Hitstat

22 September 2017

Wahyu - Minggu 33 Jumat

Pembacaan Alkitab: Why. 22:1
Doa baca: Why. 22:1
Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu.


Sekarang kita harus melihat bagaimana Allah Penebus yang duduk di atas takhta menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam seluruh umat tebusan-Nya. Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita melalui sungai yang mengalir keluar dari takhta. Ini adalah sebatang sungai yang mengalir ke empat penjuru kota kudus seperti sebatang sungai dalam Kejadian 2:10-14 yang bercabang empat. Air hayat adalah lambang Allah dalam Kristus sebagai Roh itu mengalirkan diri-Nya ke dalam umat tebusan-Nya untuk menjadi hayat dan suplai hayat mereka. Air hayat ini dilambangkan oleh air yang mengalir keluar dari batu karang yang terbelah (Kel. 17:6; Bil. 20:11), dan dilambangkan oleh air yang mengalir keluar dari rusuk Tuhan Yesus ditombak (Yoh. 19:34). Di sini, air hayat ini menjadi sebatang sungai yang mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba untuk menyuplai dan meresapi seluruh Yerusalem Baru. Dengan demikian kota Yerusalem Baru itu dipenuhi dengan hayat ilahi sehingga dapat mengekspresikan Allah dalam kemuliaan hayat-Nya.

Kita telah nampak bahwa sungai air hayat mengalir keluar dari takhta Anak Domba-Allah. Sungai ini tidak lain adalah aliran Roh Allah sebagai Roh pemberi-hayat. Dalam 22:1 kita nampak Allah Tritunggal -- Allah, Anak Domba, dan sungai itu. Allah, Bapa, adalah sumber; Anak Domba, Putra, adalah Penebus; dan sungai, adalah Roh itu. Jadi, kita mempunyai Bapa sebagai sumber; Putra sebagai saluran; dan Roh itu sebagai aliran. Karena itu, dalam 22:1 kita nampak aliran Allah Tritunggal. Ini adalah satu gambaran Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Dia keluar dari diri-Nya sendiri dan tersalur ke dalam umat tebusan-Nya. Penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kita ini keluar dari takhta administrasi Allah. Ini berarti penyaluran Allah tergantung pada administrasi-Nya. Demikian pula di dalam hidup gereja hari ini. Penyaluran suplai hayat dan anugerah Allah yang serba cukup berasal dari takhta administrasi Allah. Akhirnya, dalam Yerusalem Baru penyaluran ini akan mencapai setiap bagian kota ini, dan seluruh kota akan dipenuhi, dijenuhi, dan diresapi dengan Allah Tritunggal. Dengan cara ini, kota itu akan mengekspresikan Allah.

Sungai air hayat ini mengalir di tengah-tengah jalan Yerusalem Baru. Jalan kota kudus ini adalah emas (21:21). Emas melambangkan sifat ilahi. Sungai air hayat mengalir di tengah-tengah jalan menyatakan bahwa hayat ilahi mengalir dalam sifat ilahi sebagai satu-satunya jalan untuk hidup sehari-hari umat tebusan Allah. Di mana ada hayat ilahi mengalir, di sana ada sifat ilahi sebagai jalan yang kudus untuk ditempuh oleh umat Allah; dan di mana ada jalan kudus dari sifat ilahi, di sanalah mengalir hayat ilahi. Hayat ilahi dan sifat ilahi sebagai jalan kudus selalu berjalan seiring. Dengan demikian, sungai air hayat Allah tersedia di sepanjang jalan ilahi ini, dan kita menikmati sungai ini dengan berjalan dalam jalan hayat ini

Ayat 1 juga mengatakan bahwa sungai air hayat jernih bagaikan kristal. Ketika air hayat ini mengalir di dalam kita, air ini memurnikan kita dan membuat kita transparan seperti kristal. Tidak ada yang lebih jernih daripada aliran hayat yang ada di dalam kita. Misalnya, sekarang Anda sedang berbelanja di sebuah toserba. Bila Anda mengaminkan pengaturan hayat ilahi yang ada di dalam Anda, Anda tidak hanya akan dikuatkan, didiris, dan disegarkan, juga akan menjadi sejernih kristal. Anda akan jernih tidak hanya atas satu hal, tetapi juga atas banyak hal.



Sumber: Pelajaran-Hayat Wahyu, Buku 4, Berita 65

No comments: