Hitstat

28 January 2014

Filipi - Minggu 23 Selasa



Pembacaan Alkitab: Yoh. 6:63; Why. 19:13


Kita akan merasa lebih sulit lagi untuk mendefinisikan Firman daripada mendefinisikan Roh itu. Dalam Perjanjian Baru, Anak Allah disebut Firman. Wahyu 19:13 mengatakan, “. . . dan nama-Nya ialah: Firman Allah.” Dahulu kita pernah menunjukkan bahwa Kristus sebagai Firman Allah berarti Dia adalah definisi, keterangan, dan ekspresi Allah. Namun pengertian demikian kurang memadai. Kita harus maju selangkah lagi, yaitu bahwa Perjanjian Baru juga menunjukkan Firman sebagai Roh itu. Tuhan Yesus telah mengatakan, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (Yoh. 6:63). Selain itu, dalam Efesus 6:17, bahkan mengatakan bahwa Roh itu adalah firman. Jadi, Bapa, Anak, Roh Kudus, Roh itu, dan firman bersatu dengan sangat misterius.

Dalam berita terdahulu telah kita tunjukkan Roh itu adalah perampungan sempurna dari proses yang dialami Allah Tritunggal. Kita juga menunjukkan bahwa firman adalah perwujudan dari pembicaraan Allah. Tetapi mengapa firman itu adalah Roh itu dan Roh itu adalah firman? Saya akui bahwa masalah ini sangat sukar dimengerti dan sangat sulit dijelaskan.

Untuk membantu pengertian kita, kita boleh memakai ilustrasi menggores atau menyalakan korek api. Korek api terbuat dari fosfor, maka sebatang korek api adalah perwujudan fosfor. Karena itu, korek api pada hakikatnya adalah satu dengan fosfor. Ini berarti korek api ialah fosfor dan fosfor ialah korek api. Jika ilustrasi ini kita terapkan pada Alkitab dan Roh itu, kita dapat mengibaratkan Alkitab sebagai korek api dan Roh sebagai fosfor. Tidak hanya demikian, karena korek api terbuat dari fosfor dan perwujudan fosfor, maka kita dapat memanfaatkan fosfor dengan mudah dan praktis. Hari ini Allah Tritunggal adalah Roh itu, dan Roh itu terwujud di dalam firman. Walau kita sukar memegang Roh itu, tetapi kita dapat membawa Alkitab dengan mudah. Bagaimana kita memiliki fosfor melalui korek api, demikian pula kita memiliki Roh itu melalui Alkitab.

Namun, sekalipun firman adalah perwujudan Roh itu, banyak orang Kristen yang tidak berkontak dengan firman melalui Roh itu. Walau mereka sangat menyukai Alkitab, ketika mereka “menggores” firman, korek api ini tidak menyala. Jika kita ingin menyalakan sebuah korek api, tidak cukup hanya mengasihi korek api itu. Kita perlu menggores korek api itu dengan tepat. Seprinsip dengan itu, bila kita ingin berkontak dengan Roh yang terwujud dalam firman, kita perlu “menggores” “korek api” firman itu melalui melatih roh kita.

Kalau kita ingin “menggores” “korek api” firman, kita harus melatih roh kita. Janganlah menggunakan pikiran atau emosi Anda untuk menggores firman. Firman hanya akan menyala dalam pengalaman kita jika kita menggoresnya di dalam roh kita. Inilah alasan perlunya kita melatih roh kita untuk berdoa ketika kita membaca firman Allah, yakni mendoabacakan firman.

Meskipun saya telah melaksanakan berdoa sambil membaca firman, tetapi saya belum lagi mengetahui bagaimana melatih roh. Dalam masalah ini saya menerima bantuan dari Saudara Watchman Nee. Saudara Watchman Nee menekankan pentingnya kita melatih roh. Ia mengatakan, ketika kita berbicara kepada seseorang, terutama ketika kita menyampaikan berita, kita harus mendorong keluar roh kita dengan memakainya. Ia menunjukkan, jika kita berbicara kepada orang dengan bagian-bagian lain dari diri kita, kita akan menjamah bagian yang sama dari orang tersebut. Sebagai contoh, jika kita memakai pikiran kita, kita akan menjamah pikiran orang lain. Jika kita berbicara dari emosi, kita akan menjamah emosi orang lain. Saudara Watchman Nee berkata, jika kita ingin menjamah roh orang, kata Saudara Nee, kita harus menggunakan roh kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Filipi, Buku 3, Berita 45

No comments: