Yang Percaya, Beroleh Hayat Yang Kekal
Yohanes 3:16, Tl.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hayat yang kekal.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:14-16, 36; 6:54; 10:10
Dalam Injil Yohanes, menerima hayat kekal dibicarakan dalam empat cara. Pertama, Yohanes 3:16 mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Kedua, Yohanes 3:14-15 mengatakan, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Ketiga, Yohanes 6:54 mengatakan, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.” Keempat, Yohanes 3:36 mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia mempunyai hidup yang kekal.” Keempat bagian ini memperlihatkan kepada kita bahwa tujuan Allah mengasihi kita adalah supaya kita mendapatkan hayat kekal-Nya.
Menurut pemahaman kebanyakan orang Kristen dewasa ini, mendapatkan hidup yang kekal itu berarti bahwa suatu hari kelak kita semua akan naik ke surga untuk menikmati berkat dan kebahagiaan selama-lamanya. Namun hidup yang kekal ini sebenarnya adalah hayat yang kekal, hayat Allah sendiri. Allah mengasihi kita bukan sekedar supaya kita ditebus dari dosa, atau supaya kita beroleh kemakmuran materi di jaman ini dan suatu hari diangkat ke surga seperti yang banyak diajarkan hari ini, melainkan supaya kita dapat menerima Dia sebagai hayat kekal kita (Yoh. 3:16; 10:10b). Tujuan Allah satu-satunya di atas diri kita adalah supaya kita dapat menerima hayat-Nya.
Tujuan Allah ini tidak pernah berubah. Seluruh Alkitab sebenarnya hanya membicarakan satu judul, yakni Allah ingin masuk ke dalam manusia sebagai hayat supaya manusia dapat mengekspresikan Dia dan berkuasa bagi Dia. Di balik kasih Allah yang besar terhadap manusia yang berdosa, terkandung suatu maksud yang seringkali tidak disadari oleh kebanyakan orang, yakni Allah ingin memberikan diri-Nya sebagai hayat kepada kita. Inkarnasi, kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan Kristus, semuanya adalah untuk memberikan hayat kekal kepada kita. Inilah kasih Allah yang terbesar bagi kita: Dia memberikan diri-Nya sendiri sebagai hayat kita. Haleluya!
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
18 May 2009
17 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 2 Senin
Memandang Kepada Anak Manusia Yang Telah Ditinggikan
Yohanes 3:14-15, Tl.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hayat yang kekal.
Ayat Bacaan: Yoh.3:14-15; Bil. 21:9; Ef. 6:16; Ibr. 2:14
Tidak perlu diragukan lagi bahwa seluruh umat manusia telah “dipagut” oleh ular berbisa (Iblis), sehingga seluruh umat manusia menghadapi kematian kekal yang mengerikan. Tidak seorang pun yang dapat mengatakan bahwa dirinya bebas dari dosa. Namun puji Tuhan, Allah memberikan kepada kita jalan untuk diselamatkan, yakni dengan memandang (percaya) kepada-Nya. Dalam Bilangan 21:9 disebutkan, “Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.” Inilah jalan keselamatan yang Allah sediakan bagi umat-Nya.
Sudahkah Anda memandang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya? Yohanes 3:15 berkata, “Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Bagi orang yang dipagut ular, berbuat baik tidak ada gunanya, memperbaiki diri juga sia-sia adanya. Kalau dia mau tetap hidup, yang dia perlukan adalah memandang kepada ular tembaga yang Musa tinggikan di atas tiang. Seprinsip dengan itu, tidak ada jalan lain bagi orang yang berdosa bila tidak ingin binasa, selain percaya kepada Tuhan Yesus.
Satu hal yang perlu kita sadari bahwa Iblis hari demi hari terus berusaha menyuntikkan dosa dan hal-hal negatif ke dalam kita. Setelah dilahirkan kembali, tidak berarti bahwa kita sudah aman sepenuhnya dari serangan tipu daya si jahat. Alkitab mengingatkan kita bahwa kita perlu waspada terhadap panah api si jahat (Ef. 6:16). Panah api si jahat adalah cobaan-cobaan, usulan-usulan, keragu-raguan, pertanyaan-pertanyaan, dusta-dusta, kekuatiran, dan serangan-serangan Iblis, yang diarahkan khususnya kepada pikiran kita.
Agar diselamatkan dari serangan Iblis, kita perlu berpaling kepada Tuhan, melatih roh kita, dan berpegang pada firman Tuhan sebagai perisai iman kita. Ketika Iblis mulai menyerang pikiran kita, kita dapat berseru: “O, Tuhan Yesus, aku berlindung di dalam darah-Mu.” Untuk mematahkan panah api si jahat, kita pun dapat memproklamirkan firman Tuhan dalam Ibrani 2:14 dengan berkata: “Hai Iblis, melalui kematian-Nya, Tuhan telah memusnahkan engkau! Engkau tidak lagi berkuasa atasku. Enyahlah engkau, Iblis!”
Yohanes 3:14-15, Tl.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hayat yang kekal.
Ayat Bacaan: Yoh.3:14-15; Bil. 21:9; Ef. 6:16; Ibr. 2:14
Tidak perlu diragukan lagi bahwa seluruh umat manusia telah “dipagut” oleh ular berbisa (Iblis), sehingga seluruh umat manusia menghadapi kematian kekal yang mengerikan. Tidak seorang pun yang dapat mengatakan bahwa dirinya bebas dari dosa. Namun puji Tuhan, Allah memberikan kepada kita jalan untuk diselamatkan, yakni dengan memandang (percaya) kepada-Nya. Dalam Bilangan 21:9 disebutkan, “Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.” Inilah jalan keselamatan yang Allah sediakan bagi umat-Nya.
Sudahkah Anda memandang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya? Yohanes 3:15 berkata, “Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Bagi orang yang dipagut ular, berbuat baik tidak ada gunanya, memperbaiki diri juga sia-sia adanya. Kalau dia mau tetap hidup, yang dia perlukan adalah memandang kepada ular tembaga yang Musa tinggikan di atas tiang. Seprinsip dengan itu, tidak ada jalan lain bagi orang yang berdosa bila tidak ingin binasa, selain percaya kepada Tuhan Yesus.
Satu hal yang perlu kita sadari bahwa Iblis hari demi hari terus berusaha menyuntikkan dosa dan hal-hal negatif ke dalam kita. Setelah dilahirkan kembali, tidak berarti bahwa kita sudah aman sepenuhnya dari serangan tipu daya si jahat. Alkitab mengingatkan kita bahwa kita perlu waspada terhadap panah api si jahat (Ef. 6:16). Panah api si jahat adalah cobaan-cobaan, usulan-usulan, keragu-raguan, pertanyaan-pertanyaan, dusta-dusta, kekuatiran, dan serangan-serangan Iblis, yang diarahkan khususnya kepada pikiran kita.
Agar diselamatkan dari serangan Iblis, kita perlu berpaling kepada Tuhan, melatih roh kita, dan berpegang pada firman Tuhan sebagai perisai iman kita. Ketika Iblis mulai menyerang pikiran kita, kita dapat berseru: “O, Tuhan Yesus, aku berlindung di dalam darah-Mu.” Untuk mematahkan panah api si jahat, kita pun dapat memproklamirkan firman Tuhan dalam Ibrani 2:14 dengan berkata: “Hai Iblis, melalui kematian-Nya, Tuhan telah memusnahkan engkau! Engkau tidak lagi berkuasa atasku. Enyahlah engkau, Iblis!”
16 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 2 Minggu
Keadaan Manusia Yang Sebenarnya
Yohanes 3:14
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:10-14; Rm. 3:23; 6:23; Bil. 21:4-9; Mat. 12:34; Ibr. 2:14
Dalam Kejadian pasal dua, kita dapat melihat bagaimana keadaan manusia pertama yang diciptakan Allah. Manusia pertama ini diciptakan begitu baik, bahkan sangat baik. Namun di dalam Kejadian pasal tiga, kita melihat manusia mulai jatuh. Manusia terkena “racun” dari ular, tertipu oleh tipu daya Iblis. Sejak hari itulah manusia memiliki dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka upah yang patut diterima oleh manusia adalah maut (Rm. 6:23). Nasib yang demikian bukan saja diterima oleh Adam, akan tetapi juga diwarisi oleh setiap keturunan Adam. “Racun” ular (sifat dosa) yang telah disuntikkan ke dalam manusia ini, lama kelamaan akan membawa manusia kepada maut. Inilah upah dan nasib seluruh umat manusia yang sesungguhnya.
Dalam Perjanjian Lama terdapat suatu kisah di mana Musa membuat ular tembaga dan meletakkannya di atas tiang supaya setiap orang yang dipagut oleh ular ganas dapat diselamatkan (Bil. 21:9). Ular tembaga di atas tiang melambangkan Tuhan Yesus di atas salib. Sebagai “ular tembaga”, Dia memiliki bentuk ular, tetapi tidak memiliki racun ular (sifat dosa). Di atas salib, Tuhan Yesus mengambil bentuk “ular” karena dia mati untuk menggantikan manusia yang telah “menjadi ular” dalam sifat batininya. Di mata Allah umat manusia telah menjadi “ular” (Mat. 12:34). Namun, di atas salib, Tuhan Yesus telah menghancurkan Iblis dan sifat Iblis di dalam kita (Ibr. 2:14).
Nikodemus mungkin mengira dirinya adalah orang yang bermoral dan baik. Tetapi perkataan Tuhan kepadanya menyiratkan bahwa tak peduli bagaimana baiknya Nikodemus secara luaran, di dalam dirinya tetap ada sifat Iblis (Yoh. 3:10-14). Sebagai keturunan Adam, dia telah “diracuni” oleh Iblis dan sifat Iblis (sifat dosa) ada di dalam dia. Sebab itu dia tidak hanya memerlukan Tuhan sebagai Anak Domba Allah untuk menghapus dosanya (Yoh. 1:29), juga memerlukan Tuhan sebagai “ular tembaga” yang ditinggikan (Yoh. 3:14; Bil. 21:4-9). Dalam ketersaliban-Nya, Kristus ditinggikan sebagai “ular tembaga” untuk menanggulangi sifat dosa di dalam kita, agar kita yang memandang (percaya) kepada-Nya mendapatkan hayat yang kekal.
Yohanes 3:14
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:10-14; Rm. 3:23; 6:23; Bil. 21:4-9; Mat. 12:34; Ibr. 2:14
Dalam Kejadian pasal dua, kita dapat melihat bagaimana keadaan manusia pertama yang diciptakan Allah. Manusia pertama ini diciptakan begitu baik, bahkan sangat baik. Namun di dalam Kejadian pasal tiga, kita melihat manusia mulai jatuh. Manusia terkena “racun” dari ular, tertipu oleh tipu daya Iblis. Sejak hari itulah manusia memiliki dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka upah yang patut diterima oleh manusia adalah maut (Rm. 6:23). Nasib yang demikian bukan saja diterima oleh Adam, akan tetapi juga diwarisi oleh setiap keturunan Adam. “Racun” ular (sifat dosa) yang telah disuntikkan ke dalam manusia ini, lama kelamaan akan membawa manusia kepada maut. Inilah upah dan nasib seluruh umat manusia yang sesungguhnya.
Dalam Perjanjian Lama terdapat suatu kisah di mana Musa membuat ular tembaga dan meletakkannya di atas tiang supaya setiap orang yang dipagut oleh ular ganas dapat diselamatkan (Bil. 21:9). Ular tembaga di atas tiang melambangkan Tuhan Yesus di atas salib. Sebagai “ular tembaga”, Dia memiliki bentuk ular, tetapi tidak memiliki racun ular (sifat dosa). Di atas salib, Tuhan Yesus mengambil bentuk “ular” karena dia mati untuk menggantikan manusia yang telah “menjadi ular” dalam sifat batininya. Di mata Allah umat manusia telah menjadi “ular” (Mat. 12:34). Namun, di atas salib, Tuhan Yesus telah menghancurkan Iblis dan sifat Iblis di dalam kita (Ibr. 2:14).
Nikodemus mungkin mengira dirinya adalah orang yang bermoral dan baik. Tetapi perkataan Tuhan kepadanya menyiratkan bahwa tak peduli bagaimana baiknya Nikodemus secara luaran, di dalam dirinya tetap ada sifat Iblis (Yoh. 3:10-14). Sebagai keturunan Adam, dia telah “diracuni” oleh Iblis dan sifat Iblis (sifat dosa) ada di dalam dia. Sebab itu dia tidak hanya memerlukan Tuhan sebagai Anak Domba Allah untuk menghapus dosanya (Yoh. 1:29), juga memerlukan Tuhan sebagai “ular tembaga” yang ditinggikan (Yoh. 3:14; Bil. 21:4-9). Dalam ketersaliban-Nya, Kristus ditinggikan sebagai “ular tembaga” untuk menanggulangi sifat dosa di dalam kita, agar kita yang memandang (percaya) kepada-Nya mendapatkan hayat yang kekal.
15 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Sabtu
Roh Kelahiran Kembali
Yohanes 3:6
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:6; 1 Tim. 4:7; 2 Tim. 1:7; 4:22; Rm. 8:4; 1 Kor. 6:17; Ef. 6:18
Setelah roh manusia kita dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yoh. 3:6), selanjutnya bagaimanakah sikap kita terhadap roh kita? Satu Timotius 4:7 mengatakan, “Latihlah dirimu beribadah.” Dua Timotius 1:7 mengatakan, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Kemudian Dua Timotius 4:22 mengatakan, “Tuhan menyertai rohmu.” Jika kita menggabungkan semua ayat ini, kita dapat melihat bahwa melatih diri beribadah tergantung pada melatih roh kelahiran kembali kita, tempat Tuhan berada. Dengan kata lain, jika kita ingin melatih diri beribadah, kita harus mengetahui bagaimana melatih roh kita, karena Allah ada di dalam roh kita.
Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan menurut roh (Rm. 8:4), sebab roh kita telah berbaur dengan Roh Tuhan (1 Kor. 6:17). Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita katakan, kita harus melakukannya dan mengatakannya dengan roh kita. Mengasihi isteri itu tidak salah, ini sangat baik. Memikirkan pengajaran Alkitab dan mencari pengetahuan itu juga baik. Tetapi kasih, pertimbangan, dan pencarian kita, kita sering kali tidak bergantung kepada Tuhan. Kita menaruh pikiran kita, yang mewakili diri kita, pada begitu banyak perkara di luar Tuhan. Kita semua harus belajar satu perkara: apapun yang kita lakukan, kita harus berpaling kepada Tuhan yang berhuni di dalam roh kita.
Semua masalah yang timbul dalam kehidupan kita, sebagian besar diakibatkan oleh satu penyebab, yakni kita yang tidak melatih atau menggunakan roh kita. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak mempedulikan roh kita, kurang memperhatikan roh. Kita lebih banyak memperhatikan perkara yang baik menurut kita dan berusaha untuk melakukan perkara-perkara tersebut dengan kemampuan kita sendiri. Itulah sebabnya kita kemudian terbentur dengan banyak masalah yang merepotkan. Kita harus mulai melatih roh kita melalui berdoa, karena berdoa pada dasarnya terjadi di dalam roh (Ef. 6:18). Sebab itu cara terbaik bagi kita untuk melatih roh kita adalah dengan belajar berdoa. Latihan roh yang demikian membuat kita mengalami kemenangan, menikmati Tuhan, dan memperhidupkan Tuhan.
Yohanes 3:6
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:6; 1 Tim. 4:7; 2 Tim. 1:7; 4:22; Rm. 8:4; 1 Kor. 6:17; Ef. 6:18
Setelah roh manusia kita dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yoh. 3:6), selanjutnya bagaimanakah sikap kita terhadap roh kita? Satu Timotius 4:7 mengatakan, “Latihlah dirimu beribadah.” Dua Timotius 1:7 mengatakan, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Kemudian Dua Timotius 4:22 mengatakan, “Tuhan menyertai rohmu.” Jika kita menggabungkan semua ayat ini, kita dapat melihat bahwa melatih diri beribadah tergantung pada melatih roh kelahiran kembali kita, tempat Tuhan berada. Dengan kata lain, jika kita ingin melatih diri beribadah, kita harus mengetahui bagaimana melatih roh kita, karena Allah ada di dalam roh kita.
Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan menurut roh (Rm. 8:4), sebab roh kita telah berbaur dengan Roh Tuhan (1 Kor. 6:17). Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita katakan, kita harus melakukannya dan mengatakannya dengan roh kita. Mengasihi isteri itu tidak salah, ini sangat baik. Memikirkan pengajaran Alkitab dan mencari pengetahuan itu juga baik. Tetapi kasih, pertimbangan, dan pencarian kita, kita sering kali tidak bergantung kepada Tuhan. Kita menaruh pikiran kita, yang mewakili diri kita, pada begitu banyak perkara di luar Tuhan. Kita semua harus belajar satu perkara: apapun yang kita lakukan, kita harus berpaling kepada Tuhan yang berhuni di dalam roh kita.
Semua masalah yang timbul dalam kehidupan kita, sebagian besar diakibatkan oleh satu penyebab, yakni kita yang tidak melatih atau menggunakan roh kita. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak mempedulikan roh kita, kurang memperhatikan roh. Kita lebih banyak memperhatikan perkara yang baik menurut kita dan berusaha untuk melakukan perkara-perkara tersebut dengan kemampuan kita sendiri. Itulah sebabnya kita kemudian terbentur dengan banyak masalah yang merepotkan. Kita harus mulai melatih roh kita melalui berdoa, karena berdoa pada dasarnya terjadi di dalam roh (Ef. 6:18). Sebab itu cara terbaik bagi kita untuk melatih roh kita adalah dengan belajar berdoa. Latihan roh yang demikian membuat kita mengalami kemenangan, menikmati Tuhan, dan memperhidupkan Tuhan.
14 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Jumat
Roh Allah Melahirkan Roh Manusia
Yohanes 3:6
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:6; 4:24; Za. 12:1
Banyak dari antara kita mungkin memiliki konsepsi bahwa karena kita sangat berdosa, jahat dan buruk, maka kita perlu dilahirkan kembali. Namun, misalkan saja Anda tidak jahat atau berdosa, Anda sangat baik, bahkan lebih baik daripada malaikat, apakah Anda masih perlu dilahirkan kembali? Masih perlu! Para malaikat Allah memang baik, tetapi mereka tidak memiliki hayat Allah. Kita perlu dilahirkan kembali, tidak peduli kita baik atau buruk, sebab kita membutuhkan hayat Allah. Seandainya kita tidak berdosa sekalipun, kita masih perlu dilahirkan ulang, dilahirkan kembali.
Alkitab dengan jelas mengungkapkan bahwa kita memiliki roh (Za. 12:1). Allah menciptakan roh di dalam kita supaya kita dapat berhubungan dengan-Nya. Dalam Yohanes 3:6 Tuhan Yesus mengatakan, “Apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Mudah bagi kita untuk mengerti bahwa Roh yang pertama pastilah Roh Allah, dan roh yang kedua adalah roh manusia. Jadi, yang dilahirkan oleh Roh Allah bukanlah tubuh atau jiwa, melainkan roh manusia.
Roh kita dilahirkan oleh Allah yang masuk ke dalam roh kita menjadi hayat kita. Sekarang hayat ilahi ini ada di dalam roh kita. Roh kita terlahir karena hayat Allah masuk ke dalamnya, dan kelahiran ini tidak ada hubungannya dengan kejatuhan manusia. Bahkan seandainya Adam tidak pernah jatuh ke dalam dosa, ia masih perlu dilahirkan kembali. Tanpa itu, ia tidak dapat mengekpresikan Allah dan berkuasa bagi Allah. Namun puji Tuhan, melalui kelahiran kembali, kini di dalam roh kita ada hayat, dan hayat ini adalah Allah sendiri.
Roh manusia adalah titik terpenting kehidupan batiniah kita. Dalam roh inilah kita telah dilahirkan kembali dan dalam roh inilah kita menyembah Allah (Yoh. 4:24). Dalam roh kita yang dilahirkan kembali inilah kita menyembah Allah, melayani Allah, bersekutu dengan saudara saudari, dan kita bertumbuh dalam hayat ini. Dalam roh ini pulalah kita menempuh kehidupan gereja yang normal. Jika Anda tidak berada di dalam roh, Anda tidak dapat menempuh kehidupan gereja dengan tepat. Jika kita berpaling ke dalam roh kita, barulah kita bisa bersatu, sehati, dan terbangun dengan kaum beriman lain. Dengan kata lain, seluruh kehidupan rohani kita, semuanya tergantung pada roh kita.
Yohanes 3:6
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Ayat Bacaan: Yoh. 3:6; 4:24; Za. 12:1
Banyak dari antara kita mungkin memiliki konsepsi bahwa karena kita sangat berdosa, jahat dan buruk, maka kita perlu dilahirkan kembali. Namun, misalkan saja Anda tidak jahat atau berdosa, Anda sangat baik, bahkan lebih baik daripada malaikat, apakah Anda masih perlu dilahirkan kembali? Masih perlu! Para malaikat Allah memang baik, tetapi mereka tidak memiliki hayat Allah. Kita perlu dilahirkan kembali, tidak peduli kita baik atau buruk, sebab kita membutuhkan hayat Allah. Seandainya kita tidak berdosa sekalipun, kita masih perlu dilahirkan ulang, dilahirkan kembali.
Alkitab dengan jelas mengungkapkan bahwa kita memiliki roh (Za. 12:1). Allah menciptakan roh di dalam kita supaya kita dapat berhubungan dengan-Nya. Dalam Yohanes 3:6 Tuhan Yesus mengatakan, “Apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Mudah bagi kita untuk mengerti bahwa Roh yang pertama pastilah Roh Allah, dan roh yang kedua adalah roh manusia. Jadi, yang dilahirkan oleh Roh Allah bukanlah tubuh atau jiwa, melainkan roh manusia.
Roh kita dilahirkan oleh Allah yang masuk ke dalam roh kita menjadi hayat kita. Sekarang hayat ilahi ini ada di dalam roh kita. Roh kita terlahir karena hayat Allah masuk ke dalamnya, dan kelahiran ini tidak ada hubungannya dengan kejatuhan manusia. Bahkan seandainya Adam tidak pernah jatuh ke dalam dosa, ia masih perlu dilahirkan kembali. Tanpa itu, ia tidak dapat mengekpresikan Allah dan berkuasa bagi Allah. Namun puji Tuhan, melalui kelahiran kembali, kini di dalam roh kita ada hayat, dan hayat ini adalah Allah sendiri.
Roh manusia adalah titik terpenting kehidupan batiniah kita. Dalam roh inilah kita telah dilahirkan kembali dan dalam roh inilah kita menyembah Allah (Yoh. 4:24). Dalam roh kita yang dilahirkan kembali inilah kita menyembah Allah, melayani Allah, bersekutu dengan saudara saudari, dan kita bertumbuh dalam hayat ini. Dalam roh ini pulalah kita menempuh kehidupan gereja yang normal. Jika Anda tidak berada di dalam roh, Anda tidak dapat menempuh kehidupan gereja dengan tepat. Jika kita berpaling ke dalam roh kita, barulah kita bisa bersatu, sehati, dan terbangun dengan kaum beriman lain. Dengan kata lain, seluruh kehidupan rohani kita, semuanya tergantung pada roh kita.
13 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Kamis
Pengalaman Atas Kelahiran Kembali
Yohanes 3:5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan
dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 3:5; Rm. 8:4, 13; Gal. 5:25
Kelahiran kembali membuat seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:5). Melalui kelahiran jasmani dari orang tua kita, kita mendapatkan hayat manusia, sehingga kita dapat masuk ke dalam kerajaan manusia dan tunduk kepada hukum yang berlaku di dalam ruang lingkup kerajaan manusia. Demikian pula, melalui kelahiran kembali dari air dan Roh, kita mendapatkan hayat Allah, sehingga kita dapat masuk ke dalam ruang lingkup Kerajaan Allah, di mana kita diatur oleh hukum hayat-Nya.
Banyak orang mengira bahwa masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah perkara yang akan datang. Mereka berpikir setelah mereka mati suatu hari nanti, barulah malaikat Tuhan akan membawa mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah. Namun menurut terang Yohanes 3:5, begitu seseorang dilahirkan dari air dan Roh, saat itu juga dia masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mengapa? Sebab Kerajaan Allah di sini bukan mengacu kepada suatu tempat (alam materi) seperti yang dibayangkan oleh banyak orang, melainkan suatu ruang lingkup pemerintahan Allah melalui hayat-Nya. Masuk ke dalam Kerajaan Allah di sini berarti masuk ke dalam ruang lingkup pemerintahan-Nya.
Hidup di dalam Kerajaan Allah menuntut ketaatan kita. Melalui kelahiran kembali, Allah memberi kita hati yang baru dan roh yang baru. Hati yang baru adalah hati yang lunak terhadap Allah, juga hati yang taat di bawah pemerintahan Allah. Selain itu, hati yang baru akan membuat kita mengasihi Allah dan perkara-perkara milik Allah, sebaliknya membenci dosa, dunia, dan perkara-perkara di luar Allah. Lalu apakah gunanya roh yang baru? Roh yang baru adalah roh yang dihidupkan kembali fungsinya sehingga kita bisa berkontak dengan Allah dan memungkinkan kita hidup dalam persekutuan dengan Allah.
Saudara saudari kekasih, asal kita sudah dilahirkan kembali, kita semua sudah berada di dalam Kerajaan Allah, sudah berada di dalam ruang lingkup pemerintahan ilahi-Nya. Yang kita perlukan sekarang adalah hidup menurut pengaturan, pembatasan, juga bimbingan dari Roh itu yang berhuni di dalam kita (Rm. 8:4, 13; Gal. 5:25). Hati yang baru dan roh yang baru memungkinkan kita hidup di dalam ketaatan terhadap pemerintahan ilahi-Nya.
Yohanes 3:5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan
dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 3:5; Rm. 8:4, 13; Gal. 5:25
Kelahiran kembali membuat seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:5). Melalui kelahiran jasmani dari orang tua kita, kita mendapatkan hayat manusia, sehingga kita dapat masuk ke dalam kerajaan manusia dan tunduk kepada hukum yang berlaku di dalam ruang lingkup kerajaan manusia. Demikian pula, melalui kelahiran kembali dari air dan Roh, kita mendapatkan hayat Allah, sehingga kita dapat masuk ke dalam ruang lingkup Kerajaan Allah, di mana kita diatur oleh hukum hayat-Nya.
Banyak orang mengira bahwa masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah perkara yang akan datang. Mereka berpikir setelah mereka mati suatu hari nanti, barulah malaikat Tuhan akan membawa mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah. Namun menurut terang Yohanes 3:5, begitu seseorang dilahirkan dari air dan Roh, saat itu juga dia masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mengapa? Sebab Kerajaan Allah di sini bukan mengacu kepada suatu tempat (alam materi) seperti yang dibayangkan oleh banyak orang, melainkan suatu ruang lingkup pemerintahan Allah melalui hayat-Nya. Masuk ke dalam Kerajaan Allah di sini berarti masuk ke dalam ruang lingkup pemerintahan-Nya.
Hidup di dalam Kerajaan Allah menuntut ketaatan kita. Melalui kelahiran kembali, Allah memberi kita hati yang baru dan roh yang baru. Hati yang baru adalah hati yang lunak terhadap Allah, juga hati yang taat di bawah pemerintahan Allah. Selain itu, hati yang baru akan membuat kita mengasihi Allah dan perkara-perkara milik Allah, sebaliknya membenci dosa, dunia, dan perkara-perkara di luar Allah. Lalu apakah gunanya roh yang baru? Roh yang baru adalah roh yang dihidupkan kembali fungsinya sehingga kita bisa berkontak dengan Allah dan memungkinkan kita hidup dalam persekutuan dengan Allah.
Saudara saudari kekasih, asal kita sudah dilahirkan kembali, kita semua sudah berada di dalam Kerajaan Allah, sudah berada di dalam ruang lingkup pemerintahan ilahi-Nya. Yang kita perlukan sekarang adalah hidup menurut pengaturan, pembatasan, juga bimbingan dari Roh itu yang berhuni di dalam kita (Rm. 8:4, 13; Gal. 5:25). Hati yang baru dan roh yang baru memungkinkan kita hidup di dalam ketaatan terhadap pemerintahan ilahi-Nya.
12 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Rabu
Dilahirkan dari Air dan Roh
Yohanes 3:5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan
dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 3:4-5
Nikodemus tidak mengerti apa yang Tuhan maksud dengan perkara dilahirkan kembali. Sebab itu dia bertanya kepada Tuhan, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (Yoh. 3:4). Pertanyaan ini menunjukkan bahwa perkara kelahiran kembali berada di luar konsepsi alamiah manusia yang jatuh. Tidak peduli berapa kali Nikodemus dilahirkan dari rahim ibunya, dia tetap harus dilahirkan kembali, sebab kelahiran kembali yang Tuhan maksudkan bukanlah kelahiran secara jasmaniah, melainkan dilahirkan dari air dan Roh (Yoh. 3:5).
Apakah yang dimaksud dengan dilahirkan dari air dan Roh? “Air” adalah konsepsi utama ministri Yohanes Pembaptis, yaitu untuk menyelesaikan manusia ciptaan lama; “Roh” adalah konsepsi utama ministri Yesus, yaitu untuk penunasan manusia di dalam ciptaan baru. Dua konsepsi utama ini bersama-sama membentuk pengertian tentang kelahiran kembali. Dilahirkan dari air adalah dikubur, diakhiri, sedangkan dilahirkan dari Roh itu adalah dibangunkan dari kematian untuk dibangkitkan dan ditunaskan. Jadi, kelahiran kembali adalah penyelesaian manusia ciptaan lama dengan semua perbuatannya, dan penunasan manusia di dalam ciptaan baru dengan hayat Allah.
Bagi kaum beriman sejati di dalam Kristus, perihal kelahiran kembali tidak boleh hanya menjadi sebuah fakta sejarah di masa lampau. Realitas kelahiran kembali perlu kita alami dalam kehidupan kita setiap hari. Artinya, kehidupan dan perilaku kita setiap hari haruslah berada dalam prinsip kelahiran kembali, di mana manusia lama kita diakhiri dan ciptaan baru ditunaskan di dalam kita. Ketika kita berbicara kepada teman-teman sekantor kita, misalnya, kita perlu menerapkan prinsip pengakhiran dan penunasan ini. Demikian pula dalam hal mengurus keluarga, mengambil keputusan, dan lain sebagainya. Kita harus berdiri pada posisi sebagai orang yang sudah dilahirkan kembali. Kalau tidak demikian, orang lain akan sulit melihat perbedaan di atas diri kita dengan kebanyakan orang lainnya. Fakta kelahiran kembali haruslah menjadi realitas dalam kehidupan kita, menjadi pengalaman dan kesaksian kita.
Yohanes 3:5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan
dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 3:4-5
Nikodemus tidak mengerti apa yang Tuhan maksud dengan perkara dilahirkan kembali. Sebab itu dia bertanya kepada Tuhan, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (Yoh. 3:4). Pertanyaan ini menunjukkan bahwa perkara kelahiran kembali berada di luar konsepsi alamiah manusia yang jatuh. Tidak peduli berapa kali Nikodemus dilahirkan dari rahim ibunya, dia tetap harus dilahirkan kembali, sebab kelahiran kembali yang Tuhan maksudkan bukanlah kelahiran secara jasmaniah, melainkan dilahirkan dari air dan Roh (Yoh. 3:5).
Apakah yang dimaksud dengan dilahirkan dari air dan Roh? “Air” adalah konsepsi utama ministri Yohanes Pembaptis, yaitu untuk menyelesaikan manusia ciptaan lama; “Roh” adalah konsepsi utama ministri Yesus, yaitu untuk penunasan manusia di dalam ciptaan baru. Dua konsepsi utama ini bersama-sama membentuk pengertian tentang kelahiran kembali. Dilahirkan dari air adalah dikubur, diakhiri, sedangkan dilahirkan dari Roh itu adalah dibangunkan dari kematian untuk dibangkitkan dan ditunaskan. Jadi, kelahiran kembali adalah penyelesaian manusia ciptaan lama dengan semua perbuatannya, dan penunasan manusia di dalam ciptaan baru dengan hayat Allah.
Bagi kaum beriman sejati di dalam Kristus, perihal kelahiran kembali tidak boleh hanya menjadi sebuah fakta sejarah di masa lampau. Realitas kelahiran kembali perlu kita alami dalam kehidupan kita setiap hari. Artinya, kehidupan dan perilaku kita setiap hari haruslah berada dalam prinsip kelahiran kembali, di mana manusia lama kita diakhiri dan ciptaan baru ditunaskan di dalam kita. Ketika kita berbicara kepada teman-teman sekantor kita, misalnya, kita perlu menerapkan prinsip pengakhiran dan penunasan ini. Demikian pula dalam hal mengurus keluarga, mengambil keputusan, dan lain sebagainya. Kita harus berdiri pada posisi sebagai orang yang sudah dilahirkan kembali. Kalau tidak demikian, orang lain akan sulit melihat perbedaan di atas diri kita dengan kebanyakan orang lainnya. Fakta kelahiran kembali haruslah menjadi realitas dalam kehidupan kita, menjadi pengalaman dan kesaksian kita.
11 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Selasa
Keadaan Sebelum Dilahirkan Kembali
Yohanes 3:3
Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 1:13; 3:5
Bagaimanakah Alkitab menggambarkan kondisi kita sebelum dilahirkan kembali? Pertama, Alkitab mengatakan bahwa sifat kita rusak. Yeremia 17:9 mengatakan: “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Meskipun ayat ini membicarakan hati manusia, tetapi sebenarnya ditujukan kepada sifat manusia. Sebelum kelahiran kembali, sifat asli kita itu licik dan bobrok, sangat rusak, dan tidak dapat selaras dengan sifat Allah.
Kedua, hati kita keras (membatu) terhadap Allah. Yehezkiel 36:26 mengatakan bahwa hati asli kita adalah “hati yang keras”. Ini berarti bahwa sebelum dilahirkan kembali, hati kita terhadap Allah selalu memberontak, keras kepala, dan sekeras batu. Ketiga, roh kita mati terhadap Allah. Sebelum kelahiran kembali, karena dosa (Ef. 2:1), roh kita mati terhadap Allah dan telah kehilangan fungsinya untuk berkontak dengan Allah. Karena itu, kita tidak dapat bersekutu dengan Allah ataupun mengerti hal-hal rohani dari Allah. Keempat, manusia terpisah dari hayat Allah. Karena sifat manusia yang belum dilahirkan kembali itu rusak, hatinya keras terhadap Allah, dan rohnya mati terhadap Allah, maka seluruh dirinya terpisah dari hayat Allah (Ef. 4:18).
Dengan keadaan seperti yang digambarkan oleh Alkitab di atas, mungkinkah seseorang hidup dalam ruang lingkup Kerajaan Allah? Tentu tidak mungkin. Namun puji Tuhan, melalui kelahiran kembali, semua masalah di atas telah teratasi. Melalui terang Roh Kudus, pada saat kita dilahirkan kembali, kita nampak betapa rusaknya hayat insani kita. Terang ini membuat hati kita penuh dengan penyesalan dan pertobatan kepada Allah. Penyesalan dan pertobatan yang demikian akhirnya membuat kita berkontak dengan hayat Allah.
Karena penyesalan, pertobatan, dan iman kita dalam menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita, kita dapat menjamah hayat Allah yang ada di dalam Kristus. Tindakan iman yang demikianlah yang membuat kita dilahirkan kembali sehingga mendapatkan hayat Allah, di samping hayat insani kita. Satu Yohanes 5:12 mengatakan, “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hayat; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hayat (Tl.).”
Yohanes 3:3
Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 1:13; 3:5
Bagaimanakah Alkitab menggambarkan kondisi kita sebelum dilahirkan kembali? Pertama, Alkitab mengatakan bahwa sifat kita rusak. Yeremia 17:9 mengatakan: “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Meskipun ayat ini membicarakan hati manusia, tetapi sebenarnya ditujukan kepada sifat manusia. Sebelum kelahiran kembali, sifat asli kita itu licik dan bobrok, sangat rusak, dan tidak dapat selaras dengan sifat Allah.
Kedua, hati kita keras (membatu) terhadap Allah. Yehezkiel 36:26 mengatakan bahwa hati asli kita adalah “hati yang keras”. Ini berarti bahwa sebelum dilahirkan kembali, hati kita terhadap Allah selalu memberontak, keras kepala, dan sekeras batu. Ketiga, roh kita mati terhadap Allah. Sebelum kelahiran kembali, karena dosa (Ef. 2:1), roh kita mati terhadap Allah dan telah kehilangan fungsinya untuk berkontak dengan Allah. Karena itu, kita tidak dapat bersekutu dengan Allah ataupun mengerti hal-hal rohani dari Allah. Keempat, manusia terpisah dari hayat Allah. Karena sifat manusia yang belum dilahirkan kembali itu rusak, hatinya keras terhadap Allah, dan rohnya mati terhadap Allah, maka seluruh dirinya terpisah dari hayat Allah (Ef. 4:18).
Dengan keadaan seperti yang digambarkan oleh Alkitab di atas, mungkinkah seseorang hidup dalam ruang lingkup Kerajaan Allah? Tentu tidak mungkin. Namun puji Tuhan, melalui kelahiran kembali, semua masalah di atas telah teratasi. Melalui terang Roh Kudus, pada saat kita dilahirkan kembali, kita nampak betapa rusaknya hayat insani kita. Terang ini membuat hati kita penuh dengan penyesalan dan pertobatan kepada Allah. Penyesalan dan pertobatan yang demikian akhirnya membuat kita berkontak dengan hayat Allah.
Karena penyesalan, pertobatan, dan iman kita dalam menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita, kita dapat menjamah hayat Allah yang ada di dalam Kristus. Tindakan iman yang demikianlah yang membuat kita dilahirkan kembali sehingga mendapatkan hayat Allah, di samping hayat insani kita. Satu Yohanes 5:12 mengatakan, “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hayat; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hayat (Tl.).”
10 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Senin
Keperluan Orang Luhur
Yohanes 3:3
Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 3:2-3
Ketika Nikodemus pada suatu malam datang kepada Tuhan Yesus, sebenarnya apakah yang dia harapkan? Dari perkataannya kepada Tuhan, dapat kita ketahui bahwa Nikodemus berharap Tuhan Yesus akan memberikan suatu pengajaran. Dalam Yohanes 3:2, Nikodemus memanggil Tuhan sebagai “Rabi”, juga menyebut-Nya sebagai “guru yang diutus Allah”. Mungkin dia berpendapat dirinya memerlukan suatu pengajaran yang lebih baik dari Tuhan Yesus agar bisa memperbaiki diri.
Konsepsi Nikodemus juga mewakili konsepsi kebanyakan orang hari ini. Hari ini banyak orang berpikir tentang bagaimana caranya memperbaiki diri. Berbagai metode ditawarkan bagi mereka yang ingin memperbaiki diri. Ada yang mengajarkan metode positive thinking (berpikir secara positif), ada yang mengajarkan yoga dan meditasi, ada pula yang menawarkan kursus kepribadian dan sebagainya. Mereka berpikir kalau seseorang dapat berperilaku dengan baik, itu sudah cukup. Namun benarkah demikian? Tidak!
Pandangan kebanyakan orang biasanya dititikberatkan pada perubahan kelakuan. Namun, kita perlu nampak bahwa persoalan pokok pada manusia bukan terletak pada perbuatan yang lahiriah atau tingkah lakunya, melainkan pada hayat. Hayat manusia adalah hayat yang fana, hayat yang telah tercemar oleh dosa, hayat yang tidak sempurna. Pengajaran yang sehebat apa pun tidak dapat mengubah atau memperbaiki hayat seseorang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yoh. 3:3). Yang diperlukan Nikodemus (juga kita semua) bukanlah lebih banyak pengajaran, melainkan dilahirkan kembali.
Kelahiran kembali merupakan jawaban atas keperluan kita yang paling utama. Melalui kelahiran kembali, kita mendapatkan hayat yang baru, hayat yang sempurna dan kekal, yakni hayat Allah sendiri. Ini jauh lebih penting dan lebih hakiki daripada sekedar mendapatkan pengajaran. Walau memiliki banyak pengetahuan dan budi pekerti, tanpa memiliki hayat Allah yang kekal ini, tidak mungkin seseorang dapat melihat Kerajaan Allah.
Yohanes 3:3
Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Yoh. 3:2-3
Ketika Nikodemus pada suatu malam datang kepada Tuhan Yesus, sebenarnya apakah yang dia harapkan? Dari perkataannya kepada Tuhan, dapat kita ketahui bahwa Nikodemus berharap Tuhan Yesus akan memberikan suatu pengajaran. Dalam Yohanes 3:2, Nikodemus memanggil Tuhan sebagai “Rabi”, juga menyebut-Nya sebagai “guru yang diutus Allah”. Mungkin dia berpendapat dirinya memerlukan suatu pengajaran yang lebih baik dari Tuhan Yesus agar bisa memperbaiki diri.
Konsepsi Nikodemus juga mewakili konsepsi kebanyakan orang hari ini. Hari ini banyak orang berpikir tentang bagaimana caranya memperbaiki diri. Berbagai metode ditawarkan bagi mereka yang ingin memperbaiki diri. Ada yang mengajarkan metode positive thinking (berpikir secara positif), ada yang mengajarkan yoga dan meditasi, ada pula yang menawarkan kursus kepribadian dan sebagainya. Mereka berpikir kalau seseorang dapat berperilaku dengan baik, itu sudah cukup. Namun benarkah demikian? Tidak!
Pandangan kebanyakan orang biasanya dititikberatkan pada perubahan kelakuan. Namun, kita perlu nampak bahwa persoalan pokok pada manusia bukan terletak pada perbuatan yang lahiriah atau tingkah lakunya, melainkan pada hayat. Hayat manusia adalah hayat yang fana, hayat yang telah tercemar oleh dosa, hayat yang tidak sempurna. Pengajaran yang sehebat apa pun tidak dapat mengubah atau memperbaiki hayat seseorang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yoh. 3:3). Yang diperlukan Nikodemus (juga kita semua) bukanlah lebih banyak pengajaran, melainkan dilahirkan kembali.
Kelahiran kembali merupakan jawaban atas keperluan kita yang paling utama. Melalui kelahiran kembali, kita mendapatkan hayat yang baru, hayat yang sempurna dan kekal, yakni hayat Allah sendiri. Ini jauh lebih penting dan lebih hakiki daripada sekedar mendapatkan pengajaran. Walau memiliki banyak pengetahuan dan budi pekerti, tanpa memiliki hayat Allah yang kekal ini, tidak mungkin seseorang dapat melihat Kerajaan Allah.
09 May 2009
Yohanes Volume 2 - Minggu 1 Minggu
Nikodemus
Yohanes 3:1-2a
Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus...
Ayat Bacaan: Yoh. 3:1-3
Di antara umat manusia atau dalam sebuah masyarakat, mereka yang diakui sebagai kelompok masyarakat kelas satu biasanya adalah mereka yang mempunyai moralitas yang tinggi dan memiliki kedudukan yang baik. Dalam Injil Yohanes pasal tiga, terdapat seorang yang bernama Nikodemus. Alkitab mengatakan bahwa dia adalah seorang Farisi, seorang pemimpin agama Yahudi. Tidak diragukan lagi, Nikodemus termasuk dalam kategori kelompok masyarakat kelas satu itu.
Nikodemus memiliki beberapa keistimewaan. Pertama, Nikodemus adalah seorang guru, seorang yang tentunya berpendidikan tinggi. Kedua, dia adalah seorang pemimpin agama Yahudi, seorang yang memiliki kedudukan yang tinggi, terhormat, dan berkuasa. Ketiga, dia pastilah seorang yang berpengetahuan luas dan memiliki banyak pengalaman. Keempat, dia adalah seorang yang bermoral tinggi. Kelima, dia betul-betul mencari Allah. Walaupun ada sedikit ketakutan terhadap orang Farisi, namun ia tetap menemui Tuhan Yesus di waktu malam. Terakhir, dia sangat rendah hati. Nikodemus sudah mencapai usia yang tinggi, mungkin lebih dari 50 tahun; sedangkan Tuhan Yesus baru berumur 30-an tahun. Keinginannya menjumpai Tuhan untuk memohon petunjuk-Nya merupakan bukti akan kerendahan hatinya.
Di jaman modern seperti sekarang ini, dapatkah Anda menemukan seorang yang lebih baik daripada Nikodemus? Tentu sulit sekali. Orang seperti Nikodemus ini, mewakili segolongan orang yang disebut golongan luhur, segolongan orang yang berbudi pekerti, berkedudukan, dan berilmu pengetahuan. Seandainya kita berdiri pada kedudukan Nikodemus, tentu kita akan merasa puas dan menikmati kesuksesan kita. Namun tidak demikian halnya dengan Nikodemus. Di dalam batinnya terdapat suatu keperluan yang membuatnya mau tidak mau datang kepada Tuhan. Kedatangan Nikodemus memberikan kesempatan bagi Tuhan Yesus untuk menyingkapkan kebutuhan manusia yang paling utama, yakni kelahiran kembali. Tidak peduli betapa baiknya atau betapa luhurnya seseorang, ia perlu dilahirkan kembali. Bahkan seorang yang luhur seperti Nikodemus sekalipun, perlu dilahirkan kembali.
Yohanes 3:1-2a
Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus...
Ayat Bacaan: Yoh. 3:1-3
Di antara umat manusia atau dalam sebuah masyarakat, mereka yang diakui sebagai kelompok masyarakat kelas satu biasanya adalah mereka yang mempunyai moralitas yang tinggi dan memiliki kedudukan yang baik. Dalam Injil Yohanes pasal tiga, terdapat seorang yang bernama Nikodemus. Alkitab mengatakan bahwa dia adalah seorang Farisi, seorang pemimpin agama Yahudi. Tidak diragukan lagi, Nikodemus termasuk dalam kategori kelompok masyarakat kelas satu itu.
Nikodemus memiliki beberapa keistimewaan. Pertama, Nikodemus adalah seorang guru, seorang yang tentunya berpendidikan tinggi. Kedua, dia adalah seorang pemimpin agama Yahudi, seorang yang memiliki kedudukan yang tinggi, terhormat, dan berkuasa. Ketiga, dia pastilah seorang yang berpengetahuan luas dan memiliki banyak pengalaman. Keempat, dia adalah seorang yang bermoral tinggi. Kelima, dia betul-betul mencari Allah. Walaupun ada sedikit ketakutan terhadap orang Farisi, namun ia tetap menemui Tuhan Yesus di waktu malam. Terakhir, dia sangat rendah hati. Nikodemus sudah mencapai usia yang tinggi, mungkin lebih dari 50 tahun; sedangkan Tuhan Yesus baru berumur 30-an tahun. Keinginannya menjumpai Tuhan untuk memohon petunjuk-Nya merupakan bukti akan kerendahan hatinya.
Di jaman modern seperti sekarang ini, dapatkah Anda menemukan seorang yang lebih baik daripada Nikodemus? Tentu sulit sekali. Orang seperti Nikodemus ini, mewakili segolongan orang yang disebut golongan luhur, segolongan orang yang berbudi pekerti, berkedudukan, dan berilmu pengetahuan. Seandainya kita berdiri pada kedudukan Nikodemus, tentu kita akan merasa puas dan menikmati kesuksesan kita. Namun tidak demikian halnya dengan Nikodemus. Di dalam batinnya terdapat suatu keperluan yang membuatnya mau tidak mau datang kepada Tuhan. Kedatangan Nikodemus memberikan kesempatan bagi Tuhan Yesus untuk menyingkapkan kebutuhan manusia yang paling utama, yakni kelahiran kembali. Tidak peduli betapa baiknya atau betapa luhurnya seseorang, ia perlu dilahirkan kembali. Bahkan seorang yang luhur seperti Nikodemus sekalipun, perlu dilahirkan kembali.
08 May 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Sabtu
Rumah Allah yang Diperluas Dalam Kebangkitan
Yohanes 2:19, 21
Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.
Ayat Bacaan: Mat. 16:18; 28:19; Yoh. 1:12; 15:16; 1 Kor. 3:9; 12:27; Ef. 2:21-22; 1 Tim. 3:15
Gereja adalah rumah Allah yang diperluas dalam kebangkitan. Ketika kita pertama kali percaya Tuhan, kita menerima hayat Allah ke dalam roh kita. Di satu pihak, kita menjadi putra-putra Allah (Yoh. 1:12). Di pihak lain, kita menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus (1 Kor. 12:27). Semua hal ini dirampungkan oleh Tuhan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Sejak hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus terus memperluas tubuh-Nya di dalam hayat kebangkitan (1 Tim. 3:15, 1 Ptr. 2:5, 1 Kor. 3:9, Ef. 2:21-22). Proses perluasan Tubuh Kristus di dalam hayat kebangkitan terus berlanjut sampai sekarang.
Sebagai putra-putra Allah secara individual, kita perlu bertumbuh dalam hayat dan menghasilkan buah dalam penghidupan sehari-hari kita (1 Ptr. 2:2). Setiap hari kita perlu menikmati hayat, mengalami hayat, bertumbuh di dalam hayat, dipenuhi dengan hayat, dan disusun dengan hayat. Kemudian kita juga perlu memberitakan Injil. Memberitakan Injil adalah hal pertama yang harus kita lakukan untuk membangun Tubuh Kristus. Oleh karena itu, sebelum Tuhan disalibkan, Dia memerintahkan murid-murid-Nya untuk menghasilkan buah (Yoh. 15:16), dan setelah kebangkitan-Nya, Dia mengamanatkan murid-murid-Nya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat. 28:19). Ketika kita menikmati hayat, mengalami hayat, dan bertumbuh dalam hayat, masih ada hasil berupa injil. Pemberitaan injil akan menghasilkan lebih banyak anggota yang menyusun dan membangun Tubuh Kristus.
Sebagai anggota-anggota dari Tubuh Kristus, kita juga perlu disusun oleh Kristus sebagai hayat kita dan dibangunkan dalam keesaan sehingga secara korporat kita dapat menjadi kepenuhan Allah. Tanpa keesaan, tidak ada jalan untuk membangun Tubuh Kristus. Oleh karena itu, kita semua haruslah rajin memelihara keesaan Roh itu. Keesaan Roh itu bukanlah sesuatu yang harus kita doakan, melainkan, kita harus melatih roh kita untuk memeliharanya. Kita harus kembali kepada roh kita dan membuang hal-hal negatif dalam gereja sehingga kita dapat memelihara keesaan Roh itu. Inilah cara untuk membangun gereja. Pembicaraan yang negatif meruntuhkan, tetapi Roh itu membangun. Siapa saja yang tidak hidup di dalam roh, ia tidak berada dalam keesaan.
Yohanes 2:19, 21
Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.
Ayat Bacaan: Mat. 16:18; 28:19; Yoh. 1:12; 15:16; 1 Kor. 3:9; 12:27; Ef. 2:21-22; 1 Tim. 3:15
Gereja adalah rumah Allah yang diperluas dalam kebangkitan. Ketika kita pertama kali percaya Tuhan, kita menerima hayat Allah ke dalam roh kita. Di satu pihak, kita menjadi putra-putra Allah (Yoh. 1:12). Di pihak lain, kita menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus (1 Kor. 12:27). Semua hal ini dirampungkan oleh Tuhan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Sejak hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus terus memperluas tubuh-Nya di dalam hayat kebangkitan (1 Tim. 3:15, 1 Ptr. 2:5, 1 Kor. 3:9, Ef. 2:21-22). Proses perluasan Tubuh Kristus di dalam hayat kebangkitan terus berlanjut sampai sekarang.
Sebagai putra-putra Allah secara individual, kita perlu bertumbuh dalam hayat dan menghasilkan buah dalam penghidupan sehari-hari kita (1 Ptr. 2:2). Setiap hari kita perlu menikmati hayat, mengalami hayat, bertumbuh di dalam hayat, dipenuhi dengan hayat, dan disusun dengan hayat. Kemudian kita juga perlu memberitakan Injil. Memberitakan Injil adalah hal pertama yang harus kita lakukan untuk membangun Tubuh Kristus. Oleh karena itu, sebelum Tuhan disalibkan, Dia memerintahkan murid-murid-Nya untuk menghasilkan buah (Yoh. 15:16), dan setelah kebangkitan-Nya, Dia mengamanatkan murid-murid-Nya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat. 28:19). Ketika kita menikmati hayat, mengalami hayat, dan bertumbuh dalam hayat, masih ada hasil berupa injil. Pemberitaan injil akan menghasilkan lebih banyak anggota yang menyusun dan membangun Tubuh Kristus.
Sebagai anggota-anggota dari Tubuh Kristus, kita juga perlu disusun oleh Kristus sebagai hayat kita dan dibangunkan dalam keesaan sehingga secara korporat kita dapat menjadi kepenuhan Allah. Tanpa keesaan, tidak ada jalan untuk membangun Tubuh Kristus. Oleh karena itu, kita semua haruslah rajin memelihara keesaan Roh itu. Keesaan Roh itu bukanlah sesuatu yang harus kita doakan, melainkan, kita harus melatih roh kita untuk memeliharanya. Kita harus kembali kepada roh kita dan membuang hal-hal negatif dalam gereja sehingga kita dapat memelihara keesaan Roh itu. Inilah cara untuk membangun gereja. Pembicaraan yang negatif meruntuhkan, tetapi Roh itu membangun. Siapa saja yang tidak hidup di dalam roh, ia tidak berada dalam keesaan.
07 May 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Jumat
Kebangkitan: Sebuah Tanda yang Ajaib
Yohanes 2:19, 21
Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:12-19, 23-24; 4:48; 12:24; Mat. 8:4; 16:1-4; Mrk. 5:43; 7:36
Segera setelah Tuhan membersihkan bait Allah (Yoh. 2:12-17), datanglah orang-orang Yahudi menentang Dia dan berkata, “Tanda apakah yang dapat Engkau tunjukkan kepada kami bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” (Yoh. 2:18). Orang-orang Yahudi tersebut memohon kepada Tuhan untuk memperlihatkan tanda ajaib kepada mereka. Hati mereka dipenuhi dengan perkara mujizat atau tanda yang ajaib. Keadaan orang-orang Yahudi ini adalah gambaran situasi banyak orang Kristen saat ini, yang sangat mementingkan dan mengharapkan mujizat dan tanda ajaib.
Namun jika kita membaca Alkitab dengan teliti, kita akan menemukan bahwa Tuhan tidak terlalu mementingkan mujizat-mujizat. Ketika ada orang datang mencobai-Nya, meminta agar Dia mengadakan tanda ajaib, Tuhan sama sekali tidak menuruti permintaan mereka (Mat. 16:1-4). Tuhan tidak mau orang percaya kepada-Nya karena terlebih dulu melihat tanda ajaib (Yoh. 4:48). Sekalipun banyak orang yang telah percaya kepada-Nya karena perbuatan mujizat dan tanda ajaib, tetapi Tuhan tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka (Yoh. 2:23-24). Tuhan lebih mengandalkan hayat daripada mujizat.
Kita percaya bahwa mujizat itu ada. Masalahnya, Tuhan sendiri tidak mementingkannya. Satu-satunya tanda ajaib yang menjadi perhatian Tuhan adalah perihal kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya ketika orang-orang Yahudi memohon suatu tanda ajaib kepada-Nya, Tuhan berkata kepada mereka, “Runtuhkanlah Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19). Kebangkitan adalah satu-satunya tanda ajaib yang menjadi perhatian Tuhan karena kebangkitan berhubungan dengan pembangunan gereja. Melalui kebangkitan, Kristus menjadi Roh Pemberi Hayat (1 Kor. 15:45b) untuk menghasilkan gereja (Yoh. 12:24). Hal ini dirampungkan pada hari Pentakosta.
Janganlah kita tergoda untuk mencoba melakukan mujizat. Kita wajib mengikuti Tuhan Yesus dan membiarkan diri kita dimatikan sehingga Kristus dapat termanifestasi dalam kebangkitan. Inilah mujizat, tanda ajaib, yang benar-benar dibutuhkan dalam pembangunan gereja. Tanda ajaib yang unik untuk pembangunan gereja ialah hayat dalam kebangkitan.
Yohanes 2:19, 21
Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:12-19, 23-24; 4:48; 12:24; Mat. 8:4; 16:1-4; Mrk. 5:43; 7:36
Segera setelah Tuhan membersihkan bait Allah (Yoh. 2:12-17), datanglah orang-orang Yahudi menentang Dia dan berkata, “Tanda apakah yang dapat Engkau tunjukkan kepada kami bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” (Yoh. 2:18). Orang-orang Yahudi tersebut memohon kepada Tuhan untuk memperlihatkan tanda ajaib kepada mereka. Hati mereka dipenuhi dengan perkara mujizat atau tanda yang ajaib. Keadaan orang-orang Yahudi ini adalah gambaran situasi banyak orang Kristen saat ini, yang sangat mementingkan dan mengharapkan mujizat dan tanda ajaib.
Namun jika kita membaca Alkitab dengan teliti, kita akan menemukan bahwa Tuhan tidak terlalu mementingkan mujizat-mujizat. Ketika ada orang datang mencobai-Nya, meminta agar Dia mengadakan tanda ajaib, Tuhan sama sekali tidak menuruti permintaan mereka (Mat. 16:1-4). Tuhan tidak mau orang percaya kepada-Nya karena terlebih dulu melihat tanda ajaib (Yoh. 4:48). Sekalipun banyak orang yang telah percaya kepada-Nya karena perbuatan mujizat dan tanda ajaib, tetapi Tuhan tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka (Yoh. 2:23-24). Tuhan lebih mengandalkan hayat daripada mujizat.
Kita percaya bahwa mujizat itu ada. Masalahnya, Tuhan sendiri tidak mementingkannya. Satu-satunya tanda ajaib yang menjadi perhatian Tuhan adalah perihal kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya ketika orang-orang Yahudi memohon suatu tanda ajaib kepada-Nya, Tuhan berkata kepada mereka, “Runtuhkanlah Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19). Kebangkitan adalah satu-satunya tanda ajaib yang menjadi perhatian Tuhan karena kebangkitan berhubungan dengan pembangunan gereja. Melalui kebangkitan, Kristus menjadi Roh Pemberi Hayat (1 Kor. 15:45b) untuk menghasilkan gereja (Yoh. 12:24). Hal ini dirampungkan pada hari Pentakosta.
Janganlah kita tergoda untuk mencoba melakukan mujizat. Kita wajib mengikuti Tuhan Yesus dan membiarkan diri kita dimatikan sehingga Kristus dapat termanifestasi dalam kebangkitan. Inilah mujizat, tanda ajaib, yang benar-benar dibutuhkan dalam pembangunan gereja. Tanda ajaib yang unik untuk pembangunan gereja ialah hayat dalam kebangkitan.
06 May 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Kamis
Dibangkitkan Menjadi Bait Allah yang Hidup
Yohanes 2:19, 21
Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:19-21; Flp. 3:21; Ef. 2:6; 1 Ptr. 1:3; Ibr. 2:10; Rm. 8:29
Setelah Satan menghancurkan tubuh jasmani Tuhan di atas kayu salib, jasad-Nya dimasukkan ke dalam liang kubur, serta beristirahat di sana. Pada saat itu Tuhan Yesus masuk ke dalam alam maut, untuk kemudian keluar dalam kebangkitan. Ketika Dia bangkit, Ia sendiri membangkitkan jasad-Nya yang telah mati dan terkubur. Tubuh yang di dalam kebangkitan ini bukan lagi tubuh yang kecil dan lemah, tetapi tubuh yang mulia dan penuh dengan kuat kuasa (Flp. 3:21).
Di dalam kebangkitan-Nya, Tuhan tidak hanya membangkitkan tubuh jasmaniah-Nya sendiri, melainkan juga setiap orang yang oleh iman bersatu dengan Dia (Ef. 2:6). Dalam kebangkitan-Nya, semua umat pilihan Allah dilahirkan kembali untuk menjadi banyak putra Allah dan banyak saudara dari Putra sulung Allah (1 Ptr. 1:3; Ibr. 2:10; Rm. 8:29). Inilah gereja yang adalah Tubuh Kristus. Titik awal peperangan rohani adalah berdiri di atas kemenangan Kristus, melihat bahwa Kristus telah menang. Titik awal ini bukanlah menanggulangi Iblis, melainkan percaya kepada Tuhan. Bukan mengharapkan agar kita menang, sebab kita sudah menang. Iblis tidak dapat melakukan apa-apa. Tak seorang juga dapat menghancurkan rencana Allah. Semakin musuh berupaya, semakin pula tersedia kesempatan bagi Tuhan untuk berbuat lebih banyak. Apapun yang Tuhan kerjakan, selalu di dalam kebangkitan dan melalui hayat kebangkitan. Hanya dengan demikian kuasa Iblis dipatahkan.
Tuhan membangun bait suci “dalam tiga hari”, artinya Dia membangunnya di dalam kebangkitan. Bangsa Yahudi mohon kepada Tuhan Yesus agar mau menunjukkan tanda ajaib terhadap mereka. Tuhan menjawab, “Runtuhkanlah Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikan kembali” (Yoh. 2:19). Kebangkitan Tuhan itulah tanda ajaib yang unik. Tanda ajaib yang unik untuk pembangunan gereja ialah hayat dalam kebangkitan. Sejak hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus terus memperluas tubuh-Nya di dalam hayat kebangkitan. Alangkah besar Tubuh Kristus hari ini di dalam kebangkitan-Nya! Rumah Allah yang rohani tetap bertumbuh terus bersama Tubuh Kristus di dalam kebangkitan (1 Tim. 3:15, 1 Ptr. 2:5, 1 Kor. 3:9, Ef. 2:21-22). Haleluya!
Yohanes 2:19, 21
Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:19-21; Flp. 3:21; Ef. 2:6; 1 Ptr. 1:3; Ibr. 2:10; Rm. 8:29
Setelah Satan menghancurkan tubuh jasmani Tuhan di atas kayu salib, jasad-Nya dimasukkan ke dalam liang kubur, serta beristirahat di sana. Pada saat itu Tuhan Yesus masuk ke dalam alam maut, untuk kemudian keluar dalam kebangkitan. Ketika Dia bangkit, Ia sendiri membangkitkan jasad-Nya yang telah mati dan terkubur. Tubuh yang di dalam kebangkitan ini bukan lagi tubuh yang kecil dan lemah, tetapi tubuh yang mulia dan penuh dengan kuat kuasa (Flp. 3:21).
Di dalam kebangkitan-Nya, Tuhan tidak hanya membangkitkan tubuh jasmaniah-Nya sendiri, melainkan juga setiap orang yang oleh iman bersatu dengan Dia (Ef. 2:6). Dalam kebangkitan-Nya, semua umat pilihan Allah dilahirkan kembali untuk menjadi banyak putra Allah dan banyak saudara dari Putra sulung Allah (1 Ptr. 1:3; Ibr. 2:10; Rm. 8:29). Inilah gereja yang adalah Tubuh Kristus. Titik awal peperangan rohani adalah berdiri di atas kemenangan Kristus, melihat bahwa Kristus telah menang. Titik awal ini bukanlah menanggulangi Iblis, melainkan percaya kepada Tuhan. Bukan mengharapkan agar kita menang, sebab kita sudah menang. Iblis tidak dapat melakukan apa-apa. Tak seorang juga dapat menghancurkan rencana Allah. Semakin musuh berupaya, semakin pula tersedia kesempatan bagi Tuhan untuk berbuat lebih banyak. Apapun yang Tuhan kerjakan, selalu di dalam kebangkitan dan melalui hayat kebangkitan. Hanya dengan demikian kuasa Iblis dipatahkan.
Tuhan membangun bait suci “dalam tiga hari”, artinya Dia membangunnya di dalam kebangkitan. Bangsa Yahudi mohon kepada Tuhan Yesus agar mau menunjukkan tanda ajaib terhadap mereka. Tuhan menjawab, “Runtuhkanlah Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikan kembali” (Yoh. 2:19). Kebangkitan Tuhan itulah tanda ajaib yang unik. Tanda ajaib yang unik untuk pembangunan gereja ialah hayat dalam kebangkitan. Sejak hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus terus memperluas tubuh-Nya di dalam hayat kebangkitan. Alangkah besar Tubuh Kristus hari ini di dalam kebangkitan-Nya! Rumah Allah yang rohani tetap bertumbuh terus bersama Tubuh Kristus di dalam kebangkitan (1 Tim. 3:15, 1 Ptr. 2:5, 1 Kor. 3:9, Ef. 2:21-22). Haleluya!
05 May 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Rabu
Dihancurkan dan Dibangun Dalam Kebangkitan
Yohanes 2:19, 21
Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.
Ayat Bacaan:Yoh. 2:19, 21; Mat. 20:19; 16:18
Tujuan Satan bukan semata-mata mencemari bait, tetapi juga menghancurkannya. Tujuannya yang terakhir ialah menghancurkan rumah Allah. Namun apa yang dihancurkan musuh, Tuhan akan membangunnya kembali dalam tiga hari (Yoh. 2:19). Ini berarti dalam hayat kebangkitan-Nya, Tuhan membangun kembali apa yang telah dirusak oleh musuh. Firman Tuhan menegaskan, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19). Dengan kata lain, musuh boleh saja merusak gereja, yaitu rumah Allah, namun Tuhan akan membangunnya kembali di dalam kebangkitan dan oleh hayat kebangkitan.
Janganlah kecewa terhadap keadaan kekristenan hari ini. Memang kelihatannya keadaan gereja hari ini cukup kasihan. Namun, apakah Anda percaya bahwa Satan akan mampu mengalahkan Tuhan Yesus? Mustahil bukan? Apakah Anda percaya bahwa Satan lebih kuat daripada Tuhan Yesus? Jawabannya pasti tidak! Berdasarkan fakta inilah maka hati kita seharusnya tinggal dalam damai dan sentosa. Entah sudah berapa banyak kesulitan yang menimpa ke atas gereja, namun kita mempunyai keyakinan penuh bahwa Satan takkan dapat mengalahkan Tuhan Yesus. Sebaliknya, Tuhanlah yang selalu mematahkan setiap rencana dan pekerjaan jahat Satan.
Tuhan mendirikan gereja-Nya di dalam kebangkitan. Setiap kali setelah kesulitan menggerogoti gereja, gereja akan dipulihkan ke dalam keadaan baru dengan hayat kebangkitan. Tuhan Yesus memberitahu lawannya, bahwa apabila mereka merobohkan Bait Suci ini, Dia akan membangunnya kembali dalam tiga hari (Yoh. 2:19). Tuhan Yesus memberitahu mereka bahwa setelah mereka membunuh Dia, Dia akan bangkit lagi (Mat. 20:19). Di dalam kebangkitan, Dia adalah hayat yang menang, menang atas Satan dan kuasanya.
Saudara saudari kekasih, sudahkah Anda mengalami hayat kebangkitan yang mengalahkan pengrusakan Satan? Ingatlah bahwa gereja dibangun dengan hayat kebangkitan, dan Tuhan berkata alam maut tidak akan menguasainya (Mat. 16:18). Asal kita berada di dalam hayat kebangkitan ini, bersatu dengan hayat kebangkitan ini, maut tidak akan pernah dapat berkuasa atas kita.
Yohanes 2:19, 21
Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.
Ayat Bacaan:Yoh. 2:19, 21; Mat. 20:19; 16:18
Tujuan Satan bukan semata-mata mencemari bait, tetapi juga menghancurkannya. Tujuannya yang terakhir ialah menghancurkan rumah Allah. Namun apa yang dihancurkan musuh, Tuhan akan membangunnya kembali dalam tiga hari (Yoh. 2:19). Ini berarti dalam hayat kebangkitan-Nya, Tuhan membangun kembali apa yang telah dirusak oleh musuh. Firman Tuhan menegaskan, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19). Dengan kata lain, musuh boleh saja merusak gereja, yaitu rumah Allah, namun Tuhan akan membangunnya kembali di dalam kebangkitan dan oleh hayat kebangkitan.
Janganlah kecewa terhadap keadaan kekristenan hari ini. Memang kelihatannya keadaan gereja hari ini cukup kasihan. Namun, apakah Anda percaya bahwa Satan akan mampu mengalahkan Tuhan Yesus? Mustahil bukan? Apakah Anda percaya bahwa Satan lebih kuat daripada Tuhan Yesus? Jawabannya pasti tidak! Berdasarkan fakta inilah maka hati kita seharusnya tinggal dalam damai dan sentosa. Entah sudah berapa banyak kesulitan yang menimpa ke atas gereja, namun kita mempunyai keyakinan penuh bahwa Satan takkan dapat mengalahkan Tuhan Yesus. Sebaliknya, Tuhanlah yang selalu mematahkan setiap rencana dan pekerjaan jahat Satan.
Tuhan mendirikan gereja-Nya di dalam kebangkitan. Setiap kali setelah kesulitan menggerogoti gereja, gereja akan dipulihkan ke dalam keadaan baru dengan hayat kebangkitan. Tuhan Yesus memberitahu lawannya, bahwa apabila mereka merobohkan Bait Suci ini, Dia akan membangunnya kembali dalam tiga hari (Yoh. 2:19). Tuhan Yesus memberitahu mereka bahwa setelah mereka membunuh Dia, Dia akan bangkit lagi (Mat. 20:19). Di dalam kebangkitan, Dia adalah hayat yang menang, menang atas Satan dan kuasanya.
Saudara saudari kekasih, sudahkah Anda mengalami hayat kebangkitan yang mengalahkan pengrusakan Satan? Ingatlah bahwa gereja dibangun dengan hayat kebangkitan, dan Tuhan berkata alam maut tidak akan menguasainya (Mat. 16:18). Asal kita berada di dalam hayat kebangkitan ini, bersatu dengan hayat kebangkitan ini, maut tidak akan pernah dapat berkuasa atas kita.
04 May 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Selasa
Bergairah Bagi Rumah Allah
Yohanes 2:16-17
Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”
Ayat Bacaan: Yoh. 2:16-17; Mzm. 84:2-3, 11; 36:9-10; 23:6
Hati Tuhan penuh dengan kegairahan terhadap rumah Allah. Dia mutlak bagi rumah Bapa. Rumah Bapa itulah kerinduan hati-Nya. Ketika Dia melihat keadaan yang tidak patut di pelataran Bait Suci, Dia tidak dapat tahan lagi. Kegairahan akan rumah Bapa-Nya itulah yang mendorong Dia untuk menyingkirkan semua kecemaran. Satan berupaya sekuatnya untuk merusak dan mengotori kehidupan gereja, yang adalah rumah Allah hari ini, dengan banyak sekali hal yang berdosa dan duniawi. Namun puji syukur pada Tuhan, pencemaran Satan ini mendatangkan pembersihan Tuhan.
Bagaimanakah sikap kita terhadap rumah Allah hari ini? Adakah kita mengasihi gereja sebagaimana Kristus mengasihinya? Pemazmur berkata, “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN.... Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; ...” (Mzm. 84:2-3, 11). Di sini kita nampak betapa kuatnya kedambaan pemazmur terhadap rumah Allah, sampai-sampai ingin diam di pelataran bait Tuhan. Ia rela sekalipun berdiri di ambang pintu bait, menjadi penjaga pintu bait Tuhan.
Dalam Mazmur 36:9, pemazmur berkata bahwa umat Allah “mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu.” Tidak hanya itu, di dalam bait Allah itu mereka juga akan minum dari sungai kesenangan Tuhan. Dan di dalam bait Allah mereka baru beroleh sumber hayat, dan dalam terang-Nya ia melihat terang (ayat 10). Mazmur pasal 23 ditutup dengan perkataan, “dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (ayat 6).
Pada zaman Perjanjian Lama, orang-orang yang takwa, semuanya rindu diam dalam bait Allah, yaitu tempat kediaman Allah. Kedambaan demikian akan menangkal berbagai kefasikan. Hanya karena kedambaan berada di hadirat Tuhan, di dalam rumah Allah, maka segala perpecahan dan perkara-perkara negatif yang tercakup di dalamnya dapat dicegah. Kedambaan ini akan membuat kita menjadi takwa, kudus, dan pada akhirnya menjadi esa dengan anak-anak Allah. Kiranya kita semua menjadi orang yang memperhatikan dan mendambakan gereja sebagai tempat kediaman Allah hari ini.
Yohanes 2:16-17
Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”
Ayat Bacaan: Yoh. 2:16-17; Mzm. 84:2-3, 11; 36:9-10; 23:6
Hati Tuhan penuh dengan kegairahan terhadap rumah Allah. Dia mutlak bagi rumah Bapa. Rumah Bapa itulah kerinduan hati-Nya. Ketika Dia melihat keadaan yang tidak patut di pelataran Bait Suci, Dia tidak dapat tahan lagi. Kegairahan akan rumah Bapa-Nya itulah yang mendorong Dia untuk menyingkirkan semua kecemaran. Satan berupaya sekuatnya untuk merusak dan mengotori kehidupan gereja, yang adalah rumah Allah hari ini, dengan banyak sekali hal yang berdosa dan duniawi. Namun puji syukur pada Tuhan, pencemaran Satan ini mendatangkan pembersihan Tuhan.
Bagaimanakah sikap kita terhadap rumah Allah hari ini? Adakah kita mengasihi gereja sebagaimana Kristus mengasihinya? Pemazmur berkata, “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN.... Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; ...” (Mzm. 84:2-3, 11). Di sini kita nampak betapa kuatnya kedambaan pemazmur terhadap rumah Allah, sampai-sampai ingin diam di pelataran bait Tuhan. Ia rela sekalipun berdiri di ambang pintu bait, menjadi penjaga pintu bait Tuhan.
Dalam Mazmur 36:9, pemazmur berkata bahwa umat Allah “mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu.” Tidak hanya itu, di dalam bait Allah itu mereka juga akan minum dari sungai kesenangan Tuhan. Dan di dalam bait Allah mereka baru beroleh sumber hayat, dan dalam terang-Nya ia melihat terang (ayat 10). Mazmur pasal 23 ditutup dengan perkataan, “dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (ayat 6).
Pada zaman Perjanjian Lama, orang-orang yang takwa, semuanya rindu diam dalam bait Allah, yaitu tempat kediaman Allah. Kedambaan demikian akan menangkal berbagai kefasikan. Hanya karena kedambaan berada di hadirat Tuhan, di dalam rumah Allah, maka segala perpecahan dan perkara-perkara negatif yang tercakup di dalamnya dapat dicegah. Kedambaan ini akan membuat kita menjadi takwa, kudus, dan pada akhirnya menjadi esa dengan anak-anak Allah. Kiranya kita semua menjadi orang yang memperhatikan dan mendambakan gereja sebagai tempat kediaman Allah hari ini.
03 May 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Senin
Dibersihkan dari Segala Hal yang Mencemarkan
Yohanes 2:15
Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:15; 1 Kor. 3:16
Tuhan membersihkan bait Allah dengan membuat cambuk dari tali. Mengusir lembu, kambing domba dan penukar uang, berarti mengusir semua pekerjaan duniawi. Sebagai bait Allah, kita seharusnya dipenuhi oleh Allah. Namun kenyataannya, seringkali kita malahan dipenuhi dengan barang dagangan, uang, serta meja penukar uang. Karena itulah Tuhan mau tak mau membuat cambuk tali guna mengusir hal-hal itu keluar dari kita. Kita ini adalah Bait Allah (1 Kor. 3:16). Ketika kita datang ke dalam perjamuan Tuhan untuk memperingati Dia, mungkin sekali kita ini dipenuhi oleh hal-hal duniawi. Pada saat demikian kita pun memerlukan pembersihan, supaya kita ini menjadi bait Allah yang wajar dan tepat.
Seringkali Tuhan memakai “cambuk dari tali”, yakni benda-benda yang lazim dan biasa, untuk membersihkan kita. Adakalanya melalui seorang yang biasa saja Ia membersihkan Anda, umpamanya istri Anda atau suami Anda, orang tua Anda atau anak-anak Anda, majikan Anda atau pegawai Anda. Kita semua telah mengalami cambuk tali yang dibuat Tuhan dari orang-orang atau benda-benda yang biasa saja bagi pembersihan diri kita. Kadangkala pula Tuhan bahkan datang untuk campur tangan dalam hidup kita dengan menjungkirbalikkan benda-benda atau perkara-perkara. Dia datang mengusir lembu, kambing domba dan merpati, serta membalikkan meja-meja agar memporakporandakan seluruh situasi. Misalnya, tahun kemarin Anda baru beroleh keuntungan banyak di dalam usaha Anda, namun tahun ini Anda rugi sampai habis, inilah cambuk yang Tuhan pakai untuk membersihkan Anda. Pada setiap orang Kristen yang mengasihi Tuhan, selalu terdapat seseorang atau sesuatu yang Allah pakai untuk membersihkan dia.
Di dalam kehidupan gereja, sering kali Tuhan bahkan menggunakan saudara dan saudari sebagai cambuk tali untuk membersihkan “barang-barang dagangan dan penukar-penukar uang” yang bersarang di dalam kita. Cambuk yang kita alami itu sengaja dibuat oleh Tuhan. Mungkin kita terperanjat tatkala Tuhan mencambuk kita. Jangan salah paham dengan Tuhan. Dia mencambuk kita untuk membersihkan kita, agar kita layak menjadi tempat kediaman-Nya.
Yohanes 2:15
Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:15; 1 Kor. 3:16
Tuhan membersihkan bait Allah dengan membuat cambuk dari tali. Mengusir lembu, kambing domba dan penukar uang, berarti mengusir semua pekerjaan duniawi. Sebagai bait Allah, kita seharusnya dipenuhi oleh Allah. Namun kenyataannya, seringkali kita malahan dipenuhi dengan barang dagangan, uang, serta meja penukar uang. Karena itulah Tuhan mau tak mau membuat cambuk tali guna mengusir hal-hal itu keluar dari kita. Kita ini adalah Bait Allah (1 Kor. 3:16). Ketika kita datang ke dalam perjamuan Tuhan untuk memperingati Dia, mungkin sekali kita ini dipenuhi oleh hal-hal duniawi. Pada saat demikian kita pun memerlukan pembersihan, supaya kita ini menjadi bait Allah yang wajar dan tepat.
Seringkali Tuhan memakai “cambuk dari tali”, yakni benda-benda yang lazim dan biasa, untuk membersihkan kita. Adakalanya melalui seorang yang biasa saja Ia membersihkan Anda, umpamanya istri Anda atau suami Anda, orang tua Anda atau anak-anak Anda, majikan Anda atau pegawai Anda. Kita semua telah mengalami cambuk tali yang dibuat Tuhan dari orang-orang atau benda-benda yang biasa saja bagi pembersihan diri kita. Kadangkala pula Tuhan bahkan datang untuk campur tangan dalam hidup kita dengan menjungkirbalikkan benda-benda atau perkara-perkara. Dia datang mengusir lembu, kambing domba dan merpati, serta membalikkan meja-meja agar memporakporandakan seluruh situasi. Misalnya, tahun kemarin Anda baru beroleh keuntungan banyak di dalam usaha Anda, namun tahun ini Anda rugi sampai habis, inilah cambuk yang Tuhan pakai untuk membersihkan Anda. Pada setiap orang Kristen yang mengasihi Tuhan, selalu terdapat seseorang atau sesuatu yang Allah pakai untuk membersihkan dia.
Di dalam kehidupan gereja, sering kali Tuhan bahkan menggunakan saudara dan saudari sebagai cambuk tali untuk membersihkan “barang-barang dagangan dan penukar-penukar uang” yang bersarang di dalam kita. Cambuk yang kita alami itu sengaja dibuat oleh Tuhan. Mungkin kita terperanjat tatkala Tuhan mencambuk kita. Jangan salah paham dengan Tuhan. Dia mencambuk kita untuk membersihkan kita, agar kita layak menjadi tempat kediaman-Nya.
02 May 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 4 Minggu
Yesus Menyucikan Bait Allah
Yohanes 2:13-14
Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:13; Kel. 12:2; Ul, 16:1-3; 1 Kor. 11:24-25; 3:16
Yohanes 2:12-22 membentangkan dua aspek penanggulangan Tuhan terhadap Bait Allah, yakni aspek penyucian dan aspek pembangunan. Iblis, musuh Allah, selalu berusaha merusak atau meruntuhkan Bait Allah. Iblis bermaksud mencemarinya dengan banyak hal kedosaan dan keduniawian. Inilah sebabnya rumah Allah perlu dibersihkan. Yesus membersihkan bait Allah pada saat ketika “hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat” (Yoh. 2:13). Hari raya Paskah merupakan sebuah perayaan untuk memperingati penyelamatan Allah atas umat Israel (Kel. 12:2-11, Ul. 16:1-3).
Dalam perayaan Paskah, orang-orang Yahudi datang menyembah Allah di dalam Bait Suci mereka. Namun, ketika Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem, Bait Suci penuh dengan lembu, kambing domba, merpati dan penukar-penukar uang. Pemandangan di sana lebih mirip sebuah pasar daripada suatu tempat penyembahan. Itulah sebabnya Bait itu perlu dibersihkan.
Pemandangan yang ada di Bait Suci itu membuat Tuhan tidak dapat berkompromi. Sejak usia 12 tahun, Dia sudah menegaskan bahwa Dia sangat peduli dengan rumah Allah. Lukas 2:49 mengatakan, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Rumah Allah seharusnya menjadi rumah doa, tempat di mana orang dapat datang kepada Allah, berkontak dengan Allah. Namun pedagang-pedagang telah memanfaatkan situasi saat itu dengan menjadikan ibadah sebagai sumber mencari keuntungan.
Apa yang dilakukan oleh pedagang-pedagang itu kelihatannya adalah untuk mempermudah orang yang ingin mempersembahkan kurban. Orang-orang tidak perlu mempersiapkan atau membawa ternak kurban dari rumah, tetapi cukup membawa sejumlah uang dan membeli ternak kurban di halaman Bait Suci, lalu dipersembahkan sebagai kurban. Bukankah cara ini lebih praktis? Ya. Namun kita harus sangat jelas bahwa dalam perkara rohani, tidak ada jalan pintas, tidak boleh mengambil cara yang gampangan. Mereka yang bersungguh-sungguh ingin mempersembahkan kurban, seharusnya sudah baik-baik mempersiapkannya dari rumah, bukan dadakan atau sambil lalu. Prinsip ini juga berlaku bagi kita yang ingin melayani Dia di dalam rumah-Nya.
Yohanes 2:13-14
Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:13; Kel. 12:2; Ul, 16:1-3; 1 Kor. 11:24-25; 3:16
Yohanes 2:12-22 membentangkan dua aspek penanggulangan Tuhan terhadap Bait Allah, yakni aspek penyucian dan aspek pembangunan. Iblis, musuh Allah, selalu berusaha merusak atau meruntuhkan Bait Allah. Iblis bermaksud mencemarinya dengan banyak hal kedosaan dan keduniawian. Inilah sebabnya rumah Allah perlu dibersihkan. Yesus membersihkan bait Allah pada saat ketika “hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat” (Yoh. 2:13). Hari raya Paskah merupakan sebuah perayaan untuk memperingati penyelamatan Allah atas umat Israel (Kel. 12:2-11, Ul. 16:1-3).
Dalam perayaan Paskah, orang-orang Yahudi datang menyembah Allah di dalam Bait Suci mereka. Namun, ketika Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem, Bait Suci penuh dengan lembu, kambing domba, merpati dan penukar-penukar uang. Pemandangan di sana lebih mirip sebuah pasar daripada suatu tempat penyembahan. Itulah sebabnya Bait itu perlu dibersihkan.
Pemandangan yang ada di Bait Suci itu membuat Tuhan tidak dapat berkompromi. Sejak usia 12 tahun, Dia sudah menegaskan bahwa Dia sangat peduli dengan rumah Allah. Lukas 2:49 mengatakan, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Rumah Allah seharusnya menjadi rumah doa, tempat di mana orang dapat datang kepada Allah, berkontak dengan Allah. Namun pedagang-pedagang telah memanfaatkan situasi saat itu dengan menjadikan ibadah sebagai sumber mencari keuntungan.
Apa yang dilakukan oleh pedagang-pedagang itu kelihatannya adalah untuk mempermudah orang yang ingin mempersembahkan kurban. Orang-orang tidak perlu mempersiapkan atau membawa ternak kurban dari rumah, tetapi cukup membawa sejumlah uang dan membeli ternak kurban di halaman Bait Suci, lalu dipersembahkan sebagai kurban. Bukankah cara ini lebih praktis? Ya. Namun kita harus sangat jelas bahwa dalam perkara rohani, tidak ada jalan pintas, tidak boleh mengambil cara yang gampangan. Mereka yang bersungguh-sungguh ingin mempersembahkan kurban, seharusnya sudah baik-baik mempersiapkannya dari rumah, bukan dadakan atau sambil lalu. Prinsip ini juga berlaku bagi kita yang ingin melayani Dia di dalam rumah-Nya.
01 May 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Sabtu
Jalan Untuk Mengalami Mukjizat Maut Menjadi Hayat
Yohanes 2:11
Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:8-11; 1 Yoh. 5:24
Karunia keselamatan Tuhan Yesus sangatlah ajaib! Yang Dia lakukan pada diri manusia benar-benar adalah suatu mukjizat! Sebagaimana mukjizat ini terjadi di atas semua orang yang menerima anugerah dari zaman ke zaman, begitu juga akan berlaku pada diri kita. Bagaimanakah agar kita bisa mendapatkan mukjizat karunia keselamatan ini, agar maut dapat diubah menjadi hayat? Pertama, kita harus mengakui bahwa keadaan kita sama seperti orang-orang yang mengikuti pesta pernikahan pada hari itu; di satu pihak kita berada di tempat yang hina, di pihak lain, kita sangat rapuh, penuh kematian. Kehidupan manusia kita dan sukacita kehidupan manusia kita juga sangat terbatas, sangat pendek.
Kedua, kita harus percaya Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan kita, membereskan kehinaan, kerapuhan, dan kematian kita. Cara pemberesan-Nya ialah datang ke dunia menjadi manusia, terpaku di atas salib demi memikul dosa kita, menghapus sumber kerapuhan dan kematian kita. Pada hari ketiga, Dia bangkit dari antara orang mati, menjelma menjadi Roh Kudus, lalu datang kembali kepada kita, menjadi hayat kekal kita, untuk menggantikan hayat kita yang hina, rapuh, dan bisa mati itu.
Ketiga, kita harus menerima Dia masuk ke dalam kita, menjadi pusat kehidupan manusia kita, masuk ke dalam roh kita menjadi Tuhan hayat kita, sama seperti orang Yahudi pada hari itu, mengundang Tuhan mengikuti pesta pernikahan mereka. Keempat, kita masih perlu menaati firman-Nya, menuruti perintah-Nya. Pada hari itu Tuhan menyuruh pelayan-pelayan mengisi tempayan-tempayan itu dengan air; mereka mengisi tempayan-tempayan itu. Tuhan berkata agar mencedok dan membawanya kepada pemimpin pesta, mereka pun melakukan sesuai perkataan-Nya. Karena mereka taat, mukjizat pun terjadi. Jadi, kita juga harus mendengarkan firman Tuhan, sehingga mendapatkan karunia keselamatan yang sempurna itu. Tuhan berkata, “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (1 Yoh. 5:24).
Yohanes 2:11
Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:8-11; 1 Yoh. 5:24
Karunia keselamatan Tuhan Yesus sangatlah ajaib! Yang Dia lakukan pada diri manusia benar-benar adalah suatu mukjizat! Sebagaimana mukjizat ini terjadi di atas semua orang yang menerima anugerah dari zaman ke zaman, begitu juga akan berlaku pada diri kita. Bagaimanakah agar kita bisa mendapatkan mukjizat karunia keselamatan ini, agar maut dapat diubah menjadi hayat? Pertama, kita harus mengakui bahwa keadaan kita sama seperti orang-orang yang mengikuti pesta pernikahan pada hari itu; di satu pihak kita berada di tempat yang hina, di pihak lain, kita sangat rapuh, penuh kematian. Kehidupan manusia kita dan sukacita kehidupan manusia kita juga sangat terbatas, sangat pendek.
Kedua, kita harus percaya Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan kita, membereskan kehinaan, kerapuhan, dan kematian kita. Cara pemberesan-Nya ialah datang ke dunia menjadi manusia, terpaku di atas salib demi memikul dosa kita, menghapus sumber kerapuhan dan kematian kita. Pada hari ketiga, Dia bangkit dari antara orang mati, menjelma menjadi Roh Kudus, lalu datang kembali kepada kita, menjadi hayat kekal kita, untuk menggantikan hayat kita yang hina, rapuh, dan bisa mati itu.
Ketiga, kita harus menerima Dia masuk ke dalam kita, menjadi pusat kehidupan manusia kita, masuk ke dalam roh kita menjadi Tuhan hayat kita, sama seperti orang Yahudi pada hari itu, mengundang Tuhan mengikuti pesta pernikahan mereka. Keempat, kita masih perlu menaati firman-Nya, menuruti perintah-Nya. Pada hari itu Tuhan menyuruh pelayan-pelayan mengisi tempayan-tempayan itu dengan air; mereka mengisi tempayan-tempayan itu. Tuhan berkata agar mencedok dan membawanya kepada pemimpin pesta, mereka pun melakukan sesuai perkataan-Nya. Karena mereka taat, mukjizat pun terjadi. Jadi, kita juga harus mendengarkan firman Tuhan, sehingga mendapatkan karunia keselamatan yang sempurna itu. Tuhan berkata, “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (1 Yoh. 5:24).
30 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Jumat
Mukjizat Yang Pertama dan Yang Terbesar
Yohanes 2:11
Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:10-11
Mengubah air menjadi anggur adalah mukjizat pertama yang Tuhan lakukan dalam ministri-Nya. Artinya, mukjizat ini adalah permulaan dari semua mukjizat Tuhan. Ini berarti bahwa semua perkerjaan yang Tuhan lakukan di atas diri kita selalu dimulai dari prinsip Tuhan mengubah maut kita menjadi hayat. Tuhan menghendaki kita mendapatkan Dia sebagai hayat. Inilah permulaan semua pekerjaan-Nya di atas diri kita. Sejak saat itu, Dia akan terus-menerus melakukan mukjizat pada diri kita. Tetapi dasar semua pekerjaan mukjizat-Nya adalah menghendaki kita mendapatkan hayat-Nya.
Semua pekerjaan yang Tuhan lakukan terhadap kita bukanlah satu pekerjaan yang biasa, melainkan mukjizat. Apa yang disebut mukjizat? Mukjizat adalah orang biasa tidak bisa mengerjakan, tidak bisa melakukan, hanya Allah yang bisa melakukan, hanya Tuhan yang bisa menggenapkan. Semua pekerjaan yang Tuhan Yesus lakukan di atas diri kita adalah mukjizat, sebab hanya Allah yang bisa melakukannya. Tetapi semua mukjizat yang Tuhan lakukan di atas diri kita berdasarkan pada prinsip mengubah maut menjadi hayat.
Mengubah maut menjadi hayat, tidak saja adalah mukjizat yang pertama, juga mukjizat yang terbesar, mukjizat di atas mukjizat, mukjizat yang terbesar dari semua mukjizat pada diri kita. Saudara D.L. Moody, seorang pemberita Injil besar dari Amerika Serikat, pernah berkata bahwa mukjizat Tuhan yang paling besar adalah menghidupkan orang yang mati dalam dosa. Kita sering mengira, jika ada orang yang sakit keras disembuhkan oleh Tuhan, itu adalah mukjizat yang besar. Namun orang yang telah mati dalam dosa bisa hidup kembali oleh hayat ilahi, inilah mukjizat yang terbesar.
Manusia memang jarang memikirkan bahwa dirinya telah mati dalam dosa, penuh dengan maut, bermoral rendah, tidak memiliki kekuatan untuk berbuat baik. Tetapi karena kita telah menerima hayat Tuhan, roh kita dihidupkan, kita menjadi orang yang bermoral tinggi, mampu berbuat baik, senang akan perkara-perkara terang, bahkan secara positif terus maju ke arah Tuhan. Inilah mukjizat yang terbesar. Tujuan dari mukjizat ini adalah supaya kita mendapatkan kepuasan dan sukacita, serta Allah sepenuhnya diekspresikan.
Yohanes 2:11
Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:10-11
Mengubah air menjadi anggur adalah mukjizat pertama yang Tuhan lakukan dalam ministri-Nya. Artinya, mukjizat ini adalah permulaan dari semua mukjizat Tuhan. Ini berarti bahwa semua perkerjaan yang Tuhan lakukan di atas diri kita selalu dimulai dari prinsip Tuhan mengubah maut kita menjadi hayat. Tuhan menghendaki kita mendapatkan Dia sebagai hayat. Inilah permulaan semua pekerjaan-Nya di atas diri kita. Sejak saat itu, Dia akan terus-menerus melakukan mukjizat pada diri kita. Tetapi dasar semua pekerjaan mukjizat-Nya adalah menghendaki kita mendapatkan hayat-Nya.
Semua pekerjaan yang Tuhan lakukan terhadap kita bukanlah satu pekerjaan yang biasa, melainkan mukjizat. Apa yang disebut mukjizat? Mukjizat adalah orang biasa tidak bisa mengerjakan, tidak bisa melakukan, hanya Allah yang bisa melakukan, hanya Tuhan yang bisa menggenapkan. Semua pekerjaan yang Tuhan Yesus lakukan di atas diri kita adalah mukjizat, sebab hanya Allah yang bisa melakukannya. Tetapi semua mukjizat yang Tuhan lakukan di atas diri kita berdasarkan pada prinsip mengubah maut menjadi hayat.
Mengubah maut menjadi hayat, tidak saja adalah mukjizat yang pertama, juga mukjizat yang terbesar, mukjizat di atas mukjizat, mukjizat yang terbesar dari semua mukjizat pada diri kita. Saudara D.L. Moody, seorang pemberita Injil besar dari Amerika Serikat, pernah berkata bahwa mukjizat Tuhan yang paling besar adalah menghidupkan orang yang mati dalam dosa. Kita sering mengira, jika ada orang yang sakit keras disembuhkan oleh Tuhan, itu adalah mukjizat yang besar. Namun orang yang telah mati dalam dosa bisa hidup kembali oleh hayat ilahi, inilah mukjizat yang terbesar.
Manusia memang jarang memikirkan bahwa dirinya telah mati dalam dosa, penuh dengan maut, bermoral rendah, tidak memiliki kekuatan untuk berbuat baik. Tetapi karena kita telah menerima hayat Tuhan, roh kita dihidupkan, kita menjadi orang yang bermoral tinggi, mampu berbuat baik, senang akan perkara-perkara terang, bahkan secara positif terus maju ke arah Tuhan. Inilah mukjizat yang terbesar. Tujuan dari mukjizat ini adalah supaya kita mendapatkan kepuasan dan sukacita, serta Allah sepenuhnya diekspresikan.
29 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Kamis
Dipuaskan dan Mengekspresikan Kemuliaan Allah
Yohanes 2:11
Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:10-11
Hanya setelah memiliki satu hayat yang kekal, baru kita bisa memiliki satu hayat manusia yang kekal. Juga hanya setelah memiliki satu hayat yang kekal, baru bisa memiliki sukacita yang kekal. Banyak orang yang dapat bersaksi bahwa tadinya kehidupan mereka penuh maut. Ada yang moralnya sangat rendah, ada yang kejiwaannya sangatlah lemah, ada yang tidak berdaya dalam berbuat baik, ada pula yang memandang hidup ini dengan sangat pesimis. Tetapi begitu mereka menerima Tuhan Yesus ke dalam diri mereka, semua keadaan maut mereka berubah. Moral yang rendah berubah menjadi yang unggul; jiwa yang lemah berubah menjadi perkasa; yang tidak ada kekuatan berbuat baik berubah menjadi sangat kuat; pandangan hidup yang pesimis menjadi sangat optimis dan menyenangkan. Keadaan-keadaan ini menyatakan bahwa maut di dalam mereka telah menjadi hayat yang terbaik.
Setelah Tuhan Yesus masuk ke dalam kita, hayat yang Dia berikan kepada kita adalah hayat yang ajaib, hayat Allah yang unggul, kekal, dan tak terbatas. Karena itu, sukacita yang diberikan oleh hayat ini juga tidak terbatas. Inti keperluan hidup manusia bukan banyak hal yang lain, melainkan satu perubahan hayat. Semua keadaan maut yang asalnya kita miliki, hanya bisa dibereskan oleh hayat. Hanya hayat yang memberi kita satu pemberesan yang tuntas, pemberesan yang melenyapkan keadaan maut itu. Perubahan hayat ini hanya bisa dilakukan oleh Tuhan Yesus. Hanya Dia, Tuhan kebangkitan, Tuhan hayat, dalam Roh kebangkitan, yang bisa mengubah semua keadaan maut di dalam kita menjadi hayat yang terbaik dan kekal.
Pada hari Tuhan Yesus mengubah air menjadi anggur yang terbaik, semua tamu dalam pesta itu bisa minum dan dipuaskan. Bersamaan dengan itu, dari dalam diri Tuhan juga terekspresi kemuliaan Allah. Di satu pihak manusia dipuaskan, di pihak lain Allah terekspresikan dari diri manusia. Di satu aspek, karena di dalam diri kita ada Tuhan sebagai sumber air hayat, maka hayat itu membuat hidup manusia kita sepenuhnya dipuaskan. Di pihak lain, hayat Tuhan di dalam kita membuat kita hidup di dalam Allah, sehingga kehidupan kita mengekspresikan kemuliaan Allah, mengekspresikan Allah sendiri.
Yohanes 2:11
Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:10-11
Hanya setelah memiliki satu hayat yang kekal, baru kita bisa memiliki satu hayat manusia yang kekal. Juga hanya setelah memiliki satu hayat yang kekal, baru bisa memiliki sukacita yang kekal. Banyak orang yang dapat bersaksi bahwa tadinya kehidupan mereka penuh maut. Ada yang moralnya sangat rendah, ada yang kejiwaannya sangatlah lemah, ada yang tidak berdaya dalam berbuat baik, ada pula yang memandang hidup ini dengan sangat pesimis. Tetapi begitu mereka menerima Tuhan Yesus ke dalam diri mereka, semua keadaan maut mereka berubah. Moral yang rendah berubah menjadi yang unggul; jiwa yang lemah berubah menjadi perkasa; yang tidak ada kekuatan berbuat baik berubah menjadi sangat kuat; pandangan hidup yang pesimis menjadi sangat optimis dan menyenangkan. Keadaan-keadaan ini menyatakan bahwa maut di dalam mereka telah menjadi hayat yang terbaik.
Setelah Tuhan Yesus masuk ke dalam kita, hayat yang Dia berikan kepada kita adalah hayat yang ajaib, hayat Allah yang unggul, kekal, dan tak terbatas. Karena itu, sukacita yang diberikan oleh hayat ini juga tidak terbatas. Inti keperluan hidup manusia bukan banyak hal yang lain, melainkan satu perubahan hayat. Semua keadaan maut yang asalnya kita miliki, hanya bisa dibereskan oleh hayat. Hanya hayat yang memberi kita satu pemberesan yang tuntas, pemberesan yang melenyapkan keadaan maut itu. Perubahan hayat ini hanya bisa dilakukan oleh Tuhan Yesus. Hanya Dia, Tuhan kebangkitan, Tuhan hayat, dalam Roh kebangkitan, yang bisa mengubah semua keadaan maut di dalam kita menjadi hayat yang terbaik dan kekal.
Pada hari Tuhan Yesus mengubah air menjadi anggur yang terbaik, semua tamu dalam pesta itu bisa minum dan dipuaskan. Bersamaan dengan itu, dari dalam diri Tuhan juga terekspresi kemuliaan Allah. Di satu pihak manusia dipuaskan, di pihak lain Allah terekspresikan dari diri manusia. Di satu aspek, karena di dalam diri kita ada Tuhan sebagai sumber air hayat, maka hayat itu membuat hidup manusia kita sepenuhnya dipuaskan. Di pihak lain, hayat Tuhan di dalam kita membuat kita hidup di dalam Allah, sehingga kehidupan kita mengekspresikan kemuliaan Allah, mengekspresikan Allah sendiri.
28 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Rabu
Mengubah Air Menjadi Anggur
Yohanes 2:10
Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:8-10; Rm. 4:17; 1 Yoh. 3:14
Tuhan Yesus dengan ajaib mengubah air maut ini menjadi anggur (Yoh. 2:8-10). Tanda mukjizat ini tidak hanya menunjukkan bahwa Tuhan Yesus dapat menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada (Rm. 4:17), bahkan Ia pun dapat mengubah maut menjadi hayat. Tatkala Tuhan mengubah air kita menjadi anggur, maka anggur dalam kehidupan kita itu takkan habis. Oleh sebab kita telah dilahirkan kembali, hayat serta kenikmatan rohani akan berlangsung selamanya. Kita akan mempunyai sukacita dan kenikmatan yang kekal, yang takkan tamat. Perjamuan ini bukan dalam hayat alamiah kita, melainkan dalam hayat baru yang kita terima melalui kelahiran kembali.
Hayat yang kita terima melalui kelahiran kembali jauh lebih baik daripada hayat alamiah kita. Hayat kita yang dahulu dilambangkan oleh anggur yang jelek, sangat banyak kurangnya. Hayat yang pertama, hayat manusia yang tercipta adalah hayat yang kurang baik. Hayat yang kedua, yang kita peroleh melalui kelahiran kembali adalah hayat yang paling baik, yang kudus dan yang kekal, sebab hayat ini adalah hayat Allah sendiri dalam Kristus. Dengan demikian sukacita kita akan bertahan sampai selama-lamanya.
Kita memiliki kenikmatan yang kekal, sebab Kristus telah memindahkan kita dari maut ke dalam hayat (1 Yoh. 3:14). Sebagai hayat kekal kita, Dia dapat mempertahankan kesenangan dan kenikmatan kita selama-lamanya. Suatu “perjamuan kawin” baru dimulai ketika kita diselamatkan. Sejak kita memiliki anggur kudus, yakni hayat kudus Tuhan, kita pun memiliki sukacita dan “perjamuan kawin” yang tak pernah usai di dalam kita.
Sebelum kita diselamatkan, kita adalah tempayan yang penuh dengan air maut. Pada suatu hari kita percaya Tuhan dan berseru, “Tuhan Yesus, aku menerima Engkau menjadi hayat-Ku, tinggallah di dalamku”. Pada saat itu Dia datang dan mengubah maut kita menjadi hayat. Bahkan suami istri Kristen pun bisa mencapai suatu titik kelayuan dalam hidup pernikahan mereka, seolah tak dapat lagi meneruskan pernikahan mereka. Tetapi, kalau mereka terbuka terhadap Tuhan, Dia akan mengubah maut itu menjadi hayat. Dalam banyak pernikahan, Tuhan telah mengubah air maut menjadi anggur kehidupan.
Yohanes 2:10
Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:8-10; Rm. 4:17; 1 Yoh. 3:14
Tuhan Yesus dengan ajaib mengubah air maut ini menjadi anggur (Yoh. 2:8-10). Tanda mukjizat ini tidak hanya menunjukkan bahwa Tuhan Yesus dapat menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada (Rm. 4:17), bahkan Ia pun dapat mengubah maut menjadi hayat. Tatkala Tuhan mengubah air kita menjadi anggur, maka anggur dalam kehidupan kita itu takkan habis. Oleh sebab kita telah dilahirkan kembali, hayat serta kenikmatan rohani akan berlangsung selamanya. Kita akan mempunyai sukacita dan kenikmatan yang kekal, yang takkan tamat. Perjamuan ini bukan dalam hayat alamiah kita, melainkan dalam hayat baru yang kita terima melalui kelahiran kembali.
Hayat yang kita terima melalui kelahiran kembali jauh lebih baik daripada hayat alamiah kita. Hayat kita yang dahulu dilambangkan oleh anggur yang jelek, sangat banyak kurangnya. Hayat yang pertama, hayat manusia yang tercipta adalah hayat yang kurang baik. Hayat yang kedua, yang kita peroleh melalui kelahiran kembali adalah hayat yang paling baik, yang kudus dan yang kekal, sebab hayat ini adalah hayat Allah sendiri dalam Kristus. Dengan demikian sukacita kita akan bertahan sampai selama-lamanya.
Kita memiliki kenikmatan yang kekal, sebab Kristus telah memindahkan kita dari maut ke dalam hayat (1 Yoh. 3:14). Sebagai hayat kekal kita, Dia dapat mempertahankan kesenangan dan kenikmatan kita selama-lamanya. Suatu “perjamuan kawin” baru dimulai ketika kita diselamatkan. Sejak kita memiliki anggur kudus, yakni hayat kudus Tuhan, kita pun memiliki sukacita dan “perjamuan kawin” yang tak pernah usai di dalam kita.
Sebelum kita diselamatkan, kita adalah tempayan yang penuh dengan air maut. Pada suatu hari kita percaya Tuhan dan berseru, “Tuhan Yesus, aku menerima Engkau menjadi hayat-Ku, tinggallah di dalamku”. Pada saat itu Dia datang dan mengubah maut kita menjadi hayat. Bahkan suami istri Kristen pun bisa mencapai suatu titik kelayuan dalam hidup pernikahan mereka, seolah tak dapat lagi meneruskan pernikahan mereka. Tetapi, kalau mereka terbuka terhadap Tuhan, Dia akan mengubah maut itu menjadi hayat. Dalam banyak pernikahan, Tuhan telah mengubah air maut menjadi anggur kehidupan.
27 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Selasa
Hayat Manusia Yang Penuh Kematian
Yohanes 2:6-7a
Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.”
Ayat Bacaan: Yoh. 2:6-7; Kej. 1:27, 31
Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, Ia menjumpai keadaan manusia yang penuh kenikmatan, namun tidak langgeng. Dia datang pada saat yang tepat, yakni pada saat kenikmatan hayat manusia segera berakhir. Misalnya, kalau usia kita sudah 60 tahun lebih, berarti kita telah mendekati waktu habisnya anggur. Ketika anggur kita hampir habis, kita sadar bahwa “perjamuan kawin” kita akan segera berlalu. Namun puji Tuhan, pada saat itulah Tuhan datang ke dalam situasi kita. Kita tak perlu khawatir, sebab Dia dapat mengubah air menjadi anggur.
Sebelum melakukan mukjizat, Tuhan menyuruh orang mengisi tempayan dengan air (Yoh. 2:6-7). Tempayan itu terbuat dari batu, dan semuanya ada enam. Angka enam mewakili manusia yang tercipta, sebab pada hari keenamlah manusia diciptakan (Kej. 1:27, 31). Bahasa asli Alkitab mengatakan bahwa tempayan ini adalah tempayan dari batu. Batu dalam Alkitab mengacu kepada alamiah, karena batu ada secara alamiah. Jadi, enam tempayan melambangkan manusia alamiah yang tercipta. Kita adalah “tempayan”, bejana untuk menampung sesuatu. Tepatnya, kita adalah “tempayan” yang terletak di Kana, tempat yang penuh dengan orang-orang yang lemah dan rapuh; kita sendiri adalah orang-orang yang lemah dan rapuh.
Sebagaimana anggur melambangkan hayat, maka air melambangkan maut (kematian). Saat itu Tuhan menyuruh mereka mengisi penuh tempayan itu dengan air, itu menyatakan bahwa semua yang ada di dalam manusia tercipta yang alamiah tidak lain adalah maut. Janganlah mengira bahwa kita sakit sampai sejangka waktu tertentu kemudian baru mati. Sebenarnya, semua yang kita miliki adalah maut. Kita lemah dan rapuh karena maut ada di dalam kita.
Tidak peduli kelemahan jasmani atau jiwani, itu semua membuktikan bahwa di dalam manusia ada maut. Karena semua yang ada di dalam manusia kita adalah maut, maka kita perlu Tuhan Yesus dalam hayat kebangkitan-Nya, masuk ke dalam setiap kita, menjadi hayat kita, mengatasi keperluan kita. Hanya Tuhan Sang hayat inilah yang bisa memberi kita hayat yang tidak bisa mati, yang kuat, yang kekal, untuk mengatasi keperluan kita.
Yohanes 2:6-7a
Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.”
Ayat Bacaan: Yoh. 2:6-7; Kej. 1:27, 31
Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, Ia menjumpai keadaan manusia yang penuh kenikmatan, namun tidak langgeng. Dia datang pada saat yang tepat, yakni pada saat kenikmatan hayat manusia segera berakhir. Misalnya, kalau usia kita sudah 60 tahun lebih, berarti kita telah mendekati waktu habisnya anggur. Ketika anggur kita hampir habis, kita sadar bahwa “perjamuan kawin” kita akan segera berlalu. Namun puji Tuhan, pada saat itulah Tuhan datang ke dalam situasi kita. Kita tak perlu khawatir, sebab Dia dapat mengubah air menjadi anggur.
Sebelum melakukan mukjizat, Tuhan menyuruh orang mengisi tempayan dengan air (Yoh. 2:6-7). Tempayan itu terbuat dari batu, dan semuanya ada enam. Angka enam mewakili manusia yang tercipta, sebab pada hari keenamlah manusia diciptakan (Kej. 1:27, 31). Bahasa asli Alkitab mengatakan bahwa tempayan ini adalah tempayan dari batu. Batu dalam Alkitab mengacu kepada alamiah, karena batu ada secara alamiah. Jadi, enam tempayan melambangkan manusia alamiah yang tercipta. Kita adalah “tempayan”, bejana untuk menampung sesuatu. Tepatnya, kita adalah “tempayan” yang terletak di Kana, tempat yang penuh dengan orang-orang yang lemah dan rapuh; kita sendiri adalah orang-orang yang lemah dan rapuh.
Sebagaimana anggur melambangkan hayat, maka air melambangkan maut (kematian). Saat itu Tuhan menyuruh mereka mengisi penuh tempayan itu dengan air, itu menyatakan bahwa semua yang ada di dalam manusia tercipta yang alamiah tidak lain adalah maut. Janganlah mengira bahwa kita sakit sampai sejangka waktu tertentu kemudian baru mati. Sebenarnya, semua yang kita miliki adalah maut. Kita lemah dan rapuh karena maut ada di dalam kita.
Tidak peduli kelemahan jasmani atau jiwani, itu semua membuktikan bahwa di dalam manusia ada maut. Karena semua yang ada di dalam manusia kita adalah maut, maka kita perlu Tuhan Yesus dalam hayat kebangkitan-Nya, masuk ke dalam setiap kita, menjadi hayat kita, mengatasi keperluan kita. Hanya Tuhan Sang hayat inilah yang bisa memberi kita hayat yang tidak bisa mati, yang kuat, yang kekal, untuk mengatasi keperluan kita.
26 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Senin
Sukacita dan Kenikmatan Manusia Segera Berakhir
Yohanes 2:2-3
Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”
Ayat Bacaan: Yoh. 2:1-4
Perkawinan merupakan suatu pos yang sangat penting dan bermakna dalam hidup manusia, sebab tanpa hal itu, kelangsungan hidup manusia akan terhalang. Melenyapkan perkawinan berarti mengakhiri hidup manusia. Perkawinan melambangkan kelangsungan hidup manusia. Lalu, melambangkan apakah pesta perkawinan itu? Pesta perkawinan melambangkan kenikmatan dan kesenangan hidup manusia. Di bumi ini tiada suasana yang lebih menggembirakan daripada suatu pesta perkawinan. Pernahkah Anda melihat sepasang mempelai meratap tangis saat pesta perkawinan mereka tengah berlangsung? Tentu tidak. Menurut kebudayaan manusia manapun, perkawinan adalah suatu kesempatan yang sangat bahagia.
Pesta perkawinan pada zaman dahulu maupun sekarang, baik di Timur maupun di Barat, sangat tergantung pada anggur. Hal ini melambangkan bahwa kesenangan manusia tergantung pada hayat. Anggur (wine) berbeda dengan air putih, karena anggur berasal dari sesuatu yang hidup. Karena itu anggur melambangkan hayat. Kenikmatan manusia tergantung pada hayat manusia. Ketika hayat itu tamat, semua kenikmatan pun habis.
Yohanes 2:3-4 mengatakan, “Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: ‘Mereka kehabisan anggur.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.’” Ketika pesta pernikahan ini sedang berlangsung, mereka kehabisan anggur. Anggur dalam pesta pernikahan terpakai habis, ini melambangkan hayat dalam kehidupan manusia ada batasnya, bisa habis. Hayat dalam kehidupan manusia pada suatu hari akan mencapai kesudahannya, akan terpakai habis, bisa habis.
Begitu hayat manusia habis, sukacita kehidupan manusia juga habis. Kita semua bisa memahami bahwa sukacita dari berbagai aspek kehidupan manusia akan habis, akan mati, dan akhirnya akan sirna. Manusia boleh saja setiap hari berpesta pora, setiap hari menempuh kehidupan yang senang, tetapi Tuhan tahu bahwa hayat kehidupan manusia pada suatu hari akan sampai kepada kesudahannya, pada suatu hari akan habis. Itulah sebabnya Dia datang untuk mengatasi keperluan manusia akan hayat.
Yohanes 2:2-3
Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”
Ayat Bacaan: Yoh. 2:1-4
Perkawinan merupakan suatu pos yang sangat penting dan bermakna dalam hidup manusia, sebab tanpa hal itu, kelangsungan hidup manusia akan terhalang. Melenyapkan perkawinan berarti mengakhiri hidup manusia. Perkawinan melambangkan kelangsungan hidup manusia. Lalu, melambangkan apakah pesta perkawinan itu? Pesta perkawinan melambangkan kenikmatan dan kesenangan hidup manusia. Di bumi ini tiada suasana yang lebih menggembirakan daripada suatu pesta perkawinan. Pernahkah Anda melihat sepasang mempelai meratap tangis saat pesta perkawinan mereka tengah berlangsung? Tentu tidak. Menurut kebudayaan manusia manapun, perkawinan adalah suatu kesempatan yang sangat bahagia.
Pesta perkawinan pada zaman dahulu maupun sekarang, baik di Timur maupun di Barat, sangat tergantung pada anggur. Hal ini melambangkan bahwa kesenangan manusia tergantung pada hayat. Anggur (wine) berbeda dengan air putih, karena anggur berasal dari sesuatu yang hidup. Karena itu anggur melambangkan hayat. Kenikmatan manusia tergantung pada hayat manusia. Ketika hayat itu tamat, semua kenikmatan pun habis.
Yohanes 2:3-4 mengatakan, “Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: ‘Mereka kehabisan anggur.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.’” Ketika pesta pernikahan ini sedang berlangsung, mereka kehabisan anggur. Anggur dalam pesta pernikahan terpakai habis, ini melambangkan hayat dalam kehidupan manusia ada batasnya, bisa habis. Hayat dalam kehidupan manusia pada suatu hari akan mencapai kesudahannya, akan terpakai habis, bisa habis.
Begitu hayat manusia habis, sukacita kehidupan manusia juga habis. Kita semua bisa memahami bahwa sukacita dari berbagai aspek kehidupan manusia akan habis, akan mati, dan akhirnya akan sirna. Manusia boleh saja setiap hari berpesta pora, setiap hari menempuh kehidupan yang senang, tetapi Tuhan tahu bahwa hayat kehidupan manusia pada suatu hari akan sampai kepada kesudahannya, pada suatu hari akan habis. Itulah sebabnya Dia datang untuk mengatasi keperluan manusia akan hayat.
25 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 3 Minggu
Prinsip Hayat: Mengubah Maut Menjadi Hayat
Yohanes 2:1-2
Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:1, 11; 11:47; Ef. 2:6
Dalam Injil Yohanes pasal dua, kita akan melihat prinsip hayat yakni mengubah maut menjadi hayat. Pasal ini dilatarbelakangi oleh sebuah peristiwa perayaan pesta perkawinan di Kana yang dihadiri oleh ibu Yesus, Yesus sendiri dan murid-murid-Nya (Yoh. 1:1-2). Alkitab menuliskan dengan sangat rinci bahwa pesta itu diadakan pada hari ketiga. Menurut Alkitab, “hari ketiga” mengacu kepada hari kebangkitan. Kemudian, kita perlu juga mengenal makna dari tempat diadakannya pesta perkawinan itu, yakni Kana. “Kana” berarti tanah buluh. Buluh dalam Alkitab melambangkan orang yang rapuh. Alkitab mengatakan,“buluh yang patah terkulai” tidak akan Tuhan patahkan (Yes. 42:3, Mat. 12:20). Dipandang dari sudut ini, seluruh bumi adalah Kana, sebab setiap orang lemah dan rapuh.
Walaupun seluruh bumi itu Kana, penuh dengan orang-orang yang lemah dan rapuh, Tuhan justru datang kepada mereka. Kedatangan Tuhan di Kana melambangkan kedatangan-Nya di dunia yang penuh dengan orang-orang lemah dan rapuh. Walaupun kita ini seperti buluh, lemah dan rapuh, justru Tuhan datang menjumpai kita dalam kebangkitan. Tidak hanya itu, Alkitab juga mencatat bahwa Kana berada di daerah Galilea. Galilea adalah tempat yang diremehkan. Jadi, Galilea melambangkan kondisi dunia yang bobrok, sebagaimana situasi dunia hari ini. Namun jangan berkecil hati, Tuhan justru mau datang menemui kita yang tinggal di dalam dunia yang demikian.
Ketika Tuhan datang menjumpai kita, hal apakah yang pertama kali akan Dia lakukan? Dia akan mengubah maut menjadi hayat. Di dalam dunia yang bobrok ini, tidak ada yang lain kecuali maut. Karena pengaruh mautlah, orang-orang di bumi ini menjadi begitu lemah dan rapuh. Tetapi puji Tuhan, Dia datang untuk mengubah maut menjadi hayat! Dosa, keduniawian, hawa nafsu, kesenangan duniawi, semuanya bercitarasa maut. Setiap kali kita menyentuh hal-hal itu, di dalam batin kita langsung gelap, roh kita pun segera padam. Namun, kita harus tahu bahwa Tuhan sanggup mengubah maut menjadi hayat. Yang kita perlukan adalah berseru kepada-Nya, mengundang Dia masuk ke dalam kehidupan kita. Demikian, di dalam kita segera terbitlah hayat.
Yohanes 2:1-2
Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.
Ayat Bacaan: Yoh. 2:1, 11; 11:47; Ef. 2:6
Dalam Injil Yohanes pasal dua, kita akan melihat prinsip hayat yakni mengubah maut menjadi hayat. Pasal ini dilatarbelakangi oleh sebuah peristiwa perayaan pesta perkawinan di Kana yang dihadiri oleh ibu Yesus, Yesus sendiri dan murid-murid-Nya (Yoh. 1:1-2). Alkitab menuliskan dengan sangat rinci bahwa pesta itu diadakan pada hari ketiga. Menurut Alkitab, “hari ketiga” mengacu kepada hari kebangkitan. Kemudian, kita perlu juga mengenal makna dari tempat diadakannya pesta perkawinan itu, yakni Kana. “Kana” berarti tanah buluh. Buluh dalam Alkitab melambangkan orang yang rapuh. Alkitab mengatakan,“buluh yang patah terkulai” tidak akan Tuhan patahkan (Yes. 42:3, Mat. 12:20). Dipandang dari sudut ini, seluruh bumi adalah Kana, sebab setiap orang lemah dan rapuh.
Walaupun seluruh bumi itu Kana, penuh dengan orang-orang yang lemah dan rapuh, Tuhan justru datang kepada mereka. Kedatangan Tuhan di Kana melambangkan kedatangan-Nya di dunia yang penuh dengan orang-orang lemah dan rapuh. Walaupun kita ini seperti buluh, lemah dan rapuh, justru Tuhan datang menjumpai kita dalam kebangkitan. Tidak hanya itu, Alkitab juga mencatat bahwa Kana berada di daerah Galilea. Galilea adalah tempat yang diremehkan. Jadi, Galilea melambangkan kondisi dunia yang bobrok, sebagaimana situasi dunia hari ini. Namun jangan berkecil hati, Tuhan justru mau datang menemui kita yang tinggal di dalam dunia yang demikian.
Ketika Tuhan datang menjumpai kita, hal apakah yang pertama kali akan Dia lakukan? Dia akan mengubah maut menjadi hayat. Di dalam dunia yang bobrok ini, tidak ada yang lain kecuali maut. Karena pengaruh mautlah, orang-orang di bumi ini menjadi begitu lemah dan rapuh. Tetapi puji Tuhan, Dia datang untuk mengubah maut menjadi hayat! Dosa, keduniawian, hawa nafsu, kesenangan duniawi, semuanya bercitarasa maut. Setiap kali kita menyentuh hal-hal itu, di dalam batin kita langsung gelap, roh kita pun segera padam. Namun, kita harus tahu bahwa Tuhan sanggup mengubah maut menjadi hayat. Yang kita perlukan adalah berseru kepada-Nya, mengundang Dia masuk ke dalam kehidupan kita. Demikian, di dalam kita segera terbitlah hayat.
24 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Sabtu
Pengubahan yang Menghasilkan Betel, Rumah Allah
Yohanes 1:51
Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
Ayat Bacaan: 1 Yoh. 1:51; Kej. 28:10-22; 1 Ptr. 2:4-5
Yesus berkata kepada Natanael, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (Yoh. 1:51). Orang-orang Yahudi pasti mengenal bahwa ini adalah keterangan atas mimpi Yakub (Kej. 28:10-22). Ketika Yakub melarikan diri dari saudaranya, ia tidur di tempat terbuka selama semalam dan menggunakan batu sebagai bantalnya. Ia bermimpi melihat langit terbuka dan sebuah tangga didirikan di atas bumi yang ujungnya mencapai langit di mana malaikat-malaikat naik turun. Ketika Yakub terjaga dari tidurnya, ia berkata: “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga” (Kej. 28:17). Kemudian ia menuangkan minyak ke atas batu yang telah dipakainya sebagai bantal dan menamainya Betel.
Kristus, sebagai Anak Manusia dengan keinsanian-Nya adalah tangga yang didirikan di atas bumi dan menuju ke langit, supaya langit terbuka kepada bumi dan mempersatukan bumi ke langit untuk rumah Allah. Yakub menuangkan minyak (lambang dari Roh Kudus) ke atas batu (lambang dari manusia yang telah diubah) yang akan menjadi rumah Allah. Sasaran Allah atas kaum beriman adalah memiliki rumah yang terbangun dengan batu hidup. Batu-batu itu bukannya tersebar dan terserak, juga bukan batu-batu yang hanya dikumpulkan dan ditumpuk, melainkan batu-batu yang dibangun satu dengan yang lainnya (1 Ptr. 2:5). Akhirnya, bangunan ini akan rampung di dalam Yerusalem Baru.
Di Yerusalem Baru tidak akan ada lagi tanah liat, karena semua tanah liat telah ditransformasi menjadi batu permata. Ini berarti Yerusalem Baru dibangun dengan batu-batu permata. Kita sedang menjadi batu-batu permata yang terbangun menjadi Yerusalem Baru. Hari ini pekerjaan pembangunan sedang berlangsung! Satu Petrus 2:4 mengatakan, “Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah”. Semakin sering kita datang kepada Tuhan, semakin banyak pula kita diubah menjadi batu hidup. Saat kita menyeru nama-Nya, berdoa kepada-Nya, tidak saja kita mendapatkan keselamatan, terlebih kita pun semakin diubah menjadi batu-batu hidup bagi pembangunan rumah-Nya.
Yohanes 1:51
Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
Ayat Bacaan: 1 Yoh. 1:51; Kej. 28:10-22; 1 Ptr. 2:4-5
Yesus berkata kepada Natanael, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (Yoh. 1:51). Orang-orang Yahudi pasti mengenal bahwa ini adalah keterangan atas mimpi Yakub (Kej. 28:10-22). Ketika Yakub melarikan diri dari saudaranya, ia tidur di tempat terbuka selama semalam dan menggunakan batu sebagai bantalnya. Ia bermimpi melihat langit terbuka dan sebuah tangga didirikan di atas bumi yang ujungnya mencapai langit di mana malaikat-malaikat naik turun. Ketika Yakub terjaga dari tidurnya, ia berkata: “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga” (Kej. 28:17). Kemudian ia menuangkan minyak ke atas batu yang telah dipakainya sebagai bantal dan menamainya Betel.
Kristus, sebagai Anak Manusia dengan keinsanian-Nya adalah tangga yang didirikan di atas bumi dan menuju ke langit, supaya langit terbuka kepada bumi dan mempersatukan bumi ke langit untuk rumah Allah. Yakub menuangkan minyak (lambang dari Roh Kudus) ke atas batu (lambang dari manusia yang telah diubah) yang akan menjadi rumah Allah. Sasaran Allah atas kaum beriman adalah memiliki rumah yang terbangun dengan batu hidup. Batu-batu itu bukannya tersebar dan terserak, juga bukan batu-batu yang hanya dikumpulkan dan ditumpuk, melainkan batu-batu yang dibangun satu dengan yang lainnya (1 Ptr. 2:5). Akhirnya, bangunan ini akan rampung di dalam Yerusalem Baru.
Di Yerusalem Baru tidak akan ada lagi tanah liat, karena semua tanah liat telah ditransformasi menjadi batu permata. Ini berarti Yerusalem Baru dibangun dengan batu-batu permata. Kita sedang menjadi batu-batu permata yang terbangun menjadi Yerusalem Baru. Hari ini pekerjaan pembangunan sedang berlangsung! Satu Petrus 2:4 mengatakan, “Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah”. Semakin sering kita datang kepada Tuhan, semakin banyak pula kita diubah menjadi batu hidup. Saat kita menyeru nama-Nya, berdoa kepada-Nya, tidak saja kita mendapatkan keselamatan, terlebih kita pun semakin diubah menjadi batu-batu hidup bagi pembangunan rumah-Nya.
23 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Jumat
Diubah Menjadi Batu-batu Hidup Bagi Pembangunan Allah
Yohanes 1:41a, 42
Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, ..., Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”
Ayat Bacaan: Yoh. 1:41-42; Mat. 16:18; 1 Kor. 3:12; 1 Ptr. 1:2:5; 3:5; Ef. 2:22
Ketika Yohanes Pembaptis berkata: “Lihatlah Anak Domba Allah”, kedua muridnya malah tertarik kepada-Nya. Salah seorang dari murid itu bernama Andreas, dan yang lain boleh jadi Yohanes, penulis Injil ini, yang tidak menyebutkan namanya sendiri. Segera setelah Andreas berjumpa dengan Yesus, ia mendapati saudaranya yang bernama Simon dan memimpinnya kepada Yesus (Yoh. 1:41-42). Ketika Tuhan memandang Simon, Dia mengubah namanya menjadi Kefas, atau Petrus, yang berarti batu.
Tuhan mengubah nama Simon menjadi Petrus adalah berkaitan dengan pembangunan gereja (Mat. 16:18), pembangunan rumah rohani (1 Ptr. 3:5). Batu menyiratkan hasil dari pekerjaan pengubahan untuk menghasilkan bahan bagi bangunan Allah (1 Kor. 3:12). Dalam Yohanes pasal satu, kita mempunyai Anak Domba, burung merpati dan batu, yang kesemuanya ini merupakan gambaran-gambaran. Maknanya adalah penebusan (Anak Domba) ditambah dengan pengurapan Roh Kudus (merpati) akan menghasilkan bahan-bahan bagi pembangunan rumah Allah, yakni gereja hari ini.
Secara alamiah kita bukanlah batu, tapi tanah liat. Namun, karena kita telah menerima hayat ilahi dengan sifat ilahi melalui kelahiran kembali, kita dapat ditransformasi menjadi batu-batu, bahkan menjadi batu-batu berharga, melalui menikmati Kristus sebagai suplai hayat (2 Kor. 3:18). Tanah liat tidak dapat digunakan untuk membangun rumah rohani, sebab tanah liat melambangkan manusia alamiah kita. Namun Puji Tuhan, melalui penebusan dan kelahiran kembali, kita diubah menjadi batu-batu hidup bagi pembangunan tempat kediaman Allah di dalam roh (Ef. 2:22).
Menjadi batu saja tidak cukup. Sebagai batu-batu hidup, kita perlu terbangun bersama menjadi sebuah bangunan. Sebuah rumah sudah pasti tersusun dari satu batu di atas batu lainnya. Lebih dari seratus tahun yang lalu, Saudara Stooneg, seorang saleh dari Inggris berkata, “Ada satu perkara yang paling indah dan paling ajaib setelah aku beroleh selamat, yaitu pada suatu hari aku menyadari bahwa diriku adalah sebuah bahan untuk pembangunan tempat kediaman Allah. Inilah satu perkara yang paling ajaib.”
Yohanes 1:41a, 42
Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, ..., Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”
Ayat Bacaan: Yoh. 1:41-42; Mat. 16:18; 1 Kor. 3:12; 1 Ptr. 1:2:5; 3:5; Ef. 2:22
Ketika Yohanes Pembaptis berkata: “Lihatlah Anak Domba Allah”, kedua muridnya malah tertarik kepada-Nya. Salah seorang dari murid itu bernama Andreas, dan yang lain boleh jadi Yohanes, penulis Injil ini, yang tidak menyebutkan namanya sendiri. Segera setelah Andreas berjumpa dengan Yesus, ia mendapati saudaranya yang bernama Simon dan memimpinnya kepada Yesus (Yoh. 1:41-42). Ketika Tuhan memandang Simon, Dia mengubah namanya menjadi Kefas, atau Petrus, yang berarti batu.
Tuhan mengubah nama Simon menjadi Petrus adalah berkaitan dengan pembangunan gereja (Mat. 16:18), pembangunan rumah rohani (1 Ptr. 3:5). Batu menyiratkan hasil dari pekerjaan pengubahan untuk menghasilkan bahan bagi bangunan Allah (1 Kor. 3:12). Dalam Yohanes pasal satu, kita mempunyai Anak Domba, burung merpati dan batu, yang kesemuanya ini merupakan gambaran-gambaran. Maknanya adalah penebusan (Anak Domba) ditambah dengan pengurapan Roh Kudus (merpati) akan menghasilkan bahan-bahan bagi pembangunan rumah Allah, yakni gereja hari ini.
Secara alamiah kita bukanlah batu, tapi tanah liat. Namun, karena kita telah menerima hayat ilahi dengan sifat ilahi melalui kelahiran kembali, kita dapat ditransformasi menjadi batu-batu, bahkan menjadi batu-batu berharga, melalui menikmati Kristus sebagai suplai hayat (2 Kor. 3:18). Tanah liat tidak dapat digunakan untuk membangun rumah rohani, sebab tanah liat melambangkan manusia alamiah kita. Namun Puji Tuhan, melalui penebusan dan kelahiran kembali, kita diubah menjadi batu-batu hidup bagi pembangunan tempat kediaman Allah di dalam roh (Ef. 2:22).
Menjadi batu saja tidak cukup. Sebagai batu-batu hidup, kita perlu terbangun bersama menjadi sebuah bangunan. Sebuah rumah sudah pasti tersusun dari satu batu di atas batu lainnya. Lebih dari seratus tahun yang lalu, Saudara Stooneg, seorang saleh dari Inggris berkata, “Ada satu perkara yang paling indah dan paling ajaib setelah aku beroleh selamat, yaitu pada suatu hari aku menyadari bahwa diriku adalah sebuah bahan untuk pembangunan tempat kediaman Allah. Inilah satu perkara yang paling ajaib.”
22 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Kamis
Anak Domba Allah dan Burung Merpati
Yohanes 1:29
Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia."
Ayat Bacaan: Yoh. 1:14, 19-25, 29-33; 10:17-18; Ef. 2:5-6; 1 Ptr. 1:3; 2:5.
Sementara para agamawan Yahudi mengharapkan seorang pemimpin besar, Yesus justru diperkenalkan oleh Yohanes Pembaptis sebagai Anak Domba Allah. Yesus bukannya datang sebagai pemimpin yang besar bagi suatu pergerakan keagamaan, melainkan Dia datang sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Sebuah pergerakan keagamaan tidak dapat menyelesaikan masalah dosa manusia. Untuk menghapus dosa, kita tidak memerlukan pemimpin agama, yang kita perlukan adalah Anak Domba Allah. Kita memerlukan Yesus sebagai Anak Domba Allah, mati bagi kita dan menumpahkan darah-Nya demi penebusan kita (Yoh. 1:29).
Yohanes Pembaptis tidak hanya memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah, dia pun memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh. 1:32). Merpati merupakan lambang dari Roh Kudus, yang membawakan Allah dan menyatukan Allah dengan manusia. Anak Domba menghapus dosa manusia, sedang merpati membawakan Allah sebagai hayat kepada manusia, mengurapi manusia dengan apa adanya Allah, membawa Allah ke dalam manusia dan manusia ke dalam Allah, dan untuk mempersatukan kaum beriman di dalam Allah. Kita memerlukan keduanya untuk mengambil bagian di dalam Allah. Di pihak negatifnya, Anak Domba memecahkan masalah dosa manusia; di pihak positifnya, merpati membawakan Allah kepada manusia. Anak Domba memisahkan manusia dari dosa, dan merpati menyatukan Allah dengan manusia.
Agama adalah untuk kekuasaan, untuk pergerakan dan pemimpin-pemimpin besar. Namun Anak Domba bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk penebusan. Dia datang sebagai Anak Domba yang kecil yang dibawa ke pembantaian dan dibunuh untuk penebusan kita (Yes. 53:7). Burung merpati yang melambangkan Roh Kudus datang untuk memberikan hayat, melahirkan kita kembali, mengurapi, mengubah, menyatukan dan membangun. Pada akhirnya, Allah akan memiliki sebuah rumah, yakni Betel. Pembangunan Allah tidak berkaitan dengan suatu pergerakan, kekuasaan, ataupun pemimpin besar; melainkan berkaitan dengan penebusan dan hayat.
Yohanes 1:29
Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia."
Ayat Bacaan: Yoh. 1:14, 19-25, 29-33; 10:17-18; Ef. 2:5-6; 1 Ptr. 1:3; 2:5.
Sementara para agamawan Yahudi mengharapkan seorang pemimpin besar, Yesus justru diperkenalkan oleh Yohanes Pembaptis sebagai Anak Domba Allah. Yesus bukannya datang sebagai pemimpin yang besar bagi suatu pergerakan keagamaan, melainkan Dia datang sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Sebuah pergerakan keagamaan tidak dapat menyelesaikan masalah dosa manusia. Untuk menghapus dosa, kita tidak memerlukan pemimpin agama, yang kita perlukan adalah Anak Domba Allah. Kita memerlukan Yesus sebagai Anak Domba Allah, mati bagi kita dan menumpahkan darah-Nya demi penebusan kita (Yoh. 1:29).
Yohanes Pembaptis tidak hanya memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah, dia pun memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh. 1:32). Merpati merupakan lambang dari Roh Kudus, yang membawakan Allah dan menyatukan Allah dengan manusia. Anak Domba menghapus dosa manusia, sedang merpati membawakan Allah sebagai hayat kepada manusia, mengurapi manusia dengan apa adanya Allah, membawa Allah ke dalam manusia dan manusia ke dalam Allah, dan untuk mempersatukan kaum beriman di dalam Allah. Kita memerlukan keduanya untuk mengambil bagian di dalam Allah. Di pihak negatifnya, Anak Domba memecahkan masalah dosa manusia; di pihak positifnya, merpati membawakan Allah kepada manusia. Anak Domba memisahkan manusia dari dosa, dan merpati menyatukan Allah dengan manusia.
Agama adalah untuk kekuasaan, untuk pergerakan dan pemimpin-pemimpin besar. Namun Anak Domba bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk penebusan. Dia datang sebagai Anak Domba yang kecil yang dibawa ke pembantaian dan dibunuh untuk penebusan kita (Yes. 53:7). Burung merpati yang melambangkan Roh Kudus datang untuk memberikan hayat, melahirkan kita kembali, mengurapi, mengubah, menyatukan dan membangun. Pada akhirnya, Allah akan memiliki sebuah rumah, yakni Betel. Pembangunan Allah tidak berkaitan dengan suatu pergerakan, kekuasaan, ataupun pemimpin besar; melainkan berkaitan dengan penebusan dan hayat.
21 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Rabu
Agama Selalu Mencari Seorang Pemimpin Besar
Yohanes 1:22b-23
Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”
Ayat Bacaan: Yoh. 1:19-25
Penentangan terbesar terhadap Kristus justru berasal dari kaum agamawan Yahudi. Tidak ada sesuatu yang lebih menyusahkan ataupun menghalangi-Nya lebih daripada agama Yahudi. Agama selalu berusaha menghalangi tampilnya Kristus sebagai hayat. Yohanes 1:19-25 merupakan cerminan dari konsepsi kaum beragama, yang secara keseluruhan bertentangan dengan pikiran-pikiran ilahi. Yang dicari oleh kaum agamawan bukanlah Kristus, melainkan seorang pemimpin besar.
Konsepsi agama yaitu mencari orang besar seperti Mesias atau nabi besar seperti Elia. Kaum agamawan selalu memikirkan ucapan-ucapan pemimpin-pemimpin besar mereka yang melakukan perkara-perkara yang mengherankan dan yang melakukan keajaiban-keajaiban yang mengagumkan untuk menyelamatkan dan membebaskan mereka. Prinsip yang sama masih tetap ada di dalam situasi agama hari ini. Di manapun orang-orang berharap mempunyai seorang pengkhotbah hebat dan terkenal di dunia. Kaum agamawan hari ini seperti orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat serta kepala-kepala imam, bukanlah untuk hayat; mereka adalah untuk suatu pergerakan besar, seorang pemimpin besar. Sekalipun mereka menantikan seorang pemimpin agamawan besar yang akan menggiatkan mereka, setelah pemimpin seperti itu datang dan pergi, mereka masih tetap dalam keadaan mereka yang mati.
Pemimpin-pemimpin Yahudi mengutus orang-orang untuk menanyai Yohanes Pembaptis apakah ia Mesias itu. Tentu saja Yohanes menjawab: “Bukan aku”. Kemudian mereka bertanya pula apakah ia Elia, sekali lagi ia menjawab: “Bukan”. Namun Yohanes bersaksi bahwa dia hanyalah suatu suara, yakni suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan oleh nabi Yesaya (Yoh. 1:23). Apakah suara itu? Suara bukanlah apa-apa. Anda mendengarnya sepintas, lalu suara itu pun berlalu. Anda tak dapat menjamahnya. Seolah-olah Yohanes berkata: “Aku bukanlah apa-apa. Aku tak lain hanyalah suara belaka. Aku bukanlah Mesias, Elia maupun nabi.” Dari jawaban Yohanes Pembaptis kita tahu bahwa yang kita perlukan sebenarnya bukan seorang pemimpin besar, melainkan hayat ilahi!
Yohanes 1:22b-23
Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”
Ayat Bacaan: Yoh. 1:19-25
Penentangan terbesar terhadap Kristus justru berasal dari kaum agamawan Yahudi. Tidak ada sesuatu yang lebih menyusahkan ataupun menghalangi-Nya lebih daripada agama Yahudi. Agama selalu berusaha menghalangi tampilnya Kristus sebagai hayat. Yohanes 1:19-25 merupakan cerminan dari konsepsi kaum beragama, yang secara keseluruhan bertentangan dengan pikiran-pikiran ilahi. Yang dicari oleh kaum agamawan bukanlah Kristus, melainkan seorang pemimpin besar.
Konsepsi agama yaitu mencari orang besar seperti Mesias atau nabi besar seperti Elia. Kaum agamawan selalu memikirkan ucapan-ucapan pemimpin-pemimpin besar mereka yang melakukan perkara-perkara yang mengherankan dan yang melakukan keajaiban-keajaiban yang mengagumkan untuk menyelamatkan dan membebaskan mereka. Prinsip yang sama masih tetap ada di dalam situasi agama hari ini. Di manapun orang-orang berharap mempunyai seorang pengkhotbah hebat dan terkenal di dunia. Kaum agamawan hari ini seperti orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat serta kepala-kepala imam, bukanlah untuk hayat; mereka adalah untuk suatu pergerakan besar, seorang pemimpin besar. Sekalipun mereka menantikan seorang pemimpin agamawan besar yang akan menggiatkan mereka, setelah pemimpin seperti itu datang dan pergi, mereka masih tetap dalam keadaan mereka yang mati.
Pemimpin-pemimpin Yahudi mengutus orang-orang untuk menanyai Yohanes Pembaptis apakah ia Mesias itu. Tentu saja Yohanes menjawab: “Bukan aku”. Kemudian mereka bertanya pula apakah ia Elia, sekali lagi ia menjawab: “Bukan”. Namun Yohanes bersaksi bahwa dia hanyalah suatu suara, yakni suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan oleh nabi Yesaya (Yoh. 1:23). Apakah suara itu? Suara bukanlah apa-apa. Anda mendengarnya sepintas, lalu suara itu pun berlalu. Anda tak dapat menjamahnya. Seolah-olah Yohanes berkata: “Aku bukanlah apa-apa. Aku tak lain hanyalah suara belaka. Aku bukanlah Mesias, Elia maupun nabi.” Dari jawaban Yohanes Pembaptis kita tahu bahwa yang kita perlukan sebenarnya bukan seorang pemimpin besar, melainkan hayat ilahi!
20 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Selasa
Anugerah dan Realitas Datang Oleh Yesus Kristus
Yohanes 1:16-17
Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:16-17; Kel. 25:21; Ibr. 4:16
Hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi anugerah (kasih karunia) dan realitas (kebenaran) datang oleh Yesus Kristus (Yoh. 1:17). Hukum Taurat menuntut manusia untuk melakukan sesuatu menurut apa adanya Allah, namun anugerah menyuplai manusia dengan apa adanya Allah guna memenuhi tuntutan-tuntutan Allah. Hukum Taurat, paling banyak hanyalah sebuah kesaksian mengenai apa adanya Allah (Kel. 25:21), sedang kebenaran (realitas) adalah penyataan akan apa adanya Allah. Tak seorang pun bisa berbagian akan Allah melalui hukum Taurat, tetapi kasih karunia memungkinkan manusia menikmati Allah. Realitas adalah Allah menjadi nyata bagi manusia, dan kasih karunia adalah Allah dinikmati oleh manusia.
Anugerah berarti Allah bekerja untuk kita; hukum Taurat berarti kita bekerja untuk Allah. Terhadap diri kita, Allah mempunyai tuntutan yang kudus dan benar, inilah hukum Taurat. Anugerah berarti Allah tidak lagi menuntut kita, sebaliknya Dia sendiri yang memenuhi tuntutan-Nya bagi kita. Kita semua terlahir sebagai orang dosa. Jika Allah tidak menuntut apa-apa pada kita, semuanya seolah terlihat baik. Tapi begitu Ia menuntut sesuatu pada kita, segera alam kedosaan kita tersingkap dengan nyata. Jadi, hukum Taurat itu menyingkapkan kelemahan kita. Namun Allah mengenal siapa kita. Ia tahu bahwa dari ujung rambut hingga telapak kaki, kita penuh dosa. Ia tahu bahwa kita adalah jelmaan kelemahan; kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk memenuhi tuntutan hukum Taurat. Karena itulah Tuhan Yesus datang kepada kita dengan membawakan anugerah dan realitas, bukannya membawa hukum Taurat sebagaimana Musa.
Bahkan sampai hari ini, secara terus-menerus, Tuhan masih menyuplaikan diri-Nya sendiri sebagai anugerah kepada kita. Apa yang tidak bisa kita lakukan bagi Allah, sebenarnya telah dilakukan oleh Tuhan bagi kita. Yang perlu kita lakukan adalah terbuka kepada-Nya, berseru kepada nama-Nya, maka Dia akan menyuplaikan diri-Nya sendiri sebagai anugerah guna memenuhi berbagai keperluan kita. Karena itu, marilah kita setiap hari dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibr. 4:16).
Yohanes 1:16-17
Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:16-17; Kel. 25:21; Ibr. 4:16
Hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi anugerah (kasih karunia) dan realitas (kebenaran) datang oleh Yesus Kristus (Yoh. 1:17). Hukum Taurat menuntut manusia untuk melakukan sesuatu menurut apa adanya Allah, namun anugerah menyuplai manusia dengan apa adanya Allah guna memenuhi tuntutan-tuntutan Allah. Hukum Taurat, paling banyak hanyalah sebuah kesaksian mengenai apa adanya Allah (Kel. 25:21), sedang kebenaran (realitas) adalah penyataan akan apa adanya Allah. Tak seorang pun bisa berbagian akan Allah melalui hukum Taurat, tetapi kasih karunia memungkinkan manusia menikmati Allah. Realitas adalah Allah menjadi nyata bagi manusia, dan kasih karunia adalah Allah dinikmati oleh manusia.
Anugerah berarti Allah bekerja untuk kita; hukum Taurat berarti kita bekerja untuk Allah. Terhadap diri kita, Allah mempunyai tuntutan yang kudus dan benar, inilah hukum Taurat. Anugerah berarti Allah tidak lagi menuntut kita, sebaliknya Dia sendiri yang memenuhi tuntutan-Nya bagi kita. Kita semua terlahir sebagai orang dosa. Jika Allah tidak menuntut apa-apa pada kita, semuanya seolah terlihat baik. Tapi begitu Ia menuntut sesuatu pada kita, segera alam kedosaan kita tersingkap dengan nyata. Jadi, hukum Taurat itu menyingkapkan kelemahan kita. Namun Allah mengenal siapa kita. Ia tahu bahwa dari ujung rambut hingga telapak kaki, kita penuh dosa. Ia tahu bahwa kita adalah jelmaan kelemahan; kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk memenuhi tuntutan hukum Taurat. Karena itulah Tuhan Yesus datang kepada kita dengan membawakan anugerah dan realitas, bukannya membawa hukum Taurat sebagaimana Musa.
Bahkan sampai hari ini, secara terus-menerus, Tuhan masih menyuplaikan diri-Nya sendiri sebagai anugerah kepada kita. Apa yang tidak bisa kita lakukan bagi Allah, sebenarnya telah dilakukan oleh Tuhan bagi kita. Yang perlu kita lakukan adalah terbuka kepada-Nya, berseru kepada nama-Nya, maka Dia akan menyuplaikan diri-Nya sendiri sebagai anugerah guna memenuhi berbagai keperluan kita. Karena itu, marilah kita setiap hari dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibr. 4:16).
19 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Senin
Berkemah di Antara Kita, Penuh Anugerah dan Realitas
Yohanes 1:14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:14, 16; Kol. 2:9
Melalui inkarnasi, Firman bukan hanya membawakan Allah kepada manusia, tetapi juga menjadi kemah atau tabernakel, tempat kediaman Allah di atas bumi. Menurut sejarah dalam Perjanjian Lama, di antara manusia di atas bumi, terdapat sebuah tabernakel di mana Allah berdiam. Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus di dalam daging itulah tabernakel yang sejati. Tabernakel Perjanjian Lama adalah suatu lambang atau bayang-bayang dari tabernakel yang sejati, yang tak lain ialah Kristus di dalam daging. Tatkala Dia di dalam daging sebagai tabernakel Allah di antara manusia, Allah dinyatakan di dalam Dia (Kol. 2:9). Apa adanya Allah dan semua yang Dia miliki dinyatakan sepenuhnya melalui Tuhan Yesus.
Kristus, Firman hidup yang menjadi daging dan berkemah di antara kita, penuh dengan anugerah (kasih karunia, LAI). Anugerah ialah Allah di dalam Kristus menjadi kenikmatan kita. Anugerah ini meliputi perhentian, penghiburan, tenaga, kekuatan, terang, hayat, kebenaran, kesucian, dan semua ciri-ciri ilahi. Semuanya ini adalah untuk kita nikmati. Anugerah bukanlah pemberian benda-benda materiil, bukan pula pemberian karunia-karunia rohani, melainkan pemberian Diri Allah di dalam Kristus sebagai kenikmatan kita. Sewaktu kita mengalami Allah sebagai kekuatan, hayat, hiburan, perhentian, tenaga, kebenaran dan kekudusan kita, itulah anugerah.
Hal terakhir yang bertalian dengan inkarnasi Allah adalah realitas (kebenaran, LAI). Kapan kala kita menikmati Allah, kita bukan hanya memiliki anugerah, melainkan juga realitas. Memiliki Allah berarti memiliki realitas. Kita dapat mengatakan demikian: Firman adalah Allah yang diekspresikan, hayat adalah Allah yang dibagikan, terang adalah Allah yang bersinar, anugerah adalah Allah yang dinikmati, dan realitas adalah Allah yang didapatkan. Melalui hal-hal inilah Allah dinyatakan di dalam Putra sebagai ekspresi-Nya. Ketika kita menikmati Allah di dalam Kristus sebagai anugerah dan mengenal Dia di dalam Kristus sebagai realitas, kita akan mendapatkan kekayaan-kekayaan Kristus yang tidak terduga. Yohanes 1:16 berkata, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.”
Yohanes 1:14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:14, 16; Kol. 2:9
Melalui inkarnasi, Firman bukan hanya membawakan Allah kepada manusia, tetapi juga menjadi kemah atau tabernakel, tempat kediaman Allah di atas bumi. Menurut sejarah dalam Perjanjian Lama, di antara manusia di atas bumi, terdapat sebuah tabernakel di mana Allah berdiam. Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus di dalam daging itulah tabernakel yang sejati. Tabernakel Perjanjian Lama adalah suatu lambang atau bayang-bayang dari tabernakel yang sejati, yang tak lain ialah Kristus di dalam daging. Tatkala Dia di dalam daging sebagai tabernakel Allah di antara manusia, Allah dinyatakan di dalam Dia (Kol. 2:9). Apa adanya Allah dan semua yang Dia miliki dinyatakan sepenuhnya melalui Tuhan Yesus.
Kristus, Firman hidup yang menjadi daging dan berkemah di antara kita, penuh dengan anugerah (kasih karunia, LAI). Anugerah ialah Allah di dalam Kristus menjadi kenikmatan kita. Anugerah ini meliputi perhentian, penghiburan, tenaga, kekuatan, terang, hayat, kebenaran, kesucian, dan semua ciri-ciri ilahi. Semuanya ini adalah untuk kita nikmati. Anugerah bukanlah pemberian benda-benda materiil, bukan pula pemberian karunia-karunia rohani, melainkan pemberian Diri Allah di dalam Kristus sebagai kenikmatan kita. Sewaktu kita mengalami Allah sebagai kekuatan, hayat, hiburan, perhentian, tenaga, kebenaran dan kekudusan kita, itulah anugerah.
Hal terakhir yang bertalian dengan inkarnasi Allah adalah realitas (kebenaran, LAI). Kapan kala kita menikmati Allah, kita bukan hanya memiliki anugerah, melainkan juga realitas. Memiliki Allah berarti memiliki realitas. Kita dapat mengatakan demikian: Firman adalah Allah yang diekspresikan, hayat adalah Allah yang dibagikan, terang adalah Allah yang bersinar, anugerah adalah Allah yang dinikmati, dan realitas adalah Allah yang didapatkan. Melalui hal-hal inilah Allah dinyatakan di dalam Putra sebagai ekspresi-Nya. Ketika kita menikmati Allah di dalam Kristus sebagai anugerah dan mengenal Dia di dalam Kristus sebagai realitas, kita akan mendapatkan kekayaan-kekayaan Kristus yang tidak terduga. Yohanes 1:16 berkata, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.”
18 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 2 Minggu
Firman Itu Telah Menjadi Daging
Yohanes 1:14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:14; Rm. 8:3-4; Ibr. 2:14; 1 Tim. 3:16; 2 Kor. 5:21
Demi menggenapkan tujuan Allah, Firman itu telah menjelma menjadi manusia yang bernama Yesus Kristus (Yoh. 1:14). Menjadi manusia berarti mengenakan tubuh daging, memiliki hayat dan sifat insani, serta dibatasi oleh ruang dan waktu. Di dalam kekekalan yang lampau, Firman itu tak terbatasi oleh ruang dan waktu, namun sejak Firman itu menjadi manusia, Dia masuk ke dalam ruang dan waktu. Allah yang kita sembah bukan hanya Allah sang Pencipta, tetapi juga Allah yang berinkarnasi. Melalui inkarnasi, Allah yang tak terbatas, telah mengenakan tubuh daging yang terbatas.
Mengapa Allah yang kekal mau mengenakan tubuh daging? Bukankah istilah “daging” di dalam Alkitab mengacu kepada sesuatu yang negatif? Ya. Roma 8:3 memberitahu kita bahwa Allah mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, supaya Dia dapat menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging. Walau mengenakan tubuh daging (Ibr. 2:14; 1 Tim. 3:16), Tuhan Yesus tidak memiliki sifat dosa di dalam daging-Nya (2 Kor. 5:21; Ibr. 4:15). Tuhan Yesus tidak mempunyai dosa dan tak ada sangkut pautnya dengan dosa. Hal ini dilambangkan dengan ular tembaga yang ditinggikan oleh Musa bagi orang Israel yang berdosa (Bil. 21:9; Yoh. 3:14). Ular tembaga itu memiliki bentuk dan rupa ular tetapi tidak memiliki racun ular. Ular tembaga seperti itulah yang menanggung penghakiman Allah atas orang Israel yang terkena racun ular, bahkan peninggian ular itu di padang gurun sekaligus menanggulangi ular yang meracuni mereka.
Meskipun Kristus tidak memiliki dosa dalam daging, namun Dia disalibkan dalam daging (Kol. 1:22; 1 Ptr. 3:18). Ketika Kristus disalibkan, di satu pihak, Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa kita (Yoh. 1:29); di pihak lain, Dia adalah “ular tembaga” yang ditinggikan untuk menghakimi Iblis (Yoh. 12:31; 16:11), dan dengan itu Dia juga membinasakan Iblis (Ibr. 2:14). Tidak cukup demikian, melalui penyaliban Kristus dalam daging, Allah menghukum dosa yang dibawa masuk oleh Iblis ke dalam daging manusia. Hasilnya, kita dapat berjalan menurut roh, agar tuntutan keadilan hukum Taurat bisa digenapkan di dalam kita yang tidak lagi hidup menurut daging (Rm. 8:4).
Yohanes 1:14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:14; Rm. 8:3-4; Ibr. 2:14; 1 Tim. 3:16; 2 Kor. 5:21
Demi menggenapkan tujuan Allah, Firman itu telah menjelma menjadi manusia yang bernama Yesus Kristus (Yoh. 1:14). Menjadi manusia berarti mengenakan tubuh daging, memiliki hayat dan sifat insani, serta dibatasi oleh ruang dan waktu. Di dalam kekekalan yang lampau, Firman itu tak terbatasi oleh ruang dan waktu, namun sejak Firman itu menjadi manusia, Dia masuk ke dalam ruang dan waktu. Allah yang kita sembah bukan hanya Allah sang Pencipta, tetapi juga Allah yang berinkarnasi. Melalui inkarnasi, Allah yang tak terbatas, telah mengenakan tubuh daging yang terbatas.
Mengapa Allah yang kekal mau mengenakan tubuh daging? Bukankah istilah “daging” di dalam Alkitab mengacu kepada sesuatu yang negatif? Ya. Roma 8:3 memberitahu kita bahwa Allah mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, supaya Dia dapat menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging. Walau mengenakan tubuh daging (Ibr. 2:14; 1 Tim. 3:16), Tuhan Yesus tidak memiliki sifat dosa di dalam daging-Nya (2 Kor. 5:21; Ibr. 4:15). Tuhan Yesus tidak mempunyai dosa dan tak ada sangkut pautnya dengan dosa. Hal ini dilambangkan dengan ular tembaga yang ditinggikan oleh Musa bagi orang Israel yang berdosa (Bil. 21:9; Yoh. 3:14). Ular tembaga itu memiliki bentuk dan rupa ular tetapi tidak memiliki racun ular. Ular tembaga seperti itulah yang menanggung penghakiman Allah atas orang Israel yang terkena racun ular, bahkan peninggian ular itu di padang gurun sekaligus menanggulangi ular yang meracuni mereka.
Meskipun Kristus tidak memiliki dosa dalam daging, namun Dia disalibkan dalam daging (Kol. 1:22; 1 Ptr. 3:18). Ketika Kristus disalibkan, di satu pihak, Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa kita (Yoh. 1:29); di pihak lain, Dia adalah “ular tembaga” yang ditinggikan untuk menghakimi Iblis (Yoh. 12:31; 16:11), dan dengan itu Dia juga membinasakan Iblis (Ibr. 2:14). Tidak cukup demikian, melalui penyaliban Kristus dalam daging, Allah menghukum dosa yang dibawa masuk oleh Iblis ke dalam daging manusia. Hasilnya, kita dapat berjalan menurut roh, agar tuntutan keadilan hukum Taurat bisa digenapkan di dalam kita yang tidak lagi hidup menurut daging (Rm. 8:4).
17 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 1 Sabtu
Dilahirkan Dari Allah
Yohanes 1:13
Orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:12-13
Kita yang percaya di dalam Kristus telah dilahirkan dari Allah dan telah menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13). Bagi kita sekarang, Allah adalah Bapa kita, dan kita adalah anak-anak-Nya. Karena kita telah dilahirkan dari Allah, kini kita memiliki hayat-Nya. Hayat Allah adalah ilahi, kekal dan tak dapat rusak. Hayat ini adalah faktor dasar dari seluruh warisan rohani yang kita miliki di dalam keselamatan Allah.
Banyak guru-guru Alkitab mengatakan bahwa kita ini diangkat anak (diadopsi) oleh Allah dan kemudian diberi status sebagai anak-anak Allah. Menurut pengajaran mereka, karena keadaan kita begitu miskin dan terlantar di dalam dosa, maka Allah menaruh belas kasihan kepada kita, lalu mengadopsi kita sehingga kita menjadi anak-anak “pungut”-Nya. Allah bagaikan seorang dermawan kaya raya yang memungut anak seorang pengemis miskin. Namun, benarkah pengajaran yang demikian? Sama sekali tidak benar! Kita menjadi anak-anak Allah bukan karena faktor adopsi atau dipungut, melainkan karena faktor kelahiran. Yohanes 1:13 dengan jelas menegaskan bahwa kita adalah orang-orang yang diperanakkan (dilahirkan) dari Allah! Kita bukan anak-anak pungut-Nya, kita adalah anak-anak Allah dalam hayat dan sifat-Nya.
Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki hayat dan sifat-Nya. Seperti halnya seorang anak mempunyai hayat dan sifat ayahnya karena ia terlahir olehnya, bukan anak angkat, maka kita pun memiliki hayat dan sifat Allah Bapa, karena kita terlahir oleh-Nya dan bukan diangkat oleh Dia. Puji Tuhan, kita adalah anak-anak Allah Tritunggal yang memiliki hayat dan sifat ilahi!
Andaikata Anda adalah anak presiden Amerika Serikat tidakkah Anda mempunyai perasaan bangga yang istimewa? Tetapi, kita memiliki jenis keputraan yang lebih agung. Kita adalah anak-anak Allah yang memiliki hayat dan sifat ilahi! Memang dahulu kita adalah orang-orang yang berdosa, tetapi sekarang kita adalah anak-anak Allah. O, alangkah mulianya, kita adalah anak-anak Allah! Tadinya Allah hanya mempunyai Putra Tunggal sebagai satu-satunya ekspresi-Nya. Namun sekarang Allah melalui pelipatgandaan hayat-Nya, telah memiliki banyak putra sebagai ekspresi-Nya.
Yohanes 1:13
Orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:12-13
Kita yang percaya di dalam Kristus telah dilahirkan dari Allah dan telah menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13). Bagi kita sekarang, Allah adalah Bapa kita, dan kita adalah anak-anak-Nya. Karena kita telah dilahirkan dari Allah, kini kita memiliki hayat-Nya. Hayat Allah adalah ilahi, kekal dan tak dapat rusak. Hayat ini adalah faktor dasar dari seluruh warisan rohani yang kita miliki di dalam keselamatan Allah.
Banyak guru-guru Alkitab mengatakan bahwa kita ini diangkat anak (diadopsi) oleh Allah dan kemudian diberi status sebagai anak-anak Allah. Menurut pengajaran mereka, karena keadaan kita begitu miskin dan terlantar di dalam dosa, maka Allah menaruh belas kasihan kepada kita, lalu mengadopsi kita sehingga kita menjadi anak-anak “pungut”-Nya. Allah bagaikan seorang dermawan kaya raya yang memungut anak seorang pengemis miskin. Namun, benarkah pengajaran yang demikian? Sama sekali tidak benar! Kita menjadi anak-anak Allah bukan karena faktor adopsi atau dipungut, melainkan karena faktor kelahiran. Yohanes 1:13 dengan jelas menegaskan bahwa kita adalah orang-orang yang diperanakkan (dilahirkan) dari Allah! Kita bukan anak-anak pungut-Nya, kita adalah anak-anak Allah dalam hayat dan sifat-Nya.
Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki hayat dan sifat-Nya. Seperti halnya seorang anak mempunyai hayat dan sifat ayahnya karena ia terlahir olehnya, bukan anak angkat, maka kita pun memiliki hayat dan sifat Allah Bapa, karena kita terlahir oleh-Nya dan bukan diangkat oleh Dia. Puji Tuhan, kita adalah anak-anak Allah Tritunggal yang memiliki hayat dan sifat ilahi!
Andaikata Anda adalah anak presiden Amerika Serikat tidakkah Anda mempunyai perasaan bangga yang istimewa? Tetapi, kita memiliki jenis keputraan yang lebih agung. Kita adalah anak-anak Allah yang memiliki hayat dan sifat ilahi! Memang dahulu kita adalah orang-orang yang berdosa, tetapi sekarang kita adalah anak-anak Allah. O, alangkah mulianya, kita adalah anak-anak Allah! Tadinya Allah hanya mempunyai Putra Tunggal sebagai satu-satunya ekspresi-Nya. Namun sekarang Allah melalui pelipatgandaan hayat-Nya, telah memiliki banyak putra sebagai ekspresi-Nya.
16 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 1 Jumat
Diberi Kuasa Supaya Menjadi Anak-anak Allah
Yohanes 1:12
Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:11-12; 1 Yoh. 3:1
Allah, yang juga Sang Firman kekal itu, datang melalui Kristus kepada milik kepunyaan-Nya sendiri, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima Dia (Yoh. 1:11). Mereka tidak menerima Dia sebab mereka tidak mengenal Dia. Tetapi, semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya ke dalam nama-Nya (Yoh. 1:12).
Makna kata “percaya” dalam Yohanes 1:12 tidak hanya berarti mengakui, tetapi terlebih berarti menerima, menerima Kristus - Firman Allah yang hidup. Kalau seseorang hanya mengakui, atau hanya sebatas setuju kepada fakta Alkitab, ia masih belum dapat dikatakan percaya. Seseorang dapat dikatakan percaya apabila ia telah menerima Kristus sendiri sebagai Juruselamat dan hayatnya. Menerima Kristus berarti dengan iman membiarkan Dia masuk ke dalam roh kita, tinggal di dalam kita sebagai hayat dan segala sesuatu kita.
Semua orang yang menerima Kristus, Firman Allah yang hidup itu, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti memiliki Kristus sebagai hayat kita. Kristus sebagai hayat ini adalah Roh keputraan, dan Roh keputraan inilah yang menjadikan kita putra-putra Allah. Kita bisa mengetahui bahwa kita adalah anak-anak Allah melalui dua perkara. Pertama, melalui fakta bahwa kita percaya kepada-Nya dan menyeru nama-Nya. Kedua, melalui fakta bahwa kita dapat dengan mesra berseru kepada Allah, “Abba, Bapa.” Kalau kita dapat memanggil Allah dengan sebutan “Abba, Bapa” semesra itu, maka itu membuktikan bahwa kita adalah anak-anak-Nya.
Diberi kuasa menjadi anak-anak Allah bukanlah hal yang kecil. Bila kita diberi hak untuk menjadi anak seorang presiden, bukankah itu suatu hal yang besar dan membanggakan? Namun alangkah lebih mulianya kita yang percaya ke dalam nama-Nya, sebab kita diberi kuasa menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti mewarisi hayat dan sifat Allah, mewarisi apa adanya Allah beserta segala milik-Nya, bahkan menjadi ekspresi-Nya. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1 Yoh. 3:1a).
Yohanes 1:12
Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:11-12; 1 Yoh. 3:1
Allah, yang juga Sang Firman kekal itu, datang melalui Kristus kepada milik kepunyaan-Nya sendiri, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima Dia (Yoh. 1:11). Mereka tidak menerima Dia sebab mereka tidak mengenal Dia. Tetapi, semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya ke dalam nama-Nya (Yoh. 1:12).
Makna kata “percaya” dalam Yohanes 1:12 tidak hanya berarti mengakui, tetapi terlebih berarti menerima, menerima Kristus - Firman Allah yang hidup. Kalau seseorang hanya mengakui, atau hanya sebatas setuju kepada fakta Alkitab, ia masih belum dapat dikatakan percaya. Seseorang dapat dikatakan percaya apabila ia telah menerima Kristus sendiri sebagai Juruselamat dan hayatnya. Menerima Kristus berarti dengan iman membiarkan Dia masuk ke dalam roh kita, tinggal di dalam kita sebagai hayat dan segala sesuatu kita.
Semua orang yang menerima Kristus, Firman Allah yang hidup itu, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti memiliki Kristus sebagai hayat kita. Kristus sebagai hayat ini adalah Roh keputraan, dan Roh keputraan inilah yang menjadikan kita putra-putra Allah. Kita bisa mengetahui bahwa kita adalah anak-anak Allah melalui dua perkara. Pertama, melalui fakta bahwa kita percaya kepada-Nya dan menyeru nama-Nya. Kedua, melalui fakta bahwa kita dapat dengan mesra berseru kepada Allah, “Abba, Bapa.” Kalau kita dapat memanggil Allah dengan sebutan “Abba, Bapa” semesra itu, maka itu membuktikan bahwa kita adalah anak-anak-Nya.
Diberi kuasa menjadi anak-anak Allah bukanlah hal yang kecil. Bila kita diberi hak untuk menjadi anak seorang presiden, bukankah itu suatu hal yang besar dan membanggakan? Namun alangkah lebih mulianya kita yang percaya ke dalam nama-Nya, sebab kita diberi kuasa menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti mewarisi hayat dan sifat Allah, mewarisi apa adanya Allah beserta segala milik-Nya, bahkan menjadi ekspresi-Nya. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1 Yoh. 3:1a).
15 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 1 Kamis
Menjadi Saksi Tentang Terang Itu
Yohanes 1:6-7
Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:6-10; 2 Kor. 4:4; Kis. 1:8
Sebagai orang yang diutus Allah, Yohanes datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh kesaksiannya semua orang menjadi percaya (Yoh. 1:6-7). Yohanes datang bukan atas kehendaknya sendiri atau untuk melakukan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak Allah guna melaksanakan amanat-Nya. Allah menghendaki semua orang yang berada di dalam kegelapan dosa berjumpa dengan terang itu, mendapatkan terang itu, dan menjadi percaya.
Mengapa Yohanes perlu memberi kesaksian tentang terang itu? Yohanes 1:9-10 mengatakan, “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.” Kesaksian tentang terang itu diperlukan sebab dunia tidak mengenal Dia. Hari ini berapa banyakkah manusia yang benar-benar mengenal Kristus, terang yang sesungguhnya itu? Kebanyakan manusia hari ini masih berada di dalam gelap, sebab pikiran mereka telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2 Kor. 4:4).
Apakah seorang saksi itu? Saksi bukan hanya seorang pemberita atau seorang penginjil. Kata “saksi” sama dengan istilah “martir” dalam bahasa Yunani (Kis. 1:8). Seorang saksi adalah seorang yang mengemban satu kesaksian, kesaksian tentang Kristus, yang adalah terang yang sesungguhnya. Hari ini kitalah saksi-saksi, dan kesaksian kita adalah Injil. Di manapun Injil diberitakan, dipersaksikan, dan diperhidupkan, di sana terang itu bercahaya, menerangi setiap orang yang berada di dalam kegelapan. Hasilnya, banyak orang menjadi percaya dan beroleh hayat yang kekal.
Seorang saksi Kristus juga adalah seorang yang berbicara, yakni membicarakan hal-hal mengenai Kristus. Karena kita adalah saksi-saksi-Nya, maka kita harus membicarakan Dia, berbicara bagi Dia, dan mengutarakan Dia pada setiap kesempatan, bukan hanya di suatu tempat atau suatu waktu tertentu saja. Kesaksian yang demikian akan membuat terang itu bercahaya atas setiap orang yang kita temui dan akan memimpin mereka kepada keselamatan.
Yohanes 1:6-7
Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:6-10; 2 Kor. 4:4; Kis. 1:8
Sebagai orang yang diutus Allah, Yohanes datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh kesaksiannya semua orang menjadi percaya (Yoh. 1:6-7). Yohanes datang bukan atas kehendaknya sendiri atau untuk melakukan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak Allah guna melaksanakan amanat-Nya. Allah menghendaki semua orang yang berada di dalam kegelapan dosa berjumpa dengan terang itu, mendapatkan terang itu, dan menjadi percaya.
Mengapa Yohanes perlu memberi kesaksian tentang terang itu? Yohanes 1:9-10 mengatakan, “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.” Kesaksian tentang terang itu diperlukan sebab dunia tidak mengenal Dia. Hari ini berapa banyakkah manusia yang benar-benar mengenal Kristus, terang yang sesungguhnya itu? Kebanyakan manusia hari ini masih berada di dalam gelap, sebab pikiran mereka telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2 Kor. 4:4).
Apakah seorang saksi itu? Saksi bukan hanya seorang pemberita atau seorang penginjil. Kata “saksi” sama dengan istilah “martir” dalam bahasa Yunani (Kis. 1:8). Seorang saksi adalah seorang yang mengemban satu kesaksian, kesaksian tentang Kristus, yang adalah terang yang sesungguhnya. Hari ini kitalah saksi-saksi, dan kesaksian kita adalah Injil. Di manapun Injil diberitakan, dipersaksikan, dan diperhidupkan, di sana terang itu bercahaya, menerangi setiap orang yang berada di dalam kegelapan. Hasilnya, banyak orang menjadi percaya dan beroleh hayat yang kekal.
Seorang saksi Kristus juga adalah seorang yang berbicara, yakni membicarakan hal-hal mengenai Kristus. Karena kita adalah saksi-saksi-Nya, maka kita harus membicarakan Dia, berbicara bagi Dia, dan mengutarakan Dia pada setiap kesempatan, bukan hanya di suatu tempat atau suatu waktu tertentu saja. Kesaksian yang demikian akan membuat terang itu bercahaya atas setiap orang yang kita temui dan akan memimpin mereka kepada keselamatan.
14 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 1 Rabu
Hayat dan Terang Dalam Firman
Yohanes 1:4-5
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:4-5; Ef. 2:1; 5:8; Yoh. 6:63; Kis. 5:20; Mzm. 119:105, 130; 2 Kor. 4:6
Firman benar-benar adalah keperluan kita yang paling mendasar. Manusia yang telah jatuh dalam dosa memiliki dua masalah utama, yakni mati (Ef. 2:1) dan berada di dalam kegelapan (Ef. 5:8). Agama apa pun tidak dapat menolong orang yang mati dan tinggal di dalam gelap, sebab yang dibutuhkan oleh orang mati bukanlah pengajaran melainkan hayat; dan yang dibutuhkan oleh orang yang berada di dalam kegelapan bukanlah perintah jangan melakukan ini dan itu, melainkan terang. Baik hayat maupun terang, keduanya tercakup di dalam Firman (Yoh. 1:4-5). Karena itu, hanya Firman yang dapat memenuhi keperluan manusia yang berdosa.
Di dalam Alkitab, kita dapat menemukan cukup banyak ayat yang menunjukkan bahwa Firman sangat berkaitan dengan hayat dan terang. Tuhan sendiri berkata bahwa perkataan-perkataan (Firman) yang Dia katakan adalah roh dan hayat (Yoh. 6:63). Kisah Para Rasul 5:20 mengatakan, “... beritakanlah seluruh firman hayat (hidup, LAI) itu kepada orang banyak.” Selanjutnya, pemazmur mengatakan, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang,...” (Mzm. 199:130). Di bagian yang lain dikatakan, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm. 119:105). O, alangkah kayanya Firman itu, di dalamnya tidak hanya ada hayat, terlebih memancarkan terang hayat. Ketika kita menerima Firman, kitapun menerima hayat yang terkandung di dalamnya, dan mendapatkan terang hayat yang terpancar melaluinya.
Yohanes 1:5 mengatakan, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Kegelapan tidak pernah menguasai atau memadamkan terang. Sebaliknya, teranglah yang mengusir kegelapan. Tatkala terang hayat bercahaya di dalam kita, kegelapan pun tersingkir. Tatkala kita datang kepada Firman, maka Ia akan “membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang...” (2 Kor. 4:6). Segala bentuk kematian dan kegelapan rohani adalah disebabkan kekurangan Firman. Bila kita dipenuhi dengan Firman, niscaya batin kita penuh dengan hayat dan terang benderang. Kematian dan kegelapan tidak dapat mengalahkan orang yang dipenuhi dengan Firman, karena Firman mengenyahkan kematian dan kegelapan. Haleluya!
Yohanes 1:4-5
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:4-5; Ef. 2:1; 5:8; Yoh. 6:63; Kis. 5:20; Mzm. 119:105, 130; 2 Kor. 4:6
Firman benar-benar adalah keperluan kita yang paling mendasar. Manusia yang telah jatuh dalam dosa memiliki dua masalah utama, yakni mati (Ef. 2:1) dan berada di dalam kegelapan (Ef. 5:8). Agama apa pun tidak dapat menolong orang yang mati dan tinggal di dalam gelap, sebab yang dibutuhkan oleh orang mati bukanlah pengajaran melainkan hayat; dan yang dibutuhkan oleh orang yang berada di dalam kegelapan bukanlah perintah jangan melakukan ini dan itu, melainkan terang. Baik hayat maupun terang, keduanya tercakup di dalam Firman (Yoh. 1:4-5). Karena itu, hanya Firman yang dapat memenuhi keperluan manusia yang berdosa.
Di dalam Alkitab, kita dapat menemukan cukup banyak ayat yang menunjukkan bahwa Firman sangat berkaitan dengan hayat dan terang. Tuhan sendiri berkata bahwa perkataan-perkataan (Firman) yang Dia katakan adalah roh dan hayat (Yoh. 6:63). Kisah Para Rasul 5:20 mengatakan, “... beritakanlah seluruh firman hayat (hidup, LAI) itu kepada orang banyak.” Selanjutnya, pemazmur mengatakan, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang,...” (Mzm. 199:130). Di bagian yang lain dikatakan, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm. 119:105). O, alangkah kayanya Firman itu, di dalamnya tidak hanya ada hayat, terlebih memancarkan terang hayat. Ketika kita menerima Firman, kitapun menerima hayat yang terkandung di dalamnya, dan mendapatkan terang hayat yang terpancar melaluinya.
Yohanes 1:5 mengatakan, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Kegelapan tidak pernah menguasai atau memadamkan terang. Sebaliknya, teranglah yang mengusir kegelapan. Tatkala terang hayat bercahaya di dalam kita, kegelapan pun tersingkir. Tatkala kita datang kepada Firman, maka Ia akan “membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang...” (2 Kor. 4:6). Segala bentuk kematian dan kegelapan rohani adalah disebabkan kekurangan Firman. Bila kita dipenuhi dengan Firman, niscaya batin kita penuh dengan hayat dan terang benderang. Kematian dan kegelapan tidak dapat mengalahkan orang yang dipenuhi dengan Firman, karena Firman mengenyahkan kematian dan kegelapan. Haleluya!
13 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 1 Selasa
Penciptaan Melalui Firman
Yohanes 1:3
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:3; Ibr. 1:3; Mzm. 19:2; Rm. 10:17
Tahukah Anda betapa besar dan agungnya kuasa Firman? Yohanes 1:3 mengatakan bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Tanpa Firman, mustahil ada alam semesta berikut segala isinya; sebaliknya yang ada hanyalah kehampaan. Seluruh tata surya atau galaksi, beserta sistem atau hukum yang berlaku di dalamnya, semuanya tercipta dan ditopang oleh Firman (Yoh. 1:3; Ibr. 1:3). O, betapa tak terbatasnya kuat kuasa Firman!
Alam semesta ini tidak terjadi dengan sendirinya secara kebetulan, seperti yang dikatakan oleh banyak ilmuwan Atheis. Kita tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi secara kebetulan tentulah tidak beraturan, tidak pasti, selalu berubah-ubah, dan tidak ada hukumnya. Bayangkan kalau sistem yang berlangsung di dalam tubuh kita semuanya terjadi secara kebetulan, betapa kacau balaunya tubuh kita. Bayangkan pula kalau benda-benda dalam tata surya semuanya bergerak secara kebetulan, alangkah menakutkannya tinggal di bumi ini. Namun, yang benar adalah segala sesuatu dijadikan oleh Firman, dan segala sesuatu ditopang oleh Firman-Nya yang penuh kuasa. Karenanya, alam semesta dapat tertata dengan rapi, teratur, serasi, sebagaimana yang dikatakan oleh pemazmur, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (Mzm. 19:2).
Di dalam pengalaman rohani kita, Firman dapat menciptakan banyak hal yang kita butuhkan. Apakah Anda kekurangan iman? Firman dapat menciptakan iman di dalam Anda (Rm. 10:17). Apakah Anda kekurangan damai sejahtera? Apakah Anda juga kekurangan sukacita dan perhentian? Mungkin di dalam Anda juga gelap, kekurangan terang, atau tidak ada kekuatan. Jangan buru-buru mencari hiburan duniawi, sebab semuanya itu mengecewakan dan sia-sia saja. Datanglah kepada Firman. Hanya Firman yang dapat memberikan semua yang Anda butuhkan itu, sebab Firman sanggup menjadikan dari yang tidak ada menjadi ada. Singkatnya, Firmanlah keperluan kita yang sesungguhnya. Asal ada Firman cukuplah, sebab segala perkara positif yang kita perlukan, semuanya telah tercakup di dalam-Nya. Puji Tuhan!
Yohanes 1:3
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:3; Ibr. 1:3; Mzm. 19:2; Rm. 10:17
Tahukah Anda betapa besar dan agungnya kuasa Firman? Yohanes 1:3 mengatakan bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Tanpa Firman, mustahil ada alam semesta berikut segala isinya; sebaliknya yang ada hanyalah kehampaan. Seluruh tata surya atau galaksi, beserta sistem atau hukum yang berlaku di dalamnya, semuanya tercipta dan ditopang oleh Firman (Yoh. 1:3; Ibr. 1:3). O, betapa tak terbatasnya kuat kuasa Firman!
Alam semesta ini tidak terjadi dengan sendirinya secara kebetulan, seperti yang dikatakan oleh banyak ilmuwan Atheis. Kita tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi secara kebetulan tentulah tidak beraturan, tidak pasti, selalu berubah-ubah, dan tidak ada hukumnya. Bayangkan kalau sistem yang berlangsung di dalam tubuh kita semuanya terjadi secara kebetulan, betapa kacau balaunya tubuh kita. Bayangkan pula kalau benda-benda dalam tata surya semuanya bergerak secara kebetulan, alangkah menakutkannya tinggal di bumi ini. Namun, yang benar adalah segala sesuatu dijadikan oleh Firman, dan segala sesuatu ditopang oleh Firman-Nya yang penuh kuasa. Karenanya, alam semesta dapat tertata dengan rapi, teratur, serasi, sebagaimana yang dikatakan oleh pemazmur, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (Mzm. 19:2).
Di dalam pengalaman rohani kita, Firman dapat menciptakan banyak hal yang kita butuhkan. Apakah Anda kekurangan iman? Firman dapat menciptakan iman di dalam Anda (Rm. 10:17). Apakah Anda kekurangan damai sejahtera? Apakah Anda juga kekurangan sukacita dan perhentian? Mungkin di dalam Anda juga gelap, kekurangan terang, atau tidak ada kekuatan. Jangan buru-buru mencari hiburan duniawi, sebab semuanya itu mengecewakan dan sia-sia saja. Datanglah kepada Firman. Hanya Firman yang dapat memberikan semua yang Anda butuhkan itu, sebab Firman sanggup menjadikan dari yang tidak ada menjadi ada. Singkatnya, Firmanlah keperluan kita yang sesungguhnya. Asal ada Firman cukuplah, sebab segala perkara positif yang kita perlukan, semuanya telah tercakup di dalam-Nya. Puji Tuhan!
12 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 1 Senin
Firman itu Adalah Allah
Yohanes 1:1
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:1-2; 1 Tim. 6:16; 3 Kor. 3:6; Yoh. 6:63; 4:24; Ef. 6:17-18
Firman itu pada mulanya tidak hanya bersama-sama dengan Allah, tetapi juga adalah Allah itu sendiri (Yoh. 1:1). Ungkapan “Firman itu bersama-sama dengan Allah...” berarti Firman itu tidak terpisah dari Allah; bukannya Firman adalah Firman, dan Allah adalah Allah, yang terpisah satu dengan lainnya. Keduanya adalah satu; itulah sebabnya klausa selanjutnya mengatakan Firman itu adalah Allah. Kita dapat mengatakan bahwa Firman adalah definisi, penjelasan, dan ekspresi Allah. Atau dengan kata lain, Firman adalah Allah yang didefinisikan, dijelaskan, dan diekspresikan.
Kita tidak dapat melihat Allah secara visual dengan mata jasmani kita, sebab Dia itu misterius, berada di dalam terang yang tak terhampiri (1 Tim. 6:16). Seorangpun tak pernah melihat Allah dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Namun, kita dapat mengenal Allah melalui Firman, sebab Firman adalah definisi, penjelasan, dan ekspresi Allah. Apa adanya Allah, seperti kasih, terang, kudus, dan adil-benar, semuanya terwahyu melalui Firman.
Karena Firman itu bersama-sama dengan Allah, bahkan adalah Allah sendiri, maka menjamah Firman berarti menjamah Allah; menikmati Firman berarti menikmati Allah, mendapatkan Firman berarti mendapatkan Allah. Sudahkah Anda nampak betapa ajaibnya hal ini? Sebab itu, tatkala kita datang kepada Firman, jangan sekedar membacanya seperti membaca surat kabar atau seperti membaca buku sejarah. Kalau kita demikian membacanya, kita tidak akan dapat menjamah, menikmati, dan mendapatkan Allah. Paling-paling kita hanya mendapatkan setumpuk pengetahuan belaka. Padahal, Paulus mengatakan bahwa hukum yang tertulis atau huruf-huruf justru mematikan (2 Kor. 3:6).
Rohlah yang memberikan hayat (Yoh. 6:63). Setiap kali kita datang kepada Firman, kita harus melatih roh kita, yakni dengan segala doa menerima Firman (Ef. 6:17-18), sehingga roh kita berkontak dengan Allah yang adalah Roh (Yoh. 4:24). Pembacaan yang demikian akan membuat kita menjamah Allah, menikmati Allah, bahkan mendapatkan diri Allah sendiri sebagai hayat dan suplai hayat kita. Ingatlah, Firman bukanlah sekumpulan pengetahuan atau kata-kata indah belaka, melainkan perwujudan dari Allah yang kekal.
Yohanes 1:1
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:1-2; 1 Tim. 6:16; 3 Kor. 3:6; Yoh. 6:63; 4:24; Ef. 6:17-18
Firman itu pada mulanya tidak hanya bersama-sama dengan Allah, tetapi juga adalah Allah itu sendiri (Yoh. 1:1). Ungkapan “Firman itu bersama-sama dengan Allah...” berarti Firman itu tidak terpisah dari Allah; bukannya Firman adalah Firman, dan Allah adalah Allah, yang terpisah satu dengan lainnya. Keduanya adalah satu; itulah sebabnya klausa selanjutnya mengatakan Firman itu adalah Allah. Kita dapat mengatakan bahwa Firman adalah definisi, penjelasan, dan ekspresi Allah. Atau dengan kata lain, Firman adalah Allah yang didefinisikan, dijelaskan, dan diekspresikan.
Kita tidak dapat melihat Allah secara visual dengan mata jasmani kita, sebab Dia itu misterius, berada di dalam terang yang tak terhampiri (1 Tim. 6:16). Seorangpun tak pernah melihat Allah dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Namun, kita dapat mengenal Allah melalui Firman, sebab Firman adalah definisi, penjelasan, dan ekspresi Allah. Apa adanya Allah, seperti kasih, terang, kudus, dan adil-benar, semuanya terwahyu melalui Firman.
Karena Firman itu bersama-sama dengan Allah, bahkan adalah Allah sendiri, maka menjamah Firman berarti menjamah Allah; menikmati Firman berarti menikmati Allah, mendapatkan Firman berarti mendapatkan Allah. Sudahkah Anda nampak betapa ajaibnya hal ini? Sebab itu, tatkala kita datang kepada Firman, jangan sekedar membacanya seperti membaca surat kabar atau seperti membaca buku sejarah. Kalau kita demikian membacanya, kita tidak akan dapat menjamah, menikmati, dan mendapatkan Allah. Paling-paling kita hanya mendapatkan setumpuk pengetahuan belaka. Padahal, Paulus mengatakan bahwa hukum yang tertulis atau huruf-huruf justru mematikan (2 Kor. 3:6).
Rohlah yang memberikan hayat (Yoh. 6:63). Setiap kali kita datang kepada Firman, kita harus melatih roh kita, yakni dengan segala doa menerima Firman (Ef. 6:17-18), sehingga roh kita berkontak dengan Allah yang adalah Roh (Yoh. 4:24). Pembacaan yang demikian akan membuat kita menjamah Allah, menikmati Allah, bahkan mendapatkan diri Allah sendiri sebagai hayat dan suplai hayat kita. Ingatlah, Firman bukanlah sekumpulan pengetahuan atau kata-kata indah belaka, melainkan perwujudan dari Allah yang kekal.
11 April 2009
Yohanes Volume 1 - Minggu 1 Minggu
Pada Mulanya Adalah Firman
Yohanes 1:1
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:1, 3; Ibr. 1:3
Dibandingkan dengan ketiga kitab Injil lainnya, bahasa yang digunakan dalam Injil Yohanes lebih mudah dan sederhana. Walau demikian, tidak berarti bahwa kitab ini dangkal. Sebaliknya, Injil Yohanes merupakan salah satu kitab yang terdalam di Alkitab. Sebagai contoh, kalimat pertama dari kitab ini berkata, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dapatkah Anda menjelaskan apa yang dimaksud dengan ungkapan, “Pada mulanya...” dalam ayat tersebut? Sungguh tidak mudah menjelaskannya.
Ungkapan “Pada mulanya...” dalam Yohanes 1:1 ditujukan pada kekekalan yang lampau, yakni sebelum dimulainya waktu, sebelum penciptaan langit dan bumi. Jadi, sebelum segala sesuatu diciptakan, di dalam kekekalan yang lampau, yang ada adalah Firman. Tidak hanya demikian, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Sampai di sini kita bisa mengatakan bahwa Firman adalah permulaan segala sesuatu. Dengan kata lain, tanpa Firman, segala sesuatu tidak memiliki permulaan, sebab segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Yoh. 1:3).
Karena Firman adalah permulaan dari segala sesuatu, maka kita dapat menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita bangun pagi, apakah yang menjadi permulaan kita? Alangkah baiknya bila Firman menjadi permulaan dari segala aktifitas kita di hari itu. Ketika kita hendak mengambil suatu keputusan penting dalam hidup kita, adakah kita terlebih dahulu datang kepada Firman dan menjadikannya permulaan dari proses pengambilan keputusan itu? Saudara saudari kekasih, Firman haruslah menjadi permulaan dari segala sesuatu dalam kehidupan kita.
Dalam kehidupan pernikahan kita, keluarga kita, pekerjaan kita, pelayanan kita, dan berbagai aspek lainnya dalam hidup kita, Firman haruslah ditempatkan pada urutan yang pertama. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Allah dengan Firman-Nya yang penuh kuasa menopang segala yang ada. Alam semesta ini bisa bekerja dengan sempurna tak lain karena ditopang oleh Firman. Bayangkan, betapa rapuh dan bahayanya kehidupan kita bila tidak ditopang oleh Firman.
Yohanes 1:1
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Ayat Bacaan: Yoh. 1:1, 3; Ibr. 1:3
Dibandingkan dengan ketiga kitab Injil lainnya, bahasa yang digunakan dalam Injil Yohanes lebih mudah dan sederhana. Walau demikian, tidak berarti bahwa kitab ini dangkal. Sebaliknya, Injil Yohanes merupakan salah satu kitab yang terdalam di Alkitab. Sebagai contoh, kalimat pertama dari kitab ini berkata, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dapatkah Anda menjelaskan apa yang dimaksud dengan ungkapan, “Pada mulanya...” dalam ayat tersebut? Sungguh tidak mudah menjelaskannya.
Ungkapan “Pada mulanya...” dalam Yohanes 1:1 ditujukan pada kekekalan yang lampau, yakni sebelum dimulainya waktu, sebelum penciptaan langit dan bumi. Jadi, sebelum segala sesuatu diciptakan, di dalam kekekalan yang lampau, yang ada adalah Firman. Tidak hanya demikian, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Sampai di sini kita bisa mengatakan bahwa Firman adalah permulaan segala sesuatu. Dengan kata lain, tanpa Firman, segala sesuatu tidak memiliki permulaan, sebab segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Yoh. 1:3).
Karena Firman adalah permulaan dari segala sesuatu, maka kita dapat menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita bangun pagi, apakah yang menjadi permulaan kita? Alangkah baiknya bila Firman menjadi permulaan dari segala aktifitas kita di hari itu. Ketika kita hendak mengambil suatu keputusan penting dalam hidup kita, adakah kita terlebih dahulu datang kepada Firman dan menjadikannya permulaan dari proses pengambilan keputusan itu? Saudara saudari kekasih, Firman haruslah menjadi permulaan dari segala sesuatu dalam kehidupan kita.
Dalam kehidupan pernikahan kita, keluarga kita, pekerjaan kita, pelayanan kita, dan berbagai aspek lainnya dalam hidup kita, Firman haruslah ditempatkan pada urutan yang pertama. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Allah dengan Firman-Nya yang penuh kuasa menopang segala yang ada. Alam semesta ini bisa bekerja dengan sempurna tak lain karena ditopang oleh Firman. Bayangkan, betapa rapuh dan bahayanya kehidupan kita bila tidak ditopang oleh Firman.
10 April 2009
Lukas Volume 7 - Minggu 4 Sabtu
Ministri Surgawi Kristus dalam Kenaikan-Nya
Lukas 24:51-52
Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.
Ayat Bacaan: Luk. 24:51-52; 1 Kor. 15:45; Kis. 2:36; Ef. 4:8
Kenaikan Tuhan ke surga mengarah kepada kedatangan-Nya kembali. Di antara kenaikan-Nya dan kedatangan-Nya kembali ada zaman kasih karunia, supaya Kristus yang pneumatik, yaitu Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45), dapat menerapkan penebusan-Nya yang almuhit ke atas umat pilihan-Nya, menjadi keselamatan mereka yang sempurna, dan supaya Dia dapat menghasilkan serta membangun gereja, yaitu Tubuh-Nya, untuk mendirikan Kerajaan Allah di bumi.
Hari ini, di dalam kenaikan-Nya, Kristus memiliki ministri surgawi. Dalam ministri surgawi-Nya, Dia melayani sebagai Penguasa dan sebagai Kepala (Kis. 2:36). Sebagai Penguasa raja-raja di bumi, Dia mengatur seluruh dunia supaya injil kerajaan dapat disebarluaskan dan orang-orang pilihan Allah dapat dikumpulkan bersama-sama. Semua raja di bumi ada di bawah pemerintahan-Nya. Menurut sejarah, semua pemerintahan, negara, masyarakat, peristiwa, kemajuan tekhnologi, dan lain-lain; adalah untuk menyebarluaskan injil. Tentu saja, segala sesuatu di bawah pengendalian manusia; tetapi sesungguhnya ada di bawah pengaturan pemerintahan Kristus di atas takhta. Sebagai Kepala Tubuh, Dia memperbaiki, memperlengkapi, melayakkan anggota-anggota-Nya sehingga mereka bisa menggenapkan orang lain pada waktunya. Kemudian Dia mengutus beberapa orang yang telah disempurnakan ke tempat-tempat yang baru untuk menyebarluaskan kerajaan-Nya dan membangun gereja-Nya. Haleluya untuk ministri surgawi-Nya!
Ketika naik ke tempat tinggi, Tuhan Yesus tidak hanya mencurahkan Roh Kudus yang membuat kita mempunyai kekuatan bersaksi bagi Dia, juga memberikan pemberian-pemberian (karunia) kepada kita, supaya kita menerima anugerah, dapat menunaikan tugas, dalam gereja melayani Dia (Ef. 4:8). Kenaikan-Nya membuat Dia mencurahkan Roh Kudus, juga membuat Ia mengaruniakan pemberian-pemberian. Roh Kudus membuat kita mempunyai kekuatan bersaksi bagi-Nya; pemberian-pemberian (karunia-karunia) membuat kita mempunyai kecakapan melayani Dia, membangun gereja bagi-Nya. Itulah yang dilakukan Kristus dalam ministri surgawi-Nya.
Lukas 24:51-52
Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.
Ayat Bacaan: Luk. 24:51-52; 1 Kor. 15:45; Kis. 2:36; Ef. 4:8
Kenaikan Tuhan ke surga mengarah kepada kedatangan-Nya kembali. Di antara kenaikan-Nya dan kedatangan-Nya kembali ada zaman kasih karunia, supaya Kristus yang pneumatik, yaitu Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45), dapat menerapkan penebusan-Nya yang almuhit ke atas umat pilihan-Nya, menjadi keselamatan mereka yang sempurna, dan supaya Dia dapat menghasilkan serta membangun gereja, yaitu Tubuh-Nya, untuk mendirikan Kerajaan Allah di bumi.
Hari ini, di dalam kenaikan-Nya, Kristus memiliki ministri surgawi. Dalam ministri surgawi-Nya, Dia melayani sebagai Penguasa dan sebagai Kepala (Kis. 2:36). Sebagai Penguasa raja-raja di bumi, Dia mengatur seluruh dunia supaya injil kerajaan dapat disebarluaskan dan orang-orang pilihan Allah dapat dikumpulkan bersama-sama. Semua raja di bumi ada di bawah pemerintahan-Nya. Menurut sejarah, semua pemerintahan, negara, masyarakat, peristiwa, kemajuan tekhnologi, dan lain-lain; adalah untuk menyebarluaskan injil. Tentu saja, segala sesuatu di bawah pengendalian manusia; tetapi sesungguhnya ada di bawah pengaturan pemerintahan Kristus di atas takhta. Sebagai Kepala Tubuh, Dia memperbaiki, memperlengkapi, melayakkan anggota-anggota-Nya sehingga mereka bisa menggenapkan orang lain pada waktunya. Kemudian Dia mengutus beberapa orang yang telah disempurnakan ke tempat-tempat yang baru untuk menyebarluaskan kerajaan-Nya dan membangun gereja-Nya. Haleluya untuk ministri surgawi-Nya!
Ketika naik ke tempat tinggi, Tuhan Yesus tidak hanya mencurahkan Roh Kudus yang membuat kita mempunyai kekuatan bersaksi bagi Dia, juga memberikan pemberian-pemberian (karunia) kepada kita, supaya kita menerima anugerah, dapat menunaikan tugas, dalam gereja melayani Dia (Ef. 4:8). Kenaikan-Nya membuat Dia mencurahkan Roh Kudus, juga membuat Ia mengaruniakan pemberian-pemberian. Roh Kudus membuat kita mempunyai kekuatan bersaksi bagi-Nya; pemberian-pemberian (karunia-karunia) membuat kita mempunyai kecakapan melayani Dia, membangun gereja bagi-Nya. Itulah yang dilakukan Kristus dalam ministri surgawi-Nya.
09 April 2009
Lukas Volume 7 - Minggu 4 Jumat
Keterangkatan Manusia Penyelamat ke Surga
Lukas 24:51-52
Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.
Ayat Bacaan: Luk. 24:50-52; Kis. 1:12; 2:4, 36; Ibr. 2:9; 12:2; 8:1-2; Ef. 1:22
Lukas 24:50-51 mengatakan, “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga.” Hal ini terjadi di Bukit Zaitun (Kis. 1:12). Sewaktu Manusia-Penyelamat berbicara kepada murid-murid, Dia terangkat ke surga. Dia naik ke tempat yang paling tinggi di alam semesta. Murid-murid pulang ke Yerusalem dan sangat bersukacita (ay. 52), menunggu diperlengkapi dengan Roh Kudus, kuasa dari tempat tinggi.
Kenaikan Kristus adalah peninggian Allah terhadap-Nya. Dalam kenaikan ini Dia dijadikan Kristus Allah dan Tuhan dari semua (Kis. 2:36) untuk melaksanakan ministri surgawi-Nya di bumi sebagai Roh itu yang dicurahkan dari surga ke atas Tubuh-Nya yang tersusun dari kaum beriman-Nya (Kis. 2:4, 17-18), seperti yang dicatat oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul. Dalam kenaikan-Nya, Kristus dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat (Ibr. 2:9). Ketika Dia naik ke surga, Allah memberikan satu mahkota kepada-Nya, dan mahkota ini adalah kemuliaan dan kehormatan ilahi-Nya.
Dalam kenaikan-Nya, Kristus pun didudukkan di atas takhta pemerintahan Allah. Dalam kenaikan-Nya Dia dinobatkan. Mengenai hal ini, Ibrani 12:2 mengatakan bahwa Kristus sekarang “duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Selanjutnya, dalam kenaikan-Nya, Manusia-Penyelamat dijadikan Tuhan dan Kristus. Ini diwahyukan dalam Kisah Para Rasul 2:36: “Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” Dalam kenaikan-Nya, Kristus juga dijadikan Kepala atas segala sesuatu bagi gereja. Efesus 1:22 mengatakan bahwa “segala sesuatu diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus, dan Dia telah diberikan kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.”
Akhirnya, dalam kenaikan-Nya, Kristus dijadikan Imam Besar kita untuk melayankan hayat surgawi dan suplai surgawi dari kekayaan ilahi kepada semua orang beriman di bumi (Ibr. 8:1-2), supaya kita memiliki hayat dan kuasa surgawi untuk menempuh suatu kehidupan yang surgawi di bumi ini.
Lukas 24:51-52
Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.
Ayat Bacaan: Luk. 24:50-52; Kis. 1:12; 2:4, 36; Ibr. 2:9; 12:2; 8:1-2; Ef. 1:22
Lukas 24:50-51 mengatakan, “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga.” Hal ini terjadi di Bukit Zaitun (Kis. 1:12). Sewaktu Manusia-Penyelamat berbicara kepada murid-murid, Dia terangkat ke surga. Dia naik ke tempat yang paling tinggi di alam semesta. Murid-murid pulang ke Yerusalem dan sangat bersukacita (ay. 52), menunggu diperlengkapi dengan Roh Kudus, kuasa dari tempat tinggi.
Kenaikan Kristus adalah peninggian Allah terhadap-Nya. Dalam kenaikan ini Dia dijadikan Kristus Allah dan Tuhan dari semua (Kis. 2:36) untuk melaksanakan ministri surgawi-Nya di bumi sebagai Roh itu yang dicurahkan dari surga ke atas Tubuh-Nya yang tersusun dari kaum beriman-Nya (Kis. 2:4, 17-18), seperti yang dicatat oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul. Dalam kenaikan-Nya, Kristus dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat (Ibr. 2:9). Ketika Dia naik ke surga, Allah memberikan satu mahkota kepada-Nya, dan mahkota ini adalah kemuliaan dan kehormatan ilahi-Nya.
Dalam kenaikan-Nya, Kristus pun didudukkan di atas takhta pemerintahan Allah. Dalam kenaikan-Nya Dia dinobatkan. Mengenai hal ini, Ibrani 12:2 mengatakan bahwa Kristus sekarang “duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Selanjutnya, dalam kenaikan-Nya, Manusia-Penyelamat dijadikan Tuhan dan Kristus. Ini diwahyukan dalam Kisah Para Rasul 2:36: “Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” Dalam kenaikan-Nya, Kristus juga dijadikan Kepala atas segala sesuatu bagi gereja. Efesus 1:22 mengatakan bahwa “segala sesuatu diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus, dan Dia telah diberikan kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.”
Akhirnya, dalam kenaikan-Nya, Kristus dijadikan Imam Besar kita untuk melayankan hayat surgawi dan suplai surgawi dari kekayaan ilahi kepada semua orang beriman di bumi (Ibr. 8:1-2), supaya kita memiliki hayat dan kuasa surgawi untuk menempuh suatu kehidupan yang surgawi di bumi ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)