Hitstat

27 August 2012

Galatia - Minggu 20 Senin


Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 5:17


Menurut Alkitab, setiap orang beriman dalam Kristus seharusnya memiliki dua jenis hidup oleh Roh. Pertama ialah hidup dan perilaku sehari-hari kita; kedua ialah “hidup” dalam kaidah dan jejak ilahi. Selaku orang Kristen, kita bukan orang-orang yang hidup secara sembarangan di dunia tanpa suatu tujuan. Kita telah diciptakan Allah, juga diciptakan kembali dan dilahirkan kembali oleh-Nya dengan tujuan yang pasti. Karena itu, kita harus memiliki hidup jenis kedua untuk merampungkan kehendak Allah dan mencapai sasaran kehidupan kita di bumi ini.

Dalam hidup oleh Roh jenis pertama, kita hidup, bertindak, dan berperilaku oleh Roh. Ini adalah penunjang bagi hidup oleh Roh jenis kedua, yaitu hidup yang mengarah kepada satu sasaran. Sebagai anak-anak Allah, kita bukan orang-orang yang tanpa tujuan. Kehidupan kita mempunyai satu tujuan yang pasti. Kita bukan sembarangan dan tanpa sasaran. Allah memiliki satu tujuan yang kekal, dan kehendak-Nya ialah agar umat-Nya hidup bagi kehendak-Nya. Allah menciptakan kita maupun melahirkan kita kembali adalah untuk mewujudkan kehendak-Nya. Karena Allah memiliki tujuan dan hendak mencapai sasaranNya, maka Ia menyuruh kita memiliki dua jenis hidup oleh Roh: jenis pertama adalah yang membina satu kehidupan sehari-hari yang normal, dan jenis kedua adalah yang sesuai dengan kaidah dan prinsip ilahi demi mencapai sasaran yang telah ditetapkan Allah.

Untuk memiliki satu kehidupan sebagai anak-anak Allah yang normal, perlulah kita memiliki jenis hidup oleh Roh yang pertama. Ini berarti kita tidak boleh hidup oleh perkara apa pun yang menggantikan Roh itu.

Kalau kita ingin memiliki hidup oleh Roh jenis pertama, kita perlu berdoa dan berseru kepada nama Tuhan. Dalam 1 Tesalonika 5:17 Paulus menghendaki kita berdoa tanpa henti. Saya menemukan, tidak mungkin kita berdoa tanpa henti jika kita berdoa dengan cara formal, memohon bantuan dari Tuhan. Mungkin kita bisa berdoa demikian untuk waktu yang lama, tetapi tidak dapat tanpa henti. Akan tetapi, kita dapat berdoa tanpa henti hanya dengan berseru: “Tuhan Yesus, O, Tuhan Yesus.” Walaupun saya adalah orang tua, dan telah bertahun-tahun lamanya di dalam Tuhan, saya tetap belajar menyeru nama Tuhan secara terus-menerus. Dari pengalaman saya menemukan bahwa hal ini mudah sekali kita lupakan. Waktu bangun pagi saya mungkin mulai menyeru nama Tuhan, tetapi lewat beberapa menit, saya mungkin diganggu oleh suatu pikiran dan berhenti menyeru. Tiba-tiba, saya sadar bahwa pikiran saya sudah keluar, maka saya sekali lagi mulai berseru: “O, Tuhan Yesus.”

Doa adalah pernafasan rohani. Seperti kita semua ketahui, kita harus bernafas supaya kita tetap hidup. Di mana pun kita berada, kita boleh bernafas secara rohani melalui berseru kepada nama Tuhan. Sehari suntuk, tak peduli kita berbuat apa, kita dapat berkontak dengan Tuhan lewat menghirup nama-Nya. Ketika kita melakukan perkara-perkara rutin pada pagi hari, kita dapat berseru kepada nama Tuhan Yesus. Kita mungkin menemukan, ketika kita menangani perkara-perkara yang riil, kita masih memiliki tiga puluh menit untuk menyeru nama Tuhan Yesus. Bila kita mempraktekkan hal ini, kita akan membina kebiasaan menyeru nama Tuhan. Ini merupakan bagian dari hidup jenis pertama, yaitu hidup yang di dalamnya kita menempuh kehidupan sehari-hari yang normal oleh Roh.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 39

25 August 2012

Galatia - Minggu 19 Sabtu


Pembacaan Alkitab: 1 Kor. 6:17; Yoh. 6:57


Dalam Surat Kirimannya Paulus berpesan agar kita jangan hidup berdasarkan suatu doktrin atau petunjuk tertentu, melainkan oleh Roh itu. Akhir-akhir ini Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa Ia tidak menghendaki kita hanya hidup dalam penyertaan-Nya, tetapi memperhidupkan Kristus dengan menjadi satu roh dengan Tuhan. Dalam Perjanjian Baru tidak ada perkataan tentang praktek beserta dengan Allah. Sebaliknya, dalam Perjanjian Baru diwahyukan bahwa kita harus memperhidupkan Kristus melalui menjadi satu roh dengan Dia. Dalam Kejadian 17 tercatat bahwa Abraham hidup di hadapan Allah, yakni dalam penyertaan Allah. Tetapi, dalam Perjanjian Baru, dalam 1 Korintus 6:17, Paulus berkata, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Ini lebih dari sekadar hidup di hadirat Allah, tetapi hidup di dalam kesatuan dengan Dia. Perkataan Paulus tentang bersatunya kita menjadi satu roh dengan Tuhan bukanlah sebuah perumpamaan, melainkan sebuah pernyataan faktual. Lagi pula, Paulus tidak berkata, “Bagiku hidup berarti berada dalam penyertaan Tuhan.” Sebaliknya, ia berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.” (Flp. 1:21). Di antara hidup dan bertindak dalam penyertaan Allah dan memperhidupkan Kristus terdapat suatu perbedaan yang besar sekali!

Hidup dan bertindak dalam penyertaan Allah sangat sesuai dengan konsepsi alamiah kita. Akan tetapi, kaum beriman dapat menjadi satu roh dengan Tuhan itu bukanlah menurut konsepsi alamiah manusia. Memang mudah memahami perkataan dalam Kitab Keluaran tentang penyertaan Tuhan mengiringi bani Israel. Mungkin kita juga menerapkan perkataan ini atas diri kita dan menyadari ketika kita pergi ke suatu tempat, penyertaan Tuhan akan pergi bersama kita. Namun, mengira bahwa kita harus hidup satu roh dengan Tuhan itu bukanlah menurut konsepsi alamiah kita. Ada orang Kristen bahkan mengatakan pernyataan dapatnya kita menjadi satu roh dengan Tuhan adalah suatu hujat. Menurut pendapat mereka, orang-orang yang berdosa sama sekali tidak mungkin menjadi satu roh dengan Tuhan. Namun, Alkitab mengatakan dengan jelas, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Walaupun kita pernah membaca kata-kata ini, tetapi mungkin kita tidak mempunyai respon sama sekali terhadapnya, sebab kita telah diselubungi oleh konsepsi yang agamis, alamiah, dan tradisional. Kita boleh jadi sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap perkara yang demikian penting ini. Namun, akhir-akhir ini Tuhan telah membawa kita kepada butir di mana justru kita harus memperhatikan tuntutan Perjanjian Baru ini, yakni kita harus menjadi satu roh dengan Dia. Menurut praktek Perjanjian Lama, Abraham memang dapat hidup dalam penyertaan Allah. Tetapi kita berada dalam Perjanjian Baru. Menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah, Tuhan damba masuk ke dalam kita dan bersatu dengan kita, dan menyatukan kita dengan Dia sendiri. Ia menghendaki kita menjadi satu roh dengan Dia. Ekonomi-Nya hari ini ialah agar kita hidup dalam satu roh dengan Tuhan.

Saya harap banyak orang akan terkesan dengan perkataan tentang hidup dalam satu roh dengan Tuhan ini dan mau berdoa, “Tuhan, mulai sekarang aku tidak lagi puas hanya dengan penyertaan-Mu. Sekalipun aku dapat berhasil mempraktekkan hidup dalam penyertaan Allah seperti yang dipraktekkan Saudara Lawrence, aku tidak merasa puas, sebab aku tahu, Tuhan, Engkau pun tidak akan merasa puas. Engkau ingin menjadi satu roh denganku. Tuhan, berikanlah anugerah kepadaku, agar aku menjadi satu roh dengan-Mu.” Dalam setiap hal yang kita katakan atau lakukan, kita perlu berlatih menjadi satu dengan Tuhan. Semakin kita menjadi satu roh dengan Dia dalam kehidupan kita sehari-hari kita, kita akan semakin menikmati keselamatan, pengudusan, dan transformasi.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 38

24 August 2012

Galatia - Minggu 19 Jumat


Pembacaan Alkitab: Yoh. 14:16-18; 3:6


Roh itu sebagai Roh almuhit yang majemuk adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal. Allah kita itu Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh. Setiap pelajar Alkitab yang cermat menyetujui bahwa ketiga Persona dari Trinitas boleh dianggap berbeda, namun kita tidak dapat mengatakan Mereka itu terpisah. Pernyataan semacam itu adalah bidah. Ketika Putra datang ke bumi, Ia tidak meninggalkan Bapa di surga. Sebaliknya, ketika Putra datang, Bapa juga datang beserta-Nya. Dalam Injil Yohanes Tuhan Yesus berkata bahwa Putra datang dari dan beserta Bapa (Yoh. 6:46). Tatkala Ia datang dari Bapa, Ia datang bersama Bapa. Karena alasan inilah, Tuhan Yesus berkata bahwa Ia tidak pernah sendirian, sebab Bapa selalu menyertai-Nya (Yoh. 8:29). Selain itu, dalam Injil Yohanes juga memberi tahu kita bahwa Putra akan mengutus Roh itu dari dan beserta Bapa (Yoh. 15:26). Kita tidak dapat memisahkan Putra dari Bapa, dan Roh itu dari Bapa dan Putra.

Menurut Alkitab, Bapa terwujud di dalam Putra, dan Putra direalisasikan sebagai Roh itu. Akhirnya, yang ketiga dari ke-Allahan ini terekspresi sebagai Roh itu. Inilah sebabnya dalam pengalaman kita, bila kita menyeru nama Tuhan Yesus, kita menerima Roh itu. Ketika kita bertobat, percaya kepada Tuhan, dan berdoa kepada-Nya, kita tidak memohon agar Roh Kudus masuk ke dalam kita. Sebaliknya, kita berdoa agar Tuhan Yesus masuk. Namun, walaupun kita meminta Tuhan masuk, Persona yang masuk ke dalam kita sebenarnya adalah Roh itu. Ini tidak saja terjadi pada saat kita diselamatkan, dalam pengalaman sehari-hari kita akan Tuhan pun demikian. Bila kita berdoa kepada Bapa atau berseru kepada nama Tuhan Yesus, mengatakan kepada-Nya bahwa kita mengasihi Dia, akhirnya Persona yang kita alami menyertai dan berada dalam kita ialah Roh itu. Dari pengalaman kita tahu bahwa Roh ini, Roh almuhit yang majemuk ini adalah perampungan sempurna dari Allah Tritunggal.

Hari ini Allah kita benar-benar adalah Allah yang telah melalui proses. Dalam Perjanjian Lama tidak ada petunjuk bahwa Allah telah melalui proses. Proses ini dimulai pada saat inkarnasi Kristus dan dilanjutkan dalam sepanjang hidup-Nya sebagai manusia, penyaliban, dan kebangkitanNya. Ada sebagian orang Kristen menentang ungkapan “Allah yang telah melalui proses” dengan bantahan bahwa Allah itu kekal dan tidak pernah berubah. Ya, kita sepenuhnya percaya, menurut Alkitab, Allah memang kekal dan mutlak tidak berubah. Namun demikian sesuai dengan Alkitab, kita juga percaya dan mengajarkan bahwa Allah telah mengalami proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Allah tidak pernah berubah, tetapi Ia telah mengalami suatu proses. Sifat dan substansi Allah tidak pernah berubah, namun Ia telah melalui suatu proses. Menurut Yohanes 1:1 dan 14, Firman yang ada pada mulanya bersama Allah dan yang adalah Allah itu telah menjadi daging. Penggunaan kata “menjadi” dalam Yohanes 1:14 menunjukkan suatu proses. Demikian pula, 1 Korintus 15:45 mengatakan bahwa Adam yang terakhir telah menjadi Roh pemberi-hayat. Ini merupakan petunjuk lain dari proses Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 38

23 August 2012

Galatia - Minggu 19 Kamis


Pembacaan Alkitab: Gal. 5:16, 25; Flp. 3:16-18


Bertahun-tahun saya berusaha memahami Galatia 5:25, di mana pada satu pihak Paulus berkata tentang hidup oleh Roh, dan pada pihak lain ia mengatakan hidup dipimpin oleh Roh. Saya tidak mengerti perbedaan antara hidup dan hidup dipimpin. Bagi saya, hidup dipimpin itu mencakup hidup. Akhirnya saya baru nampak bahwa hidup oleh Roh berarti, pertama-tama mendapatkan hayat, kemudian menempuh hidup. Dilahirkan adalah perkara sekali untuk selamanya, tetapi mendapatkan hayat dan menempuh hidup bukan sekali untuk selamanya, melainkan perkara seumur hidup, sebab kita tidak henti-hentinya menerima hayat untuk hidup. Sebagai contoh, untuk tetap hidup kita perlu bernafas dari saat ke saat, tidak cukup hanya bernafas pada saat kita dilahirkan. Demikian pula, kita perlu menerima hayat dari saat ke saat untuk hidup. Jadi, hidup oleh Roh di sini berarti mendapatkan hayat dan kemudian menempuh hidup. Begitu kita mendapatkan hayat dan hidup, kita dapat berjalan, yakni menempuh hidup dengan cara tertentu.

Bila kita membandingkan kedua jenis hidup ini, kita tahu bahwa yang kedua lebih teratur daripada yang pertama. Pada pola hidup yang kedua, kita perlu bertindak seperti pasukan yang berbaris dengan langkah-langkah yang seirama, sedangkan pada pola hidup yang pertama, kita bertindak dengan bebas. Namun kedua jenis pola hidup ini, baik yang biasa atau yang teratur dalam sebuah barisan, semua adalah oleh Roh.

Dalam Surat-surat Kirimannya, Paulus memakai ungkapan “Roh itu” beberapa kali, teristimewa dalam Kitab Galatia. Padahal, dalam Kitab Galatia Paulus tidak pernah sekali pun mengatakan tentang Roh Kudus, walaupun ia beberapa kali menyinggung “Roh itu”. Besar sekali perbedaan antara pemakaian istilah “Roh Kudus” dengan istilah “Roh itu”. Dalam Kejadian 1:2 Roh Allah diungkapkan sehubungan dengan penciptaan. Kemudian Roh TUHAN, atau Roh Yehova dipakai sehubungan dengan persekutuan antara Allah dengan umat-Nya. Istilah Roh Kudus baru dipakai dalam Perjanjian Baru. (Dipakainya istilah ini pada beberapa tempat dalam Perjanjian Lama versi King James dalam bahasa Ibrani seharusnya diterjemahkan “Roh kekudusanNya”). Roh Kudus baru ditampilkan sehubungan dengan dikandungnya Tuhan Yesus dalam rahim Maria, sebab kehendak Allah ialah melahirkan satu Persona yang kudus. Jadi, Roh Kudus ingin menghasilkan sesuatu yang kudus dari sifat insani. Ungkapan “Roh itu” dipakai untuk Roh Allah hanya setelah kebangkitan Kristus.

Dalam Perjanjian Lama minyak urapan kudus adalah lambang Roh itu. Minyak urapan ini merupakan sesuatu benda majemuk yang terdiri atas campuran minyak zaitun dengan empat jenis rempah-rempah (Kel. 30:22-33). Rempah-rempah ini melambangkan aspek kematian dan kebangkitan Kristus. Fakta bercampurnya keempat macam rempah-rempah dengan minyak zaitun menunjukkan bahwa sifat insani, kematian, dan kebangkitan Kristus telah berbaur ke dalam Roh Allah, sehingga menjadi Roh majemuk. Roh majemuk ini adalah Roh itu dalam Perjanjian Baru. Sebelum Tuhan Yesus dimuliakan, Roh majemuk semacam ini “belum ada”. Tetapi sesudah kebangkitan-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya dibaurkan dengan Roh Allah sehingga menjadi Roh itu; Roh majemuk yang bukan hanya mengandung sifat ilahi, tetapi juga sifat insani, khasiat kematian Kristus, dan kuasa kebangkitan-Nya. Karena itu, setelah kebangkitan Tuhan Yesus, Roh Allah, Roh Yehova, Roh Kudus, kini adalah Roh itu, yakni Roh yang almuhit.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 38

22 August 2012

Galatia - Minggu 19 Rabu


Pembacaan Alkitab: Why. 22:1-2


Setiap kali kita menghampiri takhta anugerah dengan beralih kepada roh kita dan berseru kepada nama Tuhan, haruslah kita menobatkan Tuhan. Kita wajib memberikan jabatan Kepala, jabatan Raja, dan jabatan Tuan kepada-Nya di dalam kita. Betapa besar perbedaan yang akan terjadi karena hal ini! Kadangkala sewaktu kita berdoa, kita merasa Tuhan berada dalam batin kita, namun kita enggan memberikan takhta kepada-Nya. Kita tidak mengakui jabatan-Nya sebagai Raja, malah meninggikan diri melampaui Dia dan meletakkan diri kita sendiri di takhta. Pada prakteknya, kita telah menurunkan Tuhan dari takhta. Bila kita tidak menobatkan Tuhan, aliran anugerah akan berhenti. Bahkan ketika kita sedang berdoa pun kita perlu membiarkan Tuhan duduk di atas takhta dalam batin kita, menghormati-Nya sebagai Kepala, Tuhan, dan Raja. Dengan demikian anugerah akan mengalir seperti sebuah sungai dalam batin kita.

Dalam Wahyu 22:1-2 kita nampak bahwa sungai air hayat mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba. Takhta Allah adalah sumber pengaliran anugerah. Menurunkan Dia dari takhta, atau merampas takhta itu dari Dia berarti meremehkan sumber anugerah. Hal ini mengakibatkan terhentinya pengaliran anugerah. Ini bukan suatu doktrin belaka, melainkan yang sangat cocok dengan pengalaman kita. Banyak di antara kita dapat bersaksi, bila kita tidak menobatkan Tuhan, kita tidak dapat menerima anugerah pada saat kita berdoa.

Kalau kita ingin menerima anugerah dan menikmati anugerah, hal pertama yang harus kita lakukan ialah beralih kepada roh kita dan melupakan pikiran, emosi, dan tekad kita. Tetapi Iblis menimbulkan satu perkara demi satu perkara untuk menjauhkan kita dari roh. Ia mungkin menghasut suatu perdebatan antara suami dan istri. Ketika mereka bersilat lidah, mereka akan merasa sukar untuk beralih kepada roh, sebab pikiran (akal) dan emosi mereka telah digejolakkan. Bila pikiran (akal) dan emosi kita kuat, kita sulit sekali beralih kepada roh kita.

Ketika kita beralih ke roh dan menetap di situ, kita perlu mengakui Tuhan sebagai Kepala dan Raja dan menobatkan Dia. Kita harus menghormati kedudukan dan wewenang-Nya, dan mengakui bahwa kita tidak berhak mengatakan atau melakukan apa pun berdasarkan diri kita. Semua kedudukan dalam kita harus kita serahkan kepada Sang Raja. Jika kita menobatkan Tuhan dalam batin kita, sungai air hayat akan mengalir keluar dari takhta untuk menyuplai kita. Dengan cara demikianlah kita akan menerima anugerah dan menikmatinya.

Anugerah tidak lain dan tidak bukan adalah Allah Tritunggal menjadi kenikmatan kita. Bapa terwujud di dalam Anak, dan Anak direalisasi sebagai Roh itu. Roh itu, yakni perampungan sempurna dari Allah Tritunggal, sekarang tinggal dalam roh kita. Kebutuhan kita hari ini ialah beralih ke Roh itu dan menetap di situ, serta menobatkan Tuhan. Lalu secara riil roh kita akan bersatu dengan surga tingkat tiga. Kita akan memahami dalam pengalaman bahwa di satu pihak, tempat yang maha kudus memang berada di surga; tetapi di pihak lain, ia pun ada di dalam roh kita. Ini menunjukkan bahwa tatkala kita menetap di dalam roh kita, kita sebenarnya telah menjamah surga. Jika kita menobatkan Tuhan dalam batin kita, maka Roh sebagai air hayat itu akan mengalir dari takhta untuk menyuplai kita. Inilah anugerah, dan inilah cara untuk menerima dan menikmati anugerah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 37

21 August 2012

Galatia - Minggu 19 Selasa


Pembacaan Alkitab: Yoh. 1:16; Ibr. 4:16


Untuk memahami apa yang dimaksud Paulus dengan anugerah dalam 6:18, kita perlu kembali kepada Injil Yohanes. Dalam kitab Injil ini tercatat bahwa Firman yang ada pada mulanya, yang bersama dengan Allah, dan yang adalah Allah, telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita, penuh anugerah dan kebenaran (1:1, 14). Menurut Yohanes 1:16, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah.” Selain itu, Yohanes 1:17 memberi tahu kita “Sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus.” Fakta hukum Taurat itu “diberikan” dan anugerah itu “datang” menunjukkan bahwa anugerah adalah suatu persona. Anugerah bukan diberikan, melainkan datang bersama Yesus Kristus. Anugerah dalam Yohanes 1 adalah Roh yang disebut di bagian lain dalam Injil Yohanes. Tatkala Kristus datang, datanglah pula bersamaNya sesuatu yang ajaib, yang disebut anugerah. Sebenarnya, anugerah ini adalah Persona yang ajaib, Kristus Yesus itu sendiri. Menurut Yohanes 1:16, dari kepenuhan Kristus kita telah menerima anugerah demi anugerah. Tetapi dalam Yohanes 7:39 dan 20:22, kita nampak bahwa kita benar-benar menerima Roh itu, yakni hembusan kudus itu. Bila ayat-ayat ini kita jajarkan, kita nampak bahwa anugerah dalam Yohanes 1 adalah Roh itu, yakni hembusan kudus dalam Yohanes 7 dan 20. Dalam Ibrani 10:29 Roh itu bahkan disebut Roh anugerah.

Sekali lagi kita boleh memakai listrik untuk perumpamaan. Boleh jadi kita mengira listrik adalah satu hal dan arus listrik adalah hal lain. Tetapi, sebenarnya arus listrik adalah listrik yang sedang bergerak. Kalau listrik tidak bergerak, ia tetap sebagai listrik saja. Tetapi begitu ia mulai bergerak, ia segera menjadi arus listrik. Namun arus listrik bukan satu hal yang berbeda dengan listrik itu. Arus listrik tak lain adalah listrik yang bergerak.

Perumpamaan arus listrik ini membantu kita memahami bahwa Roh anugerah sebenarnya adalah Roh yang sedang bergerak, beraksi, dan mengurapi di batin kita. Hal ini sangatlah subyektif. Ketika kita nampak anugerah sedemikian, kita sudah mencapai sasaran dalam mengenal makna anugerah. Sudah tentu anugerah merupakan satu realitas yang ada di luar kita. Namun, bila anugerah masuk ke dalam kita, dalam pengalaman kita ia adalah Roh itu. Anugerah yang masuk ke dalam kita dan menjadi kenikmatan kita tidak lain dan tidak bukan adalah Roh itu sendiri.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia mewahyukan kepada kita di mana Dia berada hari ini. Di satu pihak, tidak dapat diragukan bahwa Ia berada di atas takhta di surga. Tetapi di pihak lain, bagi pengalaman kita, Ia berada di dalam roh kita. Ibrani 4:16 mengatakan, “Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” Takhta anugerah tidak saja berada di surga, juga di dalam roh kita. Jika ia bukan di dalam roh kita seperti di surga, mana mungkin kita dapat menghampirinya? Ada sebagian orang yang membantah dengan menganggap roh kita tidak cukup luas untuk menampung takhta anugerah. Ditinjau dari segi ukuran, memang bantahan tersebut seolah-olah masuk akal, namun fakta dapatnya kita menghampiri takhta anugerah menunjukkan bahwa takhta ini ada di dalam roh kita, ini sesuai dengan pengalaman. Dari pengalamanlah saya mengetahui, ketika saya beralih kepada roh dan menyeru “Tuhan Yesus”, saya segera merasakan bahwa takhta anugerah itu sesungguhnya ada dalam roh saya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 37

20 August 2012

Galatia - Minggu 19 Senin


Pembacaan Alkitab: Gal. 1:3; 6:16-18


Paulus mengakhiri Kitab Galatia dengan kalimat: “Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara! Amin.” Pada permulaan kitab ini Paulus berkata, “Anugerah menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus” (1:3). Namun pada akhirnya, Paulus terlebih dulu mengatakan damai sejahtera (6:16), kemudian baru anugerah.

Mengapa pada permulaan Kitab Galatia Paulus mengatakan anugerah sebelum damai sejahtera dan pada akhirnya berkebalikan? Anugerah adalah Allah menjadi kenikmatan kita, dan damai sejahtera adalah suatu kondisi yang diakibatkan dari anugerah. Karena itu pada mulanya kita terlebih dulu memiliki anugerah, kemudian baru damai sejahtera. Tetapi begitu kita masuk dengan anugerah ke dalam suatu keadaan damai sejahtera baik dengan Allah secara vertikal maupun dengan sesama manusia secara horizontal, kita perlu memiliki anugerah untuk menjaga kita dalam situasi damai sejahtera yang sedemikian.

Jika kita tidak mengenal roh manusia (yang telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus), kita tidak bisa menikmati Kristus sebagai Roh yang almuhit. Kita boleh memakai penggunaan listrik yang praktis sebagai perumpamaan. Walaupun listrik telah terpasang di rumah Anda, Anda tetap perlu memakai saklar atau tombol untuk menyalakannya. Jika Anda tidak mengetahui di mana tombol itu, Anda tidak mungkin mengalami faedah listrik itu. Listrik surgawi pun telah terpasang di dalam kita, dan roh manusia adalah tombol untuk memanfaatkannya. Anugerah Tuhan Yesus Kristus — listrik surgawi — menyertai roh kita, yakni tombol itu.

Menurut Alkitab, fungsi roh ialah untuk berkontak dengan Allah. Tatkala kita mendengar Injil, kita bertobat dari dosa-dosa kita. Pertobatan melibatkan penggunaan hati nurani kita. Ketika kita membiarkan terang kebenaran menyoroti kita melalui pikiran ke dalam hati nurani kita, maka hati nurani kita menyuruh kita bertobat. Karenanya, pertobatan berkaitan dengan penggunaan bagian utama dari roh kita. Walaupun mungkin kita tidak memahaminya ketika kita beroleh selamat tetapi pada waktu itu, kita telah menggunakan roh kita. Selain bertobat, kita pun berdoa kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya. Mungkin kita berkata, “O Tuhan Yesus, Engkau adalah Penebusku. Aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah mati di atas salib bagi dosa-dosaku. Tuhan aku cinta kepada-Mu, dan aku menerima Engkau sebagai Juruselamatku.” Pada saat kita berdoa demikian, dengan menggunakan iman dalam Tuhan, Roh Allah masuk ke dalam roh kita dan melahirkan kembali roh kita. Pada saat kita beroleh selamat, roh kita telah dimanfaatkan untuk bertobat dan menerima Tuhan. Sejak saat itu dan seterusnya, Roh itu berhuni dalam roh kita. Karenanya, roh itu merupakan tempat di mana kita berkontak dengan Allah, sebab di sinilah Allah Tritunggal yang telah melalui proses itu tinggal sebagai Roh pemberihayat yang almuhit.

Sering kali ketika kita mulai berdoa, kita masih berada dalam pikiran atau emosi kita. Namun lambat laun doa kita membawa kita masuk ke dalam roh kita. Lalu kita merasa bahwa kita sedang berjumpa dengan Tuhan dan kita bersatu dengan Dia. Tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan betapa indahnya menjadi satu roh dengan Tuhan. Alangkah nikmatnya hal ini! Kenikmatan ini mendatangkan kepastian atau jaminan bahwa Allah Tritunggal itu riil adanya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 37

18 August 2012

Galatia - Minggu 18 Sabtu


Pembacaan Alkitab: Gal. 6:16


Kita semua perlu satu visi pengendali, penuntun, dan pengatur dari Allah Tritunggal sebagai sasaran kita. Jika kita nampak visi ini, kita akan dikendalikan dan dipimpin olehnya. Saya dapat bersaksi, demi belas kasihan-Nya, saya telah nampak visi ini lebih dari setengah abad yang lampau, dan saya tidak pernah diselewengkan dari visi ini. Visi ini terus-menerus mengatur, mengendalikan, dan menuntun saya. Hidup saya bukan tanpa sasaran, sebab saya mempunyai sasaran yang pasti. Bertahun-tahun visi tentang Allah Tritunggal sebagai sasaran saya ini selalu menguatkan dan menopang saya.

Bila kita nampak visi Allah Tritunggal sebagai sasaran kita, pasti kita tidak akan menabur kepada daging, melainkan menabur kepada Roh itu, yaitu Allah Tritunggal almuhit yang tinggal dalam roh kita. Persona yang hidup ini haruslah menjadi sasaran kita, dan kita harus mengarah kepada-Nya dalam segala sesuatu yang kita lakukan, katakan, dan apa adanya kita.

Menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita agak berbeda dengan berusaha untuk tidak mengasihi dunia. Kita diciptakan dengan kapasitas untuk mengasihi. Kita semua perlu mengasihi sesuatu. Jika Anda memberi seseorang sesuatu untuk dikasihinya, dan benda itu lebih baik daripada dunia, pasti ia akan mengasihinya sebagai ganti dunia. Akan tetapi, karena manusia tidak mempunyai apa-apa yang lebih baik, maka mereka tetap mengasihi dunia. Jika kita menasihati orang Kristen untuk tidak mengasihi dunia, itu terlalu dangkal. Sebagai umat manusia, kita memiliki keinginan untuk mengasihi sesuatu, dan keinginan ini perlu dipenuhi. Kalau kita dipuaskan dengan mengasihi Allah Tritunggal, Persona yang riil, hidup, hadir, dan subyektif bagi kita, maka kita akan tidak mampu mengasihi dunia lagi. Allah Tritunggal yang menjadi Roh pemberi-hayat yang pasti lebih indah daripada dunia ini, telah memiliki kita sepenuhnya. Kaum beriman diselamatkan dari mengasihi dunia bukan dengan pengajaran, melainkan dengan mengasihi Allah Tritunggal dan dipenuhi oleh-Nya.

Bila kita menabur kepada Allah Tritunggal, kita akan hidup oleh Roh. Demikian, dengan spontan kita akan menjadi ciptaan baru. Makna ciptaan baru ialah Allah, Roh ilahi, membaurkan diri-Nya sendiri dengan kita dan menyusun kita dengan diri-Nya sendiri sehingga kita menjadi baru. Ajaran-ajaran etika mungkin bisa memperbaiki perilaku seseorang, namun tidak mampu menyusun kembali siapa pun. Tetapi bila kita mengarah kepada Allah Tritunggal dan hidup oleh Roh pemberi-hayat yang almuhit, Roh itu akan menyalurkan unsur ilahi ke dalam kita dan menyusun ulang diri kita. Hasilnya, kita tidak lagi menjadi ciptaan lama, melainkan menjadi ciptaan baru dengan unsur ilahi yang tergarap ke dalam kita. Hasil terakhir dari hal ini ialah Yerusalem Baru.

Hari ini umat gereja dalam pemulihan Tuhan sedang mengalami proses disusun ulang dengan unsur ilahi. Kita bukan mengarah kepada mengoreksi diri atau memperbaiki diri. Sasaran kita bukanlah belajar sabar atau mengembangkan kapasitas untuk menahan derita. Semua itu bukan ciptaan baru. Ciptaan baru adalah masalah umat pilihan Allah menjadikan Roh almuhit itu sebagai sasaran mereka, mengarah kepada-Nya, menjadi satu Roh dengan-Nya, dan sebagai akibatnya, memiliki unsur ilahi yang ditransfusikan ke dalam mereka demi menyusun ulang mereka dan menjadikan mereka baru.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 36

17 August 2012

Galatia - Minggu 18 Jumat


Pembacaan Alkitab: Gal. 6:14-15


Setelah menunjukkan betapa para penganut agama Yahudi menghendaki kaum beriman Galatia disunat sehingga mereka dapat bermegah atas daging orang-orang Galatia, Paulus berkata, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (6:14). Paulus tidak bermegah dalam sunat, melainkan dalam salib Kristus. Sunat adalah suatu bayangan, tetapi salib adalah realitasnya. Para penganut agama Yahudi bermegah dalam bayangan, sedang Paulus bermegah dalam salib. Melalui salib, seluruh dunia agama — agama Yahudi, hukum Taurat, peraturan-peraturan, dan sunat — telah disalibkan bagi Paulus. Tambahan pula, Paulus dapat bermegah dalam salib, sebab olehnya ia telah disalibkan bagi dunia agama.

Dalam ayat 15 Paulus melanjutkan, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Bagi Allah, bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, yang berarti bagiNya ialah ciptaan baru. Ciptaan baru didatangkan melalui salib Kristus. Ciptaan baru ini adalah patokan yang harus diikuti kaum beriman dalam hidup dan berperilaku (ayat 16).

Disinggungnya ciptaan baru oleh Paulus dalam 6:15 memberi kita alasan untuk menabur kepada Roh itu. Hasil menabur kepada Roh itu ialah ciptaan baru. Karenanya, kita harus menabur kepada Roh itu demi ciptaan baru. Akan tetapi, jika kita memperhatikan pemeliharaan hukum Taurat dan sunat, kita akan menabur kepada daging. Sunat tidak dapat mengubah ciptaan lama, sebab sunat tidak dapat mengubah sifat kita. Sunat tidak dapat melahirkan kita kembali, memberi kita hayat ilahi, atau mengubah kita. Setelah seseorang disunat, ia tetap ciptaan lama. Tetapi bila kita mengarah kepada Roh itu dan menabur kepada Roh itu, Roh itu akan menjadikan kita ciptaan baru.

Sasaran Paulus jauh berbeda dengan sasaran para penganut agama Yahudi. Sasaran Paulus ialah Roh itu, Allah Tritunggal yang almuhit. Inilah sasaran tunggal Paulus, dan ia rela melupakan setiap perkara lain demi sasaran ini. Setiap perkara yang ia lakukan mengarah kepada Roh itu. Apakah sasaran hidup Anda? Dapatkah Anda berkata bahwa Anda mengarah kepada Allah Tritunggal, atau Anda mengarah kepada perkara yang lain? Betapa indahnya kita dapat berkata bahwa Allah Tritunggal adalah sasaran kita, dan kita mengarah kepada-Nya.

Dalam melakukan berbagai hal kita perlu mengarah kepada Roh itu. Sasaran kita seharusnya memperoleh faedah yang berasal dari mengarah kepada Roh itu. Mengatakan sasaran kita adalah Roh itu berarti sasaran kita adalah Allah Tritungal yang telah melalui proses. Dalam apa saja yang kita lakukan, haruslah kita yakin bahwa sasaran kita ialah Allah Tritunggal. Menabur kepada Roh itu berarti menjadikan Allah Tritunggal yang telah melalui proses itu sebagai sasaran hidup kita.

Hari ini bagi kita, Allah Tritunggal tidak hanya bersifat obyektif. Dia adalah Roh itu sebagai sasaran kehidupan sehari-hari kita. Bagi orang-orang Yahudi dan bahkan bagi kebanyakan orang Kristen, Allah hanya bersifat obyektif. Tetapi bagi kita, Allah juga bersifat subyektif, sebab Ia tinggal dalam roh kita untuk menyalurkan anugerah kepada kita. Jadi, Allah kita tidak melulu menjadi obyek penyembahan kita, Dia juga sebagai Roh pemberi-hayat dalam roh kita. Persona yang berhuni dalam kita inilah yang seharusnya menjadi sasaran kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 36

16 August 2012

Galatia - Minggu 18 Kamis


Pembacaan Alkitab: Gal. 6:7-16


Paulus berpendapat orang-orang yang berusaha memelihara hukum Taurat dan mempraktekkan sunat adalah orang-orang yang menabur kepada daging. Dalam 6:8 Paulus berkata, “Sebab siapa yang menabur kepada dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya” (Tl.). Lalu dalam ayat 12-13 dikatakan selanjutnya, “Mereka yang secara lahiriah (di dalam daging) suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. Sebab mereka yang menyunatkan dirinya pun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas dagingmu” (Tl.). Pemakaian kata daging dalam ayat-ayat ini oleh Paulus memberi kita sebuah kunci untuk memahami apa yang dimaksud dengan menabur kepada daging. Menurut pemikiran yang mendasari bagian Kitab Galatia ini, menabur kepada daging berarti mempraktekkan sunat dan giat memelihara hukum Taurat. Bersunat maupun memelihara hukum Taurat adalah perkara-perkara lahiriah. Paulus menunjukkan dengan tegas bahwa para penganut agama Yahudi bermegah atas penyunatan dalam daging. Mereka memaksa orang lain bersunat agar mereka dapat bermegah atas daging mereka. Bahkan Paulus berkata, “Mereka yang di dalam daging menonjolkan diri” (Tl.). Penganut agama Yahudi itu seakan-akan berkata, “Lihatlah kami, kami semua telah disunat. Kami mempunyai tanda atas daging kami untuk menunjukkan bahwa kami adalah orang-orang yang bersunat.” Menurut perkataan Paulus, ini berarti menonjolkan diri dalam daging.

Dalam 6:7 Paulus mendeklarasikan, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.” Allah adalah Pencipta, Administrator, dan Persona yang mengoperasikan segala sesuatu dalam alam semesta. Ia tidak dapat dipermainkan oleh orang-orang yang menentang ekonomi-Nya. Bila Ia memutuskan untuk mengesampingkan hukum Taurat dan sunat, siapa yang berhak menentang-Nya? Apa hak para penganut agama Yahudi untuk meneruskan praktek sunat bila Allah sendiri telah menghapusnya? Dengan mempertahankan praktek itu demi menonjolkan diri dalam daging, maka para penganut agama Yahudi telah berontak melawan pengaturan pemerintahan Allah. Pemberontakan semacam itu benar-benar berarti menabur kepada daging, dan pasti mengakibatkan kebinasaan dan kehancuran.

Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita perlu menabur kepada Roh itu. Ekonomi Allah ialah memberikan diri-Nya sendiri sebagai Roh itu kepada kita. Kita harus menerima Roh itu sebagai sasaran kita, tujuan kita, dan jangan begitu bodoh hingga mengarah kepada hukum Taurat atau sunat. Sasaran Allah ialah menjadi Roh almuhit di dalam kita bagi kenikmatan kita. Apa yang bisa menjadi alasan kita untuk tidak mengarah kepada sasaran yang indah dan menakjubkan ini?

Perampungan sempurna dari hayat kekal ialah Yerusalem Baru. Dalam Yerusalem Baru tidak akan ada hukum Taurat dan sunat, yang ada ialah aliran sungai air hayat dengan pohon hayat. Itulah hayat yang kekal. Yerusalem Baru, perwujudan terakhir hayat kekal, akan menjadi hasil yang sempurna dari penaburan kita kepada Roh itu.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 36

15 August 2012

Galatia - Minggu 18 Rabu


Pembacaan Alkitab: Gal. 6:8, 10


Beban Paulus dalam Kitab Galatia ialah mewahyukan Kristus sedemikian rupa sehingga Ia tidak saja menjadi titik inti ekonomi Allah, tetapi juga menjadi titik inti hidup dan perilaku sehari-hari kita. Allah telah mewahyukan Kristus ke dalam kita, sekarang kita perlu memperhidupkan Dia. Inilah wahyu yang disajikan dalam kedua pasal pertama. Seperti telah kita nampak, Paulus selanjutnya menunjukkan betapa kita dapat mengalami Kristus yang demikian. Jika kita ingin mengalami Dia, haruslah kita memiliki Roh itu sebagai hayat kita. Ini mengharuskan kita memiliki kelahiran ilahi. Setelah itu kita harus hidup oleh Roh dan menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita. Kita bukan manusia yang tanpa tujuan, yang mengembara tanpa suatu sasaran. Kita mempunyai satu sasaran yang jelas dan tegas, yakni Roh itu. Jika Roh itu adalah sasaran kita, setiap perkara dalam kehidupan sehari-hari kita akan bermakna. Cara kita berbusana, bagaimana kita menata kamar kita, ke mana kita pergi, bahkan apa yang kita makan, semuanya akan berarti menabur kepada Roh itu. Bila Roh itu menjadi sasaran kita, hidup kita di bumi ini hanya akan mengarah kepada sasaran ini. Akan tetapi, jika kita membiarkan daging menjadi sasaran kita, akhirnya kita akan menuai kebinasaan. Kebinasaan ini tidak saja mempengaruhi kita sendiri, tetapi juga mempengaruhi keluarga kita, bahkan keturunan kita. Dalam anugerah-Nya, Tuhan ingin membantu kita untuk menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita. Cara kita berbicara kepada orang lain, cara kita menggunakan uang kita, dan setiap aspek kehidupan kita, seyogianyalah mengarah kepada sasaran ini.

Dalam 6:10 Paulus berkata, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita.” Paulus menyebut saudara seiman segera setelah mengatakan tentang penaburan, ini menunjukkan bahwa penaburan kita sangat mempengaruhi saudara seiman, yang mencakup seluruh kaum beriman di bumi. Apa yang Anda tabur atau tanam hari ini akan mendatangkan pengaruh atas keluarga iman. Sebagai contoh, jangan mengira cara Anda mencukur rambut adalah soal sepele yang tidak berarti. Dalam hal mencukur rambut itu Anda akan menabur kepada daging dan menuai kebinasaan atau menabur kepada Roh itu dan menuai hayat kekal. Lagi pula, penaburan Anda itu berpengaruh atas kaum saleh bahkan atas gereja. Jika Anda menabur kepada Roh itu, hasilnya adalah suplai hayat bagi gereja. Kalau kita nampak hal ini, pasti kita akan damba menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita dan hidup bagi sasaran ini. Saya yakin bahwa bila kita hidup kepada Roh itu dengan menabur kepada Roh itu, kita akan menuai tuaian hayat yang kekal. Ini akan menjadi manfaat besar bagi kita sendiri, keluarga kita, kaum saleh di sekitar kita, bahkan semua gereja di bumi.

Setiap rinci kehidupan kita sangat penting, karena semuanya itu merupakan penaburan kita. Kalau kita menabur kepada Roh itu dalam setiap bagian kecil dari kehidupan sehari-hari kita, kita akan memiliki suatu kehidupan kepada Roh itu. Hasil dari kehidupan semacam ini ialah hayat yang kekal. Jika Roh itu menjadi sasaran kita, kita akan menjadi suplai hayat bagi orang lain.


Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 2, Berita 35