Hitstat

21 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 4 Sabtu

Pentingnya Dipenuhi oleh Roh dan Firman
Filipi 1:20b
Melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.

Ayat Bacaan: Yoh. 6:63; Flp. 2:13

Kita boleh memakai listrik untuk mengumpamakan Roh dan firman. Sebagai listrik surgawi, Allah telah menginstalasikan diri-Nya ke dalam kita untuk kenikmatan kita. Namun, untuk menikmati Dia kita perlu Roh dan firman. Puji Tuhan, dalam tangan kita ada firman dan dalam roh kita ada Roh pemberi-hayat! Roh dan firman adalah dua hadiah besar yang Alah berikan kepada kita.
Kehidupan orang Kristen berkaitan erat dengan Roh pemberi-hayat dan firman hayat. Kita sangat perlu memahami bahwa firman adalah perwujudan Allah yang hidup. Tidak hanya demikian, firman adalah roh dan hayat. Tuhan Yesus berkata, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (Yoh. 6:63). Jangan sekali-kali kita memisahkan Allah, Roh itu, dan firman. Ketiganya adalah satu. Allah adalah firman, dan firman adalah Roh itu.
Jika Allah bukan firman, maka bagi kita Dia tetap menjadi satu rahasia yang besar. Allah telah menyatakan diri-Nya sendiri melalui pembicaraan-Nya. Karena Allah adalah Allah yang berbicara, maka Dia menjadi nyata. Kita memuji Tuhan, karena melalui perbuatan-Nya Dia telah menjadi Roh itu, dan melalui pembicaraan-Nya Dia telah menjadi firman.
Setiap hari kita perlu datang kepada firman dengan roh yang terbuka dan terlatih. Dengan demikian, kita tidak saja akan menerima terang dari firman, kita juga akan masuk ke dalam ruang lingkup terang itu. Setiap kali kita datang kepada Alkitab dengan hati yang murni dan roh yang benar, kita akan masuk ke dalam ruang lingkup terang.
Ketika kita berkontak dengan firman secara memadai melalui membaca dan berdoa, kita akan mengalami “arus listrik” ilahi. Manusia batiniah kita akan diperkuat, dihibur, dirawat, disuplai, dan disegarkan. Ini adalah Allah yang beroperasi di dalam kita menurut kerelaan-Nya (Flp. 2:13). Jika Allah beroperasi di dalam kita dan kita dipenuhi dengan firman, di mana saja kita berada, dan apa saja yang kita katakan atau lakukan, kita pasti akan menjadi ekspresi Allah yang hidup. Kita semua perlu berdoa dan dipenuhi dengan firman hayat, sehingga Kristus dapat diperbesar di dalam kita.

20 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 4 Jumat

Dua Unsur Dasar Pengajaran Tuhan
Yohanes 6:63
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

Ayat Bacaan: Luk.6:17-49; 1 Yoh. 1:1; Kis. 5:20

Pengajaran Tuhan dalam Lukas 6:17-49 memiliki dua unsur dasar. Unsur-unsur ini adalah firman ilahi dan hayat ilahi. Bagaimana kita tahu bahwa pengajaran Tuhan di sini berdasar pada hayat dan firman ilahi? Perhatikanlah apa yang dikatakan Tuhan dalam Lukas 6:35-36: “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.” Ayat-ayat ini menggambarkan kehidupan anak-anak Allah Yang Mahatinggi.
Ungkapan “anak-anak Allah Yang Mahatinggi” sesungguhnya menyiratkan hayat ilahi. Jika kita tidak memiliki hayat ilahi, bagaimana kita dapat menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi? Tentu tidak mungkin. Kehidupan menurut standar moralitas yang tertinggi berasal dari hayat ilahi yang olehnya kita dilahirkan dari Allah Yang Mahatinggi.
Kita tidak mungkin mengasihi musuh-musuh kita berdasarkan diri kita sendiri. Tetapi di dalam kita benar-benar ada satu hayat yang mengasihi musuh, yaitu hayat ilahi. Hayat ini adalah sumber dari standar moralitas yang tertinggi. Karena itu, standar moralitas yang tertinggi adalah hasil dan ekspresi dari hayat ilahi. Baik anak-anak Allah Yang Mahatinggi dalam Lukas 6:35 maupun pohon-pohon yang baik dalam Lukas 6:43, semuanya itu menunjukkan bahwa sumber standar moralitas yang tertinggi adalah hayat ilahi.
Pengajaran Tuhan Yesus sebenarnya adalah mengekspresikan hakiki-Nya sendiri. Karena Dia hidup menurut standar moralitas yang tertinggi, maka Dia mengajarkan moralitas ini kepada murid-murid-Nya. Firman ilahi adalah ekspresi hayat ilahi. Dalam Alkitab, firman itu disebut firman hayat (1 Yoh. 1:1; Kis. 5:20). Kita mendapatkan hayat ilahi melalui firman. Sesungguhnya ketika kita menerima firman hayat, kita mendapatkan hayat. Puji Tuhan! Melalui menikmati firman ilahi dan hayat ilahi yang terkandung dalam pengajaran Tuhan Yesus, kita dapat memperhidupkan moralitas yang tertinggi.

19 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 4 Kamis

Menjadi Pendengar dan Pelaku Firman
Lukas 6:49
Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.

Ayat Bacaan: Luk. 4:46-49; 1 Kor. 3:12-15

Tuhan mencela orang yang berseru-seru kepada-Nya namun tidak melakukan apa yang Dia katakan (Luk. 6:46). Dalam Lukas 6:47-48 Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya - Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan - ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.
Dalam ayat di atas, “rumah” mengacu kepada diri kita dan pekerjaan kita, perilaku kita. Jika diri kita sesuai dengan firman Tuhan, kita akan memiliki satu pondasi yang tepat. “Batu” dalam Lukas 6:48 itu bukan mengacu kepada Kristus, tetapi mengacu kepada perkataan hikmat Tuhan, yakni perkataan yang mewahyukan kehendak Allah Bapa. Diri dan pekerjaan kita harus didirikan di atas firman Manusia-Penyelamat bagi penggenapan kehendak Bapa kita.
Jika pekerjaan kita berdasar pada firman Tuhan, kita akan memiliki pondasi yang mantap. Jika diri dan pekerjaan kita berdasar pada firman Tuhan, maka keduanya akan dapat menahan segala macam ujian, “air bah” atau “banjir”. Walaupun hujan datang, banjir melanda, angin menerpa, rumah yang dibangun di atas batu tidak akan rubuh, sebab rumah itu dibangun di atas firman Tuhan. Rumah yang dibangun di atas batu yang tidak rubuh itu bagaikan karya bangunan dari emas, perak dan batu permata, yang dapat berdiri kokoh setelah melewati api pengujian Allah (1 Kor. 3:12-13).
Kalau kita setelah mendengar firman Tuhan namun tidak melakukannya, kita pasti tidak akan tahan menghadapi ujian. Jika diri kita dan pekerjaan kita tidak berdasar pada firman Tuhan, maka banjir itu akan menghanyutkannya. Rumah yang dibangun di atas tanah tanpa dasar dan yang rubuh ketika banjir melandanya itu sama dengan pekerjaan pembangunan dari rumput, kayu, dan jerami, yang akan terbakar oleh api penguji. Namun, tukang bangunan itu sendiri akan diselamatkan (1 Kor. 3:12-15). Dari perumpamaan ini kita nampak betapa pentingnya mendengarkan dan melakukan firman Tuhan.

18 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 4 Rabu

Pohon yang Baik Menghasilkan Buah yang Baik Pula
Lukas 6:43
Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.

Ayat Bacaan: Luk. 6:43; Mat. 7:17-19

Tidak ada hal-hal lain yang lebih nyata dari hal-hal rohani. Seseorang tidak dapat mencurangi Allah, tidak dapat mencurangi dirinya sendiri, dan dia pun tidak dapat mencurangi kaum imani. Pohon yang tidak baik pasti akan menghasilkan buah yang tidak baik, demikian pula sebaliknya, sebab baik tidaknya suatu pohon dikenal dari buahnya (Luk. 6:43; Mat. 7:17-19). Perkataan Tuhan di sini sangat serius!
Orang macam apakah kita menentukan anak-anak apakah yang kita hasilkan. Mereka yang mengasihi dunia akan menghasilkan anak-anak yang mengasihi dunia. Saudara-saudari yang menyukai dan mengikuti trend jaman ini, jika mereka juga dapat membawa keselamatan pada orang lain, akan membawa masuk orang-orang yang sembrono dan dangkal. Mereka yang memiliki watak yang buruk tentu akan membawa masuk orang-orang Kristen dengan watak yang buruk. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, pohon yang rusak menghasilkan buah yang jahat (Mat. 7:17). Orang macam apakah kita menentukan buah macam apakah yang kita hasilkan.
Orang-orang muda harus jelas mengenai hal ini. Kita mungkin mengira bahwa kita menikmati Tuhan, atau telah bertumbuh di dalam Tuhan, namun bukti luaran apakah yang kita miliki untuk membenarkan anggapan kita? Bagaimanakah kehidupan kita sehari-hari? Apakah sama seperti orang-orang dunia, atau sama seperti Kristus? Apakah karakater kita masih kendor, atau apakah telah melewati penanggulangan salib? Kita hanya dapat menceritakan sebuah pohon dari buahnya (Mat. 7:17-18). Segala sesuatu harus dilihat dari buahnya.
Kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang suka berpura-pura. Kalau kita berpura-pura menjadi orang yang rohani, kehidupan alamiah kita lebih sulit dibereskan. Allah tidak perlu orang yang demikian, karena berpura-pura demikian malah menghalangi pekerjaan Allah. Ya, tidak ada satu perkara yang menghalangi kehidupan orang Kristen lebih daripada kepura-puraan. Kita tidak perlu berpura-pura menjadi baik. Sebaliknya, kita perlu membiarkan Allah yang menjamah sekaligus membereskan kehidupan alamiah kita, sehingga kita dapat menghasilkan buah-buah yang baik.

17 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 4 Selasa

Perlu Belajar Memperhatikan Orang Lain
Lukas 6:41
Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?

Ayat Bacaan: Luk. 6:41; Flp. 2:4

Sebagai anak-anak Allah yang hidup di dalam roh yang rendah hati, kita pertama-tama harus mengeluarkan balok yang ada di dalam mata kita sendiri ketika kita melihat selumbar di dalam mata saudara kita. Serpihan kayu dalam mata saudara kita itu seharusnya mengingatkan kita akan balok yang ada di dalam mata kita sendiri. Selama balok itu tetap ada di dalam mata kita, maka pandangan kita akan kabur, dan kita tidak akan melihat dengan jelas. Di sini bukan berarti Tuhan menyuruh kita memperhatikan diri sendiri, melainkan memperhatikan kepentingan orang lain (Flp. 2:4).
Dalam hal menunjukkan kesalahan orang lain, kita harus menyadari bahwa kita mempunyai kesalahan yang lebih besar. Kesalahan saudara kita diibaratkan seperti selumbar dan kesalahan kita seperti balok. Ketika kita mencoba menunjukkan kesalahan seseorang, kita seharusnya lebih dahulu memperhatikan kesalahan diri sendiri, bukannya kesalahan orang lain.
Jika kita menilai besarnya kesalahan orang lain sebesar balok, itu menunjukkan bahwa kita hanya memperhatikan kesalahannya, bukan orangnya. Bila kita benar-benar memperhatikan atau mempedulikan orang lain, kita tentu tidak hanya memperhatikan kesalahannya, sebaliknya kita akan mengatakan kepada diri sendiri, “Kesalahannya hanyalah serpihan kayu jika dibandingkan dengan kesalahanku yang adalah sebesar balok. Karena itu dengan senang hati aku akan melupakan kesalahannya.”
Dalam mengikuti Tuhan, kita tidak boleh mempunyai ambisi, perbandingan, persaingan, atau iri hati. Sebab itu, jangan sekali-kali mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi anggaplah orang lain selalu lebih hebat daripada diri kita. Jangan membanggakan apa yang telah kita rampungkan atau iri terhadap apa yang telah dikerjakan oleh orang lain ataupun menghakimi kesalahan-kesalahan orang lain. Meskipun kita benar-benar tahu bahwa apa yang dikerjakan saudara kita ada kekurangan, kita bukan hanya tidak seharusnya mengkritik dia, bahkan kita seharusnya membantu dia. Kita diutus Tuhan bukan untuk mengukur saudara kita dengan “tongkat pengukur” melainkan untuk melayankan Kristus kepada dia. Untuk itu kita harus belajar merendahkan diri.

16 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 4 Senin

Berilah dan Kamu akan Diberi!
Lukas 6:38
Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Ayat Bacaan: Luk. 6:38

Tuhan mengatakan bahwa bila kita memberi kepada orang lain, Bapa kita yang di surga akan selalu mengembalikan kepada kita lebih banyak daripada yang kita berikan (Luk. 6:38). Alkitab memperlihatkan satu prinsip utama kepada kita: Kalau ingin berkelimpahan, harus memberi; kalau ingin miskin, simpanlah, tahanlah. Siapa saja yang hanya memikirkan dirinya sendiri, pasti akan menjadi orang miskin; tetapi siapa saja yang belajar memberi kepada orang, pasti akan berkelimpahan. Kenyataannya memang demikian, sebab Allah berfirman demikian. Bila Anda ingin terhindar dari kemiskinan, Anda harus selalu belajar memberi. Semakin Anda memberi kepada orang, Allah pun semakin memberi kepada Anda.
Dahulu ada kisah seorang beriman yang hendak memberikan suatu pemberian kepada seseorang. Dalam hal itu pemberiannya adalah sejumlah ikan. Sebelumnya, ia berpikir akan memberikan sepuluh ekor ikan. Tetapi makin memikirkannya, jumlahnya makin dikurangi. Sampai suatu saat ia sadar bahwa pemikiran untuk memberi sedikit itu adalah satu cobaan dari musuh. Sambil marah terhadap Iblis, ia berkata kepadanya, “Iblis, jika kamu terus mencobai saya, saya akan memberikan semuanya.” Ini menggambarkan bahwa kita perlu memiliki kerelaan untuk memberi. Jika kita memberi kepada orang lain, kita akan menerimanya kembali. Apa yang kita ukurkan kepada orang lain, itu juga akan diukurkan kepada kita.
Firman Allah sangat jelas, “Berilah dan kamu akan diberi.” Kalau kita tidak memberi kepada orang, Tuhan pun tidak memberi kepada kita. Banyak orang hanya beriman untuk “mohon” Allah memberinya sesuatu, namun tidak beriman untuk memberi. Karena itu, tidak heran, kalau mereka pun tidak “menerima” sesuatu dari Allah. Banyak orang yang sama sekali tidak mau belajar memberi, tetapi selalu menghendaki Allah mengabulkan doanya. Ini mustahil dan aneh! Kita harus memberi dulu, baru bisa memperoleh. Sebab itu, semua orang yang cinta uang, semua orang yang kikir, adalah orang-orang yang tidak mungkin menerima berkat dari Allah, tidak mungkin menerima suplai Allah. Bila kita ada masalah dalam hal memberi, niscaya kita akan mengalami kekurangan.

15 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 4 Minggu

Bukan Menghakimi Tetapi Mengampuni
Lukas 6:37
Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

Ayat Bacaan: Luk. 6:37; Yak. 2:13

Menghakimi berarti menyalahkan, mengampuni berarti membebaskan. Jika kita tidak menyalahkan, kita tidak akan disalahkan. Demikian juga, jika kita mengampuni, kita akan diampuni. Jika kita hidup di dalam roh yang rendah hati di bawah pemerintahan Tuhan, kita akan selalu menghakimi diri sendiri, tidak menghakimi orang lain. Sebagai anak-anak Allah, kita akan dihakimi dengan cara kita menghakimi. Jika kita menghakimi dengan keadilan, kita akan dihakimi oleh Tuhan dengan keadilan. Jika kita menghakimi orang lain dengan belas kasihan, kita akan dihakimi oleh Tuhan dengan belas kasihan. Seperti dikatakan dalam Yakobus 2:13, “Belas kasihan akan menang atas penghakiman.”
Dalam khotbahnya tentang pengampunan, C. H. Spurgeon menunjukkan bahwa orang Kristen sulit mengampuni orang lain. Ia mengatakan, kita mungkin mengira bahwa kita telah mengampuni seseorang. Namun, pengampunan kita itu dapat dibandingkan dengan menguburkan seekor anjing mati dengan ekornya tetap kelihatan. Setelah mengampuni seseorang, kita mungkin berkata, “Saudara itu bersalah kepadaku, tetapi aku telah mengampuni dia.” Inilah yang dimaksud dengan membiarkan “ekor anjing” itu kelihatan.
Jika kita benar-benar telah mengampuni seseorang, kita harus juga melupakan kesalahannya. Begitu kita mengampuni seseorang dalam satu perkara, kita tidak boleh menyinggungnya lagi. Setiap kali kita menyinggung satu kesalahan yang sebenarnya telah diampuni, itu berarti kita menarik “ekor anjing” yang telah dikubur itu untuk diperlihatkan kepada orang lain bahwa anjing itu telah dikubur. Jika kita berbuat begitu, itu menunjukkan bahwa kita belum membebaskan orang yang bersalah kepada kita.
Menurut Perjanjian Baru, mengampuni berarti melupakan dan membebaskan. Kita perlu mengampuni kesalahan orang dan membebaskan orang yang bersalah itu. Begitu kita melakukan hal ini, kita tidak boleh membicarakannya lagi. Saudara saudari terkasih, sebelum kita berjumpa dengan Tuhan di depan takhta pengadilan-Nya kelak, marilah kita memegang kesempatan untuk mengampuni kesalahan orang lain agar kelak kita pun beroleh pengampunan dari Tuhan.

14 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 3 Sabtu

Empat Ciri Umat yang Diberkati
Lukas 6:20b-21a
Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.

Ayat Bacaan: Luk. 6:20-23; Mat. 5:3

Kita yang percaya kepada Kristus dan yang telah dilahirkan dari Allah seharusnya menjadi suatu umat yang diberkati Allah, bukan umat yang terkutuk. Memang akibat kejatuhan dalam dosa, manusia berada di bawah kutuk. Tetapi dalam Yobel kasih karunia, Tuhan Yesus telah menyelamatkan kita dari kutuk itu dan membawa kita ke dalam berkat Allah. Karena itu, kita harus menjadi orang yang diberkati Allah. Dalam Lukas 6:20-23, sedikitnya ada empat ciri orang yang diberkati.
Menurut Lukas 6:20 jika kita ingin menjadi orang yang diberkati, kita perlu menjadi miskin, terutama menjadi miskin dalam hal rohani, miskin dalam roh (Mat. 5:3). Ini berarti kita rela dikosongkan dari hal-hal yang usang untuk menerima hal-hal yang baru. Setiap waktu kita perlu menjadi miskin dalam roh, memiliki perasaan yang dalam bahwa kita miskin dalam hal-hal rohani, dalam hal-hal mengenai Allah. Jika kita miskin sedemikian maka Kerajaan Allah segera menjadi berkat kita.
Ciri yang kedua dari umat yang diberkati adalah yang sekarang ini lapar (Luk. 6:21a), lapar secara rohani. Kita perlu lapar terhadap hal-hal yang tidak kita miliki dalam alam rohani itu sehingga terus mengerjarnya. Tuhan mengatakan bahwa orang-orang yang sekarang ini lapar akan dipuaskan. Bila kita lapar, kita akan dikenyangkan dan dipuaskan dengan kekayaan rohani.
Ciri yang ketiga dari umat yang diberkati adalah mereka yang menangis (Luk. 6:21b). Menangis di sini berarti bertobat dan menyesal, tidak puas terhadap situasi dan keadaan rohani kita. Karena itu, kita menyesal dan bertobat, serta medambakan satu perubahan dalam keadaan rohani kita.
Ciri keempat dari umat yang diberkati Allah adalah mereka yang dibenci karena Tuhan (Luk. 6:22-23). Menurut keinginan daging kita, kita mungkin senang dipuji oleh orang lain, dihargai, dihormati, dan disanjung oleh orang lain. Tetapi kita perlu sadar bahwa kaum beriman akan dibenci dan dicela oleh dunia. Alasannya adalah seluruh dunia ini mengikuti Iblis, dan kita mengikuti Tuhan. Karena jalan kita berlawanan dengan dunia, maka orang-orang dunia akan membenci kita dan mencela kita.

13 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 3 Jumat

Memuaskan dan Membebaskan Umat Allah
Lukas 6:1-2
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”

Ayat Bacaan: Luk. 6:5-10; 1 Kor. 15:45b; Yoh. 6:63

Orang-orang Farisi dalam kebutaan mereka hanya memperhatikan peraturan hari Sabat, namun mengabaikan rasa lapar dan penderitaan orang. Melanggar Sabat adalah satu perkara serius di mata orang-orang Farisi yang agamis. Bagi mereka, murid-murid Tuhan tidak boleh memetik butiran gandum dan memakannya pada hari Sabat. Mereka memperhatikan liturgi tentang Sabat, bukannya memperhatikan orang-orang yang lapar. Sebaliknya, Manusia-Penyelamat memperhatikan kepuasan para pengikut-Nya. Dalam Lukas 6:5 Tuhan berkata kepada orang-orang Farisi, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Perkataan Tuhan di sini menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang menentukan Sabat, dan sebagai Allah Dia berhak mengubah apa yang telah ditentukan-Nya mengenai Sabat.
Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya (Luk. 6:6). Sesudah itu Dia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya (Luk. 6:10). Dengan belas kasihan-Nya, Manusia-Penyelamat memulihkan orang yang mati tangan kanannya itu.
Dari dua kasus di atas kita dapat melihat bahwa agama usang hanya menyebabkan orang menderita lapar dan terbelenggu sehingga tidak dapat melayani Allah yang hidup. Hari ini banyak orang yang disebut pemeluk agama tertentu walau sangat giat memelihara tradisi atau aturan agamanya, tetapi di dalam roh mereka kering kerontang, tidak ada kepuasan. Dalam kondisi yang demikian mana mungkin dapat melayani Allah. Yang kita butuhkan bukan lebih banyak peraturan, tetapi Kristus sebagai kepuasan dan pembebas kita.
Tanpa menikmati Dia sebagai suplai hayat, manusia batiniah kita akan lapar dan lemah, tidak ada kekuatan untuk melayani Allah. Hari ini Kristus adalah Roh itu (1 Kor. 15:45b) dan Roh itu terkandung di dalam firman (Yoh. 6:63b). Tatkala kita menikmati firman, kita semua dapat bersaksi bahwa pada saat yang sama kita ditahirkan, disembuhkan, dipuaskan, dan dibebaskan. Inilah pengalaman orang Kristen yang seharusnya kita miliki!

12 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 3 Kamis

Memanggil Seorang Pemungut Cukai yang Hina
Lukas 5:27-28
Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Ayat Bacaan: Luk. 5:27-39, 18:11; Mat. 5:46, 10:3

Dalam Lukas 5:27-39 kita dapat melihat bagaimana Tuhan memanggil seorang pemungut cukai yang bernama Lewi atau Matius. Lewi adalah seorang pemungut cukai (Mat. 10:3), mungkin memiliki kedudukan yang tinggi di bidang itu. Walau demikian, di pandangan orang Yahudi, ia adalah seorang yang patut dikutuk, dihina, dan tidak dihargai (Luk. 18:11; Mat. 5:46). Di hadapan manusia, Lewi memang hina, tetapi ia dipanggil oleh Manusia-Penyelamat untuk mengikuti Dia. Tidak hanya demikian, ia pun kemudian dipilih dan ditunjuk sebagai salah satu dari dua belas rasul Tuhan.
Sebagai respon Lewi atas keselamatannya, ia pun mengadakan suatu perjamuan besar untuk Tuhan di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia (Luk. 5:29). Tindakan ini setidaknya menyiratkan dua hal. Pertama, Lewi dipenuhi dengan sukacita keselamatan dan ucapan syukur, sehingga ia serta merta mengadakan peramuan besar bagi Tuhan di rumahnya. Kedua, Lewi ingin agar teman-temannya yang sejumlah besar adalah juga pemungut cukai beroleh keselamatan. Ia telah diselamatkan, ia pun ingin teman-temannya diselamatkan. Itulah sebabnya ia mengundang teman-temannya ke perjamuan itu agar mereka berjumpa dengan Tuhan, mendengarkan Injil, dan beroleh selamat.
Orang-orang Farisi yang tidak pernah sekali pun mengadakan perjamuan bagi Tuhan di rumah mereka malah bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Luk. 5:30). Hari ini pun cukup banyak orang yang bersikap seperti orang-orang Farisi, yang kegemarannya adalah mencari-cari kesalahan, mengkritik, bersungut-sungut, dan suka menyalahkan orang. Di dalam gereja, kita semua perlu diselamatkan dari memiliki sikap seperti itu.
Bagaimana reaksi Tuhan terhadap pertanyaan orang-orang Farisi? Tuhan menjawab mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk. 5:31-32). Lihatlah, orang yang “sehat” dan selalu membenarkan diri akhirnya tidak beroleh keselamatan.

11 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 3 Rabu

Mengampuni Dosa Orang yang Lumpuh
Lukas 5:24
Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: ”Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”

Ayat Bacaan: Luk. 5:17-26

Dalam kasus menyembuhkan orang lumpuh (Luk. 5:17-26), kita dapat melihat kuasa pengampunan Tuhan terhadap orang lumpuh yang berdosa. Dalam Lukas 5:20 Dia berkata kepada orang yang lumpuh itu, “Hai saudara, dosa-dosamu sudah diampuni.” Dari perkataan Tuhan ini jelaslah bagi kita bahwa kelumpuhan yang diderita orang tersebut adalah disebabkan oleh dosanya. Kita dapat berkata demikian karena setelah dosanya diampuni, seketika itu pula ia sembuh dari lumpuhnya (Luk. 5:25).
Sebagai umat manusia yang telah jatuh, masalah utama kita adalah dosa kita. Segala masalah umat manusia sebenarnya adalah akibat dari dosa. Karena semua masalah umat manusia adalah akibat dosa, maka dosa harus ditanggulangi lebih dahulu jika mereka akan dipulihkan bagi Allah. Dalam Lukas 5:20, hal pertama yang dilakukan oleh Tuhan dalam melaksanakan pelayanan Injil-Nya adalah mengampuni dosa-dosa. Inilah alasannya Tuhan berkata kepada orang lumpuh itu, “Hai saudara, dosa-dosamu sudah diampuni!”
Perkataan ini mungkin mengagetkan orang yang lumpuh itu dan keempat orang yang membawanya kepada Tuhan, tetapi tentu lebih mengagetkan lagi bagi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Luk. 5:21). Mereka tidak menyadari bahwa Orang yang mengampuni dosa-dosa orang sakit lumpuh itu adalah Allah yang telah berinkarnasi dalam rupa seorang manusia yang hina. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak menyadari bahwa Tuhan adalah Allah. Dengan mengucapkan perkataan itu, mereka menolak Dia.
Penyelamatan Tuhan tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita, tetapi juga membuat kita bangkit dan berjalan (Luk. 5:25). Perhatikan, di sini urutannya bukan bangkit dan berjalan dulu baru kemudian diampuni, melainkan dosa-dosa kita diampuni terlebih dahulu, barulah kita dapat bangkit dan berjalan. Inilah yang disebut dengan diselamatkan oleh kasih karunia. Sudahkah dosa-dosa Anda diampuni? Sudah, yakni pada saat Anda percaya. Kini masalahnya, sudahkah Anda bangkit dan berjalan mengikuti Tuhan dengan setia?

10 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 3 Selasa

Mentahirkan Penderita Kusta
Lukas 5:12
Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”

Ayat Bacaan: Luk. 5:12-13; Bil. 12:1-10; 2 Raj. 5:1, 9-14; Im. 13:45-46

Menurut Perjanjian Lama, seorang kusta tidak boleh dijamah oleh siapa pun. Untuk menjauhkan orang lain dari penderita kusta, maka orang kusta itu harus berteriak, “Najis, najis!” Jadi, orang kusta itu benar-benar diasingkan. Tetapi Manusia-Penyelamat mengulurkan tangan-Nya untuk menjamah orang kusta (Luk. 5:13). Jamahan Tuhan kepada orang kusta itu mewahyukan kebajikan insani-Nya, sedangkan kuasa penyembuhan-Nya mewahyukan atribut keilahian-Nya.
Menurut kasus-kasus dalam Alkitab, kusta berasal dari pemberontakan dan ketidaktaatan. Miryam menjadi kusta karena pemberontakannya terhadap wakil kuasa Allah (Bil. 12:1-10). Sebaliknya, kusta Naaman ditahirkan karena ketaatannya (2 Raj. 5:1, 9-14). Semua manusia yang jatuh telah menjadi kusta di pandangan Allah karena pemberontakan mereka. Tetapi Manusia-Penyelamat telah datang untuk menyelamatkan orang-orang dari pemberontakan mereka dan mentahirkan mereka dari kusta mereka.
Seorang kusta, menurut hukum Taurat, diasingkan dari umat Allah karena ketidaktahirannya. Tidak ada seorang pun yang boleh menjamahnya (Im. 13:45-46). Tetapi Manusia-Penyelamat menjamah orang yang penuh kusta ini. Sungguh Tuhan penuh rahmat dan simpati! Dengan satu jamahan-Nya, “seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.” Kusta adalah penyakit yang paling cemar dan merusak, yang mengasingkan korbannya dari Allah dan manusia. Yesus mentahirkan orang kusta itu menandakan bahwa Dia memulihkan orang dosa kepada persekutuan dengan Allah dan manusia.
Perbuatan dosa memang tidak mungkin mengubah status anak-anak Allah menjadi bukan anak-anak Allah, tetapi dosa bisa mengakibatkan terputusnya persekutuan antara anak-anak Allah dengan Allah. Hari ini Tuhan menjamah kita lewat terang firman-Nya. Saat kita datang kepada-Nya dan terang firman-Nya menerangi, kita perlu mengakui setiap dosa kita. Pengakuan dosa yang tuntas demikian akan memulihkan kembali persekutuan kita dengan Allah. Tuhan pasti mau menyembuhkan kita, tetapi kita perlu datang kepada-Nya dan mengakui bahwa kita adalah orang yang kusta yang memerlukan pentahiran.

09 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 3 Senin

Engkau akan Menjadi Penjala Manusia
Lukas 5:10b-11
Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menarik perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Ayat Bacaan: Mat. 5:9-10; Mat. 4:19; Kis. 2:38, 11:15

D alam Lukas 5:10 Tuhan Yesus berkata kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Ini adalah panggilan Tuhan kepada Petrus melalui suatu mujizat dalam hal menjala ikan. Kata Yunani untuk “menjala” adalah zogreo, yang terdiri atas zoos (hidup), dan agreuo (menangkap). Jadi “menjala” di sini berarti menangkap hidup-hidup. Para nelayan biasanya menangkap ikan untuk mematikannya. Tetapi Petrus dipanggil Tuhan untuk menjadi penjala manusia (Mat. 4:19) untuk menjala manusia supaya mereka mendapatkan hayat kekal (Kis. 2:38; 11:15).
Begitu Petrus mengakui bahwa dirinya adalah orang berdosa, Tuhan segera berkata, “Mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Ini berarti penghidupan (mata pencaharian) dan kehidupannya berubah. Petrus mengubah pekerjaannya dari menjala ikan menjadi menjala manusia. Ya, sejak hari itu kehidupannya berubah. Begitu kita mengenal Tuhan dan mengakui dosa-dosa kita, dosa-dosa kita diampuni, dan kita menerima hayat Tuhan, seluruh hidup kita akan berubah. Perubahan ini sebenarnya adalah keselamatan Allah bagi kita.
Kita harus percaya bahwa di antara ribuan orang yang hidup di sekeliling kita pasti ada orang-orang yang sejak kekekalan lampau telah Allah pilih. Kita tidak tahu siapa orang-orang itu, tetapi Tuhan tahu. Bagaimana supaya kita bisa mendapatkan orang-orang itu? Kita haruslah datang kepada mereka seperti menjala ikan (Mat. 4:19; Luk. 5:9-10). Jika kita tidak pergi ke laut yang banyak ikannya, bagaimana kita bisa mendapatkan ikan? Rahasia dan prinsip mendapatkan orang dosa adalah dengan “menjala ikan”.
Di sekeliling kita, banyak sekali orang dosa. Jika hari demi hari kita secara berkesinambungan berkontak dengan mereka, kita pasti bisa mendapatkan beberapa di antara mereka. Seperti para nelayan yang dengan sabar pergi menangkap ikan sampai mendapatkan ikan, demikian pun kita harus berjerih lelah dalam Injil. Kita mungkin sepanjang tahun telah keluar tetapi tetap tidak ada hasil, namun pada akhir tahun kita mungkin mendapatkan satu keluarga. Yang penting di sini adalah kita mau melakukannya. Kalau kita rajin memberitakan Injil, niscaya kita akan berbuah (Yoh. 15:16).

08 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 3 Minggu

Memanggil Orang- orang yang Terjajah
Lukas 5:5-6
Simon menjawab,”Guru telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, ....”

Ayat Bacaan: Luk. 5:5-10; 2 Tes. 3:10b

Tanpa disadari seluruh umat manusia telah jatuh bukan hanya dalam dosa, tetapi juga dalam pekerjaan mereka. Pekerjaan adalah usaha atau sarana untuk mencari nafkah. Untuk eksistensi kita, kita memang perlu memiliki satu pekerjaan (2 Tes. 3:10b). Namun masalahnya adalah seringkali pekerjaan itu justru menjajah kita dan menjauhkan kita dari Allah. Lihatlah dunia hari ini. Siapakah yang tidak dijajah oleh pekerjaan atau kesibukannya? Banyak orang yang sibuk, tetapi hampir tidak ada orang yang sibuk bersama Allah. Sebaliknya, setiap orang dijajah oleh sesuatu yang menggantikan Allah, khususnya pekerjaan mereka.
Ketika Tuhan Yesus pertama kali memanggil murid-murid, Dia tidak memanggil mereka dari kehidupan mereka yang penuh dosa, melainkan dari pekerjaan mereka (Luk. 5:8-10). Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes memang adalah orang-orang berdosa, tetapi pada waktu mereka dipanggil, mereka sedang sibuk mencari ikan. Perkara mencari ikan telah menduduki mereka. Bekerja untuk mencari nafkah dengan cara yang halal tentu tidak salah, tetapi kapan kala pekerjaan itu mulai menjauhkan hati kita dari Allah, itu patut disayangkan.
Manusia diciptakan oleh Allah bagi diri-Nya sendiri, tetapi manusia telah dijajah dan dijauhkan dari Allah oleh hal mencari nafkah. Tidak ada sesuatu yang menjauhkan orang-orang dari Allah melebihi pekerjaan mereka. Orang-orang yang dijajah oleh hal mencari nafkah biasanya memberikan alasan-alasan ketika mereka diundang untuk mendengarkan Injil atau menghadiri perhimpunan gereja. Jika Anda mengundang mereka, sebagian besar akan mengatakan bahwa mereka sibuk atau tidak ada waktu. Itulah sebabnya Tuhan Yesus perlu melakukan sesuatu untuk menarik orang-orang yang dijajah itu.
Kecenderungan dunia ini semuanya mengarah kepada Iblis dan menjauhi Allah. Sikap yang tepat yang harus kita miliki terhadap pekerjaan adalah kita bekerja agar dapat melayani Allah. Kita bekerja bukan untuk memuaskan hawa nafsu kita, tetapi untuk menopang pekerjaan Injil, meluaskan penyebaran kebenaran, dan memperkuat kesaksian gereja. Kalau tidak demikian, maka pekerjaan itu telah menjajah kita, telah menjauhkan kita dari tujuan Allah.

07 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 2 Sabtu

Disembuhkan, Segera Bangun, dan Melayani
Lukas 4:39
Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ayat Bacaan: Luk. 4:39; 1:74-75; 2 Kor. 5:14-15; Rm. 12:1

Kita sungguh-sungguh memerlukan keselamatan penyembuhan dari Manusia-Penyelamat. Melalui penyampaian firman-Nya dan iman kita, kita disembuhkan sehingga fungsi rohani kita telah pulih dan kini kita dapat mulai melayani Tuan kita. Kita ini sama seperti ibu mertua Petrus yang setelah disembuhkan segera bangun dan melayani Tuhan. Semua orang yang telah disembuhkan, yang adalah milik Allah seharusnya adalah orang-orang yang melayani Allah. Hal ini tidak dapat ditawar lagi.
Dalam Perjanjian Lama, berapa banyak orang yang mendapatkan penebusan di bawah darah anak domba, sebanyak itu pula orang yang keluar ke padang gurun; berapa banyak orang yang menerima karunia keselamatan Tuhan, sebanyak itu pula seharusnya orang yang melayani Allah. Ini menyatakan bahwa setiap orang yang beroleh selamat, haruslah menjadi orang yang melayani; bukan hanya sejumlah kecil orang saja yang bisa melayani.
Melayani Tuhan adalah kasih karunia Tuhan, juga adalah sukacita orang Kristen. Allah mengijinkan kita mempersembahkan diri kepada-Nya, ini adalah memberi kita satu sukacita yang betapa besar! Dalam 2 Korintus 5:15 dikatakan, bahwa Tuhan telah mati bagi kita, bangkit bagi kita, supaya kita yang hidup karena Dia, tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk kita.
Lukas 1:74-75 memberitahu kita bahwa Allah sudah melepaskan kita dari tangan musuh agar kita dapat melayani Dia tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. Allah melepaskan kita dari tangan musuh bukan supaya kita dapat menikmati kesenangan hidup di dunia ini, tetapi agar kita dapat melayani Dia seumur hidup kita. Alangkah tidak logisnya bila kita tidak mempersembahkan diri dan melayani Dia (Rm. 12:1).
Pelayanan adalah hasil dari persembahan diri. Kita semua harus demi kasih Tuhan mempersembahkan diri kepada-Nya, baru dapat melayani Dia. Bila kasih Kristus menguasai kita, maka kita tidak dapat tidak hidup bagi Dia yang telah mati untuk kita (2 Kor. 5:14-15). Jika kita benar-benar nampak apa yang telah Tuhan kerjakan bagi kita, kita pasti akan segera bangkit melayani Dia.

06 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 2 Jumat

Menghardik Penyakit Demam
Lukas 4:39
Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ayat Bacaan: Luk. 4:38-39

Dalam Lukas 4:38-39 terdapat catatan tentang Tuhan menyembuhkan ibu mertua Simon yang terserang penyakit demam keras. Demam ini menandakan temperamen seseorang yang tidak terkekang, temperamen yang abnormal, yang tidak terkendali. Kondisi ini pastilah diakibatkan oleh dosa. Hari ini setiap manusia berdosa adalah sakit. Banyak yang sakit jasmani, namun yang pasti, semuanya sakit secara rohani. Walau dewasa ini banyak pelayanan keagamaan tertentu yang menekankan penyembuhan jasmani, akan tetapi kita perlu lebih banyak memperhatikan penyembuhan rohani daripada penyembuhan jasmani.
Dari manakah asalnya demam? Yang pasti bukan dari Allah. Demam yang diderita oleh ibu mertua Petrus, jelas berasal dari serangan Iblis; sebab itu, Tuhan harus menghardik penyakit demam itu (Luk. 4:39). Penyakit itu pasti merupakan sesuatu yang mempunyai pribadi, karena itu Tuhan Yesus dapat menghardiknya. Kita tidak dapat menghardik sebuah gelas atau sebuah kursi, kita hanya dapat menghardik sesuatu yang berpribadi. Di balik demam itu terdapat Iblis yang berpribadi, maka begitu Tuhan menghardik demam itu, ia pun segera sembuh dan bangun melayani Tuhan.
Ketahuilah, orang-orang di dunia hari ini sedang “sakit demam.” Banyak saudara, dan khususnya para saudari memiliki hati yang panas. Hati yang panas selalu membuat orang seakan-akan bodoh. Tiap kali orang mengalami “demam” tinggi, dia akan berbicara ngawur. Berbicara kepada siapa pun dalam keadaan hati yang panas tidak akan menuai respon positif. Agar dapat melayani Tuhan dan umat-Nya, kita semua perlu disembuhkan dari penyakit ini.
Salah satu gejala lain dari “demam” adalah mudah tersinggung, lalu marah-marah. Sangat sulit menguasai amarah kita. Beberapa orang sepertinya sangat lemah lembut, tetapi amarah mereka sama seperti kuda liar. Ketika kita marah, tidak seorang pun dapat mengekang kita atau menguasai kita. O, betapa kita perlu disembuhkan dari sakit demam kita yang mengerikan itu. Saat ingin marah, segeralah berseru kepada Tuhan: “O, Tuhan Yesus, aku perlu Engkau.” Doa yang demikian akan segera menurunkan temperatur “demam” kita.

05 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 2 Kamis

Mengusir Setan yang Merasuki Orang
Lukas 4:36
Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar.”

Ayat Bacaan: Luk. 4:33-35; 1 Yoh. 5:19; 2 Kor. 4:4; Ef. 4:27

Dalam Lukas 4:33-35 terdapat catatan di mana Yesus mengusir setan yang merasuk orang di dalam rumah ibadat. Perasukan ini merupakan bukti bahwa manusia berada di bawah perbudakan dan belenggu Iblis. Yang lebih mengherankan lagi, orang yang kerasukan setan itu ternyata berada di dalam rumah ibadat. Ini pun membuktikan bahwa agama beserta segala ritualnya tidak sanggup memerdekakan orang dari penawanan setan. Hanya Yesus, Yang diurapi Allah, yang memiliki kuasa dan kekuatan untuk melepaskan manusia dari penawanan dan perbudakan setan.
Hari ini tanpa disadari seluruh umat manusia telah berada di bawah penawanan dan perbudakan si jahat (1 Yoh. 5:19). Mereka adalah orang-orang yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini (2 Kor. 4:4). Orang yang dirasuk roh jahat adalah orang yang tidak bebas, yang tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri, sebaliknya dikendalikan oleh suatu kekuatan dari luar dirinya. Misalnya, ada orang mungkin dikendalikan oleh judi, hiburan malam, minuman keras, rokok, obat-obat terlarang, atau dosa lainnya. Mereka yang dirasuk oleh roh jahat biasanya hidup tanpa aturan, hidupnya berantakan. Peraturan apa pun dilanggar. Akhirnya mereka suka “memukuli diri sendiri” (merusak reputasi, kedudukan, dan martabat keluarga mereka sendiri).
Tahun yobel adalah tahun pembebasan. Sebagai Manusia-Penyelamat, Yesus datang untuk membebaskan kita dari belenggu setan. Dahulu kita pun adalah orang-orang yang tertawan oleh kuasa si jahat. Tetapi kini, melalui percaya ke dalam Kristus, kita telah dibebaskan dari perbudakan dan dibawa kembali kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.
Setelah kita dibebaskan oleh Tuhan dari penawanan setan, jangan sekali-kali memberi kesempatan atau tumpuan lagi kepada setan (Ef. 4:27). Setiap macam dosa akan memberi tumpuan kepada roh jahat. Mentoleransi dosa berarti mentoleransi roh jahat yang ada di balik dosa. Oleh sebab itu kita harus secara khusus meninggalkan dosa-dosa tertentu yang mungkin masih kita senangi. Penanggulangan yang tuntas terhadap dosa akan membuat kita sepenuhnya terlepas dari penawanan dan perbudakan setan!

04 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 2 Rabu

Menyuplaikan Injil Namun Ditolak
Lukas 4:22
Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”

Ayat Bacaan: Luk. 4:18-27; 2 Kor. 5:16; Rm. 1:4; Yoh. 6:33, 35; 1 Kor. 6:11; Kis. 13:45-48

Meskipun orang-orang heran akan kata-kata kasih karunia (indah, LAI) yang diucapkan Tuhan dalam Lukas 4:18-19, namun kelihatannya mereka tidak memahami kata-kata ini. Kata-kata indah yang Tuhan Yesus ajarkan waktu itu sebenarnya adalah Injil, namun karena mereka tidak mengenal Tuhan menurut Roh melainkan menurut daging, maka mereka berbalik menolak Dia (Luk. 14:22; 2 Kor. 5:16; Rm. 1:4). Pengenalan mereka yang alamiah terhadap Manusia-Penyelamat akhirnya membuat mereka kehilangan kenikmatan atas Yobel.
Dalam Lukas 4:23-27 Tuhan Yesus memperingatkan orang-orang Yahudi dengan memakai kasus pemberian makan seorang janda di Sarfat dan kasus pentahiran kusta Naaman, orang Siria itu. Kasus janda Sarfat adalah suatu kasus pemberian makan, menunjukkan Tuhan memberi makan orang-orang yang lapar (Yoh. 6:33, 35), sedangkan kasus Naaman adalah suatu kasus pentahiran, yang menunjukkan Tuhan mentahirkan orang-orang dosa (1 Kor. 6:11). Penyelamat menyinggung dua kasus ini menyiratkan bahwa Injil-Nya akan beralih kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi (Kis. 13:45-48).
Dalam pengalaman kita, Injil memberikan dua hal kepada kita yakni pentahiran dari dosa-dosa dan pemberian makan. Ditahirkan dari dosa-dosa berarti diampuni, dibenarkan, dan disucikan dari segala dosa. Aspek ini telah dirampungkan oleh darah Kristus (Mat. 26:28; Rm. 5:10; Ibr. 9:14). Namun Injil tidak berhenti di sini, tetapi berlanjut pada pemberian makan. Setelah kita diampuni, dibenarkan, dan disucikan, kita masih perlu menerima suplai hayat untuk keselamatan yang lebih lanjut (1 Ptr. 2:2; Yoh. 6:57). Perihal pemberian makan ini terlukis pula dalam Lukas 15:23 di mana Kristus dilambangkan sebagai anak lembu tambun yang disembelih bagi kepuasan kita.
Setelah kita diampuni oleh darah Kristus, satu hal yang tidak boleh kita abaikan yaitu menikmati Kristus sebagai suplai hayat. Inilah tujuan Injil yang sebenarnya (Rm. 5:10). Tanpa menerima Kristus sebagai suplai hayat kita, Allah tidak ada jalan untuk menyembuhkan dan mengubah kita. Setiap hari kita perlu dikenyangkan oleh Kristus melalui menikmati Roh dan firman-Nya.

03 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 2 Selasa

Pembebasan bagi Tawanan, yang Buta, dan yang Tertindas
Lukas 4:18b-19
Dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.

Ayat Bacaan: Luk. 4:18-19; 1:53; Mat. 5:6

Kita mungkin telah menjadi orang Kristen lima atau sepuluh tahun, tetapi mungkin belum sepenuhnya dibebaskan. Cobalah periksa kehidupan Anda sehari-hari dari pagi hingga malam. Apakah Anda telah dibebaskan dari tawanan Iblis? Apakah Anda telah dilepaskan dari kebutaan rohani? Apakah Anda telah merdeka sepenuhnya dari penindasan dunia ini? Kekuatiran hidup, frustrasi karena pekerjaan, tidak sabar, iri hati, dan marah-marah, sudah cukup membuktikan bahwa Anda belum sepenuhnya dibebaskan.
Apakah rahasia dibebaskan? Kepuasan. Selama di dalam kita belum ada kepuasan, kita tidak mungkin memiliki perhentian dan kebebasan. Kebebasan baru ada setelah kepuasan. Bila batin kita belum dipuaskan, kita tidak akan merasakan kebebasan yang penuh. Agar dapat dipuaskan, kita harus memiliki roh yang lapar dan haus akan Tuhan.
Lukas 1:53 mengatakan, “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan tangan hampa.” Matius 5:6 juga mengatakan, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Adakah kita memiliki rasa lapar dan haus yang demikian? Hanya mereka yang lapar dan haus akan Tuhan yang akan dipuaskan dan akhirnya beroleh kebebasan yang penuh.
Banyak anak-anak Allah hanya berdoa untuk sandang dan pangan mereka, untuk orang tua, anak-anak, atau untuk perkara-perkara jasmani. Namun pernahkah Anda berdoa agar memiliki roh yang lapar dan haus akan Tuhan? Karunia Allah hanya disajikan bagi satu macam orang, yaitu orang yang lapar. Orang yang benar-benar dari batinnya ada satu keperluan, dan benar-benar ingin berjumpa dengan Allah, Allah pasti memberkati dia.
Tatkala kita menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita, roh kita akan dikenyangkan, dipuaskan, dan batin kita akan mengalami kebebasan. Iblis, dosa, dan unsur-unsur dunia tidak berdaya membelenggu orang yang dipenuhi oleh Kristus. Penawanan Iblis, kebutaan rohani, penindasan oleh dosa dan dunia hanya bisa dikalahkan dengan datang kepada Kristus, menikmati Kristus sebagai makanan kita. Inilah rahasia kepuasan dan kebebasan kita yang ajaib.

02 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 2 Senin

Mengumumkan Tahun Rahmat Tuhan
Lukas 4:18
Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku.

Ayat Bacaan: Luk. 4:18-19, 21; Why. 3:17; Mat. 5:3; Yes. 42:7; Im. 25:8-17

Yesus datang ke Nazaret, tempat Dia dibesarkan. Menurut kebiasaan-Nya, Dia masuk ke dalam rumah ibadat pada hari Sabat dan berdiri hendak membaca dari Kitab Suci. Lalu kepada-Nya diberikanlah kitab Nabi Yesaya. Kemudian Dia membuka kitab itu dan menemukan nas di mana ada tertulis, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk. 4:18-19). Setelah Tuhan menutup kitab itu dan memberikannya kembali kepada pejabat, lalu Dia duduk. Kemudian Dia berkata kepada orang-orang, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:21).
Memberitakan Injil adalah amanat pertama Penyelamat sebagai Yang diurapi Allah (Mesias). Kabar baik ini harus diberitakan kepada orang-orang miskin, yaitu mereka yang miskin dalam hal-hal surgawi, rohani, dan ilahi (Luk. 12:21; Why. 3:17; Mat. 5:3). Selain itu, Injil juga harus diberitakan kepada para tawanan, orang-orang buta, dan orang-orang yang tertindas (Yes. 42:7; Zef. 1:17; Yoh. 9:39-41; Kis. 26:18; Luk. 13:11-13; Yoh. 8:34).
Tahun rahmat Tuhan yang Yesus beritakan sebenarnya adalah zaman Perjanjian Baru yang dilambangkan oleh tahun Yobel (Im. 25:8-17), saat di mana Allah menerima tawanan-tawanan dosa yang kembali (Yes. 49:8; 2 Kor. 6:2) dan saat di mana orang-orang yang tertindas di bawah belenggu dosa menikmati pembebasan yang berasal dari keselamatan Allah.
Dalam pengalaman Anda, sudahkah Anda dibebaskan dari perhambaan dosa dan maut? Sudahkah Anda dibebaskan dari kekuatiran akan kedudukan, kekayaan, dan masa depan Anda? Hari ini realitas Yobel atau tahun rahmat Tuhan ada di dalam Roh itu. Kalau kita hidup menurut Roh itu, kita akan dibebaskan bukan hanya dari dosa dan maut, tetapi juga dari perhambaan dunia ini (Rm. 8:2, 6). Hasilnya kita secara otomatis akan menjadi orang Kristen yang penuh kenikmatan dan pengalaman atas tahun rahmat Tuhan.

01 November 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 2 Minggu

Pengajaran-Nya Memimpin Orang ke Dalam Terang
Lukas 4:14-15
Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.

Ayat Bacaan: Kis. 13:14-15; 26:18; Yoh. 1:4; 8:12; 9:5; Mat. 4:12-16; 2 Kor. 4:4

Dalam permulaan ministri-Nya, Yesus mengajar di rumah-rumah ibadat. Rumah ibadat adalah tempat berhimpun di mana orang-orang Yahudi membaca dan mempelajari Kitab Suci (Kis. 13:14-15). Mengapa Yesus mengawali ministri-Nya dengan mengajar? Hal ini disebabkan karena kejatuhan manusia ke dalam dosa telah merusak persekutuan manusia dengan Allah, membuat semua manusia mengabaikan pengetahuan akan Allah. Ketidaktahuan ini menghasilkan kegelapan dan kemudian kematian.
Yesus, Manusia-Penyelamat, sebagai terang dunia (Yoh. 8:12; 9:5), datang ke Galilea, negeri kegelapan, di mana orang duduk di dalam bayang-bayang kematian, sebagai terang yang besar untuk menerangi mereka (Mat. 4:12-16). Pengajaran-Nya memberikan firman terang untuk menerangi orang-orang di dalam kegelapan kematian itu supaya mereka dapat menerima terang hayat (Yoh. 1:4). Pengajaran Manusia-Penyelamat ini membawa orang-orang keluar dari kegelapan Iblis ke dalam terang ilahi (Kis. 26:18).
Di dalam rumah ibadat, Tuhan Yesus mengajar orang-orang dengan kuasa. Ajaran-Nya adalah sinar dari terang yang besar. Setiap firman yang keluar dari mulut-Nya adalah firman yang menerangi. Ketika Dia mengajar orang-orang, terang ilahi menyinari batin mereka. Demikianlah orang-orang yang di dalam kegelapan diterangi oleh ajaran Tuhan. Pengajaran-Nya bukanlah pengetahuan yang sia-sia atau doktrin agama, tetapi adalah realitas diri Allah sendiri.
Hari ini kebanyakan hati manusia semakin lama semakin jahat dan arus dunia semakin merosot. Ini disebabkan oleh kegelapan yang menyelubungi mereka. Alkitab mengatakan bahwa pikiran mereka “telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah” (2 Kor. 4:4). Agar dapat terlepas dari kegelapan maut, kita memerlukan terang ilahi memancar. Mazmur 36:10 mengatakan, “Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Selanjutnya Mazmur 119:105 mengatakan, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Tanpa setiap hari datang kepada firman dan menikmati firman, cepat atau lambat kita pasti akan berjalan dalam kegelapan.

31 October 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 1 Sabtu

Jangan Mencobai Tuhan, Allahmu!
Lukas 4:12-13
Yesus menjawabnya, kata-Nya: “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.

Ayat Bacaan: Luk. 4:9-13; Rm. 11:36

Dalam Lukas 4:9-11 terdapat pencobaan Iblis yang ketiga terhadap Manusia-Penyelamat: “Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di puncak Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya, ‘Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menerima Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Tetapi Yesus menjawab dan berkata kepadanya, “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Luk. 4:12). Pencobaan ini berhubungan dengan agama.
Iblis mencobai Manusia-Penyelamat agar memamerkan dari puncak Bait Allah bahwa Dia adalah Putra Allah. Tetapi Tuhan Yesus tidak perlu melakukan hal itu. Itu adalah pencobaan Iblis untuk memperlihatkan bahwa sebagai Putra Allah Dia mampu bertindak dengan ajaib. Seandainya Iblis tidak mencobai kita dalam masalah penghidupan kita, ia pasti mencobai kita dalam masalah keagamaan. Anda mungkin mendambakan menjadi tokoh agama, diakui sebagai rohaniwan yang berpengaruh. Orang lain harus berjalan turun perlahan-lahan dari bubungan bait, tetapi Anda, cukup dengan satu lompatan.
Jika kita ingin menjadi termashyur dalam agama Kristen, berhasil diakui sebagai orang yang “super”, maka kita telah menyerah pada godaan ini. Kita telah dikalahkan oleh musuh. Namun, apabila kita berhasrat mengalahkan musuh dalam ujian ini, kita harus tidak meloncat dari bait; sebaliknya kita harus berjalan menuruninya selambat mungkin; supaya orang lain mengira kita lemah dan tidak berkekuatan, melainkan hanya bersandar pada Allah saja.
Jangan pernah melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa kita mampu. Biarlah orang-orang mengira kita tidak ada apa-apanya. Saudara-saudari apabila kita ingin mengalahkan musuh, kita harus tidak menjadi apa-apa. Sesungguhnya, kita bukan apa-apa, Kristus itulah segala sesuatu kita. Jika kita mengambil kedudukan bukan apa-apa, kita akan membunuh musuh. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rm. 11:36)

30 October 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 1 Jumat

Menyembah Allah dan Hanya Berbakti Kepada-Nya
Lukas 4:8
Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Ayat Bacaan: Yeh. 28:13-14; Yoh. 12:31; Yes. 14:12-15; Why. 20:7-10

Perkataan Iblis kepada Tuhan Yesus bahwa semua kerajaan di bumi telah diserahkan kepadanya memang benar demikian. Penyerahan tersebut pasti terjadi di zaman sebelum Adam, yakni ketika Allah mengurapi penghulu malaikat untuk menjadi kepala zaman sebelum Adam (Yeh. 28:13-14). Pada saat itu kekuasaan dan kemuliaan kerajaan di bumi pasti telah diberikan kepadanya. Firman Tuhan dalam Yohanes 12:31 menegaskan hal ini. Setelah ia memberontak melawan Allah dan menjadi musuh Allah, ia dihakimi oleh Allah (Yes. 14:12-15), tetapi eksekusi penghakiman Allah atas dirinya baru tergenap pada akhir Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:7-10).
Sebelum tibanya waktu eksekusi hukuman atas Iblis, ia masih memiliki kuasa atas kerajaan-kerajaan di bumi. Ia mencobai Tuhan Yesus dengan menawarkan kuasa dan kemuliaannya ini kepada-Nya. Tawarannya yang jahat ditolak oleh Kristus, tetapi tawaran ini akan diterima oleh Antikristus, manusia durhaka pada akhir zaman ini untuk melaksanakan tipu muslihatnya yang jahat melawan Allah (2 Tes. 2:3-4; Why. 13:4).
Dalam Lukas 4:8 terdapat jawaban Tuhan atas pencobaan Iblis: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Manusia-Penyelamat mengalahkan Iblis dengan berdiri pada kedudukan manusia untuk menyembah dan melayani Allah saja. Demi keuntungan materi, menyembah atau melayani sesuatu selain Allah, selalu merupakan cobaan Iblis untuk mendapatkan penyembahan manusia.
Sebelum hari Tuhan datang, pasti akan timbul banyak penyesatan. Iman sebagian besar orang akan berkurang, tidak saja karena mencintai dunia dan menyangkal firman Allah, juga karena iman palsu yang dibuat oleh Iblis. Banyak orang akan susah berlutut berdoa dengan tekun dan berkesinambungan. Mengapa? Karena Iblis terus menawarkan kemuliaan dunia ini kepada anak-anak Allah. Di dalam dunia ini, uang ingin menggantikan Allah meraja atas manusia. Kalau kita ingin melayani Allah dengan setia, kita harus belajar menerima suplai kita dari tangan Allah. Jika tidak, mata kedagingan kita mudah sekali memandang tangan Mamon!

29 October 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 1 Kamis

Pengalaman Atas Ujian Mengenai Penghidupan
Lukas 4:3-4
Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Jawab Yesus kepadanya: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”

Ayat Bacaan: Luk. 4:3-4; 2 Tim. 2:4

Banyak keluarga Kristen, khususnya para istri, tidak tahan akan ujian mengenai masalah penghidupan atau kebutuhan pokok sehari-hari. Biasanya para istri akan sangat memperhatikan jaminan hidup seperti makanan yang baik, pakaian yang layak, dan rumah yang baik. Walau hal ini kedengarannya wajar, namun seringkali merupakan suatu problema bagi para suami Kristen yang ingin melayani Tuhan secara total.
Seorang pelayan Tuhan bernama Witness Lee pernah bersaksi demikian, “Ketika pada tahun 1933 aku dipanggil oleh Tuhan untuk melayani Dia dengan meninggalkan pekerjaanku, iparku berkata, “Kau telah mempunyai pekerjaan yang baik. Kau mampu membiayai keluargamu serta membantu yang lain. Kau pun dapat berkhotbah pada hari Minggu. Mengapa harus melepaskan mata-pencaharianmu? Bagaimana kau mampu menempuh hidup? Bagaimana dengan istri dan anak-anakmu?’ Namun mereka tidak dapat mencegahku untuk melayani Tuhan sepenuhnya. Sering kali iparku bahkan menyuruh anak perempuannya yang kecil menyelinap ke dapur untuk melihat apakah kami ada makanan.”
Banyak orang Kristen yang mungkin tergerak untuk melayani Tuhan sepenuhnya. Namun begitu mereka menyadari bahwa jalan ini sempit, mereka lalu khawatir akan apa yang bakal terjadi dengan penghidupan mereka dan memutuskan untuk melupakan minat itu. Untuk mengambil jalan sempit ini, kita harus hidup bersandar iman di dalam Allah. Walau mungkin hampir setiap hari kita diuji akan apa yang akan kita makan, namun pada saat bersamaan kita justru menikmati makanan yang rohani, yakni firman Allah.
Godaan dari Iblis adalah agar kita selalu mandiri terhadap Allah. Dia tidak selalu menggoda kita untuk berbuat jahat. Mengubah batu menjadi roti memang dapat memuaskan kebutuhan tubuh, tetapi semua itu dapat membuat manusia meninggalkan Allah dan mengikuti Iblis. Demi kehendak Allah, Tuhan Yesus rela melupakan keperluan diri-Nya sendiri. Saudara saudari terkasih, adakah kita memiliki pengalaman yang demikian? “Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya” (2 Tim. 2:4).

28 October 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 1 Rabu

Manusia Hidup Bukan Dari Roti Saja
Lukas 4:3-4
Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Jawab Yesus kepadanya: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”

Ayat Bacaan: Luk. 4:3-4; Kej. 3:1-6; 2 Tim. 2:4

Mengubah batu menjadi roti itu benar-benar suatu mujizat. Hal ini diajukan oleh Iblis sebagai suatu cobaan. Seringkali pemikiran yang menghendaki terjadinya mujizat dalam situasi tertentu merupakan suatu cobaan dari Iblis. Cobaan Iblis atas manusia yang pertama, Adam, berhubungan dengan perkara makan (Kej. 3:1-6). Sekarang cobaannya atas Manusia yang kedua (Kristus) juga berhubungan dengan perkara makan. Perkara makan selalu merupakan perangkap yang dipakai oleh Iblis untuk menjerat manusia, menyebabkan manusia melupakan Allah, Sang Sumber.
Iblis mencobai Manusia-Penyelamat untuk mempertahankan kedudukan-Nya sebagai Putra Allah. Tetapi Tuhan Yesus menjawab dengan berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja.” Ini menunjukkan bahwa Dia berdiri pada kedudukan manusia untuk mengalahkan musuh. Sanak saudara kita, terutama generasi yang lebih tua, selalu memperhatikan tentang bagaimana mencari nafkah. Mereka mungkin berkata, “Mengasihi Tuhan itu tidak salah, tapi jangan terlalu fanatik. Kalian harus mengejar penghidupan yang baik.” Masalah penghidupan (makanan) memang sangat menjamah batin kita, bahkan Tuhan Yesus pun diuji atas masalah ini. Saudara saudari, apabila kita tidak tahu pentingnya mengurangi permintaan-permintaan fisik kita dan menjaga tuntutan rohani, maka kita takkan bersyarat bagi ministri-Nya (2 Tim. 2:4).
Penghidupan yang lebih baik, makanan yang lezat, pakaian yang indah, dan rumah yang besar, semuanya tak lain hanyalah kebutuhan sekunder. Makan makanan rohani itulah yang primer. Di sini Yesus seolah mendeklarasikan kepada seluruh alam semesta bahwa Dia bukan untuk kebutuhan fisik, melainkan untuk kebutuhan rohani. Kendati Dia tidak makan untuk mempertahankan tubuh jasmani-Nya, tetapi Dia makan banyak firman Allah untuk memelihara roh-Nya. Sudahkah Anda nampak akan hal ini?
Ujian pertama yang harus kita lalui ialah ujian mengenai penghidupan kita. Kita harus menikmati makanan rohani lebih banyak daripada makanan jasmani. Baik kita hidup atau mati itu perkara sekunder. Kita hanya memperhatikan makanan rohani kita sehingga roh kita dikenyangkan oleh firman Allah.

27 October 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 1 Selasa

Jalan Untuk Mengalahkan Iblis, Si Pendakwa
Wahyu 12:10b
Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, ..., karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.

Ayat Bacaan: Why. 12:9-11; 2 Tim. 2:19; 1 Yoh. 1:9; Ams. 28:13; 1 Ptr. 5:9

Bahasa Yunani yang diterjemahkan “Iblis” adalah diabolos, yang berarti pendakwa, pemfitnah (Why. 12:9-10). Iblis, yaitu Satan, mendakwa kita di hadapan Allah dan memfitnah kita di hadapan manusia. Kegiatan Iblis yang paling licik dan paling ganas saat ini adalah menjadi pendakwa kaum beriman. Apakah Iblis pembunuh? Ya. Apakah ia pembohong dan penggoda? Ya. Apakah dia menyerang kita? Ya. Tetapi bukan ini saja. Pekerjaan utamanya adalah mendakwa kita, kaum beriman dalam Kristus.
Iblis mendakwa saudara-saudara seiman siang dan malam. Ia bukan hanya pendakwa di hadapan Allah, ia juga pendakwa dalam hati nurani kita, dan dakwaan-dakwaannya dapat membuat kita menjadi lemah dan tanpa daya. Ia suka mendakwa orang sedemikian rupa sehingga sampai mereka menganggap diri mereka sendiri tidak berguna dan dengan demikian kehilangan kedudukan untuk berperang dengannya.
Begitu seorang anak Allah menerima dakwaan Iblis, sepanjang hari ia akan merasa bersalah. Ketika ia bangun pagi, ia merasa bersalah. Ketika ia berlutut untuk berdoa, ia merasa bersalah dan bahkan tidak percaya bahwa Allah akan menjawab doa-doanya. Ketika ia ingin berbicara tentang firman, ia merasa bahwa hal itu tidak berguna, karena ia sendiri tidak benar. Ketika ia akan memberikan persembahan kepada Tuhan, ia bertanya-tanya mengapa ia harus mempersembahkan sesuatu, karena bagaimana mungkin Allah akan menerima persembahan dari orang seperti dia. Inilah dakwaan Iblis.
Bagaimanakah agar terlepas dari dakwaan Iblis? Pertama, kita harus menanggulangi dosa. Orang Kristen harus memiliki perasaan yang peka terhadap dosa, menjauhi dosa (2 Tim. 2:19). Kedua, kita harus mengakui dosa-dosa kita (1 Yoh. 1:9; Ams. 28:13). Pengakuan dosa membuat hati nurani kita disucikan tanpa cela oleh darah Yesus, sehingga Iblis tidak ada tumpuan untuk mendakwa kita (Why. 12:11a). Ketiga, kita perlu melawan Iblis dengan iman yang teguh (1 Ptr. 5:9). Berbuat dosa memang memalukan, tetapi tidak mempercayai darah Yesus, itu lebih memalukan lagi. Kita harus percaya akan kuasa darah-Nya dan percaya terhadap penjagaan dan perhatian kasih Allah.

26 October 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 1 Senin

Sikap yang Diperlukan dalam Menghadapi Pencobaan
Lukas 4:1-2a
Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ empat puluh hari lamanya Ia dicobai Iblis.

Ayat Bacaan: Luk. 4:1-2a; Mat. 6:13; Yak. 1:13; Mrk. 14:38

Setelah dibaptis dalam air dan diurapi dengan Roh Allah, Yesus sebagai seorang Manusia bergerak menurut pimpinan Roh. Pertama-tama, Roh memimpin Manusia-Penyelamat yang telah diurapi itu untuk dicobai oleh Iblis. Pencobaan ini adalah satu ujian untuk membuktikan bahwa Dia layak menjadi Manusia-Penyelamat.
Dalam Matius 6:13, Tuhan Yesus mengajar murid-murid untuk berdoa, “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan....” Namun, Tuhan sendiri dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun agar Dia dicobai oleh Iblis. Tuhan Yesus itu kuat, sebab itu Dia mampu menahan pencobaan. Sebaliknya, kita sama sekali tidak mampu menahan pencobaan. Kita tidak boleh sombong, mengira bahwa karena kita telah memiliki Roh Kudus, maka kita sekarang mampu menahan pencobaan. Pemikiran yang demikian itu menunjukkan bahwa kita belum mengenal diri kita sendiri.
Tuhan Yesus adalah satu-satunya Manusia yang dapat menahan pencobaan dari musuh Allah. Ketika Dia di bumi, Dia sempurna dan kuat. Karena itu, Roh Kudus, yaitu Allah yang mencapai manusia, memimpin Manusia yang sempurna ini ke dalam pencobaan untuk mengalahkan musuh Allah. Melalui menguji Manusia-Penyelamat ini, Allah dapat memperlihatkan kepada musuh-Nya bahwa ada seorang Manusia yang mampu menahan pencobaan.
Roh Kudus tidak pernah memimpin kita untuk dicobai oleh Iblis, karena kita tidak sanggup menahan pencobaan Iblis (Yak. 1:13). Sekalipun kita telah dilahirkan kembali, dikuduskan, dan diubah sedemikian rupa, kita tidak mampu menahan pencobaan dari si jahat. Karena itu kita perlu berdoa, “Ya Bapa, janganlah bawa aku ke dalam pencobaan.” Tidak peduli kita merasa diri kita betapa kuat, kita sebenarnya lemah dan tidak sanggup menahan pencobaan.
Satu-satunya Manusia yang sanggup menahan pencobaan dari Iblis adalah Tuhan Yesus, Manusia-Penyelamat kita. Itulah sebabnya Dia menasihati kita dengan berkata, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan....” (Mrk. 14:38). Kalau kita tidak berjaga-jaga dan berdoa, bersandarkan kekuatan diri sendiri menghadapi pencobaan, kita pasti gagal!

25 October 2008

Lukas Volume 2 - Minggu 1 Minggu

Empat Nama Penting dalam Silsilah Kristus
Lukas 3:23
Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli.

Ayat Bacaan: Luk. 3:23-38; Yoh. 1:12-13, 3:16; 2 Ptr. 1:4; Kis. 17:28

Lukas 3:23-38 menyajikan kepada kita silsilah Kristus, Manusia-Penyelamat. Silsilah ini sedikit berbeda dengan yang tercatat dalam Injil Matius, yakni dalam hal urutan penulisannya. Dalam Injil Matius, penulisannya dimulai dari Abraham sampai kepada Kristus (Mat. 1:1-16), sedangkan dalam Injil Lukas dimulai dari Kristus lalu menelusur kembali kepada Allah. Dua cara penulisan silsilah Kristus ini bukanlah suatu kebetulan melainkan mengandung makna yang indah. Artinya, Kristus dilahirkan sebagai seorang manusia untuk membawakan Allah kepada manusia supaya Dia dapat menggenapkan penebusan. Lalu apakah tujuan penebusan? Penebusan bertujuan membawa manusia kembali kepada Allah. Jadi di dalam Kristus, Allah dan manusia yang tadinya terpisah kini disatukan.
Dalam silsilah Kristus tercantum empat nama penting yang ditekankan secara khusus yakni Allah, Adam, Abraham, dan Yesus. Nama-nama ini sungguh bermakna. Kita diciptakan oleh Allah (Kej. 1:26-27), lalu jatuh di dalam Adam (Kej. 3). Namun kita kemudian menerima janji Allah di dalam Abraham (Kej. 12:1-3), dan akhirnya kita diselamatkan di dalam Yesus yang adalah Kristus (Luk. 2:10-11). Haleluya! Inilah kesimpulan dari silsilah Manusia-Penyelamat kita dalam Injil Lukas.
Kristus kita datang bukan hanya untuk menyelamatkan kita secara obyektif dari hukuman kekal api neraka, terlebih menyelamatkan kita dengan menyatukan diri-Nya sendiri dengan kita. Di dalam Dia kita memiliki Allah yang menyatukan diri-Nya dengan manusia. Silsilah Kristus ini dimulai dengan seorang manusia dan diakhiri dengan Allah. Sungguh suatu catatan silsilah yang ajaib!
Adam diciptakan oleh Allah (Kej. 5:1-2), dan Allah adalah asal-usulnya. Berdasarkan inilah dia dianggap anak Allah. Pujangga-pujangga kafir juga mengakui bahwa semua manusia adalah “keturunan” Allah (Kis. 17:28). Puji Tuhan! Kita yang percaya bukan saja diciptakan oleh Allah, terlebih telah dilahirkan dari Allah, dilahirkan kembali, dan memiliki hayat dan sifat Allah (Yoh. 1:12-13; 3:16; 2 Ptr. 1:4). Melalui kelahiran kembali ini, kita memiliki Allah sebagai hayat kekal di dalam kita.

24 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 4 Sabtu

Mengenal dan Mengalami Dua Aspek Roh Itu
Lukas 3:21b-22
Dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Ayat Bacaan: Luk. 3:22; Rm. 8:3

Tuhan Yesus adalah seorang Manusia yang sempurna, seorang Manusia yang memiliki semua kebajikan insani, namun Dia berada dalam rupa daging dosa. Tentunya, Tuhan Yesus tidak memiliki sifat dari manusia yang telah jatuh: namun Dia memiliki rupa, bentuk luaran atau penampilan luaran, dari manusia yang telah jatuh. Dalam Roma 8:3 Paulus mengatakan bahwa Kristus datang dalam rupa daging dosa. Dia tidak memiliki sifat dosa, tetapi Dia memiliki rupa, penampilan, bentuk, daging dosa. Rupa daging dosa ini perlu dihakimi, diakhiri, dan dikuburkan. Ini adalah alasan lain dari pembaptisan Manusia-Penyelamat.
Agar Tuhan Yesus dapat mengekspresikan Allah di dalam kehidupan insani-Nya, maka pada permulaan ministri-Nya Tuhan mengesampingkan diri-Nya sendiri melalui pembaptisan. Dia adalah seorang Manusia yang sempurna dan lengkap, tetapi Dia tidak mau hidup oleh diri-Nya sendiri. Sebaliknya, Dia hidup oleh Allah Bapa yang ada di dalam-Nya. Kita semua perlu nampak hal ini. Prinsip ini berlaku bagi kita semua dalam pelayanan kita kepada Allah. Jika kita ingin berbagian dalam suatu pelayanan kepada Allah, kita perlu dikesampingkan; yaitu, kita perlu diakhiri dan dikubur melalui baptisan. Sebagai manusia yang diciptakan Allah dan sebagai manusia yang telah jatuh, kita perlu diakhiri. Pengakhiran yang demikian akhirnya mendatangkan pengurapan.
Mengapa Tuhan Yesus, yang dikandung dari Roh Kudus dan yang hidup oleh Roh selama tiga puluh tahun, masih memerlukan Roh Kudus turun ke atas-Nya pada waktu Dia dibaptis? Ketika Dia dibaptis, bukankah Dia sudah memiliki Roh itu di dalam-Nya? Ya. Dia memang telah memiliki Roh secara batini. Namun untuk melaksanakan pekerjaan Allah, untuk menjalankan ministri-Nya, Tuhan Yesus perlu diurapi oleh Roh Kudus yang turun ke atas-Nya.
Di dalam pengalaman kita, kita perlu juga mengenal dan mengalami dua aspek Roh itu, baik yang secara batini berhuni di dalam kita maupun yang turun ke atas kita sebagai kuasa bagi pekerjaan Allah. Melalui pengenalan dan pengalaman yang riil atas kedua aspek Roh itu, kita dapat melayani Allah dalam kebangkitan bagi perampungan kehendak kekal Allah.

23 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 4 Jumat

Dibaptis dan Diurapi
Lukas 3:21b-22
Dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Ayat Bacaan: Luk. 3:22; Mat. 3:16

Tuhan Yesus dibaptis bukan hanya untuk memenuhi kebenaran menurut ketentuan Allah (Mat. 3:16), tetapi juga untuk membiarkan diri-Nya sendiri diletakkan ke dalam kematian dan kebangkitan, agar Dia dapat melayani bukan secara alamiah, melainkan dalam kebangkitan. Karena Dia telah mengalami baptisan dan tinggal dalam realitas baptisan, Dia mampu hidup dan melayani dalam kebangkitan, walaupun secara pengalaman, Dia baru mengalami mati dan bangkit tiga setengah tahun kemudian.
Perihal Tuhan dibaptis untuk memenuhi kebenaran Allah dan diletakkan ke dalam kematian dan kebangkitan membawakan tiga hal kepada-Nya: langit terbuka, Roh Allah turun, dan Bapa berbicara. Hal ini seharusnya kita alami pada hari ini. Lukas 3:22 mengatakan bahwa Roh Kudus turun dalam rupa seekor burung merpati. Merpati itu lembut, dan matanya hanya dapat melihat satu sasaran pada satu saat. Karena itu, merpati menandakan kelembutan dan ketulusan dalam pandangan dan tujuan. Dengan turunnya Roh Allah ke atas-Nya seperti burung merpati, maka Tuhan Yesus melayani dalam kelembutan dan ketulusan, hanya tertuju kepada kehendak Allah.
Dalam Lukas 3:22 kita juga nampak bahwa ada suara dari langit, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” Turunnya Roh Kudus adalah pengurapan Kristus, sedangkan pembicaraan Bapa adalah kesaksian bagi Dia sebagai Anak yang terkasih. Ini adalah gambaran Trinitas Ilahi: Anak bangkit keluar dari air, Roh turun ke atas Anak, dan Bapa berbicara mengenai Anak. Ini membuktikan bahwa Bapa, Anak, dan Roh ada secara bersamaan dan bekerja bersama-sama untuk merampungkan rencana kekal Allah.
Apakah kualifikasi dari seorang yang hendak melayani? Bila kita hendak melayani Tuhan, pertama-tama kita memerlukan Roh Kudus mengurapi kita sehingga kita dapat melayani dalam kelembutan dan ketulusan, dengan mata yang hanya tertuju kepada kehendak Allah. Agar dapat melayani secara demikian, kita perlu mengalami realitas baptisan, yakni pengakhiran atas daging kita. Tanpa pengalaman atas realitas baptisan yang demikian, kita tidak akan mampu melayani dalam kelembutan dan ketulusan yang sebenarnya.

22 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 4 Kamis

Memimpin Orang kepada Kristus
Lukas 3:16
Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.”

Ayat Bacaan: Luk. 3:15-16; Kol. 1:28-29; 2 Kor. 11:2-3

Meskipun Yohanes memberitakan baptisan pertobatan dan banyak orang menyambut pelayanannya, namun sasaran ministrinya adalah Persona yang ajaib, Yesus Kristus, Putra Allah. Dia tidak menjadikan dirinya pusat dari ministrinya, seperti sebuah magnet yang menarik orang lain kepada dirinya sendiri. Ia sadar bahwa ia hanyalah seorang utusan yang diutus oleh Tuhan semesta alam untuk membawa orang-orang kepada Yesus Kristus. Yohanes tidak bermaksud mengambil keuntungan sedikitpun dari situasi itu bagi dirinya sendiri.
Dalam hal melayani Tuhan, Yohanes pembaptis adalah teladan yang baik. Dia tidak hanya penuh dengan Roh, tetapi juga rendah hati. Banyak orang di masa itu mengira Yohanes-lah Mesias itu, tetapi dia dengan jujur menunjukkan bahwa dia bukanlah Mesias itu, melainkan seorang yang akan datang kemudian, yang akan membaptis orang dengan Roh Kudus dan dengan api (Luk. 3:15-16). Dengan berkata demikian, Yohanes membimbing orang kepada Kristus, bukan kepada dirinya sendiri. Kita semua perlu menyadari bahwa sebaik apa pun pelayanan kita, kita hanyalah pembuka jalan bagi Kristus. Kristuslah fokus dan sasaran pelayanan kita. Ini berarti kita tidak patut mengambil keuntungan apa pun dari pelayanan kita. Kita harus membimbing orang kepada Kristus, agar mereka berjumpa dengan Kristus dan mengalami Kristus.
Menurut keinginan daging kita, kita tentu ingin orang lain menghargai pelayanan kita dan menempatkan kita pada kedudukan yang terhormat. Di satu sisi kita ingin Kristus dimuliakan, di sisi yang lain kita juga ingin mendapatkan pujian. Kita senang bila Kristus diagungkan, kita pun senang bila orang menyanjung kita. Saudara saudari terkasih, perasaan dan sikap yang demikian ini bukan berasal dari Kristus, melainkan dari Iblis yang bercokol di dalam daging kita. Semua pelayanan para rasul sebermula adalah untuk memimpin orang kepada Kristus, bukannya membawa orang ke dalam “kantong” mereka (Kol. 1:28-29; 2 Kor. 11:2-3). Pelayanan apa pun yang bukan membawa orang kepada Kristus, tidak membawa orang menikmati dan mengalami Kristus, bukanlah pelayanan yang sejati.

21 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 4 Rabu

Hidup dalam Standar Moralitas yang Tertinggi
Lukas 3:11
Jawabnya: “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.”

Ayat Bacaan: Luk. 3:11-14; Yoh. 3:7; Gal. 2:20; Flp. 1:20-21

Lukas 3:11-14 memuat catatan yang lugas mengenai standar moralitas yang seharusnya dimiliki oleh umat Allah. Terhadap pertanyaan yang dilontarkan orang banyak tentang apa yang harus mereka perbuat, Yohanes menyuruh mereka berbelaskasihan terhadap orang yang kekurangan dengan cara membagikan pakaian dan makanan yang mereka miliki. Terhadap para pemungut cukai, Yohanes menasihati mereka untuk tidak menagih lebih daripada yang seharusnya. Terhadap orang yang bekerja di kemiliteran, Yohanes memperingatkan mereka agar jangan merampas dan jangan memeras, melainkan mencukupkan diri dengan gaji mereka. Betapa baiknya masyarakat hari ini jika mereka mau melakukan apa yang Yohanes ajarkan tersebut.
Ketika kita membicarakan masalah moralitas, kita tidak membicarakannya dalam konteks yang terpisah dari Kristus. Hari ini tidak sedikit juga orang yang bermoral baik, namun tanpa Kristus. Terhadap orang yang demikian, Tuhan berkata, “Kamu harus dilahirkan kembali” (Yoh. 3:7). Artinya, moral yang baik saja tidak cukup untuk membuat seseorang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tetapi puji Tuhan, kita telah dilahirkan kembali dan Kristus ada di dalam kita. Kita kini memiliki “modal” untuk menempuh hidup dengan standar moralitas yang tertinggi, dan modal itu adalah Kristus sendiri sebagai hayat kita. Apabila kita membiarkan Kristus hidup di dalam kita, maka dengan sendirinya kita akan memiliki standar moralitas yang tertinggi (Gal. 2:20).
Dewasa ini banyak orang muda telah teracuni oleh dunia sehingga merusak moralitas mereka. Lihatlah cara mereka berpakaian, seolah tidak ada perasaan malu. Seringkali ketika berada di jalan, kita terpaksa memalingkan mata kita ke arah lain. Tidak hanya dalam hal berpakaian, dalam hal tutur kata juga demikian. Perkataan yang najis dan tidak patut dengan mudah terdengar di tempat-tempat umum. Di seluruh dunia, perasaan malu dan moralitas telah diracuni sehingga tidak ada lagi kemuliaan Allah. Karena uang, banyak orang rela mengorbankan moralitas, reputasi, keadilan, latar belakang, kepribadian, dan segala sesuatu mereka. Namun bagi kita, yang terpenting bukan uang atau penampilan, melainkan Kristus diperbesar melalui kita (Flp. 1:20-21).

20 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 4 Selasa

Hasilkanlah Buah-buah Pertobatan
Lukas 3:8a, 9
Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan... Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.

Ayat Bacaan: Luk. 3:8-9; Why. 20:15; Rm. 10:17; Mrk. 16:16; Kis. 26:20; Yak. 2:26

Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api (Luk. 3:9). Api ini adalah api dari telaga api (Why. 20:15), di mana orang-orang yang tidak percaya akan menderita kebinasaan kekal. Apakah buah yang baik itu? Buah yang baik yang seharusnya dihasilkan dari pemberitaan Injil adalah iman (Rm. 10:17). Hanya iman kepada Kristuslah yang dapat menghindarkan kita dari hukuman api kekal (Rm. 3:28). Kalau setelah mendengarkan Injil, seseorang tidak mau bertobat, tidak mau percaya, maka ia akan mendapatkan hukuman Allah dalam kebinasaan kekal (Mrk. 16:16).
Setelah kita percaya dan memiliki iman kepada Kristus, kita masih perlu memperhatikan cara hidup atau perilaku kita. Kita perlu melakukan pekerjaan-pekerjaan (perbuatan) yang sesuai dengan pertobatan itu (Kis. 26:20). Iman diperlukan untuk menerima keselamatan, perbuatan yang baik diperlukan untuk kesaksian. Iman tidak kelihatan, namun perbuatan itu kelihatan. Kalau perbuatan kita tidak terpuji, mampukah kita berkata kepada orang-orang di sekitar kita bahwa kita memiliki iman? Tentu tidak. Jadi, pertama-tama kita harus memiliki iman, kemudian iman ini akan memimpin kita kepada kebenaran. Itulah sebabnya Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (Yak. 2:26). Perbuatan benar kita adalah bukti dari iman kita!
Mengapa kita sering mendengar orang menghujat kekristenan? Kita mungkin paling gampang menyalahkan mereka yang menghujat. Tetapi Paulus memberitahu kita bahwa nama Allah, firman Allah, dan Jalan Kebenaran sering dihujat orang karena mereka melihat cara hidup kita yang tidak tepat (Rm. 2:24; 1 Tim. 6:1; Tit. 2:5; 2 Ptr. 2:2). Sebagai orang Kristen, kita harus memiliki cara hidup dengan standar moralitas yang tertinggi. Allah kita tidak kelihatan, namun orang dapat melihat Allah yang kita perhidupkan. Dapatkah Anda memperhidupkan Allah sambil menghisap rokok atau menenggak minuman keras? Tentu tidak. Marilah kita demi iman melakukan apa yang baik bagi semua orang (Rm. 12:17b) dan janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik (2 Tes. 3:13) supaya nama Allah dan firman-Nya tidak dihujat orang!

19 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 4 Senin

Mempersiapkan dan Meluruskan Jalan Bagi Tuhan
Lukas 3:4b-6
Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.

Ayat Bacaan: Luk. 1:16-17; 3:5; 14:17-19; Mat. 8:19-22

Mempersiapkan jalan bagi Tuhan dan membuat jalan-Nya lurus berarti mengubah pikiran orang, memalingkan pikiran orang kepada Kristus, Manusia-Penyelamat. Ini juga berarti membuat hati orang tepat, meluruskan setiap bagian hati orang melalui pertobatan, supaya Manusia-Penyelamat dapat masuk untuk menjadi hayatnya dan memilikinya.
Lembah, gunung, yang berliku-liku, dan yang berlekuk-lekuk dalam Lukas 3:5 adalah kata-kata kiasan yang menggambarkan keadaan hati manusia terhadap Allah dan terhadap satu sama lain, dan hubungan antara manusia (Luk. 1:16-17). Keadaan hati manusia dan hubungan antar manusia perlu ditanggulangi untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Penyelamat. Lukas 3:6 mengatakan bahwa semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan. Keselamatan ini adalah Kristus sendiri, Sang Penyelamat yang dari Allah.
Renungkanlah bagaimana kondisi hati kita saat ini: apakah lurus dan rata atau berliku-liku dan berlekuk-lekuk? Sesungguhnya jalan dalam pikiran kita banyak terdapat bukit dan lembah. Jangan katakan bahwa jalan dalam pikiran yang demikian hanyalah milik mereka yang belum percaya. Bahkan jalan dalam pikiran orang Kristen juga banyak yang berliku-liku dan berlekuk-lekuk.
Misalnya, Tuhan ingin kita dengan sederhana percaya dan mengikuti Dia (Mat. 8:19-22). Namun kebanyakan orang akan mempertimbangkannya dengan rumit, dengan alasan-alasan yang tidak ada dasarnya (Luk. 14:17-19). Akhirnya, bagi kebanyakan kita, perkara percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan tidak lagi sederhana, tetapi menjadi perkara yang sangat rumit. Hal ini membuktikan tidak lurus dan tidak ratanya jalan-jalan dalam pikiran kita!
Bagaimana agar jalan dalam pikiran kita dapat diluruskan dan diratakan? Pertama-tama, pikiran kita harus taat kepada firman Kristus. Jangan membantah, mendebat, atau mencurigai apa yang tertulis di Alkitab. Ketaatan yang demikian akan meluruskan pikiran kita. Kedua, jangan mempertahankan konsepsi agama usang atau tradisi apa pun. Sebaliknya, kita harus mengosongkan diri, dan belajar menerima konsepsi surgawi. Pikiran yang lurus dan rata demikian akan memberi jalan bagi Tuhan untuk menyelamatkan kita.

18 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 4 Minggu

Yohanes Memberitakan Baptisan Pertobatan
Lukas 3:3
Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.”

Ayat Bacaan: Yoh. 3:3, 5-6; Luk. 3:3; Rm. 3:18; 5:10; 8:7-8; Kol. 1:21; Tit. 3:5

Adakah kaitannya antara bertobat dan dibaptis? Dalam ministrinya, Yohanes pembaptis menyuruh orang bertobat dan memberi diri dibaptis. Bertobat adalah mengubah pikiran, memalingkan pikiran kepada Kristus. Membaptis adalah menguburkan orang-orang yang bertobat, mengakhiri mereka, supaya Kristus dapat menunaskan mereka oleh kelahiran kembali (Yoh. 3:3, 5-6). Menurut Lukas 3:3, baptisan tobat adalah untuk pengampunan dosa-dosa (TL.). Kata Yunani yang diterjemahkan “untuk” juga berarti “kepada”. Bertobat dan dibaptis adalah untuk dan menghasilkan pengampunan dosa-dosa, sehingga penghalang yang ada karena kejatuhan manusia dapat disingkirkan dan manusia dapat didamaikan dengan Allah.
Sudahkah dosa-dosa Anda diampuni dan berdamai dengan Allah? Karena jatuh dalam dosa, kita tidak saja jauh dari Allah, juga terisolir dari Allah (Rm. 3:18). Karena perbuatan yang jahat, hati kita bermusuhan dengan Allah (Kol. 1:21; Rm. 5:10). Sebab itu kita tidak saja perlu bertobat, berpaling kepada Allah; tidak saja perlu diampuni oleh Allah, juga perlu berdamai dengan Allah. Mungkin ada orang mengatakan, “Aku bukan pembunuh atau perampok. Di masyarakat aku memiliki reputasi yang cukup baik. Mengapa aku masih perlu berdamai dengan Allah?” Mungkin kita tidak memiliki masalah dengan orang-orang di sekitar kita, tetapi kita tidak dapat menyangkal bahwa kita ada masalah dengan Allah; kita tidak tunduk sepenuhnya terhadap hukum Allah (Rm. 8:7-8).
Allah menghendaki kita berdamai dengan Dia. Oleh sebab itu, Allah telah menggenapkan satu pendamaian untuk kita yaitu penebusan Kristus. Pengampunan dosa kita berdasarkan penebusan Tuhan, perdamaian kita dengan Allah juga berdasarkan penebusan Tuhan. Tanpa penebusan Tuhan, kita tidak bisa berdamai dengan Allah. Puji Tuhan! Penebusan-Nya sudah menyelesaikan segala persoalan antara kita dengan Allah. Namun, di pihak kita, kita perlu bertobat, berpaling kepada Allah, dan memberi diri kita diakhiri oleh air baptisan (Luk. 3:3). Setelah dibaptis, kita masih perlu setiap saat berpaling kepada Allah untuk tetap tinggal di dalam realitas baptisan, agar kita mengalami pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Tit. 3:5).

17 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 3 Sabtu

Penuh Hikmat, Dikasihi oleh Allah dan Manusia
Lukas 2:40, 52
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. ... Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Ayat Bacaan: Luk. 2:41-52; Yoh. 5:18

Dalam Lukas 2:52 terdapat kesimpulan dari bagian masa kecil Manusia-Penyelamat: “Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Dia makin dikasihi Allah karena Dia bertumbuh dalam ekspresi Allah menurut hasrat hati Allah. Dia makin dikasihi manusia karena Dia bertumbuh dalam kebajikan-kebajikan insani yang penuh hikmat terhadap manusia.
Sebagai manusia, kita semua memerlukan hikmat dan kasih karunia Allah. Hikmat berhubungan dengan cara melakukan sesuatu, dan kasih karunia berhubungan dengan kekuatan, kemampuan, untuk melaksanakan sesuatu itu. Dalam kehidupan kita, pertama-tama kita memerlukan cara untuk melakukan sesuatu; kemudian kita memerlukan kekuatan untuk melakukannya. Manusia-Yesus ini hidup di dalam hikmat dan kasih karunia Allah.
Dalam Lukas 2:41-51 kita nampak bahwa Tuhan Yesus memperhatikan kepentingan Allah pada umur dua belas tahun dan juga patuh kepada orang tua-Nya. Ayat 42 mengatakan, “Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.” Menurut Lukas 2:43-48, Yesus tetap tinggal di Yerusalem, dan orang tua-Nya tidak mengetahuinya. Ketika orang tua-Nya menyadari hal itu, mereka segera kembali ke Yerusalem untuk mencari Dia.
Ketika mereka menemukan Dia, ibu-Nya berkata kepada-Nya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Lihat, bapak-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (Luk. 2:48). Tuhan menjawab, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk. 2:49). Ini menunjukkan bahwa Yesus memperhatikan kepentingan Allah. Kata “Bapa-Ku” dalam ayat 49 menunjukkan ke-Allahan Yesus, anak laki-laki itu (Yoh. 5:18). Dalam keinsanian-Nya Dia adalah anak orang tua-Nya; dalam keilahian-Nya Dia adalah Putra Allah Bapa. Lukas 2:51 mengatakan bahwa Tuhan Yesus “pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan tetap hidup dalam asuhan mereka.” Di sini kita nampak kepatuhan keinsanian-Nya kepada orang tua insaninya.

16 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 3 Jumat

Dipersembahkan Kepada Allah
Lukas 2:21-22
Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. Dan ketika genap waktu pentahiran,... mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan.

Ayat Bacaan: Luk. 2:15-39

Dalam Injil Lukas 2:15-20 tercatat bahwa gembala-gembala di padang itu pergi ke Betlehem dan “menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan” (Luk. 2:16). Kabar baik mengenai kelahiran Manusia-Penyelamat ini pertama-tama diberitakan oleh malaikat kepada gembala-gembala. Kita dapat mengatakan bahwa malaikat itu memberitakan Injil kepada mereka. Kemudian gembala-gembala itu, setelah mendengar pemberitaan malaikat dan datang melihat anak kecil itu, mulai memberitakan kepada orang lain.
Lukas 2:18 mengatakan, “Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.” Setelah melihat Yesus, Anak itu, “Kemudian kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka” (Luk. 2:20). Kemudian Lukas 2:21 membicarakan tentang penyunatan dan pemberian nama Tuhan Yesus: “Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” Menurut hukum Taurat, setiap anak laki-laki harus disunat pada hari kedelapan dan diberi nama pada hari itu. Tuhan Yesus disunat dan diberi nama pada hari kedelapan.
Selanjutnya dalam Lukas 2:22-39 terdapat catatan tentang Manusia-Penyelamat ini dipersembahkan dan disembah. Di satu pihak, sebagai seorang Anak, Dia dipersembahkan kepada Allah; di pihak lain, pada saat itu juga Dia dipuja, dipuji, dan disembah oleh manusia. Dalam Lukas 2:25-35 Yesus dipuja oleh Simeon, dan dalam Lukas 2:36-39 terdapat catatan bagaimana Hana memuja Yesus, Anak itu. Pemujaan mereka terhadap Yesus adalah di dalam Roh Kudus. Menurut perkataan Simeon, Manusia-Penyelamat diwahyukan sebagai penghiburan bagi umat Israel, keselamatan Allah, terang bagi bangsa-bangsa, kemuliaan Israel, ujian bagi Israel, dan tanda pertentangan. Sedangkan Hana bersyukur kepada Allah atas Manusia-Penyelamat ini dan berbicara tentang Dia sebagai penebusan bagi umat Allah, kelepasan bagi umat Allah.

15 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 3 Kamis

Hari Ini Telah Lahir Bagimu Juruselamat
Lukas 2:10-11
Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.”

Ayat Bacaan: Luk. 2:8-14; Yes. 9:5

Kelahiran Manusia-Penyelamat diberitakan kepada gembala-gembala oleh malaikat sebagai kabar baik dengan kesukaan yang besar bagi semua orang (Luk. 2:8-10). Lukas 2:8 mengatakan, “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.” Pekerjaan mereka dalam menggembalakan kawanan domba (tidak hanya menyediakan makanan bagi manusia, tetapi juga kurban persembahan kepada Allah) dan kerajinan mereka dalam berjaga malam melayakkan mereka menjadi yang pertama menerima kabar gembira tentang kelahiran ajaib dari Penyelamat yang diumumkan oleh malaikat.
Dalam Lukas 2:10-11, malaikat itu berkata kepada gembala-gembala itu, ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa; Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus,Tuhan, di kota Daud.” Kabar baik dengan kesukaan yang besar ini harus diberitakan kepada semua orang. Kabar baik ini harus diberitakan kepada orang-orang Yahudi, juga kepada seluruh umat manusia.
Dalam Lukas 2:12 malaikat itu melanjutkan, “Inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan kain lampin dan terbaring di dalam palungan.” Seorang bayi di dalam palungan, menunjukkan kerendahan hati, tanda dari kehidupan Manusia-Penyelamat. Bayi kecil ini disebut Allah yang perkasa dalam nubuat mengenai Manusia-Penyelamat (Yes. 9:5).
Lukas 2:13-14 mengatakan, “Tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah, katanya, ‘Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.’” Sorak-sorai para malaikat yang bergembira karena kelahiran Penyelamat bagi keselamatan manusia menghasilkan pujian kepada Allah. Kedatangan Penyelamat membawa kemuliaan bagi Allah di surga dan membawa damai sejahtera bagi manusia di bumi. Pujian bala tentara surga ini memiliki dua aspek: kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di antara manusia di bumi. Kristus adalah bagi kemuliaan Allah dan damai sejahtera manusia.

14 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 3 Rabu

Yesus Dilahirkan Menurut Kedaulatan Allah
Lukas 2:4-5
Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.

Ayat Bacaan: Luk. 1:26-27, 31; 2:1-7; Mi. 5:1-2; Yes. 9:5

Maria mengandung seorang bayi laki-laki dari Roh Kudus di Nazaret (Luk. 1:26-27, 31). Menurut nubuat dalam Mikha 5:2 bagaimanapun juga Kristus harus dilahirkan di Betlehem. Di bawah pengaturan kedaulatan Allah, kaisar Agustus memerintahkan sensus pertama sejak kerajaan Roma berdiri (Luk. 2:1-7). Ini memaksa semua orang kembali ke tempat asal mereka. Maria dan Yusuf terpaksa kembali ke Betlehem, dan segera setelah mereka sampai ke Betlehem, Yesus pun terlahir (Luk. 2:6-7).
Setelah Israel ditawan oleh bangsa Romawi, bangsa Israel sangat mengharapkan Mesias mereka datang dan membebaskan mereka dari tangan penjajah Romawi. Namun, ketika Yesus dilahirkan di antara umat manusia Dia muncul dalam cara yang agak tersembunyi, tidak dalam cara yang terbuka. Setiap orang kemudian menyebut Dia Yesus dari Nazaret, sebab Dia seorang Nazaret. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa Kristus akan dilahirkan di Betlehem. Semua kejadian ini sepertinya terjadi secara kebetulan, namun sesungguhnya tidaklah demikian sebab dibalik semua kejadian ini terdapat tangan kedaulatan Allah dalam menggenapkan nubuat Perjanjian Lama (Mi. 5:1-2).
Lukas 2:7 mengatakan, “Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan kain lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” Kehidupan Manusia-Penyelamat dimulai di sebuah palungan, tempat yang paling rendah, karena penginapan penuh dengan umat manusia yang jatuh dengan kesibukan kegiatannya. Kita dapat mengatakan bahwa palungan adalah sebuah lambang dari kehidupan insani Penyelamat.
Menurut Yesaya 9:5, anak yang dilahirkan bagi kita ialah Allah yang perkasa. Ini berarti anak yang dilahirkan di palungan di Betlehem itu adalah Allah yang perkasa itu sendiri. Sebagai seorang anak, Dia dibesarkan di Nazaret, di wilayah Galilea yang dianggap hina. Dia tidak tinggal di rumah gedung orang kaya, tetapi di rumah seorang tukang kayu yang miskin. Bayangkanlah Yesus, Allah yang perkasa yang berinkarnasi, hidup di rumah tukang kayu di Nazaret kira-kira tiga puluh tahun! Ini merupakan bagian yang penting dari sejarah Allah.

13 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 3 Selasa

Bertumbuh dan Menjadi Kuat dalam Rohnya
Lukas 1:80
Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.

Ayat Bacaan: Luk. 1:41, 67, 80; Kis. 2:21; Rm. 10:13; 8:16; Mzm. 116:2; 2 Tim. 1:7; Yoh. 3:5-6

Lukas 1:80 membicarakan masa kecil Yohanes Pembaptis. Ayat ini menyinggung bahwa Yohanes Pembaptis menjadi kuat rohnya. Hal ini tentu dipengaruhi oleh orang tuanya yang sama-sama dipenuhi dengan Roh Kudus (Luk. 1:41, 67) sehingga anak mereka mudah bertumbuh dan menjadi kuat dalam rohnya, dan kemudian tinggal di padang gurun. Bertumbuh dan menjadi kuat di dalam rohnya berarti dia hidup bersama dengan Allah dan hidupnya sepenuhnya bagi Allah.
Banyak orang Kristen yang tidak memperhatikan roh mereka. Roh mereka telah menjadi seperti “ban-ban kempes,” tidak memiliki perasaan hayat maupun petunjuk dari pengurapan itu. Mereka berdosa dan melakukan hal-hal duniawi tanpa malu karena roh mereka terlalu lemah. Begitu kita diselamatkan, kita harus melatih roh kita setiap hari agar roh kita tetap kuat. Dari pengalaman kita tahu bahwa jika roh kita tidak dikuatkan, dan bila jiwa kita tidak ditopang oleh roh yang kuat, kita akan mudah dikalahkan oleh berbagai pencobaan dan godaan.
Menyeru nama Tuhan adalah jalan yang termudah, tercepat, terbaik untuk melatih roh kita, untuk menjamah roh kita, dan untuk memelihara satu roh yang kuat. Kita memulai kehidupan Kristen kita dengan menyeru, “Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (Kis. 2:21). Setiap hari kita perlu terus-menerus menyeru nama Tuhan agar diselamatkan (Rm. 10:13). Mazmur 88:9 berkata, “Aku telah berseru kepadaMu, ya Tuhan, sepanjang hari”. Mazmur 116:2 berkata, “... maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.” Selama kita hidup, kita harus menyeru nama Tuhan.
Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim. 1:7). Roh di sini mengacu kepada roh manusia, yang telah dilahirkan kembali dan dihuni oleh Roh Kudus (Yoh. 3:5-6; Rm. 8:16). Paulus berkata bahwa kita memiliki roh kekuatan, kasih dan ketertiban. Roh yang kuat sedemikian membuat kita tidak boleh merasa malu akan kesaksian Tuhan, sebaliknya tetap berdiri teguh melawan arus kemerosotan gereja. Kita perlu percaya bahwa Allah telah memberi kita roh sedemikian itu, dan kita patut memuji Dia karenanya.

12 October 2008

Lukas Volume 1 - Minggu 3 Senin

Melayani Dia dalam Kekudusan dan Kebenaran
Lukas 1:74-75
Supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.

Ayat Bacaan: Luk. 1:64, 67-69, 74-75, 78; 1 Ptr. 2:9

Setelah Zakharia menulis nama Yohanes di atas batu, “Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah” (Luk. 1:64). Dalam Lukas 1:67-79 terdapat satu catatan bahwa Zakharia dipenuhi dengan Roh Kudus lalu bernubuat. Jika kita membandingkan perkataan Zakharia dalam Lukas 1:69 dengan perkataannya dalam ayat 78, kita akan nampak bahwa ia membicarakan dua aspek Persona Kristus. Dia membicarakan keinsanian-Nya dan keilahian-Nya.
Dalam keinsanian-Nya Kristus adalah tanduk keselamatan yang dibangkitkan Allah dalam keluarga insani, keluarga Daud. Dalam keilahian-Nya Dia adalah Surya yang terbit dari langit. Karena itu, Kristus adalah Manusia, juga Allah. Sebagai Manusia, Dia adalah tanduk keselamatan; sebagai Allah, Dia adalah Surya yang terbit. Pekerjaan penebusan Allah bagi keselamatan umat-Nya digenapkan oleh kebangkitan Kristus dalam dua aspek, yaitu sebagai tanduk keselamatan dan Surya yang terbit.
Puji Tuhan, Allah telah menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud. Kita sudah memiliki tanduk keselamatan ini, yaitu Kristus. Dia telah melepaskan kita dari tangan musuh-musuh kita. Karena itu firman-Nya mengatakan bahwa Dia menghendaki agar kita melayani-Nya dalam kekudusan dan kebenaran seumur hidup kita (Luk. 1:74-75). Kita harus melayani Dia dalam kekudusan dan kebenaran selama kita hidup di bumi.
Berapa lama kita hidup di bumi, selama itulah kita seharusnya melayani Dia (beribadah, LAI) dalam kekudusan dan kebenaran sebagai imam-imam (1 Ptr. 2:9). Kekudusan terutama ditujukan terhadap Allah, dan kebenaran terutama ditujukan terhadap manusia. Inilah kehidupan yang ditentukan oleh Allah bagi kita. Kita harus melayani Dia dalam kekudusan dan kebenaran seumur hidup kita. Tentu saja, kita merasa sangat berhutang sebab kita harus mengakui bahwa kita belum setiap hari melayani Dia dalam kekudusan dan kebenaran, walaupun Allah telah melepaskan kita dari tangan musuh-musuh kita. Kekudusan dan kebenaran merupakan karakteristik utama dari perilaku kita di hadapan Allah, yang dengannya kita dapat melayani Dia.