Hitstat

10 August 2013

Efesus - Minggu 46 Sabtu



Pembacaan Alkitab: Ef. 4:24


Dalam ayat 17 Paulus menyuruh kita “jangan hidup lagi seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” Orang yang hidup demikian adalah yang “pengertiannya gelap, jauh dari hayat Allah karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kekerasan hati mereka” (ayat 18. Tl.). Ada kemungkinan seorang yang telah beroleh selamat, seorang yang telah memiliki hayat Allah, masih hidup dalam pikiran yang sia-sia. Sebagai contoh, beberapa orang mungkin berbelanja dalam pikiran yang sia-sia dan mereka jauh atau terpisah dari hayat Allah. Mungkin yang lainnya pergi ke Chinatown dan terpisah pula dari hayat Allah. Ketika mereka duduk di restoran menikmati masakan China, mereka akan merasa terpisah dengan hayat Allah, sebab mereka hidup sesuai dengan cara hidup yang lama. Karena isolasi yang terdapat di batin mereka, mereka tidak dapat merasakan aliran listrik surgawi. Setiap kali kita beralih kepada cara kehidupan yang lama, batin kita spontan akan merasa gelap dan terpisah dari hayat Allah. Jika kita terus-menerus hidup menurut cara hidup yang dulu, akhirnya kita akan menjadi kehilangan perasaan dan kebal. Perasaan kita bahkan mungkin akan berhenti (tumpul), karena kita tidak memperhatikan hati nurani kita.

Hidup gereja memang suatu kehidupan komunitas. Tetapi ini adalah satu kehidupan komunitas yang sama sekali berbeda dengan yang dimiliki manusia lama. Kehidupan komunitas manusia baru ini adalah yang serba baru atas setiap hal.

Hidup gereja bukan satu masalah benar atau salah, melainkan masalah Kristus yang hidup. Anda mungkin berdebat bahwa tidak ada salahnya Anda pergi berbelanja di suatu pusat perbelanjaan. Anda mungkin bersikeras bahwa hal itu tidak bersifat dosa. Mungkin kenyataannya memang hal itu tidak ada salahnya, tetapi hal itu menyebabkan Anda gelap dan terpisah dari hayat Allah.

Dalam ayat 24 Paulus berkata bahwa manusia baru diciptakan menurut Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Kesungguhan ini tidak diragukan ialah kesungguhan yang nyata dalam Yesus itu. Standar kehidupan kita tidak seharusnya menurut hukum Taurat atau masyarakat, melainkan menurut kebenaran yang nyata di dalam Yesus, yaitu realitas yang diperhidupkan oleh Yesus ketika Dia ada di bumi. Jadi, kehidupan Yesus seharusnya menjadi kehidupan kita dalam gereja. Dengan kata lain, kehidupan manusia baru seharusnya persis serupa dengan kehidupan Yesus. Cara Yesus hidup di bumi itulah cara hidup yang seharusnya dinyatakan oleh manusia baru pada hari ini.

Menjelang akhir pasal 4 Paulus berkata, “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penebusan” (ayat 30. Tl.). Saya khawatir, dari hari ke hari bahkan dari waktu ke waktu, banyak di antara kita yang mendukakan Roh Kudus yang berhuni di batin. Kita mendukakan Dia karena kita tidak hidup menurut cara hidup yang baru, melainkan kita hidup menurut pikiran yang sia-sia. Karena kita tidak tinggal dalam roh pikiran, kita mendukakan Roh Kudus. Ini merupakan petunjuk lebih lanjut bahwa manusia baru tidak hanya perlu penciptaan dan pertumbuhan untuk dapat berfungsi, tetapi juga kehidupan sehari-hari yang riil berikut cara hidup yang baru. Inilah hidup gereja.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 4, Berita 93

No comments: