Hitstat

28 September 2013

Filipi - Minggu 5 Sabtu



Pembacaan Alkitab: Flp. 2:5-8


Dalam ayat 6, Paulus memberi tahu kita bahwa Kristus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai genggaman yang harus dipertahankan. Walaupun Tuhan sama dengan Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan atau dijaga; melainkan Ia mengesampingkan rupa Allah (bukan sifat Allah), dan mengosongkan diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba. Menurut ayat 7, Kristus menjadi “sama dengan manusia”. Rupa Allah menyiratkan realitas batiniah dari keilahian Kristus, keserupaan-Nya dengan manusia menunjukkan penampilan lahiriah dari keinsanian-Nya. Bagi manusia Ia tampak sebagai manusia secara lahiriah, tetapi sebagai Allah, Ia memiliki realitas keilahian secara batiniah.

Dalam keadaan sebagai manusia, Kristus merendahkan diri-Nya. Pertama-tama Ia mengosongkan diri-Nya dengan menanggalkan rupa, atau ekspresi lahiriah dari ke-Allahan-Nya, dan menjadi sama dengan manusia. Kemudian Ia merendahkan diri-Nya melalui taat, bahkan sampai mati. Kristus adalah Allah yang memiliki ekspresi Allah. Walau Ia setara dengan Allah, Ia menanggalkan kesetaraan itu dan mengosongkan diri-Nya dengan mengambil rupa manusia. Ini menunjukkan bahwa Ia menjadi seorang manusia melalui inkarnasi. Kemudian, dalam keadaan sebagai manusia Ia merendahkan diri-Nya. Ini berarti ketika Ia menjadi manusia, Ia tidak mempertahankan apa pun, sebaliknya Ia malah merendahkan diri-Nya sampai mati di kayu salib. Inilah Kristus, teladan kita. Merendahkan diri-Nya sendiri adalah langkah lanjutan dalam pengosongan diri-Nya. Tindakan Kristus merendahkan diri-Nya menyatakan pengosongan diri-Nya. Kematian di kayu salib adalah puncak penghinaan terhadap Kristus. Bagi orang Yahudi itu adalah suatu kutukan (Ul. 21:22-23). Bagi orang bukan Yahudi itu adalah hukuman mati yang dijatuhkan bagi penjahat dan budak (Mat. 27:16-17, 20-23). Jadi itu adalah hal yang memalukan (Ibr. 12:2).

Penghinaan terhadap Tuhan mencakup tujuh langkah: (1) mengosongkan diri-Nya sendiri; (2) mengambil rupa seorang hamba; (3) menjadi serupa dengan manusia; (4) merendahkan diri-Nya sendiri, (5) menjadi taat; (6) taat hingga mati; dan (7) taat hingga mati di kayu salib.

Kristus bukan hanya sebagai teladan yang di luar bagi kita, Ia pun hayat dalam batin kita. Sebagai hayat batiniah, Ia menghendaki kita mengalami Dia, sehingga kita dapat memperhidupkan hayat yang tersalib ini. Dalam hayat yang tersalib ini tidak ada tempat bagi persaingan, puji-pujian yang sia-sia, atau bangga diri. Sebaliknya, di sini hanya ada pengosongan diri, dan merendahkan diri. Setiap kali kita mengalami Kristus dan memperhidupkan Dia, dengan otomatis kita akan memperhidupkan hayat yang tersalib yang sedemikian. Ini berarti bila kita memperhidupkan Kristus, kita memperhidupkan Dia yang menjadi teladan hayat yang tersalib. Kemudian kita pun akan mengosongkan dan merendahkan diri.

Menempuh hidup yang tersalib ini memperlihatkan bahwa terhadap rasul kita mempunyai dorongan di dalam Kristus, penghiburan kasih, persekutuan roh, serta kasih mesra dan belas kasihan. Hanya ketika kita memperhidupkan hayat yang tersalib barulah kita dapat membuat para rasul bersukacita dan membuat sukacita mereka puas. Dalam penjara, Paulus tidak memperhatikan bagaimana orang lain memperlakukannya, yang dia perhatikan adalah apakah kaum beriman mau menerima Kristus sebagai teladan mereka dan menempuh hidup yang tersalib. Itulah pengharapan hati Paulus, dan hanya itulah yang bisa membuat sukacitanya sempurna.


Sumber: Pelajaran-Hayat Filipi, Buku 1, Berita 10

No comments: