Hidup Menurut Tuntutan Kasih
Roma 14:15
Sebab jika engkau menyakiti hati saudara seimanmu karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudara seimanmu karena makananmu, sebab Kristus telah mati untuk dia.
Ayat Bacaan: 1 Kor. 13:1-13; Rm. 14:13-15
Sebagai manusia baru, kita perlu mengalami pengubahan dalam me-nerima kaum beriman. Kita wajib menerima kaum beriman dalam prinsip kasih. Paulus mengatakan, “...janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara seiman kita jatuh atau tersandung! ...dalam Tuhan Yesus tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis...jika engkau menyakiti hati saudara seimanmu karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih.” (Rm. 14:13-15).
Jika kita menerima kaum beriman dalam kasih, kita tidak akan menghakimi orang lain, tidak menaruh suatu sandungan di hadapannya, tidak menyakiti hatinya, dan tidak membinasakan orang yang baginya Kristus telah mati; tetapi sebaliknya hidup menurut kasih. Surat Roma ditulis di kota Korintus, tidak lama setelah 1 Korintus. Dalam 1 Korintus 13, Paulus membahas masalah kasih secara khusus, dan menyisipkannya di antara dua pasal (12 dan 14) yang membahas masalah karunia rohani dan menyajikan jalan yang terindah untuk memanfaatkan karunia-karunia melalui atribut dan ciri-ciri kasih. Ketika Paulus menulis Roma 14, konsepsi kasih ini masih segar terkandung di dalam batinnya. Paulus seolah-olah berkata pada kaum beriman demikian, “Hendaklah kita menerima kaum beriman dalam prinsip kasih. Kasihlah yang harus mengatur kalian. Dalam hal menerima kaum beriman, kasih harus merupakan prinsip yang mengendalikan segala-galanya.” Karena itu, kita harus berhati-hati, janganlah kita melakukan perkara yang menyalahi kasih. Jangan sembarangan berbuat dosa terhadap saudara, sebab Kristus telah mati untuk dia. Hendaklah saling mengasihi dan menghormati kasih persaudaraan yang ada di batin kita, jangan melukainya. Allah telah menaruh hati yang mengasihi saudara ke dalam kita, maka kita harus menggunakannya untuk melayani dan membantu saudara kita. Hubungan kita dengan saudara kita berasal dari Allah, jika kita menolak saudara, dengan sendirinya hati yang mengasihi Allah juga tidak ada di dalam kita.
Sekalipun aku...menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. (1 Kor. 13:3)
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
20 January 2011
19 January 2011
Roma Volume 6 - Minggu 1 Rabu
Menghadap Takhta Pengadilan Allah
Roma 14:10,12
Tetapi engkau, mengapa engkau menghakimi saudara seimanmu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah ... memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah.
Ayat Bacaan: 1 Kor. 4:5; Mat. 16:27, 25:19; Luk. 19:15; Why. 22:12
Roma 14:10 mengatakan, “Tetapi engkau, mengapa engkau menghakimi saudara seimanmu? Atau mengapa engkau menghina saudara seimanmu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.” Setiap orang yang tampil di hadapan takhta pengadilan Allah adalah orang yang telah beroleh selamat. Penghakiman ini akan memeriksa kehi-dupan dan pekerjaan kaum beriman setelah mereka beroleh selamat. Artinya, penghakiman ini bukanlah mengenai keselamatan kekal, tetapi mengenai pahala (1 Kor. 4:5; Mat. 16:27; Why. 22:12).
Penerimaan kita terhadap setiap kaum saleh sepatutnya adalah penerimaan dalam terang takhta penghakiman. Kita tidak seharusnya bertengkar dengan orang lain maupun mengkritik mereka, tetapi hendaklah kita memperhatikan diri sendiri. Suatu hari kelak, setiap orang akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Allah, untuk memberikan pertanggungjawaban kepada Allah. Pada saat itulah Tuhan akan berterus terang kepada kita, “Sejak beroleh selamat, pekerjaan apakah yang telah kaubangun bagi-Ku? Kayu, rumput kering, dan jerami, atau emas, perak, dan batu-batu permata?” Paulus mengatakan dengan jelas, jika pekerjaan kita tahan uji, kita akan mendapat upah, jika pekerjaan kita terbakar, kita akan menderita kerugian (1 Kor.3). Beroleh selamat adalah satu hal. Beroleh pahala atau kerugian karena hasil pekerjaan kita adalah hal lain. Semua ini sangat serius, dan tidak dapat kita remehkan.
Ada beberapa orang saleh yang mengecam kaum saleh lain yang marah-marah, tetapi ia tidak menghakimi dirinya sendiri atas seleranya pergi ke bioskop. Jika kita mengkritik orang yang marah-marah, tanpa menghakimi diri sendiri karena pergi ke bioskop, kelak di hadapan takhta penghakiman-Nya, Tuhan akan mengadakan perhitungan dengan kita. Saudara saudari, kita perlu ada satu doa di hadapan Tuhan, “Oh, Tuhan, belas kasihanilah aku. Aku tidak layak menghakimi saudaraku. Tuhan, aku mau menghakimi diriku, dan pekerjaanku.” Kita perlu mengambil satu sikap untuk tidak menghakimi kaum saleh yang lain. Manakala kita ingin menghakimi orang, kita harus ingat, Tuhan akan datang dan mengadakan perhitungan dengan kita ketika Ia kembali!
Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. (1 Kor. 4:5)
Roma 14:10,12
Tetapi engkau, mengapa engkau menghakimi saudara seimanmu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah ... memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah.
Ayat Bacaan: 1 Kor. 4:5; Mat. 16:27, 25:19; Luk. 19:15; Why. 22:12
Roma 14:10 mengatakan, “Tetapi engkau, mengapa engkau menghakimi saudara seimanmu? Atau mengapa engkau menghina saudara seimanmu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.” Setiap orang yang tampil di hadapan takhta pengadilan Allah adalah orang yang telah beroleh selamat. Penghakiman ini akan memeriksa kehi-dupan dan pekerjaan kaum beriman setelah mereka beroleh selamat. Artinya, penghakiman ini bukanlah mengenai keselamatan kekal, tetapi mengenai pahala (1 Kor. 4:5; Mat. 16:27; Why. 22:12).
Penerimaan kita terhadap setiap kaum saleh sepatutnya adalah penerimaan dalam terang takhta penghakiman. Kita tidak seharusnya bertengkar dengan orang lain maupun mengkritik mereka, tetapi hendaklah kita memperhatikan diri sendiri. Suatu hari kelak, setiap orang akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Allah, untuk memberikan pertanggungjawaban kepada Allah. Pada saat itulah Tuhan akan berterus terang kepada kita, “Sejak beroleh selamat, pekerjaan apakah yang telah kaubangun bagi-Ku? Kayu, rumput kering, dan jerami, atau emas, perak, dan batu-batu permata?” Paulus mengatakan dengan jelas, jika pekerjaan kita tahan uji, kita akan mendapat upah, jika pekerjaan kita terbakar, kita akan menderita kerugian (1 Kor.3). Beroleh selamat adalah satu hal. Beroleh pahala atau kerugian karena hasil pekerjaan kita adalah hal lain. Semua ini sangat serius, dan tidak dapat kita remehkan.
Ada beberapa orang saleh yang mengecam kaum saleh lain yang marah-marah, tetapi ia tidak menghakimi dirinya sendiri atas seleranya pergi ke bioskop. Jika kita mengkritik orang yang marah-marah, tanpa menghakimi diri sendiri karena pergi ke bioskop, kelak di hadapan takhta penghakiman-Nya, Tuhan akan mengadakan perhitungan dengan kita. Saudara saudari, kita perlu ada satu doa di hadapan Tuhan, “Oh, Tuhan, belas kasihanilah aku. Aku tidak layak menghakimi saudaraku. Tuhan, aku mau menghakimi diriku, dan pekerjaanku.” Kita perlu mengambil satu sikap untuk tidak menghakimi kaum saleh yang lain. Manakala kita ingin menghakimi orang, kita harus ingat, Tuhan akan datang dan mengadakan perhitungan dengan kita ketika Ia kembali!
Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. (1 Kor. 4:5)
18 January 2011
Roma Volume 6 - Minggu 1 Selasa
Milik Tuhan dan Hidup untuk Tuhan
Roma 14:8
Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi, baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.
Ayat Bacaan: Rm.14:6-7
Bejana yang akan dipakai oleh Allah adalah Tubuh Kristus, bukan individu. Hayat dan kekuatan Kristus hanya bisa terekspresi dengan limpah melalui Tubuh Kristus. Karena itu Iblis membenci Tubuh Kristus dan ia selalu berusaha membuat Tubuh Kristus “terurai”. Iblis akan sekuatnya melakukan pekerjaan penceraiberaian ini. Saling mencurigai dan salah paham di antara saudara saudari, semua itu adalah pekerjaan Iblis untuk menceraiberaikan Tubuh. Iblis senang membuat anak-anak Allah tercerai berai. Pekerjaan Allah adalah membuat kita menjadi satu Tubuh, pekerjaan Iblis adalah memecah belah kita.
Roma 14:6-7 berkata,”Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Siapa yang makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah...Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri...” Firman ini menunjukkan kepada kita, yang terpenting hari ini bukanlah bagaimana cara seseorang dibaptis, makan atau tidak makan, atau memelihara hari apa, tetapi bagaimana kita hidup untuk Tuhan dan menjadi milik Tuhan. Setiap orang beriman yang sejati adalah milik Tuhan. Tidak peduli ia dibaptiskan dengan cara apa, makan apa, atau memelihara hari apa, ia dilahirkan dari Tuhan yang satu. Roma 14:6-9 menunjukkan kepada kita, mana yang penting dan mana yang tidak penting. Hidup untuk Tuhan dan menjadi milik Tuhan adalah yang penting. Asalkan seseorang adalah milik Tuhan dan hidup untuk Tuhan, ia sudah benar.
Apakah yang dimaksud dengan hidup bagi Tuhan itu? Banyak orang me-ngira, hidup bagi Tuhan itu berarti bekerja bagi Tuhan. Ketahuilah, keduanya itu sangat berbeda. Orang bisa saja bekerja bagi Tuhan, tetapi dia tidak hidup bagi Tuhan; tetapi sebaliknya, orang yang hidup bagi Tuhan, pasti bekerja bagi Tuhan. Hidup bagi Tuhan berarti menyangkal diri kita untuk hidup bagi diri sendiri yaitu seluruh waktu dan tenaga kita dipersembahkan bagi Tuhan. Sebuah syair kidung mengatakan : “Tuhan Kau dapatkanku, biar aku jadi kudus, waktuku dan umurku, bagi-Mulah selalu. Kau bertajuk duri bagiku, tersalib mend’rita karnaku, kini kuserahkan jiwa dan cinta, layani-Mu semata.”
Karena itu, baik kamu makan atau minum, ataupun melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1 Kor. 10:31)
Roma 14:8
Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi, baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.
Ayat Bacaan: Rm.14:6-7
Bejana yang akan dipakai oleh Allah adalah Tubuh Kristus, bukan individu. Hayat dan kekuatan Kristus hanya bisa terekspresi dengan limpah melalui Tubuh Kristus. Karena itu Iblis membenci Tubuh Kristus dan ia selalu berusaha membuat Tubuh Kristus “terurai”. Iblis akan sekuatnya melakukan pekerjaan penceraiberaian ini. Saling mencurigai dan salah paham di antara saudara saudari, semua itu adalah pekerjaan Iblis untuk menceraiberaikan Tubuh. Iblis senang membuat anak-anak Allah tercerai berai. Pekerjaan Allah adalah membuat kita menjadi satu Tubuh, pekerjaan Iblis adalah memecah belah kita.
Roma 14:6-7 berkata,”Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Siapa yang makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah...Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri...” Firman ini menunjukkan kepada kita, yang terpenting hari ini bukanlah bagaimana cara seseorang dibaptis, makan atau tidak makan, atau memelihara hari apa, tetapi bagaimana kita hidup untuk Tuhan dan menjadi milik Tuhan. Setiap orang beriman yang sejati adalah milik Tuhan. Tidak peduli ia dibaptiskan dengan cara apa, makan apa, atau memelihara hari apa, ia dilahirkan dari Tuhan yang satu. Roma 14:6-9 menunjukkan kepada kita, mana yang penting dan mana yang tidak penting. Hidup untuk Tuhan dan menjadi milik Tuhan adalah yang penting. Asalkan seseorang adalah milik Tuhan dan hidup untuk Tuhan, ia sudah benar.
Apakah yang dimaksud dengan hidup bagi Tuhan itu? Banyak orang me-ngira, hidup bagi Tuhan itu berarti bekerja bagi Tuhan. Ketahuilah, keduanya itu sangat berbeda. Orang bisa saja bekerja bagi Tuhan, tetapi dia tidak hidup bagi Tuhan; tetapi sebaliknya, orang yang hidup bagi Tuhan, pasti bekerja bagi Tuhan. Hidup bagi Tuhan berarti menyangkal diri kita untuk hidup bagi diri sendiri yaitu seluruh waktu dan tenaga kita dipersembahkan bagi Tuhan. Sebuah syair kidung mengatakan : “Tuhan Kau dapatkanku, biar aku jadi kudus, waktuku dan umurku, bagi-Mulah selalu. Kau bertajuk duri bagiku, tersalib mend’rita karnaku, kini kuserahkan jiwa dan cinta, layani-Mu semata.”
Karena itu, baik kamu makan atau minum, ataupun melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1 Kor. 10:31)
17 January 2011
Roma Volume 6 - Minggu 1 Senin
Sebab Allah Telah Menerimanya
Roma 14:1
Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.
Ayat Bacaan: Rm. 12:2; 14:3
Paulus mengatakan bahwa kita harus berubah oleh pembaruan pikiran kita (Rm. 12:2). Demi kehidupan gereja, seluruh diri kita perlu diubah, sebab segala yang alamiah, awam, duniawi, atau modern, tidak cocok untuk kehidupan Tubuh. Kita memerlukan suatu revolusi yang mutlak dalam pikiran, emosi, dan tekad, agar kita sesuai dengan kehidupan gereja. Jika kita tidak mengalami pengubahan hingga suatu tingkat, kita tidak mungkin dapat bersatu dengan kaum beriman lainnya. Kita mungkin saja bersidang bersama tetapi tidak dapat bersekutu atau saling terbuka. Jika kita memaksakan diri, akhirnya kita malah bertengkar, karena konsepsi, perilaku, hakiki, dan perbuatan kita, masih bersifat alamiah, belum mengalami pengubahan. Karena itu, untuk menerima orang-orang yang seiman, kita perlu mengalami pengubahan.
Pertama-tama, kita harus menerima kaum beriman berdasarkan pe-nerimaan Allah terhadap mereka. Dalam satu keluarga, ada anak yang baik, ada pula anak yang nakal. Setiap anak harus tahu bahwa mereka tidak dapat menentukan sendiri orang-orang yang akan menjadi saudara mereka. Demikian juga Bapa kita yang di surga telah melahirkan banyak anak, dan Ia telah menerima mereka semua. Karena itu, kita pun harus menerimanya, tidak peduli betapa lemah atau anehnya seorang beriman itu. Kita menerima seseorang bukan menurut selera atau pilihan kita, melainkan berdasarkan penerimaan Allah (Rm 14:3).
Sejarah kekristenan yang kasihan adalah sejarah perpecahan dan kekacauan. Perpecahan itu kebanyakan disebabkan oleh ketidakseragaman konsepsi tentang ajaran, karena itu kita harus belajar tidak menghakimi berdasarkan ajaran. Menurut sifat alamiah kita, kita semua cenderung meyakinkan orang lain dan berdebat dengan orang lain menurut konsepsi kita. Tetapi justru kita perlu menolak perdebatan mengenai masalah-masalah yang sepele. Jawaban yang paling baik bagi orang yang bertanya tentang ajaran adalah memalingkan orang itu dari “konsepsi ajaran” kepada Kristus yang adalah “hayat” kita.
Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh, dan satu Roh,...satu Tuhan, satu iman, satu baptisan. (Ef. 4:3-5)
Roma 14:1
Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.
Ayat Bacaan: Rm. 12:2; 14:3
Paulus mengatakan bahwa kita harus berubah oleh pembaruan pikiran kita (Rm. 12:2). Demi kehidupan gereja, seluruh diri kita perlu diubah, sebab segala yang alamiah, awam, duniawi, atau modern, tidak cocok untuk kehidupan Tubuh. Kita memerlukan suatu revolusi yang mutlak dalam pikiran, emosi, dan tekad, agar kita sesuai dengan kehidupan gereja. Jika kita tidak mengalami pengubahan hingga suatu tingkat, kita tidak mungkin dapat bersatu dengan kaum beriman lainnya. Kita mungkin saja bersidang bersama tetapi tidak dapat bersekutu atau saling terbuka. Jika kita memaksakan diri, akhirnya kita malah bertengkar, karena konsepsi, perilaku, hakiki, dan perbuatan kita, masih bersifat alamiah, belum mengalami pengubahan. Karena itu, untuk menerima orang-orang yang seiman, kita perlu mengalami pengubahan.
Pertama-tama, kita harus menerima kaum beriman berdasarkan pe-nerimaan Allah terhadap mereka. Dalam satu keluarga, ada anak yang baik, ada pula anak yang nakal. Setiap anak harus tahu bahwa mereka tidak dapat menentukan sendiri orang-orang yang akan menjadi saudara mereka. Demikian juga Bapa kita yang di surga telah melahirkan banyak anak, dan Ia telah menerima mereka semua. Karena itu, kita pun harus menerimanya, tidak peduli betapa lemah atau anehnya seorang beriman itu. Kita menerima seseorang bukan menurut selera atau pilihan kita, melainkan berdasarkan penerimaan Allah (Rm 14:3).
Sejarah kekristenan yang kasihan adalah sejarah perpecahan dan kekacauan. Perpecahan itu kebanyakan disebabkan oleh ketidakseragaman konsepsi tentang ajaran, karena itu kita harus belajar tidak menghakimi berdasarkan ajaran. Menurut sifat alamiah kita, kita semua cenderung meyakinkan orang lain dan berdebat dengan orang lain menurut konsepsi kita. Tetapi justru kita perlu menolak perdebatan mengenai masalah-masalah yang sepele. Jawaban yang paling baik bagi orang yang bertanya tentang ajaran adalah memalingkan orang itu dari “konsepsi ajaran” kepada Kristus yang adalah “hayat” kita.
Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh, dan satu Roh,...satu Tuhan, satu iman, satu baptisan. (Ef. 4:3-5)
16 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 4 Minggu
Kenakanlah Yesus Kristus
Roma 13:14
Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus dan janganlah menuruti daging untuk memuaskan keinginannya (Tl.).
Ayat Bacaan: Rm.13:8--12; 13:14; 2 Kor 3:17
Dalam Roma 13:12 dikatakan kita harus mengenakan “perlengkapan senjata terang”, sedang dalam Roma 13:14 dikatakan kita harus mengenakan “Tuhan Yesus Kristus”. Jika kedua ayat itu digabungkan, kita nampak bahwa senjata terang itu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Bahkan frase “janganlah menuruti daging” berhubungan dengan Roma 8:12, yang dikatakan Paulus, “Kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.” Peperangan yang tercantum dalam Roma 13:14 merupakan peperangan antara hawa nafsu dengan Roh Kudus. Kristus adalah Roh Kudus (2 Kor. 3:17). Karena itu kita harus mengenakan Kristus untuk berperang melawan hawa nafsu kita dengan mengenakan Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang.
Apa artinya mengenakan Kristus? Makna sebenarnya dari mengenakan Kristus ialah hidup bersandar Kristus dan mengekspresikan Kristus. Sungguhpun kita berada dalam Kristus, kita masih perlu hidup bersandar Kristus, dan dengan riil mengekspresikan Kristus. Kita wajib menempuh hidup sehari-hari bersandar Kristus dan mengekspresikan Kristus, yang merupakan senjata kita untuk mengalahkan daging. Paulus menasihati kita, “Janganlah menuruti daging.” Apa artinya menuruti daging? Karena hal ini sukar dimengerti, kita akan melihat sedikit perumpamaan. Masyarakat dewasa ini gelap dan jahat, dan penuh dengan benda-benda pemuas daging. Musuh pun telah mempe-ralat televisi yang selalu mensuplai makanan bagi daging kita yang lapar. Kita tidak mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menonton bioskop atau televisi, tetapi lebih baik kita menghindarinya jauh-jauh. Jangan mengira kita kuat. Andaikata di sana ada sebuah sumur yang dalam, kalau kita tidak mau jatuh ke dalamnya, kita harus menjauhinya, jangan berjalan-jalan di sekitarnya. Kita wajib berdoa, “Tuhan, menontonlah bersamaku. Di dalam rohku menonton bersamaku.” Kalau Anda dapat berdoa demikian, mungkin Anda tidak salah menontonnya. Kalau tidak, lebih baik Anda tidak menonton. Kita perlu hidup mengenakan Kristus. Maka Kristus akan menjadi perlengkapan senjata kita untuk melawan hawa nafsu daging.
Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah. (3 Yoh. 1:11b)
Roma 13:14
Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus dan janganlah menuruti daging untuk memuaskan keinginannya (Tl.).
Ayat Bacaan: Rm.13:8--12; 13:14; 2 Kor 3:17
Dalam Roma 13:12 dikatakan kita harus mengenakan “perlengkapan senjata terang”, sedang dalam Roma 13:14 dikatakan kita harus mengenakan “Tuhan Yesus Kristus”. Jika kedua ayat itu digabungkan, kita nampak bahwa senjata terang itu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Bahkan frase “janganlah menuruti daging” berhubungan dengan Roma 8:12, yang dikatakan Paulus, “Kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.” Peperangan yang tercantum dalam Roma 13:14 merupakan peperangan antara hawa nafsu dengan Roh Kudus. Kristus adalah Roh Kudus (2 Kor. 3:17). Karena itu kita harus mengenakan Kristus untuk berperang melawan hawa nafsu kita dengan mengenakan Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang.
Apa artinya mengenakan Kristus? Makna sebenarnya dari mengenakan Kristus ialah hidup bersandar Kristus dan mengekspresikan Kristus. Sungguhpun kita berada dalam Kristus, kita masih perlu hidup bersandar Kristus, dan dengan riil mengekspresikan Kristus. Kita wajib menempuh hidup sehari-hari bersandar Kristus dan mengekspresikan Kristus, yang merupakan senjata kita untuk mengalahkan daging. Paulus menasihati kita, “Janganlah menuruti daging.” Apa artinya menuruti daging? Karena hal ini sukar dimengerti, kita akan melihat sedikit perumpamaan. Masyarakat dewasa ini gelap dan jahat, dan penuh dengan benda-benda pemuas daging. Musuh pun telah mempe-ralat televisi yang selalu mensuplai makanan bagi daging kita yang lapar. Kita tidak mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menonton bioskop atau televisi, tetapi lebih baik kita menghindarinya jauh-jauh. Jangan mengira kita kuat. Andaikata di sana ada sebuah sumur yang dalam, kalau kita tidak mau jatuh ke dalamnya, kita harus menjauhinya, jangan berjalan-jalan di sekitarnya. Kita wajib berdoa, “Tuhan, menontonlah bersamaku. Di dalam rohku menonton bersamaku.” Kalau Anda dapat berdoa demikian, mungkin Anda tidak salah menontonnya. Kalau tidak, lebih baik Anda tidak menonton. Kita perlu hidup mengenakan Kristus. Maka Kristus akan menjadi perlengkapan senjata kita untuk melawan hawa nafsu daging.
Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah. (3 Yoh. 1:11b)
15 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 4 Sabtu
Saling Mengasihi Sesama Manusia
Roma 13:8b
Tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.
Ayat Bacaan: Rm. 13:8-10
Roma 13:8-10 menjelaskan bahwa perintah untuk mengasihi telah mencakup segala perintah hukum Taurat. Kita memerlukan Roh Kudus bekerja di dalam kita dan mengaruniakan pengubahan dalam hayat kita, agar kita dapat menyatakan kasih kepada semua orang. Kasih adalah ekspresi hayat; bukan sekadar perbuatan lahiriah, tetapi ekspresi hayat yang di dalam. Hanya ingin mengasihi, tanpa suplai hayat, tidak mungkin berhasil. Untuk mengasihi sesama manusia dan dengan spontan memenuhi hukum Taurat, kita memerlukan suplai hayat dan pengubahan dalam hayat. Hayat alamiah kita bukanlah hayat kasih Allah. Kita perlu memiliki pengubahan dalam hayat agar dapat memiliki sifat kasih Allah untuk mengasihi sesama kita. Bila kita tidak memperhatikan masalah mengasihi sesama manusia, tentu kita tidak perlu pengubahan dalam hayat. Akan tetapi, jika kita ingin mengasihi sesama manusia, kita perlu mengalami pengubahan dalam hayat.
Ada seorang saudara, ayahnya dibunuh oleh seseorang. Dia berniat membatas dendam kepada orang yang membunuh ayahnya. Saudara ini adalah orang Kristen yang sejati. Pada suatu hari, di tempat tinggalnya diadakan sidang hari Tuhan. Kebetulan sekali, ia justru duduk berdampingan dengan orang yang telah membunuh ayahnya itu. Dia segera bangkit dan meninggalkan ruang sidang dengan pergumulan batin yang hebat: Membalas membunuhnya, atau masuk dan duduk bersamanya? Pada saat itulah dia nampak bahwa sebenamya ia pun adalah musuh Allah, tetapi Kristus malah menyelamatkannya. Kasih Allah meluluhkan hatinya. Kemudian ia menyeka air mata dan masuk duduk bersama seterunya itu. Ketika orang itu ke luar, ia tidak lagi memandangnya sebagal musuh, melainkan menganggapnya sebagai seorang saudara dalam Tuhan.
Hayat yang ada di dalam kita membuat kita dapat mengasihi setiap sau-dara saudari. Asalkan seseorang itu milik Tuhan, kasih yang terkandung di dalamnya pasti akan mengalir keluar. Hati yang mengasihi saudara ini tidak pilih bulu, terhadap saudara mana saja tak ada bedanya. Asalkan saudara, pasti dikasihinya. Puji Tuhan atas hayat kasih Allah!
Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. (Rm. 12:9)
Roma 13:8b
Tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.
Ayat Bacaan: Rm. 13:8-10
Roma 13:8-10 menjelaskan bahwa perintah untuk mengasihi telah mencakup segala perintah hukum Taurat. Kita memerlukan Roh Kudus bekerja di dalam kita dan mengaruniakan pengubahan dalam hayat kita, agar kita dapat menyatakan kasih kepada semua orang. Kasih adalah ekspresi hayat; bukan sekadar perbuatan lahiriah, tetapi ekspresi hayat yang di dalam. Hanya ingin mengasihi, tanpa suplai hayat, tidak mungkin berhasil. Untuk mengasihi sesama manusia dan dengan spontan memenuhi hukum Taurat, kita memerlukan suplai hayat dan pengubahan dalam hayat. Hayat alamiah kita bukanlah hayat kasih Allah. Kita perlu memiliki pengubahan dalam hayat agar dapat memiliki sifat kasih Allah untuk mengasihi sesama kita. Bila kita tidak memperhatikan masalah mengasihi sesama manusia, tentu kita tidak perlu pengubahan dalam hayat. Akan tetapi, jika kita ingin mengasihi sesama manusia, kita perlu mengalami pengubahan dalam hayat.
Ada seorang saudara, ayahnya dibunuh oleh seseorang. Dia berniat membatas dendam kepada orang yang membunuh ayahnya. Saudara ini adalah orang Kristen yang sejati. Pada suatu hari, di tempat tinggalnya diadakan sidang hari Tuhan. Kebetulan sekali, ia justru duduk berdampingan dengan orang yang telah membunuh ayahnya itu. Dia segera bangkit dan meninggalkan ruang sidang dengan pergumulan batin yang hebat: Membalas membunuhnya, atau masuk dan duduk bersamanya? Pada saat itulah dia nampak bahwa sebenamya ia pun adalah musuh Allah, tetapi Kristus malah menyelamatkannya. Kasih Allah meluluhkan hatinya. Kemudian ia menyeka air mata dan masuk duduk bersama seterunya itu. Ketika orang itu ke luar, ia tidak lagi memandangnya sebagal musuh, melainkan menganggapnya sebagai seorang saudara dalam Tuhan.
Hayat yang ada di dalam kita membuat kita dapat mengasihi setiap sau-dara saudari. Asalkan seseorang itu milik Tuhan, kasih yang terkandung di dalamnya pasti akan mengalir keluar. Hati yang mengasihi saudara ini tidak pilih bulu, terhadap saudara mana saja tak ada bedanya. Asalkan saudara, pasti dikasihinya. Puji Tuhan atas hayat kasih Allah!
Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. (Rm. 12:9)
14 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 4 Jumat
Takluk kepada Pemerintah Allah
Roma 13:1
Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.
Ayat Bacaan: Rm. 12:9-21; 13:1-14
Penghidupan orang Kristen yang normal perlu kita terapkan terhadap orang lain (Rm. 12:9-10,13,15,16), terhadap Allah (Rm. 12:11), terhadap diri sendiri, terhadap penganiaya dan seteru (Rm. 12:14,17-21) dan secara umum (Rm. 12:17; 13:1-14). Secara umum, karakter alamiah manusia selalu bersifat memberontak, tetapi karakter yang telah mengalami pengubahan akan bersifat takluk atau patuh. Patuh kepada pemerintah yang ditetapkan oleh Allah. Ini memerlukan sejumlah pengubahan. Saudari-saudari, kalau kita ingin mematuhi suami kita, kita perlu mengalami pengubahan. Jika kita dapat mematuhi pemerintah yang ditetapkan oleh Allah, itu membuktikan bahwa kita telah memiliki kadar pengubahan yang lumayan, sebab karakter alamiah kita bersifat pemberontak. Kita adalah pemberontak sejak dilahirkan. Reaksi kita terhadap pemerintah atau penguasa selalu mengatakan, “Tidak”. Karena itu jika kita ingin memiliki kepatuhan terhadap pemerintah, kita memerlukan pengubahan yang berasal dari pertumbuhan hayat. “Sebab itu siapa yang melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya” (Rm. 13: 2). Tidaklah berfaedah melawan pemerintah. Ia akan dihukum oleh pemerintah, atau akan langsung dihukum oleh Allah.
Dalam Roma 13:5 Paulus berkata, “Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena murka Allah, tetapi juga oleh karena suara hati (hati nurani) kita.” Karena hati nurani kita, kita perlu belajar diubah melalui mematuhi peme rintah. “Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak... Bayarlah kepada semua orang apa yang wajib kamu bayar: Pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat” (Rm. 13: 6-7). Berbuat demikian, menunjukkan bahwa kita mematuhi pemerintah. Kita tidak hanya harus taat kepada Allah, juga harus taat kepada wakil kekuasaan-Nya; karena tidak ada kekuasaan yang tidak berasal dari Dia. Semua kekuasaan di bumi ditetapkan oleh Allah dan hanya Allah yang adalah sumber segala kekuasaan.
Jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut. (Ef. 1:21a)
Roma 13:1
Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.
Ayat Bacaan: Rm. 12:9-21; 13:1-14
Penghidupan orang Kristen yang normal perlu kita terapkan terhadap orang lain (Rm. 12:9-10,13,15,16), terhadap Allah (Rm. 12:11), terhadap diri sendiri, terhadap penganiaya dan seteru (Rm. 12:14,17-21) dan secara umum (Rm. 12:17; 13:1-14). Secara umum, karakter alamiah manusia selalu bersifat memberontak, tetapi karakter yang telah mengalami pengubahan akan bersifat takluk atau patuh. Patuh kepada pemerintah yang ditetapkan oleh Allah. Ini memerlukan sejumlah pengubahan. Saudari-saudari, kalau kita ingin mematuhi suami kita, kita perlu mengalami pengubahan. Jika kita dapat mematuhi pemerintah yang ditetapkan oleh Allah, itu membuktikan bahwa kita telah memiliki kadar pengubahan yang lumayan, sebab karakter alamiah kita bersifat pemberontak. Kita adalah pemberontak sejak dilahirkan. Reaksi kita terhadap pemerintah atau penguasa selalu mengatakan, “Tidak”. Karena itu jika kita ingin memiliki kepatuhan terhadap pemerintah, kita memerlukan pengubahan yang berasal dari pertumbuhan hayat. “Sebab itu siapa yang melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya” (Rm. 13: 2). Tidaklah berfaedah melawan pemerintah. Ia akan dihukum oleh pemerintah, atau akan langsung dihukum oleh Allah.
Dalam Roma 13:5 Paulus berkata, “Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena murka Allah, tetapi juga oleh karena suara hati (hati nurani) kita.” Karena hati nurani kita, kita perlu belajar diubah melalui mematuhi peme rintah. “Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak... Bayarlah kepada semua orang apa yang wajib kamu bayar: Pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat” (Rm. 13: 6-7). Berbuat demikian, menunjukkan bahwa kita mematuhi pemerintah. Kita tidak hanya harus taat kepada Allah, juga harus taat kepada wakil kekuasaan-Nya; karena tidak ada kekuasaan yang tidak berasal dari Dia. Semua kekuasaan di bumi ditetapkan oleh Allah dan hanya Allah yang adalah sumber segala kekuasaan.
Jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut. (Ef. 1:21a)
13 January 2011
Roma Volume 5 - MInggu 4 Kamis
Roh yang Menyala-Nyala Melayani Tuhan
Roma 12:11
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
Ayat Bacaan: Rm. 12:9-21
Roma 12:9-21 membahas perihal kehidupan orang Kristen yang normal, yaitu perihal bagaimana sikap seorang Kristen terhadap orang lain, terhadap Allah, terhadap diri sendiri, terhadap penganiaya atau seteru, dan secara umum. Kelima sikap ini sangat bergantung pada persembahan diri kita. Karena itu Roma 12 membicarakan bahwa kita perlu memiliki satu tubuh yang telah dipersembahkan, satu pikiran yang diperbarui di dalam pengubahan jiwa, dan satu roh yang menyala-nyala. Akan tetapi jika demi belas kasihan Tuhan, tubuh kita telah dipersembahkan dan pikiran kita telah diperbarui, tetapi roh kita tetap dingin, kita tetap tidak dapat menempuh kehidupan gereja yang normal. Setelah tubuh dipersembahkan dan pikiran diperbarui, roh kita pun perlu membara.
Bagaimana caranya roh kita dapat membara? D.L. Moody (seorang pe-nginjil besar) pernah berkata bahwa dalam seumur hidupnya ia belum pernah melihat seorang yang malas mendapatkan keselamatan. Perkataan ini sungguh tepat. Seorang yang malas, adalah orang yang berkarakter kendor, tidak perduli pada hal apa pun, acuh pada semua hal; dia begitu malas sampai tidak dapat diselamatkan. Karena itu jalan yang terbaik agar roh kita membara adalah melalui kita menjadi orang yang rajin dan tidak kendor. Begitu seorang itu rajin, dengan spontan rohnya akan membara. Bila kita seorang yang malas, roh yang di dalam pasti tidak bergairah, bahkan membeku. Seorang tidak dapat menyalakan api di dalam lemari es. tapi begitu dekat dengan gas, atau bensin langsung akan menyala. Oleh sebab itu hal ini bukan masalah api yang menyala, tapi masalah sarananya.
Hari ini kita melayani Tuhan, yang paling penting harus membara dalam roh, berkobar-kobar dalam roh. Dan ini sangat bergantung pada kerajinan kita. Jika kita rajin, maka secara otomatis roh kita akan membara. Roh Kudus sulit menggerakkan orang yang lamban, orang yang selalu bersikap acuh. Tidak peduli kita mengatakan apa pun kepadanya, dia akan selalu merasakan sama saja, sulit menerima gerakan. Karena itu, marilah kita rajin di hadapan Tuhan. Dengan demikian akan memudahkan Roh Kudus bekerja atas diri kita.
Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan. (Ams. 13:4)
Roma 12:11
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
Ayat Bacaan: Rm. 12:9-21
Roma 12:9-21 membahas perihal kehidupan orang Kristen yang normal, yaitu perihal bagaimana sikap seorang Kristen terhadap orang lain, terhadap Allah, terhadap diri sendiri, terhadap penganiaya atau seteru, dan secara umum. Kelima sikap ini sangat bergantung pada persembahan diri kita. Karena itu Roma 12 membicarakan bahwa kita perlu memiliki satu tubuh yang telah dipersembahkan, satu pikiran yang diperbarui di dalam pengubahan jiwa, dan satu roh yang menyala-nyala. Akan tetapi jika demi belas kasihan Tuhan, tubuh kita telah dipersembahkan dan pikiran kita telah diperbarui, tetapi roh kita tetap dingin, kita tetap tidak dapat menempuh kehidupan gereja yang normal. Setelah tubuh dipersembahkan dan pikiran diperbarui, roh kita pun perlu membara.
Bagaimana caranya roh kita dapat membara? D.L. Moody (seorang pe-nginjil besar) pernah berkata bahwa dalam seumur hidupnya ia belum pernah melihat seorang yang malas mendapatkan keselamatan. Perkataan ini sungguh tepat. Seorang yang malas, adalah orang yang berkarakter kendor, tidak perduli pada hal apa pun, acuh pada semua hal; dia begitu malas sampai tidak dapat diselamatkan. Karena itu jalan yang terbaik agar roh kita membara adalah melalui kita menjadi orang yang rajin dan tidak kendor. Begitu seorang itu rajin, dengan spontan rohnya akan membara. Bila kita seorang yang malas, roh yang di dalam pasti tidak bergairah, bahkan membeku. Seorang tidak dapat menyalakan api di dalam lemari es. tapi begitu dekat dengan gas, atau bensin langsung akan menyala. Oleh sebab itu hal ini bukan masalah api yang menyala, tapi masalah sarananya.
Hari ini kita melayani Tuhan, yang paling penting harus membara dalam roh, berkobar-kobar dalam roh. Dan ini sangat bergantung pada kerajinan kita. Jika kita rajin, maka secara otomatis roh kita akan membara. Roh Kudus sulit menggerakkan orang yang lamban, orang yang selalu bersikap acuh. Tidak peduli kita mengatakan apa pun kepadanya, dia akan selalu merasakan sama saja, sulit menerima gerakan. Karena itu, marilah kita rajin di hadapan Tuhan. Dengan demikian akan memudahkan Roh Kudus bekerja atas diri kita.
Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan. (Ams. 13:4)
12 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 4 Rabu
Karunia yang Berlainan Menurut Anugerah
Roma 12:6a
Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut anugerah yang diberikan kepada kita.
Ayat Bacaan: Rm. 12:2, 6; 1 Kor. 3:6; 12; 14.
Karunia yang dibahas dalam ayat di atas merupakan hasil pengalaman kita atas kasih karunia Kristus, yaitu Allah di dalam Kristus sebagai unsur ilahi yang masuk ke dalam diri kita menjadi hayat kita untuk kita nikmati (Rm. 12:6). Ketika kita menikmati Allah, menghirup dan mencerna unsur ilahi-Nya, maka dari unsur ilahi tersebut terbitlah karunia, ketrampilan, atau kemampuan rohani tertentu, yang mengiringi pertumbuhan kita dalam hayat, berkembang menjadi karunia-karunia dalam hayat agar kita dapat berfungsi di dalam Tubuh Kristus.
Karunia-karunia dalam hayat di sini berbeda dengan karunia-karunia ajaib yang disebutkan dalam 1 Korintus 12 dan 14. Karunia-karunia dalam hayat ini berkembang oleh pertumbuhan dalam hayat dan oleh pengubahan dalam hayat (Rm. 12:2) bagi pelaksanaan kehidupan gereja. Bila kita mengabaikan karunia-karunia dari kasih karunia dalam hayat, dan hanya memperhatikan karunia yang ajaib, tidak lama lagi gereja akan terpecah-belah. Karunia-karunia ajaib tidak dapat membangun gereja. Hanya karunia-karunia dalam hayatlah yang dapat membangun gereja.
Saudara saudari, setiap hari kita perlu bertumbuh di dalam hayat dan mengejar karunia-karunia dalam hayat, yaitu bertutur sabda di dalam sidang, melayani, mengajar, menasehati, mempersembahkan harta, menjadi pemimpin yang rajin (teladan) dan bermurah hati. Inilah yang dimaksudkan Paulus bahwa ia merawat, menanam, Apolos menyiram, dan Allah yang memberikan pertumbuhan (1 Kor. 3:6). Melalui pertumbuhan menghasilkan ketrampilan dan karunia yang berguna dalam pembangunan rumah Allah dengan bahan yang tepat, yang telah mengalami pengubahan. Lihatlah bayi yang baru dilahirkan. Meski telah memiliki organ-organ yang lengkap, tetapi sedikit sekali organ-organnya yang dapat berfungsi. Semakin ia diberi makan oleh ibunya, ia akan semakin bertumbuh. Setelah beberapa waktu, ia bisa berjalan, dan lewat beberapa waktu lagi, ia bisa berbicara. Akhirnya ia bertumbuh sepenuhnya dan seluruh ketrampilannya berkembang, serta memiliki fungsi yang riil. Ketrampilan-ketrampilannya itu adalah karunia yang timbul dari pertumbuhan hayatnya.
Kamu memang berusaha memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih daripada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat. (1 Kor. 14:12)
Roma 12:6a
Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut anugerah yang diberikan kepada kita.
Ayat Bacaan: Rm. 12:2, 6; 1 Kor. 3:6; 12; 14.
Karunia yang dibahas dalam ayat di atas merupakan hasil pengalaman kita atas kasih karunia Kristus, yaitu Allah di dalam Kristus sebagai unsur ilahi yang masuk ke dalam diri kita menjadi hayat kita untuk kita nikmati (Rm. 12:6). Ketika kita menikmati Allah, menghirup dan mencerna unsur ilahi-Nya, maka dari unsur ilahi tersebut terbitlah karunia, ketrampilan, atau kemampuan rohani tertentu, yang mengiringi pertumbuhan kita dalam hayat, berkembang menjadi karunia-karunia dalam hayat agar kita dapat berfungsi di dalam Tubuh Kristus.
Karunia-karunia dalam hayat di sini berbeda dengan karunia-karunia ajaib yang disebutkan dalam 1 Korintus 12 dan 14. Karunia-karunia dalam hayat ini berkembang oleh pertumbuhan dalam hayat dan oleh pengubahan dalam hayat (Rm. 12:2) bagi pelaksanaan kehidupan gereja. Bila kita mengabaikan karunia-karunia dari kasih karunia dalam hayat, dan hanya memperhatikan karunia yang ajaib, tidak lama lagi gereja akan terpecah-belah. Karunia-karunia ajaib tidak dapat membangun gereja. Hanya karunia-karunia dalam hayatlah yang dapat membangun gereja.
Saudara saudari, setiap hari kita perlu bertumbuh di dalam hayat dan mengejar karunia-karunia dalam hayat, yaitu bertutur sabda di dalam sidang, melayani, mengajar, menasehati, mempersembahkan harta, menjadi pemimpin yang rajin (teladan) dan bermurah hati. Inilah yang dimaksudkan Paulus bahwa ia merawat, menanam, Apolos menyiram, dan Allah yang memberikan pertumbuhan (1 Kor. 3:6). Melalui pertumbuhan menghasilkan ketrampilan dan karunia yang berguna dalam pembangunan rumah Allah dengan bahan yang tepat, yang telah mengalami pengubahan. Lihatlah bayi yang baru dilahirkan. Meski telah memiliki organ-organ yang lengkap, tetapi sedikit sekali organ-organnya yang dapat berfungsi. Semakin ia diberi makan oleh ibunya, ia akan semakin bertumbuh. Setelah beberapa waktu, ia bisa berjalan, dan lewat beberapa waktu lagi, ia bisa berbicara. Akhirnya ia bertumbuh sepenuhnya dan seluruh ketrampilannya berkembang, serta memiliki fungsi yang riil. Ketrampilan-ketrampilannya itu adalah karunia yang timbul dari pertumbuhan hayatnya.
Kamu memang berusaha memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih daripada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat. (1 Kor. 14:12)
11 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 4 Selasa
Anggota yang Seorang Terhadap yang Lain
Roma 12:5
Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
Ayat Bacaan: Rom. 12:5
Tujuan keselamatan Allah adalah agar Kristus tereproduksi di dalam jutaan kaum beriman, supaya mereka bisa menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya, bukan merupakan satuan lengkap individual yang terpisah-pisah, melainkan bagian dari satu satuan yang hidup, berfungsi, berkoordinasi, korporat yang utuh.
Perbedaan fungsi anggota-anggota Tubuh dapat tertampak dari wajah manusia. Pandanglah wajah kita: kita mempunyai dua mata, dua telinga, satu hidung, dan dua belah bibir. Mata mungkin berkata kepada hidung, “Tahukah kamu bahwa aku tak dapat melakukan apa yang dapat kamu lakukan, dan kamu tidak dapat melakukan apa yang dapat kulakukan?” Hidung akan menjawab, “Ya, saudara Mata. Memang indah sekali. Kita semua harus mengerti, kamu atau aku, tidak dapat mengerjakan apa yang dapat dikerjakan saudara Telinga.” Lalu telinga pun akan menyahut, “Saudara-saudara, kalian memang benar, tetapi saudara Bibir dapat mengerjakan hal yang tidak dapat kita kerjakan.” Wajah kita telah menyatakan keadaan sebenarnya dari segenap tubuh kita; kita mempunyai banyak anggota, dan masing-masing anggota memiliki fungsi yang berbeda. Itulah keadaan yang sepatutnya dalam kehidupan gereja.
Meskipun memiliki fungsi yang berbeda, setiap kaum beriman tidak terpisah satu sama lain. Sebaliknya, “kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain” (Rm. 12:5). Karena itu tidak seharusnya ada sifat individualistis. Hari ini Allah sedang mencari manusia. Allah ingin melalui manusia menyalurkan hayat ke dalam Tubuh. Kalau hayat terhenti di atas diri kita, gereja dirugikan. Tidak ada kegagalan individu yang tidak merugikan gereja. Sebab itu, kalau kita gagal dan kerohanian kita merosot, Tubuh akan dirugikan juga. Setiap anggota Tubuh bisa mempengaruhi orang lain. Jangan hidup berdasarkan diri sendiri. Kita harus berpegang teguh pada Kepala, mencari persekutuan. Sebelum kita memutuskan suatu perkara, terlebih dulu harus bersekutu. Semua ada di dalam Tubuh Kristus, semua melewati Tubuh, semua juga untuk Tubuh. Semoga Tuhan membuat kita nampak Tubuh Kristus.
Karena itu, jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. (1 Kor. 12:26)
Roma 12:5
Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
Ayat Bacaan: Rom. 12:5
Tujuan keselamatan Allah adalah agar Kristus tereproduksi di dalam jutaan kaum beriman, supaya mereka bisa menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya, bukan merupakan satuan lengkap individual yang terpisah-pisah, melainkan bagian dari satu satuan yang hidup, berfungsi, berkoordinasi, korporat yang utuh.
Perbedaan fungsi anggota-anggota Tubuh dapat tertampak dari wajah manusia. Pandanglah wajah kita: kita mempunyai dua mata, dua telinga, satu hidung, dan dua belah bibir. Mata mungkin berkata kepada hidung, “Tahukah kamu bahwa aku tak dapat melakukan apa yang dapat kamu lakukan, dan kamu tidak dapat melakukan apa yang dapat kulakukan?” Hidung akan menjawab, “Ya, saudara Mata. Memang indah sekali. Kita semua harus mengerti, kamu atau aku, tidak dapat mengerjakan apa yang dapat dikerjakan saudara Telinga.” Lalu telinga pun akan menyahut, “Saudara-saudara, kalian memang benar, tetapi saudara Bibir dapat mengerjakan hal yang tidak dapat kita kerjakan.” Wajah kita telah menyatakan keadaan sebenarnya dari segenap tubuh kita; kita mempunyai banyak anggota, dan masing-masing anggota memiliki fungsi yang berbeda. Itulah keadaan yang sepatutnya dalam kehidupan gereja.
Meskipun memiliki fungsi yang berbeda, setiap kaum beriman tidak terpisah satu sama lain. Sebaliknya, “kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain” (Rm. 12:5). Karena itu tidak seharusnya ada sifat individualistis. Hari ini Allah sedang mencari manusia. Allah ingin melalui manusia menyalurkan hayat ke dalam Tubuh. Kalau hayat terhenti di atas diri kita, gereja dirugikan. Tidak ada kegagalan individu yang tidak merugikan gereja. Sebab itu, kalau kita gagal dan kerohanian kita merosot, Tubuh akan dirugikan juga. Setiap anggota Tubuh bisa mempengaruhi orang lain. Jangan hidup berdasarkan diri sendiri. Kita harus berpegang teguh pada Kepala, mencari persekutuan. Sebelum kita memutuskan suatu perkara, terlebih dulu harus bersekutu. Semua ada di dalam Tubuh Kristus, semua melewati Tubuh, semua juga untuk Tubuh. Semoga Tuhan membuat kita nampak Tubuh Kristus.
Karena itu, jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. (1 Kor. 12:26)
10 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 4 Senin
Memandang Diri Menurut Ukuran Iman
Roma 12:3b
Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir sedemikian rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing masing.
Ayat Bacaan: Rm. 12:3; Flp. 2:3b; 1 Ptr. 5:5
Frase kata “memikirkan hal-hal yang lebih tinggi” dalam bahasa aslinya mengacu kepada “menganggap, menilai, atau memandang diri sendiri lebih tinggi”. Setiap orang selalu memandang tinggi dirinya sendiri. Mungkin pada luarnya tampaknya kita rendah hati, tetapi dalam batin, kita sering memandang tinggi diri kita sendiri dan berpikir orang lain lebih rendah. Ini adalah satu masalah bagi kehidupan gereja. Ketika Tuhan Yesus memberitahukan tentang kematian-Nya dan murid-murid-Nya akan terguncang imannya, Petrus berpikir bahwa anggota yang lain akan jatuh dan gagal sedangkan dirinya tidak. Namun ketika ujian datang, dia gagal sama seperti yang lain. Jadi mereka yang berpikir terlalu tinggi mengenai dirinya dan memandang rendah anggota-anggota lainnya cepat atau lambat akan mendapatkan kesulitan.
Dalam Tubuh Kristus, setiap orang adalah satu anggota dan tidak lebih daripada satu anggota. Dengan demikian, tidak ada satu anggota pun dapat hidup tanpa anggota-anggota lainnya, apalagi merendahkan mereka. Jika kita ingin menempuh satu kehidupan gereja yang wajar, hal pertama yang harus kita hancurkan adalah rasa tinggi diri / kesombongan. Kita perlu “memandang diri dengan pikiran yang wajar”. Kalau kita memandang diri sendiri tinggi, itu berarti pikiran kita tidak wajar dan tidak normal. Dengan kata lain, di dalam pikiran kita ada unsur yang tidak sewajarnya. Karena itu, pikiran kita perlu disesuaikan dan diperbarui, dan segala unsur negatif di dalamnya perlu ditelan oleh hayat Kristus. Dengan demikian barulah pikiran kita dapat menjadi wajar, diperbarui.
Sebaliknya kita perlu memandang diri sendiri “menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kita masing-masing”. Kata “ukuran iman” tidak sukar untuk dipahami. Berapa banyak diri Allah yang ditransfusikan dan diinfuskan ke dalam kita, itulah yang menjadi ukuran iman kita. Saudara saudari, mulai hari ini kita harus memandang diri dengan pikiran yang wajar, setiap hari menerima penginfusan diri Allah ke dalam kita, senang berkoordinasi dengan orang lain, berfungsi menurut ukuran kita sendiri dan tidak melangkahi orang lain atau meremehkan diri sendiri. Jika demikian, Tubuh Kristus akan terbangun.
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. (Flp. 2:3b)
Roma 12:3b
Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir sedemikian rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing masing.
Ayat Bacaan: Rm. 12:3; Flp. 2:3b; 1 Ptr. 5:5
Frase kata “memikirkan hal-hal yang lebih tinggi” dalam bahasa aslinya mengacu kepada “menganggap, menilai, atau memandang diri sendiri lebih tinggi”. Setiap orang selalu memandang tinggi dirinya sendiri. Mungkin pada luarnya tampaknya kita rendah hati, tetapi dalam batin, kita sering memandang tinggi diri kita sendiri dan berpikir orang lain lebih rendah. Ini adalah satu masalah bagi kehidupan gereja. Ketika Tuhan Yesus memberitahukan tentang kematian-Nya dan murid-murid-Nya akan terguncang imannya, Petrus berpikir bahwa anggota yang lain akan jatuh dan gagal sedangkan dirinya tidak. Namun ketika ujian datang, dia gagal sama seperti yang lain. Jadi mereka yang berpikir terlalu tinggi mengenai dirinya dan memandang rendah anggota-anggota lainnya cepat atau lambat akan mendapatkan kesulitan.
Dalam Tubuh Kristus, setiap orang adalah satu anggota dan tidak lebih daripada satu anggota. Dengan demikian, tidak ada satu anggota pun dapat hidup tanpa anggota-anggota lainnya, apalagi merendahkan mereka. Jika kita ingin menempuh satu kehidupan gereja yang wajar, hal pertama yang harus kita hancurkan adalah rasa tinggi diri / kesombongan. Kita perlu “memandang diri dengan pikiran yang wajar”. Kalau kita memandang diri sendiri tinggi, itu berarti pikiran kita tidak wajar dan tidak normal. Dengan kata lain, di dalam pikiran kita ada unsur yang tidak sewajarnya. Karena itu, pikiran kita perlu disesuaikan dan diperbarui, dan segala unsur negatif di dalamnya perlu ditelan oleh hayat Kristus. Dengan demikian barulah pikiran kita dapat menjadi wajar, diperbarui.
Sebaliknya kita perlu memandang diri sendiri “menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kita masing-masing”. Kata “ukuran iman” tidak sukar untuk dipahami. Berapa banyak diri Allah yang ditransfusikan dan diinfuskan ke dalam kita, itulah yang menjadi ukuran iman kita. Saudara saudari, mulai hari ini kita harus memandang diri dengan pikiran yang wajar, setiap hari menerima penginfusan diri Allah ke dalam kita, senang berkoordinasi dengan orang lain, berfungsi menurut ukuran kita sendiri dan tidak melangkahi orang lain atau meremehkan diri sendiri. Jika demikian, Tubuh Kristus akan terbangun.
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. (Flp. 2:3b)
09 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 3 Minggu
Membedakan Kehendak Allah
Roma 12:2
...tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Ayat Bacaan: Rm. 12:2; Ibr. 10:7
Kita perlu pembaruan pikiran dan pengubahan jiwa, supaya kita dapat “membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” Apakah kehendak Allah? Kehendak Allah adalah memiliki kehidupan Tubuh, kehidupan gereja. Jangan kita menerapkan kehendak Allah dalam Roma 12:2 untuk keadaan insani pribadi kita, misalnya dalam hal pernikahan, mencari pekerjaan, atau mencari rumah. Ada beberapa orang berdoa demikian, “O, Tuhan, aku ingin membeli sebuah rumah baru, bagaimana kehendak-Mu? Harus ada berapa kamar tidur dan kamar mandi? Seharga berapa? O, Tuhan, aku ingin mengetahui kehendak-Mu.” Lupakanlah doa-doa semacam itu! Sebab semakin kita berdoa demikian dan mencari kehendak Tuhan, kita akan semakin berada di luar kehendak-Nya, dan terperosok ke dalam kegelapan.
Kehendak yang dikatakan dalam Roma 12:2, adalah menempuh kehidupan gereja. Rumah yang kita beli, pekerjaan yang kita cari, dan orang yang Anda nikahi, semuanya harus tergantung pada kehidupan gereja. Bahkan pakaian yang hendak kita pakai juga harus tergantung pada kehidupan gereja. Kalau sikap kita benar terhadap kehidupan gereja, kita akan tahu apakah yang harus kita perbuat. Setiap perkara haruslah bagi kehidupan gereja, sebab menempuh kehidupan gereja adalah kehendak Allah yang unik. Itulah yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna, dan hal itu untuk kehidupan Tubuh. Jadi, persembahan tubuh kita, pengubahan jiwa kita, dan pembaruan pikiran kita, semuanya adalah untuk kehidupan Tubuh. Ibrani 10:7 dikutip langsung dari perkataan Tuhan sendiri, “Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Konteks ayat ini adalah inkarnasi Tuhan Yesus, perkara yang sangat besar; karena itu, ketika Ia memproklamirkan ketaatan-Nya kepada kehendak Al-lah, Ia tidak sekadar mengacu kepada perkara-perkara kecil seperti pakaian, makanan, tempat tinggal, dan perkara-perkara kehidupan lain yang kecil, tetapi kepada seluruh pergerakan-Nya di bumi dalam merampungkan rencana kekal Allah. Semoga Tuhan membuka mata kita dan mengubah konsepsi kita terhadap kehendak Allah.
Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna. (Kol. 1:9b)
Roma 12:2
...tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Ayat Bacaan: Rm. 12:2; Ibr. 10:7
Kita perlu pembaruan pikiran dan pengubahan jiwa, supaya kita dapat “membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” Apakah kehendak Allah? Kehendak Allah adalah memiliki kehidupan Tubuh, kehidupan gereja. Jangan kita menerapkan kehendak Allah dalam Roma 12:2 untuk keadaan insani pribadi kita, misalnya dalam hal pernikahan, mencari pekerjaan, atau mencari rumah. Ada beberapa orang berdoa demikian, “O, Tuhan, aku ingin membeli sebuah rumah baru, bagaimana kehendak-Mu? Harus ada berapa kamar tidur dan kamar mandi? Seharga berapa? O, Tuhan, aku ingin mengetahui kehendak-Mu.” Lupakanlah doa-doa semacam itu! Sebab semakin kita berdoa demikian dan mencari kehendak Tuhan, kita akan semakin berada di luar kehendak-Nya, dan terperosok ke dalam kegelapan.
Kehendak yang dikatakan dalam Roma 12:2, adalah menempuh kehidupan gereja. Rumah yang kita beli, pekerjaan yang kita cari, dan orang yang Anda nikahi, semuanya harus tergantung pada kehidupan gereja. Bahkan pakaian yang hendak kita pakai juga harus tergantung pada kehidupan gereja. Kalau sikap kita benar terhadap kehidupan gereja, kita akan tahu apakah yang harus kita perbuat. Setiap perkara haruslah bagi kehidupan gereja, sebab menempuh kehidupan gereja adalah kehendak Allah yang unik. Itulah yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna, dan hal itu untuk kehidupan Tubuh. Jadi, persembahan tubuh kita, pengubahan jiwa kita, dan pembaruan pikiran kita, semuanya adalah untuk kehidupan Tubuh. Ibrani 10:7 dikutip langsung dari perkataan Tuhan sendiri, “Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Konteks ayat ini adalah inkarnasi Tuhan Yesus, perkara yang sangat besar; karena itu, ketika Ia memproklamirkan ketaatan-Nya kepada kehendak Al-lah, Ia tidak sekadar mengacu kepada perkara-perkara kecil seperti pakaian, makanan, tempat tinggal, dan perkara-perkara kehidupan lain yang kecil, tetapi kepada seluruh pergerakan-Nya di bumi dalam merampungkan rencana kekal Allah. Semoga Tuhan membuka mata kita dan mengubah konsepsi kita terhadap kehendak Allah.
Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna. (Kol. 1:9b)
08 January 2011
Roma Volume 5 - MInggu 3 Sabtu
Berubah oleh Pembaruan Pikiran
Roma 12:2a
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan pikiran (Tl.)
Ayat Bacaan:Rm. 12:2; Ef. 4:23; Tit. 3:5
Kita tidak boleh menjadi serupa dengan zaman ini, tetapi harus berubah oleh pembaruan pikiran kita (Ef. 4:23; Tit. 3:5). Menjadi serupa dengan zaman ini berarti menerima mode modern pada lahirnya; sedang berubah ialah menerima suatu unsur organik ke dalam diri kita, yang mendatangkan suatu perubahan metabolis. Kita perlu berubah melalui pembaruan pikiran. Pikiran dalam Roma 12 berbeda dengan pikiran dalam Roma 7 dan 8. Dalam Roma 7, pikiran itu bersikap menyendiri, dan beraksi dengan bebas. Dalam Roma 8 pikiran telah memiliki sandaran, yakni terletak di atas roh. Meletakkan pikiran kita di atas roh, masih tidak cukup. Pikiran tidak saja harus memiliki sandaran, juga harus diperbarui. Roma 12:2 memberi tahu kita bahwa kita memerlukan pembaruan pikiran. Pikiran diperbarui tidak hanya melalui pengajaran-pengajaran di luar, melainkan melalui bertambahnya unsur-unsur Kristus di dalamnya. Bila Tuhan Yesus memperluas diri-Nya dari roh kita ke pikiran kita, maka pikiran kita akan diperbarui. Melalui pikiran yang telah diperbarui itu, jiwa kita berubah secara metabolis. Dengan demikianlah, kita mengalami pengubahan dalam jiwa kita. Kalau kita ingin melaksanakan kehidupan gereja, kita perlu mengalami pengubahan dalam jiwa kita melalui pembaruan pikiran kita.
Kita yang telah dipisahkan, dikuduskan kepada Allah seharusnya tidak bercampur-baur dengan dunia ini. Sebaliknya, kita harus memperhatikan pe- ngubahan melalui pembaruan pikiran kita yang dilaksanakan oleh Tuhan Roh dengan bergerak dan bekerja di dalam kita melalui hayat ilahi dan sifat ilahi. Ada seorang saudara yang dahulu suka memakai sepasang sepatu yang dihiasi rumbai-rumbai, namun sekarang ia telah memakai sepasang sepatu lainnya tanpa hiasan. Ini dikarenakan pikirannya telah dibarui; ia tidak lagi mengikuti mode zaman ini. Demikian pula, para saudari seharusnya tidak di satu pihak membicarakan tentang mengasihi Tuhan, tetapi di pihak lain, memakai lipstik tebal-tebal. Jika para saudari lebih banyak mengatakan, “O, Tuhan, aku cinta pada-Mu,” lipstik yang mereka pakai setiap hari akan semakin berkurang dan akhirnya akan hilang. Ini karena pikiran mereka diperbarui dan diubah.
Supaya kamu dibaharui di dalam roh pikiranmu. (Ef. 4:23, Tl.)
Roma 12:2a
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan pikiran (Tl.)
Ayat Bacaan:Rm. 12:2; Ef. 4:23; Tit. 3:5
Kita tidak boleh menjadi serupa dengan zaman ini, tetapi harus berubah oleh pembaruan pikiran kita (Ef. 4:23; Tit. 3:5). Menjadi serupa dengan zaman ini berarti menerima mode modern pada lahirnya; sedang berubah ialah menerima suatu unsur organik ke dalam diri kita, yang mendatangkan suatu perubahan metabolis. Kita perlu berubah melalui pembaruan pikiran. Pikiran dalam Roma 12 berbeda dengan pikiran dalam Roma 7 dan 8. Dalam Roma 7, pikiran itu bersikap menyendiri, dan beraksi dengan bebas. Dalam Roma 8 pikiran telah memiliki sandaran, yakni terletak di atas roh. Meletakkan pikiran kita di atas roh, masih tidak cukup. Pikiran tidak saja harus memiliki sandaran, juga harus diperbarui. Roma 12:2 memberi tahu kita bahwa kita memerlukan pembaruan pikiran. Pikiran diperbarui tidak hanya melalui pengajaran-pengajaran di luar, melainkan melalui bertambahnya unsur-unsur Kristus di dalamnya. Bila Tuhan Yesus memperluas diri-Nya dari roh kita ke pikiran kita, maka pikiran kita akan diperbarui. Melalui pikiran yang telah diperbarui itu, jiwa kita berubah secara metabolis. Dengan demikianlah, kita mengalami pengubahan dalam jiwa kita. Kalau kita ingin melaksanakan kehidupan gereja, kita perlu mengalami pengubahan dalam jiwa kita melalui pembaruan pikiran kita.
Kita yang telah dipisahkan, dikuduskan kepada Allah seharusnya tidak bercampur-baur dengan dunia ini. Sebaliknya, kita harus memperhatikan pe- ngubahan melalui pembaruan pikiran kita yang dilaksanakan oleh Tuhan Roh dengan bergerak dan bekerja di dalam kita melalui hayat ilahi dan sifat ilahi. Ada seorang saudara yang dahulu suka memakai sepasang sepatu yang dihiasi rumbai-rumbai, namun sekarang ia telah memakai sepasang sepatu lainnya tanpa hiasan. Ini dikarenakan pikirannya telah dibarui; ia tidak lagi mengikuti mode zaman ini. Demikian pula, para saudari seharusnya tidak di satu pihak membicarakan tentang mengasihi Tuhan, tetapi di pihak lain, memakai lipstik tebal-tebal. Jika para saudari lebih banyak mengatakan, “O, Tuhan, aku cinta pada-Mu,” lipstik yang mereka pakai setiap hari akan semakin berkurang dan akhirnya akan hilang. Ini karena pikiran mereka diperbarui dan diubah.
Supaya kamu dibaharui di dalam roh pikiranmu. (Ef. 4:23, Tl.)
07 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 3 Jumat
Mempersembahkan Tubuhmu
Roma 12:1
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Ayat Bacaan: Rm. 12:1
Banyak orang yang disebut orang Kristen rohani, sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, dan juga menuntut pertumbuhan hayat sesuai dengan ajaran Roma 6 dan 8. Namun, setelah pasal 8, bahkan se- telah pasal 11, masih ada satu bagian lain, yang menunjukkan bahwa sekali pun kita telah memiliki standar Roma 8, itu masih ada kekurangannya, sebab masih belum ada kehidupan gereja. Pengalaman-pengalaman rohani seperti pengudusan, pemuliaan, dan penyerupaan, semuanya tidak dapat berdiri sendiri. Pengudusan bukan untuk pengudusan, penyerupaan juga bukan untuk penyerupaan. Kedua pengalaman tersebut adalah untuk pelaksanaan kehidupan gereja. Sesudah pasal 8 dan 11, Paulus menasihati kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Tujuan persembahan itu bukan supaya kita lebih rohani, melainkan supaya kita dapat melaksanakan kehidupan Tubuh.
Kehidupan Tubuh ialah pelaksanaan kehidupan gereja. Tanpa kehidupan Tubuh, kehidupan gereja hanya merupakan suatu istilah. Kehidupan gereja baru mungkin terwujud dan menjadi riil dalam pelaksanaan kehidupan Tubuh. Ketika Paulus mulai membahas masalah kehidupan gereja, ia minta kaum beriman mempersembahkan tubuh mereka, karena sebagai manusia, tidak ada perkara lain yang lebih riil dan praktis daripada tubuh kita.
Ada beberapa orang Kristen berkata, “Aku terlalu letih, tak dapat menghadiri sidang. Kalian saja yang pergi, aku di rumah mendoakan kalian. Tubuhku tidak bisa menghadiri sidang karena letih, tetapi hati dan rohku menyertai kalian.” Kata-kata semacam ini kedengarannya manis, tetapi sebetulnya menipu orang. Kita harus tahu bahwa kita berada di dalam tubuh. Di mana tubuh kita berada, di situ pula manusia kita berada. Andaikata semua orang saleh mengatakan mereka terlalu letih untuk menghadiri sidang, bayangkan sidang itu akan menjadi sidang macam apa? Karena itulah, Paulus minta agar saudara-saudara mempersembahkan tubuh mereka. Jika kita benar-benar hidup untuk kehendak dan tujuan Allah, kita perlu mempersembahkan tubuh kita. Itu adalah suatu hal yang sangat berkenan di mata Allah.
...Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. (Rm. 6:13b)
Roma 12:1
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Ayat Bacaan: Rm. 12:1
Banyak orang yang disebut orang Kristen rohani, sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, dan juga menuntut pertumbuhan hayat sesuai dengan ajaran Roma 6 dan 8. Namun, setelah pasal 8, bahkan se- telah pasal 11, masih ada satu bagian lain, yang menunjukkan bahwa sekali pun kita telah memiliki standar Roma 8, itu masih ada kekurangannya, sebab masih belum ada kehidupan gereja. Pengalaman-pengalaman rohani seperti pengudusan, pemuliaan, dan penyerupaan, semuanya tidak dapat berdiri sendiri. Pengudusan bukan untuk pengudusan, penyerupaan juga bukan untuk penyerupaan. Kedua pengalaman tersebut adalah untuk pelaksanaan kehidupan gereja. Sesudah pasal 8 dan 11, Paulus menasihati kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Tujuan persembahan itu bukan supaya kita lebih rohani, melainkan supaya kita dapat melaksanakan kehidupan Tubuh.
Kehidupan Tubuh ialah pelaksanaan kehidupan gereja. Tanpa kehidupan Tubuh, kehidupan gereja hanya merupakan suatu istilah. Kehidupan gereja baru mungkin terwujud dan menjadi riil dalam pelaksanaan kehidupan Tubuh. Ketika Paulus mulai membahas masalah kehidupan gereja, ia minta kaum beriman mempersembahkan tubuh mereka, karena sebagai manusia, tidak ada perkara lain yang lebih riil dan praktis daripada tubuh kita.
Ada beberapa orang Kristen berkata, “Aku terlalu letih, tak dapat menghadiri sidang. Kalian saja yang pergi, aku di rumah mendoakan kalian. Tubuhku tidak bisa menghadiri sidang karena letih, tetapi hati dan rohku menyertai kalian.” Kata-kata semacam ini kedengarannya manis, tetapi sebetulnya menipu orang. Kita harus tahu bahwa kita berada di dalam tubuh. Di mana tubuh kita berada, di situ pula manusia kita berada. Andaikata semua orang saleh mengatakan mereka terlalu letih untuk menghadiri sidang, bayangkan sidang itu akan menjadi sidang macam apa? Karena itulah, Paulus minta agar saudara-saudara mempersembahkan tubuh mereka. Jika kita benar-benar hidup untuk kehendak dan tujuan Allah, kita perlu mempersembahkan tubuh kita. Itu adalah suatu hal yang sangat berkenan di mata Allah.
...Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. (Rm. 6:13b)
06 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 3 Kamis
Segala Sesuatu Dari, Oleh dan Kepada Dia
Roma 11:36
Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Ayat Bacaan: Ef. 3:14-15; 1 Kor. 8:6; Ibr. 2:10
Dalam Roma 9-11, Paulus seolah-olah memberi kita sebuah peta, sehingga kita dapat menyusuri jejak-jejak Allah. Allah menerima pujian dan kemuliaan dalam tiga masa. Dalam masa lampau, sebab segala sesuatu berasal dari Dia; dalam masa kini, sebab segala sesuatu oleh Dia; dan dalam masa yang akan datang, sebab segala sesuatu kepada (untuk) Dia. Segala sesuatu ada dari Allah pada masa lalu, eksis oleh-Nya pada masa kini, dan akan disembahkan kepada-Nya pada masa yang akan datang. Pilihan Allah adalah menurut diri-Nya sendiri, menurut kesukaan-Nya, bukan menurut perkara yang lain. Segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan kepada (untuk) Dia.
Sebagai Bapa dari semua keluarga yang di dalam surga maupun di bumi (Ef. 3:14-15), Allah adalah sumber dari segala sesuatu. Segala sesuatu berasal dari Dia. Satu Korintus 8:6 mengatakan, ”Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu.” Ayat ini memberi tahu kita sekali lagi bahwa Allah yang adalah Bapa adalah sumber segala sesuatu. Bapa di sini bukan hanya ditujukan kepada Allah sebagai Bapa kaum beriman yang dilahirkan kembali, tetapi juga kepada Dia sebagai sumber segala sesuatu. Ini dibuktikan dengan perkataan, ”dari pada-Nya berasal segala sesuatu.” Segala sesuatu adalah dari Allah sebagai sumber; karenanya Allah disebut Bapa. Dia bukan hanya Bapa kaum beriman dalam kelahiran kembali, tetapi Dia adalah Bapa dari segala sesuatu yang diciptakan dalam penciptaan karena segala sesuatu berasal dari Dia.
Ibrani 2:10 memberi tahu kita bahwa Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan adalah Allah ”yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan.” Untuk membawa banyak anak kepada kemuliaan, Allah perlu langit, bumi, dan segala sesuatu. Segala sesuatu yang Allah ciptakan untuk perampungan tujuan-Nya menjadi ada melalui Dia pada masa kini dan untuk Dia pada masa mendatang. Allah itulah yang memelihara segala sesuatu dalam alam semesta agar semua itu dapat menunjang tujuan-Nya. Semoga dalam hidup ini kita kembali mempersembahkan diri kita bagi kehendak Allah.
Sebab itu, marilah kita, melalui Dia, senantiasa mempersembahkan kurban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. (Ibr. 13:15)
Roma 11:36
Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Ayat Bacaan: Ef. 3:14-15; 1 Kor. 8:6; Ibr. 2:10
Dalam Roma 9-11, Paulus seolah-olah memberi kita sebuah peta, sehingga kita dapat menyusuri jejak-jejak Allah. Allah menerima pujian dan kemuliaan dalam tiga masa. Dalam masa lampau, sebab segala sesuatu berasal dari Dia; dalam masa kini, sebab segala sesuatu oleh Dia; dan dalam masa yang akan datang, sebab segala sesuatu kepada (untuk) Dia. Segala sesuatu ada dari Allah pada masa lalu, eksis oleh-Nya pada masa kini, dan akan disembahkan kepada-Nya pada masa yang akan datang. Pilihan Allah adalah menurut diri-Nya sendiri, menurut kesukaan-Nya, bukan menurut perkara yang lain. Segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan kepada (untuk) Dia.
Sebagai Bapa dari semua keluarga yang di dalam surga maupun di bumi (Ef. 3:14-15), Allah adalah sumber dari segala sesuatu. Segala sesuatu berasal dari Dia. Satu Korintus 8:6 mengatakan, ”Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu.” Ayat ini memberi tahu kita sekali lagi bahwa Allah yang adalah Bapa adalah sumber segala sesuatu. Bapa di sini bukan hanya ditujukan kepada Allah sebagai Bapa kaum beriman yang dilahirkan kembali, tetapi juga kepada Dia sebagai sumber segala sesuatu. Ini dibuktikan dengan perkataan, ”dari pada-Nya berasal segala sesuatu.” Segala sesuatu adalah dari Allah sebagai sumber; karenanya Allah disebut Bapa. Dia bukan hanya Bapa kaum beriman dalam kelahiran kembali, tetapi Dia adalah Bapa dari segala sesuatu yang diciptakan dalam penciptaan karena segala sesuatu berasal dari Dia.
Ibrani 2:10 memberi tahu kita bahwa Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan adalah Allah ”yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan.” Untuk membawa banyak anak kepada kemuliaan, Allah perlu langit, bumi, dan segala sesuatu. Segala sesuatu yang Allah ciptakan untuk perampungan tujuan-Nya menjadi ada melalui Dia pada masa kini dan untuk Dia pada masa mendatang. Allah itulah yang memelihara segala sesuatu dalam alam semesta agar semua itu dapat menunjang tujuan-Nya. Semoga dalam hidup ini kita kembali mempersembahkan diri kita bagi kehendak Allah.
Sebab itu, marilah kita, melalui Dia, senantiasa mempersembahkan kurban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. (Ibr. 13:15)
05 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 3 Rabu
Alangkah Dalamnya Hikmat Allah!
Roma 11:33
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Ayat Bacaan: Rm. 11:33; 16:27; Ef. 3:10
Roma 11:33 membicarakan hikmat Allah, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Pada akhir kitab Roma, Paulus mengatakan, “Bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin” (Rm. 16:27). Hikmat berbeda dengan kepandaian, hikmat lebih dalam dari kepandaian. Dapat saja seseorang itu pandai tetapi tidak berhikmat. Contohnya, seorang kriminal bisa jadi sangat pandai, tetapi ia sama sekali tidak berhikmat. Allah sangat berhikmat dan melalui alam semesta Allah menyatakan hikmat-Nya.
Efesus 3:10 membicarakan pelbagai ragam hikmat Allah yang diberitahukan kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga melalui gereja. Istilah Yunani yang diterjemahkan “pelbagai ragam” mengindikasikan bahwa hikmat Allah memiliki banyak sisi, aspek, dan arah.
Hanya melalui masalah-masalah barulah segala aspek hikmat Allah bisa dinyatakan. Dalam hal ini, berarti Allah memerlukan masalah-masalah dan gangguan-gangguan: Ia bahkan memerlukan musuh-Nya, Iblis. Tanpa Iblis, hikmat Allah tidak dapat dinyatakan sepenuhnya. Iblis telah memberi banyak kesempatan sehingga hikmat Allah dapat dinyatakan dalam berbagai cara, salah satunya adalah pemberontakan Iblis. Pemberontakan ini membuat hikmat Allah ternyata. Jika bukan karena pemberontakan Iblis, hikmat Allah tidak diberitahukan sepenuhnya. Jika kita adalah seorang yang penuh hikmat, semakin banyak masalah dan kesulitan yang kita hadapi maka semakin banyak hikmat yang akan kita ekspresikan. Tetapi jika segala sesuatu yang berhubungan dengan kita itu aman tenteram dan tanpa masalah, kita tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan hikmat kita. Kita perlu memiliki masalah-masalah untuk memamerkan hikmat kita. Demikian juga Allah perlu masalah-masalah untuk memamerkan hikmat-Nya. Apa pun yang dilakukan oleh musuh Allah akan memberi kesempatan kepada Allah untuk memamerkan hikmat-Nya.
Supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga. (Ef. 3:10)
Roma 11:33
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Ayat Bacaan: Rm. 11:33; 16:27; Ef. 3:10
Roma 11:33 membicarakan hikmat Allah, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Pada akhir kitab Roma, Paulus mengatakan, “Bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin” (Rm. 16:27). Hikmat berbeda dengan kepandaian, hikmat lebih dalam dari kepandaian. Dapat saja seseorang itu pandai tetapi tidak berhikmat. Contohnya, seorang kriminal bisa jadi sangat pandai, tetapi ia sama sekali tidak berhikmat. Allah sangat berhikmat dan melalui alam semesta Allah menyatakan hikmat-Nya.
Efesus 3:10 membicarakan pelbagai ragam hikmat Allah yang diberitahukan kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga melalui gereja. Istilah Yunani yang diterjemahkan “pelbagai ragam” mengindikasikan bahwa hikmat Allah memiliki banyak sisi, aspek, dan arah.
Hanya melalui masalah-masalah barulah segala aspek hikmat Allah bisa dinyatakan. Dalam hal ini, berarti Allah memerlukan masalah-masalah dan gangguan-gangguan: Ia bahkan memerlukan musuh-Nya, Iblis. Tanpa Iblis, hikmat Allah tidak dapat dinyatakan sepenuhnya. Iblis telah memberi banyak kesempatan sehingga hikmat Allah dapat dinyatakan dalam berbagai cara, salah satunya adalah pemberontakan Iblis. Pemberontakan ini membuat hikmat Allah ternyata. Jika bukan karena pemberontakan Iblis, hikmat Allah tidak diberitahukan sepenuhnya. Jika kita adalah seorang yang penuh hikmat, semakin banyak masalah dan kesulitan yang kita hadapi maka semakin banyak hikmat yang akan kita ekspresikan. Tetapi jika segala sesuatu yang berhubungan dengan kita itu aman tenteram dan tanpa masalah, kita tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan hikmat kita. Kita perlu memiliki masalah-masalah untuk memamerkan hikmat kita. Demikian juga Allah perlu masalah-masalah untuk memamerkan hikmat-Nya. Apa pun yang dilakukan oleh musuh Allah akan memberi kesempatan kepada Allah untuk memamerkan hikmat-Nya.
Supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga. (Ef. 3:10)
04 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 3 Selasa
Tunas Liar telah Dicangkokkan
Roma 11:17
Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah...
Ayat Bacaan: Rm. 9:4-8; Hos. 11:1; Mat. 2:15
Pohon zaitun sejati dalam Roma 11:24 adalah bangsa Israel pilihan Allah dengan Kristus sebagai realitas hayat dan segala sesuatu mereka (Rm. 9:4-8). Kristus adalah akar pohon zaitun sejati ini. Di samping itu, kekayaan pohon zaitun untuk kenikmatan kita ada di dalam Kristus sebagai akar pohon ini. Jika sebuah pohon dipotong dari akarnya, pohon itu akan kehilangan segala-galanya. Hari ini bangsa Israel tetap menolak Kristus dan karenanya dipotong dari-Nya. Tetapi satu hari mereka akan datang kembali kepada-Nya.
Kita, sebagai orang-orang bukan Yahudi dicangkokkan ke dalam pohon zaitun sejati supaya kita dapat menikmati Kristus sebagai akar pohon yang banyak getahnya ini. Roma 11:1 dan Matius 2:15 membuktikan bahwa Kristus adalah realitas hayat Israel sebagai pohon zaitun sejati. Hosea 11:1 mengatakan, “Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu.” Matius 2:15 menerapkan nubuat kepada Kristus yang dibawa keluar dari Mesir. Karena itu, nubuat ini dan penggenapannya mempersatukan Kristus kepada Israel. Hosea 11:1 dan Matius 2:15 membuktikan Kristus benar-benar bersatu dengan bangsa Israel.
Kaum beriman bukan Yahudi sebagai ranting-ranting pohon zaitun sejati ini telah dicangkokkan ke dalamnya untuk mendapat bagian dalam akarnya yang penuh getah, yaitu, menikmati kekayaan Kristus, yaitu akar bangsa Israel. Syukur pada Tuhan bahwa kita, ranting pohon zaitun sejati, telah dicangkokkan ke dalam pohon zaitun sejati Allah supaya kita bisa mendapat bagian dalam akarnya yang penuh getah. Inilah kenikmatan kita.
Kita dicangkokkan ke dalam pohon zaitun sejati seluruhnya adalah perkara hayat. Apa yang kita perlukan sebagai orang bukan Yahudi bukan mengganti agama kita melainkan menerima hayat akar yang penuh getah pohon zaitun sejati, yang hayatnya adalah Kristus. Oleh iman kita dalam Kristus kita telah dicangkokkan ke dalam pohon zaitun yang ditanam oleh Allah dengan Kristus sebagai hayat, dan sekarang kita sedang menikmati kekayaan akar itu, yaitu diri Kristus sendiri, dan bertumbuh di dalam-Nya.
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu... (Yoh. 15:4a)
Roma 11:17
Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah...
Ayat Bacaan: Rm. 9:4-8; Hos. 11:1; Mat. 2:15
Pohon zaitun sejati dalam Roma 11:24 adalah bangsa Israel pilihan Allah dengan Kristus sebagai realitas hayat dan segala sesuatu mereka (Rm. 9:4-8). Kristus adalah akar pohon zaitun sejati ini. Di samping itu, kekayaan pohon zaitun untuk kenikmatan kita ada di dalam Kristus sebagai akar pohon ini. Jika sebuah pohon dipotong dari akarnya, pohon itu akan kehilangan segala-galanya. Hari ini bangsa Israel tetap menolak Kristus dan karenanya dipotong dari-Nya. Tetapi satu hari mereka akan datang kembali kepada-Nya.
Kita, sebagai orang-orang bukan Yahudi dicangkokkan ke dalam pohon zaitun sejati supaya kita dapat menikmati Kristus sebagai akar pohon yang banyak getahnya ini. Roma 11:1 dan Matius 2:15 membuktikan bahwa Kristus adalah realitas hayat Israel sebagai pohon zaitun sejati. Hosea 11:1 mengatakan, “Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu.” Matius 2:15 menerapkan nubuat kepada Kristus yang dibawa keluar dari Mesir. Karena itu, nubuat ini dan penggenapannya mempersatukan Kristus kepada Israel. Hosea 11:1 dan Matius 2:15 membuktikan Kristus benar-benar bersatu dengan bangsa Israel.
Kaum beriman bukan Yahudi sebagai ranting-ranting pohon zaitun sejati ini telah dicangkokkan ke dalamnya untuk mendapat bagian dalam akarnya yang penuh getah, yaitu, menikmati kekayaan Kristus, yaitu akar bangsa Israel. Syukur pada Tuhan bahwa kita, ranting pohon zaitun sejati, telah dicangkokkan ke dalam pohon zaitun sejati Allah supaya kita bisa mendapat bagian dalam akarnya yang penuh getah. Inilah kenikmatan kita.
Kita dicangkokkan ke dalam pohon zaitun sejati seluruhnya adalah perkara hayat. Apa yang kita perlukan sebagai orang bukan Yahudi bukan mengganti agama kita melainkan menerima hayat akar yang penuh getah pohon zaitun sejati, yang hayatnya adalah Kristus. Oleh iman kita dalam Kristus kita telah dicangkokkan ke dalam pohon zaitun yang ditanam oleh Allah dengan Kristus sebagai hayat, dan sekarang kita sedang menikmati kekayaan akar itu, yaitu diri Kristus sendiri, dan bertumbuh di dalam-Nya.
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu... (Yoh. 15:4a)
03 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 3 Senin
Suatu Sisa, Menurut Pilihan Kasih Karunia
Roma 11:5-6a
Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan...
Ayat Bacaan: Rm. 10:21; 11:5; 10:14-15
Dalam Roma 10 Paulus mengatakan orang Israel tidak baik, dan ia membuktikan sejauh mana keburukan mereka. Roma 10:21 me- ngatakan, “Tetapi tentang Israel ia berkata: Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.” Ya, bangsa yang tidak taat dan yang membantah itu memang bangsa yang paling jahat di dunia ini. Ketika membaca pernyataan demikian, kita dapat berkata, “Keadaan orang Israel memang tidak ada harapan, bangsa Israel sudah habis!” Namun, ketika kita membaca pasal 11, kita nampak bagaimana Tuhan berdebat dengan Elia, membela Israel. Di satu aspek, dalam pasal 10, Paulus seolah-olah menentang orang Israel. Tetapi dalam pasal 11, ia berpaling membela orang Israel. Dalam 11:5 dikatakan, “Demikian juga pada waktu ini terdapat suatu sisa, menurut pilihan berdasarkan kasih karunia” (Tl.). Kata Paulus, “Allah bukan hanya menyisakan tujuh ribu orang dalam zaman Elia, bahkan pada masa sekarang ini, ketika kita masih hidup. Allah masih memiliki pilihan-Nya berdasarkan kasih karunia. Maka hari ini pun terdapat suatu sisa.” Prinsip ini berlaku juga bagi kita dewasa ini. Apakah yang dapat kita megahkan? Hanya kasih karunia Tuhan semata.
Melalui Injil Allah mengumumkan kepada kita bahwa Allah telah memilih kita. Siapa saja menerima keselamatan Allah adalah orang yang dipilih Allah. Siapa saja yang menolak Injil adalah menolak pemilihan. Kita semua telah mengecap kasih karunia keselamatan ini secara cuma-cuma. Masih banyak anggota-anggota keluarga kita, teman-teman sekolah atau rekan seprofesi kita yang perlu mendengar Injil pemilihan Allah ini. Namun,….Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Se- perti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rm. 10:14-15). Karena itu marilah kita merebut setiap kesempatan yang Tuhan berikan untuk makin giat memberitakan Injil sehingga Tuhan bisa mendapatkan sisa sekelompok orang sesuai pemilihan kasih karunia-Nya.
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya... (Rm. 8:29)
Roma 11:5-6a
Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan...
Ayat Bacaan: Rm. 10:21; 11:5; 10:14-15
Dalam Roma 10 Paulus mengatakan orang Israel tidak baik, dan ia membuktikan sejauh mana keburukan mereka. Roma 10:21 me- ngatakan, “Tetapi tentang Israel ia berkata: Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.” Ya, bangsa yang tidak taat dan yang membantah itu memang bangsa yang paling jahat di dunia ini. Ketika membaca pernyataan demikian, kita dapat berkata, “Keadaan orang Israel memang tidak ada harapan, bangsa Israel sudah habis!” Namun, ketika kita membaca pasal 11, kita nampak bagaimana Tuhan berdebat dengan Elia, membela Israel. Di satu aspek, dalam pasal 10, Paulus seolah-olah menentang orang Israel. Tetapi dalam pasal 11, ia berpaling membela orang Israel. Dalam 11:5 dikatakan, “Demikian juga pada waktu ini terdapat suatu sisa, menurut pilihan berdasarkan kasih karunia” (Tl.). Kata Paulus, “Allah bukan hanya menyisakan tujuh ribu orang dalam zaman Elia, bahkan pada masa sekarang ini, ketika kita masih hidup. Allah masih memiliki pilihan-Nya berdasarkan kasih karunia. Maka hari ini pun terdapat suatu sisa.” Prinsip ini berlaku juga bagi kita dewasa ini. Apakah yang dapat kita megahkan? Hanya kasih karunia Tuhan semata.
Melalui Injil Allah mengumumkan kepada kita bahwa Allah telah memilih kita. Siapa saja menerima keselamatan Allah adalah orang yang dipilih Allah. Siapa saja yang menolak Injil adalah menolak pemilihan. Kita semua telah mengecap kasih karunia keselamatan ini secara cuma-cuma. Masih banyak anggota-anggota keluarga kita, teman-teman sekolah atau rekan seprofesi kita yang perlu mendengar Injil pemilihan Allah ini. Namun,….Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Se- perti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rm. 10:14-15). Karena itu marilah kita merebut setiap kesempatan yang Tuhan berikan untuk makin giat memberitakan Injil sehingga Tuhan bisa mendapatkan sisa sekelompok orang sesuai pemilihan kasih karunia-Nya.
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya... (Rm. 8:29)
02 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 2 Minggu
Memberitakan-Nya dan Mendengar Tentang Dia
Roma 10:14b-15
... dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”
Ayat Bacaan: Rm. 10:14-15, Yoh. 15:16
Roma 10:14-15 menjelaskan bahwa seorang dapat berseru kepada Tuhan, jika ia percaya kepada-Nya; seorang dapat percaya kepada-Nya jika ia mendengar tentang Dia, dan seorang dapat mendengar tentang Dia jika ada yang memberitakan kabar baik. Untuk itu, perlu ada orang yang diutus Allah untuk memberitakan Injil, supaya orang-orang dosa dapat mendengar Injil, lalu percaya, berseru kepada Tuhan, dan beroleh selamat. Saudara saudari, kita tidak hanya cukup menjadi orang-orang yang telah percaya Tuhan dan berseru kepada-Nya, kita pun masih perlu memberitakan-Nya, kita perlu menjadi orang-orang yang diutus Allah untuk memberitakan kabar baik.
Salah satu jalan untuk memberitakan Injil adalah memberikan traktat kepada orang. Penulis buku “Christian Rest” adalah orang yang beroleh selamat karena empat orang yang secara berurutan membagikan traktat Injil. Artinya, orang pertama memberikan traktat kepada orang kedua, orang kedua beroleh selamat; orang kedua memberikan traktat kepada orang ketiga, orang ketiga beroleh selamat; orang ketiga kembali memberikan traktat kepada orang keempat, orang keempat beroleh selamat. Hasilnya, keempat orang ini dipakai Tuhan secara besar-besaran di Inggris. Mereka adalah orang-orang yang beroleh selamat melalui orang lain yang memberikan traktat, seorang kepada yang lain, akhirnya menghasilkan empat orang yang sangat dipakai Tuhan. Contoh ini menunjukkan kepada kita betapa besarnya hasil dari traktat.
Yohanes 15:16 berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.” Tuhan tidak memilih kita tanpa tujuan. Pemilihan-Nya adalah untuk pengutusan-Nya. Dia mengutus kita untuk tiga hal: pertama, kita harus pergi; kedua, kita harus menghasilkan buah; dan ketiga, buah kita harus tetap. Dalam hal ini, kita tidak ada pilihan; Tuhan menuntut kita agar kita menerima pengutusan-Nya. Kita perlu memberitakan-Nya agar semua orang dosa dibenarkan karena percaya dan diselamatkan karena berseru kepada-Nya.
Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6:8)
Roma 10:14b-15
... dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”
Ayat Bacaan: Rm. 10:14-15, Yoh. 15:16
Roma 10:14-15 menjelaskan bahwa seorang dapat berseru kepada Tuhan, jika ia percaya kepada-Nya; seorang dapat percaya kepada-Nya jika ia mendengar tentang Dia, dan seorang dapat mendengar tentang Dia jika ada yang memberitakan kabar baik. Untuk itu, perlu ada orang yang diutus Allah untuk memberitakan Injil, supaya orang-orang dosa dapat mendengar Injil, lalu percaya, berseru kepada Tuhan, dan beroleh selamat. Saudara saudari, kita tidak hanya cukup menjadi orang-orang yang telah percaya Tuhan dan berseru kepada-Nya, kita pun masih perlu memberitakan-Nya, kita perlu menjadi orang-orang yang diutus Allah untuk memberitakan kabar baik.
Salah satu jalan untuk memberitakan Injil adalah memberikan traktat kepada orang. Penulis buku “Christian Rest” adalah orang yang beroleh selamat karena empat orang yang secara berurutan membagikan traktat Injil. Artinya, orang pertama memberikan traktat kepada orang kedua, orang kedua beroleh selamat; orang kedua memberikan traktat kepada orang ketiga, orang ketiga beroleh selamat; orang ketiga kembali memberikan traktat kepada orang keempat, orang keempat beroleh selamat. Hasilnya, keempat orang ini dipakai Tuhan secara besar-besaran di Inggris. Mereka adalah orang-orang yang beroleh selamat melalui orang lain yang memberikan traktat, seorang kepada yang lain, akhirnya menghasilkan empat orang yang sangat dipakai Tuhan. Contoh ini menunjukkan kepada kita betapa besarnya hasil dari traktat.
Yohanes 15:16 berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.” Tuhan tidak memilih kita tanpa tujuan. Pemilihan-Nya adalah untuk pengutusan-Nya. Dia mengutus kita untuk tiga hal: pertama, kita harus pergi; kedua, kita harus menghasilkan buah; dan ketiga, buah kita harus tetap. Dalam hal ini, kita tidak ada pilihan; Tuhan menuntut kita agar kita menerima pengutusan-Nya. Kita perlu memberitakan-Nya agar semua orang dosa dibenarkan karena percaya dan diselamatkan karena berseru kepada-Nya.
Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6:8)
01 January 2011
Roma Volume 5 - Minggu 2 Sabtu
Kaya Bagi yang Berseru Kepada-Nya
Roma 10:12b-13
… Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.
Ayat Bacaan: Ef. 3:8; Rm. 9:21,23; Rat. 3:55-57; Kel. 2:23, Mzm. 81:11, Zef. 3:9; 2 Tim. 2:22
Perkara menyeru nama Tuhan bukan hanya untuk keselamatan, tetapi juga jalan bagi kita untuk menerima kekayaan Kristus. Allah memilih, menebus, membenarkan, menguduskan, menyerupakan, dan memuliakan kita dalam Kristus adalah agar kita bisa menikmati kekayaan-Nya yang tidak terduga (Ef. 3:8). Rahasia kenikmatan ini adalah menyeru nama-Nya. Roma 9:21 dan 23 mengatakan bahwa berdasarkan pemilihan-Nya, kita yang dipanggil-Nya, telah dijadikan bejana belas kasihan-Nya, yang dipersiapkan untuk mendapatkan kehormatan dan kemuliaan. Namun, alangkah kasihannya jika bejana-bejana itu kosong tanpa isi. Kita perlu dipenuhi. Mengapa kita memiliki mulut? Kita tercipta dengan diberi mulut, untuk menyeru nama Tuhan Yesus, agar kita diisi dan dipenuhi dengan kekayaan Kristus.
Ratapan 3:55-57 mengatakan bahwa ketika kita menyeru Tuhan, Ia akan menghampiri kita; dan seruan kita kepada-Nya adalah nafas dan teriakan kita. Karena itu, berseru kepada Tuhan tidak saja berteriak kepada-Nya, bahkan melakukan pernafasan rohani (Kel. 2:23), yaitu menghembuskan segala ke-sesakan, kesakitan, tekanan, dan yang lain-lain yang ada pada kita. Berseru kepada Tuhan, tidak saja membuat kita dapat menghembuskan sesuatu yang negatif, juga menghirup Tuhan sendiri dengan segala kekayaan-Nya sebagai kekuatan, kenikmatan, penghiburan, dan perhentian kita.
Bagaimana seharusnya menyeru nama Tuhan? Pertama, kita perlu memiliki mulut yang terbuka (Mzm. 81:11). Kedua, kita harus berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Tim. 2:22). Hati kita seharusnya tidak menuntut yang lain kecuali Tuhan sendiri. Ketiga, kita harus berseru dengan bibir yang bersih (Zef. 3:9). Jika bibir kita tidak bersih dikarenakan tutur kata yang kendor, maka sulitlah bagi kita untuk menyeru nama Tuhan. Keempat, kita perlu menyeru Tuhan secara korporat (2 Tim. 2:22). Kita perlu berhimpun dengan tujuan menyeru nama Tuhan. Kita harus menyeru nama-Nya setiap hari dan sepanjang hari. Dalam situasi apa saja dan kapan saja, serulah, “O, Tuhan Yesus! O, Tuhan Yesus!”, kita akan melihat inilah jalan yang ajaib untuk menikmati kelimpahan kekayaan Tuhan.
Maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya. (Mzm. 116:2b)
Roma 10:12b-13
… Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.
Ayat Bacaan: Ef. 3:8; Rm. 9:21,23; Rat. 3:55-57; Kel. 2:23, Mzm. 81:11, Zef. 3:9; 2 Tim. 2:22
Perkara menyeru nama Tuhan bukan hanya untuk keselamatan, tetapi juga jalan bagi kita untuk menerima kekayaan Kristus. Allah memilih, menebus, membenarkan, menguduskan, menyerupakan, dan memuliakan kita dalam Kristus adalah agar kita bisa menikmati kekayaan-Nya yang tidak terduga (Ef. 3:8). Rahasia kenikmatan ini adalah menyeru nama-Nya. Roma 9:21 dan 23 mengatakan bahwa berdasarkan pemilihan-Nya, kita yang dipanggil-Nya, telah dijadikan bejana belas kasihan-Nya, yang dipersiapkan untuk mendapatkan kehormatan dan kemuliaan. Namun, alangkah kasihannya jika bejana-bejana itu kosong tanpa isi. Kita perlu dipenuhi. Mengapa kita memiliki mulut? Kita tercipta dengan diberi mulut, untuk menyeru nama Tuhan Yesus, agar kita diisi dan dipenuhi dengan kekayaan Kristus.
Ratapan 3:55-57 mengatakan bahwa ketika kita menyeru Tuhan, Ia akan menghampiri kita; dan seruan kita kepada-Nya adalah nafas dan teriakan kita. Karena itu, berseru kepada Tuhan tidak saja berteriak kepada-Nya, bahkan melakukan pernafasan rohani (Kel. 2:23), yaitu menghembuskan segala ke-sesakan, kesakitan, tekanan, dan yang lain-lain yang ada pada kita. Berseru kepada Tuhan, tidak saja membuat kita dapat menghembuskan sesuatu yang negatif, juga menghirup Tuhan sendiri dengan segala kekayaan-Nya sebagai kekuatan, kenikmatan, penghiburan, dan perhentian kita.
Bagaimana seharusnya menyeru nama Tuhan? Pertama, kita perlu memiliki mulut yang terbuka (Mzm. 81:11). Kedua, kita harus berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Tim. 2:22). Hati kita seharusnya tidak menuntut yang lain kecuali Tuhan sendiri. Ketiga, kita harus berseru dengan bibir yang bersih (Zef. 3:9). Jika bibir kita tidak bersih dikarenakan tutur kata yang kendor, maka sulitlah bagi kita untuk menyeru nama Tuhan. Keempat, kita perlu menyeru Tuhan secara korporat (2 Tim. 2:22). Kita perlu berhimpun dengan tujuan menyeru nama Tuhan. Kita harus menyeru nama-Nya setiap hari dan sepanjang hari. Dalam situasi apa saja dan kapan saja, serulah, “O, Tuhan Yesus! O, Tuhan Yesus!”, kita akan melihat inilah jalan yang ajaib untuk menikmati kelimpahan kekayaan Tuhan.
Maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya. (Mzm. 116:2b)
Subscribe to:
Posts (Atom)