Luk. 18:8
…Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?
Mat. 25:21
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
1 Ptr. 1:7-9
Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.
Rawatan Pagi:
Iman yang menghubungkan ini adalah tuntutan ilahi bagi para pemenang untuk berjumpa dengan Kristus di dalam kedatangan-Nya yang menang. Ini berdasarkan kepada Lukas 18:8, di mana Tuhan mengatakan, “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Hari ini seluruh dunia itu tidak percaya. …Tetapi oleh belas kasihan-Nya, di tahun-tahun yang lampau, melalui kepemimpinan Saudara Nee, kita telah dibawa masuk ke dalam satu situasi yaitu belajar untuk tidak mengandalkan diri kita sendiri untuk sesuatu, melainkan percaya bahwa Allah kita adalah segalanya.
Saya harap agar ketika Tuhan datang kembali, Dia akan menemukan Anda dan saya sebagai orang-orang yang percaya, yang selalu bersandar kepada-Nya, tidak bersandar kepada diri kita sendiri, dan yang selalu tidak memiliki keyakinan di dalam diri kita sendiri. Keyakinan kita sepenuhnya ada di dalam Dia. Inilah iman yang menghubungkan itu. Iman ini melayakkan para pemenang. Ini adalah tuntutan ilahi bagi Anda dan saya sebagai para pemenang untuk berjumpa dengan Kristus di dalam kedatangan-Nya yang menang. (The Crystallization of the Epistle to the Romans, hal. 121)
Bacaan Hari Ini:
Pada akhirnya, Tuhan akan menemukan beberapa orang, yaitu sedikit para pemenang yang hidup oleh iman yang menghubungkan ini ketika Dia datang kembali. …Saya percaya bahwa secara perbandingan, ada lebih banyak orang-orang yang percaya yang tersembunyi di dalam pemulihan ini daripada di tempat-tempat lainnya. …Kita hanyalah bagi Kristus itu sendiri. Kita bukanlah untuk mujizat-mujizat yang besar, pekerjaan-pekerjaan yang besar atau karir-karir yang besar. Ketika Tuhan datang kembali, Dia berharap untuk menemukan orang-orang yang demikian. Pada kedatangan-Nya kembali, Kristus berharap menemukan orang-orang yang hidup oleh iman yang menghubungkan ini. Kristus berharap menemukan kita sebagai para pemenang-Nya yang tersembunyi.
Kaum beriman yang menempuh satu kehidupan yang menang dan bersukaria oleh iman yang menghubungkan ini akan ditemukan oleh Kristus pada kedatangan-Nya kembali sebagai harta-harta yang siap untuk menerima keselamatan jiwa mereka sebagai akhir (hasil) dari iman mereka (1 Ptr. 1:8-9). Di satu pihak, kita tidak tahu apa-apa atau pun melakukan apa-apa. Kita hanya tahu bagaimana untuk menang dan bagaimana bersukaria oleh iman yang menghubungkan ini. Hari ini, orang-orang yang hidup oleh iman, pada akhirnya akan menerima akhir dari iman mereka, yaitu keselamatan jiwa mereka. Kita telah menerima satu keselamatan, tetapi ini hanyalah keselamatan yang mula-mula. Tahap kemajuan dari keselamatan ini adalah tahap transformasi. Tahap kelengkapan dari keselamatan ini adalah tahap pemuliaan. Jika kita hidup oleh iman yang menghubungkan ini di dalam tahap kemajuan untuk ditransformasi, maka kita akan menjadi raja-raja bersama dengan Kristus di dalam kerajaan seribu tahun.
Sekarang, kita sedang menyiapkan diri kita untuk hari itu. Menyiapkan diri kita berarti menjadi seorang pemenang yang selalu dihubungkan oleh iman yang hidup dengan Allah Tritunggal. …Inilah syarat bagi Anda untuk menjadi seorang pemenang, untuk berjumpa dengan Kristus pada kedatangan-Nya kembali.
Para pemenang akan diberi pahala oleh Kristus dengan kerajaan dan kenikmatan yang puncak akan hayat ilahi bersama dengan Dia di dalam milenium (Why. 20:4, 6). Tuhan akan mengatakan kepada para pemenang-Nya, “Baik sekali, hai hamba yang setia…masuklah ke dalam sukacita tuanmu” (Mat. 25:21, 23). Ini seperti yang pernah dikatakan J. N Darby, “O betapa sukacitanya tidak memiliki apa-apa dan tidak menjadi apa-apa, serta tidak melihat apa-apa selain Kristus yang hidup di dalam kemuliaan dan tidak memperhatikan apa-apa selain kepentingan-kepentingan-Nya di sini.” (The Crystallization of the Epistle to the Romans, hal. 121-123)
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
06 August 2010
05 August 2010
PP SPIA Minggu 1 - Jumat
Ibr. 11:1
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Ef. 3:17
Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
Rm. 3:22
Yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.
Rm. 10:17
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Rawatan Pagi:
Inspirasi saja tidak bisa diandalkan. Ini seperti angin. Anda mungkin merasakannya untuk sejangka waktu, tetapi tidak berlangsung lama. Bila kita memiliki satu waktu bersama dengan Tuhan di pagi hari di dalam firman-Nya, maka kita tidak seharusnya berharap untuk memiliki satu perasaan yang spektakuler. Pada waktu yang sama, saya tidak bisa mengatakan bahwa ketika membaca Firman Allah, tidak akan ada perasaan. Kita mungkin memiliki beberapa perasaan dan kita mungkin menyebutnya sebagai inspirasi, tetapi kita tidak seharusnya mengharapkan satu perasaan yang spektakuler atau luar biasa. Kita harus hati-hati karena pengalaman yang luar biasa itu mungkin sangat menipu. Kita tidak boleh menaruh sandaran kita kepada sesuatu yang luar biasa atau spektakuler. Sebaliknya, kita harus belajar untuk memiliki iman kepada apa saja yang Alkitab katakan. (Message to the Trainees in Fall 1990, hal. 27)
Bacaan Hari Ini:
Pengalaman kita akan Kristus adalah oleh iman. Kadang-kadang, kita mengira bahwa karena Kristus hidup di dalam kita, kita seharusnya kuat. Ketika kita merasa bahwa kita lemah, kita mempertanyakan apakah Kristus benar-benar hidup di dalam kita atau tidak. Kristus itu agung, besar dan luas. Tetapi penghidupan-Nya di dalam kita itu tidak kelihatan dan begitu abstrak hingga kita mungkin sering ragu apakah Dia itu ada di dalam kita atau tidak. Di dalam pengalaman saya sendiri, saya menemukan bahwa semakin Tuhan beserta dengan saya, semakin saya tidak memiliki perasaan bahwa Dia beserta dengan saya. Perasaan kita sangat tidak bisa diandalkan. Karena alasan ini, maka kehidupan Kristiani kita di dalam Perjanjian Baru itu mutlak merupakan perkara iman. Iman adalah substansiasi dari hal-hal yang tidak kelihatan (Ibr. 11:1).
Pengalaman yang riil akan Kristus itu tidak kelihatan. Ini mutlak merupakan perkara iman. Di dalam Efesus 3:17, Paulus mengatakan, “Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu.” Frase oleh/melalui iman ini sangat penting karena kita seringkali tidak memiliki perasaan apa pun bahwa Kristus sedang membuat rumah-Nya di dalam hati kita. Ketika Kristus masuk ke dalam kita, kesukaan dan ketidaksukaan kita akan berubah sampai satu tingkatan tertentu. Tetapi kelihatannya bahwa di dalam banyak hal kita tetap sama saja. Seringkali kita tidak merasakan sesuatu di dalam kita. Puji Tuhan, bahwa Paulus menambahkan melalui iman kepada firmannya mengenai Kristus membuat rumah-Nya di dalam hati kita.
Berdasarkan pengalaman saya, saya menemukan bahwa iman Yesus Kristus [di dalam Roma 3:22] itu adalah Yesus Kristus itu sendiri. Kita percaya kepada Yesus Kristus oleh iman Yesus Kristus. Kita diselamatkan oleh iman Kristus. Iman Kristus adalah Kristus itu sendiri. Semua hal yang positif di dalam alam rohani adalah Allah itu sendiri. Meskipun kita tidak bisa merasakan atau melihatnya, tetapi hal-hal itu sungguh riil. Yang diperlukan di pihak kita adalah mengatakan “ya” kepada setiap firman dari Alkitab. Bila kita mengatakan “ya” kepada firman-firman dari Alkitab, maka kita percaya. …Bila Alkitab mengatakan bahwa Yesus adalah Allah (Yoh. 1:1, 14) atau bahwa Yesus telah mati bagi kita (Rm. 5:8), kita harus mengatakan “ya.” Maka Yesus adalah Allah bagi kita, dan kematian-Nya adalah bagi kita. Bila Alkitab mengatakan bahwa Yesus adalah Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b) dan bahwa Dia menghuni kita (Rm. 8:9-11), maka kita harus mengatakan “ya.” Kita tidak seharusnya melangkah lebih jauh dengan meminta Tuhan menunjukkan kepada kita sesuatu secara fisik dan kelihatan. Jalan iman adalah membaca Firman dan percaya kepadanya tanpa melihat sesuatu.
Memperhidupkan Kristus itu selalu oleh iman. Kristus…hidup di dalam kita, dan kita harus hidup oleh Dia. …Di dalam Yohanes 14:19, Tuhan Yesus mengatakan, “Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku; sebab Aku hidup, kamu pun akan hidup. Tuhan hidup di dalam kita agar kita bisa memperhidupkan Dia. Penghidupan-Nya di dalam kita itu tidak kelihatan, tetapi ini adalah satu fakta. Kita memandang Tuhan Yesus dan melihat Dia hari ini, bukan dengan mata fisik kita, melainkan oleh iman di dalam fakta bahwa Dia hidup di dalam kita dan kita memperhidupkan Dia. Kita harus mengambil fakta yang diwahyukan di dalam Firman Tuhan yang patut diandalkan dan menolak perasaan-perasaan kita yang tidak bisa diandalkan. (Messages to the Trainees in Fall 1990, hal. 25-26, 27-28)
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Ef. 3:17
Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
Rm. 3:22
Yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.
Rm. 10:17
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Rawatan Pagi:
Inspirasi saja tidak bisa diandalkan. Ini seperti angin. Anda mungkin merasakannya untuk sejangka waktu, tetapi tidak berlangsung lama. Bila kita memiliki satu waktu bersama dengan Tuhan di pagi hari di dalam firman-Nya, maka kita tidak seharusnya berharap untuk memiliki satu perasaan yang spektakuler. Pada waktu yang sama, saya tidak bisa mengatakan bahwa ketika membaca Firman Allah, tidak akan ada perasaan. Kita mungkin memiliki beberapa perasaan dan kita mungkin menyebutnya sebagai inspirasi, tetapi kita tidak seharusnya mengharapkan satu perasaan yang spektakuler atau luar biasa. Kita harus hati-hati karena pengalaman yang luar biasa itu mungkin sangat menipu. Kita tidak boleh menaruh sandaran kita kepada sesuatu yang luar biasa atau spektakuler. Sebaliknya, kita harus belajar untuk memiliki iman kepada apa saja yang Alkitab katakan. (Message to the Trainees in Fall 1990, hal. 27)
Bacaan Hari Ini:
Pengalaman kita akan Kristus adalah oleh iman. Kadang-kadang, kita mengira bahwa karena Kristus hidup di dalam kita, kita seharusnya kuat. Ketika kita merasa bahwa kita lemah, kita mempertanyakan apakah Kristus benar-benar hidup di dalam kita atau tidak. Kristus itu agung, besar dan luas. Tetapi penghidupan-Nya di dalam kita itu tidak kelihatan dan begitu abstrak hingga kita mungkin sering ragu apakah Dia itu ada di dalam kita atau tidak. Di dalam pengalaman saya sendiri, saya menemukan bahwa semakin Tuhan beserta dengan saya, semakin saya tidak memiliki perasaan bahwa Dia beserta dengan saya. Perasaan kita sangat tidak bisa diandalkan. Karena alasan ini, maka kehidupan Kristiani kita di dalam Perjanjian Baru itu mutlak merupakan perkara iman. Iman adalah substansiasi dari hal-hal yang tidak kelihatan (Ibr. 11:1).
Pengalaman yang riil akan Kristus itu tidak kelihatan. Ini mutlak merupakan perkara iman. Di dalam Efesus 3:17, Paulus mengatakan, “Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu.” Frase oleh/melalui iman ini sangat penting karena kita seringkali tidak memiliki perasaan apa pun bahwa Kristus sedang membuat rumah-Nya di dalam hati kita. Ketika Kristus masuk ke dalam kita, kesukaan dan ketidaksukaan kita akan berubah sampai satu tingkatan tertentu. Tetapi kelihatannya bahwa di dalam banyak hal kita tetap sama saja. Seringkali kita tidak merasakan sesuatu di dalam kita. Puji Tuhan, bahwa Paulus menambahkan melalui iman kepada firmannya mengenai Kristus membuat rumah-Nya di dalam hati kita.
Berdasarkan pengalaman saya, saya menemukan bahwa iman Yesus Kristus [di dalam Roma 3:22] itu adalah Yesus Kristus itu sendiri. Kita percaya kepada Yesus Kristus oleh iman Yesus Kristus. Kita diselamatkan oleh iman Kristus. Iman Kristus adalah Kristus itu sendiri. Semua hal yang positif di dalam alam rohani adalah Allah itu sendiri. Meskipun kita tidak bisa merasakan atau melihatnya, tetapi hal-hal itu sungguh riil. Yang diperlukan di pihak kita adalah mengatakan “ya” kepada setiap firman dari Alkitab. Bila kita mengatakan “ya” kepada firman-firman dari Alkitab, maka kita percaya. …Bila Alkitab mengatakan bahwa Yesus adalah Allah (Yoh. 1:1, 14) atau bahwa Yesus telah mati bagi kita (Rm. 5:8), kita harus mengatakan “ya.” Maka Yesus adalah Allah bagi kita, dan kematian-Nya adalah bagi kita. Bila Alkitab mengatakan bahwa Yesus adalah Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b) dan bahwa Dia menghuni kita (Rm. 8:9-11), maka kita harus mengatakan “ya.” Kita tidak seharusnya melangkah lebih jauh dengan meminta Tuhan menunjukkan kepada kita sesuatu secara fisik dan kelihatan. Jalan iman adalah membaca Firman dan percaya kepadanya tanpa melihat sesuatu.
Memperhidupkan Kristus itu selalu oleh iman. Kristus…hidup di dalam kita, dan kita harus hidup oleh Dia. …Di dalam Yohanes 14:19, Tuhan Yesus mengatakan, “Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku; sebab Aku hidup, kamu pun akan hidup. Tuhan hidup di dalam kita agar kita bisa memperhidupkan Dia. Penghidupan-Nya di dalam kita itu tidak kelihatan, tetapi ini adalah satu fakta. Kita memandang Tuhan Yesus dan melihat Dia hari ini, bukan dengan mata fisik kita, melainkan oleh iman di dalam fakta bahwa Dia hidup di dalam kita dan kita memperhidupkan Dia. Kita harus mengambil fakta yang diwahyukan di dalam Firman Tuhan yang patut diandalkan dan menolak perasaan-perasaan kita yang tidak bisa diandalkan. (Messages to the Trainees in Fall 1990, hal. 25-26, 27-28)
04 August 2010
PP SPIA Minggu 1 - Kamis
Gal. 2:20
Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
2 Kor. 5:7
Karena kami berjalan dengan iman, bukan dengan apa yang kelihatan.
Rm. 1:17
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman."
Rawatan Pagi:
Bagaimanakah Anda bisa memperhidupkan Kristus? Anda perlu berseru kepada-Nya sambil mengatakan, “O, Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu.” Berserulah kepada-Nya dan katakan saja demikian kepada-Nya. Maka dengan segera Dia akan “melompat” di dalam Anda, dan Yesus yang “melompat” ini akan menjadi iman Anda. Yesus yang “melompat” ini sebagai iman yang disalurkan ke dalam Anda itu mengikatkan Anda dengan Dia. Kemudian Anda tidak bisa tahan selain memperhidupkan Dia selama hari itu. Bila Anda berseru kepada-Nya dengan cara demikian, maka Dia menjadi iman yang disalurkan ke dalam Anda sehingga Anda dengan spontan memperhidupkan Dia oleh iman ini.
Anda harus berseru kepada-Nya dengan cara demikian ketika Anda bangun di pagi hari. Kemudian pada jam sembilan, di tempat kerja Anda, Anda bisa memandang ke langit-langit dan mengatakan, “Tuhan Yesus, Engkau begitu baik.” Tidak perlu mengatakan banyak, Berbicara kepada Tuhan sedikit saja itu sudah cukup baik. Ketika Anda mengatakan demikian kepada Tuhan, maka Anda akan menerima pemenuhan lainnya. Kristus segera disalurkan ke dalam Anda sebagai iman Anda. Sebenarnya, Dia sendiri sebagai iman itu menjadi iman Anda, dan ini adalah organ penghubung, yang menghubungkan Anda dengan Kristus yang tidak terbatas itu. (The Crystallization of the Epistle to the Romans, hal. 92-93)
Bacaan Hari Ini:
Ketika saya menyuruh orang-orang untuk berseru kepada nama Tuhan, mereka mengira bahwa mereka perlu berseru kepada-Nya dengan nyaring dan dengan berulang-ulang. Memang tidak ada salahnya dengan hal ini. Kita berseru kepada Tuhan dengan cara apa pun itu benar. Tetapi kita tidak perlu berseru dengan cara demikian untuk dipenuhi oleh-Nya. Kita bisa mengucapkan satu perkataan yang sederhana, “Tuhan Yesus, Engkau tahu aku terlalu sibuk. Aku harus buru-buru pergi ke kantor. Terima kasih kepada-Mu, Tuhan.” Dengan sedikit seruan seperti ini saja, Anda akan diinfus. Penginfusan Kristus di dalam Anda akan menyebabkan Anda memiliki Dia di dalam Anda sebagai iman Anda, yang adalah organ penghubung yang menghubungkan Anda dengan Dia. Inilah cara untuk memperhidupkan Kristus.
2 Korintus 5:7 mengatakan bahwa kita kaum beriman tidak berjalan dengan apa yang kita lihat, melainkan dengan iman. Apa yang kelihatan membawakan banyak hal kepada Anda, tetapi iman menghapuskan segalanya. Ketika apa yang kelihatan itu ada di sini, maka Anda melihat semua benda materi. Bila iman itu datang, maka semua benda fisik ini akan musnah. Kita berjalan dengan iman; kita tidak berjalan dengan apa yang kita lihat, melainkan dengan apa yang tidak kita lihat.
Ini adalah penggenapan akhir dari Roma 1:17, bahwa “orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman.” Orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman! Firman ini harus menjadi spanduk dari ekonomi kekal Allah, yang mutlak merupakan perkara iman (1 Tim. 1:4)!
Orang benar, yaitu mereka yang mutlak benar di hadapan Allah dan manusia, akan memiliki hayat, yaitu hayat ilahi. Lalu, bagaimana kita, orang-orang dosa yang busuk ini, bisa memiliki hayat ilahi dari Allah yang benar menurut kebenaran-Nya? Oleh iman! Oleh iman, yang adalah Allah yang bergerak dan bekerja di dalam Kristus yang menaruh kita ke dalam Kristus sebagai kebenaran kitalah (1 Kor. 1:30), bahwa kita, orang-orang dosa memiliki hayat ilahi menurut kebenaran Allah secara yudisial. Oleh iman yang menghubungkan inilah, kita dihubungkan dengan Allah di dalam Kristus untuk mengambil bagian di dalam segala apa adanya Kristus yang almuhit, segala yang Dia miliki dan yang telah Dia capai untuk menghasilkan anggota-anggota Kristus yang organik untuk menyusun dan membangun Tubuh organik-Nya, yang akan rampung di dalam Yerusalem Baru sebagai perbesaran dan ekspresi dari Allah Tritunggal yang kekal di dalam kemuliaan-Nya yang tidak terbatas dalam perbauran yang misterius antara keilahian dengan keinsanian sampai kekal (Why. 21:2—22:5). Inilah penggenapan yang kekal dari injil di dalam Roma 1:17, bahwa “orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman!” (The Crystallization of the Epistle to the Romans, hal. 93, 123-124)
Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
2 Kor. 5:7
Karena kami berjalan dengan iman, bukan dengan apa yang kelihatan.
Rm. 1:17
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman."
Rawatan Pagi:
Bagaimanakah Anda bisa memperhidupkan Kristus? Anda perlu berseru kepada-Nya sambil mengatakan, “O, Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu.” Berserulah kepada-Nya dan katakan saja demikian kepada-Nya. Maka dengan segera Dia akan “melompat” di dalam Anda, dan Yesus yang “melompat” ini akan menjadi iman Anda. Yesus yang “melompat” ini sebagai iman yang disalurkan ke dalam Anda itu mengikatkan Anda dengan Dia. Kemudian Anda tidak bisa tahan selain memperhidupkan Dia selama hari itu. Bila Anda berseru kepada-Nya dengan cara demikian, maka Dia menjadi iman yang disalurkan ke dalam Anda sehingga Anda dengan spontan memperhidupkan Dia oleh iman ini.
Anda harus berseru kepada-Nya dengan cara demikian ketika Anda bangun di pagi hari. Kemudian pada jam sembilan, di tempat kerja Anda, Anda bisa memandang ke langit-langit dan mengatakan, “Tuhan Yesus, Engkau begitu baik.” Tidak perlu mengatakan banyak, Berbicara kepada Tuhan sedikit saja itu sudah cukup baik. Ketika Anda mengatakan demikian kepada Tuhan, maka Anda akan menerima pemenuhan lainnya. Kristus segera disalurkan ke dalam Anda sebagai iman Anda. Sebenarnya, Dia sendiri sebagai iman itu menjadi iman Anda, dan ini adalah organ penghubung, yang menghubungkan Anda dengan Kristus yang tidak terbatas itu. (The Crystallization of the Epistle to the Romans, hal. 92-93)
Bacaan Hari Ini:
Ketika saya menyuruh orang-orang untuk berseru kepada nama Tuhan, mereka mengira bahwa mereka perlu berseru kepada-Nya dengan nyaring dan dengan berulang-ulang. Memang tidak ada salahnya dengan hal ini. Kita berseru kepada Tuhan dengan cara apa pun itu benar. Tetapi kita tidak perlu berseru dengan cara demikian untuk dipenuhi oleh-Nya. Kita bisa mengucapkan satu perkataan yang sederhana, “Tuhan Yesus, Engkau tahu aku terlalu sibuk. Aku harus buru-buru pergi ke kantor. Terima kasih kepada-Mu, Tuhan.” Dengan sedikit seruan seperti ini saja, Anda akan diinfus. Penginfusan Kristus di dalam Anda akan menyebabkan Anda memiliki Dia di dalam Anda sebagai iman Anda, yang adalah organ penghubung yang menghubungkan Anda dengan Dia. Inilah cara untuk memperhidupkan Kristus.
2 Korintus 5:7 mengatakan bahwa kita kaum beriman tidak berjalan dengan apa yang kita lihat, melainkan dengan iman. Apa yang kelihatan membawakan banyak hal kepada Anda, tetapi iman menghapuskan segalanya. Ketika apa yang kelihatan itu ada di sini, maka Anda melihat semua benda materi. Bila iman itu datang, maka semua benda fisik ini akan musnah. Kita berjalan dengan iman; kita tidak berjalan dengan apa yang kita lihat, melainkan dengan apa yang tidak kita lihat.
Ini adalah penggenapan akhir dari Roma 1:17, bahwa “orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman.” Orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman! Firman ini harus menjadi spanduk dari ekonomi kekal Allah, yang mutlak merupakan perkara iman (1 Tim. 1:4)!
Orang benar, yaitu mereka yang mutlak benar di hadapan Allah dan manusia, akan memiliki hayat, yaitu hayat ilahi. Lalu, bagaimana kita, orang-orang dosa yang busuk ini, bisa memiliki hayat ilahi dari Allah yang benar menurut kebenaran-Nya? Oleh iman! Oleh iman, yang adalah Allah yang bergerak dan bekerja di dalam Kristus yang menaruh kita ke dalam Kristus sebagai kebenaran kitalah (1 Kor. 1:30), bahwa kita, orang-orang dosa memiliki hayat ilahi menurut kebenaran Allah secara yudisial. Oleh iman yang menghubungkan inilah, kita dihubungkan dengan Allah di dalam Kristus untuk mengambil bagian di dalam segala apa adanya Kristus yang almuhit, segala yang Dia miliki dan yang telah Dia capai untuk menghasilkan anggota-anggota Kristus yang organik untuk menyusun dan membangun Tubuh organik-Nya, yang akan rampung di dalam Yerusalem Baru sebagai perbesaran dan ekspresi dari Allah Tritunggal yang kekal di dalam kemuliaan-Nya yang tidak terbatas dalam perbauran yang misterius antara keilahian dengan keinsanian sampai kekal (Why. 21:2—22:5). Inilah penggenapan yang kekal dari injil di dalam Roma 1:17, bahwa “orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman!” (The Crystallization of the Epistle to the Romans, hal. 93, 123-124)
03 August 2010
PP SPIA Minggu 1 - Rabu
1 Tim. 1:3-4
Aku telah mendesak engkau…dan menasehatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan hal-hal yang berbeda…bukan ekonomi Allah dalam iman.
Rm. 10:17
Jadi iman timbul dari pendengaran dan pendengaran melalui firman Kristus.
Ef. 3:9
Dan untuk menerangi semua supaya mereka dapat melihat apa ekonomi rahasia itu…
Ibr. 12:2
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
Rawatan Pagi:
Ekonomi Allah adalah di dalam iman. Ini bukanlah oleh perbuatan kita melainkan oleh iman kita di dalam kasih karunia. Ini bukan oleh perbuatan kita di dalam diri kita sendiri melainkan melalui kita percaya kepada Kristus, perwujudan Allah Tritunggal. Di dalam ministri Tuhan, kita tidak mengajar kaum saleh untuk menyelidiki sesuatu, memelihara sesuatu, atau melakukan sesuatu. Kita meministrikan kepada kaum saleh sesuatu yang memerlukan latihan iman mereka. Iman tidak berasal dari kita. Iman berasal dari apa yang kita lihat. Ketika kita melihat ekonomi Allah, iman ini melahirkan dan memulai satu kepercayaan di dalam kita. Ekonomi Allah adalah kehendak Allah untuk menyalurkan Diri-Nya sendiri ke dalam Anda dan saya untuk menghasilkan satu organisme, Tubuh Kristus, bagi kerelaan kehendak-Nya. Iman berasal dari melihat visi ini. Kita perlu satu visi, satu penglihatan. Kita perlu melihat bahwa di seluruh alam semesta ini kerelaan kehedak Allah adalah menyalurkan Diri-Nya sendiri, mendispensikan Diri-Nya sendiri, ke dalam kita supaya kita dapat menjadi bagian-bagian dari organisme-Nya, Tubuh organik Kristus. (Living in and with the Divine Trinity, hal. 19-20)
Bacaan Hari Ini:
Orang-orang Kristen seringkali membicarakan iman secara obyektif. Ada yang mungkin bertanya apa iman itu, yang berarti apa yang Anda percayai. Aspek iman ini, yaitu aspek yang obyektif ini, bukanlah perkara tindakan percaya kita melainkan apa yang kita percayai. Iman yang obyektif ini mencakup isi dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Ketika kita menerima firman mengenai iman yang obyektif, yaitu isi dari ekonomi Perjanjian Baru Allah, dengan spontan iman yang subyektif dihasilkan di dalam kita. Kita memberi respon kepada iman yang obyektif ini melalui percaya. …Kita mendengar iman yang obyektif, dan kemudian iman yang subyektif bangkit di dalam kita. Iman yang subyektif ini adalah tindakan percaya kita.
Iman yang subyektif tidak terjadi sekali untuk selamanya. Sebaliknya, sejak waktu kita mulai percaya, tindakan percaya ini telah berlangsung di dalam kita, karena kehidupan orang Kristen adalah kehidupan iman, yaitu kehidupan percaya. Hari demi hari kita sedang menempuh kehidupan yang percaya ini. Kita tidak hidup menurut apa yang kita lihat; kita hidup menurut apa yang kita percayai. Seperti yang dikatakan Paulus, “Kita berjalan oleh iman, bukan oleh penglihatan” (2 Kor. 5:7).
Orang-orang yang menyimpang, meliputi orang-orang yang meninggalkan kehidupan gereja, yang mengalami kehilangan iman. Mereka mungkin tidak kehilangan iman mereka secara mutlak, tetapi sedikitnya mereka telah kehilangan satu bagian iman. …Kapan kala seseorang kehilangan pandangan tentang isi dari ekonomi Allah, yaitu iman yang subyektif, maka tindakan percaya di dalamnya juga akan berkurang. Kemampuan di dalam kita untuk percaya itu selalu merupakan satu produk, satu hasil, satu akibat dari memiliki satu pandangan yang tepat terhadap ekonomi Allah. Karena itu, adalah satu hal yang mengerikan bila kita kehilangan pandangan tentang ekonomi Allah.
Di dalam sidang-sidang gereja dan sidang-sidang ministri, kita semua seolah-olah sedang menonton satu televisi surgawi untuk melihat lebih banyak hal tentang ekonomi Allah. Semakin kita melihat televisi surgawi ini, semakin kita percaya. …Karena itu,…sidang-sidang gereja dan ministri ini memperluas kapasitas kita untuk percaya.
Kita semua perlu memiliki satu pandangan yang luas tentang ekonomi Allah. Sekali kita melihat pandangan yang demikian, maka dengan spontan kita apa percaya kepada apa yang kita lihat. …Tulisan-tulisan Paulus membawa kita dalam satu tour yang memperlihatkan kepada kita hal-hal surgawi, dan rohani mengenai Kristus, pencapaian-pencapaian-Nya, dan apa yang telah diperoleh-Nya. Semakin kita melihat mengenai perkara ini, semakin kita akan terkesan, dan semakin banyak iman yang kita miliki. Kita akan menemukan bahwa kita tidak mungkin tidak mempercayainya. (Life-study of Thessalonians, hal. 119-120, 122-123, 129)
Aku telah mendesak engkau…dan menasehatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan hal-hal yang berbeda…bukan ekonomi Allah dalam iman.
Rm. 10:17
Jadi iman timbul dari pendengaran dan pendengaran melalui firman Kristus.
Ef. 3:9
Dan untuk menerangi semua supaya mereka dapat melihat apa ekonomi rahasia itu…
Ibr. 12:2
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
Rawatan Pagi:
Ekonomi Allah adalah di dalam iman. Ini bukanlah oleh perbuatan kita melainkan oleh iman kita di dalam kasih karunia. Ini bukan oleh perbuatan kita di dalam diri kita sendiri melainkan melalui kita percaya kepada Kristus, perwujudan Allah Tritunggal. Di dalam ministri Tuhan, kita tidak mengajar kaum saleh untuk menyelidiki sesuatu, memelihara sesuatu, atau melakukan sesuatu. Kita meministrikan kepada kaum saleh sesuatu yang memerlukan latihan iman mereka. Iman tidak berasal dari kita. Iman berasal dari apa yang kita lihat. Ketika kita melihat ekonomi Allah, iman ini melahirkan dan memulai satu kepercayaan di dalam kita. Ekonomi Allah adalah kehendak Allah untuk menyalurkan Diri-Nya sendiri ke dalam Anda dan saya untuk menghasilkan satu organisme, Tubuh Kristus, bagi kerelaan kehendak-Nya. Iman berasal dari melihat visi ini. Kita perlu satu visi, satu penglihatan. Kita perlu melihat bahwa di seluruh alam semesta ini kerelaan kehedak Allah adalah menyalurkan Diri-Nya sendiri, mendispensikan Diri-Nya sendiri, ke dalam kita supaya kita dapat menjadi bagian-bagian dari organisme-Nya, Tubuh organik Kristus. (Living in and with the Divine Trinity, hal. 19-20)
Bacaan Hari Ini:
Orang-orang Kristen seringkali membicarakan iman secara obyektif. Ada yang mungkin bertanya apa iman itu, yang berarti apa yang Anda percayai. Aspek iman ini, yaitu aspek yang obyektif ini, bukanlah perkara tindakan percaya kita melainkan apa yang kita percayai. Iman yang obyektif ini mencakup isi dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Ketika kita menerima firman mengenai iman yang obyektif, yaitu isi dari ekonomi Perjanjian Baru Allah, dengan spontan iman yang subyektif dihasilkan di dalam kita. Kita memberi respon kepada iman yang obyektif ini melalui percaya. …Kita mendengar iman yang obyektif, dan kemudian iman yang subyektif bangkit di dalam kita. Iman yang subyektif ini adalah tindakan percaya kita.
Iman yang subyektif tidak terjadi sekali untuk selamanya. Sebaliknya, sejak waktu kita mulai percaya, tindakan percaya ini telah berlangsung di dalam kita, karena kehidupan orang Kristen adalah kehidupan iman, yaitu kehidupan percaya. Hari demi hari kita sedang menempuh kehidupan yang percaya ini. Kita tidak hidup menurut apa yang kita lihat; kita hidup menurut apa yang kita percayai. Seperti yang dikatakan Paulus, “Kita berjalan oleh iman, bukan oleh penglihatan” (2 Kor. 5:7).
Orang-orang yang menyimpang, meliputi orang-orang yang meninggalkan kehidupan gereja, yang mengalami kehilangan iman. Mereka mungkin tidak kehilangan iman mereka secara mutlak, tetapi sedikitnya mereka telah kehilangan satu bagian iman. …Kapan kala seseorang kehilangan pandangan tentang isi dari ekonomi Allah, yaitu iman yang subyektif, maka tindakan percaya di dalamnya juga akan berkurang. Kemampuan di dalam kita untuk percaya itu selalu merupakan satu produk, satu hasil, satu akibat dari memiliki satu pandangan yang tepat terhadap ekonomi Allah. Karena itu, adalah satu hal yang mengerikan bila kita kehilangan pandangan tentang ekonomi Allah.
Di dalam sidang-sidang gereja dan sidang-sidang ministri, kita semua seolah-olah sedang menonton satu televisi surgawi untuk melihat lebih banyak hal tentang ekonomi Allah. Semakin kita melihat televisi surgawi ini, semakin kita percaya. …Karena itu,…sidang-sidang gereja dan ministri ini memperluas kapasitas kita untuk percaya.
Kita semua perlu memiliki satu pandangan yang luas tentang ekonomi Allah. Sekali kita melihat pandangan yang demikian, maka dengan spontan kita apa percaya kepada apa yang kita lihat. …Tulisan-tulisan Paulus membawa kita dalam satu tour yang memperlihatkan kepada kita hal-hal surgawi, dan rohani mengenai Kristus, pencapaian-pencapaian-Nya, dan apa yang telah diperoleh-Nya. Semakin kita melihat mengenai perkara ini, semakin kita akan terkesan, dan semakin banyak iman yang kita miliki. Kita akan menemukan bahwa kita tidak mungkin tidak mempercayainya. (Life-study of Thessalonians, hal. 119-120, 122-123, 129)
02 August 2010
PP SPIA Minggu 1 - Selasa
Gal. 1:23
Mereka hanya mendengar bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman yang pernah hendak dibinasakannya.
1Tim. 1:4
Ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tidak putus-putusnya, yang menghasilkan angan-angan belaka, dan bukan ekonomi Allah dalam iman.
Gal. 3:23-25
Sebelum iman itu datang kita berada di bahwa pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi, hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan berdasarkan iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
Rawatan Pagi:
Di dalam Galatia 1:23 kita diberi tahu bahwa Paulus, yang dahulu menganiaya kaum beriman dalam Kristus, sekarang memberitakan “iman yang pernah hendak dibinasakannya.” Iman di sini dan di dalam 3:2, 5, 7, 9, 23, 25, dan 6:10 menunjukkan kepercayaan kita di dalam Kristus, mengambil persona-Nya dan pekerjaan penebusan-Nya sebagai obyek dari iman kita. Ini menggantikan hukum taurat, yang olehnya Allah menanggulangi orang-orang di dalam Perjanjian Lama, dan menjadi prinsip penanggulangan Allah terhadap orang-orang di dalam Perjanjian Baru. Iman ini memberikan ciri khas kaum beriman dalam Kristus dan membedakan mereka dari para pemelihara hukum taurat. Inilah penekanan utama kitab ini.
Di dalam 3:22-25 kita melihat satu perbedaan yang kontras di antara hukum taurat dan iman. …Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa ada satu waktu di mana iman itu datang dan dinyatakan. Menurut ayat 24 dan 25, sekarang iman itu telah datang maka kita tidak lagi berada di bawah hukum sebagai penuntun kita. Iman dan hukum taurat tidak dapat ada bersama-sama. Sebelum iman itu datang, kita berada di bawah hukum taurat. Tetapi sekarang iman itu telah datang dan telah diwahyukan, maka iman ini menggantikan hukum taurat. (Life-study of Galatians, hal. 122, 120)
Bacaan Hari Ini:
Di dalam 1 Timotius 1:4 Paulus memberi tahu kita bahwa ekonomi Allah adalah di dalam iman. Penyaluran Allah ke dalam kita mutlak adalah melalui iman. Penyaluran Allah adalah perkara iman, yaitu, di dalam ruang lingkup dan elemen iman, di dalam Allah melalui Kristus. Iman sangat berlawanan dengan pertanyaan-pertanyaan. Ekonomi Allah adalah menyalurkan Diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya bukan di dalam ruang lingkup alamiah, atau pun di dalam pekerjaan hukum taurat, melainkan di dalam ruang lingkup rohani dari ciptaan baru melalui kelahiran kembali oleh iman dalam Kristus (Gal. 3:23-26). Oleh iman kita dilahirkan dari Allah untuk menjadi putra-putra-Nya, mengambil bagian dalam hayat dan sifat-Nya untuk mengekspresikan Dia. Oleh iman kita dimasukkan ke dalam Kristus untuk menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya, dan mengambil bagian dalam apa adanya Dia bagi ekspresi-Nya. Inilah dispensasi Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru-Nya, yang dilaksanakan di dalam iman.
Kita perlu terkesan dengan dalam dengan makna tentang iman di dalam Perjanjian Baru. …Iman pertama-tama adalah Allah menjadi Firman yang dibicarakan kepada kita. Kita memiliki Allah dan kemudian Allah sebagai Firman itu dibicarakan. Melalui Firman Allah dan oleh Roh Allah, kita diinfus dengan Allah di dalam Kristus. Alhasilnya, ada sesuatu yang bangkit di dalam kita. Inilah iman. Iman kemudian bekerja di dalam kita untuk membawa kita masuk ke dalam persatuan yang organik dengan Allah Tritunggal. Melalui persatuan organik ini, Allah secara kontinyu ditransfusikan dan diinfuskan ke dalam kita. Alhasilnya, kita memiliki hayat ilahi dan sifat ilahi untuk menjadi putra-putra Allah, anggota-anggota Kristus, dan bagian-bagian dari manusia baru. Secara keseluruhan, kita menjadi rumah Allah, Tubuh Kristus, dan manusia baru. Inilah ekonomi Allah dalam iman. (Life-study of 1Timothy, hal. 12-13)
Alkitab memberi tahu kita bahwa ekonomi Allah adalah di dalam iman [1 Tim 1:4]. Iman adalah substansi dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr. 11:1). Ekonomi Allah adalah satu rencana mengenai segala sesuatu yang tidak dilihat oleh kita. …Tidak ada hal lainnya di sini kecuali Yesus! Kita perlu beralih dari melihat segala sesuatu yang bukan apa-apa, kepada Yesus.
Efesus 3:17 memberi tahu kita bahwa Kristus sedang membuat rumah-Nya di dalam hati kita “melalui iman.” Kristus sedang membuat rumah-Nya, bangunan-Nya, di dalam hati kita dengan Diri-Nya sendiri sebagai bahannya. …Penghunian Kristus itu misterius dan abstrak. Kita tidak dapat memahaminya dengan perasaan fisik kita melainkan dengan perasaan iman. (Crystallization-study od the Epistles to the Romans, hal. 99)
Mereka hanya mendengar bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman yang pernah hendak dibinasakannya.
1Tim. 1:4
Ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tidak putus-putusnya, yang menghasilkan angan-angan belaka, dan bukan ekonomi Allah dalam iman.
Gal. 3:23-25
Sebelum iman itu datang kita berada di bahwa pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi, hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan berdasarkan iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
Rawatan Pagi:
Di dalam Galatia 1:23 kita diberi tahu bahwa Paulus, yang dahulu menganiaya kaum beriman dalam Kristus, sekarang memberitakan “iman yang pernah hendak dibinasakannya.” Iman di sini dan di dalam 3:2, 5, 7, 9, 23, 25, dan 6:10 menunjukkan kepercayaan kita di dalam Kristus, mengambil persona-Nya dan pekerjaan penebusan-Nya sebagai obyek dari iman kita. Ini menggantikan hukum taurat, yang olehnya Allah menanggulangi orang-orang di dalam Perjanjian Lama, dan menjadi prinsip penanggulangan Allah terhadap orang-orang di dalam Perjanjian Baru. Iman ini memberikan ciri khas kaum beriman dalam Kristus dan membedakan mereka dari para pemelihara hukum taurat. Inilah penekanan utama kitab ini.
Di dalam 3:22-25 kita melihat satu perbedaan yang kontras di antara hukum taurat dan iman. …Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa ada satu waktu di mana iman itu datang dan dinyatakan. Menurut ayat 24 dan 25, sekarang iman itu telah datang maka kita tidak lagi berada di bawah hukum sebagai penuntun kita. Iman dan hukum taurat tidak dapat ada bersama-sama. Sebelum iman itu datang, kita berada di bawah hukum taurat. Tetapi sekarang iman itu telah datang dan telah diwahyukan, maka iman ini menggantikan hukum taurat. (Life-study of Galatians, hal. 122, 120)
Bacaan Hari Ini:
Di dalam 1 Timotius 1:4 Paulus memberi tahu kita bahwa ekonomi Allah adalah di dalam iman. Penyaluran Allah ke dalam kita mutlak adalah melalui iman. Penyaluran Allah adalah perkara iman, yaitu, di dalam ruang lingkup dan elemen iman, di dalam Allah melalui Kristus. Iman sangat berlawanan dengan pertanyaan-pertanyaan. Ekonomi Allah adalah menyalurkan Diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya bukan di dalam ruang lingkup alamiah, atau pun di dalam pekerjaan hukum taurat, melainkan di dalam ruang lingkup rohani dari ciptaan baru melalui kelahiran kembali oleh iman dalam Kristus (Gal. 3:23-26). Oleh iman kita dilahirkan dari Allah untuk menjadi putra-putra-Nya, mengambil bagian dalam hayat dan sifat-Nya untuk mengekspresikan Dia. Oleh iman kita dimasukkan ke dalam Kristus untuk menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya, dan mengambil bagian dalam apa adanya Dia bagi ekspresi-Nya. Inilah dispensasi Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru-Nya, yang dilaksanakan di dalam iman.
Kita perlu terkesan dengan dalam dengan makna tentang iman di dalam Perjanjian Baru. …Iman pertama-tama adalah Allah menjadi Firman yang dibicarakan kepada kita. Kita memiliki Allah dan kemudian Allah sebagai Firman itu dibicarakan. Melalui Firman Allah dan oleh Roh Allah, kita diinfus dengan Allah di dalam Kristus. Alhasilnya, ada sesuatu yang bangkit di dalam kita. Inilah iman. Iman kemudian bekerja di dalam kita untuk membawa kita masuk ke dalam persatuan yang organik dengan Allah Tritunggal. Melalui persatuan organik ini, Allah secara kontinyu ditransfusikan dan diinfuskan ke dalam kita. Alhasilnya, kita memiliki hayat ilahi dan sifat ilahi untuk menjadi putra-putra Allah, anggota-anggota Kristus, dan bagian-bagian dari manusia baru. Secara keseluruhan, kita menjadi rumah Allah, Tubuh Kristus, dan manusia baru. Inilah ekonomi Allah dalam iman. (Life-study of 1Timothy, hal. 12-13)
Alkitab memberi tahu kita bahwa ekonomi Allah adalah di dalam iman [1 Tim 1:4]. Iman adalah substansi dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr. 11:1). Ekonomi Allah adalah satu rencana mengenai segala sesuatu yang tidak dilihat oleh kita. …Tidak ada hal lainnya di sini kecuali Yesus! Kita perlu beralih dari melihat segala sesuatu yang bukan apa-apa, kepada Yesus.
Efesus 3:17 memberi tahu kita bahwa Kristus sedang membuat rumah-Nya di dalam hati kita “melalui iman.” Kristus sedang membuat rumah-Nya, bangunan-Nya, di dalam hati kita dengan Diri-Nya sendiri sebagai bahannya. …Penghunian Kristus itu misterius dan abstrak. Kita tidak dapat memahaminya dengan perasaan fisik kita melainkan dengan perasaan iman. (Crystallization-study od the Epistles to the Romans, hal. 99)
01 August 2010
PP SPIA Minggu 1 - Senin
Kaum saleh terkasih,
Mulai minggu ini, selama 4 minggu, Arus Hayat akan diisi dengan bahan mengenai Iman, Hayat, Gereja dan Injil.
Setelah 4 minggu, maka Arus Hayat akan kembali dilanjutkan dengan Arus Hayat Kitab Roma.
Selamat menikmati:
Rm. 10:17
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Ibr. 11:6
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab siapa yang berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah adalah, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
1 Tim. 1:19
Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.
Rawatan Pagi:
Mengenai iman ada dua aspek, yaitu aspek obyektif dan aspek subyektif. Secara obyektif, iman adalah apa yang kita percayai. Secara subyektif, iman adalah kepercayaan kita. Karena itu, iman menekankan tindakan percaya dan apa yang kita percayai. Dalam hubungannya dengan tindakan percaya kita, iman itu subyektif, sedangkan dalam hubungannya dengan apa yang kita percayai, iman itu obyektif. Ketika kita mendengarkan tentang hal-hal yang kepadanya kita percaya, maka iman itu dihasilkan di dalam kita. Semakin kita mendengar tentang hal-hal yang baik ini, kita akan semakin mengapresiasinya. Dengan spontan, apresiasi ini menghasilkan kepercayaan kita kepada hal-hal yang telah kita dengar. Karena itu, iman itu obyektif dan subyektif. (Life-study of Galatians, hal. 122)
Bacaan Hari Ini:
Aspek iman yang subyektif ini sedikitnya menunjukkan delapan butir. Pertama, iman…berasal dari pendengaran. Firman yang kita dengar itu mencakup perihal Allah, Kristus, Roh itu, salib, penebusan, keselamatan, pengampunan, dan hayat yang kekal. Ini juga mencakup fakta bahwa Allah telah melalui proses untuk menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit. Menurut Perjanjian Baru, injil memberi tahu kita tentang semua perkara ini. Ketika injil diberitakan dengan tepat, orang-orang yang mendengarnya akan terangsang dan penuh dengan apresiasi. Pendengaran mereka terhadap firman injil ini adalah permulaan kepercayaan mereka. Alasan mengapa orang Kristen kekurangan dalam iman itu adalah karena pendengaran mereka miskin. Jika mereka mendengar tentang satu berita yang hidup tentang bagaimana Allah Tritunggal telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit, maka tidak diragukan lagi pendengaran ini akan menghasilkan iman di dalam mereka.
Kedua, iman juga menunjukkan apresiasi. Setelah mendengar firman tentang injil, maka dengan spontan apresiasi itu akan bangkit di dalam mereka yang mendengarnya. Ini benar bukan hanya bagi mereka yang baru pertama kali mendengar injil, melainkan juga bagi semua kaum beriman dalam Kristus. Kapan kala kita mendengar firman dengan tepat, maka pendengaran ini membangkitkan lebih banyak apresiasi kepada Tuhan.
Apresiasi ini diikuti dengan berseru, yaitu butir yang ketiga yang ditunjukkan di dalam aspek iman yang subyektif. Semua orang yang mengapresiasi Tuhan Yesus dengan spontan akan berseru kepada nama-Nya. Jika pemberitaan injil kita dingin, tumpul, dan mati, maka kita perlu merangsang orang untuk berdoa dan berseru kepada nama Tuhan. Tetapi jika pemberitaan kita mustika, kaya, hidup, penuh ilham, dan menggerakkan orang, maka kita tidak perlu merangsang orang lagi. Sebaliknya, mereka akan dengan spontan berseru, “O Tuhan Yesus.” Mungkin bukannya berseru kepada-Nya dengan cara ini, mereka malah akan mengucapkan kata-kata apresiasi kepada Tuhan. Mungkin mereka akan berkata, “O betapa baiknya Tuhan Yesus itu!”
Keempat, iman berarti menyambut. Melalui mengapresiasi Tuhan Yesus dan berseru kepada-Nya, maka kita dengan spontan akan menyambut Dia.
Setelah menyambut, kita memiliki aspek yang kelima, yaitu menerima. Adalah mungkin menyambut sesuatu tanpa menerimanya. Iman mencakup menyambut dan menerima. Orang-orang yang mendengar injil dan mengapresiasi Tuhan Yesus secara otomatis akan menerima Dia juga menyambut-Nya.
Keenam, iman meliputi diikatkan kepada Tuhan Yesus. Melalui menyambut dan menerima Dia, kita diikatkan kepada-Nya.
Kemudian, butir yang ketujuh dan kedelapan, kita mengambil bagian di dalam-Nya dan menikmati Dia. Iman mengambil bagian dan menikmati apa yang kita sambut dan kita terima.
Di dalam pemberitaan injil, orang-orang mendengar tentang kasih karunia Allah. Kemudian mereka mengapresiasinya dan berseru kepada Tuhan. Mereka selanjutnya menyambutnya, menerimanya, mengikatkan diri, mengambil bagian dan menikmati kasih karunia ini, yang adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi segala sesuatu bagi kita. Inilah iman itu. (Life-study of Galatians, hal. 122-124)
Mulai minggu ini, selama 4 minggu, Arus Hayat akan diisi dengan bahan mengenai Iman, Hayat, Gereja dan Injil.
Setelah 4 minggu, maka Arus Hayat akan kembali dilanjutkan dengan Arus Hayat Kitab Roma.
Selamat menikmati:
Rm. 10:17
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Ibr. 11:6
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab siapa yang berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah adalah, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
1 Tim. 1:19
Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.
Rawatan Pagi:
Mengenai iman ada dua aspek, yaitu aspek obyektif dan aspek subyektif. Secara obyektif, iman adalah apa yang kita percayai. Secara subyektif, iman adalah kepercayaan kita. Karena itu, iman menekankan tindakan percaya dan apa yang kita percayai. Dalam hubungannya dengan tindakan percaya kita, iman itu subyektif, sedangkan dalam hubungannya dengan apa yang kita percayai, iman itu obyektif. Ketika kita mendengarkan tentang hal-hal yang kepadanya kita percaya, maka iman itu dihasilkan di dalam kita. Semakin kita mendengar tentang hal-hal yang baik ini, kita akan semakin mengapresiasinya. Dengan spontan, apresiasi ini menghasilkan kepercayaan kita kepada hal-hal yang telah kita dengar. Karena itu, iman itu obyektif dan subyektif. (Life-study of Galatians, hal. 122)
Bacaan Hari Ini:
Aspek iman yang subyektif ini sedikitnya menunjukkan delapan butir. Pertama, iman…berasal dari pendengaran. Firman yang kita dengar itu mencakup perihal Allah, Kristus, Roh itu, salib, penebusan, keselamatan, pengampunan, dan hayat yang kekal. Ini juga mencakup fakta bahwa Allah telah melalui proses untuk menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit. Menurut Perjanjian Baru, injil memberi tahu kita tentang semua perkara ini. Ketika injil diberitakan dengan tepat, orang-orang yang mendengarnya akan terangsang dan penuh dengan apresiasi. Pendengaran mereka terhadap firman injil ini adalah permulaan kepercayaan mereka. Alasan mengapa orang Kristen kekurangan dalam iman itu adalah karena pendengaran mereka miskin. Jika mereka mendengar tentang satu berita yang hidup tentang bagaimana Allah Tritunggal telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit, maka tidak diragukan lagi pendengaran ini akan menghasilkan iman di dalam mereka.
Kedua, iman juga menunjukkan apresiasi. Setelah mendengar firman tentang injil, maka dengan spontan apresiasi itu akan bangkit di dalam mereka yang mendengarnya. Ini benar bukan hanya bagi mereka yang baru pertama kali mendengar injil, melainkan juga bagi semua kaum beriman dalam Kristus. Kapan kala kita mendengar firman dengan tepat, maka pendengaran ini membangkitkan lebih banyak apresiasi kepada Tuhan.
Apresiasi ini diikuti dengan berseru, yaitu butir yang ketiga yang ditunjukkan di dalam aspek iman yang subyektif. Semua orang yang mengapresiasi Tuhan Yesus dengan spontan akan berseru kepada nama-Nya. Jika pemberitaan injil kita dingin, tumpul, dan mati, maka kita perlu merangsang orang untuk berdoa dan berseru kepada nama Tuhan. Tetapi jika pemberitaan kita mustika, kaya, hidup, penuh ilham, dan menggerakkan orang, maka kita tidak perlu merangsang orang lagi. Sebaliknya, mereka akan dengan spontan berseru, “O Tuhan Yesus.” Mungkin bukannya berseru kepada-Nya dengan cara ini, mereka malah akan mengucapkan kata-kata apresiasi kepada Tuhan. Mungkin mereka akan berkata, “O betapa baiknya Tuhan Yesus itu!”
Keempat, iman berarti menyambut. Melalui mengapresiasi Tuhan Yesus dan berseru kepada-Nya, maka kita dengan spontan akan menyambut Dia.
Setelah menyambut, kita memiliki aspek yang kelima, yaitu menerima. Adalah mungkin menyambut sesuatu tanpa menerimanya. Iman mencakup menyambut dan menerima. Orang-orang yang mendengar injil dan mengapresiasi Tuhan Yesus secara otomatis akan menerima Dia juga menyambut-Nya.
Keenam, iman meliputi diikatkan kepada Tuhan Yesus. Melalui menyambut dan menerima Dia, kita diikatkan kepada-Nya.
Kemudian, butir yang ketujuh dan kedelapan, kita mengambil bagian di dalam-Nya dan menikmati Dia. Iman mengambil bagian dan menikmati apa yang kita sambut dan kita terima.
Di dalam pemberitaan injil, orang-orang mendengar tentang kasih karunia Allah. Kemudian mereka mengapresiasinya dan berseru kepada Tuhan. Mereka selanjutnya menyambutnya, menerimanya, mengikatkan diri, mengambil bagian dan menikmati kasih karunia ini, yang adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi segala sesuatu bagi kita. Inilah iman itu. (Life-study of Galatians, hal. 122-124)
30 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 4 Sabtu
Tanpa Rintangan Apa-apa
Kisah Para Rasul 28:31
Dengan terus-terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.
Ayat Bacaan: Kis. 28:30-31; Yoh. 5:17; 1 Kor. 6:17
Kisah Para Rasul tidak ada penutupnya. Setelah Kisah Para Rasul 28, masih banyak bejana Allah yang melakukan pekerjaan Allah. Pekerjaan Allah terus maju, tidak berhenti di sana. Bukan setelah Paulus bekerja di Roma dua tahun, kemudian tidak ada kelanjutannya lagi. Katakan saja riwayat hidup Paulus, setelah dia tinggal di Roma, kemudian mati martir, hal-hal itu tidak tercatat dalam Kisah Para Rasul. Petrus, Paulus dan Yohanes, tiga orang yang paling penting, kesudahan mereka tidak dimasukkan ke dalamnya. Kalau demikian, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Kisah Para Rasul sudah selesai?
Kesaksian Allah tidak bisa habis ditulis. Kalau mau ditulis, maka akan terus ada perkara baru yang bisa dimasukkan. Meskipun perkara-perkara setelah pasal 28 tidak ditulis lagi, namun pekerjaan Allah terus berkelanjutan. Tuhan berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Allah masih akan terus maju. Pekerjaan Allah juga akan terus maju, sampai kerajaan, sampai langit baru dan bumi baru; Allah tetap maju, tidak berhenti di sana. Kalau kita mengetahui ini dan juga percaya ini, kita akan memuji syukur kepada Allah. Kita perlu berdoa setiap hari, “Tuhan, aku ingin Engkau tanpa rintangan apa-apa didalamku. Aku ingin Engkau tanpa rintangan apa-apa di dalam seluruh diriku sehingga Engkau bisa menggarapkan diri-Mu ke dalam setiap bagian dan memiliki jalan untuk mengalir keluar untuk melaksanakan pergerakan-Mu di bumi ini. Jadikanlah diriku bagian dari kelanjutan korporat-Mu bagi penggenapan ekonomi kekal-Mu.”
Kita semua pernah melihat lomba lari “tiga kaki”. Dalam lomba ini, yang menentukan bukanlah seberapa cepat atau lambat para pesertanya. Sebaliknya ini adalah perihal dapat tidaknya mereka dapat bekerja sama dan berkoordinasi satu dengan yang lain. Hari ini kita telah diikat bersama dengan Tuhan dalam lomba lari “tiga kaki” (1 Kor. 6:17). Tetapi, sering kali ketika Dia bergerak, kita tidak bergerak; dan ketika Tuhan tidak mau bergerak, kita malah bergerak. Jadi masa depan pelayanan Tuhan dan kemajuan gereja akan tergantung pada bagaimana kita bekerja sama dan berkoordinasi dengan Tuhan.
Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” (Yoh. 5:17)
Kisah Para Rasul 28:31
Dengan terus-terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.
Ayat Bacaan: Kis. 28:30-31; Yoh. 5:17; 1 Kor. 6:17
Kisah Para Rasul tidak ada penutupnya. Setelah Kisah Para Rasul 28, masih banyak bejana Allah yang melakukan pekerjaan Allah. Pekerjaan Allah terus maju, tidak berhenti di sana. Bukan setelah Paulus bekerja di Roma dua tahun, kemudian tidak ada kelanjutannya lagi. Katakan saja riwayat hidup Paulus, setelah dia tinggal di Roma, kemudian mati martir, hal-hal itu tidak tercatat dalam Kisah Para Rasul. Petrus, Paulus dan Yohanes, tiga orang yang paling penting, kesudahan mereka tidak dimasukkan ke dalamnya. Kalau demikian, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Kisah Para Rasul sudah selesai?
Kesaksian Allah tidak bisa habis ditulis. Kalau mau ditulis, maka akan terus ada perkara baru yang bisa dimasukkan. Meskipun perkara-perkara setelah pasal 28 tidak ditulis lagi, namun pekerjaan Allah terus berkelanjutan. Tuhan berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Allah masih akan terus maju. Pekerjaan Allah juga akan terus maju, sampai kerajaan, sampai langit baru dan bumi baru; Allah tetap maju, tidak berhenti di sana. Kalau kita mengetahui ini dan juga percaya ini, kita akan memuji syukur kepada Allah. Kita perlu berdoa setiap hari, “Tuhan, aku ingin Engkau tanpa rintangan apa-apa didalamku. Aku ingin Engkau tanpa rintangan apa-apa di dalam seluruh diriku sehingga Engkau bisa menggarapkan diri-Mu ke dalam setiap bagian dan memiliki jalan untuk mengalir keluar untuk melaksanakan pergerakan-Mu di bumi ini. Jadikanlah diriku bagian dari kelanjutan korporat-Mu bagi penggenapan ekonomi kekal-Mu.”
Kita semua pernah melihat lomba lari “tiga kaki”. Dalam lomba ini, yang menentukan bukanlah seberapa cepat atau lambat para pesertanya. Sebaliknya ini adalah perihal dapat tidaknya mereka dapat bekerja sama dan berkoordinasi satu dengan yang lain. Hari ini kita telah diikat bersama dengan Tuhan dalam lomba lari “tiga kaki” (1 Kor. 6:17). Tetapi, sering kali ketika Dia bergerak, kita tidak bergerak; dan ketika Tuhan tidak mau bergerak, kita malah bergerak. Jadi masa depan pelayanan Tuhan dan kemajuan gereja akan tergantung pada bagaimana kita bekerja sama dan berkoordinasi dengan Tuhan.
Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” (Yoh. 5:17)
29 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 4 Jumat
Keselamatan Allah Disampaikan pada Bangsa lain
Kisah Para Rasul 28:28
Sebab itu kamu harus tahu bahwa keselamatan yang berasal dari Allah ini disampaikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan mendengarnya.
Ayat Bacaan: Kis. 28:28; Mat. 28:19; Mrk. 16:16; Rm. 10:14-15; Mat. 24:14; Rm. 11:25-26
Dalam alam semesta ini, ada seruan dari atas yang memanggil kaum beriman untuk memberitakan Injil, menyelamatkan manusia, yaitu seruan Tuhan di surga. Walaupun pesan ini ditinggalkan kepada kita sewaktu Tuhan ada di bumi, namun hari ini di surga Tuhan tetap berpesan demikian kepada kita, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” dan “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mrk. 16:15; Mat. 28:19; Rm. 10:14-15). Secara geografis, Dia menghendaki kita pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil; secara rasial (suku bangsa), Dia menghendaki kita pergi agar semua bangsa menjadi murid-Nya. Sejak Ia naik ke surga sampai hari ini, seruan dari atas ini belum pernah berhenti. Dari zaman ke zaman, selalu ada orang yang mendengar seruan-Nya dan menjawab panggilan-Nya, pergi ke seluruh dunia, memberitakan Injil-Nya.
Bahkan Ia pun menggunakan kuasa pengaturan-Nya, agar perubahan di tengah-tengah umat manusia terus berkembang sesuai dengan gerakan yang dihasilkan oleh seruan-Nya. Terutama setelah Martin Luther mengadakan reformasi, Columbus menemukan daratan luas, pelayaran menjadi lancar, maka banyak orang yang menjawab seruan-Nya, pergi ke benua Amerika, Afrika, juga ke negara-negara di Asia, serta ke pulau-pulau di Samudera Pasifik, untuk memberitakan Injil rahmat-Nya kepada tiap-tiap suku bangsa. Ia akan tetap melanjutkan seruan-Nya, memanggil orang untuk pergi memberitakan Injil ke setiap pelosok bumi.
Dampak dari pemberitaan Injil yang pertama adalah mengakhiri zaman. Dalam Matius 24:14 Tuhan mengatakan bahwa bila Injil telah diberitakan di seluruh dunia, barulah tiba kesudahannya. Sebab itu memberitakan Injil bisa mengakhiri zaman ini. Dampak yang kedua adalah mendesak kembalinya Tuhan. Roma 11:25-26 berkata bahwa bila jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain yang beroleh selamat telah masuk, Tuhan akan datang kembali. Sebab itu memberitakan Injil juga bisa mendesak kembalinya Tuhan. Semoga kita yang mendengar seruan-Nya, menjawab panggilan-Nya, dan pergi, agar zaman ini diakhiri dan Tuhan dapat datang kembali.
Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya. (Mat. 24:14)
Kisah Para Rasul 28:28
Sebab itu kamu harus tahu bahwa keselamatan yang berasal dari Allah ini disampaikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan mendengarnya.
Ayat Bacaan: Kis. 28:28; Mat. 28:19; Mrk. 16:16; Rm. 10:14-15; Mat. 24:14; Rm. 11:25-26
Dalam alam semesta ini, ada seruan dari atas yang memanggil kaum beriman untuk memberitakan Injil, menyelamatkan manusia, yaitu seruan Tuhan di surga. Walaupun pesan ini ditinggalkan kepada kita sewaktu Tuhan ada di bumi, namun hari ini di surga Tuhan tetap berpesan demikian kepada kita, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” dan “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mrk. 16:15; Mat. 28:19; Rm. 10:14-15). Secara geografis, Dia menghendaki kita pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil; secara rasial (suku bangsa), Dia menghendaki kita pergi agar semua bangsa menjadi murid-Nya. Sejak Ia naik ke surga sampai hari ini, seruan dari atas ini belum pernah berhenti. Dari zaman ke zaman, selalu ada orang yang mendengar seruan-Nya dan menjawab panggilan-Nya, pergi ke seluruh dunia, memberitakan Injil-Nya.
Bahkan Ia pun menggunakan kuasa pengaturan-Nya, agar perubahan di tengah-tengah umat manusia terus berkembang sesuai dengan gerakan yang dihasilkan oleh seruan-Nya. Terutama setelah Martin Luther mengadakan reformasi, Columbus menemukan daratan luas, pelayaran menjadi lancar, maka banyak orang yang menjawab seruan-Nya, pergi ke benua Amerika, Afrika, juga ke negara-negara di Asia, serta ke pulau-pulau di Samudera Pasifik, untuk memberitakan Injil rahmat-Nya kepada tiap-tiap suku bangsa. Ia akan tetap melanjutkan seruan-Nya, memanggil orang untuk pergi memberitakan Injil ke setiap pelosok bumi.
Dampak dari pemberitaan Injil yang pertama adalah mengakhiri zaman. Dalam Matius 24:14 Tuhan mengatakan bahwa bila Injil telah diberitakan di seluruh dunia, barulah tiba kesudahannya. Sebab itu memberitakan Injil bisa mengakhiri zaman ini. Dampak yang kedua adalah mendesak kembalinya Tuhan. Roma 11:25-26 berkata bahwa bila jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain yang beroleh selamat telah masuk, Tuhan akan datang kembali. Sebab itu memberitakan Injil juga bisa mendesak kembalinya Tuhan. Semoga kita yang mendengar seruan-Nya, menjawab panggilan-Nya, dan pergi, agar zaman ini diakhiri dan Tuhan dapat datang kembali.
Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya. (Mat. 24:14)
28 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 4 Kamis
Bersaksi tentang Kerajaan Allah dan tentang Yesus
Kisah Para Rasul 28:23b
Ia menerangkan dan bersaksi kepada mereka tentang Kerajaan Allah; dan berdasarkan hukum Musa dan kitab para nabi ia berusaha meyakinkan mereka tentang Yesus. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore.
Ayat Bacaan: Kis. 1:3; 8:12; 14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31; 2 Kor. 5:13; Kis. 17:16, 28:30-31
Kerajaan Allah adalah subyek utama pemberitaan para rasul di dalam Kisah Para Rasul (1:3; 8:12; 14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31). Pada awal Kisah Para Rasul, Tuhan menampakkan diri kepada para murid dan membicarakan kepada mereka hal-hal mengenai Kerajaan (1:3). Pada akhir Kisah Para Rasul, rasul Paulus tinggal selama dua tahun di rumah yang disewanya sambil memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar hal-hal mengenai Tuhan Yesus Kristus (28:31). Jadi, Kisah Para Rasul dimulai dan diakhiri dengan Kerajaan Allah.
Paulus adalah orang yang bergairah di dalam roh. Dia tidak menguasai diri di hadapan Allah (2 Kor. 5:13). Dia menginjil dengan roh yang membara. Hatinya bertekun untuk Injil. Ia memberitakan Yesus kepada semua orang, baik kepada orang yang dijumpainya di pasar atau kepada orang-orang yang datang mengunjunginya, ia selalu berbincang dengan mereka tentang Yesus. Bahkan ketika diadili atau dipenjara, ia tetap membicarakan Yesus (Kisah Para Rasul 17:16, 28:30-31; 24:24; 26:28; 16:29-32; Filipi 1:13).
Pekerjaan pendahuluan Tuhan Yesus untuk mendirikan Kerajaan Surga adalah datang sebagai penabur (Mat. 13:1-23). Beberapa kali Tuhan disebut guru, tetapi di sini Dia mengibaratkan diri-Nya bukan sebagai guru, melainkan penabur. Penabur adalah Tuhan sendiri (Mat. 13:37). Pada hakikatnya, Tuhan bukan datang untuk mengajar melainkan menabur benih, yaitu firman kerajaan dengan raja di dalamnya sebagai hayat (Mat. 13:19) dan anak-anak umat kerajaan (Mat. 13:38). Oleh Kristus sebagai hayat firman hidup yang ditaburkan dalam diri kita, kita dijadikan anak-anak kerajaan. Sebab itu, Kerajaan Surga diwujudkan bukan oleh pengajaran atau pekerjaan melainkan oleh penaburan Kristus sebagai firman hayat ke dalam manusia. M.E. Barber datang ke Cina tidak untuk bekerja, tetapi untuk menaburkan Kristus, bahkan menabur dirinya dalam Kristus, sehingga sesuatu tumbuh dari benih itu. Visi mengenai Kristus menaburkan diri-Nya sebagai firman hayat akan mengubah pelayanan kita, sehingga kita takkan lagi mengandalkan apa yang kita lakukan, tetapi akan sepenuhnya mengandalkan pertumbuhan hayat.
Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia. (Mat. 13:37)
Kisah Para Rasul 28:23b
Ia menerangkan dan bersaksi kepada mereka tentang Kerajaan Allah; dan berdasarkan hukum Musa dan kitab para nabi ia berusaha meyakinkan mereka tentang Yesus. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore.
Ayat Bacaan: Kis. 1:3; 8:12; 14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31; 2 Kor. 5:13; Kis. 17:16, 28:30-31
Kerajaan Allah adalah subyek utama pemberitaan para rasul di dalam Kisah Para Rasul (1:3; 8:12; 14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31). Pada awal Kisah Para Rasul, Tuhan menampakkan diri kepada para murid dan membicarakan kepada mereka hal-hal mengenai Kerajaan (1:3). Pada akhir Kisah Para Rasul, rasul Paulus tinggal selama dua tahun di rumah yang disewanya sambil memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar hal-hal mengenai Tuhan Yesus Kristus (28:31). Jadi, Kisah Para Rasul dimulai dan diakhiri dengan Kerajaan Allah.
Paulus adalah orang yang bergairah di dalam roh. Dia tidak menguasai diri di hadapan Allah (2 Kor. 5:13). Dia menginjil dengan roh yang membara. Hatinya bertekun untuk Injil. Ia memberitakan Yesus kepada semua orang, baik kepada orang yang dijumpainya di pasar atau kepada orang-orang yang datang mengunjunginya, ia selalu berbincang dengan mereka tentang Yesus. Bahkan ketika diadili atau dipenjara, ia tetap membicarakan Yesus (Kisah Para Rasul 17:16, 28:30-31; 24:24; 26:28; 16:29-32; Filipi 1:13).
Pekerjaan pendahuluan Tuhan Yesus untuk mendirikan Kerajaan Surga adalah datang sebagai penabur (Mat. 13:1-23). Beberapa kali Tuhan disebut guru, tetapi di sini Dia mengibaratkan diri-Nya bukan sebagai guru, melainkan penabur. Penabur adalah Tuhan sendiri (Mat. 13:37). Pada hakikatnya, Tuhan bukan datang untuk mengajar melainkan menabur benih, yaitu firman kerajaan dengan raja di dalamnya sebagai hayat (Mat. 13:19) dan anak-anak umat kerajaan (Mat. 13:38). Oleh Kristus sebagai hayat firman hidup yang ditaburkan dalam diri kita, kita dijadikan anak-anak kerajaan. Sebab itu, Kerajaan Surga diwujudkan bukan oleh pengajaran atau pekerjaan melainkan oleh penaburan Kristus sebagai firman hayat ke dalam manusia. M.E. Barber datang ke Cina tidak untuk bekerja, tetapi untuk menaburkan Kristus, bahkan menabur dirinya dalam Kristus, sehingga sesuatu tumbuh dari benih itu. Visi mengenai Kristus menaburkan diri-Nya sebagai firman hayat akan mengubah pelayanan kita, sehingga kita takkan lagi mengandalkan apa yang kita lakukan, tetapi akan sepenuhnya mengandalkan pertumbuhan hayat.
Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia. (Mat. 13:37)
27 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 4 Rabu
Mengucap Syukur kepada Allah lalu Kuatlah Hatinya
Kisah Para Rasul 28:15
Saudara-saudara seiman yang di sana telah mendengar kabar tentang kami dan mereka datang menjumpai kami sampai ke Forum Apius dan Tres Taberne. Ketika Paulus melihat mereka, ia mengucap syukur kepada Allah lalu kuatlah hatinya.
Ayat Bacaan: Kis. 28:15; 23:11; 27:22-25, 33-36; Flp. 1:20
Menurut ayat 15, ketika Paulus melihat saudara-saudara, ia bersyukur kepada Allah dan dikuatkan. Ini menunjukkan bahwa rasul sangat manusiawi. Walaupun ia telah didorong oleh Tuhan secara langsung (Kis. 23:11) dan sangat berani sepanjang perjalanan pelayarannya (Kis. 27:22-25, 33-36), ia masih perlu dikuatkan oleh sambutan hangat dari saudara-saudara. Sebelum Paulus tiba di Roma, saudara-saudara di sana telah mendengar kabar tentang dia dan sekerja-sekerjanya; saudara-saudara itu datang menemui mereka sampai ke Forum Apius dan Tres Taberne. Bagaimana mereka menerima kabar tentang Paulus? Ini sulit sekali dijawab. Mungkin ada beberapa saudara dari Putioli, di mana Paulus didesak untuk tetap tinggal selama tujuh hari, yang membawa kabar kepada saudara-saudara di Roma, yang kemudian datang menyambutnya. Perkara yang penting adalah bahwa di sini kita melihat satu gambaran tentang kehidupan gereja pada zaman dulu, kehidupan gereja yang sangat nikmat. Kita perlu memiliki satu kehidupan gereja yang nikmat sedemikian pada hari ini, mengikuti teladan ini.
Dalam Satu Korintus 16:17-18 Paulus mengatakan bahwa Stefanas, Fortunatus, dan Akhaikus “menyegarkan rohku dan rohmu.” Ini pastilah dengan kekayaan-kekayaan Kristus yang dilayankan oleh roh seseorang, yang dapat menjamah roh-roh orang lain. Ini menunjukkan bahwa kontak dan hubungan kita dengan orang-orang kudus seharusnya di dalam dan dengan roh kita, bukan di dalam dan dengan emosi jiwani kita. Jika saudara-saudara ini datang kepada Paulus dengan banyak gosip, mereka tidak akan dapat menyegarkan rohnya. Fakta bahwa mereka menyegarkan roh rasul dan semua orang Korintus, menunjukkan bahwa mereka hidup dan berperilaku di dalam roh.
Kita sebaiknya datang lebih awal setiap sidang untuk menunggu orang lain. Jika sidang mulai pada jam setengah delapan, kita sebaiknya tiba pada jam tujuh. Ini bermanfaat untuk mengontaki orang-orang, sekalipun hanya lima atau sepuluh menit. Mengontaki mereka tidak hanya sebelum tapi juga setelah sidang. Ingat bahwa kadang-kadang hanya dengan percakapan yang sederhana ini memberi pertolongan yang sangat besar pada orang-orang.
Maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. (1 Tes. 3:7)
Kisah Para Rasul 28:15
Saudara-saudara seiman yang di sana telah mendengar kabar tentang kami dan mereka datang menjumpai kami sampai ke Forum Apius dan Tres Taberne. Ketika Paulus melihat mereka, ia mengucap syukur kepada Allah lalu kuatlah hatinya.
Ayat Bacaan: Kis. 28:15; 23:11; 27:22-25, 33-36; Flp. 1:20
Menurut ayat 15, ketika Paulus melihat saudara-saudara, ia bersyukur kepada Allah dan dikuatkan. Ini menunjukkan bahwa rasul sangat manusiawi. Walaupun ia telah didorong oleh Tuhan secara langsung (Kis. 23:11) dan sangat berani sepanjang perjalanan pelayarannya (Kis. 27:22-25, 33-36), ia masih perlu dikuatkan oleh sambutan hangat dari saudara-saudara. Sebelum Paulus tiba di Roma, saudara-saudara di sana telah mendengar kabar tentang dia dan sekerja-sekerjanya; saudara-saudara itu datang menemui mereka sampai ke Forum Apius dan Tres Taberne. Bagaimana mereka menerima kabar tentang Paulus? Ini sulit sekali dijawab. Mungkin ada beberapa saudara dari Putioli, di mana Paulus didesak untuk tetap tinggal selama tujuh hari, yang membawa kabar kepada saudara-saudara di Roma, yang kemudian datang menyambutnya. Perkara yang penting adalah bahwa di sini kita melihat satu gambaran tentang kehidupan gereja pada zaman dulu, kehidupan gereja yang sangat nikmat. Kita perlu memiliki satu kehidupan gereja yang nikmat sedemikian pada hari ini, mengikuti teladan ini.
Dalam Satu Korintus 16:17-18 Paulus mengatakan bahwa Stefanas, Fortunatus, dan Akhaikus “menyegarkan rohku dan rohmu.” Ini pastilah dengan kekayaan-kekayaan Kristus yang dilayankan oleh roh seseorang, yang dapat menjamah roh-roh orang lain. Ini menunjukkan bahwa kontak dan hubungan kita dengan orang-orang kudus seharusnya di dalam dan dengan roh kita, bukan di dalam dan dengan emosi jiwani kita. Jika saudara-saudara ini datang kepada Paulus dengan banyak gosip, mereka tidak akan dapat menyegarkan rohnya. Fakta bahwa mereka menyegarkan roh rasul dan semua orang Korintus, menunjukkan bahwa mereka hidup dan berperilaku di dalam roh.
Kita sebaiknya datang lebih awal setiap sidang untuk menunggu orang lain. Jika sidang mulai pada jam setengah delapan, kita sebaiknya tiba pada jam tujuh. Ini bermanfaat untuk mengontaki orang-orang, sekalipun hanya lima atau sepuluh menit. Mengontaki mereka tidak hanya sebelum tapi juga setelah sidang. Ingat bahwa kadang-kadang hanya dengan percakapan yang sederhana ini memberi pertolongan yang sangat besar pada orang-orang.
Maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. (1 Tes. 3:7)
26 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 4 Selasa
Beroleh Kehormatan dan Penghargaan
Kisah Para Rasul 28:10
Mereka sangat menghormati kami dan ketika kami bertolak, mereka menyediakan segala sesuatu yang kami perlukan.
Filipi 1:21a
Karena bagiku hidup adalah Kristus...
Ayat Bacaan: Kis. 28:10; Flp. 1:21
Penduduk pribumi itu menyediakan segala sesuatu yang diperlukan di kapal untuk pelayaran itu. Tuhan secara berdaulat menyediakan makanan untuk dua ratus tujuh puluh enam orang. Penduduk asli pulau Malta itu memperlakukan Paulus dan sekerjanya seakan-akan mereka adalah anggota-anggota dari satu keluarga raja. Paulus adalah raja, dan Lukas adalah salah satu dari keluarga ini. Paulus menerima suplaian dari penduduk, karena ia telah menyembuhkan begitu banyak orang sakit di antara mereka. Jadi, orang-orang itu menhormati Paulus dengan menyediakan suplaian makanan di kapal yang diperlukan untuk pelayaran itu.
Kehidupan yang memperhidupkan Kristus seharusnya bermartabat, terhormat, disegani, mantap, berbobot, dan agung. Jangan mengira hanya orang tua yang seharusnya berbobot. Semua orang muda, bahkan para remaja belasan tahun pun seharusnya ada keagungan, disegani. Seorang murid Sekolah Menengah Pertama sekalipun harus memiliki keagungan, karena dalam batinnya ada Allah. Ia adalah wadah yang berisi Allah sebagai nilai, bobot, dan keagungannya. Memiliki keagungan bukan berarti berlagak serius, melainkan memperhidupkan Allah. Jika kita memperhidupkan Dia, kita akan memiliki keagungan yang sesungguhnya. Ketika orang lain yang melihat kita akan menghormati kita sedalam-dalamnya.
Ketika beberapa orang yang baru beroleh selamat mulai mencari Tuhan, mereka mungkin ingin menjadi seperti malaikat. Tetapi yang kita perlukan adalah menjadi manusia yang tepat, yaitu seorang yang dipenuhi dengan Kristus sebagai realitas dari kebajikan-kebajikan insaninya. Kristus harus menjadi kebenaran, kehormatan, keadilan, kesucian, dan setiap butir dari kebajikan insani kita (Flp. 4:8). Jadi, memperhidupkan Kristus membuat kita menjadi sangat manusiawi. Kita tidak seharusnya hanya rohani dan surgawi, kita juga harus benar, terhormat, adil, suci, patut dikasihi, dan memiliki reputasi baik. Jika kita tidak menempuh kehidupan yang terhormat, kita tidak memperhidupkan Kristus. Jika kita memperhidupkan dan memperbesar Kristus, kita pasti menempuh satu kehidupan yang terhormat.
Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia. (Rm. 14:18)
Kisah Para Rasul 28:10
Mereka sangat menghormati kami dan ketika kami bertolak, mereka menyediakan segala sesuatu yang kami perlukan.
Filipi 1:21a
Karena bagiku hidup adalah Kristus...
Ayat Bacaan: Kis. 28:10; Flp. 1:21
Penduduk pribumi itu menyediakan segala sesuatu yang diperlukan di kapal untuk pelayaran itu. Tuhan secara berdaulat menyediakan makanan untuk dua ratus tujuh puluh enam orang. Penduduk asli pulau Malta itu memperlakukan Paulus dan sekerjanya seakan-akan mereka adalah anggota-anggota dari satu keluarga raja. Paulus adalah raja, dan Lukas adalah salah satu dari keluarga ini. Paulus menerima suplaian dari penduduk, karena ia telah menyembuhkan begitu banyak orang sakit di antara mereka. Jadi, orang-orang itu menhormati Paulus dengan menyediakan suplaian makanan di kapal yang diperlukan untuk pelayaran itu.
Kehidupan yang memperhidupkan Kristus seharusnya bermartabat, terhormat, disegani, mantap, berbobot, dan agung. Jangan mengira hanya orang tua yang seharusnya berbobot. Semua orang muda, bahkan para remaja belasan tahun pun seharusnya ada keagungan, disegani. Seorang murid Sekolah Menengah Pertama sekalipun harus memiliki keagungan, karena dalam batinnya ada Allah. Ia adalah wadah yang berisi Allah sebagai nilai, bobot, dan keagungannya. Memiliki keagungan bukan berarti berlagak serius, melainkan memperhidupkan Allah. Jika kita memperhidupkan Dia, kita akan memiliki keagungan yang sesungguhnya. Ketika orang lain yang melihat kita akan menghormati kita sedalam-dalamnya.
Ketika beberapa orang yang baru beroleh selamat mulai mencari Tuhan, mereka mungkin ingin menjadi seperti malaikat. Tetapi yang kita perlukan adalah menjadi manusia yang tepat, yaitu seorang yang dipenuhi dengan Kristus sebagai realitas dari kebajikan-kebajikan insaninya. Kristus harus menjadi kebenaran, kehormatan, keadilan, kesucian, dan setiap butir dari kebajikan insani kita (Flp. 4:8). Jadi, memperhidupkan Kristus membuat kita menjadi sangat manusiawi. Kita tidak seharusnya hanya rohani dan surgawi, kita juga harus benar, terhormat, adil, suci, patut dikasihi, dan memiliki reputasi baik. Jika kita tidak menempuh kehidupan yang terhormat, kita tidak memperhidupkan Kristus. Jika kita memperhidupkan dan memperbesar Kristus, kita pasti menempuh satu kehidupan yang terhormat.
Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia. (Rm. 14:18)
25 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 4 Senin
Menyembuhkan Orang Sakit
Kisah Para Rasul 28:8-9
Ketika itu ayah Publius terbaring karena sakit demam dan disentri. Paulus masuk ke kamarnya; ia berdoa serta menumpangkan tangan ke atasnya dan menyembuhkan dia. Sesudah peristiwa itu datanglah juga orang-orang sakit lain dari pulau itu dan merekapun disembuhkan juga.
Ayat Bacaan: Kis. 27:4, 22-25; 28:3-6; 8-9; Flp. 1:20-21; Luk. 10:25-37
Selama perjalanan laut yang panjang, naas, dan terpenjara, Tuhan menjaga rasul di dalam keunggulan-Nya dan memungkinkan dia menempuh hidup yang melampaui alam kekhawatiran. Hidup demikian penuh wibawa, memiliki standar kebajikan insani yang tertinggi, mengekspresikan atribut-atribut ilahi yang terunggul, suatu hidup yang serupa dengan hidup Tuhan sendiri di bumi beberapa tahun sebelumnya. Inilah Yesus kembali hidup di bumi di dalam keinsanian-Nya yang dipenuhi oleh sifat ilahi! Inilah manusia Allah yang ajaib, unggul, dan misterius, yang dulu hidup di dalam kitab-kitab Injil, yang terus hidup di dalam Kisah Para Rasul melalui salah satu anggotanya! Inilah saksi hidup dari Kristus yang berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan ditinggikan oleh Allah! Paulus memperhidupkan Kristus dan memperbesar Kristus dalam perjalanan pelayarannya (Flp. 1:20-21).
Di laut yang berbadai, Tuhan tidak saja membuat rasul menjadi tuan orang-orang di atas kapal (Kis. 27:4), tetapi juga penjamin hidup dan penghibur mereka (Kis. 27:22-25). Sekarang di darat, dalam keadaan damai, Tuhan berbuat lebih lanjut, bukan hanya membuat Paulus menjadi daya tarik ajaib dalam pandangan penduduk pribumi yang takhayul (Kis. 28:3-6), juga menjadi penyembuh dan sukacita mereka (Kis. 28:8-9).
Hari ini setiap manusia yang jatuh adalah sakit, banyak yang sakit jasmani, dan semuanya sakit secara rohani. Kita di dalam gereja harus belajar memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran seperti dokter-dokter. Ini berarti bahwa di dalam pengajaran dan pemberitaan kita, hendaklah memberikan resep surgawi dan obat ilahi untuk kesembuhan mereka. Kita hendaknya belajar memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran sedemikian rupa sehingga orang disembuhkan. Ketika kita mengajar dan memberitakan, kita hendaknya memberikan injeksi obat rohani yang akan menyembuhkan mereka. Sebagian besar orang Kristen hari ini menekankan penyembuhan jasmani. Akan tetapi, kita perlu lebih banyak memperhatikan penyembuhan rohani. Kita perlu diperlengkapi sehingga di dalam pemberitaan dan pengajaran kita, obat rohani dapat disuplaikan kepada orang-orang agar mereka sembuh secara rohani.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya. (Yes. 53:4a)
Kisah Para Rasul 28:8-9
Ketika itu ayah Publius terbaring karena sakit demam dan disentri. Paulus masuk ke kamarnya; ia berdoa serta menumpangkan tangan ke atasnya dan menyembuhkan dia. Sesudah peristiwa itu datanglah juga orang-orang sakit lain dari pulau itu dan merekapun disembuhkan juga.
Ayat Bacaan: Kis. 27:4, 22-25; 28:3-6; 8-9; Flp. 1:20-21; Luk. 10:25-37
Selama perjalanan laut yang panjang, naas, dan terpenjara, Tuhan menjaga rasul di dalam keunggulan-Nya dan memungkinkan dia menempuh hidup yang melampaui alam kekhawatiran. Hidup demikian penuh wibawa, memiliki standar kebajikan insani yang tertinggi, mengekspresikan atribut-atribut ilahi yang terunggul, suatu hidup yang serupa dengan hidup Tuhan sendiri di bumi beberapa tahun sebelumnya. Inilah Yesus kembali hidup di bumi di dalam keinsanian-Nya yang dipenuhi oleh sifat ilahi! Inilah manusia Allah yang ajaib, unggul, dan misterius, yang dulu hidup di dalam kitab-kitab Injil, yang terus hidup di dalam Kisah Para Rasul melalui salah satu anggotanya! Inilah saksi hidup dari Kristus yang berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan ditinggikan oleh Allah! Paulus memperhidupkan Kristus dan memperbesar Kristus dalam perjalanan pelayarannya (Flp. 1:20-21).
Di laut yang berbadai, Tuhan tidak saja membuat rasul menjadi tuan orang-orang di atas kapal (Kis. 27:4), tetapi juga penjamin hidup dan penghibur mereka (Kis. 27:22-25). Sekarang di darat, dalam keadaan damai, Tuhan berbuat lebih lanjut, bukan hanya membuat Paulus menjadi daya tarik ajaib dalam pandangan penduduk pribumi yang takhayul (Kis. 28:3-6), juga menjadi penyembuh dan sukacita mereka (Kis. 28:8-9).
Hari ini setiap manusia yang jatuh adalah sakit, banyak yang sakit jasmani, dan semuanya sakit secara rohani. Kita di dalam gereja harus belajar memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran seperti dokter-dokter. Ini berarti bahwa di dalam pengajaran dan pemberitaan kita, hendaklah memberikan resep surgawi dan obat ilahi untuk kesembuhan mereka. Kita hendaknya belajar memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran sedemikian rupa sehingga orang disembuhkan. Ketika kita mengajar dan memberitakan, kita hendaknya memberikan injeksi obat rohani yang akan menyembuhkan mereka. Sebagian besar orang Kristen hari ini menekankan penyembuhan jasmani. Akan tetapi, kita perlu lebih banyak memperhatikan penyembuhan rohani. Kita perlu diperlengkapi sehingga di dalam pemberitaan dan pengajaran kita, obat rohani dapat disuplaikan kepada orang-orang agar mereka sembuh secara rohani.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya. (Yes. 53:4a)
24 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 4 Minggu
Menjadi Daya Tarik Ajaib
Kisah Para Rasul 28:5-6
Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api, dan ia sama sekali tidak menderita sesuatu.
Markus 16:17-18
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya:...mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka...
Ayat Bacaan: Kis. 28:5-6; Flp. 1:20-21a; 1 Kor. 2:3
Banyak orang ingin mempertontonkan firman Allah yang tercantum dalam Markus 16 tersebut, namun Allah tidak menanggapi mereka, Allah membiarkan mereka gagal. Mereka benar-benar percaya, tetapi Allah tidak menyatakannya dan membuktikannya bagi mereka. Karena Allah adalah Allah, Dia hanya mau melakukan apa yang dikehendaki-Nya, Dia tidak mau melakukan menurut kemauan manusia.
Ketika Paulus di pulau Malta, ia pernah digigit ular berbisa. Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api (Kis. 28:3-5). Meskipun tanda ajaib telah terjadi pada hari itu di atas diri Paulus, tetapi dia tidak berkata kepada orang-orang Malta, “Mari lihat, aku akan menyatakan suatu tanda ajaib yang besar.” Tidak. Ia hanya dengan diam-diam mengibaskan ular berbisa itu ke dalam api. Sedikit pun ia tidak membesarkan perbuatannya itu. Orang yang mengenal Allah pasti tidak mau membesarkan tanda ajaib, sebab itu sangat wajar.
Banyak tanda ajaib yang terjadi di atas diri Paulus, namun Paulus me-ngatakan, bahwa ia “lemah, sangat takut dan gentar” (1 Kor. 2:3). Allah mau bekerja melalui manusia, namun Ia tidak menghendaki manusia merasa bahwa dirinya bisa berbuat sesuatu. Orang yang tidak mengenal Allah baru mengatakan bahwa ia dapat melakukan perkara ini dan dapat melakukan itu. Orang yang benar-benar mengenal Allah hanya akan mengatakan, “Aku tidak tahu aku bisa berbuat apa.” Orang yang benar-benar dapat dipakai Allah tidak merasa dirinya bisa melakukan ini atau melakukan itu, ia hanya dengan wajar melakukannya. Oh, syukur kepada Allah! Kuasa-Nya begitu besar sehingga perkara apa saja dapat dilakukan-Nya sendiri. Semakin lama kita menjadi orang Kristen, kita akan makin menjadi sederhana. Siapa yang menjadi rumit atau ruwet, ia pasti berpenyakit rohani. Semakin kita mengenal Allah, kita akan semakin sederhana, sampai beriman pun tidak lagi harus ngotot seperti dulu. Kita hidup di hadapan Allah, sehari lewat sehari, kita akan menjadi makin sederhana, akhirnya kita akan berkata dari dalam hati, “Allah adalah segala-galanya, bukan aku.” Jika Anda benar-benar mengenal Allah, pasti perbuatan dan pekerjaan-Nya akan ternyata dengan sendirinya di atas diri Anda.
Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang melakukan perbuatan yang ajaib seorang diri! (Mzm. 72:18)
Kisah Para Rasul 28:5-6
Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api, dan ia sama sekali tidak menderita sesuatu.
Markus 16:17-18
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya:...mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka...
Ayat Bacaan: Kis. 28:5-6; Flp. 1:20-21a; 1 Kor. 2:3
Banyak orang ingin mempertontonkan firman Allah yang tercantum dalam Markus 16 tersebut, namun Allah tidak menanggapi mereka, Allah membiarkan mereka gagal. Mereka benar-benar percaya, tetapi Allah tidak menyatakannya dan membuktikannya bagi mereka. Karena Allah adalah Allah, Dia hanya mau melakukan apa yang dikehendaki-Nya, Dia tidak mau melakukan menurut kemauan manusia.
Ketika Paulus di pulau Malta, ia pernah digigit ular berbisa. Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api (Kis. 28:3-5). Meskipun tanda ajaib telah terjadi pada hari itu di atas diri Paulus, tetapi dia tidak berkata kepada orang-orang Malta, “Mari lihat, aku akan menyatakan suatu tanda ajaib yang besar.” Tidak. Ia hanya dengan diam-diam mengibaskan ular berbisa itu ke dalam api. Sedikit pun ia tidak membesarkan perbuatannya itu. Orang yang mengenal Allah pasti tidak mau membesarkan tanda ajaib, sebab itu sangat wajar.
Banyak tanda ajaib yang terjadi di atas diri Paulus, namun Paulus me-ngatakan, bahwa ia “lemah, sangat takut dan gentar” (1 Kor. 2:3). Allah mau bekerja melalui manusia, namun Ia tidak menghendaki manusia merasa bahwa dirinya bisa berbuat sesuatu. Orang yang tidak mengenal Allah baru mengatakan bahwa ia dapat melakukan perkara ini dan dapat melakukan itu. Orang yang benar-benar mengenal Allah hanya akan mengatakan, “Aku tidak tahu aku bisa berbuat apa.” Orang yang benar-benar dapat dipakai Allah tidak merasa dirinya bisa melakukan ini atau melakukan itu, ia hanya dengan wajar melakukannya. Oh, syukur kepada Allah! Kuasa-Nya begitu besar sehingga perkara apa saja dapat dilakukan-Nya sendiri. Semakin lama kita menjadi orang Kristen, kita akan makin menjadi sederhana. Siapa yang menjadi rumit atau ruwet, ia pasti berpenyakit rohani. Semakin kita mengenal Allah, kita akan semakin sederhana, sampai beriman pun tidak lagi harus ngotot seperti dulu. Kita hidup di hadapan Allah, sehari lewat sehari, kita akan menjadi makin sederhana, akhirnya kita akan berkata dari dalam hati, “Allah adalah segala-galanya, bukan aku.” Jika Anda benar-benar mengenal Allah, pasti perbuatan dan pekerjaan-Nya akan ternyata dengan sendirinya di atas diri Anda.
Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang melakukan perbuatan yang ajaib seorang diri! (Mzm. 72:18)
23 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 3 Sabtu
Mengucap Syukur Kepada Allah
Kisah Para Rasul 27:35-36
Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan. Semua orang itu kembali bersemangat, dan merekapun makan juga.
Ayat Bacaan: Kis. 27:35-44; 1 Tes. 5:18
Dalam situasi yang masih penuh bahaya dan tidak menentu, Paulus mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah, dan kemudian makan (Kis.27:35). Badai masih berkecamuk, kapal itu bergoyang-goyang, semua orang takut kehilangan nyawa mereka, dan tidak berselera untuk makan. Meskipun demikian, Paulus menyuruh mereka tetap bersema-ngat supaya tenang, dan makan untuk mendapatkan kekuatan yang mereka perlukan. Kemudian, di hadapan mereka semua, ia mempelopori makan se-hingga semua orang itu kembali bersemangat dan mereka pun makan juga.
Di dalam peristiwa ini, kita harus melihat salah satu teladan dari Paulus, yaitu dalam situasi yang paling buruk sekalipun, dia masih tetap dapat mengucap syukur kepada Allah (Kis. 27:35). Saudara saudari, seandainya rangkaian kesulitan dan ketidaknyamanan itu terjadi dalam kehidupan dan pekerjaan kita, bagaimanakah sikap kita? Sering kali sikap kita adalah sedih, kecewa, putus asa, dan merasa semuanya telah berakhir. Banyak orang Kristen yang berkeluh kesah, menggerutu, bersungut-sungut dan berbeban berat seperti ini, tidak ada hati yang mengucap syukur kepada Tuhan.
Dahulu, ada seorang Kristen yang bekerja di stasiun kereta api. Baik pada waktu sehat maupun sakit, suasana lancar atau tidak, ia senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Karena itu rekan-rekan sekerjanya menjuluki dia sebagai “periang surga”. Suatu hari, sewaktu dia sedang memperbaiki rel, sebuah kereta api menggilas kakinya sampai patah hingga dia pingsan. Setelah sadar dari pingsannya, kembali orang-orang di sekitarnya mendengar dia memuji syukur kepada Tuhan. Mereka penasaran, bagaimana mungkin dia dapat bersyukur kepada Tuhan setelah kehilangan salah satu kakinya. Orang ini berpaling kepada mereka dan berkata, “Puji syukur kepada Tuhan, saya masih mempunyai sebuah kaki yang baik.” Dalam hal apa kita harus bersyukur? Dalam segala hal (1 Tes. 5:8). Bukan hanya pada waktu senang atau baik, tetapi juga pada waktu susah dan sengsara, kita bersyukur kepada Tuhan. Karena itu, kita harus belajar bersyukur dan berkata seperti syair yang ditulis oleh F. Brook, “Satu yang aku tahu, Allah tak pernah salah.”
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tes. 5:18)
Kisah Para Rasul 27:35-36
Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan. Semua orang itu kembali bersemangat, dan merekapun makan juga.
Ayat Bacaan: Kis. 27:35-44; 1 Tes. 5:18
Dalam situasi yang masih penuh bahaya dan tidak menentu, Paulus mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah, dan kemudian makan (Kis.27:35). Badai masih berkecamuk, kapal itu bergoyang-goyang, semua orang takut kehilangan nyawa mereka, dan tidak berselera untuk makan. Meskipun demikian, Paulus menyuruh mereka tetap bersema-ngat supaya tenang, dan makan untuk mendapatkan kekuatan yang mereka perlukan. Kemudian, di hadapan mereka semua, ia mempelopori makan se-hingga semua orang itu kembali bersemangat dan mereka pun makan juga.
Di dalam peristiwa ini, kita harus melihat salah satu teladan dari Paulus, yaitu dalam situasi yang paling buruk sekalipun, dia masih tetap dapat mengucap syukur kepada Allah (Kis. 27:35). Saudara saudari, seandainya rangkaian kesulitan dan ketidaknyamanan itu terjadi dalam kehidupan dan pekerjaan kita, bagaimanakah sikap kita? Sering kali sikap kita adalah sedih, kecewa, putus asa, dan merasa semuanya telah berakhir. Banyak orang Kristen yang berkeluh kesah, menggerutu, bersungut-sungut dan berbeban berat seperti ini, tidak ada hati yang mengucap syukur kepada Tuhan.
Dahulu, ada seorang Kristen yang bekerja di stasiun kereta api. Baik pada waktu sehat maupun sakit, suasana lancar atau tidak, ia senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Karena itu rekan-rekan sekerjanya menjuluki dia sebagai “periang surga”. Suatu hari, sewaktu dia sedang memperbaiki rel, sebuah kereta api menggilas kakinya sampai patah hingga dia pingsan. Setelah sadar dari pingsannya, kembali orang-orang di sekitarnya mendengar dia memuji syukur kepada Tuhan. Mereka penasaran, bagaimana mungkin dia dapat bersyukur kepada Tuhan setelah kehilangan salah satu kakinya. Orang ini berpaling kepada mereka dan berkata, “Puji syukur kepada Tuhan, saya masih mempunyai sebuah kaki yang baik.” Dalam hal apa kita harus bersyukur? Dalam segala hal (1 Tes. 5:8). Bukan hanya pada waktu senang atau baik, tetapi juga pada waktu susah dan sengsara, kita bersyukur kepada Tuhan. Karena itu, kita harus belajar bersyukur dan berkata seperti syair yang ditulis oleh F. Brook, “Satu yang aku tahu, Allah tak pernah salah.”
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tes. 5:18)
22 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 3 Jumat
Tidak Seorangpun Kehilangan Rambut Kepalanya
Kisah Para Rasul 27:34
Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.
Ayat Bacaan: Kis. 27:27-36; Mat. 10:30; Luk. 21:18
Seluruh orang-orang di kapal telah menghadapi badai itu selama empat belas hari dan mereka tidak berselera untuk makan sesuatu (Kis. 27:33). Sekarang Paulus mendorong mereka untuk makan, karena ini penting untuk keselamatan mereka (Kis. 27:34). Kata “keselamatan” di sini berarti bahwa tanpa makan orang-orang itu tidak akan diselamatkan dari badai. Mereka perlu makan agar mendapatkan kekuatan untuk berenang dan untuk melakukan apa yang perlu begitu mereka tiba di pulau. Selain itu, perkataan Palus mengenai, “Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.” (Kis. 27:34) sama dengan perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 10:30 yang mengatakan, “Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya” dan dalam Lukas 21:18 yang mengatakan, “Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.” Hal ini menyatakan kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan terhadap kaum beriman-Nya.
Seorang saudara pernah bersaksi, “Pernah sekali, anakku sakit demam, berbaring di ranjang. Istriku berkata kepadanya, ”Kau ingin makan apa, nak?” Anaknya berkata, ”Bu, aku ingin makan bakpau.” Istriku berkata, ”Anakku, kalau kau suka bubur terigu, aku bisa membuatkannya bagimu. Tepung gandum kita di rumah tidak cukup untuk membuat bakpau. Kalau kau tidak suka itu, baiklah, kau tetap berbaring, lalu marilah kita berdoa bersama, mohon Tuhan memberimu bakpau.” Sore harinya, bibiku menyuruh anaknya datang dan membawakan dua buah bakpau dengan dua butir telur asin, dan berkata bahwa ibunya menyuruhnya mengantarkan bakpau untuk anakku yang sedang sakit. Ketika itu kami benar-benar hidup oleh iman, benar-benar berharap kepada Tuhan, sampai-sampai untuk makan bakpau saja harus berlutut berdoa dulu baru ada.” Saudara saudari, Allah kita itu setia dan senantiasa memelihara kita. Dia tidak pernah lalai memperhatikan dan memelihara kita. Setiap hari, ketika kita bangun pagi, berkatalah kepada Allah, “Ya, Allah, aku bersyukur kepada-Mu, kemarin Engkau telah memelihara aku, hari ini Engkau tetap memelihara. Aku tidak tahu berapa banyak pencobaan yang akan menimpaku pada hari ini, tetapi aku percaya bahwa Engkau pasti memelihara aku.”
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Pet. 5:7)
Kisah Para Rasul 27:34
Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.
Ayat Bacaan: Kis. 27:27-36; Mat. 10:30; Luk. 21:18
Seluruh orang-orang di kapal telah menghadapi badai itu selama empat belas hari dan mereka tidak berselera untuk makan sesuatu (Kis. 27:33). Sekarang Paulus mendorong mereka untuk makan, karena ini penting untuk keselamatan mereka (Kis. 27:34). Kata “keselamatan” di sini berarti bahwa tanpa makan orang-orang itu tidak akan diselamatkan dari badai. Mereka perlu makan agar mendapatkan kekuatan untuk berenang dan untuk melakukan apa yang perlu begitu mereka tiba di pulau. Selain itu, perkataan Palus mengenai, “Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.” (Kis. 27:34) sama dengan perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 10:30 yang mengatakan, “Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya” dan dalam Lukas 21:18 yang mengatakan, “Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.” Hal ini menyatakan kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan terhadap kaum beriman-Nya.
Seorang saudara pernah bersaksi, “Pernah sekali, anakku sakit demam, berbaring di ranjang. Istriku berkata kepadanya, ”Kau ingin makan apa, nak?” Anaknya berkata, ”Bu, aku ingin makan bakpau.” Istriku berkata, ”Anakku, kalau kau suka bubur terigu, aku bisa membuatkannya bagimu. Tepung gandum kita di rumah tidak cukup untuk membuat bakpau. Kalau kau tidak suka itu, baiklah, kau tetap berbaring, lalu marilah kita berdoa bersama, mohon Tuhan memberimu bakpau.” Sore harinya, bibiku menyuruh anaknya datang dan membawakan dua buah bakpau dengan dua butir telur asin, dan berkata bahwa ibunya menyuruhnya mengantarkan bakpau untuk anakku yang sedang sakit. Ketika itu kami benar-benar hidup oleh iman, benar-benar berharap kepada Tuhan, sampai-sampai untuk makan bakpau saja harus berlutut berdoa dulu baru ada.” Saudara saudari, Allah kita itu setia dan senantiasa memelihara kita. Dia tidak pernah lalai memperhatikan dan memelihara kita. Setiap hari, ketika kita bangun pagi, berkatalah kepada Allah, “Ya, Allah, aku bersyukur kepada-Mu, kemarin Engkau telah memelihara aku, hari ini Engkau tetap memelihara. Aku tidak tahu berapa banyak pencobaan yang akan menimpaku pada hari ini, tetapi aku percaya bahwa Engkau pasti memelihara aku.”
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Pet. 5:7)
21 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 3 Kamis
Aku Percaya kepada Allah
Kisah Para Rasul 27:25
Sebab itu tetaplah bersemangat, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku.
Ayat Bacaan: Kis. 27:1-26; Flp. 4:6; Ibr. 3:12
Perkataan Paulus mengenai “aku percaya kepada Allah” adalah alasan baginya untuk tetap bersemangat dan mendorong orang-orang di dalam kapal agar tidak kuatir akan keselamatan mereka (Kis. 27:24-25). Paulus memiliki keyakinan yang penuh bahwa dia akan sampai di Roma untuk bersaksi bagi Tuhan, karena dia percaya kepada Allah bahwa semuanya akan terjadi sesuai firman yang diberikan-Nya (Kis. 27:24).
Percaya kepada Allah tergantung pada percaya kepada firman Allah. Kehidupan orang Kristen tidak lain adalah kehidupan yang memegang erat firman Allah, menempuh hidup berdasarkan firman Allah. Percaya kepada firman Allah berarti: Allah berkata apa, begitulah kita percaya. Kapan saja kita menemui pencobaan atau ujian, kita harus percaya bahwa firman Allah selalu lebih dapat diandalkan daripada perasaan, situasi, dan pengalaman kita. Tidak peduli betapa gelap dan sulitnya keadaan sekeliling, asal kita dengan sepenuhnya percaya kepada Allah dan firman-Nya, maka iman kita akan nampak adanya tangan Sang kekal yang bekerja untuk kita. Iman adalah satu-satunya jalan yang mengubah firman menjadi pengalaman.
Pada suatu kali, Saudara Watchman Nee menghadapi satu masalah yang tidak bisa diatasi dan tidak terpikirkan jalan keluarnya. Saat itu dia teringat firman Tuhan, “Janganlah kamu kuatir tentang apa pun juga” (Flp. 4:6). Setelah berdoa puluhan kali, hatinya tetap tidak merasa damai sejahtera. Ia berpikir, “Apakah ayat ini hanya bisa diberitakan kepada orang lain, tetapi tidak bisa dipraktekkan untuk diri sendiri?” Saat itulah Allah berkata kepadanya, “Aku berkata bahwa janganlah kamu kuatir tentang apa pun juga, maka kamu pasti memiliki damai sejahtera. Sekarang, bagaimana mungkin kamu berkata bahwa kamu tidak memiliki damai sejahtera?” Segera dia melompat dan berkata, “Ya Allah, Engkau berkata bahwa aku memiliki damai sejahtera, aku pasti memiliki damai sejahtera, aku sendiri tidak akan berkata apa-apa lagi.” Demikianlah ia percaya, lalu pulang dan saat itu juga hatinya segera memiliki damai sejahtera. Kita harus membuang semua hati yang jahat dan tidak percaya kepada Allah yang hidup (Ibr. 3:12) dan dengan iman menerima segala janji firman-Nya.
Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. (2 Kor. 5:7)
Kisah Para Rasul 27:25
Sebab itu tetaplah bersemangat, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku.
Ayat Bacaan: Kis. 27:1-26; Flp. 4:6; Ibr. 3:12
Perkataan Paulus mengenai “aku percaya kepada Allah” adalah alasan baginya untuk tetap bersemangat dan mendorong orang-orang di dalam kapal agar tidak kuatir akan keselamatan mereka (Kis. 27:24-25). Paulus memiliki keyakinan yang penuh bahwa dia akan sampai di Roma untuk bersaksi bagi Tuhan, karena dia percaya kepada Allah bahwa semuanya akan terjadi sesuai firman yang diberikan-Nya (Kis. 27:24).
Percaya kepada Allah tergantung pada percaya kepada firman Allah. Kehidupan orang Kristen tidak lain adalah kehidupan yang memegang erat firman Allah, menempuh hidup berdasarkan firman Allah. Percaya kepada firman Allah berarti: Allah berkata apa, begitulah kita percaya. Kapan saja kita menemui pencobaan atau ujian, kita harus percaya bahwa firman Allah selalu lebih dapat diandalkan daripada perasaan, situasi, dan pengalaman kita. Tidak peduli betapa gelap dan sulitnya keadaan sekeliling, asal kita dengan sepenuhnya percaya kepada Allah dan firman-Nya, maka iman kita akan nampak adanya tangan Sang kekal yang bekerja untuk kita. Iman adalah satu-satunya jalan yang mengubah firman menjadi pengalaman.
Pada suatu kali, Saudara Watchman Nee menghadapi satu masalah yang tidak bisa diatasi dan tidak terpikirkan jalan keluarnya. Saat itu dia teringat firman Tuhan, “Janganlah kamu kuatir tentang apa pun juga” (Flp. 4:6). Setelah berdoa puluhan kali, hatinya tetap tidak merasa damai sejahtera. Ia berpikir, “Apakah ayat ini hanya bisa diberitakan kepada orang lain, tetapi tidak bisa dipraktekkan untuk diri sendiri?” Saat itulah Allah berkata kepadanya, “Aku berkata bahwa janganlah kamu kuatir tentang apa pun juga, maka kamu pasti memiliki damai sejahtera. Sekarang, bagaimana mungkin kamu berkata bahwa kamu tidak memiliki damai sejahtera?” Segera dia melompat dan berkata, “Ya Allah, Engkau berkata bahwa aku memiliki damai sejahtera, aku pasti memiliki damai sejahtera, aku sendiri tidak akan berkata apa-apa lagi.” Demikianlah ia percaya, lalu pulang dan saat itu juga hatinya segera memiliki damai sejahtera. Kita harus membuang semua hati yang jahat dan tidak percaya kepada Allah yang hidup (Ibr. 3:12) dan dengan iman menerima segala janji firman-Nya.
Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. (2 Kor. 5:7)
20 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 3 Rabu
Semua Orang akan Selamat karena Engkau
Kisah Para Rasul 27:24
Dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau.
Ayat Bacaan: Kis. 19:21; 23:11; 27:23-24; Mat. 14:16-21
Dari Kisah Para Rasul 27:23-24 kita melihat Paulus menunjukkan kepada semua orang di kapal bahwa ia adalah milik Allah dan melayani Allah. Kata “sembah” di ayat 23 dalam bahasa aslinya berarti “melayani sebagai seorang imam”. Dalam ayat 24 malaikat menjamin Paulus bahwa ia akan berdiri di hadapan Kaisar. Ini adalah untuk menggenapkan janji Tuhan (Kis. 23:11) dan mewujudkan keinginan rasul (Kis. 19:21). Menurut ayat 24, Allah telah mengaruniakan kepada Paulus semua orang yang bersama-sama dengan dia. Ini menunjukkan bahwa Allah telah memberikan mereka kepada Paulus dan bahwa mereka semua ada di bawah kuasanya. Tanpa kehadiran Paulus, mereka akan kehilangan nyawa mereka. Di sini Paulus seolah-olah akan berkata, “Karena akulah, nyawa kalian akan terpelihara. Tuhan telah memberikan kalian semua kepadaku.”
Dulu ada seorang pemuda yang baru berumur 16 tahun, ia bekerja di sebuah kontraktor bangunan. Insinyur kepala perusahaan tersebut hampir ditakuti seluruh pegawai, karena ia seorang pemarah. Setelah anak ini beroleh selamat, ia selalu mendoakan insinyur itu; meskipun ia juga takut kepadanya, tak berani memberitakan Injil kepadanya. Selang beberapa waktu, insinyur itu tiba-tiba bertanya kepadanya, ”Di antara 200 karyawan dalam perusahaan ini, aku merasa hanya engkau saja yang berbeda denganku, beritahukanlah kepadaku apakah sebabnya?” Usia insinyur itu sudah sekitar 40 sampai 50 tahun, sedangkan ia hanya 16 tahun. Jawab pemuda itu, ”Aku sudah percaya Tuhan, engkau belum percaya; itulah perbedaannya.” Pada waktu itu juga si insinyur berkata, ”Kalau begitu, baiklah aku pun ingin percaya Tuhan.” Kemudian, pemuda itu mengajaknya ke gereja, dan ia pun beroleh selamat.
Paulus dan pemuda ini adalah orang yang mempersembahkan diri mereka kepada Tuhan, maka tak heran mereka bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar mereka. Sama seperti peristiwa lima roti dan dua ikan begitu dipersembahkan kepada Tuhan, mendatangkan berkat yang sangat besar, ribuan orang dikenyangkan (Mat. 14:16-21). Semoga melalui persembahan kita, Tuhan bisa mendatangkan dan menyatakan kelimpahan berkat-Nya.
Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau... (Yes 41:10a)
Kisah Para Rasul 27:24
Dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau.
Ayat Bacaan: Kis. 19:21; 23:11; 27:23-24; Mat. 14:16-21
Dari Kisah Para Rasul 27:23-24 kita melihat Paulus menunjukkan kepada semua orang di kapal bahwa ia adalah milik Allah dan melayani Allah. Kata “sembah” di ayat 23 dalam bahasa aslinya berarti “melayani sebagai seorang imam”. Dalam ayat 24 malaikat menjamin Paulus bahwa ia akan berdiri di hadapan Kaisar. Ini adalah untuk menggenapkan janji Tuhan (Kis. 23:11) dan mewujudkan keinginan rasul (Kis. 19:21). Menurut ayat 24, Allah telah mengaruniakan kepada Paulus semua orang yang bersama-sama dengan dia. Ini menunjukkan bahwa Allah telah memberikan mereka kepada Paulus dan bahwa mereka semua ada di bawah kuasanya. Tanpa kehadiran Paulus, mereka akan kehilangan nyawa mereka. Di sini Paulus seolah-olah akan berkata, “Karena akulah, nyawa kalian akan terpelihara. Tuhan telah memberikan kalian semua kepadaku.”
Dulu ada seorang pemuda yang baru berumur 16 tahun, ia bekerja di sebuah kontraktor bangunan. Insinyur kepala perusahaan tersebut hampir ditakuti seluruh pegawai, karena ia seorang pemarah. Setelah anak ini beroleh selamat, ia selalu mendoakan insinyur itu; meskipun ia juga takut kepadanya, tak berani memberitakan Injil kepadanya. Selang beberapa waktu, insinyur itu tiba-tiba bertanya kepadanya, ”Di antara 200 karyawan dalam perusahaan ini, aku merasa hanya engkau saja yang berbeda denganku, beritahukanlah kepadaku apakah sebabnya?” Usia insinyur itu sudah sekitar 40 sampai 50 tahun, sedangkan ia hanya 16 tahun. Jawab pemuda itu, ”Aku sudah percaya Tuhan, engkau belum percaya; itulah perbedaannya.” Pada waktu itu juga si insinyur berkata, ”Kalau begitu, baiklah aku pun ingin percaya Tuhan.” Kemudian, pemuda itu mengajaknya ke gereja, dan ia pun beroleh selamat.
Paulus dan pemuda ini adalah orang yang mempersembahkan diri mereka kepada Tuhan, maka tak heran mereka bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar mereka. Sama seperti peristiwa lima roti dan dua ikan begitu dipersembahkan kepada Tuhan, mendatangkan berkat yang sangat besar, ribuan orang dikenyangkan (Mat. 14:16-21). Semoga melalui persembahan kita, Tuhan bisa mendatangkan dan menyatakan kelimpahan berkat-Nya.
Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau... (Yes 41:10a)
19 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 3 Selasa
Tetap Bersemangat
Kisah Para Rasul 27:22
Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bersemangat, sebab tidak seorang pun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.
Ayat Bacaan: Kis. 1:8; 27:21; Yes. 42:4; Ibr. 10:38, 12:2-3, 12-13; 2 Kor. 7:6
Di tengah-tengah badai dan semua orang dalam kapal tidak ada yang makan, Paulus bangkit berdiri dan memberikan semangat hidup kepada semua orang (Kis. 27:21-22). Walaupun Paulus adalah tawanan yang terbelenggu, perilakunya menunjukkan keunggulan dengan kewibawaan. Catatan yang ditulis oleh Lukas sebagai catatan pergerakan Tuhan di bumi, tidak menekankan doktrin tetapi kesaksian dari saksi-saksi Tuhan (Kis. 1:8). Setiap orang di kapal, termasuk perwira dan nakhoda telah putus asa dan sedang menunggu kematian. Namun, Paulus menyuruh mereka untuk tetap bersemangat, meyakinkan mereka bahwa tidak ada seorang pun yang akan binasa, kecuali kapal itu (Kis. 27:22). Di sini Paulus seolah-olah akan berkata, “Tidak ada seorang pun yang akan kehilangan nyawanya di antara kita, tetapi kapal ini akan kandas. Karena kalian tidak mendengarkan aku, maka kalian akan kehilangan kapal kalian.”
Iblis sering membuat orang putus asa, patah semangat, tetapi kita harus bersandar Tuhan berdiri teguh, tidak putus asa, tidak patah semangat, tidak terkena muslihatnya. Meskipun gagal, jangan putus asa, jangan lesu, kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, bersandar Tuhan maju terus (Ibr. 10:38, 12:12-13). Dia adalah Allah yang menghibur orang yang patah semangat (2 Kor. 7:6, Tl.), Ia bisa menghibur kita dan mendorong kita, supaya kita tidak karena kegagalan apa pun lalu patah semangat dan supaya kita menguatkan tangan yang lemah, meluruskan kaki yang penat untuk melanjutkan perjalanan kita.
Tujuan kita sudah pasti, meskipun di jalan ini ada banyak kesulitan, meski-pun jalannya semakin lama semakin sempit, tetapi pahala berada di depan kita. Salah satu kidung yang ditulis oleh M.E. Barber berbunyi, ”Tak berapa jauh lagi, lerai penat dan pedih. . . Dengar suara-Nya manis, ”Maju janganlah jeri! Sebelum fajar menyingsing, mungkin sudah berakhir.” Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan; ingatlah selalu akan Dia, supaya jangan kita menjadi lemah dan putus asa (Ibr. 12:2-3).
Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. (Mat. 12:20)
Kisah Para Rasul 27:22
Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bersemangat, sebab tidak seorang pun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.
Ayat Bacaan: Kis. 1:8; 27:21; Yes. 42:4; Ibr. 10:38, 12:2-3, 12-13; 2 Kor. 7:6
Di tengah-tengah badai dan semua orang dalam kapal tidak ada yang makan, Paulus bangkit berdiri dan memberikan semangat hidup kepada semua orang (Kis. 27:21-22). Walaupun Paulus adalah tawanan yang terbelenggu, perilakunya menunjukkan keunggulan dengan kewibawaan. Catatan yang ditulis oleh Lukas sebagai catatan pergerakan Tuhan di bumi, tidak menekankan doktrin tetapi kesaksian dari saksi-saksi Tuhan (Kis. 1:8). Setiap orang di kapal, termasuk perwira dan nakhoda telah putus asa dan sedang menunggu kematian. Namun, Paulus menyuruh mereka untuk tetap bersemangat, meyakinkan mereka bahwa tidak ada seorang pun yang akan binasa, kecuali kapal itu (Kis. 27:22). Di sini Paulus seolah-olah akan berkata, “Tidak ada seorang pun yang akan kehilangan nyawanya di antara kita, tetapi kapal ini akan kandas. Karena kalian tidak mendengarkan aku, maka kalian akan kehilangan kapal kalian.”
Iblis sering membuat orang putus asa, patah semangat, tetapi kita harus bersandar Tuhan berdiri teguh, tidak putus asa, tidak patah semangat, tidak terkena muslihatnya. Meskipun gagal, jangan putus asa, jangan lesu, kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, bersandar Tuhan maju terus (Ibr. 10:38, 12:12-13). Dia adalah Allah yang menghibur orang yang patah semangat (2 Kor. 7:6, Tl.), Ia bisa menghibur kita dan mendorong kita, supaya kita tidak karena kegagalan apa pun lalu patah semangat dan supaya kita menguatkan tangan yang lemah, meluruskan kaki yang penat untuk melanjutkan perjalanan kita.
Tujuan kita sudah pasti, meskipun di jalan ini ada banyak kesulitan, meski-pun jalannya semakin lama semakin sempit, tetapi pahala berada di depan kita. Salah satu kidung yang ditulis oleh M.E. Barber berbunyi, ”Tak berapa jauh lagi, lerai penat dan pedih. . . Dengar suara-Nya manis, ”Maju janganlah jeri! Sebelum fajar menyingsing, mungkin sudah berakhir.” Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan; ingatlah selalu akan Dia, supaya jangan kita menjadi lemah dan putus asa (Ibr. 12:2-3).
Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. (Mat. 12:20)
18 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 3 Senin
Serangan Iblis melalui Angin Badai
Kisah Para Rasul 27:20
Setelah beberapa hari tidak kelihatan matahari dan bintang-bintang dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami.
Ayat Bacaan:Kis. 27:4, 7, 14; Mrk. 4:37; Luk. 22:31; 2 Kor. 12:7; Ayb. 3:25; Yak. 4:7; 1 Ptr. 5:6
Dalam Kisah Para Rasul 27-28 Lukas memberikan satu narasi yang panjang tentang perjalanan Paulus dari Kaisarea ke Roma. Butir pertama yang disampaikan dalam perjalanan Paulus ini adalah serangan Iblis atas rasul. Ketika Paulus ingin melaksanakan kehendak Allah di Roma (Kis. 27:11), Iblis berada di belakang kesulitan-kesulitan, menyerang rasul Paulus (Kis. 27:4, 7, 14). Walaupun demikian Paulus tetap dapat bersukacita dan memperhidupkan Kristus.
Ketika kita melaksanakan kehendak Allah, Iblis akan tidak senang dan mulai mencoba menyerang kita. Bagaimanakah kita menghadapi serangan-serangan Iblis dalam keadaan lingkungan kita? Pertama, tunduklah kepada Allah (Yak. 4:7; 1 Ptr. 5:6). Kedua, lawanlah Iblis. Karena kita tunduk dan sikap kita di hadapan Allah sudah beres, Allah akan memperlihatkan kepada kita bahwa dalam lingkungan kita ada perkara-perkara yang tak beralasan atau tanpa penyebab dan yang menghendaki kita demikian adalah Iblis, bukan Allah; dan akhirnya kita dapat membedakan dalam batin kita pengaturan Allah atau serangan Iblis. Kalau kita sudah jelas hal ini dan melawannya, masalahnya segera berlalu. Ketiga, harus menolak ”rasa takut”. Rasa takut adalah satu kesempatan yang terbesar bagi Iblis untuk menyerang Anda. Seorang saudari yang berpengalaman pernah berkata, ”Semua perasaan takut adalah kartu nama Iblis.” Serangan-serangan Iblis dalam keadaan sekitar Anda kebanyakan berasal dari ketakutan Anda.
Kalau Iblis memberikan sebuah angan-angan kepada Anda sehingga Anda takut akan kejadian tersebut, jangan sekali-kali menerima angan-angan tersebut. Anda harus berkata, ”Tidak, aku sama sekali tidak sudi menerima kejadian atau peristiwa yang bukan Tuhan kehendaki!” Bila seseorang terlepas dari ketakutan dan menolak ketakutan, ia akan terlepas pula dari lingkungan Iblis dan pekerjaan Iblis dalam lingkungannya. Itulah makna perkataan Paulus dalam Efesus 4:27, ”Janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Mengapa kita bisa tidak merasa takut kepada Iblis? Sebab yang diam di dalam kita lebih besar daripada yang di dunia (1 Yoh. 4:4).
Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari hadapanmu! (Yak. 4:7)
Kisah Para Rasul 27:20
Setelah beberapa hari tidak kelihatan matahari dan bintang-bintang dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami.
Ayat Bacaan:Kis. 27:4, 7, 14; Mrk. 4:37; Luk. 22:31; 2 Kor. 12:7; Ayb. 3:25; Yak. 4:7; 1 Ptr. 5:6
Dalam Kisah Para Rasul 27-28 Lukas memberikan satu narasi yang panjang tentang perjalanan Paulus dari Kaisarea ke Roma. Butir pertama yang disampaikan dalam perjalanan Paulus ini adalah serangan Iblis atas rasul. Ketika Paulus ingin melaksanakan kehendak Allah di Roma (Kis. 27:11), Iblis berada di belakang kesulitan-kesulitan, menyerang rasul Paulus (Kis. 27:4, 7, 14). Walaupun demikian Paulus tetap dapat bersukacita dan memperhidupkan Kristus.
Ketika kita melaksanakan kehendak Allah, Iblis akan tidak senang dan mulai mencoba menyerang kita. Bagaimanakah kita menghadapi serangan-serangan Iblis dalam keadaan lingkungan kita? Pertama, tunduklah kepada Allah (Yak. 4:7; 1 Ptr. 5:6). Kedua, lawanlah Iblis. Karena kita tunduk dan sikap kita di hadapan Allah sudah beres, Allah akan memperlihatkan kepada kita bahwa dalam lingkungan kita ada perkara-perkara yang tak beralasan atau tanpa penyebab dan yang menghendaki kita demikian adalah Iblis, bukan Allah; dan akhirnya kita dapat membedakan dalam batin kita pengaturan Allah atau serangan Iblis. Kalau kita sudah jelas hal ini dan melawannya, masalahnya segera berlalu. Ketiga, harus menolak ”rasa takut”. Rasa takut adalah satu kesempatan yang terbesar bagi Iblis untuk menyerang Anda. Seorang saudari yang berpengalaman pernah berkata, ”Semua perasaan takut adalah kartu nama Iblis.” Serangan-serangan Iblis dalam keadaan sekitar Anda kebanyakan berasal dari ketakutan Anda.
Kalau Iblis memberikan sebuah angan-angan kepada Anda sehingga Anda takut akan kejadian tersebut, jangan sekali-kali menerima angan-angan tersebut. Anda harus berkata, ”Tidak, aku sama sekali tidak sudi menerima kejadian atau peristiwa yang bukan Tuhan kehendaki!” Bila seseorang terlepas dari ketakutan dan menolak ketakutan, ia akan terlepas pula dari lingkungan Iblis dan pekerjaan Iblis dalam lingkungannya. Itulah makna perkataan Paulus dalam Efesus 4:27, ”Janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Mengapa kita bisa tidak merasa takut kepada Iblis? Sebab yang diam di dalam kita lebih besar daripada yang di dunia (1 Yoh. 4:4).
Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari hadapanmu! (Yak. 4:7)
17 July 2010
Kisah Para Rasul Volume 9 - Minggu 3 JUmat
Tidak Seorangpun Kehilangan Rambut Kepalanya
Kisah Para Rasul 27:34
Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.
Ayat Bacaan: Kis. 27:27-36; Mat. 10:30; Luk. 21:18
Seluruh orang-orang di kapal telah menghadapi badai itu selama empat belas hari dan mereka tidak berselera untuk makan sesuatu (Kis. 27:33). Sekarang Paulus mendorong mereka untuk makan, karena ini penting untuk keselamatan mereka (Kis. 27:34). Kata “keselamatan” di sini berarti bahwa tanpa makan orang-orang itu tidak akan diselamatkan dari badai. Mereka perlu makan agar mendapatkan kekuatan untuk berenang dan untuk melakukan apa yang perlu begitu mereka tiba di pulau. Selain itu, perkataan Palus mengenai, “Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.” (Kis. 27:34) sama dengan perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 10:30 yang mengatakan, “Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya” dan dalam Lukas 21:18 yang mengatakan, “Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.” Hal ini menyatakan kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan terhadap kaum beriman-Nya.
Seorang saudara pernah bersaksi, “Pernah sekali, anakku sakit demam, berbaring di ranjang. Istriku berkata kepadanya, ”Kau ingin makan apa, nak?” Anaknya berkata, ”Bu, aku ingin makan bakpau.” Istriku berkata, ”Anakku, kalau kau suka bubur terigu, aku bisa membuatkannya bagimu. Tepung gandum kita di rumah tidak cukup untuk membuat bakpau. Kalau kau tidak suka itu, baiklah, kau tetap berbaring, lalu marilah kita berdoa bersama, mohon Tuhan memberimu bakpau.” Sore harinya, bibiku menyuruh anaknya datang dan membawakan dua buah bakpau dengan dua butir telur asin, dan berkata bahwa ibunya menyuruhnya mengantarkan bakpau untuk anakku yang sedang sakit. Ketika itu kami benar-benar hidup oleh iman, benar-benar berharap kepada Tuhan, sampai-sampai untuk makan bakpau saja harus berlutut berdoa dulu baru ada.” Saudara saudari, Allah kita itu setia dan senantiasa memelihara kita. Dia tidak pernah lalai memperhatikan dan memelihara kita. Setiap hari, ketika kita bangun pagi, berkatalah kepada Allah, “Ya, Allah, aku bersyukur kepada-Mu, kemarin Engkau telah memelihara aku, hari ini Engkau tetap memelihara. Aku tidak tahu berapa banyak pencobaan yang akan menimpaku pada hari ini, tetapi aku percaya bahwa Engkau pasti memelihara aku.”
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Pet. 5:7)
Kisah Para Rasul 27:34
Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.
Ayat Bacaan: Kis. 27:27-36; Mat. 10:30; Luk. 21:18
Seluruh orang-orang di kapal telah menghadapi badai itu selama empat belas hari dan mereka tidak berselera untuk makan sesuatu (Kis. 27:33). Sekarang Paulus mendorong mereka untuk makan, karena ini penting untuk keselamatan mereka (Kis. 27:34). Kata “keselamatan” di sini berarti bahwa tanpa makan orang-orang itu tidak akan diselamatkan dari badai. Mereka perlu makan agar mendapatkan kekuatan untuk berenang dan untuk melakukan apa yang perlu begitu mereka tiba di pulau. Selain itu, perkataan Palus mengenai, “Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.” (Kis. 27:34) sama dengan perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 10:30 yang mengatakan, “Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya” dan dalam Lukas 21:18 yang mengatakan, “Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.” Hal ini menyatakan kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan terhadap kaum beriman-Nya.
Seorang saudara pernah bersaksi, “Pernah sekali, anakku sakit demam, berbaring di ranjang. Istriku berkata kepadanya, ”Kau ingin makan apa, nak?” Anaknya berkata, ”Bu, aku ingin makan bakpau.” Istriku berkata, ”Anakku, kalau kau suka bubur terigu, aku bisa membuatkannya bagimu. Tepung gandum kita di rumah tidak cukup untuk membuat bakpau. Kalau kau tidak suka itu, baiklah, kau tetap berbaring, lalu marilah kita berdoa bersama, mohon Tuhan memberimu bakpau.” Sore harinya, bibiku menyuruh anaknya datang dan membawakan dua buah bakpau dengan dua butir telur asin, dan berkata bahwa ibunya menyuruhnya mengantarkan bakpau untuk anakku yang sedang sakit. Ketika itu kami benar-benar hidup oleh iman, benar-benar berharap kepada Tuhan, sampai-sampai untuk makan bakpau saja harus berlutut berdoa dulu baru ada.” Saudara saudari, Allah kita itu setia dan senantiasa memelihara kita. Dia tidak pernah lalai memperhatikan dan memelihara kita. Setiap hari, ketika kita bangun pagi, berkatalah kepada Allah, “Ya, Allah, aku bersyukur kepada-Mu, kemarin Engkau telah memelihara aku, hari ini Engkau tetap memelihara. Aku tidak tahu berapa banyak pencobaan yang akan menimpaku pada hari ini, tetapi aku percaya bahwa Engkau pasti memelihara aku.”
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Pet. 5:7)
Subscribe to:
Posts (Atom)