Hitstat

29 April 2015

Titus - Minggu 1 Rabu



Pembacaan Alkitab: Titus 1:1-9


Dalam Titus 1:1 Paulus tidak berbicara tentang kepercayaan kaum beriman, melainkan kepercayaan umat pilihan Allah. Dengan demikian ia menunjukkan bahwa inisiatif untuk percaya kepada Kristus berasal dari Allah, bukan dari kita. Karena Allah telah memilih kita untuk percaya kepada Kristus, maka kita percaya kepada-Nya. Paulus menjadi seorang rasul menurut kepercayaan umat pilihan Allah. Ia telah memiliki kepercayaan ini dan kita juga memilikinya. Melalui kepercayaan, Paulus dibawa ke dalam kesatuan organik dengan Allah Tritunggal, dan dengan demikian ia dapat menerima suplai hayat yang kekal.

Sebetulnya kerasulan Paulus meliputi empat faktor: perintah Allah, hayat yang kekal, kepercayaan , dan pengenalan penuh akan kebenaran. Karena keempat unsur ini, Paulus menjadi orang yang menggenggam agama. Ia bahkan disebut pembawa sampar, seorang perusuh. Dari keempat unsur ini, yang dua ada di pihak Allah -- perintah dan hayat yang kekal, dan dua ada di pihak kita -- kepercayaan dan pengenalan penuh akan kebenaran. Kali pertama kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita memiliki kepercayaan, tetapi kita tidak memiliki pengenalan penuh akan kebenaran. Puji Tuhan bahwa dalam pemulihan-Nya kita memiliki pengenalan penuh akan kebenaran.

Titus 1:2 mengatakan bahwa hayat yang kekal Allah "sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan". Hal ini menunjukkan bahwa janji tersebut tidak diberikan secara langsung kepada orang-orang pilihan, melainkan dibuat oleh Bapa kepada Putra di dalam kekekalan. Yohanes 17:2 agaknya mengacu kepada hal ini. "Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya." Dengan jalan menerima hayat yang kekal, kaum beriman yang telah diberikan kepada Putra dalam kekekalan menjadi saudara-saudara-Nya. Ibrani 2:11 menyebutkan saudara-saudara Kristus, "Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, semuanya berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara." Karena janji hayat yang kekal dijanjikan oleh Bapa kepada Tuhan Yesus dalam kekekalan, Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak memilih kita secara langsung; Ia memilih kita di dalam Kristus. Demikian pula halnya, janji hayat yang kekal mengenai kita diberikan kepada Kristus. Jadi, di dalam Putra kita sekarang menerima janji tersebut.

Menurut ayat 3, Allah bukan hanya menjanjikan hayat yang kekal sebelum permulaan zaman, tetapi pada waktu yang dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil. Hayat yang kekal dijanjikan oleh Bapa kepada Putra; akan tetapi apa yang telah Bapa nyatakan bukanlah hayat yang kekal, tetapi firman-Nya. Melalui membaca ayat 2 dan 3 dengan cermat, kita nampak bahwa firman dinyatakan sepadan dengan hayat yang kekal yang dijanjikan. Paulus tidak mengatakan bahwa Allah menjanjikan hayat yang kekal dan kemudian menyatakan hayat yang kekal itu. Jadi, firman Allah adalah hayat yang kekal. Jika firman-Nya bukan hayat yang kekal secara langsung, paling tidak firman itu memuat hayat yang kekal. Dalam pengalaman kita, kita memiliki hayat yang kekal melalui firman.


Sumber: Pelajaran-Hayat Titus, Berita 1

No comments: