Disembuhkan Oleh Firman Pemberi Hayat
Yohanes 4:50-51
Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup.
Ayat Bacaan: Yoh. 4:47,49-53
Ketika pegawai istana itu mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati (Yoh. 4:47). Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Sekalipun pegawai istana itu minta Tuhan datang dan menyembuhkan anaknya, namun Tuhan hanya mengucapkan sepatah kata. Orang itu pun percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ajaib sekali, ketika ia masih di tengah jalan, hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. O, betapa berkhasiatnya firman hayat yang Tuhan ucapkan!
Pegawai istana itu percaya terhadap perkataan yang keluar dari mulut Tuhan. Ketika ia mendengar dari hamba-hambanya bahwa anaknya itu hidup, ia dan seluruh keluarganya percaya (Yoh. 4:51-53). Haleluya atas firman pemberi-hayat ini! Firman ini bukan berupa huruf-huruf yang mati, melainkan firman yang adalah Roh itu. Hari ini Tuhan masih tetap menyampaikan firman-Nya yang menyembuhkan. Orang-orang yang hampir mati, asal demi iman menerima firman ini, pasti disembuhkan oleh hayat. Firman pemberi-hayat yang keluar dari mulut Tuhan menyebabkan perubahan yang nyata dalam hidup kita.
Kita benar-benar memerlukan kesembuhan. Banyak di antara kita, khususnya para saudari, memerlukan penyembuhan atas emosinya. Emosi para saudari biasanya tidak stabil, sebab terdapat semacam penyakit di sana. Mengapa saudari-saudari mudah menangis? Mungkin dikarenakan penyakit yang ada di dalam emosinya. Mereka memerlukan penyembuhan. Para saudara juga memerlukan penyembuhan dalam pikiran mereka dan dalam tekad mereka yang keras. Para saudara begitu keras pada kemauan mereka sebab di dalam tekad mereka terdapat penyakit. Mereka memerlukan penyembuhan.
Puji Tuhan, Kristuslah Sang penyembuh kita! Semakin kita disembuhkan dalam pikiran, emosi, dan tekad kita, kita pun semakin diubah. Penyembuhan ini menghasilkan pengubahan. Saudara saudari kekasih, rahasia kesembuhan ini terletak pada firman hayat. Kalau Anda mau disembuhkan dari penyakit Anda, Anda perlu percaya dan menerima firman.
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
31 May 2009
30 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 4 Minggu
Keperluan Orang yang Hampir Mati
Yohanes 4:46
Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit.
Ayat Bacaan: Yoh. 4:43-54; 7:41, 52
Yesus kembali ke Kana di Galilea, tempat orang-orang lemah dan rapuh (Yoh.4:43-46). Kana terletak di Galilea yaitu kota yang dipandang rendah atau hina (Yoh. 7:41, 52), yang mewakili dunia di dalam keadaan yang rendah dan kotor, yang didiami orang-orang yang lemah dan rapuh. Tuhan pernah sekali di sana mengadakan tanda ajaib yang pertama, yakni mengubah air kematian menjadi anggur yang hidup. Sekarang Ia kembali ke tempat yang sama dan melakukan tanda ajaib yang kedua.
Peristiwa yang terjadi dalam Yohanes 4:43-54 mengisahkan putra seorang pegawai istana yang hampir mati. Kondisi ini menyatakan orang yang hampir mati sangat memerlukan kesembuhan. Umat manusia pertama-tama memerlukan kelahiran kembali, kemudian memerlukan kepuasan hayat. Tidak hanya itu, manusia pun memerlukan kesembuhan. Kita semua memerlukan kesembuhan. Dalam suatu pengertian tertentu, kita ini hidup; namun dalam pengertian lainnya, kita semua hampir mati.
Ketika seorang bayi baru dilahirkan, ibunya pasti berpikir bahwa ia sedang dalam proses pertumbuhan. Tapi sebetulnya ia sedang dalam proses mati. Jika Anda masih muda, Anda memang kurang menyadari bahwa Anda ini sedang dalam proses mati. Kalau Anda mencapai usia 60 atau 70 tahun, niscaya akan menyadari bahwa Anda ini sedang mengalami proses mati. Jangka hidup 70 tahun boleh diumpamakan 70 dollar. Setiap tahun hidup yang telah kita tempuh boleh diumpamakan pengeluaran 1 dollar. Kapan Anda sudah menempuh hidup 60 tahun, berarti Anda telah mengeluarkan 60 dollar. Setelah Anda mencapai usia 69 tahun, berarti Anda hanya memiliki sisa 1 dollar saja. Dan kalau sisa 1 dollar tersebut dipakai, berarti waktu Anda telah habis, Anda benar-benar mati.
Kita telah dilahirkan kembali, dan hari demi hari kita dapat berkontak dengan Tuhan bagi kepuasan kita. Di samping itu, kita memerlukan pula penyembuhan. Kita semua adalah orang-orang yang sakit dan hampir mati. Kita adalah orang-orang yang telah jatuh, lemah dan rapuh, orang-orang yang hampir mati dan memerlukan penyembuhan Tuhan. Jika kita mengalami penyembuhan Tuhan Yesus, kematian kita niscaya berubah menjadi hayat.
Yohanes 4:46
Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit.
Ayat Bacaan: Yoh. 4:43-54; 7:41, 52
Yesus kembali ke Kana di Galilea, tempat orang-orang lemah dan rapuh (Yoh.4:43-46). Kana terletak di Galilea yaitu kota yang dipandang rendah atau hina (Yoh. 7:41, 52), yang mewakili dunia di dalam keadaan yang rendah dan kotor, yang didiami orang-orang yang lemah dan rapuh. Tuhan pernah sekali di sana mengadakan tanda ajaib yang pertama, yakni mengubah air kematian menjadi anggur yang hidup. Sekarang Ia kembali ke tempat yang sama dan melakukan tanda ajaib yang kedua.
Peristiwa yang terjadi dalam Yohanes 4:43-54 mengisahkan putra seorang pegawai istana yang hampir mati. Kondisi ini menyatakan orang yang hampir mati sangat memerlukan kesembuhan. Umat manusia pertama-tama memerlukan kelahiran kembali, kemudian memerlukan kepuasan hayat. Tidak hanya itu, manusia pun memerlukan kesembuhan. Kita semua memerlukan kesembuhan. Dalam suatu pengertian tertentu, kita ini hidup; namun dalam pengertian lainnya, kita semua hampir mati.
Ketika seorang bayi baru dilahirkan, ibunya pasti berpikir bahwa ia sedang dalam proses pertumbuhan. Tapi sebetulnya ia sedang dalam proses mati. Jika Anda masih muda, Anda memang kurang menyadari bahwa Anda ini sedang dalam proses mati. Kalau Anda mencapai usia 60 atau 70 tahun, niscaya akan menyadari bahwa Anda ini sedang mengalami proses mati. Jangka hidup 70 tahun boleh diumpamakan 70 dollar. Setiap tahun hidup yang telah kita tempuh boleh diumpamakan pengeluaran 1 dollar. Kapan Anda sudah menempuh hidup 60 tahun, berarti Anda telah mengeluarkan 60 dollar. Setelah Anda mencapai usia 69 tahun, berarti Anda hanya memiliki sisa 1 dollar saja. Dan kalau sisa 1 dollar tersebut dipakai, berarti waktu Anda telah habis, Anda benar-benar mati.
Kita telah dilahirkan kembali, dan hari demi hari kita dapat berkontak dengan Tuhan bagi kepuasan kita. Di samping itu, kita memerlukan pula penyembuhan. Kita semua adalah orang-orang yang sakit dan hampir mati. Kita adalah orang-orang yang telah jatuh, lemah dan rapuh, orang-orang yang hampir mati dan memerlukan penyembuhan Tuhan. Jika kita mengalami penyembuhan Tuhan Yesus, kematian kita niscaya berubah menjadi hayat.
29 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 3 Sabtu
Tuaian yang Mengagumkan
Yohanes 4:35
Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.
Ayat Bacaan: Yoh. 4:28-42
Sesudah perempuan Samaria itu menyadari bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias yang telah datang, maka percayalah ia. Sejak detik itu, hidupnya mengalami perubahan yang hebat. Ditinggalkan tempayannya, lalu ia pergi ke kotanya, dengan penuh keyakinan dia memberikan kesaksian yang hidup kepada banyak orang. Alkitab memberitahu kita, kesaksian ini kemudian menghasilkan suatu tuaian yang berlimpah (Yoh. 4:28-42).
Siapakah yang dapat bersaksi bagi Tuhan? Banyak orang beranggapan bahwa yang patut bersaksi adalah mereka yang telah lulus sekolah Alkitab, atau setidaknya mereka yang memiliki nama baik di masyarakat. Benarkah demikian? Sama sekali tidak benar! Lihatlah perempuan Samaria itu. Dia bukan lulusan sekolah Alkitab, juga bukan seorang yang punya reputasi baik. Namun begitu dia beroleh selamat, minum air hayat, dia langsung bersaksi bagi Tuhan. Dia bukan bersaksi kepada satu dua orang secara diam-diam, dengan malu-malu, melainkan bersaksi kepada orang-orang sekotanya secara terbuka!
Melalui kesaksian yang hidup dari perempuan Samaria itu, akhirnya banyak orang berdosa dibawa ke hadapan Tuhan (Yoh. 4:39). Begitu mereka bersentuhan dengan Tuhan, mereka semua menjadi percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat mereka. Inilah tuaian yang menakjubkan dari kesaksian yang hidup. Asal kita sudah minum air hidup itu, kita pasti dapat bersaksi bagi Tuhan dengan berani kepada teman-teman kita. Kesaksian yang demikian tidak akan sia-sia, sebaliknya akan menghasilkan tuaian yang besar bagi Tuhan.
Tuhan berkata, “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh. 4:35). Saudara saudari, jangan menunggu empat bulan lagi, baru pergi bersaksi menuai jiwa-jiwa. Tuhan berkata sekaranglah saatnya untuk menuai, sebab ladang sudah menguning dan siap untuk dituai. Jika kita melihat ke ladang (dunia), kita akan melihat bahwa banyak orang yang sungguh-sungguh haus akan Kristus. Kita perlu membawakan Kristus kepada mereka dan membawa mereka kepada Kristus. Inilah caranya menuai bagi Kristus.
Yohanes 4:35
Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.
Ayat Bacaan: Yoh. 4:28-42
Sesudah perempuan Samaria itu menyadari bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias yang telah datang, maka percayalah ia. Sejak detik itu, hidupnya mengalami perubahan yang hebat. Ditinggalkan tempayannya, lalu ia pergi ke kotanya, dengan penuh keyakinan dia memberikan kesaksian yang hidup kepada banyak orang. Alkitab memberitahu kita, kesaksian ini kemudian menghasilkan suatu tuaian yang berlimpah (Yoh. 4:28-42).
Siapakah yang dapat bersaksi bagi Tuhan? Banyak orang beranggapan bahwa yang patut bersaksi adalah mereka yang telah lulus sekolah Alkitab, atau setidaknya mereka yang memiliki nama baik di masyarakat. Benarkah demikian? Sama sekali tidak benar! Lihatlah perempuan Samaria itu. Dia bukan lulusan sekolah Alkitab, juga bukan seorang yang punya reputasi baik. Namun begitu dia beroleh selamat, minum air hayat, dia langsung bersaksi bagi Tuhan. Dia bukan bersaksi kepada satu dua orang secara diam-diam, dengan malu-malu, melainkan bersaksi kepada orang-orang sekotanya secara terbuka!
Melalui kesaksian yang hidup dari perempuan Samaria itu, akhirnya banyak orang berdosa dibawa ke hadapan Tuhan (Yoh. 4:39). Begitu mereka bersentuhan dengan Tuhan, mereka semua menjadi percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat mereka. Inilah tuaian yang menakjubkan dari kesaksian yang hidup. Asal kita sudah minum air hidup itu, kita pasti dapat bersaksi bagi Tuhan dengan berani kepada teman-teman kita. Kesaksian yang demikian tidak akan sia-sia, sebaliknya akan menghasilkan tuaian yang besar bagi Tuhan.
Tuhan berkata, “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh. 4:35). Saudara saudari, jangan menunggu empat bulan lagi, baru pergi bersaksi menuai jiwa-jiwa. Tuhan berkata sekaranglah saatnya untuk menuai, sebab ladang sudah menguning dan siap untuk dituai. Jika kita melihat ke ladang (dunia), kita akan melihat bahwa banyak orang yang sungguh-sungguh haus akan Kristus. Kita perlu membawakan Kristus kepada mereka dan membawa mereka kepada Kristus. Inilah caranya menuai bagi Kristus.
28 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 3 Jumat
Menjadi Kesaksian Yang Hidup
Yohanes 4:28-29
Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”
Ayat Bacaan: Yoh. 4:23-29
Setelah Tuhan menjelaskan mengenai cara penyembahan yang sejati kepadanya (Yoh. 4:23-24), perempuan Samaria itu pun menjadi percaya bahwa Yesuslah Mesias, yang disebut juga Kristus (Yoh. 4:25, 29). Percaya berarti demi iman menerima. Saat dia percaya demikian, dia betul-betul dipuaskan oleh Tuhan sebagai air hayatnya. Yohanes 4:28 berkata, “Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota...” Setiap orang yang minum air hidup dan mendapatkan kepuasan akan meninggalkan barang apa pun yang dulunya menduduki dirinya. Tahukah Anda, mengapa Anda tetap haus walaupun sudah mendapatkan benda-benda yang Anda idam-idamkan? Karena Anda belum dipuaskan oleh Kristus. Jika Anda telah dipuaskan oleh Kristus, semua barang yang lain itu tentu akan Anda lupakan.
Perempuan Samaria itu tidak saja meninggalkan tempayannya, ia pun pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (Yoh. 4:29). Dia pergi untuk bersaksi bagi air hidup ini. Dahulu sumur dan tempayan sangat berarti bagi perempuan Samaria itu, tetapi sesudah ia mengenal Kristus, dengan spontan ia melepaskan semua hal itu, dan pergi kepada orang-orang, memberi kesaksian bahwa sekarang Kristus itulah kepuasan hidupnya. Perempuan Samaria ini bukan membawakan doktrin Kristus kepada orang-orang sekotanya, melainkan dia datang kepada mereka dengan membawakan Kristus yang hidup.
Hanya setelah kita dipuaskan oleh Kristus, barulah kita dapat membimbing orang menerima Kristus dan berkontak dengan Dia. Mengapa Anda sulit bersaksi? Karena Anda belum dipuaskan oleh Kristus. Mengapa Anda sulit memberitakan Injil? Karena Anda sendiri belum dipuaskan oleh Injil itu. Kalau Anda pernah makan di sebuah restoran dan Anda sangat dipuaskan, tentu tidak sulit bagi Anda untuk mereferensikannya kepada teman-teman Anda. Demikian pula, hanya apabila kita telah dipuaskan oleh Kristus setiap hari, barulah kita memiliki kekuatan untuk meninggalkan “sumur dan tempayan” kita, lalu pergi bersaksi bagi Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita.
Yohanes 4:28-29
Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”
Ayat Bacaan: Yoh. 4:23-29
Setelah Tuhan menjelaskan mengenai cara penyembahan yang sejati kepadanya (Yoh. 4:23-24), perempuan Samaria itu pun menjadi percaya bahwa Yesuslah Mesias, yang disebut juga Kristus (Yoh. 4:25, 29). Percaya berarti demi iman menerima. Saat dia percaya demikian, dia betul-betul dipuaskan oleh Tuhan sebagai air hayatnya. Yohanes 4:28 berkata, “Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota...” Setiap orang yang minum air hidup dan mendapatkan kepuasan akan meninggalkan barang apa pun yang dulunya menduduki dirinya. Tahukah Anda, mengapa Anda tetap haus walaupun sudah mendapatkan benda-benda yang Anda idam-idamkan? Karena Anda belum dipuaskan oleh Kristus. Jika Anda telah dipuaskan oleh Kristus, semua barang yang lain itu tentu akan Anda lupakan.
Perempuan Samaria itu tidak saja meninggalkan tempayannya, ia pun pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (Yoh. 4:29). Dia pergi untuk bersaksi bagi air hidup ini. Dahulu sumur dan tempayan sangat berarti bagi perempuan Samaria itu, tetapi sesudah ia mengenal Kristus, dengan spontan ia melepaskan semua hal itu, dan pergi kepada orang-orang, memberi kesaksian bahwa sekarang Kristus itulah kepuasan hidupnya. Perempuan Samaria ini bukan membawakan doktrin Kristus kepada orang-orang sekotanya, melainkan dia datang kepada mereka dengan membawakan Kristus yang hidup.
Hanya setelah kita dipuaskan oleh Kristus, barulah kita dapat membimbing orang menerima Kristus dan berkontak dengan Dia. Mengapa Anda sulit bersaksi? Karena Anda belum dipuaskan oleh Kristus. Mengapa Anda sulit memberitakan Injil? Karena Anda sendiri belum dipuaskan oleh Injil itu. Kalau Anda pernah makan di sebuah restoran dan Anda sangat dipuaskan, tentu tidak sulit bagi Anda untuk mereferensikannya kepada teman-teman Anda. Demikian pula, hanya apabila kita telah dipuaskan oleh Kristus setiap hari, barulah kita memiliki kekuatan untuk meninggalkan “sumur dan tempayan” kita, lalu pergi bersaksi bagi Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita.
27 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 3 Kamis
Jalan Mendapatkan Air Hidup (2)
Yohanes 4:23
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Ayat Bacaan: Yoh 4:23-24; Ef 2:22 ; Im.1-6; Ul.12:5
Menurut konsepsi tradisi agama yang dianut oleh perempuan Samaria itu, menyembah Allah haruslah di tempat tertentu. Sebab itu dia berkata, “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah” (Yoh. 4:20). Namun Tuhan menegaskan kepada perempuan itu, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem” (Yoh. 4:21).
Bahkan sampai hari ini pun banyak orang yang menganggap bahwa tempat-tempat sakral tertentu sebagai pusat penyembahan. Kalau bukan di tempat-tempat itu, rasanya tidak bisa menyembah Allah. Namun menurut ketetapan Allah dalam Perjanjian Baru, penyembahan yang benar bukanlah masalah tempat, bukan masalah di gunung ini atau di gunung itu, melainkan masalah di dalam roh dan kebenaran (realitas). Tuhan berkata, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23-24).
Untuk mendapatkan air hayat yang Tuhan janjikan, langkah kedua yang harus kita lakukan setelah mengaku dosa, adalah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Penyembahan yang benar adalah di dalam roh, artinya kita harus menggunakan roh kita untuk berkontak dengan Allah, yang adalah Roh. Kapan kala kita dengan roh kita berkontak dengan Allah, sebenarnya kita sedang meminum Dia sebagai air hayat kita. Inilah penyembahan yang sejati.
Sayang sekali, dalam kekristenan yang merosot hari ini, penyembahan yang sejati terhadap Allah sedikit demi sedikit telah berubah bentuk menjadi panggung hiburan (entertainment). Orang tidak lagi memperhatikan masalah roh dan realitas, tetapi lebih memperhatikan bagaimana menyiapkan sebuah acara kebaktian yang menghibur. Saudara saudari kekasih, pertemuan ibadah kita bukanlah sebuah panggung hiburan, melainkan setiap orang harus menggunakan rohnya menyembah Allah di dalam Kristus, Sang realitas itu.
Yohanes 4:23
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Ayat Bacaan: Yoh 4:23-24; Ef 2:22 ; Im.1-6; Ul.12:5
Menurut konsepsi tradisi agama yang dianut oleh perempuan Samaria itu, menyembah Allah haruslah di tempat tertentu. Sebab itu dia berkata, “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah” (Yoh. 4:20). Namun Tuhan menegaskan kepada perempuan itu, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem” (Yoh. 4:21).
Bahkan sampai hari ini pun banyak orang yang menganggap bahwa tempat-tempat sakral tertentu sebagai pusat penyembahan. Kalau bukan di tempat-tempat itu, rasanya tidak bisa menyembah Allah. Namun menurut ketetapan Allah dalam Perjanjian Baru, penyembahan yang benar bukanlah masalah tempat, bukan masalah di gunung ini atau di gunung itu, melainkan masalah di dalam roh dan kebenaran (realitas). Tuhan berkata, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23-24).
Untuk mendapatkan air hayat yang Tuhan janjikan, langkah kedua yang harus kita lakukan setelah mengaku dosa, adalah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Penyembahan yang benar adalah di dalam roh, artinya kita harus menggunakan roh kita untuk berkontak dengan Allah, yang adalah Roh. Kapan kala kita dengan roh kita berkontak dengan Allah, sebenarnya kita sedang meminum Dia sebagai air hayat kita. Inilah penyembahan yang sejati.
Sayang sekali, dalam kekristenan yang merosot hari ini, penyembahan yang sejati terhadap Allah sedikit demi sedikit telah berubah bentuk menjadi panggung hiburan (entertainment). Orang tidak lagi memperhatikan masalah roh dan realitas, tetapi lebih memperhatikan bagaimana menyiapkan sebuah acara kebaktian yang menghibur. Saudara saudari kekasih, pertemuan ibadah kita bukanlah sebuah panggung hiburan, melainkan setiap orang harus menggunakan rohnya menyembah Allah di dalam Kristus, Sang realitas itu.
26 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 3 Rabu
Jalan Mendapatkan Air Hidup (1)
Yohanes 4:15
Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”
Ayat Bacaan: Yoh. 4:12-18; 3:31
Dosa dan hal-hal materi memang tidak dapat memuaskan manusia. Namun bagaimana dengan tradisi agama? Dalam Yohanes 4:12, perempuan Samaria itu sangat membanggakan Yakub dan sumurnya. Namun Tuhan dengan jelas berkata, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,...” Sumur Yakub melambangkan sesuatu yang diwariskan turun-temurun, yakni mewakili tradisi agama hari ini. Tidak peduli betapa baiknya tradisi yang diwariskan kepada kita, itu tidak dapat memuaskan, tidak dapat dibandingkan dengan Kristus, Persona yang lebih besar daripada siapa pun (Yoh. 3:31).
Bagaimanakah caranya mendapatkan air hidup itu? Perlu meminta dan mengaku dosa. Kata perempuan Samaria itu, “Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air” (Yoh. 4:15). Sewaktu perempuan itu meminta air hayat, Tuhan tidak mencelanya. Dengan lembut Tuhan berkata, “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini” (Yoh. 4:16). Perkataan ini bertujuan untuk menjamah hati nuraninya dan perbuatannya yang amoral, agar ia berpaling dari dosa-dosanya.
Perempuan Samaria itu berkata, “Aku tidak mempunyai suami.” Ini adalah pengakuan dosanya yang jujur. Tuhan menghargai pengakuannya dan berkata, “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau telah berkata benar” (Yoh. 4:17-18). Alangkah pentingnya mengaku dosa. Melalui pengakuan dosanya yang jujur, perempuan Samaria itu pun akhirnya mendapatkan air hayat, sumber kepuasan yang sejati.
Selama ini mungkin kita juga memiliki banyak “suami”, sebagaimana perempuan Samaria itu. “Suami” kita mungkin adalah karier kita, hobi kita, atau hal-hal dosa yang tidak rela kita tinggalkan. Sebenarnya, segala sesuatu yang kita sandari atau sukai di luar Kristus dan menggantikan Kristus, itulah “suami” kita. Saudara saudari kekasih, untuk mendapatkan air hayat itu, kita harus berani mengaku dosa dan membuang “suami-suami” kita itu. Sebagai gantinya, kita akan mendapatkan Kristus sebagai air hayat. Dialah suami kita yang sejati, satu-satunya Persona ajaib yang dapat memuaskan kita.
Yohanes 4:15
Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”
Ayat Bacaan: Yoh. 4:12-18; 3:31
Dosa dan hal-hal materi memang tidak dapat memuaskan manusia. Namun bagaimana dengan tradisi agama? Dalam Yohanes 4:12, perempuan Samaria itu sangat membanggakan Yakub dan sumurnya. Namun Tuhan dengan jelas berkata, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,...” Sumur Yakub melambangkan sesuatu yang diwariskan turun-temurun, yakni mewakili tradisi agama hari ini. Tidak peduli betapa baiknya tradisi yang diwariskan kepada kita, itu tidak dapat memuaskan, tidak dapat dibandingkan dengan Kristus, Persona yang lebih besar daripada siapa pun (Yoh. 3:31).
Bagaimanakah caranya mendapatkan air hidup itu? Perlu meminta dan mengaku dosa. Kata perempuan Samaria itu, “Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air” (Yoh. 4:15). Sewaktu perempuan itu meminta air hayat, Tuhan tidak mencelanya. Dengan lembut Tuhan berkata, “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini” (Yoh. 4:16). Perkataan ini bertujuan untuk menjamah hati nuraninya dan perbuatannya yang amoral, agar ia berpaling dari dosa-dosanya.
Perempuan Samaria itu berkata, “Aku tidak mempunyai suami.” Ini adalah pengakuan dosanya yang jujur. Tuhan menghargai pengakuannya dan berkata, “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau telah berkata benar” (Yoh. 4:17-18). Alangkah pentingnya mengaku dosa. Melalui pengakuan dosanya yang jujur, perempuan Samaria itu pun akhirnya mendapatkan air hayat, sumber kepuasan yang sejati.
Selama ini mungkin kita juga memiliki banyak “suami”, sebagaimana perempuan Samaria itu. “Suami” kita mungkin adalah karier kita, hobi kita, atau hal-hal dosa yang tidak rela kita tinggalkan. Sebenarnya, segala sesuatu yang kita sandari atau sukai di luar Kristus dan menggantikan Kristus, itulah “suami” kita. Saudara saudari kekasih, untuk mendapatkan air hayat itu, kita harus berani mengaku dosa dan membuang “suami-suami” kita itu. Sebagai gantinya, kita akan mendapatkan Kristus sebagai air hayat. Dialah suami kita yang sejati, satu-satunya Persona ajaib yang dapat memuaskan kita.
25 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 3 Selasa
Tidak Haus Selama-lamanya
Yohanes 4:13-14a
Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.”
Ayat Bacaan: Yoh. 4:10, 13-14; 1:6
Orang berdosa sebenarnya adalah orang yang haus. Banyak orang berbuat dosa justru untuk meleraikan rasa haus di dalam mereka. Dunia hiburan malam, pesta-pora, kemabukan, pornografi, perjudian, dan masih banyak kehidupan dosa lainnya begitu dicari orang sebab mereka mengira hal-hal itu dapat memuaskan mereka. Namun, siapa pun dapat bersaksi: semakin berbuat dosa, justru semakin bertambah haus.
Tidak hanya hal-hal yang dosa, bahkan hal-hal yang kedengarannya positif pun tidak dapat meleraikan haus kita. Semakin banyak mendapatkan uang, orang akan semakin haus. Semakin populer seseorang, ia pun akan semakin haus. Uang, ketenaran, jabatan, penampilan yang menarik, bila tidak disikapi dengan hati-hati, justru dapat menjerumuskan orang ke lembah dosa yang paling dalam. Semuanya ini membuktikan bahwa semakin manusia ingin memuaskan dirinya dengan hal-hal duniawi, semakin cepatlah ia terjerumus ke dalam keadaan yang amoral. Adakah jalan keluarnya?
Puji Tuhan! Yesus tahu di mana kita berada dan tahu keadaan kita. Alkitab mengatakan bahwa bukan kita yang mencari Dia, melainkan Dialah yang lebih dulu datang mencari kita. Sebelum perempuan Samaria tiba di sumur Yakub, Tuhan sudah duduk di sana. Ini menunjukkan belas kasihan dan simpati dari Juruselamat kita (Yoh. 1:16). Tatkala Tuhan Yesus sedang menantikan orang dosa datang, Ia merasa dahaga. Orang dosa dahaga, Dia pun dahaga. Dia dahaga terhadap kita. Bagi-Nya, kita inilah air pelepas dahaga-Nya.
Setelah berjumpa dengan perempuan Samaria yang amoral itu, Tuhan lalu menawarkan kepadanya air yang lain. Dia berkata, “... barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yoh. 4:14a). Yang kita perlukan adalah meminta kepada-Nya agar Dia memberi kita air hayat, air yang dapat memuaskan dahaga kita (Yoh. 4:10). Air ini tidak lain adalah Kristus sendiri. Kristus memuaskan kita hari ini, besok dan sampai kekal. Ia selalu baru, selalu segar dan selalu memuaskan. Siapa saja yang minum Kristus, ia takkan haus lagi, sebab Kristus akan menjadi mata air di dalamnya yang memancar terus sampai kepada hidup yang kekal.
Yohanes 4:13-14a
Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.”
Ayat Bacaan: Yoh. 4:10, 13-14; 1:6
Orang berdosa sebenarnya adalah orang yang haus. Banyak orang berbuat dosa justru untuk meleraikan rasa haus di dalam mereka. Dunia hiburan malam, pesta-pora, kemabukan, pornografi, perjudian, dan masih banyak kehidupan dosa lainnya begitu dicari orang sebab mereka mengira hal-hal itu dapat memuaskan mereka. Namun, siapa pun dapat bersaksi: semakin berbuat dosa, justru semakin bertambah haus.
Tidak hanya hal-hal yang dosa, bahkan hal-hal yang kedengarannya positif pun tidak dapat meleraikan haus kita. Semakin banyak mendapatkan uang, orang akan semakin haus. Semakin populer seseorang, ia pun akan semakin haus. Uang, ketenaran, jabatan, penampilan yang menarik, bila tidak disikapi dengan hati-hati, justru dapat menjerumuskan orang ke lembah dosa yang paling dalam. Semuanya ini membuktikan bahwa semakin manusia ingin memuaskan dirinya dengan hal-hal duniawi, semakin cepatlah ia terjerumus ke dalam keadaan yang amoral. Adakah jalan keluarnya?
Puji Tuhan! Yesus tahu di mana kita berada dan tahu keadaan kita. Alkitab mengatakan bahwa bukan kita yang mencari Dia, melainkan Dialah yang lebih dulu datang mencari kita. Sebelum perempuan Samaria tiba di sumur Yakub, Tuhan sudah duduk di sana. Ini menunjukkan belas kasihan dan simpati dari Juruselamat kita (Yoh. 1:16). Tatkala Tuhan Yesus sedang menantikan orang dosa datang, Ia merasa dahaga. Orang dosa dahaga, Dia pun dahaga. Dia dahaga terhadap kita. Bagi-Nya, kita inilah air pelepas dahaga-Nya.
Setelah berjumpa dengan perempuan Samaria yang amoral itu, Tuhan lalu menawarkan kepadanya air yang lain. Dia berkata, “... barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yoh. 4:14a). Yang kita perlukan adalah meminta kepada-Nya agar Dia memberi kita air hayat, air yang dapat memuaskan dahaga kita (Yoh. 4:10). Air ini tidak lain adalah Kristus sendiri. Kristus memuaskan kita hari ini, besok dan sampai kekal. Ia selalu baru, selalu segar dan selalu memuaskan. Siapa saja yang minum Kristus, ia takkan haus lagi, sebab Kristus akan menjadi mata air di dalamnya yang memancar terus sampai kepada hidup yang kekal.
24 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 3 Senin
Mencari Kepuasan yang Sejati
Yohanes 4:13-14a
Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.”
Ayat Bacaan: Yoh. 4:13-14; 1 Ptr. 3:7
Menurut pengalaman rohani, kebutuhan pertama bagi umat manusia ialah dilahirkan kembali. Kelahiran kembali membuat kita mendapatkan hayat Allah dan sifat Allah sehingga kita bisa menjadi ekspresi-Nya yang korporat. Lalu, apakah kebutuhan kedua bagi umat manusia? Kebutuhan yang kedua ialah kepuasan. Sebelum kita diselamatkan, kita semua pasti pernah merasa hampa. Sekalipun kita sukses di dunia, di dalam kita tetap ada ketidakpuasan. Di luar Kristus, setiap orang, entah dia itu tua, muda, kaya, miskin, tinggi, rendah, tidak ada yang memiliki kepuasan sejati.
Dalam Injil Yohanes 4:1-42, tampak bahwa masalah utama dari perempuan Samaria itu adalah tidak adanya kepuasan. Tidak adanya kepuasan dalam hidupnya telah menjerumuskan dia ke dalam kondisi yang amoral, begitu amoralnya sehingga Alkitab pun tidak mencantumkan namanya. Menurut kebiasaan di Timur Tengah, para perempuan umumnya datang menimba air di waktu senja, bukan di siang bolong. Namun perempuan Samaria ini datang sendirian menimba air di tengah hari, berharap tak seorang pun melihatnya.
Sebenarnya siapakah perempuan Samaria ini? Menurut perlambangan dalam Alkitab, pertama-tama, perempuan melambangkan manusia yang perlu bersandar kepada Allah. Kapan kala kita ingin merdeka terhadap Allah, di dalam kita segera kehilangan kepuasan. Kedua, perempuan juga melambangkan kelemahan (1 Ptr. 3:7). Jangan mengira diri Anda kuat. Kita wajib menyadari bahwa kita ini lemah, sebab itu perlu bersandar pada Allah. Terakhir, perempuan juga melambangkan kedambaan yang batiniah. Tuhan menciptakan kedambaan batiniah di dalam kita agar kita mencari Dia, dipuaskan oleh-Nya.
Saudara saudari kekasih, adakah hal di dunia ini yang dapat memuaskan Anda? Adakah suatu hal di dunia ini yang dapat disandari sepenuhnya? Tidak ada! Tuhan berkata kepada perempuan Samaria itu, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,...” (Yoh. 4:13). Ya, segala hal di dunia ini seperti air, dapat kita “minum” (nikmati), tetapi setelah minum tetap akan haus lagi. Uang, hiburan, pendidikan, kesuksesan, mungkin bisa kita raih, namun tidak dapat memuaskan kita. Hanya Kristus yang dapat memuaskan kita!
Yohanes 4:13-14a
Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.”
Ayat Bacaan: Yoh. 4:13-14; 1 Ptr. 3:7
Menurut pengalaman rohani, kebutuhan pertama bagi umat manusia ialah dilahirkan kembali. Kelahiran kembali membuat kita mendapatkan hayat Allah dan sifat Allah sehingga kita bisa menjadi ekspresi-Nya yang korporat. Lalu, apakah kebutuhan kedua bagi umat manusia? Kebutuhan yang kedua ialah kepuasan. Sebelum kita diselamatkan, kita semua pasti pernah merasa hampa. Sekalipun kita sukses di dunia, di dalam kita tetap ada ketidakpuasan. Di luar Kristus, setiap orang, entah dia itu tua, muda, kaya, miskin, tinggi, rendah, tidak ada yang memiliki kepuasan sejati.
Dalam Injil Yohanes 4:1-42, tampak bahwa masalah utama dari perempuan Samaria itu adalah tidak adanya kepuasan. Tidak adanya kepuasan dalam hidupnya telah menjerumuskan dia ke dalam kondisi yang amoral, begitu amoralnya sehingga Alkitab pun tidak mencantumkan namanya. Menurut kebiasaan di Timur Tengah, para perempuan umumnya datang menimba air di waktu senja, bukan di siang bolong. Namun perempuan Samaria ini datang sendirian menimba air di tengah hari, berharap tak seorang pun melihatnya.
Sebenarnya siapakah perempuan Samaria ini? Menurut perlambangan dalam Alkitab, pertama-tama, perempuan melambangkan manusia yang perlu bersandar kepada Allah. Kapan kala kita ingin merdeka terhadap Allah, di dalam kita segera kehilangan kepuasan. Kedua, perempuan juga melambangkan kelemahan (1 Ptr. 3:7). Jangan mengira diri Anda kuat. Kita wajib menyadari bahwa kita ini lemah, sebab itu perlu bersandar pada Allah. Terakhir, perempuan juga melambangkan kedambaan yang batiniah. Tuhan menciptakan kedambaan batiniah di dalam kita agar kita mencari Dia, dipuaskan oleh-Nya.
Saudara saudari kekasih, adakah hal di dunia ini yang dapat memuaskan Anda? Adakah suatu hal di dunia ini yang dapat disandari sepenuhnya? Tidak ada! Tuhan berkata kepada perempuan Samaria itu, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,...” (Yoh. 4:13). Ya, segala hal di dunia ini seperti air, dapat kita “minum” (nikmati), tetapi setelah minum tetap akan haus lagi. Uang, hiburan, pendidikan, kesuksesan, mungkin bisa kita raih, namun tidak dapat memuaskan kita. Hanya Kristus yang dapat memuaskan kita!
23 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 3 Minggu
Yesus Harus Melintasi Daerah Samaria
Yohanes 4:6-7
Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”
Ayat Bacaan: Yoh. 4:4-7; 2 Raj. 16:24, 29; 17:6, 24
Ketika Tuhan Yesus meninggalkan Yudea dan kembali ke Galilea, Dia sengaja melintasi daerah Samaria. Samaria melambangkan tempat orang berdosa. Lalu sampailah Tuhan ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar. Di situ terdapat sumur Yakub. Karena Yesus sangat letih, Ia pun duduk di pinggir sumur itu. Waktu itu hari kira-kira pukul dua belas siang. Tidak lama kemudian, datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Yesus pun berkata kepadanya, “Berilah Aku minum.”
Tuhan mengawali pembicaraan-Nya dengan perempuan Samaria itu dengan berkata, “Berilah Aku minum.” Perkataan Tuhan ini menunjukkan bahwa sebagai Juruselamat, Dia haus dalam hal melakukan kehendak Bapa, yakni menyelamatkan jiwa. Tuhan datang ke Samaria dengan maksud mencari perempuan Samaria ini, agar ia menjadi seorang penyembah Bapa. Demi satu jiwa itulah Tuhan merasa perlu secara khusus datang ke sana.
Menurut sejarah, tidak ada orang Yahudi yang mau melewati daerah Samaria. Samaria adalah daerah utama pada bagian utara kerajaan Israel, dan juga adalah lokasi ibukota (2 Raj. 16:24, 29). Tujuh ratus tahun SM, orang Asyur pernah menjajah Samaria, kemudian mengangkut orang-orang dari Babel dan negara kafir lainnya yang menyembah berhala ke kota Samaria (2 Raj. 17:6, 24). Semenjak itu, orang-orang Samaria menjadilah orang berdarah campuran, antara orang kafir dengan orang Yahudi. Walau mereka memiliki Pentateuch (lima kitab Musa), dan mereka menyembah Allah berdasarkan bagian tersebut dalam Perjanjian Lama; tetapi bangsa Yahudi tak pernah mau mengakui mereka sebagai bagian dari bangsa Yahudi.
Kendati orang Yahudi tak mau melewati daerah Samaria, namun Tuhan Yesus justru berkunjung ke sana. Karena kehendak Bapa, Tuhan mengharuskan diri-Nya lewat di daerah itu. Tuhan tahu dengan pasti bahwa di tengah hari akan ada seorang perempuan amoral akan pergi ke sumur Yakub untuk mengambil air. Saudara saudari kekasih, apakah kita memiliki rasa “haus” seperti yang dimiliki oleh Tuhan? Kalau kita memiliki rasa “haus” yang demikian, kita tentu akan dengan senang hati pergi memberitakan Injil bagi Tuhan.
Yohanes 4:6-7
Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”
Ayat Bacaan: Yoh. 4:4-7; 2 Raj. 16:24, 29; 17:6, 24
Ketika Tuhan Yesus meninggalkan Yudea dan kembali ke Galilea, Dia sengaja melintasi daerah Samaria. Samaria melambangkan tempat orang berdosa. Lalu sampailah Tuhan ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar. Di situ terdapat sumur Yakub. Karena Yesus sangat letih, Ia pun duduk di pinggir sumur itu. Waktu itu hari kira-kira pukul dua belas siang. Tidak lama kemudian, datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Yesus pun berkata kepadanya, “Berilah Aku minum.”
Tuhan mengawali pembicaraan-Nya dengan perempuan Samaria itu dengan berkata, “Berilah Aku minum.” Perkataan Tuhan ini menunjukkan bahwa sebagai Juruselamat, Dia haus dalam hal melakukan kehendak Bapa, yakni menyelamatkan jiwa. Tuhan datang ke Samaria dengan maksud mencari perempuan Samaria ini, agar ia menjadi seorang penyembah Bapa. Demi satu jiwa itulah Tuhan merasa perlu secara khusus datang ke sana.
Menurut sejarah, tidak ada orang Yahudi yang mau melewati daerah Samaria. Samaria adalah daerah utama pada bagian utara kerajaan Israel, dan juga adalah lokasi ibukota (2 Raj. 16:24, 29). Tujuh ratus tahun SM, orang Asyur pernah menjajah Samaria, kemudian mengangkut orang-orang dari Babel dan negara kafir lainnya yang menyembah berhala ke kota Samaria (2 Raj. 17:6, 24). Semenjak itu, orang-orang Samaria menjadilah orang berdarah campuran, antara orang kafir dengan orang Yahudi. Walau mereka memiliki Pentateuch (lima kitab Musa), dan mereka menyembah Allah berdasarkan bagian tersebut dalam Perjanjian Lama; tetapi bangsa Yahudi tak pernah mau mengakui mereka sebagai bagian dari bangsa Yahudi.
Kendati orang Yahudi tak mau melewati daerah Samaria, namun Tuhan Yesus justru berkunjung ke sana. Karena kehendak Bapa, Tuhan mengharuskan diri-Nya lewat di daerah itu. Tuhan tahu dengan pasti bahwa di tengah hari akan ada seorang perempuan amoral akan pergi ke sumur Yakub untuk mengambil air. Saudara saudari kekasih, apakah kita memiliki rasa “haus” seperti yang dimiliki oleh Tuhan? Kalau kita memiliki rasa “haus” yang demikian, kita tentu akan dengan senang hati pergi memberitakan Injil bagi Tuhan.
22 May 2009
Yohanes Volume 2 - MInggu 2 Sabtu
Belajar Berbicara Bagi Tuhan
Yohanes 3:34
Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:34; Ibr. 1:1-2; 2 Ptr. 1:21; Mzm. 100:1; Rm. 6:6; Gal. 2:20
Pertambahan Kristus di dalam kita hanya dapat digenapkan melalui suplai firman dan Roh itu. Suplai firman dan Roh itu sangat berkaitan dengan pembicaraan Allah. Allah kita adalah Allah yang berbicara. Dalam Perjanjian Lama, Allah berbicara dengan perantaraan nabi-nabi, yaitu melalui orang-orang yang didorong oleh Roh-Nya (2 Ptr. 1:21). Namun dalam Perjanjian Baru, Ia berbicara dengan perantaraan Putra (Ibr. 1:1-2).
Melalui kelahiran kembali, Allah yang berbicara ini tinggal di dalam kita, dan Dia menghendaki kita berbicara bagi Dia. Sayangnya, situasi kekristenan dewasa ini justru sebaliknya. Di kantor atau di sekolah, misalnya, sedikit sekali orang Kristen yang mau membicarakan Tuhan kepada teman-teman mereka, sedikit yang mau berbicara bagi Allah dan Kristus. Kekristenan yang tradisional telah menyebabkan mayoritas kaum beriman menjadi “bisu”. Setiap hari Minggu pagi, kebanyakan umat Kristen hanya menjadi pendengar. Hal ini telah berlangsung selama ratusan tahun sehingga telah menjadi suatu tradisi dan kebiasaan. Kita semua perlu bangkit dan membuang kebiasaan ini.
Bila kita berkumpul dalam suatu perhimpunan ibadah, kita harus berbicara. Ada banyak cara untuk berbicara. Berseru kepada nama Tuhan, menyanyi, memuji, dan berdoa, adalah jenis lain dari berbicara. Ketika kita berhimpun, kita seharusnya datang dengan doa, nyanyian, dan pujian. Mazmur 100:1 mengatakan, “Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi!” Kehidupan kita seharusnya kehidupan yang bersorak-sorak bagi Tuhan.
Agar dapat berbicara bagi Tuhan, kita harus melawan manusia alamiah kita beserta watak dan kebiasaannya. Jika kita adalah orang yang pendiam, kita harus melawan manusia alamiah kita beserta sifat pendiamnya itu, belajar memikul salib (Rm. 6:6; Gal. 2:20). Kedua, kita perlu melatih roh kita dan belajar bagaimana mengutarakan apa yang ingin kita bicarakan bagi Tuhan. Kita seharusnya meluangkan cukup banyak waktu untuk belajar bagaimana berbicara bagi Tuhan, bahkan seharusnya berpuasa dan berdoa. Latihan yang demikian akan memperkaya pembicaraan kita sehingga Roh Allah yang tak terbatas itu dapat dilayankan kepada orang lain bagi pembangunan gereja.
Yohanes 3:34
Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:34; Ibr. 1:1-2; 2 Ptr. 1:21; Mzm. 100:1; Rm. 6:6; Gal. 2:20
Pertambahan Kristus di dalam kita hanya dapat digenapkan melalui suplai firman dan Roh itu. Suplai firman dan Roh itu sangat berkaitan dengan pembicaraan Allah. Allah kita adalah Allah yang berbicara. Dalam Perjanjian Lama, Allah berbicara dengan perantaraan nabi-nabi, yaitu melalui orang-orang yang didorong oleh Roh-Nya (2 Ptr. 1:21). Namun dalam Perjanjian Baru, Ia berbicara dengan perantaraan Putra (Ibr. 1:1-2).
Melalui kelahiran kembali, Allah yang berbicara ini tinggal di dalam kita, dan Dia menghendaki kita berbicara bagi Dia. Sayangnya, situasi kekristenan dewasa ini justru sebaliknya. Di kantor atau di sekolah, misalnya, sedikit sekali orang Kristen yang mau membicarakan Tuhan kepada teman-teman mereka, sedikit yang mau berbicara bagi Allah dan Kristus. Kekristenan yang tradisional telah menyebabkan mayoritas kaum beriman menjadi “bisu”. Setiap hari Minggu pagi, kebanyakan umat Kristen hanya menjadi pendengar. Hal ini telah berlangsung selama ratusan tahun sehingga telah menjadi suatu tradisi dan kebiasaan. Kita semua perlu bangkit dan membuang kebiasaan ini.
Bila kita berkumpul dalam suatu perhimpunan ibadah, kita harus berbicara. Ada banyak cara untuk berbicara. Berseru kepada nama Tuhan, menyanyi, memuji, dan berdoa, adalah jenis lain dari berbicara. Ketika kita berhimpun, kita seharusnya datang dengan doa, nyanyian, dan pujian. Mazmur 100:1 mengatakan, “Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi!” Kehidupan kita seharusnya kehidupan yang bersorak-sorak bagi Tuhan.
Agar dapat berbicara bagi Tuhan, kita harus melawan manusia alamiah kita beserta watak dan kebiasaannya. Jika kita adalah orang yang pendiam, kita harus melawan manusia alamiah kita beserta sifat pendiamnya itu, belajar memikul salib (Rm. 6:6; Gal. 2:20). Kedua, kita perlu melatih roh kita dan belajar bagaimana mengutarakan apa yang ingin kita bicarakan bagi Tuhan. Kita seharusnya meluangkan cukup banyak waktu untuk belajar bagaimana berbicara bagi Tuhan, bahkan seharusnya berpuasa dan berdoa. Latihan yang demikian akan memperkaya pembicaraan kita sehingga Roh Allah yang tak terbatas itu dapat dilayankan kepada orang lain bagi pembangunan gereja.
21 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 2 Jumat
Mengalami Kristus yang Tak Terukur
Yohanes 3:34
Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:34
Kristus harus bertambah dan kita semua harus berkurang, sebab Kristus itu tak terbatas, meliputi segala sesuatu (almuhit). Secara lahiriah, Dia memang kecil dan direndahkan orang, sebab Dia dibesarkan di Nazaret, di rumah seorang tukang kayu yang miskin. Dalam penampilan-Nya, Dia tidak tampan, juga tidak semarak. Namun, sebenarnya Kristus itu tak terukur. Dia lebih tinggi daripada sorga dan lebih lebar dari alam semesta. Dia itu melampaui segala-galanya.
Yohanes 3:34 mengatakan, “Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.” Ayat tersebut memperlihatkan dua hal: Tuhan Yesus menyampaikan firman Allah kepada umat-Nya, dan Ia memberi Roh Kudus kepada umat Allah tanpa batas. Karena Kristus sendiri tak terbatas, maka Roh yang Dia karuniakan juga tanpa batas.
Di dalam gereja, dua hal utama yang kita perlukan adalah firman Allah dan Roh yang tak terbatas. Tanpa kedua hal tersebut, gereja hanyalah sebuah organisasi yang tanpa hayat, tidak ada pembangunan yang sejati. Rahasia pertumbuhan gereja sebagai Tubuh Kristus adalah adanya suplai firman Allah dan Roh yang tak terbatas. Karena itu, kita harus sangat menghargai kedua hal tersebut, bahkan lebih mementingkan keduanya daripada urusan apa pun di dalam gereja. Begitu kita kekurangan suplai firman Allah dan kekurangan Roh itu, maka segera kita jatuh dalam kondisi yang merosot. Sebaliknya, asalkan kita mempunyai firman yang berlimpah dan Roh yang hidup, itu sudahlah merupakan bukti bahwa kita ini gereja. Di mana Tuhan Yesus berada, di sanalah Anda akan menjumpai firman yang kaya dan Roh yang hidup.
Pemberitaan Injil kita seharusnya penuh dengan firman dan Roh. Tanpa firman dan Roh, pemberitaan Injil kita kosong melompong, tidak ada isi dan kuasa. Pelayanan apa pun tidak boleh kekurangan firman dan Roh. Kita tidak bisa mengandalkan cara-cara manusia atau pengalaman di masa lampau. Kita perlu membiarkan firman-Nya dengan limpah tinggal di dalam kita dan Roh-Nya meluapi kita, barulah kita dapat melayani Dia dengan tepat.
Yohanes 3:34
Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:34
Kristus harus bertambah dan kita semua harus berkurang, sebab Kristus itu tak terbatas, meliputi segala sesuatu (almuhit). Secara lahiriah, Dia memang kecil dan direndahkan orang, sebab Dia dibesarkan di Nazaret, di rumah seorang tukang kayu yang miskin. Dalam penampilan-Nya, Dia tidak tampan, juga tidak semarak. Namun, sebenarnya Kristus itu tak terukur. Dia lebih tinggi daripada sorga dan lebih lebar dari alam semesta. Dia itu melampaui segala-galanya.
Yohanes 3:34 mengatakan, “Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.” Ayat tersebut memperlihatkan dua hal: Tuhan Yesus menyampaikan firman Allah kepada umat-Nya, dan Ia memberi Roh Kudus kepada umat Allah tanpa batas. Karena Kristus sendiri tak terbatas, maka Roh yang Dia karuniakan juga tanpa batas.
Di dalam gereja, dua hal utama yang kita perlukan adalah firman Allah dan Roh yang tak terbatas. Tanpa kedua hal tersebut, gereja hanyalah sebuah organisasi yang tanpa hayat, tidak ada pembangunan yang sejati. Rahasia pertumbuhan gereja sebagai Tubuh Kristus adalah adanya suplai firman Allah dan Roh yang tak terbatas. Karena itu, kita harus sangat menghargai kedua hal tersebut, bahkan lebih mementingkan keduanya daripada urusan apa pun di dalam gereja. Begitu kita kekurangan suplai firman Allah dan kekurangan Roh itu, maka segera kita jatuh dalam kondisi yang merosot. Sebaliknya, asalkan kita mempunyai firman yang berlimpah dan Roh yang hidup, itu sudahlah merupakan bukti bahwa kita ini gereja. Di mana Tuhan Yesus berada, di sanalah Anda akan menjumpai firman yang kaya dan Roh yang hidup.
Pemberitaan Injil kita seharusnya penuh dengan firman dan Roh. Tanpa firman dan Roh, pemberitaan Injil kita kosong melompong, tidak ada isi dan kuasa. Pelayanan apa pun tidak boleh kekurangan firman dan Roh. Kita tidak bisa mengandalkan cara-cara manusia atau pengalaman di masa lampau. Kita perlu membiarkan firman-Nya dengan limpah tinggal di dalam kita dan Roh-Nya meluapi kita, barulah kita dapat melayani Dia dengan tepat.
20 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 2 Kamis
Dia Harus Makin Besar, Aku Harus Makin Kecil
Yohanes 3:30-31a
Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:30; Kol. 2:19
Setelah berbicara mengenai mempelai laki-laki dan mempelai perempuan, Yohanes Pembaptis kemudian berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Kita wajib membiarkan Kristus bertambah, sedang kita yang menyusut. Semua orang yang kita bimbing wajib kita bawa kepada-Nya. Jika semua penginjil dan pemimpin kekristenan mau berkata, “Tuhan, biarlah semua orang yang kami layani datang kepada-Mu, agar Engkau bertambah dan kami berkurang”, niscaya lenyaplah segala problema.
Pembangunan gereja sebagai Tubuh Kristus adalah melalui pertumbuhan kita dalam hayat, dan pertumbuhan kita dalam hayat adalah melalui pertumbuhan Allah di dalam kita. Kolose 2:19 mengatakan bahwa seluruh Tubuh bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Ini berarti pertumbuhan kita di dalam hayat ilahi memerlukan Allah bertumbuh di dalam kita. Ketika Allah bertumbuh di dalam kita, kita bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Memang di dalam diri-Nya sendiri, Allah tidak perlu bertumbuh; tetapi di dalam kita, Ia perlu bertumbuh.
Marilah kita memeriksa keadaan kita yang sebenarnya. Manakah yang lebih banyak di dalam kita: diri sendiri, ataukah Allah? Kita mungkin mengatakan bahwa kita memiliki Allah, bersatu dengan Allah. Tetapi bagaimanakah dengan fakta keadaan kita akhir-akhir ini? Banyak di antara kita harus mengakui bahwa di atas diri kita, kadar Allah masih sangat sedikit. Mengapa demikian? Sebab kita tidak memberi ruangan yang memadai bagi-Nya untuk bertumbuh di dalam kita. Sebaliknya, ada banyak hal selain Allah yang menduduki hati kita, sehingga pertumbuhan Allah menjadi terhimpit. Inilah adalah masalah yang serius.
Kita dapat memberi Allah sedikit ruangan melalui berbicara bagi Dia. Kita perlu belajar berbicara bagi Tuhan, mengutarakan Tuhan ke dalam orang lain. Semakin kita berbicara, semakin kita memiliki sesuatu untuk dibicarakan. Semakin kita berbicara, semakin kita menerima suplaian Allah. Dengan jalan demikian, Ia bertumbuh di dalam kita. Selain itu, kita pun dapat memberi Dia ruang untuk bertumbuh melalui berdoa. Semakin banyak berdoa, semakin Dia leluasa bergerak di dalam kita dan bekerja melalui kita. Kiranya kita terus belajar bekerja sama dengan Allah demi pertumbuhan-Nya di dalam kita.
Yohanes 3:30-31a
Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:30; Kol. 2:19
Setelah berbicara mengenai mempelai laki-laki dan mempelai perempuan, Yohanes Pembaptis kemudian berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Kita wajib membiarkan Kristus bertambah, sedang kita yang menyusut. Semua orang yang kita bimbing wajib kita bawa kepada-Nya. Jika semua penginjil dan pemimpin kekristenan mau berkata, “Tuhan, biarlah semua orang yang kami layani datang kepada-Mu, agar Engkau bertambah dan kami berkurang”, niscaya lenyaplah segala problema.
Pembangunan gereja sebagai Tubuh Kristus adalah melalui pertumbuhan kita dalam hayat, dan pertumbuhan kita dalam hayat adalah melalui pertumbuhan Allah di dalam kita. Kolose 2:19 mengatakan bahwa seluruh Tubuh bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Ini berarti pertumbuhan kita di dalam hayat ilahi memerlukan Allah bertumbuh di dalam kita. Ketika Allah bertumbuh di dalam kita, kita bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Memang di dalam diri-Nya sendiri, Allah tidak perlu bertumbuh; tetapi di dalam kita, Ia perlu bertumbuh.
Marilah kita memeriksa keadaan kita yang sebenarnya. Manakah yang lebih banyak di dalam kita: diri sendiri, ataukah Allah? Kita mungkin mengatakan bahwa kita memiliki Allah, bersatu dengan Allah. Tetapi bagaimanakah dengan fakta keadaan kita akhir-akhir ini? Banyak di antara kita harus mengakui bahwa di atas diri kita, kadar Allah masih sangat sedikit. Mengapa demikian? Sebab kita tidak memberi ruangan yang memadai bagi-Nya untuk bertumbuh di dalam kita. Sebaliknya, ada banyak hal selain Allah yang menduduki hati kita, sehingga pertumbuhan Allah menjadi terhimpit. Inilah adalah masalah yang serius.
Kita dapat memberi Allah sedikit ruangan melalui berbicara bagi Dia. Kita perlu belajar berbicara bagi Tuhan, mengutarakan Tuhan ke dalam orang lain. Semakin kita berbicara, semakin kita memiliki sesuatu untuk dibicarakan. Semakin kita berbicara, semakin kita menerima suplaian Allah. Dengan jalan demikian, Ia bertumbuh di dalam kita. Selain itu, kita pun dapat memberi Dia ruang untuk bertumbuh melalui berdoa. Semakin banyak berdoa, semakin Dia leluasa bergerak di dalam kita dan bekerja melalui kita. Kiranya kita terus belajar bekerja sama dengan Allah demi pertumbuhan-Nya di dalam kita.
19 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 2 Rabu
Kristus Datang Sebagai Mempelai Laki-laki
Yohanes 3:29
Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:29; 1 Kor. 6:17; Ef. 5:25-27; Gal. 2:20; 2 Kor. 11:2
Setelah kita percaya Tuhan dan dilahirkan kembali maka kita memperoleh hayat Allah masuk ke dalam kita. Hayat kekal ini membawakan Allah ke dalam kita dan menyingkirkan sifat setani di dalam daging kita. Tidak cukup demikian, melalui hayat-Nya, Tuhan membuat kita menjadi perkembangbiakan-Nya, yakni menjadi mempelai perempuan-Nya.
Mempelai perempuan Kristus adalah pertambahan Kristus. Semua orang yang dilahirkan kembali adalah pertambahan Kristus, dan pertambahan ini ialah jodoh Kristus. Mempelai perempuan ini juga adalah gereja, yang tersusun dari semua orang yang telah dilahirkan kembali. Tanpa kelahiran kembali, Kristus takkan beroleh mempelai perempuan yang adalah penambahan-Nya.
Seperti halnya istri dan suami itu menjadi satu tubuh, kitapun menjadilah satu roh dengan Kristus (1 Kor. 6:17). Sebagaimana istri adalah pertambahan suami, kita pun yang sebagai mempelai perempuan Kristus, juga adalah pertambahan-Nya. Kristus bertambah melalui kelahiran kembali kita, sebab pada saat kita dilahirkan kembali, Kristus terlahir ke dalam kita. Oleh sebab itu, dari hari ke hari, Dia seharusnya makin bertambah besar. Setiap saat di mana ada orang yang dilahirkan kembali, Kristus semakin diperbesar.
Sebagai mempelai laki-laki, apakah yang telah Kristus lakukan bagi kita? Tidak diragukan lagi, pertama-tama Dia mengasihi kita, bahkan menyerahkan diri-Nya bagi kita (Ef. 5:25). Kedua, Dia memberikan hayat-Nya tinggal di dalam kita, sehingga kita dapat hidup bersandar Dia, bukan bersandar diri sendiri (Gal. 2:20). Terakhir, Kristus melalui Roh-Nya yang berhuni di dalam kita terus mendandani kita sedemikian rupa sehingga kita siap dipersembahkan kepada-Nya (5:26-27) pada hari kedatangan-Nya yang kedua kali (Why. 19:7).
Sebaliknya, bagaimakah seharusnya sikap kita terhadap Kristus, Sang mempelai laki-laki? Rasul Paulus mengatakan bahwa kita harus hidup sebagai perawan suci, menjaga kesucian dan kemurnian kita terhadap-Nya (2 Kor. 11:2). Jangan biarkan dosa, dunia, dan hal-hal duniawi merusak kesucian dan kemurnian kita. Oleh sebab itu, kita perlu belajar hidup menurut roh dan membiarkan Dia membasuh kita dengan air dalam firman setiap hari.
Yohanes 3:29
Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:29; 1 Kor. 6:17; Ef. 5:25-27; Gal. 2:20; 2 Kor. 11:2
Setelah kita percaya Tuhan dan dilahirkan kembali maka kita memperoleh hayat Allah masuk ke dalam kita. Hayat kekal ini membawakan Allah ke dalam kita dan menyingkirkan sifat setani di dalam daging kita. Tidak cukup demikian, melalui hayat-Nya, Tuhan membuat kita menjadi perkembangbiakan-Nya, yakni menjadi mempelai perempuan-Nya.
Mempelai perempuan Kristus adalah pertambahan Kristus. Semua orang yang dilahirkan kembali adalah pertambahan Kristus, dan pertambahan ini ialah jodoh Kristus. Mempelai perempuan ini juga adalah gereja, yang tersusun dari semua orang yang telah dilahirkan kembali. Tanpa kelahiran kembali, Kristus takkan beroleh mempelai perempuan yang adalah penambahan-Nya.
Seperti halnya istri dan suami itu menjadi satu tubuh, kitapun menjadilah satu roh dengan Kristus (1 Kor. 6:17). Sebagaimana istri adalah pertambahan suami, kita pun yang sebagai mempelai perempuan Kristus, juga adalah pertambahan-Nya. Kristus bertambah melalui kelahiran kembali kita, sebab pada saat kita dilahirkan kembali, Kristus terlahir ke dalam kita. Oleh sebab itu, dari hari ke hari, Dia seharusnya makin bertambah besar. Setiap saat di mana ada orang yang dilahirkan kembali, Kristus semakin diperbesar.
Sebagai mempelai laki-laki, apakah yang telah Kristus lakukan bagi kita? Tidak diragukan lagi, pertama-tama Dia mengasihi kita, bahkan menyerahkan diri-Nya bagi kita (Ef. 5:25). Kedua, Dia memberikan hayat-Nya tinggal di dalam kita, sehingga kita dapat hidup bersandar Dia, bukan bersandar diri sendiri (Gal. 2:20). Terakhir, Kristus melalui Roh-Nya yang berhuni di dalam kita terus mendandani kita sedemikian rupa sehingga kita siap dipersembahkan kepada-Nya (5:26-27) pada hari kedatangan-Nya yang kedua kali (Why. 19:7).
Sebaliknya, bagaimakah seharusnya sikap kita terhadap Kristus, Sang mempelai laki-laki? Rasul Paulus mengatakan bahwa kita harus hidup sebagai perawan suci, menjaga kesucian dan kemurnian kita terhadap-Nya (2 Kor. 11:2). Jangan biarkan dosa, dunia, dan hal-hal duniawi merusak kesucian dan kemurnian kita. Oleh sebab itu, kita perlu belajar hidup menurut roh dan membiarkan Dia membasuh kita dengan air dalam firman setiap hari.
18 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 2 Selasa
Yang Percaya, Beroleh Hayat Yang Kekal
Yohanes 3:16, Tl.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hayat yang kekal.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:14-16, 36; 6:54; 10:10
Dalam Injil Yohanes, menerima hayat kekal dibicarakan dalam empat cara. Pertama, Yohanes 3:16 mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Kedua, Yohanes 3:14-15 mengatakan, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Ketiga, Yohanes 6:54 mengatakan, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.” Keempat, Yohanes 3:36 mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia mempunyai hidup yang kekal.” Keempat bagian ini memperlihatkan kepada kita bahwa tujuan Allah mengasihi kita adalah supaya kita mendapatkan hayat kekal-Nya.
Menurut pemahaman kebanyakan orang Kristen dewasa ini, mendapatkan hidup yang kekal itu berarti bahwa suatu hari kelak kita semua akan naik ke surga untuk menikmati berkat dan kebahagiaan selama-lamanya. Namun hidup yang kekal ini sebenarnya adalah hayat yang kekal, hayat Allah sendiri. Allah mengasihi kita bukan sekedar supaya kita ditebus dari dosa, atau supaya kita beroleh kemakmuran materi di jaman ini dan suatu hari diangkat ke surga seperti yang banyak diajarkan hari ini, melainkan supaya kita dapat menerima Dia sebagai hayat kekal kita (Yoh. 3:16; 10:10b). Tujuan Allah satu-satunya di atas diri kita adalah supaya kita dapat menerima hayat-Nya.
Tujuan Allah ini tidak pernah berubah. Seluruh Alkitab sebenarnya hanya membicarakan satu judul, yakni Allah ingin masuk ke dalam manusia sebagai hayat supaya manusia dapat mengekspresikan Dia dan berkuasa bagi Dia. Di balik kasih Allah yang besar terhadap manusia yang berdosa, terkandung suatu maksud yang seringkali tidak disadari oleh kebanyakan orang, yakni Allah ingin memberikan diri-Nya sebagai hayat kepada kita. Inkarnasi, kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan Kristus, semuanya adalah untuk memberikan hayat kekal kepada kita. Inilah kasih Allah yang terbesar bagi kita: Dia memberikan diri-Nya sendiri sebagai hayat kita. Haleluya!
Yohanes 3:16, Tl.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hayat yang kekal.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:14-16, 36; 6:54; 10:10
Dalam Injil Yohanes, menerima hayat kekal dibicarakan dalam empat cara. Pertama, Yohanes 3:16 mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Kedua, Yohanes 3:14-15 mengatakan, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Ketiga, Yohanes 6:54 mengatakan, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.” Keempat, Yohanes 3:36 mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia mempunyai hidup yang kekal.” Keempat bagian ini memperlihatkan kepada kita bahwa tujuan Allah mengasihi kita adalah supaya kita mendapatkan hayat kekal-Nya.
Menurut pemahaman kebanyakan orang Kristen dewasa ini, mendapatkan hidup yang kekal itu berarti bahwa suatu hari kelak kita semua akan naik ke surga untuk menikmati berkat dan kebahagiaan selama-lamanya. Namun hidup yang kekal ini sebenarnya adalah hayat yang kekal, hayat Allah sendiri. Allah mengasihi kita bukan sekedar supaya kita ditebus dari dosa, atau supaya kita beroleh kemakmuran materi di jaman ini dan suatu hari diangkat ke surga seperti yang banyak diajarkan hari ini, melainkan supaya kita dapat menerima Dia sebagai hayat kekal kita (Yoh. 3:16; 10:10b). Tujuan Allah satu-satunya di atas diri kita adalah supaya kita dapat menerima hayat-Nya.
Tujuan Allah ini tidak pernah berubah. Seluruh Alkitab sebenarnya hanya membicarakan satu judul, yakni Allah ingin masuk ke dalam manusia sebagai hayat supaya manusia dapat mengekspresikan Dia dan berkuasa bagi Dia. Di balik kasih Allah yang besar terhadap manusia yang berdosa, terkandung suatu maksud yang seringkali tidak disadari oleh kebanyakan orang, yakni Allah ingin memberikan diri-Nya sebagai hayat kepada kita. Inkarnasi, kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan Kristus, semuanya adalah untuk memberikan hayat kekal kepada kita. Inilah kasih Allah yang terbesar bagi kita: Dia memberikan diri-Nya sendiri sebagai hayat kita. Haleluya!
17 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 2 Senin
Memandang Kepada Anak Manusia Yang Telah Ditinggikan
Yohanes 3:14-15, Tl.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hayat yang kekal.
Ayat Bacaan: Yoh.3:14-15; Bil. 21:9; Ef. 6:16; Ibr. 2:14
Tidak perlu diragukan lagi bahwa seluruh umat manusia telah “dipagut” oleh ular berbisa (Iblis), sehingga seluruh umat manusia menghadapi kematian kekal yang mengerikan. Tidak seorang pun yang dapat mengatakan bahwa dirinya bebas dari dosa. Namun puji Tuhan, Allah memberikan kepada kita jalan untuk diselamatkan, yakni dengan memandang (percaya) kepada-Nya. Dalam Bilangan 21:9 disebutkan, “Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.” Inilah jalan keselamatan yang Allah sediakan bagi umat-Nya.
Sudahkah Anda memandang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya? Yohanes 3:15 berkata, “Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Bagi orang yang dipagut ular, berbuat baik tidak ada gunanya, memperbaiki diri juga sia-sia adanya. Kalau dia mau tetap hidup, yang dia perlukan adalah memandang kepada ular tembaga yang Musa tinggikan di atas tiang. Seprinsip dengan itu, tidak ada jalan lain bagi orang yang berdosa bila tidak ingin binasa, selain percaya kepada Tuhan Yesus.
Satu hal yang perlu kita sadari bahwa Iblis hari demi hari terus berusaha menyuntikkan dosa dan hal-hal negatif ke dalam kita. Setelah dilahirkan kembali, tidak berarti bahwa kita sudah aman sepenuhnya dari serangan tipu daya si jahat. Alkitab mengingatkan kita bahwa kita perlu waspada terhadap panah api si jahat (Ef. 6:16). Panah api si jahat adalah cobaan-cobaan, usulan-usulan, keragu-raguan, pertanyaan-pertanyaan, dusta-dusta, kekuatiran, dan serangan-serangan Iblis, yang diarahkan khususnya kepada pikiran kita.
Agar diselamatkan dari serangan Iblis, kita perlu berpaling kepada Tuhan, melatih roh kita, dan berpegang pada firman Tuhan sebagai perisai iman kita. Ketika Iblis mulai menyerang pikiran kita, kita dapat berseru: “O, Tuhan Yesus, aku berlindung di dalam darah-Mu.” Untuk mematahkan panah api si jahat, kita pun dapat memproklamirkan firman Tuhan dalam Ibrani 2:14 dengan berkata: “Hai Iblis, melalui kematian-Nya, Tuhan telah memusnahkan engkau! Engkau tidak lagi berkuasa atasku. Enyahlah engkau, Iblis!”
Yohanes 3:14-15, Tl.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hayat yang kekal.
Ayat Bacaan: Yoh.3:14-15; Bil. 21:9; Ef. 6:16; Ibr. 2:14
Tidak perlu diragukan lagi bahwa seluruh umat manusia telah “dipagut” oleh ular berbisa (Iblis), sehingga seluruh umat manusia menghadapi kematian kekal yang mengerikan. Tidak seorang pun yang dapat mengatakan bahwa dirinya bebas dari dosa. Namun puji Tuhan, Allah memberikan kepada kita jalan untuk diselamatkan, yakni dengan memandang (percaya) kepada-Nya. Dalam Bilangan 21:9 disebutkan, “Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.” Inilah jalan keselamatan yang Allah sediakan bagi umat-Nya.
Sudahkah Anda memandang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya? Yohanes 3:15 berkata, “Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Bagi orang yang dipagut ular, berbuat baik tidak ada gunanya, memperbaiki diri juga sia-sia adanya. Kalau dia mau tetap hidup, yang dia perlukan adalah memandang kepada ular tembaga yang Musa tinggikan di atas tiang. Seprinsip dengan itu, tidak ada jalan lain bagi orang yang berdosa bila tidak ingin binasa, selain percaya kepada Tuhan Yesus.
Satu hal yang perlu kita sadari bahwa Iblis hari demi hari terus berusaha menyuntikkan dosa dan hal-hal negatif ke dalam kita. Setelah dilahirkan kembali, tidak berarti bahwa kita sudah aman sepenuhnya dari serangan tipu daya si jahat. Alkitab mengingatkan kita bahwa kita perlu waspada terhadap panah api si jahat (Ef. 6:16). Panah api si jahat adalah cobaan-cobaan, usulan-usulan, keragu-raguan, pertanyaan-pertanyaan, dusta-dusta, kekuatiran, dan serangan-serangan Iblis, yang diarahkan khususnya kepada pikiran kita.
Agar diselamatkan dari serangan Iblis, kita perlu berpaling kepada Tuhan, melatih roh kita, dan berpegang pada firman Tuhan sebagai perisai iman kita. Ketika Iblis mulai menyerang pikiran kita, kita dapat berseru: “O, Tuhan Yesus, aku berlindung di dalam darah-Mu.” Untuk mematahkan panah api si jahat, kita pun dapat memproklamirkan firman Tuhan dalam Ibrani 2:14 dengan berkata: “Hai Iblis, melalui kematian-Nya, Tuhan telah memusnahkan engkau! Engkau tidak lagi berkuasa atasku. Enyahlah engkau, Iblis!”
16 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 2 Minggu
Keadaan Manusia Yang Sebenarnya
Yohanes 3:14
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:10-14; Rm. 3:23; 6:23; Bil. 21:4-9; Mat. 12:34; Ibr. 2:14
Dalam Kejadian pasal dua, kita dapat melihat bagaimana keadaan manusia pertama yang diciptakan Allah. Manusia pertama ini diciptakan begitu baik, bahkan sangat baik. Namun di dalam Kejadian pasal tiga, kita melihat manusia mulai jatuh. Manusia terkena “racun” dari ular, tertipu oleh tipu daya Iblis. Sejak hari itulah manusia memiliki dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka upah yang patut diterima oleh manusia adalah maut (Rm. 6:23). Nasib yang demikian bukan saja diterima oleh Adam, akan tetapi juga diwarisi oleh setiap keturunan Adam. “Racun” ular (sifat dosa) yang telah disuntikkan ke dalam manusia ini, lama kelamaan akan membawa manusia kepada maut. Inilah upah dan nasib seluruh umat manusia yang sesungguhnya.
Dalam Perjanjian Lama terdapat suatu kisah di mana Musa membuat ular tembaga dan meletakkannya di atas tiang supaya setiap orang yang dipagut oleh ular ganas dapat diselamatkan (Bil. 21:9). Ular tembaga di atas tiang melambangkan Tuhan Yesus di atas salib. Sebagai “ular tembaga”, Dia memiliki bentuk ular, tetapi tidak memiliki racun ular (sifat dosa). Di atas salib, Tuhan Yesus mengambil bentuk “ular” karena dia mati untuk menggantikan manusia yang telah “menjadi ular” dalam sifat batininya. Di mata Allah umat manusia telah menjadi “ular” (Mat. 12:34). Namun, di atas salib, Tuhan Yesus telah menghancurkan Iblis dan sifat Iblis di dalam kita (Ibr. 2:14).
Nikodemus mungkin mengira dirinya adalah orang yang bermoral dan baik. Tetapi perkataan Tuhan kepadanya menyiratkan bahwa tak peduli bagaimana baiknya Nikodemus secara luaran, di dalam dirinya tetap ada sifat Iblis (Yoh. 3:10-14). Sebagai keturunan Adam, dia telah “diracuni” oleh Iblis dan sifat Iblis (sifat dosa) ada di dalam dia. Sebab itu dia tidak hanya memerlukan Tuhan sebagai Anak Domba Allah untuk menghapus dosanya (Yoh. 1:29), juga memerlukan Tuhan sebagai “ular tembaga” yang ditinggikan (Yoh. 3:14; Bil. 21:4-9). Dalam ketersaliban-Nya, Kristus ditinggikan sebagai “ular tembaga” untuk menanggulangi sifat dosa di dalam kita, agar kita yang memandang (percaya) kepada-Nya mendapatkan hayat yang kekal.
Yohanes 3:14
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:10-14; Rm. 3:23; 6:23; Bil. 21:4-9; Mat. 12:34; Ibr. 2:14
Dalam Kejadian pasal dua, kita dapat melihat bagaimana keadaan manusia pertama yang diciptakan Allah. Manusia pertama ini diciptakan begitu baik, bahkan sangat baik. Namun di dalam Kejadian pasal tiga, kita melihat manusia mulai jatuh. Manusia terkena “racun” dari ular, tertipu oleh tipu daya Iblis. Sejak hari itulah manusia memiliki dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka upah yang patut diterima oleh manusia adalah maut (Rm. 6:23). Nasib yang demikian bukan saja diterima oleh Adam, akan tetapi juga diwarisi oleh setiap keturunan Adam. “Racun” ular (sifat dosa) yang telah disuntikkan ke dalam manusia ini, lama kelamaan akan membawa manusia kepada maut. Inilah upah dan nasib seluruh umat manusia yang sesungguhnya.
Dalam Perjanjian Lama terdapat suatu kisah di mana Musa membuat ular tembaga dan meletakkannya di atas tiang supaya setiap orang yang dipagut oleh ular ganas dapat diselamatkan (Bil. 21:9). Ular tembaga di atas tiang melambangkan Tuhan Yesus di atas salib. Sebagai “ular tembaga”, Dia memiliki bentuk ular, tetapi tidak memiliki racun ular (sifat dosa). Di atas salib, Tuhan Yesus mengambil bentuk “ular” karena dia mati untuk menggantikan manusia yang telah “menjadi ular” dalam sifat batininya. Di mata Allah umat manusia telah menjadi “ular” (Mat. 12:34). Namun, di atas salib, Tuhan Yesus telah menghancurkan Iblis dan sifat Iblis di dalam kita (Ibr. 2:14).
Nikodemus mungkin mengira dirinya adalah orang yang bermoral dan baik. Tetapi perkataan Tuhan kepadanya menyiratkan bahwa tak peduli bagaimana baiknya Nikodemus secara luaran, di dalam dirinya tetap ada sifat Iblis (Yoh. 3:10-14). Sebagai keturunan Adam, dia telah “diracuni” oleh Iblis dan sifat Iblis (sifat dosa) ada di dalam dia. Sebab itu dia tidak hanya memerlukan Tuhan sebagai Anak Domba Allah untuk menghapus dosanya (Yoh. 1:29), juga memerlukan Tuhan sebagai “ular tembaga” yang ditinggikan (Yoh. 3:14; Bil. 21:4-9). Dalam ketersaliban-Nya, Kristus ditinggikan sebagai “ular tembaga” untuk menanggulangi sifat dosa di dalam kita, agar kita yang memandang (percaya) kepada-Nya mendapatkan hayat yang kekal.
15 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Sabtu
Roh Kelahiran Kembali
Yohanes 3:6
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:6; 1 Tim. 4:7; 2 Tim. 1:7; 4:22; Rm. 8:4; 1 Kor. 6:17; Ef. 6:18
Setelah roh manusia kita dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yoh. 3:6), selanjutnya bagaimanakah sikap kita terhadap roh kita? Satu Timotius 4:7 mengatakan, “Latihlah dirimu beribadah.” Dua Timotius 1:7 mengatakan, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Kemudian Dua Timotius 4:22 mengatakan, “Tuhan menyertai rohmu.” Jika kita menggabungkan semua ayat ini, kita dapat melihat bahwa melatih diri beribadah tergantung pada melatih roh kelahiran kembali kita, tempat Tuhan berada. Dengan kata lain, jika kita ingin melatih diri beribadah, kita harus mengetahui bagaimana melatih roh kita, karena Allah ada di dalam roh kita.
Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan menurut roh (Rm. 8:4), sebab roh kita telah berbaur dengan Roh Tuhan (1 Kor. 6:17). Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita katakan, kita harus melakukannya dan mengatakannya dengan roh kita. Mengasihi isteri itu tidak salah, ini sangat baik. Memikirkan pengajaran Alkitab dan mencari pengetahuan itu juga baik. Tetapi kasih, pertimbangan, dan pencarian kita, kita sering kali tidak bergantung kepada Tuhan. Kita menaruh pikiran kita, yang mewakili diri kita, pada begitu banyak perkara di luar Tuhan. Kita semua harus belajar satu perkara: apapun yang kita lakukan, kita harus berpaling kepada Tuhan yang berhuni di dalam roh kita.
Semua masalah yang timbul dalam kehidupan kita, sebagian besar diakibatkan oleh satu penyebab, yakni kita yang tidak melatih atau menggunakan roh kita. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak mempedulikan roh kita, kurang memperhatikan roh. Kita lebih banyak memperhatikan perkara yang baik menurut kita dan berusaha untuk melakukan perkara-perkara tersebut dengan kemampuan kita sendiri. Itulah sebabnya kita kemudian terbentur dengan banyak masalah yang merepotkan. Kita harus mulai melatih roh kita melalui berdoa, karena berdoa pada dasarnya terjadi di dalam roh (Ef. 6:18). Sebab itu cara terbaik bagi kita untuk melatih roh kita adalah dengan belajar berdoa. Latihan roh yang demikian membuat kita mengalami kemenangan, menikmati Tuhan, dan memperhidupkan Tuhan.
Yohanes 3:6
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:6; 1 Tim. 4:7; 2 Tim. 1:7; 4:22; Rm. 8:4; 1 Kor. 6:17; Ef. 6:18
Setelah roh manusia kita dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yoh. 3:6), selanjutnya bagaimanakah sikap kita terhadap roh kita? Satu Timotius 4:7 mengatakan, “Latihlah dirimu beribadah.” Dua Timotius 1:7 mengatakan, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Kemudian Dua Timotius 4:22 mengatakan, “Tuhan menyertai rohmu.” Jika kita menggabungkan semua ayat ini, kita dapat melihat bahwa melatih diri beribadah tergantung pada melatih roh kelahiran kembali kita, tempat Tuhan berada. Dengan kata lain, jika kita ingin melatih diri beribadah, kita harus mengetahui bagaimana melatih roh kita, karena Allah ada di dalam roh kita.
Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan menurut roh (Rm. 8:4), sebab roh kita telah berbaur dengan Roh Tuhan (1 Kor. 6:17). Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita katakan, kita harus melakukannya dan mengatakannya dengan roh kita. Mengasihi isteri itu tidak salah, ini sangat baik. Memikirkan pengajaran Alkitab dan mencari pengetahuan itu juga baik. Tetapi kasih, pertimbangan, dan pencarian kita, kita sering kali tidak bergantung kepada Tuhan. Kita menaruh pikiran kita, yang mewakili diri kita, pada begitu banyak perkara di luar Tuhan. Kita semua harus belajar satu perkara: apapun yang kita lakukan, kita harus berpaling kepada Tuhan yang berhuni di dalam roh kita.
Semua masalah yang timbul dalam kehidupan kita, sebagian besar diakibatkan oleh satu penyebab, yakni kita yang tidak melatih atau menggunakan roh kita. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak mempedulikan roh kita, kurang memperhatikan roh. Kita lebih banyak memperhatikan perkara yang baik menurut kita dan berusaha untuk melakukan perkara-perkara tersebut dengan kemampuan kita sendiri. Itulah sebabnya kita kemudian terbentur dengan banyak masalah yang merepotkan. Kita harus mulai melatih roh kita melalui berdoa, karena berdoa pada dasarnya terjadi di dalam roh (Ef. 6:18). Sebab itu cara terbaik bagi kita untuk melatih roh kita adalah dengan belajar berdoa. Latihan roh yang demikian membuat kita mengalami kemenangan, menikmati Tuhan, dan memperhidupkan Tuhan.
14 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Jumat
Roh Allah Melahirkan Roh Manusia
Yohanes 3:6
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:6; 4:24; Za. 12:1
Banyak dari antara kita mungkin memiliki konsepsi bahwa karena kita sangat berdosa, jahat dan buruk, maka kita perlu dilahirkan kembali. Namun, misalkan saja Anda tidak jahat atau berdosa, Anda sangat baik, bahkan lebih baik daripada malaikat, apakah Anda masih perlu dilahirkan kembali? Masih perlu! Para malaikat Allah memang baik, tetapi mereka tidak memiliki hayat Allah. Kita perlu dilahirkan kembali, tidak peduli kita baik atau buruk, sebab kita membutuhkan hayat Allah. Seandainya kita tidak berdosa sekalipun, kita masih perlu dilahirkan ulang, dilahirkan kembali.
Alkitab dengan jelas mengungkapkan bahwa kita memiliki roh (Za. 12:1). Allah menciptakan roh di dalam kita supaya kita dapat berhubungan dengan-Nya. Dalam Yohanes 3:6 Tuhan Yesus mengatakan, “Apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Mudah bagi kita untuk mengerti bahwa Roh yang pertama pastilah Roh Allah, dan roh yang kedua adalah roh manusia. Jadi, yang dilahirkan oleh Roh Allah bukanlah tubuh atau jiwa, melainkan roh manusia.
Roh kita dilahirkan oleh Allah yang masuk ke dalam roh kita menjadi hayat kita. Sekarang hayat ilahi ini ada di dalam roh kita. Roh kita terlahir karena hayat Allah masuk ke dalamnya, dan kelahiran ini tidak ada hubungannya dengan kejatuhan manusia. Bahkan seandainya Adam tidak pernah jatuh ke dalam dosa, ia masih perlu dilahirkan kembali. Tanpa itu, ia tidak dapat mengekpresikan Allah dan berkuasa bagi Allah. Namun puji Tuhan, melalui kelahiran kembali, kini di dalam roh kita ada hayat, dan hayat ini adalah Allah sendiri.
Roh manusia adalah titik terpenting kehidupan batiniah kita. Dalam roh inilah kita telah dilahirkan kembali dan dalam roh inilah kita menyembah Allah (Yoh. 4:24). Dalam roh kita yang dilahirkan kembali inilah kita menyembah Allah, melayani Allah, bersekutu dengan saudara saudari, dan kita bertumbuh dalam hayat ini. Dalam roh ini pulalah kita menempuh kehidupan gereja yang normal. Jika Anda tidak berada di dalam roh, Anda tidak dapat menempuh kehidupan gereja dengan tepat. Jika kita berpaling ke dalam roh kita, barulah kita bisa bersatu, sehati, dan terbangun dengan kaum beriman lain. Dengan kata lain, seluruh kehidupan rohani kita, semuanya tergantung pada roh kita.
Yohanes 3:6
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:6; 4:24; Za. 12:1
Banyak dari antara kita mungkin memiliki konsepsi bahwa karena kita sangat berdosa, jahat dan buruk, maka kita perlu dilahirkan kembali. Namun, misalkan saja Anda tidak jahat atau berdosa, Anda sangat baik, bahkan lebih baik daripada malaikat, apakah Anda masih perlu dilahirkan kembali? Masih perlu! Para malaikat Allah memang baik, tetapi mereka tidak memiliki hayat Allah. Kita perlu dilahirkan kembali, tidak peduli kita baik atau buruk, sebab kita membutuhkan hayat Allah. Seandainya kita tidak berdosa sekalipun, kita masih perlu dilahirkan ulang, dilahirkan kembali.
Alkitab dengan jelas mengungkapkan bahwa kita memiliki roh (Za. 12:1). Allah menciptakan roh di dalam kita supaya kita dapat berhubungan dengan-Nya. Dalam Yohanes 3:6 Tuhan Yesus mengatakan, “Apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Mudah bagi kita untuk mengerti bahwa Roh yang pertama pastilah Roh Allah, dan roh yang kedua adalah roh manusia. Jadi, yang dilahirkan oleh Roh Allah bukanlah tubuh atau jiwa, melainkan roh manusia.
Roh kita dilahirkan oleh Allah yang masuk ke dalam roh kita menjadi hayat kita. Sekarang hayat ilahi ini ada di dalam roh kita. Roh kita terlahir karena hayat Allah masuk ke dalamnya, dan kelahiran ini tidak ada hubungannya dengan kejatuhan manusia. Bahkan seandainya Adam tidak pernah jatuh ke dalam dosa, ia masih perlu dilahirkan kembali. Tanpa itu, ia tidak dapat mengekpresikan Allah dan berkuasa bagi Allah. Namun puji Tuhan, melalui kelahiran kembali, kini di dalam roh kita ada hayat, dan hayat ini adalah Allah sendiri.
Roh manusia adalah titik terpenting kehidupan batiniah kita. Dalam roh inilah kita telah dilahirkan kembali dan dalam roh inilah kita menyembah Allah (Yoh. 4:24). Dalam roh kita yang dilahirkan kembali inilah kita menyembah Allah, melayani Allah, bersekutu dengan saudara saudari, dan kita bertumbuh dalam hayat ini. Dalam roh ini pulalah kita menempuh kehidupan gereja yang normal. Jika Anda tidak berada di dalam roh, Anda tidak dapat menempuh kehidupan gereja dengan tepat. Jika kita berpaling ke dalam roh kita, barulah kita bisa bersatu, sehati, dan terbangun dengan kaum beriman lain. Dengan kata lain, seluruh kehidupan rohani kita, semuanya tergantung pada roh kita.
13 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Kamis
Pengalaman Atas Kelahiran Kembali
Yohanes 3:5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan
dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 3:5; Rm. 8:4, 13; Gal. 5:25
Kelahiran kembali membuat seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:5). Melalui kelahiran jasmani dari orang tua kita, kita mendapatkan hayat manusia, sehingga kita dapat masuk ke dalam kerajaan manusia dan tunduk kepada hukum yang berlaku di dalam ruang lingkup kerajaan manusia. Demikian pula, melalui kelahiran kembali dari air dan Roh, kita mendapatkan hayat Allah, sehingga kita dapat masuk ke dalam ruang lingkup Kerajaan Allah, di mana kita diatur oleh hukum hayat-Nya.
Banyak orang mengira bahwa masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah perkara yang akan datang. Mereka berpikir setelah mereka mati suatu hari nanti, barulah malaikat Tuhan akan membawa mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah. Namun menurut terang Yohanes 3:5, begitu seseorang dilahirkan dari air dan Roh, saat itu juga dia masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mengapa? Sebab Kerajaan Allah di sini bukan mengacu kepada suatu tempat (alam materi) seperti yang dibayangkan oleh banyak orang, melainkan suatu ruang lingkup pemerintahan Allah melalui hayat-Nya. Masuk ke dalam Kerajaan Allah di sini berarti masuk ke dalam ruang lingkup pemerintahan-Nya.
Hidup di dalam Kerajaan Allah menuntut ketaatan kita. Melalui kelahiran kembali, Allah memberi kita hati yang baru dan roh yang baru. Hati yang baru adalah hati yang lunak terhadap Allah, juga hati yang taat di bawah pemerintahan Allah. Selain itu, hati yang baru akan membuat kita mengasihi Allah dan perkara-perkara milik Allah, sebaliknya membenci dosa, dunia, dan perkara-perkara di luar Allah. Lalu apakah gunanya roh yang baru? Roh yang baru adalah roh yang dihidupkan kembali fungsinya sehingga kita bisa berkontak dengan Allah dan memungkinkan kita hidup dalam persekutuan dengan Allah.
Saudara saudari kekasih, asal kita sudah dilahirkan kembali, kita semua sudah berada di dalam Kerajaan Allah, sudah berada di dalam ruang lingkup pemerintahan ilahi-Nya. Yang kita perlukan sekarang adalah hidup menurut pengaturan, pembatasan, juga bimbingan dari Roh itu yang berhuni di dalam kita (Rm. 8:4, 13; Gal. 5:25). Hati yang baru dan roh yang baru memungkinkan kita hidup di dalam ketaatan terhadap pemerintahan ilahi-Nya.
Yohanes 3:5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan
dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 3:5; Rm. 8:4, 13; Gal. 5:25
Kelahiran kembali membuat seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:5). Melalui kelahiran jasmani dari orang tua kita, kita mendapatkan hayat manusia, sehingga kita dapat masuk ke dalam kerajaan manusia dan tunduk kepada hukum yang berlaku di dalam ruang lingkup kerajaan manusia. Demikian pula, melalui kelahiran kembali dari air dan Roh, kita mendapatkan hayat Allah, sehingga kita dapat masuk ke dalam ruang lingkup Kerajaan Allah, di mana kita diatur oleh hukum hayat-Nya.
Banyak orang mengira bahwa masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah perkara yang akan datang. Mereka berpikir setelah mereka mati suatu hari nanti, barulah malaikat Tuhan akan membawa mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah. Namun menurut terang Yohanes 3:5, begitu seseorang dilahirkan dari air dan Roh, saat itu juga dia masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mengapa? Sebab Kerajaan Allah di sini bukan mengacu kepada suatu tempat (alam materi) seperti yang dibayangkan oleh banyak orang, melainkan suatu ruang lingkup pemerintahan Allah melalui hayat-Nya. Masuk ke dalam Kerajaan Allah di sini berarti masuk ke dalam ruang lingkup pemerintahan-Nya.
Hidup di dalam Kerajaan Allah menuntut ketaatan kita. Melalui kelahiran kembali, Allah memberi kita hati yang baru dan roh yang baru. Hati yang baru adalah hati yang lunak terhadap Allah, juga hati yang taat di bawah pemerintahan Allah. Selain itu, hati yang baru akan membuat kita mengasihi Allah dan perkara-perkara milik Allah, sebaliknya membenci dosa, dunia, dan perkara-perkara di luar Allah. Lalu apakah gunanya roh yang baru? Roh yang baru adalah roh yang dihidupkan kembali fungsinya sehingga kita bisa berkontak dengan Allah dan memungkinkan kita hidup dalam persekutuan dengan Allah.
Saudara saudari kekasih, asal kita sudah dilahirkan kembali, kita semua sudah berada di dalam Kerajaan Allah, sudah berada di dalam ruang lingkup pemerintahan ilahi-Nya. Yang kita perlukan sekarang adalah hidup menurut pengaturan, pembatasan, juga bimbingan dari Roh itu yang berhuni di dalam kita (Rm. 8:4, 13; Gal. 5:25). Hati yang baru dan roh yang baru memungkinkan kita hidup di dalam ketaatan terhadap pemerintahan ilahi-Nya.
12 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Rabu
Dilahirkan dari Air dan Roh
Yohanes 3:5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan
dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 3:4-5
Nikodemus tidak mengerti apa yang Tuhan maksud dengan perkara dilahirkan kembali. Sebab itu dia bertanya kepada Tuhan, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (Yoh. 3:4). Pertanyaan ini menunjukkan bahwa perkara kelahiran kembali berada di luar konsepsi alamiah manusia yang jatuh. Tidak peduli berapa kali Nikodemus dilahirkan dari rahim ibunya, dia tetap harus dilahirkan kembali, sebab kelahiran kembali yang Tuhan maksudkan bukanlah kelahiran secara jasmaniah, melainkan dilahirkan dari air dan Roh (Yoh. 3:5).
Apakah yang dimaksud dengan dilahirkan dari air dan Roh? “Air” adalah konsepsi utama ministri Yohanes Pembaptis, yaitu untuk menyelesaikan manusia ciptaan lama; “Roh” adalah konsepsi utama ministri Yesus, yaitu untuk penunasan manusia di dalam ciptaan baru. Dua konsepsi utama ini bersama-sama membentuk pengertian tentang kelahiran kembali. Dilahirkan dari air adalah dikubur, diakhiri, sedangkan dilahirkan dari Roh itu adalah dibangunkan dari kematian untuk dibangkitkan dan ditunaskan. Jadi, kelahiran kembali adalah penyelesaian manusia ciptaan lama dengan semua perbuatannya, dan penunasan manusia di dalam ciptaan baru dengan hayat Allah.
Bagi kaum beriman sejati di dalam Kristus, perihal kelahiran kembali tidak boleh hanya menjadi sebuah fakta sejarah di masa lampau. Realitas kelahiran kembali perlu kita alami dalam kehidupan kita setiap hari. Artinya, kehidupan dan perilaku kita setiap hari haruslah berada dalam prinsip kelahiran kembali, di mana manusia lama kita diakhiri dan ciptaan baru ditunaskan di dalam kita. Ketika kita berbicara kepada teman-teman sekantor kita, misalnya, kita perlu menerapkan prinsip pengakhiran dan penunasan ini. Demikian pula dalam hal mengurus keluarga, mengambil keputusan, dan lain sebagainya. Kita harus berdiri pada posisi sebagai orang yang sudah dilahirkan kembali. Kalau tidak demikian, orang lain akan sulit melihat perbedaan di atas diri kita dengan kebanyakan orang lainnya. Fakta kelahiran kembali haruslah menjadi realitas dalam kehidupan kita, menjadi pengalaman dan kesaksian kita.
Yohanes 3:5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan
dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 3:4-5
Nikodemus tidak mengerti apa yang Tuhan maksud dengan perkara dilahirkan kembali. Sebab itu dia bertanya kepada Tuhan, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (Yoh. 3:4). Pertanyaan ini menunjukkan bahwa perkara kelahiran kembali berada di luar konsepsi alamiah manusia yang jatuh. Tidak peduli berapa kali Nikodemus dilahirkan dari rahim ibunya, dia tetap harus dilahirkan kembali, sebab kelahiran kembali yang Tuhan maksudkan bukanlah kelahiran secara jasmaniah, melainkan dilahirkan dari air dan Roh (Yoh. 3:5).
Apakah yang dimaksud dengan dilahirkan dari air dan Roh? “Air” adalah konsepsi utama ministri Yohanes Pembaptis, yaitu untuk menyelesaikan manusia ciptaan lama; “Roh” adalah konsepsi utama ministri Yesus, yaitu untuk penunasan manusia di dalam ciptaan baru. Dua konsepsi utama ini bersama-sama membentuk pengertian tentang kelahiran kembali. Dilahirkan dari air adalah dikubur, diakhiri, sedangkan dilahirkan dari Roh itu adalah dibangunkan dari kematian untuk dibangkitkan dan ditunaskan. Jadi, kelahiran kembali adalah penyelesaian manusia ciptaan lama dengan semua perbuatannya, dan penunasan manusia di dalam ciptaan baru dengan hayat Allah.
Bagi kaum beriman sejati di dalam Kristus, perihal kelahiran kembali tidak boleh hanya menjadi sebuah fakta sejarah di masa lampau. Realitas kelahiran kembali perlu kita alami dalam kehidupan kita setiap hari. Artinya, kehidupan dan perilaku kita setiap hari haruslah berada dalam prinsip kelahiran kembali, di mana manusia lama kita diakhiri dan ciptaan baru ditunaskan di dalam kita. Ketika kita berbicara kepada teman-teman sekantor kita, misalnya, kita perlu menerapkan prinsip pengakhiran dan penunasan ini. Demikian pula dalam hal mengurus keluarga, mengambil keputusan, dan lain sebagainya. Kita harus berdiri pada posisi sebagai orang yang sudah dilahirkan kembali. Kalau tidak demikian, orang lain akan sulit melihat perbedaan di atas diri kita dengan kebanyakan orang lainnya. Fakta kelahiran kembali haruslah menjadi realitas dalam kehidupan kita, menjadi pengalaman dan kesaksian kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)