Dalam Kejadian 1 dan 2, Adam belum memiliki hayat kekal.
Sebaliknya, ia hanya memiliki hayat insani sebagai wadah untuk menampung hayat
ilahi. Roma 9 menunjukkan dengan jelas bahwa manusia adalah satu wadah untuk
menampung hayat ilahi. Tetapi manusia telah jatuh sebelum menerima hayat yang kekal
itu. Karena itulah Allah mengutus Putra-Nya menjadi manusia yang berdarah
daging untuk merampungkan penebusan dan membawa manusia yang telah jatuh itu kembali
kepada tujuan Allah yang semula. Jadi penebusan memulihkan manusia kepada
tujuan Allah. Haleluya, melalui darah Kristus yang teralir di atas salib, kita,
orang-orang yang telah jatuh, telah ditebus! Roma 3 dan Galatia 3 kedua-duanya
membicarakan penebusan Allah yang menakjubkan ini.
Namun, penebusan bukan merupakan tujuan. Penebusan hanya
merupakan satu prosedur, bagian dari satu proses, untuk mencapai sasaran keputraan
Allah. Karena itulah Kitab Roma dan Galatia menunjukkan bahwa Kristus
menebus kita agar hayat ilahi dapat tersalur ke dalam kita untuk melahirkan
kita kembali. Kita telah diciptakan oleh Allah, namun kita tetap perlu dilahirkan
kembali. Walaupun kita telah diciptakan dengan hayat insani, kita tetap perlu
dilahirkan kembali dengan hayat lain, yakni hayat ilahi. Jadi, penebusan
menghasilkan penyaluran hayat ilahi. Itulah kelahiran kembali. Dengan kelahiran
kembali oleh Roh itulah kita menjadi anak-anak Allah.
Dalam penciptaan, Allah adalah Pencipta kita, tetapi dalam kelahiran
kembali, Ia menjadi Bapa kita. Sekarang, setelah dilahirkan kembali, kita bukan
hanya makhluk ciptaan Allah, kita pun anak-anak Allah. Haleluya, Allah adalah
Pencipta kita dan Bapa kita! Sebagai Pencipta, Ia menciptakan kita, dan sebagai
Bapa, Ia melahirkan kita. Sekarang kita dapat menyatakan dengan berani bahwa
kita bukan hanya mempunyai rupa dan gambar Allah secara luaran, juga mempunyai
hayat dan sifat Allah secara batin. Kita adalah anak-anak Allah yang hidup!
Ekonomi Allah ialah menyalurkan hayat dan sifat-Nya ke dalam kita untuk menjadikan
kita anak-anak-Nya.
Sekarang kita akan melihat satu butir yang sangat penting, juga mengajukan
satu pertanyaan penting: Karena kita adalah anak-anak Allah, kita hidup sebagai
ciptaan Allah, atau sebagai anak-anak Allah? Dengan kata lain, kehidupan
manakah yang Allah kehendaki untuk kita tampak; kehidupan makhluk ciptaan atau
kehidupan anak? Sudah pasti kedambaan Allah ialah agar kita menempuh kehidupan
sebagai anak-anak, bukan sebagai makhluk ciptaan. Namun bagaimanakah kita dapat
hidup sebagai anakanak Allah? Pertama-tama, untuk hidup sebagai anak Allah,
kita harus menjadi anak Allah. Jalan satu-satunya untuk menjadi anak Allah ialah
percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima Dia. Yohanes 1:12 mengatakan, “Semua
orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anakanak Allah.” Sebagai
anak-anak Allah, kita telah dilahirkan “bukan dari darah atau dari daging,
bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki melainkan dari Allah” (Yoh.
1:13 Tl.). Haleluya, kita telah menjadi anak-anak Allah melalui
percaya kepada Tuhan Yesus!
Sekarang karena kita telah menjadi anak-anak Allah, kita perlu memahami
bahwa kita lebih daripada makhluk ciptaan. Sebagai orang-orang yang menjadi
anak-anak dan tidak hanya menjadi makhluk ciptaan, kita tidak boleh menempuh
kehidupan makhluk ciptaan, melainkan kehidupan anak.
Sumber:
Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 45
No comments:
Post a Comment