Berseru dan Melakukan Kehendak Bapa
Matius 7:21
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, kita perlu melakukan dua hal, menyeru nama Tuhan dan melakukan kehendak Bapa yang di surga. Kedua hal inilah yang melayakkan kita untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Menyeru nama Tuhan melayakkan kita untuk diselamatkan (Rm. 10:13). Apabila kita tidak berseru kepada nama Tuhan, kita tidak dapat diselamatkan. Hanya nama Yesus yang dapat menyelamatkan kita (Kis. 4:12). Menolak untuk menyeru nama Yesus, berarti menolak untuk diselamatkan. Tetapi siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan pasti diselamatkan dari hukuman kekal Allah. Karena itu, menyeru nama Tuhan adalah langkah awal dari keselamatan kita di hadapan Allah.
Setelah kita diselamatkan melalui menyeru nama Tuhan, masih ada satu hal lagi yang harus kita kerjakan untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga, yakni melakukan kehendak Bapa yang di surga. Karena itu, bagi yang belum berseru kepada Tuhan, marilah berseru agar diselamatkan. Bagi yang sudah berseru, jangan lupa, masih perlu melakukan kehendak Bapa yang di surga. Inilah pesan yang Tuhan sampaikan kepada kita dalam Matius 7:21.
Dalam pengalaman kita, menyeru nama Tuhan dan melakukan kehendak Bapa haruslah bergandengan. Orang yang tidak berseru kepada nama Tuhan mustahil melakukan kehendak Bapa, karena orang yang belum diselamatkan tidak bersyarat melakukan kehendak-Nya. Tetapi orang yang berseru kepada nama Tuhan saja namun tidak melakukan kehendak Bapa, pasti tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Apakah kehendak Bapa? Kehendak Bapa adalah kita memperhidupkan hayat Bapa. Artinya, setiap aspek dari kehidupan dan pelayanan kita haruslah bersumber dari hayat Bapa, bukan hayat alamiah kita. Tanpa ini, tidak seorangpun layak masuk Kerajaan Surga.
Mat. 7:21-29; Rm. 10:13; Kis. 4:12; 1 Kor. 3:12-15
Pada hari penghakiman, ketika semua orang beriman berdiri di depan takhta penghakiman Kristus, banyak orang akan berkata kepada Tuhan bahwa mereka bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Nya (Mat. 7:22). Mereka mungkin berharap Tuhan akan memuji pelayanan mereka. Bagaimanakah respon Tuhan? Tuhan bukan hanya tidak memuji mereka, tetapi Tuhan akan dengan terus terang berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Mat. 7:23).
Tuhan tidak menyangkal bahwa mereka bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Nya. Tetapi karena perbuatan mereka tidak bersumber pada hayat Bapa dan bukan bagi pembangunan Tubuh Kristus, maka Tuhan menganggap semuanya itu sebagai kejahatan! O, betapa seriusnya perkara ini. Tidak peduli betapa berkarunianya seorang hamba Tuhan, bila pelayanannya tidak sejalan dengan kehendak Bapa di surga, maka ia akan dikucilkan dari manifestasi kerajaan pada zaman yang akan datang.
Selanjutnya Tuhan berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu (batu karang, Tl.). Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu” (Mat. 7:24-25). Batu karang mengacu kepada firman Kristus. Untuk menggenapkan kehendak Bapa surgawi, kehidupan dan pekerjaan kita haruslah didirikan di atas firman Kristus, bukan konsepsi alamiah kita. Hujan yang turun dari langit berasal dari Allah; banjir yang datang dari bumi berasal dari manusia; dan angin yang bertiup dari angkasa berasal dari Iblis. Semuanya itu akan menguji kehidupan dan pekerjaan umat kerajaan.
Rumah yang dibangun di atas batu karang, rumah yang tahan terhadap berbagai pengujian, melambangkan pekerjaan yang dibangun dengan emas, perak, dan batu permata. Sedangkan rumah yang dibangun di atas pasir (Mat. 7:26-27), yang tidak tahan uji, melambangkan pekerjaan yang dibangun dengan kayu, rumput kering, dan jerami (1 Kor. 3:12-15).
Doa:
Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk senantiasa menyeru nama-Mu agar aku diselamatkan dan menikmati segala kelimpahan-Mu. Tidak hanya itu, jadikanlah pula aku sebagai orang yang melakukan kehendak Bapa, memperhidupkan hayat Bapa, membangun Tubuh-Mu, bukan dengan cara dan kekuatan alamiahku, melainkan dengan hayat ilahi Bapa di dalamku. Aku ingin hidup dan pekerjaanku tahan pengujian-Mu.
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
10 August 2007
09 August 2007
Matius Volume 4 - Minggu 3 Jumat
Masuk Melalui Pintu yang Sempit
Matius 7:13-14b
Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;karena sempitah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan.
Biasanya orang berjalan lebih dahulu, lalu setelah menempuh jarak tertentu, barulah masuk melalui pintu. Tetapi dalam Matius 7:13-14, Tuhan tidak mengatakan demikian. Tuhan mengatakan bahwa kita harus masuk melalui pintu terlebih dahulu, baru kemudian berjalan. Orang Kristen terlebih dulu masuk melalui pintu yang sempit, setelah itu barulah mereka dapat berjalan pada jalan yang sesak.
Apakah artinya masuk melalui pintu yang sempit? Melewati pintu yang sempit berarti melewati suatu pos, yakni pos pertobatan dan iman, yang olehnya kita bisa menghampiri Allah (Ef. 2:13). Pintu ini kemudian membawa kita berjalan pada jalan yang sesak. Apakah jalan yang sesak itu? Jalan yang sesak adalah jalan di mana kita dapat senantiasa bersekutu dengan Allah. Tanpa melalui pintu yang sempit itu (pos pertobatan dan iman), tidak mungkin seseorang dapat menempuh jalan yang sesak, yakni hidup dalam persekutuan dengan Allah (Ibr. 10:19, 22).
Bagaimanakah agar kita dapat mengalami pintu yang sempit dan jalan yang sesak? Caranya adalah dengan menghentikan upaya perbaikan diri (Rm. 7:25), sebaliknya dengan iman menerima khasiat dari karya penebusan Kristus yang telah memuaskan tuntutan Allah di dalam diri kita. Iman yang demikian akan memimpin kita ke jalan yang sesak, yakni berjalan dalam ketaatan kepada Roh itu (Rm. 8:4). Hari ini, jalan seperti apakah yang tengah kita tempuh? Mungkin kita menyukai jalan yang lebar, jalan di mana kita dapat dengan bebas melakukan apa pun yang kita senangi. Ketahuilah, jalan yang lebar demikian adalah jalan pemberontakan terhadap Roh Kudus, jalan yang menuju kebinasaan (1 Kor. 3:15). Karena itu marilah kita belajar melakukan kehendak Bapa di dalam ketaatan, karena akhir dari jalan ini menuju kepada kehidupan.
Mat. 7:13-14; Ef. 2:13; Ibr. 10:19, 22; Rm. 7:25; 8:4
Siapakah yang dapat masuk melalui pintu yang sempit dan berjalan di atas jalan yang sempit? Hanya umat kerajaan yang miskin dalam roh, yang berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, berbelaskasihan, murni hatinya, suka berdamai dengan semua orang, rela dianiaya demi kebenaran, dan mau dicela karena Kristus. Hanya orang-orang yang demikianlah yang dapat masuk melalui pintu yang sempit dan berjalan di atas jalan yang sesak.
Jalan yang sesak adalah jalan yang penuh dengan pembatasan, penuh dengan pengendalian Roh Kudus. Jika kita ingin mengikuti Yesus, Sang Raja, kita harus belajar menerima pembatasan. Sewaktu Yesus hidup di bumi ini, Ia selalu menerima pembatasan, yaitu dibatasi oleh tubuh jasmani-Nya, dibatasi oleh keluarga-Nya, dibatasi oleh orang-orang di sekeliling-Nya. la selalu menerima pembatasan, baik oleh ruang maupun waktu. la terbatasi oleh segala-galanya. Jika kita ingin menempuh jalan yang sesak sebagaimana Yesus, kita pun harus menerima pembatasan. Jika kita mengikuti jejak-Nya, kita akan kehilangan kebebasan dan keleluasaan. O, alangkah bahagianya jika kita dapat menerima segala pembatasan demi Yesus!
Untuk menerima pembatasan Roh Kudus dalam setiap aspek hidup kita, diperlukan kekuatan yang besar. Misalnya, untuk bersabar dalam situasi yang tengah membangkitkan amarah kita, sungguh membutuhkan kekuatan yang besar. Kita memerlukan kekuatan surgawi, yakni kuat kuasa kebangkitan Kristus yang terkandung dalam Roh itu. Begitu kita menikmati Roh itu melalui menyeru nama-Nya, ajaib sekali, amarah kita langsung menguap. Bersamaan dengan itu, kesabaran pun datang meneduhkan batin kita. Ini bukan teori, tetapi penerapan praktis dari kuat kuasa kebangkitan Kristus melalui Roh itu. Inilah jalan terbaik untuk menerima segala jenis pembatasan.
Khususnya orang-orang muda, perlu belajar menempuh jalan yang sesak, perlu menerima pembatasan. Dalam pergaulan dengan teman-teman kita, dalam hubungan kita dengan lawan jenis, dalam berperilaku dan tutur kata, semuanya perlu pembatasan. Jalan ini memang sesak, tetapi menyelamatkan kita.
Doa:
Ya Tuhan Yesus, berikanlah aku kekuatan rohani untuk belajar hidup dalam pembatasan Roh Kudus, belajar melakukan kehendak Bapa di dalam ketaatan kepada Roh itu, berjalan mengikuti jejak-Mu di bumi. Tuhan, sadarkanlah tatkala aku mulai menapaki jalan yang lebar, yang menuntun aku ke dalam kebinasaan. Berikan aku kesadaran rohani atas jalan yang kutempuh.
Matius 7:13-14b
Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;karena sempitah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan.
Biasanya orang berjalan lebih dahulu, lalu setelah menempuh jarak tertentu, barulah masuk melalui pintu. Tetapi dalam Matius 7:13-14, Tuhan tidak mengatakan demikian. Tuhan mengatakan bahwa kita harus masuk melalui pintu terlebih dahulu, baru kemudian berjalan. Orang Kristen terlebih dulu masuk melalui pintu yang sempit, setelah itu barulah mereka dapat berjalan pada jalan yang sesak.
Apakah artinya masuk melalui pintu yang sempit? Melewati pintu yang sempit berarti melewati suatu pos, yakni pos pertobatan dan iman, yang olehnya kita bisa menghampiri Allah (Ef. 2:13). Pintu ini kemudian membawa kita berjalan pada jalan yang sesak. Apakah jalan yang sesak itu? Jalan yang sesak adalah jalan di mana kita dapat senantiasa bersekutu dengan Allah. Tanpa melalui pintu yang sempit itu (pos pertobatan dan iman), tidak mungkin seseorang dapat menempuh jalan yang sesak, yakni hidup dalam persekutuan dengan Allah (Ibr. 10:19, 22).
Bagaimanakah agar kita dapat mengalami pintu yang sempit dan jalan yang sesak? Caranya adalah dengan menghentikan upaya perbaikan diri (Rm. 7:25), sebaliknya dengan iman menerima khasiat dari karya penebusan Kristus yang telah memuaskan tuntutan Allah di dalam diri kita. Iman yang demikian akan memimpin kita ke jalan yang sesak, yakni berjalan dalam ketaatan kepada Roh itu (Rm. 8:4). Hari ini, jalan seperti apakah yang tengah kita tempuh? Mungkin kita menyukai jalan yang lebar, jalan di mana kita dapat dengan bebas melakukan apa pun yang kita senangi. Ketahuilah, jalan yang lebar demikian adalah jalan pemberontakan terhadap Roh Kudus, jalan yang menuju kebinasaan (1 Kor. 3:15). Karena itu marilah kita belajar melakukan kehendak Bapa di dalam ketaatan, karena akhir dari jalan ini menuju kepada kehidupan.
Mat. 7:13-14; Ef. 2:13; Ibr. 10:19, 22; Rm. 7:25; 8:4
Siapakah yang dapat masuk melalui pintu yang sempit dan berjalan di atas jalan yang sempit? Hanya umat kerajaan yang miskin dalam roh, yang berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, berbelaskasihan, murni hatinya, suka berdamai dengan semua orang, rela dianiaya demi kebenaran, dan mau dicela karena Kristus. Hanya orang-orang yang demikianlah yang dapat masuk melalui pintu yang sempit dan berjalan di atas jalan yang sesak.
Jalan yang sesak adalah jalan yang penuh dengan pembatasan, penuh dengan pengendalian Roh Kudus. Jika kita ingin mengikuti Yesus, Sang Raja, kita harus belajar menerima pembatasan. Sewaktu Yesus hidup di bumi ini, Ia selalu menerima pembatasan, yaitu dibatasi oleh tubuh jasmani-Nya, dibatasi oleh keluarga-Nya, dibatasi oleh orang-orang di sekeliling-Nya. la selalu menerima pembatasan, baik oleh ruang maupun waktu. la terbatasi oleh segala-galanya. Jika kita ingin menempuh jalan yang sesak sebagaimana Yesus, kita pun harus menerima pembatasan. Jika kita mengikuti jejak-Nya, kita akan kehilangan kebebasan dan keleluasaan. O, alangkah bahagianya jika kita dapat menerima segala pembatasan demi Yesus!
Untuk menerima pembatasan Roh Kudus dalam setiap aspek hidup kita, diperlukan kekuatan yang besar. Misalnya, untuk bersabar dalam situasi yang tengah membangkitkan amarah kita, sungguh membutuhkan kekuatan yang besar. Kita memerlukan kekuatan surgawi, yakni kuat kuasa kebangkitan Kristus yang terkandung dalam Roh itu. Begitu kita menikmati Roh itu melalui menyeru nama-Nya, ajaib sekali, amarah kita langsung menguap. Bersamaan dengan itu, kesabaran pun datang meneduhkan batin kita. Ini bukan teori, tetapi penerapan praktis dari kuat kuasa kebangkitan Kristus melalui Roh itu. Inilah jalan terbaik untuk menerima segala jenis pembatasan.
Khususnya orang-orang muda, perlu belajar menempuh jalan yang sesak, perlu menerima pembatasan. Dalam pergaulan dengan teman-teman kita, dalam hubungan kita dengan lawan jenis, dalam berperilaku dan tutur kata, semuanya perlu pembatasan. Jalan ini memang sesak, tetapi menyelamatkan kita.
Doa:
Ya Tuhan Yesus, berikanlah aku kekuatan rohani untuk belajar hidup dalam pembatasan Roh Kudus, belajar melakukan kehendak Bapa di dalam ketaatan kepada Roh itu, berjalan mengikuti jejak-Mu di bumi. Tuhan, sadarkanlah tatkala aku mulai menapaki jalan yang lebar, yang menuntun aku ke dalam kebinasaan. Berikan aku kesadaran rohani atas jalan yang kutempuh.
08 August 2007
Matius Volume 4 - Minggu 3 Kamis
Meminta, Mencari, dan Mengetok
Matius 7:11
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Berdoa adalah hak utama orang Kristen. Begitu kita dilahirkan kembali, kita dapat berdoa kepada Allah, dan Allah mau mendengarkan doa kita; itulah hak utama yang Allah berikan kepada kita. Jika kita sering berdoa, kita akan menjadi orang Kristen yang bersukacita di dunia ini (Yoh. 16:24). Jika kita sering berdoa, namun Allah tidak sering mengabulkan doa kita, atau setelah menjadi orang Kristen beberapa tahun, Allah sama sekali tidak pernah mendengarkan doa kita, kita harus tahu, bahwa pada diri kita telah mengidap satu penyakit yang parah.
Kita adalah anak-anak Allah. Karena itu, bila doa kita justru tidak dikabulkan oleh Allah, ini adalah keadaan yang tidak seharusnya ada. Setiap orang Kristen harus berlaku sedemikian rupa sehingga Allah bisa mendengar doanya. Sebagai orang Kristen, kita masing-masing harus sering memiliki pengalaman Tuhan mendengarkan doa kita. Ini adalah pengalaman yang mendasar. Jika setelah sejangka waktu kita masih belum mendapatkan pengabulan doa dari Allah, di hadapan Allah, kita pasti ada penyakitnya.
Tuhan berkata, “Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Jika kita mengetok dinding, Tuhan mustahil membukakan dinding bagi kita. Namun jika kita mengetok pintu dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti membukakan pintu bagi kita. Tuhan juga berkata, “Carilah, maka kamu akan mendapatkan.” Allah ingin tahu, sebenarnya hal apa yang kita ingini dan mana yang kita minta, barulah Allah memberikannya kepada kita. Meminta berarti menghendaki dengan tekun dan sungguh-sungguh. Mencari atau mengetok pintu berarti memohon atau meminta. “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa” (Yak. 4:2). Jadi, syarat pertama untuk mendapatkan pengabulan doa adalah meminta. Hanya mereka yang meminta yang akan diberi.
Mat. 7:11-14; Yoh. 16:24; Yak. 4:2
Sering kali ketika kita berdoa, meminta saja tidak cukup. Kita masih perlu mencari. Adakalanya mencari saja masih kurang, perlu juga mengetuk. Pada tahap permulaan, doa kita biasanya adalah doa yang meminta, meminta berkat-berkat Tuhan. Tetapi, setelah lewat sejangka waktu, kita mulai mencari, bukan lagi mencari berkat, melainkan mencari Tuhan sendiri. Terakhir, setelah mendapatkan Tuhan, kita masih perlu mengetuk, yaitu untuk masuk ke dalam penyertaan Tuhan. Berdoa yang sejati selalu dimulai dari berkat Tuhan, kemudian menjamah diri Tuhan, dan terakhir memasuki penyertaan Tuhan. Kita semua harus belajar memiliki doa yang demikian.
Allah penuh hikmat, Ia tidak akan salah menjawab doa kita (Mat. 7:9-11). Adakalanya kita salah meminta, Ia masih menjawab dengan benar. Adakalanya kita meminta batu, karena menganggapnya sebagai roti; meminta ular, karena menganggapnya sebagai ikan; tetapi Allah tetap memberi roti, memberi ikan, memberi barang yang benar, barang yang lebih baik kepada kita. Dulu ada seorang misionaris hendak pergi memberitakan Injil ke Afrika, lalu memohon Tuhan memberinya tubuh yang sehat, supaya tahan menderita di Afrika. Pada suatu hari, ia terjatuh dan mengalami patah kaki. Karena tidak bisa disambung kembali, terpaksa diganti dengan sebuah kaki kayu. Saat itu ia tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan perkara ini terjadi. Setelah sampai di Afrika, ia bertemu dengan suku primitif kanibal yang ingin memangsanya. Ia dikejar sampai tidak bisa menghindar, lalu terpaksa melemparkan kaki kayunya kepada mereka. Mereka pun segera menyantap kaki kayunya; tetapi karena merasa asing dengan cita rasanya, mereka lalu membiarkan dia pergi. Saat itu barulah ia tahu bahwa Allah sebenarnya menjawab doanya, mempersiapkan sebuah kaki kayu, supaya sampai waktunya, menyelamatkan jiwanya.
Adakalanya jawaban Allah terhadap doa kita bisa dianggap tidak masuk akal, atau sepertinya keliru, tetapi kemudian fakta membuktikan jawaban-Nya sungguh tepat dan benar. Puji syukur kepada Allah, kita bisa salah, tetapi Ia tidak bisa salah! Kita bisa meminta yang salah, Ia tidak bisa memberi yang salah! Bapa kita sungguh tahu apa yang terbaik bagi kita!
Doa:
Ya Bapa, sesungguhnya Engkau adalah Allah yang senang mendengarkan dan mengabulkan doa anak-anak-Mu. Bapa, ampunilah bila selama ini aku berdoa namun tidak di dalam kesungguhan, berdoa dalam formalitas agama, berdoa namun bukan hati. Ajarlah aku berdoa dengan meminta, mencari dan mengetuk, maka Engkau akan berkenan.
Matius 7:11
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Berdoa adalah hak utama orang Kristen. Begitu kita dilahirkan kembali, kita dapat berdoa kepada Allah, dan Allah mau mendengarkan doa kita; itulah hak utama yang Allah berikan kepada kita. Jika kita sering berdoa, kita akan menjadi orang Kristen yang bersukacita di dunia ini (Yoh. 16:24). Jika kita sering berdoa, namun Allah tidak sering mengabulkan doa kita, atau setelah menjadi orang Kristen beberapa tahun, Allah sama sekali tidak pernah mendengarkan doa kita, kita harus tahu, bahwa pada diri kita telah mengidap satu penyakit yang parah.
Kita adalah anak-anak Allah. Karena itu, bila doa kita justru tidak dikabulkan oleh Allah, ini adalah keadaan yang tidak seharusnya ada. Setiap orang Kristen harus berlaku sedemikian rupa sehingga Allah bisa mendengar doanya. Sebagai orang Kristen, kita masing-masing harus sering memiliki pengalaman Tuhan mendengarkan doa kita. Ini adalah pengalaman yang mendasar. Jika setelah sejangka waktu kita masih belum mendapatkan pengabulan doa dari Allah, di hadapan Allah, kita pasti ada penyakitnya.
Tuhan berkata, “Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Jika kita mengetok dinding, Tuhan mustahil membukakan dinding bagi kita. Namun jika kita mengetok pintu dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti membukakan pintu bagi kita. Tuhan juga berkata, “Carilah, maka kamu akan mendapatkan.” Allah ingin tahu, sebenarnya hal apa yang kita ingini dan mana yang kita minta, barulah Allah memberikannya kepada kita. Meminta berarti menghendaki dengan tekun dan sungguh-sungguh. Mencari atau mengetok pintu berarti memohon atau meminta. “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa” (Yak. 4:2). Jadi, syarat pertama untuk mendapatkan pengabulan doa adalah meminta. Hanya mereka yang meminta yang akan diberi.
Mat. 7:11-14; Yoh. 16:24; Yak. 4:2
Sering kali ketika kita berdoa, meminta saja tidak cukup. Kita masih perlu mencari. Adakalanya mencari saja masih kurang, perlu juga mengetuk. Pada tahap permulaan, doa kita biasanya adalah doa yang meminta, meminta berkat-berkat Tuhan. Tetapi, setelah lewat sejangka waktu, kita mulai mencari, bukan lagi mencari berkat, melainkan mencari Tuhan sendiri. Terakhir, setelah mendapatkan Tuhan, kita masih perlu mengetuk, yaitu untuk masuk ke dalam penyertaan Tuhan. Berdoa yang sejati selalu dimulai dari berkat Tuhan, kemudian menjamah diri Tuhan, dan terakhir memasuki penyertaan Tuhan. Kita semua harus belajar memiliki doa yang demikian.
Allah penuh hikmat, Ia tidak akan salah menjawab doa kita (Mat. 7:9-11). Adakalanya kita salah meminta, Ia masih menjawab dengan benar. Adakalanya kita meminta batu, karena menganggapnya sebagai roti; meminta ular, karena menganggapnya sebagai ikan; tetapi Allah tetap memberi roti, memberi ikan, memberi barang yang benar, barang yang lebih baik kepada kita. Dulu ada seorang misionaris hendak pergi memberitakan Injil ke Afrika, lalu memohon Tuhan memberinya tubuh yang sehat, supaya tahan menderita di Afrika. Pada suatu hari, ia terjatuh dan mengalami patah kaki. Karena tidak bisa disambung kembali, terpaksa diganti dengan sebuah kaki kayu. Saat itu ia tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan perkara ini terjadi. Setelah sampai di Afrika, ia bertemu dengan suku primitif kanibal yang ingin memangsanya. Ia dikejar sampai tidak bisa menghindar, lalu terpaksa melemparkan kaki kayunya kepada mereka. Mereka pun segera menyantap kaki kayunya; tetapi karena merasa asing dengan cita rasanya, mereka lalu membiarkan dia pergi. Saat itu barulah ia tahu bahwa Allah sebenarnya menjawab doanya, mempersiapkan sebuah kaki kayu, supaya sampai waktunya, menyelamatkan jiwanya.
Adakalanya jawaban Allah terhadap doa kita bisa dianggap tidak masuk akal, atau sepertinya keliru, tetapi kemudian fakta membuktikan jawaban-Nya sungguh tepat dan benar. Puji syukur kepada Allah, kita bisa salah, tetapi Ia tidak bisa salah! Kita bisa meminta yang salah, Ia tidak bisa memberi yang salah! Bapa kita sungguh tahu apa yang terbaik bagi kita!
Doa:
Ya Bapa, sesungguhnya Engkau adalah Allah yang senang mendengarkan dan mengabulkan doa anak-anak-Mu. Bapa, ampunilah bila selama ini aku berdoa namun tidak di dalam kesungguhan, berdoa dalam formalitas agama, berdoa namun bukan hati. Ajarlah aku berdoa dengan meminta, mencari dan mengetuk, maka Engkau akan berkenan.
07 August 2007
Matius Volume 4 - Minggu 3 Rabu
Umat Kerajaan tidak Menghakimi Orang Lain
Matius 7:1-2
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Ada seorang gembala di sebuah gereja yang memiliki suatu metode untuk menghadapi anggota jemaatnya yang suka mengkritik atau menghakimi orang lain. Gembala tersebut menyediakan sebuah buku khusus di meja kerjanya. Ketika seorang saudara datang kepadanya untuk mengadukan kesalahan saudara yang lain, ia akan berkata, “Baiklah, di sini ada buku keluhan. Saya akan mencatat semua yang Anda keluhkan terhadapnya, dan nanti tolong Anda tanda tangani di bawahnya. Jangan lupa tulis pula nama Anda di situ. Segera setelah itu, saya akan membawa buku itu dan menemui dia.” Dalam 40 tahun pelayanan gembala tersebut di gereja itu, sudah ratusan kali ia membuka buku keluhan yang sama, tetapi tidak satu halaman pun yang terisi. Tidak ada satu catatan pun di sana.
Pengaturan surgawi atas umat kerajaan menuntut mereka memperhatikan kepentingan orang lain. Dalam hal apa pun yang kita lakukan, kita harus memikirkan kepentingan orang lain. Apakah kita memikirkan orang lain? Jika kita memikirkan orang lain, kita tidak akan mengkritik atau menghakimi mereka. Dalam Matius 7:1 Tuhan berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Kita seharusnya hidup di dalam roh yang rendah hati di bawah pemerintahan surgawi kerajaan, sehingga tidak menghakimi orang lain.
Roma 14:10 mengatakan, “Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.” Perkataan ini menegaskan bahwa kita tidak layak menghakimi saudara kita, sebab penghakiman bukan hak kita. Hanya Allah yang layak menghakimi. Hak kita bukan menghakimi, tetapi berdoa. Gunakanlah hak kita untuk mendoakan saudara kita yang lemah. Doa yang demikian pasti diperkenan Allah.
Mat. 7:1-5; Rm. 14:10; 2 Kor. 5:10
Selumbar atau serpihan kayu di mata saudara kita seharusnya mengingatkan kita akan balok di mata kita sendiri. Tuhan mengatakan, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat. 7:3, 5). Asalkan balok itu masih berada di mata kita, pandangan kita pasti kabur dan kita tidak akan nampak jelas. Dalam hal menunjukkan kesalahan saudara, kita harus menyadari bahwa sebenarnya kita mempunyai kesalahan yang lebih besar.
Setiap orang di antara kita harus memberi pertanggungjawaban masing-masing di depan takhta pengadilan Kristus (2 Kor. 5:10). Penghakiman pada takhta pengadilan Allah akan dilaksanakan sebelum Kerajaan Seribu Tahun, yang segera tiba sesudah kembalinya Kristus (1 Kor. 4:5; Im. 16:27, 25:19; Luk. 19:15). Pelayanan dan kehidupan kita akan dihakimi pada saat itu (Why. 22:12; Mat. 16:27; 1 Kor. 4:5; 3:13-15; Mat. 25:19; Luk. 19:15). Penghakiman ini tidak berhubungan dengan keselamatan kita, sebab setiap orang yang tampil di hadapan takhta pengadilan Allah adalah orang yang telah beroleh selamat. Penghakiman ini akan menghakimi kehidupan dan pelayanan kita setelah kita terhitung sejak kita percaya. Penghakiman ini akan menentukan pahala kita dalam Kerajaan Seribu Tahun (Mat. 25:21, 23; Luk. 19:17, 19; 1 Kor. 3:14-15; Mat. 16:27; Why. 22:12; Luk. 14:14; 2 Tim. 4:8).
Setiap orang beriman akan berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus untuk memberi pertanggungjawaban kepada Allah atas kehidupan dan pekerjaannya. Oleh karena itu, kita tidak seharusnya bertengkar dengan siapapun dan janganlah mengecam orang lain. Tetapi hendaklah kita mempersiapkan diri sendiri, sebab pada suatu hari kelak, kita akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Allah, untuk memberikan pertanggungjawaban atas kehidupan maupun pelayanan kita kepada Allah. Kita harus nampak, bahwa diri kita bukanlah apa-apa, tidak lebih baik dari siapapun. Bila kita mengenal daging kita sendiri, kita pasti tidak akan berani lagi menghakimi siapapun.
Doa:
Tuhan Yesus, singkapkanlah keadaanku yang penuh kelemahan dan kegagalan ini sehingga aku sadar bahwa aku sama sekali tidak bersyarat menghakimi sesamaku. Ampunilah kebutaanku selama ini, ya Tuhan. Biarlah terang penghakiman-Mu menyadarkan aku dari kesalahanku. Aku mau bertobat dan menggunakan hakku untuk berdoa bagi saudara yang lemah, bukan menghakimi.
Matius 7:1-2
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Ada seorang gembala di sebuah gereja yang memiliki suatu metode untuk menghadapi anggota jemaatnya yang suka mengkritik atau menghakimi orang lain. Gembala tersebut menyediakan sebuah buku khusus di meja kerjanya. Ketika seorang saudara datang kepadanya untuk mengadukan kesalahan saudara yang lain, ia akan berkata, “Baiklah, di sini ada buku keluhan. Saya akan mencatat semua yang Anda keluhkan terhadapnya, dan nanti tolong Anda tanda tangani di bawahnya. Jangan lupa tulis pula nama Anda di situ. Segera setelah itu, saya akan membawa buku itu dan menemui dia.” Dalam 40 tahun pelayanan gembala tersebut di gereja itu, sudah ratusan kali ia membuka buku keluhan yang sama, tetapi tidak satu halaman pun yang terisi. Tidak ada satu catatan pun di sana.
Pengaturan surgawi atas umat kerajaan menuntut mereka memperhatikan kepentingan orang lain. Dalam hal apa pun yang kita lakukan, kita harus memikirkan kepentingan orang lain. Apakah kita memikirkan orang lain? Jika kita memikirkan orang lain, kita tidak akan mengkritik atau menghakimi mereka. Dalam Matius 7:1 Tuhan berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Kita seharusnya hidup di dalam roh yang rendah hati di bawah pemerintahan surgawi kerajaan, sehingga tidak menghakimi orang lain.
Roma 14:10 mengatakan, “Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.” Perkataan ini menegaskan bahwa kita tidak layak menghakimi saudara kita, sebab penghakiman bukan hak kita. Hanya Allah yang layak menghakimi. Hak kita bukan menghakimi, tetapi berdoa. Gunakanlah hak kita untuk mendoakan saudara kita yang lemah. Doa yang demikian pasti diperkenan Allah.
Mat. 7:1-5; Rm. 14:10; 2 Kor. 5:10
Selumbar atau serpihan kayu di mata saudara kita seharusnya mengingatkan kita akan balok di mata kita sendiri. Tuhan mengatakan, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat. 7:3, 5). Asalkan balok itu masih berada di mata kita, pandangan kita pasti kabur dan kita tidak akan nampak jelas. Dalam hal menunjukkan kesalahan saudara, kita harus menyadari bahwa sebenarnya kita mempunyai kesalahan yang lebih besar.
Setiap orang di antara kita harus memberi pertanggungjawaban masing-masing di depan takhta pengadilan Kristus (2 Kor. 5:10). Penghakiman pada takhta pengadilan Allah akan dilaksanakan sebelum Kerajaan Seribu Tahun, yang segera tiba sesudah kembalinya Kristus (1 Kor. 4:5; Im. 16:27, 25:19; Luk. 19:15). Pelayanan dan kehidupan kita akan dihakimi pada saat itu (Why. 22:12; Mat. 16:27; 1 Kor. 4:5; 3:13-15; Mat. 25:19; Luk. 19:15). Penghakiman ini tidak berhubungan dengan keselamatan kita, sebab setiap orang yang tampil di hadapan takhta pengadilan Allah adalah orang yang telah beroleh selamat. Penghakiman ini akan menghakimi kehidupan dan pelayanan kita setelah kita terhitung sejak kita percaya. Penghakiman ini akan menentukan pahala kita dalam Kerajaan Seribu Tahun (Mat. 25:21, 23; Luk. 19:17, 19; 1 Kor. 3:14-15; Mat. 16:27; Why. 22:12; Luk. 14:14; 2 Tim. 4:8).
Setiap orang beriman akan berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus untuk memberi pertanggungjawaban kepada Allah atas kehidupan dan pekerjaannya. Oleh karena itu, kita tidak seharusnya bertengkar dengan siapapun dan janganlah mengecam orang lain. Tetapi hendaklah kita mempersiapkan diri sendiri, sebab pada suatu hari kelak, kita akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Allah, untuk memberikan pertanggungjawaban atas kehidupan maupun pelayanan kita kepada Allah. Kita harus nampak, bahwa diri kita bukanlah apa-apa, tidak lebih baik dari siapapun. Bila kita mengenal daging kita sendiri, kita pasti tidak akan berani lagi menghakimi siapapun.
Doa:
Tuhan Yesus, singkapkanlah keadaanku yang penuh kelemahan dan kegagalan ini sehingga aku sadar bahwa aku sama sekali tidak bersyarat menghakimi sesamaku. Ampunilah kebutaanku selama ini, ya Tuhan. Biarlah terang penghakiman-Mu menyadarkan aku dari kesalahanku. Aku mau bertobat dan menggunakan hakku untuk berdoa bagi saudara yang lemah, bukan menghakimi.
06 August 2007
Matius Volume 4 - Minggu 3 Selasa
Janganlah Kuatir akan Hidupmu
Matius 6:33
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Siapakah di antara kita yang tidak memiliki kekuatiran? Asal seseorang masih hidup di muka bumi, ia pasti memiliki kekuatiran. Tidak seorangpun yang tidak memiliki kekuatiran. Mengapa demikian? Karena hayat insani kita adalah hayat yang penuh dengan kekuatiran. Boleh dibilang bahwa hayat insani kita tersusun dari kekuatiran. Hanya satu jenis hayat yang tidak mengenal kata “kekuatiran”, yaitu hayat Allah. Ya. Allah tidak pernah kuatir. Pernahkah kita mendengar atau melihat bahwa Allah kuatir? Tidak pernah. Meskipun Allah memiliki banyak pekerjaan, tetapi Ia tidak mempunyai kekuatiran. Hayat Allah adalah hayat yang tanpa kekuatiran, sebaliknya penuh dengan kenikmatan, perhentian, penghiburan, dan kepuasan.
Tuhan mengetahui bahwa manusia penuh kekuatiran. Tetapi mengapa Ia mengatakan, “Janganlah kuatir akan hidupmu, ...(Mat. 6:25)? Bukankah perintah ini kedengarannya mustahil untuk dilakukan? Jawabannya: Ya dan tidak! Ya, perintah ini mustahil dilakukan bila kita hidup menurut hayat insani kita yang jatuh. Sebaliknya, perintah ini sama sekali tidak mustahil bila kita hidup menurut hayat dan sifat Bapa. Bagi Allah tidak ada yang mustahil!
Selanjutnya Tuhan berkata, “Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Hidup dan tubuh kita itu ada karena Allah, bukan karena kekuatiran kita. Karena Allah menciptakan kita dengan hidup dan tubuh, Dia pasti akan memperhatikan keperluan hidup dan tubuh kita. Umat kerajaan tidak perlu kuatir tentang hal ini. Asal kita hidup di dalam hayat dan sifat Bapa, kita dapat menyerahkan segala kekuatiran kita kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kita (1 Ptr. 5:7). Kita perlu belajar “melemparkan” beban kekuatiran kita kepada Allah, karena terhadap kita, Dia kuat dan adil, juga penuh kasih dan setia.
Mat.6:25-33; 1 Ptr. 5:7
Dari manakah sumber kekuatiran kita? Seorang pria yang belum berkeluarga akan lebih sedikit kekuatirannya daripada saudara yang sudah berkeluarga dan memiliki beberapa anak. Pria yang sudah berkeluarga itu harus memperhatikan istri serta anak-anaknya, dan hal itu membuatnya kuatir. Dulunya, sang istrilah sumber kekuatirannya. Sekarang, setiap melahirkan seorang anak, sumber kekuatirannya pun bertambah. Kekuatirannya mungkin bertambah ketika anaknya bertumbuh dewasa, menikah, melahirkan anak, karena saat itu cucunya akan menjadi sumber kekuatirannya. O, semakin banyak hal yang kita miliki, kekuatiran kita juga semakin banyak, seperti pesawat terbang yang terus berputar-putar di atas kepala kita, semakin lama semakin memusingkan.
Untuk menanggulangi hayat insani kita yang penuh dengan kekuatiran, Tuhan menghendaki kita belajar dari burung-burung di langit dan bunga bakung di ladang (Mat. 6:26, 28). Burung-burung dan bunga bakung sepenuhnya dipelihara oleh Allah, karena itu mereka tidak perlu kuatir. Kalau mata kita tercelik sedikit saja, sehingga nampak bahwa kita adalah anak-anak Bapa, dengan sendirinya segala kekuatiran lenyap, karena Bapa tahu bahwa kita memerlukan semuanya itu (Mat. 6:32). Yang kita perlukan di sini adalah percaya (Mat. 6:30). Asal kita percaya, segala macam kekuatiran pasti sirna.
Tahukah Anda mengapa kita kuatir tentang hari ini dan hari esok? Mengapakah kita seringkali kuatir seperti halnya bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah? Kita kuatir karena Allah belum memiliki kedudukan yang mutlak di dalam kita. Allah belum menjadi yang terutama dalam hidup kita! Itulah sebabnya Tuhan menghendaki kita mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Mat. 6:33). Kerajaan Allah adalah realitas Kerajaan Surga hari ini, yakni kehidupan gereja; sedangkan kebenaran Allah adalah Kristus yang diperhidupkan oleh umat kerajaan. Kalau kita mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya lebih dulu, tidak hanya kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya yang akan diberikan kepada kita, tetapi semua keperluan kita juga akan ditambahkan kepada kita. Inilah janji Tuhan kepada kita!
Doa:
Tuhan Yesus, cabutlah setiap akar kekuatiran di dalamku. Aku tidak ingin tanah hatiku ditumbuhi oleh semak belukar kekuatiran sehingga menghimpit firman iman di dalamku. Tuhan, aku mau menyerahkan setiap beban kekuatiranku kepada-Mu, karena Engkaulah yang memelihara aku. Kesetiaan-Mu, kasih-Mu, kekuatan-Mu, dan keadilan-Mu adalah jaminan hidupku yang terbaik.
Matius 6:33
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Siapakah di antara kita yang tidak memiliki kekuatiran? Asal seseorang masih hidup di muka bumi, ia pasti memiliki kekuatiran. Tidak seorangpun yang tidak memiliki kekuatiran. Mengapa demikian? Karena hayat insani kita adalah hayat yang penuh dengan kekuatiran. Boleh dibilang bahwa hayat insani kita tersusun dari kekuatiran. Hanya satu jenis hayat yang tidak mengenal kata “kekuatiran”, yaitu hayat Allah. Ya. Allah tidak pernah kuatir. Pernahkah kita mendengar atau melihat bahwa Allah kuatir? Tidak pernah. Meskipun Allah memiliki banyak pekerjaan, tetapi Ia tidak mempunyai kekuatiran. Hayat Allah adalah hayat yang tanpa kekuatiran, sebaliknya penuh dengan kenikmatan, perhentian, penghiburan, dan kepuasan.
Tuhan mengetahui bahwa manusia penuh kekuatiran. Tetapi mengapa Ia mengatakan, “Janganlah kuatir akan hidupmu, ...(Mat. 6:25)? Bukankah perintah ini kedengarannya mustahil untuk dilakukan? Jawabannya: Ya dan tidak! Ya, perintah ini mustahil dilakukan bila kita hidup menurut hayat insani kita yang jatuh. Sebaliknya, perintah ini sama sekali tidak mustahil bila kita hidup menurut hayat dan sifat Bapa. Bagi Allah tidak ada yang mustahil!
Selanjutnya Tuhan berkata, “Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Hidup dan tubuh kita itu ada karena Allah, bukan karena kekuatiran kita. Karena Allah menciptakan kita dengan hidup dan tubuh, Dia pasti akan memperhatikan keperluan hidup dan tubuh kita. Umat kerajaan tidak perlu kuatir tentang hal ini. Asal kita hidup di dalam hayat dan sifat Bapa, kita dapat menyerahkan segala kekuatiran kita kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kita (1 Ptr. 5:7). Kita perlu belajar “melemparkan” beban kekuatiran kita kepada Allah, karena terhadap kita, Dia kuat dan adil, juga penuh kasih dan setia.
Mat.6:25-33; 1 Ptr. 5:7
Dari manakah sumber kekuatiran kita? Seorang pria yang belum berkeluarga akan lebih sedikit kekuatirannya daripada saudara yang sudah berkeluarga dan memiliki beberapa anak. Pria yang sudah berkeluarga itu harus memperhatikan istri serta anak-anaknya, dan hal itu membuatnya kuatir. Dulunya, sang istrilah sumber kekuatirannya. Sekarang, setiap melahirkan seorang anak, sumber kekuatirannya pun bertambah. Kekuatirannya mungkin bertambah ketika anaknya bertumbuh dewasa, menikah, melahirkan anak, karena saat itu cucunya akan menjadi sumber kekuatirannya. O, semakin banyak hal yang kita miliki, kekuatiran kita juga semakin banyak, seperti pesawat terbang yang terus berputar-putar di atas kepala kita, semakin lama semakin memusingkan.
Untuk menanggulangi hayat insani kita yang penuh dengan kekuatiran, Tuhan menghendaki kita belajar dari burung-burung di langit dan bunga bakung di ladang (Mat. 6:26, 28). Burung-burung dan bunga bakung sepenuhnya dipelihara oleh Allah, karena itu mereka tidak perlu kuatir. Kalau mata kita tercelik sedikit saja, sehingga nampak bahwa kita adalah anak-anak Bapa, dengan sendirinya segala kekuatiran lenyap, karena Bapa tahu bahwa kita memerlukan semuanya itu (Mat. 6:32). Yang kita perlukan di sini adalah percaya (Mat. 6:30). Asal kita percaya, segala macam kekuatiran pasti sirna.
Tahukah Anda mengapa kita kuatir tentang hari ini dan hari esok? Mengapakah kita seringkali kuatir seperti halnya bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah? Kita kuatir karena Allah belum memiliki kedudukan yang mutlak di dalam kita. Allah belum menjadi yang terutama dalam hidup kita! Itulah sebabnya Tuhan menghendaki kita mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Mat. 6:33). Kerajaan Allah adalah realitas Kerajaan Surga hari ini, yakni kehidupan gereja; sedangkan kebenaran Allah adalah Kristus yang diperhidupkan oleh umat kerajaan. Kalau kita mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya lebih dulu, tidak hanya kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya yang akan diberikan kepada kita, tetapi semua keperluan kita juga akan ditambahkan kepada kita. Inilah janji Tuhan kepada kita!
Doa:
Tuhan Yesus, cabutlah setiap akar kekuatiran di dalamku. Aku tidak ingin tanah hatiku ditumbuhi oleh semak belukar kekuatiran sehingga menghimpit firman iman di dalamku. Tuhan, aku mau menyerahkan setiap beban kekuatiranku kepada-Mu, karena Engkaulah yang memelihara aku. Kesetiaan-Mu, kasih-Mu, kekuatan-Mu, dan keadilan-Mu adalah jaminan hidupku yang terbaik.
05 August 2007
Matius Volume 4 - Minggu 3 Senin
Kumpulkanlah Bagimu Harta di Surga
Matius 6:20-21
Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Uang dapat memikat orang, sebab itu setiap orang mengasihi uang. Tetapi sikap kaum beriman terhadap uang seharusnya berbeda. Karena uang itu memiliki daya pikat, banyak orang yang tertipu olehnya. Orang sering berkata uang adalah “barang yang nyata”. Tetapi Allah berkata uang bisa “lenyap”. Di alam semesta ini, hanya Allah yang nyata! Uang tidak nyata karena uang bisa “terbang ke angkasa seperti rajawali”. Sebab itu uang bersifat “tak menentu” bahkan bisa “tidak dapat menolong lagi” (Ams. 23:5; 1 Tim. 6:17; Luk. 16:9). Firman Allah ini seharusnya mengingatkan kita supaya jangan terpedaya oleh uang, jangan mabuk oleh harta kekayaan, sehingga menganggapnya sebagai barang yang nyata. Begitu kita tertipu, yang tersisa hanyalah kekecewaan dan penyesalan.
Tuhan menganjuri kita mengumpulkan harta di surga. Apa yang kita kumpulkan di surga tidak mungkin rusak atau dicuri, karena di surga tidak ada ngengat, karat, maupun pencuri. Bagaimanakah caranya mengirim harta kita ke surga? Kita dapat mengumpulkan harta di surga dengan cara memberi harta kita kepada orang miskin (Mat. 19:21), memperhatikan orang kudus yang kekurangan (Kis. 2:45; 4:34-35; 11:29, Rm. 15:26), dan menunjang pelayanan hamba-hamba Tuhan (Flp. 4:16-17).
Pada saat uang masih berguna, marilah kita sekuatnya dengan uang mengikat persahabatan dengan uang. Kita dapat melakukannya dengan cara mempersembahkan uang kita untuk membantu orang, atau untuk menunjang pekerjaan Injil guna menyelamatkan orang, supaya kelak ketika uang sudah tidak berguna lagi, ada orang yang menerima kita di dalam kemah abadi (Luk. 16:9). Hanya dengan jalan demikian kita dapat mengumpulkan harta kita di surga hari ini, sehingga kita tidak tertipu dan menyesal di kemudian hari.
Mat. 6:20-24;Ams. 23:5; 1 Tim. 6:17-20; Luk. 16:9
Dalam 1 Timotius 6:17-20 Rasul Paulus menasihati Timotius untuk memperingatkan orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah. Ia juga memperingatkan agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi, dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya untuk mempertahankan dan menikmati segala faedah dari hayat kekal Allah di waktu yang akan datang.
Manusia yang telah tertipu Satan hanya mau menerima tanpa memberi. Sikap itu adalah siasat Satan, yang menyebabkan manusia kehilangan berkat Allah. Cara terbaik untuk diberkati Allah dalam hal materi adalah memberi, bukan menerima, sama seperti yang dilakukan Tuhan sendiri untuk kita. Tuhan sendiri berjanji, lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kis. 20:35).
Tuhan Yesus berkata bahwa, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Hati sama seperti jarum kompas yang menunjuk kepada yang menariknya. Jika kita mengasihi anak-anak kita lebih daripada Allah, maka hati kita akan tertuju dan berpaling kepada anak-anak kita. Jika kita lebih mengasihi pendidikan, kedudukan, atau uang daripada Allah, hati kita dengan sendirinya akan berpaling kepada hal-hal itu. Begitu hati kita berpaling kepada hal-hal itu, hati kita segera menyimpang dan tidak murni lagi.
Kita tidak dapat melayani dua tuan, mengabdi kepada Allah dan Mamon sekaligus (Mat. 6:24). Hati kita harus berpaling kepada Allah dan hanya melayani Dia. Bagaimana caranya? Harta kita harus terlebih dahulu kita persembahkan kepada Allah. Begitu harta kita dikirim ke surga, hati kita pun segera berada di surga. Hari ini tidak banyak orang Kristen yang batinnya terang. Hal itu dikarenakan mata hati mereka jahat, tidak murni, dan kabur (Mat. 6:23). Hati mereka tidak terfokus kepada Allah, tetapi kepada harta di bumi. Mengumpulkan harta di bumi dapat membuat penglihatan rohani kita kabur. Kiranya kita terdorong untuk mengumpulkan harta kita di surga sehingga batin kita diterangi dan hati kita diluruskan untuk hanya melayani Allah saja.
Doa:
Ya Tuhan Yesus, lepaskanlah aku dari kuasa Mamon yang menjerat sebagian besar orang hari ini. Aku ingin agar hidupku berada di bawah kuasa-Mu, bukan uang. Ya Tuhan, selagi uang masih berguna, aku mau belajar mempersembahkannya demi pekerjaan Injil, perluasan kebenaran, dan menolong orang yang berkekurangan. Dengan harta yang kumiliki, aku mau melayani-Mu dengan mutlak.
Matius 6:20-21
Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Uang dapat memikat orang, sebab itu setiap orang mengasihi uang. Tetapi sikap kaum beriman terhadap uang seharusnya berbeda. Karena uang itu memiliki daya pikat, banyak orang yang tertipu olehnya. Orang sering berkata uang adalah “barang yang nyata”. Tetapi Allah berkata uang bisa “lenyap”. Di alam semesta ini, hanya Allah yang nyata! Uang tidak nyata karena uang bisa “terbang ke angkasa seperti rajawali”. Sebab itu uang bersifat “tak menentu” bahkan bisa “tidak dapat menolong lagi” (Ams. 23:5; 1 Tim. 6:17; Luk. 16:9). Firman Allah ini seharusnya mengingatkan kita supaya jangan terpedaya oleh uang, jangan mabuk oleh harta kekayaan, sehingga menganggapnya sebagai barang yang nyata. Begitu kita tertipu, yang tersisa hanyalah kekecewaan dan penyesalan.
Tuhan menganjuri kita mengumpulkan harta di surga. Apa yang kita kumpulkan di surga tidak mungkin rusak atau dicuri, karena di surga tidak ada ngengat, karat, maupun pencuri. Bagaimanakah caranya mengirim harta kita ke surga? Kita dapat mengumpulkan harta di surga dengan cara memberi harta kita kepada orang miskin (Mat. 19:21), memperhatikan orang kudus yang kekurangan (Kis. 2:45; 4:34-35; 11:29, Rm. 15:26), dan menunjang pelayanan hamba-hamba Tuhan (Flp. 4:16-17).
Pada saat uang masih berguna, marilah kita sekuatnya dengan uang mengikat persahabatan dengan uang. Kita dapat melakukannya dengan cara mempersembahkan uang kita untuk membantu orang, atau untuk menunjang pekerjaan Injil guna menyelamatkan orang, supaya kelak ketika uang sudah tidak berguna lagi, ada orang yang menerima kita di dalam kemah abadi (Luk. 16:9). Hanya dengan jalan demikian kita dapat mengumpulkan harta kita di surga hari ini, sehingga kita tidak tertipu dan menyesal di kemudian hari.
Mat. 6:20-24;Ams. 23:5; 1 Tim. 6:17-20; Luk. 16:9
Dalam 1 Timotius 6:17-20 Rasul Paulus menasihati Timotius untuk memperingatkan orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah. Ia juga memperingatkan agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi, dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya untuk mempertahankan dan menikmati segala faedah dari hayat kekal Allah di waktu yang akan datang.
Manusia yang telah tertipu Satan hanya mau menerima tanpa memberi. Sikap itu adalah siasat Satan, yang menyebabkan manusia kehilangan berkat Allah. Cara terbaik untuk diberkati Allah dalam hal materi adalah memberi, bukan menerima, sama seperti yang dilakukan Tuhan sendiri untuk kita. Tuhan sendiri berjanji, lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kis. 20:35).
Tuhan Yesus berkata bahwa, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Hati sama seperti jarum kompas yang menunjuk kepada yang menariknya. Jika kita mengasihi anak-anak kita lebih daripada Allah, maka hati kita akan tertuju dan berpaling kepada anak-anak kita. Jika kita lebih mengasihi pendidikan, kedudukan, atau uang daripada Allah, hati kita dengan sendirinya akan berpaling kepada hal-hal itu. Begitu hati kita berpaling kepada hal-hal itu, hati kita segera menyimpang dan tidak murni lagi.
Kita tidak dapat melayani dua tuan, mengabdi kepada Allah dan Mamon sekaligus (Mat. 6:24). Hati kita harus berpaling kepada Allah dan hanya melayani Dia. Bagaimana caranya? Harta kita harus terlebih dahulu kita persembahkan kepada Allah. Begitu harta kita dikirim ke surga, hati kita pun segera berada di surga. Hari ini tidak banyak orang Kristen yang batinnya terang. Hal itu dikarenakan mata hati mereka jahat, tidak murni, dan kabur (Mat. 6:23). Hati mereka tidak terfokus kepada Allah, tetapi kepada harta di bumi. Mengumpulkan harta di bumi dapat membuat penglihatan rohani kita kabur. Kiranya kita terdorong untuk mengumpulkan harta kita di surga sehingga batin kita diterangi dan hati kita diluruskan untuk hanya melayani Allah saja.
Doa:
Ya Tuhan Yesus, lepaskanlah aku dari kuasa Mamon yang menjerat sebagian besar orang hari ini. Aku ingin agar hidupku berada di bawah kuasa-Mu, bukan uang. Ya Tuhan, selagi uang masih berguna, aku mau belajar mempersembahkannya demi pekerjaan Injil, perluasan kebenaran, dan menolong orang yang berkekurangan. Dengan harta yang kumiliki, aku mau melayani-Mu dengan mutlak.
03 August 2007
Matius Volume 4 - Minggu 2 Sabtu
Perihal Berpuasa
Matius 6:17-18a
Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.
Berpuasa adalah salah satu perbuatan benar umat kerajaan yang diperkenan oleh Bapa yang di surga. Walau demikian, cara kita berpuasa janganlah seperti orang munafik. Tuhan berkata, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya” (Mat. 6:16). Kita berpuasa disebabkan kita sedang menanggung kehendak Allah, bukan karena ingin dilihat dan dipuji oleh orang. Semakin sedikit orang yang mengetahui bahwa kita sedang berpuasa, semakin baik. Bahkan bila tidak seorang pun mengetahui kalau kita sedang berpuasa, justru itulah yang terbaik. Mengapa? Karena Bapa yang ada di tempat tersembunyi melihat apa yang tersembunyi pula. Dilihat oleh Bapa berarti diperkenan oleh Bapa, dihargai oleh Bapa, juga dibalas/diberi upah oleh Bapa.
Berpuasa berarti melepaskan hak kita yang sah. Dalam hidup manusia, tidak ada perkara yang lebih sah daripada makan. Setelah Allah menciptakan manusia, pengaturan pertama bagi manusia adalah masalah makan. Dalam Kejadian pasal satu, setelah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, Allah segera menetapkan makanan bagi manusia. Jadi, makan adalah sah bagi manusia. Karena itu berpuasa berarti, demi menanggung kehendak Allah, kita rela melepaskan hak yang sangat sah tersebut. Karena berpuasa berarti melepaskan hak yang sah, maka atas banyak hal kita pun harus belajar melepaskan hak yang sah. Jika dalam kehidupan sehari-hari masih tidak bisa melepaskan hak kita yang sah, lalu hanya melakukan tindakan berpuasa, berpuasa yang demikian tidak ada artinya. Karena itu, meskipun kita tidak setiap hari berpuasa, namun setiap hari kita hidup di dalam prinsip berpuasa.
Mat. 6:16-18
B erpuasa adalah semacam pernyataan yang muncul dengan sendirinya dari seseorang yang menerima satu tanggung jawab yang besar di hadapan Allah. Pada saat demikian, ia dengan sendirinya akan berpuasa. Ketika kita menerima satu perkara yang besar dari Allah dan di dalam kita ada perasaan yang sangat dalam, tanpa harus sengaja berpuasa kita sudah berpuasa. Selain itu, berpuasa merupakan pernyataan bahwa seseorang berdiri di pihak Allah untuk menentang Iblis. Lebih jauh lagi, berpuasa berarti tidak memperhatikan dirinya sendiri, bahkan tidak menyayangi jiwanya. Inilah yang dikatakan sebagai orang yang tidak memperhatikan hidup atau mati. Makan sangat berkaitan dengan keberadaan manusia; tanpa makan, manusia bisa mati kelaparan. Arti berpuasa ialah aku rela mati, asalkan perkara ini tergenapi. Aku bergumul dengan mati dan hidup, bahkan sampai mati tidak akan rela membiarkan perkara ini lewat, lebih baik mati namun bisa membiarkan perkara ini terus maju. Pergumulan yang demikian inilah pernyataan yang sejati dari berpuasa.
Di satu pihak, orang Kristen memang tidak boleh sembarangan berpuasa, di pihak lain, orang Kristen harus belajar berpuasa. Orang Kristen yang tidak pernah berpuasa adalah orang Kristen yang bermasalah. Jika selamanya kita tidak pernah merasakan bahwa Allah telah mengamanatkan satu tanggung jawab yang berat kepada kita, ini menyatakan bahwa kita tidak pernah ada satu sikap yang teguh yang menyatakan kepada Allah bahwa kita mau kehendak Allah, kita mau berdiri di pihak Allah. Kita memandang perkara Allah sebagai hal yang tak berarti, remeh, boleh memberitakan Injil, juga boleh tidak memberitakan Injil; orang dosa beroleh selamat itu baik, tidak beroleh selamat juga baik; semuanya tidak penting, kita hanya berdoa bagi mereka, setelah berdoa, kita masih bisa bersenang-senang dan makan minum. Jika sikap kita begitu, kita benar-benar orang Kristen yang tidak wajar! Asal kita mau sedikit saja bersimpati kepada hati Allah, pasti beban Injil akan melanda kita; kita akan berdoa, “Ya Allah, di sini Engkau harus menyelamatkan sejumlah orang, jika tidak, aku tidak bisa makan, tidak bisa minum.” Inilah berdoa puasa.
Doa:
Ya Bapa, ampunilah aku karena besarnya keperluan-Mu belum dapat membuat aku berpuasa dan berdoa. Aku mohon terangilah aku, perlihatkanlah keperluan-Mu yang besar itu, maka aku akan belajar melepaskan hakku yang sah atas makanan, berpuasa dan berdoa demi keperluan-Mu. Ya Bapa, ajarlah aku untuk hidup dalam prinsip berpuasa.
Matius 6:17-18a
Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.
Berpuasa adalah salah satu perbuatan benar umat kerajaan yang diperkenan oleh Bapa yang di surga. Walau demikian, cara kita berpuasa janganlah seperti orang munafik. Tuhan berkata, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya” (Mat. 6:16). Kita berpuasa disebabkan kita sedang menanggung kehendak Allah, bukan karena ingin dilihat dan dipuji oleh orang. Semakin sedikit orang yang mengetahui bahwa kita sedang berpuasa, semakin baik. Bahkan bila tidak seorang pun mengetahui kalau kita sedang berpuasa, justru itulah yang terbaik. Mengapa? Karena Bapa yang ada di tempat tersembunyi melihat apa yang tersembunyi pula. Dilihat oleh Bapa berarti diperkenan oleh Bapa, dihargai oleh Bapa, juga dibalas/diberi upah oleh Bapa.
Berpuasa berarti melepaskan hak kita yang sah. Dalam hidup manusia, tidak ada perkara yang lebih sah daripada makan. Setelah Allah menciptakan manusia, pengaturan pertama bagi manusia adalah masalah makan. Dalam Kejadian pasal satu, setelah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, Allah segera menetapkan makanan bagi manusia. Jadi, makan adalah sah bagi manusia. Karena itu berpuasa berarti, demi menanggung kehendak Allah, kita rela melepaskan hak yang sangat sah tersebut. Karena berpuasa berarti melepaskan hak yang sah, maka atas banyak hal kita pun harus belajar melepaskan hak yang sah. Jika dalam kehidupan sehari-hari masih tidak bisa melepaskan hak kita yang sah, lalu hanya melakukan tindakan berpuasa, berpuasa yang demikian tidak ada artinya. Karena itu, meskipun kita tidak setiap hari berpuasa, namun setiap hari kita hidup di dalam prinsip berpuasa.
Mat. 6:16-18
B erpuasa adalah semacam pernyataan yang muncul dengan sendirinya dari seseorang yang menerima satu tanggung jawab yang besar di hadapan Allah. Pada saat demikian, ia dengan sendirinya akan berpuasa. Ketika kita menerima satu perkara yang besar dari Allah dan di dalam kita ada perasaan yang sangat dalam, tanpa harus sengaja berpuasa kita sudah berpuasa. Selain itu, berpuasa merupakan pernyataan bahwa seseorang berdiri di pihak Allah untuk menentang Iblis. Lebih jauh lagi, berpuasa berarti tidak memperhatikan dirinya sendiri, bahkan tidak menyayangi jiwanya. Inilah yang dikatakan sebagai orang yang tidak memperhatikan hidup atau mati. Makan sangat berkaitan dengan keberadaan manusia; tanpa makan, manusia bisa mati kelaparan. Arti berpuasa ialah aku rela mati, asalkan perkara ini tergenapi. Aku bergumul dengan mati dan hidup, bahkan sampai mati tidak akan rela membiarkan perkara ini lewat, lebih baik mati namun bisa membiarkan perkara ini terus maju. Pergumulan yang demikian inilah pernyataan yang sejati dari berpuasa.
Di satu pihak, orang Kristen memang tidak boleh sembarangan berpuasa, di pihak lain, orang Kristen harus belajar berpuasa. Orang Kristen yang tidak pernah berpuasa adalah orang Kristen yang bermasalah. Jika selamanya kita tidak pernah merasakan bahwa Allah telah mengamanatkan satu tanggung jawab yang berat kepada kita, ini menyatakan bahwa kita tidak pernah ada satu sikap yang teguh yang menyatakan kepada Allah bahwa kita mau kehendak Allah, kita mau berdiri di pihak Allah. Kita memandang perkara Allah sebagai hal yang tak berarti, remeh, boleh memberitakan Injil, juga boleh tidak memberitakan Injil; orang dosa beroleh selamat itu baik, tidak beroleh selamat juga baik; semuanya tidak penting, kita hanya berdoa bagi mereka, setelah berdoa, kita masih bisa bersenang-senang dan makan minum. Jika sikap kita begitu, kita benar-benar orang Kristen yang tidak wajar! Asal kita mau sedikit saja bersimpati kepada hati Allah, pasti beban Injil akan melanda kita; kita akan berdoa, “Ya Allah, di sini Engkau harus menyelamatkan sejumlah orang, jika tidak, aku tidak bisa makan, tidak bisa minum.” Inilah berdoa puasa.
Doa:
Ya Bapa, ampunilah aku karena besarnya keperluan-Mu belum dapat membuat aku berpuasa dan berdoa. Aku mohon terangilah aku, perlihatkanlah keperluan-Mu yang besar itu, maka aku akan belajar melepaskan hakku yang sah atas makanan, berpuasa dan berdoa demi keperluan-Mu. Ya Bapa, ajarlah aku untuk hidup dalam prinsip berpuasa.
02 August 2007
Matius Volume 4 - Minggu 2 Jumat
Perihal Mengampuni dan Diampuni
Matius 6:14-15
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.
Mengampuni berarti melupakan dan membebaskan. Orang Kristen mudah gagal dalam hal mengampuni orang lain. Kalau di antara anak-anak Allah terdapat sikap yang tidak mau mengampuni, semua pelajaran, iman, dan kuasa akan bocor. Semua anak-anak Allah memerlukan perkataan yang sederhana ini. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga.” Menerima pengampunan Bapa sangatlah mudah. Namun, “Jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
Kita harus dapat mengampuni kesalahan orang lain dari dalam hati kita. Kalau kita mengampuni orang lain hanya dengan mulut, tetapi tidak mengampuni dalam hati, dalam pandangan Bapa itu bukanlah pengampunan. Pengampunan yang hanya di mulut adalah kosong dan menipu, dan tidak terhitung di hadapan Bapa. Charles H. Spurgeon pernah berkhotbah perihal mengampuni orang lain. Ia ingin menunjukkan bahwa orang Kristen pun sulit mengampuni orang lain. Kita mengira telah mengampuni seseorang, tetapi pengampunan kita itu dapat dibandingkan dengan menguburkan seekor anjing mati dengan membiarkan ekornya kelihatan. Kita mungkin berkata, “Dia telah bersalah kepadaku, tetapi aku telah mengampuni dia.” Inilah yang dimaksud dengan memperlihatkan “ekor anjing” itu.
Jika kita benar-benar telah mengampuni seseorang, kita harus juga melupakan kesalahannya. Begitu kita mengampuni seseorang dalam satu perkara, kita tidak boleh menyinggungnya lagi. Setiap kali kita menyinggung satu kesalahan yang sebenarnya telah kita diampuni, itu berarti kita belum membebaskan orang yang bersalah kepada kita, belum terhitung mengampuni. Mengampuni berarti melupakan, selamanya tidak akan membicarakannya lagi.
Mat. 6:14-15; 18:23-35
Sebagaimana murid-murid waktu itu memerlukan perkataan Tuhan tentang mengampuni kesalahan orang lain, kita juga hari ini memerlukan perkataan yang sama. Kalau orang Kristen tidak dapat didamaikan dan kalau mereka tidak mengampuni kesalahan orang lain dari dalam hati mereka, maka gereja akan menghadapi masalah. Kalau kita tidak hidup di dalam kehidupan gereja, kalau kita masing-masing ingin menempuh cara kita sendiri, kita tidak perlu mengampuni satu sama lain. Tetapi bila kita ingin menempuh kehidupan gereja, memiliki persekutuan yang tepat dengan Tuhan dan kaum beriman lain, kita harus belajar mengampuni.
Tuhan tahu bahwa semakin banyak kita berkomunikasi dan bersekutu satu sama lain, semakin perlu kita mengampuni satu sama lain. Jika kita tidak saling mengampuni, kita mudah memberi tempat kepada Iblis. Jika kita tidak bisa saling mengampuni, kita bukanlah umat kerajaan, dan kita tidak bisa melakukan pekerjaan kerajaan. Tidak ada orang yang tidak mau mengampuni bisa berada dalam pekerjaan kerajaan, dan tidak ada orang yang tidak mau mengampuni bisa menjadi orang yang berada dalam kerajaan. Bila di antara kita dengan saudara dan saudari timbul masalah, berarti kita bermasalah dengan Tuhan. Kita tidak bisa berdoa kepada Tuhan di satu pihak, dan tetap tidak mau mengampuni di pihak lain. Saudara saudari, ini bukanlah perkara yang sepele. Kita harus memperhatikan apa yang diperhatikan Tuhan. Kita harus sekuatnya berusaha mengampuni kesalahan orang lain.
Jika seseorang telah diampuni, tetapi tidak mau mengampuni orang lain; telah menerima belas kasihan, tetapi ia tidak mau mengasihani orang lain, maka orang itu adalah orang yang paling jahat di mata Allah. Tidak ada perbuatan yang lebih buruk daripada perbuatan ini. Kita harus menyadari bagaimana Tuhan memperlakukan kita, kita pun harus demikian memperlakukan orang lain. Kalau orang yang menerima kasih karunia menolak memberikan kasih karunia, itu suatu perbuatan yang tidak selayaknya. Orang yang berhutang tetapi menagih hutang; perbuatan itu tidak dibenarkan Allah. Orang yang berhutang mengingat-ingat hutang orang lain, perbuatan demikian dibenci Allah (Mat. 18:23-35).
Doa:
Ya Bapa, pengampunan-Mu itu sempurna dan tuntas sehingga Engkau melupakan semua kesalahanku. Namun aku mengakui, dalam hal mengampuni sesamaku, seringkali tidak tuntas, tidak bisa sepenuhnya melupakan. Bapa, hari ini aku bertobat, aku mau melupakan semua kesalahan sesamaku sebagaimana Engkau telah melupakan semua kesalahanku.
Matius 6:14-15
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.
Mengampuni berarti melupakan dan membebaskan. Orang Kristen mudah gagal dalam hal mengampuni orang lain. Kalau di antara anak-anak Allah terdapat sikap yang tidak mau mengampuni, semua pelajaran, iman, dan kuasa akan bocor. Semua anak-anak Allah memerlukan perkataan yang sederhana ini. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga.” Menerima pengampunan Bapa sangatlah mudah. Namun, “Jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
Kita harus dapat mengampuni kesalahan orang lain dari dalam hati kita. Kalau kita mengampuni orang lain hanya dengan mulut, tetapi tidak mengampuni dalam hati, dalam pandangan Bapa itu bukanlah pengampunan. Pengampunan yang hanya di mulut adalah kosong dan menipu, dan tidak terhitung di hadapan Bapa. Charles H. Spurgeon pernah berkhotbah perihal mengampuni orang lain. Ia ingin menunjukkan bahwa orang Kristen pun sulit mengampuni orang lain. Kita mengira telah mengampuni seseorang, tetapi pengampunan kita itu dapat dibandingkan dengan menguburkan seekor anjing mati dengan membiarkan ekornya kelihatan. Kita mungkin berkata, “Dia telah bersalah kepadaku, tetapi aku telah mengampuni dia.” Inilah yang dimaksud dengan memperlihatkan “ekor anjing” itu.
Jika kita benar-benar telah mengampuni seseorang, kita harus juga melupakan kesalahannya. Begitu kita mengampuni seseorang dalam satu perkara, kita tidak boleh menyinggungnya lagi. Setiap kali kita menyinggung satu kesalahan yang sebenarnya telah kita diampuni, itu berarti kita belum membebaskan orang yang bersalah kepada kita, belum terhitung mengampuni. Mengampuni berarti melupakan, selamanya tidak akan membicarakannya lagi.
Mat. 6:14-15; 18:23-35
Sebagaimana murid-murid waktu itu memerlukan perkataan Tuhan tentang mengampuni kesalahan orang lain, kita juga hari ini memerlukan perkataan yang sama. Kalau orang Kristen tidak dapat didamaikan dan kalau mereka tidak mengampuni kesalahan orang lain dari dalam hati mereka, maka gereja akan menghadapi masalah. Kalau kita tidak hidup di dalam kehidupan gereja, kalau kita masing-masing ingin menempuh cara kita sendiri, kita tidak perlu mengampuni satu sama lain. Tetapi bila kita ingin menempuh kehidupan gereja, memiliki persekutuan yang tepat dengan Tuhan dan kaum beriman lain, kita harus belajar mengampuni.
Tuhan tahu bahwa semakin banyak kita berkomunikasi dan bersekutu satu sama lain, semakin perlu kita mengampuni satu sama lain. Jika kita tidak saling mengampuni, kita mudah memberi tempat kepada Iblis. Jika kita tidak bisa saling mengampuni, kita bukanlah umat kerajaan, dan kita tidak bisa melakukan pekerjaan kerajaan. Tidak ada orang yang tidak mau mengampuni bisa berada dalam pekerjaan kerajaan, dan tidak ada orang yang tidak mau mengampuni bisa menjadi orang yang berada dalam kerajaan. Bila di antara kita dengan saudara dan saudari timbul masalah, berarti kita bermasalah dengan Tuhan. Kita tidak bisa berdoa kepada Tuhan di satu pihak, dan tetap tidak mau mengampuni di pihak lain. Saudara saudari, ini bukanlah perkara yang sepele. Kita harus memperhatikan apa yang diperhatikan Tuhan. Kita harus sekuatnya berusaha mengampuni kesalahan orang lain.
Jika seseorang telah diampuni, tetapi tidak mau mengampuni orang lain; telah menerima belas kasihan, tetapi ia tidak mau mengasihani orang lain, maka orang itu adalah orang yang paling jahat di mata Allah. Tidak ada perbuatan yang lebih buruk daripada perbuatan ini. Kita harus menyadari bagaimana Tuhan memperlakukan kita, kita pun harus demikian memperlakukan orang lain. Kalau orang yang menerima kasih karunia menolak memberikan kasih karunia, itu suatu perbuatan yang tidak selayaknya. Orang yang berhutang tetapi menagih hutang; perbuatan itu tidak dibenarkan Allah. Orang yang berhutang mengingat-ingat hutang orang lain, perbuatan demikian dibenci Allah (Mat. 18:23-35).
Doa:
Ya Bapa, pengampunan-Mu itu sempurna dan tuntas sehingga Engkau melupakan semua kesalahanku. Namun aku mengakui, dalam hal mengampuni sesamaku, seringkali tidak tuntas, tidak bisa sepenuhnya melupakan. Bapa, hari ini aku bertobat, aku mau melupakan semua kesalahan sesamaku sebagaimana Engkau telah melupakan semua kesalahanku.
01 August 2007
Matius Volume 4 - Minggu 2 Kamis
Berdoa bagi Keperluan Kita (2)
Matius 6:13
Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
Tatkala kita menempuh jalan Kerajaan Surga, pencobaan-pencobaan pun akan semakin besar. Bagaimanakah seharusnya kita menangani situasi ini? Kita harus berdoa kepada Tuhan, “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Kita tidak boleh menjadi demikian percaya diri sehingga berani menghadapi pencobaan. Karena Tuhan mengajarkan kita berdoa demikian, maka kita pun harus berdoa agar Dia jangan membawa kita ke dalam pencobaan. Kita tidak mengetahui kapankah pencobaan itu akan datang, tetapi sebelumnya kita dapat berdoa agar Tuhan tidak membawa kita ke dalam pencobaan. Doa semacam ini adalah untuk perlindungan.
Sebelum pencobaan datang menimpa kita, lebih baik kita berdoa agar Tuhan tidak membawa kita ke dalam pencobaan. Hanya hal-hal yang diizinkan Tuhanlah yang boleh datang kepada kita; tetapi segala sesuatu yang tidak diizinkan-Nya harus kita doakan agar jangan terjadi pada kita. Kalau tidak demikian, kita akan dihujani dengan peperangan melawan pencobaan dari fajar hingga senja, sehingga kita tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Kita harus berdoa kepada Tuhan supaya Dia tidak membawa kita ke dalam pencobaan, sehingga kita tidak menjumpai hal-hal yang seharusnya tidak kita temui atau mengalami hal-hal yang seharusnya tidak terjadi pada kita.
Kita bukan hanya harus mohon Tuhan “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” saja, tetapi juga “lepaskanlah kami dari yang jahat (si jahat itu, Tl.).” Tidak peduli di mana tangan Iblis bekerja, apakah pada masalah makanan sehari-hari, menuduh hati nurani kita, atau pada pencobaan yang diizinkan kepada kita, kita perlu berdoa supaya Tuhan melepaskan kita dari yang jahat. Dengan perkataan lain, kita tidak berharap untuk jatuh ke dalam tangan si jahat dalam perkara apa pun. Doa yang demikian akan melindungi kita.
Mat. 6:13; 12:28; Luk. 10:19
Terakhir, Tuhan mengajar kita untuk memanjatkan tiga butir pujian: “Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin” (Mat. 6:13b). Pujian ini memberi tahu kita bahwa Kerajaan adalah milik Bapa, kuasa adalah milik Bapa, dan kemuliaan adalah milik Bapa. Ketiga hal yang perlu kita puji ada kaitannya dengan kelepasan dari yang jahat. Ketiga hal itu juga terkait dengan seluruh doa yang Tuhan ajarkan. Kita berdoa agar Tuhan melepaskan kita dari yang jahat karena Kerajaan adalah milik Bapa, bukan milik Iblis; karena kuasa adalah milik Bapa, bukan milik Iblis; dan karena kemuliaan adalah milik Bapa, bukan milik Iblis. Fakta ini membuat kita dapat terhindar dari tangan Iblis.
Mengenai kuasa, kita harus ingat firman Tuhan. Dia berkata, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu” (Luk. 10:19). Kuasa yang Dia berikan dapat membuat kita mengalahkan semua kuasa musuh. Karena Kerajaan, kuasa, dan kemuliaan semuanya milik Allah, maka orang-orang milik Allah bisa terlepas dari semua pencobaan dan terlepas dari tangan Iblis.
Dalam Perjanjian Baru, nama Tuhan menyatakan kuasa, sedangkan Roh Kudus menyatakan kekuatan. Semua kuasa ada di dalam nama Tuhan, sedangkan semua kekuatan ada di dalam Roh Kudus. Roh Kudus adalah kekuatan Allah. Kerajaan menyatakan pemerintahan surga dan kuasa Allah, sedangkan kekuatan menyatakan bahwa semua kekuatan ada di dalam Roh Kudus. Ketika Allah bergerak, Roh Kudus menjadi kekuatan-Nya. Karena Kerajaan adalah milik Allah, maka Iblis tidak ada tempat untuk melaksanakan pemerintahannya. Iblis tidak dapat menjamah Roh Kudus, karena di dalam Roh Kudus ada kekuatan Allah. Matius 12:28 memberi tahu kita bahwa ketika setan-setan “membentur” Roh Kudus, mereka terusir keluar. Terakhir, kemuliaan juga milik Allah. Sebab itu, kita dapat mengumumkan dan dengan lantang memuji: “Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.”
Doa:
Ya Bapa, lindungilah aku dari setiap pekerjaan si jahat yang bermaksud membawa aku ke dalam perangkap jahatnya. Bapa, Aku bersyukur atas setiap perkara yang Kau aturkan terjadi dalam hidupku, namun aku menolak setiap rancangan si jahat itu yang berusaha menjatuhkan aku. Dalam perkara apapun, jangan biarkan aku jatuh ke dalam tangan si jahat.
Matius 6:13
Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
Tatkala kita menempuh jalan Kerajaan Surga, pencobaan-pencobaan pun akan semakin besar. Bagaimanakah seharusnya kita menangani situasi ini? Kita harus berdoa kepada Tuhan, “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Kita tidak boleh menjadi demikian percaya diri sehingga berani menghadapi pencobaan. Karena Tuhan mengajarkan kita berdoa demikian, maka kita pun harus berdoa agar Dia jangan membawa kita ke dalam pencobaan. Kita tidak mengetahui kapankah pencobaan itu akan datang, tetapi sebelumnya kita dapat berdoa agar Tuhan tidak membawa kita ke dalam pencobaan. Doa semacam ini adalah untuk perlindungan.
Sebelum pencobaan datang menimpa kita, lebih baik kita berdoa agar Tuhan tidak membawa kita ke dalam pencobaan. Hanya hal-hal yang diizinkan Tuhanlah yang boleh datang kepada kita; tetapi segala sesuatu yang tidak diizinkan-Nya harus kita doakan agar jangan terjadi pada kita. Kalau tidak demikian, kita akan dihujani dengan peperangan melawan pencobaan dari fajar hingga senja, sehingga kita tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Kita harus berdoa kepada Tuhan supaya Dia tidak membawa kita ke dalam pencobaan, sehingga kita tidak menjumpai hal-hal yang seharusnya tidak kita temui atau mengalami hal-hal yang seharusnya tidak terjadi pada kita.
Kita bukan hanya harus mohon Tuhan “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” saja, tetapi juga “lepaskanlah kami dari yang jahat (si jahat itu, Tl.).” Tidak peduli di mana tangan Iblis bekerja, apakah pada masalah makanan sehari-hari, menuduh hati nurani kita, atau pada pencobaan yang diizinkan kepada kita, kita perlu berdoa supaya Tuhan melepaskan kita dari yang jahat. Dengan perkataan lain, kita tidak berharap untuk jatuh ke dalam tangan si jahat dalam perkara apa pun. Doa yang demikian akan melindungi kita.
Mat. 6:13; 12:28; Luk. 10:19
Terakhir, Tuhan mengajar kita untuk memanjatkan tiga butir pujian: “Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin” (Mat. 6:13b). Pujian ini memberi tahu kita bahwa Kerajaan adalah milik Bapa, kuasa adalah milik Bapa, dan kemuliaan adalah milik Bapa. Ketiga hal yang perlu kita puji ada kaitannya dengan kelepasan dari yang jahat. Ketiga hal itu juga terkait dengan seluruh doa yang Tuhan ajarkan. Kita berdoa agar Tuhan melepaskan kita dari yang jahat karena Kerajaan adalah milik Bapa, bukan milik Iblis; karena kuasa adalah milik Bapa, bukan milik Iblis; dan karena kemuliaan adalah milik Bapa, bukan milik Iblis. Fakta ini membuat kita dapat terhindar dari tangan Iblis.
Mengenai kuasa, kita harus ingat firman Tuhan. Dia berkata, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu” (Luk. 10:19). Kuasa yang Dia berikan dapat membuat kita mengalahkan semua kuasa musuh. Karena Kerajaan, kuasa, dan kemuliaan semuanya milik Allah, maka orang-orang milik Allah bisa terlepas dari semua pencobaan dan terlepas dari tangan Iblis.
Dalam Perjanjian Baru, nama Tuhan menyatakan kuasa, sedangkan Roh Kudus menyatakan kekuatan. Semua kuasa ada di dalam nama Tuhan, sedangkan semua kekuatan ada di dalam Roh Kudus. Roh Kudus adalah kekuatan Allah. Kerajaan menyatakan pemerintahan surga dan kuasa Allah, sedangkan kekuatan menyatakan bahwa semua kekuatan ada di dalam Roh Kudus. Ketika Allah bergerak, Roh Kudus menjadi kekuatan-Nya. Karena Kerajaan adalah milik Allah, maka Iblis tidak ada tempat untuk melaksanakan pemerintahannya. Iblis tidak dapat menjamah Roh Kudus, karena di dalam Roh Kudus ada kekuatan Allah. Matius 12:28 memberi tahu kita bahwa ketika setan-setan “membentur” Roh Kudus, mereka terusir keluar. Terakhir, kemuliaan juga milik Allah. Sebab itu, kita dapat mengumumkan dan dengan lantang memuji: “Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.”
Doa:
Ya Bapa, lindungilah aku dari setiap pekerjaan si jahat yang bermaksud membawa aku ke dalam perangkap jahatnya. Bapa, Aku bersyukur atas setiap perkara yang Kau aturkan terjadi dalam hidupku, namun aku menolak setiap rancangan si jahat itu yang berusaha menjatuhkan aku. Dalam perkara apapun, jangan biarkan aku jatuh ke dalam tangan si jahat.
31 July 2007
Matius Volume 4 - Minggu 2 Rabu
Berdoa bagi Keperluan Kita (1)
Matius 6:11-12
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.
Mengapa dalam doa yang diajarkan-Nya, Tuhan tiba-tiba beralih dari nama, Kerajaan, dan kehendak Allah kepada masalah makanan sehari-hari? Makanan adalah kebutuhan manusia yang sangat mendasar, juga adalah satu pencobaan yang besar. Di satu pihak, kita harus berdoa agar nama Allah dikuduskan, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi; di pihak lain, kita masih memerlukan makanan sehari-hari. Berdoa mohon Allah memberi makanan adalah suatu doa untuk perlindungan, karena Iblis bisa menyerang kita dalam aspek ini. Kalau kita kekurangan makanan sehari-hari, doa-doa kita akan terpengaruh. Sebab itu, kita harus minta Tuhan memberi kita makanan sehari-hari yang secukupnya.
Doa ini juga memperlihatkan bahwa kita perlu menengadah kepada Allah dan berdoa kepada-Nya setiap hari. Untuk itu Tuhan Yesus mengajar kita berdoa: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (our daily bread, KJV; roti harian kami, Tl.).” Doa ini bukan doa mingguan, tetapi doa harian. Tuhan kita tidak mengabaikan keperluan kita sehari-hari, Dia juga tidak mengajar kita untuk melupakan keperluan ini. Sebaliknya, Dia menyuruh kita berdoa untuk makanan kita setiap hari.
Sebenarnya Bapa kita sudah tahu hal-hal yang kita perlukan. Tuhan Yesus ingin agar kita berdoa setiap hari untuk makanan sehari-hari kita, sebab Tuhan ingin agar kita belajar menengadah kepada Bapa setiap hari, dan dengan demikian melatih iman kita dari hari ke hari. Kita sering mengkhawatirkan hal-hal yang masih jauh di depan dan mendoakan kebutuhan-kebutuhan yang masih jauh. Kalau Allah memberi kita makanan kita pada hari ini, kita tidak perlu mendoakan makanan kita untuk esok hari; makanan untuk esok hari baiklah kita minta esok hari saja (Mat. 6:34).
Mat. 6:11-12, 34; 1 Tim. 1:19
Selain berdoa untuk kebutuhan-kebutuhan jasmani; kita juga perlu berdoa agar memiliki hati nurani yang tidak bercela. Dari hari ke hari, kita tidak luput dari kesalahan dalam banyak hal kepada Allah. Walaupun mungkin tidak semuanya adalah dosa, namun semuanya adalah kesalahan. Misalnya, apa yang seharusnya kita lakukan, tetapi tidak kita lakukan, itu adalah suatu kesalahan. Apa yang harus kita katakan, tetapi tidak kita katakan, itu juga adalah suatu kesalahan. Tidak mudah untuk menjaga hati nurani yang tidak bercela di hadapan Allah. Setiap malam, sebelum beristirahat, kita menemukan bahwa kita melakukan banyak kesalahan terhadap Allah. Boleh jadi hal-hal itu bukan dosa, namun hal-hal itu adalah kesalahan. Kita harus mohon Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahan kita dan tidak mengingatnya lagi, agar kita bisa memiliki hati nurani yang tidak bercela. Diampuninya kesalahan dan dosa kita akan membuat kita mempunyai hati nurani yang tidak bercela, dan kita dapat hidup dengan berani di hadapan Allah.
Dalam 1 Timotius 1:19 Paulus berkata, “Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.” Hati nurani dapat disamakan dengan sebuah kapal yang tidak boleh bocor. Begitu ada kebocoran, iman akan kandas. Itulah sebabnya kita harus memelihara hati nurani yang murni. Kita harus minta Tuhan untuk mengampuni kesalahan-kesalahan kita. Hal ini sangat berkaitan dengan persekutuan kita dengan Allah dan pendisiplinan Allah terhadap kita.
Kita tidak bisa mohon Tuhan mengampuni kesalahan kita kalau kita tidak mengampuni kesalahan orang lain. Mana mungkin kita dapat membuka mulut dan mohon pengampunan Allah kalau kita tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita lebih dulu? Kalau kita belum mengampuni orang yang bersalah kepada kita, kesalahan-kesalahan kita akan tetap diingat oleh Tuhan. Hanya setelah kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita serta membiarkan kesalahan-kesalahan itu berlalu, barulah kita dapat datang dengan berani kepada Tuhan dan berkata, “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”
Doa:
Ya Bapa, Engkaulah sumber suplaiku setiap hari. Aku bersyukur atas makanan yang Kau berikan kemarin, dan aku masih memohon Kau berikan makanan bagiku untuk hari ini. Tanpa berkat-Mu hari ini, aku pasti jatuh ke dalam pencobaan, kekuatiran, dan kelemahan. Bapa, Engkau setia dalam hal memperhatikan keperluanku setiap hari.
Matius 6:11-12
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.
Mengapa dalam doa yang diajarkan-Nya, Tuhan tiba-tiba beralih dari nama, Kerajaan, dan kehendak Allah kepada masalah makanan sehari-hari? Makanan adalah kebutuhan manusia yang sangat mendasar, juga adalah satu pencobaan yang besar. Di satu pihak, kita harus berdoa agar nama Allah dikuduskan, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi; di pihak lain, kita masih memerlukan makanan sehari-hari. Berdoa mohon Allah memberi makanan adalah suatu doa untuk perlindungan, karena Iblis bisa menyerang kita dalam aspek ini. Kalau kita kekurangan makanan sehari-hari, doa-doa kita akan terpengaruh. Sebab itu, kita harus minta Tuhan memberi kita makanan sehari-hari yang secukupnya.
Doa ini juga memperlihatkan bahwa kita perlu menengadah kepada Allah dan berdoa kepada-Nya setiap hari. Untuk itu Tuhan Yesus mengajar kita berdoa: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (our daily bread, KJV; roti harian kami, Tl.).” Doa ini bukan doa mingguan, tetapi doa harian. Tuhan kita tidak mengabaikan keperluan kita sehari-hari, Dia juga tidak mengajar kita untuk melupakan keperluan ini. Sebaliknya, Dia menyuruh kita berdoa untuk makanan kita setiap hari.
Sebenarnya Bapa kita sudah tahu hal-hal yang kita perlukan. Tuhan Yesus ingin agar kita berdoa setiap hari untuk makanan sehari-hari kita, sebab Tuhan ingin agar kita belajar menengadah kepada Bapa setiap hari, dan dengan demikian melatih iman kita dari hari ke hari. Kita sering mengkhawatirkan hal-hal yang masih jauh di depan dan mendoakan kebutuhan-kebutuhan yang masih jauh. Kalau Allah memberi kita makanan kita pada hari ini, kita tidak perlu mendoakan makanan kita untuk esok hari; makanan untuk esok hari baiklah kita minta esok hari saja (Mat. 6:34).
Mat. 6:11-12, 34; 1 Tim. 1:19
Selain berdoa untuk kebutuhan-kebutuhan jasmani; kita juga perlu berdoa agar memiliki hati nurani yang tidak bercela. Dari hari ke hari, kita tidak luput dari kesalahan dalam banyak hal kepada Allah. Walaupun mungkin tidak semuanya adalah dosa, namun semuanya adalah kesalahan. Misalnya, apa yang seharusnya kita lakukan, tetapi tidak kita lakukan, itu adalah suatu kesalahan. Apa yang harus kita katakan, tetapi tidak kita katakan, itu juga adalah suatu kesalahan. Tidak mudah untuk menjaga hati nurani yang tidak bercela di hadapan Allah. Setiap malam, sebelum beristirahat, kita menemukan bahwa kita melakukan banyak kesalahan terhadap Allah. Boleh jadi hal-hal itu bukan dosa, namun hal-hal itu adalah kesalahan. Kita harus mohon Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahan kita dan tidak mengingatnya lagi, agar kita bisa memiliki hati nurani yang tidak bercela. Diampuninya kesalahan dan dosa kita akan membuat kita mempunyai hati nurani yang tidak bercela, dan kita dapat hidup dengan berani di hadapan Allah.
Dalam 1 Timotius 1:19 Paulus berkata, “Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.” Hati nurani dapat disamakan dengan sebuah kapal yang tidak boleh bocor. Begitu ada kebocoran, iman akan kandas. Itulah sebabnya kita harus memelihara hati nurani yang murni. Kita harus minta Tuhan untuk mengampuni kesalahan-kesalahan kita. Hal ini sangat berkaitan dengan persekutuan kita dengan Allah dan pendisiplinan Allah terhadap kita.
Kita tidak bisa mohon Tuhan mengampuni kesalahan kita kalau kita tidak mengampuni kesalahan orang lain. Mana mungkin kita dapat membuka mulut dan mohon pengampunan Allah kalau kita tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita lebih dulu? Kalau kita belum mengampuni orang yang bersalah kepada kita, kesalahan-kesalahan kita akan tetap diingat oleh Tuhan. Hanya setelah kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita serta membiarkan kesalahan-kesalahan itu berlalu, barulah kita dapat datang dengan berani kepada Tuhan dan berkata, “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”
Doa:
Ya Bapa, Engkaulah sumber suplaiku setiap hari. Aku bersyukur atas makanan yang Kau berikan kemarin, dan aku masih memohon Kau berikan makanan bagiku untuk hari ini. Tanpa berkat-Mu hari ini, aku pasti jatuh ke dalam pencobaan, kekuatiran, dan kelemahan. Bapa, Engkau setia dalam hal memperhatikan keperluanku setiap hari.
30 July 2007
Matius Volume 4 - Minggu 2 Selasa
Berdoa bagi Kerajaan dan Kehendak Bapa
Matius 6:9-10
Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Di manakah letak Kerajaan Surga? Kerajaan Surga hanya ada di surga. Di bumi ini tidak ada Kerajaan tersebut. Itulah sebabnya Tuhan mengajar kita berdoa agar Allah memperluas batas Kerajaan-Nya sehingga mencapai bumi ini. Dalam Perjanjian Lama, Kerajaan Surga hanyalah nubuat. Dengan datangnya Tuhan Yesus, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat (Mat. 3:1-2). Kemudian Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat (Mat. 4:17). Mereka berkata demikian karena saat itu sudah ada orang-orang yang membentuk Kerajaan Surga. Kalau kita sampai ke Matius 13, kita nampak bahwa Kerajaan Surga bahkan mulai tampil secara nyata di bumi.
Hari ini, di mana pun anak-anak Allah mengusir setan dengan Roh Allah serta menghancurkan pekerjaan setan, di situ terdapat Kerajaan Allah (Mat. 12:28). Tuhan Yesus mengajar kita berdoa: “Datanglah Kerajaan-Mu,” sebab Dia berharap agar Kerajaan Allah memenuhi seluruh bumi. Mendatangkan Kerajaan Allah ke bumi adalah tanggung jawab kita. Untuk hal ini, kita harus membayar harga, dibatasi oleh surga dan patuh di bawah pengaturan surgawi, menjadi jalan untuk menyalurkan kuasa surga agar ternyata di bumi.
Ketika Kerajaan Allah ternyata sepenuhnya di bumi, Iblis akan dicampakkan ke lubang tak berdasar (Why. 20:1-3). Karena kita mempunyai tanggung jawab yang sedemikian besar, maka tidak heran kalau Iblis menyerang kita dengan sekuat tenaga. Kiranya kita dapat berdoa seperti kaum beriman zaman dulu, “Ya TUHAN, tekukkanlah langit-Mu dan turunlah” (Mzm. 144:5), dan “Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun” (Yes. 64:1). Pada saat yang sama kita harus berkata kepada Iblis, “Enyahlah dari hadapanku, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan Allah untukmu” (Mat. 25:41).
Mat. 6:9-13; 12:28; Why. 20:1-3; 1 Raj. 18:1, 41-45
Walau kehendak Allah telah rampung di surga, tetapi di bumi ini kehendak Allah belum sepenuhnya terlaksana. Di sini Tuhan Yesus mengajar kita berdoa. Allah sendiri menginginkan nama-Nya dikuduskan, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi. Tetapi Allah tidak melakukan semua ini secara langsung; Dia menunggu kita berdoa. Jika kita berdoa, semua anak Allah berdoa, dan jika doa ini cukup banyak, maka nama Allah pun dikuduskan di antara manusia, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di surga.
Anak-anak Allah harus belajar berdoa demikian, harus sering mengingat apa yang Allah minta, apa yang Allah ingin lakukan. Walaupun Allah sudah menetapkan akan melakukan sesuatu, Dia tidak akan melakukannya sebelum anak-anak-Nya termotivasi dan mau menyatakan kehendak-Nya melalui doa. Kemudian Dia akan menjawab doa tersebut. Walaupun penggenapan sepenuhnya dari “dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi” akan terjadi dalam Kerajaan Seribu Tahun, waktunya akan dipercepat atau tertunda tergantung pada doa-doa anak-anak Allah.
Allah ingin agar anak-anak-Nya di bumi berdoa sebelum Dia melakukan sesuatu. Pada zaman Ahab, firman Tuhan datang dengan jelas kepada Elia yang mengatakan, “Aku hendak memberi hujan ke atas muka bumi.” Namun Dia tidak menurunkan hujan sebelum Elia berdoa (1 Raj. 18:1, 41-45). Allah tidak mau melaksanakan kehendak-Nya sendirian; Dia ingin kita berdoa sebelum Dia melaksanakan kehendak-Nya. Jadi apakah doa? Doa adalah: pertama, Allah mempunyai kehendak; kedua, kita terjamah oleh kehendak-Nya, lalu kita berdoa; dan ketiga, sementara kita berdoa, Allah menjawab doa kita.
Kebangunan rohani di Wales pada tahun 1903-1904 boleh dianggap kebangunan rohani terbesar dalam sejarah gereja. Allah memakai Evan Robert, seorang pekerja tambang batu bara, sebagai bejana untuk mendatangkan kebangunan yang besar itu. Dia tidak begitu terpelajar, tetapi doanya sangat dalam. Kapan kala kehendak anak-anak Allah selaras dengan kehendak Allah, maka kehendak-Nya akan terlaksana di bumi seperti di surga.
Doa:
Ya Bapa, berkatilah gereja-Mu di muka bumi sehingga dapat mengemban tugas yang Kau amanatkan yakni memperluas batas wilayah kerajaan-Mu dari surga ke bumi. Jadikanlah aku bagian dari kehendak-Mu, melalui aku memberitakan Injil dan kebenaran kepada orang-orang di sekitarku. Ya Bapa, jadikan aku orang yang memperluas kerajaan-Mu di bumi. Amin.
Matius 6:9-10
Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Di manakah letak Kerajaan Surga? Kerajaan Surga hanya ada di surga. Di bumi ini tidak ada Kerajaan tersebut. Itulah sebabnya Tuhan mengajar kita berdoa agar Allah memperluas batas Kerajaan-Nya sehingga mencapai bumi ini. Dalam Perjanjian Lama, Kerajaan Surga hanyalah nubuat. Dengan datangnya Tuhan Yesus, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat (Mat. 3:1-2). Kemudian Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat (Mat. 4:17). Mereka berkata demikian karena saat itu sudah ada orang-orang yang membentuk Kerajaan Surga. Kalau kita sampai ke Matius 13, kita nampak bahwa Kerajaan Surga bahkan mulai tampil secara nyata di bumi.
Hari ini, di mana pun anak-anak Allah mengusir setan dengan Roh Allah serta menghancurkan pekerjaan setan, di situ terdapat Kerajaan Allah (Mat. 12:28). Tuhan Yesus mengajar kita berdoa: “Datanglah Kerajaan-Mu,” sebab Dia berharap agar Kerajaan Allah memenuhi seluruh bumi. Mendatangkan Kerajaan Allah ke bumi adalah tanggung jawab kita. Untuk hal ini, kita harus membayar harga, dibatasi oleh surga dan patuh di bawah pengaturan surgawi, menjadi jalan untuk menyalurkan kuasa surga agar ternyata di bumi.
Ketika Kerajaan Allah ternyata sepenuhnya di bumi, Iblis akan dicampakkan ke lubang tak berdasar (Why. 20:1-3). Karena kita mempunyai tanggung jawab yang sedemikian besar, maka tidak heran kalau Iblis menyerang kita dengan sekuat tenaga. Kiranya kita dapat berdoa seperti kaum beriman zaman dulu, “Ya TUHAN, tekukkanlah langit-Mu dan turunlah” (Mzm. 144:5), dan “Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun” (Yes. 64:1). Pada saat yang sama kita harus berkata kepada Iblis, “Enyahlah dari hadapanku, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan Allah untukmu” (Mat. 25:41).
Mat. 6:9-13; 12:28; Why. 20:1-3; 1 Raj. 18:1, 41-45
Walau kehendak Allah telah rampung di surga, tetapi di bumi ini kehendak Allah belum sepenuhnya terlaksana. Di sini Tuhan Yesus mengajar kita berdoa. Allah sendiri menginginkan nama-Nya dikuduskan, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi. Tetapi Allah tidak melakukan semua ini secara langsung; Dia menunggu kita berdoa. Jika kita berdoa, semua anak Allah berdoa, dan jika doa ini cukup banyak, maka nama Allah pun dikuduskan di antara manusia, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di surga.
Anak-anak Allah harus belajar berdoa demikian, harus sering mengingat apa yang Allah minta, apa yang Allah ingin lakukan. Walaupun Allah sudah menetapkan akan melakukan sesuatu, Dia tidak akan melakukannya sebelum anak-anak-Nya termotivasi dan mau menyatakan kehendak-Nya melalui doa. Kemudian Dia akan menjawab doa tersebut. Walaupun penggenapan sepenuhnya dari “dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi” akan terjadi dalam Kerajaan Seribu Tahun, waktunya akan dipercepat atau tertunda tergantung pada doa-doa anak-anak Allah.
Allah ingin agar anak-anak-Nya di bumi berdoa sebelum Dia melakukan sesuatu. Pada zaman Ahab, firman Tuhan datang dengan jelas kepada Elia yang mengatakan, “Aku hendak memberi hujan ke atas muka bumi.” Namun Dia tidak menurunkan hujan sebelum Elia berdoa (1 Raj. 18:1, 41-45). Allah tidak mau melaksanakan kehendak-Nya sendirian; Dia ingin kita berdoa sebelum Dia melaksanakan kehendak-Nya. Jadi apakah doa? Doa adalah: pertama, Allah mempunyai kehendak; kedua, kita terjamah oleh kehendak-Nya, lalu kita berdoa; dan ketiga, sementara kita berdoa, Allah menjawab doa kita.
Kebangunan rohani di Wales pada tahun 1903-1904 boleh dianggap kebangunan rohani terbesar dalam sejarah gereja. Allah memakai Evan Robert, seorang pekerja tambang batu bara, sebagai bejana untuk mendatangkan kebangunan yang besar itu. Dia tidak begitu terpelajar, tetapi doanya sangat dalam. Kapan kala kehendak anak-anak Allah selaras dengan kehendak Allah, maka kehendak-Nya akan terlaksana di bumi seperti di surga.
Doa:
Ya Bapa, berkatilah gereja-Mu di muka bumi sehingga dapat mengemban tugas yang Kau amanatkan yakni memperluas batas wilayah kerajaan-Mu dari surga ke bumi. Jadikanlah aku bagian dari kehendak-Mu, melalui aku memberitakan Injil dan kebenaran kepada orang-orang di sekitarku. Ya Bapa, jadikan aku orang yang memperluas kerajaan-Mu di bumi. Amin.
29 July 2007
Matius Volume 4 - Minggu 2 Senin
Berdoalah Demikian:...
Matius 6:9-10
Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Sejak bumi diciptakan, doa sudah sering diucapkan kepada Allah. Dari generasi ke generasi, dari zaman ke zaman, tak terhitung banyaknya orang yang berdoa kepada Allah. Walau demikian, sangat jarang yang berdoa dengan benar. Kebanyakan orang hanya memperhatikan keperluan mereka, tetapi sangat sedikit yang memperhatikan apa yang diinginkan Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus membuka mulut untuk mengajar kita berdoa. Allah telah datang ke bumi untuk menjadi seorang manusia, dan untuk pertama kalinya memberi tahu kita bagaimana berdoa dengan tepat.
Doa yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Matius 6:9-13 umumnya dikenal sebagai “Doa Bapa Kami”. Tetapi sebenarnya, doa ini bukanlah Doa Bapa Kami, melainkan doa yang diajarkan Tuhan kepada kita. Frase “Berdoalah demikian” bukan berarti harus mengulangi kata-kata ini setiap kali kita berdoa, tetapi kita perlu berdoa menurut prinsip yang diajarkan Tuhan kepada kita.
Tuhan ingin kita berdoa kepada Bapa yang di surga. “Bapa” adalah sebutan baru bagi manusia untuk memanggil Allah. Sebelumnya manusia memanggil Dia sebagai Allah yang Mahakuasa, Allah yang Mahatinggi, Allah yang hidup, atau Yehova; tidak ada seorang pun dari mereka yang berani memanggil Allah sebagai “Bapa”. Hal ini jelas menunjukkan bahwa doa ini diucapkan oleh mereka yang sudah beroleh selamat dan memiliki hayat kekal. Hanya mereka yang lahir dari Allah adalah anak-anak Allah, dan hanya mereka yang dapat memanggil Allah sebagai “Bapa”. Doa ini diucapkan atas dasar bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Mulai sekarang kita dapat mengucapkan doa kepada Bapa kita yang di surga. Alangkah manis dan ajaibnya perkara ini. Sebagai Bapa kita, Dia tidak hanya akan mendengar doa kita, tetapi juga akan membuat kita, anak-anak terkasih-Nya, memiliki sukacita untuk berdoa.
Mat. 6:9-13; Yoh. 17:6, 26; Yeh. 36:21
Bagian pertama dari doa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya adalah bagian mengenai perkara-perkara Allah, adalah doa dengan tiga kedambaan hati kita terhadap Allah (Mat. 6:9-10). Kedambaan hati kita terhadap Allah yang pertama seharusnya adalah “Dikuduskanlah nama-Mu”. Hari ini Bapa mempunyai satu harapan, yaitu semua anak-anak-Nya berdoa agar nama-Nya dikuduskan oleh manusia. Memang nama Allah sangat diagungkan di antara malaikat-malaikat, tetapi di bumi, nama Allah dipakai dengan sembarangan, disebutkan secara tidak kudus. Dia menghendaki anak-anak-Nya berdoa: “Dikuduskanlah nama-Mu.” Kalau kita mengasihi dan mengenal Allah, kita pasti mendambakan nama Allah dikuduskan. Kita akan merasa terluka kalau ada orang menyebutkan nama Allah dengan sia-sia.
Dalam Alkitab, nama Allah dipergunakan untuk memberi wahyu kepada manusia agar mereka mengenal Allah. Nama-Nya mewahyukan hakiki-Nya dan mengungkapkan kesempurnaan-Nya. Hal ini tidak dimengerti oleh jiwa manusia, perlu Tuhan sendiri mewahyukannya kepada kita (Yoh. 17:6, 26). Untuk mengenal nama Allah, kita perlu mendapat wahyu berulang-ulang dari Tuhan. Selain itu, “Dikuduskanlah nama-Mu” ini bukan hanya menyatakan keinginan hati kita, tetapi juga penyembahan kita kepada Bapa. Kita harus memberikan kemuliaan kepada Allah. Kita harus memulai doa kita dengan pujian. Muliakanlah Allah sebelum mengharap belas kasihan dan anugerah-Nya. Biarlah Dia menerima pujian yang penuh tentang diri-Nya, kemudian kita akan menerima anugerah-Nya. Yang paling utama dan juga merupakan sasaran akhir dari doa kita adalah agar Allah dimuliakan.
Nama Allah berhubungan dengan kemuliaan-Nya. “Aku merasa sakit hati karena nama-Ku yang kudus yang dinajiskan...” (Yeh. 36:21a). Kaum Israel pernah suatu waktu tidak menguduskan nama Allah, sebaliknya mereka menajiskan nama-Nya ke mana pun mereka pergi, baik melalui perkataan maupun perbuatan mereka yang jahat. Hal itu sangat menyakiti hati Allah. Demi kemuliaan-Nya, biarlah nama-Nya senantiasa dikuduskan melalui kita.
Doa:Ya Bapa, Engkau adalah Bapa yang kudus. Nama-Mu adalah nama yang kudus. Aku berdoa, biarlah nama-Mu senantiasa dikuduskan di dalam hidupku, di dalam keluargaku, dan di dalam gereja-Mu. Ampunilah bila di masa yang lalu hidupku belum bisa memuliakan nama-Mu. Hari ini aku bertobat, tidak berani mencemarkan atau merugikan nama-Mu
Matius 6:9-10
Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Sejak bumi diciptakan, doa sudah sering diucapkan kepada Allah. Dari generasi ke generasi, dari zaman ke zaman, tak terhitung banyaknya orang yang berdoa kepada Allah. Walau demikian, sangat jarang yang berdoa dengan benar. Kebanyakan orang hanya memperhatikan keperluan mereka, tetapi sangat sedikit yang memperhatikan apa yang diinginkan Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus membuka mulut untuk mengajar kita berdoa. Allah telah datang ke bumi untuk menjadi seorang manusia, dan untuk pertama kalinya memberi tahu kita bagaimana berdoa dengan tepat.
Doa yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Matius 6:9-13 umumnya dikenal sebagai “Doa Bapa Kami”. Tetapi sebenarnya, doa ini bukanlah Doa Bapa Kami, melainkan doa yang diajarkan Tuhan kepada kita. Frase “Berdoalah demikian” bukan berarti harus mengulangi kata-kata ini setiap kali kita berdoa, tetapi kita perlu berdoa menurut prinsip yang diajarkan Tuhan kepada kita.
Tuhan ingin kita berdoa kepada Bapa yang di surga. “Bapa” adalah sebutan baru bagi manusia untuk memanggil Allah. Sebelumnya manusia memanggil Dia sebagai Allah yang Mahakuasa, Allah yang Mahatinggi, Allah yang hidup, atau Yehova; tidak ada seorang pun dari mereka yang berani memanggil Allah sebagai “Bapa”. Hal ini jelas menunjukkan bahwa doa ini diucapkan oleh mereka yang sudah beroleh selamat dan memiliki hayat kekal. Hanya mereka yang lahir dari Allah adalah anak-anak Allah, dan hanya mereka yang dapat memanggil Allah sebagai “Bapa”. Doa ini diucapkan atas dasar bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Mulai sekarang kita dapat mengucapkan doa kepada Bapa kita yang di surga. Alangkah manis dan ajaibnya perkara ini. Sebagai Bapa kita, Dia tidak hanya akan mendengar doa kita, tetapi juga akan membuat kita, anak-anak terkasih-Nya, memiliki sukacita untuk berdoa.
Mat. 6:9-13; Yoh. 17:6, 26; Yeh. 36:21
Bagian pertama dari doa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya adalah bagian mengenai perkara-perkara Allah, adalah doa dengan tiga kedambaan hati kita terhadap Allah (Mat. 6:9-10). Kedambaan hati kita terhadap Allah yang pertama seharusnya adalah “Dikuduskanlah nama-Mu”. Hari ini Bapa mempunyai satu harapan, yaitu semua anak-anak-Nya berdoa agar nama-Nya dikuduskan oleh manusia. Memang nama Allah sangat diagungkan di antara malaikat-malaikat, tetapi di bumi, nama Allah dipakai dengan sembarangan, disebutkan secara tidak kudus. Dia menghendaki anak-anak-Nya berdoa: “Dikuduskanlah nama-Mu.” Kalau kita mengasihi dan mengenal Allah, kita pasti mendambakan nama Allah dikuduskan. Kita akan merasa terluka kalau ada orang menyebutkan nama Allah dengan sia-sia.
Dalam Alkitab, nama Allah dipergunakan untuk memberi wahyu kepada manusia agar mereka mengenal Allah. Nama-Nya mewahyukan hakiki-Nya dan mengungkapkan kesempurnaan-Nya. Hal ini tidak dimengerti oleh jiwa manusia, perlu Tuhan sendiri mewahyukannya kepada kita (Yoh. 17:6, 26). Untuk mengenal nama Allah, kita perlu mendapat wahyu berulang-ulang dari Tuhan. Selain itu, “Dikuduskanlah nama-Mu” ini bukan hanya menyatakan keinginan hati kita, tetapi juga penyembahan kita kepada Bapa. Kita harus memberikan kemuliaan kepada Allah. Kita harus memulai doa kita dengan pujian. Muliakanlah Allah sebelum mengharap belas kasihan dan anugerah-Nya. Biarlah Dia menerima pujian yang penuh tentang diri-Nya, kemudian kita akan menerima anugerah-Nya. Yang paling utama dan juga merupakan sasaran akhir dari doa kita adalah agar Allah dimuliakan.
Nama Allah berhubungan dengan kemuliaan-Nya. “Aku merasa sakit hati karena nama-Ku yang kudus yang dinajiskan...” (Yeh. 36:21a). Kaum Israel pernah suatu waktu tidak menguduskan nama Allah, sebaliknya mereka menajiskan nama-Nya ke mana pun mereka pergi, baik melalui perkataan maupun perbuatan mereka yang jahat. Hal itu sangat menyakiti hati Allah. Demi kemuliaan-Nya, biarlah nama-Nya senantiasa dikuduskan melalui kita.
Doa:Ya Bapa, Engkau adalah Bapa yang kudus. Nama-Mu adalah nama yang kudus. Aku berdoa, biarlah nama-Mu senantiasa dikuduskan di dalam hidupku, di dalam keluargaku, dan di dalam gereja-Mu. Ampunilah bila di masa yang lalu hidupku belum bisa memuliakan nama-Mu. Hari ini aku bertobat, tidak berani mencemarkan atau merugikan nama-Mu
27 July 2007
Matius Volume 4 - Minggu 1 Sabtu
Jangan Berdoa seperti Kebiasaan Bangsa-bangsa (2)
Yakobus 5:16
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Jenis keempat dari doa yang tidak diperkenan Allah adalah doa yang dipanjatkan oleh seseorang yang masih menyimpan kesalahan atau dosa. Adakalanya walaupun kita telah berdoa, juga tidak salah berdoa, namun Allah tetap tidak mengabulkan doa kita. Mengapa? Ini disebabkan ada suatu penghalang yang mendasar, yaitu ada dosa yang menyekat kita dengan Allah. Mazmur 66:18 mengatakan, “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” Bila seseorang dalam hatinya masih menyayangi, atau menyimpan dosa yang jelas dan disadarinya, niscaya doanya mustahil Tuhan kabulkan. Dosa itulah suatu rintangan besar yang menyebabkan Tuhan tidak dapat mengabulkan doanya.
Apa artinya “ada niat jahat dalam hatiku?” Itu berarti ada suatu dosa yang tidak rela kita tinggalkan, hati kita tetap ingin menyimpannya. Dengan kata lain, kita masih menyayangi dosa, enggan meninggalkan dosa. Kalau kita masih demikian menyayangi suatu dosa, maka Tuhan tidak mungkin mengabulkan doa kita. Satu dosa saja cukup menghalangi pengabulan doa. Karena itu, janganlah kita menyimpan satu dosapun di dalam hati, semua dosa harus kita akui sebagai dosa, dan harus kita letakkan di bawah darah Tuhan. Tuhan bisa bersimpati atas kelemahan kita, namun Dia tidak bisa membiarkan hati kita menyimpan dosa. Allah tidak bisa berkompromi dengan dosa.
Dalam kitab Amsal 28:13 dikatakan, “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” Tidak berdoa, tidak mungkin mendapatkan, salah berdoa, juga tidak akan mendapatkan. Sekalipun telah berdoa dan tidak salah berdoa, bila hati kita masih menyenangi sesuatu dosa atau enggan meninggalkan dosa, doa kita tetap tidak bisa Allah kabulkan.
Mat. 6:5-8; Yak. 5:16; Mzm. 66:18; Ams. 28:13
Allah juga tidak bisa mengabulkan doa yang dipanjatkan kepada-Nya namun tanpa minat atau kesungguhan. Seringkali doa-doa yang demikian sebenarnya bahkan tidak dapat disebut sebagai suatu doa. Iblis tidak hanya tidak memberi kita waktu, tidak memberi kita kekuatan, bahkan ketika kita berdoa, ia membuat kita mengucapkan banyak perkataan yang kosong. Pada suatu hari di ruang tamu rumah Evan Roberts, tokoh kebangunan rohani di Wales, ada beberapa orang sedang berdoa untuk suatu hal. Ketika salah seorang saudara baru berdoa, sampai separuh, tiba-tiba Evan Robert mendekatinya dan dengan tangan menutup mulutnya serta berkata, “Saudara! Anda jangan meneruskan kata-kata Anda, karena Anda bukan berdoa.”
Sering kali ketika berdoa, kita sepertinya telah mengelilingi dunia beberapa putaran, menghabiskan semua waktu dan tenaga kita, sehingga tidak memiliki doa yang wajar yang membuat doa kita memperoleh jawaban. Doa tidak perlu terlalu panjang, juga tidak perlu menata banyak perkataan di dalamnya. Cukuplah dengan sungguh-sungguh meletakkan niat hati di hadapan Allah, tidak perlu lagi ditambah dengan “bumbu-bumbu” lainnya. Ketika kita pergi ke hadapan Allah, harus terlebih dulu mempersiapkan apa yang ingin kita doakan; kita sendiri harus jelas tentang apa yang akan kita minta. Kalau kita tidak mempunyai minat atau permintaan yang jelas, berarti tidak ada doa. Allah tidak bisa mengabulkan doa yang asal-asalan, yang tidak memiliki tujuan. Akibatnya, setelah selesai berdoa, tetap tidak ada perubahan yang terjadi.
Terakhir, seringkali doa-doa kita tidak mendapatkan pengabulan karena kita berdoa dengan menggunakan organ yang salah. Kita mungkin berdoa dengan mengandalkan otak, mengucapkan doa-doa yang baku, yang sudah dihafalkan bagaikan mantera. Doa yang agamis demikian, mustahil menjamah kehendak Allah. Sebaliknya, doa yang sejati ialah doa yang dipanjatkan dengan menggunakan roh menjamah Tuhan yang subyektif. Allah itu Roh, dan Ia ada di dalam roh kita. Ketika kita berdoa kepada-Nya, kita harus menjamah-Nya, menyentuh-Nya dengan roh kita. Doa yang menyentuh Tuhan semacam ini memungkinkan kita beroleh pengabulan doa.
Doa:
Ya Tuhan, perbaharuilah konsepsiku terhadap perihal berdoa. Ampuni bila selama ini doa-doa yang kupanjatkan itu salah sehingga tidak Kau perkenan. Mulai hari ini, aku mau belajar mengakui semua kesalahanku, tidak menyimpan kesalahan orang lain, dan berdoa dengan rohku sehingga apa yang menjadi keperluanku Kaukabulkan menurut kegenapan waktu-Mu.
Yakobus 5:16
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Jenis keempat dari doa yang tidak diperkenan Allah adalah doa yang dipanjatkan oleh seseorang yang masih menyimpan kesalahan atau dosa. Adakalanya walaupun kita telah berdoa, juga tidak salah berdoa, namun Allah tetap tidak mengabulkan doa kita. Mengapa? Ini disebabkan ada suatu penghalang yang mendasar, yaitu ada dosa yang menyekat kita dengan Allah. Mazmur 66:18 mengatakan, “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” Bila seseorang dalam hatinya masih menyayangi, atau menyimpan dosa yang jelas dan disadarinya, niscaya doanya mustahil Tuhan kabulkan. Dosa itulah suatu rintangan besar yang menyebabkan Tuhan tidak dapat mengabulkan doanya.
Apa artinya “ada niat jahat dalam hatiku?” Itu berarti ada suatu dosa yang tidak rela kita tinggalkan, hati kita tetap ingin menyimpannya. Dengan kata lain, kita masih menyayangi dosa, enggan meninggalkan dosa. Kalau kita masih demikian menyayangi suatu dosa, maka Tuhan tidak mungkin mengabulkan doa kita. Satu dosa saja cukup menghalangi pengabulan doa. Karena itu, janganlah kita menyimpan satu dosapun di dalam hati, semua dosa harus kita akui sebagai dosa, dan harus kita letakkan di bawah darah Tuhan. Tuhan bisa bersimpati atas kelemahan kita, namun Dia tidak bisa membiarkan hati kita menyimpan dosa. Allah tidak bisa berkompromi dengan dosa.
Dalam kitab Amsal 28:13 dikatakan, “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” Tidak berdoa, tidak mungkin mendapatkan, salah berdoa, juga tidak akan mendapatkan. Sekalipun telah berdoa dan tidak salah berdoa, bila hati kita masih menyenangi sesuatu dosa atau enggan meninggalkan dosa, doa kita tetap tidak bisa Allah kabulkan.
Mat. 6:5-8; Yak. 5:16; Mzm. 66:18; Ams. 28:13
Allah juga tidak bisa mengabulkan doa yang dipanjatkan kepada-Nya namun tanpa minat atau kesungguhan. Seringkali doa-doa yang demikian sebenarnya bahkan tidak dapat disebut sebagai suatu doa. Iblis tidak hanya tidak memberi kita waktu, tidak memberi kita kekuatan, bahkan ketika kita berdoa, ia membuat kita mengucapkan banyak perkataan yang kosong. Pada suatu hari di ruang tamu rumah Evan Roberts, tokoh kebangunan rohani di Wales, ada beberapa orang sedang berdoa untuk suatu hal. Ketika salah seorang saudara baru berdoa, sampai separuh, tiba-tiba Evan Robert mendekatinya dan dengan tangan menutup mulutnya serta berkata, “Saudara! Anda jangan meneruskan kata-kata Anda, karena Anda bukan berdoa.”
Sering kali ketika berdoa, kita sepertinya telah mengelilingi dunia beberapa putaran, menghabiskan semua waktu dan tenaga kita, sehingga tidak memiliki doa yang wajar yang membuat doa kita memperoleh jawaban. Doa tidak perlu terlalu panjang, juga tidak perlu menata banyak perkataan di dalamnya. Cukuplah dengan sungguh-sungguh meletakkan niat hati di hadapan Allah, tidak perlu lagi ditambah dengan “bumbu-bumbu” lainnya. Ketika kita pergi ke hadapan Allah, harus terlebih dulu mempersiapkan apa yang ingin kita doakan; kita sendiri harus jelas tentang apa yang akan kita minta. Kalau kita tidak mempunyai minat atau permintaan yang jelas, berarti tidak ada doa. Allah tidak bisa mengabulkan doa yang asal-asalan, yang tidak memiliki tujuan. Akibatnya, setelah selesai berdoa, tetap tidak ada perubahan yang terjadi.
Terakhir, seringkali doa-doa kita tidak mendapatkan pengabulan karena kita berdoa dengan menggunakan organ yang salah. Kita mungkin berdoa dengan mengandalkan otak, mengucapkan doa-doa yang baku, yang sudah dihafalkan bagaikan mantera. Doa yang agamis demikian, mustahil menjamah kehendak Allah. Sebaliknya, doa yang sejati ialah doa yang dipanjatkan dengan menggunakan roh menjamah Tuhan yang subyektif. Allah itu Roh, dan Ia ada di dalam roh kita. Ketika kita berdoa kepada-Nya, kita harus menjamah-Nya, menyentuh-Nya dengan roh kita. Doa yang menyentuh Tuhan semacam ini memungkinkan kita beroleh pengabulan doa.
Doa:
Ya Tuhan, perbaharuilah konsepsiku terhadap perihal berdoa. Ampuni bila selama ini doa-doa yang kupanjatkan itu salah sehingga tidak Kau perkenan. Mulai hari ini, aku mau belajar mengakui semua kesalahanku, tidak menyimpan kesalahan orang lain, dan berdoa dengan rohku sehingga apa yang menjadi keperluanku Kaukabulkan menurut kegenapan waktu-Mu.
26 July 2007
Matius Volume 4 - Minggu 1 Jumat
Jangan Berdoa seperti Kebiasaan Bangsa-bangsa (1)
Matius 6:7
Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
Dalam hal berdoa, Tuhan mengingatkan kita untuk tidak berdoa menurut kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Peringatan ini secara tidak langsung membuktikan bahwa ada kemungkinan di mana umat kerajaan berdoa, namun dengan cara yang salah, yakni seperti yang dilakukan oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Doa-doa seperti apakah yang sering dipanjatkan oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah? Baik menurut Alkitab maupun menurut pengalaman rohani kaum beriman yang lebih dewasa dalam hayat, setidaknya ada enam jenis doa yang tidak mungkin didengar dan dijawab oleh Allah.
Pertama, doa yang dilakukan seperti orang munafik (Mat. 6:5), yakni doa yang diucapkan supaya dilihat dan dipuji oleh orang. Apabila kita berdoa secara demikian, dapat dipastikan bahwa Bapa yang di surga tidak akan mengindahkannya, apalagi menjawabnya. Kedua, doa yang bertele-tele (Mat. 6:7). Bertele-tele atau mengulang-ulang dengan sia-sia dalam bahasa Yunaninya berarti mengulang-ulang secara monoton seperti suara orang gagap. Beberapa orang mengulang-ulang kata-kata yang sama secara monoton dalam doa mereka. Doa demikian tidak lebih dari suara-suara tanpa arti. Doa yang demikian adalah sia-sia dan sama sekali tidak berkhasiat.
Didengar atau tidaknya doa kita itu oleh Tuhan tergantung pada sikap kita di hadapan-Nya dan keperluan kita, tidak tergantung pada banyak atau sedikitnya kata-kata kita. Kalau kita berdoa dengan bertele-tele seperti berpidato atau membaca puisi yang panjang di depan manusia, doa kita tidak akan dijawab, walaupun mungkin kata-kata yang kita ucapkan itu sangat banyak. Kita memang harus berdoa. Tetapi dalam doa kita, keinginan hati kita harus melebihi perkataan kita; percayanya kita harus lebih kuat daripada banyaknya perkataan kita.
Mat. 6:5-8; Yak. 4:3; Ef. 3:20
Doa jenis ketiga yang tidak mungkin mendapatkan pengabulan Allah adalah doa yang dipanjatkan menurut hawa nafsu daging (Yak. 4:3). Doa seperti ini dipanjatkan bukan untuk kepentingan Allah, melainkan untuk memuaskan hawa nafsu. Apa artinya berdoa menurut hawa nafsu? Artinya kita meminta kepada Allah atas sesuatu yang bukan keperluan kita saat ini, atau meminta sesuatu di luar batas keperluan kita. Kalau meminta bukan karena keperluan, itu adalah ketamakan, adalah salah minta. Sebagai Bapa yang memelihara kita, Allah senang memenuhi segala keperluan kita, tetapi Dia tidak akan memberi kita sesuatu guna memuaskan keinginan daging kita.
Doa kita kepada Allah seharusnya dikarenakan kita benar-benar mempunyai keperluan, jangan berdoa sembarangan, yakni tanpa alasan atau di luar batas kemampuan. Jangan menuruti hawa nafsu daging dan seenaknya meminta sesuatu di luar keperluan. Jika demikian, doa kita akan sia-sia saja. Memang kadang kala Allah mengaruniakan sesuatu kepada kita “jauh lebih banyak daripada yang kita doakan dan pikirkan” (Ef. 3:20), tetapi ini adalah masalah lain. Tatkala kita berdoa, kita harus memiliki motivasi yang tulus dan murni.
Meminta sesuatu melampaui kebutuhan atau melampaui kekurangan yang sesungguhnya, berarti salah berdoa. Jika ada keperluan, kita boleh berdoa kepada Allah, tetapi kalau keperluan kita hanya sebanyak itu, kita harus meminta sebanyak itu pula. Bila kita meminta lebih dari yang kita perlukan, itu berarti kita salah berdoa. Kalau kita mempunyai kebutuhan yang besar, kita patut meminta kepada Allah sesuai kebutuhan tersebut. Tetapi jika keperluan kita tidak begitu banyak, namun kita meminta banyak, itulah salah berdoa. Kita hanya patut berdoa menurut kapasitas dan keperluan kita. Jika kita seenaknya meminta ini dan itu, niscayalah kita tidak akan mendapatkan pengabulan Allah. Salah berdoa sama halnya seorang anak berumur empat tahun berkata kepada ayahnya, “Ayah, berilah aku bulan yang di langit itu.” Allah tidak senang mendengar doa atau permintaan yang salah. Setiap orang Kristen harus belajar berdoa dalam lingkungannya yang wajar, jangan membuka mulut dan bersuara dengan sia-sia, yaitu berdoa di luar kebutuhan yang sesungguhnya.
Doa:
Ya Bapa, belaskasihanilah aku agar aku nampak betapa pentingnya berdoa menurut kehendak-Mu. Ampuni bila selama ini aku berdoa menurut cara dan perilaku bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Sesungguhnya Engkau senang mendengar doa yang sederhana, tulus, dan sesuai dengan keperluan. Karena itu, luruskanlah motivasi hatiku saat aku berdoa.
Matius 6:7
Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
Dalam hal berdoa, Tuhan mengingatkan kita untuk tidak berdoa menurut kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Peringatan ini secara tidak langsung membuktikan bahwa ada kemungkinan di mana umat kerajaan berdoa, namun dengan cara yang salah, yakni seperti yang dilakukan oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Doa-doa seperti apakah yang sering dipanjatkan oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah? Baik menurut Alkitab maupun menurut pengalaman rohani kaum beriman yang lebih dewasa dalam hayat, setidaknya ada enam jenis doa yang tidak mungkin didengar dan dijawab oleh Allah.
Pertama, doa yang dilakukan seperti orang munafik (Mat. 6:5), yakni doa yang diucapkan supaya dilihat dan dipuji oleh orang. Apabila kita berdoa secara demikian, dapat dipastikan bahwa Bapa yang di surga tidak akan mengindahkannya, apalagi menjawabnya. Kedua, doa yang bertele-tele (Mat. 6:7). Bertele-tele atau mengulang-ulang dengan sia-sia dalam bahasa Yunaninya berarti mengulang-ulang secara monoton seperti suara orang gagap. Beberapa orang mengulang-ulang kata-kata yang sama secara monoton dalam doa mereka. Doa demikian tidak lebih dari suara-suara tanpa arti. Doa yang demikian adalah sia-sia dan sama sekali tidak berkhasiat.
Didengar atau tidaknya doa kita itu oleh Tuhan tergantung pada sikap kita di hadapan-Nya dan keperluan kita, tidak tergantung pada banyak atau sedikitnya kata-kata kita. Kalau kita berdoa dengan bertele-tele seperti berpidato atau membaca puisi yang panjang di depan manusia, doa kita tidak akan dijawab, walaupun mungkin kata-kata yang kita ucapkan itu sangat banyak. Kita memang harus berdoa. Tetapi dalam doa kita, keinginan hati kita harus melebihi perkataan kita; percayanya kita harus lebih kuat daripada banyaknya perkataan kita.
Mat. 6:5-8; Yak. 4:3; Ef. 3:20
Doa jenis ketiga yang tidak mungkin mendapatkan pengabulan Allah adalah doa yang dipanjatkan menurut hawa nafsu daging (Yak. 4:3). Doa seperti ini dipanjatkan bukan untuk kepentingan Allah, melainkan untuk memuaskan hawa nafsu. Apa artinya berdoa menurut hawa nafsu? Artinya kita meminta kepada Allah atas sesuatu yang bukan keperluan kita saat ini, atau meminta sesuatu di luar batas keperluan kita. Kalau meminta bukan karena keperluan, itu adalah ketamakan, adalah salah minta. Sebagai Bapa yang memelihara kita, Allah senang memenuhi segala keperluan kita, tetapi Dia tidak akan memberi kita sesuatu guna memuaskan keinginan daging kita.
Doa kita kepada Allah seharusnya dikarenakan kita benar-benar mempunyai keperluan, jangan berdoa sembarangan, yakni tanpa alasan atau di luar batas kemampuan. Jangan menuruti hawa nafsu daging dan seenaknya meminta sesuatu di luar keperluan. Jika demikian, doa kita akan sia-sia saja. Memang kadang kala Allah mengaruniakan sesuatu kepada kita “jauh lebih banyak daripada yang kita doakan dan pikirkan” (Ef. 3:20), tetapi ini adalah masalah lain. Tatkala kita berdoa, kita harus memiliki motivasi yang tulus dan murni.
Meminta sesuatu melampaui kebutuhan atau melampaui kekurangan yang sesungguhnya, berarti salah berdoa. Jika ada keperluan, kita boleh berdoa kepada Allah, tetapi kalau keperluan kita hanya sebanyak itu, kita harus meminta sebanyak itu pula. Bila kita meminta lebih dari yang kita perlukan, itu berarti kita salah berdoa. Kalau kita mempunyai kebutuhan yang besar, kita patut meminta kepada Allah sesuai kebutuhan tersebut. Tetapi jika keperluan kita tidak begitu banyak, namun kita meminta banyak, itulah salah berdoa. Kita hanya patut berdoa menurut kapasitas dan keperluan kita. Jika kita seenaknya meminta ini dan itu, niscayalah kita tidak akan mendapatkan pengabulan Allah. Salah berdoa sama halnya seorang anak berumur empat tahun berkata kepada ayahnya, “Ayah, berilah aku bulan yang di langit itu.” Allah tidak senang mendengar doa atau permintaan yang salah. Setiap orang Kristen harus belajar berdoa dalam lingkungannya yang wajar, jangan membuka mulut dan bersuara dengan sia-sia, yaitu berdoa di luar kebutuhan yang sesungguhnya.
Doa:
Ya Bapa, belaskasihanilah aku agar aku nampak betapa pentingnya berdoa menurut kehendak-Mu. Ampuni bila selama ini aku berdoa menurut cara dan perilaku bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Sesungguhnya Engkau senang mendengar doa yang sederhana, tulus, dan sesuai dengan keperluan. Karena itu, luruskanlah motivasi hatiku saat aku berdoa.
25 July 2007
Matius Volume 4 - Minggu 1 Kamis
Bapa Melihat dan Membalas Doa yang Tersembunyi
Matius 6:6
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
Tuhan Yesus berkata, “Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang.” Pada prinsipnya, berdoa berarti berkomunikasi dengan Allah untuk mengekspresikan kemuliaan Allah. Tetapi orang-orang munafik menggunakan doa yang seharusnya memuliakan Allah itu untuk memuliakan diri sendiri. Karena itu mereka senang berdoa dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya. Mereka berdoa bukan untuk didengar Allah, tetapi agar dilihat orang, untuk menonjolkan diri sendiri. Doa-doa seperti ini sangat dangkal dan tidak dapat dianggap sebagai doa kepada Allah atau bersekutu dengan Allah. Orang yang berdoa secara demikian tidak akan menerima apa pun dari Tuhan.
Kalau begitu, bagaimana seharusnya kita berdoa? Tuhan Yesus berkata, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, ....”. Rumah ibadat dan tikungan jalan raya mewakili tempat-tempat terbuka (umum), sedangkan kamar mewakili tempat yang tersembunyi. Bila motivasi kita benar, kita masih bisa mendapatkan “kamar” walaupun di tikungan jalan raya dan di tempat ibadat sekalipun. Kamar adalah tempat kita berkomunikasi dengan Allah secara diam-diam, tempat kita tidak memamerkan doa kita dengan sengaja. Agar kita dapat berdoa dengan baik, kita perlu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Ini berarti kita perlu memisahkan diri dari keramaian dan kesibukan dunia. Dengan kata lain, agar dapat berdoa, kita harus mengabaikan segala hiruk pikuk dan suara gaduh di luar, lalu dengan diam-diam berdoa kepada Allah. Tuhan menjamin bahwa doa kita di tempat tersembunyi itu tidak akan sia-sia. Kalau kita berdoa dengan benar, Bapa akan membalas kita.
Mat. 6:6
Menurut pikiran kita, doa itu selalu didengar, tetapi Tuhan berkata bahwa doa itu dilihat (Mat. 6:6). Karena itu, sering kali ketika kita kekurangan kata-kata di hadapan Allah, sikap kita pun berharga bagi-Nya; sebab Dia melihat, tidak hanya mendengar! Dia tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan, tetapi terlebih melihat bagaimana sikap dan hati kita tatkala kita berdoa. Kita seharusnya bertanya pada diri sendiri, “Belakangan ini, ada berapa banyak aku berdoa kepada Allah? Dari sekian banyak doa-doa itu, berapakah yang hanya dilihat oleh Allah sendiri?”
Tidak ada orang yang mempunyai posisi lebih berbahaya daripada orang yang melayani Tuhan, karena pencobaan yang ia alami biasanya lebih banyak daripada orang lain pada umumnya. Orang yang melayani Tuhan mudah sekali tergoda untuk memamerkan segala sesuatu yang ia miliki di hadapan manusia, termasuk juga hal-hal yang ia miliki secara tersembunyi. Berapa banyakkah hal yang hanya dilihat oleh Allah dalam kehidupan kita? Berapa banyakkah hal dari hayat rohani kita yang tidak diceritakan kepada orang lain? Jika kita tidak punya sama sekali pengalaman atas doa yang tersembunyi di hadapan Allah, itu menandakan bahwa kita tidak berakar. Jika kita tidak mempunyai satu pun pengalaman rohani yang tersembunyi, jika kita belum pernah bertemu muka dengan Allah secara tersembunyi, jika kita belum pernah ditanggulangi oleh Allah secara tersembunyi, khususnya dalam hal berdoa, maka semua yang kita miliki adalah kerohanian yang dangkal dan kurang bernilai.
Untuk mendorong kita agar lebih giat datang kepada Tuhan secara tersembunyi dan bersekutu akrab dengan-Nya, marilah kita simak bersama beberapa syair kidung karya William D. Longstaff di bawah ini:
1. Giat menghadap Tuhan, saling bicara / Tinggal di dalam-Nya, makan firman-Nya /
Tunggu di depan-Nya, lembut dan taat / Atas setiap hal, cari berkat-Nya
2. Giat menghadap Tuhan, meskipun sibuk / Sering sendirian, beserta Tuhan /
Lewat pandang Yesus, serupa Dia / Atas perbuatan, tampil citra-Nya.
3. Giat menghadap Tuhan, hati perlu tenang / Dia yang mengurus angan dan sifat
Roh-Nya membawamu ke sumber kasih / Kau layak bekerja, karya surgawi.
Doa:
Ya Bapa, Engkau adalah Bapa yang melihat dan membalas semua perbuatan anak-anak-Mu secara tersembunyi. Dalam hal berdoa, aku mau belajar memanjatkannya secara tersembunyi, sehingga doa-doaku Kau dengar dan Kau kabulkan. Ya Bapa, selamatkanlah aku dari memanjatkan doa yang sia-sia.
Matius 6:6
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
Tuhan Yesus berkata, “Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang.” Pada prinsipnya, berdoa berarti berkomunikasi dengan Allah untuk mengekspresikan kemuliaan Allah. Tetapi orang-orang munafik menggunakan doa yang seharusnya memuliakan Allah itu untuk memuliakan diri sendiri. Karena itu mereka senang berdoa dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya. Mereka berdoa bukan untuk didengar Allah, tetapi agar dilihat orang, untuk menonjolkan diri sendiri. Doa-doa seperti ini sangat dangkal dan tidak dapat dianggap sebagai doa kepada Allah atau bersekutu dengan Allah. Orang yang berdoa secara demikian tidak akan menerima apa pun dari Tuhan.
Kalau begitu, bagaimana seharusnya kita berdoa? Tuhan Yesus berkata, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, ....”. Rumah ibadat dan tikungan jalan raya mewakili tempat-tempat terbuka (umum), sedangkan kamar mewakili tempat yang tersembunyi. Bila motivasi kita benar, kita masih bisa mendapatkan “kamar” walaupun di tikungan jalan raya dan di tempat ibadat sekalipun. Kamar adalah tempat kita berkomunikasi dengan Allah secara diam-diam, tempat kita tidak memamerkan doa kita dengan sengaja. Agar kita dapat berdoa dengan baik, kita perlu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Ini berarti kita perlu memisahkan diri dari keramaian dan kesibukan dunia. Dengan kata lain, agar dapat berdoa, kita harus mengabaikan segala hiruk pikuk dan suara gaduh di luar, lalu dengan diam-diam berdoa kepada Allah. Tuhan menjamin bahwa doa kita di tempat tersembunyi itu tidak akan sia-sia. Kalau kita berdoa dengan benar, Bapa akan membalas kita.
Mat. 6:6
Menurut pikiran kita, doa itu selalu didengar, tetapi Tuhan berkata bahwa doa itu dilihat (Mat. 6:6). Karena itu, sering kali ketika kita kekurangan kata-kata di hadapan Allah, sikap kita pun berharga bagi-Nya; sebab Dia melihat, tidak hanya mendengar! Dia tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan, tetapi terlebih melihat bagaimana sikap dan hati kita tatkala kita berdoa. Kita seharusnya bertanya pada diri sendiri, “Belakangan ini, ada berapa banyak aku berdoa kepada Allah? Dari sekian banyak doa-doa itu, berapakah yang hanya dilihat oleh Allah sendiri?”
Tidak ada orang yang mempunyai posisi lebih berbahaya daripada orang yang melayani Tuhan, karena pencobaan yang ia alami biasanya lebih banyak daripada orang lain pada umumnya. Orang yang melayani Tuhan mudah sekali tergoda untuk memamerkan segala sesuatu yang ia miliki di hadapan manusia, termasuk juga hal-hal yang ia miliki secara tersembunyi. Berapa banyakkah hal yang hanya dilihat oleh Allah dalam kehidupan kita? Berapa banyakkah hal dari hayat rohani kita yang tidak diceritakan kepada orang lain? Jika kita tidak punya sama sekali pengalaman atas doa yang tersembunyi di hadapan Allah, itu menandakan bahwa kita tidak berakar. Jika kita tidak mempunyai satu pun pengalaman rohani yang tersembunyi, jika kita belum pernah bertemu muka dengan Allah secara tersembunyi, jika kita belum pernah ditanggulangi oleh Allah secara tersembunyi, khususnya dalam hal berdoa, maka semua yang kita miliki adalah kerohanian yang dangkal dan kurang bernilai.
Untuk mendorong kita agar lebih giat datang kepada Tuhan secara tersembunyi dan bersekutu akrab dengan-Nya, marilah kita simak bersama beberapa syair kidung karya William D. Longstaff di bawah ini:
1. Giat menghadap Tuhan, saling bicara / Tinggal di dalam-Nya, makan firman-Nya /
Tunggu di depan-Nya, lembut dan taat / Atas setiap hal, cari berkat-Nya
2. Giat menghadap Tuhan, meskipun sibuk / Sering sendirian, beserta Tuhan /
Lewat pandang Yesus, serupa Dia / Atas perbuatan, tampil citra-Nya.
3. Giat menghadap Tuhan, hati perlu tenang / Dia yang mengurus angan dan sifat
Roh-Nya membawamu ke sumber kasih / Kau layak bekerja, karya surgawi.
Doa:
Ya Bapa, Engkau adalah Bapa yang melihat dan membalas semua perbuatan anak-anak-Mu secara tersembunyi. Dalam hal berdoa, aku mau belajar memanjatkannya secara tersembunyi, sehingga doa-doaku Kau dengar dan Kau kabulkan. Ya Bapa, selamatkanlah aku dari memanjatkan doa yang sia-sia.
24 July 2007
Matius Volume 4 - Minggu 1 Rabu
Tidak Mencari Kemuliaan dan Pujian Manusia
Matius 6:4
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
Melakukan perbuatan baik secara tersembunyi memang sangat berlawanan dengan kecenderungan alamiah kita. Menurut kecenderungan alamiah kita, semakin banyak orang yang tahu bahwa kita telah melakukan suatu kebaikan, semakin baik. Mengapa demikian? Karena setiap manusia pada dasarnya membutuhkan pengakuan dari orang lain. Semakin banyak beroleh pengakuan, semakin banyak pula beroleh kemuliaan. Inilah ekspresi dari ego, ekspresi dari ciptaan lama.
Jika orang Kristen ingin menempuh kehidupan rohani yang bertumbuh, ia harus bekerja sama dengan Allah dalam hal menyangkal dirinya sendiri. Penebusan Allah menuntut kita menyingkirkan ciptaan lama dengan tuntas. Kehendak Allah dan keinginan jiwa kita tidak bisa berdampingan. Jika orang Kristen ingin mengikuti Tuhan, ia harus menentang keinginannya sendiri. Semua minat, kecenderungan, dan kesukaan kita harus dimatikan. Kita harus dengan senang menerima setiap perkara yang begitu bertentangan dengan keinginan alamiah kita demi untuk menanggulangi hayat jiwa kita.
Memikul salib berarti disalibkan. Setiap kali kita dengan tenang menerima sesuatu yang menimpa kita, sesuatu yang bertentangan dengan keinginan alamiah kita, kita menancapkan satu paku lagi untuk memaku kuat-kuat hayat jiwa kita. Semua kemuliaan hampa harus disalibkan. Keinginan kita untuk dipandang, dihormati, disanjung, ditinggikan, dan diapresiasi orang, harus disalibkan. Keinginan kita untuk memamerkan diri perlu disalibkan. Semua hiasan luaran untuk menarik pujian manusia perlu disalibkan. Semua peninggian diri dan bangga diri perlu disalibkan. Mengapa Allah menuntut kita demikian? Agar kita belajar tunduk kepada Allah dan hidup di dalam-Nya; karena hanya dengan cara inilah perjalanan rohani kita dapat bergerak maju.
Mat. 6:3-4; 2 Kor. 3:10; 2 Tim. 2:10
Kemuliaan apakah yang seharusnya kita dambakan? Kemuliaan yang sia-sia? Bukan. Kemuliaan yang melebihi segala-galanya (2 Kor. 3:10). Kemuliaan ini juga adalah kemuliaan yang kekal (2 Tim. 2:10). Kemuliaan yang melebihi segala-galanya ini bersumber dari Allah dan hanya dapat dilihat oleh Allah. Sebaliknya, kemuliaan yang diberikan oleh manusia, yang dapat dilihat oleh banyak orang hari ini, adalah kemuliaan yang sia-sia dan sementara. Orang yang suka bila disanjung-sanjung karena perbuatan baiknya, seolah-olah sangat mulia, namun sebenarnya kakinya tengah berpijak pada kesia-siaan. Ingatlah, tidak ada kemuliaan yang berasal dari manusia yang berlangsung selama-lamanya. Semua itu adalah kemuliaan yang sia-sia, yang dalam sekejap segera berlalu. Karena itu, janganlah kita mencari kemuliaan manusia, sebaliknya marilah kita mencari kemuliaan Allah, kemuliaan yang kekal dan yang melebihi segala-galanya.
Siapakah yang seharusnya memuji kita? Selain Tuhan, siapa pun tidak sepatutnya memuji kita! Kalau orang memuji kita karena perbuatan baik yang kita pamerkan, itu berarti kita telah direndahkan oleh Allah. Apakah kita masih menginginkan itu? Kalau kita mengharapkan kelak Tuhan berkata kepada kita, “Hai hamba-Ku yang baik...”, berharap pada hari itu menerima mahkota, maka tidak seharusnya kita mencari pujian manusia atau tamak akan sanjungan orang. Roh kita seharusnya dikendalikan dan dibatasi oleh surga, sehingga tidak lagi suka membanggakan diri secara daging demi mendapatkan pujian dan kemuliaan manusia yang sia-sia.
Dalam hal memasukkan uang ke dalam kotak persembahan, kita wajib melakukannya secara tersembunyi di hadirat Bapa surgawi kita. Janganlah menuliskan nama kita di amplop persembahan dengan harapan orang lain akan mengetahui bahwa kitalah si pemberi itu. Tuhan Yesus berkata, “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:3-4). Dilihat Bapa lebih penting dan bernilai daripada dilihat manusia!
Doa:
Ya Bapa, bawalah aku masuk ke dalam pengalaman akan salib sehingga semua keinginan diri dan cara hidup yang sia-sia tersingkir. Bapa, ajarlah aku hanya mencari pujian dan hormat dari-Mu, bukan dari orang-orang di sekelilingku, karena aku tahu hanya dengan jalan ini aku dapat mengikuti Tuhan dan melayani-Nya di jalan yang benar.
Matius 6:4
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
Melakukan perbuatan baik secara tersembunyi memang sangat berlawanan dengan kecenderungan alamiah kita. Menurut kecenderungan alamiah kita, semakin banyak orang yang tahu bahwa kita telah melakukan suatu kebaikan, semakin baik. Mengapa demikian? Karena setiap manusia pada dasarnya membutuhkan pengakuan dari orang lain. Semakin banyak beroleh pengakuan, semakin banyak pula beroleh kemuliaan. Inilah ekspresi dari ego, ekspresi dari ciptaan lama.
Jika orang Kristen ingin menempuh kehidupan rohani yang bertumbuh, ia harus bekerja sama dengan Allah dalam hal menyangkal dirinya sendiri. Penebusan Allah menuntut kita menyingkirkan ciptaan lama dengan tuntas. Kehendak Allah dan keinginan jiwa kita tidak bisa berdampingan. Jika orang Kristen ingin mengikuti Tuhan, ia harus menentang keinginannya sendiri. Semua minat, kecenderungan, dan kesukaan kita harus dimatikan. Kita harus dengan senang menerima setiap perkara yang begitu bertentangan dengan keinginan alamiah kita demi untuk menanggulangi hayat jiwa kita.
Memikul salib berarti disalibkan. Setiap kali kita dengan tenang menerima sesuatu yang menimpa kita, sesuatu yang bertentangan dengan keinginan alamiah kita, kita menancapkan satu paku lagi untuk memaku kuat-kuat hayat jiwa kita. Semua kemuliaan hampa harus disalibkan. Keinginan kita untuk dipandang, dihormati, disanjung, ditinggikan, dan diapresiasi orang, harus disalibkan. Keinginan kita untuk memamerkan diri perlu disalibkan. Semua hiasan luaran untuk menarik pujian manusia perlu disalibkan. Semua peninggian diri dan bangga diri perlu disalibkan. Mengapa Allah menuntut kita demikian? Agar kita belajar tunduk kepada Allah dan hidup di dalam-Nya; karena hanya dengan cara inilah perjalanan rohani kita dapat bergerak maju.
Mat. 6:3-4; 2 Kor. 3:10; 2 Tim. 2:10
Kemuliaan apakah yang seharusnya kita dambakan? Kemuliaan yang sia-sia? Bukan. Kemuliaan yang melebihi segala-galanya (2 Kor. 3:10). Kemuliaan ini juga adalah kemuliaan yang kekal (2 Tim. 2:10). Kemuliaan yang melebihi segala-galanya ini bersumber dari Allah dan hanya dapat dilihat oleh Allah. Sebaliknya, kemuliaan yang diberikan oleh manusia, yang dapat dilihat oleh banyak orang hari ini, adalah kemuliaan yang sia-sia dan sementara. Orang yang suka bila disanjung-sanjung karena perbuatan baiknya, seolah-olah sangat mulia, namun sebenarnya kakinya tengah berpijak pada kesia-siaan. Ingatlah, tidak ada kemuliaan yang berasal dari manusia yang berlangsung selama-lamanya. Semua itu adalah kemuliaan yang sia-sia, yang dalam sekejap segera berlalu. Karena itu, janganlah kita mencari kemuliaan manusia, sebaliknya marilah kita mencari kemuliaan Allah, kemuliaan yang kekal dan yang melebihi segala-galanya.
Siapakah yang seharusnya memuji kita? Selain Tuhan, siapa pun tidak sepatutnya memuji kita! Kalau orang memuji kita karena perbuatan baik yang kita pamerkan, itu berarti kita telah direndahkan oleh Allah. Apakah kita masih menginginkan itu? Kalau kita mengharapkan kelak Tuhan berkata kepada kita, “Hai hamba-Ku yang baik...”, berharap pada hari itu menerima mahkota, maka tidak seharusnya kita mencari pujian manusia atau tamak akan sanjungan orang. Roh kita seharusnya dikendalikan dan dibatasi oleh surga, sehingga tidak lagi suka membanggakan diri secara daging demi mendapatkan pujian dan kemuliaan manusia yang sia-sia.
Dalam hal memasukkan uang ke dalam kotak persembahan, kita wajib melakukannya secara tersembunyi di hadirat Bapa surgawi kita. Janganlah menuliskan nama kita di amplop persembahan dengan harapan orang lain akan mengetahui bahwa kitalah si pemberi itu. Tuhan Yesus berkata, “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:3-4). Dilihat Bapa lebih penting dan bernilai daripada dilihat manusia!
Doa:
Ya Bapa, bawalah aku masuk ke dalam pengalaman akan salib sehingga semua keinginan diri dan cara hidup yang sia-sia tersingkir. Bapa, ajarlah aku hanya mencari pujian dan hormat dari-Mu, bukan dari orang-orang di sekelilingku, karena aku tahu hanya dengan jalan ini aku dapat mengikuti Tuhan dan melayani-Nya di jalan yang benar.
23 July 2007
Matius Volume 4 - Minggu 1 Selasa
Berakar dan Bertumbuh dalam Kristus
Kolose 2:7
Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Kehidupan yang tersembunyi dapat pula dikatakan sebagai kehidupan yang dalam. Kehidupan yang demikian merupakan jalan yang terbaik untuk bertumbuh dalam hayat. Dalam Perjanjian lama, kehidupan yang dalam, kehidupan yang tersembunyi, dapat diumpamakan sebagai bunga bakung, pohon zaitun, dan pohon anggur di Libanon (Hos.14:6-8).
Orang yang memiliki kehidupan yang tersembunyi itu bagaikan bunga bakung yang tumbuh di lembah, yang sepenuhnya hidup bersandar sinar matahari, hujan, dan embun. Sebagai umat kerajaan, kita adalah bunga-bunga bakung di lembah (Kid. 2:1), yang mutlak bersandar pada perawatan dan pemeliharaan Allah. Kehidupan rohani yang bersih dan indah hanya dapat dihasilkan dari persekutuan yang tersembunyi dengan Allah.
Orang yang kehidupannya berakar dapat juga diibaratkan sebagai pohon zaitun. Walau ia tidak semarak, tetapi ia menghasilkan buah-buah yang mengandung minyak. Keindahan orang Kristen terletak pada buah-buah Roh Kudus yang ia hasilkannya, bukan semarak yang di luar. Selain itu, orang yang memiliki kehidupan yang tersembunyi juga bagaikan pohon anggur yang berbuah banyak. Inilah kehidupan orang Kristen yang seharusnya kita miliki.
Kalau kita ingin memiliki kehidupan yang demikian, kita harus berlatih, sedikitnya setiap hari ada waktu khusus untuk membaca Alkitab dan berdoa di depan Allah, sambil membaca Alkitab sambil berdoa. Kalau mungkin, tetapkanlah waktu untuk berdoa bagi orang lain, berdoa untuk gereja-gereja di setiap tempat, dan berdoa untuk pekerjaan Allah. Kalau ada orang Kristen yang pada hari-hari biasa tidak membaca Alkitab dan berdoa, jangan harap ia memiliki kehidupan yang berakar dan bertumbuh. Ini bukan satu slogan yang kosong, melainkan pelaksanaan dalam hidup kita sehari-hari.
Mat. 6:1-4; Hos. 14:6-8; Kid. 2:1; Yes. 39
Pengajaran Tuhan Yesus di atas bukit sangatlah istimewa. Di satu pihak Dia mengatakan, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Di pihak lain Ia berkata, “Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu; jika engkau berdoa, berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.” Karena itu, di satu pihak tidak ada seorang Kristen yang dapat secara diam-diam menjadi orang Kristen. Di pihak lain ada banyak kebajikan orang Kristen yang seharusnya tersembunyi, tidak seharusnya dipaparkan keluar. Orang yang hanya memiliki yang terpapar di hadapan orang lain, tetapi tidak memiliki yang tersembunyi adalah orang yang tidak memiliki akar; orang ini tidak akan tahan uji, tidak tahan pencobaan.
Yesaya pasal 39 mengisahkan bahwa raja Babel menyuruh orang membawa surat dan pemberian kepada Hizkia, sebab telah didengarnya bahwa Hizkia tadinya sakit dan sudah sembuh kembali. Alkitab mencantumkan, “Hizkia bersukacita atas kedatangan mereka, lalu diperlihatkannyalah kepada mereka gedung harta bendanya, emas dan perak, rempah-rempah dan minyak yang berharga, segenap gedung persenjataannya dan segala yang terdapat dalam perbendaharaannya.” (Yes. 39:2a). Dibukanya gedung harta benda Hizkia untuk diperlihatkan kepada orang lain, menyatakan bahwa ia tidak ditanggulangi oleh salib, hayat alamiahnya tidak pernah ditanggulangi. Hizkia tidak memiliki akar, Hizkia tidak memiliki kehidupan yang tersembunyi. Sebab itu nabi Yesaya mengatakan bahwa suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istananya akan diangkut ke Babel, tidak ada barang yang akan ditinggalkan. Ini berarti, seberapa banyak perkara yang kita perlihatkan kepada orang lain, sejumlah itu pula yang akan diambil dari diri kita.
Hari ini banyak orang seperti Hizkia, yang tidak tahan untuk tidak memamerkan diri, tidak tahan untuk tidak membuka “gedung hartanya” dan memperlihatkannya kepada orang lain. Kehidupan dangkal semacam ini akan membuat kita menderita kerugian yang sangat besar di hadapan Allah. Kehidupan semacam ini menghambat pertumbuhan kita di hadapan Allah.
Doa:
Ya Bapa, ajarlah aku untuk memustikakan pengalaman yang tersembunyi dengan-Mu baik melalui berdoa, membaca firman-Mu, maupun melalui pujian dan penyembahan. Aku mau melatih rohku untuk bersentuhan dengan-Mu. Aku damba bertumbuh di dalam-Mu sehingga semua hal yang bukan berasal dari Engkau tersingkir semuanya.
Kolose 2:7
Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Kehidupan yang tersembunyi dapat pula dikatakan sebagai kehidupan yang dalam. Kehidupan yang demikian merupakan jalan yang terbaik untuk bertumbuh dalam hayat. Dalam Perjanjian lama, kehidupan yang dalam, kehidupan yang tersembunyi, dapat diumpamakan sebagai bunga bakung, pohon zaitun, dan pohon anggur di Libanon (Hos.14:6-8).
Orang yang memiliki kehidupan yang tersembunyi itu bagaikan bunga bakung yang tumbuh di lembah, yang sepenuhnya hidup bersandar sinar matahari, hujan, dan embun. Sebagai umat kerajaan, kita adalah bunga-bunga bakung di lembah (Kid. 2:1), yang mutlak bersandar pada perawatan dan pemeliharaan Allah. Kehidupan rohani yang bersih dan indah hanya dapat dihasilkan dari persekutuan yang tersembunyi dengan Allah.
Orang yang kehidupannya berakar dapat juga diibaratkan sebagai pohon zaitun. Walau ia tidak semarak, tetapi ia menghasilkan buah-buah yang mengandung minyak. Keindahan orang Kristen terletak pada buah-buah Roh Kudus yang ia hasilkannya, bukan semarak yang di luar. Selain itu, orang yang memiliki kehidupan yang tersembunyi juga bagaikan pohon anggur yang berbuah banyak. Inilah kehidupan orang Kristen yang seharusnya kita miliki.
Kalau kita ingin memiliki kehidupan yang demikian, kita harus berlatih, sedikitnya setiap hari ada waktu khusus untuk membaca Alkitab dan berdoa di depan Allah, sambil membaca Alkitab sambil berdoa. Kalau mungkin, tetapkanlah waktu untuk berdoa bagi orang lain, berdoa untuk gereja-gereja di setiap tempat, dan berdoa untuk pekerjaan Allah. Kalau ada orang Kristen yang pada hari-hari biasa tidak membaca Alkitab dan berdoa, jangan harap ia memiliki kehidupan yang berakar dan bertumbuh. Ini bukan satu slogan yang kosong, melainkan pelaksanaan dalam hidup kita sehari-hari.
Mat. 6:1-4; Hos. 14:6-8; Kid. 2:1; Yes. 39
Pengajaran Tuhan Yesus di atas bukit sangatlah istimewa. Di satu pihak Dia mengatakan, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Di pihak lain Ia berkata, “Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu; jika engkau berdoa, berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.” Karena itu, di satu pihak tidak ada seorang Kristen yang dapat secara diam-diam menjadi orang Kristen. Di pihak lain ada banyak kebajikan orang Kristen yang seharusnya tersembunyi, tidak seharusnya dipaparkan keluar. Orang yang hanya memiliki yang terpapar di hadapan orang lain, tetapi tidak memiliki yang tersembunyi adalah orang yang tidak memiliki akar; orang ini tidak akan tahan uji, tidak tahan pencobaan.
Yesaya pasal 39 mengisahkan bahwa raja Babel menyuruh orang membawa surat dan pemberian kepada Hizkia, sebab telah didengarnya bahwa Hizkia tadinya sakit dan sudah sembuh kembali. Alkitab mencantumkan, “Hizkia bersukacita atas kedatangan mereka, lalu diperlihatkannyalah kepada mereka gedung harta bendanya, emas dan perak, rempah-rempah dan minyak yang berharga, segenap gedung persenjataannya dan segala yang terdapat dalam perbendaharaannya.” (Yes. 39:2a). Dibukanya gedung harta benda Hizkia untuk diperlihatkan kepada orang lain, menyatakan bahwa ia tidak ditanggulangi oleh salib, hayat alamiahnya tidak pernah ditanggulangi. Hizkia tidak memiliki akar, Hizkia tidak memiliki kehidupan yang tersembunyi. Sebab itu nabi Yesaya mengatakan bahwa suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istananya akan diangkut ke Babel, tidak ada barang yang akan ditinggalkan. Ini berarti, seberapa banyak perkara yang kita perlihatkan kepada orang lain, sejumlah itu pula yang akan diambil dari diri kita.
Hari ini banyak orang seperti Hizkia, yang tidak tahan untuk tidak memamerkan diri, tidak tahan untuk tidak membuka “gedung hartanya” dan memperlihatkannya kepada orang lain. Kehidupan dangkal semacam ini akan membuat kita menderita kerugian yang sangat besar di hadapan Allah. Kehidupan semacam ini menghambat pertumbuhan kita di hadapan Allah.
Doa:
Ya Bapa, ajarlah aku untuk memustikakan pengalaman yang tersembunyi dengan-Mu baik melalui berdoa, membaca firman-Mu, maupun melalui pujian dan penyembahan. Aku mau melatih rohku untuk bersentuhan dengan-Mu. Aku damba bertumbuh di dalam-Mu sehingga semua hal yang bukan berasal dari Engkau tersingkir semuanya.
22 July 2007
Matius Volume 4 - Minggu 1 Senin
Bapa Kita Melihat yang Tersembunyi
Matius 6:1
Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu (kebenaranmu, Tl.) di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu di surga.
Bagi kita, umat Kerajaan Surga, Allah bukan hanya Allah yang menciptakan kita, tetapi juga Bapa yang melahirkan kita kembali. Kita tidak hanya memiliki hayat insani yang diciptakan, tetapi juga memiliki hayat ilahi, hayat yang kekal. Bapa kita adalah Bapa yang tersembunyi (Yoh. 1:18). Karena itu Ia menghendaki kita, anak-anak-Nya, melakukan perbuatan benar secara tersembunyi. Mungkin orang lain tidak tahu apa yang kita lakukan, tetapi Bapa kita melihat segala sesuatu yang tersembunyi. Oleh karena itu, kita harus belajar hidup dalam hadirat Bapa dan memperhatikan kehadiran Bapa. Apa pun yang kita lakukan secara tersembunyi untuk Kerajaan Bapa, tidak ada yang luput dari perhatian Bapa. Bapa surgawi kita melihat seluruh perbuatan benar yang kita lakukan secara tersembunyi.
Mengapa umat kerajaan harus melakukan perbuatan benar mereka secara tersembunyi? Karena Bapa menghendaki umat kerajaan hidup menurut hayat ilahi kekal-Nya, bukan menurut daging. Daging kita selalu mencari kemuliaan bagi diri sendiri, selalu ingin melakukan perbuatan baik di hadapan manusia untuk mendapatkan pujian manusia. Di bawah pemerintahan surgawi kerajaan, kita tidak diperbolehkan melakukan apa pun di dalam daging untuk mendapatkan pujian manusia, tetapi harus melakukan segala hal di dalam roh untuk menyenangkan Bapa Surgawi kita.
Patut disayangkan, hari ini tidak sedikit orang Kristen yang berlomba-lomba melakukan perbuatan baik guna mendapatkan pujian dan kemuliaan manusia. Tidak hanya di dunia sekuler orang mencari ketenaran, dalam dunia rohani pun tidak sedikit yang mencari popularitas dengan cara melakukan suatu perbuatan baik secara terbuka. Memamerkan perbuatan baik kita di muka umum sungguh tidak sesuai dengan sifat dari hayat ilahi Bapa yang tersembunyi itu.
Mat. 6:1-4; Yoh. 1:18
Hasil dari melakukan perbuatan benar secara tersembunyi ialah ego dan daging kita disalibkan. Dalam masyarakat hari ini jika orang-orang tidak diperbolehkan memamerkan perbuatan baik mereka, dapat dipastikan bahwa mereka akan enggan melakukannya. Dalam hal pengumpulan dana misalnya. Momen ini biasanya memberikan kesempatan bagi para donatur untuk pamer. Semakin besar kesempatan untuk pamer, semakin bergairah orang untuk memberikan donasi. Semakin besar donasi yang disumbangkan, semakin besar kemuliaan manusia yang didapatkan. Inilah ekspresi daging! Betapa memalukannya bila gereja Tuhan hari ini dipenuhi dengan orang-orang yang mencari kemuliaan bagi diri sendiri.
Prinsip dasar kita sebagai umat kerajaan dalam melakukan perbuatan benar ialah tidak memamerkan diri kita. Sedapat mungkin, sembunyikanlah diri kita, tutupilah diri kita, dan lakukanlah segala kebajikan yang tersembunyi di hadirat Bapa surgawi. Perbuatan benar yang kita lakukan secara tersembunyi dapat diibaratkan sebagai akar dari suatu tanaman. Apakah akar? Akar adalah bagian yang tidak kelihatan dari suatu tanaman. Akar terpendam di dalam tanah. Jadi akar melambangkan kehidupan kita yang rahasia dan tersembunyi. Orang yang tidak memiliki akar di hadapan Bapa, kehidupan rohaninya pasti layu dan gersang. Orang yang tidak memiliki kehidupan yang rahasia dan tersembunyi, yang memiliki sesuatu hanya di hadapan manusia, yang tidak mempunyai sesuatu yang tersembunyi di hadapan Bapa, pasti tidak mampu memikul salib.
Hari ini kita harus memeriksa diri sendiri di hadapan Allah, melihat berapa banyak hidup kita yang ada di hadapan manusia dan berapa banyak yang ada di hadapan Allah. Selain kesaksian kita di depan umum, pembacaan Alkitab, dan doa-doa, berapa banyak perkara yang kita lakukan secara tersembunyi? Jika kita tidak mempunyai satu pun yang tersembunyi, yang rahasia, berarti hidup kita tidak berakar. Tidak heran, begitu salib tiba, kita tidak mampu menanggungnya. Jika kita tidak bisa memelihara kehidupan yang tersembunyi di depan Bapa, cepat atau lambat akan ternyata bahwa kehidupan rohani kita begitu dangkal dan rapuh. Perkataan ini harus menjadi dorongan bagi kita.
Doa:
Ya Bapa, aku bersyukur atas terang firman-Mu yang menyingkapkan keadaan batiniahku. Ampunilah aku apabila selama ini sering mencari pujian manusia lebih daripada mencari perkenan-Mu. Bapa, aku mau belajar hidup menurut hayat ilahi-Mu, melakukan perbuatan benarku secara tersembunyi dan menempuh kehidupan yang tersembunyi di depan-Mu.
Matius 6:1
Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu (kebenaranmu, Tl.) di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu di surga.
Bagi kita, umat Kerajaan Surga, Allah bukan hanya Allah yang menciptakan kita, tetapi juga Bapa yang melahirkan kita kembali. Kita tidak hanya memiliki hayat insani yang diciptakan, tetapi juga memiliki hayat ilahi, hayat yang kekal. Bapa kita adalah Bapa yang tersembunyi (Yoh. 1:18). Karena itu Ia menghendaki kita, anak-anak-Nya, melakukan perbuatan benar secara tersembunyi. Mungkin orang lain tidak tahu apa yang kita lakukan, tetapi Bapa kita melihat segala sesuatu yang tersembunyi. Oleh karena itu, kita harus belajar hidup dalam hadirat Bapa dan memperhatikan kehadiran Bapa. Apa pun yang kita lakukan secara tersembunyi untuk Kerajaan Bapa, tidak ada yang luput dari perhatian Bapa. Bapa surgawi kita melihat seluruh perbuatan benar yang kita lakukan secara tersembunyi.
Mengapa umat kerajaan harus melakukan perbuatan benar mereka secara tersembunyi? Karena Bapa menghendaki umat kerajaan hidup menurut hayat ilahi kekal-Nya, bukan menurut daging. Daging kita selalu mencari kemuliaan bagi diri sendiri, selalu ingin melakukan perbuatan baik di hadapan manusia untuk mendapatkan pujian manusia. Di bawah pemerintahan surgawi kerajaan, kita tidak diperbolehkan melakukan apa pun di dalam daging untuk mendapatkan pujian manusia, tetapi harus melakukan segala hal di dalam roh untuk menyenangkan Bapa Surgawi kita.
Patut disayangkan, hari ini tidak sedikit orang Kristen yang berlomba-lomba melakukan perbuatan baik guna mendapatkan pujian dan kemuliaan manusia. Tidak hanya di dunia sekuler orang mencari ketenaran, dalam dunia rohani pun tidak sedikit yang mencari popularitas dengan cara melakukan suatu perbuatan baik secara terbuka. Memamerkan perbuatan baik kita di muka umum sungguh tidak sesuai dengan sifat dari hayat ilahi Bapa yang tersembunyi itu.
Mat. 6:1-4; Yoh. 1:18
Hasil dari melakukan perbuatan benar secara tersembunyi ialah ego dan daging kita disalibkan. Dalam masyarakat hari ini jika orang-orang tidak diperbolehkan memamerkan perbuatan baik mereka, dapat dipastikan bahwa mereka akan enggan melakukannya. Dalam hal pengumpulan dana misalnya. Momen ini biasanya memberikan kesempatan bagi para donatur untuk pamer. Semakin besar kesempatan untuk pamer, semakin bergairah orang untuk memberikan donasi. Semakin besar donasi yang disumbangkan, semakin besar kemuliaan manusia yang didapatkan. Inilah ekspresi daging! Betapa memalukannya bila gereja Tuhan hari ini dipenuhi dengan orang-orang yang mencari kemuliaan bagi diri sendiri.
Prinsip dasar kita sebagai umat kerajaan dalam melakukan perbuatan benar ialah tidak memamerkan diri kita. Sedapat mungkin, sembunyikanlah diri kita, tutupilah diri kita, dan lakukanlah segala kebajikan yang tersembunyi di hadirat Bapa surgawi. Perbuatan benar yang kita lakukan secara tersembunyi dapat diibaratkan sebagai akar dari suatu tanaman. Apakah akar? Akar adalah bagian yang tidak kelihatan dari suatu tanaman. Akar terpendam di dalam tanah. Jadi akar melambangkan kehidupan kita yang rahasia dan tersembunyi. Orang yang tidak memiliki akar di hadapan Bapa, kehidupan rohaninya pasti layu dan gersang. Orang yang tidak memiliki kehidupan yang rahasia dan tersembunyi, yang memiliki sesuatu hanya di hadapan manusia, yang tidak mempunyai sesuatu yang tersembunyi di hadapan Bapa, pasti tidak mampu memikul salib.
Hari ini kita harus memeriksa diri sendiri di hadapan Allah, melihat berapa banyak hidup kita yang ada di hadapan manusia dan berapa banyak yang ada di hadapan Allah. Selain kesaksian kita di depan umum, pembacaan Alkitab, dan doa-doa, berapa banyak perkara yang kita lakukan secara tersembunyi? Jika kita tidak mempunyai satu pun yang tersembunyi, yang rahasia, berarti hidup kita tidak berakar. Tidak heran, begitu salib tiba, kita tidak mampu menanggungnya. Jika kita tidak bisa memelihara kehidupan yang tersembunyi di depan Bapa, cepat atau lambat akan ternyata bahwa kehidupan rohani kita begitu dangkal dan rapuh. Perkataan ini harus menjadi dorongan bagi kita.
Doa:
Ya Bapa, aku bersyukur atas terang firman-Mu yang menyingkapkan keadaan batiniahku. Ampunilah aku apabila selama ini sering mencari pujian manusia lebih daripada mencari perkenan-Mu. Bapa, aku mau belajar hidup menurut hayat ilahi-Mu, melakukan perbuatan benarku secara tersembunyi dan menempuh kehidupan yang tersembunyi di depan-Mu.
13 July 2007
Matius Volume 3 - Minggu 4 Sabtu
Jalan untuk Menjadi Sempurna seperti Bapa
Matius 5:48
Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
Seringkali kita hidup bagaikan anak-anak burung rajawali yang mengira dirinya adalah anak-anak ayam. Kita selalu merasa diri sendiri lemah, tidak berdaya, tidak bertalenta, bahkan tidak berguna. Kita hidup seperti anak-anak ayam yang tidak memiliki pengharapan. Begitu mendengar perkataan bahwa kita harus menjadi sempurna seperti Bapa yang di surga, kita langsung memvonis bahwa hal itu mustahil terjadi. Renungkanlah: Mustahilkah seekor anak rajawali terbang tinggi di angkasa? Tidak, bukan? Asal ia benar-benar adalah anak burung rajawali, kelak ia pasti bisa terbang. Mustahilkah kita menjadi sempurna seperti Bapa? Tentu saja tidak, asalkan kita benar-benar adalah anak-anak Bapa, anak-anak yang dilahirkan oleh-Nya (Yoh. 1:13). Lagi pula, Allah tidak pernah memberi perintah yang mustahil untuk kita lakukan. Menjadi sempurna bukan tergantung pada usaha kita, tetapi tergantung pada siapakah kita. Kalau kita adalah anak-anak Bapa yang sejati, memiliki hayat ilahi Bapa, maka kita memiliki harapan untuk menjadi sempurna. Asalkan kita terus bertumbuh dalam hayat-Nya, kita akan menjadi sempurna, sama seperti Dia.
Banyak orang Kristen salah paham terhadap permintaan di atas sehingga putus asa dan mengatakan, “Ini terlalu berat bagi kita. Kita tidak akan dapat mencapainya. Tidak mungkin memenuhinya.” Mata kita harus tercelik bahwa kita memiliki hayat Bapa di dalam kita. Kita dapat menggenapkan hukum Taurat baru ini, bukan bersandarkan kekuatan diri sendiri, melainkan bersandarkan hayat dan sifat Bapa. Tidak heran, demi mencelikkan mata kita, Tuhan telah mengizinkan datangnya begitu banyak perkara yang saling berlawanan ke dalam lingkungan kita untuk menyingkapkan keadaan kita yang sebenarnya, sehingga kita sadar siapakah kita yang sebenarnya. Mulai hari ini marilah kita berpaling kepada Bapa, bersandar kepada Bapa, dan belajar hidup oleh hayat ilahi Bapa.
Mat. 5:48; 8:12; 22:13; 25:30; Yoh. 1:13
Menjadi sempurna bukanlah masalah kita sanggup atau tidak, melainkan masalah pertumbuhan hayat. Bagi anak-anak Bapa, menjadi sempurna adalah masalah waktu. Cepat atau lambat, setiap anak-anak Allah pasti akan menjadi sempurna sama seperti Bapa yang di surga. Anak-anak Bapa yang bertumbuh dengan baik, akan lebih cepat menjadi sempurna. Tetapi mereka yang kurang bertumbuh dalam hayat, hidup menurut kesukaan diri sendiri, memerlukan waktu yang lebih panjang untuk menjadi sempurna. Bila di zaman ini mereka belum juga sempurna, maka Bapa tetap akan menyempurnakan mereka dalam zaman yang akan datang, yakni dalam kegelapan yang paling gelap, tempat di mana terdapat ratap dan kertak gigi (Mat. 8:12; 22:13; 25:30). Menjadi sempurna itu pasti, tetapi bilamanakah seseorang menjadi sempurna, itu sangat ditentukan oleh cepat atau lambatnya pertumbuhan hayat seseorang.
Pertumbuhan hayat bukanlah perbaikan dalam tingkah laku, melainkan pertambahan kadar Allah di dalam kita. Bertumbuh berarti Allah bertambah di dalam kita dan kita semakin berkurang. Ketika kita bertumbuh dalam hayat, pikiran kita memikirkan apa yang Allah pikirkan, emosi kita mengasihi apa yang Allah kasihi dan membenci apa yang Allah benci, dan tekad kita akan sesuai dengan kehendak kekal Allah dan patuh kepada Allah. Akhirnya, kita akan mengekspresikan Allah sebagai kepenuhan-Nya.
Firman Allah dan Roh itu adalah penting untuk pertumbuhan kita. Pertama-tama, sebagai kaum beriman, kita perlu makan dan minum firman untuk bertumbuh dalam hayat. Kita makan dan minum firman melalui membacanya dan berdoa memakai firman di dalam roh. Kedua, kita perlu berseru kepada-Nya. Tuhan itu kaya bagi setiap orang yang berseru kepada-Nya. Melalui berseru kepada-Nya, Roh-Nya memenuhi kita, menyebabkan kita bertumbuh dalam hayat. Kehidupan orang Kristen kita adalah perkara bertumbuh dalam hayat oleh Roh dan firman-Nya. Hari-hari di mana kita tidak bertumbuh adalah hari yang terbuang. Waktu yang ada justru adalah untuk pertumbuhan kita dalam hayat. Inilah rahasia kita untuk menjadi sempurna sama seperti Bapa.
Doa:
Ya Bapa, aku bersyukur atas setiap lingkungan dan keadaan yang kualami pada hari ini, supaya aku belajar untuk tidak hidup menurut kecenderungan hayat alamiahku, melainkan belajar memperhidupkan hayat-Mu. Bapa, aku mau bertumbuh dewasa dalam hayat agar aku menjadi sempurna seperti Engkau.
Matius 5:48
Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
Seringkali kita hidup bagaikan anak-anak burung rajawali yang mengira dirinya adalah anak-anak ayam. Kita selalu merasa diri sendiri lemah, tidak berdaya, tidak bertalenta, bahkan tidak berguna. Kita hidup seperti anak-anak ayam yang tidak memiliki pengharapan. Begitu mendengar perkataan bahwa kita harus menjadi sempurna seperti Bapa yang di surga, kita langsung memvonis bahwa hal itu mustahil terjadi. Renungkanlah: Mustahilkah seekor anak rajawali terbang tinggi di angkasa? Tidak, bukan? Asal ia benar-benar adalah anak burung rajawali, kelak ia pasti bisa terbang. Mustahilkah kita menjadi sempurna seperti Bapa? Tentu saja tidak, asalkan kita benar-benar adalah anak-anak Bapa, anak-anak yang dilahirkan oleh-Nya (Yoh. 1:13). Lagi pula, Allah tidak pernah memberi perintah yang mustahil untuk kita lakukan. Menjadi sempurna bukan tergantung pada usaha kita, tetapi tergantung pada siapakah kita. Kalau kita adalah anak-anak Bapa yang sejati, memiliki hayat ilahi Bapa, maka kita memiliki harapan untuk menjadi sempurna. Asalkan kita terus bertumbuh dalam hayat-Nya, kita akan menjadi sempurna, sama seperti Dia.
Banyak orang Kristen salah paham terhadap permintaan di atas sehingga putus asa dan mengatakan, “Ini terlalu berat bagi kita. Kita tidak akan dapat mencapainya. Tidak mungkin memenuhinya.” Mata kita harus tercelik bahwa kita memiliki hayat Bapa di dalam kita. Kita dapat menggenapkan hukum Taurat baru ini, bukan bersandarkan kekuatan diri sendiri, melainkan bersandarkan hayat dan sifat Bapa. Tidak heran, demi mencelikkan mata kita, Tuhan telah mengizinkan datangnya begitu banyak perkara yang saling berlawanan ke dalam lingkungan kita untuk menyingkapkan keadaan kita yang sebenarnya, sehingga kita sadar siapakah kita yang sebenarnya. Mulai hari ini marilah kita berpaling kepada Bapa, bersandar kepada Bapa, dan belajar hidup oleh hayat ilahi Bapa.
Mat. 5:48; 8:12; 22:13; 25:30; Yoh. 1:13
Menjadi sempurna bukanlah masalah kita sanggup atau tidak, melainkan masalah pertumbuhan hayat. Bagi anak-anak Bapa, menjadi sempurna adalah masalah waktu. Cepat atau lambat, setiap anak-anak Allah pasti akan menjadi sempurna sama seperti Bapa yang di surga. Anak-anak Bapa yang bertumbuh dengan baik, akan lebih cepat menjadi sempurna. Tetapi mereka yang kurang bertumbuh dalam hayat, hidup menurut kesukaan diri sendiri, memerlukan waktu yang lebih panjang untuk menjadi sempurna. Bila di zaman ini mereka belum juga sempurna, maka Bapa tetap akan menyempurnakan mereka dalam zaman yang akan datang, yakni dalam kegelapan yang paling gelap, tempat di mana terdapat ratap dan kertak gigi (Mat. 8:12; 22:13; 25:30). Menjadi sempurna itu pasti, tetapi bilamanakah seseorang menjadi sempurna, itu sangat ditentukan oleh cepat atau lambatnya pertumbuhan hayat seseorang.
Pertumbuhan hayat bukanlah perbaikan dalam tingkah laku, melainkan pertambahan kadar Allah di dalam kita. Bertumbuh berarti Allah bertambah di dalam kita dan kita semakin berkurang. Ketika kita bertumbuh dalam hayat, pikiran kita memikirkan apa yang Allah pikirkan, emosi kita mengasihi apa yang Allah kasihi dan membenci apa yang Allah benci, dan tekad kita akan sesuai dengan kehendak kekal Allah dan patuh kepada Allah. Akhirnya, kita akan mengekspresikan Allah sebagai kepenuhan-Nya.
Firman Allah dan Roh itu adalah penting untuk pertumbuhan kita. Pertama-tama, sebagai kaum beriman, kita perlu makan dan minum firman untuk bertumbuh dalam hayat. Kita makan dan minum firman melalui membacanya dan berdoa memakai firman di dalam roh. Kedua, kita perlu berseru kepada-Nya. Tuhan itu kaya bagi setiap orang yang berseru kepada-Nya. Melalui berseru kepada-Nya, Roh-Nya memenuhi kita, menyebabkan kita bertumbuh dalam hayat. Kehidupan orang Kristen kita adalah perkara bertumbuh dalam hayat oleh Roh dan firman-Nya. Hari-hari di mana kita tidak bertumbuh adalah hari yang terbuang. Waktu yang ada justru adalah untuk pertumbuhan kita dalam hayat. Inilah rahasia kita untuk menjadi sempurna sama seperti Bapa.
Doa:
Ya Bapa, aku bersyukur atas setiap lingkungan dan keadaan yang kualami pada hari ini, supaya aku belajar untuk tidak hidup menurut kecenderungan hayat alamiahku, melainkan belajar memperhidupkan hayat-Mu. Bapa, aku mau bertumbuh dewasa dalam hayat agar aku menjadi sempurna seperti Engkau.
12 July 2007
Matius Volume 3 - Minggu 4 Jumat
Perlu Hidup Berdasarkan Hayat Ilahi Bapa
Matius 5:43-44
Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
Orang yang baik patut mendapatkan kasih, sebaliknya orang yang memusuhi hanya patut dibenci. Setidaknya sikap inilah yang dimiliki oleh sebagian besar umat manusia di bumi hari ini. Namun hukum Taurat yang baru dalam Matius 5:44 menyuruh kita untuk mengasihi musuh kita. Mengapa kita bisa mengasihi orang yang baik? Karena ia baik menurut perasaan kita. Mengapa kita membenci orang yang memusuhi kita? Karena ia tidak sesuai dengan perasaan kita, bahkan membangkitkan amarah kita.
Mengasihi musuh merupakan suatu ujian. Jika Tuhan mengatur kita hanya bertemu dengan orang yang baik, maka kita akan berlaku seperti seorang malaikat dan berkata, “Tuhan, terima kasih kepada-Mu karena Engkau telah memberikan seorang saudara yang begitu menyenangkan.” Tetapi Tuhan biasanya mengizinkan kita bertemu dengan orang yang sangat menjengkelkan kita. Tuhan akan memakai mereka untuk menyingkapkan apa adanya kita. Tuhan mungkin bertanya kepada kita, apakah kita mengasihi sesama kita yang menyulitkan? Ini adalah salah satu ujian untuk membuktikan apakah kita hidup berdasarkan diri sendiri atau berdasarkan Kristus.
Semua butir dari hukum Taurat baru ini menjamah manusia batiniah kita dan menaruh kita di atas salib. Tidak melawan orang yang jahat dan tidak membenci musuh kita, jelas menyalibkan ego kita. Semua hukum Taurat baru ini membunuh manusia alamiah kita, kegemaran alamiah kita, dan amarah kita. Semua hal yang secara tidak adil dilakukan orang terhadap kita, adalah untuk menyalibkan kita. Kalau kita bisa menerima dan menaati setiap pengaturan-Nya dalam lingkungan sekeliling kita, dalam setiap peristiwa yang kita alami, niscaya kita akan mengekspresikan kasih karunia dan kelapangan hati-Nya kepada semua orang di sekitar kita.
Mat. 5:44-48
Perbuatan benar umat kerajaan dalam hubungan mereka dengan sesama, akan menegaskan status mereka sebagai anak-anak Bapa yang di surga. Matius 5:45 mengatakan, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.” Sebutan “anak-anak Bapamu” adalah bukti kuat bahwa umat kerajaan yang mendengar dekrit Raja baru di atas gunung adalah kaum beriman Perjanjian Baru yang dilahirkan kembali. Sebagai anak-anak Bapa, kita harus memperlakukan orang yang jahat dan yang tidak benar sebagaimana kita memperlakukan orang yang baik dan yang benar (Mat. 5:45). Kita tidak hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi juga mengasihi orang yang tidak mengasihi kita (Mat. 5:46). Kita tidak hanya memberi salam kepada saudara kita, tetapi juga kepada orang lain (Mat. 5:47). Bapa kita adalah Dia “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:45).
Dalam Matius 5:46 Tuhan bertanya: “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” Melalui ayat ini tersirat bahwa umat kerajaan yang memelihara hukum Taurat baru kerajaan, akan diberi pahala dalam manifestasi kerajaan yang akan datang. Pahala ini adalah pahala kerajaan, upah yang ditambahkan di samping keselamatan kekal yang telah kita peroleh melalui percaya.
Matius 5:48 mengatakan, “Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga...” Bagi umat kerajaan, menjadi sempurna seperti Bapa Surgawi mereka yang adalah sempurna, berarti mereka sempurna dalam kasih-Nya. Permintaan hukum Taurat baru kerajaan jauh lebih tinggi daripada permintaan hukum Taurat yang lama. Permintaan yang lebih tinggi ini hanya dapat dipenuhi oleh hayat ilahi Bapa, bukan oleh hayat alamiah. Permintaan Kerajaan Surga adalah permintaan yang tertinggi, karena itu memerlukan hayat yang tertinggi untuk melakukannya. Yang perlu kita lakukan adalah bersandar kepada hayat ilahi Bapa di dalam kita, bersama Dia melakukan permintaan hukum Taurat baru kerajaan. Inilah jalan untuk menjadi sempurna.
Doa:
Ya Bapa, aku bersyukur atas hayat-Mu yang Kaulimpahkan ke dalamku, hayat ilahi yang penuh dengan kasih dan kemurahan, hayat yang bisa mengampuni segala kesalahan. Bapa, berilah aku kapasitas untuk mengasihi semua orang dan berdoa bagi mereka yang menganiaya aku. Ajarlah aku untuk hidup berdasarkan hayat-Mu.
Matius 5:43-44
Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
Orang yang baik patut mendapatkan kasih, sebaliknya orang yang memusuhi hanya patut dibenci. Setidaknya sikap inilah yang dimiliki oleh sebagian besar umat manusia di bumi hari ini. Namun hukum Taurat yang baru dalam Matius 5:44 menyuruh kita untuk mengasihi musuh kita. Mengapa kita bisa mengasihi orang yang baik? Karena ia baik menurut perasaan kita. Mengapa kita membenci orang yang memusuhi kita? Karena ia tidak sesuai dengan perasaan kita, bahkan membangkitkan amarah kita.
Mengasihi musuh merupakan suatu ujian. Jika Tuhan mengatur kita hanya bertemu dengan orang yang baik, maka kita akan berlaku seperti seorang malaikat dan berkata, “Tuhan, terima kasih kepada-Mu karena Engkau telah memberikan seorang saudara yang begitu menyenangkan.” Tetapi Tuhan biasanya mengizinkan kita bertemu dengan orang yang sangat menjengkelkan kita. Tuhan akan memakai mereka untuk menyingkapkan apa adanya kita. Tuhan mungkin bertanya kepada kita, apakah kita mengasihi sesama kita yang menyulitkan? Ini adalah salah satu ujian untuk membuktikan apakah kita hidup berdasarkan diri sendiri atau berdasarkan Kristus.
Semua butir dari hukum Taurat baru ini menjamah manusia batiniah kita dan menaruh kita di atas salib. Tidak melawan orang yang jahat dan tidak membenci musuh kita, jelas menyalibkan ego kita. Semua hukum Taurat baru ini membunuh manusia alamiah kita, kegemaran alamiah kita, dan amarah kita. Semua hal yang secara tidak adil dilakukan orang terhadap kita, adalah untuk menyalibkan kita. Kalau kita bisa menerima dan menaati setiap pengaturan-Nya dalam lingkungan sekeliling kita, dalam setiap peristiwa yang kita alami, niscaya kita akan mengekspresikan kasih karunia dan kelapangan hati-Nya kepada semua orang di sekitar kita.
Mat. 5:44-48
Perbuatan benar umat kerajaan dalam hubungan mereka dengan sesama, akan menegaskan status mereka sebagai anak-anak Bapa yang di surga. Matius 5:45 mengatakan, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.” Sebutan “anak-anak Bapamu” adalah bukti kuat bahwa umat kerajaan yang mendengar dekrit Raja baru di atas gunung adalah kaum beriman Perjanjian Baru yang dilahirkan kembali. Sebagai anak-anak Bapa, kita harus memperlakukan orang yang jahat dan yang tidak benar sebagaimana kita memperlakukan orang yang baik dan yang benar (Mat. 5:45). Kita tidak hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi juga mengasihi orang yang tidak mengasihi kita (Mat. 5:46). Kita tidak hanya memberi salam kepada saudara kita, tetapi juga kepada orang lain (Mat. 5:47). Bapa kita adalah Dia “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:45).
Dalam Matius 5:46 Tuhan bertanya: “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” Melalui ayat ini tersirat bahwa umat kerajaan yang memelihara hukum Taurat baru kerajaan, akan diberi pahala dalam manifestasi kerajaan yang akan datang. Pahala ini adalah pahala kerajaan, upah yang ditambahkan di samping keselamatan kekal yang telah kita peroleh melalui percaya.
Matius 5:48 mengatakan, “Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga...” Bagi umat kerajaan, menjadi sempurna seperti Bapa Surgawi mereka yang adalah sempurna, berarti mereka sempurna dalam kasih-Nya. Permintaan hukum Taurat baru kerajaan jauh lebih tinggi daripada permintaan hukum Taurat yang lama. Permintaan yang lebih tinggi ini hanya dapat dipenuhi oleh hayat ilahi Bapa, bukan oleh hayat alamiah. Permintaan Kerajaan Surga adalah permintaan yang tertinggi, karena itu memerlukan hayat yang tertinggi untuk melakukannya. Yang perlu kita lakukan adalah bersandar kepada hayat ilahi Bapa di dalam kita, bersama Dia melakukan permintaan hukum Taurat baru kerajaan. Inilah jalan untuk menjadi sempurna.
Doa:
Ya Bapa, aku bersyukur atas hayat-Mu yang Kaulimpahkan ke dalamku, hayat ilahi yang penuh dengan kasih dan kemurahan, hayat yang bisa mengampuni segala kesalahan. Bapa, berilah aku kapasitas untuk mengasihi semua orang dan berdoa bagi mereka yang menganiaya aku. Ajarlah aku untuk hidup berdasarkan hayat-Mu.
11 July 2007
Matius Volume 3 - Minggu 4 Kamis
Kelapangan Hati Berlawanan dengan Amarah
1 Petrus 3:9
Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.
Pada suatu kali, murid-murid berharap api turun dari langit untuk membinasakan orang-orang Samaria, sebab orang-orang Samaria itu menolak Tuhan. Tuhan lalu menegur mereka (Luk. 9:51-56). Ia menunjukkan kepada mereka bahwa mereka itu berhati kerdil. Orang yang berhati kerdil selalu ingin membalas perlakuan orang terhadapnya. Tuhan lalu berkata bahwa Anak Manusia datang bukan untuk membinasakan, melainkan untuk menyelamatkan. Tuhan ingin melatih kita menjadi orang yang lapang. Semua orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan adalah orang berhati kerdil. Karena itu Alkitab mengatakan, ”Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan” (Rm. 12:17). Paulus berkata, “Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah” (1 Kor. 4:12-13). Inilah teladan dari orang yang berhati lapang.
Tuhan Yesus memiliki hati yang lapang. Ketika Ia disalibkan, Ia berdoa bagi orang yang menyalibkan-Nya, ”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).Demikian pula Madame Guyon, tidak dendam dan benci kepada orang-orang yang menganiayanya, tetapi mengasihi mereka dan berdoa bagi mereka. Bisa memaafkan orang lain dan bisa memberkati orang yang mengutuk kita adalah masalah lapang hati. Hati kita harus lapang sedemikian rupa sehingga begitu orang yang bersalah kepada kita mengakui kesalahannya, kita bisa memaafkannya. Walau seseorang bermaksud menganiaya dan mencelakakan kita, kita tetap dapat mengasihinya, dan walaupun ia memusuhi kita, kita tetap bisa membiarkannya. Ini adalah masalah kelapangan hati. Orang yang lapang hati tidak menyimpan kesalahan orang lain dan tidak pemarah (1 Kor. 13:5). Ia bisa mengampuni orang tujuh puluh kali tujuh kali; ia bisa menutupi segala sesuatu (1 Kor. 13:7).
Mat. 5:42; Rm. 12:17; 1 Kor. 4:12-13; 13:5-7
Dalam hukum yang baru, Tuhan mengatakan bahwa kita tidak boleh melampiaskan amarah kita (Mat. 5:39-42). Bukan saja tidak boleh melampiaskan amarah, kita pun harus menanggulanginya. Yang perlu dibereskan bukannya orang yang meminta sesuatu kepada kita, melainkan amarah kita. Yang menjadi sumber masalah bukan lawan kita, tapi amarah kita. Tuhan mengizinkan seseorang memaksa kita berjalan sejauh satu mil sebagai suatu ujian untuk menyingkapkan watak kita yang asli, untuk membuktikan bahwa amarah kita masih bercokol di dalam kita. Jangan mengira bahwa karena kita cukup rohani, maka kita tidak lagi memiliki amarah. Di dalam kita sebagai umat kerajaan, amarah itu mungkin masih dengan kuatnya bercokol di dalam kita. Demi kebaikan kita, watak asli kita perlu disingkapkan.
Dalam Matius 5:42 Tuhan mengatakan, “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu.” Memberi kepada orang yang meminta dan tidak menolak orang yang mau meminjam membuktikan bahwa umat kerajaan tidak mementingkan barang materi dan tidak dikuasai oleh barang itu. Memberi kepada yang meminta atau yang ingin meminjam akan menyingkapkan watak kita. Tuhan tidak berkata bahwa kita boleh dengan sembarangan memperlakukan harta duniawi kita, tetapi hidup kita harus melampaui benda-benda materi maupun amarah kita. Jangan membiarkan amarah kita terprovokasi oleh benda-benda materi. Inilah sikap yang harus dimiliki oleh umat kerajaan pemenang. Tidak ada satu perlakuan apa pun yang dapat membangkitkan amarah umat pemenang.
Hukum Taurat lama tidak menyinggung masalah amarah atau watak alamiah seseorang. Tetapi hukum Taurat baru, hukum Taurat yang telah diubah, menerangi, menyingkapkan, dan menanggulangi baik amarah maupun keadaan hati kita yang sesungguhnya. Ketika kita membaca bagian ini, mungkin kita akan mengatakan bahwa kita tidak sanggup melakukan permintaan dari hukum Taurat baru Kerajaan Surga. Namun, ketahuilah bahwa sebenarnya hal ini tidak bergantung pada masalah sanggup atau tidaknya kita, melainkan bergantung pada mau tidaknya kita melakukannya.
Doa:
Lapangkanlah hatiku, ya Tuhan, agar aku tidak hanya memikirkan kepentinganku sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain. Singkirkanlah ego, amarah, dan kesombongan yang bercokol di dalamku sehingga aku dapat terbangun dengan semua kaum beriman di sekelilingku. Jadikanlah aku berkat bagi saudara-saudaraku seiman.
1 Petrus 3:9
Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.
Pada suatu kali, murid-murid berharap api turun dari langit untuk membinasakan orang-orang Samaria, sebab orang-orang Samaria itu menolak Tuhan. Tuhan lalu menegur mereka (Luk. 9:51-56). Ia menunjukkan kepada mereka bahwa mereka itu berhati kerdil. Orang yang berhati kerdil selalu ingin membalas perlakuan orang terhadapnya. Tuhan lalu berkata bahwa Anak Manusia datang bukan untuk membinasakan, melainkan untuk menyelamatkan. Tuhan ingin melatih kita menjadi orang yang lapang. Semua orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan adalah orang berhati kerdil. Karena itu Alkitab mengatakan, ”Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan” (Rm. 12:17). Paulus berkata, “Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah” (1 Kor. 4:12-13). Inilah teladan dari orang yang berhati lapang.
Tuhan Yesus memiliki hati yang lapang. Ketika Ia disalibkan, Ia berdoa bagi orang yang menyalibkan-Nya, ”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).Demikian pula Madame Guyon, tidak dendam dan benci kepada orang-orang yang menganiayanya, tetapi mengasihi mereka dan berdoa bagi mereka. Bisa memaafkan orang lain dan bisa memberkati orang yang mengutuk kita adalah masalah lapang hati. Hati kita harus lapang sedemikian rupa sehingga begitu orang yang bersalah kepada kita mengakui kesalahannya, kita bisa memaafkannya. Walau seseorang bermaksud menganiaya dan mencelakakan kita, kita tetap dapat mengasihinya, dan walaupun ia memusuhi kita, kita tetap bisa membiarkannya. Ini adalah masalah kelapangan hati. Orang yang lapang hati tidak menyimpan kesalahan orang lain dan tidak pemarah (1 Kor. 13:5). Ia bisa mengampuni orang tujuh puluh kali tujuh kali; ia bisa menutupi segala sesuatu (1 Kor. 13:7).
Mat. 5:42; Rm. 12:17; 1 Kor. 4:12-13; 13:5-7
Dalam hukum yang baru, Tuhan mengatakan bahwa kita tidak boleh melampiaskan amarah kita (Mat. 5:39-42). Bukan saja tidak boleh melampiaskan amarah, kita pun harus menanggulanginya. Yang perlu dibereskan bukannya orang yang meminta sesuatu kepada kita, melainkan amarah kita. Yang menjadi sumber masalah bukan lawan kita, tapi amarah kita. Tuhan mengizinkan seseorang memaksa kita berjalan sejauh satu mil sebagai suatu ujian untuk menyingkapkan watak kita yang asli, untuk membuktikan bahwa amarah kita masih bercokol di dalam kita. Jangan mengira bahwa karena kita cukup rohani, maka kita tidak lagi memiliki amarah. Di dalam kita sebagai umat kerajaan, amarah itu mungkin masih dengan kuatnya bercokol di dalam kita. Demi kebaikan kita, watak asli kita perlu disingkapkan.
Dalam Matius 5:42 Tuhan mengatakan, “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu.” Memberi kepada orang yang meminta dan tidak menolak orang yang mau meminjam membuktikan bahwa umat kerajaan tidak mementingkan barang materi dan tidak dikuasai oleh barang itu. Memberi kepada yang meminta atau yang ingin meminjam akan menyingkapkan watak kita. Tuhan tidak berkata bahwa kita boleh dengan sembarangan memperlakukan harta duniawi kita, tetapi hidup kita harus melampaui benda-benda materi maupun amarah kita. Jangan membiarkan amarah kita terprovokasi oleh benda-benda materi. Inilah sikap yang harus dimiliki oleh umat kerajaan pemenang. Tidak ada satu perlakuan apa pun yang dapat membangkitkan amarah umat pemenang.
Hukum Taurat lama tidak menyinggung masalah amarah atau watak alamiah seseorang. Tetapi hukum Taurat baru, hukum Taurat yang telah diubah, menerangi, menyingkapkan, dan menanggulangi baik amarah maupun keadaan hati kita yang sesungguhnya. Ketika kita membaca bagian ini, mungkin kita akan mengatakan bahwa kita tidak sanggup melakukan permintaan dari hukum Taurat baru Kerajaan Surga. Namun, ketahuilah bahwa sebenarnya hal ini tidak bergantung pada masalah sanggup atau tidaknya kita, melainkan bergantung pada mau tidaknya kita melakukannya.
Doa:
Lapangkanlah hatiku, ya Tuhan, agar aku tidak hanya memikirkan kepentinganku sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain. Singkirkanlah ego, amarah, dan kesombongan yang bercokol di dalamku sehingga aku dapat terbangun dengan semua kaum beriman di sekelilingku. Jadikanlah aku berkat bagi saudara-saudaraku seiman.
10 July 2007
Matius Volume 3 - Minggu 4 Rabu
Menanggulangi Dusta
Matius 5:34-35a
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya.
Seorang gadis kecil menghampiri ibunya dan bertanya,”Manakah yang lebih buruk, Mama, berdusta ataukah mencuri?” Ibunya menjawab bahwa keduanya adalah dosa. Gadis kecil itu pun membenarkan jawaban ibunya. Tidak lama, ia berkata lagi, “Mama, menurutku berdusta itu jauh lebih buruk daripada mencuri.” “Mengapa demikian, anakku?” tanya ibunya. “Kalau seseorang mencuri suatu barang, ia dapat mengembalikannya atau menggantinya dengan sejumah uang; tetapi dusta itu selamanya.” Pendapat gadis kecil itu ada benarnya. Perkataan yang sudah terucap keluar tidak mungkin dapat ditarik kembali. Mustahil seseorang dapat menarik kembali perkataannya. Perkataan merupakan suatu masalah yang serius.
Dalam Matius 5:37, Tuhan mengatakan, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” Umat kerajaan tidak perlu bersumpah. Perkataan kita haruslah sederhana dan benar: Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak. Ketika kita mengatakan kata-kata yang berlebihan dari yang diperlukan, kata-kata itu bukan berasal dari kita, melainkan dari si jahat.
Dalam hubungan kita dengan orang lain, mungkin kita tidak banyak bicara. Namun dalam kehidupan pernikahan, antara suami dan istri mudah sekali berbicara berlebihan. Akibatnya, banyak masalah kemudian muncul. Oleh karena itu, biarlah kita belajar membatasi tutur kata kita. Si jahat selalu mencari kesempatan untuk mengekspresikan dirinya melalui pembicaraan kita yang berlebihan. Karena itu, jangan terlalu banyak bicara. Katakanlah sebanyak yang diperlukan dan jangan menyimpang jauh dari perkataan yang sehat. Kita perlu berdoa seperti pemazmur “Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu” (Mzm. 120:1-2).
Mat. 5:12, 34-37; 12:36-37; Mzm. 120:1-2
Yakobus 5:12 mengatakan, “Tetapi yang terutama, Saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi surga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.” Kita tidak seharusnya bersumpah, karena kita bukanlah apa-apa dan tidak ada sesuatu pun yang berada di bawah kendali kita atau tergantung pada kita (Mat. 5:34-36). Bersumpah memperlihatkan bahwa kita bertindak berdasarkan diri sendiri dan melupakan Allah. Kita mengatakan, “Ya”, jika ya, dan mengatakan, “Tidak”, jika tidak, merupakan tindakan yang seturut dengan sifat ilahi Allah di dalam kita. Kita perlu belajar berbicara dalam kesadaran di hadapan Allah, menyangkal kehendak diri sendiri dan sifat dosa kita.
Apa yang dikatakan Yakobus dalam ayat ini mengingatkan kita kepada perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 5:37, “ Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” Perkataan kita harus sederhana dan benar. Kita tidak seharusnya mencoba meyakinkan orang lain dengan banyaknya kata-kata.
Dalam Matius 12:36-37 Tuhan berkata, “Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum. “ Kata Yunani untuk “sia-sia” adalah “argos”, tersusun atas dua kata: a berarti tidak dan ergon berarti pekerjaan. Perkataan yang sia-sia adalah perkataan yang tidak bekerja, tidak berfungsi, tidak berfaedah, tidak memiliki kegunaan yang positif, tidak berguna, tidak membangun, tidak menguntungkan, tidak menghasilkan sesuatu, dan kosong. Orang yang mengucapkan perkataan semacam itu harus mempertanggungjawabkannya satu persatu kelak pada hari penghakiman. Kita harus melihat bahwa seluruh dunia dipenuhi dengan perkataan yang sia-sia. Semua perkataan semacam itu dapat “membunuh” kerohanian kita. Bahkan di kalangan anak-anak kita yang masih kecil pun terdapat banyak perkataan yang sia-sia. Menyadari hal ini, marilah kita mulai sekarang belajar mengekang dan membatasi perkataan kita.
Doa:
Ya Tuhan, terangilah aku dalam hal tutur kataku, sehingga aku diselamatkan dari kematian rohani, dari banyak kesulitan di kemudian hari, dan dari dosa. Tuhan, pakailah aku sebagai pelayan-Mu yang jujur, yang melayani di atas jalan yang lurus. Singkirkanlah penyakit dusta di dalamku sampai ke akar-akarnya. Aku mau berguna di tangan-Mu.
Matius 5:34-35a
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya.
Seorang gadis kecil menghampiri ibunya dan bertanya,”Manakah yang lebih buruk, Mama, berdusta ataukah mencuri?” Ibunya menjawab bahwa keduanya adalah dosa. Gadis kecil itu pun membenarkan jawaban ibunya. Tidak lama, ia berkata lagi, “Mama, menurutku berdusta itu jauh lebih buruk daripada mencuri.” “Mengapa demikian, anakku?” tanya ibunya. “Kalau seseorang mencuri suatu barang, ia dapat mengembalikannya atau menggantinya dengan sejumah uang; tetapi dusta itu selamanya.” Pendapat gadis kecil itu ada benarnya. Perkataan yang sudah terucap keluar tidak mungkin dapat ditarik kembali. Mustahil seseorang dapat menarik kembali perkataannya. Perkataan merupakan suatu masalah yang serius.
Dalam Matius 5:37, Tuhan mengatakan, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” Umat kerajaan tidak perlu bersumpah. Perkataan kita haruslah sederhana dan benar: Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak. Ketika kita mengatakan kata-kata yang berlebihan dari yang diperlukan, kata-kata itu bukan berasal dari kita, melainkan dari si jahat.
Dalam hubungan kita dengan orang lain, mungkin kita tidak banyak bicara. Namun dalam kehidupan pernikahan, antara suami dan istri mudah sekali berbicara berlebihan. Akibatnya, banyak masalah kemudian muncul. Oleh karena itu, biarlah kita belajar membatasi tutur kata kita. Si jahat selalu mencari kesempatan untuk mengekspresikan dirinya melalui pembicaraan kita yang berlebihan. Karena itu, jangan terlalu banyak bicara. Katakanlah sebanyak yang diperlukan dan jangan menyimpang jauh dari perkataan yang sehat. Kita perlu berdoa seperti pemazmur “Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu” (Mzm. 120:1-2).
Mat. 5:12, 34-37; 12:36-37; Mzm. 120:1-2
Yakobus 5:12 mengatakan, “Tetapi yang terutama, Saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi surga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.” Kita tidak seharusnya bersumpah, karena kita bukanlah apa-apa dan tidak ada sesuatu pun yang berada di bawah kendali kita atau tergantung pada kita (Mat. 5:34-36). Bersumpah memperlihatkan bahwa kita bertindak berdasarkan diri sendiri dan melupakan Allah. Kita mengatakan, “Ya”, jika ya, dan mengatakan, “Tidak”, jika tidak, merupakan tindakan yang seturut dengan sifat ilahi Allah di dalam kita. Kita perlu belajar berbicara dalam kesadaran di hadapan Allah, menyangkal kehendak diri sendiri dan sifat dosa kita.
Apa yang dikatakan Yakobus dalam ayat ini mengingatkan kita kepada perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 5:37, “ Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” Perkataan kita harus sederhana dan benar. Kita tidak seharusnya mencoba meyakinkan orang lain dengan banyaknya kata-kata.
Dalam Matius 12:36-37 Tuhan berkata, “Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum. “ Kata Yunani untuk “sia-sia” adalah “argos”, tersusun atas dua kata: a berarti tidak dan ergon berarti pekerjaan. Perkataan yang sia-sia adalah perkataan yang tidak bekerja, tidak berfungsi, tidak berfaedah, tidak memiliki kegunaan yang positif, tidak berguna, tidak membangun, tidak menguntungkan, tidak menghasilkan sesuatu, dan kosong. Orang yang mengucapkan perkataan semacam itu harus mempertanggungjawabkannya satu persatu kelak pada hari penghakiman. Kita harus melihat bahwa seluruh dunia dipenuhi dengan perkataan yang sia-sia. Semua perkataan semacam itu dapat “membunuh” kerohanian kita. Bahkan di kalangan anak-anak kita yang masih kecil pun terdapat banyak perkataan yang sia-sia. Menyadari hal ini, marilah kita mulai sekarang belajar mengekang dan membatasi perkataan kita.
Doa:
Ya Tuhan, terangilah aku dalam hal tutur kataku, sehingga aku diselamatkan dari kematian rohani, dari banyak kesulitan di kemudian hari, dan dari dosa. Tuhan, pakailah aku sebagai pelayan-Mu yang jujur, yang melayani di atas jalan yang lurus. Singkirkanlah penyakit dusta di dalamku sampai ke akar-akarnya. Aku mau berguna di tangan-Mu.
Subscribe to:
Posts (Atom)