Hitstat

22 March 2014

Filipi - Minggu 30 Sabtu



Pembacaan Alkitab: Flp. 4:10-12


Dalam berita terdahulu kita menunjukkan bahwa sukacita dan kecukupan merupakan dua unsur yang menghasilkan kebaikan hati. Hanya orang yang gembira dan merasa cukup baru dapat baik hati. Sebaliknya, orang yang resah dan tidak merasa cukup, mudah jengkel dan tersinggung. Karena Paulus penuh dengan kegembiraan dan kecukupan, maka ia tidak ada kekhawatiran, melainkan kaya dengan kebaikan hati.

Kita tahu dari perkataan Paulus dalam 4:10-12, setidak-tidaknya ada sejangka waktu ia kekurangan suplai. Namun ia dapat bersaksi, “Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Ia dapat berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal aku telah belajar rahasianya; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan, maupun dalam keadaan berkekurangan” (Tl.). Karena Paulus telah mempelajari rahasianya, maka ia dapat mencukupkan diri, dan sebagai akibatnya, ia memiliki kebaikan hati yang berlimpah.

Jika kita ingin memiliki suatu kehidupan yang bebas dari kekhawatiran, perlulah kita menyadari bahwa segala keadaan lingkungan kita, baik atau buruk, telah diatur dan ditetapkan oleh Allah. Kita perlu memiliki pemahaman ini dengan keyakinan penuh. Misalkan, seorang saudara adalah seorang saudagar. Mungkin perdagangannya maju sehingga ia memperoleh banyak uang. Kemudian usahanya mungkin jatuh dan ia mungkin menderita kerugian lebih banyak daripada yang dia dapatkan. Baik memperoleh keuntungan atau rugi semuanya adalah pengaturan dan penetapan Allah baginya. Jika saudara ini berkeyakinan penuh bahwa keadaan lingkungannya berasal dari pengaturan dan penetapan Allah, ia akan dapat menyembah Allah atas pengaturan dan penetapan-Nya. Boleh jadi kerugiannya lebih berfaedah baginya daripada keuntungannya, sebab melalui kerugian itu ia akan disempurnakan dan dibangunkan.

Syarat pertama untuk tidak khawatir ialah berkeyakinan penuh bahwa segala penderitaan yang kita alami adalah pengaturan dan penetapan Allah. Untuk apa kita khawatir terhadap hal-hal itu? Allah telah mengatur dan menetapkan semuanya itu bagi kita. Dia tahu kita memerlukan apa.

Ketika saya masih sangat muda, saya membaca sebuah cerita tentang percakapan antara dua ekor burung gereja yang membicarakan soal kesedihan dan kekhawatiran yang biasa terjadi di antara manusia. Salah satu burung gereja itu bertanya kepada temannya mengapa manusia begitu sering khawatir. Temannya itu menjawab, “Aku kira mereka tidak mempunyai seorang Bapa yang memperhatikan mereka seperti yang kita miliki. Kita tidak perlu khawatir tentang apa pun sebab Bapa kita memperhatikan kita.” Ya, Bapa kita memang memperhatikan kita. Tetapi kadangkala Ia mengirimkan kesukaran dan penderitaan kepada kita supaya kita memenuhi takdir kita untuk memperbesar Kristus. Kita dapat bebas dari kekhawatiran bukan karena Allah menjanjikan suatu kehidupan yang tanpa penderitaan, melainkan karena kita tahu bahwa semua keadaan lingkungan kita adalah diatur dan ditetapkan oleh Allah. Paulus tidak memperhatikan hidup atau mati, ia hanya memperhatikan diperbesarnya Kristus di dalam dirinya. Ia memahami bahwa setiap keadaan berfaedah baginya. Inilah cara untuk tidak khawatir.


Sumber: Pelajaran-Hayat Filipi, Buku 3, Berita 60

No comments: