Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 13:11-13
Dalam ayat 11 Paulus juga menasihati orang-orang Korintus untuk sehati sepikir. Sehati sepikir haruslah menjadi faktor utama bagi orang-orang Korintus yang telah dipalingkan dan diselewengkan supaya mereka dapat disempurnakan, dibetulkan, diatur, dan dipulihkan. Dalam Surat Kirimannya yang pertama (1 Kor. 1:10), Paulus telah menasihati mereka supaya mereka sehati sepikir. Kaum beriman di Korintus telah terpecah-belah, terbagi-bagi secara keseluruhan. Mereka memerlukan perbaikan, agar dengan indah sempurna bersatu kembali, sehingga di dalam keharmonisan memiliki satu pikiran, dan satu opini.
Dalam 2 Korintus 13:11 Paulus juga menasihati orang-orang Korintus agar mereka hidup dalam damai sejahtera. Ini berarti berada dalam damai sejahtera satu dengan yang lain, dan mungkin juga dengan Allah. Paulus tahu bahwa ada perselisihan dan persaingan di antara orang-orang Korintus. Ini menunjukkan bahwa di antara kaum beriman di Korintus tidak ada damai sejahtera. Di sini dalam 2 Korintus 13:11 Paulus mendorong mereka agar mereka berada dalam damai sejahtera.
Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang bersukacita dan juga kehidupan damai sejahtera. Maka, berselisih dengan orang lain atau bersaing dengan mereka itu bertentangan dengan prinsip dasar kehidupan orang Kristen. Perselisihan dan persaingan adalah ciri-ciri dari kehidupan manusia yang telah jatuh. Dunia pada hari ini penuh dengan perselisihan dan persaingan. Dalam setiap aspek dari masyarakat manusia, persaingan dan peperangan itu sudah biasa. Kehidupan orang Kristen mutlak berbeda dengan hal ini. Sebagai umat surgawi, kita harus selalu berada dalam damai sejahtera satu sama lain.
Menurut perkataan Paulus dalam ayat 11, jika kita bersukacita, disempurnakan, dihibur, sehati sepikir, dan berada dalam damai sejahtera, maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kita. Orang-orang Korintus kekurangan kasih (1 Kor. 8:1; 13:1-3, 13; 14:1) dan damai sejahtera karena mereka diganggu oleh pengajaran-pengajaran yang menyesatkan dan konsep-konsep yang menipu. Karena itu, rasul berharap agar Allah sumber kasih dan damai sejahtera menyertai mereka sehingga mereka dibetulkan dan disempurnakan. Mereka perlu dipenuhi dengan kasih dan damai sejahtera dari Allah, sehingga mereka dapat hidup menurut kasih (Rm. 14:15; Ef. 5:2) dan memiliki damai satu dengan yang lain (Rm. 14:19; Ibr. 12:14).
Sebenarnya, kasih adalah faktor pendorong bersukacita. Jika kita kekurangan kasih, maka kita tidak akan memiliki kegembiraan apa pun, dan kita tidak akan dapat bersukacita. Anda mungkin berusaha bersukacita ketika ada kebencian dalam hati Anda, tetapi hal itu tidak akan berhasil. Demikian juga, kita tidak dapat bersukacita bila kita penuh dengan iri hati. Seorang yang bersukacita adalah seorang yang penuh dengan kasih, kebaikan, dan damai sejahtera.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 58
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
10 April 2012
09 April 2012
2 Korintus - Minggu 29 Senin
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 13:11-13
Menurut Perjanjian Baru, kehidupan orang Kristen haruslah menjadi kehidupan yang bersukacita. Jika kehidupan Anda bukan kehidupan yang bersukacita, maka kehidupan kristiani Anda itu tidak normal. Bersukacita itu lebih daripada sekadar gembira. Mungkin saja kita bergembira tetapi tidak bersukacita. Kegembiraan adalah sesuatu yang di dalam, sedangkan sukacita berarti kegembiraan yang di dalam kita itu meluap keluar. Saya percaya Paulus akan mengatakan bahwa untuk bersukacita kita harus bersuara; yaitu, kita perlu memperdengarkan kegembiraan kita dengan mengeluarkan suara. Maka, memperdengarkan kegembiraan kita adalah bersukacita. Kita harus bersukacita baik dengan menyanyi, memuji, bersorak, atau berseru kepada Tuhan. Karena itu, bersukacita adalah memperdengarkan kegembiraan di dalam batin kita, yaitu menyuarakannya. Sukacita ini adalah satu ciri penting dari kehidupan kristiani kita. Jika kehidupan kristiani kita normal, kehidupan ini akan menjadi satu kehidupan yang bersukacita.
Disempurnakan berarti dipulihkan, ditambal, diperbaiki, dan dibetulkan. Ini berarti dibawa kembali kepada posisi yang benar dan dipulihkan kepada rel yang benar supaya kita dapat dibangun bersama orang lain dalam Tubuh. Kitab 1 dan 2 Korintus adalah kitab-kitab penyempurnaan. Sasaran unik dari kedua Surat Kiriman ini adalah menyempurnakan kaum saleh di Korintus yang telah dirusak, diselewengkan, dan yang telah terpecah belah. Kaum beriman di sana telah rusak dan situasi di antara mereka tidak sehat. Karena itu, kedua kitab ini ditulis untuk melaksanakan tugas yang diperlukan guna menyempurnakan kaum beriman, membawa mereka kembali kepada satu keadaan yang sehat yang penuh dengan hayat, membina mereka, dan memperlengkapi mereka bagi pembangunan Tubuh. Semua itu tercakup dalam nasihat Paulus "usahakanlah dirimu supaya sempurna".
Allah sedang menunggu untuk menyempurnakan kita, namun kita harus mengambil inisiatif untuk disempurnakan. Selain itu, rasul juga dipakai untuk menyempurnakan orang-orang Korintus. Ini berarti pekerjaan menyempurnakan ini sedang dilaksanakan. Tetapi orang-orang Korintus masih perlu disempurnakan. Kita boleh menyamakan Paulus dengan seorang dokter dan bahwa ia siap memberikan obat kepada kaum beriman, tetapi kaum beriman perlu mengambil inisiatif untuk menerima obat itu. Dokternya sudah ada dan obatnya telah siap, tetapi kunci yang penting adalah ini: Apakah orang-orang Korintus mau mengambil obat itu dan disembuhkan? Inilah sebabnya Paulus mendorong mereka untuk disempurnakan.
Jika kita mempelajari seluruh Kitab 2 Korintus, kita akan memahami bahwa dalam Surat Kiriman ini, penghiburan adalah satu perkara yang penting. Karena alasan ini, maka perkataan Paulus "terhiburlah" dalam 13:11 ini sangatlah bermakna. Terhibur itu berarti pertama-tama kita dihibur, lalu tenang, dan kemudian dipuaskan, dikuatkan, dan diteguhkan. Hasil dari semuanya ini adalah kita terhibur. Kita tidak tawar hati dan tidak patah semangat. Di sini Paulus seolah-olah berkata, "Kaum beriman di Korintus, pekerjaan penyempurnaan yang telah kulakukan kepadamu itu tidak seharusnya membuat kamu sedih. Sebaliknya kamu harus senang dan gembira, bahkan bersorak bersukacita. Selain itu, kamu perlu dihibur. Orang-orang Korintus, janganlah tawar hati."
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 58
Menurut Perjanjian Baru, kehidupan orang Kristen haruslah menjadi kehidupan yang bersukacita. Jika kehidupan Anda bukan kehidupan yang bersukacita, maka kehidupan kristiani Anda itu tidak normal. Bersukacita itu lebih daripada sekadar gembira. Mungkin saja kita bergembira tetapi tidak bersukacita. Kegembiraan adalah sesuatu yang di dalam, sedangkan sukacita berarti kegembiraan yang di dalam kita itu meluap keluar. Saya percaya Paulus akan mengatakan bahwa untuk bersukacita kita harus bersuara; yaitu, kita perlu memperdengarkan kegembiraan kita dengan mengeluarkan suara. Maka, memperdengarkan kegembiraan kita adalah bersukacita. Kita harus bersukacita baik dengan menyanyi, memuji, bersorak, atau berseru kepada Tuhan. Karena itu, bersukacita adalah memperdengarkan kegembiraan di dalam batin kita, yaitu menyuarakannya. Sukacita ini adalah satu ciri penting dari kehidupan kristiani kita. Jika kehidupan kristiani kita normal, kehidupan ini akan menjadi satu kehidupan yang bersukacita.
Disempurnakan berarti dipulihkan, ditambal, diperbaiki, dan dibetulkan. Ini berarti dibawa kembali kepada posisi yang benar dan dipulihkan kepada rel yang benar supaya kita dapat dibangun bersama orang lain dalam Tubuh. Kitab 1 dan 2 Korintus adalah kitab-kitab penyempurnaan. Sasaran unik dari kedua Surat Kiriman ini adalah menyempurnakan kaum saleh di Korintus yang telah dirusak, diselewengkan, dan yang telah terpecah belah. Kaum beriman di sana telah rusak dan situasi di antara mereka tidak sehat. Karena itu, kedua kitab ini ditulis untuk melaksanakan tugas yang diperlukan guna menyempurnakan kaum beriman, membawa mereka kembali kepada satu keadaan yang sehat yang penuh dengan hayat, membina mereka, dan memperlengkapi mereka bagi pembangunan Tubuh. Semua itu tercakup dalam nasihat Paulus "usahakanlah dirimu supaya sempurna".
Allah sedang menunggu untuk menyempurnakan kita, namun kita harus mengambil inisiatif untuk disempurnakan. Selain itu, rasul juga dipakai untuk menyempurnakan orang-orang Korintus. Ini berarti pekerjaan menyempurnakan ini sedang dilaksanakan. Tetapi orang-orang Korintus masih perlu disempurnakan. Kita boleh menyamakan Paulus dengan seorang dokter dan bahwa ia siap memberikan obat kepada kaum beriman, tetapi kaum beriman perlu mengambil inisiatif untuk menerima obat itu. Dokternya sudah ada dan obatnya telah siap, tetapi kunci yang penting adalah ini: Apakah orang-orang Korintus mau mengambil obat itu dan disembuhkan? Inilah sebabnya Paulus mendorong mereka untuk disempurnakan.
Jika kita mempelajari seluruh Kitab 2 Korintus, kita akan memahami bahwa dalam Surat Kiriman ini, penghiburan adalah satu perkara yang penting. Karena alasan ini, maka perkataan Paulus "terhiburlah" dalam 13:11 ini sangatlah bermakna. Terhibur itu berarti pertama-tama kita dihibur, lalu tenang, dan kemudian dipuaskan, dikuatkan, dan diteguhkan. Hasil dari semuanya ini adalah kita terhibur. Kita tidak tawar hati dan tidak patah semangat. Di sini Paulus seolah-olah berkata, "Kaum beriman di Korintus, pekerjaan penyempurnaan yang telah kulakukan kepadamu itu tidak seharusnya membuat kamu sedih. Sebaliknya kamu harus senang dan gembira, bahkan bersorak bersukacita. Selain itu, kamu perlu dihibur. Orang-orang Korintus, janganlah tawar hati."
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 58
07 April 2012
2 Korintus - Minggu 28 Sabtu
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 13:1-10
Ayat 10 menunjukkan bahwa Paulus tidak bertindak keras menurut kuasa. Ia bahkan tidak mengakui bahwa ia mempertahankan dirinya atau membela dirinya. Memang, ada petunjuk dalam pasal-pasal ini bahwa Paulus adalah seorang rasul. Namun, ia tidak mengukuhi kerasulannya dalam hubungannya dengan orang-orang Korintus. Lalu, apa yang telah dilakukannya dalam pasal 10 sampai pasal 13 ini? Ia telah berusaha menyempurnakan kaum beriman dan membangun mereka. Dalam pasal-pasal ini Paulus tidak membela dirinya; sebaliknya ia menyempurnakan kaum saleh. Ia tidak membela pendiriannya sebagai seorang rasul atau pun membela kuasa kerasulannya; sebaliknya ia menyempurnakan kaum saleh. Dengan kata lain, menurut ministri Paulus yang sebenarnya, di sini ia sedang bekerja untuk sepenuhnya mendamaikan kaum beriman Korintus yang telah diselewengkan kembali kepada Allah. Selama hubungan mereka dengan orang-orang yang meministrikan Kristus ke dalam mereka belum dibenahi atau dibetulkan, maka orang-orang Korintus itu tetap jauh dari Allah. Mereka tetap berada dalam keadaan yang terpisah dari kenikmatan yang penuh akan Allah. Apa yang Paulus lakukan di sini adalah berusaha menyingkirkan pemisah yang terakhir di antara kaum beriman dengan Allah dan membawa mereka sepenuhnya kembali ke dalam Allah, supaya mereka dapat memiliki kenikmatan yang penuh akan Dia.
Kita telah melihat bahwa Rasul Paulus adalah teladan kaum beriman. Dalam pasal 12 ia memberi tahu kita bagaimana ia menikmati Kristus sampai pada puncaknya sebagai kasih karunianya yang cukup, sebagai kuasanya, dan sebagai kemah yang menaunginya. Ketika Paulus menulis Surat Kiriman ini kepada orang-orang Korintus, kebanyakan dari mereka itu belum masuk ke dalam kenikmatan akan Kristus yang sedemikian. Maka, dalam bagian yang terakhir dari pasal 12 dan bagian yang pertama dari pasal 13, Paulus berusaha membawa kaum beriman masuk ke dalam kenikmatan akan Kristus sebagai kasih karunia mereka yang cukup, sebagai kekuatan mereka setiap hari, dan sebagai tempat kediaman yang menaungi mereka. Paulus tidak bermaksud menyatakan kuasa kerasulannya, menggunakan kuasa kerasulannya, atau membela pendirian kerasulannya.
Ketika Paulus memakai istilah rasul, ia mengartikan istilah ini pada satu hal, tetapi ketika orang-orang Kristen pada hari ini memakai istilah ini, pengertian mereka lain lagi. Istilahnya sama, tetapi kamusnya atau kosa katanya berbeda. Ketika Paulus menyebut dirinya sebagai seorang rasul, ia mengartikannya sebagai orang yang diutus oleh Allah untuk menyuplaikan Kristus ke dalam orang-orang dosa, supaya mereka dapat menjadi putra-putra Allah dan menjadi anggota-anggota Kristus, kemudian dididik supaya bertumbuh dan menjadi Tubuh Kristus. Inilah pemahaman Paulus tentang hakiki seorang rasul. Paulus tidak memakai kata ini dengan satu arti bahwa rasul adalah orang yang berkuasa dan diberi wewenang oleh Kristus untuk mengendalikan dan mengatur. Tidak, dalam diri Paulus tidak ada konsepsi kerasulan semacam itu. Konsepsi semacam itu benar-benar tercela. Namun, hari ini ketika orang-orang memakai kata rasul, dalam pemikiran mereka orang ini seperti paus atau sedikitnya uskup agung. Bahkan ada yang memiliki konsepsi bahwa kata rasul sama dengan kata penatua. Maka, mereka memberikan arti lain yang tidak menyenangkan dan yang menjemukan terhadap kata-kata rasul dan penatua. Pemahaman kita terhadap istilah-istilah ini haruslah alkitabiah, yaitu, menurut firman Allah yang murni, bukan menurut tradisi agama.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 57
Ayat 10 menunjukkan bahwa Paulus tidak bertindak keras menurut kuasa. Ia bahkan tidak mengakui bahwa ia mempertahankan dirinya atau membela dirinya. Memang, ada petunjuk dalam pasal-pasal ini bahwa Paulus adalah seorang rasul. Namun, ia tidak mengukuhi kerasulannya dalam hubungannya dengan orang-orang Korintus. Lalu, apa yang telah dilakukannya dalam pasal 10 sampai pasal 13 ini? Ia telah berusaha menyempurnakan kaum beriman dan membangun mereka. Dalam pasal-pasal ini Paulus tidak membela dirinya; sebaliknya ia menyempurnakan kaum saleh. Ia tidak membela pendiriannya sebagai seorang rasul atau pun membela kuasa kerasulannya; sebaliknya ia menyempurnakan kaum saleh. Dengan kata lain, menurut ministri Paulus yang sebenarnya, di sini ia sedang bekerja untuk sepenuhnya mendamaikan kaum beriman Korintus yang telah diselewengkan kembali kepada Allah. Selama hubungan mereka dengan orang-orang yang meministrikan Kristus ke dalam mereka belum dibenahi atau dibetulkan, maka orang-orang Korintus itu tetap jauh dari Allah. Mereka tetap berada dalam keadaan yang terpisah dari kenikmatan yang penuh akan Allah. Apa yang Paulus lakukan di sini adalah berusaha menyingkirkan pemisah yang terakhir di antara kaum beriman dengan Allah dan membawa mereka sepenuhnya kembali ke dalam Allah, supaya mereka dapat memiliki kenikmatan yang penuh akan Dia.
Kita telah melihat bahwa Rasul Paulus adalah teladan kaum beriman. Dalam pasal 12 ia memberi tahu kita bagaimana ia menikmati Kristus sampai pada puncaknya sebagai kasih karunianya yang cukup, sebagai kuasanya, dan sebagai kemah yang menaunginya. Ketika Paulus menulis Surat Kiriman ini kepada orang-orang Korintus, kebanyakan dari mereka itu belum masuk ke dalam kenikmatan akan Kristus yang sedemikian. Maka, dalam bagian yang terakhir dari pasal 12 dan bagian yang pertama dari pasal 13, Paulus berusaha membawa kaum beriman masuk ke dalam kenikmatan akan Kristus sebagai kasih karunia mereka yang cukup, sebagai kekuatan mereka setiap hari, dan sebagai tempat kediaman yang menaungi mereka. Paulus tidak bermaksud menyatakan kuasa kerasulannya, menggunakan kuasa kerasulannya, atau membela pendirian kerasulannya.
Ketika Paulus memakai istilah rasul, ia mengartikan istilah ini pada satu hal, tetapi ketika orang-orang Kristen pada hari ini memakai istilah ini, pengertian mereka lain lagi. Istilahnya sama, tetapi kamusnya atau kosa katanya berbeda. Ketika Paulus menyebut dirinya sebagai seorang rasul, ia mengartikannya sebagai orang yang diutus oleh Allah untuk menyuplaikan Kristus ke dalam orang-orang dosa, supaya mereka dapat menjadi putra-putra Allah dan menjadi anggota-anggota Kristus, kemudian dididik supaya bertumbuh dan menjadi Tubuh Kristus. Inilah pemahaman Paulus tentang hakiki seorang rasul. Paulus tidak memakai kata ini dengan satu arti bahwa rasul adalah orang yang berkuasa dan diberi wewenang oleh Kristus untuk mengendalikan dan mengatur. Tidak, dalam diri Paulus tidak ada konsepsi kerasulan semacam itu. Konsepsi semacam itu benar-benar tercela. Namun, hari ini ketika orang-orang memakai kata rasul, dalam pemikiran mereka orang ini seperti paus atau sedikitnya uskup agung. Bahkan ada yang memiliki konsepsi bahwa kata rasul sama dengan kata penatua. Maka, mereka memberikan arti lain yang tidak menyenangkan dan yang menjemukan terhadap kata-kata rasul dan penatua. Pemahaman kita terhadap istilah-istilah ini haruslah alkitabiah, yaitu, menurut firman Allah yang murni, bukan menurut tradisi agama.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 57
06 April 2012
2 Korintus - Minggu 28 Jumat
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 13:1-4
Dalam ayat 4 Paulus berkata, "Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah." Kelemahan dalam ayat ini adalah kelemahan-kelemahan tubuh, sama seperti dalam 2 Korintus 10:10. Bagi diri-Nya sendiri, Kristus sama sekali tidak perlu lemah, tetapi untuk merampungkan penebusan bagi kita, Dia rela menjadi lemah di dalam tubuh-Nya supaya Dia dapat disalibkan. Namun, setelah bangkit, Dia sekarang hidup berdasarkan kuasa Allah. Dalam ayat 4 Paulus mengatakan bahwa para rasul lemah di dalam Kristus, tetapi hidup bersama Dia untuk kaum beriman karena kuasa Allah. Para rasul mengikuti teladan Kristus, rela menjadi lemah di dalam kesatuan yang organik dengan-Nya, supaya mereka dapat menempuh hidup tersalib bersama Dia. Karena itu, mereka pasti hidup bersama Kristus berdasarkan kuasa Allah terhadap kaum beriman. Kelihatannya, mereka lemah terhadap kaum beriman, sebenarnya mereka penuh kuasa.
Jika Kristus tidak lemah, Dia tidak akan dapat ditangkap, apalagi dipaku di atas salib. Hanya orang yang lemah yang dapat disalibkan. Bagi penggenapan penebusan, Kristus sengaja menjadi lemah, begitu lemahnya sehingga Ia dapat ditangkap dan disalibkan. Tetapi sekarang penebusan itu telah digenapkan dan Kristus telah bangkit, maka Dia tidak lemah lagi.
Dalam ayat 4 Paulus menunjukkan kepada orang-orang Korintus bahwa para rasul lemah di dalam Kristus. Mereka menjadi lemah melalui kesatuan yang organik, yaitu menjadi satu dengan Kristus. Tujuan kelemahan mereka yang demikian adalah untuk membangun gereja. Ketika para rasul datang ke Korintus, mereka tidak datang dengan penuh kekuatan, melainkan dengan kelemahan, untuk menyalurkan Kristus ke dalam orang-orang Korintus dan untuk membina mereka, memperlengkapi mereka, supaya mereka dapat dibangunkan menjadi Tubuh Kristus. Sebenarnya, para rasul itu tidak lemah. Tetapi mereka rela menjadi lemah dan, menurut ayat 4 ini, mereka senantiasa lemah di dalam Kristus.
Frase "di dalam Dia" dalam ayat 4 ini sangat penting. Mungkin Anda belum pernah mendengar bahwa kita dapat menjadi lemah di dalam Kristus. Konsepsi kita adalah bahwa berada di dalam Kristus itu pasti kuat, bukan lemah. Meskipun demikian, dalam ayat ini Paulus mengatakan bahwa kita lemah di dalam Dia. Mengapa kita lemah di dalam Dia? Kita lemah di dalam Dia adalah untuk menempuh kehidupan yang tersalib.
Dalam ayat 4 ini Paulus bukan hanya mengatakan bahwa para rasul itu lemah di dalam Kristus, tetapi juga mengatakan bahwa mereka hidup bersama Kristus oleh kuasa Allah terhadap kaum beriman. Kita tidak dapat memahami sepenuhnya apa yang Paulus maksudkan. Pemahaman saya adalah bahwa sewaktu akan datang ke Korintus untuk kali ketiga, Paulus memberi tahu mereka bahwa ia tidak akan bersikap lunak lagi terhadap mereka. Sebaliknya, ia akan menanggulangi dengan penuh kuasa.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 57
Dalam ayat 4 Paulus berkata, "Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah." Kelemahan dalam ayat ini adalah kelemahan-kelemahan tubuh, sama seperti dalam 2 Korintus 10:10. Bagi diri-Nya sendiri, Kristus sama sekali tidak perlu lemah, tetapi untuk merampungkan penebusan bagi kita, Dia rela menjadi lemah di dalam tubuh-Nya supaya Dia dapat disalibkan. Namun, setelah bangkit, Dia sekarang hidup berdasarkan kuasa Allah. Dalam ayat 4 Paulus mengatakan bahwa para rasul lemah di dalam Kristus, tetapi hidup bersama Dia untuk kaum beriman karena kuasa Allah. Para rasul mengikuti teladan Kristus, rela menjadi lemah di dalam kesatuan yang organik dengan-Nya, supaya mereka dapat menempuh hidup tersalib bersama Dia. Karena itu, mereka pasti hidup bersama Kristus berdasarkan kuasa Allah terhadap kaum beriman. Kelihatannya, mereka lemah terhadap kaum beriman, sebenarnya mereka penuh kuasa.
Jika Kristus tidak lemah, Dia tidak akan dapat ditangkap, apalagi dipaku di atas salib. Hanya orang yang lemah yang dapat disalibkan. Bagi penggenapan penebusan, Kristus sengaja menjadi lemah, begitu lemahnya sehingga Ia dapat ditangkap dan disalibkan. Tetapi sekarang penebusan itu telah digenapkan dan Kristus telah bangkit, maka Dia tidak lemah lagi.
Dalam ayat 4 Paulus menunjukkan kepada orang-orang Korintus bahwa para rasul lemah di dalam Kristus. Mereka menjadi lemah melalui kesatuan yang organik, yaitu menjadi satu dengan Kristus. Tujuan kelemahan mereka yang demikian adalah untuk membangun gereja. Ketika para rasul datang ke Korintus, mereka tidak datang dengan penuh kekuatan, melainkan dengan kelemahan, untuk menyalurkan Kristus ke dalam orang-orang Korintus dan untuk membina mereka, memperlengkapi mereka, supaya mereka dapat dibangunkan menjadi Tubuh Kristus. Sebenarnya, para rasul itu tidak lemah. Tetapi mereka rela menjadi lemah dan, menurut ayat 4 ini, mereka senantiasa lemah di dalam Kristus.
Frase "di dalam Dia" dalam ayat 4 ini sangat penting. Mungkin Anda belum pernah mendengar bahwa kita dapat menjadi lemah di dalam Kristus. Konsepsi kita adalah bahwa berada di dalam Kristus itu pasti kuat, bukan lemah. Meskipun demikian, dalam ayat ini Paulus mengatakan bahwa kita lemah di dalam Dia. Mengapa kita lemah di dalam Dia? Kita lemah di dalam Dia adalah untuk menempuh kehidupan yang tersalib.
Dalam ayat 4 ini Paulus bukan hanya mengatakan bahwa para rasul itu lemah di dalam Kristus, tetapi juga mengatakan bahwa mereka hidup bersama Kristus oleh kuasa Allah terhadap kaum beriman. Kita tidak dapat memahami sepenuhnya apa yang Paulus maksudkan. Pemahaman saya adalah bahwa sewaktu akan datang ke Korintus untuk kali ketiga, Paulus memberi tahu mereka bahwa ia tidak akan bersikap lunak lagi terhadap mereka. Sebaliknya, ia akan menanggulangi dengan penuh kuasa.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 57
05 April 2012
2 Korintus - Minggu 28 Kamis
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 12:19—13:10
Ayat 20 mengatakan, "Sebab aku khawatir bahwa apabila aku datang aku mendapati kamu tidak seperti yang kuinginkan dan kamu mendapati aku tidak seperti yang kamu inginkan. Aku khawatir akan adanya perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, fitnah, pergunjingan, keangkuhan, dan kerusuhan." Kedambaan Paulus terhadap orang-orang Korintus adalah supaya mereka dapat berada di dalam Kristus, memperhidupkan Kristus, dan dibangunkan menjadi Tubuh. Namun, Paulus takut apabila ia datang kepada mereka, ia mendapati mereka tidak seperti yang diinginkannya. Selain itu, ia menyadari bahwa orang-orang Korintus mungkin akan mendapatinya tidak seperti yang mereka inginkan, karena itu Paulus perlu berani terhadap mereka dan mendisiplin mereka. Maka, seolah-olah Paulus itu tidak lembut, tidak mengasihi mereka.
Dalam ayat ini maksud perkataan Paulus kepada orang-orang Korintus ialah: "Jika kamu adalah orang-orang yang demikian, aku akan merasa berhutang saat aku datang kepada kamu lagi. Aku telah melayani kamu, menyuplai kamu, aku juga telah menulis satu Surat Kiriman kepadamu. Jika aku menemukan bahwa kamu penuh dengan perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, fitnah, pergunjingan, keangkuhan, dan kerusuhan, maka aku akan dipermalukan. Allah akan merendahkan aku, dan aku harus memohon belas kasihan-Nya karena hasil dari ministriku yang kasihan ini. Sungguh satu hal yang memalukan bagiku jika hal-hal ini masih ada di antara kamu apabila aku datang."
Dalam ayat 20 dan 21 Paulus menyinggung 11 hal negatif: perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, fitnah, pergunjingan, keangkuhan, kerusuhan, kecemaran, percabulan, dan hal-hal yang tidak senonoh. Beberapa orang mungkin membayangkan bagaimana mungkin hal-hal itu ada dalam kehidupan gereja. Oh, kita perlu bangun dan tidak bermimpi mengenai perkara-perkara ini. Selain itu, kita perlu melihat situasi kita sendiri. Tidak pernahkah Anda memfitnah atau mengkritik? Mungkin ketika seseorang berdiri dalam sidang, Anda diam-diam berkata kepada diri Anda sendiri, "Wah dia lagi." Bukankah ini juga merupakan satu pergunjingan? Apakah Anda memiliki perselisihan, iri hati, kemarahan, atau persaingan? Dapatkah Anda mengatakan bahwa dalam kehidupan gereja Anda tidak bersaing dengan orang lain? Butir-butir yang disinggung dalam ayat 20 ini mungkin merupakan dosa-dosa yang agak sopan, tidak seperti dosa-dosa yang kotor. Orang-orang yang lebih berbudaya akan mengkritik orang lain di belakang mereka. Orang-orang yang berbudaya dan berbudi luhur tidak akan mengkritik orang lain dengan kasar. Sebaliknya, mereka mungkin akan bergunjing tentang orang lain dan mengatakan fitnah. Selain itu, kita perlu memeriksa apakah kita angkuh atau tidak. Di dalam kita, mungkin ada satu roh yang angkuh, dan kita mungkin memamerkan hal ini secara lahiriah dalam sikap kita. Sekalipun Anda mungkin terdidik, berbudi luhur, dan berbudaya, Anda tidak dapat menyembunyikan sikap Anda yang sombong. Selain dosa-dosa yang lebih halus dalam ayat 20 ini, Paulus menyebutkan tiga dosa yang kotor dalam ayat 21. Semua dosa yang demikian ini mungkin saja menyusup masuk ke dalam kehidupan gereja. Inilah asalan Paulus mengatakan bahwa ia khawatir datang ke Korintus dan melihat hal-hal itu masih ada di antara kaum beriman. Itu akan menjadi satu hal yang memalukan bagi Paulus dan bagi ministrinya.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 57
Ayat 20 mengatakan, "Sebab aku khawatir bahwa apabila aku datang aku mendapati kamu tidak seperti yang kuinginkan dan kamu mendapati aku tidak seperti yang kamu inginkan. Aku khawatir akan adanya perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, fitnah, pergunjingan, keangkuhan, dan kerusuhan." Kedambaan Paulus terhadap orang-orang Korintus adalah supaya mereka dapat berada di dalam Kristus, memperhidupkan Kristus, dan dibangunkan menjadi Tubuh. Namun, Paulus takut apabila ia datang kepada mereka, ia mendapati mereka tidak seperti yang diinginkannya. Selain itu, ia menyadari bahwa orang-orang Korintus mungkin akan mendapatinya tidak seperti yang mereka inginkan, karena itu Paulus perlu berani terhadap mereka dan mendisiplin mereka. Maka, seolah-olah Paulus itu tidak lembut, tidak mengasihi mereka.
Dalam ayat ini maksud perkataan Paulus kepada orang-orang Korintus ialah: "Jika kamu adalah orang-orang yang demikian, aku akan merasa berhutang saat aku datang kepada kamu lagi. Aku telah melayani kamu, menyuplai kamu, aku juga telah menulis satu Surat Kiriman kepadamu. Jika aku menemukan bahwa kamu penuh dengan perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, fitnah, pergunjingan, keangkuhan, dan kerusuhan, maka aku akan dipermalukan. Allah akan merendahkan aku, dan aku harus memohon belas kasihan-Nya karena hasil dari ministriku yang kasihan ini. Sungguh satu hal yang memalukan bagiku jika hal-hal ini masih ada di antara kamu apabila aku datang."
Dalam ayat 20 dan 21 Paulus menyinggung 11 hal negatif: perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, fitnah, pergunjingan, keangkuhan, kerusuhan, kecemaran, percabulan, dan hal-hal yang tidak senonoh. Beberapa orang mungkin membayangkan bagaimana mungkin hal-hal itu ada dalam kehidupan gereja. Oh, kita perlu bangun dan tidak bermimpi mengenai perkara-perkara ini. Selain itu, kita perlu melihat situasi kita sendiri. Tidak pernahkah Anda memfitnah atau mengkritik? Mungkin ketika seseorang berdiri dalam sidang, Anda diam-diam berkata kepada diri Anda sendiri, "Wah dia lagi." Bukankah ini juga merupakan satu pergunjingan? Apakah Anda memiliki perselisihan, iri hati, kemarahan, atau persaingan? Dapatkah Anda mengatakan bahwa dalam kehidupan gereja Anda tidak bersaing dengan orang lain? Butir-butir yang disinggung dalam ayat 20 ini mungkin merupakan dosa-dosa yang agak sopan, tidak seperti dosa-dosa yang kotor. Orang-orang yang lebih berbudaya akan mengkritik orang lain di belakang mereka. Orang-orang yang berbudaya dan berbudi luhur tidak akan mengkritik orang lain dengan kasar. Sebaliknya, mereka mungkin akan bergunjing tentang orang lain dan mengatakan fitnah. Selain itu, kita perlu memeriksa apakah kita angkuh atau tidak. Di dalam kita, mungkin ada satu roh yang angkuh, dan kita mungkin memamerkan hal ini secara lahiriah dalam sikap kita. Sekalipun Anda mungkin terdidik, berbudi luhur, dan berbudaya, Anda tidak dapat menyembunyikan sikap Anda yang sombong. Selain dosa-dosa yang lebih halus dalam ayat 20 ini, Paulus menyebutkan tiga dosa yang kotor dalam ayat 21. Semua dosa yang demikian ini mungkin saja menyusup masuk ke dalam kehidupan gereja. Inilah asalan Paulus mengatakan bahwa ia khawatir datang ke Korintus dan melihat hal-hal itu masih ada di antara kaum beriman. Itu akan menjadi satu hal yang memalukan bagi Paulus dan bagi ministrinya.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 57
04 April 2012
2 Korintus - Minggu 28 Rabu
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 12:11-18
Ayat 14 mengatakan, "Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya." Kita semua perlu sangat terkesan dengan perkataan ini dan mengingatnya. Bila kita bekerja bagi Tuhan, kita tidak boleh mencari harta orang -- kita harus mencari orang itu. Ini berarti kita tidak mencari uang orang atau menginginkan uang mereka. Paulus dapat dengan berani mengatakan kepada orang-orang Korintus, "Aku mencari kamu sendiri dan aku menginginkan kamu. Aku tidak mencari hartamu -- kekayaanmu, harta bendamu, dan materimu. Aku mencari kamu."
Dalam ayat-ayat ini kita tidak memiliki doktrin, tetapi kita memiliki beberapa perkara yang sangat riil. Dalam ayat 14 Paulus mengatakan bahwa bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah yang mengumpulkan untuk anak-anaknya. Di sini kita sekali lagi melihat bahwa Paulus itu terus terang dan jujur. Ia tidak akan mengabaikan pendiriannya dalam hubungannya dengan orang-orang Korintus. Dalam ayat ini Paulus seolah-olah memberi tahu mereka, "Hai orang-orang Korintus, kamu tidak dapat menyangkal bahwa aku adalah bapa rohanimu. Aku melahirkan kamu dalam Kristus melalui Injil, dan aku telah membesarkan kamu sebagai anak-anakku. Sebagai orang tuamu, aku tidak mencari hartamu. Sungguh memalukan bila orang tua menuntut uang dari anak-anaknya. Bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta bagi orang tuanya, melainkan orang tualah yang mengumpulkan bagi anak-anaknya. Orang-orang Korintus, aku tidak ingin menerima apa-apa dari kamu -- aku ingin memberi kamu."
Dalam ayat 15 Paulus mengatakan bahwa ia rela berkorban, sekalipun dengan sangat mengasihi kaum beriman sedang ia sendiri kurang dikasihi. Paulus tetap rela berkorban bagi orang-orang Korintus sekalipun ia sangat mengasihi mereka tetapi mereka kurang mengasihinya. Paulus tidak mempedulikan keadaan mereka. Keadaan mereka tidak dapat mengubah sikapnya terhadap mereka. Di sini Paulus seolah-olah berkata, "Tidak peduli bagaimana sikapmu terhadapku, aku tetap mengasihi kamu, dan aku suka mengorbankan apa yang kumiliki dan apa adanya aku bagimu."
Kita dapat belajar dari pengalaman Paulus bahwa sekalipun kaum saleh itu mungkin saja jujur, tetapi Iblis sedang mengendap-endap di antara mereka. Iblis memakai uang untuk merusak hubungan di antara orang-orang yang meministrikan dengan kaum saleh. Di antara orang-orang Korintus yang diselewengkan itu, ada beberapa orang yang mengkritik Paulus, menganggapnya licik dalam perkara keuangan.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 56
Ayat 14 mengatakan, "Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya." Kita semua perlu sangat terkesan dengan perkataan ini dan mengingatnya. Bila kita bekerja bagi Tuhan, kita tidak boleh mencari harta orang -- kita harus mencari orang itu. Ini berarti kita tidak mencari uang orang atau menginginkan uang mereka. Paulus dapat dengan berani mengatakan kepada orang-orang Korintus, "Aku mencari kamu sendiri dan aku menginginkan kamu. Aku tidak mencari hartamu -- kekayaanmu, harta bendamu, dan materimu. Aku mencari kamu."
Dalam ayat-ayat ini kita tidak memiliki doktrin, tetapi kita memiliki beberapa perkara yang sangat riil. Dalam ayat 14 Paulus mengatakan bahwa bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah yang mengumpulkan untuk anak-anaknya. Di sini kita sekali lagi melihat bahwa Paulus itu terus terang dan jujur. Ia tidak akan mengabaikan pendiriannya dalam hubungannya dengan orang-orang Korintus. Dalam ayat ini Paulus seolah-olah memberi tahu mereka, "Hai orang-orang Korintus, kamu tidak dapat menyangkal bahwa aku adalah bapa rohanimu. Aku melahirkan kamu dalam Kristus melalui Injil, dan aku telah membesarkan kamu sebagai anak-anakku. Sebagai orang tuamu, aku tidak mencari hartamu. Sungguh memalukan bila orang tua menuntut uang dari anak-anaknya. Bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta bagi orang tuanya, melainkan orang tualah yang mengumpulkan bagi anak-anaknya. Orang-orang Korintus, aku tidak ingin menerima apa-apa dari kamu -- aku ingin memberi kamu."
Dalam ayat 15 Paulus mengatakan bahwa ia rela berkorban, sekalipun dengan sangat mengasihi kaum beriman sedang ia sendiri kurang dikasihi. Paulus tetap rela berkorban bagi orang-orang Korintus sekalipun ia sangat mengasihi mereka tetapi mereka kurang mengasihinya. Paulus tidak mempedulikan keadaan mereka. Keadaan mereka tidak dapat mengubah sikapnya terhadap mereka. Di sini Paulus seolah-olah berkata, "Tidak peduli bagaimana sikapmu terhadapku, aku tetap mengasihi kamu, dan aku suka mengorbankan apa yang kumiliki dan apa adanya aku bagimu."
Kita dapat belajar dari pengalaman Paulus bahwa sekalipun kaum saleh itu mungkin saja jujur, tetapi Iblis sedang mengendap-endap di antara mereka. Iblis memakai uang untuk merusak hubungan di antara orang-orang yang meministrikan dengan kaum saleh. Di antara orang-orang Korintus yang diselewengkan itu, ada beberapa orang yang mengkritik Paulus, menganggapnya licik dalam perkara keuangan.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 56
03 April 2012
2 Korintus - Minggu 28 Selasa
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 12:11-18
Dalam ayat 12 Paulus selanjutnya mengatakan, "Tanda-tanda seorang rasul telah diperlihatkan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran melalui tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa." Tanda-tanda ini adalah mujizat-mujizat yang terbukti, yang menjadi jaminan terhadap kerasulan. Mujizat-mujizat adalah perbuatan ajaib yang mengherankan dan menggugah orang, dan kuasa-kuasa adalah mujizat-mujizat yang menampilkan kuasa Allah.
Mengenai tanda-tanda rasul ini, hal pertama yang disinggung oleh Paulus adalah "segala kesabaran". Ini menunjukkan bahwa kesabaran adalah tanda yang pertama dari seorang rasul. Dalam hubungannya dengan orang-orang Korintus, Paulus sabar terhadap segala fitnahan. Beberapa orang dari antara mereka dengan keterlaluan mengatakan bahwa Paulus licik dan menjerat mereka dengan tipu daya untuk mengambil keuntungan. Paulus memakai kata "tipu daya" dalam ayat 16. Dalam satu catatan tentang ayat ini dalam New Translation-nya, Darby mengatakan, "Rasul tidak mengatakan bahwa ia melakukan tipu daya; tetapi menjawab tuduhan bahwa ia berpura-pura tidak mengambil apa-apa, tetapi tahu cara menutupi dirinya dengan memakai Titus untuk menerima uang dari mereka. Tuduhan itu keliru, seperti yang ditunjukkannya lebih lanjut." Orang-orang Korintus mengatakan bahwa Paulus tidak mau datang sendiri ke Korintus untuk mengumpulkan uang. Karena itu, ia mengutus Titus untuk melakukan hal ini baginya dan memakai Titus untuk menutupi dirinya sendiri. Sulit dipercaya bahwa orang-orang Korintus tertentu akan memfitnah Paulus sampai sedemikian rupa. Sekarang kita dapat memahami mengapa Paulus menekankan perkara kesabaran ini.
Dalam ayat 13 Paulus melanjutkan, "Sebab dalam hal mana kamu dibelakangkan dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain, selain dalam hal ini, yaitu bahwa aku sendiri tidak menjadi beban kepada kamu? Maafkanlah ketidakadilanku ini!" Dalam ayat ini Paulus seolah-olah berkata, "Dalam perkara menerima karunia-karunia, kasih karunia, dan berkat Allah, kamu orang-orang Korintus, tidak lebih rendah daripada gereja-gereja lainnya. Aku tidak melahirkan kamu dalam Kristus, dan aku berusaha sebisanya untuk membesarkan kamu sebagai satu gereja yang tidak kekurangan apa pun. Aku tidak membelakangkan kamu daripada gereja lainnya. Aku berusaha sebisanya melahirkan kamu dalam Kristus, membesarkan kamu sebagai satu gereja, dan membangun kamu. Mengenai keselamatan dan berkat Allah, kasih karunia ilahi, dan karunia-karunia rohani, kamu tidak lebih rendah daripada gereja lainnya. Lalu, dengan cara bagaimanakah, kamu diperlakukan lebih rendah? Hanya dalam hal aku tidak menjadi satu beban bagi kamu. Aku tidak membebani kamu. Maafkanlah ketidakadilanku ini!" Kalau Paulus terpaksa berbicara seperti ini, orang-orang Korintus seharusnya merasa malu. Satu-satunya kegagalan Paulus terhadap mereka adalah membuat dirinya menjadi beban bagi mereka. Di tempat lainnya Paulus bahkan mengatakan bahwa ia menerima tunjangan dari gereja-gereja lainnya untuk bekerja di antara orang-orang Korintus. Meskipun Paulus bekerja bagi orang-orang Korintus, tetapi mereka tidak memberikan apa-apa kepadanya. Maka, satu-satunya ketidakadilan Paulus terhadap mereka adalah tidak menaruh beban apa pun atas mereka. Ayat 13 ini adalah perkataan yang tidak menyenangkan, tetapi Paulus berani mengatakannya.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 56
Dalam ayat 12 Paulus selanjutnya mengatakan, "Tanda-tanda seorang rasul telah diperlihatkan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran melalui tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa." Tanda-tanda ini adalah mujizat-mujizat yang terbukti, yang menjadi jaminan terhadap kerasulan. Mujizat-mujizat adalah perbuatan ajaib yang mengherankan dan menggugah orang, dan kuasa-kuasa adalah mujizat-mujizat yang menampilkan kuasa Allah.
Mengenai tanda-tanda rasul ini, hal pertama yang disinggung oleh Paulus adalah "segala kesabaran". Ini menunjukkan bahwa kesabaran adalah tanda yang pertama dari seorang rasul. Dalam hubungannya dengan orang-orang Korintus, Paulus sabar terhadap segala fitnahan. Beberapa orang dari antara mereka dengan keterlaluan mengatakan bahwa Paulus licik dan menjerat mereka dengan tipu daya untuk mengambil keuntungan. Paulus memakai kata "tipu daya" dalam ayat 16. Dalam satu catatan tentang ayat ini dalam New Translation-nya, Darby mengatakan, "Rasul tidak mengatakan bahwa ia melakukan tipu daya; tetapi menjawab tuduhan bahwa ia berpura-pura tidak mengambil apa-apa, tetapi tahu cara menutupi dirinya dengan memakai Titus untuk menerima uang dari mereka. Tuduhan itu keliru, seperti yang ditunjukkannya lebih lanjut." Orang-orang Korintus mengatakan bahwa Paulus tidak mau datang sendiri ke Korintus untuk mengumpulkan uang. Karena itu, ia mengutus Titus untuk melakukan hal ini baginya dan memakai Titus untuk menutupi dirinya sendiri. Sulit dipercaya bahwa orang-orang Korintus tertentu akan memfitnah Paulus sampai sedemikian rupa. Sekarang kita dapat memahami mengapa Paulus menekankan perkara kesabaran ini.
Dalam ayat 13 Paulus melanjutkan, "Sebab dalam hal mana kamu dibelakangkan dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain, selain dalam hal ini, yaitu bahwa aku sendiri tidak menjadi beban kepada kamu? Maafkanlah ketidakadilanku ini!" Dalam ayat ini Paulus seolah-olah berkata, "Dalam perkara menerima karunia-karunia, kasih karunia, dan berkat Allah, kamu orang-orang Korintus, tidak lebih rendah daripada gereja-gereja lainnya. Aku tidak melahirkan kamu dalam Kristus, dan aku berusaha sebisanya untuk membesarkan kamu sebagai satu gereja yang tidak kekurangan apa pun. Aku tidak membelakangkan kamu daripada gereja lainnya. Aku berusaha sebisanya melahirkan kamu dalam Kristus, membesarkan kamu sebagai satu gereja, dan membangun kamu. Mengenai keselamatan dan berkat Allah, kasih karunia ilahi, dan karunia-karunia rohani, kamu tidak lebih rendah daripada gereja lainnya. Lalu, dengan cara bagaimanakah, kamu diperlakukan lebih rendah? Hanya dalam hal aku tidak menjadi satu beban bagi kamu. Aku tidak membebani kamu. Maafkanlah ketidakadilanku ini!" Kalau Paulus terpaksa berbicara seperti ini, orang-orang Korintus seharusnya merasa malu. Satu-satunya kegagalan Paulus terhadap mereka adalah membuat dirinya menjadi beban bagi mereka. Di tempat lainnya Paulus bahkan mengatakan bahwa ia menerima tunjangan dari gereja-gereja lainnya untuk bekerja di antara orang-orang Korintus. Meskipun Paulus bekerja bagi orang-orang Korintus, tetapi mereka tidak memberikan apa-apa kepadanya. Maka, satu-satunya ketidakadilan Paulus terhadap mereka adalah tidak menaruh beban apa pun atas mereka. Ayat 13 ini adalah perkataan yang tidak menyenangkan, tetapi Paulus berani mengatakannya.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 56
02 April 2012
2 Korintus - Minggu 28 Senin
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 12:11-18
Apa yang telah dikatakan Paulus dalam 2 Korintus 12:11-18 telah diabaikan oleh kebanyakan pekerja Kristen pada hari ini. Semua orang saleh dalam pemulihan Tuhan perlu memahami apa yang diwahyukan ayat-ayat ini, karena ayat-ayat ini diterapkan kepada kita semua, bukan hanya kepada penatua atau sekerja. Kita tidak boleh mengira bahwa apa yang dibicarakan Paulus di sini tidak ada hubungannya dengan kita. Apa adanya Paulus, apa yang dilakukannya, dan bagaimana ia bertindak itu adalah teladan bagi semua orang beriman, bukan hanya teladan bagi orang-orang yang memimpin. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa semua orang beriman dalam Kristus harus seperti Paulus, yang menempuh satu kehidupan bagi pembangunan Tubuh Kristus. Hal ini diwahyukan dengan penekanan, tegas, dan mutlak dalam kitab Efesus. Menurut Efesus, setiap bagian Tubuh harus menempuh satu kehidupan bagi pembangunan Tubuh itu.
Dalam ayat 11 Paulus mengatakan, "Sungguh aku telah menjadi bodoh; tetapi kamu yang memaksa aku. Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikit pun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu." Di sini Paulus mengatakan bahwa orang-orang Korintus memaksa Paulus menjadi bodoh. Mereka harus bertanggung jawab atas hal ini. Mereka seharusnya memuji Paulus, tetapi mereka telah diselewengkan, tidak memuji Paulus. Sikap membisu mereka itu salah. Mereka seharusnya melakukan sesuatu untuk memuji Paulus, karena tidaklah tepat jika Paulus berbicara mengenai dirinya sendiri.
Kita harus belajar dari ayat ini bahwa ada saatnya di mana kita perlu mengatakan sesuatu untuk para penatua atau orang-orang dalam ministri ini. Jika seorang saudara menjadi sasaran penyerangan atau penentangan, mungkin ia tidak dapat mengatakan sesuatu untuk membela dirinya sendiri. Dalam situasi yang demikian, kita perlu angkat suara dan memuji dia. Misalnya, bertahun-tahun yang lalu ketika Saudara Watchman Nee menjadi sasaran, saya melakukan sesuatu untuk membelanya. Orang-orang muda khususnya perlu belajar memuji seseorang dalam situasi seperti itu. Mereka harus berani berbicara. Mereka tidak boleh diam saja, dan mereka juga tidak boleh bersembunyi.
Dalam ayat 11 Paulus dipaksa untuk menunjukkan kepada orang-orang Korintus bahwa ia tidak kalah dengan rasul-rasul yang luar biasa itu. Sungguh tidak menyenangkan bagi Paulus untuk mengatakan hal ini untuk dirinya sendiri. Karena ia adalah sasaran penentangan itu, maka perkataan semacam ini tidak perlu diucapkan olehnya. Orang-orang di Korintuslah yang seharusnya mengatakannya bagi Paulus. Mereka seharusnya menyatakan, "Kalian penganut agama Yahudi harus sadar bahwa Paulus tidak lebih rendah daripada kalian dalam hal apa pun."
Dalam ayat 11 Paulus mengatakan bahwa ia tidak kalah dengan rasul-rasul yang luar biasa itu, sekalipun ia bukan apa-apa. Tentu saja, tidak benar bahwa Paulus itu bukan apa-apa. Ia benar-benar memiliki sesuatu. Namun, ia tidak dapat berkata demikian tentang dirinya. Maka, ia terpaksa mengatakan bahwa sekalipun ia bukan apa-apa, ia tidak kalah dengan para penganut agama Yahudi itu.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 56
Apa yang telah dikatakan Paulus dalam 2 Korintus 12:11-18 telah diabaikan oleh kebanyakan pekerja Kristen pada hari ini. Semua orang saleh dalam pemulihan Tuhan perlu memahami apa yang diwahyukan ayat-ayat ini, karena ayat-ayat ini diterapkan kepada kita semua, bukan hanya kepada penatua atau sekerja. Kita tidak boleh mengira bahwa apa yang dibicarakan Paulus di sini tidak ada hubungannya dengan kita. Apa adanya Paulus, apa yang dilakukannya, dan bagaimana ia bertindak itu adalah teladan bagi semua orang beriman, bukan hanya teladan bagi orang-orang yang memimpin. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa semua orang beriman dalam Kristus harus seperti Paulus, yang menempuh satu kehidupan bagi pembangunan Tubuh Kristus. Hal ini diwahyukan dengan penekanan, tegas, dan mutlak dalam kitab Efesus. Menurut Efesus, setiap bagian Tubuh harus menempuh satu kehidupan bagi pembangunan Tubuh itu.
Dalam ayat 11 Paulus mengatakan, "Sungguh aku telah menjadi bodoh; tetapi kamu yang memaksa aku. Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikit pun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu." Di sini Paulus mengatakan bahwa orang-orang Korintus memaksa Paulus menjadi bodoh. Mereka harus bertanggung jawab atas hal ini. Mereka seharusnya memuji Paulus, tetapi mereka telah diselewengkan, tidak memuji Paulus. Sikap membisu mereka itu salah. Mereka seharusnya melakukan sesuatu untuk memuji Paulus, karena tidaklah tepat jika Paulus berbicara mengenai dirinya sendiri.
Kita harus belajar dari ayat ini bahwa ada saatnya di mana kita perlu mengatakan sesuatu untuk para penatua atau orang-orang dalam ministri ini. Jika seorang saudara menjadi sasaran penyerangan atau penentangan, mungkin ia tidak dapat mengatakan sesuatu untuk membela dirinya sendiri. Dalam situasi yang demikian, kita perlu angkat suara dan memuji dia. Misalnya, bertahun-tahun yang lalu ketika Saudara Watchman Nee menjadi sasaran, saya melakukan sesuatu untuk membelanya. Orang-orang muda khususnya perlu belajar memuji seseorang dalam situasi seperti itu. Mereka harus berani berbicara. Mereka tidak boleh diam saja, dan mereka juga tidak boleh bersembunyi.
Dalam ayat 11 Paulus dipaksa untuk menunjukkan kepada orang-orang Korintus bahwa ia tidak kalah dengan rasul-rasul yang luar biasa itu. Sungguh tidak menyenangkan bagi Paulus untuk mengatakan hal ini untuk dirinya sendiri. Karena ia adalah sasaran penentangan itu, maka perkataan semacam ini tidak perlu diucapkan olehnya. Orang-orang di Korintuslah yang seharusnya mengatakannya bagi Paulus. Mereka seharusnya menyatakan, "Kalian penganut agama Yahudi harus sadar bahwa Paulus tidak lebih rendah daripada kalian dalam hal apa pun."
Dalam ayat 11 Paulus mengatakan bahwa ia tidak kalah dengan rasul-rasul yang luar biasa itu, sekalipun ia bukan apa-apa. Tentu saja, tidak benar bahwa Paulus itu bukan apa-apa. Ia benar-benar memiliki sesuatu. Namun, ia tidak dapat berkata demikian tentang dirinya. Maka, ia terpaksa mengatakan bahwa sekalipun ia bukan apa-apa, ia tidak kalah dengan para penganut agama Yahudi itu.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 56
31 March 2012
2 Korintus - Minggu 27 Sabtu
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 12:1-10
Ayat 8-9 mengatakan, "Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari hadapanku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku, 'Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.' Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." Penderitaan-penderitaan dan ujian-ujian sering ditetapkan Tuhan bagi kita supaya kita bisa mengalami Kristus sebagai kasih karunia dan kekuatan. Karena itu, walaupun rasul memohon, Tuhan tidak ingin menyingkirkan duri dari rasul.
Kasih karunia yang dialami oleh Paulus sebenarnya adalah Tuhan Yesus Kristus itu sendiri. Saya percaya dalam pengalamannya Paulus menyadari bahwa kasih karunia Tuhan ini menjadi kekuatan yang menyebar atasnya seperti sebuah kemah. Maka, kasih karunia-kekuatan ini menjadi satu tempat kediaman bagi Paulus dalam penderitaan-penderitaannya. Sewaktu ia menderita, Paulus dapat tinggal di dalam kemah yang menyebar di atasnya ini. Kemah ini, tenda ini, menyokong dia, menopang dia, mempertahankan dia, dan memelihara dia.
Agar kasih karunia Tuhan yang cukup dapat dinyatakan, kita tidak bisa menghindar dari penderitaan. Agar kesempurnaan kuasa Tuhan dapat ditunjukkan, diperlukan kelemahan kita. Karena itu, rasul terlebih suka bermegah atas kelemahan-kelemahannya, supaya kuasa Kristus dapat menaungi dia. Kasih karunia adalah suplai, dan kuasa adalah tenaga, kemampuan dari kasih karunia. Keduanya adalah Kristus yang bangkit, yang sekarang adalah Roh pemberi-hayat yang berhuni di dalam kita (1 Kor. 15:45; Gal. 2:20) untuk kenikmatan kita.
Apa yang kita miliki dalam ayat-ayat ini adalah Tuhan "memasak" Paulus. Tuhan "memasak" Paulus dan membuatnya menjadi "santapan" yang lezat untuk kita nikmati. Selama lebih dari lima puluh tahun, saya telah menikmati Rasul Paulus. Tetapi saya harus bersaksi bahwa saya tidak pernah menikmati Paulus sebanyak yang saya nikmati belakangan ini. Paulus benar-benar santapan yang lezat yang dimasak oleh Tuhan Yesus.
Ketika Paulus mempertimbangkan penglihatan yang tinggi dan wahyu yang menakjubkan ini, duri itu bekerja di atas dirinya untuk menjaganya dari kesombongan dan tinggi diri. Tetapi ketika duri itu bekerja untuk menjaga Paulus agar tetap rendah hati, maka kasih karunia menyuplai dan menopang dia, dan kekuatan menaungi dia. Inilah cara Tuhan yang ajaib dalam memasak Paulus untuk membuatnya mengalami Kristus yang alwasi (meluas ke segala sesuatu). Hasilnya, Paulus menjadi kaya dalam pengalaman terhadap Kristus.
Jangan putus asa bila ada duri yang menipu Anda setelah Anda menerima wahyu dari Tuhan. Penglihatan dan wahyu selalu diikuti dengan penderitaan. Anda tidak perlu banyak berdoa mengenai duri itu. Duri itu tidak akan disingkirkan. Sebaliknya, Tuhan akan membiarkannya tetap ada dengan tujuan mendatangkan kasih karunia bagi kenikmatan Anda. Kasih karunia ini akan menjadi kekuatan Anda setiap hari dan bahkan menjadi tempat kediaman Anda, yaitu menjadi satu kemah yang menaungi Anda. Ini akan memperkaya pengalaman rohani Anda. Ketika kita menikmati kasih karunia Tuhan dan tinggal di bawah naungan kuasa-Nya, kita akan selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan mengenai Kristus dan gereja.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 55
Ayat 8-9 mengatakan, "Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari hadapanku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku, 'Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.' Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." Penderitaan-penderitaan dan ujian-ujian sering ditetapkan Tuhan bagi kita supaya kita bisa mengalami Kristus sebagai kasih karunia dan kekuatan. Karena itu, walaupun rasul memohon, Tuhan tidak ingin menyingkirkan duri dari rasul.
Kasih karunia yang dialami oleh Paulus sebenarnya adalah Tuhan Yesus Kristus itu sendiri. Saya percaya dalam pengalamannya Paulus menyadari bahwa kasih karunia Tuhan ini menjadi kekuatan yang menyebar atasnya seperti sebuah kemah. Maka, kasih karunia-kekuatan ini menjadi satu tempat kediaman bagi Paulus dalam penderitaan-penderitaannya. Sewaktu ia menderita, Paulus dapat tinggal di dalam kemah yang menyebar di atasnya ini. Kemah ini, tenda ini, menyokong dia, menopang dia, mempertahankan dia, dan memelihara dia.
Agar kasih karunia Tuhan yang cukup dapat dinyatakan, kita tidak bisa menghindar dari penderitaan. Agar kesempurnaan kuasa Tuhan dapat ditunjukkan, diperlukan kelemahan kita. Karena itu, rasul terlebih suka bermegah atas kelemahan-kelemahannya, supaya kuasa Kristus dapat menaungi dia. Kasih karunia adalah suplai, dan kuasa adalah tenaga, kemampuan dari kasih karunia. Keduanya adalah Kristus yang bangkit, yang sekarang adalah Roh pemberi-hayat yang berhuni di dalam kita (1 Kor. 15:45; Gal. 2:20) untuk kenikmatan kita.
Apa yang kita miliki dalam ayat-ayat ini adalah Tuhan "memasak" Paulus. Tuhan "memasak" Paulus dan membuatnya menjadi "santapan" yang lezat untuk kita nikmati. Selama lebih dari lima puluh tahun, saya telah menikmati Rasul Paulus. Tetapi saya harus bersaksi bahwa saya tidak pernah menikmati Paulus sebanyak yang saya nikmati belakangan ini. Paulus benar-benar santapan yang lezat yang dimasak oleh Tuhan Yesus.
Ketika Paulus mempertimbangkan penglihatan yang tinggi dan wahyu yang menakjubkan ini, duri itu bekerja di atas dirinya untuk menjaganya dari kesombongan dan tinggi diri. Tetapi ketika duri itu bekerja untuk menjaga Paulus agar tetap rendah hati, maka kasih karunia menyuplai dan menopang dia, dan kekuatan menaungi dia. Inilah cara Tuhan yang ajaib dalam memasak Paulus untuk membuatnya mengalami Kristus yang alwasi (meluas ke segala sesuatu). Hasilnya, Paulus menjadi kaya dalam pengalaman terhadap Kristus.
Jangan putus asa bila ada duri yang menipu Anda setelah Anda menerima wahyu dari Tuhan. Penglihatan dan wahyu selalu diikuti dengan penderitaan. Anda tidak perlu banyak berdoa mengenai duri itu. Duri itu tidak akan disingkirkan. Sebaliknya, Tuhan akan membiarkannya tetap ada dengan tujuan mendatangkan kasih karunia bagi kenikmatan Anda. Kasih karunia ini akan menjadi kekuatan Anda setiap hari dan bahkan menjadi tempat kediaman Anda, yaitu menjadi satu kemah yang menaungi Anda. Ini akan memperkaya pengalaman rohani Anda. Ketika kita menikmati kasih karunia Tuhan dan tinggal di bawah naungan kuasa-Nya, kita akan selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan mengenai Kristus dan gereja.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 55
30 March 2012
2 Korintus - Minggu 27 Jumat
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 12:1-10
Menurut ayat 2 dan 4 ada dua hal yang terjadi di atas diri Paulus. Pertama, ia diangkat ke langit tingkat ketiga; kedua, ia diangkat ke dalam Firdaus. Dalam ayat 2 Paulus mengatakan, "Aku tahu tentang seseorang di dalam Kristus; empat belas tahun yang lampau -- entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya -- orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga." Awan-awan yang kelihatan dapat dianggap sebagai langit tingkat pertama, dan angkasa adalah langit tingkat kedua. Langit tingkat ketiga pasti adalah langit di atas segala langit, langit tertinggi (Ul. 10:14; Mzm. 148:4), tempat Tuhan Yesus dan Allah berada hari ini (Ef. 4:10; Ibr. 4:14; 1:3).
Dalam ayat 3-4 Paulus melanjutkan, "(Dan) aku juga tahu tentang orang itu -- entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya -- ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia." Ayat 2 memberi tahu kita bahwa rasul diangkat ke langit tingkat ketiga. Sekarang ayat 3 dan 4 memberi tahu kita lebih lanjut bahwa rasul diangkat juga ke tempat lain, ke dalam Taman Firdaus. Ini dengan kuat menunjukkan bahwa Taman Firdaus tidak sama dengan langit tingkat ketiga dalam ayat 2, tetapi mengacu kepada suatu tempat selain langit tingkat ketiga.
Firdaus adalah bagian yang menyenangkan dari Alam Maut, tempat roh Abraham dan roh-roh semua orang benar berada, menantikan kebangkitan (Luk. 16:22-23, 25-26). Tuhan Yesus pernah pergi ke sana setelah kematian-Nya dan tinggal di sana hingga kebangkitan-Nya (Luk. 23:43; Kis. 2:24, 27, 31; Ef. 4:9; Mat. 12:40). Firdaus ini berbeda dengan Firdaus dalam Wahyu 2:7, yang akan menjadi Yerusalem Baru dalam Kerajaan Seribu Tahun. Dalam bagian ini rasul memberi tahu tentang betapa unggul wahyu yang diterimanya. Dalam alam semesta terutama ada tiga bagian: langit, bumi, dan alam maut di bawah bumi (Ef. 4:9). Sebagai manusia yang hidup di bumi ini, rasul mengetahui hal-hal di bumi. Tetapi manusia tidak tahu hal-hal di langit dan di alam maut. Rasul justru dibawa ke dua tempat yang tidak diketahui oleh manusia itu, demikianlah ia mendapatkan penglihatan-penglihatan dan wahyu-wahyu tentang wilayah-wilayah yang tersembunyi itu. Untuk alasan inilah dia menyinggung tentang dua bagian ujung dari alam semesta ini. Ketika Tuhan Yesus mati, Dia tidak segera pergi ke langit tingkat ketiga. Sebaliknya, Dia pergi ke satu tempat yang disebut Firdaus. Salah satu dari penyamun itu berkata kepada-Nya, "Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja" (Luk. 23:42). Tuhan Yesus menjawab, "Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (ayat 43). Selain itu, menurut Kisah Para Rasul 2, Tuhan Yesus pergi ke alam maut setelah Ia meninggal (ayat 31). Jika kita menyejajarkan kedua bagian dari firman ini, kita akan melihat bahwa Firdaus ini pasti ada di dalam alam maut.
Paulus adalah seorang yang terdidik mengenai hal-hal yang di bumi. Pada suatu hari Tuhan mengangkatnya ke langit tingkat ketiga dan membiarkannya melihat apa yang ada di sana. Tuhan juga mengangkatnya ke Firdaus untuk memperlihatkan kepadanya apa yang ada di sana. Mengenai Firdaus ini, Paulus mengatakan bahwa ia mendengar "kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia" (2 Kor. 12:4). Jadi, ia tidak bebas untuk memberi tahu orang-orang Korintus tentang hal itu. Paulus, manusia baru di dalam Kristus ini, benar-benar memiliki pengetahuan yang lengkap dan satu pandangan yang penuh tentang alam semesta.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 55
Menurut ayat 2 dan 4 ada dua hal yang terjadi di atas diri Paulus. Pertama, ia diangkat ke langit tingkat ketiga; kedua, ia diangkat ke dalam Firdaus. Dalam ayat 2 Paulus mengatakan, "Aku tahu tentang seseorang di dalam Kristus; empat belas tahun yang lampau -- entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya -- orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga." Awan-awan yang kelihatan dapat dianggap sebagai langit tingkat pertama, dan angkasa adalah langit tingkat kedua. Langit tingkat ketiga pasti adalah langit di atas segala langit, langit tertinggi (Ul. 10:14; Mzm. 148:4), tempat Tuhan Yesus dan Allah berada hari ini (Ef. 4:10; Ibr. 4:14; 1:3).
Dalam ayat 3-4 Paulus melanjutkan, "(Dan) aku juga tahu tentang orang itu -- entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya -- ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia." Ayat 2 memberi tahu kita bahwa rasul diangkat ke langit tingkat ketiga. Sekarang ayat 3 dan 4 memberi tahu kita lebih lanjut bahwa rasul diangkat juga ke tempat lain, ke dalam Taman Firdaus. Ini dengan kuat menunjukkan bahwa Taman Firdaus tidak sama dengan langit tingkat ketiga dalam ayat 2, tetapi mengacu kepada suatu tempat selain langit tingkat ketiga.
Firdaus adalah bagian yang menyenangkan dari Alam Maut, tempat roh Abraham dan roh-roh semua orang benar berada, menantikan kebangkitan (Luk. 16:22-23, 25-26). Tuhan Yesus pernah pergi ke sana setelah kematian-Nya dan tinggal di sana hingga kebangkitan-Nya (Luk. 23:43; Kis. 2:24, 27, 31; Ef. 4:9; Mat. 12:40). Firdaus ini berbeda dengan Firdaus dalam Wahyu 2:7, yang akan menjadi Yerusalem Baru dalam Kerajaan Seribu Tahun. Dalam bagian ini rasul memberi tahu tentang betapa unggul wahyu yang diterimanya. Dalam alam semesta terutama ada tiga bagian: langit, bumi, dan alam maut di bawah bumi (Ef. 4:9). Sebagai manusia yang hidup di bumi ini, rasul mengetahui hal-hal di bumi. Tetapi manusia tidak tahu hal-hal di langit dan di alam maut. Rasul justru dibawa ke dua tempat yang tidak diketahui oleh manusia itu, demikianlah ia mendapatkan penglihatan-penglihatan dan wahyu-wahyu tentang wilayah-wilayah yang tersembunyi itu. Untuk alasan inilah dia menyinggung tentang dua bagian ujung dari alam semesta ini. Ketika Tuhan Yesus mati, Dia tidak segera pergi ke langit tingkat ketiga. Sebaliknya, Dia pergi ke satu tempat yang disebut Firdaus. Salah satu dari penyamun itu berkata kepada-Nya, "Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja" (Luk. 23:42). Tuhan Yesus menjawab, "Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (ayat 43). Selain itu, menurut Kisah Para Rasul 2, Tuhan Yesus pergi ke alam maut setelah Ia meninggal (ayat 31). Jika kita menyejajarkan kedua bagian dari firman ini, kita akan melihat bahwa Firdaus ini pasti ada di dalam alam maut.
Paulus adalah seorang yang terdidik mengenai hal-hal yang di bumi. Pada suatu hari Tuhan mengangkatnya ke langit tingkat ketiga dan membiarkannya melihat apa yang ada di sana. Tuhan juga mengangkatnya ke Firdaus untuk memperlihatkan kepadanya apa yang ada di sana. Mengenai Firdaus ini, Paulus mengatakan bahwa ia mendengar "kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia" (2 Kor. 12:4). Jadi, ia tidak bebas untuk memberi tahu orang-orang Korintus tentang hal itu. Paulus, manusia baru di dalam Kristus ini, benar-benar memiliki pengetahuan yang lengkap dan satu pandangan yang penuh tentang alam semesta.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 55
29 March 2012
2 Korintus - Minggu 27 Kamis
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 12:1-10
Dua Korintus 12:1-10 adalah satu bagian yang sangat baik dari Alkitab. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Paulus itu dalam dan sangat bijaksana. Para penganut agama Yahudi bermegah bahwa mereka mengenal banyak hal, dan menyatakan lebih banyak pengetahuannya daripada Rasul Paulus. Bukannya berdebat dengan mereka, Paulus malah lebih dulu memegahkan kelemahannya. Sekarang dalam 2 Korintus 12:1-10 ia sampai kepada penglihatan (visi) dan wahyu. Strategi Paulus yang berhikmat ini adalah untuk mengalahkan kesombongan para penganut agama Yahudi dengan menunjukkan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki penglihatan atau wahyu apa pun. Apa yang dikenal oleh para penganut agama Yahudi itu adalah kosong melompong.
Dalam ayat 1 Paulus membicarakan tentang penglihatan dan wahyu. Wahyu adalah penyingkiran selubung, penyingkapan hal-hal yang tersembunyi; penglihatan adalah pemandangan, suasana yang terlihat setelah saat penyingkapan selubung. Banyak hal tentang ekonomi dan administrasi Allah dalam alam semesta yang tersembunyi. Di pihak Tuhan, Tuhan mewahyukan, menyingkapkan hal-hal tersembunyi ini kepada rasul; di pihak rasul, ia menerima penglihatan-penglihatan akan hal-hal tersembunyi ini.
Seseorang di dalam Kristus yang disinggung dalam ayat 2 ini bukanlah Saulus; ini adalah Paulus. Saulus adalah manusia alamiah, dan Paulus adalah manusia baru di dalam Kristus. Akan lebih baik bila kita semua memiliki dua nama: satu nama yang menunjukkan nama seseorang sebelum diselamatkan, yaitu apa adanya kita dalam Adam, dan satu nama lagi dari seseorang yang sekarang ada di dalam Kristus. Sebelumnya kita adalah Saulus; sekarang kita adalah Paulus.
Ketika Paulus membicarakan tentang seseorang di dalam Kristus, ia mengacu kepada manusia keduanya, persona keduanya. Ia akan bermegah atas orang ini, tetapi ia tidak akan bermegah atas manusia lamanya. Dalam ayat 5 kata "diriku sendiri" mengacu kepada diri lama Paulus, bukan kepada diri barunya. Ini mengacu kepada Saulus, bukan Paulus. Diri baru Paulus mutlak berada di dalam Kristus. Manusia di dalam Kristus ini adalah satu ciptaan baru.
Jika kita memperhatikan diri kita sendiri sebagai kaum beriman, kita akan melihat bahwa kita juga memiliki dua persona. Di satu pihak, kita adalah orang dengan satu diri yang lama; di pihak lain, kita adalah orang dengan diri yang baru. Persona ini ada di dalam Kristus dan adalah satu ciptaan baru. Kita tidak boleh memperhatikan persona yang pertama lagi. Sebaliknya, kita harus mengikuti persona yang kedua.
Apa yang terjadi pada Paulus, seseorang di dalam Kristus, seperti yang tercatat dalam ayat-ayat ini, sangatlah misterius. Paulus sendiri pun tidak dapat memberitahukan apakah ia berada di dalam tubuh atau di luar tubuh. Dalam ayat 3 ia mengatakan, "Aku juga tahu tentang orang itu -- entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya." Jelas Paulus tidak lupa diri (trans). Kita tidak boleh mengira apa yang digambarkan di sini adalah pengalaman dari seseorang yang tidak sadarkan diri (trans). Apa yang terjadi pada Paulus itu di luar kemampuannya untuk mengeskpresikan hal itu, karena ia sendiri pun tidak benar-benar jelas tentang hal itu.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 55
Dua Korintus 12:1-10 adalah satu bagian yang sangat baik dari Alkitab. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Paulus itu dalam dan sangat bijaksana. Para penganut agama Yahudi bermegah bahwa mereka mengenal banyak hal, dan menyatakan lebih banyak pengetahuannya daripada Rasul Paulus. Bukannya berdebat dengan mereka, Paulus malah lebih dulu memegahkan kelemahannya. Sekarang dalam 2 Korintus 12:1-10 ia sampai kepada penglihatan (visi) dan wahyu. Strategi Paulus yang berhikmat ini adalah untuk mengalahkan kesombongan para penganut agama Yahudi dengan menunjukkan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki penglihatan atau wahyu apa pun. Apa yang dikenal oleh para penganut agama Yahudi itu adalah kosong melompong.
Dalam ayat 1 Paulus membicarakan tentang penglihatan dan wahyu. Wahyu adalah penyingkiran selubung, penyingkapan hal-hal yang tersembunyi; penglihatan adalah pemandangan, suasana yang terlihat setelah saat penyingkapan selubung. Banyak hal tentang ekonomi dan administrasi Allah dalam alam semesta yang tersembunyi. Di pihak Tuhan, Tuhan mewahyukan, menyingkapkan hal-hal tersembunyi ini kepada rasul; di pihak rasul, ia menerima penglihatan-penglihatan akan hal-hal tersembunyi ini.
Seseorang di dalam Kristus yang disinggung dalam ayat 2 ini bukanlah Saulus; ini adalah Paulus. Saulus adalah manusia alamiah, dan Paulus adalah manusia baru di dalam Kristus. Akan lebih baik bila kita semua memiliki dua nama: satu nama yang menunjukkan nama seseorang sebelum diselamatkan, yaitu apa adanya kita dalam Adam, dan satu nama lagi dari seseorang yang sekarang ada di dalam Kristus. Sebelumnya kita adalah Saulus; sekarang kita adalah Paulus.
Ketika Paulus membicarakan tentang seseorang di dalam Kristus, ia mengacu kepada manusia keduanya, persona keduanya. Ia akan bermegah atas orang ini, tetapi ia tidak akan bermegah atas manusia lamanya. Dalam ayat 5 kata "diriku sendiri" mengacu kepada diri lama Paulus, bukan kepada diri barunya. Ini mengacu kepada Saulus, bukan Paulus. Diri baru Paulus mutlak berada di dalam Kristus. Manusia di dalam Kristus ini adalah satu ciptaan baru.
Jika kita memperhatikan diri kita sendiri sebagai kaum beriman, kita akan melihat bahwa kita juga memiliki dua persona. Di satu pihak, kita adalah orang dengan satu diri yang lama; di pihak lain, kita adalah orang dengan diri yang baru. Persona ini ada di dalam Kristus dan adalah satu ciptaan baru. Kita tidak boleh memperhatikan persona yang pertama lagi. Sebaliknya, kita harus mengikuti persona yang kedua.
Apa yang terjadi pada Paulus, seseorang di dalam Kristus, seperti yang tercatat dalam ayat-ayat ini, sangatlah misterius. Paulus sendiri pun tidak dapat memberitahukan apakah ia berada di dalam tubuh atau di luar tubuh. Dalam ayat 3 ia mengatakan, "Aku juga tahu tentang orang itu -- entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya." Jelas Paulus tidak lupa diri (trans). Kita tidak boleh mengira apa yang digambarkan di sini adalah pengalaman dari seseorang yang tidak sadarkan diri (trans). Apa yang terjadi pada Paulus itu di luar kemampuannya untuk mengeskpresikan hal itu, karena ia sendiri pun tidak benar-benar jelas tentang hal itu.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 55
28 March 2012
2 Korintus - Minggu 27 Rabu
Pembacaan Alkitab: Kol. 1:24
Kita perlu memahami mengapa Paulus menulis ayat-ayat ini secara demikian. Paulus berada dalam lingkungan yang sangat sulit. Ia sangat menderita, dan ia bahkan kekurangan makanan. Seolah-olah Allah tidak menyertai dia dan tidak menghormati dia. Manakah tanda-tanda ajaib yang dijanjikan dalam Markus 16? Sepertinya Tuhan tidak menyuplai Paulus. Tuhan bahkan membiarkan Paulus mengalami karam kapal dan sehari semalam terkatung-katung di tengah laut. Mengapa Paulus menekankan hal-hal yang tidak terhormat dan tidak mulia ini? Jalan Paulus adalah jalan ilahi. Sebaliknya, konsepsi kebanyakan orang Kristen bertentangan dengan jalan Allah. Apa yang ditulis Paulus dalam pasal ini sesungguhnya bersesuaian dengan kehidupan Tuhan Yesus. Ketika berada di bumi, Tuhan menderita kesusahan. Sekalipun Dia adalah Putra Allah, kehidupan-Nya bukanlah kehidupan yang makmur atau ada berkat yang lahiriah. Dilihat secara luaran, Tuhan Yesus tidak diberkati Allah. Ketika Dia disalibkan, orang-orang Yahudi mencemooh Dia dan mengatakan jika Dia berasal dari Allah, Allah akan membebaskan Dia dari salib itu. Tetapi bukannya mengutus malaikat-malaikat untuk menyelamatkan Tuhan Yesus, Allah malah membiarkan Dia mati di atas salib. Dalam prinsipnya, pengalaman Paulus juga sama.
Dengan menulis pasal ini sedemikian, Paulus menjelaskan bukan hanya kepada kaum beriman di Korintus, tetapi juga kepada semua orang beriman dalam Kristus sepanjang abad, apakah jalan Allah itu. Jalan Allah terlihat pada diri para rasul yang sejati, pada diri para minister dari perjanjian yang baru yang sejati, bukan pada diri mereka yang disebut para rasul yang tak ada taranya. Para rasul palsu itu mungkin saja makmur dan semarak, dan mereka tidak perlu menyelamatkan diri dalam sebuah keranjang. Tetapi para rasul yang sejati dimusuhi dan menderita karena seluruh bumi ini menentang ekonomi Allah. Selain itu, zaman sekarang ini bukan saatnya kita menjadi makmur dan semarak, melainkan ini adalah waktu kita untuk menderita bagi Tubuh Kristus. Memakai perkataan Kolose 1:24, sekarang kita sedang memenuhi kekurangan dalam penderitaan Kristus bagi Tubuh-Nya, yaitu gereja.
Di atas salib, Tuhan Yesus menderita untuk menebus kita. Tetapi selama hidup-Nya di bumi, Dia menderita bagi pembangunan Tubuh. Kita tidak dapat mengambil bagian dalam penderitaan Kristus bagi penebusan. Mengatakan bahwa kita dapat mengambil bagian dalam penderitaan penebusan itu merupakan satu penghujatan. Namun, kita harus mengambil bagian dalam penderitaan Kristus bagi Tubuh-Nya. Ini berarti kita harus mengikuti jalan-Nya, yaitu jalan yang sempit. Kita harus berjalan mengikuti jejak-jejak kaki-Nya dan memikul salib. Tuhan Yesus menempuh satu kehidupan yang menderita, dan kita juga harus melakukan hal yang sama. Ini adalah untuk memenuhi apa yang kurang dalam penderitaan Kristus bagi pembangunan gereja, Tubuh-Nya.
Dalam pasal 11 kita memiliki dua rahasia untuk membedakan yang sejati dari yang palsu: menikmati Tuhan sebagai suplai hayat kita dan menderita dalam mengikuti Tuhan. Di satu pihak, kita menikmati Tuhan Yesus; di pihak lain, kita mengikuti Dia untuk menempuh satu kehidupan yang menderita. Kenikmatan dan penderitaan ini adalah faktor-faktor penentu yang olehnya kita dapat membedakan manakah yang sejati dan manakah yang palsu. Segala sesuatu yang membantu kita menikmati Tuhan dan yang menguatkan kita untuk mengikuti Dia dalam penderitaan-Nya adalah yang sejati. Apa saja yang tidak mendorong kita dalam dua perkara ini adalah yang palsu.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 54
Kita perlu memahami mengapa Paulus menulis ayat-ayat ini secara demikian. Paulus berada dalam lingkungan yang sangat sulit. Ia sangat menderita, dan ia bahkan kekurangan makanan. Seolah-olah Allah tidak menyertai dia dan tidak menghormati dia. Manakah tanda-tanda ajaib yang dijanjikan dalam Markus 16? Sepertinya Tuhan tidak menyuplai Paulus. Tuhan bahkan membiarkan Paulus mengalami karam kapal dan sehari semalam terkatung-katung di tengah laut. Mengapa Paulus menekankan hal-hal yang tidak terhormat dan tidak mulia ini? Jalan Paulus adalah jalan ilahi. Sebaliknya, konsepsi kebanyakan orang Kristen bertentangan dengan jalan Allah. Apa yang ditulis Paulus dalam pasal ini sesungguhnya bersesuaian dengan kehidupan Tuhan Yesus. Ketika berada di bumi, Tuhan menderita kesusahan. Sekalipun Dia adalah Putra Allah, kehidupan-Nya bukanlah kehidupan yang makmur atau ada berkat yang lahiriah. Dilihat secara luaran, Tuhan Yesus tidak diberkati Allah. Ketika Dia disalibkan, orang-orang Yahudi mencemooh Dia dan mengatakan jika Dia berasal dari Allah, Allah akan membebaskan Dia dari salib itu. Tetapi bukannya mengutus malaikat-malaikat untuk menyelamatkan Tuhan Yesus, Allah malah membiarkan Dia mati di atas salib. Dalam prinsipnya, pengalaman Paulus juga sama.
Dengan menulis pasal ini sedemikian, Paulus menjelaskan bukan hanya kepada kaum beriman di Korintus, tetapi juga kepada semua orang beriman dalam Kristus sepanjang abad, apakah jalan Allah itu. Jalan Allah terlihat pada diri para rasul yang sejati, pada diri para minister dari perjanjian yang baru yang sejati, bukan pada diri mereka yang disebut para rasul yang tak ada taranya. Para rasul palsu itu mungkin saja makmur dan semarak, dan mereka tidak perlu menyelamatkan diri dalam sebuah keranjang. Tetapi para rasul yang sejati dimusuhi dan menderita karena seluruh bumi ini menentang ekonomi Allah. Selain itu, zaman sekarang ini bukan saatnya kita menjadi makmur dan semarak, melainkan ini adalah waktu kita untuk menderita bagi Tubuh Kristus. Memakai perkataan Kolose 1:24, sekarang kita sedang memenuhi kekurangan dalam penderitaan Kristus bagi Tubuh-Nya, yaitu gereja.
Di atas salib, Tuhan Yesus menderita untuk menebus kita. Tetapi selama hidup-Nya di bumi, Dia menderita bagi pembangunan Tubuh. Kita tidak dapat mengambil bagian dalam penderitaan Kristus bagi penebusan. Mengatakan bahwa kita dapat mengambil bagian dalam penderitaan penebusan itu merupakan satu penghujatan. Namun, kita harus mengambil bagian dalam penderitaan Kristus bagi Tubuh-Nya. Ini berarti kita harus mengikuti jalan-Nya, yaitu jalan yang sempit. Kita harus berjalan mengikuti jejak-jejak kaki-Nya dan memikul salib. Tuhan Yesus menempuh satu kehidupan yang menderita, dan kita juga harus melakukan hal yang sama. Ini adalah untuk memenuhi apa yang kurang dalam penderitaan Kristus bagi pembangunan gereja, Tubuh-Nya.
Dalam pasal 11 kita memiliki dua rahasia untuk membedakan yang sejati dari yang palsu: menikmati Tuhan sebagai suplai hayat kita dan menderita dalam mengikuti Tuhan. Di satu pihak, kita menikmati Tuhan Yesus; di pihak lain, kita mengikuti Dia untuk menempuh satu kehidupan yang menderita. Kenikmatan dan penderitaan ini adalah faktor-faktor penentu yang olehnya kita dapat membedakan manakah yang sejati dan manakah yang palsu. Segala sesuatu yang membantu kita menikmati Tuhan dan yang menguatkan kita untuk mengikuti Dia dalam penderitaan-Nya adalah yang sejati. Apa saja yang tidak mendorong kita dalam dua perkara ini adalah yang palsu.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 54
27 March 2012
2 Korintus - Minggu 27 Selasa
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 11:16-33
Dalam ayat 23 Paulus mengatakan bahwa ia lebih banyak berjerih lelah, lebih sering dipenjara, menanggung pukulan di luar batas, dan kerap kali berada dalam bahaya maut. Dalam ayat 24-25 Paulus mengatakan, "Lima kali menanggung pukulan oleh orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku menderita pukulan (dengan tongkat), satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut." Deraan dalam ayat 24 dilakukan oleh orang-orang Yahudi, sedangkan tongkat dalam ayat 25 digunakan oleh orang-orang Roma (Kis. 16:22-23; 22:25). Ketiga kejadian ini, tidak termasuk kapal kandas di Melita (secara umum dikenal sebagai Malta), tidak tercatat dalam Kitab Kisah Para Rasul.
Ayat 26 mengatakan, "Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu." Penyamun yang disinggung dalam ayat ini adalah suku-suku yang berdiam di gunung-gunung antara dataran tinggi Asia Kecil dan pantai yang terkenal akan perampokannya. Saudara-saudara palsu ini terutama mengacu kepada orang-orang Kristen yang bergairah dalam agama Yahudi.
Ayat 27 melanjutkan, "Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian." Karena berpuasa di sini dicantumkan bersama-sama dengan bekerja berat, maka ini pasti ditujukan kepada puasa yang tidak direncanakan karena kekurangan makanan. Kedinginan karena cuaca dan pakaian yang tidak memadai; tidak berpakaian mengacu kepada keadaan tidak berpakaian cukup atau telanjang karena cambukan atau kandasnya kapal.
Penderitaan Paulus membuatnya kelihatan lemah di mata orang lain. Seorang yang kuat dapat melakukan banyak hal untuk menghapus penderitaan atau menguranginya. Namun, Paulus tidak dapat melakukan apa-apa terhadap penderitaannya. Fakta bahwa ia tidak dapat mengurangi penderitaannya menunjukkan bahwa ia lemah. Karena itu, di mata para penentangnya, ia adalah seorang yang lemah dan kasihan.
Pada zaman dulu juga zaman sekarang ini, ada konsepsi bahwa seseorang yang diberkati Allah seharusnya tidak menderita. Musuh-musuh Paulus berpikir bahwa jika Paulus benar-benar berasal dari Allah, maka Allah akan memberkati dia dan ia tidak akan menderita. Mereka menganggap penderitaan Paulus sebagai tanda bahwa ia bukan berasal dari Allah atau ia tidak berada di bawah berkat Allah. Konsepsi Paulus berbeda. Di sini Paulus seolah-olah berkata kepada para penganut agama Yahudi itu, "Jika kamu benar-benar berasal dari Allah, Allah akan mengizinkan kamu mengalami banyak penderitaan. Seorang minister Kristus yang sejati adalah orang yang menderita." Banyak orang Kristen hari ini memiliki konsepsi bahwa jika seseorang itu kaya, makmur, dan semarak, ia adalah hamba Allah yang setia dan diberkati oleh Dia. Mereka juga memiliki konsepsi bahwa orang-orang yang harus menderita dan bekerja keras itu tidak berada di bawah berkat Allah.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 54
Dalam ayat 23 Paulus mengatakan bahwa ia lebih banyak berjerih lelah, lebih sering dipenjara, menanggung pukulan di luar batas, dan kerap kali berada dalam bahaya maut. Dalam ayat 24-25 Paulus mengatakan, "Lima kali menanggung pukulan oleh orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku menderita pukulan (dengan tongkat), satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut." Deraan dalam ayat 24 dilakukan oleh orang-orang Yahudi, sedangkan tongkat dalam ayat 25 digunakan oleh orang-orang Roma (Kis. 16:22-23; 22:25). Ketiga kejadian ini, tidak termasuk kapal kandas di Melita (secara umum dikenal sebagai Malta), tidak tercatat dalam Kitab Kisah Para Rasul.
Ayat 26 mengatakan, "Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu." Penyamun yang disinggung dalam ayat ini adalah suku-suku yang berdiam di gunung-gunung antara dataran tinggi Asia Kecil dan pantai yang terkenal akan perampokannya. Saudara-saudara palsu ini terutama mengacu kepada orang-orang Kristen yang bergairah dalam agama Yahudi.
Ayat 27 melanjutkan, "Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian." Karena berpuasa di sini dicantumkan bersama-sama dengan bekerja berat, maka ini pasti ditujukan kepada puasa yang tidak direncanakan karena kekurangan makanan. Kedinginan karena cuaca dan pakaian yang tidak memadai; tidak berpakaian mengacu kepada keadaan tidak berpakaian cukup atau telanjang karena cambukan atau kandasnya kapal.
Penderitaan Paulus membuatnya kelihatan lemah di mata orang lain. Seorang yang kuat dapat melakukan banyak hal untuk menghapus penderitaan atau menguranginya. Namun, Paulus tidak dapat melakukan apa-apa terhadap penderitaannya. Fakta bahwa ia tidak dapat mengurangi penderitaannya menunjukkan bahwa ia lemah. Karena itu, di mata para penentangnya, ia adalah seorang yang lemah dan kasihan.
Pada zaman dulu juga zaman sekarang ini, ada konsepsi bahwa seseorang yang diberkati Allah seharusnya tidak menderita. Musuh-musuh Paulus berpikir bahwa jika Paulus benar-benar berasal dari Allah, maka Allah akan memberkati dia dan ia tidak akan menderita. Mereka menganggap penderitaan Paulus sebagai tanda bahwa ia bukan berasal dari Allah atau ia tidak berada di bawah berkat Allah. Konsepsi Paulus berbeda. Di sini Paulus seolah-olah berkata kepada para penganut agama Yahudi itu, "Jika kamu benar-benar berasal dari Allah, Allah akan mengizinkan kamu mengalami banyak penderitaan. Seorang minister Kristus yang sejati adalah orang yang menderita." Banyak orang Kristen hari ini memiliki konsepsi bahwa jika seseorang itu kaya, makmur, dan semarak, ia adalah hamba Allah yang setia dan diberkati oleh Dia. Mereka juga memiliki konsepsi bahwa orang-orang yang harus menderita dan bekerja keras itu tidak berada di bawah berkat Allah.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 54
26 March 2012
2 Korintus - Minggu 27 Senin
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 11:16-33
Dalam 11:16-33 Paulus meminta orang-orang Korintus untuk bersabar terhadapnya dalam kebodohannya. Ia meminta izin kepada mereka untuk bersikap bodoh dalam bermegah. Dalam ayat 16 ia mengatakan, "Kuulangi lagi: Jangan hendaknya ada orang yang menganggap aku bodoh. Jika kamu juga menganggap demikian, terimalah aku sebagai orang bodoh supaya aku pun boleh bermegah sedikit." Di sini Paulus seolah-olah berkata, "Bersabarlah terhadapku dalam kebodohanku. Sampai saat ini aku selalu pintar, tetapi sekarang aku harus berbicara dengan tegas. Sebelum aku melakukan hal ini, aku minta kamu bersabar terhadap aku dalam kebodohanku. Aku akan memberi tahu kamu sesuatu dengan terus terang." Kemudian Paulus memakai ungkapan-ungkapan yang terus terang dan perkataan yang tegas.
Sering kali, untuk membicarakan kebenaran, kita mungkin perlu kelihatan bodoh bagi orang lain. Martin Luther melakukan hal ini ketika ia menyatakan kepada kekristenan yang telah merosot bahwa pembenaran adalah mutlak oleh iman. Ketika ia melakukan hal ini, ia tampak bodoh. Siapa saja yang ingin mempertahankan kedudukan yang tinggi dalam hierarki agama tidak mungkin melakukan hal ini.
Dalam ayat 17-18 Paulus melanjutkan, "Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai orang bodoh yang berkeyakinan bahwa ia boleh bermegah. Karena banyak orang yang bermegah menurut daging, aku mau bermegah juga" (Tl.). Tidakkah Anda akan mengatakan bahwa Paulus gila ketika ia menyatakan bahwa ia akan membicarakan sesuatu yang bukan menurut firman Tuhan? Kita mungkin berpikir jika Paulus tidak berbicara menurut firman Tuhan, seharusnya ia diam saja. Bagaimana mungkin seorang rasul dapat membicarakan sesuatu yang bukan menurut firman Tuhan? Namun, Paulus justru mengucapkan perkataan yang demikian. Jika kita ada di sana pada waktu itu, kita mungkin akan menasihati Paulus agar tidak menulis seperti itu.
Apakah yang Paulus maksud dengan "berkeyakinan" dalam ayat 17? Keyakinan ini kelihatannya berhubungan dengan kebodohan Paulus, yaitu berhubungan dengan kehilangan akalnya. Jika ia tidak memiliki keyakinan demikian, tentu ia tidak dapat bermegah. Jika tidak demikian, ia akan berperilaku seperti seorang yang sangat berbudaya dan tidak akan bermegah sama sekali. Seseorang yang memiliki keyakinan bahwa ia tidak kehilangan akalnya tidak akan pernah bermegah seperti yang Paulus lakukan dalam 2 Korintus 11 ini.
Setelah mengucapkan perkataan yang ironis kepada orang-orang Korintus tentang suka sabar terhadap orang bodoh (ayat 19), dalam ayat 20 Paulus mengatakan, "Karena kamu sabar, jika orang memperhamba kamu, jika orang memangsa kamu, jika orang menguasai kamu, jika orang berlaku angkuh terhadap kamu, jika orang menampar kamu." Di sini Paulus seolah-olah berkata, "Jika kamu suka sabar terhadap semuanya ini, tidakkah kamu dapat sabar terhadap aku, orang yang bodoh dan yang kehilangan akalnya ini?"
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 54
Dalam 11:16-33 Paulus meminta orang-orang Korintus untuk bersabar terhadapnya dalam kebodohannya. Ia meminta izin kepada mereka untuk bersikap bodoh dalam bermegah. Dalam ayat 16 ia mengatakan, "Kuulangi lagi: Jangan hendaknya ada orang yang menganggap aku bodoh. Jika kamu juga menganggap demikian, terimalah aku sebagai orang bodoh supaya aku pun boleh bermegah sedikit." Di sini Paulus seolah-olah berkata, "Bersabarlah terhadapku dalam kebodohanku. Sampai saat ini aku selalu pintar, tetapi sekarang aku harus berbicara dengan tegas. Sebelum aku melakukan hal ini, aku minta kamu bersabar terhadap aku dalam kebodohanku. Aku akan memberi tahu kamu sesuatu dengan terus terang." Kemudian Paulus memakai ungkapan-ungkapan yang terus terang dan perkataan yang tegas.
Sering kali, untuk membicarakan kebenaran, kita mungkin perlu kelihatan bodoh bagi orang lain. Martin Luther melakukan hal ini ketika ia menyatakan kepada kekristenan yang telah merosot bahwa pembenaran adalah mutlak oleh iman. Ketika ia melakukan hal ini, ia tampak bodoh. Siapa saja yang ingin mempertahankan kedudukan yang tinggi dalam hierarki agama tidak mungkin melakukan hal ini.
Dalam ayat 17-18 Paulus melanjutkan, "Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai orang bodoh yang berkeyakinan bahwa ia boleh bermegah. Karena banyak orang yang bermegah menurut daging, aku mau bermegah juga" (Tl.). Tidakkah Anda akan mengatakan bahwa Paulus gila ketika ia menyatakan bahwa ia akan membicarakan sesuatu yang bukan menurut firman Tuhan? Kita mungkin berpikir jika Paulus tidak berbicara menurut firman Tuhan, seharusnya ia diam saja. Bagaimana mungkin seorang rasul dapat membicarakan sesuatu yang bukan menurut firman Tuhan? Namun, Paulus justru mengucapkan perkataan yang demikian. Jika kita ada di sana pada waktu itu, kita mungkin akan menasihati Paulus agar tidak menulis seperti itu.
Apakah yang Paulus maksud dengan "berkeyakinan" dalam ayat 17? Keyakinan ini kelihatannya berhubungan dengan kebodohan Paulus, yaitu berhubungan dengan kehilangan akalnya. Jika ia tidak memiliki keyakinan demikian, tentu ia tidak dapat bermegah. Jika tidak demikian, ia akan berperilaku seperti seorang yang sangat berbudaya dan tidak akan bermegah sama sekali. Seseorang yang memiliki keyakinan bahwa ia tidak kehilangan akalnya tidak akan pernah bermegah seperti yang Paulus lakukan dalam 2 Korintus 11 ini.
Setelah mengucapkan perkataan yang ironis kepada orang-orang Korintus tentang suka sabar terhadap orang bodoh (ayat 19), dalam ayat 20 Paulus mengatakan, "Karena kamu sabar, jika orang memperhamba kamu, jika orang memangsa kamu, jika orang menguasai kamu, jika orang berlaku angkuh terhadap kamu, jika orang menampar kamu." Di sini Paulus seolah-olah berkata, "Jika kamu suka sabar terhadap semuanya ini, tidakkah kamu dapat sabar terhadap aku, orang yang bodoh dan yang kehilangan akalnya ini?"
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 54
24 March 2012
2 Korintus - Minggu 26 Sabtu
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 11:1-15
Hari ini, oleh belas kasihan Tuhan, kita dapat menyadari bahwa sesungguhnya Paulus adalah rasul yang terkemuka dan rasul yang berada pada tingkatan ministri yang paling tinggi. Meskipun demikian, para penganut agama Yahudi itu menyatakan bahwa mereka lebih unggul daripada Paulus. Sikap mereka adalah bahwa Paulus itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan mereka, bahwa ia sedikit pengetahuannya bila dibandingkan dengan mereka. Dalam 2 Korintus ada perkataan-perkataan yang menyiratkan bahwa para penganut agama Yahudi ini mengira diri mereka lebih tahu daripada Paulus. Karena itu tidak heran bila Paulus menyebut mereka rasul yang tak ada taranya. Tentunya, ini adalah satu istilah yang ironis. Paulus tidak memakai ekspresi ini secara positif. Sebenarnya, para penganut agama Yahudi itu bukanlah rasul yang tak ada taranya, karena mereka sama sekali bukanlah rasul yang sejati.
Cara yang terbaik untuk membedakan satu perkara adalah membedakannya menurut hayat atau maut. Kita perlu mengajukan pertanyaan seperti ini: Apakah pengajaran ini membantuku menikmati Tuhan lebih banyak dan membawaku ke dalam hayat atau menyuntikkan racun maut ke dalamku? Anda akan menemukan bahwa jika Anda menerima satu pengajaran atau pemberitaan ke dalam Anda, maka kenikmatan batini Anda terhadap Tuhan akan terputus. Ada beberapa hal yang berfungsi seperti penyekat yang menghentikan aliran listrik ilahi ini. Karena itu, kita harus belajar untuk membedakan, membandingkan, perkara-perkara berdasarkan hayat dan maut.
Rahasia pembedaan ini adalah membedakan menurut hayat atau maut. Pengajaran mana pun yang membuat kenikmatan Anda terhadap Tuhan berhenti adalah pengajaran yang berasal dari maut, tidak peduli betapa baiknya pengajaran itu. Selama pengajaran atau pemberitaan seseorang mencabut kita dari kenikmatan akan Tuhan sebagai suplai hayat kita, maka pengajaran itu berasal dari ular itu. Namun, ministri Tuhan yang sejati selalu menguatkan kita dalam kenikmatan akan Dia sebagai suplai hayat kita.
Dua Korintus 11:2-3 sangat penting. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Paulus jelas mengenai strategi Iblis. Ia menyadari bahwa strategi Iblis adalah menyebarkan perangkap doktrin untuk menjerat kaum saleh. Karena itu, Paulus menjauhkan diri dari perangkap itu. Selain itu, ia berusaha menjauhkan kaum saleh dari perangkap itu dengan mengingatkan mereka bahwa ia cemburu kepada mereka dengan cemburu Allah, dan bahwa ia telah mempertunangkan mereka dengan satu Suami untuk membawa mereka sebagai perawan yang suci kepada Kristus. Ia memberi tahu kaum saleh bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka mengasihi apa pun atau siapa pun selain Dia, sebaliknya menghendaki mereka mengasihi Dia secara unik, tulus, dan sepenuhnya. Dalam ayat 3 Paulus mewahyukan perhatiannya kepada kaum beriman Korintus agar mereka tidak tertipu dan kehilangan ketulusan dan kemurnian mereka terhadap Tuhan. Dari ayat ini kita melihat bahwa kita perlu tulus dan murni. Jangan menjadi orang yang ruwet dalam pikiran Anda, dalam pemahaman Anda, dengan begitu banyak pengajaran atau isme-isme. Sebaliknya, peliharalah ketulusan dan kemurnian Anda untuk menikmati Tuhan sebagai suplai hayat Anda.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 53
Hari ini, oleh belas kasihan Tuhan, kita dapat menyadari bahwa sesungguhnya Paulus adalah rasul yang terkemuka dan rasul yang berada pada tingkatan ministri yang paling tinggi. Meskipun demikian, para penganut agama Yahudi itu menyatakan bahwa mereka lebih unggul daripada Paulus. Sikap mereka adalah bahwa Paulus itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan mereka, bahwa ia sedikit pengetahuannya bila dibandingkan dengan mereka. Dalam 2 Korintus ada perkataan-perkataan yang menyiratkan bahwa para penganut agama Yahudi ini mengira diri mereka lebih tahu daripada Paulus. Karena itu tidak heran bila Paulus menyebut mereka rasul yang tak ada taranya. Tentunya, ini adalah satu istilah yang ironis. Paulus tidak memakai ekspresi ini secara positif. Sebenarnya, para penganut agama Yahudi itu bukanlah rasul yang tak ada taranya, karena mereka sama sekali bukanlah rasul yang sejati.
Cara yang terbaik untuk membedakan satu perkara adalah membedakannya menurut hayat atau maut. Kita perlu mengajukan pertanyaan seperti ini: Apakah pengajaran ini membantuku menikmati Tuhan lebih banyak dan membawaku ke dalam hayat atau menyuntikkan racun maut ke dalamku? Anda akan menemukan bahwa jika Anda menerima satu pengajaran atau pemberitaan ke dalam Anda, maka kenikmatan batini Anda terhadap Tuhan akan terputus. Ada beberapa hal yang berfungsi seperti penyekat yang menghentikan aliran listrik ilahi ini. Karena itu, kita harus belajar untuk membedakan, membandingkan, perkara-perkara berdasarkan hayat dan maut.
Rahasia pembedaan ini adalah membedakan menurut hayat atau maut. Pengajaran mana pun yang membuat kenikmatan Anda terhadap Tuhan berhenti adalah pengajaran yang berasal dari maut, tidak peduli betapa baiknya pengajaran itu. Selama pengajaran atau pemberitaan seseorang mencabut kita dari kenikmatan akan Tuhan sebagai suplai hayat kita, maka pengajaran itu berasal dari ular itu. Namun, ministri Tuhan yang sejati selalu menguatkan kita dalam kenikmatan akan Dia sebagai suplai hayat kita.
Dua Korintus 11:2-3 sangat penting. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Paulus jelas mengenai strategi Iblis. Ia menyadari bahwa strategi Iblis adalah menyebarkan perangkap doktrin untuk menjerat kaum saleh. Karena itu, Paulus menjauhkan diri dari perangkap itu. Selain itu, ia berusaha menjauhkan kaum saleh dari perangkap itu dengan mengingatkan mereka bahwa ia cemburu kepada mereka dengan cemburu Allah, dan bahwa ia telah mempertunangkan mereka dengan satu Suami untuk membawa mereka sebagai perawan yang suci kepada Kristus. Ia memberi tahu kaum saleh bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka mengasihi apa pun atau siapa pun selain Dia, sebaliknya menghendaki mereka mengasihi Dia secara unik, tulus, dan sepenuhnya. Dalam ayat 3 Paulus mewahyukan perhatiannya kepada kaum beriman Korintus agar mereka tidak tertipu dan kehilangan ketulusan dan kemurnian mereka terhadap Tuhan. Dari ayat ini kita melihat bahwa kita perlu tulus dan murni. Jangan menjadi orang yang ruwet dalam pikiran Anda, dalam pemahaman Anda, dengan begitu banyak pengajaran atau isme-isme. Sebaliknya, peliharalah ketulusan dan kemurnian Anda untuk menikmati Tuhan sebagai suplai hayat Anda.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 53
23 March 2012
2 Korintus - Minggu 26 Jumat
Pembacaan Alkitab: Rm. 8:6
Paulus dapat melihat bahwa para penganut agama Yahudi itu memiliki Yesus yang lain, roh yang lain, dan injil yang lain (ay. 4). Para penganut agama Yahudi menyatakan bahwa mereka memberitakan Yesus. Namun, Paulus melihat bahwa mereka memberitakan Yesus yang lain, bukan Tuhan Yesus yang diberitakan oleh Paulus. Selain itu, mereka menyatakan bahwa mereka memiliki roh; mereka mungkin menyatakan bahwa roh ini adalah Roh Kudus. Paulus kembali mendebat bahwa roh mereka bukanlah Roh Kudus; para penganut agama Yahudi memiliki roh yang lain. Selain itu, para penganut agama Yahudi itu menyatakan bahwa apa yang mereka beritakan adalah injil. Tetapi Paulus menyatakan bahwa injil mereka adalah injil yang lain.
Kaum beriman Korintus sulit membedakan Yesus yang diberitakan oleh Paulus dengan yang diberitakan oleh para penganut agama Yahudi. Namanya memang sama. Tetapi masih perlu ada pembedaan. Demikian juga mengenai Injil. Paulus datang kepada orang-orang Korintus dengan Injil. Para penganut agama Yahudi juga mengaku memberitakan Injil. Tetapi Paulus dapat membedakan bahwa injil yang diberitakan oleh para penganut agama Yahudi itu berbeda dengan Injil yang diberitakan oleh rasul-rasul. Itu bukanlah Injil seperti yang diberitakan oleh Paulus.
Dalam prinsipnya, situasi kita pada hari ini sama dengan situasi orang-orang Korintus. Istilah, definisi, dan judul dari berbagai perkara itu mungkin saja sama. Tetapi jika kita melatih pembedaan dengan tepat, kita akan sadar bahwa sebenarnya hal-hal itu tidak sama.
Sasaran Allah adalah hayat. Hayat ini, yang ditandai oleh pohon hayat, adalah Allah sendiri dalam Kristus sebagai Roh itu. Cara musuh, Iblis, ular itu, adalah menyelewengkan orang-orang dari hayat ini. Ia berusaha memalingkan mereka kepada pengetahuan, baik, dan jahat, yang hasilnya adalah maut. Maut adalah pemisah dari kenikmatan akan Allah.
Pemahaman yang tepat akan maut adalah bahwa maut menunjukkan pemisahan dari kenikmatan akan Allah. Ini berarti jika kita tidak memiliki kenikmatan akan Allah, kita berada dalam maut. Demikian juga, jika kita terpisah dari kenikmatan akan Allah, kita akan mati. Hal ini diwahyukan sepenuhnya dalam Roma 8. Roma 8:6 mengatakan, "Karena pikiran yang diletakkan di atas daging adalah maut, tetapi pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera" (Tl.). Dalam ayat ini maut adalah pemisah dari kenikmatan akan Allah. Hayat adalah lawannya, karena hayat adalah kenikmatan akan Allah. Ketika kita memiliki kenikmatan akan Allah, tidak ada pemisah antara kita dengan Allah, kita berada di dalam hayat dan hayat bekerja di dalam kita.
Dalam menyelewengkan orang beriman dari pohon hayat, Iblis berusaha memisahkan mereka dari kenikmatan akan Allah sebagai hayat mereka. Selama berabad-abad ular yang licik ini telah memakai pengajaran-pengajaran untuk menjauhkan umat pilihan Allah dari menikmati Dia sebagai hayat mereka. Sebagian besar pengajaran itu berhubungan dengan pengetahuan, baik, dan jahat. Tetapi pengajaran-pengajaran yang demikian menghasilkan pemisahan dari Allah.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 53
Paulus dapat melihat bahwa para penganut agama Yahudi itu memiliki Yesus yang lain, roh yang lain, dan injil yang lain (ay. 4). Para penganut agama Yahudi menyatakan bahwa mereka memberitakan Yesus. Namun, Paulus melihat bahwa mereka memberitakan Yesus yang lain, bukan Tuhan Yesus yang diberitakan oleh Paulus. Selain itu, mereka menyatakan bahwa mereka memiliki roh; mereka mungkin menyatakan bahwa roh ini adalah Roh Kudus. Paulus kembali mendebat bahwa roh mereka bukanlah Roh Kudus; para penganut agama Yahudi memiliki roh yang lain. Selain itu, para penganut agama Yahudi itu menyatakan bahwa apa yang mereka beritakan adalah injil. Tetapi Paulus menyatakan bahwa injil mereka adalah injil yang lain.
Kaum beriman Korintus sulit membedakan Yesus yang diberitakan oleh Paulus dengan yang diberitakan oleh para penganut agama Yahudi. Namanya memang sama. Tetapi masih perlu ada pembedaan. Demikian juga mengenai Injil. Paulus datang kepada orang-orang Korintus dengan Injil. Para penganut agama Yahudi juga mengaku memberitakan Injil. Tetapi Paulus dapat membedakan bahwa injil yang diberitakan oleh para penganut agama Yahudi itu berbeda dengan Injil yang diberitakan oleh rasul-rasul. Itu bukanlah Injil seperti yang diberitakan oleh Paulus.
Dalam prinsipnya, situasi kita pada hari ini sama dengan situasi orang-orang Korintus. Istilah, definisi, dan judul dari berbagai perkara itu mungkin saja sama. Tetapi jika kita melatih pembedaan dengan tepat, kita akan sadar bahwa sebenarnya hal-hal itu tidak sama.
Sasaran Allah adalah hayat. Hayat ini, yang ditandai oleh pohon hayat, adalah Allah sendiri dalam Kristus sebagai Roh itu. Cara musuh, Iblis, ular itu, adalah menyelewengkan orang-orang dari hayat ini. Ia berusaha memalingkan mereka kepada pengetahuan, baik, dan jahat, yang hasilnya adalah maut. Maut adalah pemisah dari kenikmatan akan Allah.
Pemahaman yang tepat akan maut adalah bahwa maut menunjukkan pemisahan dari kenikmatan akan Allah. Ini berarti jika kita tidak memiliki kenikmatan akan Allah, kita berada dalam maut. Demikian juga, jika kita terpisah dari kenikmatan akan Allah, kita akan mati. Hal ini diwahyukan sepenuhnya dalam Roma 8. Roma 8:6 mengatakan, "Karena pikiran yang diletakkan di atas daging adalah maut, tetapi pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera" (Tl.). Dalam ayat ini maut adalah pemisah dari kenikmatan akan Allah. Hayat adalah lawannya, karena hayat adalah kenikmatan akan Allah. Ketika kita memiliki kenikmatan akan Allah, tidak ada pemisah antara kita dengan Allah, kita berada di dalam hayat dan hayat bekerja di dalam kita.
Dalam menyelewengkan orang beriman dari pohon hayat, Iblis berusaha memisahkan mereka dari kenikmatan akan Allah sebagai hayat mereka. Selama berabad-abad ular yang licik ini telah memakai pengajaran-pengajaran untuk menjauhkan umat pilihan Allah dari menikmati Dia sebagai hayat mereka. Sebagian besar pengajaran itu berhubungan dengan pengetahuan, baik, dan jahat. Tetapi pengajaran-pengajaran yang demikian menghasilkan pemisahan dari Allah.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 53
22 March 2012
2 Korintus - Minggu 26 Kamis
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 11:1-15
Dalam 2 Korintus 11:3 Paulus mengatakan, "Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya." Di sini Rasul Paulus menunjukkan bahwa pengajaran-pengajaran dari para penganut agama Yahudi itu dapat dibandingkan dengan perkataan tipu muslihat yang diucapkan oleh ular itu kepada Hawa dalam Kejadian 3. Dengan kata lain, Paulus menyamakan aktivitas para penganut agama Yahudi itu dengan pekerjaan ular itu atas diri Hawa. Dari Kejadian 3 kita tahu bahwa ular itu mengalihkan perhatian Hawa dari kenikmatan atas pohon hayat. Cara ular itu memalingkan Hawa dari pohon hayat adalah dengan menunjukkan kepadanya pohon yang lainnya, yaitu pohon pengetahuan baik dan jahat, yang menghasilkan maut.
Kita telah berkali-kali menunjukkan bahwa pohon hayat itu sederhana. Pada pohon ini hanya ada satu unsur, dan unsur itu adalah hayat. Pohon hayat menghasilkan hayat. Pohon pengetahuan baik dan jahat, sebaliknya, rumit dan menyebabkan kerumitan. Pada pohon pengetahuan ini, ada kebaikan, kejahatan, pengetahuan, dan maut. Alkitab secara keseluruhan adalah perkembangan kedua pohon ini. Pohon hayat ini melambangkan Allah dalam Kristus sebagai Roh itu menjadi hayat bagi kita. Pohon pengetahuan baik dan jahat melambangkan Iblis sebagai maut. Iblis adalah penguasa maut. Pohon pengetahuan baik dan jahat melambangkan Iblis sebagai maut yang meliputi pengetahuan, baik, dan jahat. Ular itu menyimpangkan Hawa dari pohon hayat dengan pohon pengetahuan baik dan jahat beserta kerumitan-kerumitannya. Karena Hawa menyimpang dan terperangkap, ia kehilangan ketulusan dan kemurnian terhadap Allah. Akibatnya Hawa jatuh, dan maut masuk melalui kejatuhan itu. Inilah cerita tentang bagaimana ular itu menyimpangkan Hawa dari ekonomi Allah.
Dalam 2 Korintus 11 Paulus menerapkan apa yang dilakukan ular terhadap Hawa kepada para penganut agama Yahudi dan gereja di Korintus. Saya percaya bahwa di dalam rohnya, Paulus menyadari bahwa kedua perkara ini sebenarnya adalah satu dan apa yang terjadi di Korintus itu merupakan satu ulangan dari apa yang telah terjadi di Taman Eden. Hawa adalah seorang istri dan gereja di Korintus adalah seorang perawan yang suci, yang dipertunangkan kepada satu suami, yaitu Kristus. Karena alasan ini, maka dalam 2 Korintus 11:2 Paulus mengatakan, "Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus." Selain itu, istri di Taman Eden ini telah diselewengkan oleh ular yang licik. Di Korintus, perawan suci itu diselewengkan oleh Iblis melalui para penganut agama Yahudi. Di tempat lainnya dalam pasal ini, Paulus menghubungkan para penganut agama Yahudi dengan Iblis. "Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang" (ayat 13-14). Di sini Paulus menunjukkan bahwa para penganut agama Yahudi, rasul-rasul palsu itu, adalah pelayan-pelayan Iblis. Para penganut agama Yahudi adalah pelayan-pelayan Iblis, ini berarti mereka tidak menyuplaikan Kristus kepada orang lain. Sebaliknya, apa yang mereka suplaikan sebenarnya adalah Iblis.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 53
Dalam 2 Korintus 11:3 Paulus mengatakan, "Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya." Di sini Rasul Paulus menunjukkan bahwa pengajaran-pengajaran dari para penganut agama Yahudi itu dapat dibandingkan dengan perkataan tipu muslihat yang diucapkan oleh ular itu kepada Hawa dalam Kejadian 3. Dengan kata lain, Paulus menyamakan aktivitas para penganut agama Yahudi itu dengan pekerjaan ular itu atas diri Hawa. Dari Kejadian 3 kita tahu bahwa ular itu mengalihkan perhatian Hawa dari kenikmatan atas pohon hayat. Cara ular itu memalingkan Hawa dari pohon hayat adalah dengan menunjukkan kepadanya pohon yang lainnya, yaitu pohon pengetahuan baik dan jahat, yang menghasilkan maut.
Kita telah berkali-kali menunjukkan bahwa pohon hayat itu sederhana. Pada pohon ini hanya ada satu unsur, dan unsur itu adalah hayat. Pohon hayat menghasilkan hayat. Pohon pengetahuan baik dan jahat, sebaliknya, rumit dan menyebabkan kerumitan. Pada pohon pengetahuan ini, ada kebaikan, kejahatan, pengetahuan, dan maut. Alkitab secara keseluruhan adalah perkembangan kedua pohon ini. Pohon hayat ini melambangkan Allah dalam Kristus sebagai Roh itu menjadi hayat bagi kita. Pohon pengetahuan baik dan jahat melambangkan Iblis sebagai maut. Iblis adalah penguasa maut. Pohon pengetahuan baik dan jahat melambangkan Iblis sebagai maut yang meliputi pengetahuan, baik, dan jahat. Ular itu menyimpangkan Hawa dari pohon hayat dengan pohon pengetahuan baik dan jahat beserta kerumitan-kerumitannya. Karena Hawa menyimpang dan terperangkap, ia kehilangan ketulusan dan kemurnian terhadap Allah. Akibatnya Hawa jatuh, dan maut masuk melalui kejatuhan itu. Inilah cerita tentang bagaimana ular itu menyimpangkan Hawa dari ekonomi Allah.
Dalam 2 Korintus 11 Paulus menerapkan apa yang dilakukan ular terhadap Hawa kepada para penganut agama Yahudi dan gereja di Korintus. Saya percaya bahwa di dalam rohnya, Paulus menyadari bahwa kedua perkara ini sebenarnya adalah satu dan apa yang terjadi di Korintus itu merupakan satu ulangan dari apa yang telah terjadi di Taman Eden. Hawa adalah seorang istri dan gereja di Korintus adalah seorang perawan yang suci, yang dipertunangkan kepada satu suami, yaitu Kristus. Karena alasan ini, maka dalam 2 Korintus 11:2 Paulus mengatakan, "Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus." Selain itu, istri di Taman Eden ini telah diselewengkan oleh ular yang licik. Di Korintus, perawan suci itu diselewengkan oleh Iblis melalui para penganut agama Yahudi. Di tempat lainnya dalam pasal ini, Paulus menghubungkan para penganut agama Yahudi dengan Iblis. "Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang" (ayat 13-14). Di sini Paulus menunjukkan bahwa para penganut agama Yahudi, rasul-rasul palsu itu, adalah pelayan-pelayan Iblis. Para penganut agama Yahudi adalah pelayan-pelayan Iblis, ini berarti mereka tidak menyuplaikan Kristus kepada orang lain. Sebaliknya, apa yang mereka suplaikan sebenarnya adalah Iblis.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 53
21 March 2012
2 Korintus - Minggu 26 Rabu
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 11:1-15
Dengan menyatakan perkataan yang tercatat dalam ayat 2, Iblis dikalahkan, dan semua penganut agama Yahudi dijatuhkan. Baik di zaman Paulus atau di zaman kita, para penganut agama Yahudi tidak pernah menyuplaikan kepada kita sesuatu yang membuat kita dapat memustikakan Tuhan Yesus sebagai Dia yang terkasih dan mustika. Sebaliknya, apa yang disuplaikan oleh para penganut agama Yahudi merangsang gairah kita terhadap agama. Para penganut agama Yahudi hari ini mungkin akan berkata demikian: "Pengajaran ini bidah dan menghancurkan agama kita. Ini bertentangan dengan tradisi yang kita warisi dari nenek moyang kita." Para penganut agama Yahudi sepanjang zaman dan abad selalu berusaha melindungi agama mereka dan berpegang kepada doktrin yang tradisional.
Karena Paulus bijaksana, ia tidak berdebat dengan para penganut agama Yahudi mengenai doktrin. Sebaliknya, ia memberi tahu orang-orang Korintus bahwa ia cemburu kepada mereka dengan cemburu Allah. Ia selanjutnya mengatakan bahwa ia telah mempertunangkan mereka kepada seorang suami untuk membawa mereka sebagai perawan suci kepada Kristus. Satu pembicaraan yang menakjubkan! Perkataan Paulus dalam ayat 2 ini sangat menjamah. Perkataan ini sangat menjamah hati kita dan menggugah kasih kita terhadap Tuhan Yesus. Berita-berita pelajaran-hayat sering kali menjamah hati kita secara demikian. Setelah membaca beberapa halaman dari suatu berita, perasaan yang lembut di dalam Anda terhadap Tuhan Yesus itu tergugah, dan Anda sadar betapa terkasihnya dan mustikanya Dia itu. Namun, kadang-kadang pikiran teologis dan doktrinal Anda mempersoalkan dan mempertanyakan tentang Trinitas atau tentang Kristus yang menjadi Roh itu. Anda mungkin berpikir tentang modalisme. Anda mungkin bertanya-tanya apakah ministri dalam pemulihan Tuhan ini dapat dipercaya. Tetapi setelah membaca satu bagian dari satu berita pelajaran-hayat, Anda sekali lagi merasakan bahwa sebagai Mempelai Laki-laki, Tuhan Yesus itu menarik dan mustika. Dengan spontan Anda akan berkata, "O Tuhan Yesus, Mempelai Laki-laki yang terkasih, aku cinta kepada-Mu. Tuhan, terima kasih untuk firman-Mu, untuk ministri-Mu, dan untuk pemulihan-Mu." Para penganut agama Yahudi itu merangsang timbulnya pertanyaan-pertanyaan, tetapi ministri yang sejati menggugah kasih kita terhadap Tuhan Yesus sebagai Mempelai Laki-laki kita.
Beban saya dalam berita ini adalah menanamkan ke dalam kaum saleh perkataan Paulus dalam ayat 2: "Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus." Kita telah melihat bahwa dalam pasal 11 Paulus memiliki beberapa hal yang tegas untuk dikatakan mengenai para penganut agama Yahudi, yaitu rasul-rasul palsu. Tetapi sebelum ia mengucapkan kata-kata itu, ia mengingatkan kaum beriman di Korintus bahwa ia telah mempertunangkan mereka kepada satu Suami, bukan mempersembahkan mereka sebagai pelajar-pelajar teologi, melainkan mempersembahkan mereka sebagai perawan yang suci kepada Kristus.
Pemulihan Tuhan bukanlah perkara teologi, tradisi, agama, atau cara-cara. Sebaliknya, ini adalah perkara satu Persona yang hidup, yaitu Tuhan Yesus Kristus sebagai Mempelai Laki-laki kita. Dia telah menarik kita, dan kita telah dipersembahkan sebagai satu perawan yang suci kepada-Nya. Sekarang kita seharusnya memperhatikan Dia saja, mengasihi Dia, dan tidak membiarkan seorang pun menggantikan Dia dalam hati kita. Selain itu, kasih kita terhadap-Nya harus murni, pikiran kita harus tulus, dan seluruh diri kita harus dipusatkan kepada-Nya. Ini akan memelihara, menguduskan, menjenuhi, dan mengubah kita. Puji Tuhan, inilah pemulihan-Nya!
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 52
Dengan menyatakan perkataan yang tercatat dalam ayat 2, Iblis dikalahkan, dan semua penganut agama Yahudi dijatuhkan. Baik di zaman Paulus atau di zaman kita, para penganut agama Yahudi tidak pernah menyuplaikan kepada kita sesuatu yang membuat kita dapat memustikakan Tuhan Yesus sebagai Dia yang terkasih dan mustika. Sebaliknya, apa yang disuplaikan oleh para penganut agama Yahudi merangsang gairah kita terhadap agama. Para penganut agama Yahudi hari ini mungkin akan berkata demikian: "Pengajaran ini bidah dan menghancurkan agama kita. Ini bertentangan dengan tradisi yang kita warisi dari nenek moyang kita." Para penganut agama Yahudi sepanjang zaman dan abad selalu berusaha melindungi agama mereka dan berpegang kepada doktrin yang tradisional.
Karena Paulus bijaksana, ia tidak berdebat dengan para penganut agama Yahudi mengenai doktrin. Sebaliknya, ia memberi tahu orang-orang Korintus bahwa ia cemburu kepada mereka dengan cemburu Allah. Ia selanjutnya mengatakan bahwa ia telah mempertunangkan mereka kepada seorang suami untuk membawa mereka sebagai perawan suci kepada Kristus. Satu pembicaraan yang menakjubkan! Perkataan Paulus dalam ayat 2 ini sangat menjamah. Perkataan ini sangat menjamah hati kita dan menggugah kasih kita terhadap Tuhan Yesus. Berita-berita pelajaran-hayat sering kali menjamah hati kita secara demikian. Setelah membaca beberapa halaman dari suatu berita, perasaan yang lembut di dalam Anda terhadap Tuhan Yesus itu tergugah, dan Anda sadar betapa terkasihnya dan mustikanya Dia itu. Namun, kadang-kadang pikiran teologis dan doktrinal Anda mempersoalkan dan mempertanyakan tentang Trinitas atau tentang Kristus yang menjadi Roh itu. Anda mungkin berpikir tentang modalisme. Anda mungkin bertanya-tanya apakah ministri dalam pemulihan Tuhan ini dapat dipercaya. Tetapi setelah membaca satu bagian dari satu berita pelajaran-hayat, Anda sekali lagi merasakan bahwa sebagai Mempelai Laki-laki, Tuhan Yesus itu menarik dan mustika. Dengan spontan Anda akan berkata, "O Tuhan Yesus, Mempelai Laki-laki yang terkasih, aku cinta kepada-Mu. Tuhan, terima kasih untuk firman-Mu, untuk ministri-Mu, dan untuk pemulihan-Mu." Para penganut agama Yahudi itu merangsang timbulnya pertanyaan-pertanyaan, tetapi ministri yang sejati menggugah kasih kita terhadap Tuhan Yesus sebagai Mempelai Laki-laki kita.
Beban saya dalam berita ini adalah menanamkan ke dalam kaum saleh perkataan Paulus dalam ayat 2: "Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus." Kita telah melihat bahwa dalam pasal 11 Paulus memiliki beberapa hal yang tegas untuk dikatakan mengenai para penganut agama Yahudi, yaitu rasul-rasul palsu. Tetapi sebelum ia mengucapkan kata-kata itu, ia mengingatkan kaum beriman di Korintus bahwa ia telah mempertunangkan mereka kepada satu Suami, bukan mempersembahkan mereka sebagai pelajar-pelajar teologi, melainkan mempersembahkan mereka sebagai perawan yang suci kepada Kristus.
Pemulihan Tuhan bukanlah perkara teologi, tradisi, agama, atau cara-cara. Sebaliknya, ini adalah perkara satu Persona yang hidup, yaitu Tuhan Yesus Kristus sebagai Mempelai Laki-laki kita. Dia telah menarik kita, dan kita telah dipersembahkan sebagai satu perawan yang suci kepada-Nya. Sekarang kita seharusnya memperhatikan Dia saja, mengasihi Dia, dan tidak membiarkan seorang pun menggantikan Dia dalam hati kita. Selain itu, kasih kita terhadap-Nya harus murni, pikiran kita harus tulus, dan seluruh diri kita harus dipusatkan kepada-Nya. Ini akan memelihara, menguduskan, menjenuhi, dan mengubah kita. Puji Tuhan, inilah pemulihan-Nya!
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 52
20 March 2012
2 Korintus - Minggu 26 Selasa
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 11:1-15
Orang-orang Korintus mengira bahwa para penganut agama Yahudi itu hebat dan bahwa mereka benar-benar melakukan satu pekerjaan yang sempurna dalam membantu orang-orang Korintus. Sesungguhnya, para penganut agama Yahudi itu melakukan pekerjaan yang sama persis dengan Iblis. Mereka menyamar sebagai para pelayan kebenaran, yaitu sebagai rasul-rasul Kristus. Karena itu, Paulus memakai empat istilah untuk menggambarkan mereka: rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, rasul yang tak ada taranya, dan pelayan Iblis.
Para penganut agama Yahudi ini memakai banyak istilah yang sama yang dipakai oleh para rasul: Yesus, roh, dan injil. Dengan menyatakan bahwa mereka adalah rasul-rasul Kristus, mereka memberitakan Yesus dan meministrikan roh tertentu. Selain itu, mereka menyatakan bahwa apa yang mereka ajarkan adalah injil. Namun, mereka memiliki Yesus yang lain, roh yang lain, dan injil yang lain.
Dalam 2 Korintus 11, Paulus harus menanggulangi situasi di sebuah gereja yang didirikan olehnya. Ada rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, dan pelayan-pelayan Iblis, yang mengunjungi gereja di Korintus dan membangkitkan pemberontakan terhadap Paulus dan pengajarannya. Sekalipun Paulus telah lebih dulu datang ke Korintus dan telah membawa banyak orang Korintus kepada Tuhan melalui pemberitaannya, tetapi kaum beriman Korintus masih menerima rasul-rasul palsu itu.
Sulit dipercaya bahwa kaum saleh di Korintus akan menerima pengajaran dari para penganut agama Yahudi itu. Meskipun demikian, ini adalah satu fakta bahwa sedikitnya ada sebagian orang Korintus yang menerima pengajaran-pengajaran itu dan yang terangsang atau sedikitnya terpengaruh oleh mereka. Pengajaran-pengajaran itu membuat beberapa orang meragukan kerasulan Paulus dan menentang dia dan ministrinya.
Kita telah melihat bahwa Paulus telah membantu orang-orang Korintus untuk memecahkan sejumlah masalah. Tetapi masalah mengenai hubungan antara kaum beriman di Korintus dengan Rasul Paulus masih perlu dibereskan. Tentunya, tidak semua orang Korintus memiliki masalah dengan Paulus. Hanya beberapa dari antara mereka yang memiliki masalah. Tetapi ini pun membuat Paulus perlu memakai empat pasal untuk menanggulangi masalah ini.
Kita telah melihat bahwa dalam pasal 10 Paulus itu tegas dan dalam pasal 11 ia bahkan lebih tegas lagi, di mana ia membicarakan rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, pelayan-pelayan Iblis, dan rasul-rasul yang tak ada taranya. Jika Anda adalah seorang beriman di Korintus yang telah menerima pengajaran dari para penganut agama Yahudi, apakah Anda akan menerima perkataan Paulus mengenai rasul-rasul palsu itu? Belum tentu demikian. Inilah alasan Paulus berperang untuk menundukkan pemikiran-pemikiran yang memberontak di antara orang-orang Korintus.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 52
Orang-orang Korintus mengira bahwa para penganut agama Yahudi itu hebat dan bahwa mereka benar-benar melakukan satu pekerjaan yang sempurna dalam membantu orang-orang Korintus. Sesungguhnya, para penganut agama Yahudi itu melakukan pekerjaan yang sama persis dengan Iblis. Mereka menyamar sebagai para pelayan kebenaran, yaitu sebagai rasul-rasul Kristus. Karena itu, Paulus memakai empat istilah untuk menggambarkan mereka: rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, rasul yang tak ada taranya, dan pelayan Iblis.
Para penganut agama Yahudi ini memakai banyak istilah yang sama yang dipakai oleh para rasul: Yesus, roh, dan injil. Dengan menyatakan bahwa mereka adalah rasul-rasul Kristus, mereka memberitakan Yesus dan meministrikan roh tertentu. Selain itu, mereka menyatakan bahwa apa yang mereka ajarkan adalah injil. Namun, mereka memiliki Yesus yang lain, roh yang lain, dan injil yang lain.
Dalam 2 Korintus 11, Paulus harus menanggulangi situasi di sebuah gereja yang didirikan olehnya. Ada rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, dan pelayan-pelayan Iblis, yang mengunjungi gereja di Korintus dan membangkitkan pemberontakan terhadap Paulus dan pengajarannya. Sekalipun Paulus telah lebih dulu datang ke Korintus dan telah membawa banyak orang Korintus kepada Tuhan melalui pemberitaannya, tetapi kaum beriman Korintus masih menerima rasul-rasul palsu itu.
Sulit dipercaya bahwa kaum saleh di Korintus akan menerima pengajaran dari para penganut agama Yahudi itu. Meskipun demikian, ini adalah satu fakta bahwa sedikitnya ada sebagian orang Korintus yang menerima pengajaran-pengajaran itu dan yang terangsang atau sedikitnya terpengaruh oleh mereka. Pengajaran-pengajaran itu membuat beberapa orang meragukan kerasulan Paulus dan menentang dia dan ministrinya.
Kita telah melihat bahwa Paulus telah membantu orang-orang Korintus untuk memecahkan sejumlah masalah. Tetapi masalah mengenai hubungan antara kaum beriman di Korintus dengan Rasul Paulus masih perlu dibereskan. Tentunya, tidak semua orang Korintus memiliki masalah dengan Paulus. Hanya beberapa dari antara mereka yang memiliki masalah. Tetapi ini pun membuat Paulus perlu memakai empat pasal untuk menanggulangi masalah ini.
Kita telah melihat bahwa dalam pasal 10 Paulus itu tegas dan dalam pasal 11 ia bahkan lebih tegas lagi, di mana ia membicarakan rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, pelayan-pelayan Iblis, dan rasul-rasul yang tak ada taranya. Jika Anda adalah seorang beriman di Korintus yang telah menerima pengajaran dari para penganut agama Yahudi, apakah Anda akan menerima perkataan Paulus mengenai rasul-rasul palsu itu? Belum tentu demikian. Inilah alasan Paulus berperang untuk menundukkan pemikiran-pemikiran yang memberontak di antara orang-orang Korintus.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 52
19 March 2012
2 Korintus - Minggu 26 Senin
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 11:1-15
Dalam pasal 10 sampai 13 Paulus sebenarnya sedang menanggulangi masalah yang disebabkan oleh para penganut agama Yahudi. Ini berarti di sini ia sedang menanggulangi para penganut agama Yahudi itu sendiri, yang merupakan satu masalah yang serius. Dalam menanggulangi para penganut agama Yahudi, pertama-tama Paulus mengatakan dalam pasal 10 bahwa senjata rasul-rasul dalam peperangan ini bukanlah senjata duniawi (daging), melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah untuk meruntuhkan benteng-benteng. Di tempat lainnya dalam pasal 10, Paulus selanjutnya mengatakan bahwa ia tetap dalam batasannya, sedangkan para penganut Yahudi melampaui batasan mereka.
Dalam pasal 10 Paulus pertama-tama menunjukkan kepada orang-orang Korintus bahwa mereka telah diindoktrinasi, dan sedikitnya mereka telah dipengaruhi oleh pengajaran-pengajaran agama Yahudi. Menurut perkataan Paulus dalam 2 Korintus 10:5, pengajaran-pengajaran itu adalah siasat-siasat dan kubu-kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Pemikiran-pemikiran yang memberontak itu telah disuntikkan ke dalam orang-orang Korintus dan membuat mereka menjadi pemberontak. Karena itu, perlu ada peperangan rohani untuk merubuhkan benteng-benteng dari siasat-siasat itu dan membuat setiap pemikiran ditawan kepada ketaatan Kristus.
Sumber pemberontakan ini adalah para penganut agama Yahudi. Para penganut agama Yahudi itu jelas-jelas telah melampaui batas. Allah, menurut kedaulatan-Nya, tidak memberikan daerah Akhaya kepada penganut-penganut agama Yahudi. Sebenarnya, Allah tidak memberikan apa-apa kepada mereka. Meskipun demikian, dengan melampaui batas, mereka keluar dari daerah mereka sendiri dan akibatnya mereka mengganggu batas daerah kerja rasul.
Para rasul pergi memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran di dalam pengukuran Allah dan menurut kapasitas-Nya. Aktivitas mereka benar-benar dari Allah. Akan tetapi para penganut agama Yahudi datang melampaui batas mereka dan melanggar batas daerah kerja rasul. Melampaui batas seperti itu selalu mendatangkan pemberontakan. Inilah penyebab pemberontakan di dalam diri kaum beriman di Korintus, dan Paulus perlu berperang melawan pemikiran-pemikiran yang angkuh dan siasat-siasat yang memberontak ini. Dalam pasal 10 Paulus sebenarnya terlibat dalam peperangan melawan pemberontakan ini. Dalam pasal ini kita melihat pemberontakan dan juga perkara melampaui batas pengukuran yang tepat.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 52
Dalam pasal 10 sampai 13 Paulus sebenarnya sedang menanggulangi masalah yang disebabkan oleh para penganut agama Yahudi. Ini berarti di sini ia sedang menanggulangi para penganut agama Yahudi itu sendiri, yang merupakan satu masalah yang serius. Dalam menanggulangi para penganut agama Yahudi, pertama-tama Paulus mengatakan dalam pasal 10 bahwa senjata rasul-rasul dalam peperangan ini bukanlah senjata duniawi (daging), melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah untuk meruntuhkan benteng-benteng. Di tempat lainnya dalam pasal 10, Paulus selanjutnya mengatakan bahwa ia tetap dalam batasannya, sedangkan para penganut Yahudi melampaui batasan mereka.
Dalam pasal 10 Paulus pertama-tama menunjukkan kepada orang-orang Korintus bahwa mereka telah diindoktrinasi, dan sedikitnya mereka telah dipengaruhi oleh pengajaran-pengajaran agama Yahudi. Menurut perkataan Paulus dalam 2 Korintus 10:5, pengajaran-pengajaran itu adalah siasat-siasat dan kubu-kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Pemikiran-pemikiran yang memberontak itu telah disuntikkan ke dalam orang-orang Korintus dan membuat mereka menjadi pemberontak. Karena itu, perlu ada peperangan rohani untuk merubuhkan benteng-benteng dari siasat-siasat itu dan membuat setiap pemikiran ditawan kepada ketaatan Kristus.
Sumber pemberontakan ini adalah para penganut agama Yahudi. Para penganut agama Yahudi itu jelas-jelas telah melampaui batas. Allah, menurut kedaulatan-Nya, tidak memberikan daerah Akhaya kepada penganut-penganut agama Yahudi. Sebenarnya, Allah tidak memberikan apa-apa kepada mereka. Meskipun demikian, dengan melampaui batas, mereka keluar dari daerah mereka sendiri dan akibatnya mereka mengganggu batas daerah kerja rasul.
Para rasul pergi memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran di dalam pengukuran Allah dan menurut kapasitas-Nya. Aktivitas mereka benar-benar dari Allah. Akan tetapi para penganut agama Yahudi datang melampaui batas mereka dan melanggar batas daerah kerja rasul. Melampaui batas seperti itu selalu mendatangkan pemberontakan. Inilah penyebab pemberontakan di dalam diri kaum beriman di Korintus, dan Paulus perlu berperang melawan pemikiran-pemikiran yang angkuh dan siasat-siasat yang memberontak ini. Dalam pasal 10 Paulus sebenarnya terlibat dalam peperangan melawan pemberontakan ini. Dalam pasal ini kita melihat pemberontakan dan juga perkara melampaui batas pengukuran yang tepat.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 52
17 March 2012
2 Korintus - Minggu 25 Sabtu
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 10:7-18
Kita tidak boleh mengira bahwa Paulus begitu rohaninya sehingga ia mutlak berbeda dengan kita. Ia pun harus belajar menerima pembatasan Tuhan. Misalnya, Paulus ingin pergi ke Roma, tetapi ia tidak berharap pergi ke sana dalam keadaan dibelenggu. Selain itu, ia memberi tahu kaum beriman di Roma bahwa setelah ia meninggalkan mereka, ia hendak pergi ke Spanyol (Rm. 15:24). Paulus tidak pernah pergi ke Spanyol dan ia tiba di Roma dalam keadaan dibelenggu. Belenggu itu adalah pengukuran Tuhan, pembatasan-Nya. Allah tidak mematok Roma bagi Paulus dengan leluasa. Sebaliknya, Allah memimpinnya ke sana sebagai seorang tawanan. Memang, Paulus berada di Roma, tetapi ia ada di sana di penjara. Pemenjaraan itu merupakan satu pembatasan. Roma bukanlah daerah Paulus dalam hal tanpa pembatasan. Allah berdaulat dan apa pun yang terjadi pada Paulus berada di bawah kedaulatan Allah. Ini berarti belenggu Paulus dan pemenjaraannya adalah pembatasan Allah yang berdaulat. Paulus rela tunduk kepada pengukuran Allah ini. Ia tidak melanggar pembatasan ini atau memberontak terhadapnya. Dalam hal ini, ia tidak menendang ke galah rangsang.
Berdasarkan prinsip pengukuran Allah ini, Paulus memberi tahu orang-orang Korintus bahwa apa saja yang ia lakukan dan katakan tidak melampaui ukurannya. Paulus selalu bertindak dan berperilaku dalam ukurannya. Dengan memakai istilah hari ini, ia bertindak dalam batas daerah kerjanya. Berbeda dengan para penganut agama Yahudi, ia tidak pernah melampaui batas daerah kerjanya.
Dalam ayat 13-15 Paulus seolah-olah berkata, "Orang-orang Korintus, sebagai gereja, kamu telah banyak menderita karena kedatangan pemberita-pemberita agama Yahudi. Pemberita-pemberita itu, meskipun adalah orang-orang Kristen, tetapi mereka tidak rela melepaskan Yudaisme. Di satu pihak, mereka memberitakan Kristus; di pihak lain, mereka masih mengajarkan hukum Taurat Musa. Karena itu, mereka menimbulkan kesulitan dan kerusakan kehidupan gereja. Kamu orang-orang Korintus telah dipengaruhi oleh mereka. Karena itu, kamu harus sadar bahwa para penganut agama Yahudi itu tidak boleh datang ke Korintus. Allah tidak mematok kota Korintus ini untuk mereka; Korintus bukan berada dalam batas daerah kerja mereka. Sebenarnya, Korintus adalah batas daerah kerjaku, wilayahku." Inilah konsepsi Paulus dalam ayat-ayat ini. Namun, sulit baginya untuk membicarakan hal ini secara langsung, dan dengan terus terang. Tetapi di sini ada petunjuk bahwa Paulus menyalahkan para penganut agama Yahudi karena datang ke Korintus. Jadi, maksud Paulus ialah, "kami tidak melampaui batas, seperti penganut-penganut agama Yahudi itu. Kamilah yang datang lebih dulu kepada kamu dengan Injil Kristus. Itu adalah satu tanda bahwa Korintus telah dipatok bagi kami. Kami datang menurut pemerintahan Allah. Allah telah memberikan Korintus kepada kami, bukan kepada penganut-penganut agama Yahudi itu. Sebenarnya Allah tidak memberikan apa-apa kepada para penganut agama Yahudi itu. Mereka tidak boleh pergi ke mana-mana. Pergerakan mereka benar-benar tidak sah di hadapan Allah dan tanpa batas daerah kerja yang tepat." Inilah pemikiran dasar dalam ayat-ayat ini, dan inilah perasaan yang ada di dalam roh Paulus sewaktu ia menulis hal ini.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 51
Kita tidak boleh mengira bahwa Paulus begitu rohaninya sehingga ia mutlak berbeda dengan kita. Ia pun harus belajar menerima pembatasan Tuhan. Misalnya, Paulus ingin pergi ke Roma, tetapi ia tidak berharap pergi ke sana dalam keadaan dibelenggu. Selain itu, ia memberi tahu kaum beriman di Roma bahwa setelah ia meninggalkan mereka, ia hendak pergi ke Spanyol (Rm. 15:24). Paulus tidak pernah pergi ke Spanyol dan ia tiba di Roma dalam keadaan dibelenggu. Belenggu itu adalah pengukuran Tuhan, pembatasan-Nya. Allah tidak mematok Roma bagi Paulus dengan leluasa. Sebaliknya, Allah memimpinnya ke sana sebagai seorang tawanan. Memang, Paulus berada di Roma, tetapi ia ada di sana di penjara. Pemenjaraan itu merupakan satu pembatasan. Roma bukanlah daerah Paulus dalam hal tanpa pembatasan. Allah berdaulat dan apa pun yang terjadi pada Paulus berada di bawah kedaulatan Allah. Ini berarti belenggu Paulus dan pemenjaraannya adalah pembatasan Allah yang berdaulat. Paulus rela tunduk kepada pengukuran Allah ini. Ia tidak melanggar pembatasan ini atau memberontak terhadapnya. Dalam hal ini, ia tidak menendang ke galah rangsang.
Berdasarkan prinsip pengukuran Allah ini, Paulus memberi tahu orang-orang Korintus bahwa apa saja yang ia lakukan dan katakan tidak melampaui ukurannya. Paulus selalu bertindak dan berperilaku dalam ukurannya. Dengan memakai istilah hari ini, ia bertindak dalam batas daerah kerjanya. Berbeda dengan para penganut agama Yahudi, ia tidak pernah melampaui batas daerah kerjanya.
Dalam ayat 13-15 Paulus seolah-olah berkata, "Orang-orang Korintus, sebagai gereja, kamu telah banyak menderita karena kedatangan pemberita-pemberita agama Yahudi. Pemberita-pemberita itu, meskipun adalah orang-orang Kristen, tetapi mereka tidak rela melepaskan Yudaisme. Di satu pihak, mereka memberitakan Kristus; di pihak lain, mereka masih mengajarkan hukum Taurat Musa. Karena itu, mereka menimbulkan kesulitan dan kerusakan kehidupan gereja. Kamu orang-orang Korintus telah dipengaruhi oleh mereka. Karena itu, kamu harus sadar bahwa para penganut agama Yahudi itu tidak boleh datang ke Korintus. Allah tidak mematok kota Korintus ini untuk mereka; Korintus bukan berada dalam batas daerah kerja mereka. Sebenarnya, Korintus adalah batas daerah kerjaku, wilayahku." Inilah konsepsi Paulus dalam ayat-ayat ini. Namun, sulit baginya untuk membicarakan hal ini secara langsung, dan dengan terus terang. Tetapi di sini ada petunjuk bahwa Paulus menyalahkan para penganut agama Yahudi karena datang ke Korintus. Jadi, maksud Paulus ialah, "kami tidak melampaui batas, seperti penganut-penganut agama Yahudi itu. Kamilah yang datang lebih dulu kepada kamu dengan Injil Kristus. Itu adalah satu tanda bahwa Korintus telah dipatok bagi kami. Kami datang menurut pemerintahan Allah. Allah telah memberikan Korintus kepada kami, bukan kepada penganut-penganut agama Yahudi itu. Sebenarnya Allah tidak memberikan apa-apa kepada para penganut agama Yahudi itu. Mereka tidak boleh pergi ke mana-mana. Pergerakan mereka benar-benar tidak sah di hadapan Allah dan tanpa batas daerah kerja yang tepat." Inilah pemikiran dasar dalam ayat-ayat ini, dan inilah perasaan yang ada di dalam roh Paulus sewaktu ia menulis hal ini.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 51
16 March 2012
2 Korintus - Minggu 25 Jumat
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 10:13-16
Ayat 13 mengatakan, "Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga." Rasul berani, tetapi bukan tanpa batas. Ini menunjukkan bahwa dia berada di bawah pembatasan Tuhan. Kemegahannya adalah menurut ukuran yang telah diukurkan Allah Sang Pengatur, Allah yang memerintah, kepadanya. Ministri Paulus kepada daerah orang-orang kafir (termasuk Korintus) adalah menurut ukuran Allah (Ef. 3:1-2, 8; Gal. 2:8); karena itu, kemegahannya ada di dalam batas ini, bukan tanpa batas seperti kemegahan penganut agama Yahudi. Kata "batas-batas daerah kerja" dalam ayat 13 secara harfiah berarti tongkat pengukur, seperti pengukur seorang tukang kayu.
Kita tidak boleh bermegah tanpa batas. Dalam memberikan satu kesaksian tentang apa yang telah kita pelajari dari Tuhan, kita harus memiliki satu batasan, satu ukuran. Kata batas dalam ayat 13 ini menunjukkan diperintah oleh Allah. Allah telah membagikan kepada kita begitu banyak hal untuk pekerjaan dan pengalaman kita. Selain itu, Dia telah memberikan begitu banyak hal kepada kita untuk kita nikmati. Karena itu, bila kita memberikan satu kesaksian tentang pekerjaan, pengalaman, atau kenikmatan kita akan Tuhan, kita harus bersaksi dalam ukuran, yaitu dalam satu batasan tertentu.
Dari ayat 13, 14, dan 15 kita nampak bahwa meskipun kita mengharapkan pekerjaan Tuhan dapat menyebar, kita harus belajar berada di bawah pembatasan Allah. Jangan mengharapkan satu penyebaran yang tanpa batas. Penyebaran semacam itu sesungguhnya tidak berada dalam batasan pergerakan menurut Roh. Dari pengalaman kita dapat bersaksi bahwa jika kita menyebarkan pekerjaan menurut Roh, maka selalu akan ada batasan tertentu. Secara batini kita akan sadar bahwa Tuhan hendak menyebarkan pekerjaan itu hanya sampai satu tingkat tertentu. Selain itu, Tuhan bisa membangkitkan suatu suasana untuk membatasi penyebaran pekerjaan itu. Karena itu, secara batini kita tidak akan memiliki damai sejahtera bila menyebarkan pekerjaan melampaui titik tertentu, dan lingkungan yang di luar tidak mengizinkan kita untuk pergi melampaui garis batas tertentu.
Orang-orang muda belum begitu banyak menceburkan diri dalam pekerjaan Tuhan. Meskipun demikian, saya ingin mendorong mereka untuk menyimpan perkataan ini dalam diri mereka, karena pada suatu hari mereka akan mengalaminya. Kita semua perlu belajar bahwa dalam melayani Tuhan dan dalam bekerja sama dengan Allah, selalu ada satu batasan. Ini juga berlaku dalam pelayanan gereja.
Banyak orang muda tidak tahan dinaikkan dan diturunkan oleh Allah. Setelah beberapa kali dinaikkan dan diturunkan, mereka ingin berhenti. Sikap mereka mungkin demikian, "Jika Allah ingin menaikkan aku, biarlah aku naik ke surga dan tinggal di sana sampai Tuhan Yesus datang kembali. Tetapi jika Allah ingin menurunkan aku, biarlah aku tetap berada di bawah. Tetapi aku tidak mau naik kemudian turun, dan turun kemudian naik." Ketidaksenangan terhadap perlakuan Allah yang menaik-turunkan kita ini adalah satu ekspresi dari watak kebanyakan orang muda.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 51
Ayat 13 mengatakan, "Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga." Rasul berani, tetapi bukan tanpa batas. Ini menunjukkan bahwa dia berada di bawah pembatasan Tuhan. Kemegahannya adalah menurut ukuran yang telah diukurkan Allah Sang Pengatur, Allah yang memerintah, kepadanya. Ministri Paulus kepada daerah orang-orang kafir (termasuk Korintus) adalah menurut ukuran Allah (Ef. 3:1-2, 8; Gal. 2:8); karena itu, kemegahannya ada di dalam batas ini, bukan tanpa batas seperti kemegahan penganut agama Yahudi. Kata "batas-batas daerah kerja" dalam ayat 13 secara harfiah berarti tongkat pengukur, seperti pengukur seorang tukang kayu.
Kita tidak boleh bermegah tanpa batas. Dalam memberikan satu kesaksian tentang apa yang telah kita pelajari dari Tuhan, kita harus memiliki satu batasan, satu ukuran. Kata batas dalam ayat 13 ini menunjukkan diperintah oleh Allah. Allah telah membagikan kepada kita begitu banyak hal untuk pekerjaan dan pengalaman kita. Selain itu, Dia telah memberikan begitu banyak hal kepada kita untuk kita nikmati. Karena itu, bila kita memberikan satu kesaksian tentang pekerjaan, pengalaman, atau kenikmatan kita akan Tuhan, kita harus bersaksi dalam ukuran, yaitu dalam satu batasan tertentu.
Dari ayat 13, 14, dan 15 kita nampak bahwa meskipun kita mengharapkan pekerjaan Tuhan dapat menyebar, kita harus belajar berada di bawah pembatasan Allah. Jangan mengharapkan satu penyebaran yang tanpa batas. Penyebaran semacam itu sesungguhnya tidak berada dalam batasan pergerakan menurut Roh. Dari pengalaman kita dapat bersaksi bahwa jika kita menyebarkan pekerjaan menurut Roh, maka selalu akan ada batasan tertentu. Secara batini kita akan sadar bahwa Tuhan hendak menyebarkan pekerjaan itu hanya sampai satu tingkat tertentu. Selain itu, Tuhan bisa membangkitkan suatu suasana untuk membatasi penyebaran pekerjaan itu. Karena itu, secara batini kita tidak akan memiliki damai sejahtera bila menyebarkan pekerjaan melampaui titik tertentu, dan lingkungan yang di luar tidak mengizinkan kita untuk pergi melampaui garis batas tertentu.
Orang-orang muda belum begitu banyak menceburkan diri dalam pekerjaan Tuhan. Meskipun demikian, saya ingin mendorong mereka untuk menyimpan perkataan ini dalam diri mereka, karena pada suatu hari mereka akan mengalaminya. Kita semua perlu belajar bahwa dalam melayani Tuhan dan dalam bekerja sama dengan Allah, selalu ada satu batasan. Ini juga berlaku dalam pelayanan gereja.
Banyak orang muda tidak tahan dinaikkan dan diturunkan oleh Allah. Setelah beberapa kali dinaikkan dan diturunkan, mereka ingin berhenti. Sikap mereka mungkin demikian, "Jika Allah ingin menaikkan aku, biarlah aku naik ke surga dan tinggal di sana sampai Tuhan Yesus datang kembali. Tetapi jika Allah ingin menurunkan aku, biarlah aku tetap berada di bawah. Tetapi aku tidak mau naik kemudian turun, dan turun kemudian naik." Ketidaksenangan terhadap perlakuan Allah yang menaik-turunkan kita ini adalah satu ekspresi dari watak kebanyakan orang muda.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 51
15 March 2012
2 Korintus - Minggu 25 Kamis
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 10:7-18
Ayat 7 mengatakan, "Tengoklah yang nyata di depan mata kamu! Kalau seseorang benar-benar yakin bahwa ia adalah milik Kristus, hendaklah ia berpikir di dalam hatinya bahwa kami juga milik Kristus sama seperti dia." Tidak diragukan lagi, para penganut agama Yahudi itu adalah orang-orang yang memiliki keyakinan dalam diri mereka sendiri bahwa mereka adalah milik Kristus. Meskipun para penganut agama Yahudi ini adalah orang Kristen, tetapi mereka tidak rela bersatu dengan Paulus dalam ministrinya. Mereka menyatakan bahwa mereka adalah milik Kristus. Karena itu, Paulus ingin menjelaskan hal ini bahwa para rasul tentunya juga milik Kristus. Ini menunjukkan bahwa milik Kristus adalah satu perkara yang penting. Ini penting bagi kehidupan dan pelayanan orang Kristen.
Dalam ayat 8-9 Paulus mengatakan, "Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu. Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku." Ayat 8 ini menunjukkan bahwa dulu Paulus pernah mengatakan sesuatu kepada orang-orang Korintus mengenai kuasa kerasulannya. Kuasa kerasulan ini bukan digunakan untuk menguasai kaum beriman, seperti dalam hal alamiah, tetapi untuk membangun mereka.
Dalam ayat 9 Paulus mengatakan bahwa kaum beriman takut dengan surat-suratnya. Ini mungkin mengacu kepada Surat Kiriman Paulus yang pertama kepada orang-orang Korintus. Dalam Surat Kiriman itu Paulus memang menunjukkan kuasa kerasulannya. Beberapa orang Korintus mungkin menganggap perkataan itu menakutkan mereka. Tetapi di sini Paulus menunjukkan bahwa hal itu seharusnya tidak menakutkan mereka.
Dalam ayat 11 Paulus melanjutkan, "Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka." Meskipun Paulus kelihatannya berbeda dengan apa yang dikatakannya dalam surat-suratnya, tetapi sebenarnya ia sama. Kita harus belajar dari Paulus untuk tidak berpolitik atau berbasa-basi secara alamiah, tetapi harus luwes. Ketika kita hadir bersama orang lain, kita tidak boleh demikian berani atau tegas. Namun, ini bukan berarti kita benar-benar lemah atau tidak tahu apa-apa. Sebaliknya, kita tidak ingin menyinggung orang lain secara tidak semestinya. Meskipun demikian, sering kali kita perlu mengucapkan sesuatu yang kelihatannya berani atau tegas. Kadang-kadang kita perlu memakai perkataan yang tegas dalam surat kita, tetapi kita tidak mau melakukannya. Pada waktu lainnya, kita tidak seharusnya terlalu berani di hadapan seseorang, namun kita berani. Ini menunjukkan bahwa kita tidak bijaksana, tidak luwes atau tidak lapang. Marilah kita semua belajar untuk menjadi riil, tidak berpolitik. Pada saat yang sama, kita harus belajar luwes. Di satu pihak, kita harus berusaha untuk tidak menyakiti perasaan orang lain; tetapi di pihak lain, kita mungkin perlu sering berbicara dengan terus terang tentang kebenaran dengan berani.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 51
Ayat 7 mengatakan, "Tengoklah yang nyata di depan mata kamu! Kalau seseorang benar-benar yakin bahwa ia adalah milik Kristus, hendaklah ia berpikir di dalam hatinya bahwa kami juga milik Kristus sama seperti dia." Tidak diragukan lagi, para penganut agama Yahudi itu adalah orang-orang yang memiliki keyakinan dalam diri mereka sendiri bahwa mereka adalah milik Kristus. Meskipun para penganut agama Yahudi ini adalah orang Kristen, tetapi mereka tidak rela bersatu dengan Paulus dalam ministrinya. Mereka menyatakan bahwa mereka adalah milik Kristus. Karena itu, Paulus ingin menjelaskan hal ini bahwa para rasul tentunya juga milik Kristus. Ini menunjukkan bahwa milik Kristus adalah satu perkara yang penting. Ini penting bagi kehidupan dan pelayanan orang Kristen.
Dalam ayat 8-9 Paulus mengatakan, "Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu. Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku." Ayat 8 ini menunjukkan bahwa dulu Paulus pernah mengatakan sesuatu kepada orang-orang Korintus mengenai kuasa kerasulannya. Kuasa kerasulan ini bukan digunakan untuk menguasai kaum beriman, seperti dalam hal alamiah, tetapi untuk membangun mereka.
Dalam ayat 9 Paulus mengatakan bahwa kaum beriman takut dengan surat-suratnya. Ini mungkin mengacu kepada Surat Kiriman Paulus yang pertama kepada orang-orang Korintus. Dalam Surat Kiriman itu Paulus memang menunjukkan kuasa kerasulannya. Beberapa orang Korintus mungkin menganggap perkataan itu menakutkan mereka. Tetapi di sini Paulus menunjukkan bahwa hal itu seharusnya tidak menakutkan mereka.
Dalam ayat 11 Paulus melanjutkan, "Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka." Meskipun Paulus kelihatannya berbeda dengan apa yang dikatakannya dalam surat-suratnya, tetapi sebenarnya ia sama. Kita harus belajar dari Paulus untuk tidak berpolitik atau berbasa-basi secara alamiah, tetapi harus luwes. Ketika kita hadir bersama orang lain, kita tidak boleh demikian berani atau tegas. Namun, ini bukan berarti kita benar-benar lemah atau tidak tahu apa-apa. Sebaliknya, kita tidak ingin menyinggung orang lain secara tidak semestinya. Meskipun demikian, sering kali kita perlu mengucapkan sesuatu yang kelihatannya berani atau tegas. Kadang-kadang kita perlu memakai perkataan yang tegas dalam surat kita, tetapi kita tidak mau melakukannya. Pada waktu lainnya, kita tidak seharusnya terlalu berani di hadapan seseorang, namun kita berani. Ini menunjukkan bahwa kita tidak bijaksana, tidak luwes atau tidak lapang. Marilah kita semua belajar untuk menjadi riil, tidak berpolitik. Pada saat yang sama, kita harus belajar luwes. Di satu pihak, kita harus berusaha untuk tidak menyakiti perasaan orang lain; tetapi di pihak lain, kita mungkin perlu sering berbicara dengan terus terang tentang kebenaran dengan berani.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 51
14 March 2012
2 Korintus - Minggu 25 Rabu
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 10:1-6
Siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran berada di dalam dan berasal dari pikiran. Di dalam pikiran orang-orang yang tidak taat kepada Allah, siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran adalah benteng-benteng yang kuat dari Iblis, musuh Allah. Melalui peperangan rohani, siasat-siasat harus diruntuhkan dan setiap pemikiran harus ditawan untuk menaati Kristus.
Kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia dalam ayat 5 ini mengacu kepada perkara-perkara sombong yang ada di dalam benak yang jatuh, yang menentang pengenalan akan Allah. Perkara-perkara ini harus diruntuhkan dengan senjata-senjata rohani, sehingga pikiran-pikiran itu tidak lagi menghalangi orang mengenal Allah.
Sasaran peperangan rohani ini adalah meruntuhkan benteng-benteng Iblis dalam pikiran manusia yang menentang Allah. Benteng-benteng ini adalah pikiran-pikiran yang sombong, pemikiran-pemikiran yang angkuh, dan imajinasi dalam pikiran manusia. Imajinasi-imajinasi yang angkuh dan pemikiran-pemikiran yang sombong adalah benteng-benteng yang dibangun oleh Iblis dalam pikiran manusia. Ini berlawanan dengan pengenalan akan Allah. Sasaran peperangan kita adalah meruntuhkan benteng-benteng ini. Orang-orang memberontak terhadap Allah karena benteng-benteng ini, yaitu karena siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran yang sombong. Karena itu, kita harus berperang melawan hal-hal ini supaya setiap pemikiran dapat ditawan kepada ketaatan Kristus.
Perkataan Paulus dalam 2 Korintus 10:5 mengenai siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran sombong yang bangkit melawan pengenalan akan Allah itu dikatakan dengan mengacu kepada pengajaran-pengajaran dari para penganut agama Yahudi. Inilah latar belakang dari apa yang ditulis Paulus dalam ayat ini. Kita telah nampak bahwa Paulus mengatakan bahwa peperangan para rasul adalah untuk merubuhkan benteng-benteng, siasat-siasat, dan pemikiran-pemikiran yang sombong yang bangkit melawan pengenalan akan Allah yang sejati dan tepat dalam Perjanjian Baru. Selain itu, Paulus mengatakan bahwa sasaran dari peperangannya adalah menawan setiap pemikiran kepada ketaatan Kristus. Dalam pikirannya Paulus terutama memikirkan pemikiran-pemikiran yang bersumber dari pengajaran-pengajaran agama Yahudi itu.
Ayat 6 menunjukkan bahwa di antara kaum saleh di Korintus ada beberapa orang yang berada di bawah pengaruh siasat-siasat, pemikiran-pemikiran agama Yahudi yang memberontak. Karena alasan ini, maka Paulus mengatakan bahwa ia siap sedia untuk menghukum setiap kedurhakaan bila ketaatan orang-orang Korintus ini telah penuh. Kedurhakaan dalam ayat ini mengacu kepada apa yang berasal dari pengajaran-pengajaran agama Yahudi. Kesiapan Paulus untuk menghukum kedurhakaan ini memiliki satu syarat, dan syarat ini adalah ketaatan orang-orang Korintus. Mereka perlu terlebih dulu mutlak taat kepada Injil Kristus. Mereka tidak dapat setengah untuk Perjanjian Baru dan setengahnya lagi untuk Perjanjian Lama. Bahkan setengah bagi hukum Taurat itu pun merupakan pemberontakan dan kedurhakaan. Ketika orang-orang Korintus sepenuhnya taat kepada Injil Perjanjian Baru, maka situasinya tepat bagi Paulus untuk menghukum semua kedurhakaan. Situasi di Korintus memberikan satu dasar kepadanya untuk menanggulangi kedurhakaan para penganut agama Yahudi. Inilah penafsiran yang tepat terhadap bagian dari firman ini.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 50
Siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran berada di dalam dan berasal dari pikiran. Di dalam pikiran orang-orang yang tidak taat kepada Allah, siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran adalah benteng-benteng yang kuat dari Iblis, musuh Allah. Melalui peperangan rohani, siasat-siasat harus diruntuhkan dan setiap pemikiran harus ditawan untuk menaati Kristus.
Kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia dalam ayat 5 ini mengacu kepada perkara-perkara sombong yang ada di dalam benak yang jatuh, yang menentang pengenalan akan Allah. Perkara-perkara ini harus diruntuhkan dengan senjata-senjata rohani, sehingga pikiran-pikiran itu tidak lagi menghalangi orang mengenal Allah.
Sasaran peperangan rohani ini adalah meruntuhkan benteng-benteng Iblis dalam pikiran manusia yang menentang Allah. Benteng-benteng ini adalah pikiran-pikiran yang sombong, pemikiran-pemikiran yang angkuh, dan imajinasi dalam pikiran manusia. Imajinasi-imajinasi yang angkuh dan pemikiran-pemikiran yang sombong adalah benteng-benteng yang dibangun oleh Iblis dalam pikiran manusia. Ini berlawanan dengan pengenalan akan Allah. Sasaran peperangan kita adalah meruntuhkan benteng-benteng ini. Orang-orang memberontak terhadap Allah karena benteng-benteng ini, yaitu karena siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran yang sombong. Karena itu, kita harus berperang melawan hal-hal ini supaya setiap pemikiran dapat ditawan kepada ketaatan Kristus.
Perkataan Paulus dalam 2 Korintus 10:5 mengenai siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran sombong yang bangkit melawan pengenalan akan Allah itu dikatakan dengan mengacu kepada pengajaran-pengajaran dari para penganut agama Yahudi. Inilah latar belakang dari apa yang ditulis Paulus dalam ayat ini. Kita telah nampak bahwa Paulus mengatakan bahwa peperangan para rasul adalah untuk merubuhkan benteng-benteng, siasat-siasat, dan pemikiran-pemikiran yang sombong yang bangkit melawan pengenalan akan Allah yang sejati dan tepat dalam Perjanjian Baru. Selain itu, Paulus mengatakan bahwa sasaran dari peperangannya adalah menawan setiap pemikiran kepada ketaatan Kristus. Dalam pikirannya Paulus terutama memikirkan pemikiran-pemikiran yang bersumber dari pengajaran-pengajaran agama Yahudi itu.
Ayat 6 menunjukkan bahwa di antara kaum saleh di Korintus ada beberapa orang yang berada di bawah pengaruh siasat-siasat, pemikiran-pemikiran agama Yahudi yang memberontak. Karena alasan ini, maka Paulus mengatakan bahwa ia siap sedia untuk menghukum setiap kedurhakaan bila ketaatan orang-orang Korintus ini telah penuh. Kedurhakaan dalam ayat ini mengacu kepada apa yang berasal dari pengajaran-pengajaran agama Yahudi. Kesiapan Paulus untuk menghukum kedurhakaan ini memiliki satu syarat, dan syarat ini adalah ketaatan orang-orang Korintus. Mereka perlu terlebih dulu mutlak taat kepada Injil Kristus. Mereka tidak dapat setengah untuk Perjanjian Baru dan setengahnya lagi untuk Perjanjian Lama. Bahkan setengah bagi hukum Taurat itu pun merupakan pemberontakan dan kedurhakaan. Ketika orang-orang Korintus sepenuhnya taat kepada Injil Perjanjian Baru, maka situasinya tepat bagi Paulus untuk menghukum semua kedurhakaan. Situasi di Korintus memberikan satu dasar kepadanya untuk menanggulangi kedurhakaan para penganut agama Yahudi. Inilah penafsiran yang tepat terhadap bagian dari firman ini.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 50
13 March 2012
2 Korintus - Minggu 25 Selasa
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 10:1-6
Dalam 2 Korintus 10:1 Paulus mengatakan bahwa ia menasihati demi kelemahlembutan dan keramahan Kristus. Ini menunjukkan bahwa rasul dengan teguh dilekatkan pada Kristus (1:21) dan bersatu dengan Dia, hidup oleh Dia, berperilaku dalam kebajikan-Nya. Semua kebajikan Kristus menjadi kebajikan Paulus. Lemah lembut adalah satu kebajikan dalam keinsanian Kristus berdasarkan hayat ilahi. Kelemahlembutan Kristus bukanlah satu perkara yang sederhana, karena kelemahlembutan ini ada dalam keinsanian-Nya dan oleh hayat ilahi. Ketika Dia di bumi, Dia menempuh satu kehidupan insani oleh hayat ilahi. Melalui perbauran keilahian dan keinsanian ini, kebajikan kelemahlembutan dimanifestasikan.
Prinsipnya sama dengan kebajikan keramahan Kristus. Ramah adalah kebajikan lain dari Kristus yang diperhidupkan dalam keinsanian-Nya oleh hayat ilahi. Tahukah Anda perbedaan antara kelemahlembutan dan keramahan? Memiliki kebajikan lemah lembut berarti Anda tidak melawan orang lain atau bertengkar dengan mereka. Sebaliknya, Anda rela mengalah. Orang yang lemah lembut selalu mengalah terhadap orang lain. Tetapi orang yang kuat dalam alamiahnya bertengkar dan menolak untuk mengalah. Sedikitnya, mereka akan membela diri. Namun, orang yang lemah lembut mengalah, tidak bertengkar, dan tidak menyerang daerah orang lain. Memiliki keramahan berarti rela membiarkan orang lain menyerang. Ini berarti ramah itu menderita kesusahan dan luka-luka. Lemah lembut itu tidak menyerang orang lain, tetapi mengalah terhadap mereka; ramah berarti Anda rela diserang oleh orang lain. Ini adalah dua kebajikan Kristus yang diperhidupkan dalam keinsanian-Nya oleh hayat ilahi.
Karena Paulus memperhidupkan Kristus, maka kebajikan Kristus menjadi kebajikannya. Frase "demi Kristus yang lemah lembut dan ramah" menunjukkan bahwa Paulus bersatu dengan Kristus dan mengambil Kristus sebagai hayatnya. Karena itu, ia menasihati kaum beriman bukan bersandarkan dirinya sendiri, melainkan menasihati mereka dengan kebajikan Kristus, terutama dengan kelemahlembutan dan keramahan Kristus. Paulus menasihati orang lain berdasarkan Kristus, dalam Kristus, dan dengan Kristus.
Setelah memberi tahu kita cara ia menasihati, Paulus selanjutnya membicarakan tentang dirinya, orang yang bagaimanakah dia itu. Paulus mengatakan dalam ayat 1, "Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan." Gambaran pribadi Paulus ini cocok dengan pokok bahasan 2 Korintus. Pokok bahasan Surat Kiriman ini adalah Paulus adalah orang yang bagaimana dan ia menempuh kehidupan yang bagaimana. Paulus tidak terlalu memperhatikan pekerjaan yang ia lakukan; ia jauh lebih memperhatikan pribadi dan kehidupannya. Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam pasal 10 ia bahkan tidak menyinggung tujuan dari nasihatnya. Ia begitu memperhatikan cara ia menasihati sehingga ia tidak menyinggung mengapa ia menasihati.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 50
Dalam 2 Korintus 10:1 Paulus mengatakan bahwa ia menasihati demi kelemahlembutan dan keramahan Kristus. Ini menunjukkan bahwa rasul dengan teguh dilekatkan pada Kristus (1:21) dan bersatu dengan Dia, hidup oleh Dia, berperilaku dalam kebajikan-Nya. Semua kebajikan Kristus menjadi kebajikan Paulus. Lemah lembut adalah satu kebajikan dalam keinsanian Kristus berdasarkan hayat ilahi. Kelemahlembutan Kristus bukanlah satu perkara yang sederhana, karena kelemahlembutan ini ada dalam keinsanian-Nya dan oleh hayat ilahi. Ketika Dia di bumi, Dia menempuh satu kehidupan insani oleh hayat ilahi. Melalui perbauran keilahian dan keinsanian ini, kebajikan kelemahlembutan dimanifestasikan.
Prinsipnya sama dengan kebajikan keramahan Kristus. Ramah adalah kebajikan lain dari Kristus yang diperhidupkan dalam keinsanian-Nya oleh hayat ilahi. Tahukah Anda perbedaan antara kelemahlembutan dan keramahan? Memiliki kebajikan lemah lembut berarti Anda tidak melawan orang lain atau bertengkar dengan mereka. Sebaliknya, Anda rela mengalah. Orang yang lemah lembut selalu mengalah terhadap orang lain. Tetapi orang yang kuat dalam alamiahnya bertengkar dan menolak untuk mengalah. Sedikitnya, mereka akan membela diri. Namun, orang yang lemah lembut mengalah, tidak bertengkar, dan tidak menyerang daerah orang lain. Memiliki keramahan berarti rela membiarkan orang lain menyerang. Ini berarti ramah itu menderita kesusahan dan luka-luka. Lemah lembut itu tidak menyerang orang lain, tetapi mengalah terhadap mereka; ramah berarti Anda rela diserang oleh orang lain. Ini adalah dua kebajikan Kristus yang diperhidupkan dalam keinsanian-Nya oleh hayat ilahi.
Karena Paulus memperhidupkan Kristus, maka kebajikan Kristus menjadi kebajikannya. Frase "demi Kristus yang lemah lembut dan ramah" menunjukkan bahwa Paulus bersatu dengan Kristus dan mengambil Kristus sebagai hayatnya. Karena itu, ia menasihati kaum beriman bukan bersandarkan dirinya sendiri, melainkan menasihati mereka dengan kebajikan Kristus, terutama dengan kelemahlembutan dan keramahan Kristus. Paulus menasihati orang lain berdasarkan Kristus, dalam Kristus, dan dengan Kristus.
Setelah memberi tahu kita cara ia menasihati, Paulus selanjutnya membicarakan tentang dirinya, orang yang bagaimanakah dia itu. Paulus mengatakan dalam ayat 1, "Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan." Gambaran pribadi Paulus ini cocok dengan pokok bahasan 2 Korintus. Pokok bahasan Surat Kiriman ini adalah Paulus adalah orang yang bagaimana dan ia menempuh kehidupan yang bagaimana. Paulus tidak terlalu memperhatikan pekerjaan yang ia lakukan; ia jauh lebih memperhatikan pribadi dan kehidupannya. Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam pasal 10 ia bahkan tidak menyinggung tujuan dari nasihatnya. Ia begitu memperhatikan cara ia menasihati sehingga ia tidak menyinggung mengapa ia menasihati.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 50
12 March 2012
2 Korintus - Minggu 25 Senin
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 10:1-6
Dalam 2 Korintus 10:1 Paulus mengatakan, "Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan (menasihati) kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah." Dalam pasal 8 dan 9 rasul dengan gembira berbicara kepada kaum saleh terkasih di Korintus, mendorong mereka memiliki persekutuan dalam pemberian kepada kaum saleh yang kekurangan di Yudea. Segera setelah itu, dia dengan perkataan yang tajam dan tidak menyenangkan menjelaskan kerasulannya, bahkan membela kuasa kerasulannya, dengan harapan melalui ini rasul lebih jelas menyatakan dirinya kepada mereka. Ini diperlukan karena situasi suram dan tidak menentu yang ditimbulkan oleh para rasul agama Yahudi yang palsu (2 Kor. 11:11-15). Pengajaran dan penyebutan para rasul palsu atas diri mereka sendiri telah mengalihkan perhatian kaum beriman Korintus dari pengajaran-pengajaran mendasar para rasul sejati, terutama terhadap pengenalan yang tepat akan kedudukan Paulus sebagai rasul.
Dalam 2 Korintus 10:1 Paulus memberi tahu kita bahwa ia menasihati orang-orang Korintus demi kelemahlembutan dan keramahan Kristus. Tetapi ia tidak memberi tahu kita tujuan dari nasihatnya itu. Ia memberi tahu kita bagaimana ia menasihati, tetapi ia tidak mengatakan mengapa ia menasihati. Lalu, apakah ia membuat kesalahan dalam tulisannya? Tidak, Paulus lebih memperhatikan bagaimana ia menasihati kaum saleh bukan tujuannya menasihati mereka. Ini menunjukkan bahwa cara Paulus menasihati itu lebih penting daripada tujuan nasihatnya. Karena alasan ini, maka Paulus menunjukkan bahwa ia menasihati kaum beriman demi kelemahlembutan dan keramahan Kristus.
Misalnya, jika seorang saudara yang berkhotbah hanya memperhatikan tujuannya dalam berkhotbah, dan tidak memperhatikan cara ia menyampaikan khotbah itu, ini akan menjadi satu kesalahan yang serius. Kita harus belajar dari Paulus untuk lebih memperhatikan cara kita melakukan sesuatu daripada memperhatikan tujuan kita dalam melakukan hal itu. Sebenarnya Allah lebih memperhatikan cara kita melakukan sesuatu daripada memperhatikan tujuan kita, sasaran kita, dalam melakukan hal-hal itu. Namun, banyak orang Kristen pada hari ini yang hampir tidak pernah memperhatikan cara mereka melakukan sesuatu; mereka mengutamakan memperhatikan tujuan, sasaran, dan hasilnya. Ada satu pepatah bahwa tujuan menghalalkan cara. Orang-orang yang menganut pepatah ini tidak memperhatikan cara melakukan sesuatu; mereka hanya memperhatikan tujuan mereka. Konsep ini menyedihkan dan perlu dihakimi.
Orang-orang Kristen mungkin mengira bahwa selama tujuan mereka adalah melakukan satu pekerjaan bagi Tuhan, mereka tidak perlu memperhatikan sarana untuk menggenapkannya. Misalnya, dalam memberitakan Injil mereka mungkin memakai metode-metode atau hiburan-hiburan duniawi. Karena itu, saya ingin menekankan bahwa dalam Alkitab Allah memperlihatkan bahwa Dia lebih memperhatikan cara kita daripada tujuan kita. Sebagai seorang duta besar surgawi, Paulus juga lebih memperhatikan cara melakukan sesuatu daripada tujuannya. Inilah alasannya menggambarkan cara ia menasihati orang-orang Korintus, tetapi ia tidak menyinggung tujuannya. Kiranya kita semua belajar dari dia dalam perkara ini.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 50
Dalam 2 Korintus 10:1 Paulus mengatakan, "Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan (menasihati) kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah." Dalam pasal 8 dan 9 rasul dengan gembira berbicara kepada kaum saleh terkasih di Korintus, mendorong mereka memiliki persekutuan dalam pemberian kepada kaum saleh yang kekurangan di Yudea. Segera setelah itu, dia dengan perkataan yang tajam dan tidak menyenangkan menjelaskan kerasulannya, bahkan membela kuasa kerasulannya, dengan harapan melalui ini rasul lebih jelas menyatakan dirinya kepada mereka. Ini diperlukan karena situasi suram dan tidak menentu yang ditimbulkan oleh para rasul agama Yahudi yang palsu (2 Kor. 11:11-15). Pengajaran dan penyebutan para rasul palsu atas diri mereka sendiri telah mengalihkan perhatian kaum beriman Korintus dari pengajaran-pengajaran mendasar para rasul sejati, terutama terhadap pengenalan yang tepat akan kedudukan Paulus sebagai rasul.
Dalam 2 Korintus 10:1 Paulus memberi tahu kita bahwa ia menasihati orang-orang Korintus demi kelemahlembutan dan keramahan Kristus. Tetapi ia tidak memberi tahu kita tujuan dari nasihatnya itu. Ia memberi tahu kita bagaimana ia menasihati, tetapi ia tidak mengatakan mengapa ia menasihati. Lalu, apakah ia membuat kesalahan dalam tulisannya? Tidak, Paulus lebih memperhatikan bagaimana ia menasihati kaum saleh bukan tujuannya menasihati mereka. Ini menunjukkan bahwa cara Paulus menasihati itu lebih penting daripada tujuan nasihatnya. Karena alasan ini, maka Paulus menunjukkan bahwa ia menasihati kaum beriman demi kelemahlembutan dan keramahan Kristus.
Misalnya, jika seorang saudara yang berkhotbah hanya memperhatikan tujuannya dalam berkhotbah, dan tidak memperhatikan cara ia menyampaikan khotbah itu, ini akan menjadi satu kesalahan yang serius. Kita harus belajar dari Paulus untuk lebih memperhatikan cara kita melakukan sesuatu daripada memperhatikan tujuan kita dalam melakukan hal itu. Sebenarnya Allah lebih memperhatikan cara kita melakukan sesuatu daripada memperhatikan tujuan kita, sasaran kita, dalam melakukan hal-hal itu. Namun, banyak orang Kristen pada hari ini yang hampir tidak pernah memperhatikan cara mereka melakukan sesuatu; mereka mengutamakan memperhatikan tujuan, sasaran, dan hasilnya. Ada satu pepatah bahwa tujuan menghalalkan cara. Orang-orang yang menganut pepatah ini tidak memperhatikan cara melakukan sesuatu; mereka hanya memperhatikan tujuan mereka. Konsep ini menyedihkan dan perlu dihakimi.
Orang-orang Kristen mungkin mengira bahwa selama tujuan mereka adalah melakukan satu pekerjaan bagi Tuhan, mereka tidak perlu memperhatikan sarana untuk menggenapkannya. Misalnya, dalam memberitakan Injil mereka mungkin memakai metode-metode atau hiburan-hiburan duniawi. Karena itu, saya ingin menekankan bahwa dalam Alkitab Allah memperlihatkan bahwa Dia lebih memperhatikan cara kita daripada tujuan kita. Sebagai seorang duta besar surgawi, Paulus juga lebih memperhatikan cara melakukan sesuatu daripada tujuannya. Inilah alasannya menggambarkan cara ia menasihati orang-orang Korintus, tetapi ia tidak menyinggung tujuannya. Kiranya kita semua belajar dari dia dalam perkara ini.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 50
10 March 2012
2 Korintus - Minggu 24 Sabtu
Pembacaan Alkitab: Mat. 6:34
Mengenai suplai oleh mujizat dan oleh hukum alam ini, Allah adalah sumbernya. Di satu pihak, Dia mengirim manna itu. Di pihak lain, Dia menyuplai benih untuk ditaburkan dan roti untuk dimakan. Jika kita memiliki pemahaman yang dalam terhadap hal ini, kita tidak akan khawatir akan masa depan kita. Tuhan Yesus berkata, "Janganlah kamu khawatir tentang hari esok" (Mat. 6:34). Dengan mengenal bahwa kaum beriman tidak perlu khawatir tentang masa depan karena kita memiliki Allah sebagai sumber suplai kita, Paulus memiliki keberanian mendorong orang-orang kudus untuk memberi kepada orang-orang kudus yang kekurangan. Kita harus memperhatikan kebutuhan Allah dan tujuan-Nya. Kemudian, Dia akan merawat masa depan kita. Masa depan kita bukan berada di bawah perawatan kita, melainkan berada di bawah perawatan Bapa; bukan menurut pengumpulan kita, melainkan menurut turunnya manna Allah. Selain itu, ini bukan menurut penaburan kita, melainkan menurut suplai-Nya. Jika Allah tidak menyuplai benih, apa yang akan kita taburkan? Masa depan kita juga bukan tergantung pada penuaian kita, melainkan tergantung kepada Allah yang membuat benih itu bertumbuh sampai ada tuaian. Dengan memiliki pemahaman yang dalam mengenai hal ini dan memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang ekonomi Allah, Paulus memiliki jaminan dan damai sejahtera untuk mendorong orang-orang kudus yang miskin itu untuk memberikan apa yang mereka miliki guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang lain.
Sekarang kita dapat memahami pemikiran Paulus dalam pasal 8 dan 9. Dalam pasal 8 Paulus memakai mengumpulkan manna sebagai satu dasar untuk bersekutu dengan orang-orang kudus tentang memberi suplai materi kepada orang-orang yang kekurangan. Dalam pasal 9 Paulus memakai perkara menabur dan menuai sebagai dasar bagi persekutuan ini. Karena itu, Paulus memiliki dasar ganda untuk bersekutu dengan orang-orang kudus tentang pemberian suplai materi. Hal ini memberikan jaminan dan keyakinan kepadanya untuk memberi tahu orang-orang kudus bahwa jika mereka dapat memberikan sebanyak mungkin, mereka tidak perlu khawatir tentang masa depan. Di sini Paulus seolah-olah akan berkata, "Kaum saleh, berilah sebanyak yang kalian mampu. Tidak perlu khawatir tentang hari esok. Masa depan kalian mutlak berada di bawah perawatan Allah. Karena aku memiliki keyakinan akan hal ini, maka aku mendorong kalian untuk memberi. Aku tidak menanggung resiko dalam meminta kalian untuk memberi kepada kaum saleh yang kekurangan. Jika kalian mau menerima perkataanku dan melakukannya, akan ada banyak ucapan syukur kepada Allah. Juga, jika kalian rela menabur dengan memberi, Allah akan membuat tuaian kalian bertambah. Dia akan menambahkan buah kebenaran kalian."
Mengapa Paulus memiliki keberanian mendorong kaum saleh yang miskin ini untuk memberi? Ia memiliki keberanian karena ia mengenal firman Allah. Selain itu, ia mengenal ekonomi Allah dan prinsip ilahi-Nya. Ia sadar bahwa meminta kepada gereja-gereja yang berada dalam situasi ekonomi yang miskin untuk membantu orang lain itu adalah satu perkara yang serius. Ia tidak meminta seseorang untuk membantu orang lain. Ia mendorong gereja-gereja di Eropa untuk membantu gereja-gereja di Yudea. Sepertinya Paulus akan menanggung resiko, karena orang-orang kudus mungkin akan menderita di masa yang akan datang. Namun, Paulus tahu bahwa ia tidak akan menanggung resiko, karena ia memiliki jaminan bahwa Allah akan datang untuk menurunkan manna, menyuplai benih untuk menabur, dan memberi roti untuk dimakan. Inilah cara yang tepat untuk memahami perkataan Paulus dalam 2 Korintus 8 dan 9.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 49
Mengenai suplai oleh mujizat dan oleh hukum alam ini, Allah adalah sumbernya. Di satu pihak, Dia mengirim manna itu. Di pihak lain, Dia menyuplai benih untuk ditaburkan dan roti untuk dimakan. Jika kita memiliki pemahaman yang dalam terhadap hal ini, kita tidak akan khawatir akan masa depan kita. Tuhan Yesus berkata, "Janganlah kamu khawatir tentang hari esok" (Mat. 6:34). Dengan mengenal bahwa kaum beriman tidak perlu khawatir tentang masa depan karena kita memiliki Allah sebagai sumber suplai kita, Paulus memiliki keberanian mendorong orang-orang kudus untuk memberi kepada orang-orang kudus yang kekurangan. Kita harus memperhatikan kebutuhan Allah dan tujuan-Nya. Kemudian, Dia akan merawat masa depan kita. Masa depan kita bukan berada di bawah perawatan kita, melainkan berada di bawah perawatan Bapa; bukan menurut pengumpulan kita, melainkan menurut turunnya manna Allah. Selain itu, ini bukan menurut penaburan kita, melainkan menurut suplai-Nya. Jika Allah tidak menyuplai benih, apa yang akan kita taburkan? Masa depan kita juga bukan tergantung pada penuaian kita, melainkan tergantung kepada Allah yang membuat benih itu bertumbuh sampai ada tuaian. Dengan memiliki pemahaman yang dalam mengenai hal ini dan memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang ekonomi Allah, Paulus memiliki jaminan dan damai sejahtera untuk mendorong orang-orang kudus yang miskin itu untuk memberikan apa yang mereka miliki guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang lain.
Sekarang kita dapat memahami pemikiran Paulus dalam pasal 8 dan 9. Dalam pasal 8 Paulus memakai mengumpulkan manna sebagai satu dasar untuk bersekutu dengan orang-orang kudus tentang memberi suplai materi kepada orang-orang yang kekurangan. Dalam pasal 9 Paulus memakai perkara menabur dan menuai sebagai dasar bagi persekutuan ini. Karena itu, Paulus memiliki dasar ganda untuk bersekutu dengan orang-orang kudus tentang pemberian suplai materi. Hal ini memberikan jaminan dan keyakinan kepadanya untuk memberi tahu orang-orang kudus bahwa jika mereka dapat memberikan sebanyak mungkin, mereka tidak perlu khawatir tentang masa depan. Di sini Paulus seolah-olah akan berkata, "Kaum saleh, berilah sebanyak yang kalian mampu. Tidak perlu khawatir tentang hari esok. Masa depan kalian mutlak berada di bawah perawatan Allah. Karena aku memiliki keyakinan akan hal ini, maka aku mendorong kalian untuk memberi. Aku tidak menanggung resiko dalam meminta kalian untuk memberi kepada kaum saleh yang kekurangan. Jika kalian mau menerima perkataanku dan melakukannya, akan ada banyak ucapan syukur kepada Allah. Juga, jika kalian rela menabur dengan memberi, Allah akan membuat tuaian kalian bertambah. Dia akan menambahkan buah kebenaran kalian."
Mengapa Paulus memiliki keberanian mendorong kaum saleh yang miskin ini untuk memberi? Ia memiliki keberanian karena ia mengenal firman Allah. Selain itu, ia mengenal ekonomi Allah dan prinsip ilahi-Nya. Ia sadar bahwa meminta kepada gereja-gereja yang berada dalam situasi ekonomi yang miskin untuk membantu orang lain itu adalah satu perkara yang serius. Ia tidak meminta seseorang untuk membantu orang lain. Ia mendorong gereja-gereja di Eropa untuk membantu gereja-gereja di Yudea. Sepertinya Paulus akan menanggung resiko, karena orang-orang kudus mungkin akan menderita di masa yang akan datang. Namun, Paulus tahu bahwa ia tidak akan menanggung resiko, karena ia memiliki jaminan bahwa Allah akan datang untuk menurunkan manna, menyuplai benih untuk menabur, dan memberi roti untuk dimakan. Inilah cara yang tepat untuk memahami perkataan Paulus dalam 2 Korintus 8 dan 9.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 49
09 March 2012
2 Korintus - Minggu 24 Jumat
Pembacaan Alkitab: Kel. 16:18
Dari pengkajiannya terhadap Perjanjian Lama, Paulus menyadari bahwa Allah merawat kebutuhan umat-Nya. Allah dapat memberi makan umat-Nya dengan ajaib. Ada lebih dari dua juta orang Israel di padang gurun, di satu tanah yang gersang di mana tidak ada apa pun yang dapat tumbuh. Padang gurun bukanlah satu tempat yang cocok untuk bertani atau beternak. Tetapi selama empat puluh tahun, Allah memberi makan umat-Nya itu dengan menurunkan manna yang ajaib dari langit. Saya tidak yakin ada seseorang yang dapat menjelaskan apakah manna itu atau berasal dari mana manna itu. Tetapi ini adalah satu fakta sejarah bahwa Allah memberi makan umat-Nya dengan manna di padang gurun itu selama empat puluh tahun. Ini benar-benar merupakan suatu mujizat karena lebih dari dua juta orang dapat bertahan hidup di padang gurun untuk jangka waktu yang demikian lama.
Pada hari yang keenam dari setiap minggu, bangsa Israel diizinkan mengumpulkan dua porsi manna untuk persediaan suplai pada hari Sabat. Tetapi pada hari lainnya dari minggu itu, mereka tidak diizinkan mengumpulkan lebih banyak daripada yang mereka perlukan untuk satu hari. Orang-orang yang berusaha menyimpan manna itu, pada keesokan harinya akan menemukan manna itu berulat. Ini menunjukkan bahwa bukanlah prinsip Allah menyuruh umat-Nya menyimpan sesuatu bagi diri mereka sendiri. Menyimpan dengan cara demikian ini didorong oleh keserakahan.
Tidak diragukan lagi, ketika Paulus mempelajari Kitab Suci, pemikiran-pemikiran dan konsepsi-konsepsi dari Kitab Suci ini telah masuk ke dalamnya, terwahyu di dalamnya, dan mengendalikan dia. Akhirnya, pemikiran-pemikiran ini mendorong dia untuk menulis 2 Korintus pasal 8 dan 9. Dalam pasal 8 ia bahkan mendorong orang-orang kudus yang miskin untuk memberi kepada orang-orang kudus yang kekurangan di Yudea. Karena ia memiliki pengetahuan yang dalam tentang ekonomi Allah, maka ia memiliki keberanian untuk meminta orang-orang kudus melakukan hal ini. Dalam pasal ini Paulus seolah-olah berkata, "Kamu tidak perlu memikirkan kemiskinanmu. Berikanlah sesuatu untuk merawat orang-orang kudus yang kekurangan. Sebenarnya, bukan kamu yang memperhatikan kebutuhanmu. Bapamu yang di surga, Dialah yang menyuplai kebutuhanmu. Dialah yang menyuplai manna, dan dengan cara ini juga Dia akan merawat kamu. Aku dapat menjamin kamu bahwa kamu tidak perlu khawatir tentang masa depan. Karena masa depanmu berada di bawah perawatan Bapa, aku mendorong kamu untuk memberikan sesuatu kepada orang-orang kudus yang kekurangan. Bapa akan mengirim manna itu dengan ajaib."
Dengan memakai ilustrasi menabur dan menuai dalam pasal 9, Paulus memperlihatkan bahwa Allah juga memakai hukum alam untuk memberi makan umat-Nya. Menabur dan menuai adalah perkara hukum alam. Sebenarnya memberi itu adalah menabur. Tetapi di manakah kita memperoleh benih untuk dipakai dalam penaburan ini? Benih ini disuplaikan oleh Allah. Sumber benih ini adalah Allah sendiri. Menurut 2 Korintus 9:10, Dia menyuplaikan benih itu dengan limpahnya kepada penabur.
Kita tidak boleh mengira bahwa karena kita menabur benih, maka kita yakin akan memperoleh tuaian yang kaya. Pertumbuhan benih yang ditaburkan tergantung kepada Allah. Jika Dia mengubah cuaca, maka apa yang kita taburkan itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Akibatnya, kita tidak akan memiliki makanan apa pun. Karena itu, kita perlu menyembah Tuhan dan berkata, "Tuhan, sekalipun suplaiku sepertinya berasal dari penuaian, tetapi makanan itu sebenarnya diberikan oleh-Mu."
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 49
Dari pengkajiannya terhadap Perjanjian Lama, Paulus menyadari bahwa Allah merawat kebutuhan umat-Nya. Allah dapat memberi makan umat-Nya dengan ajaib. Ada lebih dari dua juta orang Israel di padang gurun, di satu tanah yang gersang di mana tidak ada apa pun yang dapat tumbuh. Padang gurun bukanlah satu tempat yang cocok untuk bertani atau beternak. Tetapi selama empat puluh tahun, Allah memberi makan umat-Nya itu dengan menurunkan manna yang ajaib dari langit. Saya tidak yakin ada seseorang yang dapat menjelaskan apakah manna itu atau berasal dari mana manna itu. Tetapi ini adalah satu fakta sejarah bahwa Allah memberi makan umat-Nya dengan manna di padang gurun itu selama empat puluh tahun. Ini benar-benar merupakan suatu mujizat karena lebih dari dua juta orang dapat bertahan hidup di padang gurun untuk jangka waktu yang demikian lama.
Pada hari yang keenam dari setiap minggu, bangsa Israel diizinkan mengumpulkan dua porsi manna untuk persediaan suplai pada hari Sabat. Tetapi pada hari lainnya dari minggu itu, mereka tidak diizinkan mengumpulkan lebih banyak daripada yang mereka perlukan untuk satu hari. Orang-orang yang berusaha menyimpan manna itu, pada keesokan harinya akan menemukan manna itu berulat. Ini menunjukkan bahwa bukanlah prinsip Allah menyuruh umat-Nya menyimpan sesuatu bagi diri mereka sendiri. Menyimpan dengan cara demikian ini didorong oleh keserakahan.
Tidak diragukan lagi, ketika Paulus mempelajari Kitab Suci, pemikiran-pemikiran dan konsepsi-konsepsi dari Kitab Suci ini telah masuk ke dalamnya, terwahyu di dalamnya, dan mengendalikan dia. Akhirnya, pemikiran-pemikiran ini mendorong dia untuk menulis 2 Korintus pasal 8 dan 9. Dalam pasal 8 ia bahkan mendorong orang-orang kudus yang miskin untuk memberi kepada orang-orang kudus yang kekurangan di Yudea. Karena ia memiliki pengetahuan yang dalam tentang ekonomi Allah, maka ia memiliki keberanian untuk meminta orang-orang kudus melakukan hal ini. Dalam pasal ini Paulus seolah-olah berkata, "Kamu tidak perlu memikirkan kemiskinanmu. Berikanlah sesuatu untuk merawat orang-orang kudus yang kekurangan. Sebenarnya, bukan kamu yang memperhatikan kebutuhanmu. Bapamu yang di surga, Dialah yang menyuplai kebutuhanmu. Dialah yang menyuplai manna, dan dengan cara ini juga Dia akan merawat kamu. Aku dapat menjamin kamu bahwa kamu tidak perlu khawatir tentang masa depan. Karena masa depanmu berada di bawah perawatan Bapa, aku mendorong kamu untuk memberikan sesuatu kepada orang-orang kudus yang kekurangan. Bapa akan mengirim manna itu dengan ajaib."
Dengan memakai ilustrasi menabur dan menuai dalam pasal 9, Paulus memperlihatkan bahwa Allah juga memakai hukum alam untuk memberi makan umat-Nya. Menabur dan menuai adalah perkara hukum alam. Sebenarnya memberi itu adalah menabur. Tetapi di manakah kita memperoleh benih untuk dipakai dalam penaburan ini? Benih ini disuplaikan oleh Allah. Sumber benih ini adalah Allah sendiri. Menurut 2 Korintus 9:10, Dia menyuplaikan benih itu dengan limpahnya kepada penabur.
Kita tidak boleh mengira bahwa karena kita menabur benih, maka kita yakin akan memperoleh tuaian yang kaya. Pertumbuhan benih yang ditaburkan tergantung kepada Allah. Jika Dia mengubah cuaca, maka apa yang kita taburkan itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Akibatnya, kita tidak akan memiliki makanan apa pun. Karena itu, kita perlu menyembah Tuhan dan berkata, "Tuhan, sekalipun suplaiku sepertinya berasal dari penuaian, tetapi makanan itu sebenarnya diberikan oleh-Mu."
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 49
08 March 2012
2 Korintus - Minggu 24 Kamis
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 9:6-15
Dalam ayat 7 Paulus melanjutkan, "Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." Kita tidak boleh sedih dalam memberi. Sebaliknya, kita harus penuh dengan sukacita. Jika kita sedih dalam memberi, lebih baik kita tidak memberi. Selain itu, pemberian kita tidak boleh karena paksaan. Kata Yunani yang diterjemahkan paksaan di sini sama dengan yang dipakai dalam pasal 6. Ini berarti kita ditekan ke dalam sesuatu, dipaksa ke dalamnya. Memberi karena paksaan menunjukkan bahwa pemberian itu merupakan suatu malapetaka bagi kita. Kita tidak boleh memberi karena terpaksa; kita juga tidak seharusnya memberi jika kita merasa bahwa memberi itu merupakan suatu malapetaka. Dalam pemikiran beberapa orang, memberi harta benda itu sama dengan menderita suatu malapetaka. Ketika kita memberi, tidak boleh seperti itu. Seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat ini, Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Kata "sukacita" juga dapat diterjemahkan "senang", atau "riang gembira". Dalam pemberian kita, kita harus penuh dengan sukacita, senang, dan riang gembira.
Dalam ayat 8 dan 9 ada banyak pemikiran yang baik dan berharga. Salah satunya itu adalah bahwa pemberian yang murah hati di satu pihak merupakan berkat bagi penerimanya, di pihak lain merupakan kebenaran dalam pandangan Allah dan manusia. Pemikiran ini diteguhkan oleh perkataan Tuhan yang diucapkan di atas gunung dan tercatat dalam Matius 6. Tuhan menganggap pemberian yang murah hati ini bukan hanya sebagai satu kasih karunia, melainkan juga sebagai kebenaran.
Dalam ayat 10 Paulus selanjutnya mengatakan, "Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu." Di sini kita nampak sumber dari benih itu: benih itu berasal dari Allah yang menyuplaikan benih kepada penabur dan roti untuk dimakan dengan limpahnya. Kita tidak boleh mengira bahwa gandum yang dipakai untuk membuat roti itu secara otomatis berasal dari penuaian panenan. Tidak, itu berasal dari Allah. Sekalipun kita harus menabur, tetapi kita tidak boleh bersandar kepada penaburan kita. Menabur adalah tugas kita dan kita harus menabur untuk alasan ini. Namun, kita tidak boleh bersandar kepada apa yang kita taburkan. Jika kita bersandar kepada penaburan kita, maka Allah mungkin menahan hujan atau mengizinkan badai untuk merusak panenan itu. Karena itu, kita harus nampak bahwa Allah adalah Dia yang menyediakan roti. Dia memberi kita benih untuk menabur dan juga roti dari panenan itu untuk kita makan. Selain itu, Dialah yang melipatgandakan benih kita dan yang menumbuhkan buah-buah kebenaran.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 49
Dalam ayat 7 Paulus melanjutkan, "Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." Kita tidak boleh sedih dalam memberi. Sebaliknya, kita harus penuh dengan sukacita. Jika kita sedih dalam memberi, lebih baik kita tidak memberi. Selain itu, pemberian kita tidak boleh karena paksaan. Kata Yunani yang diterjemahkan paksaan di sini sama dengan yang dipakai dalam pasal 6. Ini berarti kita ditekan ke dalam sesuatu, dipaksa ke dalamnya. Memberi karena paksaan menunjukkan bahwa pemberian itu merupakan suatu malapetaka bagi kita. Kita tidak boleh memberi karena terpaksa; kita juga tidak seharusnya memberi jika kita merasa bahwa memberi itu merupakan suatu malapetaka. Dalam pemikiran beberapa orang, memberi harta benda itu sama dengan menderita suatu malapetaka. Ketika kita memberi, tidak boleh seperti itu. Seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat ini, Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Kata "sukacita" juga dapat diterjemahkan "senang", atau "riang gembira". Dalam pemberian kita, kita harus penuh dengan sukacita, senang, dan riang gembira.
Dalam ayat 8 dan 9 ada banyak pemikiran yang baik dan berharga. Salah satunya itu adalah bahwa pemberian yang murah hati di satu pihak merupakan berkat bagi penerimanya, di pihak lain merupakan kebenaran dalam pandangan Allah dan manusia. Pemikiran ini diteguhkan oleh perkataan Tuhan yang diucapkan di atas gunung dan tercatat dalam Matius 6. Tuhan menganggap pemberian yang murah hati ini bukan hanya sebagai satu kasih karunia, melainkan juga sebagai kebenaran.
Dalam ayat 10 Paulus selanjutnya mengatakan, "Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu." Di sini kita nampak sumber dari benih itu: benih itu berasal dari Allah yang menyuplaikan benih kepada penabur dan roti untuk dimakan dengan limpahnya. Kita tidak boleh mengira bahwa gandum yang dipakai untuk membuat roti itu secara otomatis berasal dari penuaian panenan. Tidak, itu berasal dari Allah. Sekalipun kita harus menabur, tetapi kita tidak boleh bersandar kepada penaburan kita. Menabur adalah tugas kita dan kita harus menabur untuk alasan ini. Namun, kita tidak boleh bersandar kepada apa yang kita taburkan. Jika kita bersandar kepada penaburan kita, maka Allah mungkin menahan hujan atau mengizinkan badai untuk merusak panenan itu. Karena itu, kita harus nampak bahwa Allah adalah Dia yang menyediakan roti. Dia memberi kita benih untuk menabur dan juga roti dari panenan itu untuk kita makan. Selain itu, Dialah yang melipatgandakan benih kita dan yang menumbuhkan buah-buah kebenaran.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 49
07 March 2012
2 Korintus - Minggu 24 Rabu
Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 9:1-15
Ketika kita menabur dengan berkat kepada orang lain, kita akan menuai dengan berkat dari Allah. Selain itu, tuaian ini akan selalu melampaui jumlah yang ditaburkan. Tuaian ini akan menjadi tiga puluh kali lipat atau bahkan seratus kali lipat. Ini tidak terjadi secara ajaib; ini terjadi menurut hukum alam. Allah mengendalikan suplai hayat di antara anak-anak-Nya secara ajaib. Karena itu, tidak ada keluarga Kristen yang dapat mempertahankan kekayaannya dari generasi ke generasi. Tetapi menabur adalah menurut hukum alam, bukan menurut keajaiban. Terhadap hal ini, Allah tidak perlu melakukan apa-apa secara ajaib. Kita semua perlu menabur, yaitu memberi. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak yang akan kita tuai. Namun, kita tidak boleh melakukan hal ini secara takhayul untuk tujuan mendapatkan kekayaan bagi diri kita sendiri.
Dua ilustrasi tentang pengumpulan dan penaburan ini berhubungan dengan pemikiran Paulus yang dalam di dalam pasal-pasal ini. Dalam pasal 9 ada pemikiran yang dalam yaitu bahwa sebagai orang-orang Kristen, kita memberi dalam hal seperti menabur. Jika kita tidak memberi, berarti kita tidak bertani, tidak menabur. Selain itu, kita tidak boleh menabur dengan kikir. Jika kita menabur dengan kikir, maka menurut hukum alam ini, kita juga akan menuai dengan kikir. Kita perlu menabur dengan berkat kepada orang lain. Jika kita menabur dengan berkat kepada orang lain, maka, menurut hukum alam ini, kita juga akan menuai dengan berkat dari Allah. Berkat ini berkali-kali lebih banyak daripada apa yang kita taburkan. Saya dapat bersaksi bahwa dalam kehidupan kristiani saya, saya belum pernah melihat seorang beriman yang telah memberi kepada Allah yang tidak diberkati oleh-Nya secara besar-besaran. Tuhan selalu akan menghormati hukum alam yang telah ditentukan-Nya.
Kita perlu mengakui tangan Tuhan yang ajaib dan juga memperhatikan hukum alam-Nya. Menurut dua aspek ini, kita perlu memberi. Mungkin sekarang Anda tidak melihat tangan pengimbangan Allah. Tetapi setelah jangka waktu yang lama, mungkin bertahun-tahun kemudian, Anda akan melihatnya. Kemudian Anda akan dapat bersaksi tentang bagaimana Allah menyeimbangkan suplai sehari-hari di antara anak-anak-Nya. Kita juga harus sadar bahwa pemberian adalah perkara menabur. Karena itu, jika kita ingin menuai, kita harus menabur dengan berkat kepada orang lain. Kemudian kita akan menuai dengan berkat dari Allah.
Kita harus menabur banyak dan dengan demikian akan menuai banyak juga. Sasarannya bukanlah untuk membuat diri kita sendiri kaya. Hasilnya adalah ucapan syukur yang melimpah kepada Allah. Saya harap di waktu mendatang banyak orang saleh yang akan menjadi faktor ucapan syukur kepada Allah. Ini berarti pemberian Anda akan melimpah dalam ucapan syukur kepada Allah. Saya memiliki keyakinan yang penuh bahwa jika kaum saleh dalam pemulihan Tuhan rela untuk memberi, maka pemulihan ini tidak mungkin kekurangan suplai materi. Bukannya kekurangan, malah melalui banyak orang saleh ada ucapan syukur yang melimpah kepada Tuhan. Karena itu, marilah kita semua melakukan pemberian, yaitu pemberian yang dilaksanakan dengan mengumpulkan dan menabur.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 48
Ketika kita menabur dengan berkat kepada orang lain, kita akan menuai dengan berkat dari Allah. Selain itu, tuaian ini akan selalu melampaui jumlah yang ditaburkan. Tuaian ini akan menjadi tiga puluh kali lipat atau bahkan seratus kali lipat. Ini tidak terjadi secara ajaib; ini terjadi menurut hukum alam. Allah mengendalikan suplai hayat di antara anak-anak-Nya secara ajaib. Karena itu, tidak ada keluarga Kristen yang dapat mempertahankan kekayaannya dari generasi ke generasi. Tetapi menabur adalah menurut hukum alam, bukan menurut keajaiban. Terhadap hal ini, Allah tidak perlu melakukan apa-apa secara ajaib. Kita semua perlu menabur, yaitu memberi. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak yang akan kita tuai. Namun, kita tidak boleh melakukan hal ini secara takhayul untuk tujuan mendapatkan kekayaan bagi diri kita sendiri.
Dua ilustrasi tentang pengumpulan dan penaburan ini berhubungan dengan pemikiran Paulus yang dalam di dalam pasal-pasal ini. Dalam pasal 9 ada pemikiran yang dalam yaitu bahwa sebagai orang-orang Kristen, kita memberi dalam hal seperti menabur. Jika kita tidak memberi, berarti kita tidak bertani, tidak menabur. Selain itu, kita tidak boleh menabur dengan kikir. Jika kita menabur dengan kikir, maka menurut hukum alam ini, kita juga akan menuai dengan kikir. Kita perlu menabur dengan berkat kepada orang lain. Jika kita menabur dengan berkat kepada orang lain, maka, menurut hukum alam ini, kita juga akan menuai dengan berkat dari Allah. Berkat ini berkali-kali lebih banyak daripada apa yang kita taburkan. Saya dapat bersaksi bahwa dalam kehidupan kristiani saya, saya belum pernah melihat seorang beriman yang telah memberi kepada Allah yang tidak diberkati oleh-Nya secara besar-besaran. Tuhan selalu akan menghormati hukum alam yang telah ditentukan-Nya.
Kita perlu mengakui tangan Tuhan yang ajaib dan juga memperhatikan hukum alam-Nya. Menurut dua aspek ini, kita perlu memberi. Mungkin sekarang Anda tidak melihat tangan pengimbangan Allah. Tetapi setelah jangka waktu yang lama, mungkin bertahun-tahun kemudian, Anda akan melihatnya. Kemudian Anda akan dapat bersaksi tentang bagaimana Allah menyeimbangkan suplai sehari-hari di antara anak-anak-Nya. Kita juga harus sadar bahwa pemberian adalah perkara menabur. Karena itu, jika kita ingin menuai, kita harus menabur dengan berkat kepada orang lain. Kemudian kita akan menuai dengan berkat dari Allah.
Kita harus menabur banyak dan dengan demikian akan menuai banyak juga. Sasarannya bukanlah untuk membuat diri kita sendiri kaya. Hasilnya adalah ucapan syukur yang melimpah kepada Allah. Saya harap di waktu mendatang banyak orang saleh yang akan menjadi faktor ucapan syukur kepada Allah. Ini berarti pemberian Anda akan melimpah dalam ucapan syukur kepada Allah. Saya memiliki keyakinan yang penuh bahwa jika kaum saleh dalam pemulihan Tuhan rela untuk memberi, maka pemulihan ini tidak mungkin kekurangan suplai materi. Bukannya kekurangan, malah melalui banyak orang saleh ada ucapan syukur yang melimpah kepada Tuhan. Karena itu, marilah kita semua melakukan pemberian, yaitu pemberian yang dilaksanakan dengan mengumpulkan dan menabur.
Sumber: Pelajaran-Hayat 2 Korintus, Buku 3, Berita 48
Subscribe to:
Posts (Atom)