Dalam 6:15 Paulus berkata, “Sebab bersunat atau tidak bersunat
tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Di
sini kita nampak bahwa kita tidak boleh menempuh satu kehidupan bersunat, juga
bukan kehidupan tidak bersunat, bukan menempuh suatu kehidupan agamis, juga bukan
kehidupan yang tidak agamis. Sebaliknya, kita harus memperhidupkan ciptaan
baru. Ciptaan baru di sini merupakan totalitas segenap anakanak Allah. Anak-anak
Allah adalah ciptaan baru.
Antara ciptaan baru dengan ciptaan lama terdapat satu perbedaan
yang mendasar. Hayat dan sifat Allah tidak tergarap ke dalam ciptaan lama,
tetapi ciptaan baru memiliki hayat dan sifat ilahi. Adam tidak memiliki hayat
dan sifat Allah. Kita hanya dapat menerima hayat dan sifat ilahi melalui
percaya kepada Tuhan Yesus dan dilahirkan kembali oleh Roh itu. Ketika kita percaya
kepada Kristus, hayat dan sifat Allah diberikan kepada kita dan menjadikan kita
suatu ciptaan baru.
Jika kita ingin memperhidupkan ciptaan baru, haruslah kita melakukan
segala perkara dalam kesatuan dengan Allah Tritunggal, dan unsur Allah harus
tergarap ke dalam ktia. Sebagai contoh, mungkin saya mengasihi seorang saudara menurut
hayat alamiah saya, bukan menurut unsur ilahi yang saya terima melalui
kelahiran kembali. Karena saudara tertentu ini rupanya sangat rajin, patuh, dan
penurut, saya sangat menyukainya. Kasih semacam ini sepenuhnya berasal dari ciptaan
lama. Ini adalah kasus orang dalam ciptaan lama mengasihi orang dalam ciptaan
lama lainnya. Kalau saya ingin mengasihi saudara ini menurut ciptaan baru,
haruslah saya menghukum diri saya sendiri dan kasih alamiah saya, bahkan kasih
egoistis saya. Lalu saya perlu mengasihi saudara ini dengan insan saya yang
telah dilahirkan kembali serta unsur ilahi. Dalam kasus demikian, saya mengasihi
dia bukan karena dia penurut atau baik terhadap saya. Sekalipun dia menyinggung
saya, saya tetap mengasihinya, sebab saya tidak hidup oleh hayat
alamiah, melainkan oleh unsur ilahi yang ada di dalam saya. Jika demikian kasih
saya berasal dari ciptaan baru, yang penuh dengan unsur ilahi. Kasih jenis pertama,
kasih alamiah, kasih dalam ciptaan lama, adalah ekspresi kasih dari ciptaan
yang telah jatuh. Tetapi kasih jenis kedua, kasih dalam ciptaan baru, adalah
ekspresi kasih dari anak Allah.
Yang penting hari ini bukanlah kita bergairah terhadap agama
atau tidak bergairah terhadap agama. Yang penting ialah apakah kita memperhidupkan
ciptaan baru atau tidak. Memperhidupkan ciptaan baru berarti hidup, bertindak,
berperilaku, dan melakukan segala perkara, besar maupun kecil, dengan unsur
Allah. Dalam segala yang kita lakukan wajiblah kita tidak bertindak dalam diri kita
sendiri, melainkan menurut diri kita yang telah dilahirkan kembali, yang dipenuhi
dengan unsur ilahi.
Jika kita hidup “oleh kaidah ini,” kita tidak akan menempuh
suatu kehidupan yang agamis atau yang tidak agamis, tetapi kita akan memperhidupkan
ciptaan baru sebagai anak-anak Allah. Kaidah atau patokan inilah yang seharusnya
menjadi peraturan kita, yakni prinsip dasar kita. Inilah artinya hidup menurut
kaidah dasar.
Sumber:
Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 46
No comments:
Post a Comment