Hitstat

18 February 2014

Filipi - Minggu 26 Selasa



Pembacaan Alkitab: Flp. 3:7-9


Kita telah menunjukkan bahwa untuk dapat ditemukan di dalam Kristus ada suatu syarat atau permintaan. Syarat ini ialah kita tidak memiliki kebenaran kita sendiri yang berasal dari hukum Taurat, melainkan kebenaran yang berasal dari Allah berdasarkan iman. Adakalanya kita seolah-olah ditemukan di dalam Kristus, namun pada saat itu tidak ada realitas kecuali kita memenuhi syarat memiliki kebenaran Allah melalui iman Kristus. Saya ulangi, kita harus ditemukan di dalam Kristus dalam kebenaran Allah melalui iman Kristus. Frase “dalam kebenaran Allah” yang dipakai dalam judul berita ini ditujukan kepada fakta bahwa ini adalah syarat ditemukannya kita di dalam Kristus dalam realitas. Jadi, aspek yang terpenting dari syarat ini ialah kebenaran Allah.

Dalam butir ini saya ingin menampilkan sebuah penjelasan atau tafsiran baru atas kebenaran yang tercantum dalam 3:9. Dalam ayat ini kebenaran mengacu kepada kehidupan sehari-hari yang benar terhadap Allah maupun manusia. Ketika Paulus mengisahkan masa lampaunya dalam 3:6, ia berkata bahwa “tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat”, ia tidak bercacat. Sebelum ia dipindahkan ke dalam Kristus, ia adalah seorang Farisi yang tidak bercacat dalam hukum Taurat. Paulus mengira dirinya benar dalam kehidupan setiap hari, baik terhadap Allah maupun manusia. Sebenarnya, dia sama sekali tidak benar di hadapan Allah. Kebenaran yang menunjukkan suatu kehidupan yang sungguh-sungguh benar terhadap Allah dan manusia adalah kebenaran yang berasal dari Allah. Ungkapan “kebenaran Allah” tidak hanya berarti kebenaran yang dimiliki Allah sendiri; tetapi juga berarti kebenaran ini adalah Allah sendiri. Sebagai contoh, istilah hayat Allah, terang Allah, dan kasih Allah tidak hanya berarti bahwa hayat, terang, dan kasih adalah milik Allah. Hayat Allah adalah Allah sendiri. Demikian pula terang dan kasih Allah. Allah sendirilah terang dan kasih itu. Pada dasarnya, kebenaran Allah pun demikian. Sebagaimana hayat dan terang Allah adalah Allah sendiri, maka kebenaran juga adalah diri Allah sendiri. Karena itu, kehidupan yang benar terhadap Allah dan manusia seharusnya adalah Allah sebagai ekspresi dalam kehidupan sehari-hari kita, dan Allah sendiri diperhidupkan melalui kita.

Ini akan menjadi lebih jelas bila kita membahas apa artinya kita mengatakan kebenaran kita sendiri. Kebenaran kita sendiri adalah ekspresi diri kita sendiri, yaitu ekspresi “aku” kita. Kebenaran saya tidak lain hanyalah tertampilnya saya. Tetapi kebenaran Allah ialah Allah diperhidupkan dari diri kita, yakni Allah menjadi kehidupan dan ekspresi kita sehari-hari. Ketika kita mengasihi orang lain, kasih kita adalah ekspresi Allah. Selain itu, kerendahan hati kita bukan kerendahan hati yang etis semata, tetapi juga kerendahan hati yang ilahi, yakni Allah sendiri yang diperhidupkan dari diri kita. Jika kita ingin ditemukan di dalam Kristus, wajiblah kita berada dalam kondisi di mana Allah terekspresi melalui kita dan menjadi kehidupan sehari-hari kita.

Bagaimana kebenaran Allah dapat menjadi kehidupan sehari-hari kita? Hal ini hanya dapat terjadi melalui iman Kristus. Sebagaimana kebenaran Allah adalah Allah itu sendiri, maka iman Kristus adalah Kristus itu sendiri. Iman Kristus bukanlah sesuatu milik Kristus, melainkan Kristus itu sendiri. Hanya melalui mendengarkan firmanlah baru iman Kristus dapat menjadi iman kita. Melalui firman, unsur Kristus masuk ke dalam kita. Dalam waktu yang sama, kita mengalami fungsi Roh itu. Hasil infusi dan fungsi ini ialah iman yang mendatangkan kesatuan organik antara kita dengan Allah Tritunggal. Iman yang benar-benar adalah Kristus sendiri ini membuat kita bersatu dengan Allah secara organik. Dalam kesatuan yang organik ini kita dan Allah adalah satu roh. Kita hidup, Allah juga hidup di dalam kita. Allah hidup, kita juga hidup di dalam Dia.


Sumber: Pelajaran-Hayat Filipi, Buku 3, Berita 51

No comments: