Hitstat

06 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 3 Sabtu

Munculnya Makhluk-makhluk Hidup Di Daratan (1)
Kejadian 1:24
“Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.’ Dan jadilah demikian.”

Pada hari keenam, hayat yang lebih tinggi dengan kesadaran yang lebih tinggi pun muncul (Kej. 1:24-25). Hayat yang lebih tinggi ini dapat menggenapkan sesuatu di bumi. Kejadian 49:9 menyebutkan singa. Dalam perlambangan, Yehuda disamakan dengan singa yang dapat mengerjakan banyak hal. Satu Samuel 6:7, 12a menyebutkan dua ekor lembu menyusui yang menarik kereta dengan Tabut Perjanjian di atasnya. Dua ayat ini menyatakan bahwa binatang buas dan ternak, keduanya dapat melakukan sesuatu di bumi. Kesadaran mereka lebih tinggi daripada ikan, bahkan lebih tinggi daripada burung, dan mereka dapat mengerjakan sesuatu di bumi. Inilah langkah ketiga pertumbuhan hayat.
Kita mempunyai Kristus sebagai hayat di batin kita. Mulai dari tingkatan rumput, sayur-sayuran, kemudian menjadi pohon. Kemudian, kita akan berada pada tingkatan lain, yaitu tingkatan binatang. Pada tingkatan ini, mula-mula kita menjadi ikan, lambat laun tumbuh menjadi burung, dan akhirnya tumbuh lebih lanjut pula menjadi salah satu ternak dengan hayat yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih berarti.
Untuk memiliki pertumbuhan seperti ini, kita harus menyadari kebutuhan akan terang. Pada hari pertama, kita mempunyai terang dari Roh dan Firman. Ketika maju terus, kita memerlukan terang hari keempat. Pada hari keempat, terang datang dari Kristus, dari gereja, dan dari kaum saleh yang bercahaya. Karena kita berada di bawah penerangan Kristus, gereja, dan kaum saleh yang bercahaya, kita tidak lagi sekadar memiliki munculnya hayat, tetapi juga memiliki pertumbuhan hayat ke tingkatan yang lebih tinggi.

Munculnya Makhluk-Makhluk Hidup Di Daratan (2)
Yes. 40:31

Mengenai proses pertumbuhan, kita bukan membicarakan sesuatu yang teoritis. Dalam Yesaya 40:31 dikatakan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan menjadi seumpama rajawali yang naik terbang. Inilah hayat yang lebih tinggi. Banyak yang dapat bersaksi bahwa mereka sering kali terbang ke atas. Kita dapat hidup dalam segala macam situasi. Tetapi dengan adanya pertumbuhan lebih lanjut, kita bukan hanya dapat tetap hidup dalam lingkungan yang buruk, bahkan dapat melampauinya. Kita terbang tinggi sehingga tidak ada suatu apa pun yang dapat menjamah kita.
Sering kali istri kita mempersulit diri kita. Sebelum kita menjadi burung, kita akan berdebat, berperang mulut dengannya. Begitu kita menjadi rajawali, dan istri kita mempersulit kita, maka suami rajawali ini akan terbang tinggi, membubung ke angkasa, dan mengamati terus sampai sang istri berkata, “Puji Tuhan.” Lalu suami rajawali ini akan kembali. Dengan pengalaman, kita dapat membedakan kapan kita menjadi ikan dan kapan kita menjadi rajawali. Rajawali tidak perlu bergumul, begitu ada kesulitan tiba, dia lantas terbang tinggi. Sungguh sulit menangkapnya. Ketika ada kesusahan, penderitaan, kesulitan, rajawali terbang ke angkasa. Tentunya terbang tinggi yang dimaksud disini bukan berarti kita meninggalkan masalah yang sedang dihadapi, melainkan kita tetap menghadapi masalah itu namun dengan bersandar kepada hayat Tuhan yang sanggup terbang tinggi melampaui semua masalah. Itulah kemenangan yang sesungguhnya, kemenangan yang melampaui segalanya.
Dalam 1 Samuel 6, terdapat sebuah kereta dengan Tabut Perjanjian. Kita perlu memikul sebagian dari berat Tabut Perjanjian. Kita perlu mengerjakan sesuatu, mempunyai sedikit aktivitas di bumi. Jangan hanya terbang tinggi. Apa yang disebut “kehidupan surgawi”, bukanlah kehidupan yang tertinggi. Setelah kita menjadi sedemikian surgawi, kita masih perlu kembali ke bumi. Janganlah hanya bertumbuh semakin tinggi saja, tetapi bertumbuhlah agar dapat turun ke bawah.
Tuhan Yesus adalah Allah. Namun untuk memenuhi kehendak Bapa, Dia datang ke bumi menjadi “lembu”. Dia datang untuk menjadi kurban persembahan, Dia datang untuk memikul semua beban kita. Setiap kali ada orang menganiaya Dia, Dia malah menaruh si penganiaya itu ke atas bahu-Nya, dan berkata, “Aku akan memikulmu ke surga.” Haleluya, hayat sedemikian hari ini ada di dalam kita. Bila Tuhan Yesus telah menjadi “lembu”, maka kitapun dapat bertumbuh menjadi “lembu” untuk memikul pekerjaan Tuhan. Amin.

Penerapan:
Banyak orang mendambakan kemenangan rohani namun tidak mau memikul beban yang Tuhan berikan. Kita perlu bertumbuh dalam hayat, bukan hanya untuk menang atas dosa atau temperamen kita, tetapi terlebih untuk memikul pekerjaan Tuhan.

Pokok Doa:
Tuhan, aku mengasihi Engkau juga kesaksian-Mu. Jadikan aku berkat di dalam rumah-Mu, menjadi seorang yang Engkau pakai dalam pekerjaan-Mu. Tuhan, aku mau melayani-Mu sepanjang umurku.

05 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 3 Jumat

Munculnya Makhluk-Makhluk Hidup Di Dalam Air Dan Di Udara (1)
Kejadian 1:20
“Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.’”

Bentuk luar ikan dan burung tentu berbeda. Namun prinsip hayat batininya sama. Ikan di air menunjukkan ada hayat di dalam air. Burung-burung di bumi menunjukkan ada hayat di bumi. Awalnya, air dan bumi mati dan tanpa hayat, tetapi Allah mampu menciptakan makhluk hidup, walaupun bentuknya berbeda-beda, dan menempatkannya di sana. Air tidak dapat menghasilkan ikan, bumi pun tidak dapat menghasilkan burung. Ikan dan burung diciptakan Allah dan ditempatkan di air dan di bumi. Allah-lah sumber hayat.
Ikan laut tinggal di dalam air asin. Lazimnya, di dalam air asin tidak bisa tumbuh apa-apa; air asin malah bisa membunuh hayat. Namun, ikan dapat hidup di dalam air asin. Airnya boleh asin, tetapi ikannya tak pernah asin; kecuali mereka mati. Hal ini sangat berarti.
Semua umat manusia, seluruh masyarakat, adalah seperti lautan air asin yang luas. Namun, orang Kristen masih dapat hidup. Kita dapat hidup, tinggal di dalam masyarakat yang seperti ini, dan tidak menjadi asin karenanya. Akan tetapi, begitu kita mati, kita akan menjadi asin. Ketika ikan masih hidup, garam sama sekali tidak berdaya terhadapnya, ia dapat hidup di dalam air asin. Sungguh ajaib! Kita, orang Kristen yang memiliki hayat Kristus, dapat hidup di tengah-tengah masyarakat yang gelap dan jahat ini. Haleluya! Kita dapat tidak terpengaruh sehingga menjadi asin karena kita memiliki hayat. Hayat ini dapat menyingkirkan segala unsur garam dari laut. Hayat ini dapat tetap hidup di dalam segala macam situasi yang mati. Di tengah-tengah lingkungan kematian, hayat ini tetap dapat hidup.

Munculnya Makhluk-Makhluk Hidup Di Dalam Air Dan Di Udara (2)
Kol. 3:1-4

Pekerjaan pada hari kelima melambangkan Tuhan Yesus sebagai Tuhan hayat. Hayat tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Setelah Tuhan Yesus bangkit dan terangkat, pekerjaan-Nya adalah menyalurkan hayat kepada anak-anak-Nya (1 Kor. 15:45), sehingga mereka boleh memiliki hayat-Nya dengan berkelimpahan (Yoh. 10:10b). Kenaikan-Nya, yang dilambangkan oleh pekerjaan pada hari keempat adalah untuk menjadi hayat bagi kaum beriman. Kita dapat melihat hal ini dalam Kolose 3:1-4: “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”
Hayat telah diberikan oleh Tuhan Yesus. Tuhan telah naik ke surga. Sasaran-Nya adalah kaum beriman-Nya mengekspresikan hayat-Nya dalam cara yang praktis sebelum Ia datang kembali. Tuhan Yesus mau kaum beriman-Nya mengerjakan ekspresi praktis dari hayat yang berasal dari kematian dan kebangkitan-Nya di atas bumi. Mereka telah menerima hayat melalui kematian dan kebangkitan Tuhan. Secara kedudukan, mereka telah memperoleh kedudukan surgawi. Apa yang kurang adalah suatu bentuk kehidupan di bumi yang mengekspresikan hayat Tuhan.
Tuhan Yesus hari ini sedang melatih kita, untuk bertumbuh ke tingkatan hayat yang lebih tinggi. Tuhan Yesus menghendaki kaum beriman-Nya mengekspresikan Dia dengan suatu bentuk kehidupan tertentu. Tuhan mendambakan kaum beriman-Nya, di mana pun mereka, mengekspresikan hayat-Nya melalui kehidupan mereka. Semua hayat yang diterima oleh kaum beriman dari Tuhan Yesus pada awalnya tidak ada bedanya. Namun, karena perbedaan karakter dan pengalaman kaum beriman, mereka mengekspresikan hayat Tuhan dengan cara yang berbeda. Kita dapat melihat hal ini dengan jelas dalam perumpamaan tentang penabur. Walau yang ditaburkan oleh penabur adalah benih dari jenis yang sama, walau hayat dalam benih itu sama, dan walau ladangnya subur, pada akhirnya, ada yang menghasilkan tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat. Setiap orang menerima hayat yang sama dari Tuhan. Namun ada ekspresi yang berbeda dari hayat ini.

Penerapan:
Untuk mengetahui apakah dunia telah mempengaruhi kita, perhatikanlah bagaimana kita berbicara. Perkataan kita seringkali tidak berbeda dengan orang dunia. Selain itu perhatikanlah bagaimana cara kita berpakaian. Saudara saudari, kita perlu bersandarkan hayat Tuhan yang di dalam kita untuk menanggulangi unsur-unsur dunia yang melekat pada cara hidup kita!

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku tidak mau menjadi orang Kristen mati yang diasinkan dan dikalahkan oleh dunia. Perbaharuilah pikiranku agar tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Aku mau senantiasa dihidupkan oleh hayat-Mu.

04 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 3 Kamis

Bulan Dan Bintang-bintang
Kejadian 1:16
“Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.”

Benda-benda penerang itu bukan hanya melambangkan Kristus, tetapi juga umat-Nya, karena bulan adalah lambang gereja dan bulan adalah lambang orang Kristen secara individu. Bulan tidak memancarkan terang dari dirinya sendiri, tetapi hanya memantulkan terang dari matahari. Demikian juga gereja tidak memantulkan terangnya sendiri, tetapi hanya memantulkan terang dari Kristus. Pada zaman ini kaum beriman “bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Flp. 2:15).
Ada dua hal yang harus kita lakukan berkaitan dengan hal ini. Pertama, secara moral kita harus memantulkan terang Kristus dalam dunia yang gelap ini. Kedua, kita harus memerintah atas kuasa kegelapan dengan terang dari perkataan dan perbuatan kita. Ketika Kerajaan Seribu Tahun datang, kita akan benar-benar menjadi raja dan memerintah atas segala sesuatu.
Di dalam kegelapan dunia hari ini, manusia telah kehilangan terang matahari. Namun gereja telah terangkat ke tempat tinggi dan masih dapat melihat matahari. Gereja yang tinggal dalam terang Kristus menjadi terang bagi kegelapan malam yang telah menolak Kristus. Pada hari pertama ketika kita diselamatkan, kita menerima terang. “Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang” (Yoh. 12:36). Sekarang kita memantulkan terang, kita menjadi saksi Kristus dalam angkatan yang jahat. “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang” (Mat. 5:14, 16).

Untuk Menguasai Dan Menunjukkan Masa-Masa Yang Tetap Dan Hari-Hari Dan Tahun-Tahun

Pada hari keempat, Allah menjadikan matahari, bulan, dan bintang-bintang. Terang hari keempat ini untuk pembedaan. Tanpa terang hari keempat, sulit membedakan segala sesuatu. Kita semua memerlukan pembedaan supaya bertumbuh dalam hayat. Orang-orang muda perlu membedakan ke mana boleh pergi dan ke mana tidak, apa yang boleh dikatakan dan apa yang tidak, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak, apa yang dari Allah dan apa yang dari Iblis, apa yang berada di dalam roh dan apa yang berada di dalam jiwa. Bahkan siswa sekolah menengah pertama perlu membedakan teman-teman sekelas mana yang boleh dihubungi dan mana yang tidak boleh mereka dekati. Semua pembedaan ini datang dari terang.
Jika kita memiliki daya pembeda sedemikian, maka kita akan memiliki otoritas. Otoritas terbesar bagi orang Kristen yang telah mencapai tahap hayat dalam keterangkatan adalah menang atas kuasa kegelapan. Dalam keterangkatan, kaum beriman menjadi jelas tentang peperangan rohani, serangan musuh, pencobaan dari roh-roh jahat, permainan palsu roh-roh jahat. Mereka tahu bagaimana menang atas musuh dengan darah Anak Domba, dengan perkataan kesaksian mereka, dan dengan tidak mengasihi hayat jiwa mereka. Mereka terlatih untuk menggunakan pedang Roh, yaitu firman Allah, untuk menyerang kekuatan Iblis. Kemudian mereka tahu bagaimana berdoa dengan cara meminta Allah untuk menghancurkan semua aktivitas Iblis. Mereka tahu bagaimana berdiri atas tumpuan salib, memegang kemenangan yang telah dirampungkan oleh salib, menggunakan perkataan pujian untuk mengusir serangan musuh. Mereka tahu bagaimana melatih tekad untuk berperang terhadap semua siasat musuh. Dengan demikian, mereka akan sering menghancurkan Iblis di bawah kaki mereka.
Selain untuk pembedaan, benda-benda penerang juga menandakan Kristus sebagai permulaan baru kita. Setiap hari adalah permulaan baru, karena setiap hari kita mengalami matahari terbit. Setiap hari kita mengalami fajar. Sebagai matahari, Kristus memberi permulaan baru kepada kita hari demi hari. Setiap pagi, bersekutu dengan Tuhan kiranya menjadi fajar kita, yaitu saat bintang fajar menyingsing di dalam kita sebagai permulaan baru. Setiap hari adalah suatu permulaan baru. Ratapan 3:22-23 mengatakan bahwa tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi. Semua hari, tanda-tanda, musim-musim, dan tahun-tahun adalah bayang-bayang. Kristuslah realitasnya (Kol. 2:16-17). Kristus adalah hari raya, Kristus adalah bulan baru, Kristus adalah hari Sabat, Kristus adalah permulaan tahun, Kristus adalah segalanya. Kristus adalah permulaan baru kita.

Penerapan:
Bagaimanapun penilaian kita terhadap gereja, gereja adalah bulan yang memantulkan terang Kristus. Untuk mendapatkan terang Kristus, kita harus berada di dalam kehidupan gereja yang tepat, menyatukan diri dengan kaum beriman lain untuk bersama-sama memikul kesaksian Kristus. Semakin banyak kita menempuh hidup gereja, semakin banyak terang kita terima, semakin banyak pertumbuhan hayat kita alami.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih untuk kehidupan gereja yang tepat tempat aku dapat menerima banyak sorotan terang-Mu dan bertumbuh ke arah diri-Mu. Ya Tuhan, ampunilah aku yang sering mengabaikan gereja. Aku bertobat dan berpaling kepada-Mu.

03 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 3 Rabu

Hari Keempat
Kejadian 1:14-15
“Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.’ Dan jadilah demikian.”

Pekerjaan pada hari keempat melambangkan kenaikan Tuhan Yesus. Pada hari keempat Allah menjadikan benda-benda penerang. Dia menjadikan matahari, bulan, dan bintang-bintang. Penekanannya di sini adalah pada hal-hal yang di atas yaitu yang surgawi. Ini adalah kenaikan/keterangkatan Kristus dengan kaum beriman-Nya. Dalam posisi keterangkatan, kaum saleh memiliki persekutuan yang lebih intim dengan Tuhan Yesus dan menikmati terang yang lebih kuat dari terang hari pertama.
Setelah kebangkitan, urutan peristiwa berikutnya adalah keterangkatan. “Di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga” (Ef. 2:6).
Tuhan Yesus dibangkitkan dari antara orang mati dan didudukkan di sebelah kanan Bapa di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut (Ef. 1:20-21). Hayat keterangkatan adalah hayat yang menang atas semua otoritas dan kuasa Iblis. Sebelum pengalaman keterangkatan, kita hanya memiliki kemenangan atas dosa-dosa, dunia dan daging. Ketika kita dalam keterangkatan, kita mengalami peperangan dengan semua pemerintah, penguasa, kekuasaan, kerajaan, serta setiap nama dalam wilayah kegelapan, dan menang atas mereka. Kita dapat mencapai hayat keterangkatan ketika kita telah mengalami ketiga pemisahan yang disebutkan di minggu kedua.
Catatan: Untuk memperdalam topik ‘Kenaikan’, bacalah buku Pengalaman Hayat jilid 2, bab 16, terbitan Yayasan Perpustakaan Injil.

Matahari Melambangkan Kristus
Kej. 1:14-19, Luk. 1:78; Yoh. 8:12; 1:9, 5; Yoh. 3:19-20

Kejadian 1:14-19 membicarakan terang, secara jelas — matahari, bulan, dan bintang-bintang. Kejadian 1:16 mengata-kan bahwa Allah menjadikan benda penerang yang lebih besar. Benda penerang yang lebih besar ini pastilah matahari, karena selanjutnya dikatakan bahwa ia dijadikan untuk menguasai siang. Matahari adalah sumber panas dan terang bagi bumi. Terangnya berasal dari dirinya sendiri, tidak berubah, dan konstan. Tuhan Yesus adalah “Terang yang besar” dari surga. Ketika Dia berada di bumi, Dia adalah Surya Pagi dari tempat yang tinggi (Luk. 1:78). Dia juga “Terang Dunia” (Yoh. 8:12). Dia adalah Terang yang sesungguhnya yang datang ke dunia, menerangi setiap manusia (1:9). Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (ay. 5).
Maleakhi 4:2 mengatakan bahwa Kristus adalah surya kebenaran. Pada sayap-Nya (yaitu penyinaran-Nya) terdapat penyembuhan. Tanpa penyinaran-Nya, akan ada kematian. Ketika penyinaran-Nya terbit, datanglah kesembuhan.
Sebagai matahari terbit, Kristus menyinari mereka yang duduk di dalam kegelapan dan dalam naungan maut. Yesus sang Juruselamat adalah Surya Fajar untuk zaman kegelapan. Sebelum Kristus datang, bumi ada dalam kegelapan malam. Bersama kedatangan-Nya sebagai matahari, ada permulaan siang, dan bumi mulai diterangi oleh Dia. Jika Dia tidak menjadi matahari terbit, Dia tidak bisa menghalau kegelapan yang menyelimuti bumi, dan Dia tidak dapat menjadi Juruselamat kita.
Di dalam perlambangan, matahari selain melambangkan Kristus, ia juga melambangkan orang-orang Kristen yang akan bersinar seperti matahari dalam kerajaan. Matius 13:43a memberi tahu kita bahwa orang-orang Kristen pemenang akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan yang akan datang. Dalam Kerajaan, banyak orang Kristen akan bersinar seperti matahari.
Hari ini, Kristus adalah matahari. Kelak, orang-orang Kristen yang menang juga akan menjadi matahari. Namun, tentunya ini tidak terjadi secara gratis. Hari ini kondisi kita masih banyak yang terbungkus dalam kegelapan, mana mungkin ketika Kristus datang mendadak kita bisa bersinar seperti matahari.
Saudara saudari bila kita damba kelak dapat bersinar seperti matahari, marilah kita membenci kegelapan dan lebih banyak memandang kepada Kristus, sang Terang sejati, agar terang-Nya setiap hari meresapi kita, makin lama makin terang. Dengan demikian, perlahan-lahan kita dipenuhi dengan terang, maka kelak kita baru bisa bersinar seperti matahari.

Penerapan:
Sebagai orang yang telah percaya Tuhan, terang Tuhan pasti sudah bersinar di dalam kita. Namun mengapa kita masih terikat dalam dosa, kelemahan kita? Ini menyatakan kita masih kekurangan terang hari keempat. Saudara saudari marilah kita terus menuntut pertumbuhan hayat sehingga kita mencapai tahap keterangkatan agar kita bisa sepenuhnya mengalahkan musuh.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku tidak mau hidup sendirian. Aku mau berada di antara orang-orang kudus-Mu. Berikanlah terang-Mu lebih banyak ke dalamku setiap kali aku membaca dan merenungkan firman-Mu. Jadikan aku seorang yang bercahaya di dalam kegelapan.

02 May 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 3 Selasa

Kehidupan Yang Tersembunyi (1)
Kejadian 1:12
“Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.”

Rerumputan memang hijau, tetapi tidak dapat menghasilkan sesuatu untuk dinikmati. Ia memiliki akar, tetapi sangat dangkal, mudah sekali menjadi layu. Berbeda dengan rerumputan, tumbuh-tumbuhan yang berbiji selain bisa menghasilkan sesuatu untuk dinikmati, juga memiliki akar yang lebih dalam sehingga lebih tahan terhadap teriknya matahari. Pohon buah-buahan memiliki akar yang lebih dalam dan lebih kuat lagi, tahan perubahan iklim, bisa menaungi kehidupan di bawahnya, dan menghasilkan buah untuk dinikmati. Kalau tumbuh-tumbuhan yang berbiji hanya berumur semusim, pohon buah-buahan bisa hidup puluhan bahkan ratusan tahun.
Sebagai orang Kristen, kita harus bertumbuh menurut urutan hayat yang demikian. Kita harus semakin berakar di dalam Kristus sehingga kita bisa menghasilkan sesuatu untuk dinikmati, baik oleh Allah maupun manusia. Kalau kita memiliki akar yang dalam dan kuat, kita tentu dapat berdiri kokoh saat diterpa oleh badai dunia ini. Bukan hanya demikian, bahkan banyak anak-anak Allah dapat bernaung pada kita. Bagaimana kita bisa memiliki akar yang dalam ini? Kita perlu memiliki kehidupan yang tersembunyi dengan Tuhan (Mat. 6:4, 6, 18). Tanpa kehidupan yang tersembunyi dengan Tuhan ini, maka kehidupan rohani kita akan sangat dangkal. Kita tidak akan tahan terhadap teriknya matahari kesulitan dan penindasan.
Saudara saudari, bagaimana keadaan kehidupan rohani kita? Apakah semuanya hanya ada di hadapan orang, ataukah kita memiliki waktu-waktu persekutuan yang sangat pribadi dengan Tuhan?

Kehidupan Yang Tersembunyi (2)
Hos. 14:6-8; Kid. 4:12

Hosea 14:6-8, ada tiga kali menyinggung Libanon, tujuannya supaya kita memperhatikan kehidupan yang tersembunyi. Kehidupan yang tersembunyi ini, meskipun seperti bunga bakung bertumbuh di lembah yang sunyi, seperti pohon zaitun yang lahirnya tidak semarak, dan seperti bunga anggur yang tidak mencolok, tetapi dengan tulus, murni, hidup menengadah kepada Allah dan banyak berbuah. Inilah kehidupan orang Kristen yang seharusnya kita miliki. Kalau kita ingin memiliki kehidupan yang demikian, harus berakar melalui terus berlatih dalam hidup sehari-hari. Sedikitnya setiap hari ada waktu khusus untuk membaca Alkitab dan berdoa secara pribadi di depan Allah, sambil membaca Alkitab sambil berdoa. Kalau mungkin, menetapkan sedikit waktu, berdoa untuk kaum saleh, berdoa untuk gereja-gereja di setiap tempat, berdoa untuk pekerjaan Allah. Kalau ada orang Kristen yang pada hari-hari biasa tidak membaca Alkitab dan berdoa, jangan harap ia memiliki kehidupan yang tersembunyi. Berakar bukan satu slogan yang kosong, melainkan pelaksanaan dalam hidup sehari-hari, untuk itu perlu komitmen kita agar disiplin setiap hari.
Kehidupan yang tersembunyi menuntut adanya persekutuan yang langsung dan intim dengan Tuhan. Kidung Agung 4:12 berkata, “Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, sumur tertutup dan mata air termeterai.” Di sini “kebun” adalah “kebun bunga”. “Kebun bunga” di Alkitab adalah gambaran maksud hati Allah yang semula. Kebun bunga tidak seperti tanah ladang yang umum untuk tanaman yang biasa, juga bukan seperti sawah yang khusus untuk bercocok tanam. Kebun bunga khusus untuk keindahan, untuk kenikmatan. Dalam kebun bunga mungkin ada pohon, tetapi tujuannya bukan untuk mendapatkan kayu; mungkin ada pohon buah, tetapi tujuannya bukan pada menghasilkan buah. Yang ditekankan dalam kebun bunga adalah rumpunan bunga. Yang diharapkan dari kebun bunga adalah keindahan. Sebab itu, menanam bunga adalah untuk kesenangan hati. Taman bunga di sini adalah “kebun tertutup”, artinya, kebun ini bukanlah kebun untuk umum, tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, melainkan yang tertutup, yang khusus untuk Kristus. Keindahan yang di dalam hanya untuk Kristus, dinikmati oleh Kristus. Kehidupan yang demikian tidak mencari perkenan manusia, hanya mencari perkenan Kristus.
Singkatnya, semua keindahan orang Kristen, semua tuntutan orang Kristen, dan semua pengalaman orang Kristen, tidak seharusnya suka dipamerkan, sengaja diperlihatkan kepada orang. Semuanya seharusnya tenang, tertutup, dan termeterai bagi Tuhan. Kehidupan yang tersembunyi semacam ini bisa memuaskan hati Tuhan.

Penerapan:
Adalah suatu hal yang tragis bila kita sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen namun tetap seperti rerumputan yang hanya sedap dipandang namun tidak cukup berakar dan tidak berbuah. Tuhan tidak menyelamatkan kita supaya kita sekadar sedap dipandang, tetapi Ia ingin kita bertumbuh ke arah Dia, menjadi seperti Dia, dan memperhidupkan Dia. Milikilah kehidupan yang tersembunyi dengan Tuhan.

Pokok Doa:
Ya Tuhan, bawalah aku bertumbuh hari ini lebih dari pada kemarin, lebih dari pada minggu lalu, lebih dari pada bulan lalu, dan lebih dari pada tahun lalu. Aku mau memiliki kehidupan yang berakar di dalam Engkau, menyerap kelimpahan-Mu dan menghasilkan buah.

01 May 2006

Kejadian Volume 3 - Minggu 1 Senin

Supaya Ada Tumbuh-Tumbuhan Di Bumi (1)
Kejadian 1:11
“Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.’ Dan jadilah demikian.”

Pada hari ketiga, daratan muncul. Kita telah berada dalam kebangkitan, maka sekarang adalah perkara menghasilkan buah (Kej. 1:11-12). Kebangkitan dan menghasilkan buah adalah dua perkara yang berhubungan langsung. Dalam Roma 7:4 dikatakan “... yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah”.
Setelah ketiga pemisahan, yaitu pemisahan terang dari gelap, lalu pemisahan air yang ada di bawah cakrawala dari air yang ada di atasnya, dan terakhir pemisahan daratan dari air yang ada di bawah cakrawala, maka berbagai jenis hayat muncul dari daratan. Mula-mula yang tumbuh adalah tunas-tunas muda (deshe’ - bahasa Ibrani) yang berarti lumut (rumput) hijau yang lembut. Setelah lumut, lalu tumbuh-tumbuhan berbiji, dan pohon buah-buahan yang menghasilkan buah. Pada dasarnya buah yang dihasilkan bukan untuk kegunaannya sendiri, tetapi untuk Tuhan (Rm. 7:4).
Berkenaan dengan masalah berbuah, kita perlu perhatikan bahwa setiap jenis pohon buah mampu berbuah menurut jenisnya sendiri. Dengan demikian hanya kasih yang dapat melahirkan kasih, hanya sukacita yang dapat melahirkan sukacita, dan seterusnya. Jika kita menginginkan kasih, maka kita harus menunjukkan kasih. Jika kita menginginkan sukacita, maka kita harus menunjukkan sukacita. Apa yang dituai adalah seturut apa yang ditaburkan.
Selain itu, jangan takut menghadapi masalah, sebab buah yang tumbuh di bawah panas matahari akan menjadi buah yang paling lebat dan akan menjadi kesukaan bagi tuannya.

Supaya Ada Tumbuh-Tumbuhan Di Bumi (2)
Yoh. 12:24

Allah menyebut tanah yang kering sebagai “darat”. Akar kata dari bahasa aslinya adalah “hancur atau remuk”. Kita semua tahu bahwa tanah yang subur selalu telah melalui proses dihancurkan (dicangkul). Jika tidak dicangkul, tidak bisa menjadi subur. Semakin tanah itu dicangkul semakin baik hasil penuaiannya kelak. Hanya dengan cara inilah tanah memberikan perawatan kepada benih.
Kita harus menyadari bahwa kemampuan diri kita selalu menjadi penghalang dari manifestasi kemampuan Allah. Yohanes 12:24, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Jika kita tidak membenci hayat jiwa, alamiah, kemampuan, talenta, hikmat, dan kebajikan kita, kita tidak bisa menghasilkan banyak buah. Ketika kita melepaskan hayat alamiah dan kemampuan yang diwariskan dari daging kita dan menerima tangan Allah dengan hati yang hancur, maka kita bisa memperoleh buah dari Allah.
Masalah kita, sekalipun kuasa dari daging hilang, hayat alamiah tetap mempertimbangkan dirinya sebagai yang ‘baik’ dengan segala kemampuan alamiahnya dan menolak untuk menyerah. Hayat jiwa yang hancur dari kaum saleh adalah tanah yang subur di tangan Bapa Surgawi. Allah tidak meminta kemampuan kita, tetapi ketidakmampuan kita. Dia tidak meminta kekuatan kita, tetapi kelemahan kita. Dia tidak meminta kita dipenuhi tetapi justru meminta kita dikosongkan. Dia tidak menginginkan kita untuk bertahan tetapi justru menginginkan kita menyerah. Menghasilkan buah tidak bisa melalui mengembangkan diri sendiri, tetapi melalui dihancurkan, direndahkan, dan menjadi lemah.
Kita sering berpikir bahwa daging yang berdosa harus dilenyapkan. Tetapi kita seharusnya menyadari bahwa untuk menghasilkan buah, harus mengesampingkan kebaikan, kejujuran, dan kebenaran jiwa (diri sendiri) kita. Kita mungkin diisi dengan pekerjaan kita sendiri. Namun Allah berpikir bahwa pekerjaan tersebut harus dihancurkan. Kita menilai diri kita terlalu besar. Jarang sekali kita menyadari bahwa diri kita sudah terinfeksi oleh dosa Adam. Semua kebaikan dan maksud yang kita hasilkan seperti gelembung sabun.
Ketika kita lemah, kosong, dan menjadi tanah liat di tangan tukang tembikar, maka hayat Kristus akan tinggal di dalam kita dan kuat kuasa-Nya akan termanifestasi di dalam tubuh kita. Semakin kita mengenal salib dan realitas kebangkitan, semakin kita mengenal arti dari diremukkannya hayat jiwa kita.

Penerapan:
Hari ini kita perlu dengan serius menimbang keadaan kita di hadapan Tuhan. Apakah hayat kita masih mirip lumut yang tidak tahan panas matahari ataukah kita sudah bertumbuh menjadi pohon yang bisa menghasilkan buah? Apakah “sinar matahari” justru membuat kita berbuah lebat ataukah justru mematikan kita?

Pokok Doa:
Tuhan, Engkau sungguh agung tak terbatas. Ampunilah aku yang kurang mengalami Engkau dalam hidupku. Aku cukup puas dengan pengalamanku yang lampau. Tuhan, aku mau mengalami Engkau yang baru hari ini.

29 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 2 Sabtu

Pemisahan Daratan Dengan Air (1)
Kejadian 1:9-10
“Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering’. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.”

Meskipun Allah telah memisahkan air yang ada di bawah langit dengan air yang ada di atasnya, tetapi seluruh bumi masih digenangi air kematian. Karena itu, “Berfirmanlah Allah: Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering’” (Kej. 1:9). Inilah pekerjaan Allah di hari ketiga. Allah tidak meniadakan laut, namun Ia membatasinya. Sekarang, laut tidak dapat melewati batasnya (Mzm. 104:9) dan tidak mungkin membanjiri bumi. Allah bahkan telah memberikan nama untuknya (Kej. 1:10). Tanah yang kering juga menerima nama baru (ay. 10) untuk membedakannya dari laut.
Di dalam dirinya sendiri, manusia hanyalah daging dan ia sangat lemah. Karena manusia tidak lain adalah debu! Segala-nya terbatas. Jika toh memiliki kebajikan, maka kebajikannya juga terbatas. Pemikiran, karakter, tingkah laku, dan etika manusia sepenuhnya berasal dari manusia, karena itu tidak mungkin ditingkatkan kualitasnya. Kelemahan, kemerosotan, dan dosa adalah kualitas manusia pada umumnya. Karena itu, jika manusia tetap adalah manusia - lemah, dikalahkan, berdosa — Allah tidak akan pernah puas. Allah itu sempurna. Ia menginginkan manusia juga sempurna dalam karakter, moral, tingkah laku, dan pemikiran, menurut standar Allah.
Karena manusia tidak mungkin diperbaiki, maka dalam rencana keselamatannya, Allah memang tidak bermaksud memperbaikinya, tetapi Ia akan membuat manusia menjadi “ciptaan baru”. Itulah sebabnya Allah menyingkirkan dan membatasi laut sehingga daratan muncul di hari ketiga, hari kebangkitan. Haleluya! Puji Tuhan untuk pekerjaan-Nya.

Pemisahan Daratan Dengan Air (2)
Kej. 7:17-24; 8:13-17, 22; 11:1-9; 12:1, 5, 7; Flp. 1:21; Rm. 8:9

Kondisi aneh yang ada di tengah-tengah manusia berdosa adalah pemikiran bahwa tingkah laku mereka cukup sempurna dan memuaskan Allah, dengan Tuhan Yesus tidak beda terlalu jauh! Alangkah butanya kita! Ini berarti kita tidak dapat melihat keindahan Tuhan Yesus. Allah berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17). Di luar sang Putra, tidak ada seorang pun yang berkenan di hati Bapa karena “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Rm. 8:8). Karena itu, kita perlu terus tinggal di dalam Kristus. Bagaimana caranya?
Daratan yang muncul dari genangan air kematian adalah lambang Kristus yang bangkit dari kematian. Segala sesuatu yang Allah sediakan untuk manusia terpusat di atas sebidang tanah ini. Manusia tercipta untuk mendiami bumi dan menikmati segala yang Allah sediakan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia terhimpun di tanah, sedangkan tanah melambangkan Kristus. Maka segala sesuatu yang Allah sediakan bagi kita terpusat di dalam Kristus.
Setelah manusia jatuh, pada zaman Nuh, bumi pernah sekali lagi digenangi air kematian (Kej. 7:17-24). Ini menggambarkan kondisi manusia yang telah terpisah dari Kristus. Manusia telah terputus dari kenikmatan atas tanah yang disediakan oleh Tuhan. Tetapi, Tuhan sekali lagi memulihkan bumi (Kej. 8:13-17, 22). Sayang sekali, sampai zaman Babel, manusia jatuh lebih dalam, seluruh umat manusia bangkit melawan Allah (Kej. 11:1-9). Itulah sebabnya Allah memanggil satu kaum dengan Abraham sebagai nenek moyang mereka, mereka dipanggil untuk memasuki tanah permai Kanaan. “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;’ ‘…. mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ’ ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu’ (Kej. 12:1, 5, 7). Tanah permai Kanaan ini juga melambangkan Kristus. Saudara saudari, kita harus waspada agar tidak kehilangan tanah permai yang telah Tuhan sediakan bagi kita, yaitu Kristus. Kita perlu menggarapnya, berjerih lelah di atasnya, dan menghasilkan buah. Hidup kita, pekerjaan kita, pelayanan kita, haruslah di dalam Kristus, hingga kita dapat berkata seperti Paulus, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Kita perlu terus ingat bahwa di luar Kristus, sebaik apa pun hidup, pekerjaan, dan pelayanan kita, di pandangan Allah hanyalah daging. Tidak ada daging yang diperkenan Allah (Rm. 8:8). Sama seperti laut yang telah dibatasi Allah, demikian pula dengan daging. Walaupun ia masih ada, tetapi kematian dan kebangkitan Tuhan telah memberi kita kuasa untuk membatasinya.

Penerapan:
Saudara saudari, walaupun kita telah diselamatkan, air kematian di dalam kita belum terpisah, dan perkara-perkara kematian belum dibatasi. Oleh sebab itu kita harus senantiasa tinggal di dalam Kristus. Dulu jika kita selalu percaya diri dan mandiri dalam banyak hal, sekarang kita perlu lebih banyak datang kepada Tuhan. Jangan mengerjakan apa pun tanpa melibatkan Tuhan.

Pokok Doa:
Ya Tuhan Yesus, celikkan mata batiniku agar aku melihat betapa bobroknya diriku. Segala kebaikan yang kubanggakan tidak mungkin diperkenan oleh-Mu. Tuhan Yesus, hanya Engkaulah yang sempurna dan diperkenan Allah, buatlah aku terus tinggal di dalam-Mu.

28 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 2 Jumat

Pemisahan Air Yang Di Bawah Cakrawala dari Air Yang Ada Di Atasnya (1)
Kejadian 1:6-8
“Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.’ Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.”

Cakrawala memisahkan air yang di atas dengan air yang di bawah. Apa yang tadinya terbenam dalam-dalam di air yang payau, gelap, dan suram telah dipisahkan dan menjadi uap yang naik ke cakrawala. Pemisahan yang luar biasa! Melalui “cakrawala”, Allah telah memisahkan yang murni dari yang jahat dan kotor, sehingga masing-masing mempunyai tempatnya. Allah menamai cakrawala itu langit.
Dia telah menaruh “cakrawala” di dalam kita. Dia juga menaruh kita di “cakrawala” sehingga iman kita mempunyai lingkungan yang nyaman. Ini menunjukkan bahwa kita telah menerima panggilan surgawi, mengarahkan diri ke kerajaan surgawi, dan merindukan kota surgawi. Pengharapan kita ada di atas, dan kita menantikan negeri surgawi, menganggap diri sendiri sebagai musafir (perantau) di bumi.
Cakrawala yang di dalam kita membutuhkan cakrawala yang di luar. Seseorang yang mempunyai hayat surgawi, dia pasti menempuh hidup secara surgawi. Sifat dari orang yang dilahirkan kembali akan memimpin dia untuk tidak “berjalan menurut nasihat si fasik”, dan tidak akan “berdiri di jalan orang yang berdosa” dan “duduk dalam kumpulan pencemooh” (Mzm. 1:1). Hura-hura, kasih duniawi, dan mode akan sukar menariknya. Sama seperti seorang manusia tidak bisa menghirup udara yang kotor, bagaimana mungkin kaum saleh bernafas di tengah-tengah kekejian, kejahatan, dan kekacauan. Mereka akan mengasihi kumpulan saudara-saudara mereka dan teman-teman mereka dalam pengembaraan mereka menuju kota surgawi. “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita” (1 Yoh. 3:14).

Pemisahan Air Yang Di Bawah Cakrawala dari Air Yang Ada Di Atasnya (2)
Rm. 6:6, 11; Gal. 2:20; 5:24; 6:14; Kol. 2:20; Ef. 2:2

Asalnya, seluruhnya adalah air dan tidak ada pemisahan. Kemudian, cakrawala datang dan memisahkan air yang di bawah langit dengan air yang di atasnya. Cakrawala ini adalah gambaran salib Tuhan Yesus.
Cakrawala memisahkan air. Salib Tuhan Yesus memisahkan orang-orang di dunia. Ketika Ia disalibkan, salib-Nya selamanya memisahkan kedua penyamun. Satu ke taman Firdaus, dan yang lain ke neraka. Sepanjang hidupnya, kedua penyamun itu melakukan dosa yang sama. Namun, di saat-saat terakhir, yang seorang menerima kematian Tuhan di atas salib sebagai kematian yang menggantikan dirinya, sedangkan yang lain tidak mau menerima. Saat itu, segera ada pemisahan antara surga dan neraka! Pemisahan ini berlangsung selamanya. Salib-Nya telah memisahkan kedua penyamun itu, demikian pula hari ini, salib-Nya telah memisahkan seluruh dunia.
Mula-mula terang Allah menyoroti kita hingga kita memiliki penilaian yang benar terhadap kejahatan hayat dosa dan sifat dosa kita. Perkara yang dulu menjadi penghiburan kita, yang kita banggakan, sekarang melalui terang Tuhan kita tahu bahwa itu tidak berharga. Segala yang dulunya terkubur dan tersembunyi di bawah air yang payau dan gelap, kini tidak lagi tersembunyi. Semakin terang Allah menyinari kita, semakin banyak kelemahan dan kekurangan yang terekspos. Di tengah-tengah rasa putus asa dan penyesalan inilah kita tahu kekuatan pemisahan dari salib Tuhan Yesus. Salib Tuhan Yesus telah menyalibkan dosa (Rm. 6:6,11), diri (Gal. 2:20), daging (Gal. 5:24), dunia (Gal. 6:14), dan unsur-unsur dunia kita (Kol. 2:20). Kematian memisahkan. Kematian adalah pemisahan, pemutusan, dan pelepasan yang luar biasa. Salib memutuskan segala hubungan dan meniadakan segala belitan. Tanpa salib, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari hal-hal yang di bawah.
Kesatuan kita dengan kematian Kristus memisahkan kita dari hal-hal yang “di bawah”. Meskipun kita telah dilahirkan kembali, dosa, diri, daging, dunia, dan unsur dunia masih melekat dan sering menarik kita ke bawah.
Kita tidak perlu bingung mengenai posisi dan pengalaman kita. Waktu kita dilahirkan kembali, Allah telah memperhitungkan kita tersalib bersama Kristus. Ketika Allah menerima kematian Tuhan Yesus untuk kepentingan kita, Dia memperhitungkan kita mati. Tetapi, kita mungkin masih belum memiliki pengalaman ini. Pengalaman kematian bersama ini dialami sesudah kita dilahirkan kembali, dalam pergumulan antara dua hayat, dan dua sifat, terang serta gelap.

Penerapan:
Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu memiliki cakrawala, yang memisahkan perkara-perkara yang berkenan di hadapan Allah dari perkara yang yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Gurauan kita, teguran, nasihat, pertimbangan-pertimbangan, keputusan kita, cara kita menangani anak-anak kita, dsb., tidak boleh kekurangan cakrawala.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih atas cakrawala yang Engkau ciptakan yang melambangkan pekerjaan salib atasku. Tuhan, aku mau mengalami salib-Mu lebih dalam lagi. Arahkanlah pandanganku kepada perkara-perkara yang di atas, sehingga aku terpisah dari hal-hal yang tidak kudus di bumi.

27 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 2 Kamis

Pemisahan Terang Dari Gelap (1)
Kejadian 1:4-5
“Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.”

Saat seseorang menerima sorotan terang Tuhan, terang itu akan memisahkannya dari gelap (Kej. 1:4). Dengan demikian perasaan dan pengenalan rohani berangsur-angsur mengalami pemulihan. Hal yang dulu dia pikir benar, sekarang dia sadar bahwa itu salah. Apa yang dulu dia sangka salah, sekarang dia sadar bahwa itu benar. Meskipun dalam pengalaman, banyak orang tidak memiliki daya pembeda secara langsung, namun dalam hati mereka, pembedaan antara terang dengan gelap sangat nyata. Pada waktu itu firman Tuhan (melalui terang yang dipancarkannya) mulai memisahkan roh manusia yang terang benderang dari kegelapan jiwanya (Ibr. 4:12).
Allah memisahkan terang dari gelap, dan Dia memberikan tempat untuk terang dan menamainya terang. Kegelapan masih tetap ada, dan ia juga memiliki tempat dan namanya (Kej. 1:5). Bumi tidak pernah menjadi sumber terang. Ketika bumi berpaling dari terang, ia akan segera berada dalam gelap. Ketika kegelapan dikendalikan oleh terang, ia tidak berdaya melakukan apa pun untuk mengurangi pancaran terang.
Begitu terang datang, kegelapan dan bayang-bayang pun sirna. Keduanya masih tetap ada seperti semula. Jadi, jika kita tidak berjalan dalam terang, kita masih bisa melakukan perbuatan kegelapan lagi. Selama masih berada dalam dunia ini, kita selalu dapat berjalan dalam terang. Namun, kita tidak mungkin mengusir kegelapan secara tuntas atau mengubah hayat dan sifat dosa kita. Meskipun kita adalah anak-anak siang dan anak-anak terang, kita masih harus berjalan dalam terang Tuhan. Kalau tidak, maka malam pun akan kembali.

Pemisahan Terang Dari Gelap (2)
Kej. 1:5; 1 Yoh. 1:8, 10; Gal. 6:1; Ams. 4:18; Mzm. 19:2

Ayat lima mengatakan secara jelas, hari tidak sepenuhnya terdiri dari terang. Hari terdiri dari petang dan pagi. Asal kita masih berada di bumi, yang paling cerah adalah siang hari. Namun, tetap masih ada “petang” dan “pagi”. Jika hanya ada pagi dan tidak ada petang, itu bukanlah hari yang Alkitab maksud. “Jika kita mengatakan bahwa kita tidak mempunyai dosa, kita menipu diri kita sendiri” (1 Yoh. 1:8). “Jika kita mengatakan bahwa kita tidak pernah berdosa, kita membuat Dia menjadi Pendusta” (1 Yoh. 1:10).
Meskipun kegelapan sendiri adalah “malam”, begitu terang datang, kegelapan tidak lagi “malam”, tetapi menjadi “petang”. Ketika terang Tuhan datang, tidak peduli betapa gelapnya, malam tidak lagi menjadi malam jika ada secercah terang.
Setelah mendapat sorotan terang Tuhan, kegelapan kita masih tetap ada. Kegelapan tidak dapat menjadi terang. Namun setelah diterangi, kegelapan kita menjadi kegelapan yang dikendalikan oleh terang, tidak lagi tanpa pembatasan. Meskipun kita mungkin gagal total dan jatuh, kita tidak akan kehilangan semua terang atau hayat yang berasal dari terang. Kita pun tidak mungkin menjadi orang kafir lagi. Sekali seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, dia dilahirkan kembali; sekali dia dilahirkan kembali, dia memiliki hayat kekal. Dia mungkin jatuh, tetapi dia masih tetap anak Allah. Memang sifat lama kita (daging) dan hayat lama kita (hayat jiwa) akan selalu ada dalam kegelapan. Namun kapan kala hayat kekal, sifat ilahi diperkuat, hal-hal yang berasal dari kegelapan tidak akan ada kekuatan. Meskipun ia masih sering melakukan pelanggaran (Gal. 6:1), pelanggaran- pelanggaran itu tidak akan pernah menyebabkan dia kembali pada posisi orang dosa. Inilah anugerah Tuhan!
Dalam Kejadian pasal satu disebutkan “petang dan pagi” enam kali. Meskipun terang disebut “siang,” tetapi selama enam hari, kita masih kembali lagi ke “pagi”. Pengalaman yang sesungguhnya dari “siang” belum datang. Pagi hanya permulaan dari hari; ini bukanlah puncak dari hari. Dalam penentuan Allah, setelah petang ada pagi. Meskipun kita mempunyai fajar namun terang yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari (Ams. 4:18) baru akan kita alami pada waktu mendatang. Suatu hari, ketika pekerjaan Tuhan rampung dan hasrat hati-Nya dipuaskan, hari yang sempurna akan muncul. Tidak akan ada lagi pagi atau pun petang. Kita akan masuk ke dalam perhentian Allah dan bersukacita selamanya dalam terang, tanpa malam. “Hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” (Mzm. 19:2), namun tidak banyak orang yang mendengar dan mengerti.

Penerapan:
Sebelum diselamatkan, kita sama sekali tidak memiliki ‘siang’. Selama 24 jam hanya ‘malam’ belaka. Begitu diselamatkan, mungkin siang hari pertama kita hanya beberapa jam dan malam tiba lagi. Tapi tak peduli berapa lama, kita telah mempunyai hari pertama. Puji Tuhan! Semakin hari, siang kita semakin bertambah. Jika malam tiba lagi, janganlah kecewa — malam merupakan tanda bahwa pagi akan tiba. Kelak di Yerusalem baru, tidak akan ada malam hari lagi (Why. 21:25).

Pokok Doa:
Tuhan, bawalah aku hidup di dalam terang-Mu, agar dalam segala hal aku bisa bertumbuh di dalam Diri-Mu. Selamatkan aku dari kegelapan. Pimpinlah aku agar segala tindakan dan perkataanku, bisa kulakukan dan kukatakan di dalam terang.

26 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 2 Rabu

Berfirmanlah Allah: “Jadilah Terang”
Kejadian 1:3
“Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.”

Ayat dua mengatakan, “Roh Allah melayang-layang (mengerami — TL.)”. Sekarang ayat tiga mengatakan, “Berfirmanlah Allah.” Roh Allah dan firman Allah adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pertama-tama, Roh Kudus bekerja; kemudian firman Allah bekerja. Yohanes 3:5-6 menunjukkan bahwa kita dilahirkan dari Roh Kudus; dan 1 Petrus 1:23 menegaskan, “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal”. Syukur pada Tuhan untuk Roh Allah dan firman Allah.
Mazmur 119:130 mengatakan, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang”. Karena itu, “Berfirmanlah Allah: .... Lalu terang itu jadi.” Jadi, pekerjaan awal dari Roh Allah dan firman Allah adalah menyebabkan terang menyinari kegelapan.
Dosa membuat mata hati manusia menjadi gelap, ia membutakan segala pemahaman manusia (2 Kor. 4:4). Tanpa pertolongan, maka manusia tidak akan pernah tahu bahwa kedudukannya ada dalam bahaya dan masa depannya pasti binasa. Ia sama sekali buta, tidak tahu bahwa ia memerlukan seorang Juruselamat. Kasih dalam hatinya, angan-angan dalam pikirannya, dan keputusan-keputusan dalam tekadnya, tidak mampu memberinya terang sedikit pun. Tetapi, Roh Allah datang, firman Allah datang, hingga terang Allah menyinari hatinya. Hanya terang Allah yang dapat menyatakan dengan sempurna kondisi sebenarnya! Segala sesuatu tetap sama. Satu-satunya yang berubah adalah kegelapan itu sendiri, karena terang telah datang. Haleluya!

Allah Sumber Terang
Yoh. 1:5, 9; 3:17,19; 2 Kor. 4:6

Pekerjaan hari pertama melambangkan kelahiran Tuhan Yesus. Pada hari pertama, Allah berfirman, “Jadilah terang” dan terang bersinar di dalam kegelapan. Wajah bumi pada awalnya diselubungi kegelapan, tetapi terang datang! Ini adalah kali pertama terang dan kegelapan bertemu. Sebelumnya, di bumi tidak ada kejadian seperti ini. Bumi selalu diliputi kegelapan. Puji Tuhan, terang telah datang. Terang datang ke dalam bumi yang gelap. Pekerjaan yang luar biasa di hari pertama.
Hal ini dengan jelas melambangkan kelahiran Tuhan Yesus. Ketika Yohanes membicarakan mengenai kelahiran Tuhan Yesus dan inkarnasi Firman (Yoh. 1:14), ia mengatakan, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (Yoh. 1:5, 9). Yohanes dengan jelas menyamakan kelahiran Tuhan Yesus dengan terang yang bersinar di dalam kegelapan. Yohanes pun berkata bahwa ia datang untuk memberi kesaksian tentang terang itu (Yoh. 1:7-9).
Ketika Zakharia berbicara mengenai kelahiran Tuhan Yesus, ia juga berkata, “Oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi” (Luk. 1:78).
Bahkan Tuhan Yesus sendiri juga menyamakan kelahiran-Nya dengan terang yang bersinar di dalam dunia. Ia berkata, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia … Terang telah datang ke dalam dunia” (Yoh. 3:17, 19). Terang datang, namun betapa sayangnya karena dunia tidak membiarkan Dia bersinar di atas mereka! (Yoh. 3:19-20).
Mengenai pekerjaan Allah di hari pertama, rasul berkata, “Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2 Kor. 4:6). Sama seperti terang Allah bersinar di dunia yang gelap, hari ini Kristus juga bersinar di dalam kegelapan dan hati orang yang berdosa.
Tanpa terang datang ke dalam dunia, Allah dan manusia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk berjumpa. Tanpa Tuhan Yesus datang ke dalam dunia, orang-orang dosa tidak akan bisa melihat Allah Bapa, yang diekspresikan melalui Anak Tunggal. Sekarang kita dapat melihat bahwa pekerjaan hari pertama selaras dengan kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia. Pekerjaan hari pertama adalah langkah pertama dari pekerjaan penebusan.

Penerapan:
Kristuslah terang dunia yang sejati.
Di luar Kristus, yang ada hanyalah kegelapan. Bagaimana kita bisa senantiasa berada di dalam Kristus sang Terang yang sejati? Kita perlu lebih sering mengingat Dia, menyeru nama-Nya, dan berdoa, atau berkidung. Semakin sering kita tinggal di dalam terang, semakin banyak kegelapan yang bisa kita tinggalkan.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih karena firmanMu telah menerangi mata hatiku yang gelap dan menjadikannya terang, sehingga aku dapat menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

25 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 2 Selasa

Roh Allah Melayang-Layang (Mengerami)
Kejadian 1:2b
“… dan Roh Allah melayang-layang (mengerami — Tl.) di atas permukaan air.”

Allah tidak dapat beristirahat dan juga tidak bahagia dengan kondisi manusia yang ditaklukkan di bawah dosa, kematian, dan Iblis. Tetapi, sungguh sangat mengherankan bahwa Allah tidak membuang manusia. Sebaliknya Allah melakukan sesuatu yang luar biasa, di luar dugaan kita.
Langkah pertama-Nya adalah “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”. Tanpa Roh bagaimana mungkin bumi bisa dipulihkan? Bagaimana mungkin kegelapan mengubah dirinya sendiri menjadi terang? Bagaimana mungkin mereka yang berada di bawah penghakiman Allah dapat membuat dirinya mampu menerima berkat Allah? Kalau bukan karena pergerakan Roh Kudus, bagaimana mungkin orang yang jatuh dibangkitkan? Kondisi umat yang lemah dan hancur, yang sama sekali tidak tertolong, bagaimana mungkin bisa dipulihkan, dibangunkan, dan dibangkitkan, kalau tanpa pergerakan Roh Kudus? Kalau mereka pernah berusaha untuk menang dan pernah berusaha untuk membangkitkan diri sendiri, maka mereka akan mengakui, “di dalam dagingku tidak ada sesuatu yang baik” (Rm. 7:18).
Pekerjaan Roh Kudus adalah awal kelahiran kembali manusia. Istilah “melayang-layang” di sini dalam bahasa aslinya berarti “mengerami” (hovering, Darby), sama dengan istilah “mengembangkan sayap” dalam Ulangan 32:11. Ini menunjukkan kasih dan kelemah-lembutan. “Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya” (Ul. 32:11). Oh, kiranya kita semakin merespons kasih Allah! Betapa hati-Nya tertuju pada kita!

Rahmat, Anugerah, Dan Kasih-Nya
Rm. 9:15; Mat. 10:29

Mengapa Allah masih peduli terhadap sesuatu yang sudah dihukum-Nya? Mengapa Allah masih berbelas-kasihan pada sesuatu yang gersang, kosong, dan gelap, yang sama sekali tidak layak mendapat perhatian-Nya? Pertanyaan ini sulit dijawab. Semuanya hanyalah karena rahmat dan kasih karunia Allah semata. Kasih Allah menimpa seorang yang tidak layak menerimanya! Baik dunia yang gersang, maupun manusia yang jatuh, tidak layak meminta Allah bekerja. Memandang keadaan diri sendiri, tentunya mustahil meminta Allah bekerja. Kita sama sekali tidak memenuhi syarat untuk kasih Allah. Bagaimanapun, tidak peduli akan ketidak-layakan, kegagalan, dan kejatuhan manusia, Allah berdasarkan kedaulatan-Nya masih memberikan anugerah-Nya. Dia memberi rahmat yang tanpa batas kepada yang jatuh dan gagal.
Siapakah kita? Kita hanyalah orang berdosa, umat manusia yang jatuh! Dia tidak marah terhadap kita, atau memandang rendah kita, atau menolak kita. Meskipun kita gersang, kosong, dan gelap, namun Dia tidak menganggap kita tidak layak terhadap pengeraman Roh Kudus-Nya. Meskipun mata-Nya terlalu suci untuk melihat kejahatan dan tidak dapat memandang kelaliman (Hab. 1:13), Dia merendahkan diri-Nya sendiri untuk menyelamatkan manusia yang ada dalam debu dan kotoran. “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:5). Kita benar-benar tidak bisa mengerti mengapa Allah begitu mengasihi manusia berdosa seperti kita. Tentunya “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita” (1 Yoh. 4:10).
Saudara saudari, Allah tidak pernah memandang remeh seorang pun. Bahkan “seekor pun dari padanya (burung pipit) tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu” (Mat. 10:29). Inilah tangan Bapa. Manusia telah jatuh dan berdosa; namun syukur kepada Allah bahwa Dia tidak memandang rendah seorang pun. Hati-Nya dituangkan pada setiap orang. Dengan memahami hal ini, seharusnya sudah cukup untuk menghibur kita. Hanya hati Allah yang dapat memuaskan hati manusia. Kasih yang sedemikian besar dan agung inilah yang membuat kita dilahirkan kembali. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, …, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Kasih Allah inilah yang menyebabkan Dia harus bekerja di tengah-tengah situasi yang gersang, sepi, sunyi, muram, hancur, kosong, dan gelap itu, sampai Dia berkata, “Sungguh amat baik”. Sebelum semua yang “kacau balau dan menyedihkan” itu berubah menjadi “sungguh amat baik”, hati kasih-Nya tidak akan pernah beristirahat!

Penerapan:
Renungkanlah keadaan kita sebelum diselamatkan. Di dalam kita ada jurang yang sangat curam, dan di dalam jurang itu terdapat segerombolan setan-setan yang mendorong dan membujuk kita marah-marah, berjudi, pergi menonton film, dan melakukan banyak hal lain yang jahat. Tetapi, pada suatu hari, Roh Allah mulai mengerami kita. Demikianlah akhirnya kita diterangi, bertobat, percaya, dan diselamatkan. Haleluya!

Pokok Doa:
Ya Tuhan, aku bersyukur karena aku telah diselamatkan dari air kematian, dari penghakiman Allah. Melalui doaku, aku mau Roh-Mu juga bekerja menguduskan teman-temanku yang belum percaya kepada-Mu. Aku percaya bahwa saat aku berdoa, Roh-Mu pasti bekerja. Aku damba mereka diselamatkan.

24 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 2 Senin

Kondisi Manusia Yang Jatuh
Kejadian 1:1-2
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum (menjadi—TL.) berbentuk (gersang, sepi, sunyi, muram, hancur [Inggris: desolate]—TL.) dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”

Pada mulanya” berarti permulaan dunia. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Kondisi langit dan bumi pada saat itu sempurna, murni, indah, dan cemerlang. Waktu itu “… bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai” (Ayb. 38:7). Alangkah penuh sukacita! Tak ada sedikit pun suara keluhan atau dukacita yang berbaur dengan nyanyian sukacita itu. Sungguh keselarasan yang luar biasa antara sang Pencipta dengan ciptaan-Nya! Tidak ada dosa, Iblis, duka, penderitaan, penyakit, kematian. Sebaliknya semuanya penuh dengan kasih karunia dan kemuliaan. Benar-benar sebuah dunia yang penuh dengan kebahagiaan.
Inilah kondisi manusia pada mulanya. Kondisi Adam dan Hawa begitu sempurna, sama seperti dunia yang ada pada mulanya. Tetapi manusia jatuh. Semula, dia menerima berkat, tetapi sekarang kutukan. Kematian dan dukacita telah menggantikan hayat dan sukacita. “Menjadi gersang, sepi, sunyi, muram, hancur, dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya”! Ini adalah gambaran sebenarnya dari setiap orang berdosa. “Jauh dari hidup persekutuan dengan Allah” (Ef. 4:18), “mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa” (Ef. 2:1), dan “tidak bisa disembuhkan” (Yer. 17:9). “Semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 3:23), dan “tidak ada yang berbuat baik” (Rm. 3:12). “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak” (Rm. 3:10). Kegelapan dalam hal moral dan kerohanian adalah kondisi umum seorang berdosa (Ef. 4:18). Alangkah kasihannya!

Catatan Pengalaman Rohani Kita
Kej. 1:2; Yes. 57:20

Mengapa Allah mencatat Kejadian pasal satu bagi kita? Apakah Allah ingin kita tahu bagaimana Ia menciptakan dan memulihkan ciptaan-Nya yang sebermula? Atau adakah maksud lain yang jauh lebih berarti? Semua yang terlihat di luar adalah refleksi dari yang di batin. Cara Allah menangani alam semesta yang luar biasa ini sama dengan cara-Nya menangani setiap orang dari kita. Sejarah penciptaan melambangkan setiap pos dari pengalaman batini yang harus kita lalui di dalam ciptaan baru. Fokus kita saat ini bukanlah pada sejarah masa lampau manusia, tetapi sebaliknya adalah pengalaman rohani setiap individu hari ini.
Sekarang, kita mulai dengan pos pertama kita. Pada mulanya, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Allah menyiapkan penolong yang sepadan baginya. Allah meletakkan dia di dalam taman dan memberkati dia serta mempercayakan segala hal kepadanya. Dia adalah raja bumi. Allah memerintahkan agar dia berkembang biak dan memenuhi bumi. Allah berkata bahwa segalanya sungguh amat baik. Pada Adam tidak terdapat warisan dosa. Sifat dosa atau tanda dosa tidak ada di dalamnya. Adam adalah manusia yang ideal, yang hidup di lingkungan yang ideal. Adam dan pasangannya bersekutu dengan Allah. Segala sesuatu seharusnya membuat dia puas dan bahagia.
Tetapi ayat dua mengatakan, “Bumi belum (menjadi—TL.) berbentuk (gersang, sepi, sunyi, muram, hancur [Inggris: desolate]—TL.) dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya”. Begitu dosa masuk, kematian menyusul. Begitu kematian masuk, maka masuk pula segala sesuatu yang berhubungan dengan kematian. Segala sesuatu yang pada awalnya sangat indah menjadi sangat jelek. Segala sesuatu yang asalnya terbaik menjadi terjelek. Suara nyanyian tidak lagi terdengar; terang telah lenyap. Seluruh bumi binasa di bawah air penghakiman Allah. Tidak ada lagi cakrawala. Kegelapan menutupi samudera raya yang memenuhi seluruh muka bumi. Di muka bumi tidak ada yang lain, hanya ada warna yang gelap, bau yang payau, dan desauan suara samudera raya.
Ini adalah gambaran yang sangat gamblang atas kondisi manusia yang meninggalkan Allah. Alangkah kacau balau! Alangkah gelap! Diombang-ambingkan oleh gelombang nafsu. Sifat indah yang pernah kita miliki telah terkubur dalam samudera dosa! “Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur” (Yes. 57:20).

Penerapan:
Dalam pandangan Allah, kondisi manusia yang jatuh sungguh kasihan. Karena itu, kita tidak perlu membanggakan pengetahuan, hikmat, pendidikan, dan kebudayaan kita. Kita perlu menyadari betapa “gersang, sepi, sunyi, muram, hancur”, “kosong”, dan “gelap” keadaan kita agar kita diberkati.

Pokok Doa:
Tuhan, selamatkan aku dari setiap perbuatan dosa. Aku tidak mampu menyelamatkan diriku dari setiap perbuatan dosa. Tuhan, masuklah ke dalamku karena hanya diri-Mulah yang dapat menyelamatkan aku.

22 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 1 Sabtu

Tujuan Dan Motivasi Pemberontakan Iblis
Filipi 2:6-7
“Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

Tujuan pemberontakan Iblis ialah untuk meninggikan dirinya guna menyamai Allah. Dalam Yesaya 14:13-14, tercatat lima kali Iblis mengatakan, “aku hendak” pada saat pemberontakannya. “Aku hendak naik ke langit . . . aku hendak meninggikan takhtaku . . . aku hendak duduk di atas bukit . . . aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan; aku hendak menyamai Yang Mahatinggi.”
Perkataan Iblis “aku hendak” dengan jelas menunjukkan ambisi besar Iblis. Iblis berambisi memperoleh kedudukan yang lebih tinggi, menyamai Allah. Ambisi ini menjadi motivasi pemberontakannya terhadap Allah dengan maksud jahat yang ingin menjatuhkan kekuasaan Allah. Alkitab mencatat, ambisi akan kedudukan adalah motivasi segala pemberontakan. Pemberontakan di Babel (Kej. 11:4), pemberontakan Datan, Abiram, dan 250 orang pemimpin bani Israel (Bil. 16:1-3), juga pemberontakan Absalom (2 Sam. 15:10-12), semuanya disebabkan oleh ambisi akan kedudukan. Tetapi Tuhan Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba,....” Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama (Flp. 2:7, 9).
Kita perlu berhati-hati terhadap ambisi, karena ambisi sangat mengerikan dan tersembunyi di dalam diri kita. Tentu saja setiap orang memiliki ambisi. Seorang yang tidak memiliki ambisi bukan seorang manusia. Kita perlu waspada, jangan tergoda oleh kedudukan dan kehormatan sehingga membuat kita memiliki ambisi yang salah dan melakukan dosa pemberontakan.

Pelaksana (Executor) Penghakiman Atas Iblis
1 Yoh. 3:8; Luk. 10:19; Ibr. 2:14; Why. 20:10

Meskipun Iblis, para malaikat pemberontak, dan roh-roh jahat (najis) telah dihakimi Allah, hari ini mereka masih tetap bergerak dan bekerja, karena hukuman terhadap mereka belum dilaksanakan. Hari ini, Iblis masih bisa pergi ke hadapan Allah untuk menuduh umat Allah (Ayb. 1:6-12; 2:1-7; Why. 12:10). Dia masih berkeliaran di bumi, mencari mangsa yang dapat ditelannya (1 Ptr. 5:8), masih bekerja membutakan orang (2 Kor. 4:4), mengelabui mereka (2 Kor. 11:14), memenuhi hati mereka (Kis. 5:3, T.L.), dan beroleh keuntungan atas manusia (2 Kor. 2:11, T.L.). Dia masih “seorang yang kuat” yang menguasai “harta bendanya” (Mat. 12:29). Malaikat-malaikat pemberontak masih tetap merupakan penguasa dunia yang gelap ini (Ef. 6:12; lih. Dan. 10:20), (beberapa malaikat yang telah jatuh sekarang di penjara sampai hari penghakiman — 2 Ptr. 2:4, Yud. 6), dan setan-setan masih tetap sebagai roh-roh jahat (najis) yang bekerja di bumi (Mat. 12:43-45).
Siapa yang akan melaksanakan hukuman Allah terhadap Iblis dan pengikut-pengikutnya? Para pelaksana itu ialah orang-orang Kristen, orang-orang percaya yang menang. Dalam Wahyu 12, kita tahu bahwa para pemenang akan melaksanakan hukuman Allah terhadap Iblis. Allah telah menyatakan hukuman-Nya atas kaum pemberontak. Namun, hukuman itu tidak akan dilaksanakan sebelum gereja bangkit untuk melakukannya. Mengapa hukuman pada Iblis dan para pengikutnya belum dilaksanakan? Sebab Allah menunggu terbangunnya gereja. Hakim telah menentukan hukuman, tetapi Ia masih menunggu para pelaksana (executor) untuk melaksanakannya.
Ketika Tuhan Yesus hidup dalam daging sebagai manusia, Ia telah mulai melaksanakan hukuman Allah. Ia “menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis” (1 Yoh. 3:8). Tuhan memberi murid-murid-Nya “kuasa” (Luk. 10:19) untuk mengalahkan kekuatan musuh. Ketika murid-murid mengusir setan-setan, Iblis jatuh dari langit (Luk. 10:17-20). Melalui kematian-Nya di kayu salib, Ia memusnahkan Iblis (Ibr. 2:14). Ia telah meremukkan kepala ular tua.
Sekarang kita sebagai Tubuh-Nya, harus melanjutkan pelaksanaan ini, menghancurkan ekor ular itu. Hari ini gereja harus berdoa untuk “mengikat orang kuat itu” dan “merampok rumahnya” (Mat. 12:29), berperang melawan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12), dan mengusir setan-setan (Mat. 17:21) yang bekerja merusak orang-orang.
Melalui pelaksanaan hukuman oleh gereja, Iblis akan “dilemparkan ke bumi,” malaikat-malaikatnya akan “dilemparkan bersama-sama dengannya” (Why. 12:9). Kemudian ia akan diikat dan dilempar ke dalam jurang maut. Akhirnya, ia akan “dilempar ke dalam lautan api” (Why. 20:10). Saat itu genaplah pelaksanaan hukuman Allah atas Iblis dan pengikut-pengikutnya.

Penerapan:
Satu-satunya jalan untuk melawan Iblis adalah merendahkan diri. “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat” (1 Ptr. 5:5b-6a). Tuhan Yesus adalah teladan yang baik. Iblis meninggikan dirinya, namun Tuhan Yesus “merendahkan diri-Nya” (Flp. 2:8).

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, selamatkan aku dari ambisi akan kedudukan. Tuhan, ajarku untuk merendahkan diri seperti diri-Mu

21 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 1 Jumat

Sebab Pemberontakan Iblis
Yehezkiel 28:17
“Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya.”

Iblis memberontak terhadap Allah karena kesombongan hatinya. Ia sombong karena kecantikannya, hikmatnya ia musnahkan demi semaraknya (Yeh. 28:17). Ia “penuh hikmat dan maha indah”, “gambar dari kesempurnaan” (Yeh. 28:12). Ini berarti ia sepenuhnya sempurna dan tidak bercacat sedikit pun. Tetapi ia terpesona memandang kecantikannya dan menjadi sombong. Ia melihat kesemarakannya dan menjadi binasa. Memandang kepada apa yang dijadikan Allah pada diri kita dan melupakan diri Allah sendiri selalu membuat kita sombong. Kesombongan itulah penyebab pemberontakan Iblis. Karena itu, rasul tidak mengizinkan orang yang baru bertobat menjadi penatua, “agar jangan menjadi sombong dan kena hukuman Iblis” (1 Tim. 3:6).
Semua kebajikan dan segala karunia rohani dapat diperalat Iblis untuk membuat kita sombong. Bahkan Rasul Paulus sendiri pun bisa saja “meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu” (2 Kor. 12:7). Iblis yang congkak itu masih berkeliaran di bumi untuk mencari mangsanya, yaitu orang sombong yang dapat ditelannya (1 Ptr. 5:8). Tetapi, ia tidak berkuasa atas diri Tuhan Yesus (Yoh. 14:30), karena Tuhan Yesus merendahkan diri-Nya hingga taat sampai mati (Flp. 2:8).
Dalam 1 Petrus 5:5 dikatakan, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”. Ini berarti, terhadap orang yang sombong, Allah akan menentangnya; terhadap orang yang rendah hati, Allah akan memberi karunia kepadanya. Jika kita pada hari ini ingin mendapatkan karunia Allah, kita harus memiliki satu sikap yang mendasar, yaitu rendah hati.

Apakah Alkitab Bertentangan Dengan Geologi?
Kej. 1:1-2

Para ahli geologi dan arkeologi berkata bahwa umur bumi ini jutaan tahun. Namun bila kita menghitung rentang waktu antara Adam sampai sekarang ini, kita akan menemukan angka kira-kira enam ribu tahun. Bagaimanakah kita menjelaskan hal ini?
Dalam bukunya “Earth’s Earliest Ages”, G.H. Pember mengatakan bahwa di antara Kejadian 1:1 dan 1:2 terdapat suatu “masa selang.” Berapa lamakah masa selang ini? Tak seorang pun dapat mengatakan berapa lama masa selang itu dan apa yang terjadi di atas permukaan bumi dan di atmosfer sebelum terjadi kondisi yang gersang dan kosong; Alkitab tidak memberi tahu apa-apa tentang hal ini. Tetapi, yang pasti, Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa bumi kita hanya berumur enam ribu tahun. Namun kita yakin bahwa sejarah manusia memang hanya berumur sekitar enam ribu tahun.
Masa selang yang panjang ini mencakup seluruh periode sejarah pra-Adam. Di masa selang inilah terjadi pemberontakan Iblis yang menyeret sepertiga malaikat dan makhluk-makhluk hidup di bumi. (Telah kita bahas bahwa Iblis asalnya adalah penghulu malaikat yang diciptakan Allah jauh sebelum manusia). Allah menghakimi bumi dan seluruh makhluk hidup yang ikut memberontak tersebut dengan air. Itulah sebabnya bumi terendam air. Tidak heran jika hari ini, para ahli dapat menemukan fosil yang umurnya jutaan tahun. Fosil-fosil itu pasti berasal dari makhluk-makhluk hidup yang terendam dalam air tersebut.

Dari sisa-sisa fosil, kita bisa melihat adanya kebuasan dan pembantaian. Bahkan penyakit dan kematian yang merupakan akibat dosa. Ini menjadi gambaran umum di antara makhluk hidup di bumi. Fakta ini menunjukkan bahwa fosil itu tidak berkaitan dengan dunia kita, sebab Alkitab menyatakan bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah selama enam hari itu baik, dan tidak ada kejahatan sampai Adam berbuat dosa. Karena itu, fosil adalah sisa-sisa makhluk sebelum jaman Adam, dan juga menunjukkan tanda-tanda adanya penyakit, kematian, dan saling menghancurkan. Ini merupakan bukti milik jaman yang lain dan noda sejarah dosa mereka, sejarah yang diakhiri dengan hancurnya diri dan tempat tinggal mereka sendiri.— G. H. Pember, Earth’s Earliest Ages, 1942, reprinted 1975, pp. 34-35.

Jadi, kita sangat yakin bahwa tidak ada kontradiksi antara Alkitab dengan geologi. Segala bantahan ahli geologi atas Alkitab hanyalah bukti ketidak-mengertian mereka atas Alkitab. Betapa menakjubkannya Firman Allah, ia sama sekali tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Penerapan:
Jangan merasa tinggi hati karena memiliki kemampuan untuk melakukan banyak perkara, sehingga kita merasa lebih penting dan lebih baik dari orang lain. Kita perlu waspada selalu karena kemampuan yang kita miliki dapat diperalat Iblis untuk membuat kita menjadi sombong, sehingga kita melupakan Tuhan dan tidak mengandalkan-Nya lagi.

Pokok Doa:
Ya Tuhan, ampuni aku yang seringkali menjadi sombong. Aku begitu sering melakukan perkara dengan kemampuan alamiahku tanpa bersandar pada-Mu. Pimpinlah aku Tuhan, agar aku boleh menjadi seorang yang rendah hati.

20 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 1 Kamis

Akibat Pemberontakan Iblis
Kejadian 1:2
“Bumi belum berbentuk (menjadi gersang - TL.) dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”

Pemberontakan Iblis membawa masuk penghakiman Allah (Yeh. 28:15-18). Allah tidak dapat membiarkan adanya pemberontakan di tengah ciptaan-Nya. Ayub 9:5-7 mengatakan bahwa “Allah membongkar-bangkirkan gunung-gunung dalam murka-Nya, menggeser bumi dari tempatnya, memberi perintah kepada matahari sehingga tidak terbit dan mengurung bintang-bintang dengan meterai.” Akibat hukuman Allah ini, langit tidak lagi memancarkan terang. Bumi tertutup kegelapan dan tenggelam dalam air.
Wahyu 12:4 mencatat bahwa pada saat memberontak, Iblis menyeret sepertiga dari para malaikat (sepertiga bintang) untuk memberontak kepada Allah. Hal ini bisa saja terjadi karena malaikat-malaikat yang menguasai dan memerintah alam semesta pra-Adam berada di bawah tangan Iblis. Para malaikat itu kini menjadi roh-roh jahat di udara (Ef. 2:2; 6:12).
Seluruh makhluk hidup yang berada di bumi pada waktu itu juga mengikuti Iblis memberontak melawan Allah. Mereka pun dihakimi oleh Allah. Sesudah dihakimi Allah, seluruh makhluk hidup itu menjadi roh-roh jahat (najis) yang tidak bertubuh. Itulah sebabnya mereka suka masuk ke dalam tubuh jasmani manusia atau binatang. Roh-roh jahat (najis) ini bergerak di bumi dan tinggal di dalam air (lih. Mat. 8:28-32). Air, yang dengannya Allah telah mengakhiri mereka, menjadi lautan yang dalam, tempat roh-roh jahat (najis) harus tinggal. G.H. Pember juga membuktikan bahwa di bawah samudera yang sangat dalam terdapat jurang yang tidak terduga dalamnya (abyss), yang merupakan tempat roh-roh jahat (najis) tinggal.

Asal Mula Iblis (3) - Imam
Yeh. 28:14; Yes. 14:12; Kel. 24:10, 17; 25:20

Yehezkiel 28:12b mengatakan bahwa Iblis “penuh hikmat”. Ini mungkin mengacu kepada pengertiannya atas kehendak Allah. Ini berarti saat itu ia menjabat sebagai imam.
Yehezkiel 28:14a mengatakan, “Engkaulah kerub terurap yang menudungi - (TL.), di gunung kudus Allah engkau berada.” Iblis adalah kerub terurap yang menudungi. Mungkin ini mengacu kepada ia menaungi (lih. Kel. 25:20) tabut perjanjian Allah di surga (Why. 11:19). Allah pernah mengurapi dan mengangkat pemimpin malaikat itu untuk menaungi tabut perjanjian-Nya. Yehezkiel memberitahukan bahwa kerub membawakan kemuliaan Allah (9:3; 10:18) dan sangat dekat dengan takhta Allah (10:1; 1:26). Hal ini menunjukkan, sebelum memberontak, Iblis tentu sangat dekat dengan Allah, membawakan kemuliaan Allah. Yehezkiel juga memberitahukan bahwa kerub itu ialah empat makhluk hidup yang mengemban fungsi khusus bagi Allah (10:20). Lagi pula keempat makhluk hidup dalam kitab Yehezkiel itu sama dengan yang ada dalam Kitab Wahyu (Yeh. 1:10, lih. Why. 4:7). Mereka berperan sebagai pemimpin dalam penyembahan kepada Allah. Hal ini sekali lagi menyatakan bahwa saat itu ia adalah imam besar dalam alam semesta yang memimpin semua makhluk menyembah Allah.
“… di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya” (Yeh. 28:14b). Ini tentu di surga, tempat kemuliaan Allah dinyatakan. Seorang Imam Allah tentu harus berada di tempat yang terdekat dengan Allah untuk melayani Allah. Selanjutnya, dalam Kitab Keluaran 24:10, 17, Musa, Harun, dan banyak orang lainnya melihat batu-batu nilam dengan kemuliaan Allah bagaikan api yang menghanguskan di bawah takhta Allah. Itulah batu-batu yang bercahaya-cahaya, seperti yang disebutkan dalam Yehezkiel ini. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa saat itu, Iblis juga memiliki wewenang khusus untuk bergerak di daerah kemuliaan Allah, tepat di bawah takhta Allah, dan sangat dekat dengan Allah.
Saudara saudari, asal mula Iblis amatlah elok. Ia adalah kerub yang diurapi Allah, yang paling dekat dengan Allah, menempati kedudukan yang tertinggi dalam ciptaan Allah. Ia sempurna dalam jalannya sejak ia diciptakan. Ia tidak saja memiliki jabatan raja tetapi juga jabatan imam. Namun karena ambisinya yang ingin melampaui Allah, maka Iblis telah disingkirkan dari kedudukan dan pelayanannya. Hari ini masih banyak orang yang mengikuti langkahnya yang salah. Padahal Allah telah memilih kita sebagai imam-imam dan raja-raja-Nya (Why. 5:9-10; 20:4-6) untuk mengambil alih kedudukan dan pelayanan Iblis, agar Iblis dipermalukan dan Allah dipermuliakan.

Penerapan:
Jika di dalam kita ada sifat pemberontak, misalnya: tidak taat terhadap pimpinan Tuhan yang di dalam, tidak taat terhadap orang yang lebih tua, kita perlu waspada, karena hal itu akan membawa masuk penghakiman Allah yang membuat kita merasa kosong dan gelap.

Pokok Doa:
Tuhan, ampuni diriku, seringkali aku sok pintar dan tidak taat pada pimpinan-Mu. Tuhan beriku hati yang mau taat, supaya setiap tindakanku sesuai dengan pimpinan-Mu.

19 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 1 Rabu

Bumi Menjadi Gersang Dan Kosong
Kejadian 1:2
“Bumi belum (menjadi—Tl.) berbentuk (gersang, sepi, sunyi, muram, hancur [Inggris: desolate]—Tl.), dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”

Terjemahan yang lebih tepat dari ayat dua adalah “Bumi menjadi gersang, sepi, sunyi, muram, hancur, dan kosong.” Kata “menjadi” menunjukkan bahwa bumi “telah berubah menjadi sesuatu yang lain”, menjadi begitu menyedihkan dan kosong. Yesaya 45:18 mengatakan, “Ia menciptakannya bukan supaya kosong.” Ayub 38 juga menunjukkan bahwa ketika Allah “meletakkan dasar bumi”, “menetapkan ukurannya” dan “merentangkan tali pengukur padanya”, bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama, dan semua anak Allah (malaikat-malaikat) bersorak-sorai. Ini menunjukkan bahwa bumi pada mulanya diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang baik karena Allah tidak menghendaki kekacauan (1 Kor. 14:33). Ciptaan-Nya pasti sempurna. Karena itu, kondisi gersang, sepi, sunyi, dan kosong dalam ayat dua, bukanlah kondisi asli penciptaan Allah pada mulanya.
Yeremia 4:23-26 menunjukkan alasannya. Ayat 26 mengatakan bahwa semua ini tak lain karena murka-Nya yang menyala-nyala. Mengapa Allah begitu murka dan menghukum alam semesta? Tidak ada alasan yang lebih tepat kecuali dosa. Dari Yehekiel 28:15, kita tahu bahwa penghulu malaikat telah memberontak kepada Allah. Dialah Iblis. Allah tidak menciptakan malaikat yang jahat. Allah menciptakan pemimpin malaikat yang baik dan sempurna. Pada saat memberontak, sejumlah besar malaikat mengikutinya dan berada di bawah kuasanya (Why. 12:4, 9). Seluruh mahkluk hidup yang ada di bumi waktu itu juga ikut dalam pemberontakan ini. Karena dosa inilah, Allah menghakimi bumi sehingga menjadi gersang, kosong, dan gelap.

Asal Mula Iblis (2) - Raja
Ayb. 38:4-7; Yeh. 28:13; Dan. 10:13; Yoh. 12:31; Ef. 2:2; Luk. 4:5-6; Yud. 9

Yehezkiel 28 menggambarkan jabatan Iblis dalam alam semesta sebelum pemberon-takan dan perusakannya. Ayat tiga belas mengatakan, “Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga”. G.H. Pember mengatakan bahwa ini menunjukkan tempat tinggalnya yang terbuat dari batu-batu permata.
Menurut bahasa aslinya, dalam ayat tiga belas seharusnya ada kalimat yang berbunyi, “Engkau selalu disertai bunyi seruling dan rebana, yang disediakan pada hari penciptaanmu (T.L.)”. Pada zaman kuno, alat-alat musik seperti nafiri, seruling dan kecapi dipakai untuk raja-raja (Dan. 3:5; 6:18). Hal ini menunjukkan bahwa penghulu malaikat itu (sekarang menjadi Iblis) adalah raja, pemegang kedudukan tertinggi dalam alam semesta sebermula.
Saat itu, Allah benar-benar telah menunjuk penghulu malaikat itu sebagai kepala alam semesta dan Allah pun telah menyerahkan segala makhluk dan benda ciptaan, baik yang di langit maupun yang di bumi kepadanya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sendiri menyebutnya sebagai “Penguasa dunia ini” (Yoh. 12:31). Rasul pun menyebutnya sebagai “Penguasa kerajaan angkasa” (Ef. 2:2). Lukas 4:5-6 juga menegaskan “Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya: ‘Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.’” Bohongkah ini? Kalau bohong, tentunya Tuhan Yesus sudah menghardik Iblis. Karena Tuhan Yesus tidak menegurnya, pasti ini adalah fakta. Kalau ini adalah fakta, kapankah Allah memberikan semuanya itu kepada Iblis? Pasti ini terjadi sebelum ada Adam.
Posisi dan pangkat Iblis waktu itu begitu tinggi, sampai-sampai “Bahkan pemimpin malaikat Mikhael … tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan” (Yud. 9). Mikhael adalah salah satu pemimpin malaikat (Dan. 10:13). Ia tidak berani menghardik Iblis. Ini membuktikan bahwa dulu pangkat Iblis tentu lebih tinggi daripada Mikhael. Jadi, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Iblis pasti adalah raja, pemimpin malaikat yang tertinggi pangkatnya.
Iblis yang asalnya memiliki kedudukan yang begitu mulia, sekarang menjadi begitu hina. Hal ini harus menjadi peringatan serius bagi kita, jangan kita mengulangi kesalahan yang sama.
Sebaliknya kita asalnya adalah orang dosa yang sangat kasihan, namun Allah telah memberi kita kemuliaan. Haleluya!

Penerapan:
Setelah sekian lama menjadi orang Kristen, kecenderungan kita untuk melakukan dosa masih ada, karena sifat dosa sudah ada di dalam diri kita. Inilah sebabnya, kita sering merasa gersang dan hampa. Karena itu, marilah kita mengutamakan Tuhan dalam segala hal, sehingga Tuhan ada jalan untuk mengubah kita.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, lepaskanlah aku dari kegersangan, kekosongan, dan kegelapan di dalam diriku. Biarlah Roh-Mu bekerja di dalamku untuk menghasilkan hayat. Tuhan Yesus, aku mau agar air kematian di dalamku berubah menjadi air kehidupan.

18 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 1 Selasa

Elohim
Kejadian 1:1
“Pada mulanya Allah (Elohim - bahasa Ibrani) menciptakan langit dan bumi.”

Kali pertama Alkitab menyebutkan “Allah (Elohim)” adalah dalam Kejadian 1:1, yang berbunyi, “Pada mulanya Allah (Elohim - bahasa Ibrani) menciptakan....” Scofield menunjukkan bahwa “Elohim” tersusun dari dua kata Ibrani yang berarti “kekuatan” dan “kesetiaan”. Allah kita adalah Allah yang kuat dan setia. Semua yang Ia lakukan menunjukkan betapa besarnya kekuatan-Nya. Apa pun yang Ia katakan, pasti dipegang-Nya. Elohim merupakan sebuah kata benda tunggal-jamak (uni-plural noun). Kata ini adalah kata bentuk tunggal, tetapi juga jamak. Haleluya! Hal ini dengan jelas menyiratkan Trinitas Ilahi, yakni Bapa, Putra, dan Roh (Kej. 1:26a; 3:22a; 11:7a; Yes. 6:8a; Yoh. 17:11b, 22b; Mat. 28:19; 2 Kor. 13:14). Sebutan yang mengacu kepada Allah yang esa namun tritunggal ini, digunakan lebih dari 2500 kali dalam Perjanjian Lama.
Puji Tuhan, Allah sejati, yang kita sembah, bukan hanya sang Maha Kuasa tetapi juga sang Setia. Sebagai sang Maha Kuasa, Allah dapat menciptakan langit, bumi, segala sesuatu, dan manusia. Ia dapat menjadikan yang ada dari yang tidak ada. Sebagai sang Setia, Dia dapat disandari, tidak pernah berubah, dan tidak dapat digoyahkan. Perkataan dan pekerjaan-Nya adalah sekuat matahari dan seteguh bulan (Mzm. 89:33-37). Karena Dia Maha Kuasa, Dia dapat melakukan segalanya bagi kita. Karena Dia setia, Dia dapat melakukan apa pun bagi kita sesuai dengan firman-Nya, sesuai dengan janji-Nya, dan sesuai dengan perjanjian-Nya. Allah yang demikian sanggup memenuhi semua keperluan kita. Marilah kita belajar hanya bersandar pada-Nya.

Asal Mula Iblis (1) - Penghulu Malaikat
Yeh. 28:1-19; Ayb. 38:4-7

Meskipun nama Iblis tidak disebutkan dalam Kitab Kejadian, kita semua tahu bahwa ular dalam Kejadian pasal dua adalah wadah Iblis dan bahkan mungkin adalah perwujudan dari si Iblis. Wahyu 12:9 mengatakan, “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”
Kejadian pasal satu tidak mencatat apa pun mengenai penciptaan Iblis. Dari mana datangnya Iblis? Selain itu, dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, sering kali kita baca mengenai roh-roh jahat (roh-roh najis [Inggris:unclean spirits]). Dari manakah datangnya roh-roh jahat ini? Selain itu, kita juga tidak melihat penciptaan malaikat dalam enam hari pekerjaan Allah dalam Kejadian pasal satu. Lalu, dari manakah datangnya malaikat?
Ayub 38:4-7 mengatakan bahwa tatkala Allah meletakkan dasar bumi, anak-anak Allah (malaikat) bersorak-sorai. Hal ini membuktikan bahwa Allah telah menciptakan malaikat sebelum Ia menciptakan bumi.
Yehezkiel 28:1-19 juga menjelaskan mengenai hal ini. Sembilan belas ayat ini dibagi menjadi dua bagian: (1) ayat 1-10 mencatat mengenai peringatan untuk raja Tirus.(2) ayat 11-19 adalah nyanyian ratapan untuk raja Tirus. Bagian pertama, yaitu peringatan untuk raja Tirus, mudah untuk dipahami. Namun, ketika kita membaca ayat 11-19, banyak hal yang sulit dipahami. Misalnya, ayat 13 mengatakan, “Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah.” Ayat sebelum dan sesudahnya menyatakan bahwa taman Eden ini bukan taman tempat Adam pernah tinggal. Taman Eden ini tidak berada di bumi, tetapi di langit, di atas gunung suci Allah. Ayat ini pasti bukan membicarakan raja Tirus, tetapi si Iblis.
Yehezkiel 28:12 menunjukkan bahwa Iblis (cat: Iblis adalah nama yang digunakan setelah ia berdosa) sebelum kejatuhannya sungguh luar biasa. Ia adalah “Gambar dari kesempurnaan …, penuh hikmat dan maha indah.” Ini berarti ia lebih unggul dari malaikat yang lain, sempurna, dan paling agung di antara semua ciptaan Allah. Yesaya 14:12 juga menunjukkan asal mula Iblis. Di sana Iblis disebut, “Bintang timur; putra fajar”. Sebagaimana bintang timur adalah bintang pemimpin dari sekian banyak bintang, maka Iblis pastilah merupakan pemimpin para malaikat. Gelar “putra fajar” menunjukkan bahwa ia sudah ada pada masa-masa alam semesta baru dijadikan. Jadi, Iblis bukan hanya salah satu dari antara malaikat-malaikat, ia bahkan penghulu malaikat yang tertinggi, kepala dari semua malaikat.

Penerapan:
Ketika menghadapi suatu masalah yang sulit, biasanya kita akan mencari beberapa cara yang kita anggap mampu menyelesaikan persoalan itu. Bila semua cara itu sudah dicoba dan gagal, barulah kita datang kepada Allah sebagai jalan terakhir. Mulai sekarang, marilah kita ubah urutan ini. Jadikanlah Allah sebagai yang pertama, bukan terakhir, maka kita akan mengalami sang Elohim itu.

Pokok Doa:
Ya Allah, ampunilah aku yang sering melupakan kekuatan dan kesetiaan-Mu. Aku sering mengandalkan manusia dan cara-caraku sendiri tanpa mengindahkan Engkau. Ajarlah aku menjadikan Engkau sebagai kekuatanku dan sandaranku satu-satunya.

17 April 2006

Kejadian Volume 1 - Minggu 1 Senin

Pada Mulanya Allah Menciptakan
Kejadian 1:1
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”

Judul asli Kitab Kejadian sebenarnya adalah “Pada Mulanya”, atau menurut versi terjemahan Septuagint (bahasa Yunani), adalah “Genesis” (dari bahasa Latin), yang berarti kelahiran atau asal mula. Kitab Kejadian mendatangkan kelahiran bagi segala sesuatu, memberi permulaan bagi segalanya. Dalam Kitab Kejadian inilah kita temukan benih-benih kebenaran ilahi. Semua kebenaran ilahi dalam seluruh Alkitab telah ditaburkan dalam kitab ini. Benih kebenaran ini selanjutnya berkembang di seluruh Alkitab.
Kitab Kejadian diawali dengan kalimat, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Inilah permulaan waktu, karena ditujukan kepada penciptaan Allah. Injil Yohanes 1:1 juga dimulai dengan frase, “pada mulanya”, tetapi yang dimaksud di sini adalah permulaan sebelum ada waktu atau kekekalan azali yang tanpa permulaan. Haleluya! Allah kita bukan hanya Dia yang ada sejak mulanya, tetapi juga permulaan dari segala sesuatu. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Frase “Pada mulanya Allah...” juga menunjukkan bahwa Allah kita adalah Allah yang berinisiatif. Dia berinisiatif menciptakan langit dan bumi, Dia juga berinisiatif menyelamatkan orang berdosa. Itulah sebabnya, kehidupan keluarga kita, pernikahan kita, atau pekerjaan kita seharusnya berawal dari Allah, bukan dari diri kita atau orang lain. Marilah kita memberi Allah kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru di dalam hidup kita! Dialah sang Pencipta segala sesuatu!

Penciptaan Allah
Kej. 1:1; Zak. 12:1; Mzm. 19:2; Kol. 1:15-16; Ibr. 1:2b; Ibr. 11:3; Yoh. 1:1-3

Allah kita adalah Allah yang hidup, juga Allah yang memiliki keinginan/tujuan. Itulah sebabnya Ia membuat rencana untuk mencapai tujuan-Nya. Penciptaan alam semesta adalah bagian dari rencana Allah. Mengapa Allah menciptakan langit? Apa tujuan-Nya? Alkitab menunjukkan bahwa langit diciptakan untuk bumi; para ahli dan sarjana pun dapat membuktikan hal ini. Banyaknya benda-benda di langit hanyalah untuk bumi; misalnya sinar matahari dan air berasal dari langit. Lalu untuk apakah bumi? Menurut Alkitab, bumi adalah untuk manusia. Zakharia 12:1 mengatakan, “Demikianlah firman TUHAN yang membentangkan langit dan yang meletakkan dasar bumi dan yang menciptakan roh dalam diri manusia.” Jadi, langit adalah untuk bumi, bumi untuk manusia, dan manusia untuk Allah. Allah menciptakan manusia adalah untuk menampung Dia, mengekspresikan Dia, dan memuliakan Dia. Hal ini bisa terjadi, karena roh yang diciptakan Allah dalam diri manusia memiliki kemampuan berkontak dengan Allah yang adalah Roh (Yoh. 4:24).
Sarana penciptaan Allah ialah Putra Allah (Kol. 1:15-16; Ibr. 1:2b) dan firman Allah (Ibr. 11:3; Yoh. 1:1-3). Ketika Allah menciptakan langit, bumi, dan segala isinya, Ia melakukannya melalui Kristus, dan berdasarkan Kristus. Sejak penciptaan, segala sesuatu mempertahankan eksistensinya dalam Kristus. Kristus adalah pusat (poros) yang mengendalikan setiap bagian jagat raya. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Kristus menopang segala sesuatu dengan firman kuasa-Nya, dan Kolose 1:17 mengatakan bahwa segala sesuatu berada dalam Kristus. Kelihatannya bumi tidak bergantung pada apa pun, tetapi sebenarnya ia ditopang oleh Kristus. Jika salah satu dari planet-planet menyimpang sedikit saja dari orbitnya, maka akan terjadi suatu benturan yang dahsyat. Tetapi Kristus menopang, mengendalikan, dan menggerakkan segalanya. Mengapa? Dia melakukan ini untuk kemuliaan-Nya. Jika langit runtuh dan bumi hancur, bagaimana dengan kita? Langit bermanfaat bagi bumi, bumi untuk kita, dan kita untuk kemuliaan-Nya. Itulah sebabnya, Kristus menopang, mengendalikan, dan menggerakkan seluruh alam semesta.
Penciptaan itu juga menyatakan Allah sendiri.“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm. 19:2). Meskipun manusia tidak dapat berkata banyak mengenai Allah, tetapi melalui keagungan yang terlihat dalam setiap ciptaan, manusia dapat mengenal bahwa Allah itu Maha Kuasa, sehingga mereka tidak dapat berdalih (Rm. 1:20). Tengoklah ciptaan-Nya. Bagaimana mungkin kita berkata, tidak ada Allah?

Penerapan:
Karena Allah adalah pemula dari segala sesuatu, marilah kita belajar mengawali hidup kita dengan Allah. Begitu membuka mata di pagi hari, datanglah kepada Tuhan terlebih dahulu. Hanya Dia yang sanggup menjadikan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Karena itu, marilah kita bawa semua rencana kita kepada-Nya dan melewati hari-hari kita bersama Allah dalam doa dan ucapan syukur.

Pokok Doa:
Ya Allah, aku mengundang Engkau masuk ke dalam hidupku, ke dalam pekerjaanku, ke dalam keluargaku, dan ke dalam rencana-rencanaku. Aku mau mengawali semua yang kulakukan bersama Engkau. Ya Allah, ciptakanlah sesuatu yang baru, yang berkenan kepada-Mu di dalam hidupku.

15 April 2006

Wahyu Volume 8 - Minggu 4 Sabtu

Jangan Menambahkan Dan Mengurangi Perkataan Nubuat
Wahyu 22:18
“Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.”

Aspek pertama dari peringatan ini adalah jangan menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan nubuat kitab ini, dan aspek kedua adalah jangan mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dalam kitab nubuat ini. Siapa saja menambahkan akan menerima malapetaka-malapetaka yang dikatakan dalam kitab ini, dan siapa saja mengurangkan akan kehilangan bagian atas pohon hayat dan kota kudus. Malapetaka utama yang diungkapkan dalam Kitab Wahyu adalah tiga celaka dari kesusahan besar dan kematian kedua, yaitu kebinasaan seluruh bagian manusia — roh, jiwa, dan tubuh — dalam lautan api. Hal yang menonjol dari berkat yang diwahyukan dalam Kitab Wahyu adalah pohon hayat dan kota kudus. Entah seseorang akan mengalami malapetaka atau mendapat bagian dalam berkat, semuanya tergantung pada bagaimana responsnya terhadap nubuat kitab ini. Kita harus menerimanya seperti yang tertulis di dalamnya. Jangan menambahkan konsepsi, pikiran, ide, pendapat, doktrin, ajaran, atau teologi kita kepada kitab ini. Jangan pula mengurangkan sesuatu dari dalamnya. Kalau kita menambahkan sesuatu ke dalam kitab ini, kita akan menerima malapetaka; kalau kita mengurangkan sesuatu darinya, kita akan kehilangan berkat, khususnya kehilangan berkat atas pohon hayat dan kota kudus. Ini adalah peringatan yang serius! Kalau kita mendengar peringatan ini, kita akan menerima perkataan yang tertulis dalam kitab ini sepenuhnya.

Doa, Pengharapan, Dan Berkat Penulis
Why. 22:20-21

Wahyu pasal dua puluh dua ayat dua puluh mengatakan, “Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: ‘Ya, Aku datang segera!’ Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” Bagian depan dari ayat ini adalah kali ketiga Tuhan mengingatkan kita dalam pasal ini bahwa Dia segera datang. Bagian bawah ayat ini adalah doa Rasul Yohanes dan juga responsnya terhadap peringatan Tuhan. Ini juga adalah doa yang terakhir dalam Alkitab. Setelah mendengar perkataan kitab ini, kita semua seharusnya berdoa dan memberi respons yang sama seperti Yohanes, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” Ini adalah doa yang menyatakan pengharapan Yohanes. Karena itu, seluruh Alkitab tersimpul dengan kedambaan terhadap kedatangan Tuhan yang diwujudkan dalam doa.
Apabila kondisi rohani kita tepat, maka setiap hari kita akan mendambakan kedatangan Tuhan kembali.
Setelah diakhiri dengan doa, penulis memberi berkat kepada pembaca, katanya, “Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin” (22:21). Kita memerlukan anugerah untuk menerima, menaati, dan hidup dalam firman ini. Setelah melihat semua visi dan mendengar semua nubuat dalam kitab ini, kita masih memerlukan anugerah Tuhan. Hanya anugerah Tuhan Yesus yang mampu membuat kita hidup dan berjalan menurut visi dan nubuat ini. Bukan hanya kitab ini yang ditutup dengan anugerah, tetapi seluruh Alkitab ditutup dengan anugerah ini, yang membuat kita mampu mengalami Kristus yang almuhit dan berbagian dalam Allah Tritunggal, sehingga kita bisa menjadi ekspresi korporat-Nya yang kekal untuk menggenapkan tujuan kekal-Nya, agar Dia dan kita dapat saling menikmati kepuasan yang mutlak dan perhentian yang sempurna, sampai selama-lamanya.
Yerusalem Baru, butir besar terakhir yang diwahyukan dalam kitab ini, bukan hanya merupakan penutup dari seluruh Alkitab, melainkan juga merupakan perampungan sempurna dari semua butir penting yang diwahyukan dalam Alkitab. Allah Tritunggal, ekonomi Allah Tritunggal, penebusan Kristus, keselamatan Allah, kaum beriman, gereja, dan kerajaan, semuanya tersimpul dalam Yerusalem Baru sebagai butir penutup. Haleluya!

Penerapan:
Mungkin kita tidak menambahkan sesuatu ke dalam firman, tetapi tanpa sadar seringkali kita malah menguranginya, mengurangi bobot maknanya menurut kesukaan atau keadaan kita saat ini. Terimalah firman Tuhan apa adanya dan turutilah dengan bersandarkan kasih karunia yang Tuhan berikan kepada Anda. Bila Anda belum sanggup, katakan pada Tuhan bahwa Anda belum sanggup, tetapi jangan menguranginya.

Pokok Doa:
“Terima kasih atas peringatan-Mu ya Tuhan, aku tidak mau tertimpa malapetaka dan kehilangan berkat. Aku mau seperti anak kecil yang tulus, mendengarkan dan melakukan firman-Mu. Berilah rahmat-Mu.”

14 April 2006

Wahyu Volume 8 - Minggu 4 Jumat

Akar Dan Keturunan Daud
Wahyu 22:16
“Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.”

Ayat 15 mengatakan, “Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang- orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar.” “Di luar” berarti di luar kota itu, tempat lautan api yang menampung semua orang dosa yang binasa. Semua orang yang cemar, yang berdosa, akan dibuang ke dalam lautan api, “tong sampah” universal.
Dalam ayat 16 Yesus mengatakan, “Aku adalah akar dan keturunan Daud, bintang fajar yang gilang-gemilang” (TL.) Dalam sifat ilahi-Nya, Kristus adalah akar, sumber Daud; dalam keinsanian-Nya, Kristus adalah keturunan, hasil Daud. Jadi, Dia adalah Tuhan, sebagai akar Daud; Dia juga anak, tunas Daud, sebagai keturunan Daud (Mat. 22:42-45; Rm. 1:3; Yer. 23:5).
Pada kedatangan-Nya kembali, Kristus akan menjadi matahari yang terbit bagi umat-Nya (Mal. 4:2), ini adalah yang umum; tetapi bagi para pencinta-Nya yang berjaga-jaga, Dia adalah bintang timur (fajar), ini adalah yang khusus, pahala bagi para pemenang (2:28). Sebagai akar dan keturunan Daud, Kristus berhubungan dengan Israel dan kerajaan; sebagai bintang fajar yang gilang-gemilang, Kristus berhubungan dengan gereja dan pengangkatan. Bintang fajar tampak pada saat yang paling gelap sebelum fajar. Kesusahan besar adalah saat yang paling gelap. Sesudah itu, zaman kerajaan adalah fajar merekah.

Roh Itu Dan Mempelai Perempuan
Why. 22:17

Ayat 17 mengatakan, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata, ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” Pada pasal 2 dan 3 Roh itu berbicara kepada gereja-gereja; pada akhir kitab ini, Roh itu dan pengantin perempuan (gereja) berbicara bersama-sama seperti satu orang. Ini menunjukkan bahwa pengalaman gereja atas Roh itu telah maju sedemikian rupa sehingga gereja dan Roh itu menjadi satu.
“Marilah” adalah respons Roh itu dan pengantin perempuan terhadap perkataan Tuhan dalam ayat 16 dan terhadap peringatan-Nya yang diucapkan-Nya berulang-ulang dalam ayat 7 dan ayat 12. Inilah pengharapan atas kedatangan Tuhan. Siapa saja yang mendengar respons ini, juga harus berkata, “marilah!” untuk menyatakan kedambaan yang sama atas kedatangan Tuhan. Demikian pula, setiap orang beriman yang mendambakan penampakan diri Tuhan (2 Tim. 4:8, merindukan kedatangan-Nya).
Kata “marilah” (datang) tercantum tiga kali dalam ayat ini. Kali pertama ditujukan kepada kedatangan kembali Tuhan Yesus. Telah kita katakan, ini adalah perkataan dari Roh itu dan pengantin perempuan. Namun, orang yang mendengar Roh itu dan pengantin perempuan mengatakan perkataan ini, juga ikut mengatakan, “Marilah!” Di satu pihak, Roh itu dan pengantin perempuan mendambakan kedatangan Tuhan; di pihak lain, mengharapkan orang dosa yang haus juga datang mengambil air hayat untuk kepuasaannya.
Bila kita dengan tulus hati mengharapkan kedatangan Tuhan, kita juga akan memiliki perhatian yang sungguh-sungguh terhadap keselamatan orang dosa. Sebab itu, kali ketiga dari kata “Marilah” (LAI:hendaklah ia datang) dalam ayat ini mengacu kepada kedatangan orang dosa yang bertobat. Siapa yang haus, boleh datang mengambil air hayat dengan cuma-cuma. Karena itu, ayat ini membahas tiga hal: respons dari Roh itu dan pengantin perempuan; perkataan orang yang mendengar pernyataan dari Roh itu dan pengantin perempuan; dan pengharapan terhadap orang dosa yang haus dan yang belum beroleh selamat, agar datang dan minum air hayat.

Penerapan:
Hanya orang yang berjaga-jaga yang kelak akan melihat Kristus sebagai bintang fajar. Marilah kita mulai sekarang membiasakan diri berjaga-jaga di dalam doa dan firman, serta giat melayani Tuhan menjelang hari kedatangan-Nya yang semakin mendekat.

Pokok Doa:
“Tuhan, hari ini aku datang kepada-Mu dan memperbaharui persembahan diriku. Tuhan, jadikan aku orang yang selalu berjaga-jaga dan ingatkanlah aku saat aku lemah bahwa Engkau akan segera datang. Tuhan, aku mau berbagian dalam keterangkatan orang-orang kudus.”