Hitstat

20 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 1 Sabtu

Makhluk (Jiwa) Yang Hidup
Kejadian 2:7
“Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk (jiwa - TL.) yang hidup.”

Dari ayat di atas, kita tahu bahwa manusia juga memiliki jiwa. Jiwa adalah kesadaran diri seseorang. Manusia dapat merasakan eksistensi dirinya sendiri, karena adanya fungsi jiwa. Jiwa tak lain adalah organ kepribadian manusia dan menjadi pusat kepribadian manusia. Itulah sebabnya, Alkitab sering menyebut manusia sebagai “jiwa” (Kej. 46:27).
Ada tiga unsur utama dalam jiwa seorang manusia, yaitu: tekad, pikiran, dan emosi. Tekad ialah untuk memberi keputusan, yakni daya pemastian kita yang menyatakan mau atau tidak. Tanpa tekad, manusia akan menjadi sebuah mesin. Pikiran adalah untuk menerbitkan angan-angan (pemikiran), yaitu intelek, kepandaian kita, pengetahuan serta segala yang menggunakan hati, berasal dari pikiran ini. Tanpa pikiran, manusia akan menjadi bodoh. Emosi ialah untuk menimbulkan rasa suka, benci, dan perasaan manusia. Kita bisa mengasihi, membenci, suka, duka, marah, atau sedih, semua itu adalah fungsi emosi. Tanpa emosi, manusia akan seperti kayu atau batu, tanpa perasaan.
Jiwa boleh dikatakan adalah majikan dari diri seseorang, sebab tekad manusia merupakan salah satu bagian dari jiwa. Menurut pengaturan Allah, rohlah yang tertinggi, ia seharusnya memerintah seluruh diri manusia. Namun tekad — bagian penting dari kepribadian manusia — adalah milik jiwa. Tekad manusia (jiwa) memiliki hak penuh untuk berkuasa sendiri, untuk menentukan mana yang harus memerintah — roh, tubuh, ataukah egonya sendiri. Karena jiwa demikian berkuasa, menjadi organ kepribadian seorang manusia, maka Alkitab menyebut manusia sebagai “satu jiwa yang hidup”.

Membedakan Roh dan Jiwa
1 Tes. 5:23; Ibr. 4:12

Satu Tesalonika 5:23 mengatakan, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, (dan—TL.) jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Ayat ini menjelaskan adanya perbedaan antara roh dengan jiwa. Jika tidak, tentu tidak dikatakan “roh dan jiwa,” melainkan cukup dengan “jiwa” saja.
Apa konsekuensi dari membedakan roh dengan jiwa? Konsekuensinya sangat besar, sebab hal ini sangat mempengaruhi kehidupan rohani orang Kristen. Jika orang Kristen tidak mengetahui sampai di mana batasan roh, bagaimana ia dapat memahami kehidupan rohani? Jika tak dapat memahami, bagaimana bisa memiliki kehidupan rohani yang bertumbuh? Karena orang beriman tidak membedakan atau tidak tahu bagaimana membedakan roh dengan jiwa, maka kerohaniannya tak dapat bertumbuh besar dan mencapai kedewasaan. Tambahan pula, ia akan sering keliru, mengira yang jiwani itu rohani, sehingga akan berlarut-larut tinggal dalam kehidupan yang jiwani, tanpa menuntut yang rohani. Jika kita mencampur-aduk yang dipisahkan Allah, kita akan dirugikan.
Dalam kehidupan rohani, pengetahuan rohani sangat besar pengaruhnya. Namun selain itu ada satu hal yang terpenting, yakni apakah kita mau merendahkan hati dan menerima pengajaran Roh Kudus. Jika mau, Roh Kudus akan memberikan pengalaman membedakan roh dengan jiwa kepada kita, walaupun kita belum tentu memiliki pengetahuan atas kebenaran tersebut. Jadi, mungkin saja kita sama sekali tak berpengetahuan dalam hal membedakan roh dengan jiwa, namun kita memiliki pengalaman membedakan keduanya; sebaliknya, mungkin saja kita mengetahui sepenuhnya tentang kebenaran perbedaan roh dengan jiwa, tetapi kita sama sekali tidak pernah mengalaminya. Jadi yang paling baik ialah tidak hanya memiliki pengetahuannya, tetapi juga memiliki pengalamannya.
Allah telah menetapkan agar setiap orang Kristen harus bertindak menurut roh. Orang Kristen tidak seharusnya bertindak menurut jiwa, artinya ia tidak seharusnya bertindak menurut angan-angan, perasaan, dan kegemaran diri sendiri, sebab semuanya itu milik jiwa. Kita harus menyadari bahwa segala sesuatu yang berasal dari jiwa adalah milik ciptaan lama dan sama sekali tidak bernilai rohani.
Bagaimanakah bertindak menurut roh? Kita perlu memperhatikan dan menaati ketiga bagian dari roh kita, hati nurani, persekutuan, dan intuisi.

Penerapan:
Khususnya dalam mengambil keputusan, kebanyakan orang hanya memikirkan keuntungannya sendiri. Belajarlah untuk terlebih dahulu mengingat Tuhan, bertanyalah kepada Tuhan, mana yang Tuhan perkenan sehingga keputusan yang kita buat bisa serasi dengan isi hati-Nya.

Pokok Doa:
Tuhan, aku manusia yang jatuh, suka memberontak, dan tidak tunduk kepada-Mu. Tuhan taklukkan tekadku, agar rohlah yang memerintah seluruh diriku. Ingatkan aku ketika aku tidak hidup dengan rohku.

19 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 1 Jumat

Roh Manusia —Haus Akan Allah
Kejadian 2:7
“Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk (jiwa—TL.) yang hidup.”

Pada saat Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia, Kitab Kejadian 2:7 mengatakan, “... manusia itu menjadi makhluk (jiwa—TL.) yang hidup”. Dengan kata lain, begitu nafas hidup itu berkontak dengan tubuh manusia, dihasilkanlah jiwa. Jiwa merupakan hasil berpadunya roh dengan tubuh, karenanya Alkitab menyebut manusia “jiwa yang hidup”.
Jadi, manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu roh, jiwa, dan tubuh (dari debu tanah). Itulah sebabnya manusia mempunyai tiga jenis keperluan — keperluan jasmani, keperluan jiwa (psikologi), dan keperluan rohani. Semua orang berusaha mencari uang, pertama-tama tentu untuk memenuhi keperluan jasmani. Begitu keperluan jasmani terpenuhi, kita mulai menginginkan musik, olahraga, dan hiburan-hiburan. Semua itu adalah untuk memuaskan keperluan jiwa. Namun, walaupun kita bisa memperoleh berbagai macam hiburan, batin kita tetap masih merasakan kehampaan, masih merasa kekurangan sesuatu. Ada sesuatu di batin kita yang terdalam yang terus meminta, bahkan mendesak. Apakah itu? Itulah roh kita. Roh kita memerlukan Allah. Hanya Allah yang bisa memuaskan roh kita!
Dunia, masyarakat pada umumnya, hanya memperhatikan bagaimana caranya memenuhi keperluan jasmani dan keperluan jiwa (mereka menyebutnya keperluan rohani). Mereka benar-benar mengabaikan keperluan rohani yang sebenarnya, yaitu keperluan akan diri Allah sendiri. Inilah sebabnya gereja ada di sini, karena hanya gereja yang bisa menolong orang-orang untuk memenuhi kebutuhan rohaninya.

Bertindak Menurut Roh - Tiga Bagian Roh
Kej. 2:7; Zak. 12:1; Yoh. 4:24; Yoh. 3:6; 1 Kor. 6:17; 2 Tim. 4:22; Rm. 8:4b

Telah kita lihat berkali-kali bahwa roh manusia adalah bagian terdalam manusia yang memiliki fungsi untuk berkontak dengan Allah, menerima Allah, menampung Allah, dan mengasimilasi Allah ke dalam seluruh dirinya sebagai hayatnya dan segala sesuatunya. Roh manusia ini secara khusus dibentuk oleh Allah dan kedudukannya tidak kalah pentingnya dengan langit dan bumi. Hal ini dinyatakan dalam Zakharia 12:1 yang berbunyi, “Demikianlah firman Tuhan yang membentangkan langit dan yang meletakkan dasar bumi dan yang menciptakan roh dalam diri manusia”. Roh manusia adalah untuk manusia menyembah Allah (Yoh. 4:24), dilahirkan kembali oleh Allah (Yoh. 3:6b), disatukan dengan Allah (1 Kor. 6:17; 2 Tim. 4:22), sehingga manusia boleh berjalan dan hidup dalam kesatuan dengan Allah (Rm. 8:4b) untuk menggenapkan tujuan Allah.
Mengetahui bahwa diri kita mempunyai roh adalah perkara yang paling penting bagi seorang Kristen. Sebab segala persekutuan antara Allah dan manusia terjadi di dalam roh. Jika seorang Kristen tidak tahu apa yang dimaksud dengan rohnya sendiri, ia pun tidak tahu bagaimana bersekutu dengan Allah di dalam roh, bahkan akan keliru, yakni menggantikan pekerjaan roh dengan pikiran atau emosi yang berasal dari jiwa, sehingga ia selalu menjadi orang yang jiwani, tak dapat mencapai lingkungan dunia rohani.
Dalam roh manusia, ada tiga fungsi: hati nurani, memampukan manusia untuk membedakan apa yang dibenarkan Allah dan apa yang dihakimi Allah (Rm. 9:1); persekutuan, membuat manusia dapat berkontak dengan Allah, menyembah Allah (Yoh. 4:24; Ef. 6:18a; Rm. 1:9); dan intuisi, memberi manusia perasaan langsung dan pengetahuan langsung dari Allah (Mrk. 2:8; 1 Kor. 2:11).
Fungsi hati nurani bukan bersandar pada pengaruh pengetahuan pikiran, melainkan suatu keputusan yang timbul secara alami dan spontan. Sering kali sekali pun perkara-perkara tertentu telah diterima oleh akal, namun hati nurani tetap menyatakan keputusannya sendiri. Fungsi hati nurani ini beroperasi secara berdiri sendiri, langsung, tanpa terpengaruh oleh opini-opini dari pihak luar. Bila seseorang berbuat salah, hati nuraninya akan segera menuduhnya.
Intuisi pun adalah perasaan-perasaan dalam batin kita yang muncul di luar bantuan pikiran, emosi, dan tekad. Pengetahuan orang Kristen terhadap segala wahyu Allah dan pekerjaan Roh Kudus berasal dari intuisi ini.
Bisikan-bisikan hati nurani dan petunjuk-petunjuk intuisi itulah yang seharusnya ditaati oleh setiap orang Kristen. Selain itu kita juga perlu membina persekutuan dengan Allah. Itulah yang dimaksud bertindak menurut roh.

Penerapan:
Ketika mengejar sesuatu, entah itu benda, perkara, atau lainnya, renungkanlah apakah yang kita kejar benar-benar keperluan kita. Berserulah kepada Tuhan dengan hati yang tulus supaya Dia mewahyukan keperluan kita yang sesungguhnya. Rasakanlah bagaimana pimpinan-Nya.

Pokok Doa:
Tuhan, selama ini aku hanya mengejar keinginanku. Aku merasa hampa, karena aku kurang diisi oleh Engkau sebagai keperluanku yang sesungguhnya. Ya, aku perlu diri-Mu.

18 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 1 Kamis

Menghembuskan Nafas Hidup
Kejadian 2:7
“Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Istilah “nafas” dalam Kejadian 2:7 bahasa Ibraninya adalah neshamah. Istilah yang sama dalam Amsal 20:27 diterjemahkan sebagai “roh”. Ini menunjukkan bahwa nafas hidup yang dihembuskan ke dalam tubuh manusia menjadi roh; roh manusia (bd. Ayb. 32:8). Nafas hidup yang dihembuskan ke dalam lubang hidung manusia bukan hayat kekal Allah, juga bukan Roh Allah. Manusia belum menerima Roh Allah sampai Tuhan Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada murid-murid-Nya pada hari kebangkitan-Nya (Yoh. 20:22). Namun, karena roh manusia berasal dari nafas hidup Allah, maka ia sangat dekat dengan Roh Allah. Itulah sebabnya, bisa ada aliran antara Allah sang Roh dengan roh manusia dan roh manusia bisa berkontak dengan Allah dan menjadi satu dengan Allah (Rm. 8:16; 1 Kor. 6:17).
Untuk melakukan sesuatu, kita perlu organ yang tepat. Adalah hal yang tidak mungkin untuk mewujudkan suara tanpa organ pendengaran. Jika kita kehilangan fungsi telinga kita, maka suara-suara di sekitar kita tidak akan terdengar, karena kita tidak mempunyai organ yang tepat untuk mewujudkan suara-suara itu. Ini menjelaskan mengapa orang yang tidak percaya Tuhan mengatakan tidak ada Allah. Ini dikarenakan mereka kehilangan fungsi roh mereka. Orang yang kehilangan fungsi rohnya, tidak dapat berkontak dengan Allah, karena Allah adalah rohani adanya. Kita memerlukan organ yang tepat untuk berkontak dengan Allah dan organ itu adalah roh kita. Tuhan Yesus mengatakan dalam Yoh. 4:24 bahwa “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran”.

Manusia Adalah Wadah Untuk Diisi Allah
Kej. 1:26; Yoh. 4:24; Rm. 9:21, 23

Kejadian 1:26 memberi tahu kita bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Dengan kata lain, manusia adalah copy Allah. Sekarang kita perlu bertanya mengapa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, membuat manusia sebagai copy diri-Nya dan mengapa Allah menciptakan manusia dengan memiliki roh?
Yohanes 4:24 memberi tahu kita bahwa Allah adalah Roh dan kita harus menyembah-Nya dalam roh. Hanya roh yang dapat menyembah Roh. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya serta memiliki roh untuk menyembah dan mengontaki Dia.
Selain itu, Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya karena Dia bermaksud untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam manusia. Sebuah wadah selalu dibuat menurut bentuk isinya. Wadah yang bundar untuk diisi barang yang bundar. Sementara wadah persegi untuk diisi barang yang persegi. Alah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dengan maksud agar manusia menjadi wadah-Nya untuk diisi diri-Nya. Dalam Roma 9:21, 23, Paulus juga menegaskan hal ini.
Di sekeliling kita ada banyak gelombang yang tidak kelihatan. Di dalam gelombang yang tidak kelihatan itu ada musik Jepang, musik Itali, dan lain-lain. Tetapi untuk menerima musik-musik itu, kita perlu alat penerima yang ada di dalam radio. Sama seperti gelombang yang tidak kelihatan, demikian pula Allah sang Roh. Dan sama seperti radio, manusia juga memiliki alat penerima untuk menerima Allah yang tidak terlihat. Kita dapat melatih roh kita, untuk menerima transmisi ilahi yang surgawi dari Allah Tritunggal yang ajaib. Ketika menyanyi bagi Allah, berdoa, dan menyeru nama Tuhan, dengan menggunakan roh kita, maka “gelombang surgawi” masuk ke dalam kita dan membuat kita “tergila-gila” dengan kenikmatan akan Kristus. Jadi, kita diciptakan adalah untuk berkontak dengan Allah dan menerima Dia menjadi isi dan segala kita.
Kita telah mempelajari banyak hal, misalnya belajar mengasihi sesama, istri belajar tunduk kepada suami, suami belajar mengasihi istri, anak belajar menghormati orang tua, orang tua belajar agar tidak membangkitkan amarah anak, hamba belajar setia, dan majikan belajar baik hati. Namun, seringkali kita menemui kegagalan. Apa yang kita benci justru yang kita perbuat. Maka sekarang kita perlu belajar untuk diisi Allah. Ini luar biasa! Kita semua perlu memproklamirkan, “Saya adalah wadah Allah”. Allah yang adalah kasih, terang, kudus, dan kebenaran, mau menjadi isi kita! Bila kita sepenuhnya terisi oleh Allah, maka dengan sendirinya semua atribut Allah itu akan tertampil melalui kita, sehingga perintah Tuhan bisa diwujudkan di atas diri kita dengan mudah.

Penerapan:
Pada saat berdoa, kita bukan hanya perlu menggunakan pikiran kita, lebih-lebih kita harus melatih bagian terdalam dari diri kita, yaitu roh kita untuk berkontak dengan Allah sang Roh. Demikian juga pada saat membaca Alkitab, jangan menggunakan pertimbangan-pertimbangan kita saja, karena semakin mempertimbangkan, semakin kita jauh dari Allah. Kita perlu melatih roh kita untuk berkontak dengan Dia dan menerima wahyu dari-Nya.

Pokok Doa:
Tuhan, aku bersyukur pada-Mu karena aku memiliki roh yang diciptakan oleh-Mu. Dengan rohku, aku menerima diri-Mu. Pimpin setiap langkahku sepanjang hari ini untuk selalu berkontak dengan-Mu di dalam roh, sehingga aku mendapatkan diri-Mu lebih banyak lagi.

17 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 1 Rabu

Dari Debu Tanah (1)
Kejadian 2:7a
“Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah.”

Allah membentuk tubuh manusia dari debu tanah sehingga manusia mempunyai tubuh sebagai pernyataan lahir dan sebagai organ untuk berhubungan dengan benda-benda material. Allah membuat manusia dari debu tanah, bukan dari batu cadas. Batu cadas tidak dapat menumbuhkan hayat. Jika kita menaburkan benih ke atas batu cadas, kita akan menyia-nyiakan benih itu. Tetapi debu tanah sanggup menumbuhkan hayat. Jika kita menaburkan benih ke atas tanah, niscaya benih itu akan tumbuh. Kita bukan manusia batu, kita adalah manusia dari debu tanah. Haleluya!
Ketika memandangi diri sendiri melalui cermin, makin lama kita memandangi diri sendiri, makin yakinlah kita bahwa kita diciptakan oleh Allah. Tak seorang pun dalam alam semesta ini yang dapat membuat ciptaan yang demikian mengagumkan. Telinga kita telah dirancang sedemikian sempurnanya untuk mendengar. Betapa janggal jadinya jika anggota-anggota tubuh kita dipindah-pindah tempatnya! Apa yang terjadi jika hidung kita tergantung di dahi kita dan menghadap ke atas? Hujan dan debu akan masuk ke dalamnya. Allah dengan sengaja telah merancang hidung kita menghadap ke bawah, agar hanya udara saja yang bisa masuk ke dalamnya. Allah telah merancangnya untuk kita. Manusia diciptakan oleh Allah. Ia dirancang oleh seniman terbaik. Haleluya! Itulah sebabnya pemazmur mengatakan, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (Mzm. 139:14).

Dari Debu Tanah (2)
Pkh. 12:3; Rm. 9:20-21

Ilmu kedokteran mengakui bahwa tubuh manusia mengandung semua unsur yang ada di dalam tanah seperti garam, tembaga, besi, dan lain-lain. Dari tanah ini, Allah membentuk tubuh manusia yang mengagumkan.
Sebagai contoh, kita bisa melihat keajaiban yang terdapat pada kedua mata kita. Kemampuan yang dimiliki mata kita melebihi kamera tercanggih. Mata kita pada kondisi normal, memiliki kemampuan autofokus yang membuat kita bisa melihat segala benda yang jaraknya berbeda-beda tanpa penyesuaian yang memakan waktu beberapa detik sekali pun. Selain itu, mata kita juga bisa dengan otomatis menyesuaikan diri terhadap kadar cahaya yang masuk ke dalamnya. Bila mata kita sedikit terhambat dalam menyesuaikan kadar cahaya yang masuk, maka mata kita akan lebih mudah rusak. Tuhan juga memberikan perlindungan yang super aman terhadap mata kita, yaitu kelopak mata. Bila sesuatu mendekati dan membahayakan mata, maka kelopak mata akan dengan cepat dan otomatis menutup untuk melindungi mata (memiliki gerak reflek yang luar biasa mengagumkan).
Selain itu, kita juga memiliki sistem peredaran darah yang ditunjang oleh organ vital di dalam tubuh, yaitu jantung kita. Jantung kita adalah pompa otomatis yang tercanggih. Dia menerima aliran darah dari seluruh tubuh dan mengedarkan kembali darah tersebut ke seluruh tubuh. Di dalam jantung kita terdapat katup-katup yang bisa membuka dan menutup secara otomatis tanpa kita sadari. Bila fungsi ini harus menunggu kesadaran kita untuk mengaturnya maka kita akan lebih cepat meninggal dunia.
Sistem pencernaan kita juga sudah dirancang sedemikian rupa untuk kelangsungan hidup kita. Dari mulut, gigi, lidah, kerongkongan, lambung, usus, sampai akhirnya anus, semuanya bekerja secara harmonis, teratur, dan sistematis. Bila salah satu organ mengalami gangguan dan tidak bisa berfungsi dengan baik, maka tubuh akan memberikan peringatan-peringatan yang membuat seluruh tubuh kita memberikan perhatian yang lebih besar kepada bagian itu. Semua ini berjalan dengan otomatis dan dalam waktu yang sangat singkat, sehingga sistem pencernaan kita bisa berfungsi dengan normal kembali. Ini adalah salah satu rangkaian sistem luar biasa yang dimiliki tubuh kita.
Manusia memang dibentuk oleh Allah dari tanah liat, tetapi dari contoh-contoh di atas, kita bisa menyadari bahwa tubuh kita ini memiliki kemampuan yang luar biasa. Dari keajaiban tubuh ini, kita bisa mengenal bahwa Allah kita adalah Allah yang detail, sistematis, teratur, seimbang, dan harmonis.

Penerapan:
Setiap anggota tubuh kita telah diciptakan oleh Allah dengan baik dan tepat. Marilah kita bersyukur pada-Nya. Kita semua dibuat dari debu tanah, tetapi segala anggota tubuh kita bisa berfungsi dengan ajaib. Kita adalah karya agung dari sang Seniman yang agung. Karena itu, kita harus menjaga tubuh kita dengan makan makanan yang sehat dan olah raga, agar kita memiliki usia yang panjang dan kesempatan yang lebih banyak untuk melayani dan beribadah kepada-Nya.

Pokok Doa:
Tuhan, terima kasih atas segala fungsi organ tubuhku yang telah Kau rancang agar aku bisa menempuh kehidupanku sehari-hari untuk melayani dan beribadah kepada-Mu. Tuhan bimbinglah aku agar dapat memelihara tubuh yang telah Kau berikan kepadaku, untuk melayani-Mu lebih banyak.

16 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 1 Selasa

Berkat Allah Dan Kerja Sama Manusia
Kejadian 2:5
“Belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu.”

Bila hujan turun ke bumi, air hujan akan diserap masuk ke dalam tanah dan bercampur menjadi satu dengan tanah untuk menghasilkan kehidupan (hayat). Dalam Yoel 2:23, 28-29, kita melihat bahwa Roh Allah dikiaskan sebagai hujan. Allah belum menurunkan hujan ke bumi, artinya adalah Allah belum menurunkan hujan berkat surgawi-Nya, yakni Roh-Nya ke atas bumi. Roh Allah dari surga belum berbaur dengan makhluk milik debu untuk menghasilkan hayat.
“Dan belum ada orang mengusahakan tanah itu.” Artinya belum ada manusia yang bekerja sama dengan Tuhan, belum ada koordinasi antara pekerjaan insani dengan ilahi (Bd. Yoh. 5:17; 1 Kor. 3:9). Banyak orang mengatakan, “Kita tidak perlu melakukan apa-apa. Rohlah yang mengerjakan segala sesuatu.” Ini salah. Jika kita tidak melakukan apa-apa, Allah juga tidak dapat berbuat apa-apa, karena Ia memerlukan pekerjaan manusia untuk bekerja sama dengan pekerjaan ilahi-Nya. Apa gunanya hujan diturunkan bila tidak ada orang yang mengusahakan tanah itu? Begitu ada orang di bumi yang mulai mengusahakan tanah, Tuhan akan menurunkan hujan. Allah memerlukan manusia yang berkoordinasi dengan-Nya, sehingga ada kerja sama antara pekerjaan insani dan ilahi.
Saudara saudari, prinsip ini sangat penting, bahwa Allah sepenuhnya ingin mencurahkan berkat-Nya, tapi Dia harus sabar menunggu sampai di muka bumi ada orang yang mau bekerja sama dengan-Nya. Asal ada orang yang mau bekerja sama, maka Allah langsung bekerja. Kita sudah terlalu lama menghambat berkat Tuhan. Mari kita menjadi rekan sekerja Allah bagi perampungan pekerjaan-Nya (1 Kor. 3:9).

Mengharapkan Berkat Allah
Kej. 2:6-7; Mzm. 133

Allah memerlukan manusia untuk mencapai tujuan-Nya. Tetapi, manusia tidak dapat melakukan apa pun tanpa berkat Allah. Sering kali kita setia, tetapi tidak peduli seberapa besar kesetiaan kita, jika tidak ada berkat, tidak ada buahnya. Sering kali kita rajin, tetapi tidak peduli seberapa besar kerajinan kita, jika tidak ada berkat, tidak ada buahnya. Sering kali kita beriman, kita sungguh percaya Allah dapat melakukan sesuatu, kita juga berdoa agar Dia mau bekerja, tetapi jika Allah tidak memberkati, segala sesuatu berada dalam kesia-siaan. Cepat atau lambat, orang-orang yang melayani Allah harus dibawa ke satu tahap, yaitu mengharapkan berkat Allah. Tanpa berkat Allah, kesetiaan, kerajinan, iman, dan doa-doa kita tidak bermanfaat. Akan tetapi, jika kita memiliki berkat Allah, meskipun kelihatannya salah, masih ada buahnya; meskipun kelihatannya tidak ada harapan, tetapi ada buahnya. Karena itu, semua perkara bergantung pada berkat Allah.
Mazmur 133 mengatakan, “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! … Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.” Asal kita hidup rukun, sehati, tidak ada perselisihan dengan saudara saudari yang lain, Tuhan pasti memberkati. Masalahnya bukan siapa salah dan siapa benar, tetapi apakah kita sehati, bersama-sama berdiri di satu pijakan. Sebab itu kita semua harus tahu bahwa perselisihan di antara saudara adalah perkara yang sangat serius. Ditinjau dari berbagai alasan, mungkin kita sepenuhnya benar, tetapi jika ada perselisihan, berkat telah berhenti! Kita harus sepenuhnya sadar, jangan berbicara sembarangan. Jangan mengira asal benar, itu sudah cukup. Kalau Tuhan membelaskasihani, kita akan berhati-hati berbicara, baik membicarakan saudara tertentu, atau mengkritik saudara tertentu. Meskipun hal itu benar sekali, juga tidak ada gunanya. Meskipun benar, kalau Allah tidak memberkati, apa gunanya? Pekerjaan tidak dibangun di atas kekuatan kita, tidak dibangun di atas karunia kita, tidak dibangun di atas kesetiaan kita, juga tidak dibangun di atas kerajinan kita. Kalau kita melepaskan berkat Allah, semuanya akan habis.
Saudara saudari, kita harus belajar senantiasa hidup dalam berkat Allah. Kita harus mohon agar Allah menjaga kita selalu berada dalam berkat-Nya. Kalau masalah ini tidak dibereskan, kita akan menderita kerugian yang besar.

Catatan: Untuk pembahasan lebih dalam, bacalah buku “Mengharapkan Berkat Allah” yang ditulis oleh sdr. Watchman Nee

Penerapan:
Menunggu Allah bekerja dulu baru kita bekerja, itu adalah prinsip yang salah! Allah justru terus menunggu kapan Dia bisa menurunkan hujan, tapi masalahnya justru tidak ada orang yang mau mulai bekerja. Saudara saudari, marilah kita mulai menggarap tanah yang ada di seputar kita, antara lain: keluarga kita, tetangga kita, teman kita, dan lain-lain, agar Allah dapat menurunkan hujan berkat ke lingkungan kita.

Pokok Doa:
Tuhan aku mau bekerja sama dengan Diri-Mu. Jadikanlah aku saluran berkat-Mu. Tuhan, bimbinglah aku terus agar aku tidak menjadi penghalang berkat-Mu. Oh Tuhan Yesus, pakailah aku, utuslah aku.

15 May 2006

Kejadian Volume 2 - Minggu 1 Senin

TUHAN (Yehova)
Kejadian 2:4
“Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN (Yehova) Allah (Elohim) menjadikan bumi dan langit.”

Elohim (1:1) adalah nama Allah dalam hubungannya dengan penciptaan, sedangkan Yehova 1) adalah nama Allah dalam hubungannya dengan manusia. Dalam Kejadian 2:4 ini, Allah disebut sebagai Yehova Elohim. Elohim berarti Allah sang Kuat dan Setia, sedangkan Yehova berarti “Aku adalah” (Kel. 3:14; bd. Yoh. 8:24, 28, 58 [“Akulah Dia” di Yoh. 8:24, 28, “Aku telah ada” di Yoh. 8:58 seharusnya diterjemahkan “Aku adalah”]), menyatakan bahwa Dia adalah Allah yang ada dengan sendirinya dan kekal ada, Dia adalah yang “sudah ada, yang ada, dan yang akan datang” (Why.1:4). Nama Yesus juga berkaitan dengan Yehova, karena nama Yesus berarti keselamatan Yehova atau Yehova Juruselamat.
Bukankah luar biasa bahwa ketika Allah berkontak dengan kita, Ia memperkenalkan diri sebagai Yehova. Ini berarti Dia-lah sumber kita. Kita bergantung pada-Nya, karena Dia adalah Tuhan dan Allah kita, Dia juga adalah Juruselamat kita.
Kesalahan kita yang fatal adalah apabila kita hidup merdeka, bebas dari Allah. Sering kali kita menentukan kehidupan, langkah, dan tindakan kita sendiri. Tuhan adalah sumber kita, kita tidak boleh merdeka dan bebas dari Dia, sebaliknya kita harus tetap bergantung dan bersandar pada-Nya, dalam keadaan apa pun, di mana pun, dan kapan pun. Marilah kita belajar menempuh kehidupan yang bersandar.
1) Catatan: Dalam Alkitab terjemahan LAI, istilah TUHAN (semua huruf besar), dalam bahasa aslinya adalah Yehova.

Menciptakan Langit Dan Bumi; Menjadikan Bumi Dan Langit
Kej. 1:9-18, 31; 2:1-4

Kejadian 2:4 mencatat, “Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit”. Ada dua kata kerja yang dipakai di sini, yang satu adalah diciptakan dan yang lain adalah menjadikan. Menciptakan adalah menghasilkan sesuatu dari yang tidak ada; sedangkan menjadikan adalah menggunakan sesuatu yang sudah ada untuk menghasilkan sesuatu yang lain.
“Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.” Dalam frase ini, langit disebut lebih dulu. Ini berarti dalam kekekalan yang lampau, Allah menciptakan langit dulu baru bumi. Namun, frase selanjutnya mengatakan, “Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit”. Ini pasti terjadi setelah pemberontakan Iblis, yaitu ketika Allah melakukan pekerjaan pemulihan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa setelah pemberontakan Iblis, Allah memulihkan (menjadikan) bumi dulu baru langit. Hal ini sesuai dengan catatan dalam 1:9-18, Allah lebih dulu memulihkan daratan (bumi), baru kemudian benda-benda penerang di langit. Urutan ini sungguh bermakna, sesuai dengan pengalaman kita. Begitu beroleh selamat, kita ibarat tanaman yang tumbuh di sebidang tanah yang melambangkan Kristus (Kol. 2:7). Namun untuk bertumbuh, kita memerlukan terang yang lebih kuat, yakni Kristus (matahari), gereja (bulan), dan kaum saleh pemenang (bintang-bintang). Hal ini telah kita bahas dalam Arus Hayat Kitab Kejadian edisi “Pada Mulanya Allah Menciptakan Langit dan Bumi”.
Karya penciptaan Allah sebermula telah selesai pada Kejadian 1:1 dan pekerjaan pemulihan-Nya selesai pada Kejadian 1:31 (selama enam hari). Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu (Kej. 2:1-3). Kalau demikian, mengapa masih diperlukan catatan dalam Kejadian 2?
Melalui Kejadian pasal satu, Allah ingin menunjukkan hubungan manusia dengan makhluk ciptaan yang lain. Manusia adalah inti alam semesta. Sedangkan dalam Kejadian pasal dua, Allah ingin menunjukkan hubungan manusia dengan Allah. Allah akan mencurahkan berkat-Nya jika manusia bekerja sama dengan Allah, mengusahakan dan memelihara kasih karunia yang diberikan Allah. Selain itu, melalui pasal satu, Allah mewahyukan tujuan-Nya; sedangkan melalui pasal dua, Allah menunjukkan prosedur dan cara untuk mencapai tujuan tersebut. Itulah sebabnya setelah pencatatan dalam Kejadian pasal satu, masih perlu penjelasan lagi di pasal dua. Puji Dia untuk firman-Nya.

Penerapan:
Tuhan adalah sumber kita, kita tidak bisa merdeka dari Dia. Biarlah kita sepanjang hari ini melibatkan Tuhan dalam kehidupan, langkah, tindakan, dan perkataan kita melalui lebih banyak menyeru nama-Nya dan berbincang-bincang dengan-Nya. Biarlah Dia menjadi sang Pengambil Keputusan di dalam diri kita.

Pokok Doa:
Tuhan ampuni segala kekurangan, kelemahan, dan dosa-dosaku, yang merupakan sekatan antara Engkau dan aku. Tuhan aku mau bergantung pada-Mu, aku tidak mau merdeka. Tuhan jadilah Tuan dalam hidupku, dalam perbuatan, dan perkataanku. Aku tidak mau hidup di luar Diri-Mu.

13 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 4 Sabtu

Sungguh Amat Baik
Kejadian 1:31
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.”

Kejadian 1:31 mengatakan, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Kita harus memperhatikan kata “melihat” di sini. Apa arti kata ini?
Jika kita membeli sebuah benda yang sangat memuaskan kita, kita memutar-mutarnya dengan senang dan melihatnya dengan teliti. Inilah arti “melihat” di sini. Allah bukan sepintas lalu “melihat” segala sesuatu yang telah dijadikan-Nya dan mengatakan bahwa itu baik. Tetapi, Ia “melihat” dengan teliti segala sesuatu yang telah dijadikan-Nya dan nampak bahwa itu sungguh amat baik. Kita perlu memperhatikan bahwa pada saat penciptaan, Allah “melihat-lihat” apa yang telah dibuat-Nya. Ketika melihat kemegahan alam semesta, Allah masih belum puas; ketika melihat segala makhluk ciptaan yang menakjubkan, Allah masih belum puas juga. Tetapi ketika melihat manusia, Allah merasa sungguh amat baik, karena semua pengharapan Allah terpusat pada manusia. Adam memiliki gambar dan rupa Allah dan kepadanya diserahkan pemerintahan Allah. Selama manusia mengekspresikan Allah dan menanggulangi musuh Allah, Allah merasa sungguh amat baik, Allah merasa puas.
Saudara saudari mari kita renungkan, bahwa Kejadian dimulai dengan situasi yang benar-benar hancur total, namun ketika Allah mulai bekerja, maka Dia sanggup mengubah kondisi yang hancur itu menjadi setahap demi setahap membaik, hingga mencapai titik ‘sungguh amat baik’. Mari kita serahkan diri kita untuk digarap oleh Allah, hingga mencapai tahap sungguh amat baik.

Allah Berhenti Dari Segala Pekerjaan-Nya
Kej. 2:1-3; Yes. 40:28

Kejadian 2:1-3 menunjukkan bahwa setelah Allah menyelesaikan pekerjaan pemulihan dan penciptaan-Nya yang lebih lanjut, maka Allah memasuki perhentian.Ini bukan perhentian yang fisikal tetapi sebuah perhentian yang rohani. Dia melihat segala sesuatu yang Dia buat adalah sangat baik, dan Dia dipuaskan. Kapan kala Allah mendapatkan perhentian, kita pun menikmati perhentian. Namun perhentian yang kita alami sekarang ini adalah pencicipan akan perhentian yang akan datang, satu perhentian yang sempurna, yakni perhentian dalam langit baru dan bumi baru. Pada saat itu, kita akan masuk ke dalam perhentian Allah (Ibr. 4:3). “Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya” (Ibr. 4:10). Kekekalan akan dimulai, dan sampai kekal kita akan berhenti di hadapan Allah memahami kehendak-Nya, mengagumi kebaikan hati-Nya, dan memuji anugerah-Nya. Entah situasi yang bagaimana nanti jadinya! “Tetapi seperti ada tertulis: ‘Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia’” (1 Kor. 2:9).
Sekarang kita dapat mencicipi perhentian ini. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan (perhentian-T.L.)kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (perhentian-T.L.)” (Mat. 11:28-29). Di sini ada dua perhentian. Yang pertama kita terima ketika kita percaya dalam Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita. Yang kedua kita terima ketika kita belajar dari Tuhan Yesus. Jiwa kita penuh dengan nafsu, kegairahan, ketamakan, kesedihan, kejengkelan, dan duka cita. Tetapi ketika kita mempertimbangkan kelemahlembutan dan kerendahan hati Tuhan, bagaimana Dia menanggung pertentangan dari orang dosa, bagaimana Dia mengambil kuk atas diri-Nya sendiri, dan bagaimana Dia menunjukkan diri-Nya sendiri sebagai seekor domba, kita tidak akan letih dan lesu lagi. Jika kita belajar dari Dia, kita akan menemukan perhentian jiwa kita, hidup damai, suatu hidup yang tidak meronta-ronta! Betapa sukacita!
Dalam enam hari itu, ada “petang dan pagi”. Setelah petang selalu ada pagi, akan tetapi tidak ada hari tanpa petang. Namun, pada hari ketujuh, hari Sabat Allah, tidak ada lagi petang maupun pagi. Sekarang yang kita miliki adalah “siang” tanpa akhir, yang sempurna, penuh, mulia, diberkati, dan dikuduskan oleh Allah.

Penerapan:
Kita boleh bekerja dan berjerih lelah, tetapi kita tidak boleh kekurangan perhentian. Bila dalam pelayanan, kita mengeluh atau bersungut-sungut, pelayanan kita menjadi kurang bernilai dan Allah pasti tidak mendapatkan perhentian, demikian pula dengan kita. Pastikan hari ini kita tidak kehilangan perhentian di dalam roh kita.

Pokok Doa:
Tuhan, aku datang kepada-Mu saat ini untuk mendapatkan perhentian. Kenyangkanlah aku dengan diri-Mu sendiri dan penuhilah hatiku dengan damai sejahtera-Mu. Ampunilah aku yang sering mengabaikan persekutuan dengan-Mu. Pulihkanlah aku hari ini.

12 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 4 Jumat

Penuhilah Bumi
Kejadian 1:28
“Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.’”

Allah memberkati manusia agar beranak cucu dan berkembang biak, memenuhi bumi, dan menaklukkannya (Kej. 1:28). Ini bukan perkara kecil. Jika Adam, manusia korporat ini, diciptakan menurut gambar kalajengking atau ular dan Allah memberkati kalajengking atau ular ini supaya bertambah banyak dan memenuhi bumi, bumi akan dipenuhi kalajengking dan ular, sungguh mengerikan! Ini bukan berkat, melainkan kutuk. Namun jika seluruh bumi ini dipenuhi dengan wajah-wajah elok yang mengekspresikan Allah dan mewakili Allah, ini benar-benar berkat. Itulah sebabnya, sebelum menjadikan manusia, tidak ada jalan bagi Allah untuk mencurahkan berkat-Nya dengan sempurna. Allah itu kaya, berkat Allah juga kaya. Namun, sebelum manusia diciptakan, tidak ada pihak yang dapat menerima berkat-Nya dengan sempurna. Hanya manusia yang memenuhi syarat untuk menerima berkat Allah dengan sempurna.
Berkat adalah satu kata yang baik. Banyak orang merindukan berkat Tuhan. Seringkali kita berdoa, “Tuhan, berkatilah kami.” Jika kita ingin menerima berkat Allah, kita perlu memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syaratnya, sekali lagi, adalah ekspresi dan kuasa. Jika di rumah kita ada ekspresi Allah dan kekuasaan Allah, niscaya berkat Tuhan ada di sana. Berkat Allah selalu menyertai ekspresi-Nya dan kekuasaan-Nya. Berapa banyak berkat yang Allah karuniakan kepada kita bergantung pada berapa banyak kita mengekspresikan Dia dan mewakili Dia.

Itulah Akan Menjadi Makananmu
Kej. 1:11-12, 29

Kejadian 1:11-12 memberi tahu kita bahwa tanah menumbuhkan “tumbuh-tumbuhan yang berbiji”, dan ayat 29 menyebutkan mengenai “pohon-pohonan yang buahnya berbiji”. Menurut pengaturan Allah yang sebermula, Dia hanya memberikan tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan pohon-pohonan yang buahnya berbiji kepada manusia untuk dimakan. Biji adalah tanda kehidupan. Di dalamnya ada kekuatan hayat. Segala sesuatu yang berhayat cocok sebagai makanan. Segala sesuatu yang tidak menghasilkan biji (benih), tidak Allah berikan kepada manusia untuk dimakan. Sebelum kejatuhan manusia, apa saja yang diberikan Allah kepada manusia untuk menjadi makanannya adalah sesuatu yang menghasilkan benih. Hal ini dikarenakan, dalam maksud Allah, manusia seharusnya memakan, menerima, dan menikmati hayat setiap waktu. Manusia tidak seharusnya memakan atau menerima sesuatu yang tidak menghasilkan benih. Apa saja yang disentuh manusia, apa saja yang diterima manusia, apa saja yang dimakan manusia, haruslah sesuatu yang berasal dari hayat dan sesuatu yang menghasilkan hayat.
Makanan adalah bagian dari pahala yang akan datang; “Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” (Why. 2:7). “Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi” (ay. 17) Perihal makanan akan berlanjut bahkan sesudah kebangkitan sebab Tuhan kita juga makan dan minum setelah kebangkitan-Nya. Buah pohon hayat menjadi makanan manusia di dalam kekekalan.
Apa yang kita makan menjadi susunan bagi kesehatan kita. Hanya makanan hayat yang memberi perawatan hayat kepada mereka yang memakannya. “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4). “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:43). “Akulah roti hayat” (Yoh 6:48-TL.). “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal” (ay. 54). Kita harus mengambil firman Allah, mengambil kehendak-Nya sebagai makanan kita. Kita tidak seharusnya membaca Alkitab dengan cara yang biasa, tetapi memakai doa dan merenungkannya untuk mencerna Firman Allah dan menerima perawatan bagi hayat rohani kita. Setiap saat kita dengan setia mengambil kehendak Allah, kita akan merasakan batin kita menerima perawatan. Dengan iman kita mengambil kematian (daging) dan hayat (darah) Tuhan Yesus dan menyerapnya ke dalam hayat kita sehingga kita dikuatkan.

Penerapan:
Penghalang terbesar berkat Allah tercurah kepada kita adalah cara hidup kita yang tidak mengekspresikan Dia dan tidak mewakili Dia. Kalau kita mau berbuah bagi Tuhan, kita harus membiarkan Tuhan bertumbuh besar di dalam kita sampai Dia terekspresi melalui diri kita. Berkat ini jauh lebih bernilai dari pada benda apa pun di bumi ini.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku mau menjadi pohon yang baik, yang menghasilkan buah yang baik pula. Terangilah aku senantiasa dan murnikanlah aku dari maksud-maksud yang cemar. Tumbuhlah di dalamku terus dan hiduplah melalui aku. Aku mau berbuah bagi-Mu.

11 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 4 Kamis

Berkuasalah (1)
Kejadian 1:26
“Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’”

Mari kita baca lagi Kejadian 1:26: “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi . . ..” Kelihatannya kalimat ini akan berakhir di sini, tetapi ditambahkan sebuah frasa lain, “dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”.
Dari ayat di atas kita nampak bahwa binatang melata menempati posisi yang sangat besar, karena Allah mengatakannya setelah Ia selesai menyebutkan “atas seluruh bumi”. Ingin menguasai seluruh bumi, binatang melata tidak boleh diabaikan. Karena musuh Allah terwujud di dalamnya.
Ular dalam Kejadian pasal tiga dan kalajengking dalam Lukas pasal sepuluh adalah binatang melata. Bukan hanya ada ular, yang mewakili Iblis; ada pula kalajengking, yang mewakili roh jahat yang berdosa dan najis.
Daerah kekuasaan ular dan kalajengking adalah bumi ini. Laut adalah tempat tinggal setan-setan [roh najis] (Mat. 8:32, 12:43). Udara (angkasa) adalah tempat Iblis dan malaikatnya (Ef. 2:2; 6:12). Sedangkan bumi adalah arena kegiatan Iblis, juga adalah daerah jajahannya (Luk. 4:5-6). Namun, Allah telah menciptakan kita agar kita berkuasa, bukan hanya berkuasa atas sebagian bumi, tetapi atas seluruh bumi, dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu” (Luk. 10:19).

Berkuasalah (2)
Kej. 1:26, 28; Why. 20:4; Luk. 19:17

Kaum saleh bukan hanya memiliki gambar Allah, tetapi juga kekuasaan atas segala sesuatu (Kej. 1:26, 28). Alangkah hebatnya bahwa Allah telah mengaruniakan kepada manusia, salah satu makhluk ciptaan-Nya untuk mewakili Dia berkuasa! Manifestasi memerintah yang sesungguhnya, kelak bisa kita lihat dalam Kerajaan Seribu Tahun, sebagaimana terlihat dalam beberapa ayat ini: “Mereka… memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun” (Why. 20:4). “Terimalah kekuasaan atas sepuluh kota” (Luk. 19:17).
Tidak semua kaum beriman akan memiliki kemuliaan kerajaan milenium. Hanya mereka yang telah mengalami semua tahap pengalaman rohani dalam Kejadian pasal satu yang akan memiliki kemuliaan ini. Mereka yang di masa lampau, bersatu dengan pengalaman-pengalaman Kristus akan bersatu juga dengan kemuliaan Kristus di masa yang akan datang. Untuk diselamatkan, kita hanya perlu percaya dalam Yesus Kristus; tetapi jika kita tidak setia, jika kita tidak menderita dan menang, kita tidak akan bisa memerintah bersama dengan Tuhan. Salib adalah jalan menuju mahkota. Penderitaan adalah syarat untuk masuk ke dalam kemuliaan. Allah memberi keselamatan secara cuma-cuma, tetapi Dia tidak akan menganugerahkan kemuliaan tanpa sebuah harga. Barangsiapa yang mau menderita kerugian di dalam jaman ini bagi Tuhan, akan menerima kemuliaan di jaman yang akan datang.
Saudara saudari, kita tidak harus menunggu hingga jaman yang akan datang baru bisa memerintah. Kita dapat memerintah hari ini di dalam roh kita, sekali pun penggenapannya baru akan terjadi di masa yang akan datang. Sekarang juga, kita dapat menerapkan kekuasaan dari Tuhan untuk memerintah atas segala sesuatu. Kita seharusnya menjadi raja-raja untuk memerintah atas roh-roh jahat dan menghalangi mereka bekerja di bumi. Dalam kerajaan milenium, Iblis akan diikat, karena itu pada jaman ini kita juga dapat menerapkan kekuasaan jaman yang akan datang untuk membatasi dia hingga batas tertentu.
Kita juga seharusnya menggunakan senjata doa untuk memerintah atas lingkungan kita. Entah itu adalah urusan-urusan politik, urusan-urusan keluarga, urusan-urusan gereja, atau urusan-urusan pribadi, kita dapat menggunakan doa untuk memerintah mereka semua. Dengan tekad kita dan melalui Roh Kudus, kita bahkan dapat membuat diri kita sepenuhnya di bawah kendali, agar dapat dipakai untuk Tuhan. Inilah kehidupan menang yang sesungguhnya. Orang Kristen seperti ini adalah orang Kristen yang paling berkuasa.

Penerapan:
Setiap aspek kehidupan — kehidupan sekolah, kehidupan pekerjaan, kehidupan keluarga — merupakan medan peperangan. Musuh tidak pernah tidur. Sepanjang hari dia siap menyerang, tidak hanya dalam kehidupan keluarga, tetapi juga dalam kehidupan gereja. Peperangan itu hanya dapat kita menangkan bila kita mengekspresikan Allah dan berkuasa bagi Dia. Karena itu, pulihkanlah kembali persekutuan rohani kita dengan Tuhan.

Pokok Doa:
“Tuhan, aku mengakui bahwa dalam beberapa hari ini aku lebih banyak mengekspresikan sifat ular dan kalajengking daripada mengekspresikan Engkau. Ampunilah aku dan pulihkanlah kehidupan rohaniku. Aku mau memperhidupkan Engkau kepada semua orang di sekelilingku.”

10 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 4 Rabu

Diciptakan-Nya Mereka
Kejadian 1:26-27
“Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka ... diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Kejadian pasal satu ayat dua puluh enam mengatakan, “Berfirmanlah Allah, ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.’” Kemudian Allah berkata, “supaya mereka.” Allah tidak mengatakan “supaya dia”, melainkan “supaya mereka”. “Dia” adalah kata benda berbentuk tunggal, sedangkan “mereka” adalah berbentuk jamak.
“Baiklah Kita menjadikan manusia … supaya mereka ….” Ayat ini menunjukkan bahwa manusia yang diciptakan Allah adalah manusia yang korporat. Allah tidak menciptakan banyak orang. Allah menciptakan umat manusia secara serentak di dalam diri Adam seorang. Allah menciptakan Adam dan Adam itulah manusia korporat, manusia kolektif. Ketika Adam diciptakan, kita semua juga diciptakan.
Jika sekarang kita berusia tiga puluh tahun, janganlah mengatakan bahwa kita diciptakan tiga puluh tahun yang lalu. Kita memang baru dilahirkan tiga puluh tahun yang lalu, tetapi kita telah diciptakan 6000 tahun yang lalu. Meskipun orang tua kita dilahirkan 40 tahun lebih dahulu dari pada kita, tetapi kita semua diciptakan pada waktu yang sama.
Ketika Adam diciptakan, kita semua juga diciptakan; karena kita semua telah diciptakan serempak di dalam Adam. Kita termasuk di dalam Adam. Allah tidak menciptakan manusia individu, melainkan manusia korporat, untuk mengekspresikan diri-Nya.
Dengan menyadari bahwa kita adalah bagian dari manusia korporat, maka kalau kita ingin mengekspresikan diri Allah, kita tidak dapat menjadi orang yang individualis.

Supaya Mereka Berkuasa
Kej. 1:26-28; Mat. 6:9-10

Keinginan Allah dalam menciptakan manusia, yaitu agar mereka berkuasa. Iblis memang telah dikalahkan. Di bawah penghakiman Allah, ia tidak berkuasa lagi atas bumi. Meskipun ia masih bebas, penghukuman-Nya telah diputuskan. Bumi yang dipulihkan oleh Allah, tidak ada urusan dengan si Iblis. Meskipun Iblis masih menyandang gelarnya “penguasa dunia ini”, manusia yang diciptakan oleh Allah dianugerahi dengan kehendak bebas. Allah menciptakan manusia, terlepas dari kekuasaan Iblis, agar manusia berkuasa atas makhluk ciptaan yang baru, atas seluruh bumi. Jika manusia dapat dengan hati-hati menjaga hak dan kuasa yang Allah berikan, maka jabatan Iblis sebagai “penguasa dunia ini” hanyalah jabatan kosong. Allah ingin meniadakan kekuasaan Iblis semenjak ia dihakimi. Tentu, hal ini mudah bagi Allah, tetapi kita tidak tahu mengapa Allah ingin manusia-lah yang menjadi rekan sekerja-Nya dalam menumpas pekerjaan si Iblis. Itulah sebabnya Allah menciptakan manusia dan membuatnya berkuasa.
Sayang sekali, tidak lama kemudian, manusia jatuh. Manusia kehilangan haknya dan Iblis mendapatkan kembali kekuatan dan kekuasaannya atas bumi. Untuk itu, kita kaum beriman, sebagai umat pilihan Allah, harus dengan konstan memikul tujuan Allah ini di dalam pikiran — penghancuran kekuatan iblis. Dalam segala perkara yang kita lakukan, kita tidak seharusnya mempertimbangkan perkara itu baik atau buruk, tetapi bagaimana perkara itu dapat menguntungkan Allah dan menghancurkan Iblis. Jika usaha kita tersebut tidak mempengaruhi kerajaan kegelapan dan menyebabkan iblis menderita kerugian, maka tidak perlu kita lakukan. Dalam semua pelayanan, kita seharusnya tidak mencari hasil-hasil yang luar biasa. Namun, kita seharusnya mempertimbangkan siapa yang mendapatkan keuntungan dan siapa yang menderita kerugian di alam rohani. Ini adalah peperangan rohani dan bukan peperangan melawan darah dan daging. Satu hari kelak, penghakiman kita di depan takhta penghakiman akan diukur dengan standar ini juga. Apakah pekerjaan kita akan bertahan atau terbakar oleh api, tergantung berapa banyak pekerjaan itu membantu merampungkan tujuan Allah. Cara terbaik untuk melawan kekuatan kegelapan adalah, pada satu pihak, menolak pekerjaan Iblis di dalam roh kita, tidak menyetujui kemenangannya; dan di lain pihak, menggunakan doa kita sebagai senjata kita dengan memberi tahu Allah untuk menghancurkan pekerjaan dan rencana Iblis. Pada saat yang sama, kita seharusnya secara praktis menaati kehendak Allah. Setiap kali kita menaati kehendak Allah, Iblis menderita kekalahan.

Penerapan:
Tubuh kita diciptakan menurut rupa Allah untuk memuliakan Allah. Karena itu janganlah memakai tubuh kita untuk berbuat dosa dan menuruti keinginannya; sebaliknya persembahkanlah anggota-anggota tubuh kita kepada Allah sebagai senjata-senjata kebenaran untuk mengalahkan musuh-Nya.

Pokok Doa:
Ya Tuhan, kupersembahkan tubuhku kepada-Mu untuk kemuliaan-Mu. Tubuhku bukanlah untuk dosa dan hal-hal cemar, tetapi untuk kepentingan-Mu. Aku mau menguduskan anggota-anggota tubuhku dan memakainya untuk kemuliaan nama-Mu dan perluasan kerajaan-Mu.

09 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 4 Selasa

Menurut Gambar Dan Rupa Allah
Kejadian 1:26
“Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.’”

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. “Menurut gambar Allah” berarti manusia memiliki atribut dan kebajikan yang ada pada Allah, seperti kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran, walaupun bukan realitasnya.
“Menurut rupa Allah” berarti manusia diciptakan bukan menurut jenis manusia, melainkan menurut jenis Allah. Kisah Para Rasul 17:28 mengatakan bahwa kita adalah “keturunan Allah”. Itulah sebabnya manusia dapat mengenal Allah dan bersekutu dengan-Nya.
Ketika Allah menciptakan manusia, Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut atribut dan kebajikan-Nya, agar manusia dapat mengekspresikan Allah melalui atribut dan kebajikan itu. Misalnya, Allah memiliki kasih, dan Allah juga mengasihi. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia membuat manusia memiliki kasih dan dapat mengasihi. Namun, apa yang dimiliki manusia itu hanya merupakan gambaran dari atribut dan kebajikan Allah, bukan realitasnya. Karena itu, kita masih harus menerima diri Allah sendiri menjadi hayat dan isi kita, barulah Allah dengan segala atribut dan kebajikan-Nya dapat memenuhi kita hingga menjadi realitas kita. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan bahwa kita adalah bejana-bejana untuk diisi Allah (Rm. 9:23; 2 Kor. 4:7). Kita hanyalah bejana tanah liat. Apa yang kita miliki secara alamiah tidak ada yang tepat, sebab semuanya kosong dan terbatas. Tanpa Allah menjadi isi kita, maka kerajinan, kerendahan hati, kesopanan, bahkan segala budi pekerti kita, yang kelihatannya bernilai di hadapan manusia, ternyata hanyalah kosong melompong di hadapan Allah.

Diserupakan Dengan Gambar-Nya
Rm. 9:21, 23; 2 Kor. 4:7; Yoh. 3:1-10; Fil. 2:5; Why. 21:11; Why 4:3; Why. 21:18a

Kaum saleh yang telah memiliki pengalaman kelahiran kembali, ketersa-liban bersama Kristus, kebangkitan bersama Kristus, menghasilkan buah, kenaikan, dan yang juga telah mengekspresikan semua tahap yang lebih maju ini dalam kehidupan rohani mereka (catatan: baca ulang semua tahap ini di minggu-minggu yang lalu), akan secara spontan mencapai tahap ini, yaitu sepenuhnya menjadi seperti Allah (dalam hayat dan sifat).
“Kristus…terbentuk di dalammu (TL.)” (Gal. 4:19) adalah tujuan rohani kaum saleh. Ketika kita disatukan dengan Kristus dalam segala sesuatu dan telah mengalami semua yang telah dirampungkan-Nya bagi kita, kita akan mampu mengalami “diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya” (2 Kor. 3:18).
“Karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kol. 3:9-10). “Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama…supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu (roh pikiranmu - TL.), dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:22-24).
Dalam pengalaman, kita seharusnya memiliki hidup “manusia baru” yang sepenuhnya seperti Allah. “Menanggalkan” dan “mengenakan” adalah tindakan-tindakan yang dimotori oleh tekad kita. Kita perlu melatih tekad untuk menolak perbuatan dari manusia lama dan memilih kebaruan dari manusia baru.
Pada poin ini, kita akan diperbarui dalam pikiran dan pengetahuan, dan akan memiliki gambar Allah secara penuh. Pikiran adalah medan peperangan rohani. Kita mungkin benar dan kudus dalam perbuatan dan hidup kita (Ef. 4:24), tetapi kita mungkin tidak memiliki pengalaman pikiran yang diperbarui. Pikiran adalah benteng yang paling kuat dari hayat Adam, adalah bagian yang paling tercemar oleh dosa. Jika pikiran diperbarui, gambar Allah dipulihkan.
Pemulihan yang seutuhnya dari gambar Allah masih di masa yang akan datang, yaitu pada saat kedatangan Tuhan Yesus kali kedua. “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya” (Flp. 3:20-21). “Apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia” (1 Yoh. 3:2).

Penerapan:
Sebagai bejana-bejana Allah, kita perlu diisi dan dipenuhi oleh Dia setiap hari. Tanpa pengisian yang demikian, kita tidak lebih daripada bejana-bejana kosong yang sedikit pun tak berarti bagi Allah. Berilah Tuhan kesempatan lebih banyak mengisi kasih, kesabaran, kemurahan, kerendahan hati, kebaikan, kerajinan kita.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, betapa seringnya aku mengabaikan kesempatan untuk diisi oleh-Mu. Tuhan, saat ini aku terbuka kepada-Mu, isilah dan penuhilah aku dengan diri-Mu sendiri sehingga aku dapat memperhidupkan Engkau. Aku tidak mau menjadi bejana yang kosong, isilah dan penuhilah aku.

08 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 4 Senin

Rapat Ke-Allahan
Kejadian 1:26
“Berfirmanlah Allah (Elohim - T.L.): ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.’”

Sama seperti hari ketiga, hari keenam terbagi menjadi dua bagian. Mula-mula, Allah menciptakan binatang liar, ternak, dan binatang melata; kemudian Ia menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri. Tetapi, sebelum menciptakan manusia, Allah berhenti sejenak dan mengadakan rapat ke-Allahan, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa...”. Alangkah seriusnya perkara ini. Sebelum hari keenam ini, Allah telah menyiapkan segala sesuatu. Ia memulihkan bumi dan langit, hingga menjadi tempat yang nyaman dan cocok bagi manusia. Ia menyiapkan berbagai tumbuhan dan berbagai binatang, di air, di udara, dan di darat. Setelah semuanya siap, Allah seolah berkata, “Segalanya telah siap. Sekarang tibalah saatnya bagi Kita untuk menciptakan manusia!” Haleluya, Allah Tritunggal mengadakan rapat ke-Allahan untuk kita, manusia, karena manusia adalah inti dari seluruh penciptaan Allah. Manusia-lah sasaran Allah dan manusia-lah yang ada di hati Allah.
Catatan: Seperti yang pernah kita bahas, “Elohim” merupakan kata benda berbentuk jamak. Jika subyeknya berbentuk jamak, maka predikatnya (“Berfirmanlah”) seharusnya juga berbentuk jamak. Namun, kata “berfirmanlah” berbentuk tunggal. Selain itu, “Kita” dalam ayat 26 itu jelas berbentuk jamak, sedangkan predikat “menjadikan” berbentuk tunggal. Ini menunjukkan keesaan tujuan Allah. Saudara saudari, Allah kita itu tiga di dalam satu dan satu di dalam tiga. Walau ada tiga persona, bukan berarti ada tiga Allah. Dia adalah Allah Tritunggal dan Dia memiliki tujuan yang esa.

Manusia Diciptakan Oleh Allah
Kej. 1:11-12, 27

Kita harus melihat dengan sangat jelas bahwa manusia diciptakan oleh Allah (1:27). Manusia bukanlah hasil evolusi dari kelas binatang yang lebih rendah. Istilah “menciptakan”, berarti membuat sesuatu dari yang tidak ada. Manusia adalah karya istimewa Allah dan bukan hasil dari suatu proses evolusi alam.
Allah telah mengatur setiap jenis tumbuhan, pepohonan, rumput, dan sayuran, untuk menghasilkan benih menurut jenisnya masing-masing (Inggris: after their kind ). Rumput tidak bisa berubah menjadi sebatang pohon, demikian pula satu jenis pohon tidak bisa berubah menjadi jenis pohon lainnya. Seluruh makhluk hidup telah diciptakan menurut jenisnya masing-masing (Kej. 1:11, 12, lihat bahasa aslinya). Kalau Allah mengatakan bahwa semuanya diciptakan menurut jenisnya, ini berarti batasan dari tiap jenisnya telah ditentukan oleh Allah. Karenanya tidak ada kemungkinan bagi suatu jenis makhluk hidup untuk berevolusi menjadi jenis makhluk hidup lain. Kita, orang Kristen, percaya pada firman Allah. Segala yang di luar “demikianlah firman Allah”, tidak dapat kita percayai. Dunia mungkin mengejek cara kita berpikir, tetapi kita cukup puas dengan Firman Allah.
Banyak orang tidak percaya kepada Allah. Akibatnya, mereka menyimpang tanpa tujuan dan memikirkan teori mereka sendiri. Mereka mengira mustahil bagi Allah untuk menjadikan sesuatu dari yang tidak ada, dan membuat manusia dari debu tanah. Namun, bagi kita, sebuah embrio kecil dari suatu jenis binatang bisa mengalami sejumlah proses evolusi untuk menjadi seekor monyet, dan kemudian setelah melalui banyak tahap evolusi lagi, maka monyet tersebut bisa menjadi seorang manusia, adalah sesuatu yang jauh lebih tidak masuk akal lagi. Ini jauh lebih tidak masuk akal dari pada Allah menciptakan manusia!
Pada awalnya kaum penganut teori evolusi mengatakan bahwa nenek moyang manusia berasal dari binatang yang hidup ribuan tahun yang lalu. Sekarang mereka berkata ribuan tahun yang akan datang, keturunan kita akan menjadi binatang yang tidak berbentuk, tanpa jari tangan dan jari kaki. Mereka membicarakan hal-hal milik ribuan tahun yang lalu atau ribuan tahun yang akan datang, hal-hal yang sama sekali tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
Namun, ada orang Kristen yang menjadi ragu akan kebenaran firman Allah karena terpengaruh oleh teori seperti teori evolusi. Mereka mulai mempercayai apa yang tidak dikatakan Alkitab, sebaliknya apa yang jelas-jelas tertulis dalam Alkitab justru mereka ragukan. Kiranya Tuhan menjaga kita dari kondisi yang demikian dengan berpegang teguh pada kebenaran firman Tuhan.

Penerapan:
Saat menghadapi berbagai ujian, kita perlu ingat bahwa kita ada di hati Allah. Ia menganggap kita begitu berharga. Ia telah menyiapkan segala sesuatu bagi kita. Allah tidak pernah bermaksud jahat terhadap kita. Semua ujian, bahkan yang terberat sekali pun pasti adalah untuk kebaikan kita.

Pokok Doa:
Terima kasih ya Allah atas karya-Mu yang agung. Di antara semua ciptaan-Mu, kami mendapatkan tempat yang utama, agar kami boleh memuliakan Engkau di bumi dan melaksanakan kehendak-Mu.

06 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 3 Sabtu

Munculnya Makhluk-makhluk Hidup Di Daratan (1)
Kejadian 1:24
“Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.’ Dan jadilah demikian.”

Pada hari keenam, hayat yang lebih tinggi dengan kesadaran yang lebih tinggi pun muncul (Kej. 1:24-25). Hayat yang lebih tinggi ini dapat menggenapkan sesuatu di bumi. Kejadian 49:9 menyebutkan singa. Dalam perlambangan, Yehuda disamakan dengan singa yang dapat mengerjakan banyak hal. Satu Samuel 6:7, 12a menyebutkan dua ekor lembu menyusui yang menarik kereta dengan Tabut Perjanjian di atasnya. Dua ayat ini menyatakan bahwa binatang buas dan ternak, keduanya dapat melakukan sesuatu di bumi. Kesadaran mereka lebih tinggi daripada ikan, bahkan lebih tinggi daripada burung, dan mereka dapat mengerjakan sesuatu di bumi. Inilah langkah ketiga pertumbuhan hayat.
Kita mempunyai Kristus sebagai hayat di batin kita. Mulai dari tingkatan rumput, sayur-sayuran, kemudian menjadi pohon. Kemudian, kita akan berada pada tingkatan lain, yaitu tingkatan binatang. Pada tingkatan ini, mula-mula kita menjadi ikan, lambat laun tumbuh menjadi burung, dan akhirnya tumbuh lebih lanjut pula menjadi salah satu ternak dengan hayat yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih berarti.
Untuk memiliki pertumbuhan seperti ini, kita harus menyadari kebutuhan akan terang. Pada hari pertama, kita mempunyai terang dari Roh dan Firman. Ketika maju terus, kita memerlukan terang hari keempat. Pada hari keempat, terang datang dari Kristus, dari gereja, dan dari kaum saleh yang bercahaya. Karena kita berada di bawah penerangan Kristus, gereja, dan kaum saleh yang bercahaya, kita tidak lagi sekadar memiliki munculnya hayat, tetapi juga memiliki pertumbuhan hayat ke tingkatan yang lebih tinggi.

Munculnya Makhluk-Makhluk Hidup Di Daratan (2)
Yes. 40:31

Mengenai proses pertumbuhan, kita bukan membicarakan sesuatu yang teoritis. Dalam Yesaya 40:31 dikatakan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan menjadi seumpama rajawali yang naik terbang. Inilah hayat yang lebih tinggi. Banyak yang dapat bersaksi bahwa mereka sering kali terbang ke atas. Kita dapat hidup dalam segala macam situasi. Tetapi dengan adanya pertumbuhan lebih lanjut, kita bukan hanya dapat tetap hidup dalam lingkungan yang buruk, bahkan dapat melampauinya. Kita terbang tinggi sehingga tidak ada suatu apa pun yang dapat menjamah kita.
Sering kali istri kita mempersulit diri kita. Sebelum kita menjadi burung, kita akan berdebat, berperang mulut dengannya. Begitu kita menjadi rajawali, dan istri kita mempersulit kita, maka suami rajawali ini akan terbang tinggi, membubung ke angkasa, dan mengamati terus sampai sang istri berkata, “Puji Tuhan.” Lalu suami rajawali ini akan kembali. Dengan pengalaman, kita dapat membedakan kapan kita menjadi ikan dan kapan kita menjadi rajawali. Rajawali tidak perlu bergumul, begitu ada kesulitan tiba, dia lantas terbang tinggi. Sungguh sulit menangkapnya. Ketika ada kesusahan, penderitaan, kesulitan, rajawali terbang ke angkasa. Tentunya terbang tinggi yang dimaksud disini bukan berarti kita meninggalkan masalah yang sedang dihadapi, melainkan kita tetap menghadapi masalah itu namun dengan bersandar kepada hayat Tuhan yang sanggup terbang tinggi melampaui semua masalah. Itulah kemenangan yang sesungguhnya, kemenangan yang melampaui segalanya.
Dalam 1 Samuel 6, terdapat sebuah kereta dengan Tabut Perjanjian. Kita perlu memikul sebagian dari berat Tabut Perjanjian. Kita perlu mengerjakan sesuatu, mempunyai sedikit aktivitas di bumi. Jangan hanya terbang tinggi. Apa yang disebut “kehidupan surgawi”, bukanlah kehidupan yang tertinggi. Setelah kita menjadi sedemikian surgawi, kita masih perlu kembali ke bumi. Janganlah hanya bertumbuh semakin tinggi saja, tetapi bertumbuhlah agar dapat turun ke bawah.
Tuhan Yesus adalah Allah. Namun untuk memenuhi kehendak Bapa, Dia datang ke bumi menjadi “lembu”. Dia datang untuk menjadi kurban persembahan, Dia datang untuk memikul semua beban kita. Setiap kali ada orang menganiaya Dia, Dia malah menaruh si penganiaya itu ke atas bahu-Nya, dan berkata, “Aku akan memikulmu ke surga.” Haleluya, hayat sedemikian hari ini ada di dalam kita. Bila Tuhan Yesus telah menjadi “lembu”, maka kitapun dapat bertumbuh menjadi “lembu” untuk memikul pekerjaan Tuhan. Amin.

Penerapan:
Banyak orang mendambakan kemenangan rohani namun tidak mau memikul beban yang Tuhan berikan. Kita perlu bertumbuh dalam hayat, bukan hanya untuk menang atas dosa atau temperamen kita, tetapi terlebih untuk memikul pekerjaan Tuhan.

Pokok Doa:
Tuhan, aku mengasihi Engkau juga kesaksian-Mu. Jadikan aku berkat di dalam rumah-Mu, menjadi seorang yang Engkau pakai dalam pekerjaan-Mu. Tuhan, aku mau melayani-Mu sepanjang umurku.

05 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 3 Jumat

Munculnya Makhluk-Makhluk Hidup Di Dalam Air Dan Di Udara (1)
Kejadian 1:20
“Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.’”

Bentuk luar ikan dan burung tentu berbeda. Namun prinsip hayat batininya sama. Ikan di air menunjukkan ada hayat di dalam air. Burung-burung di bumi menunjukkan ada hayat di bumi. Awalnya, air dan bumi mati dan tanpa hayat, tetapi Allah mampu menciptakan makhluk hidup, walaupun bentuknya berbeda-beda, dan menempatkannya di sana. Air tidak dapat menghasilkan ikan, bumi pun tidak dapat menghasilkan burung. Ikan dan burung diciptakan Allah dan ditempatkan di air dan di bumi. Allah-lah sumber hayat.
Ikan laut tinggal di dalam air asin. Lazimnya, di dalam air asin tidak bisa tumbuh apa-apa; air asin malah bisa membunuh hayat. Namun, ikan dapat hidup di dalam air asin. Airnya boleh asin, tetapi ikannya tak pernah asin; kecuali mereka mati. Hal ini sangat berarti.
Semua umat manusia, seluruh masyarakat, adalah seperti lautan air asin yang luas. Namun, orang Kristen masih dapat hidup. Kita dapat hidup, tinggal di dalam masyarakat yang seperti ini, dan tidak menjadi asin karenanya. Akan tetapi, begitu kita mati, kita akan menjadi asin. Ketika ikan masih hidup, garam sama sekali tidak berdaya terhadapnya, ia dapat hidup di dalam air asin. Sungguh ajaib! Kita, orang Kristen yang memiliki hayat Kristus, dapat hidup di tengah-tengah masyarakat yang gelap dan jahat ini. Haleluya! Kita dapat tidak terpengaruh sehingga menjadi asin karena kita memiliki hayat. Hayat ini dapat menyingkirkan segala unsur garam dari laut. Hayat ini dapat tetap hidup di dalam segala macam situasi yang mati. Di tengah-tengah lingkungan kematian, hayat ini tetap dapat hidup.

Munculnya Makhluk-Makhluk Hidup Di Dalam Air Dan Di Udara (2)
Kol. 3:1-4

Pekerjaan pada hari kelima melambangkan Tuhan Yesus sebagai Tuhan hayat. Hayat tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Setelah Tuhan Yesus bangkit dan terangkat, pekerjaan-Nya adalah menyalurkan hayat kepada anak-anak-Nya (1 Kor. 15:45), sehingga mereka boleh memiliki hayat-Nya dengan berkelimpahan (Yoh. 10:10b). Kenaikan-Nya, yang dilambangkan oleh pekerjaan pada hari keempat adalah untuk menjadi hayat bagi kaum beriman. Kita dapat melihat hal ini dalam Kolose 3:1-4: “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”
Hayat telah diberikan oleh Tuhan Yesus. Tuhan telah naik ke surga. Sasaran-Nya adalah kaum beriman-Nya mengekspresikan hayat-Nya dalam cara yang praktis sebelum Ia datang kembali. Tuhan Yesus mau kaum beriman-Nya mengerjakan ekspresi praktis dari hayat yang berasal dari kematian dan kebangkitan-Nya di atas bumi. Mereka telah menerima hayat melalui kematian dan kebangkitan Tuhan. Secara kedudukan, mereka telah memperoleh kedudukan surgawi. Apa yang kurang adalah suatu bentuk kehidupan di bumi yang mengekspresikan hayat Tuhan.
Tuhan Yesus hari ini sedang melatih kita, untuk bertumbuh ke tingkatan hayat yang lebih tinggi. Tuhan Yesus menghendaki kaum beriman-Nya mengekspresikan Dia dengan suatu bentuk kehidupan tertentu. Tuhan mendambakan kaum beriman-Nya, di mana pun mereka, mengekspresikan hayat-Nya melalui kehidupan mereka. Semua hayat yang diterima oleh kaum beriman dari Tuhan Yesus pada awalnya tidak ada bedanya. Namun, karena perbedaan karakter dan pengalaman kaum beriman, mereka mengekspresikan hayat Tuhan dengan cara yang berbeda. Kita dapat melihat hal ini dengan jelas dalam perumpamaan tentang penabur. Walau yang ditaburkan oleh penabur adalah benih dari jenis yang sama, walau hayat dalam benih itu sama, dan walau ladangnya subur, pada akhirnya, ada yang menghasilkan tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat. Setiap orang menerima hayat yang sama dari Tuhan. Namun ada ekspresi yang berbeda dari hayat ini.

Penerapan:
Untuk mengetahui apakah dunia telah mempengaruhi kita, perhatikanlah bagaimana kita berbicara. Perkataan kita seringkali tidak berbeda dengan orang dunia. Selain itu perhatikanlah bagaimana cara kita berpakaian. Saudara saudari, kita perlu bersandarkan hayat Tuhan yang di dalam kita untuk menanggulangi unsur-unsur dunia yang melekat pada cara hidup kita!

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku tidak mau menjadi orang Kristen mati yang diasinkan dan dikalahkan oleh dunia. Perbaharuilah pikiranku agar tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Aku mau senantiasa dihidupkan oleh hayat-Mu.

04 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 3 Kamis

Bulan Dan Bintang-bintang
Kejadian 1:16
“Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.”

Benda-benda penerang itu bukan hanya melambangkan Kristus, tetapi juga umat-Nya, karena bulan adalah lambang gereja dan bulan adalah lambang orang Kristen secara individu. Bulan tidak memancarkan terang dari dirinya sendiri, tetapi hanya memantulkan terang dari matahari. Demikian juga gereja tidak memantulkan terangnya sendiri, tetapi hanya memantulkan terang dari Kristus. Pada zaman ini kaum beriman “bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Flp. 2:15).
Ada dua hal yang harus kita lakukan berkaitan dengan hal ini. Pertama, secara moral kita harus memantulkan terang Kristus dalam dunia yang gelap ini. Kedua, kita harus memerintah atas kuasa kegelapan dengan terang dari perkataan dan perbuatan kita. Ketika Kerajaan Seribu Tahun datang, kita akan benar-benar menjadi raja dan memerintah atas segala sesuatu.
Di dalam kegelapan dunia hari ini, manusia telah kehilangan terang matahari. Namun gereja telah terangkat ke tempat tinggi dan masih dapat melihat matahari. Gereja yang tinggal dalam terang Kristus menjadi terang bagi kegelapan malam yang telah menolak Kristus. Pada hari pertama ketika kita diselamatkan, kita menerima terang. “Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang” (Yoh. 12:36). Sekarang kita memantulkan terang, kita menjadi saksi Kristus dalam angkatan yang jahat. “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang” (Mat. 5:14, 16).

Untuk Menguasai Dan Menunjukkan Masa-Masa Yang Tetap Dan Hari-Hari Dan Tahun-Tahun

Pada hari keempat, Allah menjadikan matahari, bulan, dan bintang-bintang. Terang hari keempat ini untuk pembedaan. Tanpa terang hari keempat, sulit membedakan segala sesuatu. Kita semua memerlukan pembedaan supaya bertumbuh dalam hayat. Orang-orang muda perlu membedakan ke mana boleh pergi dan ke mana tidak, apa yang boleh dikatakan dan apa yang tidak, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak, apa yang dari Allah dan apa yang dari Iblis, apa yang berada di dalam roh dan apa yang berada di dalam jiwa. Bahkan siswa sekolah menengah pertama perlu membedakan teman-teman sekelas mana yang boleh dihubungi dan mana yang tidak boleh mereka dekati. Semua pembedaan ini datang dari terang.
Jika kita memiliki daya pembeda sedemikian, maka kita akan memiliki otoritas. Otoritas terbesar bagi orang Kristen yang telah mencapai tahap hayat dalam keterangkatan adalah menang atas kuasa kegelapan. Dalam keterangkatan, kaum beriman menjadi jelas tentang peperangan rohani, serangan musuh, pencobaan dari roh-roh jahat, permainan palsu roh-roh jahat. Mereka tahu bagaimana menang atas musuh dengan darah Anak Domba, dengan perkataan kesaksian mereka, dan dengan tidak mengasihi hayat jiwa mereka. Mereka terlatih untuk menggunakan pedang Roh, yaitu firman Allah, untuk menyerang kekuatan Iblis. Kemudian mereka tahu bagaimana berdoa dengan cara meminta Allah untuk menghancurkan semua aktivitas Iblis. Mereka tahu bagaimana berdiri atas tumpuan salib, memegang kemenangan yang telah dirampungkan oleh salib, menggunakan perkataan pujian untuk mengusir serangan musuh. Mereka tahu bagaimana melatih tekad untuk berperang terhadap semua siasat musuh. Dengan demikian, mereka akan sering menghancurkan Iblis di bawah kaki mereka.
Selain untuk pembedaan, benda-benda penerang juga menandakan Kristus sebagai permulaan baru kita. Setiap hari adalah permulaan baru, karena setiap hari kita mengalami matahari terbit. Setiap hari kita mengalami fajar. Sebagai matahari, Kristus memberi permulaan baru kepada kita hari demi hari. Setiap pagi, bersekutu dengan Tuhan kiranya menjadi fajar kita, yaitu saat bintang fajar menyingsing di dalam kita sebagai permulaan baru. Setiap hari adalah suatu permulaan baru. Ratapan 3:22-23 mengatakan bahwa tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi. Semua hari, tanda-tanda, musim-musim, dan tahun-tahun adalah bayang-bayang. Kristuslah realitasnya (Kol. 2:16-17). Kristus adalah hari raya, Kristus adalah bulan baru, Kristus adalah hari Sabat, Kristus adalah permulaan tahun, Kristus adalah segalanya. Kristus adalah permulaan baru kita.

Penerapan:
Bagaimanapun penilaian kita terhadap gereja, gereja adalah bulan yang memantulkan terang Kristus. Untuk mendapatkan terang Kristus, kita harus berada di dalam kehidupan gereja yang tepat, menyatukan diri dengan kaum beriman lain untuk bersama-sama memikul kesaksian Kristus. Semakin banyak kita menempuh hidup gereja, semakin banyak terang kita terima, semakin banyak pertumbuhan hayat kita alami.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih untuk kehidupan gereja yang tepat tempat aku dapat menerima banyak sorotan terang-Mu dan bertumbuh ke arah diri-Mu. Ya Tuhan, ampunilah aku yang sering mengabaikan gereja. Aku bertobat dan berpaling kepada-Mu.

03 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 3 Rabu

Hari Keempat
Kejadian 1:14-15
“Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.’ Dan jadilah demikian.”

Pekerjaan pada hari keempat melambangkan kenaikan Tuhan Yesus. Pada hari keempat Allah menjadikan benda-benda penerang. Dia menjadikan matahari, bulan, dan bintang-bintang. Penekanannya di sini adalah pada hal-hal yang di atas yaitu yang surgawi. Ini adalah kenaikan/keterangkatan Kristus dengan kaum beriman-Nya. Dalam posisi keterangkatan, kaum saleh memiliki persekutuan yang lebih intim dengan Tuhan Yesus dan menikmati terang yang lebih kuat dari terang hari pertama.
Setelah kebangkitan, urutan peristiwa berikutnya adalah keterangkatan. “Di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga” (Ef. 2:6).
Tuhan Yesus dibangkitkan dari antara orang mati dan didudukkan di sebelah kanan Bapa di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut (Ef. 1:20-21). Hayat keterangkatan adalah hayat yang menang atas semua otoritas dan kuasa Iblis. Sebelum pengalaman keterangkatan, kita hanya memiliki kemenangan atas dosa-dosa, dunia dan daging. Ketika kita dalam keterangkatan, kita mengalami peperangan dengan semua pemerintah, penguasa, kekuasaan, kerajaan, serta setiap nama dalam wilayah kegelapan, dan menang atas mereka. Kita dapat mencapai hayat keterangkatan ketika kita telah mengalami ketiga pemisahan yang disebutkan di minggu kedua.
Catatan: Untuk memperdalam topik ‘Kenaikan’, bacalah buku Pengalaman Hayat jilid 2, bab 16, terbitan Yayasan Perpustakaan Injil.

Matahari Melambangkan Kristus
Kej. 1:14-19, Luk. 1:78; Yoh. 8:12; 1:9, 5; Yoh. 3:19-20

Kejadian 1:14-19 membicarakan terang, secara jelas — matahari, bulan, dan bintang-bintang. Kejadian 1:16 mengata-kan bahwa Allah menjadikan benda penerang yang lebih besar. Benda penerang yang lebih besar ini pastilah matahari, karena selanjutnya dikatakan bahwa ia dijadikan untuk menguasai siang. Matahari adalah sumber panas dan terang bagi bumi. Terangnya berasal dari dirinya sendiri, tidak berubah, dan konstan. Tuhan Yesus adalah “Terang yang besar” dari surga. Ketika Dia berada di bumi, Dia adalah Surya Pagi dari tempat yang tinggi (Luk. 1:78). Dia juga “Terang Dunia” (Yoh. 8:12). Dia adalah Terang yang sesungguhnya yang datang ke dunia, menerangi setiap manusia (1:9). Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (ay. 5).
Maleakhi 4:2 mengatakan bahwa Kristus adalah surya kebenaran. Pada sayap-Nya (yaitu penyinaran-Nya) terdapat penyembuhan. Tanpa penyinaran-Nya, akan ada kematian. Ketika penyinaran-Nya terbit, datanglah kesembuhan.
Sebagai matahari terbit, Kristus menyinari mereka yang duduk di dalam kegelapan dan dalam naungan maut. Yesus sang Juruselamat adalah Surya Fajar untuk zaman kegelapan. Sebelum Kristus datang, bumi ada dalam kegelapan malam. Bersama kedatangan-Nya sebagai matahari, ada permulaan siang, dan bumi mulai diterangi oleh Dia. Jika Dia tidak menjadi matahari terbit, Dia tidak bisa menghalau kegelapan yang menyelimuti bumi, dan Dia tidak dapat menjadi Juruselamat kita.
Di dalam perlambangan, matahari selain melambangkan Kristus, ia juga melambangkan orang-orang Kristen yang akan bersinar seperti matahari dalam kerajaan. Matius 13:43a memberi tahu kita bahwa orang-orang Kristen pemenang akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan yang akan datang. Dalam Kerajaan, banyak orang Kristen akan bersinar seperti matahari.
Hari ini, Kristus adalah matahari. Kelak, orang-orang Kristen yang menang juga akan menjadi matahari. Namun, tentunya ini tidak terjadi secara gratis. Hari ini kondisi kita masih banyak yang terbungkus dalam kegelapan, mana mungkin ketika Kristus datang mendadak kita bisa bersinar seperti matahari.
Saudara saudari bila kita damba kelak dapat bersinar seperti matahari, marilah kita membenci kegelapan dan lebih banyak memandang kepada Kristus, sang Terang sejati, agar terang-Nya setiap hari meresapi kita, makin lama makin terang. Dengan demikian, perlahan-lahan kita dipenuhi dengan terang, maka kelak kita baru bisa bersinar seperti matahari.

Penerapan:
Sebagai orang yang telah percaya Tuhan, terang Tuhan pasti sudah bersinar di dalam kita. Namun mengapa kita masih terikat dalam dosa, kelemahan kita? Ini menyatakan kita masih kekurangan terang hari keempat. Saudara saudari marilah kita terus menuntut pertumbuhan hayat sehingga kita mencapai tahap keterangkatan agar kita bisa sepenuhnya mengalahkan musuh.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku tidak mau hidup sendirian. Aku mau berada di antara orang-orang kudus-Mu. Berikanlah terang-Mu lebih banyak ke dalamku setiap kali aku membaca dan merenungkan firman-Mu. Jadikan aku seorang yang bercahaya di dalam kegelapan.

02 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 3 Selasa

Kehidupan Yang Tersembunyi (1)
Kejadian 1:12
“Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.”

Rerumputan memang hijau, tetapi tidak dapat menghasilkan sesuatu untuk dinikmati. Ia memiliki akar, tetapi sangat dangkal, mudah sekali menjadi layu. Berbeda dengan rerumputan, tumbuh-tumbuhan yang berbiji selain bisa menghasilkan sesuatu untuk dinikmati, juga memiliki akar yang lebih dalam sehingga lebih tahan terhadap teriknya matahari. Pohon buah-buahan memiliki akar yang lebih dalam dan lebih kuat lagi, tahan perubahan iklim, bisa menaungi kehidupan di bawahnya, dan menghasilkan buah untuk dinikmati. Kalau tumbuh-tumbuhan yang berbiji hanya berumur semusim, pohon buah-buahan bisa hidup puluhan bahkan ratusan tahun.
Sebagai orang Kristen, kita harus bertumbuh menurut urutan hayat yang demikian. Kita harus semakin berakar di dalam Kristus sehingga kita bisa menghasilkan sesuatu untuk dinikmati, baik oleh Allah maupun manusia. Kalau kita memiliki akar yang dalam dan kuat, kita tentu dapat berdiri kokoh saat diterpa oleh badai dunia ini. Bukan hanya demikian, bahkan banyak anak-anak Allah dapat bernaung pada kita. Bagaimana kita bisa memiliki akar yang dalam ini? Kita perlu memiliki kehidupan yang tersembunyi dengan Tuhan (Mat. 6:4, 6, 18). Tanpa kehidupan yang tersembunyi dengan Tuhan ini, maka kehidupan rohani kita akan sangat dangkal. Kita tidak akan tahan terhadap teriknya matahari kesulitan dan penindasan.
Saudara saudari, bagaimana keadaan kehidupan rohani kita? Apakah semuanya hanya ada di hadapan orang, ataukah kita memiliki waktu-waktu persekutuan yang sangat pribadi dengan Tuhan?

Kehidupan Yang Tersembunyi (2)
Hos. 14:6-8; Kid. 4:12

Hosea 14:6-8, ada tiga kali menyinggung Libanon, tujuannya supaya kita memperhatikan kehidupan yang tersembunyi. Kehidupan yang tersembunyi ini, meskipun seperti bunga bakung bertumbuh di lembah yang sunyi, seperti pohon zaitun yang lahirnya tidak semarak, dan seperti bunga anggur yang tidak mencolok, tetapi dengan tulus, murni, hidup menengadah kepada Allah dan banyak berbuah. Inilah kehidupan orang Kristen yang seharusnya kita miliki. Kalau kita ingin memiliki kehidupan yang demikian, harus berakar melalui terus berlatih dalam hidup sehari-hari. Sedikitnya setiap hari ada waktu khusus untuk membaca Alkitab dan berdoa secara pribadi di depan Allah, sambil membaca Alkitab sambil berdoa. Kalau mungkin, menetapkan sedikit waktu, berdoa untuk kaum saleh, berdoa untuk gereja-gereja di setiap tempat, berdoa untuk pekerjaan Allah. Kalau ada orang Kristen yang pada hari-hari biasa tidak membaca Alkitab dan berdoa, jangan harap ia memiliki kehidupan yang tersembunyi. Berakar bukan satu slogan yang kosong, melainkan pelaksanaan dalam hidup sehari-hari, untuk itu perlu komitmen kita agar disiplin setiap hari.
Kehidupan yang tersembunyi menuntut adanya persekutuan yang langsung dan intim dengan Tuhan. Kidung Agung 4:12 berkata, “Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, sumur tertutup dan mata air termeterai.” Di sini “kebun” adalah “kebun bunga”. “Kebun bunga” di Alkitab adalah gambaran maksud hati Allah yang semula. Kebun bunga tidak seperti tanah ladang yang umum untuk tanaman yang biasa, juga bukan seperti sawah yang khusus untuk bercocok tanam. Kebun bunga khusus untuk keindahan, untuk kenikmatan. Dalam kebun bunga mungkin ada pohon, tetapi tujuannya bukan untuk mendapatkan kayu; mungkin ada pohon buah, tetapi tujuannya bukan pada menghasilkan buah. Yang ditekankan dalam kebun bunga adalah rumpunan bunga. Yang diharapkan dari kebun bunga adalah keindahan. Sebab itu, menanam bunga adalah untuk kesenangan hati. Taman bunga di sini adalah “kebun tertutup”, artinya, kebun ini bukanlah kebun untuk umum, tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, melainkan yang tertutup, yang khusus untuk Kristus. Keindahan yang di dalam hanya untuk Kristus, dinikmati oleh Kristus. Kehidupan yang demikian tidak mencari perkenan manusia, hanya mencari perkenan Kristus.
Singkatnya, semua keindahan orang Kristen, semua tuntutan orang Kristen, dan semua pengalaman orang Kristen, tidak seharusnya suka dipamerkan, sengaja diperlihatkan kepada orang. Semuanya seharusnya tenang, tertutup, dan termeterai bagi Tuhan. Kehidupan yang tersembunyi semacam ini bisa memuaskan hati Tuhan.

Penerapan:
Adalah suatu hal yang tragis bila kita sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen namun tetap seperti rerumputan yang hanya sedap dipandang namun tidak cukup berakar dan tidak berbuah. Tuhan tidak menyelamatkan kita supaya kita sekadar sedap dipandang, tetapi Ia ingin kita bertumbuh ke arah Dia, menjadi seperti Dia, dan memperhidupkan Dia. Milikilah kehidupan yang tersembunyi dengan Tuhan.

Pokok Doa:
Ya Tuhan, bawalah aku bertumbuh hari ini lebih dari pada kemarin, lebih dari pada minggu lalu, lebih dari pada bulan lalu, dan lebih dari pada tahun lalu. Aku mau memiliki kehidupan yang berakar di dalam Engkau, menyerap kelimpahan-Mu dan menghasilkan buah.

01 May 2006

Kejadian Volume 3 - Minggu 1 Senin

Supaya Ada Tumbuh-Tumbuhan Di Bumi (1)
Kejadian 1:11
“Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.’ Dan jadilah demikian.”

Pada hari ketiga, daratan muncul. Kita telah berada dalam kebangkitan, maka sekarang adalah perkara menghasilkan buah (Kej. 1:11-12). Kebangkitan dan menghasilkan buah adalah dua perkara yang berhubungan langsung. Dalam Roma 7:4 dikatakan “... yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah”.
Setelah ketiga pemisahan, yaitu pemisahan terang dari gelap, lalu pemisahan air yang ada di bawah cakrawala dari air yang ada di atasnya, dan terakhir pemisahan daratan dari air yang ada di bawah cakrawala, maka berbagai jenis hayat muncul dari daratan. Mula-mula yang tumbuh adalah tunas-tunas muda (deshe’ - bahasa Ibrani) yang berarti lumut (rumput) hijau yang lembut. Setelah lumut, lalu tumbuh-tumbuhan berbiji, dan pohon buah-buahan yang menghasilkan buah. Pada dasarnya buah yang dihasilkan bukan untuk kegunaannya sendiri, tetapi untuk Tuhan (Rm. 7:4).
Berkenaan dengan masalah berbuah, kita perlu perhatikan bahwa setiap jenis pohon buah mampu berbuah menurut jenisnya sendiri. Dengan demikian hanya kasih yang dapat melahirkan kasih, hanya sukacita yang dapat melahirkan sukacita, dan seterusnya. Jika kita menginginkan kasih, maka kita harus menunjukkan kasih. Jika kita menginginkan sukacita, maka kita harus menunjukkan sukacita. Apa yang dituai adalah seturut apa yang ditaburkan.
Selain itu, jangan takut menghadapi masalah, sebab buah yang tumbuh di bawah panas matahari akan menjadi buah yang paling lebat dan akan menjadi kesukaan bagi tuannya.

Supaya Ada Tumbuh-Tumbuhan Di Bumi (2)
Yoh. 12:24

Allah menyebut tanah yang kering sebagai “darat”. Akar kata dari bahasa aslinya adalah “hancur atau remuk”. Kita semua tahu bahwa tanah yang subur selalu telah melalui proses dihancurkan (dicangkul). Jika tidak dicangkul, tidak bisa menjadi subur. Semakin tanah itu dicangkul semakin baik hasil penuaiannya kelak. Hanya dengan cara inilah tanah memberikan perawatan kepada benih.
Kita harus menyadari bahwa kemampuan diri kita selalu menjadi penghalang dari manifestasi kemampuan Allah. Yohanes 12:24, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Jika kita tidak membenci hayat jiwa, alamiah, kemampuan, talenta, hikmat, dan kebajikan kita, kita tidak bisa menghasilkan banyak buah. Ketika kita melepaskan hayat alamiah dan kemampuan yang diwariskan dari daging kita dan menerima tangan Allah dengan hati yang hancur, maka kita bisa memperoleh buah dari Allah.
Masalah kita, sekalipun kuasa dari daging hilang, hayat alamiah tetap mempertimbangkan dirinya sebagai yang ‘baik’ dengan segala kemampuan alamiahnya dan menolak untuk menyerah. Hayat jiwa yang hancur dari kaum saleh adalah tanah yang subur di tangan Bapa Surgawi. Allah tidak meminta kemampuan kita, tetapi ketidakmampuan kita. Dia tidak meminta kekuatan kita, tetapi kelemahan kita. Dia tidak meminta kita dipenuhi tetapi justru meminta kita dikosongkan. Dia tidak menginginkan kita untuk bertahan tetapi justru menginginkan kita menyerah. Menghasilkan buah tidak bisa melalui mengembangkan diri sendiri, tetapi melalui dihancurkan, direndahkan, dan menjadi lemah.
Kita sering berpikir bahwa daging yang berdosa harus dilenyapkan. Tetapi kita seharusnya menyadari bahwa untuk menghasilkan buah, harus mengesampingkan kebaikan, kejujuran, dan kebenaran jiwa (diri sendiri) kita. Kita mungkin diisi dengan pekerjaan kita sendiri. Namun Allah berpikir bahwa pekerjaan tersebut harus dihancurkan. Kita menilai diri kita terlalu besar. Jarang sekali kita menyadari bahwa diri kita sudah terinfeksi oleh dosa Adam. Semua kebaikan dan maksud yang kita hasilkan seperti gelembung sabun.
Ketika kita lemah, kosong, dan menjadi tanah liat di tangan tukang tembikar, maka hayat Kristus akan tinggal di dalam kita dan kuat kuasa-Nya akan termanifestasi di dalam tubuh kita. Semakin kita mengenal salib dan realitas kebangkitan, semakin kita mengenal arti dari diremukkannya hayat jiwa kita.

Penerapan:
Hari ini kita perlu dengan serius menimbang keadaan kita di hadapan Tuhan. Apakah hayat kita masih mirip lumut yang tidak tahan panas matahari ataukah kita sudah bertumbuh menjadi pohon yang bisa menghasilkan buah? Apakah “sinar matahari” justru membuat kita berbuah lebat ataukah justru mematikan kita?

Pokok Doa:
Tuhan, Engkau sungguh agung tak terbatas. Ampunilah aku yang kurang mengalami Engkau dalam hidupku. Aku cukup puas dengan pengalamanku yang lampau. Tuhan, aku mau mengalami Engkau yang baru hari ini.

29 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 2 Sabtu

Pemisahan Daratan Dengan Air (1)
Kejadian 1:9-10
“Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering’. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.”

Meskipun Allah telah memisahkan air yang ada di bawah langit dengan air yang ada di atasnya, tetapi seluruh bumi masih digenangi air kematian. Karena itu, “Berfirmanlah Allah: Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering’” (Kej. 1:9). Inilah pekerjaan Allah di hari ketiga. Allah tidak meniadakan laut, namun Ia membatasinya. Sekarang, laut tidak dapat melewati batasnya (Mzm. 104:9) dan tidak mungkin membanjiri bumi. Allah bahkan telah memberikan nama untuknya (Kej. 1:10). Tanah yang kering juga menerima nama baru (ay. 10) untuk membedakannya dari laut.
Di dalam dirinya sendiri, manusia hanyalah daging dan ia sangat lemah. Karena manusia tidak lain adalah debu! Segala-nya terbatas. Jika toh memiliki kebajikan, maka kebajikannya juga terbatas. Pemikiran, karakter, tingkah laku, dan etika manusia sepenuhnya berasal dari manusia, karena itu tidak mungkin ditingkatkan kualitasnya. Kelemahan, kemerosotan, dan dosa adalah kualitas manusia pada umumnya. Karena itu, jika manusia tetap adalah manusia - lemah, dikalahkan, berdosa — Allah tidak akan pernah puas. Allah itu sempurna. Ia menginginkan manusia juga sempurna dalam karakter, moral, tingkah laku, dan pemikiran, menurut standar Allah.
Karena manusia tidak mungkin diperbaiki, maka dalam rencana keselamatannya, Allah memang tidak bermaksud memperbaikinya, tetapi Ia akan membuat manusia menjadi “ciptaan baru”. Itulah sebabnya Allah menyingkirkan dan membatasi laut sehingga daratan muncul di hari ketiga, hari kebangkitan. Haleluya! Puji Tuhan untuk pekerjaan-Nya.

Pemisahan Daratan Dengan Air (2)
Kej. 7:17-24; 8:13-17, 22; 11:1-9; 12:1, 5, 7; Flp. 1:21; Rm. 8:9

Kondisi aneh yang ada di tengah-tengah manusia berdosa adalah pemikiran bahwa tingkah laku mereka cukup sempurna dan memuaskan Allah, dengan Tuhan Yesus tidak beda terlalu jauh! Alangkah butanya kita! Ini berarti kita tidak dapat melihat keindahan Tuhan Yesus. Allah berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17). Di luar sang Putra, tidak ada seorang pun yang berkenan di hati Bapa karena “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Rm. 8:8). Karena itu, kita perlu terus tinggal di dalam Kristus. Bagaimana caranya?
Daratan yang muncul dari genangan air kematian adalah lambang Kristus yang bangkit dari kematian. Segala sesuatu yang Allah sediakan untuk manusia terpusat di atas sebidang tanah ini. Manusia tercipta untuk mendiami bumi dan menikmati segala yang Allah sediakan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia terhimpun di tanah, sedangkan tanah melambangkan Kristus. Maka segala sesuatu yang Allah sediakan bagi kita terpusat di dalam Kristus.
Setelah manusia jatuh, pada zaman Nuh, bumi pernah sekali lagi digenangi air kematian (Kej. 7:17-24). Ini menggambarkan kondisi manusia yang telah terpisah dari Kristus. Manusia telah terputus dari kenikmatan atas tanah yang disediakan oleh Tuhan. Tetapi, Tuhan sekali lagi memulihkan bumi (Kej. 8:13-17, 22). Sayang sekali, sampai zaman Babel, manusia jatuh lebih dalam, seluruh umat manusia bangkit melawan Allah (Kej. 11:1-9). Itulah sebabnya Allah memanggil satu kaum dengan Abraham sebagai nenek moyang mereka, mereka dipanggil untuk memasuki tanah permai Kanaan. “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;’ ‘…. mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ’ ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu’ (Kej. 12:1, 5, 7). Tanah permai Kanaan ini juga melambangkan Kristus. Saudara saudari, kita harus waspada agar tidak kehilangan tanah permai yang telah Tuhan sediakan bagi kita, yaitu Kristus. Kita perlu menggarapnya, berjerih lelah di atasnya, dan menghasilkan buah. Hidup kita, pekerjaan kita, pelayanan kita, haruslah di dalam Kristus, hingga kita dapat berkata seperti Paulus, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Kita perlu terus ingat bahwa di luar Kristus, sebaik apa pun hidup, pekerjaan, dan pelayanan kita, di pandangan Allah hanyalah daging. Tidak ada daging yang diperkenan Allah (Rm. 8:8). Sama seperti laut yang telah dibatasi Allah, demikian pula dengan daging. Walaupun ia masih ada, tetapi kematian dan kebangkitan Tuhan telah memberi kita kuasa untuk membatasinya.

Penerapan:
Saudara saudari, walaupun kita telah diselamatkan, air kematian di dalam kita belum terpisah, dan perkara-perkara kematian belum dibatasi. Oleh sebab itu kita harus senantiasa tinggal di dalam Kristus. Dulu jika kita selalu percaya diri dan mandiri dalam banyak hal, sekarang kita perlu lebih banyak datang kepada Tuhan. Jangan mengerjakan apa pun tanpa melibatkan Tuhan.

Pokok Doa:
Ya Tuhan Yesus, celikkan mata batiniku agar aku melihat betapa bobroknya diriku. Segala kebaikan yang kubanggakan tidak mungkin diperkenan oleh-Mu. Tuhan Yesus, hanya Engkaulah yang sempurna dan diperkenan Allah, buatlah aku terus tinggal di dalam-Mu.

28 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 2 Jumat

Pemisahan Air Yang Di Bawah Cakrawala dari Air Yang Ada Di Atasnya (1)
Kejadian 1:6-8
“Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.’ Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.”

Cakrawala memisahkan air yang di atas dengan air yang di bawah. Apa yang tadinya terbenam dalam-dalam di air yang payau, gelap, dan suram telah dipisahkan dan menjadi uap yang naik ke cakrawala. Pemisahan yang luar biasa! Melalui “cakrawala”, Allah telah memisahkan yang murni dari yang jahat dan kotor, sehingga masing-masing mempunyai tempatnya. Allah menamai cakrawala itu langit.
Dia telah menaruh “cakrawala” di dalam kita. Dia juga menaruh kita di “cakrawala” sehingga iman kita mempunyai lingkungan yang nyaman. Ini menunjukkan bahwa kita telah menerima panggilan surgawi, mengarahkan diri ke kerajaan surgawi, dan merindukan kota surgawi. Pengharapan kita ada di atas, dan kita menantikan negeri surgawi, menganggap diri sendiri sebagai musafir (perantau) di bumi.
Cakrawala yang di dalam kita membutuhkan cakrawala yang di luar. Seseorang yang mempunyai hayat surgawi, dia pasti menempuh hidup secara surgawi. Sifat dari orang yang dilahirkan kembali akan memimpin dia untuk tidak “berjalan menurut nasihat si fasik”, dan tidak akan “berdiri di jalan orang yang berdosa” dan “duduk dalam kumpulan pencemooh” (Mzm. 1:1). Hura-hura, kasih duniawi, dan mode akan sukar menariknya. Sama seperti seorang manusia tidak bisa menghirup udara yang kotor, bagaimana mungkin kaum saleh bernafas di tengah-tengah kekejian, kejahatan, dan kekacauan. Mereka akan mengasihi kumpulan saudara-saudara mereka dan teman-teman mereka dalam pengembaraan mereka menuju kota surgawi. “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita” (1 Yoh. 3:14).

Pemisahan Air Yang Di Bawah Cakrawala dari Air Yang Ada Di Atasnya (2)
Rm. 6:6, 11; Gal. 2:20; 5:24; 6:14; Kol. 2:20; Ef. 2:2

Asalnya, seluruhnya adalah air dan tidak ada pemisahan. Kemudian, cakrawala datang dan memisahkan air yang di bawah langit dengan air yang di atasnya. Cakrawala ini adalah gambaran salib Tuhan Yesus.
Cakrawala memisahkan air. Salib Tuhan Yesus memisahkan orang-orang di dunia. Ketika Ia disalibkan, salib-Nya selamanya memisahkan kedua penyamun. Satu ke taman Firdaus, dan yang lain ke neraka. Sepanjang hidupnya, kedua penyamun itu melakukan dosa yang sama. Namun, di saat-saat terakhir, yang seorang menerima kematian Tuhan di atas salib sebagai kematian yang menggantikan dirinya, sedangkan yang lain tidak mau menerima. Saat itu, segera ada pemisahan antara surga dan neraka! Pemisahan ini berlangsung selamanya. Salib-Nya telah memisahkan kedua penyamun itu, demikian pula hari ini, salib-Nya telah memisahkan seluruh dunia.
Mula-mula terang Allah menyoroti kita hingga kita memiliki penilaian yang benar terhadap kejahatan hayat dosa dan sifat dosa kita. Perkara yang dulu menjadi penghiburan kita, yang kita banggakan, sekarang melalui terang Tuhan kita tahu bahwa itu tidak berharga. Segala yang dulunya terkubur dan tersembunyi di bawah air yang payau dan gelap, kini tidak lagi tersembunyi. Semakin terang Allah menyinari kita, semakin banyak kelemahan dan kekurangan yang terekspos. Di tengah-tengah rasa putus asa dan penyesalan inilah kita tahu kekuatan pemisahan dari salib Tuhan Yesus. Salib Tuhan Yesus telah menyalibkan dosa (Rm. 6:6,11), diri (Gal. 2:20), daging (Gal. 5:24), dunia (Gal. 6:14), dan unsur-unsur dunia kita (Kol. 2:20). Kematian memisahkan. Kematian adalah pemisahan, pemutusan, dan pelepasan yang luar biasa. Salib memutuskan segala hubungan dan meniadakan segala belitan. Tanpa salib, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari hal-hal yang di bawah.
Kesatuan kita dengan kematian Kristus memisahkan kita dari hal-hal yang “di bawah”. Meskipun kita telah dilahirkan kembali, dosa, diri, daging, dunia, dan unsur dunia masih melekat dan sering menarik kita ke bawah.
Kita tidak perlu bingung mengenai posisi dan pengalaman kita. Waktu kita dilahirkan kembali, Allah telah memperhitungkan kita tersalib bersama Kristus. Ketika Allah menerima kematian Tuhan Yesus untuk kepentingan kita, Dia memperhitungkan kita mati. Tetapi, kita mungkin masih belum memiliki pengalaman ini. Pengalaman kematian bersama ini dialami sesudah kita dilahirkan kembali, dalam pergumulan antara dua hayat, dan dua sifat, terang serta gelap.

Penerapan:
Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu memiliki cakrawala, yang memisahkan perkara-perkara yang berkenan di hadapan Allah dari perkara yang yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Gurauan kita, teguran, nasihat, pertimbangan-pertimbangan, keputusan kita, cara kita menangani anak-anak kita, dsb., tidak boleh kekurangan cakrawala.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih atas cakrawala yang Engkau ciptakan yang melambangkan pekerjaan salib atasku. Tuhan, aku mau mengalami salib-Mu lebih dalam lagi. Arahkanlah pandanganku kepada perkara-perkara yang di atas, sehingga aku terpisah dari hal-hal yang tidak kudus di bumi.