bagaimana kerajaan dapat berkembang di dalam kita? Jika kita ingin kerajaan berkembang di dalam kita, kita perlu merendahkan diri kita, mengosongkan diri kita, membongkar diri kita. Kita tidak seharusnya diduduki oleh kebudayaan, agama, etika, moralitas, filsafat, perbaikan karakter, atau usaha untuk menjadi rohani, alkitabiah, kudus, dan berkemenangan. Kita seharusnya peduli akan Kristus dan bagi pertumbuhan Kristus di dalam kita. Semua tanah di dalam kita seharusnya tersedia bagi Dia untuk bertumbuh di dalam kita. Inilah tanggung jawab kita terhadap benih kerajaan.
Agar terhitung layak menjadi warga kerajaan, iman kita perlu bertumbuh, kasih kita bertambah, dan ketabahan kita tahan lama (2 Tes. 1:4-5). Bagi kehidupan gereja kita perlu memiliki kehidupan yang tersusun dari susunan dasar yang meliputi iman yang bertumbuh, kasih yang bertambah, dan ketabahan yang tahan lama. Jika kita mempunyai kehidupan demikian, kita akan terhitung layak menjadi warga Kerajaan Allah.
2 Timotius 3:1-2a
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.
Ayat Bacaan: 2 Tim. 3:1-2; Mrk. 10:23; 2 Tes. 1:4-5
Perkara apakah yang paling banyak menduduki orang dewasa ini? Uang. Ya, pada jaman akhir, manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang (2 Tim. 3:2). Kisah mengenai orang kaya dalam Markus 10 adalah suatu ilustrasi akan keperluan kita untuk bebas dari diduduki oleh segala sesuatu kecuali Allah itu sendiri. Setelah orang kaya itu pergi dengan sedih hati, Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah!” (Mrk. 10:23). Dia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah karena apa adanya dia diduduki oleh hal-hal selain daripada Allah. Tidak ada ruang di dalamnya bagi Kristus untuk bertumbuh menjadi kerajaan. Apakah yang dimaksud dengan menjadi kaya? Menjadi kaya berarti diduduki oleh sesuatu selain oleh Allah sendiri.
Kita semua perlu dikosongkan dari segala sesuatu selain daripada Kristus yang menduduki kita. Apa adanya kita perlu dibongkar bagi Tuhan Yesus. Kita perlu mengosongkan diri kita. Menurut Alkitab, merendahkan diri kita adalah mengosongkan diri kita. Kita perlu mengosongkan diri kita sehingga semua ruangan dalam diri kita akan tersedia bagi pertumbuhan Tuhan Yesus di dalam kita. Bagaimana kerajaan dapat berkembang di dalam kita? Jika kita ingin kerajaan berkembang di dalam kita, kita perlu merendahkan diri kita, mengosongkan diri kita, membongkar diri kita. Kita tidak seharusnya diduduki oleh kebudayaan, agama, etika, moralitas, filsafat, perbaikan karakter, atau usaha untuk menjadi rohani, alkitabiah, kudus, dan berkemenangan. Kita seharusnya peduli akan Kristus dan bagi pertumbuhan Kristus di dalam kita. Semua tanah di dalam kita seharusnya tersedia bagi Dia untuk bertumbuh di dalam kita. Inilah tanggung jawab kita terhadap benih kerajaan.
Agar terhitung layak menjadi warga kerajaan, iman kita perlu bertumbuh, kasih kita bertambah, dan ketabahan kita tahan lama (2 Tes. 1:4-5). Bagi kehidupan gereja kita perlu memiliki kehidupan yang tersusun dari susunan dasar yang meliputi iman yang bertumbuh, kasih yang bertambah, dan ketabahan yang tahan lama. Jika kita mempunyai kehidupan demikian, kita akan terhitung layak menjadi warga Kerajaan Allah.
15 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 3 Selasa
Berlatih Menempuh Hidup dalam Kerajaan
Efesus 2:19
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.
Ayat Bacaan: Ef. 2:19; 1 Tim. 3:15; Rm. 14:17
Di satu aspek, gereja adalah rumah dan keluarga Allah (Ef. 2:19; 1 Tim. 3:15). Dalam rumah ini kita menikmati kasih karunia dan menerima suplai hayat. Namun, di aspek lain, gereja juga Kerajaan, pemerintahan Allah. Dalam gereja sebagai Kerajaan, kita berada di bawah pimpinan dan kuasa Kristus sebagai kepala. Di dalam rumah kita memiliki kenikmatan atas kasih, suplai kasih karunia, dan kekayaan hayat. Di dalam Kerajaan, kita memiliki kekuasaan, pemerintahan, pelatihan, dan pendisiplinan. Puji Tuhan atas kedua aspek dari gereja ini.
Kerajaan Allah adalah soal kebenaran terhadap diri sendiri, damai sejahtera terhadap orang lain, dan sukacita bersama Allah dalam roh kita (Rm. 14:17). Kita makan makanan apa, itu tidaklah penting. Tetapi kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita sangat penting, karena hal-hal ini merupakan ekspresi Kristus. Tatkala Kristus diekspresikan, Dialah kebenaran kita bagi diri kita sendiri, damai sejahtera kita bagi orang lain, dan sukacita kita bersama Allah.
Untuk menempuh kehidupan kerajaan, kita harus ketat terhadap diri sendiri, dan jangan membuat alasan untuk memaafkan diri sendiri. Kita harus benar, disiplin, dan adil dalam segala hal yang kita lakukan. Terhadap orang lain, kita harus berusaha mengejar damai sejahtera dan senantiasa berusaha hidup rukun dengan orang lain. Namun beberapa suami Kristen tidak rukun (damai) dengan istrinya, dan beberapa istri Kristen juga tidak rukun dengan suaminya. Kita wajib baik-baik memelihara kerukunan dengan setiap orang yang berkumpul dengan kita. Damai sejahtera adalah ekspresi Kristus yang dinyatakan dari dalam kita. Selain itu, kita juga harus bersukacita. Kita harus bersukacita setiap hari. Jika kita tidak dapat berkata, “Haleluya, puji Tuhan!” setiap hari, berarti kita telah gagal dan tidak berada dalam Roh Kudus.
Roh Kudus adalah Roh sukacita. Kita harus selalu bersukacita bersama Allah, memuji-Nya, dan berkata, “Haleluya!” Kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita adalah ciri-ciri Kerajaan Allah pada hari ini. Kerajaan Allah adalah latihan kehidupan gereja. Kehidupan gereja adalah untuk kehidupan Kerajaan, sedang kehidupan Kerajaan ialah latihan kehidupan orang Kristen.
Efesus 2:19
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.
Ayat Bacaan: Ef. 2:19; 1 Tim. 3:15; Rm. 14:17
Di satu aspek, gereja adalah rumah dan keluarga Allah (Ef. 2:19; 1 Tim. 3:15). Dalam rumah ini kita menikmati kasih karunia dan menerima suplai hayat. Namun, di aspek lain, gereja juga Kerajaan, pemerintahan Allah. Dalam gereja sebagai Kerajaan, kita berada di bawah pimpinan dan kuasa Kristus sebagai kepala. Di dalam rumah kita memiliki kenikmatan atas kasih, suplai kasih karunia, dan kekayaan hayat. Di dalam Kerajaan, kita memiliki kekuasaan, pemerintahan, pelatihan, dan pendisiplinan. Puji Tuhan atas kedua aspek dari gereja ini.
Kerajaan Allah adalah soal kebenaran terhadap diri sendiri, damai sejahtera terhadap orang lain, dan sukacita bersama Allah dalam roh kita (Rm. 14:17). Kita makan makanan apa, itu tidaklah penting. Tetapi kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita sangat penting, karena hal-hal ini merupakan ekspresi Kristus. Tatkala Kristus diekspresikan, Dialah kebenaran kita bagi diri kita sendiri, damai sejahtera kita bagi orang lain, dan sukacita kita bersama Allah.
Untuk menempuh kehidupan kerajaan, kita harus ketat terhadap diri sendiri, dan jangan membuat alasan untuk memaafkan diri sendiri. Kita harus benar, disiplin, dan adil dalam segala hal yang kita lakukan. Terhadap orang lain, kita harus berusaha mengejar damai sejahtera dan senantiasa berusaha hidup rukun dengan orang lain. Namun beberapa suami Kristen tidak rukun (damai) dengan istrinya, dan beberapa istri Kristen juga tidak rukun dengan suaminya. Kita wajib baik-baik memelihara kerukunan dengan setiap orang yang berkumpul dengan kita. Damai sejahtera adalah ekspresi Kristus yang dinyatakan dari dalam kita. Selain itu, kita juga harus bersukacita. Kita harus bersukacita setiap hari. Jika kita tidak dapat berkata, “Haleluya, puji Tuhan!” setiap hari, berarti kita telah gagal dan tidak berada dalam Roh Kudus.
Roh Kudus adalah Roh sukacita. Kita harus selalu bersukacita bersama Allah, memuji-Nya, dan berkata, “Haleluya!” Kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita adalah ciri-ciri Kerajaan Allah pada hari ini. Kerajaan Allah adalah latihan kehidupan gereja. Kehidupan gereja adalah untuk kehidupan Kerajaan, sedang kehidupan Kerajaan ialah latihan kehidupan orang Kristen.
14 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 3 Senin
Kehidupan Gereja Sebagai Realitas Kerajaan Allah
Roma 14:17
Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.
Ayat Bacaan: Mat. 16:18-19; 1 Kor. 6:10; Gal. 5:21; Ef. 5:5; 1 Kor. 3:13-15
Transfigurasi Kristus menghasilkan dua hal, yakni penampakan wujud Kerajaan Allah dan kehidupan gereja yang tepat. Di atas gunung perubahan, tertampaklah Kristus datang dengan kemuliaan. Inilah penampakan Kerajaan Allah. Tidak hanya itu, transfigurasi Kristus di dalam kaum beriman hari ini juga menghasilkan sesuatu, yakni kehidupan gereja yang tepat. Menurut konteksnya, Kerajaan Allah dalam Roma 14:17 mengacu kepada kehidupan gereja. Jadi, gereja adalah Kerajaan Allah pada zaman ini (Mat. 16:18-19; 1 Kor. 6:10; Gal. 5:21; Ef. 5:5).
Gereja adalah masalah kasih karunia dan hayat, sedang Kerajaan adalah masalah latihan dalam zaman ini dan disiplin dalam zaman yang akan datang (Mat. 25:15-30; 1 Kor. 3:13-15). Ditinjau dari satu sisi, gereja adalah masalah kasih karunia dan hayat, tetapi ditinjau dari sisi lain, gereja adalah Kerajaan Allah yang mengandung masalah latihan dan disiplin. Dalam gereja, di satu pihak, kita menikmati kasih karunia dan mengalami hayat, sedang di pihak lain, kita mengalami sejumlah latihan. Jangan mengabaikan latihan-latihan yang demikian karena itulah keperluan kita.
Menurut beberapa guru The Brethren (Kaum Persaudaraan), setiap orang beriman akan menjadi raja dalam Kerajaan Seribu Tahun. Akan tetapi, lihatlah diri kita sendiri. Apakah kita sudah seperti raja? Kalau Tuhan Yesus hari ini datang, dan menyuruh kita menjadi raja, kita pasti akan kebingungan, sebab kita tidak tahu bagaimana caranya menjadi raja. Kita bahkan mungkin sama sekali belum pernah menerima latihan-latihan untuk menjadi raja.
Setiap raja Inggris sejak muda sudah dilatih menjadi raja. Dilahirkan sebagai raja masih tidak cukup; seorang raja harus melewati pelatihan dan gemblengan. Walaupun mungkin kita berpotensi menjadi seorang raja, tetapi jabatan raja tergantung pula pada latihan-latihan. Kalau kita tidak mau dilatih dalam zaman ini, maka dalam zaman yang akan datang kita akan didisiplin. Nasib kita adalah menjadi raja, maka cepat atau lambat, Tuhan pasti akan melatih kita untuk menjadi seorang raja. Sebab itu Allah telah mengatur banyak urusan kecil dalam kehidupan kita guna melatih kita menjadi raja bersama-Nya. Haleluya!
Roma 14:17
Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.
Ayat Bacaan: Mat. 16:18-19; 1 Kor. 6:10; Gal. 5:21; Ef. 5:5; 1 Kor. 3:13-15
Transfigurasi Kristus menghasilkan dua hal, yakni penampakan wujud Kerajaan Allah dan kehidupan gereja yang tepat. Di atas gunung perubahan, tertampaklah Kristus datang dengan kemuliaan. Inilah penampakan Kerajaan Allah. Tidak hanya itu, transfigurasi Kristus di dalam kaum beriman hari ini juga menghasilkan sesuatu, yakni kehidupan gereja yang tepat. Menurut konteksnya, Kerajaan Allah dalam Roma 14:17 mengacu kepada kehidupan gereja. Jadi, gereja adalah Kerajaan Allah pada zaman ini (Mat. 16:18-19; 1 Kor. 6:10; Gal. 5:21; Ef. 5:5).
Gereja adalah masalah kasih karunia dan hayat, sedang Kerajaan adalah masalah latihan dalam zaman ini dan disiplin dalam zaman yang akan datang (Mat. 25:15-30; 1 Kor. 3:13-15). Ditinjau dari satu sisi, gereja adalah masalah kasih karunia dan hayat, tetapi ditinjau dari sisi lain, gereja adalah Kerajaan Allah yang mengandung masalah latihan dan disiplin. Dalam gereja, di satu pihak, kita menikmati kasih karunia dan mengalami hayat, sedang di pihak lain, kita mengalami sejumlah latihan. Jangan mengabaikan latihan-latihan yang demikian karena itulah keperluan kita.
Menurut beberapa guru The Brethren (Kaum Persaudaraan), setiap orang beriman akan menjadi raja dalam Kerajaan Seribu Tahun. Akan tetapi, lihatlah diri kita sendiri. Apakah kita sudah seperti raja? Kalau Tuhan Yesus hari ini datang, dan menyuruh kita menjadi raja, kita pasti akan kebingungan, sebab kita tidak tahu bagaimana caranya menjadi raja. Kita bahkan mungkin sama sekali belum pernah menerima latihan-latihan untuk menjadi raja.
Setiap raja Inggris sejak muda sudah dilatih menjadi raja. Dilahirkan sebagai raja masih tidak cukup; seorang raja harus melewati pelatihan dan gemblengan. Walaupun mungkin kita berpotensi menjadi seorang raja, tetapi jabatan raja tergantung pula pada latihan-latihan. Kalau kita tidak mau dilatih dalam zaman ini, maka dalam zaman yang akan datang kita akan didisiplin. Nasib kita adalah menjadi raja, maka cepat atau lambat, Tuhan pasti akan melatih kita untuk menjadi seorang raja. Sebab itu Allah telah mengatur banyak urusan kecil dalam kehidupan kita guna melatih kita menjadi raja bersama-Nya. Haleluya!
13 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 3 Minggu
Wujud Kerajaan Allah: Transfigurasi Kristus
Markus 9:2b-3
Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:1-3
Kita tentu sering mendengar atau membaca istilah “Kerajaan Allah”. Namun dapatkah kita membayangkan seperti apakah wujud dari Kerajaan Allah? Ada yang menduga-duga, ada pula yang berimajinasi betapa indahnya suasana dalam Kerajaan Allah. Kebanyakan orang berpendapat bahwa Kerajaan Allah adalah suatu tempat indah yang jauh di langit sana, tetapi menurut Alkitab, tidaklah demikian. Dalam Markus 9:1, Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.” Ayat ini kemudian diikuti oleh catatan transfigurasi Tuhan di atas gunung (Mrk. 9:2-3).
Kalau kita menjajarkan ketiga ayat di atas (Mrk. 9:1-3), maka kita akan melihat bahwa transfigurasi Tuhan Yesus adalah kedatangan kerajaan. Ini membuktikan bahwa kerajaan bukanlah alam material. Malahan, ayat ini menunjukkan bahwa kerajaan adalah seorang Persona yang ditransfigurasi. Ketika Tuhan Yesus ditransfigurasi, itulah kedatangan kerajaan. Jadi, Kerajaan Allah adalah Tuhan Yesus sendiri yang ditransfigurasi.
Kita perlu membahas pengertian akan kerajaan sebagai transfigurasi Tuhan Yesus dalam terang pengalaman kita. Ketika kita percaya ke dalam Tuhan Yesus dan menerima Dia, kita menerima Yesus yang belum ditransfigurasi. Sama seperti benih yang diterima oleh tanah adalah benih yang masih belum ditransfigurasi. Kita adalah tanah, dan Tuhan Yesus adalah benih kerajaan. Ketika kita menerima Dia ke dalam kita, kita menerima Dia sebagai seorang yang belum diubah dalam pengalaman kita.
Karena kita belum mengalami Kristus yang ditransfigurasi di dalam kita, kita perlu membiarkan Tuhan bertumbuh di dalam kita sampai Dia “berbunga”, bertransfigurasi. Transfigurasi yang sedemikian ini adalah wujud dari Kerajaan Allah yang memerintah kita dan juga memberikan kita kenikmatan penuh akan Allah. Saudara saudari, kita tidak boleh puas hanya memiliki benih kerajaan di dalam kita, tetapi kita harus membiarkan Kristus bertumbuh dan bertransfigurasi di dalam kita, sehingga Kerajaan Allah dapat ternyata dalam kehidupan kita.
Markus 9:2b-3
Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:1-3
Kita tentu sering mendengar atau membaca istilah “Kerajaan Allah”. Namun dapatkah kita membayangkan seperti apakah wujud dari Kerajaan Allah? Ada yang menduga-duga, ada pula yang berimajinasi betapa indahnya suasana dalam Kerajaan Allah. Kebanyakan orang berpendapat bahwa Kerajaan Allah adalah suatu tempat indah yang jauh di langit sana, tetapi menurut Alkitab, tidaklah demikian. Dalam Markus 9:1, Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.” Ayat ini kemudian diikuti oleh catatan transfigurasi Tuhan di atas gunung (Mrk. 9:2-3).
Kalau kita menjajarkan ketiga ayat di atas (Mrk. 9:1-3), maka kita akan melihat bahwa transfigurasi Tuhan Yesus adalah kedatangan kerajaan. Ini membuktikan bahwa kerajaan bukanlah alam material. Malahan, ayat ini menunjukkan bahwa kerajaan adalah seorang Persona yang ditransfigurasi. Ketika Tuhan Yesus ditransfigurasi, itulah kedatangan kerajaan. Jadi, Kerajaan Allah adalah Tuhan Yesus sendiri yang ditransfigurasi.
Kita perlu membahas pengertian akan kerajaan sebagai transfigurasi Tuhan Yesus dalam terang pengalaman kita. Ketika kita percaya ke dalam Tuhan Yesus dan menerima Dia, kita menerima Yesus yang belum ditransfigurasi. Sama seperti benih yang diterima oleh tanah adalah benih yang masih belum ditransfigurasi. Kita adalah tanah, dan Tuhan Yesus adalah benih kerajaan. Ketika kita menerima Dia ke dalam kita, kita menerima Dia sebagai seorang yang belum diubah dalam pengalaman kita.
Karena kita belum mengalami Kristus yang ditransfigurasi di dalam kita, kita perlu membiarkan Tuhan bertumbuh di dalam kita sampai Dia “berbunga”, bertransfigurasi. Transfigurasi yang sedemikian ini adalah wujud dari Kerajaan Allah yang memerintah kita dan juga memberikan kita kenikmatan penuh akan Allah. Saudara saudari, kita tidak boleh puas hanya memiliki benih kerajaan di dalam kita, tetapi kita harus membiarkan Kristus bertumbuh dan bertransfigurasi di dalam kita, sehingga Kerajaan Allah dapat ternyata dalam kehidupan kita.
12 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 2 Sabtu
Hanya Memperhatikan Kristus
Ibrani 12:2a
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.
Ayat Bacaan: Kol. 3:11; Flp. 3:8
Apabila seorang petani menemukan bahwa di atas tanah garapannya tumbuh rumput-rumput liar, maka sang petani biasanya segera mencabut rumput-rumput itu sebelum ia bertumbuh besar dan menjadi banyak. Mengapa demikian? Karena bila dibiarkan, rumput liar itu akan menggangu pertumbuhan tanaman yang dibudidayakannya. Tidak peduli betapa indahnya rumput liar itu, ia harus dicabut sampai ke akar-akarnya.
Bisakah kita melakukan yang sama seperti yang dilakukan oleh petani itu? Relakah kita menyingkirkan “rumput-rumput liar” yang tumbuh dalam hati kita? Kadang-kadang kita terlalu mengapresiasi rumput-rumput itu, tertipu oleh keindahannya, sehingga melupakan tanaman pokok yang kita budidayakan. Pengetahuan, ajaran agama tertentu, tradisi, filsafat, tipu daya kekayaan, hiburan, dan lain sebagainya adalah “rumput-rumput liar” yang indah. Namun kalau kita ingin membiarkan Kristus bertumbuh dan mekar di dalam kita, kita harus sedini mungkin mencabut “rumput-rumput liar” itu hingga ke akar-akarnya, dan hanya memperhatikan Kristus (Ibr. 12:2a).
Hasrat hati Allah adalah menggarapkan Kristus ke dalam kita, membaurkan Kristus dengan kita, dan membuat kita menjadi Tubuh yang hidup bagi Kristus. Inilah tujuan dan rencana Allah. Tetapi Iblis menghasilkan banyak hal untuk menggantikan Kristus. Mengapa Kitab Kolose ditulis? Karena pada saat itu di antara kaum beriman di Kolose, filsafat manusia dibawa masuk sebagai pengganti Kristus. Filsafat manusia adalah yang terbaik dari peradaban dan kebudayaan manusia, dan Iblis menggunakannya untuk menyimpangkan kaum beriman dari Kristus. Karena itu, Paulus menulis kepada orang-orang di Kolose dan memberitahu mereka bahwa Kristus harus menjadi segala dan di dalam segala sesuatu bagi mereka (Kol. 3:11).
Bagi Rasul Paulus, segala sesuatu selain Kristus adalah sampah (Flp. 3:8). Segala sesuatu yang bukan Kristus sendiri atau yang menggantikan Kristus, harus kita anggap sebagai sampah. Tidak peduli hal itu baik atau buruk, asalkan hal itu bukan Kristus dan asalkan hal itu menggantikan Kristus, itu adalah sampah. Wahyu ini sesuai dengan firman Allah yang kudus dan murni.
Ibrani 12:2a
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.
Ayat Bacaan: Kol. 3:11; Flp. 3:8
Apabila seorang petani menemukan bahwa di atas tanah garapannya tumbuh rumput-rumput liar, maka sang petani biasanya segera mencabut rumput-rumput itu sebelum ia bertumbuh besar dan menjadi banyak. Mengapa demikian? Karena bila dibiarkan, rumput liar itu akan menggangu pertumbuhan tanaman yang dibudidayakannya. Tidak peduli betapa indahnya rumput liar itu, ia harus dicabut sampai ke akar-akarnya.
Bisakah kita melakukan yang sama seperti yang dilakukan oleh petani itu? Relakah kita menyingkirkan “rumput-rumput liar” yang tumbuh dalam hati kita? Kadang-kadang kita terlalu mengapresiasi rumput-rumput itu, tertipu oleh keindahannya, sehingga melupakan tanaman pokok yang kita budidayakan. Pengetahuan, ajaran agama tertentu, tradisi, filsafat, tipu daya kekayaan, hiburan, dan lain sebagainya adalah “rumput-rumput liar” yang indah. Namun kalau kita ingin membiarkan Kristus bertumbuh dan mekar di dalam kita, kita harus sedini mungkin mencabut “rumput-rumput liar” itu hingga ke akar-akarnya, dan hanya memperhatikan Kristus (Ibr. 12:2a).
Hasrat hati Allah adalah menggarapkan Kristus ke dalam kita, membaurkan Kristus dengan kita, dan membuat kita menjadi Tubuh yang hidup bagi Kristus. Inilah tujuan dan rencana Allah. Tetapi Iblis menghasilkan banyak hal untuk menggantikan Kristus. Mengapa Kitab Kolose ditulis? Karena pada saat itu di antara kaum beriman di Kolose, filsafat manusia dibawa masuk sebagai pengganti Kristus. Filsafat manusia adalah yang terbaik dari peradaban dan kebudayaan manusia, dan Iblis menggunakannya untuk menyimpangkan kaum beriman dari Kristus. Karena itu, Paulus menulis kepada orang-orang di Kolose dan memberitahu mereka bahwa Kristus harus menjadi segala dan di dalam segala sesuatu bagi mereka (Kol. 3:11).
Bagi Rasul Paulus, segala sesuatu selain Kristus adalah sampah (Flp. 3:8). Segala sesuatu yang bukan Kristus sendiri atau yang menggantikan Kristus, harus kita anggap sebagai sampah. Tidak peduli hal itu baik atau buruk, asalkan hal itu bukan Kristus dan asalkan hal itu menggantikan Kristus, itu adalah sampah. Wahyu ini sesuai dengan firman Allah yang kudus dan murni.
11 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 2 Jumat
Cara Allah Menyembuhkan Kita, Tanah Garapan-Nya
Yohanes 6:37
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
Ayat Bacaan: Ef. 1:4-5; Rm. 8:13
Apakah yang akan dilakukan oleh petani bila menemukan bahwa tanah garapannya gersang dan berpenyakit? Di daerah tertentu, di mana lahan masih sangat luas, petani akan meninggalkan tanah yang gersang dan berpenyakit itu lalu mencari tanah garapan baru di tempat lain yang lebih baik. Namun bagaimanakah sikap Tuhan terhadap kita? Bagaimana Tuhan dapat menggunakan kita, tanah yang sakit, tercemar, dan terusak ini? Beberapa orang mungkin berpikir bahwa Dia seharusnya membuang tanah yang tidak berguna ini. Kalau ini yang terjadi, maka habislah kita.
Tetapi Tuhan tidak membuang kita yang telah dipilih dan ditakdirkan oleh Allah sebelum dunia dijadikan (Yoh. 6:37; Ef. 1:4-5). Dalam suatu pengertian yang sangat riil, Tuhan Yesus tidak memiliki pilihan. Kita telah ditandai, telah ditakdirkan; bagaimana Dia dapat menolak kita? Bapa telah memilih sebelum dunia dijadikan, dan Tuhan datang untuk melakukan kehendak Allah Bapa. Karena itu, Dia tidak dapat membuang kita, meskipun sebagai “tanah”, kita berada dalam kondisi yang sedemikian kasihan. Lalu, apakah yang Tuhan dapat lakukan terhadap kita, tanah yang gersang dan berpenyakit ini? Sebagaimana yang ditunjukkan dalam Injil Markus, Dia menyembuhkan kita, menyembuhkan tanah ini dan mengubahnya menjadi tanah yang baik. Haleluya!
Bagaimana tanah ini (kita) dapat disembuhkan? Jalan yang tepat untuk menyembuhkan tanah adalah membiarkannya melewati proses kematian dan kebangkitan. Secara prinsip, ini adalah jalan penyembuhan yang terjadi dalam tubuh fisik kita. Sel-sel tubuh kita yang tua dan sakit perlu dimatikan agar segera digantikan dengan sel-sel yang baru. Dia menyembuhkan kita dengan membawa kita kepada salib lalu membawa kita ke dalam kebangkitan.
Hasil dari penyembuhan ini adalah kita menjadi jenis tanah yang baik, dan kita mulai menumbuhkan Kristus. Saudara saudari, khasiat dari kematian dan kebangkitan Kristus terkandung di dalam Roh itu (Rm. 8:13). Ketika kita terbuka kepada Tuhan, menyeru nama-Nya dan berdoa, serta-merta Roh itu memenuhi kita, menyuplai kita, sekaligus menyembuhkan kita. Penyembuhan ini juga berarti menyingkirkan “ilalang” dari dalam hati kita.
Yohanes 6:37
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
Ayat Bacaan: Ef. 1:4-5; Rm. 8:13
Apakah yang akan dilakukan oleh petani bila menemukan bahwa tanah garapannya gersang dan berpenyakit? Di daerah tertentu, di mana lahan masih sangat luas, petani akan meninggalkan tanah yang gersang dan berpenyakit itu lalu mencari tanah garapan baru di tempat lain yang lebih baik. Namun bagaimanakah sikap Tuhan terhadap kita? Bagaimana Tuhan dapat menggunakan kita, tanah yang sakit, tercemar, dan terusak ini? Beberapa orang mungkin berpikir bahwa Dia seharusnya membuang tanah yang tidak berguna ini. Kalau ini yang terjadi, maka habislah kita.
Tetapi Tuhan tidak membuang kita yang telah dipilih dan ditakdirkan oleh Allah sebelum dunia dijadikan (Yoh. 6:37; Ef. 1:4-5). Dalam suatu pengertian yang sangat riil, Tuhan Yesus tidak memiliki pilihan. Kita telah ditandai, telah ditakdirkan; bagaimana Dia dapat menolak kita? Bapa telah memilih sebelum dunia dijadikan, dan Tuhan datang untuk melakukan kehendak Allah Bapa. Karena itu, Dia tidak dapat membuang kita, meskipun sebagai “tanah”, kita berada dalam kondisi yang sedemikian kasihan. Lalu, apakah yang Tuhan dapat lakukan terhadap kita, tanah yang gersang dan berpenyakit ini? Sebagaimana yang ditunjukkan dalam Injil Markus, Dia menyembuhkan kita, menyembuhkan tanah ini dan mengubahnya menjadi tanah yang baik. Haleluya!
Bagaimana tanah ini (kita) dapat disembuhkan? Jalan yang tepat untuk menyembuhkan tanah adalah membiarkannya melewati proses kematian dan kebangkitan. Secara prinsip, ini adalah jalan penyembuhan yang terjadi dalam tubuh fisik kita. Sel-sel tubuh kita yang tua dan sakit perlu dimatikan agar segera digantikan dengan sel-sel yang baru. Dia menyembuhkan kita dengan membawa kita kepada salib lalu membawa kita ke dalam kebangkitan.
Hasil dari penyembuhan ini adalah kita menjadi jenis tanah yang baik, dan kita mulai menumbuhkan Kristus. Saudara saudari, khasiat dari kematian dan kebangkitan Kristus terkandung di dalam Roh itu (Rm. 8:13). Ketika kita terbuka kepada Tuhan, menyeru nama-Nya dan berdoa, serta-merta Roh itu memenuhi kita, menyuplai kita, sekaligus menyembuhkan kita. Penyembuhan ini juga berarti menyingkirkan “ilalang” dari dalam hati kita.
10 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 2 Kamis
Perlu Waspada Terhadap Benih Ilalang
Kolose 2:8
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.
Ayat Bacaan: Mat. 13:25; Mrk. 4:21; 2 Kor. 11:3a
Kita harus mengakui bahwa Kristus bukanlah satu-satunya benih yang bertumbuh di dalam kita (Mat. 13:25). Sebelum Kristus tertabur ke dalam kita, Iblis sudah lebih dahulu menaburkan dirinya sebagai benih dosa di dalam kita. Dan sekarang, dia masih terus menaburkan banyak hal ke dalam kita, bukan hanya hal-hal negatif tetapi juga hal-hal positif yang dapat menggantikan Kristus. Kita semua perlu menyadari bahwa semua benih yang bukan Kristus adalah ilalang!
Hari ini dunia menawarkan banyak hal kepada kita: ilmu pengetahuan, ajaran agama tertentu, tradisi, filsafat, kekayaan, hiburan, nama besar, dan lain sebagainya. Semuanya terlihat positif dan bernilai. Tetapi tahukah Anda bahwa hal-hal itu dapat menggantikan Kristus? Begitu salah satu dari hal-hal tadi ditaburkan Iblis ke dalam hati kita, dan kita membiarkannya bertumbuh, maka hati kita segera diduduki olehnya. Kalau sudah demikian, maka di dalam hati kita tidak ada lagi tempat bagi Kristus (Kol. 2:8). Inilah kelicikan Iblis!
Bagi sebagian anak-anak Allah, keperluan akan sandang, pangan, dan papan, dapat mengalihkan pandangan mereka dari Kristus (Mrk. 4:21). Perlahan-lahan, karena tuntutan kebutuhan primer, beberapa orang mungkin meninggalkan Kristus, tidak lagi mempedulikan Kristus. Mata pencaharian kita dapat menjadi suatu “perkara” yang diperalat Iblis untuk merebut hati kita, supaya kita lebih memperhatikan penghidupan kita dan mengabaikan Kristus.
Saudara saudari yang terkasih, apakah Anda mengasihi Tuhan? Apakah Anda juga mengasihi yang lain? Kita semua memang mengasihi Tuhan, tetapi di samping Tuhan, seringkali masih ada yang lain. Coba lihat pikiran Anda, sepanjang hari pikiran Anda memikirkan apa saja? Paulus berkata, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus” (2 Kor. 11:3a). Sampai di sini kita harus sujud di hadapan Tuhan dan berdoa, “Tuhan, belas kasihanilah aku, aku tidak mampu membereskan pikiranku. Tuhan, selamatkan pikiranku, supaya pikiranku bisa terarah kepada-Mu. Mohon Engkau memeriksa pikiranku, menyelamatkan pikiranku.” Kita semua perlu baik-baik berdoa untuk hal ini.
Kolose 2:8
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.
Ayat Bacaan: Mat. 13:25; Mrk. 4:21; 2 Kor. 11:3a
Kita harus mengakui bahwa Kristus bukanlah satu-satunya benih yang bertumbuh di dalam kita (Mat. 13:25). Sebelum Kristus tertabur ke dalam kita, Iblis sudah lebih dahulu menaburkan dirinya sebagai benih dosa di dalam kita. Dan sekarang, dia masih terus menaburkan banyak hal ke dalam kita, bukan hanya hal-hal negatif tetapi juga hal-hal positif yang dapat menggantikan Kristus. Kita semua perlu menyadari bahwa semua benih yang bukan Kristus adalah ilalang!
Hari ini dunia menawarkan banyak hal kepada kita: ilmu pengetahuan, ajaran agama tertentu, tradisi, filsafat, kekayaan, hiburan, nama besar, dan lain sebagainya. Semuanya terlihat positif dan bernilai. Tetapi tahukah Anda bahwa hal-hal itu dapat menggantikan Kristus? Begitu salah satu dari hal-hal tadi ditaburkan Iblis ke dalam hati kita, dan kita membiarkannya bertumbuh, maka hati kita segera diduduki olehnya. Kalau sudah demikian, maka di dalam hati kita tidak ada lagi tempat bagi Kristus (Kol. 2:8). Inilah kelicikan Iblis!
Bagi sebagian anak-anak Allah, keperluan akan sandang, pangan, dan papan, dapat mengalihkan pandangan mereka dari Kristus (Mrk. 4:21). Perlahan-lahan, karena tuntutan kebutuhan primer, beberapa orang mungkin meninggalkan Kristus, tidak lagi mempedulikan Kristus. Mata pencaharian kita dapat menjadi suatu “perkara” yang diperalat Iblis untuk merebut hati kita, supaya kita lebih memperhatikan penghidupan kita dan mengabaikan Kristus.
Saudara saudari yang terkasih, apakah Anda mengasihi Tuhan? Apakah Anda juga mengasihi yang lain? Kita semua memang mengasihi Tuhan, tetapi di samping Tuhan, seringkali masih ada yang lain. Coba lihat pikiran Anda, sepanjang hari pikiran Anda memikirkan apa saja? Paulus berkata, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus” (2 Kor. 11:3a). Sampai di sini kita harus sujud di hadapan Tuhan dan berdoa, “Tuhan, belas kasihanilah aku, aku tidak mampu membereskan pikiranku. Tuhan, selamatkan pikiranku, supaya pikiranku bisa terarah kepada-Mu. Mohon Engkau memeriksa pikiranku, menyelamatkan pikiranku.” Kita semua perlu baik-baik berdoa untuk hal ini.
09 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 2 Rabu
Tanggung Jawab Kita Terhadap Pertumbuhan Benih Ilahi
1 Petrus 2:2
Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.
Ayat Bacaan: Kol. 1:27; 3:4; 1 Kor. 15:10
Kolose 1:27b berkata, ”Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” Ketika injil diberitakan kepada kita dan kita percaya, Kristus masuk ke dalam kita sebagai benih hayat. Benih ini di dalam kita adalah harapan kita akan kemuliaan di masa yang akan datang. Harapan kita untuk dibawa masuk ke dalam ekspresi penuh Allah ada di dalam benih Kristus ini. Hari ini, kita belum kelihatan mulia karena Kristus yang di dalam kita belum cukup bertumbuh.
Suatu hari, ketika Kristus bertumbuh secara penuh, Dia akan ”mekar” di dalam kita. Apa yang tersembunyi di dalam benih ini akan diekspresikan secara penuh, dan kita akan dimuliakan! Kolose 3:4 memberitahu kita bahwa ”Apabila Kristus yang adalah hayat kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Pertama, benih ini ditaburkan ke dalam roh kita. Kemudian, benih itu bertumbuh ke dalam seluruh bagian jiwa kita; dan akhirnya, benih itu bahkan memenuhi dan menjenuhi tubuh jasmaniah kita, membuat kita serupa dengan gambar Kristus, Putra sulung Allah. O, betapa mulianya hari itu.
Tetapi sekarang, kita semua harus bertumbuh dalam hayat. Pertumbuhan Kristus sebagai benih di dalam kita juga adalah pertumbuhan kita di dalam hayat ilahi. Dimuliakannya kita bersama-sama dengan Kristus bukanlah suatu keajaiban yang muncul tiba-tiba, tetapi merupakan hasil pertumbuhan hayat. Benih tertabur di dalam kita, masih belum cukup. Kita perlu berjerih lelah seperti petani, secara berkesinambungan menggemburkan tanah, memberi pupuk, dan menyiraminya. Dalam Satu Korintus 15:10 Paulus berkata bahwa dia lebih berjerih lelah daripada rasul-rasul yang lain. Paulus berjerih lelah untuk penaburan dan pertumbuhan benih ilahi di dalam kaum beriman.
Menurut pengalaman banyak anak-anak Allah, doa dan firman sangat membantu kita untuk bertumbuh dalam hayat. Melalui doa dan firman, benih ilahi mendapatkan penyiraman dan perawatan untuk bertumbuh. Oleh sebab itu, di tengah kesibukan kita, kita harus dapat merebut setiap kesempatan untuk berdoa dan menikmati firman demi pertumbuhan-Nya di dalam kita.
1 Petrus 2:2
Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.
Ayat Bacaan: Kol. 1:27; 3:4; 1 Kor. 15:10
Kolose 1:27b berkata, ”Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” Ketika injil diberitakan kepada kita dan kita percaya, Kristus masuk ke dalam kita sebagai benih hayat. Benih ini di dalam kita adalah harapan kita akan kemuliaan di masa yang akan datang. Harapan kita untuk dibawa masuk ke dalam ekspresi penuh Allah ada di dalam benih Kristus ini. Hari ini, kita belum kelihatan mulia karena Kristus yang di dalam kita belum cukup bertumbuh.
Suatu hari, ketika Kristus bertumbuh secara penuh, Dia akan ”mekar” di dalam kita. Apa yang tersembunyi di dalam benih ini akan diekspresikan secara penuh, dan kita akan dimuliakan! Kolose 3:4 memberitahu kita bahwa ”Apabila Kristus yang adalah hayat kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Pertama, benih ini ditaburkan ke dalam roh kita. Kemudian, benih itu bertumbuh ke dalam seluruh bagian jiwa kita; dan akhirnya, benih itu bahkan memenuhi dan menjenuhi tubuh jasmaniah kita, membuat kita serupa dengan gambar Kristus, Putra sulung Allah. O, betapa mulianya hari itu.
Tetapi sekarang, kita semua harus bertumbuh dalam hayat. Pertumbuhan Kristus sebagai benih di dalam kita juga adalah pertumbuhan kita di dalam hayat ilahi. Dimuliakannya kita bersama-sama dengan Kristus bukanlah suatu keajaiban yang muncul tiba-tiba, tetapi merupakan hasil pertumbuhan hayat. Benih tertabur di dalam kita, masih belum cukup. Kita perlu berjerih lelah seperti petani, secara berkesinambungan menggemburkan tanah, memberi pupuk, dan menyiraminya. Dalam Satu Korintus 15:10 Paulus berkata bahwa dia lebih berjerih lelah daripada rasul-rasul yang lain. Paulus berjerih lelah untuk penaburan dan pertumbuhan benih ilahi di dalam kaum beriman.
Menurut pengalaman banyak anak-anak Allah, doa dan firman sangat membantu kita untuk bertumbuh dalam hayat. Melalui doa dan firman, benih ilahi mendapatkan penyiraman dan perawatan untuk bertumbuh. Oleh sebab itu, di tengah kesibukan kita, kita harus dapat merebut setiap kesempatan untuk berdoa dan menikmati firman demi pertumbuhan-Nya di dalam kita.
08 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 2 Selasa
Pertumbuhan Benih Kristus di Dalam Kita dan Hasilnya
Kolose 3:4
Apabila Kristus, yang adalah hidup (hayat) kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.
Ayat Bacaan: Mrk. 4:26-29; Yes. 53:2; Yoh. 1:14; 1 Kor. 15:43, 45
Pernahkah Anda memperhatikan benih tanaman anyelir? Dari sudut manapun kita melihatnya, tidak ada sesuatu yang menarik atau yang istimewa pada benih tersebut. Ukurannya kecil dan berwarna agak gelap, seperti kebanyakan biji-bijian pada umumnya. Namun ketika benih anyelir itu kita taburkan di tanah yang baik, setelah tiga atau empat hari, benih itu akan pecah dan dari dalamnya keluar tonjolan tunas muda. Bila kita berikan penyiraman yang cukup, dalam satu atau dua minggu kemudian kita sudah bisa menemukan batangnya dengan beberapa helai daun muda. Dengan memberikan pupuk dan penyiraman yang baik, satu bulan kemudian tanaman ini sudah dapat mengeluarkan sekuntum bunga anyelir yang indah.
Dua ribu tahun yang lalu, Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai sebutir benih. Secara lahiriah, tidak ada yang istimewa pada penampilan-Nya. Yesaya 53:2 mengatakan bahwa “Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.” Walau demikian, di dalam manusia Yesus ini, terkandung segala keindahan kebajikan Allah. Suatu hari “benih” ini naik di atas salib, dipecahkan di sana dan mati, namun pada hari yang ketiga Dia bangkit dan tertampaklah kemuliaan-Nya yang penuh (Yoh. 1:14; 1 Kor. 15:43, 45).
Sebagai Roh pemberi hayat, telah menaburkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Secara lahiriah, kita tidak ada bedanya dengan manusia pada umumnya. Tetapi di dalam kita, ada yang berbeda, yakni ada benih ilahi yang sedang bertumbuh. Kalau kita memperhatikan dan membiarkan benih ini bertumbuh, maka pada suatu hari benih ini akan “mekar” di dalam kita (Kol. 3:4). Kristus yang “mekar” di dalam kita itulah yang disebut sebagai Kerajaan Allah.
Jadi Kerajaan Allah merupakan perbesaran, pertambahan, kepenuhan, dan ekspresi Kristus di dalam kaum beriman. Namun sayang, karena kelemahan kita, Kristus belum bisa menyatakan diri-Nya melalui kita sebab pertumbuhan-Nya sering terhambat oleh sikap kita. Secara sengaja atau tidak, seringkali kita mengabaikan Kristus, sebaliknya menerima hal-hal lain di luar Kristus. Tidak heran, lewat beberapa tahun, Kristus belum juga terwujud melalui kita.
Kolose 3:4
Apabila Kristus, yang adalah hidup (hayat) kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.
Ayat Bacaan: Mrk. 4:26-29; Yes. 53:2; Yoh. 1:14; 1 Kor. 15:43, 45
Pernahkah Anda memperhatikan benih tanaman anyelir? Dari sudut manapun kita melihatnya, tidak ada sesuatu yang menarik atau yang istimewa pada benih tersebut. Ukurannya kecil dan berwarna agak gelap, seperti kebanyakan biji-bijian pada umumnya. Namun ketika benih anyelir itu kita taburkan di tanah yang baik, setelah tiga atau empat hari, benih itu akan pecah dan dari dalamnya keluar tonjolan tunas muda. Bila kita berikan penyiraman yang cukup, dalam satu atau dua minggu kemudian kita sudah bisa menemukan batangnya dengan beberapa helai daun muda. Dengan memberikan pupuk dan penyiraman yang baik, satu bulan kemudian tanaman ini sudah dapat mengeluarkan sekuntum bunga anyelir yang indah.
Dua ribu tahun yang lalu, Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai sebutir benih. Secara lahiriah, tidak ada yang istimewa pada penampilan-Nya. Yesaya 53:2 mengatakan bahwa “Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.” Walau demikian, di dalam manusia Yesus ini, terkandung segala keindahan kebajikan Allah. Suatu hari “benih” ini naik di atas salib, dipecahkan di sana dan mati, namun pada hari yang ketiga Dia bangkit dan tertampaklah kemuliaan-Nya yang penuh (Yoh. 1:14; 1 Kor. 15:43, 45).
Sebagai Roh pemberi hayat, telah menaburkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Secara lahiriah, kita tidak ada bedanya dengan manusia pada umumnya. Tetapi di dalam kita, ada yang berbeda, yakni ada benih ilahi yang sedang bertumbuh. Kalau kita memperhatikan dan membiarkan benih ini bertumbuh, maka pada suatu hari benih ini akan “mekar” di dalam kita (Kol. 3:4). Kristus yang “mekar” di dalam kita itulah yang disebut sebagai Kerajaan Allah.
Jadi Kerajaan Allah merupakan perbesaran, pertambahan, kepenuhan, dan ekspresi Kristus di dalam kaum beriman. Namun sayang, karena kelemahan kita, Kristus belum bisa menyatakan diri-Nya melalui kita sebab pertumbuhan-Nya sering terhambat oleh sikap kita. Secara sengaja atau tidak, seringkali kita mengabaikan Kristus, sebaliknya menerima hal-hal lain di luar Kristus. Tidak heran, lewat beberapa tahun, Kristus belum juga terwujud melalui kita.
07 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 2 Senin
Pengakhiran Hal-hal Milik Ciptaan Lama dan Hasilnya
Ibrani 13:21a
Kiranya (Allah) memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus.
Ayat Bacaan: Rm. 6:5; 8:8; 1 Kor. 15:50
Dahulu di China terdapat dua jenis pelayanan darurat bagi masyarakat di bidang kesehatan, yaitu “Palang Merah” dan “Palang Biru”. Palang Merah khusus mengurusi orang-orang yang terluka dalam peperangan, mengurusi mereka yang masih hidup. Sedangkan Palang Biru mengurusi orang-orang yang sudah mati akibat bencana kelaparan, banjir, atau peperangan; sekaligus mengurus pemakaman mereka.
Dalam menanggulangi kita dengan salib Kristus, Allah jauh lebih dahsyat daripada Palang Merah. Dia tidak pernah memperbaiki ciptaan lama. Malahan, orang-orang yang masih hidup dihukum mati di salib dan dikubur, agar mereka dapat dibangkitkan dalam hidup yang baru. Begitu daging kita dan hal-hal milik ciptaan lama dikuburkan, maka dihasilkanlah suatu kehidupan yang tepat, suatu kehidupan yang melaksanakan kehendak Allah (Ibr. 13:21).
Roma 6:5 mengatakan, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan Dia dalam apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan Dia dalam apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Tl.). Setelah melewati kematian dan penguburan, barulah ada kebangkitan. Melalui baptisan kita masuk ke dalam kematian-Nya, tetapi melalui kebangkitan-Nya, Dia masuk ke dalam kita, membagikan hayat yang baru kepada kita.
Hanya satu jenis hayat yang sepenuhnya diperkenan oleh Allah, yakni hayat Kristus. Mengapa? Karena hayat ini adalah hayat kebangkitan, hayat yang sepenuhnya bagi Kerajaan Allah. Puji Tuhan, Kristus hari ini adalah hayat kita. Di dalam Dia kita telah disalibkan, dikuburkan, dan dibangkitkan. Kini Dia sebagai Roh itu hidup di dalam kita, waktu demi waktu membimbing kita menempuh kehidupan yang sepenuhnya bagi Kerajaan Allah.
Di luar Kristus, tidak ada apa pun dari diri kita yang dapat diperkenan Allah. Satu Korintus 15:50 menegaskan, “... daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah...” ; dan mereka yang hidup di dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah (Rm. 8:8). Allah tidak mementingkan apa yang kita lakukan, tetapi Dia mementingkan sumbernya. Tidak peduli besarnya pelayanan kita, asal itu berasal dari daging, tidak mungkin diperkenan oleh-Nya.
Ibrani 13:21a
Kiranya (Allah) memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus.
Ayat Bacaan: Rm. 6:5; 8:8; 1 Kor. 15:50
Dahulu di China terdapat dua jenis pelayanan darurat bagi masyarakat di bidang kesehatan, yaitu “Palang Merah” dan “Palang Biru”. Palang Merah khusus mengurusi orang-orang yang terluka dalam peperangan, mengurusi mereka yang masih hidup. Sedangkan Palang Biru mengurusi orang-orang yang sudah mati akibat bencana kelaparan, banjir, atau peperangan; sekaligus mengurus pemakaman mereka.
Dalam menanggulangi kita dengan salib Kristus, Allah jauh lebih dahsyat daripada Palang Merah. Dia tidak pernah memperbaiki ciptaan lama. Malahan, orang-orang yang masih hidup dihukum mati di salib dan dikubur, agar mereka dapat dibangkitkan dalam hidup yang baru. Begitu daging kita dan hal-hal milik ciptaan lama dikuburkan, maka dihasilkanlah suatu kehidupan yang tepat, suatu kehidupan yang melaksanakan kehendak Allah (Ibr. 13:21).
Roma 6:5 mengatakan, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan Dia dalam apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan Dia dalam apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Tl.). Setelah melewati kematian dan penguburan, barulah ada kebangkitan. Melalui baptisan kita masuk ke dalam kematian-Nya, tetapi melalui kebangkitan-Nya, Dia masuk ke dalam kita, membagikan hayat yang baru kepada kita.
Hanya satu jenis hayat yang sepenuhnya diperkenan oleh Allah, yakni hayat Kristus. Mengapa? Karena hayat ini adalah hayat kebangkitan, hayat yang sepenuhnya bagi Kerajaan Allah. Puji Tuhan, Kristus hari ini adalah hayat kita. Di dalam Dia kita telah disalibkan, dikuburkan, dan dibangkitkan. Kini Dia sebagai Roh itu hidup di dalam kita, waktu demi waktu membimbing kita menempuh kehidupan yang sepenuhnya bagi Kerajaan Allah.
Di luar Kristus, tidak ada apa pun dari diri kita yang dapat diperkenan Allah. Satu Korintus 15:50 menegaskan, “... daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah...” ; dan mereka yang hidup di dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah (Rm. 8:8). Allah tidak mementingkan apa yang kita lakukan, tetapi Dia mementingkan sumbernya. Tidak peduli besarnya pelayanan kita, asal itu berasal dari daging, tidak mungkin diperkenan oleh-Nya.
06 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 2 Minggu
Penilaian Allah Terhadap Kita dan Akibatnya
2 Korintus 12:9
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
Ayat Bacaan: Mrk. 1:1-5; 2 Kor. 12:9
Mengapa Allah menyalibkan Kristus? Mengapa Allah harus menyalibkan kita bersama dengan Kristus? Baiklah kita mengambil satu perumpamaan. Di sini ada seorang perampok, dan hakim menganggap pelanggaran orang ini tidak terlalu berat, lalu menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara. Ada pula seorang perampok yang lain, tetapi hakim itu menjatuhkan hukuman mati. Mengapa yang satu dihukum sepuluh tahun penjara, yang satu dihukum mati? Mengapa demikian? Karena terhadap perampok yang dihukum sepuluh tahun penjara ini, hakim masih menaruh pengharapan terhadapnya, mengharapkan dia kelak bisa berubah menjadi seorang warga negara yang baik. Sebab itulah ia menjatuhkan hukuman sepuluh tahun, setelah itu melepaskan dia. Tetapi terhadap perampok yang satunya lagi, negara tidak dapat menaruh pengharapan kepadanya. Karena dosanya terlampau besar dan dianggap sama sekali tidak berguna lagi bagi negara, maka hanya ada satu cara untuk menghukum dia - menjatuhkan hukuman mati!
Bagaimanakah pandangan Allah terhadap kita? Terhadap kita, Allah sama sekali tidak menaruh pengharapan. Allah melihat kita sama sekali tidak dapat ditolong, Allah melihat kita tidak bisa berubah menjadi baik; daging kita sangat rusak, benar-benar tidak dapat diperbaiki. Karena Allah tidak menaruh pengharapan terhadap kita, maka Ia mencakupkan kita ke dalam penyaliban Kristus. Karena penilaian Allah terhadap kita yang demikianlah maka permulaan Injil harus diawali dengan baptisan (Mrk. 1:4-5), yang menunjukkan pengakhiran hal-hal milik ciptaan lama. Baptisan adalah pengumuman Allah, juga pengakuan kita bahwa daging kita hanya layak untuk mati dan dikuburkan.
Tetapi sebenarnya kita mengakui hal ini atau tidak? Kita sering melakukan perkara yang bertentangan. Di satu pihak kita berpikir telah disalibkan dengan Kristus, di pihak lain kita masih sangat menaruh pengharapan terhadap diri sendiri. Kita masih merasa mampu, masih mengharapkan menang. Saudara saudari ingatlah, syarat beroleh kemenangan adalah tidak mampu. Karena kelemahan kita, Tuhan mempunyai kesempatan bekerja. Justru dalam kelemahanlah kuasa Kristus menjadi sempurna di dalam kita (2 Kor. 12:9).
2 Korintus 12:9
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
Ayat Bacaan: Mrk. 1:1-5; 2 Kor. 12:9
Mengapa Allah menyalibkan Kristus? Mengapa Allah harus menyalibkan kita bersama dengan Kristus? Baiklah kita mengambil satu perumpamaan. Di sini ada seorang perampok, dan hakim menganggap pelanggaran orang ini tidak terlalu berat, lalu menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara. Ada pula seorang perampok yang lain, tetapi hakim itu menjatuhkan hukuman mati. Mengapa yang satu dihukum sepuluh tahun penjara, yang satu dihukum mati? Mengapa demikian? Karena terhadap perampok yang dihukum sepuluh tahun penjara ini, hakim masih menaruh pengharapan terhadapnya, mengharapkan dia kelak bisa berubah menjadi seorang warga negara yang baik. Sebab itulah ia menjatuhkan hukuman sepuluh tahun, setelah itu melepaskan dia. Tetapi terhadap perampok yang satunya lagi, negara tidak dapat menaruh pengharapan kepadanya. Karena dosanya terlampau besar dan dianggap sama sekali tidak berguna lagi bagi negara, maka hanya ada satu cara untuk menghukum dia - menjatuhkan hukuman mati!
Bagaimanakah pandangan Allah terhadap kita? Terhadap kita, Allah sama sekali tidak menaruh pengharapan. Allah melihat kita sama sekali tidak dapat ditolong, Allah melihat kita tidak bisa berubah menjadi baik; daging kita sangat rusak, benar-benar tidak dapat diperbaiki. Karena Allah tidak menaruh pengharapan terhadap kita, maka Ia mencakupkan kita ke dalam penyaliban Kristus. Karena penilaian Allah terhadap kita yang demikianlah maka permulaan Injil harus diawali dengan baptisan (Mrk. 1:4-5), yang menunjukkan pengakhiran hal-hal milik ciptaan lama. Baptisan adalah pengumuman Allah, juga pengakuan kita bahwa daging kita hanya layak untuk mati dan dikuburkan.
Tetapi sebenarnya kita mengakui hal ini atau tidak? Kita sering melakukan perkara yang bertentangan. Di satu pihak kita berpikir telah disalibkan dengan Kristus, di pihak lain kita masih sangat menaruh pengharapan terhadap diri sendiri. Kita masih merasa mampu, masih mengharapkan menang. Saudara saudari ingatlah, syarat beroleh kemenangan adalah tidak mampu. Karena kelemahan kita, Tuhan mempunyai kesempatan bekerja. Justru dalam kelemahanlah kuasa Kristus menjadi sempurna di dalam kita (2 Kor. 12:9).
05 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 1 Sabtu
Kesatuan Kita dengan Kristus sebagai Hayat
Filipi 1:20
Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan ..., Kristus dengan nyata dimuliakan (diperbesar, TL.) di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.
Ayat Bacaan: Gal. 2:19-20; Flp. 1:20
Pernahkah Anda mengamati bagaimana seorang pandai besi tradisional bekerja? Biasanya dia akan menaruh sebatang besi ke dalam api, dibakarnya besi itu hingga merah membara. Setelah merah membara, barulah besi itu diambil dan ditempa. Bila selembar kertas disentuhkan pada besi yang merah membara itu, segera kertas itu terbakar. Batangan besi itu kini telah berbeda dengan besi-besi lainnya. Kita katakan itu besi, tetapi di dalamnya ada api; kita katakan itu bara api, nyatanya ia benar-benar besi.
Karena kita tercakup di dalam Kristus, dan Kristus telah menjadi hayat kita, maka kehidupan kita seharusnya merupakan kelanjutan dari kehidupan Kristus. Allah menghendaki kesatuan kita dengan Kristus sepertilah besi dan api itu. Allah telah mengampuni dosa-dosa kita dan mengakhiri manusia lama kita di dalam Kristus. Tetapi Ia tidak berhenti di sana. Ia ingin kita sepenuhnya esa dengan Kristus, seperti besi yang bersatu dengan api itu. Setiap molekul besi dibaurkan dengan api, dan setiap ciri-ciri api ternyata dalam besi itu. Allah mau supaya segala adanya Kristus tergarap ke dalam kita (Gal. 2:19-20).
Cara penyelamatan Allah terhadap kita ialah Ia masuk ke dalam kita, melaksanakan satu penyelamatan yang efektif dan tuntas. Ia tidak secara luaran mengajar kita ini dan itu, juga tidak menggenggam tangan kita dan menarik kita ke sana ke mari, atau tidak mengizinkan kita begini atau begitu. Cara penyelamatan Allah terhadap kita adalah Kristus sendiri telah menanggalkan tubuh daging-Nya, menjadi Roh pemberi hayat, dan kini dapat masuk ke dalam kita menjadi hayat kita, sehingga Ia dapat memperhidupkan diri-Nya sendiri melalui kita (Flp. 1:20). Inilah satu-satunya jalan penyelamatan Allah.
Ajaran etika, moralitas, atau filsafat manusia mengarahkan kita untuk mengembangkan diri agar menjadi lebih baik, tetapi Alkitab memberitahu kita untuk menerima Kristus sebagai hayat kita dan memperhidupkan Dia. Pekerjaan batini Kristus, jauh melampaui pekerjaan luaran manusia yang bersandar diri sendiri! Setelah Kristus menjadi hayat kita, barulah ada perubahan yang nyata. Perubahan ini bukan berasal dari mendisiplinkan diri dengan penderitaan, melainkan karena Kristus yang ajaib dan berkuasa ini menjadi hayat kita.
Filipi 1:20
Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan ..., Kristus dengan nyata dimuliakan (diperbesar, TL.) di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.
Ayat Bacaan: Gal. 2:19-20; Flp. 1:20
Pernahkah Anda mengamati bagaimana seorang pandai besi tradisional bekerja? Biasanya dia akan menaruh sebatang besi ke dalam api, dibakarnya besi itu hingga merah membara. Setelah merah membara, barulah besi itu diambil dan ditempa. Bila selembar kertas disentuhkan pada besi yang merah membara itu, segera kertas itu terbakar. Batangan besi itu kini telah berbeda dengan besi-besi lainnya. Kita katakan itu besi, tetapi di dalamnya ada api; kita katakan itu bara api, nyatanya ia benar-benar besi.
Karena kita tercakup di dalam Kristus, dan Kristus telah menjadi hayat kita, maka kehidupan kita seharusnya merupakan kelanjutan dari kehidupan Kristus. Allah menghendaki kesatuan kita dengan Kristus sepertilah besi dan api itu. Allah telah mengampuni dosa-dosa kita dan mengakhiri manusia lama kita di dalam Kristus. Tetapi Ia tidak berhenti di sana. Ia ingin kita sepenuhnya esa dengan Kristus, seperti besi yang bersatu dengan api itu. Setiap molekul besi dibaurkan dengan api, dan setiap ciri-ciri api ternyata dalam besi itu. Allah mau supaya segala adanya Kristus tergarap ke dalam kita (Gal. 2:19-20).
Cara penyelamatan Allah terhadap kita ialah Ia masuk ke dalam kita, melaksanakan satu penyelamatan yang efektif dan tuntas. Ia tidak secara luaran mengajar kita ini dan itu, juga tidak menggenggam tangan kita dan menarik kita ke sana ke mari, atau tidak mengizinkan kita begini atau begitu. Cara penyelamatan Allah terhadap kita adalah Kristus sendiri telah menanggalkan tubuh daging-Nya, menjadi Roh pemberi hayat, dan kini dapat masuk ke dalam kita menjadi hayat kita, sehingga Ia dapat memperhidupkan diri-Nya sendiri melalui kita (Flp. 1:20). Inilah satu-satunya jalan penyelamatan Allah.
Ajaran etika, moralitas, atau filsafat manusia mengarahkan kita untuk mengembangkan diri agar menjadi lebih baik, tetapi Alkitab memberitahu kita untuk menerima Kristus sebagai hayat kita dan memperhidupkan Dia. Pekerjaan batini Kristus, jauh melampaui pekerjaan luaran manusia yang bersandar diri sendiri! Setelah Kristus menjadi hayat kita, barulah ada perubahan yang nyata. Perubahan ini bukan berasal dari mendisiplinkan diri dengan penderitaan, melainkan karena Kristus yang ajaib dan berkuasa ini menjadi hayat kita.
04 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 1 Jumat
Berada di Dalam Kristus
Kolose 2:12
Karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.
Ayat Bacaan: 1 Kor. 1:30; Kol. 2:12; Flp. 4:13
Sering kali ketika memberitakan Injil di desa-desa, orang harus memakai ilustrasi yang sangat sederhana untuk menggambarkan kebenaran ilahi yang dalam. Saudara Watchman Nee suatu ketika memberitakan Injil di sebuah desa dan harus menjelaskan sesuatu yang tidak mudah dimengerti, yakni tentang istilah “di dalam Kristus”. Pada saat itu dia mengambil sebuah buku kecil dan menyisipkan selembar kertas di dalamnya, lalu dia berkata kepada orang-orang yang lugu itu, “Perhatikan dengan cermat. Saya mengambil selembar kertas, yang memiliki ciri-ciri tersendiri, yang berbeda dengan buku ini. Saya sisipkan kertas itu ke dalam buku ini. Lalu saya mengirimkan buku ini ke Shanghai lewat pos. Lalu, di manakah kertas itu? Mungkinkah buku ini tiba di Shanghai, sedangkan kertas itu tetap di sini? Mungkinkah nasib kertas itu berbeda dengan nasib buku ini? Tidak! Ke mana buku ini pergi kertas itu pun ada di situ. Jika saya melemparkan buku ini ke sungai, kertasnya pun jatuh ke sungai; jika saya dengan cepat mengambilnya lagi, saya pun mendapatkan kertas itu lagi. Pengalaman apa saja yang dialami buku itu, juga dialami oleh kertas itu, karena ia ada di dalam buku itu.”
Karena Allah sendiri telah menaruh kita di dalam Kristus (1 Kor. 1:30), maka ketika Ia membiarkan Kristus disalibkan, umat manusia yang ada di dalam Kristus juga disalibkan. Apa yang Dia alami, kita pun mengalaminya; karena berada “di dalam Kristus” berarti bersatu dengan Dia baik dalam kematian maupun dalam kebangkitan-Nya (Kol. 2:12). Ketika Ia disalibkan, kita semua disalibkan bersama-Nya; ketika Dia dikuburkan, kita pun dikuburkan bersama-Nya; ketika Dia dibangkitkan, kita pun dibangkitkan bersama-Nya.
Kalau kita menyadari bahwa Allah telah meletakkan kita dalam Kristus dan kita mau membiarkan Kristus menggantikan kita, kita tidak akan lagi berusaha dengan kekuatan diri sendiri untuk mengalahkan dosa atau untuk memiliki hidup yang berkemenangan, tetapi kita akan berpaling ke dalam roh kita karena Kristus ada di sana. Di dalam Kristus, kita menikmati anugerah, suplai hayat, dan kekuatan untuk mengalahkan dosa; bahkan Alkitab menegaskan bahwa segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia (Flp. 4:13). Haleluya!
Kolose 2:12
Karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.
Ayat Bacaan: 1 Kor. 1:30; Kol. 2:12; Flp. 4:13
Sering kali ketika memberitakan Injil di desa-desa, orang harus memakai ilustrasi yang sangat sederhana untuk menggambarkan kebenaran ilahi yang dalam. Saudara Watchman Nee suatu ketika memberitakan Injil di sebuah desa dan harus menjelaskan sesuatu yang tidak mudah dimengerti, yakni tentang istilah “di dalam Kristus”. Pada saat itu dia mengambil sebuah buku kecil dan menyisipkan selembar kertas di dalamnya, lalu dia berkata kepada orang-orang yang lugu itu, “Perhatikan dengan cermat. Saya mengambil selembar kertas, yang memiliki ciri-ciri tersendiri, yang berbeda dengan buku ini. Saya sisipkan kertas itu ke dalam buku ini. Lalu saya mengirimkan buku ini ke Shanghai lewat pos. Lalu, di manakah kertas itu? Mungkinkah buku ini tiba di Shanghai, sedangkan kertas itu tetap di sini? Mungkinkah nasib kertas itu berbeda dengan nasib buku ini? Tidak! Ke mana buku ini pergi kertas itu pun ada di situ. Jika saya melemparkan buku ini ke sungai, kertasnya pun jatuh ke sungai; jika saya dengan cepat mengambilnya lagi, saya pun mendapatkan kertas itu lagi. Pengalaman apa saja yang dialami buku itu, juga dialami oleh kertas itu, karena ia ada di dalam buku itu.”
Karena Allah sendiri telah menaruh kita di dalam Kristus (1 Kor. 1:30), maka ketika Ia membiarkan Kristus disalibkan, umat manusia yang ada di dalam Kristus juga disalibkan. Apa yang Dia alami, kita pun mengalaminya; karena berada “di dalam Kristus” berarti bersatu dengan Dia baik dalam kematian maupun dalam kebangkitan-Nya (Kol. 2:12). Ketika Ia disalibkan, kita semua disalibkan bersama-Nya; ketika Dia dikuburkan, kita pun dikuburkan bersama-Nya; ketika Dia dibangkitkan, kita pun dibangkitkan bersama-Nya.
Kalau kita menyadari bahwa Allah telah meletakkan kita dalam Kristus dan kita mau membiarkan Kristus menggantikan kita, kita tidak akan lagi berusaha dengan kekuatan diri sendiri untuk mengalahkan dosa atau untuk memiliki hidup yang berkemenangan, tetapi kita akan berpaling ke dalam roh kita karena Kristus ada di sana. Di dalam Kristus, kita menikmati anugerah, suplai hayat, dan kekuatan untuk mengalahkan dosa; bahkan Alkitab menegaskan bahwa segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia (Flp. 4:13). Haleluya!
03 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 1 Kamis
Gagal Memahami Maksud Tuhan
Efesus 5:17
Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
Ayat Bacaan: Mrk. 8:31; 9:31; 10:33-34; Mzm. 86:15
Perkara rohani memang berbeda dengan ilmu pengetahuan. Untuk memahami suatu pengetahuan ilmiah atau ilmu filsafat, kita cukup mengembangkan kapasitas nalar atau kecerdasan kita. Namun untuk menerima hal-hal rohani, apalagi yang berhubungan dengan wahyu ilahi, kita memerlukan indera rohani yang sehat, khususnya mata rohani kita. Orang yang mata rohaninya buta, mustahil dapat menerima wahyu. Oleh sebab itu, kita semua memerlukan belas kasih Tuhan, mengharapkan Dia menyembuhkan kebutaan kita, sehingga dapat mengenal Dia dan maksud hati-Nya.
Karena kebutaan murid-murid-Nya, Tuhan harus mengulangi sampai tiga kali pewahyuan-Nya tentang kematian dan kebangkitan-Nya (Mrk. 8:31; 9:31; 10:33-34). Bukankah ini juga adalah pengalaman kita? Ya, demi mewahyukan sesuatu, Tuhan seringkali perlu berulang-ulang berbicara kepada kita, karena kebutaan kita. Banyak firman yang kita dengar belakangan ini merupakan “pengulangan” dari apa yang sudah pernah kita dengar dulu. Bahkan di dalam Alkitab, ada satu kitab yang dinamakan kitab Ulangan. Mengapa Tuhan perlu mengulangi perkataan-Nya kepada kita? Yang pasti bukan karena Tuhan senang mengulang-ulang, tetapi karena kita belum bisa sepenuhnya menangkap apa yang Dia maksudkan. Puji Tuhan, Dia sabar terhadap kita, sebab itu Dia rela mengulangi perkataan-Nya demi kebaikan kita (Mzm. 86:15).
Tuhan tidak pernah lelah berbicara kepada kita, tetapi ada kemungkinan kita mulai bosan terhadap firman-Nya. Ketika firman diberitakan, tidak jarang kita merasa sudah tahu, sudah pernah mendengar, atau sudah mengerti, sehingga kita menggerutu di dalam hati, “Mengapa firman itu lagi yang dibicarakan? Bukankah dulu sudah pernah disampaikan?” Saudara saudari, jangan menganggap diri sendiri sudah cukup mengerti. Justru kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Tuhan, mengapa setelah lewat beberapa tahun Engkau masih membicarakan hal yang sama kepadaku? Tuhan, aku mau baik-baik mendengarkan lagi pembicaraan-Mu”. Kalau kita berdoa demikian, maka Tuhan akan menerangi kita, menyembuhkan kebutaan kita, dan mewahyukan sesuatu ke dalam kita sehingga kita makin mengenal Dia dan maksud hati-Nya.
Efesus 5:17
Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
Ayat Bacaan: Mrk. 8:31; 9:31; 10:33-34; Mzm. 86:15
Perkara rohani memang berbeda dengan ilmu pengetahuan. Untuk memahami suatu pengetahuan ilmiah atau ilmu filsafat, kita cukup mengembangkan kapasitas nalar atau kecerdasan kita. Namun untuk menerima hal-hal rohani, apalagi yang berhubungan dengan wahyu ilahi, kita memerlukan indera rohani yang sehat, khususnya mata rohani kita. Orang yang mata rohaninya buta, mustahil dapat menerima wahyu. Oleh sebab itu, kita semua memerlukan belas kasih Tuhan, mengharapkan Dia menyembuhkan kebutaan kita, sehingga dapat mengenal Dia dan maksud hati-Nya.
Karena kebutaan murid-murid-Nya, Tuhan harus mengulangi sampai tiga kali pewahyuan-Nya tentang kematian dan kebangkitan-Nya (Mrk. 8:31; 9:31; 10:33-34). Bukankah ini juga adalah pengalaman kita? Ya, demi mewahyukan sesuatu, Tuhan seringkali perlu berulang-ulang berbicara kepada kita, karena kebutaan kita. Banyak firman yang kita dengar belakangan ini merupakan “pengulangan” dari apa yang sudah pernah kita dengar dulu. Bahkan di dalam Alkitab, ada satu kitab yang dinamakan kitab Ulangan. Mengapa Tuhan perlu mengulangi perkataan-Nya kepada kita? Yang pasti bukan karena Tuhan senang mengulang-ulang, tetapi karena kita belum bisa sepenuhnya menangkap apa yang Dia maksudkan. Puji Tuhan, Dia sabar terhadap kita, sebab itu Dia rela mengulangi perkataan-Nya demi kebaikan kita (Mzm. 86:15).
Tuhan tidak pernah lelah berbicara kepada kita, tetapi ada kemungkinan kita mulai bosan terhadap firman-Nya. Ketika firman diberitakan, tidak jarang kita merasa sudah tahu, sudah pernah mendengar, atau sudah mengerti, sehingga kita menggerutu di dalam hati, “Mengapa firman itu lagi yang dibicarakan? Bukankah dulu sudah pernah disampaikan?” Saudara saudari, jangan menganggap diri sendiri sudah cukup mengerti. Justru kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Tuhan, mengapa setelah lewat beberapa tahun Engkau masih membicarakan hal yang sama kepadaku? Tuhan, aku mau baik-baik mendengarkan lagi pembicaraan-Mu”. Kalau kita berdoa demikian, maka Tuhan akan menerangi kita, menyembuhkan kebutaan kita, dan mewahyukan sesuatu ke dalam kita sehingga kita makin mengenal Dia dan maksud hati-Nya.
02 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 1 Rabu
Jalan Untuk Mengenal Kristus, Sang Terurap
Efesus 1:17
Dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.
Ayat Bacaan: Mrk. 8:27-29; 1 Kor. 15:45; Yoh. 6:63; Gal. 1:15-16; Ef. 1:17; Rm. 12:2
Setelah menyembuhkan penyakit pengikut-Nya dan menanggulangi hati orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, barulah Tuhan Yesus mewahyukan diri-Nya kepada murid-murid. Urutan di sini sungguh bermakna. Setelah penyakit rohani kita disembuhkan, setelah fungsi organ-organ rohani kita dipulihkan, dan setelah hati kita ditanggulangi, barulah Tuhan berkenan mewahyukan diri-Nya kepada kita bahwa Dialah Mesias (Kristus). Pewahyuan ini tercatat dalam Injil Markus 8:27-29, yakni ketika Yesus dan murid-muridnya sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Kaisarea Filipi.
Gelar “Mesias” atau yang dalam bahasa Yunani disebut “Christos” berarti yang diurapi. Di dalam Alkitab, ketika seseorang diurapi berarti ia telah dipilih oleh Allah untuk mengemban suatu amanat khusus. Demikian pula Tuhan, sebagai yang diurapi, telah dipilih untuk melaksanakan tujuan Allah yaitu menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih ilahi ke dalam kita. Dalam Injil Markus, aspek pertama dari amanat Tuhan sebagai yang diurapi adalah ini. Penekanan ministri Tuhan dalam Injil Markus bukanlah berkhotbah, tetapi menaburkan diri-Nya ke dalam kita, umat pilihan Allah. Haleluya!
Dalam situasi yang bagaimanakah Tuhan mewahyukan diri-Nya kepada murid-murid? Ketika murid-murid dekat dan akrab berjalan bersama Tuhan (Mrk. 8:27). Apakah selama ini kita cukup dekat dan akrab berjalan bersama Tuhan? Kita perlu dekat dan akrab berjalan bersama Tuhan, baru kemudian bisa memahami perkara-perkara rohani yang Tuhan katakan. Hal demikian dialami oleh Petrus dan murid-murid lain, dan pengertian mereka akhirnya terbuka pada hari Pentakosta. Memang hari ini kita tidak bisa berjalan dengan Tuhan secara jasmaniah karena Tuhan sudah bangkit, tetapi kita tetap dapat berjalan bersama Tuhan dengan firman-Nya. Dalam kebangkitan, Tuhan adalah Roh itu (1 Kor. 15:45) dan Dia terwujud di dalam firman (Yoh. 6:63). Tiap kali kita membaca dan mendoakan firman hidup itu, maka Tuhan akan lebih banyak mewahyukan diri-Nya kepada kita (Gal. 1:15-16), sehingga kita akan mengenal Dia dan kehendak-Nya (Ef. 1:17; Rm. 12:2). Kiranya kita semua adalah orang yang selalu dekat dan akrab berjalan bersama Tuhan di dalam firman-Nya.
Efesus 1:17
Dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.
Ayat Bacaan: Mrk. 8:27-29; 1 Kor. 15:45; Yoh. 6:63; Gal. 1:15-16; Ef. 1:17; Rm. 12:2
Setelah menyembuhkan penyakit pengikut-Nya dan menanggulangi hati orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, barulah Tuhan Yesus mewahyukan diri-Nya kepada murid-murid. Urutan di sini sungguh bermakna. Setelah penyakit rohani kita disembuhkan, setelah fungsi organ-organ rohani kita dipulihkan, dan setelah hati kita ditanggulangi, barulah Tuhan berkenan mewahyukan diri-Nya kepada kita bahwa Dialah Mesias (Kristus). Pewahyuan ini tercatat dalam Injil Markus 8:27-29, yakni ketika Yesus dan murid-muridnya sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Kaisarea Filipi.
Gelar “Mesias” atau yang dalam bahasa Yunani disebut “Christos” berarti yang diurapi. Di dalam Alkitab, ketika seseorang diurapi berarti ia telah dipilih oleh Allah untuk mengemban suatu amanat khusus. Demikian pula Tuhan, sebagai yang diurapi, telah dipilih untuk melaksanakan tujuan Allah yaitu menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih ilahi ke dalam kita. Dalam Injil Markus, aspek pertama dari amanat Tuhan sebagai yang diurapi adalah ini. Penekanan ministri Tuhan dalam Injil Markus bukanlah berkhotbah, tetapi menaburkan diri-Nya ke dalam kita, umat pilihan Allah. Haleluya!
Dalam situasi yang bagaimanakah Tuhan mewahyukan diri-Nya kepada murid-murid? Ketika murid-murid dekat dan akrab berjalan bersama Tuhan (Mrk. 8:27). Apakah selama ini kita cukup dekat dan akrab berjalan bersama Tuhan? Kita perlu dekat dan akrab berjalan bersama Tuhan, baru kemudian bisa memahami perkara-perkara rohani yang Tuhan katakan. Hal demikian dialami oleh Petrus dan murid-murid lain, dan pengertian mereka akhirnya terbuka pada hari Pentakosta. Memang hari ini kita tidak bisa berjalan dengan Tuhan secara jasmaniah karena Tuhan sudah bangkit, tetapi kita tetap dapat berjalan bersama Tuhan dengan firman-Nya. Dalam kebangkitan, Tuhan adalah Roh itu (1 Kor. 15:45) dan Dia terwujud di dalam firman (Yoh. 6:63). Tiap kali kita membaca dan mendoakan firman hidup itu, maka Tuhan akan lebih banyak mewahyukan diri-Nya kepada kita (Gal. 1:15-16), sehingga kita akan mengenal Dia dan kehendak-Nya (Ef. 1:17; Rm. 12:2). Kiranya kita semua adalah orang yang selalu dekat dan akrab berjalan bersama Tuhan di dalam firman-Nya.
01 September 2008
Markus Volume 8 - Minggu 1 Senin
Tuhan Yesus Menyingkapkan Kondisi Hati Kita
1 Tawarikh 28:9b
Dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.
Ayat Bacaan: Mrk. 7:1-23; 4:22; Ibr. 4:13; 1 Taw. 28:9b; Mzm. 52:2; 119:130
Tahukah Anda bahwa tidak ada satu perkara pun yang tersembunyi di hadapan Allah? Markus 4:22 mengatakan, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” Ibrani 4:13 juga mengatakan, “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” Karena segala sesuatu telanjang dan terbuka di hadapan Allah, maka kepura-puraan atau kemunafikan manusia adalah suatu kebodohan dan kesia-siaan belaka!
Pandangan manusia memang terbatas, tetapi pandangan Allah sanggup menerobos bahkan sampai ke dalam lubuk batin manusia. Hal inilah yang tidak disadari oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat pada masa itu, termasuk juga oleh kebanyakan dari kita hari ini. Dalam Markus 7:1-23, Tuhan secara khusus menyingkapkan kondisi batiniah mereka yang sesungguhnya, bahwa mereka pandai mengesampingkan perintah Allah demi memelihara adat-istiadat atau tradisi nenek moyang mereka. Sebagai tokoh agama, mereka hidup dalam kemunafikan dan pandai menyembunyikan maksud hati mereka yang jahat, tetapi di sini Tuhan Yesus justru membeberkannya satu per satu.
Apabila kita ingin mengikuti Dia, hati kita harus tahir dan roh kita harus lurus, karena bagaimana hati kita, itulah keadaan kita yang sebenarnya (1 Taw. 28:9b). Sebab itu kita harus menjaga hati kita tulus dan bersih di hadapan Allah. Setiap hari kita perlu berdoa seperti pemazmur, “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh” (Mzm. 52:2).
Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena firman-Nya memberi terang, menyingkapkan apa yang tersembunyi di dalam hati kita. Mazmur 119:130 berkata, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.” Ketika kita datang kepada firman-Nya dan beroleh terang, kita wajib mengakui semua dosa, kegagalan, dan kelemahan kita. Pengakuan yang demikian akan menjaga hati kita bersih dan tulus terhadap Tuhan, juga menyelamatkan kita dari kemunafikan yang dibenci oleh Allah.
1 Tawarikh 28:9b
Dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.
Ayat Bacaan: Mrk. 7:1-23; 4:22; Ibr. 4:13; 1 Taw. 28:9b; Mzm. 52:2; 119:130
Tahukah Anda bahwa tidak ada satu perkara pun yang tersembunyi di hadapan Allah? Markus 4:22 mengatakan, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” Ibrani 4:13 juga mengatakan, “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” Karena segala sesuatu telanjang dan terbuka di hadapan Allah, maka kepura-puraan atau kemunafikan manusia adalah suatu kebodohan dan kesia-siaan belaka!
Pandangan manusia memang terbatas, tetapi pandangan Allah sanggup menerobos bahkan sampai ke dalam lubuk batin manusia. Hal inilah yang tidak disadari oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat pada masa itu, termasuk juga oleh kebanyakan dari kita hari ini. Dalam Markus 7:1-23, Tuhan secara khusus menyingkapkan kondisi batiniah mereka yang sesungguhnya, bahwa mereka pandai mengesampingkan perintah Allah demi memelihara adat-istiadat atau tradisi nenek moyang mereka. Sebagai tokoh agama, mereka hidup dalam kemunafikan dan pandai menyembunyikan maksud hati mereka yang jahat, tetapi di sini Tuhan Yesus justru membeberkannya satu per satu.
Apabila kita ingin mengikuti Dia, hati kita harus tahir dan roh kita harus lurus, karena bagaimana hati kita, itulah keadaan kita yang sebenarnya (1 Taw. 28:9b). Sebab itu kita harus menjaga hati kita tulus dan bersih di hadapan Allah. Setiap hari kita perlu berdoa seperti pemazmur, “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh” (Mzm. 52:2).
Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena firman-Nya memberi terang, menyingkapkan apa yang tersembunyi di dalam hati kita. Mazmur 119:130 berkata, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.” Ketika kita datang kepada firman-Nya dan beroleh terang, kita wajib mengakui semua dosa, kegagalan, dan kelemahan kita. Pengakuan yang demikian akan menjaga hati kita bersih dan tulus terhadap Tuhan, juga menyelamatkan kita dari kemunafikan yang dibenci oleh Allah.
Subscribe to:
Posts (Atom)