Dalam Alkitab, Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh bukanlah untuk
doktrin, teologi, atau ajaran. Tritunggal adalah untuk
ekonomi Allah. Dalam ekonomi-Nya, Allah Bapa adalah Persona yang merancang,
yang membuat suatu kehendak yang abadi. Karena Ia mempunyai satu maksud, satu
rencana, maka Ia memiliki banyak pengaturan demi menyesuaikan maksud tujuan-Nya
itu. Dalam Tritunggal itu Allah Bapa adalah sumber, Persona yang merencanakan
untuk merampungkan ekonomi-Nya. Demi melaksanakan ekonomi ilahi ini, dua
perkara yang teramat penting harus dilakukan, yakni penebusan dan hak keputraan.
Dalam Galatia 4 kita nampak bahwa Bapa mengutus Putra-Nya untuk merampungkan
penebusan (ayat 4-5). Kemudian Ia mengutus Roh Putra-Nya untuk mendatangkan hak
keputraan. Karena itu, bagi penggenapan ekonomiNya, Bapa mengutus Putra dan
kemudian mengutus Roh itu.
Galatia 4:4-5 mengatakan, “Tetapi setelah genap waktunya,
maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk
kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum
Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” Demi penggenapan penebusan,
Putra Allah perlu menjadi seorang manusia yang dilahirkan dari seorang
perempuan dan lahir di bawah hukum Taurat. Untuk mengenakan sifat insani atau
keinsanian, haruslah Ia “datang dari seorang perempuan”. Mengatakan Maria
adalah ibu Allah itu adalah bidah. Walaupun Yesus adalah Allah yang
berinkarnasi menjadi manusia, Maria bukanlah ibu Allah. Ia adalah ibu dari
seorang manusia Yesus. Melalui datang dari seorang perempuan, Yesus, Putra
Allah adalah seorang manusia yang berdarah dan daging (Ibr. 2:14). Kalau Dia
tidak berdarah dan daging, Putra Allah tidak bisa merampungkan penebusan.
Penebusan mengharuskan tertumpahnya darah.
Sesudah Putra Allah merampungkan penebusan bagi kita, Roh itu
diutus untuk melaksanakan hak keputraan dan membuat hal itu menjadi riil bagi
kita dalam pengalaman kita. Roh itu diutus guna menjadikan semua orang yang
ditebus menjadi anak-anak Allah. Jadi, kedatangan Kristus adalah untuk
penebusan, dan kedatangan Roh itu adalah untuk hak keputraan. Kristus menebus
kita dan Roh itu menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita, sehingga kita menjadi
anak-anak Allah.
Istilah “Roh itu” sungguh sangat bermakna. Yohanes 7:39
mengatakan, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka
yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum
dimuliakan” (Tl.). Mengapa ayat ini mengatakan bahwa “Roh itu belum ada”?
Walaupun Roh Allah, Roh Yehova (Roh TUHAN), dan Roh Kudus sudah ada sebelum
Yesus dimuliakan, tetapi, “Roh itu” belum ada. Dalam
Kejadian 1:2 kita nampak Roh Allah melayang-layang (mengeram) di atas permukaan
air. Perjanjian Lama juga berkali-kali menyinggung Roh Yehova (Roh TUHAN).
Ketika Tuhan Yesus hampir dikandung dalam rahim Maria, di situ disebut tentang
Roh Kudus, sebab sesuatu yang biasa, sifat insani, telah dijadikan kudus oleh
Roh Allah (Mat. 1:18, 20). Akan tetapi, ketika Yesus berseru, “Siapa saja
yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum” (Yoh. 7:37), Ia berbicara
tentang Roh itu. Namun, “Roh itu belum ada”, sebab Yesus belum dimuliakan.
Ketika itu Ia belum disalibkan dan belum dibangkitkan. Tetapi sesudah
penyaliban dan kebangkitanNya, Roh itu baru datang. Hari ini Roh yang bersaksi
bersama dengan roh kita adalah Roh itu. Dua Korintus 3:17 bahkan mengatakan, “Sebab
Tuhan adalah Roh (itu).” Perhatikanlah bahwa ayat ini tidak mengatakan,
“Tuhan adalah suatu Roh,” melainkan, “Tuhan adalah Roh (itu).”
Sumber:
Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 44
No comments:
Post a Comment